50% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
6K tayangan10 halaman

Demented Sakha 1

Glacia mengalami kejadian tak mengenakkan di kampusnya. Ia kehilangan buku hariannya yang berisi tentang perasaannya pada Sakha. Sakha menemukan buku itu dan menggodanya. Di kantin, Glacia dan Aurora tak sengaja menarik perhatian kelompok pemuda bermasalah yang memerintahkan salah satu gadis itu menjadi pasangannya. Glacia dipilih Sakha sementara Aurora dipilih Elias.

Diunggah oleh

Arofah Bea
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
50% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
6K tayangan10 halaman

Demented Sakha 1

Glacia mengalami kejadian tak mengenakkan di kampusnya. Ia kehilangan buku hariannya yang berisi tentang perasaannya pada Sakha. Sakha menemukan buku itu dan menggodanya. Di kantin, Glacia dan Aurora tak sengaja menarik perhatian kelompok pemuda bermasalah yang memerintahkan salah satu gadis itu menjadi pasangannya. Glacia dipilih Sakha sementara Aurora dipilih Elias.

Diunggah oleh

Arofah Bea
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DEMENTED SAKHA!

[21+]
1.1 - Berbahaya

- Universitas Ralph -

     Hari ini hujan rintik-rintik turun menghiasi kota Jakarta,


tentunya dengan seorang gadis bertubuh mungil yang sedang
berteduh di halte bus. Rambut kecokelatan yang terurai dan
memakai dress terusan dengan paduan sepatu casual berwarna
putih membuatnya terlihat menawan.

Bibir gadis itu mengerucut sebal sambil memandangi rintik


hujan yang kini bertambah deras. "Ishh padahal barang Cia ada
yang ketinggalan, malah hujan."

Glacia Erendalle, Cia adalah panggilan akrabnya. Orang-orang


selalu menyukai senyum manis dan tawa gadis itu. Seolah
Glacia memang seperti malaikat kecil yang di turunkan ke bumi.

Perlu di ketahui, Glacia termasuk golongan mahasiswa yang


cerdas di Universitas ini. Kini ia sudah memasuki semester 3
dengan jurusan Sastra Jerman.

"Cia, lo disini?"

Glacia menoleh, "Iya, Harmony. Ada barang Cia yang


ketinggalan."
Harmony Alesya adalah sahabat Glacia, mereka kenal sejak
kecil. "Nih gue ada payung, lo pakai aja."

"Terus Harmony gimana?"

Gadis berambut hitam itu tersenyum, "Gue gampang, yang


penting ambil aja barang lo dulu. Nih."

Glacia tersenyum cerah saat ia menerima payung yang di


berikan Harmony, "Nanti Cia balikin ya, makasih Harmony!"

Harmony terkekeh, "Iya sama-sama, yaudah sana."

Setelah itu Glacia melesat pergi dengan payung berwarna hitam


yang di berikan Harmony. Tanpa Glacia sadari, dari belakang
Harmony menatapnya dengan sendu.

"Semoga senyum lo tetap kayak gitu ya, Cia." ucapnya lirih.

Sementara di sisi lain, Glacia sudah sampai di ruang kelas yang


kini sudah sepi. Dengan cepat ia memasukinya, mencari benda
itu dengan tidak sabar. Namun seketika indera pendengarannya
mendengar suara langkah kaki, Glacia memilih untuk
mengabaikannya dan fokus untuk mencari buku berharganya
tersebut.
"Lo cari ini?" tanya seseorang.

Glacia tersentak, ia seperti mengenal suara itu. Lantas gadis itu


menoleh. "Iya, itu punya Glacia."

Pemuda itu berjalan kian dekat, mengikis jarak antara dirinya


dan Glacia yang kini terlihat tak nyaman. "Lo sengaja?"

Glacia mendongak, "Maksud kakak?"

"Barang lo, buku ini." balasnya sambil mengangkat sebuah buku


kecil yang berada di tangan pemuda tersebut.

"Ada nama gue disini. 'Sakha Gibson Raphael, I like him, but he
doesn't act'. Try to tell me, dimana gue gak bertindak?"

Raut wajah Glacia berubah pucat. Kenapa? Kenapa harus


pemuda ini yang membaca buku diary-nya?

Glacia lantas menggigit bibir bawahnya, "M-maaf kalau itu buat


kakak-"

"Ssttt.. I said, tell to me."

Glacia diam, ia menunduk dalam dengan segudang penyesalan


karena sifat cerobohnya. "Kak, balikin..."
"Kasih tahu gue, baru gue balikin." ujar Sakha.

Gadis itu menggeleng, "Enggak, gak ada."

Sakha memegang dagu Glacia hingga kedua bola mata mereka


beradu, "Gak ada?"

Glacia menggeleng takut, "I-iya..."

Lantas Sakha kembali mendekatkan dirinya pada Glacia, "Gue


akan bertindak lebih jauh buat lo, just wait."

Setelah itu Sakha menaruh buku kecil tersebut di atas meja dan
pergi meninggalkan Glacia seorang diri. Berjalan angkuh dengan
salah satu tangannya di masukan ke dalam celana hitam, sambil
bibirnya yang menyesap dalam benda nikotin lalu
menghembuskannya ke udara.

Sementara Glacia menghela napas lega. Bagaimana pun Sakha


adalah sosok yang pernah ia dambakan sewaktu SMA, mereka
sempat saling memendam rasa. Namun sayangnya pemuda itu
tidak bertindak sesuai harapan Glacia.

"Bodoh, Cia! Kenapa bisa ceroboh sih?" gumamnya kesal.

Dengan perasaan dongkol, gadis itu berjalan sambil


menghentakkan kaki mungilnya. Tak lupa dengan bibirnya yang
terus menggerutu.

Di tengah langkah gadis itu, Glacia bertemu Aurora. Aurora


Ryder, panggilan akrabnya adalah Aura. Ia salah satu teman
dekat Glacia di kampus ini.

"Glacia! Ikut yuk ke kantin."

"Tapi Cia mau pulang." balasnya.

"Kan masih hujan, ke kantin aja makan bareng Aura." bujuk


Aurora.

Glacia tersenyum, ia sangat menyukai makanan telebih di


kantin Universitas ini menyediakan berbagai macam makanan.
Dan yang paling Glacia suka adalah makanan manis.

"Yaudah, yuk! Cia mau cheese cake."

Kemudian keduanya berjalan menuju kantin, sesampainya


disana ia melihat banyak sekumpulan anak muda. Ada yang
sedang menunggu hujan reda atau bergabung bersama teman-
teman mereka.

"Cia, kita pilih yang paling pojok aja."

Glacia mengangguk, ia menyetujui ucapan Aurora. Setelah itu


keduanya memesan makanan yang berbeda. Saat makanan
keduanya sudah siap, baik Aurora atau Glacia langsung
menyantapnya dengan sesekali tertawa dan berbincang ringan.

Sampai akhirnya perhatian penghuni kantin teralihkan dengan


datangnya sekumpulan pemuda bertubuh tinggi serta tatapan
yang terkesan cukup menakutkan.

Aurora yang melihat itu lantas merapatkan dirinya pada Glacia,


gadis itu tampak bingung dengan reaksi Aurora.

"Aura, kenapa sih?"

"Diam, Cia. Aura takut."

Suasana kantin yang tadinya cukup tenang dan asik, kini


berubah menjadi dingin dan mencekam.

"Mereka siapa? Kok suasana kantin jadi gini?" bisik Glacia


bertanya.

"Mereka itu berkuasa, Cia jangan pernah dekat apa lagi


terlibat." cicitnya.

"Aura, Cia masih gak ngerti."

Lantas Aurora menegakkan sedikit kepalanya, ia menunjuk


pelan seorang pemuda yang kini tengah meminum sebotol
soda, dan Glacia sangat mengenal siapa sosok itu. "Dia, jangan
pernah dekat sama cowok itu. Dia berbahaya."

Aurora menarik napas cukup dalam, "Sekali terlibat, selamanya


gak akan bisa lepas. Dia dominan."

"Dominan?"

Aurora mengangguk, "Sakha Gibson Raphael, bukan cuma dia


aja, tapi empat cowok lainnya."

"Siapa nama yang lainnya, Ra?"

"Elias Van Yavert, Jordan Luchoa, Alpha Jeff Romeo, yang


terakhir Farellio Jerez." ujar Aurora sambil bergidik, hal itu mau
tak mau membuat Glacia meneguk kasar salivanya.

Cepat-cepat Glacia membereskan tasnya dan tak lupa ia juga


mengeluarkan uang satu lembar lima puluh ribu. Saat hendak
berdiri dan berniat meninggalkan kantin, Aurora menahannya.

"Diam disini, jangan kemana-mana. Satu gerakan berlebih, kita


bisa kena masalah." kata Aurora dengan wajahnya yang sudah
pucat.

"Please, Cia. Duduk dulu, tunggu sampai mereka pergi. Kalau


Cia pergi ninggalin kantin ini, Aura juga bakal kena imbasnya."
pinta Aurora memohon.

Glacia dengan perlahan mengangguk, ia tak mengira akan


seperti ini jadinya. Selama ini ia tidak begitu tahu tentang
orang-orang yang berada disini, karena Glacia sibuk dengan
matakuliah dan organisasi saja sampai lupa untuk tahu apa saja
yang terjadi di dalam kampus ini.

"Jangan berisik woi! Kita mau makan." ujar Jordan dengan


matanya yang memandang sekitar dengan nyalang.

Semua yang berada di kantin langsung terdiam, dengan tatapan


mereka yang menunduk ke bawah. Glacia yang menyaksikan itu
lantas berpikir, mengapa di Universitas bergengsi seperti ini
masih ada perbedaan antara mahasiswa satu dengan yang
lainnya.

Di tengah Glacia yang sedang berpikir keras, ia tak sengaja


menjatuhkan piring yang tadinya berisikan cheese cake. Lantas
semua yang berada di kantin tersebut menoleh dan menatap
iba kepada Glacia.

Begitupun dengan Aurora yang sudah gemetar bukan main,


"Lo! Sini!" titah Elias sambil menunjuk ke arahnya.

Glacia terdiam, tubuhnya seketika gemetar. "Gue bilang sini, ya


sini! Bawa teman lo sekalian."

Mau tak mau Glacia dan Aurora harus menuruti itu, dengan
perlahan kedua gadis itu mendekat ke arah meja kantin yang
berada di pojok kanan.

"I-iya kak?"

"Lo tahu kesalahan lo?"

"M-maaf kak," cicit Glacia.

Elias menggebrak meja, "Tahu apa konsekuensinya?"

Glacia menggeleng, "Engg–"

"Tahu kak." sela Aurora cepat.

"Bagus, kalau gitu salah satu dari kalian harus jadi partner gue."

"Partner?" gumam Aurora dan Glacia bersamaan.

"Gue milih dia." ujar seseorang. Namun itu bukan Elias,


melainkan Sakha yang kini tengah menunjuk Glacia.

Elias terkekeh, "Ambil bro."


Lalu tatapannya beralih pada Aurora, "Berarti lo yang jadi
partner gue."

Seketika keduanya membeku, antara takut dengan tatapan


kedua pemuda yang kini sedang menatapnya atau tidak berani
bertanya apa yang di maksud kedua pemuda tersebut.

Anda mungkin juga menyukai