Anda di halaman 1dari 20

BAB IV PENGUKURAN PISTON

1. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Piston dalam bahasa Indonesia juga dikenal dengan istilah torak adalah komponen dari mesin pembakaran dalam yang berfungsi sebagai penekan udara masuk dan penerima hentakan pembakaran pada ruang bakar silinder linier. Komponen mesin ini dipegang oleh connecting rod yang mendapatkan gerakan turun-naik dari gerakan berputar crankshaft. Piston merupakan sumbat geser yang terpasang presisi di dalam sebuah silinder. Dengan tujuan, baik untuk mengubah volume dari tabung, menekan fluida di dalam silinder, membukatutup jalur aliran atau pun kombinasi semua itu. Pada silinder hidrolik piston menerima gaya dari fluida dan diteruskan menjadi gerakan translasi. Piston merupakan alat yang dibuat oleh manusia, oleh karena itu ketidaksempurnaan merupakan ciri utamanya. Tetapi dalam

ketidaksempurnaannya inilah piston sering dianggap sebagai cukup baik untuk digunakan dalam suatu mesin, asalkan perancang mesin mengetahui batas toleransinya. Untuk mengetahui seberapa besar penyimpangan ukuran produk piston dengan desain piston,maka dilakukan pengukuran piston. Pengukuran piston terdiri dari pengukuran linier, pengukuran kebulatan, dan pengukuran kekasaran permukaan. (http://attamtami.wordpress.com/2008/10/25/piston) 1.1.1. Teori Pengukuran Linier Pengukuran Linear adalah proses pengukuran yang bertujuan untuk

mengetahui dimensi dari suatu benda kerja yang belum diketahui ukurannya. Pengukuran Linear terbagi menjadi 2 dalam cara pembacaan skala dari alat yang digunakan, yaitu:

A. Pengukuran Linear Pembacaan Langsung Alat ukur langsung adalah alat ukur yang mempunyai skala ukur yang telah dikalibrasi dan hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada skala tersebut. Contoh alat ukur langsung : a) Mistar Ukur b) Mistar Ingsut c) Mikrometer : - Mikrometer inside. - Mikrometer outside. Jadi, Pengukuran linear pembacaan langsung adalah proses pengukuran dimana hasil pengukuran dapat dilihat langsung dari skala alat ukur yang dipakai.

B. Pengukuran Linear Pembacaan Tidak Langsung Pengukuran Linear pembacaan tidak langsung yaitu pengukuran dengan instrumen pembanding, maksudnya dengan membandingkan dimensi yang diperoleh dari hasil pengukuran kemudian membacanya dengan bantuan alat ukur langsung. Pada pengukuran ini, kita melakukan dua kali proses pengerjaan. Macam-macam alat ukur yang tergolong alat ukur tidak langsung yaitu  Outside Caliper  Inside caliper  Spring Divider  CMM (Coordinate Measuring Machine) (Taufiq Rochim hal. 57, Spesifikasi, Metrologi Industri dan Kontrol Kualitas,2001)

1.1.2. Teori Pengukuran Kebulatan Pengukuran kebulatan merupakan pengukuran yang bertujuan untuk memeriksa kebulatan suatu benda, atau dengan kata lain untuk mengetahui apakah suatu benda benar-benar bulat atau tidak jika dilihat secara teliti dengan menggunakan alat ukur. Benda bulat dalam pemanfaatannya biasa digunakan secara berpasangan yaitu sebagai lubang atau poros. Terutama jika digunakan sbagai komponen mesin. Oleh sebab itu poros dan lubang harus memiliki suaian yang tepat agar dapat dipasangkan untuk dapat melaksanakan fungsinya. Pada suatu batang bulat yang dikerjakan pada suatu mesin bubut atau lubang yang dikerjakan pada suatu mesin bor telah diperhitungkan cara pengerjaannya, tetapi tidak umum kebulatan benda tersebut diukur atau diperiksa karena dianggap bahwa alat-alat perkakas mesin yang digunakan dapat menghasilkan suatu benda kerja pada derajat ketelitian yang dibutuhkan atau diinginkan. Sebuah benda yang berbentuk silinder pada dasarnya dalam setiap tempat punya perbedaan jari-jari. Dengan menggunakan alat ukur dial indicator pada benda ukur poros hasil proses bubut/plat bubut, serta alat bantu V Block dan dial stand kita dapat melakukan pengukuran kebulatan untuk memeriksa kebulatan benda tersebut. Dial indicator dapat digunakan untuk mengukur perubahan ketinggian pada permukaan suatu benda. Jadi dapat diketahui benda tersebut memiliki permukaan yang rata atau tidak. Dengan memanfaatkan prinsip yang sama, sebuah benda yang berbentuk silinder dapat diperiksa kebulatannya. Dengan menetapkan suatu titik pada sisi silinder sebagai acuan (titik nol) kemudian melakukan pengukuran terhadap titik lain dapat diketahui apakah terjadi pelekukan atau penggundukan yang mempengaruhi kebukatan benda tersebut dan seberapa besar nilainya. Pengukuran kebulatan merupakan salah satu dari tipe pengukuran yang tidak berfungsi menurut garis. Kebulatan dan diameter adalah dua karakter geometris yang berbeda, meskipun demikian keduanya saling berkaitan. Ketidakbulatan akan mempengaruhi hasil

pengukuran diameter, sebaliknya pengukuran diameter tidak selalu akan menunjukkan ketidakbulatan. (Taufiq Rochim, 2001)

Simbol Pengukuran Kebulatan :

Gambar.1.1. Simbol Pengukuran Kebulatan

1.1.3. Teori Pengukuran Kekasaran Pengukuran kekasaran permukaan adalah suatu metode pengukuran dengan menggunakan suatu alat baik alat sederhana maupun alat yang telah menggunakan sensor guna mengetahui suatu bentuk geometri kekasaran dari suatu permukaan Suatu kekasaran permukaan memegang peranan penting dalam perancangan komponen mesin. Hal tersebut perlu dinyatakan dengan jelas misalnya dalam kaitannya dengan gesekan, keausan, pelumasan, ketahanan kelelahan, perekatan dua atau lebih komponen-komponen mesin. Didalam pembahasan kekasaran permukaan suatu produk, pada umumnya perlu diperhatikan beberapa parameter yang akan diperlukan untuk menentukan nilai

kekasarannya. Sebagai penentu kualitas produksi persyaratan kekasaran permukaan komponen mesin menurut standar ISO dalam perancangan dimana parameter dicantumkan pada gambar teknik. Ketidaksempurnaan alat ukur dan cara pengukuran maupun evluasi hasil pengukuran maka suatu permukaan sesungguhnya (real surface) tidaklah dapat dibuat duplikatnya melainkan hanya mendekati bentuk sesungguhnya yang disebut permukaan terukur. Sebagai contoh suatu celah yang sempit tidak akan dapat diikuti oleh jarum peraba (stylus) dari alat ukur, karena dimensi ujung jarum relative lebih besar dari ukuran celah. Sebagai contoh suatu celah yang sempit tidak akan dapat diikuti oleh jarum peraba (stylus) dari alat ukur, karena dimensi ujung jarum relative lebih besar dari ukuran celah. Ketidakteraturan konfigurasi suatu permukaan bila ditinjau dari profil dapat diuraikan menjadi beberapa tingkat, seperti yang dijelaskan dalam tabel XIII. Tingkatan pertama adalah merupakan ketidakteraturan makrogeometrik. Tingkatan kedua yang

disebut dengan gelombang (waviness) merupakan ketidakteraturan yang periodik dengan panjang gelombang yang lebih jelas lebih besar dari kedalamannya (amplitudonya). Tingkatan ketiga atau alur (groove) serta tingkatan keempat yang disebut serpihan (flakes) keduanya lebih dikenal dengan istilah kekasaran (roughness). Untuk mereproduksi profil suatu permukaan maka jarum peraba alat ukur harus digerakkan mengikuti lintasan yang berupa garis lurus dengan jarak yang telah ditentukan terlebih dahulu. Panjang lintasan ini disebut panjang pengukuran (traversing length; lg) sesaat telah jarum bergerak dan sesaat sebelum jarum berhenti maka secara elektronis alat ukur melakukan perhitungan berdasarkan data yang dideteksi oleh jarum peraba. Bagian dari panjang pengukuran dimana dilakukan analisa profil permukaan dengan panjang sampel (sampling length, l). reproduksi dari profilnya seperti pada gambar berikut dengan penambahan keterangan mengenai beberapa istilah profil yang penting yaitu: 1. Profil geometris ideal (geometrically ideal profile) adalah profil dari permukaan geometris ideal (dapat berupa garis lurus, lingkaran, ataupun garis lengkung). 2. Profil terukur (masured profile) adalah profil dari permukaan terukur. 3. Profil referensi (reference profile) adalah profile yang digunakan sebagai referensi untuk menganalisis konfigurasi permukaan. 4. Profil dasar (root profile) adalah profil referensi yang digeserkan ke bawah (arah tegak lurus terhadap profil geometris ideal pada panjang suatu sampel) sehingga menyinggung titik terndah profil terukur. 5. Profil tengah (centre profile) adalah nama yang diberikan kepada profil referensi yang digeserkan ke bawah (arah tegak lurus terhadap profil geomtris ideal pada suatu panjang sampel) sedemikian rupa sehingga jumlah luas dari daerah -daerah di atas profil sampai profil terukur adalah sama dengan jumlah luas dari daerah-daerah di bawah profil tengah sampai profil terukur ( pada gambar dibawah ditunjukkan dengan daerah-daerah yang diarsir mendatar dan daerah-daerah yang diarsir tegak).

Gambar 1.2. posisi dari profil referensi, profil terukur, profil tengah dan profil dasar terhadap profil terukur untuk satu panjang sampel. (Taufiq Rochim, Teknik Pengukuran (Metrologi Industri) : 1980)

1.2. TUJUAN 1. Mengetahui kekasaran permukaan piston 2. Mengetahui kebulatan piston 3. Mengetahui jenis-jenis alat ukur pengukuran piston 4. Mampu memilih/menetapkan serta menggunakan beberapa alat ukur linear pada suatu proses pengukuran piston.

1.3. APLIKASI PENGUKURAN 1.3.1. PENGUKURAN LINIER Aplikasi pengukuran linier dalam kehidupan sehari-hari antara lain : 1. Melakukan suatu pengukuran pada benda kerja sebelum dilakukan proses produksi maupun desain teknisnya. 2. Mengukur dimensi dari benda kerja yang berukuran sangat kecil dan mempunyai radius yang kecil. 3. Untuk mengukur ukuran ketelitian kunci yang akan dibuat oleh tukang duplikat kunci dengan menggunakan Vernier Caliper. 4. Untuk mengukur ulir pada Pabrik atau Perusahaan pembuatan ulir sebagai alat untuk melakukan pengontrolan kualitas ulir. 5. Pembuatan gambar teknik dari suatu komponen

6. Kontrol kualitas ; pengecekan komponen dengan design gambar kerja 7. Pengukuran diameter dalam pipa 8. Mengukur kedalaman lubang baut 9. Pembatan pola terhadap benda kerja (Sumber: Diktat Kuliah Alat Bantu dan Alat Ukur, Univ.Darma Persada Jakarta)

1.3.2. PENGUKURAN KEBULATAN Aplikasi pengukuran kebulatan dalam kehidupan antara lain pada suatu batang bulat yang dikerjakan pada suatu mesin bubut atau lubang yang dikerjakan pada suatu mesin bor telah diperhitungkan cara pengerjaannya, tetapi tidak umum kebulatan benda tersebut diukur atau diperiksa karena dianggap bahwa alat-alat perkakas mesin yang digunakan dapat menghasilkan suatu benda kerja pada derajat ketelitian yang dibutuhkan atau diinginkan. Adapun pengukuran kebulatan dalam kehidupan sehari-hari : 1. Untuk mengukur atau mengecek on-center position benda kerja pada chuck 2. Menemukan perbedaan ukuran pada bagian dari suatu benda kerja yang berbentuk silinder (bulat) 3. Mengukur Perangkat ABS 4. Mengukur Piston 5. Mengukur Poros roda gigi 6. Mengukur Roda gigi 7. Mengukur Poros engkol ( Drs. Syamsul Arifin, 1981 dan Bruce J. Black, 1979)

1.3.3. PENGUKURAN KEKASARAN PERMUKAAN 1. Sebagai pemeriksaan pada sudu-sudu turbin apakah permukaannya kasar atau halus. Karena jika kasar akan terdapat tegangan sisa yang cukup besar.

(sumber : Spesifikasi, Metrrologi, dan Kontrol Kualitas Geometrik, Taufiq Rochim) 2. Untuk mengukur tingkat kekasaran pada pipa, sehingga dapat mengetahui nilai head losses mayor ( hL ) dan memudahkan para enginer dalam merancang konstruksi perpipaan. 3. Untuk mengukur tingkat kekasaran pada poros, bertujuan untuk mengetahui besarnya tegangan sisi yang terjadi pada saat poros itu bekerja. 4. Untuk mengukur tingkat kekasaran piston dan ring piston pada motor bakar, bertujuan untuk mengestimasi besarnya gesekan yang terjadi dengan dinding ruang bakar karena piston tersebut bekerja secara fluktuatif. 2. PROSES PENGUKURAN 2.1. ALAT DAN BENDA UKUR YANG DIGUNAKAN A. Benda Ukur 1. Piston

Gambar 1.3. Gambar 2D dan 3D Piston

B. Alat ukur yang digunakan 1. Vernier Calliper

Gambar 1.4. Vernier Calliper

2. Dial Indicator

Gambar 1.5. Dial Indicator 3. Surface Roughness

Gambar 1.6. benda kerja dan Surface Roughness

C. Alat Bantu Ukur

1. V Block

Gambar 1.7. V-Block

2. Dial Stand

Gambar 1.8. Dial Stand

3. Foto Piston

Gambar 1.9.Foto Piston

2.2. METODE PENGUKURAN A. Pengukuran Linier 1. Pelajari cara penggunaan vernier calliper 2. Ukur bagian A, B, dan C pada benda ukur seperti yang ditunjukkan pada modul. 3. Catat hasil pengukuran pada lembar kerja yang telah disediakan. 4. Ulangi pengukuran sebanyak 3 kali

B. Pengukuran Kebulatan 1. 2. 3. 4. 5. Persiapkan dial indicator, dial stand dan blok V. Pasang dial indicator pada dial stand. Beri tanda garis sebanyak 12 titik pada benda ukur. Letakkan benda ukur pada blok V. Atur posisi sensor dial indicator hingga menyentuh permukaan benda ukur tepat pada posisi titik 1. 6. Pasang stopper dibelakang benda ukur yang ditumpukan pada kolom dial stand agar pengukuran bias segaris. 7. Atur ketinggian jam ukur dial indicator yaitu setengah daerah maksimum jam ukur, sehingga mencukupi untuk penyimpangan ke kiri dan ke kanan dengan menaikkan dan menurunkan lengan pemegang jam ukur, kemudian lakukan setting nol 8. Putar benda ukur searah jarum jam ke posisi garis nomor 2. Lihat penunjukan skala pada dial indicator. 9. Tuliskan hasil pengukuran pada lembar kerja tabel 3 titik 1 bagian A nomor 2. Nomor 1-nya adalah 0 karena setting nol dilakukan pada garis 1. 10. Lakukan proses pengukuran untuk posisi garis berikutnya hingga posisi nomor 12. 11. Setelah garis ke 12 selesai diukur, putar benda ukur ke posisi garis nomor 1. Lihat penunjukan skala pada dial indicator

12. Tuliskan hasil pengukuran pada lembar kerja tabel 3 titik 1 bagian B nomor 1. 13. Lakukan kembali proses pengukuran seperti tadi tetapi benda kerjanya diputar berlawanan arah jarum jam. Data hasil pengukurannya ditulis pada lembar kerja tabel 3 titik 1 bagian B. 14. Geser benda ukur ke titik 2. Lakukan setting nol dan lakukan pengukuran dengan cara yang sama seperti pada titik 1. Setelah titik 2 selesai, geser benda ukur ke titik 3. Lakukan hal yang sama seperti pada titik 1 dan 2. 15. Buat grafik kebulatan dari benda ukur pada grafik koordinat polar.

C. Pengukuran Kekasaran Permukaan 1. 2. 3. Melakukan kalibrasi pada benda ukur kalibrasi Meletakkan benda ukur diatas dudukannya Meletakkan surface roughness dan pastikan stylus menyentuh permukaan benda kerja yang hendak diukur. 4. Melakukan pengukuran dengan variasi panjang sampel : 0,25 , 0,8 dan 2,5 mm. 5. Menuliskan hasil pembacaan dari Ra : Kekasaran rata rata aritmetrik

Harga rata rata aritmetrik bagi harga absolutnya jarak antara profil referensi dengan profil tengah Rp : Rt : Kekasaran perataan

Jarak rata rata antara profil referensi dengan profil terukur Kekasaran total

Jarak antara profil referensi dengan profil atas Rg : tengah untuk masing-masing panjang sampel pada lembar kerja. Kekasaran rata rata kuadratik

Akar bagi jarak kuadrat rata rata antara profil terukur dengan profil

3. HASIL PENGUKURAN 3.1. DATA HASIL PENGUKURAN Tabel 1. Data Pengukuran Linier Objek Ukur A B C D E Hasil Pengukuran 43,68 mm 12,84 mm 49,62 mm 42,22 mm 7,4 mm mm

Tabel 2. Data Pengukuran Kekasaran Permukaan panjang sampel 0, 25 m Posisi 1 2 3 Rata-rata Parameter Kekasaran Ra
5.71 6.75 9.82 7.43

Rp = Rq
25.49 38.13 51.95 38.52

Rt = Ry
25.49 38.13 5.95 23.19

Rg = Rz
6.98 8.53 15.28 10.26

Tabel 3. Hasil Pengukuran Kekasaran Permukaan panjang sampel 2,5 m Posisi 1 2 Parameter Kekasaran Ra 6.12 5.36 Rp = Rq 36.00 38.75 Rt = Ry 36.00 38.75 Rg = Rz 7.99 6.74

3 Rata-rata

6.38 5.95

33.97 36.24

33.97 36.24

7.69 7.47

Tabel 4. Hasil Pengukuran Kekasaran Permukaan panjang sampel 0,8 m Posisi 1 2 3 Rata-rata Parameter Kekasaran Ra 2.39 18.75 1.53 7.56 Rp = Rq 14.27 138.20 9.03 53.83 Rt = Ry 14.27 138.20 9.03 53.83 Rg = Rz 3.32 23.00 1.94 9.42

Tabel 5. Hasil Pengukuran Kebulatan dengan metoda V-block dan Dial Indicator Titik 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 A
0 -0.04 -0.03 -0.04 -0.02 -0.02 0 0 -0.01 -0.03 -0.05 -0.04

Titik 2 Ratarata A
0 0 -0.01 -0.02 -0.01 -0.02 0 -0.01 -0.01 -0.01 0 0

Titik 3 Ratarata A
0 -0.02 -0.02 0 -0.02 -0.02 -0.02 -0.03 -0.03 -0.02 -0.01 -0.02

B
0 -0.02 -0.01 -0.01 -0.02 -0.01 -0.03 -0.03 -0.03 -0.04 -0.06 -0.01

B
0 -0.01 -0.01 -0.02 -0.01 -0.01 -0.01 0 -0.02 -0.02 0 0

B
0 -0.04 -0.02 -0.02 -0.01 -0.02 -0.02 0.01 -0.03 -0.03 -0.01 -0.01

Ratarata
0 -0.03

Ratarata Total
0 -0.02

0 -0.03 -0.02 -0.025 -0.02 -0.015 -0.015 -0.015 -0.02 -0.035 -0.055 -0.025

0 -0.005 -0.01 -0.02 -0.01 -0.015 -0.005 -0.005 -0.015 -0.015 0 0

-0.02 -0.017 -0.01 -0.018 -0.015 -0.015 -0.02 -0.017 -0.02 -0.013 -0.01 -0.01 -0.03 -0.022 -0.025 -0.025 -0.01 -0.022 -0.015 -0.013

Grafik Kebulatan

Chart Title
1 12 11

10

0 -0.01 -0.02 -0.03 -0.04 -0.05 -0.06

2 3

Rata-rata 2 Rata-rata 3 4
Rata-rata Total Rata-rata 1

9 8 7 6

3.2. ANALISA HASIL PENGUKURAN A. Pengukuran Linier Pada pengukuran objek A, B, dan C masing-masing terjadi perbedaan hasil pengukuran, seharusnya nilai pengukuran pada masing-masing objek ukur sama. Perbedaan ini terjadi dikarenakan dalam proses pengukuran

terjadi kesalahan dan kecermatan alat ukur yang rendah. Selain itu juga dipengaruhi oleh keahlian operator/pengguna.

B. Pengukuran Kebulatan Dari data hasil pengukuran kebulatan dapat dijelaskan bahwa profil kebulatan dari benda kerja tidak bulat penuh yang ditunjukkan oleh data hasil pengukuran yang nilainya berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena adanya kesalahan atau pergeseran garis saat melakukan pengukuran kebulatan akibat kecermatan pengukur.

Penyebab tiap pengukuran berbeda karena perbedaan tempat pengujian. Pada tiap titik terdapat perbedaan yang menunjukkan benda tersebut tidak sepenuhnya bulat walaupun pada kenyataan terlihat benda tersebut bulat. Hal ini terdapat kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut: 1. Benda ukur bergeser pada saat pengukuran sehingga pengukuran tidak segaris. Hal ini akan mengakibatkan perbedaan pengukuran awal dan akhir walaupun pada posisi yang sama namun tidak segaris 2. Adanya getaran pada dial indikator karena sentuhan pada meja 3. Sensor alat ukur kurang sensitif 4. Kesalahan dalam menyeting nol dial indikator 5. Operator kurang teliti membaca hasil pegukuran 6. Operator melakukan kesalahan dalam memutar benda kerja 7. Benda ukur yang sudah tidak bulat lagi akibat terjadinya keausan.

C. Pengukuran Kekasaran Permukaan Pengukuran kekasaran permukaan menggunakan alat ukur surface rougness dengan ketelitian 0,001 mm yang menghasilkan data paremeter kekasaran Ra , Rp , Rt , dan Rg untuk masing-masing panjang sampel. Tiap panjang sampel dilakukan pengulangan pengukuran sebanyak 3 kali dan akan dihasilkan nilai terbaik dari tiap parameter dengan metode rata-ratanya. Distribusi kekasaran permukaan yang tidak seragam di tiap titik dan ada jug a pembacaan dari alat ukur surface roughness yang kemungkinan menghasilkan suatu kesalahan pengukuran yang diakibatkan peristiwa histerisis alat ukur tersebut akibat pemakaian berulang-ulang dalam satu waktu. Hal tersebut menyebabkan hasil pengukuran yang bervariasi pada tiap-tiap parameter yang digunakan. Dari data hasil pengukuran dapat ditentukan profil teoritis pada tabel bentuk teoritis dari benda kerja dengan perhitungan-perhitungan perbandingan nilai parameter kekasaran sebagai berikut:

a.Hasil Pengukuran Kekasaran Permukaan Panjang Sampel : 0,25 mm Harga-harga parameternya : Ku = Rq/Ry = 10.26/38.52 = 0.267 Ra/Ry= 7.43/38.52 = 0.19 Rz/Ry = 38.52 /38.52 = 1.00 Rz/Ra = 38.52 / 7.43= 5.18 Dapat diperkirakan bentuk profil teoritisnya profil parabolis orde ke-4.

a. Hasil Pengukuran Kekasaran Permukaan Panjang Sampel : 2,5 mm Harga-harga parameternya : Ku = Rq/Ry = 7.47/36.24 = 0.21 Ra/Ry = 5.95/36.24 = 0.16 Rz/Ry = 36.24/36.24 = 1 Rz/Ra = 36.24/5.95=6.09 Dapat diperkirakan bentuk profil teoritisnya profil parabolis orde ke-4.

b. Hasil Pengukuran Kekasaran Permukaan Panjang Sampel : 0,8 mm Harga-harga parameternya : Ku = Rq/Ry = 9.24/53.83 =0.17 Ra/Ry = 7.56/53.83 = 0.14 Rz/Ry = 53.83 / 53.83 = 1 Rz/Ra = 53.83 / 7.56 = 7.12 Dapat diperkirakan bentuk profil teoritisnya profil parabolis orde ke-4.

koefisien Rq / Ry = Ku, yang harganya terletak diantara 0-1, ternyata lebih dapat digunakan untuk menandai konfigurasi permukaandaripada koefisien yang lain.

4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Pengukuran Linier 1. Vernier calliper dapat digunakan untuk pengukuran linier pada piston. 2. Dari hasil pengukuran diperoleh hasil rata-rata dari pengukuran linier pada objek ukur A = 43.68 mm ; B = 12.84 mm ; C = 49.62 mm 3. Pada saat penggunaan alat-alat ukur linear maupun bukan linear, kecermatan hasil ukuran tergantung dari keadaan alat ukur yang akan digunakan . 4. Terjadi perbedaan hasil pengukuran yang disebabkan karena dalam proses pengukuran terjadi kesalahan dan kecermatan alat ukur yang rendah. Selain itu juga dipengaruhi oleh keahlian operator/pengguna.

4.2. Kesimpulan Pengukuran Kebulatan 1. Dial indicator dapat digunakan untuk mengukur kebulatan piston. 2. Terjadi perbedaan hasil pengukuran yang disebabkan karena perbedaan profil kebulatan pada piston, yang menunjukkan bahwa piston tidak bulat penuh. 3. Selain karena perbedaan profil kebulatan pada piston, perbedaan hasil pengukuran juga terjadi karena getaran pada dial indicator yang disebabkan karena operator menyentuh meja dimana dial indicator diletakkan. 4. Sebagai tambahan bahwasannya dalam pengukuran ini kondisi benda ukur juga mempengaruhi kebulatan karena ada kemungkinan benda ukur telah mengalami keausan

4.3. Kesimpulan Pengukuran Kekasaran Permukaan

1. Surface Roughness dapat digunakan untuk mengukur kekasaran permukaan piston. 2. Hasil pengukuran yang dilakukan tiga kali pengulangan menghasilkan range simpangan yang besar pada tiap parameter kekasarannya, hal ini dapat terjadi karena distribusi nilai kekasaran permukaan benda kerja di tiap titik tidak seragam dan terjadinya histerisis dari alat ukur. 3. Faktor lainnya yang mempengaruhi pengukuran adalah dari faktor benda ukur yang memang saat diadakan pengukuran telah mengalami keausan selain itu faktor alat ukur yang digunakan juga tidak dalam kondisi yang baik pula.

Saran 1. Pada saat proses pengukuran, posisi benda ukur dan alat ukur harus tepat atau dengan kata lain posisi benda ukur tidak bergerak. 2. Baca dan pelajari prosedur penggunan alat ukur dengan baik dan benar. 3. Lakukan pembacaan skala dengan tepat dan benar. 4. Karena harga alat ukur yang relative mahal, berhai-hatilah dalam

menggunakannya. 5. Ada alat ukur yang sanagt sensitif terhadap getaran, oleh karena iu hati-hati dalam menggunakannya karena akan mempengaruhi hasil pengukuran. 6. Pengalaman pengukur juga akan mempengaruhi hasil pengukuran. Oleh karena itu diperlukan banyak latihan dan pengalaman dalam mengukur. 7. Sebaiknya untuk mendapatkan nilai pengukuran yang lebih presisi gunakanlah alat ukur dan benda ukur yang masih dalam kondisi baik.

DAFTAR PUSTAKA Arifin, Syamsul. 1981. Alat Alat Ukur dan Mesin Mesin Perkakas. Jakarta: Yudhistira. Daryus, Asyari. 2000. Alat Bantu dan Alat Ukur. Universitas Darma Persada, Jakarta. Rochim, Taufiq. 1994. Spesifikasi, Metrologi, dan Kontrol Kualitas Geometrik 1, ITB, Bandung.