Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat
Kementerian Agama RI, 2021
Policy Brief Pengembangan
MERDEKA BELAJAR DI MADRASAH
Oleh: Imran Siregar
Imran.siregar25@gmail.com
Peneliti Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan
Badan Litbang dan Diklat - Kementerian Agama RI
DAFTAR ISI
- Ringkasan Executive Summary
- Pesan Utama
- Pendahuluan
- Deskripsi Masalah
- Poko-Pokok Pikiran
- Kesimpulan
- Rekomendasi Kebijakan
RINGKASAN EXECUTIVE SUMMARY
Kualitas kebijakan Kementerian Agama terkait dengan konsep merdeka belajar di madrasah akan
berpengaruh terhadap proses implementasinya di lapangan. Oleh karena itu kebijakan seperti apa,
sosialisasinya bagaimana dan seperti apa implementasinya menjadi sangat penting untuk
diketahui.
Hingga kini, kebijakan implementasi merdeka belajar di madrasah relative sangat minim bahkan
nyaris belum ada yang spesifik. Direktorat KSKK (sebagai penanggung gugat) hanya
mengandalkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman
Implementasi Kurikulum pada Madrasah dan KMA 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum PAI dan
Bahasa Arab pada Madrasah yang diklaim sebagai landasan dan payung hukumnya, karena KMA
tersebut secara eksplisit telah memberi ruang bagi guru untuk berinovasi dalam pengembangan
kekhasan madrasah, pengembangan karakter, pendidikan anti korupsi dan pengembangan
moderasi beragama. Kementerian Agama belum membuat rambu-rambu dalam pelaksanaan
merdeka belajar tersebut.
PESAN UTAMA
Klaim Direktorat KSKK atas KMA 183 dan 184 Tahun 2019 sebagai payung hukum merdeka
belajar di madrasah, belumlah jelas dan belumlah dapat dijadikan sebagai rambu-rambu dalam
pelaksanaannya di madrasah. Madrasah masih memerlukan rambu-rambu sebagai patokan umum
dalam pelaksanaannya.
1
PENDAHULUAN
Merdeka belajar bukanlah hal baru bagi lembaga pendidikan Islam. Di pesantren merdeka
belajar telah diterapkan dalam pembentukan karakter santri yang memiliki kemandirian
dalam mengembangkan pengabdiannya dengan memanfaatkan ilmu yang diperoleh dari
kyai di tengah-tengah masyarakat luas.
Dalam konteks kekinian, di tengah pandemic covid-19 Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan menggagas program “merdeka belajar” yang bertujan untuk membuka ruang
kreatifitas bagi peserta didik, guru, dan orangtua untuk mengurangi tekanan dalam proses
pembelajaran. Diantaranya adalah 1) USBN diganti Ujian (Asesmen) yang
diselenggarakan oleh madrasah/sekolah, 2) UN diganti menjadi Asesmen Kompetensi
Minimum (AKM) dan Survey Karakter, 3) Rencana Pembelajaran disingkat (1 lembar),
dan 4) Zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) lebih fleksibel, yang selanjutnya
oleh program Guru sebagai Penggerak Secara Virtual.
Menurut Mendikbud, merdeka belajar itu maksudnya unit pendidikan yaitu sekolah dan
madrasah, guru-guru dan muridnya punya kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk
belajar dengan mandiri dan kreatif. Diyakini, jika antara murid dan guru tidak memiliki
jarak dalam proses belajar mengajar, maka di situ akan muncul pola sharing ilmu
pengetahuan antar murid dan guru, sehingga murid juga dapat menikmati suasana belajar
dan mengajar di sekolah dengan nyaman.
Gagasan tersebut menuai pro kontra di tengah masyarakat kita (khususnya madrasah).
Sejalan dengan PP Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan
Keagamaan, yang menegaskan bahwa pengelolaan pendidikan agama dilaksanakan oleh
Menteri Agama, maka Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Islam telah
merespon dengan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor
7290 Tahun 2020 Tentang Panduan Implementasi Merdeka Belajar-Kampus Merdeka
dalam Kurikulum Program Studi Pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, sebagai
juknis dalam implementasi konsep merdeka belajar-kampus merdeka. Hal berbeda
dengan direktorat KSKK hanya mengklaim Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor
184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Madrasah (KMA 183
Tahun 2019 tentang Kurikulum PAI dan Bahasa Arab pada Madrasah) sebagai landasan
dan payung hukum merdeka belajar. Klaim diatas tentulah masih memerlukan penjelasan
yang bersifat operasional sehingga masyarakat madrasah dapat memiliki pemahaman
yang hampir sama dengan yang dimaksudkan Direktorat. Penanganan konsep merdeka
belajar di Kemenag agaknya terbagi dua, yaitu: konsep ISBN diganti Asesmen, UN
2
diganti AKM & Survei, Zonasi PPDB, dan RPP cukup 1 lembar dikordinir oleh KSKK.
Sedangkan guru sebagai penggerak virtual dikoordinir oleh Direktorat GTK.
Melalui seminar Merdeka Belajar yang dilaksanakan di Yogyakarta telah mendapatkan
gambaran umum pemikiran dan saran-saran terkait dengan hiruk pikuk implementasi
Merdeka Belajar di Madrasah.
DESKRIPSI MASALAH
Kebijakan Merdeka Belajar yang masih samar di lingkungan Kementerian Agama telah membuat
madrasah sebagai unit terdepan mengalami keraguan dalam melaksanakannya. Maka peran
Kemenag (dalam hal ini Ditjen Pendidikan Islam) menjadi sangat strategis dalam merespon isu
tersebut melalui kebijakan yang memperjelas rambu-rambu pelaksanaannya di lapangan.
Keraguan ini muncul sebagai dampak dari ketakutan salah langkah dam pelaksananaannya.
POKOK-POKOK PIKIRAN
- Konsep merdeka belajar memberikan tawaran ulang bagi Kementerian Agama dalam
menata sistem pendidikan nasional di madrasah sebagai konsekwensi logis dari
perkembangan zaman. Namun, hingga kini respon Kementerian Agama melalui
kebijakan-kebijakannya belumlah signifikan dapat mendorong terlaksananya merdeka
belajar tersebut di madrasah. Komunitas madrasah baik guru, kepala madrasah,
orangtua siswa maupun stakeholders lainnya membutuhkan dukungan rambu-
rambu dalam pelaksanaannya di lapangan.
- Secara implisit KMA tersebut, memberikan ruang inovasi berkaitan dengan konsep
merdeka belajar, salah satunya dengan memberikan kebebasan perserta didik memilih
program jurusan sesuai dengan bakat minat dan potensi yang dimiliki. siswa yang
memiliki bakat potensi di bidang akademis kita siapkan kelas akademis dengan
program peningkatan mutu akademis. Sedangkan peserta didik yang memiliki bakat,
minat, dan potensi non akademis disiapkan program keterampilan. Prinsipnya terbuka
ruang untuk berinovasi dan berkreasi dengan otonomi yang relative luas untuk
mengembangkan diri dan membangun ciri khas sebagai keunggulan.
- Sebagai konsekwensi dari merdeka belajar, diantaranya Kementerian Agama telah
mendiversifikasi Keunggulan Madrasah dalam beberapa bentuk, yaitu: a). MA
Akademik adalah prototipe madrasah aliyah yang mengembangkan keunggulan
kompetitif di bidang akademik, sains, riset dan teknologi. b). MA Program
Keagamaan adalah prototype madrasah aliyah yang mengembangkan keunggulan
kompetitif di bidang keahlian kajian keagamaan Islam (tafaqquh fiddin). c). MA Plus
3
Keterampilan adalah prototype madrasah aliyah yang mengembangkan keunggulan
kompetitif di bidang keterampilan tertentu. d). Madrasah Riset adalah madrasah yang
memiliki keunggulan kompetitif di bidang riset atau penelitian ilmiah.
KESIMPULAN
Madrasah masih memerlukan kejelasan tentang merdeka belajar melalui sosialisasi yang
ditindaklanjuti dengan kebijakan dalam bentuk petunjuk teknis pelaksanaannya. Antara
lain, misalnya regulasi penyederhanaan RPP dan kurikulum/modul pembelajaran yang
ber-differensiasi.
REKOMENDASI KEBIJAKAN
Perlu penguatan konsep merdeka belajar di madrasah melalui petunjuk teknis yang
mengiringi KMA No 183/2019 dan KMA 184/2019, yang dijadikan sebagai payung
hukumnya.
Jakarta, Nopember 2021
Puslitbang Pendidikan Agama dan Kegamaan
Kepala
Sunarini