0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan7 halaman

Dukungan Keluarga untuk Pasien Kanker Payudara

Studi ini menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup dan self efficacy pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Kanker payudara merupakan penyebab kematian utama wanita di dunia dan kemoterapi memiliki efek negatif pada kualitas hidup. Dukungan keluarga diharapkan dapat meningkatkan self efficacy pasien dan kualitas hidupnya selama menjalani pengobatan. Penelitian ini bertujuan menilai

Diunggah oleh

Ijha Hijrah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan7 halaman

Dukungan Keluarga untuk Pasien Kanker Payudara

Studi ini menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup dan self efficacy pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Kanker payudara merupakan penyebab kematian utama wanita di dunia dan kemoterapi memiliki efek negatif pada kualitas hidup. Dukungan keluarga diharapkan dapat meningkatkan self efficacy pasien dan kualitas hidupnya selama menjalani pengobatan. Penelitian ini bertujuan menilai

Diunggah oleh

Ijha Hijrah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI KUALITATIF DUKUNGAN KELUARGA

TERHADAP KUALITAS HIDUP DAN SELF EFFICACY PASIEN KANKER


PAYUDARA YANG MENJALANI KEMOTERAPI DI RUMAH SAKIT

A. Latar Belakang
Kanker sebagai salah satu masalah kesehatan yang mengalami peningkatan
sangat cepat dan menjadi penyebab kedua kematian di dunia (Shahriari, Dehghan,
Pahlavanzadeh, & Hazini, 2017), salah satu penyakit kanker yang sering terjadi adalah
kanker payudara (Lauche et al., 2013). Kanker payudara merupakan gangguan dalam
pertumbuhan sel normal payudara dimana sel abnormal timbul dari sel-sel normal,
berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah (Nurarif, Amin
& Kusuma, 2015). Kanker payudara merupakan penyakit keganasan yang paling banyak
menyerang wanita (Black & Hawks, 2014). Kanker payudara menjadi penyebab utama
kematian pada wanita di seluruh dunia, ini dianggap sebagai penyakit yang menakutkan
karena tingkat kematian yang tinggi, dampaknya pada citra diri dan hubungan seksual
(Debasweta Purkayastha, Chitra Venkateswaran, Kesavankutty Nayar, 2017).
Pada tahun 2050, diperkirakan 70 juta orang akan hidup dengan diagnosis kanker
di seluruh dunia; peningkatan hampir tiga kali lipat sejak 2002 (Foster, Breckons,
Cotterell, & Barbosa, 2015). Berdasarkan data GLOBOCAN (Global Burden of Cancer),
International Agency for Research on Cancer (IARC), diketahui bahwa diseluruh dunia
pada tahun 2012 terdapat 14.067.894 kasus baru kanker dan 8.201.575 kematian akibat
kanker. Diperkirakan kasus kanker tahunan akan meningkat dari 14 juta menjadi 22 juta
dalam dua dekade berikutnya (Gangane, Khairkar, Hurtig, & Sebastián, 2017). WHO
memperkirakan pada tahun 2030 insiden kanker mencapai 26 juta orang dan 17 juta
diantaranya meninggal akibat kanker (Ismail, 2017). Khusus untuk penyakit kanker
payudara di seluruh dunia pada tahun 2012 1,67 juta wanita didiagnosis kanker payudara
(Zhang, Kwekkeboom, & Petrini, 2015). Tingkat kejadian kanker payudara telah
meningkat secara global selama 30 tahun terakhir, termasuk negara-negara
berpenghasilan rendah dan menengah (Globocan, 2012) (Gangane et al., 2017).
Diperkirakan ada 40,2% (34.038) insiden dan 30,8% (16.232) kematian yang
berhubungan dengan kanker payudara di kalangan perempuan pada tahun 2012 (Sajjad,
Ali, Gul, Mateen, & Rozi, 2016). Di Amerika Serikat dilaporkan bahwa terdapat 2,9 juta
penderita kanker payudara pada 1 Januari 2012 (Rose C. Maly, MD, MSPH1, Yihang
Liu, MD, MA, MS1, Li-Jung Liang, PhD2, and Patricia A. Ganz, 2016), dan lebih dari
25 % dididagnosa menderita kanker payudara yang menyebabkan berkurangnya kualitas
hidup terkait kesehatan (Wyatt et al., 2018). Sedangkan di Indonesia, prevalensi kanker
payudara adalah 12/100.000 wanita. Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan prevalensi
kanker payudara sebanyak 61.682 kasus dengan diagnosis kanker payudara (Ismail,
2017), dan untuk Propinsi Sulawesi Selatan prevalensi kanker payudara sebanyak 2.975
kasus (Pusdatin, 2016).
Kemoterapi merupakan salah satu terapi medis yang digunakan dalam
pengobatan kanker, terutama terhadap kanker sistemik dan kanker dengan metastasis
klinis ataupun subklinis. Pada kanker stadium lanjut, kemoterapi merupakan satu-satunya
metode pilihan yang sangat efektif (Syarif & Putra, 2014). Kemoterapi merupakan proses
pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus
yang bertujuan membunuh sel kanker. Kemoterapi diberikan secara bertahap, biasanya
sebanyak 6-8 siklus agar mendapatkan efek yang diharapkan (Kementrian Kesehatan RI,
2017). Akan tetapi, kemoterapi dapat mengakibatkan efek samping fisiologis seperti
mual, muntah, insomnia, kelelahan, perubahan rasa dan bau, hilangnya nafsu makan,
sembelit, diare, menopause dini, lymphedema, sariawan, alopecia, kekurangan energi,
nyeri, mati rasa dan kesemutan, dan sesak napas (Herizchi, Asvadi, Piri, & Golchin,
2012). Selain itu, kemoterapi memiliki efek mendalam pada kualitas hidup pasien
kanker, karena mengganggu kesehatan fisik dan psikologis, hubungan dengan keluarga
dan dapat mengganggu kehidupan sosial (Sajjad et al., 2016). Salah satu bentuk
penurunan kualitas hidup yang paling banyak dialami oleh penderita kanker payudara
adalah terjadinya penurunan dimensi psikologis, seperti rasa takut akan kemungkinan
kematian dan rasa khawatir saat akan memberitahu keluarga akan penyakitnya (Ismail,
2017).
Manajemen diri dapat memberdayakan pasien kanker, meningkatkan
kepercayaan diri mereka untuk mengelola masalah yang terkait dengan penyakit dan
pengobatannya serta meningkatkan kualitas hidup. Foster dan Fenlon telah menetapkan
kerangka kerja untuk pemulihan kesehatan dan kesejahteraan dalam menghadapi
kanker, salah satunya adalah self-efficacy terkait kanker; yakni keyakinan bahwa
seseorang dapat berhasil melaksanakan perilaku yang diperlukan untuk menghasilkan
hasil yang diharapkan dalam kaitannya dengan konsekuensi kanker dan pengobatannya
(Foster et al., 2015). Self-efficacy telah terbukti memiliki efek positif pada perilaku
kesehatan, kontrol gejala, kepatuhan terhadap pengobatan kanker, dan peningkatan
kualitas hidup (Gangane et al., 2017).
Menurut teori kognitif sosial, self-efficacy membantu untuk mencapai hasil yang
diinginkan, yang pada gilirannya mempengaruhi fungsi psikososial. Ini juga
menunjukkan bahwa self-efficacy menciptakan keadaan afektif positif karena itu
mewakili kepercayaan orang dalam menggunakan keterampilan yang diperlukan untuk
mengatasi stres dan memobilisasi sumber daya untuk memenuhi tuntutan
situasional. Orang dengan self-efficacy yang lebih tinggi mungkin mengalami tingkat
emosi negatif yang lebih rendah dalam situasi yang mengancam karena mereka
mengenali kemampuan mereka untuk mengatasi hambatan dan fokus pada peluang. Studi
empiris juga telah menunjukkan efek menguntungkan dari pengaruh positif dan efek
negatif dari pengaruh negatif pada umur panjang dan hasil kesehatan di antara populasi
yang sehat dan pasien. Self-efficacy merupakan tingkat kepercayaan seseorang pada
kemampuannya untuk melakukan tindakan, telah terbukti berhubungan dengan adaptasi
orang terhadap kanker. Dalam konteks adaptasi kanker, keluarga dekat seringkali
menjadi sumber dukungan utama, karena anggota keluarga dapat membantu memenuhi
kebutuhan praktis dan psikologis pasien (Yeung, 2014). Adanya dukungan keluarga akan
berdampak pada peningkatan rasa percaya diri pada penderita dalam menghadapi proses
pengobatan penyakitnya. Dukungan keluarga pada pasien kanker yang mendapatkan
terapi akan menimbulkan pengaruh bagi kesejahteraan fisik maupun psikis. Seseorang
yang mendapatkan dukungan dari keluarga, akan merasa diperhatikan, disayangi, merasa
hidupnya berharga dapat berbagi beban, percaya diri dan menumbuhkan harapan
sehingga mampu menangkal atau mengurangi stress. Karena peran keluarga sangat
penting bagi setiap aspek perawatan kesehatan anggota keluarga, mulai dari strategi-
strategi hingga fase rehabilitasi. Dengan demikian pasien memiliki harapan apabila
mendapatkan dukungan keluarga yaitu meningkatkan kepatuhan kemoterapi,
meningkatkan kualitas hidup dan psikis serta terapi yang dilakukan pasien akan terus
berlanjut (Finck, Barradas, Zenger, & Hinz, 2017).
Hasil penelitan kualitatif menemukan bahwa anggota keluarga penderita kanker
di Tiongkok secara aktif berpartisipasi dalam tugas pengasuhan, pencarian informasi dan
pengambilan keputusan pengobatan. Selain itu, keluarga berperan penting dalam
mencegah masalah psikologi yang sering muncul kepada pasien kanker. Adanya
dukungan dari keluarga memberikan hasil yang postif dalam menunjang peningkatan
status kesehatan dan kualitas hidup pasien dibanding dengan pasien yang memiliki
dukungan yang lemah dari keluarga. Demikian pula pada hasil penelitian kuantitatif
menemukan bahwa dukungan keluarga secara positif terkait dengan kesejahteraan pasien
kanker China. Ini menunjukkan peran penting dukungan keluarga dalam kesejahteraan di
antara pasien kanker di Cina. Mengingat bahwa pasien kanker Tiongkok lebih mungkin
memiliki sumber interpersonal yang tersedia dari anggota keluarga mereka, juga penting
untuk memeriksa apakah sumber daya intrapersonal pasien (misalnya rasa percaya diri
yang dirasakan dalam menangani stres terkait kanker) memengaruhi kesejahteraan
mereka. Adanya dukungan keluarga akan berdampak pada peningkatan rasa percaya diri
pada penderita dalam menghadapi proses pengobatan penyakitnya (Yeung, 2014).
B. Rumusan Masalah
Kanker payudara menjadi penyebab utama kematian pada wanita di seluruh dunia
(Debasweta Purkayastha, Chitra Venkateswaran, Kesavankutty Nayar, 2017). Salah satu
terapi medis yang digunakan dalam pengobatan kanker payudara adalah kemoterapi
(Syarif & Putra, 2014). Akan tetapi kemoterapi memiliki efek pada kualitas hidup pasien
kanker, karena mengganggu kesehatan fisik dan psikologis, hubungan dengan keluarga
dan dapat mengganggu kehidupan sosial (Sajjad et al., 2016). Oleh karena itu diperlukan
adanya dukungan keluarga untuk memberi support kepada pasien dalam menjalani
terapi, sehingga pasien memiliki self efficacy atau keyakinan diri yang tinggi dalam
menjalani terapi dalam rangka peningkatan kualitas hidup yang lebih baik (Yeung,
2014). Pada penelitian sebelumnya hanya menilai dukungan keluarga terhadap kualitas
hidup kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Namun, pada penelitian ini akan
dilakukan penilaian dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien kanker payudara
yang menjalani kemoterapi menggunakan pendekatan teori self efficacy. Penelitian ini
masih jarang dilakukan di Indonesia khususnya di Kota Makassar. Sehingga hal ini
menjadi originalitas untuk melakukan penelitian terkait dukungan keluarga terhadap
kualitas hidup dan self efficacy pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di
Rumah Sakit. Pada penelitian ini akan dilakukan wawancara kepada keluarga dan pasien
untuk mengetahui sejauh mana dukungan keluarga yang diberikan kepada pasien dalam
meningkatkan kualitas hidup dan self efficacy dalam menjalani proses kemoterapi.
Dari latar belakang di atas maka dirumuskan masalah penelitian “apakah
dukungan keluarga dapat meningkatkan kualitas hidup self efficacy pasien kanker
payudara yang menjalani kemoterapi di Rumah Sakit” ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui dukungan keluarga terhadap kualitas hidup dan self efficacy
pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di Rumah Sakit
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien kanker payudara
yang menjalani kemoterapi di Rumah Sakit
b. Mengetahui dukungan keluarga terhadap self efficacy pasien kanker payudara
yang menjalani kemoterapi di Rumah Sakit
D. Ruang Lingkup
1. Penelitian ini akan dilaksanakan di unit pelayanan RSUP Wahidin Sudirohusodo
Makassar
2. Penelitian ini akan membahas mengenai dukungan keluarga terhadap kualitas hidup
dan self efficacy pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di Rumah Sakit
Referensi :

Black, J. M., & Hawks, H. J. (2014). Keperawatan Medikal Bedah ; Manjemen Klinis untuk
Hasil yang Diharapkan. (A. Suslia, F. Ganiajri, P. P. Lestari, & A. W. R. Sari, Eds.) (8th
ed.). Singapura: Elsevier.

Debasweta Purkayastha, Chitra Venkateswaran, Kesavankutty Nayar, and U. U. (2017).


Prevalence of Depression in Breast Cancer Patients and its Association with their
Quality of Life: A Cross-sectional Observational Study. Indian J Palliat Care, 23(3),
268–273. https://doi.org/10.4103/IJPC.IJPC_6_17

Finck, C., Barradas, S., Zenger, M., & Hinz, A. (2017). Quality of life in breast cancer
patients: Associations with optimism and social support. International Journal of
Clinical and Health Psychology, 111, 8. https://doi.org/10.1016/j.ijchp.2017.11.002

Foster, C., Breckons, M., Cotterell, P., & Barbosa, D. (2015). Cancer Survivors’ Self-
Efficacy to Self-Manage in The Year Following Primary Treatment. J Cancer Surviv, 9,
11–19. https://doi.org/10.1007/s11764-014-0384-0

Gangane, N., Khairkar, P., Hurtig, A., & Sebastián, M. S. (2017). Quality of Life
Determinants in Breast Cancer Patients in Central Rural India. Asian Pacific Journal of
Cancer Prevention, 18, 3325–3332. https://doi.org/10.22034/APJCP.2017.18.12.3325

Herizchi, S., Asvadi, I., Piri, I., & Golchin, M. (2012). Efficacy of Progressive Muscle
Relaxation Training on Anxiety , Depression and Quality of Life in Cancer Patients
Undergoing Chemotherapy at Tabriz Hematology and Oncology Research Center , Iran
in 2010, 3(1), 9–13.

Ismail, N. W. H. B. C. S. (2017). Gambaran Kualitas Hidup pada Penderita Kanker Payudara


di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2017. Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, 2(6), 1–9.

Kementrian Kesehatan RI. (2017). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Kanker


Payudara. Jakarta.

Lauche, R., Materdey, S., Cramer, H., Haller, H., Stange, R., Dobos, G., & Rampp, T. (2013).
Effectiveness of Home-Based Cupping Massage Compared to Progressive Muscle
Relaxation in Patients with Chronic Neck Pain — A Randomized Controlled Trial, 8(6).
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0065378

Nurarif, Amin, H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc (Edisi Revi). Yogyakarta: Mediaction.

Pusdatin. (2016). InfoDatin Bulan Peduli Kanker Payudara. Kementrian Kesehatan.

Rose C. Maly, MD, MSPH1, Yihang Liu, MD, MA, MS1, Li-Jung Liang, PhD2, and Patricia
A. Ganz, M. (2016). Quality of Life over 5 years after Breast Cancer Diagnosis among
Low-Income Women: Effects of Race/Ethnicity and Patient-Physician Communication.
Cancer, 121(6), 916–926. https://doi.org/10.1002/cncr.29150.Quality
Sajjad, S., Ali, A., Gul, R. B., Mateen, A., & Rozi, S. (2016). The effect of Individualized
Patient Education, Along With Emotional Support, On The Quality of Life of Breast
Cancer Patients - A Pilot Study. European Journal of Oncology Nursing, 21, 75–82.
https://doi.org/10.1016/j.ejon.2016.01.006

Shahriari, M., Dehghan, M., Pahlavanzadeh, S., & Hazini, A. (2017). Effects of progressive
muscle relaxation , guided imagery and deep diaphragmatic breathing on quality of life
in elderly with breast or prostate cancer, 1–6. https://doi.org/10.4103/jehp.jehp

Syarif, H., & Putra, A. (2014). pengaruh progressive muscle relaxation terhadap penurunan
kecemasan pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi: a randomized clinical trial.
Idea Nursing Journal, V(3).

Wyatt, G., Sikorskii, A., Tesnjak, I., Frambes, D., Holmstrom, A., Luo, Z., … Lansing, E.
(2018). A Randomized Clinical Trial of Caregiver-delivered Reflexology for Symptom
Management during Breast Cancer Treatment. J Pain Symptom Manage, 54(5), 670–
679. https://doi.org/10.1016/j.jpainsymman.2017.07.037.A

Yeung, N. C. Y. (2014). Affect as A Mediator Between Self-Efficacy and Quality of Life


Among Chinese Cancer Survivors in China. European Journal of Cancer Care, 23,
149–155. https://doi.org/10.1111/ecc.12123

Zhang, Y., Kwekkeboom, K., & Petrini, M. (2015). Uncertainty, Self-efficacy, and Self-care
Behavior in Patients With Breast Cancer Undergoing Chemotherapy in China. Cancer
Nursing, 38(3), 19–26. https://doi.org/10.1097/NCC.0000000000000165

Anda mungkin juga menyukai