0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
108 tayangan122 halaman

Analisis Faktor Penyebab Dermatitis 2022

Skripsi ini membahas tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dermatitis di Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dermatitis. Metode penelitian menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain potong lintang dan sampel sebanyak 55 responden. Hasil penelitian menunjukkan

Diunggah oleh

Jery
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
108 tayangan122 halaman

Analisis Faktor Penyebab Dermatitis 2022

Skripsi ini membahas tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dermatitis di Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dermatitis. Metode penelitian menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain potong lintang dan sampel sebanyak 55 responden. Hasil penelitian menunjukkan

Diunggah oleh

Jery
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN


DERMATITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAPAN
KECAMATAN MOLLO UTARA KABUPATEN
TIMOR TENGAH SELATAN TAHUN 2022

OLEH :

YERY NATTI
1420118049R

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NUSANTARA


PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN
KUPANG
2022

i
ii
iii
iv
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di Wilayah
Kerja Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah
Selatan Tahun 2022
Yery Natti1Daeng Agus Vieya putri2 dan Muslimah Anugerah3

ABSTRAK
Latar Belakang : Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat
seperti banyak penyakit dapat timbul karena didukung dan dirangsang oleh faktor
lingkungan. Pada hakikatnya, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa,
dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomi.
Tujuan : Mengetahui Apakah Ada Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian
Dermatitis di Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah
Selatan Tahun 2022.
Metode: Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional
analitik dengan pendekatan cross sectional dan total sampel adalah 55 responden.
Analisis data menggunakan uji chi square.
Hasil: Menunjukan bahwa variabel Personal Hygiene dari 55 Responden Sebagian
Besar Memiliki Personal Hygiene Buruk Sebanyak 50 Orang(90.9%), Variabel
Penggunaan APD Sebagian Besar Memiliki Menggunakan APD Buruk Sebanyak 43
Orang(78.2%), Variabel Responden Sebagian Besar Berusia > 35 Tahun Sebanyak
22 Orang(60%)variabel Pengetahuan Sebagian Besar Memiliki Pengetahuan Buruk
Sebanyak 32 Orang(58.2%), Variabel Sanitasi Lingkungan Sebagian Besar Memiliki
Sanitasi Lingkungan Buruk Sebanyak 42 Orang(76.4%), variabel Kejadian Dermatitis
Responden Sebagian Besar Mengalami Penyakit Dermatitis Sebanyak 50
Orang(90.9%).Uji Square menunjukan nilai signifikan antara variabel personal
hygiene dengan kejadian dermatitis adalah P = 0.000, nilai signifikan antara variabel
Penggunaan APD dengan kejadian dermatitis adalah P = 0.000, nilai signifikan antara
variabel usia dengan kejadian dermatitis adalah P = 0.004, nilai signifikan antara
variabel pengetahuan dengan kejadian dermatitis adalah P = 0.002, nilai signifikan
antara variabel sanitasi lingkungan dengan kejadian dermatitis adalah P = 0.000,maka
H1 di terima pada tingkat signifikan P <0,05.
Kesimpulan: Terdapat Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di
Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun
2022
Kata Kunci: Personal Hygiene,Penggunaan APD,Usia,Pengetahuan,Sanitasi
Lingkunga dan Kejadian Dermatitis

v
Analysis of Factors Affecting the Occurrence of Dermatitis in the Work Area of the
Kapan Health Center, North Mollo District, South Central Timor Regency in
2022
Yery Natti1Daeng Agus Vieya putri2 dan Muslimah Anugerah3

ABSTRACK

Background : Environmental conditions can affect public health such as many


diseases can arise because they are supported and stimulated by environmental
factors. In essence, health is a state of well-being of body, soul, and social that allows
everyone to live a socio-economic productive life.
Objective: To find out whether there are factors that influence the incidence of
dermatitis at the Kapan Health Center, North Mollo District, South Central Timor
Regency in 2022.
Methods: The research method used in this study was analytic observational with a
cross sectional approach and the total sample was 55 respondents. Data analysis using
chi square test.
Results: Shows that the Personal Hygiene variable of 55 Respondents Most Have
Bad Personal Hygiene As many as 50 people (90.9%), the variable using PPE mostly
has using bad PPE as many as 43 people (78.2%), the Respondent Variables are
mostly > 35 years old. 22 people (60%) variable knowledge mostly have bad
knowledge 32 people (58.2%), environmental sanitation variable mostly have bad
environmental sanitation 42 people (76.4%), the incidence of dermatitis variable
respondents mostly have dermatitis disease 50 people (90.9%).Square test shows a
significant value between the personal hygiene variable and the incidence of
dermatitis is P = 0.000, the significant value between the PPE use variable and the
incidence of dermatitis is P = 0.000, the significant value between the age variable
and the incidence of dermatitis is P = 0.004, the value is P = 0.004 The significant
difference between the knowledge variable and the incidence of dermatitis was P = 0.
002, the significant value between the environmental sanitation variable and the
incidence of dermatitis was P = 0.000, then H1 was accepted at a significant level of
P <0.05.
Conclusion: There are factors that influence the incidence of dermatitis at the Kapan
Health Center, North Mollo District, South Central Timor Regency in 2022
Keywords: Personal Hygiene, Use of PPE, Age, Knowledge, Environmental
Sanitation and Dermatitis Incidence

vi
MOTTO :

“Setiap orang pasti mempunyai mimpi, begitu juga saya, namun

bagi saya yang paling penting adalah bukan sebesar mimpi yang

saya punya, tapi seberapa besar usaha saya untuk mewujudkan

mimpi itu”

vii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang
telah memberikan rahmat, berkat dan karunianya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan Skripsi dengan judul “Analisis Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Kapan Kecamatan
Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2022”

Dalam penyususnan dan penulisan Skripsi ini tidak terlepas dari bantuan
bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karna itu dalam kesempatan ini
dengan rendah hati penulis menyampaikan terimakasih kepada:
1. Ibu Daeng Agus Vieya Putri Bhwa, S.Kep.,M.Si selaku Ketua Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Nusantara Kupang dan selaku Dosen Pembimbing I yang telah
meluangkan waktu, tenaga dan memberikan ilmu, kritik, saran dalam
penyelesaian Skripsi ini.
2. Bapak Syahrir,S.Kep.,M.Si selaku Ketua Program Studi S1-Keperawatan di Stikes
Nusantara Kupang.
3. Ibu Muslimah Anugerah, S.Kep.,M.Kes selaku Dosen Pembimbing II yang telah
meluangkan waktu, tenaga dan memberikan ilmu, kritik, saran dalam
penyelesaian Skripsi ini.
4. Dosen dan staf Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Nusantara Kupang yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
Skripsi ini
5. Kepala Puskesmas Kapan beserta jajarannya yang memberikan izin dan membantu

peneliti dalam melakukan penelitian.

6. Keluarga tercinta, Bapak Dominggus Nati, Mama Oca Baitanu, yang dengan kasih
sayang selalu mendoakan penulis pada setiap kesempatan serta atas segala
dukunganya kepada penulis

viii
7. Teman-teman seangkatan KPN 18 B, yang telah memberikan bantuan dan
dukungan dalam perkuliahan maupun dalam penulisan Skripsi.
8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian
maupun dalam penulisan Skripsi.

Penulisan proposal tentunya tidak terlepas dari kekurangan, baik aspek kualitas
maupun kuantitas dari materi penelitian yang disajikan. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan Skripsi.

Akhir kata, semoga penulisan Skripsi ini bermanfaat bagi kita semua dalam
rangka menambah wawasan pengetahuan kita.

Kupang, Juni 2022

Penulis

ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
LEMBAR PERSETUJUAN........................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ...................................... iv
ABSTRAK ..................................................................................................... v
MOTTO ....................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR ................................................................................ viii
DAFTAR ISI .................................................................................................. x
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xiv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2.Rumusan Masalah .............................................................................. 4
1.3.Tujuan Penelitian .............................................................................. 4
1.4.Manfaat Penelitian ............................................................................. 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka ............................................................................. 7
2.2. Landasan Teoritik ............................................................................ 9
2.2.1. Konsep Dermatitis ............................................................... 9
2.2.2. Jenis Dermatitis ................................................................... 10
2.2.3. Gejala Klinis Dermatitis ...................................................... 13
2.2.4. Diagnosis.............................................................................. 15
2.2.5 Fakot-Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis...................... 18
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep ................................................................................... 22
3.2 Hipotesis……………………………………………………………….23
BAB 4 METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian ..................................................................................... 24
4.2 Rancangan Penelitian ........................................................................... 24
4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................... 25
4.4 Populasi dan Sampel Penelitian ........................................................... 25
4.5 Kerangka Operasional .......................................................................... 26
4.6 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional .................................... 28
4.7 Teknik dan Prosedur Pengambilan Data .............................................. 32
4.8 Pengolahan dan Analisis Data .............................................................. 32

BAB 5 HASIL PENELITIAN


5.1 Gambaran Lokasi Penelitian ................................................................. 34
x
5.2 Hasil Penelitian ..................................................................................... 36
BAB 6 PEMBAHASAN
6.1 Personal Hygiene ................................................................................... 44
6.2 Penggunaan APD .................................................................................. 45
6.3 Usia ........................................................................................................ 47
6.4 Pengetahuan ........................................................................................... 48
6.5 Sanitasi Lingkungan ............................................................................... 49
6.6 Kejadian Dermatitis ............................................................................... 51
6.7 Pengaruh Personal Hygiene dengan Kejadian Dermatitis ..................... 52
6.8 Pengaruh Penggunaan APD dengan Kejadian Dermatitis ..................... 55
6.9 Pengaruh Usia dengan Kejadian Dermatitis .......................................... 57
6.10 Pengaruh Pengetahuan dengan Kejadian Dermatitis ........................... 59
6.11 Pengaruh Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Dermatitis ............... 61

BAB 7 PENUTUP
7.1 Kesimpulan ........................................................................................... 64
7.2 Saran ...................................................................................................... 65

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xi
DAFTAR TABEL
Halaman

Tabel 2.1.Tabel Peneliti Sebelumnya............................................................. 7


Tabel 4.1. Defenisi Operasional. .............................................................. ....29
Tabel 5.1.Ditribusi responden berdasarkan jenis kelamin ..................................... 36

Tabel 5.2.Ditribusi responden berdasarkan personal hygiene ............................... 36

Tabel 5.3.Ditribusi responden berdasarkan Penggunaan APD .............................. 37

Tabel 5.4.Ditribusi responden berdasarkan Usia ................................................... 37

Tabel 5.5. Ditribusi responden berdasarkan Pengetahuan ..................................... 38

Tabel 5.6.Ditribusi responden berdasarkan Sanitasi Lingkungan ......................... 38

Tabel 5.7.Ditribusi responden berdasarkan Kejadian Dermatitis .......................... 39

Tabel 5.8.Ditribusi responden berdasarkan Pengaruh Personal Hygiene dengan


Kejadian Dermatitis .............................................................................. 39

Tabel 5.9.Ditribusi responden berdasarkan Pengaruh Penggunaan APD dengan


Kejadian Dermatitis .............................................................................. 40

Tabel 5.10.Ditribusi responden berdasarkan Pengaruh Usia dengan


Kejadian Dermatitis .............................................................................. 41

Tabel 5.11.Ditribusi responden berdasarkan Pengetahuan dengan


Kejadian Dermatitis .............................................................................. 42
Tabel 5.12.Ditribusi responden berdasarkan Sanitasi Lingkungan dengan
Kejadian Dermatitis .............................................................................. 43

xii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual .............................................................. 22
Gambar. 4.1 Rancangan Penelitiaan Cross Sectional .................................. 25
Gambar 4.2 Kerangka Operasional ............................................................ 27

xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.Lembar Permohonan Kesediaan Menjadi Responden
Lampiran 2. Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 3. Lembar Petunjuk Pengisian Kuesioner
Lampiran 4. Kuesioner Penelitian
Lampiran 5. Kuesioner Pengetahuan
Lampiran 6. Kuesioner Personal Hygiene
Lampiran 7. Kuesioner Alat Pelindung Diri(APD)
Lampiran 8. Kuesioner Lingkungan Sehat
Lampiran 9. Surat Keterangan Selesai Penelitian

xiv
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat seperti

banyak penyakit dapat timbul karena didukung dan dirangsang oleh faktor

lingkungan. Pada hakikatnya, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan,

jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial

ekonomi. Oleh karena itu, jika dikaji lebih lanjut maka dapat disadari bahwa

tidak banyak manusia di muka bumi ini yang berada dalam kondisi sehat

sempurna. Akan tetapi, hal ini bukan berarti semua manusia selalu menderita

penyakit karena arti penyakit sendiri merupakan suatu perubahan yang terjadi

pada tubuh manusia sebagai respon dari faktor genetik,faktor personal hygiene

dan faktor lingkungan yang mungkin berupa nutrisi, kimia, biologi atau

psikologi (Gerry, 2010).

Berdasarkan Data WHO dermatitis mempengaruhi sekitar 230 juta orang

pada 2019 atau 3,5% dari populasi dunia. Prevalensi dermatitis didominasi

kelompok perempuan khususnya dalam periode reproduksi yaitu umur 15-49

tahun. Di Inggris dan Amerika Serikat, didominasi kelompok anak-anak yaitu

sekitar sekitar 20% dan 10,7% dari jumlah penduduk sedangkan kelompok

dewasa di Amerika Serikat sekitar 17, 8 juta (10%) orang. Berdasarkan data

Riskesdas 2019 prevalensi nasional dermatitis adalah 6,8% (berdasarkan keluhan

responden).Berdasarkan Riskesdas 2018 Provinsi Nusa Tenggara Timur

1
mengatakan prevalensi dermatitis di Kabupaten Timor Tengah Selatan sebanyak

18.2% jauh lebih tinggi dari Kota kupang yaitu sebanyak 2,6 %. Berdasarkan

Studi Epidemiologi 2019 mengatakan bahwa di Kabupaten Timor Tengah

Selatan sebanyak 16,5% menderita penyakit dermatitis dan pada Tahun 2020

sebanyak 16% yang menderita dermatitis.

Berdasarkan survey awal yang dilakukan dibeberapa puskesmas di

Kabupaten Timur Tengah Selatan didapatkan data di Puskesmas Kapan terdapat

55 orang yang menderita penyakit dermatitis, di Puskesmas Sakteo sebanyak 20

orang dan Puskesmas Fatumnasi sebanyak 25 orang. Oleh karena itu peneliti

tertarik melakukan penelitian di Puskesmas Kapan dikarenakan jumlah penderita

penyakit dermatitis lebih tinggi dibandingkan dengan puskesmas yang lain.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada 10 penderita penyakit dermatitis

diperoleh keluhan bahwa dari 7 orang jarang menerapakan Pola hidup bersih

dan sehat seperti personal hygiene yang baik dan juga lingkungan yang tidak

sehat seperti banyak sampah dipekarangan sekitar rumah serta tampungan air

yang banyak jintik nyamuk dan lumut sehingga menyebabkan mereka mudah

terpapar penyakit dermatitis.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik untuk

mengetahui Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di

Wilayah Kerja Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor

Tengah Selatan Tahun 2022.

2
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti mengambil identifikasi

masalah yang sekaligus menjadi batasan masalah penelitian sebagai berikut:

Adakah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di Wilayah

Kerja Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah

Selatan Tahun 2022?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian yang akan

diteliti dalam penelitian adalah:

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui Apakah Ada Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Kejadian Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Kapan Kecamatan

Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2022.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengatahui pengetahuan tentang penyakit dermatitis di wilayah kerja

Puskesmas Kapan

2. Mengatahui Personal Hygiene tentang penyakit dermatitis di wilayah

kerja Puskesmas Kapan

3. Mengatahui alat pelindung diri wilayah kerja Puskesmas Kapan

3
4. Mengatahui lingkungan sehat di wilayah kerja Puskesmas Kapan

5. Mengatahui usia responden di wilayah kerja Puskesmas Kapan

6. Mengatahiu kejadian dermatitis diwilayah kerja puskesmas kapan

7. Mengatahui pengaruh faktor Pengetahuan,personal hygiene, alat

pelindung diri, lingkungan dan usia dengan kejadian dermatitis

wilayah kerja Puskesmas Kapan

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini diharapkan

dapat bermanfaat dimasa mendatang bagi pengembangan ilmu

pengetahuan dan bisa dijadikan bahan acuan bagi peneliti lain yang akan

meneliti mengenai “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Kejadian Dermatitis”

1.4.2 Manfaat Praktis

a. Bagi Tempat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi

pihak puskesmas khususnya dalam memberikan perhatian dan

penanganan terhadap masalah stres terutama bagi siswa-siswi dengan

kecenderungan lebih mudah untuk terkena stres.

4
b. Bagi Peneliti

Dapat menambah pengalaman khususnya dalam hal tentang

retardasi mental dan mekanisme koping. Dapat berguna bagi

peneliti dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan dibidang

pelayanan kesehatan sehingga masyarakat merasa puas

c. Bagi Tempat Penelitian (Puskesmas)

Data dapat dijadikan sumber informasi, sebagai

masukan untuk mengoptimalkan program kesehatan.

5
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1 Tabel Tinjauan Pustaka

No Nama Peneliti Judul Hasil penelitian Metode


Penelitian Penelitian
1 Ana Jumiati. Faktor Yang Hasil bivariat penelitian
Dkk 2020. Berhubungan diketahui ada kuantitatif
Jurnal Dengan hubungan antara dengan
Kesehatan Gejala Klinis pengetahuan (p pendekatan
Masyarakat Dermatitis value=0,001), cross sectional.
Mulawarman Kontak Pada personal hygiene (p Sampel
Vol.2, No.2 Kelompok value=0,001) dan penelitian adalah
Desember 2020 Petani Kelapa penggunaan APD (p kelompok petani
Di Mendahara value=0,001) dengan di Mendahara
Ilir Kabupaten gejala klinis Ilir sebanyak 97
Tanjung dermatitis kontak responden.
Jabung Timur pada kelompok petani Penelitian
di Mendahara Ilir dilakukan pada
Kabupaten Tanjung bulan Juli 2020.
Jabung Timur tahun Instrumen
2020. penelitian adalah
lembar observasi
dan kuesioner.
Uji statistik yang
digunakan uji
chi-square.
2 Sri Rahayu Analisis ada hubungan metode
Utami.dkk, Faktor yang pengetahuan observasional
Jurnal Mempengaruh responden dengan dengan
BIOSAINSTE i Terjadinya kejadian penyakit pendekatan case
K. Vol. 3 No. 1, Penyakit Dermatitis (0,000), control study
11–20.2020 Dermatitis di tidak ada hubungan
Wilayah Kerja antara suhu dengan

6
Puskesmas terjaidnya penyakit
Kecamatan Dermatitis (0,697),
Hiri Tahun ada hubungan antara
2020 kelembapan dengan
kejadian penyakit
dermatitis (0,001), ada
hubungan antara
personil hygene
dengan kejadian
penyakit dermatitis di
wilayah kerja
puskesmas pulau hiri
(0,000).
3 Hanna Faktor-Faktor Faktor risiko yang penelitian survei
Mutiara.dkk, J yang memiliki hubungan analitik dengan
Agromedicine Mempengaruh bermakna dalam pendekatan
|Volume i Kejadian penelitian adalah cross sectional,
6|Nomor 2|2019 Dermatitis DKAK dengan lama dengan subjek
Kontak kontak (p value = 46 orang
Akibat Kerja 0,001), masa kerja (p karyawan salon
pada value = 0,001), dari 3 salon
Karyawan riwayat penyakit kulit yang berada di
Salon di (p value = 0,035), Kelurahan
Kelurahan penggunaan alat Pahoman,
Pahoman pelindung diri (APD) Bandar
(p value = 0,001), dan Lampung.
personal hygiene (p Teknik analisis
value = 0,001). Hasil data dilakukan
analisis multivariat secara univariat,
menunjukkan variabel bivariat dengan
yang paling dominan uji chi square
terhadap kejadian dan multivariat
DKAK pada dengan uji
karyawan salon regresi logistik.
adalah masa kerja
(OR = 70,491).
4 Andi Shaleha Analisis Hasil penelitian ini penelitian
Maudani.dkk, Spasial adalah 195 (65%) observasional
urnal Ikesma Penyakit Pasien PHBS yang kuantitatif.

7
Volume 16 Dermatitis Di Baik dengan 102 Sampel
Nomor 1 2020. Puskesmas (35%), 73 (25%) penelitian ini
Labakkang Riwayat Penyakit adalah 284
Kabupaten Kulit dengan 224 responden yang
Pangkep (75%) riwayat, 73 dipilih
(32%) Riwayat Alergi menggunakan
tidak memiliki sejarah teknik simple
201 (67%), waktu random
kontak yang belum sampling.
pernah mengalami Analisis data
124 (42%), tidak menggunakan
selama 151 (51%) dan ArcGIS.
sebanyak 22 (7%),
Suhu yang Memenuhi
Syarat sebanyak 128
(43%) ,Tidak
memenuhi syarat
sebanyak 169 (57%),
Kelembaban yang
memenuhi persyaratan
247 (83%), dan tidak
memenuhi persyaratan
169 (17%).

2.2 Landasan Teoritik

2.2.1 Konsep Dermatitis

Dermatitis adalah peradangan non inflamasi pada kulit yang bersifat

akut, sub akut, atau kronis dan dipengaruhi banyak faktor. Menurut teori

Djuanda (2016), dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis)

seperti ruam, kemerahan serta kulit yang terasa gatal, kering, dan bersisik.

Gangguan peradangan pada epidermis ini adalah akibat rusaknya

barrier kulit sehingga terjadi peningkatan kehilangan air trasepidermal

8
(Behroozy and Keegel, 2014). Dermatitis yang terjadi pada pekerja adalah

dermatitis kontak akibat kerja. Dermatitis kontak akibat kerja didefinisikan

sebagai penyakit kulit dimana pajanan di tempat kerja merupakan faktor

penyebab yang utama serta faktor kontributor. Selain itu menurut American

Medical Association, dermatitis seringkali cukup digambarkan sebagai

peradangan kulit, timbul sebagai turunan untuk eksim, kontak (infeksi dan

alergi) (Suryani, 2011).

Dermatitis akibat kerja adalah kelainan kulit yang disebabkan oleh

pekerjaan dan lingkungan kerja. Istilah lain untuk dermatosis akibat kerja

adalah dermatosis atau penyakit kulit yang timbul karena hubungan kerja.

Penyakit tersebut timbul pada waktu tenaga kerja bekerja atau melakukan

pekerjaan yang disebabkan oleh faktor yang berada pada lingkungan kerja.

Terminologi dermatosis lebih tepat dibanding penggunaan kata dermatitis,

sebab kelainan kulit akibat kerja tidak selalu berupa suatu peradangan

(infeksi), melainkan juga tumor atau alergi, atau rangsangan fisik dan

lainnya dapat menjadi penyebab penyakit dermatosis (Suma’mur,

2009:309).Beberapa upaya untuk memelihara kebersihan dan kesehatan baik

fisik maupun psikis adalah memperhatikan personal hygiene, lingkungan

sehat ,pengetahuan yang baik dan Pola hidup bersih dan sehat. Perilaku

hidup bersih dan sehat di lingkungan masyarakat sebagai upaya untuk

memberdayakan masyarakat agar mampu mempraktikkan perilaku hidup

9
bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan linkungan yang

nyaman dan sehat (Florence, 2008).

2.2.2 Jenis Dermatitis Kontak

Zat-zat yang dapat menyebabkan dermatitis kontak yaitu dapat melalui

dua cara dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergik. Dermatitis

iritan merupakan reaksi peradangan kulit secara langsung tanpa didahului

proses sensitifitas sebaliknya dermatitis kontak alergik terjadi pada sesorang

yang telah mengalami sensitifitas terhadap suatu allergen.

a. Dermatitis Kontak Iritan (DKI)

Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan suatu reaksi peradangan

pada kulit yang bersifat non-imunologik, dengan perjalanan penyakit

yang kompleks dan kerusakan kulit terjadi secara langsung tanpa adanya

proses sensitisasi (Nanto, 2015). Dermatitis kontak iritan dapat diderita

oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras, jenis kelamin.

Penderita dermatitis kontak iritan sulit diketahui berapa jumlah

penderitanya karena banyak penderita dengan keluhan ringan yang tidak

mau berobat bahkan ada penderita yang tidak merasakan sakit yang dia

rasakan. Penyebab munculnya dermatitis jenis ini bersifat iritan

misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, peptisida, asam,

alkali, serbuk kayu (Nuraga, 2008).

10
Selain bahan – bahan tersebut dermatitis kontak iritan ini juga

disebabkan oleh lama kontak, kekerapan, suhu dan kelembapan

lingkungan juga ikut berperan. Faktor individu juga berpengaruh pada

dermatitis kontak iritan misalnya perbedaan ketebalan kulit di berbagai

tempat kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh

bahan iritan melalui kinerja kimia dan fisik.Iritan yang kuat memberikan

gejala akut, sedangkan iritan lemah memberikan gejala kronis (muchlis,

2012). Upaya pengobatan dermatitis kontak iritan yang terpenting

adalah menghindari pajanan bahan iritan, baik yang bersifat mekanik,

fisik maupun kimia. Maka dermatitis kontak iritan akan sembuh dengan

sendirinya. Untuk mengatasi radang dapat diberikan kortikosteroid,

pemakaian alat pelindung diri bagi mereka yang bekerja dengan bahan

iritan sebagai salah satu upaya pencegahan.

b. Dermatitis Kontak Alergi (DKA)

Bila dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan jumlah penderita

dermatitis kontak alergik lebih sedikit karena hanya mengenai orang

yang keadaan kulitnya sangat peka. Jumlah penderita dermatitis kontak

alergik maupun dermatitis kontak iritan makin bertambah seiring

dengan bertambahnya jumlah produk yang mengandung bahan kimia

yang dipakai oleh masyarakat. Berbagai factor berpengaruh dalam

timbulnya dermatitis kontak alregik yaitu sensitifitas allergen, dosis per

11
unit area, luas daerah yang terkena, lama pajanan, kelembapan

lingkungan, pH. Juga faktor individual misalnya keadaan kulit pada

lokasi kontak. Seseorang bisa saja sudah biasa menggunakan suatu zat

selama bertahun-tahun tanpa masalah, lalu secara tiba-tiba mengalami

reaksi alergi. Dermatitis juga bisa akibat berbagai bahan yang

ditemukan di tempat bekerja disebut dermatitis akupasional. Jika

dermatitis terjadi setelah menyentuh zat tertentu lalu terkena sinar

matahari maka disebut dermatitis kontak fototoksik. Penyebab dari

dermatitis kontak alergi, meliputi; kosmetik, senyawa kimia, tanaman,

obat-obatan, zat kimia yang digunakan dalam pengolahan pakaian.

Dampak yang terjadi umunya adalah gatal-gatal dan terjadi kelainan

kulit (Ferdian, 2012). Kelainan kulit bergantung pada keparahan

dermatitis dan lokalisasinya. Dermatitis kontak alergik dapat timbul di

kelopak mata, penis, skrotum, tangan, lengan, wajah, telinga, leher,

badan, genetalia, paha dan tungkai bawah. Hal yang perlu diperhatikan

pada pengobatan dermatitis kontak alergi adalah upaya pencegahan

terulang kontak kembali dengan allergen penyebab dan menekan

kelainan kulit yang timbul.Kortikostreroid dapat diberikan dalam jangka

pendek untuk mengetasi peradangan pada penderita dermatitis kontak

alergi. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk

membedakan Dermatitis Kontak Iritan (DKI) dan Dermatitis Kontak

12
Alergi (DKA) adalah patch test. Patch test dilakukan menggunakan

patch yang ditempel pada kulit. Kulit akan menjadi kemerahan dan gatal

apabila terdapat reaksi alergi, menandakan adanya dermatitis akibat

alergi (DKA).

2.2.3 Gejala Klinis Dermatitis Kontak

Penjelasan mengenai gejala klinis dermatitis kontak iritan dan dermatitis

kontak alergik akan mengacu kepada referensi menurut Djuanda dan

Sularsito (2002).

a. Dermatitis Kontak Iritan

1) Dermatitis kontak iritan akut

Penyebabnya iritan kuat, biasanya karena kecelakaan. Kulit

terasa pedih atau panas, eritema, vesikel, atau bula.Luas kelainan

umumnya sebatas daerah yang terkena, berbatas tegas.Pada

umumnya, kelainan kulit muncul segera, tetapi ada sejumlah bahan

kimia yang menimbulkan reaksi akut lambat, misalnya podofilin,

antralin, asam fluorohidrogenat, sehingga dermatitis kontak iritan

akut lambat.Kelainan kulit baru terlihat setelah 12-24 jam atau

lebih.Contohnya adalah dermatitis yang disebabkan oleh

bulu serangga yang terbang pada malam hari (dermatitis venenata);

penderita baru merasa pedih pada esok harinya, pada awalnya terlihat

eritema dan sorenya sudah menjadi vesikel atau bahkannekrosis.

13
2) Dermatitis kontak iritan kronis

Nama lain ialah dermatitis iritan kumulatif, disebabkan oleh

kontak iritan lemah yang berulang-ulang (oleh faktor fisik, misalnya

gesekan, trauma, mikro, kelembaban rendah, panas atau dingin; juga

bahan, contohnya detergen, sabun, pelarut, tanah, bahkan juga air).

Dermatitis kontak iritan kronis mungkin terjadi oleh karena kerja

sama berbagai faktor. Bisa jadi suatu bahan secara sendiri tidak

cukup kuat menyebabkan dermatitis iritan, tetapi bila bergabung

dengan faktor lain baru mampu. Kelainan baru nyata setelah berhari-

hari, berminggu atau bulan, bahkan bisa bertahun-tahun kemudian.

Sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan faktor paling

penting. Dermatitis iritan kumulatif ini merupakan dermatitis kontak

iritan yang paling sering ditemukan.Gejala klasik berupa kulit kering,

eritema, skuama, lambat laun kulit tebal (hiperkeratosis) dan

likenifikasi, batas kelainan tidak tegas.Bila kontak terus berlangsung

akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris (fisur), misalnya pada kulit

tumit tukang cuci yang mengalami kontak terus menerus dengan

deterjen.Ada kalanya kelainan hanya berupa kulit kering atau skuama

tanpa eritema, sehingga diabaikan oleh penderita.Setelah kelainan

dirasakan mengganggu, baru mendapat perhatian. Banyak pekerjaan

yang berisiko tinggi yang memungkinkan terjadinya dermatitis

14
kontak iritan kumulatif, misalnya: mencuci, memasak, membersihkan

lantai, kerja bangunan, kerja di bengkel, dan berkebun.

b. Dermatitis Kontak Alergik

Penderita pada umumnya mengeluh gatal. Kelainan kulit bergantung

pada keparahan dermatitis. Pada yang akut dimulai dengan bercak

eritema berbatas jelas, kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel

atau bula.Vesikel atau bula dapat pecah menimbulkan erosi dan

eksudasi (basah). Pada yang kronis terlihat kulit kering, berskuama,

papul, likenifikasi dan mungkin juga fisur, batasnya tidak jelas.

Kelainan ini sulit dibedakan dengan dermatitis kontak iritan kronis;

mungkin penyebabnya juga campuran (Djuanda, 2016).

2.2.4 Diagnosis

Terdapat tiga metode diagnosis yang dilakukan dalam

mengidentifikasi dermatitis kontak.Metode-metode tersebut yaitu dengan

melakukan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan juga pemeriksaan penunjang

(Utama, 2015).

a. Anamnesis

Agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan anamnesis dermatitis

kontak akibat kerja perlu diperhatikan kategori-kategori sebagai berikut :

1) Penyakit ini muncul pada saat masa kerja yang terpajan oleh bahan

15
iritan atau setelah masa kerja dalam waktu yang tidak terlalujauh. 2)

Penyakit ini muncul pertama kali di daerah yang paling banyak terpajan.

Biasanya memberikan karakteristik tertentu. 3) Penyakit ini tidak akan

muncul; kecuali jika terpajan dengan pajanan yang sama dengan hasil

penyakit yang sama. 4) Penyakit ini akan berubah atau hilang ketika

sudah tidak terpajan lagi. 5) Penyakit ini akan segera muncul kembali jika

pajanan dimulai lagi. 6) Morfologi dari penyakit ini akan konsisten sesuai

dengan pajanannya. 7) Rekan kerja yang terkena pajanan juga akan

mengalami penyakit yangsama. (The Chief Adviser Factories, 1965

dalam Utama, 2015)

b. Pemeriksaan Klinis

Pemeriksaan klinis dilakukan untuk melihat tanda-tanda yang muncul

akibat dermatitis kontak pada kulit. Pada umumnya dermatitis kontak

terjadi di daerah yang terpajan, tetapi tidak menutup kemungkinan lesi

meluas ke area lain yang tidak terpajan secara langsung. Sebagian

dermatitis muncul di daerah tangan dan lengan yaitu sebesar 90% di

tangan.Karena tangan paling sering digunakan dalam pekerjaan.Pada

awalnya dermatitis menyerang pada bagian epidermis yang tipis yaitu

pada dorsum manus dan sela jari.Untuk bahan iritan yang bersifat

airborne (fume, vapour) dapat menyerang dan menimbulkan kelainan di

wajah, dahi, telinga, dan leher (Cohen, 1999).

16
c. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang biasanya dilakukan untuk mencari tahu

penyebab terjadinya dermatitis kontak alergik dan juga dapat digunakan

untuk membedakan dermatitis kontak alergik dan dermatitis kontak

iritan.Salah satu jenis pemeriksaan penunjang adalah dengan patchtest

(Firdaus, 2002). Ketika suatu dermatitis kontak diindikasikan sebagai

dermatitis kontak alergik biasanya digunakan patch test untuk mengetahui

apakah penyakit itu adalah dermatitis kontak akibat kerja atau bukan. Uji

berdasarkan teori yang menyatakan bahwa akan muncul eczematous

dermatitis akut atau kronik jika diberikan agen sensitizing. Caranya

dengan menempelkan (biasanya di punggung ataupun di lengan atas)

material yang dianggap memberikan efek pada areal yang tidak terinfeksi

selama 48 jam akan menyebabkan reaksi inflamasi. Jika hasil uji positif

maka pekerja tersebut memilki alergi terhadap material yang diujikan

(Cohen, 1999)

2.2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi Dermatitis

Menurut teori Gilles L, Evan R, Farmer dan Atoniette F (1990) faktor-

20 faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya penyakit kulit akibat kerja

atara lain ras, keringat, terdapat penyakit kulit lain, personal hygiene dan

penggunaan APD. Menurut Rietschel (1985), faktor yang dapat

menyebabkan terjadinya dermatitis, terdiri dari Pengaruh langsung dan

17
Ipengaruh tidak langsung. Faktor Pengaruh langsung, yaitu berupa toxic

agent. Sedangkan yang termasuk Pengaruh tidak langsung adalah usia dan

gender, kebiasaan (hobby), kebersihan dan riwayat penyakit (Suryani, 2011).

a. Personal hygiene

Salah satu faktor yang merupakan penyebab dermatitis adalah personal

hygiene. Hal yang menjadi perhatian adalah masalah mencuci tangan.

Kebiasaan mencuci tangan ini seharusnya dapat mengurangi potensi

penyebab dermatitis akibat bahan kimia yang menempel setelah bekerja,

namun pada kenyataannya potensi,untuk terkena dermatitis itu tetap ada.

Kesalahan dalam melakukan cuci tangan dapat menjadi salah satu

penyebabnya. Misalnya kurang bersih dalam mencuci tangan, sehingga

masih terdapat sisa bahan kimia yang menempel pada permukaan kulit

pekerja (Fera, 2018).

Kebersihan perorangan yang dapat mencegah terjadinya dermatitis kontak

antara lain:

a) Mencuci tangan Personal hygiene dapat digambarkan melalui

kebiasaan mencuci tangan, karena tangan adalah anggota tubuh yang

paling sering kontak dengan bahan kimia. Kebiasaan mencuci tangan

yang buruk justru dapat memperparah kondisi kulit yang rusak.

Kebersihan pribadi merupakan salah satu usaha pencegahan dari

penyakit kulit tapi hal ini juga tergantung fasilitas kebersihan yang

18
memadai, kualitas dari pembersih tangan dan kesadaran dari pekerja

untuk memanfaatkan segala fasilitas yang ada.

b) Mencuci Pakaian Kebersihan pakaian kerja juga perlu

diperhatikan.Sisa bahan kimia yang menempel di baju dapat

menginfeksi tubuh bila dilakukan pemakaian berulang kali. Baju

kerja yang telah terkena bahan kimia akan menjadi masalah baru bila

dicuci di rumah. Karena apabila pencucian baju dicampur dengan

baju anggota keluarga lainnya maka keluarga pekerja juga akan

terkena dermatitis. Sebaiknya baju pekerja dicuci setelah satu kali

pakai atau minimal dicuci sebelum dipakai kembali.

b. Penggunaan APD

Penggunaan APD merupakan salah satu cara untuk mencegah

terjadinya dermatitis kontak. Hasil penelitian Hanum (2012)

menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi antara pekerja yang

menggunakan APD dengan pekerja yang tidak menggunakan APD.

Proporsi pekerja yang tidak menggunakan APD diketahui 87,5 %

menderita dermatitis kontak dibandingkan dengan pekerja yang

menggunakan APD hanya 19,0 %. Hasil uji chi square menunjukkan

bahwa variabel penggunaan APD mempunyai hubungan signifikan

dengan kejadian dermatitis kontak dengan nilai p value 0,001.

19
c. Usia

Pada dunia industri usia pekerja yang lebih tua menjadi lebih rentan

terhadap bahan iritan. Seringkali pada usia lanjut terjadi kegagalan dalam

pengobatan dermatitis kontak, sehingga timbul dermatitis kronik. Dapat

dikatakan bahwa dermatitis kontak akan lebih mudah menyerang pada

pekerja dengan usia yang lebih tua. Anak dibawah 8 tahun dan usia lanjut

lebih mudah teriritasi. Namun pada beberapa penelitian terdahulu pekerja

dengan usia yang lebih muda justru lebih banyak yang terkena

dermatitiskontak (Suryani, 2011).

d. Pengetahuan

Pengetahuan sangat penting dimiliki oleh pekerja, karena mengenali

dan memahami substansi-substansi yang dapat membahayakan kesehatan

pekerja akan membuka separuh jalan dalam upaya menghilangkan atau

mengurangi risiko timbulnya penyakit akibat kerja. Pengetahuan seorang

pekerja saakan menentukan sikap pekerja tersebut dalam melakukan

pekerjaannya. Pekerja yang tidak mengetahui prosedur kerja maka

mereka akan bekerja dengan caranya sendiri, lebih mementingkan

kenyamanan bekerja saja tanpa memperhatikan keselamatan dan

kesehatan kerja, karena pekerja kurang atau sama sekali tidak mengetahui

resiko yang ada dalam pekerjaannya.

20
e. Lingkungan

Faktor lingkungan diantaranya adalah suhu dan kelembaban.

Dermatitis dapat disebabkan oleh lingkungan yang ekstrim, termasuk

kelembaban dan suhu yang tinggi. Berdasarkan Kepmenkes No.

1405/MenKes/SK/XI/2002 tentang nilai ambang batas Kesehatan

Lingkungan Kerja, suhu udara yang dianjurkan adalah 18⁰C-28⁰C dan

membatasi kelembaban lingkungan kerja yaitu pada kisaran 40%- 60%.

Kelembaban udara yang rendah serta suhu yang dingin menurunkan

komposisi air pada stratum korneum yang membuat kulit lebih permeable

terhadap bahan iritan.

21
BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual

Kerangka konsep merupakan landasan berfikir yang di kembangkan

berdasarkan teori yang ada. Kerangka konsep memberikan gambaran sederhana

tentang landasan berpikir penelitian dengan menunjukan variabel-variabel

berkaitan antara variabel (Sopiyudin,2015).

Variabel Independen Variabel Dependen

Faktor-faktor yang
mempengaruhi
Kejadian
dermatitis :
Dermatitis
1. Personal Hygiene

2. Penggunaan APD

3. Usia

4. Pengetahuan

5. Lingkungan

Gambar 3.1. Kerangka Konseptual Penelitian.


Keterangan :
= Variabel yang di teliti
= Hubungan

22
3.2 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan penelitian yang telah

dirumuskan dalam perencanaan penelitian yang kebenarannya akan di buktikan

pada penelitian tersebut (Notoatmodjo, 2007) . Hipotesis dalam penelitian ini

adalah Semua Faktor-Faktor Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di Wilayah

Kerja Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah

Selatan Tahun 2022.

23
BAB 4
METODOLOGI PENILITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional

analitik dengan tujuan untuk mencari Analisis Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Kapan

Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2022

4.2 Rancangan Penelitian/Desain Penelitian

Dalam penelitian ini rancang bangun yang di gunakan adalah Cross Sectional,

yang mana dalam penelitian ini peneliti ingin mempelajari dinamika korelasi

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di Wilayah

Kerja Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah

Selatan Tahun 2022 dengan pendekatan observasi atau pengumpulan data pada

suatu saat ( Notoatmodjo, 2002.)

24
(Sampel)

FaktorResiko + Fakto Resiko-

Efek + Efek - Efek+ Efek-

Pengumpulan data sesaat

Gambar. 4.1 RancanganPenelitiaan Cross


Sectional
4.3 Lokasi Dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo

Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan, yang pelaksaannya akan di lakukan

pada bulan Maret 2022.

4.4 Populasi Dan Sampel

4.4.1 Populasi

Populasi adalah suatu kumpulan menyeluruh dari suatu objek yang

merupakan perhatian peneliti (Nursalam, 2015). Populasi dalam

penelitian ini adalah semua pasien yang menderita penyakit

dermatitis Sebanyak 55 orang.

25
4.4.2 Sampel

Sampel merupakan sebagian dari populasi yang akan di teliti di mana

bisa menggunakan rumus atau tidak menggunakan rumus sampel

(Notoadmodjo, 2010). Sampel dalam penelitian ini adalah semua

populasi dari pasien dermatitis yang ada di Puskesmas Kapan

Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Sebanyak 55

orang

4.4.3 Teknik Sampling

Pada penelitian ini Teknik pengambilan sampel yang di gunakan adalah

Total Sampling Adalah Teknik pengambilan sample dimana jumlah

sample sama dengan populasi (Sugiyono, 2007).

4.5 Kerangka Operasional

Menurut Notoadmojo (2007) dalam Ximenes,Aris.2019), kerangka

operasional adalah sesuatu yang abstrak, logika secara arti harfiah dan akan

membantu peneliti dalam menghubungkan hasil penemuan dengan Body of

Knowledge. Bentuk kerangka operasional penelitian ini adalah sebagai berikut :

26
Jumlah Populasi pasien dermatitis
Berjumlah 55 pasien

Total
sampling

Sampel
Jumlah sampel 50 orang

Memberi penjelasan Penelitian dan


Informed Consent

Pengambilan data
(kuesioner )

Pengolahan Data ( editing,coding,


entry, Cleaning, tabulating,)
dianalisa menggunakan SPSS 16,0
for windows dengan uji Chi Sqare

Hasil/ kesimpulan

Gambar 4.2 Kerangka Operasional

27
4.6 Identifikasi Variabel dan Defenisi Operasional

4.6.1 Variabel Penelitian

Variabel Adalah karakteristik subyek penelitian yang berubah dari

subyek ke subyek yang lain (Nursalam, 2015 dalam Ximenes,Aris . 2019).

Dalam penelitian ini terdiri dari 2 variabel yaitu variable bebas

(independen) dan variable terikat ( dependen)

a. Variabel independen (bebas)

Variabel independen adalah faktor yang diduga sebagai faktor

yang mempengaruhi variabel dependen (Nursalam, 2015 dalam

Ximenes,Aris . 2019). Variabel independen pada penelitian ini adalah

personal hygiene,pengetahuan,APD,usia dan lingkungan.

b. Variabel Dependen

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel

independen atau bebas (Notoatmojo, 2007 dalam Ximenes,Aris..

2019)Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian

Dermatitisn pada pasien dermatitis di Puskesmas Kapan Kematan

Molo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Sebanyak 55 orang.

4.6.2 Defenisi operasional, dan cara pengukuran variabel

Definisi operasional adalah batasan pengertian yang dijadikan

pedoman untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, misalnya

28
penelitian(Desy maulidia. 2014). Definisi operasional terkait penelitian

terdapat dalam tabel 4.1, yaitu :

Tabel 4.1 Defenisi Operasional


(Desy maulidia. 2014).
No Defenisi Cara ukur Alat ukur Skala data Kategori
Variabel Operasional

1.
Independen

Mengajukan Wawancara Nominal 1.Baik = Jika melakukan


Cara perawatan pertanyaan Kuesioner kebiasaan mencuci tangan
Personal diri responden untukmemelihara kesehatanmeliputi, kebiasaan
melalui dan sela-sela jari tangan
Mencuci tangan, kuesioner dengan sabun dan air
Hygiene yang mengalir,mencuci
mencuci kaki,
mandi dan kaki dan sela-sela jari
mencuci pakaian kaki dan sabun dan air
kerja yang mengalir,mencuci
pakian kerja,mandi
setelah
beraktivitas,dengan
memiliki hasil skor baik
jika > 20.

2.Buruk = Jika tidak


melakukan kebiasaan
mencuci tangan dan sela-
sela jari tangan dengan
sabun dan air yang
mengalir,mencuci kaki
dan sela-sela jari kaki dan
sabun dan air yang
mengalir,mencuci pakian
kerja,mandi setelah
beraktivitas,dengan
memiliki hasil skor baik
jika > 20.
Pengunaan Mengajukan Wawancara Nominal 1. Baik = bila memakai
Kebiasaan pertanyaan sarung tangan,masker
Kuesioner
APD responden melalui dan kaos kaki,dengan
dalam
kuesioner skor baik jika > 16.
menggunakan
APD seperti
sarung
tangan,masker 2. Buruk = bila hanya
dan kaos kaki danfrekuensi penggunaan. memakai sarung
tangan,masker dan kaos

29
kaki saja atau bahkan
danfrekuensi penggunaan. tidak memakai sama
sekali, dengan skor jika
< 16.

Usia Lama hidup Mengajukan Wawancara Nominal 1. Dewasa Tua : > 35 tahun
pekerja terhitun pertanyaan Kuesioner
g sejak lahir melalui 2. Dewasa Muda : < 35
sampai peneliti kuesioner tahun
anberlangsung.

Pengetahuan Segala sesuatu Mengajukan Wawancara Nominal 1. Baik= ≥76


yang diketahui pertanyaan Kuesioner 2. Cukup=
pasien melalui
mengenai 56-75
kuesioner
penyakit 3. Kurang =
dermatitis ≤ 55
Arikunto (2012)

Lingkungan Keadaan fisik Mengajukan Wawancara Nominal 1. sanitasi lingkungan baik


tempat tinggal pertanyaan Kuesioner = jika lingkungan tidak
pasien melalui terdapat sampah dan
kuesioner sumber air yang
tercemar serta tidak
padat penduduk.

2. sanitasi lingkungan
Buruk = jika terdapat
sampah,air yang
tercemar dan padat
penduduk

2. Dependen

Kejadian Peradangan Mengajukan Wawancara Nominal 1.Penderita dermatitis: bila


Dermatitis kulit (epidermis pertanyaan Kuesioner terdiagnosa dermatitis
dan dermis) melalui
seperti ruam, kuesioner 2.Bukan penderita
kemerahan dermatitis : apabila tidak
serta kulit yang terdiagnosa dermatitis
terasa gatal,
kering, dan
bersisik

30
4.7. Teknik Dan Prosedur Pengumpulan Data

4.7.1. Teknik dan prosedur pengumpulan data yang pertama dengan membuat

proposal penelitian selanjutnya proposal tersebut dimasukan ke

Puskesmas Kapan setelah proposal di terima maka selanjutnya memberikan

lembar kesediaan mejadi responden yang di dalamnya telah di jelaskan

tujuan dari penelitian kepada responden. Setelah lembar kesediaan mejadi

responden di tanda tangani oleh responden maka tahap selanjutnya

melakukan pengumpulan data di mana data untuk mengetahui Analisa

faktor-faktor(personal hygiene,APD,usia,pengetahuan,lingkungan) dan

kejadian dermatitis diteliti menggunakan kuesioner.

4.8. Pengolahan Dan Analisa Data

4.8.1. Pengolahan Data

Menurut Nursalam, (2015) dalam Ximenes,Aris (2019) dalam

pengolahan data penelitian ada beberapa cara:

a. Editing, dilakukan untuk memastikan bahwa data yang terkumpul

adalah data yang sudah terisi semua dan dapat dibaca dengan baik

caranya dengan meneliti kuesioner yang diterima dari responden

b. Coding, Memberikan kode pada setiap data yang ada di lembar

kuesioner untuk keperluan analisis statistik dengan computer

c. Cleaning, Melakukan pengecekan kembali untuk memastikan bahwa

data yang sudah di entry tidak terdapat kesalahan dan siap di analisis.

31
d. Tabulating, data yang telah di susun dimasukan dalam bentuk table

sehingga mudah di analisis

4.8.2. Analisa Data

Setelah data diolah melalui beberapa tahapan tersebut kemudian

dilakukan analisa data :

a. Analisis Univariat

Analisis Univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil

penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan

distribusi dan persentase dari tiap variabel (Nursalam, 2015 dalam

Ximenes,Aris 2019). Analisa data merupakan bagian yang sangat

penting untuk mencapai tujuan, dimana tujuan pokok penelitian adalah

menjawab pertanyaan peneliti dalam mengungkapkan fenomena

(Nursalam, 2015 dalam Ximenes,Aris. 2019). Analisa univariat pada

penelitian ini adalah Analisis faktor-faktor (personal

hygiene,APD,usia,pengetahuan,lingkungan), kejadian dermatitis di

puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah

Selatan.

b. Analisis Bivariat

Analisis yang dilakukan terhadap dua variable yang diduga

berhubungan atau berkolerasi (Nursalam, 2015 dalam Ximenes,Aris.

2019).Untuk mengetahui hubungan antara variable,diuji dengan uji Chi

32
Square menggunakan program SPSS 16.0 for window untuk mengetahui

Analisis faktor-faktor (personal hygiene,APD,usia,pengetahuan,lingkun

gan), kejadian dermatitis di puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara

Kabupaten Timor Tengah Selatan, dengan intreprestasi hasil jika pada

tingkat signifikan P ≤ 0,05 artinya ada hubungan faktor-faktor (personal

hygiene,APD,usia,pengetahuan,lingkungan), kejadian dermatitis di

puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah

Selatan signifikan P ≥ 0,05 artinya tidak ada hubungan faktor-faktor (per

sonal hygiene,APD,usia,pengetahuan,lingkungan), kejadian dermatitis

di puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah

Selatan.

33
BAB 5

HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

5.1.1 Gambaran Umum Puskesmas Kapan

Puskesmas Kapan merupakan salah satu Puskesmas di Kabupaten

TTS yang dilengkapi dengan fasilitas rawat inap. Secara Geografis

terletak pada wilayah Desa Obesi, Kecamatan Mollo Utara, Kab TTS.

Luas wilayah kerja Puskesmas Kapan yaitu 12.259, km2. Adapun batas-

batas wilayah Kecamatan Mollo Utara adalah sebagai berikut :

 Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Polen


 Sebelah Barat berbatasan dengan Nunbena dan Mollo Barat
 Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Fatumnasi dan Tobu
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Mollo Tengah

Sarana Kesehatan yang ada di Kecamatan Mollo Utara terdiri dari

Puskesmas 1 buah, Puskesmas pembantu 2 buah, Poskesdes 1 buah, Mobil

Puskesmas Keliling 1 buah, Polindes 2 buah. Sampai. Jumlah tenaga di

Puskesmas Kapan baik PNS maupun PTT, berjumlah 23 orang, dengan

perincian PNS sebanyak 22 orang dan PTT sebanyak 1 orang. Sebanyak 2

orang tenaga kerja saat ini sedang melanjutkan pendidikan, yaitu tenaga

perawat gigi dan Tenaga Gizi. Distribusi tenaga per unit kerja. Dana yang

digunakan untuk menunjang pelaksanaan program kesehatan di Puskesmas

34
berasal dari dana BOK(Bantuan Oprasional Keuangan), Kapitas,

Jampersal.

5.1.2 Visi dan Misi Puskesmas Kapan

A. Visi Puskesmas Kapan

Menjadi Puskesmas Model tingkat Kabupaten TTS yang dapat

memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

B. Misi Puskesmas Kapan

1) Melakukan Kerja sama Lintas Sektor dalam rangka menurunkan


AKI/AKB untuk menyukseskan Revolusi KIAdi Kecamatan Mollo
Utara.
2) Melaksanakan Manajemen Pelayanan Puskesmas yang Efektif dan
Efisien sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP)
3) Menggerakkan Masyarakat dalam Pembangunan Kesehatan
4) Melaksanakan PONED yang Efektif dan Efisien dengan
mengoptimalkan peran Tim PONED Puskesmas.

35
5.2 Hasil Penelitian

5.2.1 Data Umum Penelitian

a. Jenis Kelamin

Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah Presentase(%)


1 Laki-Laki 35 64
2 Perempuan 20 36
Total 55 100
*Sumber : Data Primer

Dari tabel 5.1.menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian

besar berjenis kelamin laki-laki berjumlah 35 orang (64%), dan

perempuan berjumlah 20 orang (36%)

5.2.2 Data Khusus

a. Personal hygiene

Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Personal Hygiene

No Personal Hygiene Jumlah Presentase(%)


1 Baik 5 9.1
2 Buruk 50 90.9
Total 55 100
*Sumber : Data Primer

Dari tabel 5.2.menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar

memiliki personal hygiene buruk berjumlah 50 orang (90.9%), dan

yang memiliki personal hygiene baik berju mlah 5 orang (9.1%)

36
b. Penggunaan APD

Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Penggunaan APD

No Penggunaan APD Jumlah Presentase(%)


1 Baik 12 21.8
2 Buruk 43 78.2
Total 55 100
*Sumber : Data Primer

Dari tabel 5.3.menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar

menggunakan APD buruk berjumlah 43 orang (78.2%), dan yang

menggunakan APD baik berjumlah 12 orang (21.8%)

c. Usia

Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Usia

No Usia Jumlah Presentase(%)


1 > 35 Tahun 22 40
2 <35 Tahun 33 60
Total 55 100
*Sumber : Data Primer

Dari tabel 5.4.menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar

berusia > 35 tahun berjumlah 22 orang (40%), dan yang berusia < 35

tahun berjumlah 33 orang (60%)

d. Pengetahuan

Tabel 5.5 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan

No Pengetahuan Jumlah Presentase(%)


1 Baik 5 9.1
2 Cukup 32 58.2
3 Kurang 18 32.7
Total 55 100
*Sumber : Data Primer

37
Dari tabel 5.5.menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar

pengetahuan cukup berjumlah 32 orang (58.2%), dan yang terendah

pengetahuan baik berjumlah 5 orang (9.1%)

e. Sanitasi Lingkungan

Tabel 5.6.Distribusi Responden Berdasarkan Sanitasi

Lingkungan

No Sanitasi Jumlah Presentase(%)


Lingkumgan
1 Baik 13 23.6
2 Buruk 42 76.4
Total 55 100
*Sumber : Data Primer

Dari tabel 5.6.menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar

memiliki sanitasi lingkungan yang buruk berjumlah 42 orang (76.4%),

dan yang memiliki sanitasi lingkungan baik berjumlah 13 orang

(23.6%)

f. Kejadian Dermatitis

Tabel 5.7 Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian

Dermatitis

No Kejadian Jumlah Presentase(%)


Dermatitis
1 Penderita 50 90.9
2 Bukan Penderita 5 9.1
Total 55 100
*Sumber : Data Primer

38
Dari tabel 5.7. menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar

menderita dermatitis berjumlah 50 orang (90.9%), dan yang tidak

menderita dermatitis berjumlah 5 orang (9.1%)

g. Pengaruh Personal hygiene dengan Kejadian Dermatitis

Tabel 5.8 Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan

Personal hygiene dengan Kejadian Dermatitis

Personal hygiene Kejadian Dermatitis


No
Penderita Bukan Total
Penderita
N % N % N %
1 Baik 0 0 5 9.1 5 9.1
2 Buruk 50 90.9 0 0 50 90.9
Total 50 90.9 5 9.1 55 100
Chi Square= 0.000

*Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 5.8 menunjukan bahwa dari 55 responden

terdapat personal hygiene baik dengan yang bukan penderita dermatitis

berjumlah 5 orang (9.1%), personal hygiene buruk dengan yang

menderita dermatitis berjumlah 50 orang (90.9%).

Dilihat dari uji statistik Chi Square menunjukan P value =

0,000, maka H1 di terima pada tingkat signifikan P < 0,05 artinya

Faktor Personal hygiene dapat Mempengaruhi Kejadian Dermatitis di

Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara.

39
h. Pengaruh Penggunaan APD dengan Kejadian Dermatitis

Tabel 5.9 Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan

Penggunaan APD dengan Kejadian Dermatitis

Penggunaan APD Kejadian Dermatitis


No
Penderita Bukan Total
Penderita
N % N % N %
1 Baik 7 12.7 5 9.1 12 21.8
2 Buruk 43 78.2 0 0 43 78.2
Total 50 90.9 5 9.1 55 100
Chi Square= 0.000

*Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 5.9 menunjukan bahwa dari 55 responden

terdapat penggunaan APD baik dengan yang menderita dermatitis

berjumlah 7 orang (12.7%), penggunaan APD baik dengan yang bukan

menderita dermatitis berjumlah 5 orang (9.1%), penggunaan APD

buruk dengan yang menderita dermatitis berjumlah 43 orang (78.2%),

Dilihat dari uji statistik Chi Square menunjukan P value =

0,000, maka H1 di terima pada tingkat signifikan P < 0,05 artinya

Faktor Penggunaan APD dapat Mempengaruhi Kejadian Dermatitis di

Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara.

40
i. Pengaruh Usia dengan Kejadian Dermatitis

Tabel 5.10 Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan

Usia dengan Kejadian Dermatitis

Usia Kejadian Dermatitis


No
Penderita Bukan Total
Penderita
N % N % N %
1 >35 Tahun 17 30.9 5 9.1 22 40.0
2 <35 Tahun 33 60.0 0 0 33 60.0
Total 50 90.9 5 9.1 55 100
Chi Square= 0.004

*Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 5.10 menunjukan bahwa dari 55 responden

terdapat Yang berusia > 35 tahun dengan yang menderita dermatitis

berjumlah 17 orang (30.9%), berusia > 35 tahun dengan yang bukan

menderita dermatitis berjumlah 5 orang (9.1%), yang berusia < 35

tahun dengan yang menderita dermatitis berjumlah 33 orang (60.0%),

Dilihat dari uji statistik Chi Square menunjukan P value =

0,004, maka H1 di terima pada tingkat signifikan P < 0,05 artinya

Faktor Usia dapat Mempengaruhi Kejadian Dermatitis di Puskesmas

Kapan Kecamatan Mollo Utara.

41
j. Pengaruh Pengetahuan dengan Kejadian Dermatitis

Tabel 5.11 Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan

Pengetahuan dengan Kejadian Dermatitis

Pengetahuan Kejadian Dermatitis


No
Penderita Bukan Total
Penderita
N % N % N %
1 Baik 5 9.1 0 0 5 9.1
2 Cukup 32 58.2 0 0 32 58.2
3 Kurang 13 23.6 5 9.1 18 32.7
Total 50 90.9 5 9.1 55 100
Chi Square= 0.004

*Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 5.11 menunjukan bahwa dari 55 responden

terdapat Yang pengetahuan baik dengan yang menderita dermatitis

berjumlah 5 orang (9.1%), pengetahuan cukup dengan yang menderita

dermatitis berjumlah 32 orang (58.2%), pengetahuan kurang dengan

yang menderita dermatitis berjumlah 13 orang (23.6%), pengetahuan

kurang dengan yang bukan menderita dermatitis berjumlah 5 orang

(9.1%),

Dilihat dari uji statistik Chi Square menunjukan P value =

0,004, maka H1 di terima pada tingkat signifikan P < 0,05 artinya

Faktor pengetahuan dapat Mempengaruhi Kejadian Dermatitis di

Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara.

42
k. Pengaruh Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Dermatitis

Tabel 5.12 Distribusi Responden Berdasarkan Pengaruh

sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Dermatitis

Sanitasi Kejadian Dermatitis


No Lingkungan
Penderita Bukan Total
Penderita
N % N % N %
1 Baik 9 16.4 4 7.3 13 23.6
2 Buruk 41 74.5 1 1.8 42 76.4
Total 50 90.9 5 9.1 55 100
Chi Square= 0.002

*Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 5.12 menunjukan bahwa dari 55 responden

terdapat Yang sanitasi lingkungan baik dengan yang menderita

dermatitis berjumlah 9 orang (16.4%), sanitasi lingkungan baik dengan

yang bukan menderita dermatitis berjumlah 4 orang (7.3%), sanitasi

lingkungan buruk dengan yang menderita dermatitis berjumlah 41

orang (74.5%), sanitasi lingkungan buruk dengan yang bukan

menderita dermatitis berjumlah 5 orang (9.1%)

Dilihat dari uji statistik Chi Square menunjukan P value =

0,002, maka H1 di terima pada tingkat signifikan P < 0,05 artinya

Faktor sanitasi lingkungan dapat Mempengaruhi Kejadian Dermatitis di

Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara.

43
BAB 6

PEMBAHASAN

6.1 Personal Hygiene

Dari tabel 5.2.menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar

memiliki personal hygiene buruk berjumlah 50 orang (90.9%), dan yang

memiliki personal hygiene baik berjumlah 5 orang (9.1%)

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukaan oleh Eka Julhikmah dkk

2021 dengan judul Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian

Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Alalak Tengah Kota Banjarmasin.

Populasinya adalah pasien yang datang berobat dan telah melakukan kunjungan

di poli kesehatan lingkungan Puskesmas Alalak Tengah. Sampel dalam

penelitian ini 43 orang dengan teknik pengambilan sampel Accidental Sampling.

Hasil penelitian menunjukan bahwa personal hygiene 24 responden (55,8%)

diantaranya memiliki personal hygiene yang buruk dan 19 responden (44,2%)

memiliki personal hygiene yang baik.

Penelitian yang dilakukan oleh Ana Jumiati dkk 2020 dengan judul Faktor

Yang Berhubungan Dengan Gejala Klinis Dermatitis Kontak Pada Kelompok

Petani Kelapa Di Mendahara Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Sampel

penelitian adalah kelompok petani di Mendahara Ilir sebanyak 97 responden.

Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2020. Instrumen penelitian adalah lembar

observasi dan kuesioner. Uji statistik yang digunakan uji chi-square. Hasil

44
menunjukan bahwa responden yang memiliki personal hygiene kurang baik

sebanyak 60 orang (61,9%).

Personal Hygiene merupakan upaya seseorang dalam memelihara

kebersihan dan kesehatan dan atau sesuatu yang sangat penting untuk di

perhatikan termasuk dalam pencegahan primer yang spesefik serta dapat

mempengaruhi kesehatan baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental

seseorang dalam kehidupan harianya(Putra,2017).

Peneliti berpendapat bahwa personal hygiene responden buruk di sebabkan

oleh kebiasaan mencuci tangan yang kurang baik (tidak pernah membersihkan

sela-sela jari tangan, tidak pernah menggunakan sabun dan tidak pernah mencuci

tangan dengan air yang mengalir) serta kebiasaan memakai handuk secara

bergantian, mencuci rambut tidak menggunakan shampo dan jarang memotong

kuku kurang dari 1x dalam seminggu.

6.2 Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

Dari tabel 5.3.menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar

menggunakan APD buruk berjumlah 43 orang (78.2%), dan yang menggunakan

APD baik berjumlah 12 orang (21.8%)

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ana Jumiati dkk 2020

dengan judul Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Klinis Dermatitis

Kontak Pada Kelompok Petani Kelapa Di Mendahara Ilir Kabupaten Tanjung

Jabung Timur, Sampel penelitian adalah kelompok petani di Mendahara Ilir

45
sebanyak 97 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2020. Instrumen

penelitian adalah lembar observasi dan kuesioner. Uji statistik yang digunakan

uji chi-square. Hasil menunjukan bahwa responden yang tidak lengkap dalam

menggunakan APD sebanyak 53 orang (54,6%).

Penelitian yang dilakukan oleh Kartika Widianingsih 2017 dengan judul

Kejadian Dermatitis Kontak Pada Pemulung di Tempat Pemrosesan Akhir

(TPA) Pecuk Indramayu, Jumlah sampel 40 orang. Analisis data uji statistik

menggunakan Uji Chi Square dan Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian

menunjukan bahwa kategori penggunaan APD yang buruk sebanyak 28 orang

(70%).

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan seperangkat alat yang digunakan

seseorang untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi

bahaya atau kecelakaan kerja. APD tidak secara sempurna melindungi tubuh,

tetapi dapat mengurangi tingkat keparahan yang mungkin terjadi.

Peneliti berpendapat bahwa Penggunaan APD buruk di sebabkan kebiasaan

responden yang malas tahu (dalam hal ini tidak menggunakan sarung

tangan,kaos kaki serta masker) saat beraktifitas sehingga memperburuk

kesehatan mereka.

46
6.3 Usia

Dari tabel 5.4.menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar berusia

> 35 tahun berjumlah 22 orang (40%), dan yang berusia < 35 tahun berjumlah

33 orang (60%).

Hal ini sesuai dengan penelitiasn yang dilakukan Gloria N. Wibisono dkk

2018 oleh dengan judul Faktor-Faktor Yang Behubungan Dengan Timbulnya

Gangguan Kulit Pada Nelayan Di Kelurahan Posokan Kecamatan Lembeh Utara

Kota Bitung. Sampel berjumlah 75 nelayan di Kelurahan Posokan Kecamatan

Lembeh Utara Kota Bitung, data yang diambil pada nelayan sesuai keinginan

dari peneliti yang menurut peneliti sesuai dengan penelitiannya, penelitian ini

dilaksanakan pada bulan November-Desember 2019. usia terbanyak terdapat

pada usia < 45 tahun berjumlah 48 orang (64%).

Penelitian yang dilakukan Arie Retnoningsih dkk 2017 dengan judul

Analisis Faktor-Faktor Kejadian Dermatitis Kontak Pada Nelayan Sampel dalam

penelitian ini sebanyak 82 orang, menggunakan metode random sampling dan

Analisis data menggunakan analisi statistik Chi square.hasil pene;litian

menunjukan bahwa sebagian besar nelayan termasuk dalam kategori usia

dewasa tua (≥35 tahun) yaitu sebanyak 72orang (87.8%).

Usia merupakan individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai

dengan berulang tahun, semakin cukup usia tingkat kematangan dan kekuatan

seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja( Lasut 2017).

47
Peneliti berpendapat usia paling banyak dalam penelitian ini adalah > 35

tahun, karena pada usia ini akan mengalami degenerasi, sehingga kulit

kehilangan lapisan lemak di atasnya dan menjadi lebih sensitif serta kering.

6.4 Pengetahuan

Dari tabel 5.5.menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar

pengetahuan cukup berjumlah 32 orang (58.2%), dan yang terendah

pengetahuan baik berjumlah 5 orang (9.1%).

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ana Jumiati dkk 2020

dengan judul Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Klinis Dermatitis

Kontak Pada Kelompok Petani Kelapa Di Mendahara Ilir Kabupaten Tanjung

Jabung Timur, Sampel penelitian adalah kelompok petani di Mendahara Ilir

sebanyak 97 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2020. Instrumen

penelitian adalah lembar observasi dan kuesioner. Uji statistik yang digunakan

uji chi-square. Hasil Penelitian menunjukan bahwa pengetahuan rendah

sebanyak 51 orang (98,1%).

Penelitian yang dilakuakan oleh Devfi Herlina 2017 Hubungan Tingkat

Pengetahuan Orang Tua Dengan Pelaksanaan Perawatan Di Rumah Penyakit

Dermatitis Pada Anak Di Wilayah Kerja Puskesmas Desa Gedang Kota Sungai

Penuh. Penelitian mengunakan metode Deskriptis analitik dengan pendekatan

cross sectional. populasi sejumlah 67 orang. sampelnya berjumlah 67 orang.

Pengambilan sampel secara total sampling. Hasil menunjukan bahwa sebagian

48
besar responden memiliki pengetahuan yang rendah, yaitu sebanyak 40 orang

(59,7%), sedangkan responden dengan pengetahuan tinggi sebanyak 27 orang

(27,3%).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu seseorang terhadap objek melalui

indra yang di milikinya yakni indra pendengaran, indra penciuman, indra

penglihatan, dan indra peraba.Pengetahuan yang didapatkan seseorang sebatas

hanya mengingat kembali apa yang telah di pelajari sebelumnya sehungga dapat

diartikan pengetahuan pada tahap ini adalah tingkat paling rendah (Notoatmodjo

2018).

Peneliti berpendapat bahwa kurangnya pengetahuan responden dikarenakan

ketidaktahuan masyarakat tentang terjadinya penyakit dermatitis serta tanda dan

gejalanya. Adapun faktor kesibukan responden dengan bekerja sehingga kurang

memperhatikan aktivitas kebersihan diri dan lingkungan.

6.5 Sanitasi Lingkungan

Dari tabel 5.6.menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar

memiliki sanitasi lingkungan yang buruk berjumlah 42 orang (76.4%), dan yang

memiliki sanitasi lingkungan baik berjumlah 13 orang (23.6%)

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukaan oleh Eka Julhikmah dkk

2021 dengan judul Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian

Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Alalak Tengah Kota Banjarmasin.

Populasinya adalah pasien yang datang berobat dan telah melakukan kunjungan

49
di poli kesehatan lingkungan Puskesmas Alalak Tengah. Sampel dalam

penelitian ini 43 orang dengan teknik pengambilan sampel Accidental Sampling.

Hasil penelitian menunjukan bahwa 31 responden (72,1%) memiliki sanitasi

lingkungan yang buruk sedangkan 12 responden (27,9%) memiliki sanitasi

lingkungan yang baik.

Peneliti yang di lakukan oleh Abd Gahur 2018 dengan judul Determinan

Kejadian Dermatitiss Di Puskesmas Rappokallin Kota Makasar. Jumlah 64

orang (kasus) dan 64 orang(control), sehungga jumlah keseluruhan sampel

sebanyak 128 orang. Analisis data dilakukan dengan uji Odds Ratio dan di

sajiakn dalam bentuk table. Hasil penelitian menunjukan bahwa sanitasi

lingkungan sarana air bersih yang memenuhi syarat dan kasus dermatitis

sebanyak 14 orang (21,9 %) dari 64 orang (100)dan responden kasus sedang

sarana air bersih yang memenuhi syarat dan control dermatitis sebanyak 36

orang (56.3%) dari 64 orang (100%) dan responden control dermatitis.

Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat seperti

kejadian dermatitis. Banyak aspek kesejahteraan manusia yang dipengaruhi oleh

kondisi lingkungan. Selain itu juga banyak penyakit dapat timbul karena

didukung dan dirangsang oleh faktor lingkungan. Pada hakikatnya, kesehatan

adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap

orang hidup produktif secara sosial ekonomi. Oleh karena itu, jika dikaji lebih

lanjut maka dapat disadari bahwa tidak banyak manusia di muka bumi ini yang

50
berada dalam kondisi sehat sempurna. Akan tetapi, hal ini bukan berarti semua

manusia selalu menderita penyakit karena arti penyakit sendiri merupakan suatu

perubahan yang terjadi pada tubuh manusia sebagai respon dari faktor

lingkungan yang mungkin berupa nutrisi, kimia, biologi atau psikologi (Gerry,

2010).

Peneliti berpendapat bahwa sanitasi lingkungan buruk pada responden di

karenakan responden kurang memperhatikan kebersihan lingkungan dalam hal

ini membuang sampah sembarangan di sekitar lingkungan bahkan membuang

sampah di sungai yang dimana sungai itu digunakan untuk mencuci pakaian,

mandi dan bahkan untuk masak dan minum.

6.6 Kejadian Dermatitis

Dari tabel 5.7. menunjukan bahwa dari 55 responden sebagian besar

menderita dermatitis berjumlah 50 orang (90.9%), dan yang tidak menderita

dermatitis berjumlah 5 orang (9.1%)

Hal ini sesuai dengan penelitian yang di lakukan oleh Arie Retnoningsih dkk

2017 dengan judul Analisis Faktor-Faktor Kejadian Dermatitis Kontak Pada

Nelayan Sampel dalam penelitian ini sebanyak 82 orang, menggunakan metode

random sampling dan Analisis data menggunakan analisi statistik Chi square.

Hasil Menunjukan bahwa sebagian besar 47 orang (57.3%) menderita dermatitis

kontak yang terjadi di bagian tangan hingga lengan dan juga kaki bahkan hingga

paha.

51
Penelitian yang di lakukan oleh Febria Suryani 2015 dengan judul faktor-

faktor yang berhubungan dengan dermatitis kontak pada pekerja bagian

processing dan filling . jumlah sampel 50 orang. Hasil penelitian menunjukan

bahwa 26 orang (52%) mengalami dermatitis dan 24 orang (48%) tidak

mengalami dermatitis.

Dermatitis merupakan atau sering di sebut ekzema adalah peradangan kulit

dengan marfologi khas namun penyebabnya bervariasi.kulit yang mengalami

dermatitis memilikiciri warna kemerahan,bengkak, vesikel kecil berisi cairan

pada tahap akut mengeluarkan cairan pada tahap kronis kulit menjadi bersisik,

mengalami likenefikasi,menebal,tretak dan berubah warna(Jeyaratnam & koh

2010)

6.7 Pengaruh Personal Hygiene dengan Kejadian Dermatitis

Dilihat dari uji statistik Chi Square menunjukan P value = 0,000, maka H1

di terima pada tingkat signifikan P < 0,05 artinya Faktor Personal hygiene dapat

Mempengaruhi Kejadian Dermatitis di Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo

Utara.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukaan oleh Eka Julhikmah dkk

2021 dengan judul Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian

Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Alalak Tengah Kota Banjarmasin.

Populasinya adalah pasien yang datang berobat dan telah melakukan kunjungan

di poli kesehatan lingkungan Puskesmas Alalak Tengah. Sampel dalam

52
penelitian ini 43 orang dengan teknik pengambilan sampel Accidental Sampling.

Hasil analisa dengan menggunakan uji Chi Square didapatkan nilai P value

sebesar 0,002 < α = 0,05 maka dapat dikatakan Ha diterima yaitu terdapat

hubungan yang signifikan antara faktor personal hygiene dengan kejadian

penyakit Dermatitis.

Penelitian yang dilakukan oleh Ana Jumiati dkk 2020 dengan judul Faktor

Yang Berhubungan Dengan Gejala Klinis Dermatitis Kontak Pada Kelompok

Petani Kelapa Di Mendahara Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Sampel

penelitian adalah kelompok petani di Mendahara Ilir sebanyak 97 responden.

Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2020. Instrumen penelitian adalah lembar

observasi dan kuesioner. Uji statistik yang digunakan uji chi-square. Hasil hasil

penelitian diperoleh nilai p=0.001 sehingga menunjukan adanya hubungan

antara personal hygiene Dengan Gejala Klinis Dermatitis Kontak Pada

Kelompok Petani Kelapa Di Mendahara Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Kebersihan perorangan sangat penting untuk diperhatikan. Pemeliharaan

kebersihan perorangan diperlukan untuk menyamanan individu, keamanan dan

kesehatan (Fielrantika & Dhera, 2018). Personal hygiene merupakan salah satu

faktor kejadian dermatitis kontak. Personal hygiene yang dimaksud yaitu

kebiasaan mandi, mencuci tangan dan kaki menggunakan air mengalir dan sabun

setelah bekerja, serta mencuci pakaian kerja setelah pulang dari kerja

(Rahmatika, 2020). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan

53
antara personal hygiene dengan gejala klinis dermatitis kontak. Hal tersebut

disebabkan karena responden tidak membersihkan diri setelah bekerja.

Responden kurang menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele,

padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara

umum. Kebersihan diri meliputi kebersihan kulit, kebersihan rambut,

pemeliharaab rambut, pemeliharaan tangan dan kaki. Pada saat bekerja,

responden tidak memperhatikan kebersihan diri mereka, seperti mereka tidak

mencuci tangan terlebih dahulu sebelum bekerja, mencuci tangan setelah bekerja

dan juga mengganti pakaian kerja setiap hari.

Peneliti berpendapat bahwa adanya hubungan antara personal hygiene dan

kejadian dermatitis di karenakan kurangnya kebersihan diri responden dalam hal

ini jarang mandi,jarang mencuci tangan setelah beraktifitas dan membuang

sampah semberangan(membuang di sungai) sehingga dengan begitu akan

menyebakan perkembangan kuman dan bakteri yang dimana akan menimbulkan

penyakit dermatitis. Oleh karena itu peneliti menyarakan perlu diperhatikan

kebersihan diri pada saat sehabis melakukan pekerjaan/aktifitas sehingga dapat

mengurangi terjadinya penyakit dermatitis pada masyarakat. Kebersihan diri

sesering sangat penting bagi kita karena dapat mencegah penyebaran bakteri,

atau kuman penyakit dan dapat mengurangi paparan bahan kimia setelah

melakukan pekerjaan/aktifitas yang menggunakan bahan kimia.

54
6.8 Pengaruh Penggunaan APD dengan Kejadian Dermatitis

Dilihat dari uji statistik Chi Square menunjukan P value = 0,000, maka H1

di terima pada tingkat signifikan P < 0,05 artinya Faktor Penggunaan APD dapat

Mempengaruhi Kejadian Dermatitis di Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo

Utara.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ana Jumiati dkk 2020

dengan judul Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Klinis Dermatitis

Kontak Pada Kelompok Petani Kelapa Di Mendahara Ilir Kabupaten Tanjung

Jabung Timur, Sampel penelitian adalah kelompok petani di Mendahara Ilir

sebanyak 97 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2020. Instrumen

penelitian adalah lembar observasi dan kuesioner. Uji statistik yang digunakan

uji chi-square. Hasil menunjukan bahwa diperoleh nilai p=0.001 sehingga

menunjukan ada hubungan antara penggunaan APD dengan Gejala Klinis

Dermatitis Kontak Pada Kelompok Petani Kelapa Di Mendahara Ilir Kabupaten

Tanjung Jabung Timur.

Penelitian yang dilakukan oleh Kartika Widianingsih 2017 dengan judul

Kejadian Dermatitis Kontak Pada Pemulung di Tempat Pemrosesan Akhir

(TPA) Pecuk Indramayu, Jumlah sampel 40 orang. Analisis data menggunakan

Uji Chi Square dan Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukan bahwa uji

statistik dengan menggunakan fisher’s exact test, diperoleh nilai probabilitas (P-

value) sebesar 0,015 (P value < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa pada

55
𝛼 (5%) H0 ditolak, artinya menunjukkan adanya hubungan antara terdapat

hubungan antara faktor penggunaan APD dengan penyakit dermatitis kontak

pada pemulung di TPA Pecuk Indramayu tahun 2017.

Seseorang yang berada di area yang berbahaya harus menggunakan

peralatan kesehatan kerja yaitu alat pelindung diri (APD). Penggunaan APD

penting dalam mencegah terjadinya dermatitis, karena dapat melindungi

masyarakat dari paparan atau kontak dengan bahan iritan. Beberapa faktor

perilaku yang dapat mempengaruhi terjadinya dermatitis pada masyarakat yaitu

penggunaan alat pelindung diri, personal hygiene dari pekerja dan riwayat

pekerjaan (Maharani, 2015).

Peneliti berpendapat bahwa Terdapat pengaruh antara menggunakan APD

dengan terjadinya dermatitis, artinya masyarakat yang tidak menggunakan APD

berpotensi besar untuk menderita dermatitis, sedangkan masyarakat yang

menggunakan APD tidak berpotensi terhadap terjadinya dermatitis. Responden

menganggap penyakit dermatitis seperti hal biasa jadi mereka tidak peduli

untuk menggunakan APD karena mereka beranggapan penyakit ini akan

sembuh dengan sendirinya. Dan APD yang harus digunakan adalah antara lain

sarung tangan dan masker kaos kaki saat beraktifitas.

56
6.9 Pengaruh Usia dengan Kejadian Dermatitis

Dilihat dari uji statistik Chi Square menunjukan P value = 0,004, maka H1

di terima pada tingkat signifikan P < 0,05 artinya Faktor Usia dapat

Mempengaruhi Kejadian Dermatitis di Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo

Utara.

Hal ini sesuai dengan penelitiasn yang dilakukan Gloria N. Wibisono dkk

2018 oleh dengan judul Faktor-Faktor Yang Behubungan Dengan Timbulnya

Gangguan Kulit Pada Nelayan Di Kelurahan Posokan Kecamatan Lembeh Utara

Kota Bitung. Sampel berjumlah 75 nelayan di Kelurahan Posokan Kecamatan

Lembeh Utara Kota Bitung, data yang diambil pada nelayan sesuai keinginan

dari peneliti yang menurut peneliti sesuai dengan penelitiannya, penelitian ini

dilaksanakan pada bulan November-Desember 2019. Hasil penelitian hubungan

faktor usia dengan gangguan kulit bahwa terdapat hubungan dengan nilai p=

0,001.

Penelitian yang dilakukan Arie Retnoningsih dkk 2017 dengan judul

Analisis Faktor-Faktor Kejadian Dermatitis Kontak Pada Nelayan Sampel dalam

penelitian ini sebanyak 82 orang, menggunakan metode random sampling dan

Analisis data menggunakan analisi statistik Chi square. hasil bahwa sebanyak 7

nelayan (70%) dengan usia kategori muda tidak menderita dermatitis kontak dan

sebagian besar nelayan (61.1%) dengan usia kategori dewasa tua menderita

dermatitis kontak. Hasil analisis dengan uji Chi Square nilai signifikansi (p

57
value) sebesar 0.002 dengan α=0.05. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan

antara usia dengan kejadian dermatitis kontak pada nelayan.

Dermatitis dapat diderita oleh semua golongan usia, namun usia hanya

sedikit berpengaruh pada kapasitas sensitasi dan setiap kelompok usia memiliki

pola karakteristik sensitifitas yang berbeda. Pada dewasa muda, cenderung

didapati kejadian dermatitis kontak karena pekerjaan. Pada usia tua, cenderung

didapati dermatitis kontak karena adanya riwayat sensifitas terdahulu. Pada usia

tua reaksi terhadap bahan iritan mungkin meningkat, tetapi bentuk kelainan

kulit berupa kemerahan yang terlihat pada usia tua berkurang. Usia setelah 30

tahun, produksi hormon- hormon penting seperti tertosteron, growth hormone

dan esterogen mulai menurun. Produksi hormone yang dapat mempengaruhi

kesehatan kulit, seperti terjadinya penuaan pada kulit(Arie, 2017).

Peneliti berpendapat bahwa terdapatnya pengaruh usia dengan kejadian

dermatitis di karenakan sebagian besar usia dewasa tua memiliki riwayat

penyakit kulit sehingga lebih mudah terserang dermatitis karena adanya

peningkatan kerentanan pada kulit.

58
6.10 Pengaruh Pengetahuan dengan Kejadian Dermatitis

Dilihat dari uji statistik Chi Square menunjukan P value = 0,004, maka H1

di terima pada tingkat signifikan P < 0,05 artinya Faktor pengetahuan dapat

Mempengaruhi Kejadian Dermatitis di Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo

Utara.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ana Jumiati dkk 2020

dengan judul Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Klinis Dermatitis

Kontak Pada Kelompok Petani Kelapa Di Mendahara Ilir Kabupaten Tanjung

Jabung Timur, Sampel penelitian adalah kelompok petani di Mendahara Ilir

sebanyak 97 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2020. Instrumen

penelitian adalah lembar observasi dan kuesioner. Uji statistik yang digunakan

uji chi-square. hasil penelitian diperoleh nilai p=0.001 artinya terdapat hubungan

antara pengetahuan dengan gejala klinis dermatitis kontak pada kelompok petani

kelapa di mendahara ilir kabupaten tanjung jabung timur.

Penelitian yang dilakuakan oleh Devfi Herlina 2017 Hubungan Tingkat

Pengetahuan Orang Tua Dengan Pelaksanaan Perawatan Di Rumah Penyakit

Dermatitis Pada Anak Di Wilayah Kerja Puskesmas Desa Gedang Kota Sungai

Penuh. Penelitian mengunakan metode Deskriptis analitik dengan pendekatan

cross sectional. populasi sejumlah 67 orang. sampelnya berjumlah 67 orang.

Pengambilan sampel secara total sampling. Berdasarkan uji Chi Square dengan

derajat kepercayaan 95% (α = 0,05) didapatkan hasil uji statistic di peroleh nilai

59
p-value= 0,012 (p< 0,05 hal ini berarti p-valuelebih kecil dari alpha (5 %). Ha

diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna

antara hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan pelaksanaan perawatan

di rumah penyakit dermatitis pada anak di wilayah kerja pukesmas desa gedang

kota sungai penuh tahun 2017.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu sebagai akibat proses pengindraan

terhadap suatu objek tertentu, pengindraan tersebut terjadi pada sebagian besar

melalui pengelihatan dan pendengaran (Notoatmodjo, 2010). Kurangnya

pengetahuan pekerja mengenai dermatitis kontak menyebabkan pekerja tidak

melakukan secara aman untuk mencegah terjadinya dermatitis kontak.

Pengetahuan akan memengaruhi pekerja dalam melakukan pekerjaan dengan

menggunakan bahan kimia. Misalnya adalah pekerja tidak langsung mencuci

tangan setelah terpapar bahan kimia, hal ini akan menyebabkan bahan kimia

tersebut semakin lama menempel pada kulit dan akan terabsorbsi (Syarif, 2017).

Peneliti berpendapat bahwa Pengetahuan masyarakat yang kurang baik

disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat tentang terjadinya penyakit

dermatitis, faktor kesibukan masyarakat sehingga kurang memperhatikan

aktivitas sehingga masyarakat bersikap seakan-akan kurang peduli pada

kesehatan mereka. Hal ini juga disebabkan oleh perubahan dari individu itu

sendiri dengan melihat, menerima, merawat dan melaksanakan apa yang mereka

60
dapatkan dari penyuluhan-penyuluhan. Ada yang mengikuti penyuluhan dan

mau mempraktekan dan sebagian besar yang malas tahu dengan hal tersebut.

6.11 Pengaruh Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Dermatitis

Dilihat dari uji statistik Chi Square menunjukan P value = 0,002, maka H1

di terima pada tingkat signifikan P < 0,05 artinya Faktor sanitasi lingkungan

dapat Mempengaruhi Kejadian Dermatitis di Puskesmas Kapan Kecamatan

Mollo Utara.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukaan oleh Eka Julhikmah dkk

2021 dengan judul Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian

Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Alalak Tengah Kota Banjarmasin.

Populasinya adalah pasien yang datang berobat dan telah melakukan kunjungan

di poli kesehatan lingkungan Puskesmas Alalak Tengah. Sampel dalam

penelitian ini 43 orang dengan teknik pengambilan sampel Accidental Sampling.

Hasil uji Chi Square didapatkan nilai P value sebesar 0,012,artinya terdapat

hubungan antara faktor pengetahuan dengan kejadian dermatitis di wilayah kerja

puskesmas alalak tengah kota Banjarmasin

Peneliti yang di lakukan oleh Abd Gahur 2018 dengan judul Determinan

Kejadian Dermatitiss Di Puskesmas Rappokallin Kota Makasar. Jumlah 64

orang (kasus) dan 64 orang(control), sehungga jumlah keseluruhan sampel

sebanyak 128 orang. Analisis data dilakukan dengan uji Odds Ratio dan di

sajiakn dalam bentuk table. Hasil penelitian menunjukan bahwaUji Chi Square

61
menunjukan nilai P= 0.000 artinya terdapat hubungan antara sanitasi lingkungan

dengan Dermatitiss Di Puskesmas Rappokallin Kota Makasar.

Kurangnya penyediaan air bersih juga dapat menimbulkan berbagai

penyakit kulit diantaranya adalah Dermatitis. Penyebab terjadinya dermatitis

salah satunya yaitu pencemaran air yang diakibatkan karena adanya mikroba dan

patogen. Hal lain yang dapat mempermudah penyebaran adalah keadaan

penyediaan air bersih yang kurang jumlahnya (Kristanti, 2017). Kondisi

lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat seperti kejadian

dermatitis. Banyak aspek kesejahteraan manusia yang dipengaruhi oleh kondisi

lingkungan. Selain itu juga banyak penyakit dapat timbul karena didukung dan

dirangsang oleh faktor lingkungan. Pada hakikatnya, kesehatan adalah keadaan

sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup

produktif secara sosial ekonomi. Oleh karena itu, jika dikaji lebih lanjut maka

dapat disadari bahwa tidak banyak manusia di muka bumi ini yang berada dalam

kondisi sehat sempurna. Akan tetapi, hal ini bukan berarti semua manusia selalu

menderita penyakit karena arti penyakit sendiri merupakan suatu perubahan

yang terjadi pada tubuh manusia sebagai respon dari faktor lingkungan yang

mungkin berupa nutrisi, kimia, biologi atau psikologi (Gerry, 2010).

Peneliti berpendapat bahwa adanya pengaruh sanitasi lingkungan dengan

kejadian dermatitis di karenakan masyarakat masih mempraktekkan perilaku

hidup yang tidak sehat, seperti membuang sampah di sungai, kebiasaan mandi,

62
cuci, kakus (MCK) di sungai yang telah tercemar oleh sampah dan limbah

pabrik, dan dinding yang bersih dan tidak lembab.

63
BAB 7

PENUTUP

7.1 Kesimpulan

7.1.1 Faktor Personal Hygiene Menunjukan Bahwa Dari 55 Responden Sebagian

Besar Memiliki Personal Hygiene Buruk Sebanyak 50 Orang(90.9%)

7.1.2 Faktor Penggunaan APD Menunjukan Bahwa Dari 55 Responden Sebagian

Besar Memiliki Menggunakan APD Buruk Sebanyak 43 Orang(78.2%)

7.1.3 Faktor Usia Menunjukan Bahwa Dari 55 Responden Sebagian Besar

Berusia > 35 Tahun Sebanyak 22 Orang(60%)

7.1.4 Faktor Pengetahuan Menunjukan Bahwa Dari 55 Responden Sebagian

Besar Memiliki Pengetahuan Buruk Sebanyak 32 Orang(58.2%)

7.1.5 Faktor Sanitasi Lingkungan Menunjukan Bahwa Dari 55 Responden

Sebagian Besar Memiliki Sanitasi Lingkungan Buruk Sebanyak 42

Orang(76.4%)

7.1.6 Faktor Kejadian Dermatitis Menunjukan Bahwa Dari 55 Responden

Sebagian Besar Mengalami Penyakit Dermatitis Sebanyak 50

Orang(90.9%)

7.1.7 Terdapat Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di

Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah

Selatan

64
7.2 Saran

7.2.1 Bagi Puskesmas

1. Perlu mengadakan pendidikan kesehatan kepada masyarakat mengenai

Pola Hidup Bersih dan Sehat Seperti personal hygiene (mencuci tangan

dan kaki menggunakan sabun setelah beraktivitas, mandi setelah pulang

beraktivitas , mengganti pakaian kerja setiap hari, menggunakan APD

yang bersih dan tidak lembab (seperti masker dan sarung tangan) untuk

mengurangi risiko atau mencegah kejadian dermatitis serta pembuangan

dan penggunaan sampah.

2. Petugas Puskesmas Kapan perlu melakukan monitoring dan evaluasi

secara berkala kalau perlu melakukan kunjungan ke rumah masyarakat

untuk mengetahui perkembangan keadaan kesehataan

7.2.2 Bagi institusi pendidikan

Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai penyedia data dasar

bagi peneliti lain yang memerlukan masukan berupa data atau

pengembangan penelitian dengan judul yang sama demi kesempurnaan

penelitian ini

65
7.2.3 Bagi peneliti selanjutnya

1. Diharapkan penelitian ini dijadikan sebagai bahan acuan untuk peneliti

selanjutnya

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor dalam

minum Kejadian Dermatitis di Puskesmas Kapan dengan lebih banyak

variabel yang berhubungan dengan misalnya faktor :

Dukungan Keluarga, sosial budaya dan lain-lain.

66
Daftar Pustaka

Ana Jumiati. Dkk.( 2020). Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Klinis Dermatitis
Kontak Pada Kelompok Petani Kelapa Di Mendahara Ilir Kabupaten Tanjung Jabung
Timur.

Andi Shaleha Maudani.dkk.(2020). Analisis Spasial Penyakit Dermatitis Di Puskesmas


Labakkang Kabupaten Pangkep.

Arie Retnoningsih. (2017). Analisis Faktor-Faktor Kejadian Dermatitis Kontak Pada


Nelayan.Fakultas Kesehatan Masyarakat: Universitas Muhammadyah semarang.

Aris Ximenes Soares. (2019). Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Minum


Obat Pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Naibonat Kecamatan Kupang
Timur Kabupaten Kupang. Prodi S1 Keperawatan : Stikes Nusantara Kupang

Arni Lasari Hutagalung. (2017). Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Pekerja Binatu Terhadap
Dermatitis Kontak Di Kelurahan Padang Bulan.Fakultas Kedokteran:Universitas
Sumatra Utara Medan

Behroozy A Keegel TG. (2014). A main risk factor for occupational hand
dermatitis. Safety and health et work.

Djuanda, A, Hamzah.(2016). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.Edisi ke 6.Jakarta

Fera. 2018. Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan Pada
Petani Di Wilayah Kerja Puskesmas Lameuru Kecamatan Ranomeeto Barat
Kabupaten Konawe Selatan.Jurnal MJPH, Vol 1 No. 2,

Ferdian R.(2012). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis kontak pada
pekerja pembuatan tahu di wilayah kecamatan ciputat dan ciputan timur.Universitas
Islam Negeri Syarif Hidatullah Jakarta

Florence, Suryanisitumeang(2008).Analisis Dermatitis kontak pada pekerja penguci botol di


PT X Medan.Sumatra Utara.

67
Gerry, Dessler. (2010). Manajemen sumber daya manusia(edisi ke sepuluh).Jakarta Barat :Pt
Indeks

Hanna Mutiara.dkk.(2019). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Kontak


Akibat Kerja pada Karyawan Salon di Kelurahan Pahoman.

Maulidia,Desy F. (2014). Hubungan Antara Dukungan Keluarga dan Kepatuhan


Minum Obat pada Penderita TB di Wilayah Ciputat. Program Studi Ilmu
Keperawatan:Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah Jakarta

Muchlis M.(2012). Kerakteristik penderita dermatitis pada masyarakat di puskesmas


tamangph,kecamatan manggala kota makasar.Universitas hasannudin
makasar.

Nanto S.S.(2015). Kejadian Timbulnya Dermatitis kontak pada petugas


kesehatan.Jurnal kedokteran.Majoriti.: Universitas Lampung

Notoadmodjo, Soekidjo. (2010). Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT.Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. (2003) Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo,Soekidjo.(2007).Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta:Rineka


Cipta

Nuraga dkk.(2008).Faktor-faotor yang mempengaruhi kejadian dermatitis kontak


pada pekerja yang terpajan dengan bahan kimia di industry
perusahaan,industry otomotif kewasaan industry cibitung jawa barat.

Nursalam (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan:


Salemba Medika. Jakarta

Nursalam(2015). Metodologi Keperawatan, edisi ke 3.Jakarta.

Saryono dan Anggraeni Dwi Mekar. (2011). Metodologi penlitian kualitatif dalam
bidang kesehatan. Muha Medika : Yogjakarta

Sopiyudin. (2015). Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan.

68
Sri Rahayu Utami.dkk.(2020). Analisis Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Penyakit
Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Hiri.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif dan R&D. Bandung


:Alfabeta

Suryani, Febria.(2011). Faktor-faktor yang berhubungan dengan dermatitis kontak


pada pekerja bagian prosesing dan filling PT.Cosmer Indonesia Tangerang
selatan.Prodi Kesehatan Masyarakat :Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayahtullah.

Utama R.W.Dwi.(2015). Analisis Faktor resiko terjadinya dermatitis kontak pada pekerja
pewarnaan di industry batik

69
Lampiran 1

LEMBAR PERMOHONAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN


No : Kepada
Lampiran : 1 (Satu) Jepitan Yth.
Bapak/Ibu/Sdra/i
Perihal : Permohonan menjadi Di -
Responden Penelitian Tempat
Dengan hormat,
Bersama ini saya Yery Natti , adalah mahasiswa Program studi S1
Keperwatan pada Stikes Nusantara Kupang.Yang pada saat ini saya sedang
melakukan penelitian mengenai Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Kejadian Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara
Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2022.Untuk itu saya mohon kesediaan anda
untuk menjadi responden dalam penelitian ini.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Kapan Kecamatan
Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2022. Disamping itu perlu
saya tegaskan, bahwa kerahasiaan jawabannya anda akan saya jamin. Jawaban yang
anda berikan hanya saya gunakan untuk kepentingan penelitian ini. Untuk itu anda
tidak perlu menuliskan nama pada lembaran kuisioner yang akan anda dapatkan
dalam lampiran surat ini.
Apabila anda bersedia menjadi responden, saya persilakan menandatangani
surat pernyataan kesediaan menjadi responden yang terlampir dalam surat ini.
Setelah itu saya persilakan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam
lembaran kuisioner dengan memilih salah satu pilihan jawabannya. Jika anda telah
selesai menjawabnya, lembar kuisioner ini akan saya minta kembalikan.
Demikian atas partisipasi, perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya

Yery Natti
1420118049R

70
Lampiran 2

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PADA

PENELITIAN

“Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di Wilayah Kerja

Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun

2022”

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia untuk

berpartisipasi sebagai responden pada penelitian tentang Analisis Faktor-Faktor

Yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di Wilayah Kerja Puskesmas Kapan

Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2022”

Yang dilakukan oleh Yery Natti, Mahasiswa Stikes Nusantara pada

Progaram Studi S1 Keperawatan.

Tanda tangan saya ini menunjukkan bahwa saya telah diberi informasi dan

memutuskan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

Kupang, Maret 2022

(Tanda Tangan Responden)

71
Lampiran 3

PETUNJUK PENGISIAN KUISIONER

“Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di Wilayah Kerja

Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun

2022”

1. Anda tidak perlu tulis nama lengkap pada lembar kuisioner ini. Cukup dengan
inisial.
2. Berikan jawaban anda sejujurnya, karena kejujuran sangat penting dalam
penelitian ini.
3. Anda dipersilahkan memberi tanda (X) pada jawaban yang telah di sediakan.
4. Usahakan tidak ada satu pertanyaan yang terlewatkan.
5. Dalam hal ini tidak ada penilaian yang buruk, juga tidak ada benar atau salah.
6. Anda sepenuhnya bebas menentukan pilihan.

Setelah semua kuisioner penelitian ini diisi, mohon diserahkan kembali kepada kami,
terima kasih

72
Lampiran 4

KUESIONER PENELITIAN
(Arni Lasari Hutagalung. 2017)

“Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Di Wilayah Kerja

Puskesmas Kapan Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun

2022”

Tanggal wawancara :
No urut :

IDENTITAS RESPONDEN
Nama :
Jenis Kelamin :
Umur :
Alamat :
Pekerjaan Ibu :
a. PNS/Karyawan swasta
b. TNI/POLRI
c. Wiraswasta
d. Buruh
e. Petani
f. Nelayan
g. Pedagang
h. Tidak bekerja / Rumah tangga

Pendidikan Ibu :

a. Tidak pernah sekolah/tidak tamat SD


b. Tamat SD/sederajat
c. Tamat SLTP
d. Tamat SLTA
e. Tamat PT/sederajat

73
Lampiran 5

KUESIONER PENGETAHUAN
(Arni Lasari Hutagalung. 2017)
Isilah dengan tanda centang ( ✓ ) pada kolom “Benar” atau “Salah”, terhadap
kalimat di sebelah kiri pada kolom “Pernyataan”. Mohon dijawab dengan sejujurnya
sesuai dengan yang anda ketahui. Terima kasih.

No Pernyataan Benar Salah


1 Dermatitis kontak, yang sering juga disebut dengan
“eksem” merupakan penyakit kulit yang menyebabkan
terjadinya peradangan pada kulit (misalnya memerah,
menebal, mengelupas, dll)
2 Dermatitis kontak dapat juga disebabkan oleh kulit
teriritasi atau rusak oleh suatu zat tertentu
3 Dermatitis kontak dapat disebabkan oleh gigitan
serangga
4 Bahan-bahan kimia yang digunakan dalam kegiatan
mencuci dapat menyebabkan terjadinya dermatitis
kontak pada pekerja binatu
5 Demam merupakan salah satu gejala dari dermatitis
kontak
6 Rasa gatal merupakan salah satu keluhan dermatitis
kontak
7 Bintil-bintil merah merupakan salah satu keluhan
dermatitis kontak
8 Kulit mengelupas merupakan salah satu tanda
dermatitis kontak
9 Dermatitis kontak dapat mengganggu seseorang dalam
bekerja karena rasa sakit dan juga dapat menyebabkan
bekas luka
10 Dermatitis kontak yang dialami pada seseorang dapat
berhubungan dengan pekerjaan orang tersebut
11 Menjadi pekerja binatu dapat menjadi peluang
seseorang untuk terkena dermatitis kontak
12 Menghindari bahan-bahan yang dapat menyebabkan
dermatitis kontak dapat mencegah terjadinya
kekambuhan penyakit tersebut

74
Lampiran 6
KUESIONER PERSONAL HYEGIENE
(Arie Retnoningsih. 2017)

No Pertanyaan Selalu Kadang Tidak


Pernah
1 Apakah Anda mencuci tangan setelah bekerja?
2 Apakah Anda membersihkan sela-sela jari
tangan?
3 Apakah Anda mencuci tangan dengan sabun?
4 Apakah Anda mencuci tangan dengan air
mengalir?
5 Apakah Anda mencuci kaki setelah bekerja?
6 Apakah Anda membersihkan sela-sela jari
kaki?
7 Apakah Anda mencuci kaki dengan sabun?
8 Apakah Anda mencuci kaki dengan air
mengalir?
9 Apakah Anda mandi setelah bekerja?
10 Berapa kali Anda mandi dalam sekali?
a. ≥ 2 kali
b. < 2 kali
Lainnya, sebutkan......
11 Apakah pakaian kerja langsung di cuci setelah
digunakan ?

75
Lampiran 7
KUESIONER ALAT PELINDUNG DIRI
(Arie Retnoningsih. 2017)

No Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah Anda menggunakan sarung tangan selama
bersentuhan dengan air?
2 Sarung tangan tersebut terbuat dari bahan karet atau kain?
3 Apakah Anda mencuci sarung tangan tersebut
setelah selesai bekerja?
4 Apakah Anda menggunakan sepatu boot
selama bersentuhan dengan air?
5 Apakah Anda mencuci sepatu boot tersebut
setelah selesai beraktifitas?
6 Apakah anda memakai masker saat keluar rumah?
7 Apakah sesudah memakai masker langsung di buang?

76
Lampiran 8
LEMBARAN OBSERVASI SANITASI LINGKUNGAN
(Rany Sucicha S. 2017)

(Dilakukan observasi dan pengukuran secara langsung di Rumah Tahanan)

I. Penyediaan Air Bersih

1. Ketersediaan air bersih untuk responden

a. Air yang digunakan untuk MCK cukup dan memenuhi syarat secara fisik yaitu
tidak berbau, berwarna dan berasa
b. Air yang digunakan untuk MCK tidak cukup dan tidak memenuhi syarat secara
fisik yaitu tidak berbau, berwarna dan berasa
II. Kondisi Fisik Rumah

1. Jumlah penghuni dalam rumah ................................................. orang. Luas

Rumah ... meter.

a. Sesuai
b. Tidak sesuai

2. Kondisi Langit-langit ruang

a. Terbuat dari bahan beton


b. Tidak terbuat dari bahan beton

3. Kondisi lantai rumah

a. Kedap air
b. Tidak kedap air
4. Kondisi dinding rumah

a. Terbuat dari bahan beton


b. Tidak terbuat dari bahan beton

77
5. Pencahayaan cukup jika bisa untuk membaca buku

a. Sesuai
b. Tidak sesuai
6. Ketersedian jamban memenuhi jika pada rumah disediakan

WC ..........

a. Sesuai
b. Tidak sesuai
7. Luas ventilasi sesuai jika >10 % dari luas ruangan.

a. Sesuai
b. Tidak sesuai

78
Lampiran 9

KUESIONER KEJADIAN DERMATITIS


(Arie Retnoningsih. 2017)

No Nama Responden Menderita Tidak Menderita


Dermatitis Dermatitis
1
2
3
4
5
6
7
8
9

79
80
81
82
83
84
rekapitulasi personal hygiene
Pertanyaan
jumlah presentase kategori kode
no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
2 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
3 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
4 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
5 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
6 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
7 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
8 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
9 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 8 72.72727273 Baik 1
10 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
11 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
12 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 9 81.81818182 Baik 1
13 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
14 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
15 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 9 81.81818182 baik 1
16 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
17 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 10 90.90909091 baik 1
18 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
19 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 4 36.36363636 Buruk 2
20 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 9 81.81818182 baik 1
21 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 buruk 2
22 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 buruk 2
23 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 5 45.45454545 buruk 2
24 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 9 81.81818182 baik 1
25 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 6 54.54545455 baik 1
26 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 9 81.81818182 baik 1
27 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 6 54.54545455 baik 1
28 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
29 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 7 63.63636364 baik 1
30 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
31 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
32 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
33 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 7 63.63636364 baik 1

85
34 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
35 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
36 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
37 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 9 81.81818182 baik 1
38 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
39 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
40 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
41 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
42 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
43 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 3 27.27272727 Buruk 2
44 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 5 45.45454545 Buruk 2
45 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 4 36.36363636 Buruk 2
46 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 4 36.36363636 Buruk 2
47 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 4 36.36363636 Buruk 2
48 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 4 36.36363636 Buruk 2
49 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 4 36.36363636 Buruk 2
50 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 4 36.36363636 Buruk 2
51 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 8 72.72727273 baik 1
52 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 8 72.72727273 baik 1
53 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 8 72.72727273 baik 1
54 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 8 72.72727273 baik 1
55 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 8 72.72727273 baik 1

86
rekapitulasi pengetahuan
Pertanyaan
jumlah presentase kategori Kode
no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 8 66.6666667 cukup 2
2 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 8 66.6666667 cukup 2
3 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 8 66.6666667 cukup 2
4 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 8 66.6666667 cukup 2
5 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 8 66.6666667 cukup 2
6 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 8 66.6666667 cukup 2
7 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 8 66.6666667 cukup 2
8 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 8 66.6666667 cukup 2
9 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 8 66.6666667 cukup 2
10 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 8 66.6666667 cukup 2
11 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 8 66.6666667 cukup 2
12 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 10 83.3333333 baik 1
13 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 8 66.6666667 cukup 2
14 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 8 66.6666667 cukup 2
15 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
16 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 8 66.6666667 cukup 2
17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 10 83.3333333 baik 1
18 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
19 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
20 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
21 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
22 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
23 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
24 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
25 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
26 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 10 83.3333333 baik 1
27 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
28 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
29 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
30 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
31 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
32 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
33 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 10 83.3333333 baik 1

87
34 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
35 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
36 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 5 41.6666667 Kurang 3
37 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 10 83.3333333 baik 1
38 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
39 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
40 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
41 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
42 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
43 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
44 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
45 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
46 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
47 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
48 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
49 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
50 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 9 75 cukup 2
51 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 6 50 cukup 3
52 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 6 50 cukup 3
53 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 6 50 Kurang 3
54 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 6 50 Kurang 3
55 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 6 50 Kurang 3

88
rekapitulasi alat pelindung diri
pertanyaan
Jumlah presentase kategori kode
no 1 2 3 4 5 6 7
1 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
2 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
3 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
4 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
5 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
6 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
7 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
8 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
9 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
10 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
11 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
12 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
13 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
14 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
15 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
16 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
17 1 1 1 0 1 1 1 6 85.7142857 baik 1
18 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
19 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
20 0 1 1 1 0 1 1 5 71.4285714 baik 1
21 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
22 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
23 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
24 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
25 0 1 1 0 0 1 0 3 42.8571429 Buruk 2
26 1 1 0 1 0 1 1 5 71.4285714 baik 1
27 1 1 0 1 0 1 1 5 71.4285714 baik 1
28 1 0 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
29 1 1 0 1 0 1 1 5 71.4285714 baik 1
30 1 0 0 0 0 1 1 3 42.8571429 buruk 2
31 1 0 0 0 0 1 1 3 42.8571429 buruk 2
32 1 0 0 0 0 1 1 3 42.8571429 buruk 2
33 0 0 1 1 1 0 1 4 57.1428571 baik 1

89
34 1 0 0 0 0 1 1 3 42.8571429 buruk 2
35 1 0 0 0 0 1 1 3 42.8571429 buruk 2
36 1 0 0 0 0 1 1 3 42.8571429 buruk 2
37 1 1 1 1 1 1 1 7 100 baik 1
38 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
39 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
40 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
41 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
42 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
43 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
44 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
45 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
46 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
47 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
48 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
49 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
50 0 1 0 1 0 1 0 3 42.8571429 buruk 2
51 1 1 0 1 1 1 0 5 71.4285714 baik 1
52 1 1 0 1 1 1 0 5 71.4285714 baik 1
53 1 1 0 1 1 1 0 5 71.4285714 baik 1
54 1 1 0 1 1 1 0 5 71.4285714 baik 1
55 1 1 0 1 1 1 0 5 71.4285714 baik 1

90
rekapitulasi sanitasi lingkungan
Observasi
jumlah presentase kategori Kode
no 1 2 3 4 5 6 7 8
1 0 1 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
2 0 1 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
3 0 1 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
4 0 1 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
5 0 1 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
6 0 1 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
7 0 1 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
8 0 1 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
9 1 1 0 0 1 1 0 1 5 62.5 Baik 1
10 0 1 1 1 0 0 0 0 3 37.5 Buruk 2
11 0 1 1 1 0 0 0 0 3 37.5 Buruk 2
12 1 1 1 0 0 0 1 1 5 62.5 Baik 1
13 0 0 1 1 0 0 0 1 3 37.5 Buruk 2
14 0 0 1 1 0 0 0 1 3 37.5 Buruk 2
15 1 1 1 1 0 0 1 1 6 75 Baik 1
16 0 0 0 1 1 0 0 1 3 37.5 Buruk 2
17 1 1 1 0 0 1 1 0 5 62.5 Baik 1
18 0 0 0 1 1 0 0 0 2 25 Buruk 2
19 0 0 0 1 1 0 0 0 2 25 Buruk 2
20 1 1 1 1 0 0 1 1 6 75 Baik 1
21 0 0 0 0 1 1 1 0 3 37.5 Buruk 2
22 0 0 0 0 1 1 1 0 3 37.5 Buruk 2
23 0 0 0 0 1 1 1 0 3 37.5 Buruk 2
24 0 0 0 0 1 1 1 0 3 37.5 Buruk 2
25 0 0 0 0 1 1 1 0 3 37.5 Buruk 2
26 1 1 1 1 0 0 1 1 6 75 Baik 1
27 1 1 1 1 0 0 1 1 6 75 Baik 1
28 0 0 0 1 1 0 0 1 3 37.5 Buruk 2
29 1 1 0 0 1 1 0 1 5 62.5 Baik 1
30 0 0 0 1 1 0 1 0 3 37.5 Buruk 2
31 0 0 0 1 1 0 1 0 3 37.5 Buruk 2
32 0 0 0 1 1 0 1 0 3 37.5 Buruk 2
33 1 1 1 1 0 0 1 1 6 75 Baik 1

91
34 0 0 0 1 0 1 0 0 2 25 Buruk 2
35 0 0 0 1 0 1 0 0 2 25 Buruk 2
36 0 0 0 1 0 1 0 0 2 25 Buruk 2
37 1 1 1 0 0 1 1 1 6 75 Baik 2
38 0 0 0 0 1 1 0 0 2 25 Buruk 2
39 0 0 0 0 1 1 0 0 2 25 Buruk 2
40 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
41 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
42 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
43 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
44 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
45 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
46 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
47 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
48 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
49 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
50 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
51 1 0 0 0 1 1 0 0 3 37.5 Buruk 2
52 1 1 1 0 1 1 0 0 5 62.5 Baik 1
53 1 1 1 0 1 1 0 0 5 62.5 Baik 1
54 1 1 1 0 1 1 0 0 5 62.5 Baik 1
55 1 1 1 0 1 1 0 0 5 62.5 Baik 1

92
rekapitulasi usia kejadian dermatitis

no usia kode No Dermatitis kode


1 15 2 1 Penderita 2
2 12 2 2 Penderita 2
3 13 2 3 Penderita 2
4 12 2 4 Penderita 2
5 14 2 5 Penderita 2
6 12 2 6 Penderita 2
7 12 2 7 Penderita 2
8 12 2 8 Penderita 2
9 35 2 9 Penderita 2
10 16 2 10 Penderita 2
11 16 2 11 Penderita 2
12 25 2 12 Penderita 2
13 26 2 13 Penderita 2
14 26 2 14 Penderita 2
15 30 2 15 Penderita 2
16 12 2 16 Penderita 2
17 28 2 17 Penderita 2
18 27 2 18 penderita 2
19 13 2 19 penderita 2
20 26 2 20 penderita 2
21 21 2 21 penderita 2
22 13 2 22 penderita 2
23 40 1 23 penderita 2
24 10 2 24 penderita 2
25 49 1 25 penderita 2
26 31 2 26 penderita 2
27 31 2 27 penderita 2
28 45 1 28 penderita 2
29 52 1 29 penderita 2
30 45 1 30 penderita 2
31 45 1 31 penderita 2
32 53 1 32 penderita 2
33 43 1 33 penderita 2

93
34 49 1 34 penderita 2
35 60 1 35 penderita 2
36 49 1 36 penderita 2
37 45 1 37 penderita 2
38 49 1 38 penderita 2
39 43 1 39 penderita 2
40 49 1 40 penderita 2
41 40 1 41 penderita 2
42 49 1 42 penderita 2
43 23 2 43 penderita 2
44 34 2 44 penderita 2
45 30 2 45 penderita 2
46 11 2 46 penderita 2
47 10 2 47 penderita 2
48 15 2 48 penderita 2
49 28 2 49 penderita 2
50 11 2 50 penderita 2
51 13 2 51 Bukan 1
52 9 2 52 Bukan 1
53 8 2 53 Bukan 1
54 12 2 54 Bukan 1
55 9 2 55 Bukan 1

94
Hasil SPSS

Frequencies

Notes

Output Created 10-Apr-2022 00:32:12

Comments

Input Active
DataSet0
Dataset

Filter <none>

Weight <none>

Split File <none>

N of Rows
in Working 55
Data File

Missing Value Definition User-defined missing values are


Handling of Missing treated as missing.

Cases Statistics are based on all cases with


Used valid data.

Syntax FREQUENCIES
VARIABLES=pengetahuan
personal.hygiene penggunaan.APD
Sanitasi.lingkungan usia
kejadian.dermatitis
/ORDER=ANALYSIS.

Resources Processor
00:00:00.000
Time

Elapsed
00:00:00.015
Time

95
Frequency Table

Pengetahuan
Valid Cumulati
Frequency Percent Percent ve Percent
Valid baik 5 9.1 9.1 9.1
cukup 32 58.2 58.2 67.3
kurang 18 32.7 32.7 100.0
Total 55 100.0 100.0

personal hygiene

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid baik 5 9.1 9.1 9.1

buruk 50 90.9 90.9 100.0

Total 55 100.0 100.0

penggunaan APD

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid baik 12 21.8 21.8 21.8

buruk 43 78.2 78.2 100.0

Total 55 100.0 100.0

96
sanitasi lingkungan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid baik 13 23.6 23.6 23.6

buruk 42 76.4 76.4 100.0

Total 55 100.0 100.0

Usia

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid > 35 tahun 22 40.0 40.0 40.0

<35 tahun 33 60.0 60.0 100.0

Total 55 100.0 100.0

kejadian dermatitis

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid bukan penderita 5 9.1 9.1 9.1

penderita 50 90.9 90.9 100.0

Total 55 100.0 100.0

97
Cosstabulasi

usia * kejadian dermatitis


Crosstab

kejadian dermatitis

bukan penderita penderita Total

usia > 35 tahun Count 5 17 22

Expected Count 2.0 20.0 22.0

% within usia 22.7% 77.3% 100.0%

% within kejadian dermatitis 100.0% 34.0% 40.0%

% of Total 9.1% 30.9% 40.0%

<35 tahun Count 0 33 33

Expected Count 3.0 30.0 33.0

% within usia .0% 100.0% 100.0%

% within kejadian dermatitis .0% 66.0% 60.0%

% of Total .0% 60.0% 60.0%

Total Count 5 50 55

Expected Count 5.0 50.0 55.0

% within usia 9.1% 90.9% 100.0%

% within kejadian dermatitis 100.0% 100.0% 100.0%

% of Total 9.1% 90.9% 100.0%

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. Exact Sig.
Value df sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 8.250a 1 .004
b
Continuity Correction 5.729 1 .017
Likelihood Ratio 9.928 1 .002
Fisher's Exact Test .008 .008
Linear-by-Linear
8.100 1 .004
Association
b
N of Valid Cases 55

98
pengetahuan * kejadian dermatitis

Crosstab
kejadian dermatitis
bukan penderita Penderita Total
pengetahuan baik Count 0 5 5
Expected Count .5 4.5 5.0
% within pengetahuan 100.0
.0% 100.0%
%
% within kejadian
.0% 10.0% 9.1%
dermatitis
% of Total .0% 9.1% 9.1%
cukup Count 0 32 32
Expected Count 2.9 29.1 32.0
% within pengetahuan 100.0
.0% 100.0%
%
% within kejadian 58.2
.0% 64.0%
dermatitis %
% of Total 58.2
.0% 58.2%
%
kurang Count 5 13 18
Expected Count 1.6 16.4 18.0
% within pengetahuan 100.0
27.8% 72.2%
%
% within kejadian 32.7
100.0% 26.0%
dermatitis %
% of Total 32.7
9.1% 23.6%
%
Total Count 5 50 55
Expected Count 5.0 50.0 55.0
% within pengetahuan 100.0
9.1% 90.9%
%
% within kejadian 100.0
100.0% 100.0%
dermatitis %
% of Total 100.0
9.1% 90.9%
%

99
Chi-Square Tests

Asymp.
Sig. (2-
Value Df sided)

Pearson Chi-Square 11.30


2 .004
6a

Likelihood Ratio 12.24


2 .002
0

Linear-by-Linear
8.691 1 .003
Association

N of Valid Cases 55

personal hygiene * kejadian dermatitis


Crosstab

kejadian dermatitis

bukan penderita penderita Total

personal hygiene baik Count 5 0 5

Expected Count .5 4.5 5.0

% within personal hygiene 100.0% .0% 100.0%

% within kejadian dermatitis 100.0% .0% 9.1%

% of Total 9.1% .0% 9.1%

buruk Count 0 50 50

Expected Count 4.5 45.5 50.0

% within personal hygiene .0% 100.0% 100.0%

% within kejadian dermatitis .0% 100.0% 90.9%

% of Total .0% 90.9% 90.9%

Total Count 5 50 55

Expected Count 5.0 50.0 55.0

100
% within personal hygiene 9.1% 90.9% 100.0%

% within kejadian dermatitis 100.0% 100.0% 100.0%

% of Total 9.1% 90.9% 100.0%

Chi-Square Tests
Exact Exa
Asymp. Sig. (2- ct Sig.
Value Df Sig. (2-sided) sided) (1-sided)
a
Pearson Chi-Square 55.000 1 .000
b
Continuity Correction 43.566 1 .000
Likelihood Ratio 33.510 1 .000
Fisher's Exact Test .000 .000
Linear-by-Linear
54.000 1 .000
Association
N of Valid Casesb 55

penggunaan APD * kejadian dermatitis


Crosstab

kejadian dermatitis

bukan penderita penderita Total

penggunaan APD baik Count 5 7 12

Expected Count 1.1 10.9 12.0

% within penggunaan APD 41.7% 58.3% 100.0%

% within kejadian dermatitis 100.0% 14.0% 21.8%

% of Total 9.1% 12.7% 21.8%

buruk Count 0 43 43

Expected Count 3.9 39.1 43.0

% within penggunaan APD .0% 100.0% 100.0%

% within kejadian dermatitis .0% 86.0% 78.2%

% of Total .0% 78.2% 78.2%

Total Count 5 50 55

101
Expected Count 5.0 50.0 55.0

% within penggunaan APD 9.1% 90.9% 100.0%

% within kejadian dermatitis 100.0% 100.0% 100.0%

% of Total 9.1% 90.9% 100.0%

Chi-Square Tests
Asymp. Exact Exact Sig.
Value Df Sig. (2-sided) Sig. (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 19.708a 1 .000
b
Continuity Correction 14.989 1 .000
Likelihood Ratio 17.209 1 .000
Fisher's Exact Test .000 .000
Linear-by-Linear Association 19.350 1 .000
N of Valid Casesb 55

sanitasi lingkungan * kejadian dermatitis


Crosstab

kejadian dermatitis

bukan penderita penderita Total

sanitasi lingkungan baik Count 4 9 13

Expected Count 1.2 11.8 13.0

% within sanitasi lingkungan 30.8% 69.2% 100.0%

% within kejadian dermatitis 80.0% 18.0% 23.6%

% of Total 7.3% 16.4% 23.6%

buruk Count 1 41 42

Expected Count 3.8 38.2 42.0

% within sanitasi lingkungan 2.4% 97.6% 100.0%

% within kejadian dermatitis 20.0% 82.0% 76.4%

% of Total 1.8% 74.5% 76.4%

Total Count 5 50 55

Expected Count 5.0 50.0 55.0

102
% within sanitasi lingkungan 9.1% 90.9% 100.0%

% within kejadian dermatitis 100.0% 100.0% 100.0%

% of Total 9.1% 90.9% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 9.680 1 .002
b
Continuity Correction 6.550 1 .010

Likelihood Ratio 8.010 1 .005

Fisher's Exact Test .009 .009

Linear-by-Linear Association 9.504 1 .002


b
N of Valid Cases 55

a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,18.

b. Computed only for a 2x2 table

103
LEMBAR KONSULTASI

NAMA : YERY NATTI

NIM :1420118049R

JUDUL SKRIPSI : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI KEJADIAN DERMATITIS

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAPAN

KECAMATAN MOLLO UTARA KABUPATEN

TIMOR TENGAH SELATAN 2021

DOSEN PEMBIMBING 1: Daeng Agus Vieya Putri Bhwa, S.Kep., M.Si


Bab yang di
No Tanggal REVISI Ttd Pembimbing
konsulkan

4 Februari ACC Bab 1,2,3 Dan


1 Bab 1, 2,3, 4
2022 Lanjut Revisi Bab 4

7 Februari
2. Bab 4 ACC
2022

15 April Revisi
3. Bab 5,6,7
2022

30 Mei
4. Bab 5,6,7 ACC
2022

104
NAMA : YERY NATTI

NIM :1420118049R

JUDUL SKRIPSI : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI KEJADIAN DERMATITIS

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAPAN

KECAMATAN MOLLO UTARA KABUPATEN

TIMOR TENGAH SELATAN 2021

DOSEN PEMBIMBING 2: Muslimah Anugerah, S.Kep., M.Kes.

Bab yang di
No Tanggal REVISI Ttd Pembimbing
konsulkan
17
ACC Bab 1,2,3 Dan
1 Februari Bab 1, 2,3, 4
Lanjut Revisi Bab 4
2022

18
2. Februari Bab 4 ACC
2022

25 April Revisi
3. Bab 5,6,7
2022

30 Mei
4. Bab 5,6,7 ACC
2022

105
Dokumentasi Penelitian

Peneliti Sedang Menjelaskan Cara Pengisian Kuesioner

106
Responden Sedang Mengisi Kuesioner

Salah Satu Respoden Yang Menderita Penyakit Dermatitis

107
CURRICULUM VITAE

Nama : Yery Natti

Tempat, Tgl Lahir : Lelokasen, 24 Juli 1999

Jenis kelamin : Laki-Laki

Agama : Kristen Protestan

Kewarganegaraan : Indonesia

Alamat sekarang : Liliba

Telephon : 082146894291

Email : Jerynatti93@gmail.com

PENDIDIKAN FORMAL

2007 – 2012 :SDK Yaswari Kapan III

2012– 2015 : SMPK Sto. Yosep Freinademetz Kapan

2015 – 2018: SMA Kristen Kapan

2018 – 2022 :STIKES Nusantara Kupang

108

Anda mungkin juga menyukai