Teks laporan hasil observasi
Pengertian, Ciri-ciri, Struktur, dan Contoh Teks Laporan Hasil Observasi.
A. Teks laporan hasil observasi adalah teks yang memberikan informasi secara umum
tentang sesuatu berdasarkan fakta dari hasil pengamatan secara langsung.
Jadi, pengamatan atau biasa disebut observasi itu dilakukan oleh si pengamat dengan
terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui sebuah informasi yang ada.
Informasi itu bisa meliputi objek tentang keadaan alam, keadaan lingkungan, hewan,
tumbuhan, sosial, sebuah peristiwa, kesenian dan kebudayaan.
Adapun 3 sifat teks laporan hasil observasi:
informatif: kalimat yang digunakan untuk mengkomunikasikan sesuatu. Dalam
kalimat ini, maksud pengirim adalah untuk mengungkapkan keadaan pada saat
tertentu. bersifat memberi informasi,bersifat menerangkan. Contoh penjelasan
harus bersifat edukatif. Contoh : populasi dunia saat ini adalah 7,6 miliar orang,
sepanjang akhir pekan ini akan turun hujan, makanan terbagi menjadi tiga :
karbohidrat, protein, dan asam lemak.
Komunikatif : kalimat yang mudah dipahami. Contohnya, malam ini udara terasa
panas, sepeda motor yang dititipkan harus dikunci.
objektif. Hal itu berarti isi teks laporan hasil observasi tersebut harus memberikan
sebuah informasi yang mudah dipahami oleh pembaca.
Setiap informasi yang didapat juga harus disajikan atau ditulis secara objektif dan
sesuai fakta yang sebenarnya, tidak dibuat-buat atau tidak menurut opini sang penulis,
serta dapat dibuktikan kebenarannya.
Contohnya: indonesia merupakan bekas jajahan belanda dan jepang, candi borobudur
terdapat di magelang jawa tengah, ibu kota indonesia adalah jawa tengah, negara
indonesia adalah negara kepulauan.
B. Ciri-ciri Teks Laporan Hasil Observasi:
1. Ditulis secara lengkap dan sempurna.
2. Bersifat objektif, global, dan universal.
3. Objek yang akan dibicarakan atau dibahas adalah objek tunggal.
4. Ditulis berdasarkan fakta sesuai pengamatan yang telah dilakukan.
5.Informasi teks merupakan hasil penelitian terkini yang sudah terbukti kebenarannya.
6. Tidak mengandung prasangka/dugaan yang menyimpang atau tidak tepat.
7. Saling berkaitan dengan hubungan berjenjang antara kelas dan subkelas yang terdapat di
dalamnya.
8. Tidak adanya bagian penutup dari penulis. Penulis hanya melaporkan apa yang dilihat dan
diketahuinya berdasarkan hasil analisis serta observasinya.
9. Menitikberatkan pada pengelompokkan segala sesuatu ke dalam jenis-jenis dengan ciri
atau keadaannya secara umum.
10. Disajikan secara menarik, baik kata, bahasa, isinya berbobot maupun susunannya logis.
11. Teks laporan hasil observasi menggambarkan sesuatu secara umum dan sesuai fakta,
tanpa adanya opini penulis.
C. Tujuan Teks Laporan Hasil Observasi
Tujuan utamanya, yaitu untuk memberikan informasi secara objektif dan fakta yang
ada di lapangan sesuai hasil pengamatan yang didapatkan.
Tujuan yang lainnya yaitu :
1. Untuk penelitian.
2. Untuk memberikan informasi terbaru.
3. Untuk mengatasi suatu persoalan.
4. Untuk menemukan teknik atau cara terbaru.
5. Untuk mengambil keputusan yang lebih efektif.
6. Untuk melakukan pengawasan dan/atau perbaikan.
7. Untuk mengetahui perkembangan suatu permasalahan.
D. Fungsi Teks Laporan Hasil Observasi
Teks laporan observasi memiliki fungsi atau manfaat bagi diri sendiri maupun orang
lain, fungsinya:
1. Sebagai bahan penelitian
2. Sebagai sumber yang dapat dipercaya
3. Sebagai laporan tugas dan kegiatan pengamatan
4. Sebagai dokumentasi
5. Sebagai ilmu pengetahuan
6. Menjelaskan dasar penyusunan kebijaksanaan, keputusan dan/atau pemecahan masalah
dalam pengamatan.
E. Struktur Teks Laporan Hasil Observasi
1. Pernyataan Umum, yaitu terdapat pembukaan, berisi pembuka atau informasi secara umum
hal yang akan disampaikan. Bagian ini berisi hal umum tentang objek yang akan dikaji,
menjelaskan secara garis besar tentang objek tersebut.
2. Deskripsi Bagian, yaitu terdapat isi, rincian, pembahasan, dan penjelasan secara lebih
detail.
3. Deskripsi Manfaat, yaitu berisi fungsi atau manfaat setiap objek yang diamati dalam
kehidupan.
F. Kaidah Kebahasaan Teks Laporan Hasil Observasi
Teks laporan hasil observasi sangat berkaitan dengan penelitian dan pengetahuan,
maka hal ini termasuk ke dalam jenis teks formal yang mengharuskan bahasa yang baku atau
sesuai kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar, serta mudah dipahami. Kaidah
kebahasaan teks laporan hasil observasi di antaranya:
1. Menggunakan frasa nomina yang diikuti penjenis dan pendeskripsi.
2. Menggunakan verba relasional, seperti : ialah, merupakan, adalah, yaitu, digolongkan,
termasuk, meliputi, terdiri atas, disebut, dan lain-lain (digunakan untuk menyatakan definisi
pada istilah teknis atau istilah yang digunakan secara khusus pada bidang tertentu).
3. Menggunakan verba aktif alam, hal ini untuk menjelaskan perilaku, seperti bertelur,
membuat, hidup, makan, tidur, dan sebagainya.
4. Menggunakan kata penghubung, untuk menyatakan :
-Tambahan: dan, serta
-Perbedaan: berbeda dengan
-Persamaan: sebagaimana, seperti halnya, demikian halnya, hal demikian, sebagai, hal yang
sama
-Pertentangan: sedangkan, tetapi, namun, melainkan, sementara itu, padahal berbanding
terbalik
-Pilihan: atau
5. Menggunakan kalimat simpleks dan kompleks.
6. Penggunaan kalimat definisi dan kalimat deskripsi.
7. Menggunakan kata keilmuan atau teknis, seperti : herbivora, degeneratif, osteoporosis,
mutualisme, parasitisme, pembuluh vena, leukimia, syndrom, phobia, dan lain-lain.
G. Langkah langkah Menyusun Teks Laporan Hasil Observasi
Untuk menyusun teks laporan hasil observasi ada langkah-langkahnya, yaitu:
1. Tentukan objek yang akan kamu amati.
2. Susunlah jadwal observasi yang akan kamu kamu lakukan.
3. Lakukanlah observasi terhadap objek tersebut dengan menyiapkan pertanyaan atau poin-
poin pengamatan terlebih dahulu.
4. Catatlah hasil observasimu dengan memerhatikan ketepatan isi, struktur dan kaidah
kebahasaannya. Bila memungkinkan ambil foto dan videokan observasimu.
5. Meneliti kembali hasil penulisan teks, jika ada kalimat janggal atau salah penulisan, segera
perbaiki kembali.
Contoh Teks Laporan Hasil Observasi:
WAYANG
Wayang adalah seni pertunjukan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya asli
Indonesia. UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November
2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukan bayangan boneka tersohor dari Indonesia,
sebuah warisan mahakarya dunia yang tidak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral
and Intangible Heritage of Humanity).
Para wali songo, penyebar agama Islam di Jawa sudah membagi wayang menjadi tiga.
Wayang kulit di timur, wayang wong atau wayang orang di Jawa Tengah, dan wayang golek
atau wayang boneka di Jawa Barat. Penjenisan tersebut disesuaikan dengan penggunaan
bahan wayang. Wayang kulit dibuat dari kulit hewan ternak, bisa berupa kerbau, sapi, atau
kambing. Wayang wong berarti wayang yang ditampilkan atau diperankan oleh orang.
Wayang golek adalah wayang yang menggunakan boneka kayu sebagai pemeran tokoh.
Selanjutnya, untuk mempertahankan budaya wayang agar tetap dicintai, seniman
mengembangkan wayang dengan bahan-bahan lain, antara lain wayang suket dan wayang
motekar.
Wayang kulit dilihat dari umur, dan gaya pertunjukannya pun dibagi lagi menjadi
bermacam jenis. Jenis yang paling terkenal, karena diperkirakan memiliki umur paling tua
adalah wayang purwa. Purwa berasal dari bahasa Jawa, yang berarti awal. Wayang ini terbuat
dari kulit kerbau yang ditatah, dan diberi warna sesuai kaidah pulasan wayang pendalangan,
diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama
cempurit yang terdiri dari: tuding dan gapit.
Wayang wong (bahasa Jawa yang berarti 'orang') adalah satu di antara pertunjukan
wayang yang diperankan langsung oleh orang. Wayang orang yang dikenal di suku Banjar
adalah wayang gung, sedangkan yang dikenal di suku Jawa adalah wayang topeng. Wayang
topeng dimainkan oleh orang yang menggunakan topeng. Wayang tersebut dimainkan dengan
iringan gamelan dan tari-tarian. Perkembangan wayang orang pun saat ini beragam, tidak
hanya digunakan dalam acara ritual, tetapi juga digunakan dalam acara yang bersifat
menghibur.
Selanjutnya, jenis wayang yang lain adalah wayang golek yang mempertunjukkan
boneka kayu. Wayang golek berasal dari Sunda. Wayang ini disebut juga sebagai wayang
thengul. Selain wayang golek Sunda, wayang yang terbuat dari kayu adalah wayang menak
atau sering juga disebut wayang golek menak karena cirinya mirip dengan wayang golek.
Wayang tersebut pertama kali dikenalkan di Kudus. Selain golek, wayang yang berbahan
dasar kayu adalah wayang klithik. Wayang klithik berbeda dengan golek. Wayang tersebut
berbentuk pipih seperti wayang kulit. Akan tetapi, cerita yang diangkat adalah cerita Panji
dan Damarwulan. Wayang lain yang terbuat dari kayu adalah wayang papak atau cepak,
wayang timplong, wayang potehi, wayang golek techno, dan wayang ajen.
Perkembangan terbaru dunia pewayangan menghasilkan kreasi berupa wayang suket.
Disebut wayang suket karena wayang yang digunakan terbuat dari rumput yang dibentuk
menyerupai wayang kulit. Wayang suket merupakan tiruan dari berbagai figur wayang kulit
yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat
permainan atau penyampaian cerita pewayangan kepada anak-anak di desa-desa Jawa.
Dalam versi lebih modern, terdapat wayang motekar atau wayang plastik berwarna.
Wayang motekar adalah sejenis pertunjukan teater bayang-bayang atau serupa wayang kulit.
Namun, jika wayang kulit memiliki bayangan yang berwarna hitam saja, wayang motekar
menggunakan teknik terbaru hingga bayang-bayangnya bisa tampil dengan warna-warni
penuh. Wayang tersebut menggunakan bahan plastik berwarna, sistem pencahayaan teater
modern, dan layar khusus.
Semua jenis wayang di atas merupakan wujud ekspresi kebudayaan yang dapat
dimanfaatkan dalam berbagai kehidupan antara lain sebagai media pendidikan, media
informasi, dan media hiburan. Wayang bermanfaat sebagai media pendidikan karena isinya
banyak memberikan ajran-ajaran kehidupan kepada manusia. Pada era modern ini, wayang
juga banyak digunakan sebagai media informasi. Ini antara lain dapat kita lihat dari pagelaran
wayang yang disisipi informasi tentang program pembangunan seperti keluarga berencana
(KB), pemilihan umum, dan sebagainya.Yang terakhir, meski semakin jarang, wayang masih
tetap menjadi media hiburan.