D.
Pedoman, Prosedur, dan Aturan Kerja di Perusahaan
Sernua industri dalam menjalankan kegiatan produksinya pasti memerlukan prosedur,
pedoman, dan aturan untuk mencapai tujuannya. Salah satu cara untuk memperjelas hal yang
menjadi tujuan atau harapan perusahaan adalah dengan membuat peraturan secara tertulis,
Adanya peraturan kerja secara tertulis tersebut membuat kinerja karyawan dapat terkontrol
dengan baik dan menghindari tindakan-tindakan yang merugikan perusahaan. Peraturan tersebut
dapat berbentuk pedoman, prosedur, dan aturan kerja di perusahaan.
1. Pedoman dan prosedur kerja
a. Pedoman kerja
Pedoman kerja didefinisikan sebagai suatu standar/pedoman tertulis yang digunakan
untuk mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan
organisasi. Pedoman kerja juga merupakan tata cara atau tahapan yang dibakukan
dan harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu. Adapun tujuan
pedoman kerja, sebagai berikut.
1) Memperjelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi.
2) Memperjelas alur tugas, wewenang, serta tanggung jawab petugas/pegawai yang
bersangkutan.
3) Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari malpraktik atau kesalahan
administrasi lainnya.
4) Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi, dan inefisiensi.
5) Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja.
6) Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
7) Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin dałam bekerja.
8) Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin.
Pedoman kerja dibutuhkan pada kondisi-kondisi berikut.
1) Sebelum suatu pekerjaan dilakukan.
2) Ketika mengadakan penilaian apakah pekerjaan tersebut sudah dilakukan dengan baik atau
tidak.
3) Ketika terjadi revisi, jika ada perubahan langkah kerja yang dapat memengaruhi lingkungan
kerja•
Dengan adanya pedoman kerja terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh, antara lain:
1) Pedoman kerja merupakan pegangan bagi pelaksanaan, alat komunikasi, dan
pengawasan sehingga pekerjaan bisa diselesaikan secara konsisten.
2) Para pegawai akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja dan tahu apa yang harus dicapai
dalam setiap pekerjaan.
3) Bisa digunakan sebagai salah satu alat pelatihan dan mengukur kinerja pegawai.
Selain untuk hal tersebut di atas, pedoman kerja juga mempunyai kegunaan, sebagai
berikut.
1) Pedoman kerja dan alat pendidikan, terutama bagi pegawai baru.
2) Alat untuk menyelesaikan perselisihan dalam hubungan kerja.
3) Alat untuk mengadakan pembagian kerja dan mengatur frekuensi kerja yang tepat.
4) Alat untuk mengatur tata ruang kantor
5) Alat untuk menghindarkan adanya pekerjaan yang bertumpuk.
6) Alat perencanaan kerja dan pengembangannya di kemudian hari.
7) Alat untuk mengadakan klasifikasi, uraian, dan analisis jabatan.
Dipindai dengan CamScanner
8) Alat untuk menghemat waktu bagi pimpinan untuk mengetahui seluruh proses kerja. 9) Alat
untuk mempersiapkan mekanisme prosedur.
27
b, Prosedur kerja, tata kerja, dan sistem kerja
Dalam perusahaan mana pun pasti terdapat pedoman kerja, prosedür, aturan kerja,
ketentuan atau perjanjian-perjanjian yang pada dasarnya mengatur tentang hak dan
kewajiban secara timbal balik antara perusahaan dengan karyawannya.
Dalam menjalankan operasional perusahaan, peran karyawan memiliki kedudukan dan
fungsi yang sangat signifikan. Oleh karena itu, diperlukan standar prosedur kerja atau
dikenal dengan Standard Operating Procedure (SOP) sebagai pedoman untuk
melaksanakan segala kegiatan yang berhubungan dengan operasional perusahaan.
Prosedur kerja adalah rangkaian tata kerja yang berkaitan satu sama lain, Şehingga
menunjukkan adanya suatu urutan tahap demi tahap serta jalan yang harus ditempuh
dalam rangka menyelesaikan suatu bidang tugas. Tata kerja adalah cara-cara pelaksanaan
kerja yang seefisien mungkin atas suatu tugas dengan mengingat segi-segi tujuan,
peralatan, fasilitas tenaga kerja, waktu, ruang, dan biaya yang tersedia. Sistem kerja
adalah suatu rangkaian tata kerja dan prosedur kerja yang kemudian membentuk suatu
kebulatan pola tertentu dalam rangka melaksanakan suatu bidang pekerjaan.
Berdasarkan pengertian yang ada, maka manfaat yang bisa diperoleh dengan adanya
Prosedür kerja, tata kerja, dan sistem kerja, sebagai berikut.
1) Tata kerja, prosedur kerja, dan sistem kerja penting karena merupakan penjabaran
tujuan, sasaran, program kerja, fungsi-fungsi, dan kebijakan ke dalam kegiatan-
kegiatan pelaksanaan operasional perusahaan sehari-hari.
2) Melalui tata kerja, prosedur kerja, dan sistem kerja yang dibuat dengan tepat, bisa
dilakukan standardisasi dan pengendalian kerja dengan setepat-tepatnya.
3) Tata kerja, prosedur kerja, dan sistem kerja bermanfaat, baik bagi para pelaksana
maupun semua pihak yang berkepentingan untuk dijadikan sebagai panduan
dalam bekerja.
Dalam penyusunan prosedur kerja, tata kerja, dan sistem kerja, perlu memerhatikan
beberapa asas, sebagai berikut.
1) Harus dinyatakan secara tertulis dan disusun secara sistematis serta dituangkan
dalam bentuk manual (dicetak).
2) Harus dikomunikasikan atau diinformasikan secara sistematis kepada semua petugas
atau pihak yang berkepentingan.
3) Harus sesuai dengan kebijakan pimpinan dan kebijakan umum yang ditentukan pada
tingkat yang lebih tinggi.
4) Harus bisa mendorong pelaksanaan kegiatan secara efisien serta menciptakan
jaminan yang memadai bagi terjaganya sumber-sumber yang berada di bawah
pengendalian organisasi.
5) Secara periodik harus ditinjau dan dievaluasi kembali serta bila perlu direvisi dan
disesuaikan dengan kondisi terkini.
Mengingat pentingnya prosedur kerja, tata kerja, dan sistem kerja maka perlu diketahui
prinsipprinsip dalam menyusun prosedur kerja, sebagai berikut.
Dipindai dengan CamScanner
1) Prosedur kerja, tata kerja, dan sistem kerja, harus disusun dengan memerhatikan
tujuan, fasilitas, peralatan, material, biaya dan waktu yang tersedia, serta luas,
macam, serta sifat dan tugas atau pekerjaan,
2) Untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan tepat, maka terlebih dahulu
dipersiapkan penjelasan tentang tujuan pokok organisasi, skema organisasi beserta
klasifikasi jabatan dan analisis jabatannya, serta unsur-unsur kegiatan di dalam
OrganİsaŞİ, dan sebagainya. 3) Hendaknya ditentukan satu pokok bidang tugas yang
akan dibuat bagan Prosedumya.
4) Perlu didaftarkan secara rinci tentang pekerjaan yang harus dilakukan beserta lamanya waktu
yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
5) Dalam penetapan urutan tahap demi tahap dari rangkaian pekerjaan, maka antara tahap yang
satu dengan tahap yang berikutnya harus terdapat hUbungan yang sangat erat yang
keseluruhannya menuju ke satu tujuan.
6) Setiap tahap harus merupakan suatu kerja nyata dan perlu untuk pelaksanaan dan
penyelesaian seluruh tugas atau pekerjaan yang dimaksudkan.
7) Perlu ditetapkan tentang kecakapan dan keterampilan tenaga kerja yang diperlukan untuk
penyelesaian pekerjaan.
8) Prosedur kerja, tata kerja, dan sistem kerja harus disusun secara tepat, sehingga memiliki
stabilitas dan fleksibilitas.
9) Penyusunan prosedur kerja, tata kerja, dan sistem kerja harus selalu disesuaikan dengan
perkembangan teknologi.
10) Untuk penggambaran tentang penerapan suatu prosedur tertentu sebaiknya dipergunakan
simbol dan skema atau bagan prosedur dengan jelas dan tepat. Bagan semacam ini sering
disebut skema arus kerja.
11) Untuk menjamin penerapan prosedur kerja, tata kerja, dan sistem kerja dengan jelas dan
tepat maka perlu dipakai buku pedoman.
2. Aturan kerja
Manajemen perusahaan memiliki hak untuk berharap agar karyawannya mematuhi
standar kode etik yang sewajarnya. Karyawan yang bertindak tidak sesuai atau di luar kewajaran
bisa merusak bisnis. Sangat berisiko apabila manajemen beranggapan bahwa setiap karyawan
sudah memiliki pandangan yang sama dengannya. Untuk itu, salah satu cara yang terbaik untuk
memperjelas tentang apa yang diharapkan oleh manajemen terhadap karyawan-karyawannya
adalah dengan membuat aturan kerja yang umum.
Aturan kerja adalah peraturan yang dibuat secara tertulis Oleh perusahaan yang memuat
hal-hal umum mengenai perilaku di dalam bekerja. Aturan kerja berlaku bagi semua pegawai
dan seluruh unsur yang terlibat dalam perusahaan, pimpinan perusahaan, atasan langsung
dari pegawai, dan disesuaikan dengan peraturan dari departemen tenaga kerja dan
transmigrasi. Aturan kerja terdiri atas beberapa aturan, sebagai berikut.
a. Waktu dan kehadiran kerja, antara Iain:
1) Penetapan waktu kerja didasarkan kepada kebutuhan perusahaan dengan memerhatikan
peraturan perundangan yang berlaku.
2) Waktu kerja di perusahaan adalah 6 (enam) hari dalam satu minggu.
3) Jam kerja di perusahaan adalah 7 (tujuh) jam sehari dan 40 (empat puluh) jam
seminggu.
Dipindai dengan CamScanner
4) Jam istirahat tidak diperhitungkan sebagai jam kerja.
b. Pakaian seragam, antara Iain:
1) Pegawai tertentu yang karena tugasnya demi keseragaman diharuskan memakai seragam
kerja.
2) Pakaian kerja disediakan perusahaan untuk periode kerja tertentu sesuai dengan standar
kualitas perlengkapan kerja yang berlaku dan diatur dalam peraturan tersendiri.
3) Setiap pegawai yang mendapat pakaian kerja/seragam diwajibkan mengenakannya selama
waktu kerja.
4) Pada waktu kerja pegawai diwajibkan mengenakan pakaian kerja yang rapi dan sopan.
c. Keselamatan dan kesehatan kerja, antara Iain:
1) Setiap pegawai diwajibkan ikut menjaga ketertiban, keamanan, kebersihan, dan keselamatan
kerja di tempat kerja maupun di lingkungan kerjanya.
2) Apabila pegawai menemui hal-hal yang dapat membahayakan terhadap keselamatan
pegawai dan perusahaan agar segera melaporkan kepada pimpiñan atau atasan,
3) Setiap pegawai wajib mempergunakan alat-alat keselamatan kerja dan juga mematuhi
ketentuan-ketentuan mengenai keselamatan dan perlindungan kerja yang berlaku.
4) Setiap pegawai diwajibkan memelihara alat/perlengkapan kerja milik perusahaan dengan
baik dan teliti.
5) Setiap pegawai dilarang membawa, memindahkan, dan meminjamkan alat/perlengkapan
milik perusahaan tanpa izin yang berwenang.
d. Kowajiban pokok pooawai, antara liiln
1 ) Sotinp pognwai wajib porintah/potunjuk dari otasan donqan penuh
2) Monaati tertib/potaturan porusahoan sorta kotontuan-kotontuan yang bortaku
3) Momborikan kotorangan/lnporan yang sobonnrnya mongonai pokorjaan kcpada dalam
hubunoan donoan tugafinya,
4) Monyimpan cinn rnonjnqa korahasiaan somua kotorangan yang didapat dalarn
polaksanaati pokorjaannya
5) Momolihara dan monjaga barang.barang milik porusahaan yang digúnakan atau
dipercayakart kopadanya.
6) Mongomukakan saran-sarnn yang borrnanfaat bagl pcrusahaan kopada atasannya molalui
saturan lain yang ditotapkan untuk Itu.
r-. Peraturan Penterinlall yang Menga(ltr Sel€tor Indtts(riJa.sa
Keuangan
Jasa kouangan morupakan jasa yang disodiakan Oloh industri kouangan. Jasa keuangan
juga digunakan untuk merujuk pada organisasi yang monangani pcngelolaan dana, seperti
bank, bank investasi, porusahaan asuransi, porusahaan kartu kredit, perusahaan pembiayaan
konsumen, dan sekuritas adalah contoh-contoh perusahaan dalam industri jasa keuangan.
Dalam menjalankan segala aktivitasnya, industri jasa kouangan diatur dalam poraturan.
Peraturan tersebut bertujuan memberikan kepastian hukum, melindungi dan mengayomi hak
negara, memberjkan rasa keadilan bagi warga negara, dan menciptakan kedamaian dan
ketenteraman dalam masyarakat,
Dipindai dengan CamScanner
1. Undang-Undang Nomor IO Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1992 tcntang Perbankan
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nornor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan dimaksudkan untuk mempersiapkan perbankan
memasuki era globalisasi dan juga disusun untuk menyesuaikan aturan perundang-
undangan tentang perbankan dengan perjanjian-perjanjian internasional yang telah
diratifikasi di bidang perdagangan barang dan jasa maupun perekonomian yang
memengaruhi kebijakan-kebijakan di sektor perbankan.
Berdasarkan pengaturan dalam Undang-Undang Perbankan, keterkaitan dengan pembentukan
RUU tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) terdapat pada LKM yang berbentuk Bank
Perkreditan Rakyat (BPR). Dalam Undang-Undang Perbankan, pengaturan mengenai BPR merujuk
pada beberapa pasal, yaitu Pasal 13, Pasal 16, Pasal 19, dan Pasal 29. Dalam Pasal 13
UndangUndang Perbankan, usaha BPR meliputi:
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka'
tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
b. Memberikan kredit.
c. Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah, sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
d. Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka
sertifikat deposito dan/atau tabungan pada bank lain.
Selanjutnya, dalam melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan wajib, Pasal 16 Undang-Undang Perbankan menyatakan bahwa BPR
terlebih dahulu memperoleh izin usaha Bank Perkreditan Rakyat dari Pimpinan Bank
Indonesia, kecuali apabila kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dimaksud diatur
dengan Undang-undang tersendiri, di mana persyaratan yang wajib dipenuhi paling sedikit
memuat susunan organisasi dan kepengurusan; permodalan; kepemilikan; keahlian di
bidang perbankan; dan kelayakan rencana kerja
Selanjutnya, menurut Pasal 29 Undang-Undang Perbankan, pembinaan dan
pengawasan BPR dilakukan Oleh Bank Indonesia, di mana terkait ini, BPR wajib memelihara
tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kualitas
manajemen, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan
usaha bank, dan Wajib
2. Undang•Undang Nomor 25 Tahun 1992 tontang Porkopcrasian
Terkait (longan I yang dibentllk berupa koporasi, bentuk koperasi yang sesuai dengan
1.1<M adalah Koperast simpan pinjam atau unit simpan pinjam koperasi, pengaturan dalam
UndangUndang Ikoperasi yanq perlu monjadi perhatian untuk diharmonisasi atau
disinkronisasi dalam wacana pombentukan Undang-Undang 1-IKM adalah boberapa
ketcntuan pasal sebagai berikut, Pasal angka I , Pasal 9, dan Pasal Undang-Undang
Porkoperasian.
Dalam hal pendil tan 1.I(M yang bel bentuk koperasi simpan pinjam menurut Pasal 9
UndangUndang Perkoperasian, momperoloh status badan hilkum sotelah akta pendiriannya
disahkan 01011 pemorintah. Selanjlltnya, (talam Pasal 44 Undang-Undang Perkoperasian
menyatakan bahwa dalam menjalankan usahanya, koperasi bisa melaksanakan usaha simpan
pinjam dengan cara menghimpun dana dan menyaltllkannya melalui kegiatan usaha simpan
pinjam dari dan untuk angoota koperasi yang bersangkutan: koperasi lain; dan/atau
anggotanya.
Pada prinsipnya, pengaturan mongenai kegiatan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) atau unit
simpan pinjam koperasi bolum diatur secara detail dalam undang-undang tersendiri, namun
Dipindai dengan CamScanner
sebagai peraturan pelaksana telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995
tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi.
Bentuk organisasi dari KSP menurut Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995
dinyatakan bahwa kegiatan usaha simpan pinjam hanya dilaksanakan oleh Koperasi Simpan
Pinjam atau Unit Simpan Pinjam, di mana keduanya bisa berbentuk Koperasi Primer atau
Koperasi Sekunder. Selanjutnya, dalam hal pendirian, menurut Pasal 3 Peraturan Pemerintah
Nornor 9 Tahun 1995, dinyatakan bahwa pendirian koperasi simpan pinjam dilaksanakan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan mengenai persyaratan dan tata cara
pengesahan Akta Pendirian dan perubahan Anggaran Dasar Koperasi.
3. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
Sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang Nornor 3 Tahun 2008 menjadi
Undang-Undang. Pada prinsipnya LKM yang berbentuk BPR, menjadi objek dalam Undang-
Undang LPS, Hal ini dapat dilihat pada Pasal 1 angka 2 Undang-Undang LPS, yang
menyatakan bahwa bank adalah bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Perbankan.
Mengingat hal itu, maka ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang LPS berlaku
pula untuk BPR, yang di satu sisi merupakan salah satu bentuk dari LKM. Adapun beberapa
ketentuan pasa] dalam Undang-Undang LPS yang perlu menjadi perhatian bagi
pembentukan Undang-Undang I._KM, khususnya LKM yang berbentuk BPR, yaitu ketentuan
Pasal 8 dan Pasal 9 Undang-Undang LPS. Dalam Pasal 8 Undang-Undang LPS, dinyatakan
bahwa setiap bank, termasuk di antaranya BPR, yang melakukan kegiatan usaha di wilayah
Negara Republik Indonesia wajib menjadi peserta penjaminan.
Selanjutnya untuk melengkapi kewajiban BPR sebagai peserta penjaminan, dalam Pasal 9
Undang-Undang LPS, BPR wajib:
a. Menyerahkan dokumen, sebagai berikut.
l) Salinan anggaran dasar dan/atau akta pendirian bank.
2) Salinan dokumen perizinan bank.
3) Surat keterangan tingkat kesehatan bank yang dikeluarkan oleh LPP yang dilengkapi
dengan data pendukung.
4) Surat pernyataan dari direksi, komisaris, dan pemegang saham bank, yang memuat:
a) Komitmen dan kesediaan direksi, komisaris, dan pemegang saham bank untuk
mematuhi seluruh ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam peraturan LPS.
b) Kesediaan untuk bertanggung jawab secara pribadi atas kelalaian dan/atau
perbuatan yang melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian atau
membahayakan kelangsungan usaha bank.
c) Kesediaan untuk melepaskan dan menyerahkan kepada LPS segala hak,
kepemilikan kepengurusan, dan/atau kepentingan apabila bank menjadi bank
gagal dan diputuskan untuk diselamatkan atau dilikuidasi.
b. Membayar kontribusi kepesertaan sebesar 0,1% (satu per seribu) dari modal sendiri
(ekuitas) bank pada akhir tahun fiskal sebelumnya atau dari modal disetor bagi bank
baru.
c. Membayar premi penjaminan.
d. Menyampaikan laporan secara berkala dałam format Yang ditentukan.
e. Memberikan data, informasi, dan dokumen yang dibutuhkan dałam rangka penyelenggaraan
penjaminan.
Dipindai dengan CamScanner
f. Menempatkan bukti kepesertaan atau salinannya di dalam kantor bank atau tempat lainnya
sehingga bisa diketahui dengan mudah oleh masyarakat.
4. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Berkaitan dengan pembentukan LKM, dalam Undang-Undang UMKM terdapat beberapa
ketentuan pasał yang perlu menjadi perhatian, terutama terkait dengan definisi usaha mikro dan
pembiayaan, kriteria usaha mikro dan pembiayaan bagi usaha mikro yang terdapat dałam Pasal 1
angka 1, pasal 1 angka 11, Pasał 6 ayat (1), Pasał 21, Pasał 22, dan Pasał 23 Undang-Undang
UMKM.
Pengertian usaha mikro yang terdapat dalam Pasal 1 angka 1 menyatakan bahwa
usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha
perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang-
undang ini. Sedangkan pembiayaan, merupakan kunci pelaksanaan LKM dałam usaha
mikro, menurut Pasał 1 angka Il didefinisikan sebagai penyediaan dana oleh pemerintah,
pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat melalui bank, koperasi, dan lembaga
keuangan bukan bank untuk mengembangkan dan memperkuat permodalan usaha
mikro, kecil, dan menengah.
Selanjutnya, dałam Pasal 6 ayat (1 ) Undang-Undang UMKM, menyatakan bahwa kriteria
suatu usaha mikro sebagai berikut.
a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
Terkait dengan pembiayaan usaha mikro, dalam Pasal 21 Undang-Undang UMKM,
menyatakan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyediakan pembiayaan bagi
usaha mikro. Selain iłu, badan usaha milik negara bisa pula menyediakan pembiayaan dari
penyisihan bagian laba tahunan yang dialokasikan kepada usaha mikro dalam bentuk pemberian
pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya. Masih terkait dengan pembiayaan untuk
usaha mikro, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia usaha dapat memberikan hibah,
mengusahakan bantuan luar negeri, dan mengusahakan sumber pembiayaan lain yang sah serta
tidak mengikat untuk usaha mikro dan kecil.
Selain iłu, pemerintah pusat dan pemerintah daerah bisa memberikan insentif dalam bentuk
kemudahan persyaratan perizinan, keringanan tarif sarana Prasarana, dan bentuk insentif
lainnya yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan kepada dunia usaha yang
menyediakan pembiayaan bagi usaha mikro.
Selanjutnya, dałam Pasal 22 Undang-Undang UMKM, menyatakan bahwa dałam rangka
meningkatkan sumber pembiayaan usaha mikro, pemerintah melakukan upaya sebagai berikut.
a. Pengembangan lembaga modal ventura.
b. Pengembangan sumber pembiayaan dari kredit perbankan dan lembaga keUangan bukan
bank. c. Pengembangan sumber pembiayaan lain sesuai dengan ketentuan peraturan
undangan. perundang_
d. Pelembagaan terhadap transaksi anjak piutang.
e. Peningkatan kerja keuangan sama antara konvensional usaha mikro dan dan syariah.usaha
kecil melalui koperasi simpan pinjam dan koperasi jasa
Sedangkan untuk meningkatkan akses usaha mikro, dalam Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang
UMKM, pemerintah pusat dan pemerintah daerah melakukan upaya sebagai berikut.
a. Menumbuhkan, mengembangkan, dan memperluas jaringan lembaga keuangan bukan bank.
Dipindai dengan CamScanner
b. Menumbuhkan, mengembangkan, dan memperluas jangkauan lembaga penjamin kredit
c. Memberikan kemudahan dan fasilitas dalam memenuhi persyaratan untuk memperoleh
pernbiayaan.
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah terakhir dengan
UndangUndang Nomor 6 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Bank Indonesia menjadi Undang-Undang BI
Wacana pembentukan undang-undang LKM terkait dengan beberapa undang-undang.
Dalam hal keterkaitannya dengan Undang-Undang Bank Indonesia bisa dilihat dari materi
tugas mengatur dan mengawasi bank, Yang diatur dalam Pasal 24 sampai dengan Pasal 35
Undang-Undang BI. Hal ini selain tugas utama BI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
Undang-Undang BI, selain menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter serta
mengatur dan menjaga kelancaran sistem pernbayaran.
Menurut Pasal 1 angka 5 Undang-Undang BI sebagaimana yang dilakukan oleh BI
terhadap kriteria yang sesuai dengan tugasnya mengatur dan mengawasi bank, yaitu BPR dan
BPRS, yang mana keduanya merupakan salah satu jenis LKM berbentuk bank. Berdasarkan
amanat Undang-Undang BI, pengawasan terhadap BPR maupun BPRS ke depan akan
dibentuk lembaga pengawasan sektor jasa keuangan yang independen sesuai undang-
undang. Namun, selama lembaga pengawasan tersebut belum dibentuk, tugas pengaturan
dan pengawasan BPR/BPRS dilaksanakan Oleh Bank Indonesia, hal ini sebagaimana diatur
dalam Pasal 34 dan Pasal 35 Undang-Undang BI.
6. Undang-Undang Nomor32 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah terakhir dengan
UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah (Undang-Undang
Pemerintahan Daerah)
Pembentukan Undang-Undang l.-KM dengan Undang-Undang Pemerintahan Daerah bisa
dilihat pada lernbaga kernasyarakatan di desa dan badan usaha milik desa. Lernbaga
kernasyarakatan di desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 211 Undang-Undang
Pemerintah Daerah berfungsi untuk membantu pemerintah desa dan merupakan mitra
dalam memberdayakan masyarakat desa, di mana lernbaga pemberdayaan masyarakat desa
yang menyalurkan pernbiayaan berbentuk keuangan mikro.
Selanjutnya untuk mengembangkan potensi dan kebutuhan desa, menurut Pasal 213
UndangUndang Pemerintahan Daerah, desa bisa mendirikan badan usaha milik desa Yang
pendiriannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Badan usaha milik desa ini dalam
praktiknya bisa berbentuk Badan Kredit Desa, Badan Usaha Kredit Pedesaan, dan bentuk-
bentuk Iainnya yang dalam operasionalisasinya bisa menyalurkan kredit/pembiayaan mikro.
7. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah (Undang-Undang
Perbankan Syariah)
Sama halnya seperti Undang-Undang Perbankan, keterkaitan Undang-Undang Perbankan
Syariah dengan pernbentukan Undang-Undang LKM terletak pada LKM yang berbentuk
bank. Dalam Undang-Undang Perbankan Syariah keterkaitan itu terdapat pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) yang dalam operasionalisasjnya menyalurkan
pembiayaan mikro.
Dalam Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Perbankan Syariah, definisi BPRS (Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah) adalah bank syariah Yang dalam kegiatannya tidak memberikan
jasa dalam lalu lintas pembayaran. Adapun yang dimaksud prinsip syariah, yaitu prinsip
hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lernbaga
yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Sedangkan untuk
pembinaan dan pengawasan terhadap BPRS, menurut Pasal 50 Undang-Undang Perbankan
Dipindai dengan CamScanner
Syariah, dilakukan oteh Bank Indonesia. Setiap pihak yang akan melakukan kegiatan usaha
bank syariah atau Ul-JS wajib terdahulu memperoleh izin usaha sebagai Bank Syariah atau
(JUS dari Bank Indonesia.
F. Profesi dalam Industri Jasa Kcuangan
Dalam sebuah industri, banyak sekali pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan sendiri. Perlu
orang-orang yang berkompeten di bidangnya masing-maisng untuk menjalankan industria
Pekerjaan. pekerjaan tersebut dinamakan profesi, terutama pada bidang industri jasa keuangan
terdapat profesi tertentu yang tidak ada pada industri Iainnya.
Banyak sekali profesi yang dapat dijumpai di sekitar kita. Ada profesi di bidang pendidikan,
guru, serta profesi di bidang kesehatan, seperti dokter. Berikut akan dibahas profesi yang ada
datam industri jasa
1. Akuntan
Akuntan merupakan sebutan dan gelar profesional bagi seorang sarjana yang telah
menyelesaikan pendidikan di fakultas ekonomi jurusan akuntansi pada suatu perguruan tinggl
dan telah dinyatakan Iulus, Profesi akuntan dapat digolongkan menjadi empat, yaitu:
a. Akuntan swasta
Akuntan swasta adalah akuntan yang bekerja di perusahaan swasta sebagai penasihat
atau pembantu tugas-tugas pemilik atau pemimpin perusahaan yang bersangkutan. Tugas
akuntan swasta, di antaranya: 1) Mengatur pencatatan.
2) Membuat laporan keuangan.
3) Membuat sistem akuntansi perusahaan dan pemeriksaan intern.
b. Akuntan publik
Akuntan publik adalah sebuah profesi yang membuka praktik untuk melayani kebutuhan
masyarakat atau pihak-pihak yang membutuhkan keahliannya dan memberikan honor
kepadanya. Adapun tugas-tugas seorang akuntan publik, sebagai beríkut.
1) Pihak pemeriksa (audit) dalam penyusunan sistem akuntansi.
2) Memberikan penyempurnaan organisasi perusahaan.
3) Memberi nasihat-nasihat Iain yang berkaitan dengan masalah ekonomi perusahaan,
misalnya rnembuat budget dan feasibility study untuk memperoleh kredit.
c. Akuntan pendidik
Akuntan pendidik merupakan profesi akuntan yang khusus dalam bidang pendjdikan
akuntansj. Tugasnya mengajar, menyusun kurikulum pendidikan akuntansi, dan
melakukan penelitian di bidang akuntansi.
d. Akuntan pemerintah
Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada badan-badan pemerintah. Tugas
utama akuntan pemerintah adalah mengawasi keuangan milik negara. Badan atau
organisaSi yang membutuhkan jasa akuntan pemerintah, yaitu Badan Pemeriksa
Keuangan Negara dan Direktorat Akuntan Negara.
2. Konsultan hukum
Konsultan hukum merupakan seseorang yang secara khususdalam bidang hukum
korporasi dan ketika menjatankan praktik profesinya harus berdasarkan surat izin usaha
khusus yang diberikan oleh pihak yang betwenang. Konsultan hukum pada umumnya
bekerja untuk pekerjaan-pekerjaan hukum yang berkaitan dengan bidang usaha. Tugas
seorang konsultan hukum sebagian besar mereview perjanjian dan menjalankan uji tuntas
segi hukum untuk menilai kesepakatan tersebut.
Dipindai dengan CamScanner
Konsultan hukum memastikan legalitas dari setiap transaksi komersial dan memberi
masukan kepada perusahaan hak-hak dan kewajiban legalnya, termasuk tugas dan
tanggung jawab pegawai perusahaan. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang konsultan
hukum haruslah memiliki pengetahuan mengenai aspek hukum kontrak, hukum pajak,
akuntansi, hukum sekuritas, kebangkrutan, hak kekayaan intelektual, lisensi, hukum
penetapan mereka bekerja.wilayah, dan hukum-hukum yang spesifik kepada kepentingan
bisnis korporasi tempat
3. Pcnilai
Penilai adalah pihak yang akan menentukan dan menilai perusahaan jasa keuangan atau
aset yang ada di pcrusahaan tersebut untuk menjaga konsumen supaya tidak tertipu dan
menyelesaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Bidang pekerjaan utama dari profesi ini,
yaitu penilaian terhadap objck berupa asct pernerintah maupun perusahaan swasta.
Profesi penilai termasuk profesi yang potensial karena dua alasan berikut.
a. Sangat dibutuhkan
Profesi penilai sesungguhnya sangat dibutuhkan di berbagai kalangan. Salah satu
alasannya ialah pernerintah telah mewajibkan perusahaan untuk membuat laporan
penilaian aset yang sah lewat penilai bersertifikat,
b. Gaji yang besar
Profesi penilai aset memang tidak memiliki standar upah tertentu karena nilai upah akan
tergantung dari besar atau kecílnya proyek yang diberikan. Meskipun sama-sama bekerja
sebagai penilai, bisa saja pendapatannya berbeda,
4. Notaris
Istilah notaris diambil dari nama pengabdinya, yaitu Notarius yang kemudian menjadi
istilah/ titel bagi golongan orang penulis cepat atau stenografer. Notaris adalah sebutan
profesi untuk seseorang yang telah mendapatkan pendidikan hukum yang dilisensi oleh
pemerintah untuk melakukan hal-hal hukum, khususnya sebagai saksi penandatanganan
pada dokumen. Notaris merupakan pihak yang membuat surat atau yang membuat akta-akta
yang bersifat hukum. Notaris adalah pejabat urnum yang beN1enang untuk membuat akta
autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh
peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan.
Tugas seorang notaris, di antaranya:
a) Membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus
(wearmerking).
b) Membuat salinan dari surat asli di bawah tangan berupa salinan yang berisi uraian bagaimana
ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan.
c) Melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya (legalisasi).
d) Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta.
e) Membuat akta yang berhubungan dengan pertanahan.
f) Membuat akta risalah lelang.
g) Sebagai editor mengenai kesalahan-kesalahan yang muncul pada minuta akta yang telah
ditandatangani dengan membuat Berita Acara (BA) dan memberikan catatan tentang hal
tersebut pada minuta akta asli yang menyebutkan tanggal dan nomor.
5. Internal auditor
Dipindai dengan CamScanner
Internal auditor merupakan orang atau badan yang menjalankan aktivitas internal
auditing. Fungsi profesi internal auditor, yaitu mengaudit internal perusahaan untuk
kepentingan internal perusahaan, memastikan manajemen sudah melakukan kegiatan
dengan kaidah efektif, efisien, dan ekonomis untuk kernajuan perusahaan. Internal auditor
dalam melakukan pengawasan dibedakan menjadi dua jenis pengawasan, yaitu pengawasan
yang bersifat akuntansi dan administratif. Berikut penjelasan masing-masing.
a) Pengawasan akuntansi meliputi rencana organisasi dan semua cara dari prosedur, terutama
yang menyangkut dan berhubungan langsung dengan Pengamanan harta benda dan dapat
dipercayainya catatan keuangan (pembukuan).
b) Pengawasan administratif meliputi rencana organisasi dan semua cara dan prosedur,
terutama yang menyangkut efisiensi usaha dan ketaatan terhadap kebijaksanaan pimpinan
perusahaan yang pada urnumnya tidak langsung berhubungan dengan pembukuan
(akuntansi).
Dipindai dengan CamScanner