0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
205 tayangan81 halaman

KOLOKIUM

Laporan ini merangkum perencanaan desain interior Museum Seni Rupa dan Keramik di Jakarta. Museum ini memiliki koleksi lukisan, patung, dan keramik. Laporan ini menjelaskan konsep desain interior yang menerapkan tema "Simplistic Classic-Modern Batik" untuk menciptakan ruang yang edukatif dan rekreatif bagi pengunjung untuk mengenal sejarah seni rupa dan keramik.

Diunggah oleh

rizal haryanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
205 tayangan81 halaman

KOLOKIUM

Laporan ini merangkum perencanaan desain interior Museum Seni Rupa dan Keramik di Jakarta. Museum ini memiliki koleksi lukisan, patung, dan keramik. Laporan ini menjelaskan konsep desain interior yang menerapkan tema "Simplistic Classic-Modern Batik" untuk menciptakan ruang yang edukatif dan rekreatif bagi pengunjung untuk mengenal sejarah seni rupa dan keramik.

Diunggah oleh

rizal haryanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERENCANAAN DESAIN INTERIOR MUSEUM SENI RUPA

DAN KERAMIK
Jl. Pos Kota No.2, RT.9/RW.7, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota
Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110

Rizal Haryanto Junaedi/ 615160152


Kelas: AX
Pembimbing: Hartini, S.Sn, MA.

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN


UNIVERSITAS TARUMANAGARA
2020
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Kolokium

PERANCANGAN INTERIOR

MUSEUM SENIRUPA DAN KERAMIK

Disusun Oleh:

Rizal Haryanto Junaedi

615160152

Telah Memenuhi Syarat Mata Kuliah Kolokium tahun Ajaran 2019/ 2020
dan Dinyatakan Telah Lulus Memenuhi Syarat

PEMBIMBING KOORDINATOR KOLOKIUM

(Hartini, S.Sn, MA.)

KETUA PROGRAM STUDI

(Maitri Widya Mutiara, S.Ds., M.M.)

i
LEMBARAN PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Rizal Haryanto Junaedi

NIM : 615160152

Program Studi : Desain Interior

Tempat/ Tgl Lahir : Makassar/ 1 Juni 1997

Alamat : Jl. Pos Kota No.2, RT.9/RW.7, Pinangsia, Kec. Taman


Sari,
Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110

Dengan ini menyatakan, bahwa laporan Kolokium yang berjudul:

PERENCANAAN DESAIN INTERIOR MUSEUM SENI RUPA DAN


KERAMIK

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan kolokium ini berdasarkan hasil


pengumpulan data, survei, dan proses berpikir yang dilakukan oleh saya sendiri,
tanpa adanya tindakan plagiarisme. Saya mencantumkan sumber kutipan bila
mengutip karya orang lain dengan tata cara penulisan ilmiah. Demikian
pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dalam keadaan sadar tanpa
paksaan dari pihak manapun. Apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan
dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa
pencabutan gelar yang telah diperoleh, dan sanksi lain sesuai dengan peraturan
yang berlaku di Universitas Tarumanagara.

ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kolokium berjudul
“PERENCANAAN DESAIN INTERIOR MUSEUM SENI RUPA DAN
KERAMIK”, tepat pada waktunya dan dengan semaksimal mungkin. Selama
penyusunan laporan kolokium ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari
berbagai pihak, khususnya:

1. Ibu Maitri Widya Mutiara, S.Ds., M.M., selaku Kepala Program Studi Desain
Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Tarumanagara.
2. Ibu Hartini, S.Sn, MA., selaku Asisten Dosen Kolokium.

Penulis menyadari adanya kekurangan dan kesalahan dalam penulisan laporan.


Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang berguna untuk
memperbaiki kesalahan penulis di masa mendatang. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi semua pembaca. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Jakarta, 15 Maret 2020

Rizal Haryanto
615160152

iii
ABSTRAK
Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) adalah salah satu wisata edukasi dalam
Kawasan Kota Tua, Jakarta dengan ciri khas bangunan peninggalan Kolonial
Belanda bergaya Neo-Klasik termasuk sebagai cagar budaya Indonesia.
MSRK memamerkan koleksi karya seni lukis, patung, dan keramik. MSRK
berperan dalam mengedukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat
untuk lebih mengenal sejarah perkembangan seni rupa dan keramik melalui
perancangan desain yang edukatif-rekreatif, pengunjung dapat memperluas
wawasan sekaligus memperoleh hiburan dari fasilitas yang disediakan
museum.Pemilihan tema Modern Simplistic Classic-Modern Batik mengangkat
sisi berpetualang pengunjung menjelajahiruang dan menemukan objek koleksi
tertentu dengan perpaduan gaya Modern Klasik yang mengangkat sisi sejarah
arsitektur gedung namun dengan bentuk yang disederhanakan sebagai solusi
permasalahan desain.Tema diterapkan pada pola sirkulasi, layout, tata pamer,
elemen pembentuk ruang dan Gaya diterjemahkan melalui elemen estetis dan
citra ruang museum. Maka perancangan interior MSRK diharapkan dapat
meningkatkan perannya sebagai salah satu media edukasi rekreatif masyarakat
yang bertaraf internasional.
Kata kunci: Desain Interior Museum, Edukatif, Rekreatif, Simplistic Classic-
Modern Batik, Modern – Klasik

iv
ABSTRACT
Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) is the one of educational tours
at Kota Tua, Jakarta. The building has a Neo-Classic style which is the
characteristic of the Dutch Colonial that included in Indonesian cultural
heritage. MSRK exhibits a lot of painting
arts, statues, and ceramics. MSRK plays a role to educate and increase public
awareness on fine arts history's development through an educative-recreative
design. Visitors can get more knowledge or insight and also can be
entertained by museum's facility. The theme Simplistic Classic-Modern Batik
was taken from visitors exploring and finding activity to a certain collection
objects with Classic-Modern style. This style taken from the history of building
architecture that can be simplified as design problem solving. The theme applied
on circulation patterns, layout, exhibition arrangement, and space-forming
elements. The style translated trough the estetic elements and museum space
imagery, then interior design of MSRK hopefully able to increase its role to
be the one of public educative-recreative International standard media.
Keywords:
Interior Design Museum, Educative, Recreative, Simplistic Classic-Modern
Batik, Classic-Modern

v
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................i
LEMBARAN PERNYATAAN.............................................................................ii
KATA PENGANTAR..........................................................................................iii
ABSTRAK.............................................................................................................iv
ABSTRACT............................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................ix
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah.........................................................................1
B. Rumusan Masalah...................................................................................3
C. Batasan Masalah......................................................................................3
D. Tujuan Perancangan...............................................................................3
E. Metode Programing................................................................................4
1. Studi Kepustakaan...................................................................................4
2. Pengumpulan Data..................................................................................4
a. Wawancara...........................................................................................5
b. Observasi lapangan.............................................................................5
3. Konsep Perancangan...............................................................................5
a. Tahap Pengumpulan Data..................................................................5
b. Tahap Pengumpulan Gambar Kerja dan Gambar Presentasi........6
F. SISTEMATIKA PENULISAN..................................................................7
1. BAB I PENDAHULUAN.........................................................................7
2. BAB II TINJAUAN DATA PROYEK...................................................7
3. BAB III KONSEP DESAIN....................................................................7
4. BAB IV HASIL AKHIR TUGAS AKHIR............................................7
5. DAFTAR PUSTAKA...............................................................................7
6. LAMPIRAN.............................................................................................7
BAB II.....................................................................................................................8
DASAR PEMIKIRAN...........................................................................................8

vi
A. Tinjauan Umum......................................................................................8
1. Desain Interior.........................................................................................8
a. Pengertian Desain Interior..................................................................8
b. Elemen-Elemen Desain Interior.........................................................9
c. Sejarah Singkat Desain Interior.......................................................10
d. Tujuan Desain Interior......................................................................11
2. Museum...................................................................................................12
a. Pengertian Museum...........................................................................12
b. Sejarah dan Perkembangan Museum..............................................13
c. Tugas, Fungsi, dan Tujuan Museum...............................................15
d. Persyaratan Museum.........................................................................17
e. Persyaratan Koleksi...........................................................................18
f. Jenis-Jenis Museum...........................................................................20
B. Tinjauan Khusus...................................................................................22
1. Profil Perusahaan..................................................................................22
2. Sejarah Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik...........................22
3. Koleksi Seni Rupa Museum Seni Rupa dan Keramik........................23
4. Koleksi Keramik Museum Seni Rupa dan Keramik..........................24
5. Perpustakaan Museum Seni Rupa dan Keramik...............................25
6. Studio Gerabah Museum Seni Rupa dan Keramik............................25
7. Toko Cindera Mata Museum Seni Rupa dan Keramik.....................26
8. Fasilitas Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik..........................26
9. Kegiatan Museum Seni Rupa dan Keramik........................................26
10. Fasilitas Umum Museum Seni Rupa dan Keramik............................26
11. Visi dan Misi Museum Seni Rupa dan Keramik................................26
a. VISI.....................................................................................................26
b. MISI....................................................................................................27
12. Struktur Organisasi Museum Seni Rupa dan Keramik.....................27
13. Jobdesk...................................................................................................28
14. Prosedur Pelayanan pada Museum Seni Rupa dan Keramik...........29
15. Kebutuhan Aktifitas dan Fasilitas........................................................30
16. Persyaratan Spasial dan Fungsional....................................................31

vii
a. Persyaratan Spasial...........................................................................31
b. Persyaratan Fungsional.....................................................................33
17. Persyaratan Kondisional.......................................................................42
a. Sosial...................................................................................................42
b. Adat Budaya.......................................................................................42
c. Politik..................................................................................................42
d. Ekonomi..............................................................................................43
18. Peraturan Pemerintah...........................................................................43
19. Tugas Pokok dan Fungsi Museum Seni Rupa dan Keramik.............47
BAB III..................................................................................................................48
ANALISA MASALAH........................................................................................48
A. ANALISA CITRA.................................................................................48
B. ANALISA POTENSI LINGKUNGAN...............................................51
1. Faktor View............................................................................................52
2. Faktor Cahaya........................................................................................52
3. Faktor Suhu dan Kelembaban..............................................................54
4. Faktor Suara..........................................................................................54
5. Faktor Manusia......................................................................................54
6. Faktor Eksternal....................................................................................54
C. ANALISA AKTIFITAS DAN FASILITAS........................................55
D. ANALISA FUNGSI, JUMLAH & BESARAN RUANG...................56
E. ANALISA PERSYARATAN & ORGANISASI RUANG.................57
1. Diagram Matrix Hubungan Antar Ruang...........................................57
2. Bubble Diagram Hubungan Antar Ruang..........................................57
F. ANALISA POLA SIRKULASI................................................................58
G. ANALISA MATERIAL & WARNA...................................................58
BAB IV..................................................................................................................58
PEDOMAN DESAIN...........................................................................................58
A. KONSEP UMUM PERENCANAAN..................................................58
1. Citra dan Ide Dasar......................................................................................58
B. KONSEP ORGANISASI RUANG.......................................................59
C. KONSEP LAYOUT..............................................................................59

viii
D. KONSEP POLA SIRKULASI.............................................................59
E. KONSEP FURNITURE........................................................................60
F. KONSEP MATERIAL DAN WARNA...................................................60
G. KONSEP PENGKONDISIAN RUANG..............................................60
1. Konsep Pencahayaan.............................................................................60
2. Konsep Penghawaan..............................................................................60
3. Konsep Akustik......................................................................................60
a. Sistem Akustik Lingkungan..................................................................60
b. Sistem Akustik Kedap Suara................................................................60
H. KONSEP KEAMANAN........................................................................61
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................64

ix
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR 1 FASAT MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK KOTA TUA.............................20
GAMBAR 2 ISTRIKU (SUDJOJONO, 1956)................................................................................21
GAMBAR 3 DUA ORANG PENUNGGANG KUDA (1985)........................................................23
GAMBAR 4 ALAT PEMBUATAN GERABAH............................................................................24
GAMBAR 5 Logo Museum Seni Rupa dan Keramik......................................................................26
GAMBAR 6 Ruang Pameran Museum............................................................................................26
GAMBAR 7 Aktivitas Pengunjunga di Museum Seni Rupa dan Keramik......................................27
GAMBAR 8 Lokasi Museum Seni Rupa dan Keramik...................................................................27
GAMBAR 9 Tembikar dan Kerajinan Tanah Liat Khas Sulawesi Utara........................................28
GAMBAR 10 Lokasi Museum Seni Rupa dan Keramik.................................................................29
GAMBAR 11 Tampak Area Museum..............................................................................................30
GAMBAR 12 Penggunaan Cahaya Buatan dalam Ruangan Museum Seni Rupa dan Keramik.....30
GAMBAR 13Penggunaan Cahaya Buatan Outdoor Museum Seni Rupa dan Keramik..................31
GAMBAR 14 Cahaya Alami Museum Seni Rupa dan Keramik.....................................................31

x
DAFTAR TABEL

xi
DAFTAR DIAGRAM

Diagram 1 Analisa Citra Museum Seni Rupa dan Keramik..................................47


Diagram 2 Aktifitas Kebutuhan Fasilitas dan Besaran Ruang...............................52
Diagram 3 Matrix...................................................................................................53
Diagram 4 Bubble..................................................................................................53
Diagram 5 Analisa Keterangan Berpikir................................................................54

xii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai macam etnis, suku, ras,
budaya, bahasa, adat istiadat, agama. Setiap etnis mempunyai budaya, adat
istiadat, bahasa, kepercayaan, makanan, pakaian dan tata cara hidup yang
berbeda-beda yang menjadi ciri khas budaya daerah itu sendiri.

Menurut Soeleman Soemardi (1989), kebudayaan sebagai semua hasil karya,


rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat untuk menghasilkan teknologi
dan kebudayaan kebendaan yang diperlukan manusia untuk bertahan dan
menguasai alam sekitarnya. Wujud dari hasil kebudayaan yang diwariskan
turun temurun menjadi sebuah sumber kebanggaan bangsa Indonesia. Hasil
dari keragaman kebudayaan juga berguna untuk memperkokoh kesadaran jati
dir bangsa, sejarah dan ilmu pengetahuan serta pemanfaatan lain untuk
kepentingan nasional. Sehingga dalam upaya pelestarian hasil karya
kebudayaan tersebut, pemerintah dianggap perlu dan berkewajiban untuk
melaksanakan tindakan penguasaan, pemilikan, penemuan, perlindungan dan
pemeliharaan terhadap hasil karya tersebut, seperti mendirikan sebuah
museum.

Menurut Association of Museum (1998), Museum merupakan badan yang


mengumpulkan, mendokumentasikan, melindungi memamerkan, dan
menunjukan materi bukti serta informasi demi kepentingan umum. Salah satu
museum yang memamerkan beragam kebudayaan Indonesia adalah Museum
Seni Rupa dan Keramik.

Museum Seni Rupa dan Keramik adalah museum yang awalnya didedikasikan
untuk menampilkan atau mengedukasi tentang seni rupa tradisional dan
keramik di Indonesia. Museum Seni Rupa dan Keramik menampilkan beberapa
karya seni dari beragam kebudayaan yang dimiliki Indonesia dan juga yang
berasal dari Mancanegara. Keseluruhan koleksi meski cukup beragam namun

1
tak terhindari kesan sayu, tanpa masterpieces. Karakteristik derik lantai kayu
jati hanya menambah rasa koleksi yang ingin disampaikan.
Namun di era modernisasi saat ini, sedikitnya minat pengunjung untuk menjadi
Museum Seni Rupa dan Keramik sebagai destinasi rekreasi. Menurut Niek
Indriyati (2014) mengatakan bahwa Museum Seni Rupa dan Keramik
mengalami kendala budget dalam melaksanakan kegiatan – kegiatan di
museum, seperti pameran temporer dan penyuluhan permuseuman.
Ketiadakadaan kegiatan ini menjadi salah satu penyebab menurunnya tingkat
minat pengunjung. Selain itu, penataan layout ruang Museum Seni Rupa dan
Keramik yang kurang atraktif, sistem display yang monoton, pencahayaan yang
kurang baik serta penggunaan media teknologi yang tidak maksimal membuat
pengunjung mudah merasa bosan dan jenuh.

Oleh karena itu, demi mewujudkan museum yang menarik untuk dikunjungi,
keberadaan museum perlu diperhatikan. Dibutuhkannya suatu desain interior
yang menarik dan dapat membuat ruangan yang interaktif dengan pengunjung
agar pengunjung tidak mudah merasa bosan serta membantu mempengaruhi
proses kerja daya ingat mengenai edukasi yang didapatkan dari museum
tersebut.

2
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas yang dikemukakan diatas, maka
dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana merancang konsep desain interior Museum Seni Rupa dan


Keramik yang sesuai dengan karakter museum yang atraktif untuk
meningkatkan minat pengunjung?

2. Bagaimana merancang konsep desain interior Museum Seni Rupa dan


Keramik sebagai salah satu fasilitas yang dapat mengakomodasi kegiatan
menyimpan, melindungi dan mendisplay koleksi yang ada di Museum?

3. Bagaimana merancang sirkulasi dan tata letak furniture yang sesuai dengan
ergonomis serta dapat memperhatikan kapasitas ruang dan alur sirkulasi
pengguna ruang di Museum Seni Rupa dan Keramik?

4. Bagaimana merancang pencahaayaan, penghawaan, dan tata suara yang


memenuhi standar dalam perancangan Museum Seni Rupa dan Keramik?

5. Bagaimana pemilihan warna dan material yang sesuai dengan konsep


koleksi yang dipamerkan di Museum Seni Rupa dan Keramik?

C. Batasan Masalah
Perancangan interior Museum dibatasi hanya untuk merancang interior dari
Museum Seni Rupa dan Keramik tanpa mengubah fasad dan bentuk bangunan
arsitektur yang ada di lapangan.

D. Tujuan Perancangan
Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan perancangan Museum Seni Rupa
dan Keramik adalah sebagai berikut:

1. Dapat merancang konsep desain interior Museum Seni Rupa dan Keramik
yang sesuai dengan karakter museum dengan atraktif sehingga dapat
meningkatkan minat pengunjung.

3
2. Dapat merancang konsep desain interior Museum Seni Rupa dan Keramik
sebagai saalah satu fasilitas yang dapat mengakomodasi kegiatan
menyimpan, melindungi, dan mendisplay koleksi yang ada di Musim.

3. Dapat merancang sirkulasi dan tata letak furniture yang sesuai dengan
ergonomis serta dapat memperhatikan kapasitas ruang dan alur sirkulasi
pengguna ruang di Museum Seni Rupa dan Keramik.
4. Dapat merancang pencahayaan, penghawaan dan tata suara di Museum Seni
Rupa dan Keramik yang memenuhi standar perancangan musim.

5. Dapat memilih warna dan material yang sesuai dengan konsep koleki yanh
dipamerlam di Museum Seni Rupa dan Keramik.

E. Metode Programing
Metode perancangan yang digunakan dalam proyek perancangan interior
Museum Seni Rupa dan Keramik antara lain:

1. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan
metode pengumpulan data pustaka yang relefan dengan perancangan interior
museum, baik itu mengenai standarisasi perancangan interior museum serta
konsep perancangan yang relevan dengan karakteristik benda yang
dipamerkan. Referensi ini dapat ditemukan melalui buku, jurnal, dan artikel
laporan penelitian. Hasil dari studi kepustakaan ini adalah terkoleksinya
referensi yang sesuai dengan perumusan masalah

2. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan
dalam mencapai tujuan perancangan. Beberapa metode pengumpulan data,
antara lain:

4
a. Wawancara
Wawancara dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung
dengan pengelolah Museum Seni Rupa dan Keramik. Sesi wawancara
dilaksanakan untuk mendapatkan informasi mengenai sejarah museum,
koleksi pameran serta perawatannya, prosedur pelayanan, karakteristik
pengunjung, kegiatan pengunjung, ruangan dan fasilitas yang dibutuhkan,
serta kebijakan – kebijakan dalam museum tersebut.

b. Observasi lapangan
Observasi lapangan merupakan teknik pengumpulan data – data yang ada
dilapangan saat ini. Hal ini berguna agar perancang dapat memperoleh
pengalaman langsung saat berada dilapangan serta mendapat informasi
yang belum ditermukan saat wawancara. Data – data yang dikumpulkan
berupa lokasi tapak, jenis koleksi yang dipamerkan, kondisi fisik baik itu
pencahayaan, penghawaan dan tata suara yang dibutuhkan, kebutuhan
furnitur baik itu furniture display serta fasilitas yang disediakan.

3. Konsep Perancangan
a. Tahap Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:

1) Studi Literatur
Pengumpulan data dengan cara mengumpulkan literatur, jurnal, paper
dan bacaan – bacaan yang ada kaitannya dengan judul perancanaan.
2) Observasi
Teknik pengumpulan data dengan mengadakan penelitin dan
peninjauan langsung ke lapangan.
3) Programming
Penyusunan data – data yang telah disurvey kemudian disesuaikan
dengan standar kenyamanan kantor.

5
4) Konsep desain
Rancangan tema, gaya yang telah disesuaikan dengan programming.

b. Tahap Pengumpulan Gambar Kerja dan Gambar Presentasi


1) Metode pengumpulan gambar kerja meliputi:
a) Site plan
b) Layout plan
c) Layout furniture
d) Layout floor
e) Ceiling plan
f) Potongan
g) Tampak
h) Perspektif

2) Metode pengumpulan gambar presentasi meliputi:


a) Layout furniture denah khusus
b) Tampak potongan berwarna
c) Perspektif interior berwarna
d) Aksonometri
e) Skematik material dan warna

6
F. SISTEMATIKA PENULISAN
1. BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang masalah perencanaan, rumusan masalah,
batasan dan ruang lingkup perencanaan, tujuan perencanaan, metode
perencanaan, dan sistematika penulisan.

2. BAB II TINJAUAN DATA PROYEK


Bab ini berisi data-data yang berhubungan dengan denah existing, lokasi,
identitas proyek, struktur organisasi, dan segala hal yang berhubungan
dengan proyek yang bersangkutan.

3. BAB III KONSEP DESAIN


Bab ini berisi pembahasan mengenai uraian konsep perencanaan yang
sebenarnya, meliputi konsep aktifitas dan kebutuhan ruang, konsep
program ruang, dan konsep pengembangan desain

4. BAB IV HASIL AKHIR TUGAS AKHIR


Bab ini berisi hasil/ output perencanaan yang meliputi layout, perspektif,
gambar kerja, serta gambar-gambar presentasi dari perencanaan

5. DAFTAR PUSTAKA
Berisi buku-buku/ sumber-sumber lainnya yang digunakan/ dikutip secara
langsung maupun tidak langsung sebagai landasan awal teori

6. LAMPIRAN
Lampiran berisi data hasil studi survei lapangan serta draft jurnal karya
tugas akhir.

7
BAB II
DASAR PEMIKIRAN
A. Tinjauan Umum
 Desain Interior
a. Pengertian Desain Interior
Desain adalah ancangan fungsionalitas yang dikemas secara estetis.
Desain interior adalah karya seni yang mengungkapkan dengan jelas dan
tepat tata kehidupan manusia dari suatu masa melalui media ruang.
(Suptandar, Pamudji, 1999, hal 11).
Desain interior adalah karya arsitek yang khusus menyangkut bagian
dalam dari suatu bangunan, bentuk-bentuknya sejalan dengan
perkembangan ilmu dan teknologi dan dalam proses perancangan selalu
dipengaruhi oleh unsur-unsur geography setempat dan kebiasaan-
kebiasaan social yang diwujudkan dalam gaya-gaya kontemporer. Desain
interior adalah penataan ruang yang bertujuan agar tercapai efesiensi
gerak, efesiensi biaya, keselamatan, kenyamanan dalam penggunaan baik
secara fisiolois, psikologis maupun social, serta diwujudkan dalam tata
rupa yang memenuhi kaidah-kaidah estetika.

Pengertian interior menurut para ahli:


1) D.K. Ching
Desain interior adalah merencanakan, menata, dan merancang ruang
dalam bangunan, yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan sarana
untuk bernaung dan berlindung, menentukan sekaligus mengatur
aktivitas, memelihara aspirasi dan mengekspresikan ide, tindakan serta
penampilan, perasaan, dan kepribadian.

2) Dodsworth
Dodsworth (2009: 8) Berpendapat bahwa desain interior bertujuan
untuk membuat manusia sebagai pemakai ruang dapat beraktifitas
dengan efektif dan merasa lebih nyaman pada ruangan tersebut.

8
3) Alexander C
Berdasarkan pendapat Alexander C, Desain interior adalah komponen
fisik yang tepat dari suatu struktur fisik

b. Elemen-Elemen Desain Interior


1) Lantai
Lantai merupakan batas bawah bagi interior sebuah ruang. Lantai
terbentang secara horizontal. Banyak treatment yang dapat diterapkan
pada lantai mulai dari: jenis material, perbedaan ketinggian lantai, dan
pengaplikasian bentuk

2) Dinding
Dinding merupakan elemen interior yang menyekat interior ruang.
Dinding membentang secara vertikal dan merupakan bidang paling
dominan dalam ruang bangunan. Dinding dapat diaplikasikan dengan
berbagai jenis material finishing, material pembentuk, pencahayaan,
dll.

3) Langit-Langit/ Ceiling
Langit-langit merupakan pembatas interior yang terbentang secara
horizontal di bagian atas interior. Langit-langit umumnya tidak begitu
diperhatikan oleh masyarakat awam, namun dengan perancangan
menarik, dapat menghasilkan efek yang lebih baik. Langit-langit dapat
dimodifikasi mulai dari penggunaan jenis materialnya, perbedaan
ketinggian, dan varian bentuk.

4) Elemen Estetis
Interior harus mengandung elemen estetis yang mengacu pada prinsip
desain seperti proporsi, skala ruang, keseimbangan, dan kesatuan
ruang. Jika memungkinkan suatu interior harus diberi benda seni yang
bernilai estetis untuk memperindahnya.

9
5) Elemen Bukaan
Yang dimaksud dengan bukaan pada elemen ruang adalah jendela,
pintu, dan lubang ventilasi. Dengan perancangan bukaan yang baik,
maka akan berjalan sirkulasi udara yang baik, sehingga ruangan
menjadi nyaman dan sehat.

6) Elemen cahaya
Interior ruang memerlukan pencahayaan yang cukup intensitasnya.
Terang disebagian tempat, atau ada opsi pengontrol untuk
meredupkannya juga. Ambience ruang akan terbentuk dengan adanya
pengaplikasian pencahayan yang baik.

c. Sejarah Singkat Desain Interior


Sejarah desain sangat bergantung pada peninggalan-peninggalan artefak
yang berhubungan dengan desaininterior. Dari artefak-artefak yang
ditemukan terlihat bahwa setiapkebudayaan memiliki pola perkembangan
desain interior yang berbeda. Setiap peradaban mengembangkan gaya
furnitur dan hiasan ruangberdasarkan budaya dan ketersediaan bahan di
wilayah geografis masing-masing.

1) Perkembangan Interior di Mesir, Yunani dan Romawi Kuno


Merunut perkembangan peradaban mesir kuno untuk mengetahui
sejarah perkembangan desain interior. Banyak tradisi seni yang
berawal dari Mesir karena bangsa Mesir Kuno memiliki ketrampilan
kekriyaan yang tinggi. Masyarakat mesir mampu menciptakan
berbagai produk seni yang estetis meskipun dengan peralatan yang
terbatas.

Seni inlay pada furnitur merupakan penemuan berharga yang


ditemukan oleh masyarakat mesir kuno. Bahkan penemuan itu hingga
kini masih tetap digunakan, selain itu Mesir adalah penenun yang

10
handal serta pembuat furnitur yang hebat, menggunakan sambungan
konstruksi yang hingga kini masih lazim digunakan, seperti:
konstruksi dovetail, mortise dan tenon. (Aronson, 1965:312).

Selain mesir, beberapa kebudayaan kuno lain yang dapat menjadi


awal-mula desain interior adalah Yunani kuno dengan bangunan
kunonya difokuskan pada kuil dan bangunan publik (milik bersama)
yang berfungsi religi. Kemudian bangsa Romawi yang merupakan
kebalikan dari Yunani, terkenal dengan bangunan dan interior yang
lebih praktis untuk kepentingan duniawi.

2) Perkembangan Interior Zaman Renaisans


Perkembangan utama dalam sejarah desain interior juga dapat dilihat
pada zaman renaisans di Itali, dimana seluruh kegiatan seni mencapai
puncak kejayaannya. Perkembangan seni di zaman ini banyak
didukung oleh kaum bangsawan dan orang berpengaruh melalui
kekayaan hartanya (Wealle, 1982:215).

Axel von Saldem (1987) dalam riset sejarah desain yang dilakukannya
menemukan bahwa pada akhir abad ke -16 di Itali terdapat kata
“designo esterno” (karya yang sudah terlaksana). Saat itulah desain
interior dan dekorasi interior mulai mendapatkan peran yang khusus
sehingga diduga bahwa sejarahnya dimulai dari zaman ini.

d. Tujuan Desain Interior


1) Memperbaiki fungsi
2) Memperkaya nilai estetika
3) Meningkatkan aspek psikologis dari sebuah ruangan

11
 Museum
a. Pengertian Museum
Secara etimologis, museum berasal dari bahasa Yunani klasik yaitu Muze
yang berarti kumpulan 9 dewi sebagai lambang dari ilmu dan kesenian.
Berdasarkan arti tersebut maka museum dapat diartikan sebagai tempat
yang gunakan untuk menyimpan benda-benda kuno (bersajarah) tujuan
agar bisa dilihat dan pelajari lagi untuk menambah wawasan dan menjadi
tempat berekreasi.

Secara terminologis, pengertian museum adalah suatu tempat atau


lembaga yang mengumpulkan, menyimpan dan memamerkan benda-
benda yang dapat menjadi sumber pengertahuan seperti sejarah,
kesenian,ilmu alam dan lain-lain.

Pengertian museum menurutp ahli:


1) A.C. Parker
Menurut A.C. Parker, Museum adalah sebuah lembaga yang secara
aktif menjelaskan dunia, manusia dan alam.

2) Douglas A. Allan
Menurut Douglas A. Allan, museum merupakan sebuah gedung yang
didalamnya menyimpan kumpulan benda-benda untuk penelitian studi
dan kesenangan.

3) Advaced Dictionary
Menurut Advaced Dictionary, museum adalah sebuah gedung yang
didalamnya dpamerkan benda-benda yang memiliki nilai seni, sejarah,
ilmu pengetahuan dan sebagainya.

12
b. Sejarah dan Perkembangan Museum
Setiap manusia memiliki naluri untuk melakukan pengumpulan
(collection instinct). Hal ini telah dibuktikan oleh para ahli arkeologi di
Eropa bahwa naluri ini telah ada pada manusia Neanderthal di Eropa
kira-kira 8500 tahun yang lalu sebagai buktinya dengan ditemukan
koleksi berupa kepingan-kepingan oker (jenis batuan berwarna), serta
kerang-kerangan yang ditemukan di dalam gua-gua bekas tempat tinggal
manusia Neanderthal. Kumpulan koleksi ini merupakan bentuk tata
pameran tertua di bidang permuseuman, sedangkan Lembaga museum
tertua di dunia dirintis oleh Ptolomeus I di kota Iskandaria, Mesir sekitar
300 SM.

Pada jaman pertengahan, yang dimaksud dengan museum adalah


koleksikoleksi pribadi milik para pangeran, para bangsawan, serta para
pelindung, dan pecinta seni budaya yang kaya raya dan makmur, para
pecinta ilmu pengetahuan di mana koleksi mencerminkan minat serta
perhatian orang-orang tersebut, serta merupakan ajang prestise yang
menunjukkan kekayaan dan kedudukan dari pemiliknya. Koleksi mereka
tidak dibuka dan diperlihatkan oleh masyarakat umum, tetapi hanya
kepada sahabat dekat ataupun orang terpandang lainnya. Pada akhir abad
ke-18, di Eropa Barat muncul sejenis museum yang disebut
Institutionals Museums.

Sejarah perkembangan museum di Indonesia diawali ketika Rumphius


mendirikan De Ambonsch Pairtenkamer di Ambon pada tahun 1662.
Disusul tanggal 24 April tahun 1778 dinas purbakala Hindia Belanda
mendirikan Bataviaasch Genootscap Van Kunsten en Westenchappen
yang kini lebih dikenal dengan Museum Nasional atau Museum Gajah
yang terletak di Batavia. Perkumpulan ini bertujuan untuk memajukan
kesenian dan ilmu pengetahuan di bidang bahasa dan ilmu bumi.

13
Selanjutnya berkembang dan banyak didirikan museum-museum lain,
seperti:
1) Hartus Botanicus Bogorience pada tahun 1817, yang sekarang dikenal
dengan nama Kebun Raya Bogor.
2) Herbarium Bogorience pada tahun 1884.
3) Setedelijk Historisch Museum (Museum Mpu Tantular) pada tahun
1922 di Surabaya.
4) Museum Bali di Denpasar pada tahun 1932.
5) Museum Sonoboedojo di Yogyakarta pada tahun 1935.

Setelah Indonesia merdeka, para ilmuwan dan usahawan Belanda pulang


ke negerinya, hal ini menyebabkan kondisi permuseuman di Indonesia
mengalami kemunduran, sampai akhirnya Indonesia masuk Dewan
Museum Internasional (ICOM), yang pada akhirnya mulai diadakannya
pembinaan museum. Dengan pembinaan museum ini, maka dibentuklah
jawatan kebudayaan untuk melakukan pengurusan serta pemeliharaan
berbagai unsur kebudayaan baru maupun kuno. Kemudian pada tahun
1957 dibentuk bagian urusan museum pada jawatan tersebut, dan pada
tahun 1964 disempurnakan lagi menjadi lembaga museummuseum
nasional. Pada tahun 1966, lembaga ini berubah menjadi Direktorat
Museum yang kemudian berubah menjadi Direktorat Permuseuman.

Secara internasional, kerjasama di bidang kebudayaan dipercayakan


kepada UNESCO. Di bidang permuseuman, UNESCO membentuk
International Council of Museum, yang pada tahun 1981 mempunyai
kurang lebih 7000 anggota dari negara anggota PBB.

14
c. Tugas, Fungsi, dan Tujuan Museum
1) Tugas Museum
Museum mempunyai tugas yaitu:
a) Mengumpulkan, merawat, meneliti, mengkomunikasikan, dan
memamerkan bukti material manusia dan lingkungannya.
b) Melayani masyarakat dan perkembangannya.
c) Untuk tujuan pendidikan dan perkembangannya.

Dalam buku persoalan museum, disebutkan tugas museum adalah


sebagai berikut:
a) Menghindarkan bangsa dari kemiskinan kebudayaan.
b) Memajukan kesenian dan kerajinan rakyat.
c) Turut menyalurkan dan memperluas pengetahuan dengan cara
missal.
d) Memberikan kesempatan bagi penikmat seni.
e) Membentuk metodik dan didaktik pihak sekolah dengan cara kerja
yang berfaedah pada setiap kunjungan siswa-siswa ke museum.
f) Memberikan kesempatan dan bantuan dalam penyelidikan ilmiah.
Selain seperti uraian di atas, terdapat juga tugas museum di bidang
tourism sebagai usaha untuk memperkenalkan harta budaya bangsa
kepada para wisatawan asing.

2) Fungsi Museum
Museum mempunyai tugas sebagai berukut:
a) Pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah
b) Pusat penyaluran ilmu untuk umum.
c) Pusat peningkatan apresiasi budaya.
d) Pusar perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa.
e) Sumber inspirasi.

15
f) Objek pariwisata.
g) Media pembinaan pendidikan.
h) Cermin sejarah manusia, alam, dan kebudayaan.
i) Media bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Museum menurut ICOM mempunyai fungsi sebagai berikut:
a) Mengumpulkan dan pengaman warisan alam dan budaya.
b) Dokumentasi dan penelitian ilmiah.
c) Konservasi dan preservasi.
d) Penyebaran dan pemerataan ilmu untuk umum.
e) Pengenalan dan penghayatan kesenian.
f) Pengenalan kebudayaan antar daerah dan bangsa.
g) Visualisasi alam dan budaya.
h) Cermin pertumbuhan peradaban umat manusia.
i) Pembangkit rasa bertakwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Fungsi tersebut di atas menunjukkan bahwa warisan
sejarah budaya danwarisan sejarah alam perlu dipelihara dan
diselamatkan. Dengan demikian dapat dibina nilai-nilai budaya
nasional yang dapat memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal
harga diri dan kebanggan nasional serta memperkokoh jiwa
kesatuan nasional.

3) Tujuan Museum
Tujuan museum dapat dibagi menjadi dua, yaitu tujuan fungsional dan
tujuan institusional.
a) Tujuan Fungsional
Memberikan peringatan kepada Bangsa Indonesia melalui generasi
muda tentang kebudayaan yang pernah ada, hal ini merupakan
watak kesadaran Bangsa Indonesia sangat agung, juga sebagai
pelindung dan pemelihara dari pengaruh budaya asing yang tidak
sesuai.

16
b) Tujuan Insitusional
Bermaksud sebagai wadah tujuan institusional agar berlaku secara
efektif yang menjadikan dua kepentingan yang saling berpengaruh
adalah:
 Kepentingan Obyek
Memberikan tempat atau wadah untuk menyimpan serta
melindungi benda-benda koleksi yang mempunyai nilai-nilai
budaya dari kerusakan dan kepunahan yang disebabkan antara
lain pengeruh iklim, alam, biologis, dan manusia.

 Kepentingan Umum
Mengumpulkan temuan-temuan benda, memelihara dari
kerusakan, menyajikan benda-benda koleksi kepada masyarakat
umum agar dapat menarik hingga menimbulkan rasa bangga dan
bertanggung jawab, serta dipelihara dan menunjang ilmu
pengetahuan.

d. Persyaratan Museum
Adapun syarat-syarat umum bangunan meliputi:
1) Bangunan dikelompokkan dan dipisahkan menurut fungsi dan
aktifitasnya, ketenangan dan keramaian, dan keamanan.
2) Pintu masuk utama (main entrance), untuk pengunjung.
3) Pintu masuk khusus (side entrance), untuk lalu lintas koleksi, bagian
pelayanan, perkantoran, rumah jaga, serta ruang-ruang pada bangunan
khusus.
4) Area publik atau umum (ruang pamer)
5) Area semi publik (bangunan administrasi, perpustakaan, dan ruang
rapat).
6) Area privat (laboratorium konservasi, studio preparasi, storage, dan
ruang studi koleksi).

17
Sedangkan syarat-syarat khusus bangunan antara lain:
1) Bangunan utama (pameran tetap dan pameran temporer) harus dapat:
a) Memuat benda-benda koleksi yang akan dipamerkan.
b) Mudah dicapai dari luar maupun dalam.
c) Merupakan bangunan penerima yang harus memiliki daya tarik
sebagai bangunan pertama yang dikunjungi oleh pengunjung.
d) Sistem keamanan yang baik, baik dari segi konstruksi, spesifikasi
ruang untuk mencegah rusaknya benda-benda secara alami (cuaca
dan lain-lain) maupun kriminalitas dan pencurian.

2) Bangunan Auditorium harus:


a) Mulai dicapai oleh umum.
b) Depat dikapai untuk ruang pertemuan, diskusi, dan ceramah.

3) Bangunan khusus terdiri dari: laboratorium konservasi, studio


preparasi, dan storage. Ketiga bangunan ini harus:
a) Terletak pada daerah tenang
b) Mempunyai pintu masuk khusus
c) Memiliki sistem keamanan yang baik (baik terhadap kerusakan,
kebakaran, dan kriminalitas) yang menyangkut segi konstruksi
maupun spesifikasi ruang

4) Bangunan Administrasi harus:


a) Terletak srategis baik terhadap pencapaian umum maupun terhadap
bangunan-bangunan lain
b) Mempunyai pintu masuk khusus.

e. Persyaratan Koleksi
Pengertian koleksi museum adalah sekumpulan benda-benda bukti
material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan satu atau
berbagai bidang atau cabang ilmu pengetahuan.

18
Adapun persyaratan koleksi antara lain:
1) Mempunyai nilai sejarah dan ilmiah (termasuk nilai estetika)
2) Dapat diidentifikasikan wujudnya (morfologi), tipenya (tipologi),
gayanya (style), fungsinya, maknanya, asalnya secara hiostoris dan
geografis, genusnya (dalam orde biologi) atau periodenya dalam
geologi (khususnya untuk benda-benda sejarah alam dan teknologi)
3) Harus dapat dijadikan dokumen, dalam arti sebagai bukti kenyataan
dan kehadirannya (realitas dan eksistensinya) bagi penelitian ilmiah.
4) Dapat dijadikan suatu monumen atau bakal jadi monumen dalam
sejarah alam dan budaya.
5) Benda asli (realita), replika atau reproduksi yang sah menurut
persyaratan museum.

Adapun jenis koleksi museum antara lain:

1) Etnografika, yaitu kumpulan benda-benda hasil budaya suku-suku


bangsa
2) Prehistorika, yaitu kumpulan benda-benda prasejarah
3) Arkeologi, yaitu kumpulan benda-benda arkeologi yaitu mempelajari
tentang kehidupan manusia masa lalu berdasarkan benda-benda
peninggalan
4) Historika, yaitukumpulan benda-benda bernilai sejarah
5) Numismatika dan Heraldika, yaitu kumpulan benda-benda alat tukar
dan lambang peninggalan sejarah, misalnya uang, cap, lencana, tanda
jasa, dan surat-surat berharga
6) Naskah-naskah kuno dan bersejarah
7) Keramik asing
8) Buku dan majalah antikuariat
9) Karya seni atau kriya seni
10) Benda-benda grafika, berupa foto, peta asli atau setiap reproduksi
yang dijadikan dokumen

19
11) Diorama, yaitu gambaran berbentuk tiga dimensi
12) Benda-benda sejarah alam berupa flora, fauna, benda batuan
maupunmineral.
13) Benda-benda wawasan nusantara setiap benda asli (realita) atau
replika yang mewakili sejarah alam budaya dari wilayah nusantara
14) Replika, tiruan dari benda sesungguhnya
15) Miniatur, yaitu tiruan dari benda sesungguhnya namun berukuran
kecil
16) Koleksi hasil abstraksi.

f. Jenis-Jenis Museum
1) Museum Tingkat Koleksi
a) Museum Nasional
b) Museum Regional
c) Museum Lokal

2) Museum Berdasarkan Penyelenggaraan


a) Museum Pemerintah
b) Museum Swasta

3) Museum Berdasarkan Koleksi


a) Museum Umum
b) Museum Khusus

4) Museum Menurut International Council of Museum (ICOM)


a) Art Museum
Art museum atau museum seni adalah museum yang mengelola,
menyimpan dan mengumpul benda yang berkaitan dengan
kesenian.

b) Arkeologi and History Museum

20
Arkeologi and History Museum adalah museum didalamnya ada
benda arkeologi dan benda bersejarah yang menyimpan tentang
sejarah manusia beserta peradabannya.
c) National Museum
National Museum atau museum nasional umumnya menyimpan
benda yang berasal dari berbagai wilayah dari Negara tempat
museum itu berdiri.

d) Natural History Museum


Natural History Museum adalah museum ilmu alam yang
didalamnya ada hal-hal yang berkaitan dengan peradaban ilmu
pengetahuan alam.

e) Science and Technology Museum


Science and Technology Museum adalah museum yang isinya
berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

f) Specialized Museum
Specialized museum atau museum khusus ini umumnya
dikhususkan untuk satu benda khusus tertentu yang mungkin
berbeda dari kelima jenis museum sebelumnya.

21
B. Tinjauan Khusus
1. Profil Perusahaan
Data Museum Seni Rupa dan Keramik
Nama Proyek : Museum Seni Rupa dan Keramik
Jasa Pelayanan : Edukatif
Jenis Pelayanan : Informasi
Lokasi : (Taman Fatahillah)
Jl.Pos Kota no.2
Jakarta Barat
Waktu Operasi : Selasa s.d Kamis: 09.00 – 15.00 WIB
Jumat: 09.00 – 14.30 WIB
Sabtu: 09.00 – 12.30 WIB
Minggu: 09.00 – 15.00 WIB
Tutup pada Senin & Hari libur nasional

2. Sejarah Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik

22
GAMBAR 1 Fasat Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta
Sumber: www.museumindonesia.com
Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik ini dibangun pada tahun 1870.
Sebagai Lembaga Peradilan tertinggi Belanda (Raad van Justitie), kemudian
pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan Indonesia
gedung ini dijadikan sebagai asrama militer. Selanjutnya pada tahun 1967
digunakan sebagai Kantor Walikota Jakarta.

Pada tahun 1968 hingga 1975 gedung ini pernah digunakan sebagai Kantor
Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Pada tanggal 20 Agustus 1976
diresmikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto. Dan di
gedung ini pula terdapat Museum Keramik yang diresmikan oleh Bapak Ali
Sadikin (Gubernur DKI Jakarta) pada tanggal 10 Juni 1977, kemudian pada
tahun 1990 sampai sekarang menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

3. Koleksi Seni Rupa Museum Seni Rupa dan Keramik

23
GAMBAR 2 Istriku (Sudjojono, 1956)
Sumber: www.museumindonesia.com

Museum ini memiliki 500-an karya seni rupa terdiri dari berbagai bahan dan
teknik yang berbeda seperti patung, totem kayu, grafis, sketsa, dan batik
lukis. Diantara koleksi-koleksi tersebut ada beberapa koleksi unggulan dan
amat penting bagi sejarah seni rupa di Indonesia, antara lain lukisan yang
berjudul ‘Pengantin Revolusi’ karya Hendra Gunawan, ‘Bupati Cianjur’
karya Raden Saleh, ‘Ibu Menyusui’ karya Dullah, ‘Seiko’ karya
S.Sudjojono, dan ‘Potret Diri’ karya Affandi.

Patung yang bercirikan klasik tradisional dari Bali, totem kayu yang magis
dan simbolis karya I Wayan Tjokot dan keluarga besarnya. Totem dan
patung kayu karya para seniman modern, antara lain G.Sidharta, Oesman
Effendi, disusul karya-karya ciptaan seniman lulusan akademis, misalnya
Popo Iskandar, Achmad Sadali, Srihadi S, Fajar Sidik, Kusnadi, Rusli,
Nashar, Zaini, Amang Rahman, Suparto, Irsam, Mulyadi W, Abas
Alibasyah, Amri Yahya, AS Budiman, Barli, Sudjana Kerton, dan banyak
seniman dari berbagai daerah.

4. Koleksi Keramik Museum Seni Rupa dan Keramik

24
GAMBAR 3 Dua Orang Penunggang Kuda (1985)
Sumber: www.museumindonesia.com
Koleksi Keramik di museum ini jumlahnya cukup banyak, terdiri dari
keramik lokal dan keramik asing. Keramik lokal berasal dari sentra industri
daerah antara lain Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung,
Purwakarta, Yogyakarta, Malang, Bali, Lombok dan lain-lain.
Museum ini juga memiliki keramik dari Majapahit abad ke-14 yang
menunjukkan ciri keistimewaan yang indah dan bernilai sejarah yang
mempunyai keragaman bentuk serta fungsi. Keramik asing meliputi
berbagai bentuk, ciri, karakteristik, fungsi dan gaya berasal dari China,
Jepang, Thailand, Eropa. Terbanyak dari China terutama pada masa Dinasti
Ming dan Ching.

5. Perpustakaan Museum Seni Rupa dan Keramik


Museum Seni Rupa dan Keramik dilengkapi sebuah perpustakaan yang
memiliki buku-buku seni rupa dan keramik yang bisa dijadikan panduan
tentang seni rupa.

6. Studio Gerabah Museum Seni Rupa dan Keramik

25
GAMBAR 4 Alat Pembuatan Geraba
Sumber: www.museumindonesia.com

Museum Seni Rupa dan Keramik juga memiliki tempat pelatihan, membuat
gerabah (dibuka untuk pelajar dan umum), mulai dari teknik pinching (pijit),
cetak dan roda putar. Disedikan pula oven untuk pembakaran gerabah.

7. Toko Cindera Mata Museum Seni Rupa dan Keramik


Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki souvenir yang spesifik untuk
pengunjung. Seperti kartu pos, buku seni rupa, kerajinan, sketsa, lukisan,
keramik, dll

8. Fasilitas Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik


Terdiri dari ruang pertemuan/aula, ruang terbuka/ plaza serta taman yang
dapat dimanfaatkan untuk acara-acara pameran temporer, pernikahan,
seminar, lomba, dll.

9. Kegiatan Museum Seni Rupa dan Keramik


Kegiatan yang diselenggarakan Museum Seni Rupa dan Keramik setiap
tahunnya adalah:
a. Penyuluhan permuseuman
b. Pameran temporer
c. Partisipasi kegiatan diluar museum

10. Fasilitas Umum Museum Seni Rupa dan Keramik


Museum Seni Rupa dan Keramik juga dilengkapi dengan fasilitas umum
berupa musholla, lahan parkir yang cukup luas serta toilet.

11. Visi dan Misi Museum Seni Rupa dan Keramik


a. VISI

26
Menjadikan Museum Seni Rupa dan Keramik sebagai pusat pelestarian
seni rupa Indonesia dan sebagai tujuan kunjungan wisata seni dan
budaya yang bertaraf internasional.
b. MISI
Meningkatkan sumber daya manusia, meningkatkan pelayanan
pengunjung, melakukan penataan ruang koleksi secara berkala,
meningkatkan kerjasama dengan mitra museum.

12. Struktur Organisasi Museum Seni Rupa dan Keramik

Diagram 1 Sturtur Organisasi Museum


Sumber: Permendikbud No. 48 Tahun 2012

27
13. Jobdesk

No JABATAN JUMLAH DESKRIPSI


1 Kepala Museum 1 Bertanggung jawab dalam
mengatur dan
megkoordinasikan seluruh
kegiatan dalam museum
2 Kbg. Tata usaha 1 Bertanggung jawab dalam
keuangan dan ketertiban
museum
3 Kasir 2 Bertanggung jawab dalam
masuknya uang dari
pengunjung yang datang
4 Kebersihan 5 Mengatur segala kebersihan
dalam museum
5 Ka. Koleksi Museum 1 Bertanggung jawab dalam
seluruh koleksi museum
6 Staff Perparasi 10 Melakukan segala kegiatan
dalam perawatan karya seni
di dalam museum
7 Staff koleksi 5 Membantu kepala koleksi
dalam mengatur koleksi yang
ada di dalam museum
8 Guide 3 Membantu mengatur
pengunjung yang datang ke
museum
Tabel 1 Jobdesk Museum Seni Rupa dan Keramik

28
Sumber: Museum Seni Rupa dan Keramik

14. Prosedur Pelayanan pada Museum Seni Rupa dan Keramik


Prosedur pelayanan pada Museum Seni Rupa dan Keramik terbagi menjadi
2, yaitu pelayanan umum dan khusus. Masing-masing pelayanan akan
melibatkan pengunjung yang datang ke museum. Berikut adalah table tipe
pengunjung berdasarkan jjumlah dan sifatnya.

TIPE PENGUNJUNG PROSEDUR PELAYANAN


Indufidual Pengunjung yang memiliki alasan
khusus, misalnya ingin melihat
koleksi yang khusus, atau ingin
melakukan riset khusus terhadap
koleksi museum untuk
mendapatkan informasi yang detail.
Kelompok Dewasa Biasanya hanya menghabiskan
waktu di museum untuk berdiskusi
secara santai.
Kelompok Keluarga Biasanya memiliki kebutuhan yang
besar baik dari segi usia dan minat.
Group Biasanya dari sekolah-sekolah baik
dari tingkat TK sampai
Perkuliahan.
Tabel 2 Tipe Pengunjung
Sumber: Buku Pedoman Museum Indonesia

Pelayanan umum yang ada pada Museum Seni Rupa dan Keramik bertujuan
agar pengunjung mendapatkan kepuasan akan informasi yang didapatkan.

29
Biasanya pelayanan umum ditujukan untuk segala tipe pengunjung, hal ini
karena sifatnya umum. Pelayanan umum dilakukan melalui:
a. Panduan keliling melihat pameran di museum, baik pameran tetap
maupun temporer.
b. Buku pedoman/ panduan pameran tetap.
c. Brosur/ Leaflet, CD, dsb.
d. Laman (website museum)

Sedangkan pelayanan khusus merupakan usaha museum dalam memberikan


informasi dengan tujuan tertentu, misalnya riset, penelitian, atau menyusun
karya tulis siswa. Pelayanan yang bersifat khusus ini dilakukan melalui:
a. Bimbingan keliling museum dengan topik/tema yang akan dibahas.
b. Ceramah/ Workshop dengan tema-tema khusus.
c. Pemutaran Film
d. Peragaan atau demonstrasi
e. Sosialisasi museum kepada masyarakat.

15. Kebutuhan Aktifitas dan Fasilitas

PELAKU AKTIVITAS FASILITAS PENDUKUNG


 Membeli tiket  Loket  Computer
 Berkeliling  Lobby  Meja counter
 Bertanya informasi  Customer  Tv,
 Mengantri service  LCD,
 Melihat benda  Ruang  Papan informasi
koleksi pameran  Vitrin
 Membaca informasi  Ruang advis  Proyektor
Pengunjung  Mengamati  Ruang  Kursi
 Berkeliling museum perpustakaan  Meja

 Membaca  Cafetaria  Rak buku


 Menonton film  Ruang

30
 Berbelanja pamer  Etalase
 Makan dan minum  Ruang
 Buang air cinderamata
 WC

 Menjual tiket  Area loket  Meja


 Menjaga ketertiban  Area lobby  Kursi
Staff
 Melakukan  Kantor  Counter table
Museum
penelitian  Labotarium  Alat penelitian
 Membuat rekap data  WC  Proyektor
 buang air  LCD

Tabel 3 Kebutuhan Aktivitas dan Fasilitas Museum Seni Rupa dan Keramik
Sumber: Museum Seni Rupa dan Keramik

16. Persyaratan Spasial dan Fungsional


a. Persyaratan Spasial
Persyaratan Spatsial / Tata letak adalah susunan dan peletakan ruang-
ruang yang memiliki fungsi yang saling berkaitan, merupakan awal dari
suatu perancangan interior. Berdasarkan aktivitas dan analisis ruang
sebelumnya, seseorang dapat mulai mempertemukan kebutuhan ruang
untuk masing masing aktivitas dengan karakteristik beberapa ruang yang
ada. Penyusunan rupa dan bentuk dalam ruang tersebut harus memenuhi
kriteria-kriteria fungsi dan estetikanya.
Adapun syarat-syarat umum bangunan meliputi:
1) Bangunan dikelompokkan dan dipisahkan menurut fungsi dan
aktifitasnya, ketenangan dan keramaian, dan keamanan.
2) Pintu masuk utama (main entrance), untuk pengunjung.
3) Pintu masuk khusus (side entrance), untuk lalu lintas koleksi, bagian
pelayanan, perkantoran, rumah jaga, serta ruang-ruang pada bangunan
khusus.

31
4) Area publik atau umum (ruang pamer)
5) Area semi publik (bangunan administrasi, perpustakaan, dan ruang
rapat).
6) Area privat (studio preparasi, storage, dan ruang studi koleksi).

Syarat-syarat khusus bangunan utama (pameran tetap dan temporer)


antara lain:
1) Memuat benda-benda koleksi yang akan dipamerkan.
2) Mudah dicapai dari luar maupun dalam.
3) Merupakan bangunan penerima yang harus memiliki daya tarik
sebagai bangunan pertama yang dikunjungi oleh pengunjung.
4) Sistem keamanan yang baik, baik dari segi konstruksi, spesifikasi uang
untuk mencegah rusaknya benda-benda secara alami (cuaca dan lain-
lain) maupun kriminalitas dan pencurian.

Bagunan utama pada museum harus memenuhi hal-hal berikut:


1) Terletak pada daerah tenang
2) Mempunyai pintu masuk khusus
3) Memiliki sistem keamanan yang baik (baik terhadap kerusakan,
kebakaran, dan kriminalitas) yang menyangkut segi konstruksi
maupun spesifikasi ruang
4) Bangunan Administrasi harus:
a) Terletak srategis baik terhadap pencapaian umum maupun terhadap
bangunan-bangunan lain
b) Mempunyai pintu masuk khusus.

32
b. Persyaratan Fungsional

GAMBAR 5 Tata Letak Panil dan Sudut Pandang


Sumber: Architect’s Data, 2006

GAMBAR 6 Peletakan Panel Koleksi


Sumber: Pedoman Pendirian Museum (1999/2000)

33
GAMBAR 7 Peletakan Panil Koleksi
Sumber: Architect’s Data (Third Edition), 2006

GAMBAR 8 Panel yang dapat dilepas bentuknya dan disesuaikan


dengan fungsinya
Sumber: Buku Pedoman Teknis Pembuatan Sarana Pameran Di
Museum Hal. 26

34
GAMBAR 9 Konstruksi Panel yang Kokoh dan Berdiri Tegak Lurus
Sumber: Buku Pedoman Teknis Pembuatan Sarana Pameran Hal.31

1) Vitrine
Digunakan untuk meletakkan benda-benda koleksi tiga dimensi, dan
relatif bernilai tinggi. Vitrin dapat dibagi menjadi:
a) Vitrine Tunggal, berfungsi hanya sebagai almari pajang.
b) Vitrine Ganda, berfungsi sebagai almari pajang dan tempat
penyimpanan benda koleksi.

GAMBAR 10 Vitrin Tunggal dan Vitrin Ganda


Sumber: Buku Pedoman Teknis Pembuatan Sarana Pameran Di
Museum hal. 37

35
GAMBAR 11 Vitrin Tengah
Sumber: Buku Pedoman Teknis Pembuatan Sarana Pameran Di
Museum hal. 43

GAMBAR 12 Vitrin Dinding


Sumber: Buku Pedoman Teknis Pembuatan Sarana Pameran Di
Museum hal. 40

36
GAMBAR 13 Vitrin Sudut
Sumber: Buku Pedoman Teknis Pembuatan Sarana Pameran Hal.45

Ukuran vitrin dan panil tidak boleh terlalu tinggi ataupun terlalu
rendah. Tinggi rendahnya sangat relatif dan terdapat patokan yan
sudah disesuaikan dengan tinggi rata-rata manusia Indonesia.
Misalkan tinggi rata-rata orang Indonesia kira-kira antara 160 cm
sampai dengan 170 cm dan kemampuan gerak anatomi leher manusia
kira kira sekitar 30º untuk bergerak ke atas dan bawah maupun
kesamping, maka tinggi vitrin seluruhnya kira-kira 210 cm, dengan
alas terendah 65-70 cm dan kedalaman 50 cm. Ukuran dan bentuk
vitrin harus memperhitungkan juga dari ruangan dan bentuk bangunan
dimana vitrin itu akan diletakkan. Dalam pembuatan vitrin ataupun
panel harus diperhitungkan mengenai masalah konstruksinya.

37
GAMBAR 14 Lebar Koridor antara Vitrin/ Panil yang Baik
Sumber: Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1993:14

2) Pedestal
Pedestal atau alas koleksi, meletakkan koleksi berbentuk tiga dimensi.
Ukuran tinggi rendahnya harus disesuaikan dengan besar kecilnya
koleksi yang diletakkan di atasnya.

GAMBAR 15 Bentuk Alas Koleksi


Sumber: Buku Pedoman Teknis Pembuatan Sarana Pameran Di
Museum hal. 47

38
GAMBAR 16 Pedestal Rangka Kayu
Sumber: Buku Pedoman Teknis Pembuatan Sarana Pameran Di
Museum hal. 47

3) Persyaratan Ruang
Sarana-sarana pada Museum Seni Rupa dan Keramik disesuaikan
dengan kebutuhan aktivitas dan fasilitas bagi pengunjung dan
pengelola. Sehingga memerlukan ruanganruangan sebagai berikut:

a) Lobby
Lobby merupakan area pertama yang dikunjungi oleh pengunjung
maupun staff pengelola. Sehingga lobby harus dapat memberikan
informasi untuk membantu pengguna area lobby untuk mengetahui
arah yang akan dituju oleh pengunjung. Bantuan dapat diberikan
dan dilengkapi dengan pusat informasi, resepsionis, dan area
tunggu.

39
b) Ruang Pameran
Ruang pameran merupakan ruanga nserbaguna yang dapat
digunakan untuk menampilkan dan memamerkan koleksi, yang
berkaitan dengan klasifikasi jenis dan tipe hewan.
Ruang pameran pada Museum Seni Rupa dan Keramik Antara
terdapat ruang pameran tetap dan ruangan temporer sehingga
terdapat ruang yang tidak dapat diubah, dan dapat diubah benda-
benda koleksi yang di pamerkan.

c) Fasilitas Penunjang
 Toko Souvenir
Pada Museum Antara saat ini belum terdapat ruang khusus untuk
memamerkan souvenir.

 Kafe
Pada Museum Antara terdapat area bersantai atau kafe. Terletak
di pintu keluar museum.

4) Pencahayaan
Pencahayaan pada Museum Seni Rupa dan Keramik menggunakan
pencahayaan alami dan pencahayaan buatan.
a) Pencahayaan Alami
Merupakan pencahayaan yang berasal dari cahaya matahari yang
masuk kedalam area gedung. Penggunaan pencahayaan alami ini
berasal dari pemasangan pintu dan jendela yang menggunakan
material berupa kaca sehingga cahaya matahari dapat masuk
kedalam ruangan

b) Pencahayaan Buatan

40
Pencahayaan buatan menggunakan cahaya lampu yang diganakan
pada Museum Seni Rupa dan Keramik.

5) Penghawaan
Penghawaan yang digunakan pada Museum Seni Rupa dan Keramik
menggunakan penghawaan alami dan penghawaan buatan.
Pengahawaan alami berasal dari udara angin alami atau cuaca alam.
Penghawaan buatan menggunakan AC Split.

a) Fire Safety
a) Fire Alaram
Bekerja secara otomatis memberikan tanda bahaya atau langsung
mengaktifkan alat pemadam.

b) Fire Hydrant
Biasanya diletakkan pada daerah berlorong atau pada koridor.

c) Sprinkler
Suatu alat penyemprot yang dapat memancarkan air.

d) Smoke Detector
Alat pendeteksi asap yang mempunyai kepekaan tinggi dan akan
menyembunyikan alarm apabila terdeteksi ada asap didalam
ruangan.

6) Keamanan
a) CCTV
Sebuah kamera video digital yang difungsikan untuk memantau dan
mengirimkan sinyal video pada suatu ruang yang kemudian sinyal
itu akan diteruskan ke sebuah layar monitor.

41
b) Security
Satuan kelompok petugas yang dibentuk oleh instansi/ proyek/
badan usaha untuk melakukan keamanan fisik (physical security)
dalam rangka penyelenggaraan keamanan swakarsa di lingkungan
kerjanya.

17. Persyaratan Kondisional


Aspek-aspek yang mempengaruhi persyaratan kondisional pada suatau
museum terbagi kedalam aspek sosial, aspek adat budaya, aspek politik, dan
aspek ekonomi.
a. Sosial
Museum Seni Rupa dan Keramik tempat untuk memberikan edukasi
kepada masyarakat. Tidak hanya untuk rekreasi namun memberikan
wawasan akan pentingnya mengetahui dan mempelajari sejarah dan
bentuk hewan dari seluruh dunia. Informasi yang disampaikan tidak
hanya melalui koleksi, melainkan melalui gambar foto yang mampu
menciptakan komunikasi kepada pengunjung dalam ruang pamer
sehingga menciptakan cerita dan sejarah secara kronologis.

b. Adat Budaya
Museum Seni Rupa dan Keramik tempat rekreasi dan edukasi yang
menunjukan pameran koleksi seni rupa dan keramik. Museum Seni Rupa
dan Keramik bersifat umum dan terbuka, untuk itu tidak ada persyaratan
adat budaya secara khusus bagi para pengunjung yang ingin berkunjung
ke Museum Seni Rupa dan Keramik.

c. Politik

42
Museum Seni Rupa dan Keramik dilindungi oleh pemerintah, baik
koleksi seni rupa, keramik dan Gedung bangunan yang diawasi langsung
oleh pemerintah Pusat.

d. Ekonomi
Museum Seni Rupa dan Keramik merupakan peninggalan sejarah yang
perlu untuk di jaga dan dilestarikan segala benda koleksi, hasil karya
pamer, dan renovasi interior bangunan, serta pembiayaan tenaga kerja.
Sehingga membutuhkan sumber dana yang berasal dari dana APBD
(Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) DKI Jakarta.

18. Peraturan Pemerintah


Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 66 tahun 2015 tentang
museum pasal 1 dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
a. Museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan,
memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat.
b. Museum Kepresidenan adalah jenis Museum khusus yang
menginformasikan sejarah dan keberhasilan seorang Presiden dan/atau
Wakil Presiden selama menjalankan masa bakti jabatannya.
c. Koleksi Museum yang selanjutnya disebut Koleksi adalah Benda Cagar
Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya
dan/atau Bukan Cagar Budaya yang merupakan bukti material hasil
budaya dan/atau material alam dan lingkungannya yang mempunyai nilai
penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, kebudayaan,
teknologi, dan/atau pariwisata.
d. Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia,
baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok,
atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat
dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.

43
e. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda
alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang
berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.
f. Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda
alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang
kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk
menampung kebutuhan manusia.
g. Bukan Cagar Budaya adalah benda, bangunan, dan/atau struktur yang
tidak memenuhi kriteria Cagar Budaya.
h. Pemilik Museum adalah pemerintah, pemerintah daerah, setiap orang
atau masyarakat hukum adat yang mendirikan museum.
i. Pengelola Museum adalah sejumlah orang yang menjalankan kegiatan
Museum.
j. Registrasi adalah proses pencatatan dan pendokumentasian Benda Cagar
Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya atau
Bukan Cagar Budaya yang telah ditetapkan menjadi Koleksi.
k. Inventarisasi adalah kegiatan pencatatan Koleksi ke dalam buku
inventaris.
l. Pengelolaan Museum adalah upaya terpadu melindungi,
mengembangkan, dan memanfaatkan Koleksi melalui kebijakan
pengaturan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan untuk sebesar-
besarnya kesejahteraan masyarakat.
m. Pengkajian Museum adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan menurut
kaidah dan metode yang sistematis untuk memperoleh data, informasi,
dan keterangan bagi kepentingan pelestarian.
n. Pemanfaatan Museum adalah pendayagunaan Koleksi untuk kepentingan
sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat dengan tetap
mempertahankan kelestariannya.
o. Kompensasi adalah imbalan berupa uang dan/atau bukan uang dari
Pemerintah atau Pemerintah Daerah.

44
p. Setiap Orang adalah perseorangan, kelompok orang, masyarakat, badan
usaha berbadan hukum, dan/atau badan usaha bukan berbadan hukum.
q. Masyarakat Hukum Adat adalah kelompok masyarakat yang bermukim
di wilayah geografis tertentu yang memiliki perasaan kelompok, pranata
pemerintahan adat, harta kekayaan/benda adat, dan perangkat norma
hukum adat.
r. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
s. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat
daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
t. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kebudayaan.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 66 tahun 2015 tentang


museum bab 2 pasal 3 dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud
dengan:
a. Pemerintah, Pemerintah Daerah, Setiap Orang, dan Masyarakat Hukum
Adat dapat mendirikan Museum.
b. Pendirian Museum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi
persyaratan:
1) Memiliki visi dan misi
2) Memiliki Koleksi
3) Memiliki lokasi dan/atau bangunan
4) Memiliki sumber daya manusia
5) Memiliki sumber pendanaan tetap
6) Memiliki nama Museum
c. Dalam hal pendirian Museum dilakukan oleh Setiap Orang atau
Masyarakat Hukum Adat selain memenuhi persyaratan sebagaimana

45
dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan berbadan hukum
Yayasan.
d. Museum yang didirikan dapat berjenis:
1) Museum Umum
2) Museum Khusus
e. Museum khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b dapat
berupa Museum Kepresidenan.
f. Museum Kepresidenan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) terdiri atas
Museum Kepresidenan yang didirikan dan dikelola oleh:
1) Pemerintah
2) Pemerintah Daerah
3) Setiap Orang
4) Masyarakat Hukum Adat
g. Museum Kepresidenan yang didirikan dan dikelola oleh Pemerintah atau
Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf a dan
huruf b, pengelolaan Museumnya dibiayai oleh anggaran pendapatan dan
belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah.
h. Museum Kepresidenan yang didirikan dan dikelola oleh Setiap Orang
atau Masyarakat Hukum Adat sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf
c dan huruf d, pengelolaan Museumnya dapat memperoleh bantuan dari
anggaran pendapatan dan belanja Negara dan/atau anggaran pendapatan
dan belanja daerah.
i. Pendirian dan Pengelolaan Museum Kepresidenan sebagaimana
dimaksud pada ayat (7) dan ayat (8) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Presiden.

Berdasarkan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang


Cagar Budaya, upaya Pelestarian Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar
Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya dan Bukan Cagar Budaya
dilakukan oleh Museum sebagai lembaga permanen yang tidak mencari
keuntungan guna melayani masyarakat dengan tujuan pengkajian,

46
pendidikan, dan kesenangan. Tidak setiap lembaga mempunyai koleksi
sebagai Museum. Museum mempunyai persyaratan pada saat didirikan
dan keberadaannya dengan sumber daya manusia yang mempunyai
kualifikasi tertentu untuk pengelolaan Museum. Setiap Orang dan/atau
Masyarakat Hukum Adat dapat berperan serta melakukan pelestarian
melalui pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatannya. Setiap Orang
dan/atau Masyarakat Hukum Adat yang berperan dalam Pelestarian
Koleksi memperoleh penghargaan berupa kompensasi.
19. Tugas Pokok dan Fungsi Museum Seni Rupa dan Keramik
Tugas Pokok:
Melayani masyarat dan pengunjung serta mengadakan, menyimpan,
merawat, mengamankan, meneliti koleksi, memperagakan dan
mengembangkan untuk kepentingan pendidikan, sejarah, kebudayaan,
rekreasi, sosial dan ekonomi baik langsung maupun tidak langsung.
Fungsi:
a. Penyusunan program dan rencana kegiatan operasional
b. Pengusulan pengadaan koleksi serta sarananya
c. Penyelenggaraan usaha-usaha, publikasi, pameran koleksi dan
pemasaran
d. Pelaksanaan pembuatan deskripsi dan registrasi koleksi
e. Penyimpanan, penataan dan perawatan koleksi
f. Penelitian koleksi
g. Pemberian bimbingan dan pelayanan edukatif kultural kepada
masyarakat
h. Penyelenggaraan pengelolaan perpustakaan museum
i. Pelayanan informasi tentang Seni Rupa dan Keramik
j. Penyusunan kegiatan ketatausahaan

47
BAB III
ANALISA MASALAH

A. ANALISA CITRA

MASALAH URAIAN KEYWORD CITRA SIMPULAN


LEMBAGA Musium Terkontrol Citra yang
Seni Rupa Formal didapatkan
dan dari
Keramik Lembaga
merupaka pemerintah
n salah an
satu dari merupakan
beberapa sesuatu
museum yang
yang Formal
diurus dan sudah
oleh dirancang
negara dengan
Indonesia GAMBAR 17 Logo Museum Seni Rupa dan rapih
sendiri Keramik
Sumber: Museum Seni Rupa dan Keramik
PEMAKAI Pengguna Santai Citra yang
dari Terawatt didapatkan dari
Museum flexible pemakaian
Seni Rupa bangunan bersifat
dan dinamis karena
Keramik terdaapt alur
adalah sirkulasi yang jelas
pengunjung pada area kerja dan
museum GAMBAR 18 Ruang Pameran Museum area rekreasi. Staff
Sumber: www.merdeka.com

48
yang yang bekerja disana
berkunjung juga rajin untuk
untuk membersihkan
berekreasi sehingga musium
dan tersebut masuh
staff yang terwat dengan baik.
bekerja
untuk
mengurus
museum
AKTIVITAS Aktivitas Dinamis Citra yang
pada didapatkan dari
Museum aktivitas pada
Seni Rupa Museum Seni Rupa
dan dan Keramik adalah
Keramik dinamis
adalah
meliha-
lihat kerya
seni rupa
dan
keramik, GAMBAR 19 Aktivitas Pengunjunga di Museum
mengambi Seni Rupa dan Keramik
l foto, Sumber: www.travel.detik.com
duduk di
area taman
lalu makan
dan
minum
LOKASI Museum Berdekatan Citra yang
Seni Rupa dengan didapatkan dari
dan banyak lokasi Museum
Keramik museum Senirupa dan
berlokasi Daerah Keramik adalah
di Kota sangat museum terletak
Jakarta strategis pada tempat yang
Barat di sangat strategis,
daerah berdekatan dengan
kota tua objek wisata yang
lain sehingga
banyak mengundang

49
pengunjung dari
manca negara
maupun local

GAMBAR 20 Lokasi Museum Seni Rupa dan


Keramik
Sumber: Google maps

BENDA Benda asli Citra yang


KOLEKSI koleksi didapatkan dari
yang Benda Koleksi pada
berada di Museum Seni Rupa
Museum dan Keramik adalah
Seni Rupa semua koleksinya
dan berasal dari sejarah
Keramik Indonesia
adalah
lukisan,
guci, pot,
keramik,
dan masih GAMBAR 21 Tembikar dan Kerajinan Tanah
banyak Liat Khas Sulawesi Utara
lagi Sumber: travel.detik.com

Diagram 2 Analisa Citra Museum Seni Rupa dan Keramik


Sumber: Dokumen Pribadi, 2020

50
B. ANALISA POTENSI LINGKUNGAN
Museum Seni Rupa dan Keramik terletak di DKI Jakarta, Jakarta Barat.

GAMBAR 22 Lokasi Museum Seni Rupa dan Keramik


Sumber: google Maps

51
Potensi lingkungan sangatlah baik karena terletak di dalam kota tua.
Dikelilingin dengan pusat kuliner dan pusat perbelanjaan, sehingga museum ini
menjadi daya tarik bagi turis dan warga local.

Analisa tampak sekitar Museum Seni Rupa dan Keramik:

Utara : Departemen agama


Selatan: Restoran Sederhana Masakan Padang
Barat : Kota tua
Timur : Damkar taman sari

1. Faktor View

GAMBAR 23 Tampak Area Museum


Sumber: www.museumindonesia.com

52
View yang didapat di sekitar Museum Seni Rupa dan Keramik adalah pepohonan
yang rindang dan taman disertai Bangunan – bangunan kolonial yang menjadi daya
tarik sendiri bagi pengunjung pengunjung dapat merasakan suasana yang tenang.

2. Faktor Cahaya

GAMBAR 24 Penggunaan Cahaya Buatan dalam Ruangan Museum Seni Rupa


dan Keramik
Sumber: www.museumindonesia.com

GAMBAR 25Penggunaan Cahaya Buatan Outdoor Museum Seni Rupa dan


Keramik
Sumber: www.museumindonesia.com

53
GAMBAR 26 Cahaya Alami Museum Seni Rupa dan Keramik
Sumber: baliinspirasi.com

Bangunan menghadap kearah Timur sehingga cahaya buatan yang pada


Main Hall dan kanopi damping taman hanya digunakan pada malam hari
saja. Pada area keramik dan seni rupa hanya menggunakan cahaya buatan
yang bertujuan untuk menghindari sinar matahari langsung agar dapat
menjaga warna karya seni.

3. Faktor Suhu dan Kelembaban


Suhu udara pada area Jakarta bara mencapai 27 derajat celsius sehingga
musium menyediakan system penghawaan buatan seperti Air Conditioner
(AC) untuk menjaga karya seni agar tetap awet.

4. Faktor Suara
Meskipun lokasi museum dekat dengan keramaian, karena ukuran halaman
museum yang cukup besar; suara yang masuk kemuseum juga dapat dikontrol.

5. Faktor Manusia
Pengaruh hari libur pada jumlah pengunjung sangatlah berpengaruh.

54
"Jumlah pengunjung museum tercatat sebanyak 3.895 dari pagi sampai sore ini,"
ujarnya di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, Sabtu (8/6).

6. Faktor Eksternal
a. Geografi : tedi pusat Jakarta Barat
b. Iklim : beriklim tropis
c. Energi : Menggunakan bantuan PLN

C. ANALISA AKTIFITAS DAN FASILITAS

55
D. ANALISA FUNGSI, JUMLAH & BESARAN RUANG

Zoning Grouping Quantity Luas Sirkulasi Luas Persen Total Peresn


Area 30% Total Area Zoning Zoning
(m2) (m2) (m2) (m2)
1 R. Informasi & Locker 1 27,72 8,16 36,036 2%

2 Lobby 1 15,12 4,536 19,656 1,2%


Public
104,078 6%
3 Loket/ Tiketing 1 9,468 2,804 12,272 0,8%

4 R. Suvenir 1 27,78 8,334 36,114 2%

5 R. Menerima Tamu 1 24,36 7,308 31,668 1,8%

6 Perpustakaan 1 37,8 11,34 49,14 2,8%


Semi Publik 1.199,139 69,3%
7 R. Pameran 20 782,495 234,748 1017,243 58,8%

8 Auditorium 1 77,76 23,328 101,088 5,9%

9 R. Rapat 1 34,39 10,317 44,707 2,6%

10 R. Kepala Museum 1 35,78 10,734 46,514 2,8%


Private 304,369 17,8%
11 R. Kesatuan Pelayanan Museum 1 26,4 7,92 34,32 2%

12 R. Pelaksanaan Edukasi dan Perawatan 1 54 16,2 70,2 4%

56
13 R. Pelaksanaan Informasi dan Pameran 1 27 8,1 35,1 2%

14 R. ME 1 18,9 5,67 24,57 1,4%

15 R. Tata Usaha 1 12,5 3,75 16,25 1%

16 R. Security & CCTV 1 25,16 7,548 32,708 2%

17 Café 1 9,,9 2,97 12,87 0,8%

18 Pantry 1 4,2 1,26 5,46 0,4%

19 Toilet 4 19 5,7 24,7 1,4%


Service 119,73 6,9%
20 Gudang 3 45 13,5 58,5 3,3%

21 Janitor 1 4,5 1,35 5,85 0,3%

22 Musholla 1 9,5 2,85 12,35 0,7%

SUB TOTAL AREA 1.328,733 398,583 1.727,316 100% 1.727,316 100%

Diagram 3 Aktifitas Kebutuhan Fasilitas dan Besaran Ruang


Sumber: Dokumen Pribadi, 2020

E. ANALISA PERSYARATAN & ORGANISASI RUANG


1. Diagram Matrix Hubungan Antar Ruang

57
Diagram 4 Matrix
Sumber: Dokumen Pribadi, 2020

2. Bubble Diagram Hubungan Antar Ruang

Diagram 5 Bubble
Sumber: Dokumen Pribadi, 2020
F. ANALISA POLA SIRKULASI
G. ANALISA MATERIAL & WARNA

BAB IV
PEDOMAN DESAIN
A. KONSEP UMUM PERENCANAAN
1. Citra dan Ide Dasar
Ide dasar pada perencanaan Museum Seni Rupa dan Keramik menggunakan
kerangka berpikir Mind Mapping yang berasal dari logo dan dianalisa
berdasarkan jenis, koleksi, bentuk dan warna.

58
Diagram 6 Analisa Keterangan Berpikir
Sumber: Dokumen Pribadi, 2020

2. Citra
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, citra merupakan gambaran yang
dimiliki banyak orang mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau
produk. Pada Museum Seni Rupa dan Keramik terdapat 4 citra utama yaitu
Modern, Simple. Batik, Hightech.
a. Modern

b. Simple
c. Batik
d. Hightech
3. Tema

59
4. Suasana
5. Mood Board

GAMBAR 27 Mood Board


Sumber: Dokumen Pribadi, 2020

B. KONSEP ORGANISASI RUANG


1. Konsep Organisasi
Konsep organisasi ruang di dalam perencanaan interior Museum Seni Rupa
dan Keramik menganut beberapa jenis organisasi ruang sesuai yang
dinyatakan oleh Ching (2007:195), yaitu:
a. Organisasi linier:
Sebuah sekuen linier ruang-ruang yang berulang.

60
GAMBAR 28 Organisasi Linier
Sumber: Ching, 2007:195
b. Organisasi grid:
Ruang-ruang yang diorganisir di dalam area sebuah grid struktur atau
rangka kerja tiga dimensi lainnya.

GAMBAR 29 Organisasi Grid


Sumber: Ching, 2007:195
2. Zoning
Zoning pada perencanaan interior Museum Seni Rupa dan Keramik
terbentuk secara sendirinya oleh aktivitas dan pengguna yang menggunakan
fasilitas di dalam Museum Seni Rupa dan Keramik. Zona di dalam
perencanaan interior Museum Seni Rupa dan Keramik adalah:
a. Zona Public.
b. Zona Semi private.
c. Zona Private.

3. Blocking & Pola SIrkulasi

61
C. KONSEP LAYOUT
Menurut Neufert, faktor yang mempengaruhi dalam ruang pameran adalah
hubungan antara benda koleksi dengan konsep display. Konsep round tour
yang akan digunakan sebagai layout dasar yang digunakan di dalam
perencanaan interior Museum Seni Rupa dan Keramik.

Round tour (loop): Tipe layout ini hampir mirip dengan linear chaining, tetapi
sirkulasi untuk keluar mengarah lagi ke area masuk.

GAMBAR 30 Round Tour (loop)


Sumber: Neufert, 2012:208

62
D. KONSEP FURNITURE

RUANGAN GAMBAR

R. PAMERAN
TETAP

R. DUDUK

R. PAMERAN
TEMPORER

GAMBAR 31 Konsep furniture untuk stage display fixture ruang pameran tetap
dan ruang pameran temporer
Sumber: www.dgfurniture.com

E. KONSEP MATERIAL DAN WARNA


F. KONSEP PENGKONDISIAN RUANG
4. Konsep Pencahayaan
Konsep pencahayaan pada Museum Seni Rupa Dan Keramik menggunakan
pencahayaan general dan pencahayaan dekoratif. Pencahayaan general
menggunakan warna day light. Sedangkan pencahayaan dekoratif
menggunakan warna warm white
5. Konsep Penghawaan
6. Konsep Akustik
a. Sistem Akustik Lingkungan

63
Untuk memenuhi sistem akustik lingkungan, upaya-upaya yang dapat
dilakukan adalah dengan:
1) Menjauhkan ruang-ruang yang memerlukan tingkat ketenangan tinggi
dari sumber kebisingan, seperti perpustakaan dan ruang seminar.
2) Pengaturan bukaan dinding pada arah atau letak yang berjauhan dari
sumber suara.
3) Penanaman vegetasi dan peninggian peil tanah sebagai penyaring/
buffer suara.
b. Sistem Akustik Kedap Suara
Pengendalian suara didalam ruangan dengan menggunakan bahan kedap
suara pada dinding, langit-langit dan lantai. Ruang-ruang yang
memerlukan pengendalian suara adalah perpustakaan, ruang pamer, dan
ruang seminar.

Pada ruang seminar, sistem akustik dibentuk dengan pemakaian bahan


yang menyerap bunyi seperti dinding partisi dengan rockwool sebagai
pengisinya dan bentukan plafond yang dapat membantu pantulan suara
dengan baik. Pada lorong /koridor sempit disusun dari bahan yang
memiliki penyerapan baik sehingga tidak terjadi flutter echoes atau
standing waves. Disamping itu, pada ruang pamer juga dipasang sound
sistem yang memasang bunyi alunan musik tradisional Nias.

Penerapan system akustika kedap suara pada museum ini, yaitu:


a. Ruang seminar
b. Teater dan perpustakaan

G. KONSEP KEAMANAN

Konsep keamanan dan keselamatan pada perencanaan Museum Seni Rupa dan
Keramik akan menggunakan standar keselamatan kerja yang berlaku di
Indonesia seperti harus adanya tangga darurat untuk menyelamatkan diri dari
kebakaran, dan gempa bumi. Untuk faktor keamanan, CCTV akan memantau

64
selama 24 jam pada seluruh ruangan dan juga terdapat satpam yang bertugas
untuk mengawasi seluruh ruangan yang berada di dalam Museum Seni Rupa
dan Keramik. Berikut merupakan tabel yang mencakup kebutuhan keamanan
dan keselamatan beserta penjelasannya yang akan digunakan pada perencanaan
kali ini.

KOMPONEN IMAGE DESKRIPSI

Alarm berfungsi sebagai


peringatan ketika terjadi
deteksi positif dari detektor.
Alarm ini akan ditempatkan di
titik dimana alarm tersebut
Alarm
efektif untuk memberikan
informasi/ berbunyi. Jumlahnya
akan ditentukan oleh besaran
layout serta bentuk layout yang
GAMBAR 32 Alarm
Sumber: www.pinterest.com digunakan.
Heat detector & Smoke
detector diletakan di seluruh
ruang agar dapat memberikan
sinyal terhadap bahaya dari
kebakaran melalui deteksi asap
Heat &
dan juga panas/ api.
Smoke
GAMBAR 33 Heat & Smoke Detector Penempatannya diatur dengan
Detector
Sumber: www.pinterest.com jarak 12 m untuk ruang aktif,
dan 18 m untuk ruang sirkulasi.

Speaker digunakan di beberapa


titik pada semua ruangan guna
untuk memberikan informasi

Speaker kepada seluruh Pengunjung


Museum rupa.

GAMBAR 34 Speaker

65
Sumber: www.pinterest.com
Penggunaan pintu exit darurat
akan digunakan untuk menuju
langsung ke area luar dari

Akses Museum dengan cepat.

Darurat Pembagian pintu akses ini akan


disesuaikan dengan bentuk
GAMBAR 35 Emergency Exit
Sumber: www.pinterest.com layout yang akan digunakan.
Sprinkler.

Sprinkler ukuran besar akan


digunakan di Museum yang

Sprinkler. akan menyemprotkan foam


atau gas pemadam dengan
radius tiap titik sekitar 25 m²

GAMBAR 36 Sprinkler
Sumber: www.pinterest.com

Tinggi pemberian tanda


pemasangan adalah 125 cm
dari dasar lantai tepat di atas
satu atau kelompok fire
extinguisher bersangkutan
(jarak minimal fire
fire
extinguisher / Tabung
extinguisher
Pemadam dengan laintai
minimal 15 cm). Jarak
penempatan APAR / Tabung
GAMBAR 37 fire extinguisher Pemadam satu dengan lainnya
Sumber: www.pinterest.com
ialah 15 meter atau radius 225

66
Untuk keamanan, penggunaan
CCTV CCTV ditempatkan disetiap
area Museum

GAMBAR 38 CCTV
Sumber: www.pinterest.com

DAFTAR PUSTAKA
1. Hein, G. E. (1988). Learning in the Museum. Cambridge: Routledge.
2. Indryati, N. (2014). Pengaruh Kualitas Produk Wisata Pengunjung untuk
Berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik. 3.
3. https://www.museumindonesia.com/museum/37/2/
Museum_Seni_Rupa_dan_Keamik
4. https://www.museumjakarta.com/museum-seni-rupa-dan-keramik-jakarta/
5. Suptandar, Pamudji. (1995). Manusia dan Ruang dalam Proyeksi Desain
Interior. Jakarta: UPT Penerbitan Universitas Tarumanegara.
6. Ambarwati, D. (2007). Antara Desainer Interior dan Dekorator Interior:
Studi Perbandingan. Univesitas Negeri Yogyakarta. Tautan E-Jurnal
7. Aronson, Joseph. (1965). The Encyclopedia of Furniture. New York:
Crown Publisher.
8. Wealle, Marry G. (1982). Environmental Interior. New Yok: Maxmillan
Publishing Company.
9. Museumku. Museum Seni Rupa dan Keramik.
http:// museumku.wordpress.com. Diakses pada Oktober 2020.
10. Museum Indonesia. Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.
http://www.museumindonesia.com. Diakses pada Oktober 2020.

67
11. Pemula Yunior. Museum Seni Rupa dan Keramikt.
http://pemulayunior.blogspot.co.id. Diakses pada Oktober 2020.
12. The Aroeng Binang Project. Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.
http://www.thearoengbinangproject.com. Diakses pada Oktober 2020.
13. Tauhidia, Niken. “Interior 101 : Jenis Material Lantai. 07 Oktober 2018.
http://scdc.binus.ac.id/himdi/2016/07/28/interior-101-jenis-material-lantai/
14. Satwiko, Prasasto. 2009. Fisika Bangunan. Yogakarta: ANDI
15. Neufert, Ernst. 2002. Data Arsitek. Jakarta: Erlangga
16. Panero, Julius. 1979. Human Dimension & Interior Space. London: The
architectural Press.
17. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Kecil Tapi Indah:
Pedoman Perancanga Museum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
18. Ching, Francis D.K. 1996. Ilustrasi Desain Interior. Jakarta : Erlangga.
19. Kilmer, Rosemary & W. Otie Kilmer. Designing Interior 2nd edition. New
Jersey : John Wiley & Sons, Inc. 2014
20. Nielson, Karta J & David A. Taylor. Interior ; An Introduction 5th edition.
New York ; Mc Graw-Hill Book Company. 2007
21. Ricklefs, M.C & Bruce Lochart. Sejarah Asia Tenggara Dari Masa
Prasejarah Sampai Kontemporer. Indonesia : Gramedia Pustaka. 2013
22. Doelle, Leslie. L dan L. Prasetio. 1993. Akustik Bangunan. Jakarta.
Erlangga Panero, Julius. 2003. Dimensi Manusia Dan Ruang Interior.
Jakarta: Erlangga.

68

Anda mungkin juga menyukai