0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
67 tayangan4 halaman

Edukasi Gizi untuk Cegah Stunting Anak

Dokumen membahas masalah stunting pada anak balita di Indonesia. Stunting disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama sehingga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Indonesia masih memiliki prevalensi stunting yang tinggi. Upaya pencegahan stunting yang dilakukan antara lain memberikan edukasi gizi kepada ibu melalui posyandu untuk meningkatkan pemahaman tentang pemberian makanan seimbang bagi anak.

Diunggah oleh

Quinzy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
67 tayangan4 halaman

Edukasi Gizi untuk Cegah Stunting Anak

Dokumen membahas masalah stunting pada anak balita di Indonesia. Stunting disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama sehingga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Indonesia masih memiliki prevalensi stunting yang tinggi. Upaya pencegahan stunting yang dilakukan antara lain memberikan edukasi gizi kepada ibu melalui posyandu untuk meningkatkan pemahaman tentang pemberian makanan seimbang bagi anak.

Diunggah oleh

Quinzy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

Stunting merupakan salah satu hambatan yang paling signifikan dalam mencetak kualitas
sumber daya manusia di setiap negara. Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan
perkembangan yang dialami anak balita akibat kurang gizi dalam jangka waktu yang lama,
penyakit infeksi berulang, dan kurang stimulasi secara psikososial (WHO, 2023). Angka kejadian
stunting sebanyak 162 juta terjadi pada anak di bawah umur 5 tahun dan diproyeksikan sekitar
127 juta anak di bawah umur 5 tahun akan terhambat di tahun 2025 (WHO, 2014). Di Indonesia,
prevalensi stunting turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di tahun 2022 dan Provinsi
DKI Jakarta memiliki prevalensi stunting tergolong sedang-rendah sebesar di bawah 20%
(Kemenkes RI, 2023).
Stunting memiliki dampak negatif yang cukup penting untuk diatasi. Stunting tidak hanya
gagal tumbuh, melainkan juga akan memengaruhi kesehatan jiwa dan mental, serta kecerdasan
intelektual (Mohammad Teja, 2022). Gangguan tersebut dapat mengakibatkan anak memiliki
kemampuan yang rendah untuk belajar, keterbelakangan mental, dan dapat munculnya penyakit-
penyakit kronis. Stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan
produktivitas pasar kerja, sehingga mengakibatkan hilangnya 11% GDP (Gross Domestic
Products),mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%, meningkatkan
kesenjangan/inequality sehingga mengurangi 10% dari total pendapatan seumur hidup dan juga
menyebabkan kemiskinan antar-generasi (TNP2K, 2017).
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi anak menjadi stunting. Faktor yang
mempengaruhi stunting yaitu pola asuh, pola makan, pengetahuan orang tua terkait gizi,
kesehatan ibu dan anak, partisipasi posyandu, faktor lingkungan, pemberian ASI ekslusif
(Saputri, 2019). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menggambarkan bahwa riwayat
kehamilan ibu, status gizi anak, pola asuh, pengetahuan ibu dan pemberian ASI eksklusif
berpengaruh signifikan terhadap kejadian stunting (Wardita et al., 2021).
Orang tua yang memiliki pengetahuan dan pemahaman gizi yang baik akan memperhatikan
pemenuhan gizi dan asupan nutrisi anak-anaknya. Pemenuhan gizi yang kurang baik menjadi
salah satu penyebab utama pada angka kejadian stunting. Kondisi gagal tumbuh akibat
kekurangan gizi ini terjadi di seribu hari pertama kehidupan anak. Penyebab masalah gizi ini
berhubungan dengan ketahanan pangankhususnya akses terhadap pangan bergizi (makanan),
lingkungan sosial yang terkait dengan praktik pemberian makanan bayi dan anak (pengasuhan),
akses terhadap pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan (kesehatan), serta
kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan sanitasi lingkungan
(Kementerian/ Lembaga Pelaksana Program/ Kegiatan Pencegahan Anak, 2018).
Intervensi gizi spesifik meliputi kecukupan asupan makanan; pemberian makan, perawatan
dan pola asuh; dan pengobatan infeksi/ penyakit. Pada anak balita, upaya pemerintah dalam
mencegah stunting diutamakan pada pemberian makanan tambahan berupa protein hewani pada
anak usia 6-24 bulan seperti telur, ikan, ayam, daging dan susu. Namun, untuk pemberian
makanan tambahan (PMT) Balita bagi anak yang sudah terlanjur stunting dianggap tidak akan
memberikan pengaruh banyak dalam mengintervensi stunting. Manfaat PMT hanya sebagai
perbaikan status gizi tidak bisa mengurangi tingkat stunting (Saputri, 2019). Berdasarkan hasil
penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap ibu tentang makanan tambahan masih
kurang baik (Maharani et al., 2019). Permasalahan gizi pada sebagian besar ibu di Indonesia
yaitu meliputi gizi kurang, anemia defisiensi gizi dan defisiensi zat gizi mikro seperti vitamin A,
seng, iodium, kalsium, vitamin D dan asam folat (Muhammad Abdillah & Astria Paramashanti,
2020). Permasalahan tersebut menyumbang besar pada faktor yang mempengaruhi angka
kejadian stunting.
Petugas kesehatan berperan penting dalam memberikan edukasi tentang pemberian gizi yang
tepat pada anak balita. Petugas kesehatan sebaiknyameningkatkan program edukasi kesehatan
khususnya tentang stunting agar pengetahuan ibu dapat meningkat dan masalah stunting dapat
segera ditanggulangi(Wardita et al., 2021). Materi edukasi dapat meliputi pedoman gizi
seimbang untuk balita, prinsip pemberian makan pada balita, persiapan dan penyimpanan
makanan yang tepat (Wahyurin et al., 2019). Pemberian edukasi gizi mengenai stunting dapat
dilakukan dengan metode brainstorming (curah pendapat) menggunakan alat bantu leaflet.
Edukasi gizi dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap orang tua dalam pemenuhan nutrisi
anak sehingga dapat menjadi salah satu intervensi alternatif untuk meningkatkan perilaku
kesehatan dalam mencegah stunting (Naulia et al., 2021). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
yang menjelaskan bahwa intervensi edukasi terhadap ibu dengan anak stunting dapat
mempengaruhi kualitas sikap serta perilaku ibu dalam perawatannya (Munir & Audyna, 2022).
Pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu kegiatan tri darma perguruan tinggi yang
dapat membantu para kader posyandu sebagai perpanjangan tangan petugas kesehatan dan orang
tua dalam membantu mencegah angka kejadian stunting. Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan
dosen dan mahasiswa dapat lebih meningkatkan rasa kepedulian terhadap permasalahan
masyarakat dan mampu memberdayakan mereka untuk meningkatkan kesehatan. Kader-kader
posyandu balita adalah bagian dari masyarakat yang dapat berkontribusi besar dalam melakukan
pencegahan stunting.
Berdasarkan pentingnya manfaat kegiatan ini, maka tujuan dari pengabdian kepada masyarakat
ini adalah untuk memberikan edukasi tentang stunting dan pemberian makan yang tepat melalui
gizi seimbang pada anak balita kepada para kader posyandu dan ibu dengan balita.
BAB II
PERMASALAHAN MITRA

A. KECOCOKAN PERMASALAHAN DAN PROGRAM


Masalah gizi merupakan gangguan pada beberapa segi kesejahteraan
perorangan dan masyarakat yang disebabkan oleh karena tidak terpenuhinya
kebutuhan akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Keadaan gizi masyarakat
di Indonesia pada saat ini masih belum menggembirakan dikarenakan oleh
berbagai masaalah gizi seperti gizi kurang, stunting dan gizi buruk, kurang
vitamin A, anemia gizi besi, gangguan akibat kurang yodium dan gizi lebih
(obesitas) yang masih tersebar luas di kota dan desa di seluruh tanah air
(Riskesdas, 2013). Stunting atau anak pendek merupakan masalah kurang gizi kronis
yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat
pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat
berpengaruh secara signifikan terhadap derajat kesehatan serta dapat
meningkatkan mordibitas dan mortalitas dalam perjalanan hidup seseorang
(Millennium Challenge Account Indonesia, 2013)
Menurut WHO, Pada tahun 2017 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia
mengalami stunting. Namun angka ini sudah mengalami penurunan jika dibandingkan
dengan angka stunting pada tahun 2015 yaitu 23,2% (Joint Child Malnutrition
Eltimates, 2018). Di dunia lebih dari setengah kejadian stunting tertinggi terdapat di
Asia sebanyak 55%, lebih dari sepertiganya (39%) tinggal di Afrika. Dari 83,6 juta
balita mengalami stunting di Asia tertinggi berasal dari Asia Selatan (58,7%).
Indonesia merupakan salah satu dari 17 negara dengan prevalesi stunting, wasting,
dan overweight yang tinggi. Menurut data dan informasi Kemenkes RI 2018
Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional
Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi balita stunting
di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
melaporkan 30,8% anak Indonesia mengalaini stunting. Berdasarkan laporan
Riskesdas 2018, angka stunting di Daerah lntimewa Yogyakarta (DIY) adalah di
bawah nasional yaitu sebesar 19,8%.
Penyebab stunting adalah multifaktor. Banyak faktor risiko stunting yang
sudah diketahui melalui berbagai penelitian antara lain faktor usia, pendidikan,
status pekerjaan, sosial ekonomi ibu, paritas, persalinan, BBLR, ASI eksklusif,
status imunisasi, penyakit infeki anak, nafsu makan anak, pengasuhan ibu, dan
KEK (Kekurangan Energi Kronik) pada ibu. Pemahaman masyarakat khususnya
ibu tentang faktor risiko pada penyebab balita stunting pada saat kehamilan dan
kelahiran belum sepenuhnya diketahui, salah satu faktor yang menyebabkan
kurangnya pemahaman ibu adalah pengetahuan ibu sendiri dalam pemenuhan nutrisi
yang baik selama kehamilan. Namun, kejadian kekurangan gizi pada anak
balita ini dapat dihindari apabila ibu mempunyai pengetahuan yang baik tentang
cara memelihara gizi dan mengatur makanan pada anak. Karena dengan memiliki
pengetahuan yang baik khususnya tentang kesehatan, seseorang dapat
mengetahuai berbagai macam gangguan kesehatan yang mungkin akan timbul
selain itu dengan pengetahuan tentang gizi yang cukup baik maka informasi
yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari - hari untuk
mengurangi terjadinya gangguan gizi ( Sri Wahyuni, 2009). Upaya peningkatan
status gizi masyarakat termasuk penurunan prevalensi balita pendek menjadi salah
satu prioritas pembangunan jangka menengah 2015 – 2019. Program Indonesia sehat
dengan sasaran meningkatan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui
upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan
perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan (Kemenkes, 2015).
Sebagai salah satu Langkah pencegahan terhadap kejadian stunting pada balita
maka dilakukan program promosi Kesehatan dengan metode edukasi untuk
meningkatkan pemahaman pada orang tua khususnya yang mempunyai anak usia
balita. Edukasi dan promosi kesehatan kasus anak dengan stunting meliputi edukasi
nutrisi/gizi dengan sasaran kegiatan ibu hamil, ibu menyusui, orang tua serta seluruh
keluarga. Selain itu edukasi juga meliputi perilaku hidup bersih dan sehat yang harus
dijalankan oleh keluarga dan seluruh anggota masyarakat agar tercipta lingkungan
yang sehat untuk tempat tinggal anak balita.

B. KOMPETENSI TIM
Pelaksana kegiatan penyuluhan dan edukasi gizi adalah mahasiswa mata kuliah
peminatan promosi Kesehatan, Program Studi Kesehatan Masyarakat Program
Sarjana Universitas Respati Yogyakarta, yang didampingi oleh tim Dosen Promosi
Kesehatan. tim dosen Promosi Kesehatan ini adalah dosen promosi kesehatan.
Tim Dosen pelaksana kegiatan ini telah memiliki kompetensi serta sertifikat
pendidik. Sementara itu mahasiswa sebagai kolaborator pelaksana dalam kegiatan ini
merupakan mahasiswa semester enam yang secara teoritis telah memiliki cukup
pengetahuan serta bekal materi berkaitan dengan Pendidikan Kesehatan Masyarakat
khususnya pada bidang promosi Kesehatan. Kegiatan ini dilaksanakan guna untuk
memenuhi tugas dari mata kuliah Pendidikan Kesehatan Masyarakat dan Institusi.

Anda mungkin juga menyukai