Anda di halaman 1dari 33

1. Anamnesis pasien kejang 1. Kapan terjadinya kejang pertama kali? 2.

Sesudah kejang pertama kali berapa kali lagi terjadi kejang? 3. Gambaran klinik kejang atau bentuk kejang bagaimana? 4. Sebelum kejang ada demam atau panas, ada trauma atau stroke? 5. Tidak pernah kejang dan baru kali ini kejang? 6. Pernah ada gangguan penyakit misalnya kencing manis? 7. Ada keluarga yang menderita kejang-kejang atau tidak? 8. Apakah ada trauma lahir atau tidak? 9. Riwayat minum obat sebelumnya? Daftar Pustaka http://www.scribd.com/doc/27213705/Anamnesis-Neuro

2. Macam-macam vomitus pada anak Berikut ini adalah berbagai jenis muntah diklasifikasikan berdasarkan akar penyebab muntah: 1 - Obat / Pengobatan Terimbas Muntah Type. Pengobatan kanker seperti kemoterapi dan radiologi dan obat-obatan tertentu seperti beberapa antibiotik menginduksi muntah. 2 - Endokrin Jenis Muntah Tahap awal Kehamilan jatuh di bawah jenis muntah. 3 - Labyrinth Jenis Gangguan Muntah Motion sickness dapat menyebabkan mual dan muntah. Mabuk diamati sebagai akibat dari paparan terhadap gerakan asing atau tidak terkontrol. Gerak ini dapat nyata atau disimulasikan. Lain gangguan Labyrinth adalah penyakit Meniere yang menginduksi muntah. 4 - Muntah Jenis Infeksi. Infeksi tertentu menginduksi itu. Labyrintiis gastroenteritis dan virus adalah yang paling umum. 5 - Peningkatan Tekanan intrakranial Muntah Type Banyak jenis Perdarahan dapat menginduksi itu. Muntah yang diinduksi Juga Meningitis jatuh di bawah kategori ini. 6-Post - Operatif Jenis Muntah

Isu-isu prosedural tertentu dalam operasi dapat menyebabkan muntah. Penggunaan Anestesi dan Analgesik dalam operasi dapat menginduksi itu. 7 - SSP Jenis Muntah Ini adalah jenis antisipasi muntah disebabkan oleh kecemasan. Kondisi stres lain yang terkait yang menyebabkan itu adalah Bulimia nervosa dan migrain. Kita telah UED istilah medis cukup di sini yang tidak tujuan utama focus.he utama adalah untuk menggambarkan berbagai jenis muntah. Daftar Pustaka http://www.homeremediesforall.com/types-of-vomiting.html

3.Perbedaan regurgitasi dan vomitus serta definisinya Vomit dan regurgitasi berkaitan dengan penyakit yang sangat berbeda. Regurgitasi biasanya berkaitan dengan penyakit-penyakit daerah faring atau esofagus sedangkan vomit atau muntah biasanya berkaitan dengan gangguan lambung atau mungkin penyakit sistemik. Regurgitasi adalah keluarnya makanan melalui mulut, terjadi tanpa usaha atau tanpa adanya proses yang rumit dan tidak disertai tanda-tanda prodormal meski kadang disertai adanya hipersalivasi. Bahan yang dikeluarkan biasanya berupa bahan pakan yang belum terdigesti bercampur mukus atau saliva dan mempunyai pH normal, bahan pakan berupa bahan solid ataupun cair bila terjadi striktura pada esofagus, tercampur darah segar bila terjadi ulserasi, adanya rasa sakit saat menelan dan teraba adanya bolus di daerah esofagus. Waktu terjadinya biasanya segera setelah makan atau menelan. Bila terjadi agak lama setelah makan kemungkinan terjadi dilatasi esofagus atau divertikulum esofagus. Vomit atau muntah adalah keluarnya makanan melalui mulut yang merupakan suatu proses reflek yang terkoordinasi kontraksi otot-otot abdominal, retroperistaltik dan refleks menutupnya glottis. Muntah akan disertai adanya tanda-tanda prodormal seperti nausea, unease, anoreksia, hipersalivasi, menelan dan retching. Vomitus atau bahan yang dimuntahkan biasanya mempunyai pH rendah (asam) karena bercampur asam lambung, berwarna hijau karena bercampur empedu, bahan pakan yang sudah tercerna sebagian, pakan yang sudah tercerna, bercak darah atau bercampur darah segar atau darah yang terdigesti. Waktu terjadinya muntah sangat bervariasi namun jarang sekali terjadi dengan cepat setelah makan. Daftar Pustaka http://triakoso.blog.unair.ac.id/2008/08/19/perbedaan-regurgitasi-dan-vomit/

4. Apa yang harus diketahui pada ANC Cara pelayanan antenatal, disesuaikan dengan standar pelayanan antenatal menurut Depkes RI yang terdiri dari : 1) Kunjungan Pertama a) Catat identitas ibu hamil b) Catat kehamilan riwayat sekarang c) Catat riwayat kehamilan dan persalinan lain d) Catat penggunaan cara kontrasepsi sebelum kehamilan e) Pemeriksaan fisik diagnostic dan laboratorium f) Pemeriksaan obstetric g) Pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT) h) Pemberian obat rutin seperti tablet Fe, calsium, multivitamin, dan mineral lainnya serta obat-obatan khusus atas indikasi. i) Penyuluhan/konseling 2) Jadwal Kunjungan Ibu Hamil Kunjungan antenatal sebaiknya di lakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan a) Satu kali pada trimester pertama (sebelum 14 minggu) b) Satu kali pada trimester ke dua (antara minggu 14-28) c) Dua kali pada trimester ke tiga (antara minggu 28-36 minggu dan sesudah minggu ke 36). 3) Pelayanan/asuhan standar minimal termasuk 7 T a) (Timbang) berat badan b) Ukur (Tekanan) darah c) Ukur (Tinggi) fundus uteri d) Pemberian imunisasi (Tetanus Toxoid) e) Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan f) Tes terhadap penyakit menular sexual g) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan Pelayanan/asuhan antenatal ini hanya dapat di berikan oleh tenaga kesehatan profesional dan tidak dapat di berikan oleh dukun bayi. Untuk itu perlu kebijakan teknis untuk ibu hamil seara keseluruhan yang bertujuan untuk mengurangi resiko dan komplikasi kehamilan secara dini. Kebijakan teknis itu dapat meliputi komponenkomponen sebagai berikut :

Mengupayakan kehamilan yang sehat Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan. Persiapan persalinan yang bersih dan aman Perencanaan antisipstif dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi komplikasi. 4) Pemberian Vitamin Zat Besi Di mulai dengan memberikan satu sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 M (zat besi 60 Mg) dan Asam Folat 500 Mg, minimal masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak di minum bersama teh atau kopi, karena mengganggu penyerapan. Zat besi paling baik di konsumsi di antara waktu makan bersama jus jeruk (vitamin C) (Konsep Kebidanan ; 2003). 5) Jadwal Imunisasi TT Antigen Interval (selang waktu minimal) Lama perlindungan % perlindungan TT1 Pada kunjungan antenatal pertama - TT2 4 minggu setelah TT 1 3 tahun 80 TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95 TT4 1 tahun setelah TT 3 10 tahun 99 TT5 1 tahun setelah TT4 25 tahun/seumur hidup 99 6) Jadwal Kunjungan Ulang a) Kunjungan I (16 minggu) di lakukan untuk : - Penapisan dan pengobatan anemia. - Perencanaan persalinan. - Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya. b) Kunjungan II (24 28 minggu) dan kunjungan III (32 minggu) dilakukan: - Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya - Penapisan pre eklamesia, gamelli, infeksi alat reproduksi dan saluran perkemihan. - Mengulang perencanaan persalinan. c) Kunjungan IV (36 minggu sampai lahir) : - Sama seperti perkunjungan II dan III. - Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi. - Mengenali tanda-tanda persalinan.

Daftar Pustaka http://www.scribd.com/doc/52455843/ANC

5.Anamnesis pasca lahir Infeksi Bayi Baru lahir, keadaan bayi yang tiba tiba memburuk. Bayi dengan pewarnaan kuning timbul dini. Perawatan tali pusat tidak bersih dan kering, infeksi tali pusat. Faktor pemicu kejang oleh suara bising atau prosedur perawatan. Waktu atau awitan kejang mungkin berhubungan dengan etiologi. Bentuk gerakan abnormal yang terjadi.

Daftar Pustaka Kosim Sholeh M, Yunanto Ari, Dewi Rizalya, Sarosa Irawan Gatot, Usman Ali : Buku Ajar Neonatologi, edisi pertama, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta 2010. Halaman 236-237.

6. Macam tes tuberkulin dan jelaskan Beberapa jenis-jenis tuberkulin diantaranya: PPD-S WHO menetapkan PPD-S yang berasal dari purified tuberculin sebagai standar internasional pada tahun 1951 PPD-RT23 Beredar sekitar tahun1958 dalam jumlah besar dengan tujuan menghindari perbedaan standar antar pabrik PPD-Weybridge Dipakai di Inggris, berwarna kuning pucat, kekuatannya bertahan minimal 8 tahun dengan konsentrasi 100.000 iu/ml PPD Avian Tuberkulin ini dibuat dari strain Mycobacterium avian, dengan konsentrasi 25.ooo iu/ml PPD yang lain Misalnya PPDs yang dibuat dari M.tuberculosa dari strain dan cara yang berbeda

Beberapa metode pemberian tuberkulin pada kulit : Menggores / cutaneous scratch (Von Pirquet)

Menempel / percutaneous patch (Moro) Aplikasi konjungtiva (Calmette) Multiple puncture (Tine yang menggunakan 4 jarum dan Heaf yang menggunakan 6 jarum) Intrakutan (Mantoux) Daftar Pustaka Crofton J, Norman Horne, Fred Miller. Tuberculin testing In: Clinical Tuberculosis. The McMillan Press.London.1992:187-92

7.Penjelasan tuberkulin dan interpretasinya Uji tuberkulin (tuberculin skin test/TST) merupakan alat diagnostik yang sampai saat ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi untuk mendiagnosis adanya infeksi tuberkulosis. Pertama kali Robert Koch membuat filtrat dari kultur Mycobacterium tuberculosis dengan tujuan sebagai terapi. Pada penerapannya, tenyata pemberian tuberkulin yang bertujuan menyembuhkan menimbulkan reaksi sistemik seperti demam, nyeri otot, mual dan muntah sedangkan mereka yang tidak sakit tidak menunjukkan reaksi tersebut. Akhirnya pada perkembangannya tuberkulin digunakan sebagai alat diagnostik dengan mengaplikasikannya secara lokal untuk mencegah reaksi sistemik. Metode pemberian tuberkulin pada kulit secara lokal yang pernah banyak dikerjakan: Menggores / cutaneous scratch (Von Pirquet) Menempel / percutaneous patch (Moro) Aplikasi konjungtiva (Calmette) Multiple puncture (Tine yang menggunakan 4 jarum dan Heaf yang menggunakan 6 jarum) Intrakutan (Mantoux) Uji tuberkulin cara Mantoux pada akhirnya lebih banyak digunakan secara luas oleh karena lebih reprodusibel. Pada tulisan ini yang akan dibahas secara detil adalah uji tuberkulin cara Mantoux atau lebih mudah disebut tes Mantoux atau uji Mantoux.

Jenis-jenis dan kekuatan tuberkulin: Tuberkulin pertama yang dibuat oleh Kch disebut dengan Old Tuberculin (OT). Kemudian tahun 1930-an Florence Seibert membuat presipitasi dari OT dengan asam trikloroasetat dan amonium sulfat serta menamakannya purified protein derivative (PPD) . PPD terdiri dari beberapa komponen antigenik dengan lebih sedikit karbohidrat

dibandingkan OT sehingga memperkecil reaksi hipersensitivitas yang non-spesifik. PPD inilah yang sekarang banyak digunakan. Berdasarkan potensinya, kekuatan tuberkulin terbagai menjadi 3 yaitu : first strength, intermediate strength dan second strength. Kekuatan yang mempunyai sensitivitas dan spesifisitas paling baik sehingga banyak dipakai adalah intermediate strength. Penggunaan first dan second strength dilakukan pada kondisi-kondisi tertentu. Strength First intermediate (standard dose) Second PPD S Seibert 1 TU 5-10 TU 250 TU PPD RT23 1 TU 2-5 TU 100 TU

Penemuan lain yang menyempurnakan penggunaan tuberkulin sebagai alat diagnostik adalah Tween, bahan detergen yang berguna untuk mencegah adsorbsi tuberkulin terhadap kaca atau syringe plastik. Prinsip Dasar Setelah seseorang terinfeksi kuman mycobacteria, sel limfosit T akan berproliferasi dan menjadi tersensitisasi. Sel T yang tersensitisasi masuk ke dalam aliran darah dan bersirkulasi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Proses sensitisasi ini terjadi pada kelenjar getah bening regional dan memerlukan waktu 2-12 minggu setelah infeksi. Sekali terinfeksi, maka sensitisasi terhadap tuberkulin akan menetap. Injeksi tuberkulin pada kulit akan menstimulasi sel-sel limfosit dan terjadi aktivasi rentetan kejadian yang termasuk dalam respon hipersensitivitas tipe lambat (delayed-type hypersensitivity/DTH). Respons ini dikatakan lambat oleh karena reaksi memerlukan waktu berjam-jam. Reaktivitas kulit mencakup vasodilatasi, edema, infiltrasi sel-sel limfosit, basofil, monosit dan netrofil ke lokasi suntikan. Antigen-spesific limfosit T akan berproliferasi dan melepaskan limfokin, yang akan mengundang akumulasi sel-sel alin ke lokasi suntikan. Terjadilah indurasi yang mencerminkan aktivitas DTH. Pada pasien yang sudah pernah terinfeksi, DTH muncul setelah 5-6 jam dan kebanyakan mencapai indurasi maksimal 48-72 jam.

Cara Melakukan Uji Tuberkulin Metode Mantoux (tes Mantoux) 1. Siapkan 0,1 ml PPD ke dalam disposable spuit ukuran 1 ml (3/8 inch 26-27 gauge) 2. Bersihkan permukaan lengan volar lengan bawah menggunakan alcohol pada daerah 23 inch di bawah lipatan siku dan biarkan mengering

3. Suntikkan PPD secara intrakutan dengan lubang jarum mengarah ke atas. Suntikan yang benar akan menghasilkan benjolan pucat, pori-pori tampak jelas seperti kulit jeruk, berdiameter 6-10 mm 4. Apabila penyuntikan tidak berhasil (terlalu dalam atau cairan terbuang keluar) ulangi suntikan pada tempat lain di permukaan volar dengan jarak minimal 4 cm dari suntikan pertama. 5. Jangan lupa mencatat lokasi suntikan yang berhasil tersebut pada rekam medis agar tidak tertukar saat pembacaan. Tidak perlu melingkari benjolan dengan pulpen/spidol karena dapat mengganggu hasil pembacaan. Catatan Perhatikan cara penyimpanan PPD sesuai petunjuk pada kemasan PPD aman bayi berapapun usianya bahkan aman pula bagi wanita hamil Tes Mantoux bukan merupakan kontra indikasi bagi: Pasien yang pernah diimunisasi BCG Pasien yang pernah dilakukan tes Mantoux sebelumnya dan hasilnya positif (dalam hal ini pengulangan diperlukan karena hasil tes Mantoux sebelumnya tidak tercatat dengan baik) Pasien sedang dalam kondisi demam, sakit, maupun pasien dengan imunokompromais Adanya parut yang besar pada bekas tes Mantoux sebelumnya merupakan petunjuk hasil positif pada tes terdahulu dan tidak perlu diulang. Namun perlu ditekankan bahwa tes Mantoux menggunakan PPD dan bukan vaksin BCG. Pembacaan 1. Hasil tes Mantoux dibaca dalam 48-72 jam, lebih diutamakan pada 72 jam Minta pasien control kembali jika indurasi muncul setelah pembacaan Reaksi positif yang muncul setelah 96 jam masih dianggap valid Bila pasien tidak control dalam 96 jam dan hasilnya negative maka tes Mantoux harus diulang. 2. Tentukan indurasi (bukan eritem) dengan cara palpasi 3. Ukur diameter transversal terhadap sumbu panjang lengan dan catat sebagai pengukuran tunggal 4. Catat hasil pengukuran dalam mm (misalnya 0 mm, 10 mm, 16 mm) serta catat pula tanggal pembacaan dan bubuhkan nama dan tandatangan pembaca 5. Apabila timbul gatal atau rasa tidak nyaman pada bekas suntikan dapat dilakukan kompres dingin atau pemberian steroid topikal

Catatan: Reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkulin yang munculnya cepat (immediate hypersensitivity reactions) dapat timbul segera setelah suntikan dan biasanya menghilang dalam 24 jam. Hal ini tidak mempunyai arti dan bukan menunjukkan hasil yang positif.

Interpretasi Tes Mantoux dinyatakan positif apabila diameter indurasi > 10 mm. Kemungkinan yang perlu dipikirkan pada anak dengan hasil tersebut: Terinfeksi tuberkulosis secara alamiah Infeksi TB mencakup infeksi TB laten, sakit TB aktif, atau pasca terapi TB. Pernah mendapat imunisasi BCG (pada anak dengan usia kurang dari 5 tahun) Pada pasien usia kurang dari 5 tahun dengan riwayat vaksinasi BCG kecurigaan ke arah infeksi alamiah TB bila hasil uji Mantoux > 15 mm. Infeksi mikobakterium atipik Meskipun demikian, hasil uji Mantoux > 5 mm dapat dipertimbangkan positif pada pasien tertentu seperti :

Pasien dengan infeksi HIV Pasien dengan transplantasi organ atau mendapat imunosupresan jangka panjang seperti pasien keganasan atau sindrom nefrotik False Negative Pasien-pasien tertentu yang terinfeksi tuberkulosis mungkin dapat menunjukkan hasil tes Mantoux yang negatif. Kondisi demikian disebut dengan anergi. Anergi kemungkinan terjadi pada pasien: Pasien dengan status malnutrisi berat Pasien dengan infeksi berat seperti campak, cacar air, pertusis, difteri, tifoid Pasien dengan status imunokompromasi atau pasien menggunakan imunosupresan jangka panjang seperti pasien HIV, keganasan, sindrom nefrotik dan lainnya Pasien dengan sakit TB berat seperti TB milier, meningitis TB Mengingat masa yang diperlukan untuk terbentuknya cellular mediated immunity sejak masuknya kuman TB adalah 2-12 minggu maka hasil negatif pada pasien dengan kontak erat penderita TB dewasa masih mungkin pasien sedang dalam masa inkubasi. Daftar Pustaka 1. Bass JB. The tuberculin skin test. Am Rev Respir Dis. 2. Martin P. Mantoux Testing. Guideline for tuberculosis control in New Zealand 2003. h.6-18. 3. Rieder HL. The potency of tuberculin PPD RT23. Int J Tuberc Lung Dis 2001;5:783-6. 4. Reichman LB, Andriote JM. Guidelines for the diagnosis of latent tuberculosis infection. Nationals Tuberculosis Centre, New Jersey, 1999. 5. Villar AF, Goris A, Otero M, Choucino N, Vazquez R, Munoz MJ, et al. Conservation of purified protein derivative RT-23 tuberculin. Arch Bronconeumol 2004;40:301-302.

8.Alasan BCG dilakukan di deltoid kanan PP IDAI menganjurkan pemberian secara intra dermal di daerah insersio otot deltoid kanan, sehingga bila terjadi limfadenitis di aksila lebih mudah terdeteksi. Daftar Pustaka http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6245/3/anak-nofareni.pdf.txt

9. Cara menilai kesadaran dan jelaskan Ada 2 macam cara penilaian :

1. Penilaian Kualitatif 2. Penilaian Kuantitatif Penilaian Kualitatif Compos mentis kesadaran penuh Apatis acuh tak acuh terhadap keadaan sekitarnya Somnolen kesadaran lebih rendah ditandai pasien tampak mengantuk, selalu ingin tidur, tidak responsif terhadap rangsangan ringan tetapi masih responsif terhadap rangsangan yang kuat Sopor tidak memberikan respon ringan maupun sedang, tetapi masih sedikit respon terhadap rangsangan yang kuat, refleks pupil terhadap cahaya masih positif Koma tidak dapat bereaksi terhadap stimulus apapun, refleks pupil tehadap cahaya tidak ada Delirium tingkat kesadaran paling rendah, disorientasi, kacau, dan salah persepsi terhadap rangsangan Penilaian Kuantitatif Diukur melalui GCS (Glasgow Coma Scale) 1. Membuka Mata/ Eye Movement (E) 2. Respon Verbal (V) 3. Respon Motorik (M) Membuka mata (E) Spontan Dengan diajak bicara Dengan rangsangan nyeri Tidak membuka Respon Verbal (V) Terdapat kesadaran dan orientasi Berbicara tanpa kacau Berkata tanpa arti Hanya mengerang Tidak ada suara Respon Motorik (M) Sesuai perintah Terhadap rangsangan nyeri 1. Timbul gerakan normal :5 :6 :5 :4 :3 :2 :1 :4 :3 :2 :1

2. Fleksi cepat dan abduksi bahu 3. Fleksi lengan dengan adduksi bahu 4. Ekstensi lengan, adduksi, endorotasi bahu, pronasi lengan bawah 5. Tidak ada gerakan Daftar Pustaka

:4 :3 :2 :1

Hidayat AA. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. 71-72. Jakarta ; Salemba Medika. 2008.

10. Bagaimana cara menghitung Indeks Massa Tubuh (body mass index/BMI) Definisi.BMI didefinisikan sebagai bobot badan dalam kilogram dibagi dengan luaspermukaan tubuh yang diukur dalam meter. Rumus BMI = BB (kg) / TB (m)

Berdasarkan National Institutes of Health (NIH), individu dengan BMI: Kurang dari 18,5 dianggap kekurangan bobot 18,5 hingga 24,9 dianggap memiliki bobot normal 25 hingga 29,9 dianggap kelebihan bobot badan 30 ke atas digolongkan sebagai gemuk dan 40 ke atas digolongkan sangat gemuk Daftar Pustaka Ansel, Howard C.kalkulasi farmasetik :panduan untuk apoteker/Howard C.Ansel,Shelly J.Prince ;alih bahasa , CucuAisyah, Ella Elviana;editor edisi bahasa Indonesia, Winni R.Syarief.Jakarta ;EGC,2006,hal 135

11. Kelumpuhan pada wajah disebut Bells Palsy Daftar Pustaka Behrman, Kliegman, & Arvin,Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Ed.15,Vol. 3;Editor edisi bahasa Indonesia:Prof.Dr.dr.A.Samik Wahab,Sp A(K).Jakarta;EGC,1996,hal 2143

12. Sinonim Fontanella anterior dan posterior Fonticulus anterior dan posterior

Fonticulus mayor dan minor Daftar Pustaka http://flexikon.doccheck.com/Fontanelle

13. pada pemeriksaan leher apa saja yang diperiksa Leher Untuk tujuan deskriptif, setiap sisi leher ini dibagi menjadi dua segitiga oleh otot (sternokleidomastoid) m. sternomastoideus. Segitiga anterior dibatasi di atas oleh mandibula, lateral oleh m. sternomastoideus, dan medial oleh garis tengah leher. Segitiga posterior membentang dari sternomastoid untuk trapezius dan dibatasi di bawah oleh klavikula. Sebagian dari otot omohyoid melintasi bagian bawah segitiga posterior dan bisa salah oleh yang belum tahu untuk kelenjar getah bening atau massa.

Mendalam kepada sternomastoids menjalankan pembuluh darah besar leher: arteri karotis dan vena jugularis interna. Vena jugularis eksternal melewati diagonal di atas permukaan m. sternomastoideus tersebut.

Sekarang mengidentifikasi struktur garis tengah sebagai berikut: (1) tulang hyoid ponsel tepat di bawah tulang rawan, mandibula (2) tiroid, mudah diidentifikasi dengan takik di tepi superior, (3) kartilago krikoid, (4) cincin trakea, dan (5) kelenjar tiroid.

Tanah genting dari kelenjar tiroid terletak di trakea bawah krikoid tersebut. Lobus lateral posterior kelenjar kurva di sekitar sisi trakea dan esofagus. Kecuali di garis tengah, kelenjar tiroid ditutupi oleh otot-otot straplike tipis, di antaranya hanya sternomastoids terlihat. Perempuan memiliki kelenjar teraba lebih besar dan lebih mudah daripada pria.

Kelenjar getah bening kepala dan leher telah diklasifikasikan dalam berbagai cara. Salah satu klasifikasi adalah ditampilkan di sini, bersama-sama dengan arah drainase limfatik. Rantai leher rahim yang mendalam sebagian besar dikaburkan oleh otot m. sternomastoideus atasnya, tetapi pada dua ekstrem node tonsil dan kelenjar supraklavikula dapat teraba. Submandibula node terletak superfisial ke kelenjar submandibular, dari mana mereka

harus dibedakan. Node biasanya bulat atau bulat telur, halus, dan lebih kecil dari kelenjar. Kelenjar lebih besar dan memiliki permukaan, lobulated sedikit tidak teratur.

Perhatikan bahwa tonsil, submandibula, dan node submental menguras bagian-bagian dari mulut dan tenggorokan serta wajah.

Pengetahuan tentang sistem limfatik adalah penting untuk kebiasaan klinis suara: setiap kali lesi ganas atau inflamasi yang diamati, mencari keterlibatan kelenjar getah bening regional yang mengalirkan itu, setiap kali sebuah node diperbesar atau tender, mencari sumber seperti infeksi di daerah yang saluran.

Periksa leher, mencatat simetri dan setiap massa atau bekas luka. Carilah pembesaran kelenjar parotis atau submandibula, dan perhatikan setiap kelenjar getah bening terlihat.

Limfe Nodes. Palpasi kelenjar getah bening. Menggunakan bantalan indeks Anda dan jari tengah, memindahkan kulit di atas jaringan di bawahnya di setiap daerah.

Pasien harus rileks, dengan leher tertekuk sedikit ke depan dan, jika diperlukan, sedikit ke arah sisi yang diperiksa. Anda biasanya dapat memeriksa kedua sisi sekaligus. Untuk node submental, bagaimanapun, akan sangat membantu untuk merasa dengan satu tangan sementara menyegarkan bagian atas kepala dengan lainnya.

Rasakan dalam urutan untuk node sebagai berikut: 1. Preauricular-di depan telinga

2. Auricularis posterior-dangkal untuk proses mastoid 3. Oksipital-di dasar tengkorak posterior 4. Tonsil-di sudut mandibula 5. Submandibular-tengah antara sudut dan ujung mandibula. Node ini biasanya lebih kecil dan halus daripada kelenjar submandibular lobulated terhadap yang mereka berbohong. 6. Submental-di garis tengah beberapa sentimeter di belakang ujung mandibula 7. Dangkal-dangkal serviks m. sternomastoideus yang 8. Posterior serviks-sepanjang tepi anterior dari trapezius 9. Dalam serviks rantai-dalam untuk m. sternomastoideus dan sering tidak dapat diakses untuk pemeriksaan. Kait ibu jari dan jari-jari di sekitar kedua sisi otot m. sternomastoideus untuk menemukan mereka. 10. Supraklavikula-jauh di sudut yang terbentuk oleh klavikula dan m. sternomastoideus yang

Catatan ukuran, bentuk, batas (diskrit atau kusut bersama-sama), mobilitas, konsistensi, dan kelembutan. Kecil, mobile, tidak nyeri tekan node diskrit,, kadang-kadang disebut "shotty," sering ditemukan pada orang normal.Menggunakan bantalan jari-jari 2 dan 3, palpasi kelenjar preauricular dengan gerakan berputar lembut. Kemudian memeriksa auricularis posterior dan kelenjar getah bening oksipital.

Palpasi rantai anterior cervical, terletak anterior dan dangkal untuk m. sternomastoideus tersebut. Lalu meraba rantai servikal posterior sepanjang trapezius (tepi anterior) dan di sepanjang (tepi posterior) m. sternomastoideus.Flex leher pasien sedikit ke depan ke sisi sedang diperiksa. Periksa node supraklavikula di sudut antara klavikula dan m. sternomastoideus tersebut.

Pembesaran kelenjar getah bening atau nyeri, jika tidak dapat dijelaskan, panggilan untuk (1) pengkajian ulang tentang daerah mereka menguras, dan (2) penilaian hati-hati kelenjar getah bening tempat lain sehingga Anda dapat membedakan antara limfadenopati regional dan umum.

Kadang-kadang Anda mungkin kesalahan sebuah band otot atau arteri untuk kelenjar getah bening. Anda harus mampu roll node dalam dua arah: atas dan bawah, dan sisi ke sisi. Baik otot maupun arteri akan melewati tes ini.

Para Trakea dan Thyroid Gland. Untuk mengorientasikan diri Anda untuk leher, mengidentifikasi dan kartilago tiroid dan trakea krikoid di bawah mereka.

-Periksa trakea untuk setiap penyimpangan dari posisi garis tengah yang biasa. Kemudian merasa untuk setiap penyimpangan. Tempatkan jari Anda di sepanjang satu sisi trakea dan perhatikan ruang antara itu dan m. sternomastoideus tersebut. Bandingkan dengan pihak lain. Ruang harus simetris.

-Periksa leher untuk kelenjar tiroid. Tip kepala pasien kembali sedikit.Menggunakan pencahayaan tangensial diarahkan ke bawah dari ujung dagu pasien, memeriksa daerah di bawah tulang rawan krikoid untuk kelenjar.Perbatasan, rendah bayangan setiap kelenjar tiroid ditampilkan di sini adalah digariskan oleh panah.

Minta pasien untuk menghirup air dan untuk memperpanjang leher lagi dan menelan. Perhatikan gerakan ke atas dari kelenjar tiroid, mencatat kontur dan simetri. Kartilago tiroid, tulang rawan krikoid, dan kelenjar tiroid semua bangkit dengan menelan dan kemudian jatuh ke posisi istirahat mereka.

Sampai Anda menjadi terbiasa dengan pemeriksaan ini, mengecek hasil pengamatan visual Anda dengan jari-jari Anda dari depan pasien. Ini akan mengarahkan Anda ke langkah berikutnya.

Anda sekarang siap untuk meraba kelenjar tiroid. Ini mungkin terlihat sulit pada awalnya. Gunakan isyarat dari inspeksi visual. Cari landmark Anda, mengadopsi teknik yang baik, dan ikuti langkah-langkah di halaman berikutnya, yang menguraikan pendekatan posterior (teknik pendekatan anterior yang serupa).Dengan pengalaman Anda akan menjadi lebih mahir. Kelenjar tiroid biasanya lebih mudah untuk merasa leher ramping panjang daripada dalam satu gempal pendek. Di leher lebih pendek, ditambah perluasan leher dapat membantu. Pada beberapa orang, bagaimanapun, kelenjar tiroid substernal sebagian atau seluruhnya dan tidak setuju untuk pemeriksaan fisik.

Para karotis Arteri dan Vena jugularis. Anda mungkin akan menunda pemeriksaan rinci dari kapal sampai pasien berbaring untuk pemeriksaan kardiovaskular. Distensi vena jugularis, bagaimanapun, mungkin akan terlihat dalam posisi duduk dan tidak boleh diabaikan. Anda juga harus waspada terhadap pulsasi arteri yang luar biasa menonjol. Lihat Bab 7 untuk diskusi lebih lanjut. Selain bayi, teknik untuk memeriksa leher adalah sama seperti untuk orang dewasa. Aspek penting dan agak unik Beberapa pemeriksaan pediatrik leher yang dijelaskan di bawah ini.

Palpasi kelenjar getah bening leher dan menilai keberadaan dari setiap massa tambahan seperti kista kongenital. Karena leher bayi yang pendek, yang terbaik adalah meraba leher sementara bayi berbaring telentang, sedangkan anak yang lebih tua adalah yang terbaik diperiksa sambil duduk. Periksa posisi tulang rawan tiroid dan trakea.

Limfadenopati tidak biasa selama masa bayi tetapi sangat umum selama masa kanak-kanak. Seperti ditunjukkan di halaman 656, sistem limfatik anak mencapai puncaknya pertumbuhan pada 12 tahun, dan kelenjar getah bening leher rahim atau tonsil mencapai ukuran puncaknya antara 8 dan 16 tahun. Sebagian besar pembesaran kelenjar getah bening pada anak-anak disebabkan oleh infeksi (terutama virus tetapi sering bakteri) dan tidak untuk penyakit ganas, meskipun yang terakhir ini merupakan keprihatinan bagi banyak orangtua. Hal ini penting untuk membedakan kelenjar getah bening normal dari yang normal atau dari kista bawaan leher.

Periksa mobilitas leher. Hal ini penting untuk memastikan bahwa leher semua bayi dan anakanak lentur dan mudah bergerak ke segala arah. Hal ini sangat penting ketika pasien memegang kepala secara asimetris, dan ketika pusat sistem saraf seperti penyakit meningitis dicurigai.

Pada bayi dan anak-anak, kehadiran kaku kuduk adalah indikator yang lebih dapat diandalkan dari tanda iritasi meningeal Brudzinski atau tanda Kernig itu.Untuk mendeteksi kaku kuduk pada anak yang lebih tua, mintalah anak untuk duduk dengan kaki diperpanjang pada meja periksa. Biasanya, anak-anak harus mampu duduk tegak dan menyentuh dagu ke dada mereka. Anak yang lebih muda dapat dibujuk untuk melenturkan leher mereka dengan meminta mereka mengikuti mainan kecil atau balok cahaya. Anda juga dapat menguji kaku kuduk dengan anak yang terbaring di meja pemeriksaan, seperti yang ditunjukkan pada halaman berikutnya.

Hampir semua anak dengan kaku kuduk akan sangat sakit, mudah tersinggung, dan sulit untuk memeriksa. Pada bayi baru lahir, meraba klavikula dan mencari bukti patah tulang. Jika ada, Anda mungkin merasa istirahat di kontur tulang, kelembutan, krepitus di lokasi fraktur, dan gerakan lengan terbatas pada sisi yang terkena.

Daftar Pustaka bickley, l. s., p. g. szilagyi, and j. g. stackhouse. bates' guide to physical examination & history taking, 8th edition. philadelphia: lippincott williams & wilkins, 2002.

14.Batas-batas faring Nasofaring : Atas : Basis kranii Bawah : Palatum mole Belakang : Vertebra servikalis Depan : Koanae Lateral : Ostium tubae Eustachius, torus tubarius, fossa Rosenmuller (resesus faring)\ Atap dan dinding belakang : adenoid atau tonsil faringeal Orofaring : Atas : Palatum mole Bawah : Tepi atas epiglotis Belakang : Vertebra servikalis Depan : ismus fausium Lateral : m.konstriktur faring superior Laringofaring: Atas : Tepi atas epiglotis Bawah : introitus esofagus Belakang : Vertebra servikalis Depan : laring Daftar Pustaka Herawati sri, sri rukmini, Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok,EGC,Jakarta,2004,hal 14-15

15.Cara menghitung leukosit Menghitung Leukosit Darah diencerkan dalam pipet leukosit, kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung. jumlah leukosit dihitung dengan volume tertentu ; dengan mengenakan faktor konversi jumlah leukosit per ul darah dapat diperhitungkan. larutan TURK digunakan sebagai larutan pengencer, dengan komposisi : larutan gentianviolet 1% dalam air 1 ml, asam asetat glasial 1 ml, aquadest ad 100 ml. saringlah sebelum dipakai.

Cara :

Mengisi pipet Leukosit

1. Isaplah darah kapiler (kapiler, EDTA, atau oxalat) sampai pada garis tanda 0,5 tepat. 2. Hapus kelebihan darah yang melekat pada ujung pipet 3. Masukkan ujung pipet kedalam larutan TURK sambil mempertahankan darah tetap pada garis tan tadi. pipet dipegang dengan sudut 45 derajat dan larutan TURK dihisap perlahan-lahan sampai garis tanda 11 tepat. Hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara. 4. Angkatlah pipet dari cairan; tutup ujung pipet dengan ujung jari kemudian lepaskan karet penghisap. 5. Kocoklah pipet tadi selama 15-30 detik. jika tidak segera akan dihitung letakkan pipet dalam posisi horizontal.

Mengisi kamar hitung

1. Letakkan kamar hitung yang telah benar-benar bersih dengan kaca penutup yang terpasang mendatar di atas meja. 2. Kocoklah pipet yang berisi tadi selama 3 menit terus menerus (jangan samapai ada cairan yang terbuang dari pipet saat mengocok) 3. Buang semua cairan yang ada pada batang kapiler pipet (3 4 tetes) dan kemudian sentuhkan ujung pipet (sudut 30 derajat) dengan menyinggung pinggir kaca penutup pada kamar hitung. Biarkan kamar hitung tersebut terisi cairan perlahan-lahan dengan gaya kapilaritasnya sendiri. 4. Biarkan kamar hitung yang sudah terisi tersebut selama 2-3 menit agar leukkosit-leukosit mengendap. jika tidak akan dihitung segera, simpan kamar hitung tersebut dalam cawan peti tertutup yang berisi kapas basah.

Cara menghitung sel

1. Pakailah lensa objektif kecil (pembesaran 10x). turunkan lensa kondensor atau kecilkan diafragma mikroskop. meja mikroskop harus datar, 2. Kamar hitung dengan bidang bergaris diletakkan di bawah objektif dan fokus mikroskop diarahkan pada garis-garis bagi tersebut. Dengan sendirinya leukosit-leukosit akan jelas terlihat. 3. Hitunglah semua leukosit yang terdapat dalam keempat bidang besar pada sudut-sudut seluruh permukaan yang dibagi. 4. Mulailah menghitung dari sudut kiri atas, terus ke kanan, kemudian turun ke bawah dan dari kanan ke kiri dan seterusnya. Kadang ada sel yang menyinggung garis suatu bidang,

sel-sel yang menyinggung garis batas sebelah kiri atau garis atas haruslah di hitung. Sebaliknya sel-sel yang menyinggung garis sebelah kanan dan bawah tidak boleh dihitung.

Perhitungan Pengenceran yang dilakukan pada pipet adalah 20 kali. Jumlah semua sel yang dihitung dalam keempat bidang itu dibagi 4 menunjukkan jumlah leukosit dalam 0,1 ul. Kalikan angka tersebut dengan 10 (untuk tinggi) dan 20 (untuk pengenceran) untuk mendapatkan jumlah leukosit dalam 1 ul darah. Singkatnya : Jumlah sel yang terhitung dikali 50 = jumlah leukosit per ul darah. Catatan : Pengenceran yang lazim digunakan untuk menghitung leukosit adalah 20 kali, tetapi menurut keadaan (leukositosis tinggi atau leukopenia) pengenceran dapat diubah sesuai keadaan tersebut, lebih tinggi pada leukositosis dan lebih rendah pada leukopenia. Sedian darah dengan oxalat yang tidak segera dipakai ada kemungkinan terjadi penggumpalan leukosit. Jika darah tepi banyak mengandung sel darah merah berinti maka sel tersebut akan diperhitungkan seperti leukosit, untuk koreksi dapat dilakukan pemeriksaan sedian hapus yang dipakai untuk hitung jenis leukosit, persentase sel darah merah berinti di catat. misalnya ; didapatkan 10.000 leukosit per ul darah dan dari hitung jenis didapatkan tiap 100 leukosit ada 25 sel darah merah berinti, maka jumlah leukosit yang sebenarnya adalah :

Daftar Pustaka Gandasoebrata R, Penuntun Laboratorium Klinik,Dian Rakyat ,Jakarta,2004,hal 15-17

16. Cara Menghitung Eritrosit Seperti hitung lekosit, untuk menghitung jumlah sel-sel eritrosit ada dua metode, yaitu manual dan elektronik (automatik). Metode manual hampir sama dengan hitung lekosit, yaitu menggunakan bilik hitung. Namun, hitung eritrosit lebih sukar daripada hitung lekosit. Orang yang telah berpengalaman saja memiliki kesalahan yang cukup besar dalam menghitung eritrosit (rata-rata sekitar 20%), apalagi orang yang belum berpengalaman atau kerjanya kurang teliti. Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan yang isotonis untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis. Larutan Pengencer yang biasa digunakan adalah :

Larutan Hayem : Natrium sulfat 2.5 g, Natrium klorid 0.5 g, Merkuri klorid 0.25 g, aquadest 100 ml. Pada keadaan hiperglobulinemia, larutan ini tidak dapat dipergunakan karena dapat menyebabkan precipitasi protein, rouleaux, aglutinasi.

Larutan Gower : Natrium sulfat 12.5 g, Asam asetat glasial 33.3 ml, aquadest 200 ml. Larutan ini mencegah aglutinasi dan rouleaux.

Natrium klorid 0.85 % Bahan pemeriksaan yang dipergunakan adalah darah kapiler, darah EDTA, darah heparin, atau darah amonium-kalium oksalat. Prosedur Darah diencerkan 100 x atau 200 x menggunakan pipet eritrosit atau tabung, kocok selama 3 menit supaya homogen. Larutan sampel kemudian dimasukkan/diteteskan ke dalam bilik hitung. Sel-sel eritrosit dihitung di bawah mikroskop dengan perbesaran sedang (40x). Cara menghitung sel eritrosit adalah : Letakkan bilik hitung di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah (10x). Cari kotak penghitungan yang berada di tengah. Kotak tersebut terbagi dalam 25 kotak kecil dan setiap kotak kecil terbagi menjadi menjadi 16 kotak kecil-kecil. Sel eritrosit dihitung dalam 5 kotak kecil, yaitu 4 kotak di sudut dan 1 kotak lagi di tengah. Jumlah eritrosit dihitung dengan rumus : Hitung eritrosit = (N / V ) x Pengenceran = (N / [5 x 0.2 x 0.2 x 0.1 ] ) x 200 = ( N / 0.02 ) x 200 = N x 10.000 dimana : N=jumlah sel eritrosit yang dihitung, V=volume bilik hitung Nilai Rujukan

Dewasa pria : 4.50 - 6.50 (x10^6/mmk) Dewasa wanita : 3.80 - 4.80 (x10^6/mmk) Bayi baru lahir : 4.30 - 6.30 (x10^6/mmk) Anak usia 1-3 tahun : 3.60 - 5.20 (x10^6/mmkl) Anak usia 4-5 tahun : 3.70 - 5.70 (x10^6/mmk) Anak usia 6-10 tahun : 3.80 - 5.80 (x10^6/mmk)

Masalah Klinis

Penurunan nilai : kehilangan darah (perdarahan), anemia, leukemia, infeksi kronis, mieloma multipel, cairan per intra vena berlebih, gagal ginjal kronis, kehamilan, hidrasi berlebihan

Peningkatan nilai : polisitemia vera, hemokonsentrasi/dehidrasi, dataran tinggi, penyakit kardiovaskuler

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan hasil laboratorium :

Pengambilan sampel darah di daerah lengan yang terpasang jalur intra-vena menyebabkan hitung eritrosit rendah akibat hemodilusi

Pengenceran tidak tepat Larutan pengencer tercemar darah atau lainnya Alat yang dipergunakan seperti pipet, bilik hitung dan kaca penutupnya kotor dan basah

Penghitungan mikroskopik menggunakan perbesaran lemah (10x) Daftar Pustaka

Gandasoebrata R, Penuntun Laboratorium Klinik,Dian Rakyat ,Jakarta,2004,hal 19-21

17. Pendekatan Diagnostik Anemia Pendekatan diagnostic untuk penderita anemia yaitu berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya. 1. Anamnesis Pada anamnesis ditanya mengenai riwayat penyakit sekarang dan riwayat penyakit dahulu, riwayat gizi, anamnesis mengenai lingkungan fisik sekitar, apakah ada paparan terhadap bahan kimia atau fisik serta riwayat pemakaian obat. Riwayat penyakit keluarga juaga ditanya untuk mengetahui apakah ada faktor keturunan 2. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan dilakukan secara sistematik dan menyeluruh

Perhatian khusus diberikan pada a. Warna kulit : pucat, sianosis, ikterus, kulit telapak tangan kuning seperti jerami b. Kuku : koilonychias (kuku sendok) c. Mata : ikterus, konjugtiva pucat, perubahan pada fundus d. Mulut : ulserasi, hipertrofi gusi, atrofi papil lidah e. Limfadenopati, hepatomegali, splenomegali

3. Pemeriksaan laboratorium hematology a. Tes penyaring 1. Kadar hemoglobin 2. Indeks eritrosit (MCV,MCH, dan MCHC) 3. Hapusan darah tepi b. Pemeriksaan rutin 1. Laju endap darah 2. Hitung deferensial 3. Hitung retikulosit

c. Pemeriksaan sumsum tulang d. Pemeriksaan atas indikasi khusus 1. Anemia defesiensi besi : serum iron, TIBC, saturasi transferin 2. Anemia megaloblastik : asam folat darah/eritrosit, vitamin B12 3. Anemia hemolitik : tes Coomb, elektroforesis Hb 4. Leukemia akut : pemeriksaan sitokimia 5. Diatesa hemoragik : tes faal hemostasis 4. Pemeriksaan laboratorium non hematologi Pemeriksaan faal ginjal, hati, endokrin, asam urat, kultur bakteri 5. Pemeriksaan penunjang lainnya USG Daftar Pustaka http://asromedika.blogspot.com/2011/07/pendekatan-diagnostic-untuk-penderita.html

18. Apa yang harus dievaluasi saat lumbal pungsi Keadaan normal dan beberapa kelainan cairan serebrospinal dapat diketahui dengan memperhatikan: a. Warna Normal cairan serebrospinal warnamya jernih dan patologis bila berwarna: kuning, santokhrom, cucian daging, purulenta atau keruh. Warna kuning muncul dari protein. Peningkatan protein yang penting danbermakna dalam perubahan warna adalah bila lebih dari 1 g/L. Cairan serebrospinal berwarna pink berasal dari darah dengan jumlah sel darah merah lebih dari 500 sdm/cm3. Sel darah merah yang utuh akan memberikan warna merah segar. Eritrosit akan lisis dalam satu jam danakan memberikan warna cucian daging di dalam cairan

serebrospinal. Cairan serebrospinal tampak purulenta bila jumlah leukosit lebih dari 1000 sel/ml. b. Tekanan Tekanan CSS diatur oleh hasil kali dari kecepatan pembentukan cairan dan tahanan terhadap absorpsi melalui villi arakhnoid. Bila salah satu dari keduanya naik, maka tekanan naik, bila salah satu dari keduanya turun, maka tekanannya turun. Tekanan CSS tergantung pada posisi, bila posisi berbaring maka tekanan normal cairan serebrospinal antara 8-20 cm H2O pada daerahh lumbal, siterna magna dan ventrikel, sedangkan jika penderita duduk tekanan cairan serebrospinal akan meningkat 10-30 cm H2O. Kalau tidak ada sumbatan pada ruang subarakhnoid, maka perubahan tekanan hidrostastik akan ditransmisikan melalui ruang serebrospinalis. Pada pengukuran dengan manometer, normal tekanan akan sedikit naik pada perubahan nadi dan respirasi, juga akan berubah pada penekanan abdomen dan waktu batuk. Bila terdapat penyumbatan pada subarakhnoid, dapat dilakukan pemeriksaan Queckenstedt yaitu dengan penekanan pada kedua vena jugularis. Pada keadaan normal penekanan vena jugularis akan meninggikan tekanan 10-20 cm H2O dan tekanan kembali ke asal dalam waktu 10 detik. Bila ada penyumbatan, tak terlihat atau sedikit sekali peninggian tekanan. Karena keadaan rongga kranium kaku, tekanan intrakranial juga dapat meningkat, yang bisa disebabkan oleh karena peningkatan volume dalam ruang kranial, peningkatan cairan serebrospinal atau penurunan absorbsi, adanya masa intrakranial dan oedema serebri. Kegagalan sirkulasi normal CSS dapat menyebabkan pelebaran ven dan hidrocephalus. Keadaan ini sering dibagi menjadi hidrosefalus komunikans dan hidrosefalus obstruktif. Pada hidrosefalus komunikans terjadi gangguan reabsorpsi CSS, dimana sirkulasi CSS dari ventrikel ke ruang subarakhnoid tidak terganggu. Kelainan ini bisa disebabkan oleh adanya infeksi, perdarahan subarakhnoid, trombosis sinus sagitalis superior, keadaan-keadaan dimana viscositas CSS meningkat danproduksi CSS yang meningkat. Hidrosefalus obstruktif terjadi akibat adanya ganguan aliran CSS dalam sistim ventrikel atau pada jalan keluar ke ruang subarakhnoid. Kelainan ini dapat disebabkan stenosis aquaduktus serebri, atau penekanan suatu msa terhadap foramen Luschka for Magendi ventrikel IV, aq. Sylvi dan for. Monroe. Kelainan tersebut bis aberupa kelainan bawaan atau didapat. c. Jumlah sel Jumlah sel leukosit normal tertinggi 4-5 sel/mm3, dan mungkin hanya terdapat 1 sel polymorphonuklear saja, Sel leukosit junlahnya akan meningkat pada proses inflamasi. Perhitungan jumlah sel harus sesegera mungkin dilakukan, jangan lebih dari 30 menit setelah dilakukan lumbal punksi. Bila tertunda maka sel akan mengalami lisis, pengendapan dan

terbentuk fibrin. Keadaaan ini akan merubah jumlah sel secara bermakna. Leukositosis ringan antara 5-20 sel/mm3 adalah abnormal tetapi tidak spesifik. Pada meningitis bakterial akut akan cenderung memberikan respon perubahan sel yang lebih besar terhadap peradangan dibanding dengan yang meningitis aseptik. Pada meningitis bakterial biasanya jumlah sel lebih dari 1000 sel/mm3, sedang pada meningitis aseptik jarang jumlah selnya tinggi. Jika jumlah sel meningkat secara berlebihan (5000-10000 sel /mm3), kemungkinan telah terjadi rupture dari abses serebri atau perimeningeal perlu dipertimbangkan. Perbedaan jumlah sel memberikan petunjuk ke arah penyebab peradangan. Monositosis tampak pada inflamasi kronik oleh L. monocytogenes. Eosinophil relatif jarang ditemukan dan akan tampak pada infeksi cacing dan penyakit parasit lainnya termasuk Cysticercosis, juga meningitis tuberculosis, neurosiphilis, lympoma susunan saraf pusat, reaksi tubuh terhadap benda asing. d. Glukosa Normal kadar glukosa berkisar 45-80 mg%. Kadar glukosa cairan serebrospinal sangat bervariasi di dalam susunan saraf pusat, kadarnya makin menurun dari mulai tempat pembuatannya di ventrikel, sisterna dan ruang subarakhnoid lumbar. Rasio normal kadar glukosa cairan serebrospinal lumbal dibandingkan kadar glukosa serum adalah >0,6. Perpindahan glukosa dari darah ke cairan serebrospinal secara difusi difasilitasi transportasi membran. Bila kadar glukosa cairan serebrospinalis rendah, hipoglikemia, rasio kadar pada keadaan

glukosa cairan serebrospinalis, glukosa serum tetap

terpelihara. Hypoglicorrhacia menunjukkan penurunan rasio kadar glukosa cairan serebrospinal, glukosa serum, keadaan ini ditemukan pada derjat yang bervariasi, dan paling umum pada proses inflamasi bakteri akut, tuberkulosis, jamur dan meningitis oleh carcinoma. Penurunan kadar glukosa ringan sering juga ditemukan pada meningitis sarcoidosis, infeksi parasit misalnya, cysticercosis dan trichinosis atau meningitis zat khemikal. Inflamasi pembuluh darah semacam lupus serebral atau meningitis rhematoid mungkin juga ditemukan kadar glukosa cairan serebrospinal yang rendah. Meningitis viral, mump, limphostic khoriomeningitis atau herpes simplek dapat menurunkan kadar glukosa ringan sampai sedang. e. Protein Kadar protein normal cairan serebrospinal pada ventrikel adalah 5-15 mg%. pada sisterna 1025 mg% dan pada daerah lumbal adalah 15-45 ,g%. Kadar gamma globulin normal 5-15 mg% dari total protein. Kadar protein lebih dari 150 mg% akan menyebabkan cairan serebrospinal berwarna xantokrom, pada peningkatan kadar protein yang ekstrim lebih dari

1,5 gr% akan menyebabkan pada permukaan tampak sarang laba-laba (pellicle) atau bekuan yang menunjukkan tingginya kadar fibrinogen. Kadar protein cairan serebrospinal akan meningkat oleh karena hilangnya sawar darah otak (blood barin barrier), reabsorbsi yang lambat atau peningkatan sintesis immunoglobulin lokal. Sawar darah otak hilang biasanya terjadi pada keadaan peradangan,iskemia bakterial trauma atau neovaskularisasi tumor, reabsorsi yang lambat dapat terjadi pada situasi yang berhubungan dengan tingginya kadar protein cairan serebrospinal, misalnya pada meningitis atau perdarahan subarakhnoid. Peningkatan kadar immunoglobulin cairan serebrospinal ditemukan pada multiple sklerosis, acut inflamatory polyradikulopati, juga ditemukan pada tumor intra kranial dan penyakit infeksi susunan saraf pusat lainnya, termasuk ensefalitis, meningitis, neurosipilis, arakhnoiditis dan SSPE (sub acut sclerosing panensefalitis). Perubahan kadar protein di cairan serebrospinal bersifat umum tapi bermakna sedikit, bila dinilai sendirian akan memberikan sedikit nilai diagnostik pada infeksi susunan saraf pusat. f. Elektrolit Kadar elektrolit normal CSS adalah Na 141-150 mEq/L, K 2,2-3,3 mRq, Cl 120-130 mEq/L, Mg 2,7 mEq/L. Kadar elektrolit ini dalam cairan serebrospinal tidak menunjukkan perubahan pada kelainan neurologis, hanya terdapat penurunan kadar Cl pada meningitis tapi tidak spesifik. g. Osmolaritas Terdapat osmolaritas yang sama antara CSS dan darah (299 mosmol/L0. Bila terdapat perubahan osmolaritas darah akan diikuti perubahan osmolaritas CSS. h. PH Keseimbangan asam bas harus dipertimbangkan pada metabolik asidosis danmetabolik alkalosis. PH cairan serebrospinal lebih rendah dari PH darah, sedangkan PCO2 lebih tinggi pada cairan serebrospinal. Kadar HCO3 adalah sama (23 mEg/L). PH CSS relatif tidak berubah bila metabolik asidosis terjadi secara subakut atau kronik, dan akan berubah bila metabolik asidosis atau alkalosis terjadi secara cepat. Daftar Pustaka http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=1&ved=0CBgQFjAA&url=http%3A%2 F%2Frepository.usu.ac.id%2Fbitstream%2F123456789%2F1989%2F1%2Fbedahiskandar%2520japardi5.pdf&rct=j&q=penilaian%20lumbal%20pungsi&ei=z655Tum3BsWV iQfK_4Eo&usg=AFQjCNEwS0rQtiRGWCoLmUyLN8kApOkK0w&cad=rja

19.Efek samping metamizole dan cara kerjanya Efek samping Efek samping yang utama dari metamizole adalah reaksi anafilaksis. Yang paling berat yaitu syok dan diskrasia darah (agranulositosis, lekopenia, trombositopenia) kedua reaksi ini jarang terjadi akan tetapi dapat mengancam jiwa. Tanda-tanda akan terjadinya serangan syok, sering terjadi selama penyuntikan : berkeringat dingin, pusing, stupor, mual, terjadi perubahan pada warna kulit, kesulitan bernafas. Sebagai gejala tambahan dapat terjadi bengkak pada wajah, gatal-gatal, peningkatan detak jantung, sensitisasi rasa dingin di sekitar tangan dan kaki, gejala ini dapat terjadi setelah 1 hari pemakaian. Serangan asma dapat terjadi pada pasien yang mempunyai riwayat asma sebelumnya. Efek samping yang lain yaitu reaksi hipersensitif pada kulit dapat berupa : urtikaria, dan yang terberat adalah sindroma Steven Johnson atau sindroma Lyell's. Daftar Pustaka http://www.meprofarm.com/index.php?news_id=25&start=5&category_id=&parent_id=0&a rcyear=&arcmonth=

Cara kerja Metamizole Na adalah turunan methanesulphonate dari aminopyrine dengan aktivitas analgesik. Mekanisme kerja adalah pusat dan perifer menghambat transmisi nyeri. Na Metamizole bertindak sebagai analgesik. Hal ini diserap dari saluran pencernaan, dengan setengah-hidup 1-4 jam. Daftar Pustaka http://www.farmasiku.com/index.php?target=categories&category_id=170

20. Pencegahan anemia defisiensi fe dan strateginya Berikut protokolnya : I. Bayi yang lahir cukup bulan dan sehat, mempunyai kecukupan zat besi di dalm tubuhnya sampai 4 bulan. Namun karena air susu ibu (ASI) mengandung zatbesi dalam jumlah sedikit, bayi asi eksklusif sebaiknya diberikan suplemen zat besi 1 mg/kg BB yang dimulai sejak bayi berusia 4 bulan hingga makanan yang cukup kandungan zat besinya dapat diberikan. Untuk bayi yang mendapatkan ASI dan susu formula, dan belum bisa diberikan makanan yang cukup kandungan zat besinya sebaiknya juga mendapatkan suplemen zat besi 1 mg/kg BB setiap hari.

II.

Bayi yang mendapat susu formula, kebutuhan zat besi selama 12 bulan pertama dapat dicukupi dari susu formula standar (yang kandunganza besinya 10-12 mg/L) dan pemberian makanan tambahan yang mengandung zat besi setelah usia 4-6 bulan, termasuk sereal yang difortifikasi zat besi. Whole milk (susu UHT ,pasteurisasi) sebaiknya tidak diberika sebelum bayi berusia 12 bulan.

III.

Kebutuhan zat besi pada bayi usia 6-12 bulan adalah 11 mg/hari. Bayi yang suadah diberikan makana tambahan sebaiknya diberikan daging (red meat) dan sayuran yang tinggi zat besi lebih awal. Untuk meningkatkan asupan zat besi, suplemen besi dapat diberikan apabila kebutuhan zat besi tidak dapat dipenuhi dari susu formula atau makanan tambahan.

IV.

Asupan zat besi pada anak usia 1 sampai 3 tahun sebaiknya 7 mg/hari. Kebutuhan tersebut sebaiknya dipenuhi dari daging, sereal yang difotifikasi zat besi, sayuran yang mengandung zat besi, dan buah yang mengandung vitamin C untuk meningkatkan penyerapan besi. Untuk anak yang asupan zat besinya dinilai kurang, suplemen besi dapat diberikan

V.

Bayi yang lahir prematur memerlukan zat besi setidaknya 2 mg/kg BB per hari hingga usia 12 bulan. Kebutuhan zat besi tersebut dapat dipenuhi dari susu formula yang difortifikasi zat besi. Bayi prematur yang mendapatkan ASI sebaiknya mendapatkan suplemen besi 2 mg/kg BB hingga usia 1 bulan, dan dilanjutkan hingga bayi mendapatkan susu formula yang difortifikasi besi atau makanan tambahan yang dapat memenuhi kebutuha besi 2mg/kg BB. Bagi bayi yang mendapatkan transfusi darah tidak memerlukan suplemen besi.

VI.

Skrining anemia sebaiknya dilakukan pada usia 12 bulan dengan pemeriksaan hemoglobin(Hb) dan penilaian resiko defisiensi besi atau anemia defisiensi besi.

VII.

Jika kadar Hb kurang dari 11 mg/dl pada usia 12 bulan, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untukmengetahui panyebab anemia. Jika terdapat resiko anemia defisiensi besi, maka diperlukan pemeriksaan yang sesuai untuk diagnosis defisiensi besi. Adapun pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai defisiensi besi adalah serum ferritin dan CRP. Daftar Pustaka

Baker Robert D, and the Committee on Nutrition. Clinical Report Diagnosis and Prevention of Iron Deficiency and Iron-Deficiency Anemia in Infant and Young Children (0-3 Years of Age).

21.Strategi pencegahan anemia Secara Umum cara pencegahan anemia sebagai berikut 1. Makanlah makanan yang anyak mengandung zat besi, seperti sayuran berwarna hijau, tahu, daging merah, kacang-kacangan, dan sereal atau roti yang sudah ditambahkan zat besi. 2. Konsumsilah makanan atau minuman yang banyak mengandung vitamin C. 3. Hindari minum kopi atau the saat makan, karena dapat menggangu penyerapan zat besi dalam usus. 4. Tambahkan suplemen vitamin B12 dan asam folat bila perlu. Daftar Pustaka http://www.tipskesehatankeluarga.com/tips-mencegah-penyakit-anemia.html

22. Bagaimana cara pemeriksaan Defisiensi Fe Anemia sering pertama kali ditunjukkan oleh tes darah rutin, yang umumnya termasuk hitung darah lengkap (CBC) yang dilakukan oleh instrumen yang memberikan output sebagai serangkaian nomor indeks. Sebuah cukup rendah hemoglobin (Hb) dengan definisi membuat diagnosis anemia, dan rendah hematokrit nilai (HCT) juga karakteristik dari anemia.Penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk menentukan penyebab anemia itu. Jika anemia disebabkan kekurangan zat besi, salah satu nilai normal pertama dicatat pada CBC, seperti toko besi tubuh mulai habis, akan menjadi tinggi sel darah merah distribusi lebar (Hasil tes), mencerminkan variabilitas meningkat dalam ukuran sel darah merah (sel darah merah).Dalam perjalanan perlahan-lahan habis status zat besi, sebuah peningkatan Hasil tes ini biasanya muncul bahkan sebelum anemia muncul. Sebuah rendah volume korpuskular berarti (disingkat MCV) sering muncul di samping selama deplesi besi tubuh. Ini adalah hasil dari banyak sel darah merah yang abnormal kecil.Sebuah MCV rendah, rendah hemoglobin corpuscular rata-rata (KIA) dan / atau ratarata konsentrasi hemoglobin corpuscular (MCHC), dan munculnya sel darah merah pada pemeriksaan visual dari sebuah hapusan darah perifer menyempit ke masalah anemia mikrositik (harfiah, "kecil sel darah merah "anemia). Nilai numerik untuk menghitung darah merah, hemoglobin darah, MCV, MCH, MCHC semua dihitung oleh peralatan laboratorium modern. Pap darah pasien dengan defisiensi besi menunjukkan banyak hipokromik (pucat dan relatif tidak berwarna) dan sel darah merah agak kecil, dan juga dapat menunjukkan poikilocytosis(variasi dalam bentuk) dan anisocytosis (variasi dalam ukuran). Dengan anemia defisiensi zat besi lebih parah hapusan darah perifer dapat

menunjukkan sel target, pensil berbentuk hipokromik sel, dan nomor sesekali kecil bernukleus sel darah merah. [8] Sangat umum, jumlah trombosit sedikit di atas batas normal tinggi zat besi anemia defisiensi (ini adalah ringantrombositosis ). Ini efek yang klasik dipostulatkan akan ke tinggi eritropoietin tingkat dalam tubuh sebagai akibat dari anemia, cross-bereaksi untuk mengaktifkan thrombopoietin reseptor pada sel-sel prekursor yang membuat trombosit, namun, efek mekanistik telah mencari dan tidak dikuatkan. Seperti jumlah trombosit sedikit meningkat ini tidak berbahaya, namun tetap berharga sebagai indikator bahkan jika asal mekanistik mereka belum diketahui. Diagnosis anemia defisiensi besi akan disarankan oleh sejarah yang sesuai (misalnya, anemia pada wanita menstruasi atau seorang atlet terlibat dalam jarak jauh berjalan), adanyadarah yang tersembunyi (yaitu, darah yang tersembunyi) dalam tinja, dan sering oleh sejarah lainnya . Sebagai contoh, diketahui penyakit celiac dapat menyebabkan malabsorpsi zat besi. Sebuah riwayat perjalanan ke daerah-daerah di mana cacing tambang dan cacing cambuk adalah endemik, mungkin dapat membantu dalam memandu tes tinja tertentu untuk parasit atau telurnya. Toko tubuh kekurangan zat besi didiagnosis dengan tes diagnostik sebagai serum rendah feritin , rendah serum besi tingkat, sebuah serum transferin dan tinggi kapasitas pengikatan besi total (TIBC). Sebuah rendah serum ferritin adalah yang paling sensitif tes laboratorium untuk anemia defisiensi zat besi, feritin serum namun dapat ditinggikan oleh semua jenis peradangan kronis, sehingga tidak selalu dapat diandalkan tes status zat besi jika dalam batas normal (yaitu, tes ini bermakna jika abnormal rendah, tapi kurang bermakna jika normal). Kadar zat besi serum (yaitu, besi bukan bagian dari hemoglobin dalam sel darah merah) dapat diukur secara langsung dalam darah, tetapi meningkatkan kadar segera dengan supplmentation besi (pasien harus berhenti suplemen untuk 24 jam), dan darah murni konsentrasi serum besi di setiap kasus tidak sensitif sebagai kombinasi dari besi serum total, bersama dengan ukuran-mengikat besi serum protein (total iron binding capacity atau TIBC). Rasio besi serum untuk TIBC (disebut besi kejenuhan atau saturasi transferin index atau persen) adalah yang paling spesifik indikator kekurangan zat besi, bila cukup rendah. Saturasi zat besi (atau saturasi transferin) <5% hampir selalu menunjukkan kekurangan zat besi, sementara tingkat dari 5% sampai 10% membuat diagnosis defisiensi besi mungkin, tetapi tidak definitif. Saturasi lebih dari 12% (dilakukan sendiri) membuat diagnosis tidak mungkin.Saturasi normal biasanya sedikit lebih tinggi bagi perempuan (>

12%) daripada laki-laki (> 15%), tetapi ini hanya dapat menunjukkan status yang sedikit besi yang buruk untuk perempuan dalam populasi "normal". Perubahan nilai-nilai laboratorium pada anemia defisiensi besi Ubah Mengurangi Meningkatkan Parameter feritin, hemoglobin, MCV TIBC, transferin, Hasil tes

Kekurangan zat besi anemia dan thalassemia minor hadir dengan banyak hasil laboratorium yang sama. Hal ini sangat penting untuk tidak memperlakukan pasien dengan talasemia dengan suplemen zat besi karena hal ini dapat menyebabkan hemochromatosis (akumulasi besi dalam berbagai organ terutama hati). Sebuah elektroforesis hemoglobin akan memberikan bukti yang berguna dalam membedakan dua kondisi ini, bersama dengan studi besi. Standar emas Secara tradisional, diagnosis definitif memerlukan demonstrasi toko habis besi tubuh dengan melakukan aspirasi sumsum tulang , dengan sumsum patri untuk besi. Karena ini invasif dan menyakitkan, sementara percobaan klinis suplementasi besi murah dan nontraumatik, pasien sering diperlakukan berdasarkan riwayat klinis dan tingkat feritin serum tanpa biopsi sumsum tulang. Selain itu, sebuah penelitian yang diterbitkan April 2009 pertanyaan nilai sumsum tulang besi stainable berikut terapi besi parenteral. Daftar Pustaka http://translate.google.com/translate?hl=en&sl=en&tl=id&u=http%3A%2F%2Fen.wikipedia. org%2Fwiki%2FIron_deficiency_anemia