0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
793 tayangan4 halaman

Khitobah Drama

1. Syekh Subakir dikirim oleh Sultan Al Fatih untuk menyebarkan agama Islam di Jawa dan berhadapan dengan bangsa jin yang dipimpin Sabdo Palon. 2. Setelah pertempuran, Sabdo Palon setuju Islam masuk Jawa asalkan empat syarat dipatuhi, yaitu tidak ada pemaksaan agama, bangunan Islam mengikuti gaya Jawa, kerajaan Islam pertama dipimpin keturunan campuran, dan tidak mengubah budaya Jawa. 3

Diunggah oleh

farellusersay
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
793 tayangan4 halaman

Khitobah Drama

1. Syekh Subakir dikirim oleh Sultan Al Fatih untuk menyebarkan agama Islam di Jawa dan berhadapan dengan bangsa jin yang dipimpin Sabdo Palon. 2. Setelah pertempuran, Sabdo Palon setuju Islam masuk Jawa asalkan empat syarat dipatuhi, yaitu tidak ada pemaksaan agama, bangunan Islam mengikuti gaya Jawa, kerajaan Islam pertama dipimpin keturunan campuran, dan tidak mengubah budaya Jawa. 3

Diunggah oleh

farellusersay
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NASKAH DRAMA

“Sabdo Palon”

Pada suatu malam Baginda Sultan Muhammad Al Fatih I bermimpi menerima ilham
dari Gusti Allah Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Luhur. Diperintahkan untuk mengutus orang
‘alim ke Tanah Jawa ini untuk menebarkan agama-Nya.
Sultan Al Fatih : “Prajuritt!! Cepat panggil Subakir, suruh dia kesini”
Prajurit : “Siap yang mulia.”
Sultan Al Fatih : “Wahai Syekh Subakir, Aku mendapatkan sebuah ilham dari Allah SWT. yaitu
mengutusmu ke pulau Jawa untuk menebarkan agama islam.”
Syekh Subakir : “Baik yang mulia, jika itu perintah dari Allah akan ku laksanakan.”
Sultan Al Fatih : “Semoga Allah memudahkan mu dalam melaksanakan perintahnya.”
Sesampainya di Jawa, Syekh Subakir merasakan bahwa pulau Jawa ini bukanlah
pulau biasa, Konon, hambatan penyebaran Islam di Jawa pada masa sebelumnya,
disebabkan oleh keberadaan bangsa jin yang menempati setiap sudut tanah jawa. Bangsa
Jin ini dipimpin oleh Sabdo Palon atau Kyai Semar, yang bersemayam di puncak Gunung
Tidar, Magelang, Jawa Tengah.

(Jin 1 : “Inpo2 yg lagi Viral”)


(Jin 2 : “Saman Brembo, ini bukan pesta biasa ini pesta orang dewasa xyhwkbj.”)
(Jin 3 : “Plakk!!”)
(Jin 2 : “Sorry gess, my lidah tapelkut”)
(Jin 1 : “Let’s go bikin conten”)
(Jin 2 & 3 : “Okeee”)
Syekh Subakir : “Assalamualaikum, Wahai penghuni Jawa. Aku datang ke tempat ini
bermaksud untuk menyebarkan agama Allah SWT. Tunjukkan keberadaan kalian sekarang.”

Kemudian Datang lah 2 jin yang konon merupakan penguasa di pulau Jawa ini.

Jin 1 : “Heyyy antum manusia, ngapain manggil2 ane?”


Jin 2 : “Please don’t call me, kita lagi sibuk kan, men.”
Jin 1 : “Iyya dunkk, kita kan orang penting apa lagi kita penguasa disini.... hahaha.”
Syekh Subakir : “Saya Syekh Subakir, ingin bertemu dengan penguasa tanah Jawa.”
Jin 2 : “Kita lah penguasa di Pulau ini, pulau ini punya peraturan. Dilarang Jomblo
kalau datang kesini, jadi antum tidak boleh masuk di kawasan kami! Antum kan jomblo
hahaha...”
Syekh Subakir : “Bukan kah, penguasa disini adalah Syekh Semar Bodronoyo? Tolong
pertemukanlah aku dengannya.”
Jin 1 : “Antum jangan sok keras yahh, sebelum antum bertemu pemimpin kami,
yok gass kita gelud.”
Syekh Subakir : “Innallaha la yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuur, Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang yang sombong.”
Jin 2 : “Oke kita lihat siapa yg akan menang, nanti kalau kalah laporan. Tombol
Surend ada di pengaturan Kacks”
Syekh Subakir : “La gholiba illa billah, tiada kemenangan kecuali dengan Allah.”
Jin 1 : “Banyak Bichidd, Marii Kita Bantaii!!”

Pasca peperangan

Jin 1 : “Awas aja ya, nanti gw comeback...”


Jin 2 : “iya bener, duta comback ni bos senggol dong”

Mereka pergi dari tempat tersebut dengan keadaan yang terpincang-pincang, Pertempuran
tersebut mudah saja untuk dilewati oleh Syekh Subakir. Syekh Subakir yang ahli dalam ilmu
batin segera melakukan pembersihan, dengan menancapkan tumbal yang berupa batu
hitam yaitu Rajah Kala Cakra di puncak gunung Tidar.

Syekh Subakir : “A’udzu billahi minasy syaithonirrojiim, Bismillahirrohmanirrohim. Allahu


Akbar!.”

Seluruh bangsa jin yang menguasi jawa merasakan kepanasan yang teramat sangat,
hingga mereka lari tunggang langgang menyeberang ke lautan atau menepi ke sudut
terpencil tanah Jawa. Sebagian jin yang lain ada yang harus mati akibat hawa panas dari
tumbal yang dipasang Syekh Subakir. Melihat hal itu, Sabdo Palon yang telah 9000 tahun
bersemayam di puncak Tidar keluar dalam bentuk manusia, berdiri di hadapan Syekh
Subakir.

Sabdo Palon : “Kisanak sudah ganggu dan merusak tempat semayamku, maka
rasakan akibatnya!.”

Setelah pertempuran 40 hari 40 malam.

Syekh Subakir : “Kisanak, siapakah kisanak ini, tolong jelaskan.”


Sabdo Palon : “Aku ini Sabdo palon, pamomong Tanah Jawa sejak zaman dahulu
kala. Dulu aku dikenali sebagai Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu dikenal sebagai Ki Semar
Bodronoyo dan jaman Majapahit ini namaku dikenal sebagai Sabdopalon.”
Syekh Subakir : “Perkenalkan Kisanak, namaku adalah Syeh Subakir berasal dari
Tanah Syam Persia.”
Sabdo Palon : “Wonten hajad nopo sampean rawuh teng mriki? Ceritakanlah
selengkapnya Kisanak.”
Syekh Subakir : “Baiklah. Pada suatu malam Baginda Sultan Muhammad bermimpi
menerima ilham. Ilham dari Gusti Allah Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Luhur.
Diperintahkan untuk mengutus beberapa orang ‘alim ke Tanah Jawa ini.”
Sabdo Palon : “Jadi Sampean ini yang di utus untuk datang kesini.”
Syekh Subakir : “Benar kisanak, Jadi izinkan lah aku untuk menyebarkan islam di
tanah Jawa ini.”
Sabdo Palon : “Baiklah jika begitu. Tapi dengan syarat yang harus kalian patuhi.”
Syekh Subakir : “Apa syaratnya itu wahai Kisanak?”
Sabdo Palon : “Pertama, Jangan ada pemaksaan agama dan kepercayaan.
Kedua, Jika hendak membuat bangunan buatlah bangunan yang luarnya nampak gaya Jawa
walau isi dalamannya Islam.
Ketiga, jika mendirikan kerajaan Islam maka Ratu yang pertama harus dari anak campuran.
Keempat, jangan jadikan Wong Jowo berubah menjadi orang Arab atau Parsi.
Jika keempat syarat tadi kau abaikan maka 500 tahun lagi aku akan kembali membuat
kekacauan di Jawa ini.”
Syeh Subakir : “Baiklah. Syarat pertama sampai keempat aku setujui. Namun khusus syarat
keempat, betapapun aku dan yang lainya akan tetap menghormati dan melestarikan budaya
Jawa yang adiluhung ini. Namun jika suatu saat kelak karena perkembangan zaman dan ada
perubahan maka tentu itu bukan dalam kuasaku lagi. Biarlah Gusti Kang Akaryo Jagad yang
menentukannya.”

Karena perjanjian itu akhirnya islam masuk ke tanah Jawa dengan damai dan tentram.

hikmah dan pesan yang dapat kita ambil adalah bahwa penyebaran agama Islam tidak pernah
di lakukan dengan paksaan serta tidak membuang adat dan kebudayaan yang telah ada dan di
jalankan, asal tidak bertentangan dengan agama.
Remember when sunan kali jaga said Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa
di kalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

To be Continue.

Anda mungkin juga menyukai