Anda di halaman 1dari 79

MANAJEMEN APARATUR SIPIL NEGARA

Hak Cipta © Pada: Lembaga Administrasi Negara


EdisiTahun 2014

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia

Jl. Veteran No. 10 Jakarta 10110


Telp. (62 21) 3868201-06 Ext. 193, 197
Fax. (62 21) 3800188

Jakarta – LAN – 2014


LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
REPUBLIK INDONESIA

KATA PENGANTAR

Kebijakan pemerintah tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon


Pegawai Negeri Sipil (CPNS) telah menghasilkan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)
Kategori 1 dan Kategori 2 di lingkungan pemerintah. Karakteristik utama CPNS Kategori 1
dan Kategori 2 adalah pengalaman yang telah dimiliki dalam bidang pekerjaannya selama
menjadi tenaga honorer. Untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), Undang-Undang
Aparatur Sipil Negara (ASN) menuntut mereka untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan
Prajabatan sebagai bagian dari masa percobaan.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas, Lembaga Administrasi Negara telah
menetapkan Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 18 Tahun 2014
Tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat Prajabatan CPNS Golongan I, Golongan II, dan
Golongan III Yang Diangkat Dari Tenaga Honorer Kategori 1 dan/atau Kategori 2. Tujuan
penyelenggaraan Diklat Prajabatan ini adalah membekali CPNS tersebut dengan
pengetahuan agar dapat memahami perannya sebagai pelayan publik yang baik.
Dalam rangka untuk melengkapi modul-modul Diklat Prajabatan yang ada, maka
LAN telah menyempurnakan beberapa substansi yang dianggap sudah tidak relevan diganti
dengan konten yang lebih relevan dengan tetap memperhatikan Undang-Undang ASN
sebagai acuan.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada editor yang telah
menyesuaikan isi modul ini. Dan kepada Widyaiswara, pengelola, dan peserta Diklat, kami
harap dapat memanfaatkan modul ini sebaik-baiknya.

Jakarta, September 2014

KEPALA
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

AGUS DWIYANTO
DAFTAR ISI
Hal
Bab I Pendahuluan.......................................................................................................... 1
A. Deskripsi Singkat..................................................................................................... 1
B. Tujuan Pembelajaran Umum ................................................................................... 2
C. Tujuan Pembelajaran Khusus.................................................................................. 2
Bab II Pokok-pokok Aparatur Sipil Negara...................................................................... 3
A. Umum...................................................................................................................... 3
B. Pengertian Pegawai Negeri ..................................................................................... 4
C. Asas, Prinsip,Nilai Dasar Serta Kode Etik dan Kode Perilaku .................................. 5
D. Jenis, Status dan Kedudukan .................................................................................. 8
E. Fungsi, Tugas dan Peran......................................................................................... 8
F. Hak dan Kewajiban PNS ......................................................................................... 8
G. Peraturan Disiplin PNS ............................................................................................ 13
H. Keanggotaan PNS Sebagai Anggota KORPRI ........................................................ 18
I. Keanggotaan PNS dalam Partai Politik.................................................................... 24
J. Penghargaan........................................................................................................... 24
Bab III Manajemen Aparatur Sipil Negara........................................................................ 22
A. Formasi Pegawai Negeri Sipil.................................................................................. 26
B. Pengadaan Pegawai Negeri Sipil............................................................................. 28
Bab IV Sistem Penempatan ............................................................................................. 34
A. Pegawai Baru .......................................................................................................... 34
B. Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil ......................................................... 35
C. Kenaikan Pangkat PNS ........................................................................................... 37
Bab V Sistem Karier PNS................................................................................................. 44
A. Pengembangan Karir............................................................................................... 44
B. Konsep Pola Karir.................................................................................................... 46
C. Kebijakan Pembinaan PNS...................................................................................... 48
D. Jabatan dalam ASN................................................................................................. 49
Bab VI Sistem Penggajian dan Penghargaan PNS ........................................................ 58
A. Penggajian PNS ...................................................................................................... 58
B. Penghargaan PNS................................................................................................... 59
Bab VII Sistem Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri Sipil.................................... 60
A. Arti Pentingnya Diklat PNS ...................................................................................... 60
B. Tujuan Diklat PNS ................................................................................................... 61
C. Jenis dan Jenjang Diklat PNS ................................................................................. 62
D. Peserta Diklat .......................................................................................................... 63
E. Penyelenggaraan Diklat .......................................................................................... 63
Bab VIII Sistem Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (PNS) ......................................... 64
A. Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Atas Permintaan Sendiri ............................... 64
B. Pemberhentian Karena Telah Mencapai Batas........................................................ 65
C. Pemberhentian Karena adanya Penyederhanaan Organisasi ................................. 66
D. Pemberhentian Karena Melakukan Pelanggaran..................................................... 66
E. Pemberhentian Karena Tidak Cakap Jasmani atau Rohani..................................... 67
F. Pemberhentian Karena Tugas................................................................................. 67
G. Pemberhentian Karena Meninggal Dunia ................................................................ 67
H. Pemberhentian Karena Hal-hal Lain........................................................................ 67
Latihan............................................................................................................................... 68
BAB I
PENDAHULUAN

A. Deskripsi Singkat
Bagi warga negara Republik Indonesia yang telah memenuhi persyaratan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih dan diangkat
sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Berbagai persyaratan untuk menjadi Calon
Pegawai Negeri Sipil antara lain lulus mengikuti serangkaian tes yang diadakan oleh suatu
panitia seleksi masuk Calon Pegawai Negeri Sipil dalam suatu instansi pemerintah,
baik tes tertulis maupun lisan. Setelah mengikuti serangkaian tes tersebut, dan peserta
dinyatakan lulus, selanjutnya peserta diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil. Lebih
lanjut, seorang Calon Pegawai Negeri Sipil untuk dapat diangkat sebagai Pegawai Negeri
Sipil disyaratkan telah lulus Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan yang dilakukan oleh
masing-masing instansi atau kerjasama dengan lembaga Diklat di lingkungan instansi
Pemerintah, baik tingkat Pusat maupun Daerah.
Diklat Prajabatan adalah salah satu Diklat yang diperuntukkan bagi Calon Pegawai
Negeri Sipil yang akan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil. Diklat ini dimaksudkan
untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan pembentukan perilaku bagi
CPNS agar mempunyai kemampuan dan etika dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya. Tuntutan terhadap kemampuan dalam menjalankan tugas dan
tanggung jawab dalam arti memahami tugas, fungsi, dan berbagai peraturan perundang-
undangan di bidang Pemerintahan, disamping pengetahuan teknis lainnya. Secara
khusus, Calon Pegawai Negeri Sipil sangat penting untuk memahami permasalahan
Manajemen Kepegawaian Negara, dengan harapan seluruh CPNS memahami
berbagai ketentuan perundang-undangan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil termasuk
berbagai hak dan kewajibannya selama menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Mata pelajaran ini membahas beberapa hal pokok dalam bidang Manajemen
Kepegawaian Negara, yang mencakup hal-hal seperti Pengertian Pegawai Negeri Sipil,
Kedudukan, Tugas, serta Fungsi Pegawai Negeri Sipil (PNS); Kewajiban dan Hak Pegawai
Negeri; Sistem Rekruitmen Pegawai Negeri; Sistem Penggajian dan Penghargaan Pegawai
Negeri; Sistem Karir Pegawai Negeri; Sistem Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri;

1
2 Manajemen ASN

dan Sistem Pemberhentian Pegawai Negeri, serta berbagai persoalan lain di bidang
Kepegawaian.

B. Hasil Belajar
Peserta Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan, diharapkan setelah mengikuti pendidikan
dan pelatihan ini mampu menjelaskan peran dan fungsi ASN serta kedudukan, kewajiban dan
hak PNS.

C. Indikator Hasil Belajar


Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu menjelaskan :
1. Pengertian Aparatur Sipil Negara;
2. Asas, Prinsip, Nilai Dasar serta Kode Etik dan Perilaku Aparatur Sipil Negara;
3. Peran dan Fungsi ASN;
4. Kedudukan, Hak dan Kewajiban Pegawai Negeri Sipil;
5. Sistem Rekruitmen;
6. Sistem Penempatan Pegawai Negeri Sipil;
7. Sistem Penggajian dan Penghargaan;
8. Sistem Karir Pegawai Negeri Sipil;
9. Sistem Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri Sipil;
10. Sistem Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.
BAB II
POKOK-POKOK APARATUR SIPIL NEGARA

A. Umum
Pegawai Negeri sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat,
mempunyai peran yang amat penting dalam rangka menciptakan masyarakat
madani yang taat hukum, berperadaban modern, demokratis, makmur, adil, dan
bermoral tinggi yang menyelenggarakan pelayanan secara adil dan merata,
menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila
dan Undang Undang Dasar Tahun 1945. Kesemuanya itu dalam rangka mencapai
tujuan yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia.
Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut diperlukan Pegawai Negeri Sipil
yang berkemampuan pelaksanakan tugas secara profesional dan bertanggung
jawab dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan, serta
bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
Sebelum menjelaskan pengertian tentang Pegawai Negeri Sipil maka perlu
dijelaskan tentang pengertian Manajemen Aparatur Sipil Negara . Manajemen
Aparatur Sipil Negara dalam buku ini adalah pengelolaan ASN untuk
menghasilkan Pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi,
bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Dalam rangka menjamin kelancaran penyelenggaraan kebijaksanaan
manajemen Aparatur Sipil Negara, dibentuklah Badan Kepegawaian Negara
(BKN). Berdasarkan UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN Pasal 47 BKN
memiliki fungsi:
a. pembinaan penyelenggaraan Manajemen ASN;
b. penyelenggaraan Manajemen ASN dalam bidang pertimbangan teknis
formasi, pengadaan, perpindahan antarinstansi, persetujuan kenaikan pangkat,
pensiun; dan

3
4 Manajemen ASN

c. penyimpanan informasi Pegawai ASN yang telah dimutakhirkan oleh Instansi


Pemerintah serta bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengembangan
Sistem Informasi ASN.
Adapun BKN bertugas:
a. mengendalikan seleksi calon Pegawai ASN;
b. membina dan menyelenggarakan penilaian kompetensi serta mengevaluasi
pelaksanaan penilaian kinerja Pegawai ASN oleh Instansi Pemerintah;
c. membina Jabatan Fungsional di bidang kepegawaian;
d. mengelola dan mengembangkan sistem informasi kepegawaian ASN berbasis
kompetensi didukung oleh sistem informasi kearsipan yang komprehensif;
e. menyusun norma, standar, dan prosedur teknis pelaksanaan kebijakan
Manajemen ASN;
f. menyelenggarakan administrasi kepegawaian ASN; dan
g. mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan norma, standar, dan prosedur
manajemen kepegawaian ASN.
Selanjutnya untuk kelancaran pelaksanaan manajemen Pegawai Negeri Sipil
di Daerah maka dibentuk Badan Kepegawaian Daerah (BKD), yang merupakan
perangkat Daerah yang dibentuk oleh Kepala Daerah (Pasal 34 A UU Nomor 43
Tahun 1999), yang kemudian diatur dalam peraturan pelaksanaan yaitu
Keputusan Presiden Nomor 159 Tahun 2000 tentang Pedoman
Pembentukan Badan Kepegawaian Daerah. Keputusan Presiden tersebut
diamanatkan kepada seluruh Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota untuk
membentuk Badan Kepegawaian Daerah.

B. Pengertian Aparatur Sipil Negara


Menurut UU Nomor 5 Tahun 2015 tentang Aparatur Sipil Negara disebutkan
bahwa Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi
bagi pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang
bekerja pada instansi pemerintah.
Modul Diklat Prajabatan 5

Pegawai Aparatur Sipil Negara (Pegawai ASN) adalah pegawai negeri sipil
dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat
pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau
diserahi tugas Negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-
undangan. Selanjutnya yang dimaksud dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah
warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai
ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan
pemerintahan. Sedangkan yang dimaksud dengan Pegawai Pemerintah dengan
Perjanjian Kerja (PPPK) adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat
tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu
dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan.

C. Asas, Prinsip, Nilai Dasar, Serta Kode Etik Dan Kode Perilaku Aparatur
Sipil Negara
1. Manajemen ASN berdasarkan pada asas:
a. kepastian hukum;
b. profesionalitas;
c. proporsionalitas;
d. keterpaduan;
e. delegasi;
f. netralitas;
g. akuntabilitas;
h. efektif dan efisien;
i. keterbukaan;
j. nondiskriminatif;
k. persatuan dan kesatuan;
l. keadilan dan kesetaraan; dan
m. kesejahteraan.
6 Manajemen ASN

2. Prinsip ASN sebagai profesi berlandaskan


a. nilai dasar;
b. kode etik dan kode perilaku;
c. komitmen, integritas moral, dan tanggung jawab pada pelayanan publik;
d. kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
e. kualifikasi akademik;
f. jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas; dan
g. profesionalitas jabatan.

3. Nilai dasar ASN


a. memegang teguh ideologi Pancasila;
b. setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 serta pemerintahan yang sah;
c. mengabdi kepada negara dan rakyat Indonesia;
d. menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak;
e. membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian;
f. menciptakan lingkungan kerja yang nondiskriminatif;
g. memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur;
h. mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik;
i. memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program
pemerintah;
j. memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat,
akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun;
k. mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi;
l. menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerja sama;
m. mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai;
n. mendorong kesetaraan dalam pekerjaan; dan
o. meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai
perangkat sistem karier.
Modul Diklat Prajabatan 7

4. Kode Etik dan Kode Perilaku ASN


Kode etik dan kode perilaku ASN bertujuan untuk menjaga martabat dan
kehormatan ASN. Kode etik dan kode perilaku berisi pengaturan perilaku
agar Pegawai ASN:
a. melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan
berintegritas tinggi;
b. melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
c. melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
d. melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
e. melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau Pejabat yang
Berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan dan etika pemerintahan;
f. menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;
g. menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung
jawab, efektif, dan efisien;
h. menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan
tugasnya;
i. memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak
lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan;
j. tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan,
dan jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat
bagi diri sendiri atau untuk orang lain;
k. memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan
integritas ASN; dan melaksanakan ketentuan peraturan perundang-
undangan mengenai disiplin Pegawai ASN.
8 Manajemen ASN

D. Jenis, Status, Dan Kedudukan


Pegawai ASN terdiri atas PNS dan PPPK. Sedangkan Status PNS merupakan
Pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai tetap oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian dan memiliki nomor induk pegawai secara nasional. Sedangkan
Status PPPK merupakan Pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai dengan
perjanjian kerja oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan kebutuhan
Instansi Pemerintah dan ketentuan Undang-Undang. Sedangkan Pegawai ASN
berkedudukan sebagai unsur aparatur negara. Pegawai ASN melaksanakan
kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan Instansi Pemerintah, dan Pegawai ASN
harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik.

E. Fungsi, Tugas Dan Peran


Pegawai ASN berfungsi sebagai pelaksana kebijakan publik; pelayan publik;
dan perekat dan pemersatu bangsa. Sedangkan Pegawai ASN bertugas:
1. melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
2. memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas; dan
3. mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sedangkan Pegawai ASN berperan sebagai perencana, pelaksana, dan
pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional
melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional, bebas dari
intervensi politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

F. Hak dan Kewajiban PNS


1. Hak Pegawai ASN
Agar dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik dan
akuntabel, maka setiap Pegawai Negeri Sipil diberikan hak sebagai berikut:
a. gaji, tunjangan, dan fasilitas;
b. cuti;
Modul Diklat Prajabatan 9

c. jaminan pensiun dan jaminan hari tua;


d. perlindungan; dan
e. pengembangan kompetensi.
Selain hak sebagaimana disebutkan di atas, berdasarkan pasal 70 UU ASN
disebutkan bahwa Setiap Pegawai ASN memiliki hak dan kesempatan untuk
mengembangkan kompetensi.
Berdasarkan Pasal 92 UU ASN Pemerintah juga wajib memberikan perlindungan
berupa:
a. jaminan kesehatan;
b. jaminan kecelakaan kerja;
c. jaminan kematian; dan
d. bantuan hukum.
Sedangkan Pegawai PPPK berhak memperoleh:
a. gaji dan tunjangan;
b. cuti;
c. perlindungan; dan
d. pengembangan kompetensi.
Adapun Yang dimaksud dengan “gaji” adalah kompensasi dasar berupa
honorarium sesuai dengan beban kerja, tanggung jawab jabatan dan resiko
pekerjaan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. Selain gaji, PNS
juga menerima tunjangan dan fasilitas. Tunjangan meliputi tunjangan kinerja dan
tunjangan kemahalan. Tunjangan kinerja dibayarkan sesuai pencapaian kinerja.
Tunjangan kemahalandibayarkan sesuai dengan tingkat kemahalan berdasarkan
indeks harga yang berlaku di daerah masing-masing.
Yang dimaksud dengan cuti Pegawai Negeri Sipil adalah keadaan tidak masuk
kerja yang diizinkan dalam jangkawaktu tertentu dan dikeluarkan/diberikan oleh
pejabat yang berwenang seperti Pimpinan Kementerian Negara / Lembaga
Pemerintah Non Kementerian, Sekretariat Lembaga Negara dan pejabat lain yang
ditentukan oleh Presiden
10 Manajemen ASN

Cuti PNS sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1976,
terdiri dari :
a. cuti tahunan;
b. cuti besar;
c. cuti sakit;
d. cuti bersalin;
e. cuti karena alasan penting;
f. cuti di luar tanggungan negara.

a. Cuti Tahunan
Persyaratan Pegawai Negeri Sipil untuk mendapat cuti tahunan adalah
apabila yang bersangkutan telah bekerja secara terus-menerus selama satu
(1) tahun, maka PNS berhak mendapatkan cuti tahunan. Cuti tahunan bagi
PNS adalah selama duabelas (12) hari kerja. Pemberian cuti tahunan
dapat diberikan tambahan paling lama empat belas (14) hari kerja apabila
pegawai yang bersangkutan tinggal atau cuti tersebut dijalankan di tempat
yang sulit transportasinya.
b. Cuti Besar
Pegawai Negeri Sipil yang telah bekerja sekurang kurangnya selama
enam (6) tahun berturut-turut maka yang bersangkutan berhak mendapatkan
cuti besar yang lamanya adalah 3 (tiga) bulan. PNS yang menjalani cuti besar
masih berhak mendapatkan cuti tahunannya dalam tahun yang bersangkutan.
c. Cuti Sakit
1) Pegawai Negeri Sipil yang sakit selama satu (1) atau dua (2) hari berhak
atas cuti sakit, dengan ketentuan yang bersangkutan harus
memberitahukan kepada atasan yang bersangkutan;
2) Pegawai Negeri Sipil yang sakit lebih dari dua (2) sampai dengan
empatbelas (14) hari berhak atas cuti dengan ketentuan yang
bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada
Modul Diklat Prajabatan 11

pejabat yang berwenang dengan melampirkan surat keterangan


dokter.
3) Pegawai Negeri Sipil yang menderita sakit lebih dari empat belas (14)
hari kerja berhak atas cuti sakit, dengan ketentuan PNS yang
bersangkutan mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat
yang berwenang dengan melampirkan surat keterangan dokter yang
ditunjuk oleh Menteri Kesehatan. Cuti sakit ini dapat diberikan paling
lama satu (1) tahun dan apabila belum sembuh, maka cuti sakit dapat
ditambah selama enam (6) bulan; apabila penambahan cuti untuk enam (6)
bulan, maka PNS yang bersangkutan harus diuji kesehatannya oleh dokter
yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan. Apabila dari hasil pengujian ini
ternyata penyakitnya belum sembuh, maka PNS bersangkutan
diberhentikan dengan hormat dari jabatannya dengan mendapat uang
tunggu berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
d. Cuti bersalin
Kepada Pegawai Negeri Sipil wanita diberikan hak mendapatkan cuti
bersalin untuk anak pertama dan kedua. Sedangkan untuk persalinan anak
ketiga dan seterusnya diberikan cuti di luar tanggungan negara. Cuti
bersalin diberikan selama satu (1) bulan sebelum dan dua (2) bulan setelah
persalinan.
e. Cuti karena Alasan Penting
Cuti karena alasan penting dapat diberikan apabila. Salah seorang anggota
keluarga (ibu, bapak, isteri/suami, anak, adik, kakak, mertua, atau
menantu) mengalami sakit keras atau meninggal dunia dan menurut
ketentuan hukum yang berlaku PNS yang bersangkutan harus mengurus
hak-hak dari anggota keluarganya tersebut.
a. Melangsungkan perkawinan yang pertama;
b. Alasan penting lainnya yang ditetapkan kemudian oleh Presiden.
12 Manajemen ASN

Setiap Pegawai Negeri Sipil berhak atas cuti karena alasan penting. Lama
cuti karena alasan penting ditentukan oleh Pejabat yang berwenang yaitu
paling lama dua (2) bulan.
f. Cuti di luar Tanggungan Negara
Pegawai Negeri Sipil yang telah bekerja sekurang-kurangnya lima
(5) tahun secara terus-menerus, karena alasan pribadi yang penting dan
mendesak dapat diberikan cuti di luar tanggungan negara selama tiga (3)
tahun dan dapat diperpanjang paling lama satu (1) tahun apabila ada alasan-
alasan yang penting untuk memperpanjangnya. Untuk mendapatkan cuti di
luar tanggungan negara, PNS mengajukan permintaan secara tertulis kepada
pejabat yang berwenang disertai alasan-alasannya. Pegawai Negeri Sipil yang
menjalankan cuti di luar tanggungan negara tidak berhak menerima
penghasilan dari negara dan harus melepaskan jabatannya. Masa
menjalankan cuti di luar tanggungan negara tidak diperhitungkan sebagai
masa kerja.
g. Memperoleh perawatan bagi yang tertimpa sesuatu kecelakaan dalam
dan karena menjalankan tugas kewajibannya;
h. Memperolah tunjangan bagi yang menderita cacat jasmani atau cacat rohani
dalam dan karena menjalankan tugas dan kewajibannya yang
mengakibatkannya tidak dapat bekerja lagi dalam jabatan apapun juga;
i. Memperoleh uang duka bagi keluarga Pegawai Negeri Sipil yang tewas;
j. Memperoleh pensiun bagi PNS yang telah memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan;
k. Menjadi peserta TASPEN;
l. Menjadi peserta BPJS.
Modul Diklat Prajabatan 13

2. Kewajiban Pegawai ASN


Pegawai ASN wajib:
a. setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan pemerintah
yang sah;
b. menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
c. melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang
berwenang;
d. menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,
kesadaran, dan tanggung jawab;
f. menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan dan
tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan;
g. menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
h. bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

G. Peraturan Disiplin PNS

Pasal 86 UU ASN disebutkan Untuk menjamin terpeliharanya tata tertib


dalam kelancaran pelaksanaan tugas, PNS wajib mematuhi disiplin PNS. Instansi
Pemerintah wajib melaksanakan penegakan disiplin terhadap PNS serta
melaksanakan berbagai upaya peningkatan disiplin. PNS yang melakukan
pelanggaran disiplin dijatuhi hukuman disiplin.
Pegawai Negeri Sipil menempati kedudukan yang mulia, yaitu sebagai
unsur aparatur Negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam penyelenggaraan
tugas Negara, pemerintahan, dan pembangunan. Untuk menjamin
14 Manajemen ASN

terpeliharanya tata tertib dalam kelancaran pelaksanaan tugas, PNS wajib


mematuhi disiplin PNS. Instansi Pemerintah wajib melaksanakan penegakan
disiplin terhadap PNS serta melaksanakan berbagai upaya peningkatan disiplin.
PNS yang melakukan pelanggaran disiplin dijatuhi hukuman disiplin. Untuk
menjamin terpeliharanya tata tertib dan kelancaran pelaksanaan tugas-tugas
tersebut, dipandang perlu menetapkan peraturan tentang disiplin Pegawai Negeri
Sipil.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Peraturan
Disiplin Pegawai Negeri Sipil disebutkan peraturan disiplin adalah peraturan yang
mengatur kewajiban, larangan, dan sanksi apabila kewajiban tidak ditaati atau
larangan dilanggar oleh seorang Pegawai Negeri Sipil.
Disiplin Pegawai Negeri Sipil adalah kesanggupan Pegawai Negeri Sipil
untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan dan/atau peraturan kedinasan yang apabila tidak
ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin. Pelanggaran disiplin adalah
setiap ucapan, tulisan, atau perbuatan PNS yang tidak menaati kewajiban dan/atau
melanggar larangan ketentuan disiplin PNS, baik yang dilakukan di dalam
maupun di luar jam kerja. Sedangkan yang dimaksud dengan Hukuman disiplin
adalah hukuman yang dijatuhkan kepada PNS karena melanggar peraturan
disiplin PNS.
Perlu disadari dan dimengerti bahwa dikeluarkannya peraturan ini tidak untuk
membatasi ruang gerak Pegawai Negeri Sipil tetapi semata-mata untuk
memberikan rambu-rambu yang jelas bagi Pegawai Negeri Sipil dalam
melaksanakan tugas dan kewajibannya. Kreativitas, inovasi dan ide-ide yang
membangun serta dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat
tetap harus dipupuk dan dikembangkan. Adapun kewajiban PNS sebagaimana
diatur dalam PP No. 53 Tahun 2010 adalah:
1. mengucapkan sumpah/janji PNS;
2. mengucapkan sumpah/janji jabatan;
Modul Diklat Prajabatan 15

3. setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan
Pemerintah;
4. menaati segala ketentuan peraturan perundangundangan;
5. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh
pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;
6. menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat PNS;
7. mengutamakan kepentingan negara daripada
8. kepentingan sendiri, seseorang, dan/atau golongan;
9. memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus
dirahasiakan;
10. bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan
negara;
11. melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang
dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di
bidang keamanan, keuangan, dan materiil;
12. masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja;
13. mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan;
14. menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaik-
baiknya;
15. memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat;
16. membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas;
17. memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier; dan
18. menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.
Sedangkan Setiap PNS dilarang:
1. menyalahgunakan wewenang;
2. menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain
dengan menggunakan kewenangan orang lain;
16 Manajemen ASN

3. tanpa izin Pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain
dan/atau lembaga atau organisasi internasional;
4. bekerja pada perusahaan asing, konsultan asing, atau lembaga swadaya
masyarakat asing;
5. memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau
meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen
atau surat berharga milik negara secara tidak sah;
6. melakukan kegiatan bersama dengan atasan, temansejawat, bawahan, atau
orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk
keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain, yang secara langsung atau
tidak langsung merugikan negara;
7. memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun baik
secara langsung atau tidak langsung dan dengan dalih apapun untuk diangkat
dalam jabatan;
8. menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang
berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaannya;
9. bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya;
10. melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat
menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayani sehingga
mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani;
11. menghalangi berjalannya tugas kedinasan;
12. memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, atau Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah dengan cara:
a. ikut serta sebagai pelaksana kampanye;
b. menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut
PNS;
c. sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain; dan/atau
d. sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara;
Modul Diklat Prajabatan 17

13. memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden dengan cara:


a. membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau
merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; dan/atau
b. mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap
pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan
sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan,
atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya,
anggota keluarga, dan masyarakat;
14. memberikan dukungan kepada calon anggota Dewan Perwakilan Daerah atau
calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan cara memberikan surat
dukungan disertai foto kopi Kartu Tanda Penduduk atau Surat Keterangan
Tanda Penduduk sesuai peraturan perundangundangan; dan
15. memberikan dukungan kepada calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah,
dengan cara:
a. terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung calon Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah;
b. menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam kegiatan
kampanye;
c. membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau
merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; dan/atau
d. mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap
pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan
e. sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan,
atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya,
anggota keluarga, dan masyarakat.
PNS yang tidak menaati ketentuan kewajiban dan larangan sebagaimana
dimaksud di atas dijatuhi hukuman disiplin.
Adapun berat ringannya hukuman dan jenis hukuman yang diberikan
kepada Pegawai Negeri Sipil yang melanggar peraturan disesuaikan
18 Manajemen ASN

dengan tingkat kesalahan atau jenis pelanggaran yang dilakukannya. Tingkat


dan jenis hukuman disiplin adalah sebagai berikut:
a. Tingkat hukuman disiplin terdiri dari:
a. hukuman disiplin ringan;
b. hukuman disiplin sedang; dan
c. hukuman disiplin berat.
b. Jenis hukuman disiplin ringan terdiri dari:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis; dan
c. pernyataan tidak puas secara tertulis.
c. Jenis hukuman disiplin sedanghuruf b terdiri dari:
a. penundaan kenaikan gaji berkala selama 1(satu) tahun;
b. penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun; dan
c. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun.
d. Jenis hukuman disiplin berat erdiri dari:
a. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun;
b. pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah;
c. pembebasan dari jabatan;
d. pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai
PNS; dan
e. pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.

H. Keanggotaan PNS Sebagai Anggota KORPRI


Pegawai Republik Indonesia sudah ada sejak kemerdekaan Indonesia
diproklamirkan, secara resmi dinyatakan bahwa semua bekas pegawai
pemerintah tentara pendudukan Jepang dijadikan pegawai Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Untuk menghimpun dan membina seluruh Pegawai
Republik Indonesia tersebut khususnya di luar kedinasan, pemerintah
membentuk satu-satunya wadah yaitu KORPRI. Korps Pegawai Republik
Modul Diklat Prajabatan 19

Indonesia (KORPRI) dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 82 Tahun


1971, tanggal 29 Nopember 1971. Tujuannya adalah untuk lebih
meningkatkan pengabdian Pegawai Negeri Sipil dalam mengisi kemerdekaan dan
pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan.
Langkah berikutnya dalam rangka menyatukan gerak langkah Pegawai Negeri
Sipil agar tidak terpecah belah adalah dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah
Nomor 20 Tahun 1976 dan tentang Keanggotaan PNS dalam Partai Politik
dan Golongan Karya. Dalam penjelasan umum PP tersebut dinyatakan bahwa
Pegawai Negeri Sipil bukan saja unsur aparatur negara, tetapi juga sebagai abdi
negara dan abdi masyarakat, yang hidup di tengah-tengah masyarakat dan
bekerja untuk kepentingan masyarakat. Oleh sebab itu dalam melaksanakan
pembinaan, PNS bukan saja dilihat dan diperlakukan sebagai aparatur Negara
tetapi juga harus dilihat dan diperlakukan sebagai warga Negara. Hal ini
mengandung pengertian bahwa dalam melaksanakan pembinaan hendaknya
sejauh mungkin diusahakan adanya keserasian antara kepentingan dinas dengan
kepentingan PNS sebagai perorangan, dengan ketentuan bahwa apabila terdapat
perbedaan antara kepentingan dinas dengan kepentingan PNS sebagai perorangan,
maka kepentingan dinaslah yang harus didahulukan. Dengan demikian maka
kesetiaan dan ketaatan PNS sepenuhnya berada di bawah pimpinan pemerintah,
agar terjamin kesatuan pimpinan dan garis pimpinan yang jelas dan tegas. Oleh
karena itu keanggotaan PNS dalam partai politik tidak boleh mengurangi
kesetiaan dan ketaatan penuh PNS yang bersangkutan kepada Pancasila, UUD
1945, Negara, dan Pemerintahan, serta tidak boleh mengganggu kelancaran
pelaksanaan tugasnya.
Untuk memperkokoh kesatuan KORPRI, maka pada Musyawarah
Nasional Pertama KORPRI yang diselenggarakan pada tahun 1978 telah
melahirkan doktrin KORPRI yang disebut “BHINNEKA KARYA ABDI
NEGARA” yang artinya walaupun anggota-anggota KORPRI melaksanakan
berbagai bidang dengan jenis karya yang beraneka ragam tetapi tetap dalam
20 Manajemen ASN

rangka pelaksanaan pengabdian kepada bangsa, Negara dan masyarakat


Indonesia.
Faktor penentu pembinaan PNS yang akan menjadi anggota Parpol dan
Golkar adalah sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 20
Tahun 1976 pasal 1 dan 2 beserta penjelasannya, di mana PNS yang menjabat
sebagai pejabat struktural eselon V ke atas di berbagai bidang, guru,
kepegawaian, dan sebagainya harus minta ijin terlebih dahulu dari pejabat
yang berwenang mengangkat dan memberhentikannya. Dengan adanya PP
ini, maka control pemerintah untuk mengarahkan PNS agar dapat bekerja
dengan mengutamakan kepentingan dinas daripada kepentingan pribadi atau
kepentingan Partai Politik dapat dicapai.
Dalam perjalanan pembinaan Pegawai Negeri Sipil melalui wadah Korps
Pegawai Negeri Sipil pada masa-masa lalu tidak menguntungkan, karena tujuan
yang semula sebagai wadah mempersatukan Pegawai Negeri Sipil
dimanfaatkan oleh Golongan tertentu dan digunakan sebagai alat atau kendaraan
politik untuk meraih kemenangan dalam Pemilihan Umum. Dengan demikian
tujuan dibentuknya wadah KORPRI dalam rangka menyatukan para anggota PNS
agar tidak terjadi konflik di antara PNS tidak tercapai
Memperhatikan kenyataan selama Orde Baru tersebut, di mana KORPRI
digunakan sebagai kendaraan politik, maka dalam Munas KORPRI terakhir
yang dilaksanakan bulan Februari 1999 telah terjadi perubahan orientasi Korps
Pegawai Republik Indonesia. Hal ini tampak dalam perubahan Anggaran Dasar
yang telah ditetapkan melalui Keputusan Musyawarah Nasional ke-5
KORPRI Nomor Kep-03/Munas/1999 tentang Perubahan Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga KORPRI yang ditegaskan kembali dalam Keputusan
Presiden Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengesahan Perubahan Anggaran
Dasar Korps Pegawai Republik Indonesia sebagai pengganti Keppres
sebelumnya sebagaimana terdapat dalam Keputusan Presiden Nomor 63
Tahun 1994 tentang Pengesahan Anggaran Dasar Korps Pegawai
Modul Diklat Prajabatan 21

Republik Indonesia. Perubahan mendasar dalam Anggaran Dasar dan Anggaran


Rumah Tangga KORPRI adalah dalam hal fungsi dan tujuan KORPRI.
1. Fungsi KORPRI
Dalam pasal 6 Keppres Nomor 63 Tahun 1994 dinyatakan, bahwa
fungsi KORPRI adalah sebagai berikut:
a. Melindungi dan mengayomi para anggota;
b. Penyalur kepentingan para anggotanya;
c. Pendorong dalam meningkatkan taraf hidup sosial ekonomi masyarakat
dan lingkungannya;
d. Pelopor dalam menyukseskan program pembangunan nasional;
e. Mitra kerja yang aktif sebagai organisasi pekerja dalam proses
pengambilan keputusan dan kebijakan instansi yang bersangkutan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f. Pelopor dalam meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme
anggota;

2. Tujuan KORPRI
Berdasarkan fungsi di atas, yang menjadi tujuan dibentuknya KORPRI adalah:
a. Mewujudkan pelaksanaan peraturan perundang-undangan Pegawai
Republik Indonesia serta menjamin perlindungan hak-hak Pegawai
Republik Indonesia guna mencapai ketenangan dan kelangsungan
kerja usaha untuk meningkatkan taraf hidup, kecerdasan, dan
kesejahteraan Pegawai Republik Indonesia beserta keluarganya;
b. Menghimpun dan menyatukan Pegawai Republik Indonesia untuk
mewujudkan rasa setia kawan dan tali persaudaraan antara sesama
pegawai Republik Indonesia.
22 Manajemen ASN

3. Usaha-Usaha KORPRI
Dalam rangka mencapai tujuan di atas KORPRI melakukan usaha-usaha
sebagai berikut:
a. Meningkatkan peran serta anggota KORPRI dalam pembangunan
nasional untuk mewujudkan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945;
b. Memperjuangkan terciptanya dan terlaksananya peraturan perundangan
untuk mewujudkan kesejahteraan dan perlindungan hak-hak Pegawai
Republik Indonesia pada umumnya dan anggota KORPRI pada
khususnya;
c. Mengadakan upaya-upaya untuk mempertinggi mutu pengetahuan,
keterampilan bidang pekerjaan dan atau profesi serta kemampuan
organisasi;
d. Bekerjasama dengan badan pemerintah dan swasta serta organisasi-
organisasi lain didalam dan di luar negeri untuk melaksanakan usaha-
usaha yang tidak bertentangan dengan anggaran dasar dan anggaran rumah
tangga;
e. Memperjuangkan anggota untuk memperoleh kesempatan yang sama
dalam mengembangkan karir sesuai dengan kemampuan masing-
masing;
f. Membina korps dalam mewujudkan kesatuan pola pikir, ucapan, dan
tindakan, serta pengembangan mental dan rohani yang baik.
Keanggotaan KORPRI adalah mencakup seluruh Pegawai Republik
Indonesia sesuai dengan bidang tugas masing-masing.

4. Susunan Anggota Korpri


Susunan organisasi KORPRI secara vertikal adalah sebagai berikut:
a. Tingkat nasional meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia yang
dipimpin oleh Dewan Pengurus Pusat untuk kemudian disingkat DPP
KORPRI;
Modul Diklat Prajabatan 23

b. Tingkat provinsi dipimpin oleh Dewan Pengurus Daerah untuk kemudian


disingkat DPD KORPRI;
c. Tingkat Kabupaten dipimpin oleh Dewan Pengurus Cabang atau DPC
KORPRI;
d. Tingkat Kecamatan dipimpin oleh Dewan Pengurus Anak Cabang atau
DPAC KORPRI;
e. Tingkat desa/kelurahan dipimpin oleh pengurus ranting.
5. Panca Prasetya Korpri
Landasan etika KORPRI pada Munas pertama tahun 1978 ditetapkan
dengan sebutan Sapta Prasetya yang merupa kan janji luhur anggota KORPRI
dalam menjalankan kewajibannya sebagai abdi Negara dan abdi
masyarakat. Dalam Munas KORPRI yang dilaksanakan pada tahun 1989,
Sapta Prasetya KORPRI telah mengalami perubahan kembali tentang bunyi
landasan dan etika. Terakhir landasan etika KORPRI telah disempurnakan
sesuai dengan tuntutan keadaan dalam Munas KORPRI pada tahun 1999.
Perubahan itu terjadi pada landasan etika yang berbunyi sebagai berikut
"Kami anggota KORPS Pegawai Republik Indonesia, adalah insan yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjanji:
a. Setia dan taat kepada Negara Kesatuan dan Pemerintah Republik
Indonesia, yang berdasarkan Panca sila dan Undang-Undang Dasar
1945;
b. Menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara serta memegang
teguh rahasia jabatan dan rahasia negara;
c. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan
pribadi dan golongan;
d. Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta kesetiakawanan
KORPS Pegawai Republik Indonesia;
e. Menegakkan kejujuran, keadilan dan disiplin serta meningkatkan
kesejahteraan dan profesionalisme.
24 Manajemen ASN

I. Keanggotaan PNS Dalam Partai Politik


Dalam era reformasi keanggotaan PNS dalam Partai Politik telah diatur
secara tegas dalam PP Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pegawai Negeri Sipil
yang menjadi Anggota Partai Politik jo PP Nomor 12 Tahun 1999 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 1999. Beberapa inti
pokok materi dalam PP tersebut adalah:
1. Sebagai aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, maka PNS harus
bersikap netral dan menghindari penggunaan fasilitas Negara untuk
Golongan tertentu. Selain itu juga dituntut tidak diskriminatif khususnya
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat;
2. Pegawai Negeri Sipil yang telah menjadi anggota atau pengurus Parpol
pada saat PP ini ditetapkan dianggap telah melepaskan keanggotaan dan atau
kepengurusannya (hapus secara otomatis);
3. Pegawai Negeri Sipil yang tidak melaporkan keangotaan dan atau
kepengurusannya dalam partai politik, diberhentikan tidak dengan hormat
sebagai PNS;
4. Pegawai Negeri Sipil yang ingin menjadi anggota atau pengurus Partai
Politik harus mengajukan permohonan kepada atasan langsungnya
(peraturan pelaksanaan yang dikeluarkan BKN);
5. Pegawai Negeri Sipil yang mengajukan permohonan sebagai
anggota/pengurus Parpol diberikan uang tunggu selama satu tahun. Dalam
satu tahun apabila tetap ingin menjadi anggota atau pengurus Parpol,
maka yang bersangkutan diberhentikan dengan hormat dan mendapat hak
pensiun bagi yang telah mencapai Batas Usia Pensiun (BUP).

J. Penghargaan
Pasal 82 UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara
menyebutkan PNS yang telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kecakapan,
Modul Diklat Prajabatan 25

kejujuran, kedisiplinan, dan prestasi kerja dalam melaksanakan tugasnya dapat


diberikan penghargaan. Penghargaan dapat berupa pemberian:
a. tanda kehormatan;
b. kenaikan pangkat istimewa;
c. kesempatan prioritas untuk pengembangan kompetensi; dan/atau
d. kesempatan menghadiri acara resmi dan/atau acara kenegaraan.
PNS yang dijatuhi sanksi administratif tingkat berat berupa pemberhentian
tidak dengan hormat dicabut haknya untuk memakai tanda kehormatan negara
tetapi juga harus dilihat dan diperlakukan sebagai warga negara. Hal ini
mengandung pengertian bahwa dalam melaksanakan pembinaan,
hendaknya sejauh mungkin diusahakan adanya keserasian antara kepentingan
dinas dengan kepentingan PNS sebagai perorangan, dengan ketentuan bahwa
apabila terdapat perbedaan antara kepentingan dinas dengan kepentingan PNS
sebagai perorangan, maka kepentingan dinaslah yang harus didahulukan.
Dengan demikian maka kesetiaan dan ketaatan PNS sepenuhnya berada di
bawah pimpinan pemerintah, agar terjamin kesatuan pimpinan dan garis
pimpinan yang jelas dan tegas. Oleh karena itu keanggotaan PNS dalam
Partai Politik tidak boleh mengurangi kesetiaan dan ketaatan penuh PNS yang
bersangkutan kepada Pancasila, UUD tahun 1945, Negara, dan Pemerintahan,
serta tidak boleh mengganggu kelancaran pelaksanaan tugasnya.
BAB III
MANAJEMEN APARATUR SIPIL NEGARA

Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN yang
profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari
praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Manajemen ASN diselenggarakan berdasarkan
Sistem Merit. Manajemen ASN meliputi Manajemen PNS dan Manajemen PPPK.
Manajemen ASN meliputi:
1. penyusunan dan penetapan kebutuhan;
2. pengadaan;
3. pangkat dan jabatan;
4. pengembangan karier;
5. pola karier;
6. promosi;
7. mutasi;
8. penilaian kinerja;
9. penggajian dan tunjangan;
10. penghargaan;
11. disiplin;
12. pemberhentian;
13. jaminan pensiun dan jaminan hari tua; dan
14. perlindungan.

A. Formasi Pegawai Negeri Sipil


1. Analisa Kebutuhan Pegawai
Setiap Instansi Pemerintah wajib menyusun kebutuhan jumlah dan jenis jabatan
PNS berdasarkan analisis jabatan dan analisis beban kerja. Penyusunan kebutuhan
jumlah dan jenis jabatan PNS dilakukan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang
diperinci per 1 (satu) tahun berdasarkan prioritas kebutuhan. Penyusunan kebutuhan
jumlah dan jenis jabatan PNS dimaksud ditujukan untuk menentukan jumlah formasi
pegawai.

26
Modul Diklat Prajabatan 27

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000, disebutkan pengertian Formasi


Pegawai Negeri Sipil adalah jumlah dan susunan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang
diperlukan dalam suatu satuan organisasi dalam jangka waktu tertentu. Menteri yang
bertanggungjawab dalam bidang pendayagunaan aparatur Negara menetapkan kebutuhan
jumlah dan jenis jabatan PNS secara nasional. Selanjutnya formasi tersebut akan dibagi
kepada setiap kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah propinsi, kabupaten dan
kota. Selanjutnya dalam Keputusan Kepala BKN Nomor 09 Tahun 2001 tentang
ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang Formasi
Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa dalam rangka perencanaan kepegawaian secara
nasional dan pengendalian jumlah pegawai, maka Gubernur, Bupati/Walikota, sebelum
menetapkan formasi harus terlebih dahulu mendapat pertimbangan dari Kepala
Badan Kepegawaian Negara.
Formasi masing-masing satuan organisasi negara disusun berdasarkan analisa
kebutuhan dan penyediaan pegawai sesuai dengan jabatan yang tersedia, dengan
memperhatikan norma, standar, dan prosedur yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.
Analisa kebutuhan tersebut dilakukan berdasarkan :
a. Jenis pekerjaan;
b. Sifat pekerjaan;
c. Analisa beban kerja dan perkiraan kapasitas seorang Pegawai Negeri Sipil dalam
jangka waktu tertentu;
d. Prinsip pelaksanaan pekerjaan, dan
e. Peralatan yang tersedia.

2. Uraian Jabatan
Uraian jabatan adalah uraian tentang hasil analisa jabatan yang berisi tentang nama
jabatan, kode jabatan, unit organisasi, ikhtisar jabatan, uraian tugas, bahan kerja,
perangkat kerja, hasil kerja, tanggung jawab, wewenang, nama jabatan yang berada
di bawahnya, koreksi jabatan, kondisi lingkungan kerja, resiko bahaya, syarat jabatan,
dan informasi jabatan lainnya.
28 Manajemen ASN

3. Peta Jabatan
Peta jabatan adalah susunan nama dan tingkat jabatan struktural dan fungsional
yang tergambar dalam suatu struktur organisasi dari tingkat yang paling rendah sampai
dengan yang paling tinggi.

B. Pengadaan Pegawai Negeri Sipil


Pengadaan PNS merupakan kegiatan untuk mengisi kebutuhan Jabatan Administrasi
dan/atau Jabatan Fungsional dalam suatu Instansi Pemerintah. Pengadaan PNS di Instansi
Pemerintah dilakukan berdasarkan penetapan kebutuhan yang ditetapkan oleh Menteri yang
bertanggung jawab dalam pendayagunaan aparatur Negara. Pengadaan PNS dilakukan
melalui tahapan perencanaan, pengumuman lowongan, pelamaran, seleksi, pengumuman
hasil seleksi, masa percobaan, dan pengangkatan menjadi PNS. Setiap Instansi Pemerintah
merencanakan pelaksanaan pengadaan PNS. Tata cara pengadaan PNS diatur dalam PP
Nomor 98 tahun 2000 sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 11 tahun 2002 tentang
Pengadaan PNS.
Setiap Warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak dan kesempatan yang sama
untuk melamar menjadi PNS tentunya setelah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam
peraturan yang berlaku.
Lowongan formasi PNS diumumkan secara luas oleh Pejabat Pembina Kepegawaian
melalui media massa dan/atau dalam bentuk lain agar dapat memberikan kesempatan
sebanyak mungkin kepada Warga Negara Indonesia untuk mengajukan lamaran, dan
memberikan lebih banyak kemungkinan bagi instansi untuk memilih calon yang paling
cakap dalam melaksanakan tugas yang akan dibebankan kepadanya. Kegiatan ini dilakukan
paling lambat 15 (lima belas) hari sebelum tanggal penerimaan lamaran. Dalam
pengumuman tersebut dicantumkan :
1. Jumlah dan jenis jabatan lowongan;
2. Syarat jabatan yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar;
3. Alamat dan tempat lamaran ditujukan; Batas waktu pengajuan lamaran, dan
4. Lain-lain yang dipandang perlu.
Modul Diklat Prajabatan 29

1. Syarat melamar sebagai Pegawai Negeri Sipil


Sedangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar adalah :
a. Berstatus sebagai Warga Negara Indonesia;
b. Berusia serendah-rendahnya 18 (delapan belas) tahun dan setinggi-tingginya 35 (tiga
puluh lima) tahun;
c. Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan pengadilan yang
sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena melakukan suatu tindak
pidana kejahatan;
d. Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri
atau tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil, atau diberhentikan tidak
dengan hormat sebagai pegawai swasta;
e. Tidak berkedudukan sebagai Calon Pegawai Negeri;
f. Mempunyai pendidikan, kecakapan, keahlian dan keterampilan yang diperlukan;
g. Berkelakuan baik;
h. Sehat jasmani dan rohani;
i. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
atau Negara lain yang ditentukan oleh pemerintah,
j. Syarat lain yang ditentukan dalam persyaratan jabatan.

2. Seleksi
Penyelenggaraan seleksi pengadaan PNS oleh Instansi Pemerintah melalui penilaian
secara objektif berdasarkan kompetensi, kualifikasi, dan persyaratan lain yang
dibutuhkan oleh jabatan. Penyelenggaraan seleksi pengadaan PNS terdiri dari 3 (tiga)
tahap, meliputi seleksi administrasi, seleksi kompetensi dasar, dan seleksi
kompetensi bidang.
Ujian seleksi bagi pelamar yang memenuhi syarat dilaksanakan oleh suatu
panitia yang dibentuk oleh Pejabat Pembina Kepegawaian. Panitia ini terdiri
sekurang-kurangnya 3 (tiga) pejabat, yaitu seorang ketua merangkap anggota, sekretaris
merangkap anggota, dan seorang anggota. Apabila jumlah anggota panitia lebih dari 3
(tiga) orang, maka jumlahnya harus merupakan bilangan ganjil. Tugas panitia
tersebut adalah sebagai berikut :
30 Manajemen ASN

a. Menyiapkan bahan ujian;


b. Menentukan pedoman pemeriksaan dan penilaian ujian;
c. Menentukan tempat dan jadwal ujian;
d. Menyelenggarakan ujian;
e. Memeriksa dan menentukan hasil ujian.
Sebagai catatan, lembar jawaban ujian diperiksa oleh sekurang-kurangnya 2
(dua) orang anggota. Materi ujian penyaringan ini meliputi test kompetensi dan
psikotes. Materi tes kompetensi disesuaikan dengan kebutuhan persyaratan jabatan,
sedangkan penyelenggaraan psikotes disesuaikan dengan kebutuhan persyaratan
jabatan dan kemampuan instansi masing-masing. Materi tes kompetensi tersebut
disesuaikan dengan kebutuhan persyaratan jabatan, yang antara lain meliputi
pengetahuan umum, bahasa Indonesia, kebijakan pemerintah, pengetahuan teknis, dan
pengetahuan lainnya. Sedangkan psikotes di lakukan untuk mengetahui kepribadian,
minat dan bakat dari pelamar.
Selanjutnya, bagi yang lulus ujian penyaringan akan di tetapkan dan
diumumkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian. Untuk itu, bagi pelamar yang
dinyatakan lulus ujian penyaringan diwajibkan untuk menyerahkan kelengkapan
administrasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3. Proses Pengangkatan menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil


Pelamar yang dinyatakan lulus ujian atau seleksi yang akan diangkat menjadi Calon
Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tersebut, oleh Pejabat Pembina Kepegawaian disampaikan
kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara untuk mendapatkan Nomor Identitas
Pegawai Negeri Sipil atau yang lebih dikenal dengan singkatan NIP. Pelamar yang
sudah diberi NIP selanjutnya diangkat sebagai CPNS melalui keputusan Pejabat Pembina
Kepegawaian. Pengangkatan ini dilakukan dalam tahun anggaran belanja, dan
penetapannya tidak boleh berlaku surut. Namun perlu pula diperhatikan bahwa terdapat
kemungkinan adanya pelamar yang secara administratif tidak memenuhi syarat
sehingga oleh BKN tidak diberi NIP dan berkasnya dikembalikan kepada Pejabat
Pembina Kepegawaian yang bersangkutan. Golongan ruang yang ditetapkan untuk
pengangkatan sebagai CPNS tersebut adalah:
Modul Diklat Prajabatan 31

a. Golongan ruang I/a untuk yang memiliki STTB Sekolah Dasar atau setingkat;
b. Golongan ruang I/c untuk yang memiliki STTB SLTP atau setingkat;
c. Golongan ruang II/a untuk yang memiliki STTB SLTA atau setingkat;
d. Golongan ruang II/b untuk yang memiliki STTB Sekolah Guru Pendidikan Luar
Biasa atau Diploma III;
e. Golongan ruang II/c untuk yang memiliki ijazah Sarjana Muda, Akademi, atau
Diploma;
f. Golongan ruang III/a untuk yang memiliki ijazah Sarjana, atau Diploma IV;
g. Golongan ruang III/b untuk yang memiliki ijazah Dokter, Apoteker, dan ijazah
lainnya yang setara, Magister (S2), atau ijazah Spesialis I; dan
h. Golongan ruang III/c untuk yang memiliki ijazah Doktor (S3), atau ijazah Spesialis II.
Setiap Calon PNS wajib menjalani masa percobaan. Masa percobaan dilaksanakan
melalui proses pendidikan dan pelatihan terintegrasi untuk membangun integritas moral,
kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian
yang unggul dan bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi
bidang. Masa percobaan bagi calon PNS dilaksanakan selama 1 (satu) tahun. Instansi
Pemerintah wajib memberikan pendidikan dan pelatihan kepada calon PNS selama masa
percobaan.

4. Gaji Pegawai Negeri Sipil


Setiap PNS berhak atas gaji, gaji bagi CPNS mulai berlaku pada tanggal yang
bersangkutan secara nyata melaksanakan tugasnya yang dinyatakan dengan surat
pernyataan oleh kepala kantor atau satuan organisasi yang bersangkutan.

5. Pengangkatan CPNS menjadi Pegawai Negeri Sipil


Setiap Calon PNS yang diangkat menjadi PNS harus memenuhi persyaratan lulus
pendidikan dan pelatihan; dan sehat jasmani dan rohani. Calon PNS yang telah
memenuhi persyaratan diangkat menjadi PNS oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Calon PNS yang tidak memenuhi
ketentuan perundang-undangan diberhentikan sebagai calon PNS.
32 Manajemen ASN

CPNS yang telah menjalankan masa percobaan selama 1 (satu) tahun diangkat
menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) oleh Pejabat Pembina kepegawaian dalam jabatan
dan pangkat tertentu, apabila:
a. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik;
b. Telah memenuhi syarat kesehatan jasmani dan rohani untuk diangkat menjadi
Pegawai Negeri Sipil , dan
c. Telah lulus Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan.
Syarat penilaian prestasi kerja/DP-3 dinyatakan secara tertulis oleh atasan yang
berwenang membuat penilaian prestasi kerja, sedangkan syarat kesehatan jasmani
dimaksud oleh Dokter Penguji Tersendiri atau Tim Penguji Kesehatan yang ditunjuk oleh
Menteri Kesehatan, sedangkan untuk Surat Tanda Tamat Pendidikan dan
Pelatihan Prajabatan ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian. Sementara itu
tanggal mulai berlakunya pengangkatan menjadi PNS tidak boleh berlaku surut.
CPNS yang telah diangkat menjadi PNS tersebut kemudian diberikan pangkat
tertentu. Pengertian Pangkat adalah kedudukan yang menunjukkan tingkat seseorang
Pegawai Negeri Sipil berdasarkan jabatannya dalam rangkaian susunan kepegawaian
dan digunakan sebagai dasar panggajian. Pangkat yang diberikan kepada CPNS
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Golongan ruang I/a pangkat Juru Muda;
b. Golongan ruang I/c pangkat Juru;
c. Golongan ruang II/a pangkat Pengatur Muda;
d. Golongan ruang II/b pangkat Pengatur Muda Tk. I;
e. Golongan ruang II/c pangkat Pengatur;
f. Golongan ruang III/a pangkat Penata Muda;
g. Golongan ruang III/b pangkat Penata Muda Tingkat I;
h. Golongan ruang III/c pangkat Penata.

6. Pemberhentian Calon Pegawai Negeri Sipil


Dengan keputusan Pejabat Pembina Kepegawaian, CPNS dinyatakan
diberhentikan apabila:
a. Mengajukan permohon berhenti;
Modul Diklat Prajabatan 33

b. Tidak memenuhi syarat kesehatan;


c. Tidak lulus pendidikan dan pelatihan prajabatan;
d. Tidak menunjukkan kecakapan dalam melaksanakan tugas;
e. Menunjukan sikap dan budi pekerti yang tidak baik yang dapat mengganggu
lingkungan pekerjaan;
f. Dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau berat;
g. Pada waktu melamar dengan sengaja memberikan keterangan atau bukti yang
tidak benar;
h. Dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah
mempunyai kekuatan hukum yang adalah tetap karena dengan sengaja melakukan
sesuatu tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan atau
tugasnya, atau menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik.
BAB IV
SISTEM PENEMPATAN

A. Pegawai Baru
Sebagaimana dinyatakan dalam pasal 68 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014,
Pegawai Negeri Sipil diangkat dalam jabatan dan pangkat tertentu. Pengangkatan PNS
dalam jabatan tertentu ditentukan berdasarkan perbandingan objektif antara kompetensi,
kualifikasi, dan persyaratan yang dibutuhkan oleh jabatan dengan kompetensi, kualifikasi,
dan persyaratan yang dimiliki oleh pegawai. Setiap jabatan tertentu dikelompokkan dalam
klasifikasi jabatan PNS yang menunjukkan kesamaan karakteristik, mekanisme, dan pola
kerja.
Jabatan dalam birokrasi pemerintah adalah Jabatan Administrasi, Jabatan Fungsional dan
Jabatan Pimpinan Tinggi. Adapun yang dimaksud dengan Jabatan Administrasi adalah
sekelompok jabatan yang berisi fungsi dan tugas berkaitan dengan pelayanan publik serta
administrasi pemerintahan dan pembangunan. Sedangkan Jabatan Fungsional adalah
sekelompok jabatan yang berisi fungsi dan tugas berkaitan dengan pelayanan fungsional
yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu. Dan Jabatan Pimpinan Tinggi
adalah sekelompok jabatan tinggi pada instansi pemerintah.
Jabatan Administrasi terdiri atas jabatan administrator; jabatan pengawas; dan jabatan
pelaksana. Jabatan Fungsional dalam ASN terdiri atas jabatan fungsional keahlian dan
jabatan fungsional keterampilan. Jabatan fungsional keahlianterdiri atas ahli utama; ahli
madya; ahli muda; dan ahli pertama. Sedangkan Jabatan fungsional keterampilanterdiri atas
penyelia; mahir; terampil; dan pemula. Adapun Jabatan Pimpinan Tinggi terdiri atas
jabatan pimpinan tinggi utama; jabatan pimpinan tinggi madya; dan jabatan pimpinan tinggi
pratama.
Pejabat dalam jabatan administrator bertanggung jawab memimpin pelaksanaan seluruh
kegiatan pelayanan publik serta administrasi pemerintahan dan pembangunan. Pejabat dalam
jabatan pengawas bertanggung jawab mengendalikan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan
oleh pejabat pelaksana. Pejabat dalam jabatan pelaksana bertanggung jawab melaksanakan
kegiatan pelayanan publik serta administrasi pemerintahan dan pembangunan. Jabatan

34
Modul Diklat Prajabatan 35

Pimpinan Tinggi berfungsi memimpin dan memotivasi setiap Pegawai ASN pada Instansi
Pemerintah melalui:
a. kepeloporan dalam bidang: keahlian profesional; analisis dan rekomendasi kebijakan;
dan kepemimpinan manajemen.
b. pengembangan kerja sama dengan instansi lain; dan
c. keteladanan dalam mengamalkan nilai dasar ASN dan melaksanakan kode etik dan kode
perilaku ASN.

B. Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil


Penilaian kinerja PNS bertujuan untuk menjamin objektivitas pembinaan PNS yang
didasarkan sistem prestasi dan sistem karier. Penilaian kinerja PNS dilakukan berdasarkan
perencanaan kinerja pada tingkat individu dan tingkat unit atau organisasi, dengan
memperhatikan target, capaian, hasil, dan manfaat yang dicapai, serta perilaku PNS.
Penilaian kinerja PNS dilakukan secara objektif, terukur, akuntabel, partisipatif, dan
transparan. Penilaian kinerja PNS berada di bawah kewenangan Pejabat yang Berwenang
pada Instansi Pemerintah masing-masing. Penilaian kinerja PNS didelegasikan secara
berjenjang kepada atasan langsung dari PNS. Penilaian kinerja PNS dapat
mempertimbangkan pendapat rekan kerja setingkat dan bawahannya. Hasil penilaian kinerja
PNS disampaikan kepada tim penilai kinerja PNS. Hasil penilaian kinerja PNS digunakan
untuk menjamin objektivitas dalam pengembangan PNS, dan dijadikan sebagai persyaratan
dalam pengangkatan jabatan dan kenaikan pangkat, pemberian tunjangan dan sanksi, mutasi,
dan promosi, serta untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan. PNS yang penilaian
kinerjanya tidak mencapai target kinerja dikenakan sanksi administrasi sampai dengan
pemberhentian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor
46 Tahun 2011. Adapun yang dimaksud dengan Penilaian prestasi kerja PNS adalah suatu
proses penilaian secara sistematis yang dilakukan oleh pejabat penilai terhadap sasaran kerja
pegawai dan perilaku kerja PNS. Sedangakn Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai
oleh setiap PNS pada satuan organisasi sesuai dengan sasaran kerja pegawai dan perilaku
kerja.
36 Manajemen ASN

Penilaian prestasi kerja PNS terdiri atas unsur: SKP; dan perilaku kerja. Sasaran Kerja
Pegawai (SKP) adalah rencana kerja dan target yang akan dicapai oleh seorang PNS.
Sedangkan yang dimaksud dengan Perilaku kerja adalah setiap tingkah laku, sikap atau
tindakan yang dilakukan oleh PNS atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Setiap PNS wajib menyusun SKP berdasarkan rencana kerja tahunan instansi. SKP
memuat kegiatan tugas jabatan dan target yang harus dicapai dalam kurun waktu penilaian
yang bersifat nyata dan dapat diukur. SKP yang telah disusun harus disetujui dan ditetapkan
oleh pejabat penilai. Dalam hal SKP yang disusun oleh PNS tidak disetujui oleh pejabat
penilai maka keputusannya diserahkan kepada atasan pejabat penilai dan bersifat final. SKP
ditetapkan setiap tahun pada bulan Januari. Dalam hal terjadi perpindahan pegawai setelah
bulan Januari maka yang bersangkutan tetap menyusun SKP pada awal bulan sesuai dengan
surat perintah melaksanakan tugas atau surat perintah menduduki jabatan. PNS yang tidak
menyusun SKP dijatuhi hukuman disiplin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang mengatur mengenai disiplin PNS.
Penilaian SKP meliputi aspek kuantitas; kualitas; waktu; dan biaya. Penilaian SKP
paling sedikit meliputi aspek kuantitas, kualitas, dan waktu, sesuai dengan karakteristik, sifat,
dan jenis kegiatan pada masing-masing unit kerja.
Penilaian perilaku kerja meliputi aspek orientasi pelayanan; integritas; komitmen;
disiplin; kerja sama; dan kepemimpinan. Penilaian kepemimpinan hanya dilakukan bagi
PNS yang menduduki jabatan struktural. Penilaian perilaku kerja dilakukan melalui
pengamatan oleh pejabat penilai terhadap PNS sesuai kriteria yang ditentukan. Pejabat
penilai dalam melakukan penilaian perilaku kerja dapat mempertimbangkan masukan dari
pejabat penilai lain yang setingkat di lingkungan unit kerja masing-masing. Nilai perilaku
kerja dapat diberikan paling tinggi 100 (seratus).
Penilaian prestasi kerja dilakukan dengan cara menggabungkan penilaian SKP dengan
penilaian perilaku kerja. Adapun bobot nilai unsur SKP 60% (enam puluh persen) dan
perilaku kerja 40% (empat puluh persen). Penilaian prestasi kerja PNS dilaksanakan oleh
pejabat penilai sekali dalam 1 (satu) tahun, dan dilakukan setiap akhir Desember pada tahun
yang bersangkutan dan paling lama akhir Januari tahun berikutnya. Nilai prestasi kerja PNS
dinyatakan dengan angka dan sebutan sebagai berikut:
Modul Diklat Prajabatan 37

1. 91 – ke atas: sangat baik


2. 76 – 90: baik
3. 61 – 75: cukup
4. 51 – 60: kurang
5. 50 ke bawah: buruk

C. Kenaikan Pangkat PNS


Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pembinaan PNS atas pada sistem prestasi kerja,
maka PNS yang memenuhi syarat dapat dinaikkan pangkatnya. Kenaikan pangkat
adalah penghargaan yang diberikan atas prestasi kerja dan pengabdian PNS terhadap
negara. Selain itu, kenaikan pangkat juga dimaksudkan sebagai dorongan kepada PNS
untuk lebih meningkatkan prestasi kerja dan pengabdiannya. Dalam PP Nomor 99 tahun
2000 jo PP Nomor 12 Tahun 2002 tentang Kenaikan Pangkat PNS disebutkan ada 2 (dua)
jenis kenaikan pangkat, yaitu kenaikan pangkat reguler dan kenaikan pangkat pilihan.
Dalam lingkungan PNS terdapat 17(tujuh belas) jenjang pangkat dan 4 (empat)
Golongan, di mana setiap Golongan dibagi ke dalam 4 (empat) ruang, kecuali Golongan IV
yang dibagi kedalam 5 (lima) ruang. Di bawah ini adalah matriks jenjang pangkat dan
Golongan ruang penggajian yang berlaku di lingkungan Pegawai Negeri Sipil .
NO PANGKAT GOLONGAN RUANG
1. Juru Muda I a
2. Juru Muda Tk .I I b
3. Juru I c
4. Juru Tk. I I d
5. Pengatur Muda II a
6. Pengatur Muda Tk. I Pengatur II b
7. Pengatur II c
8. Pengatur Tk. I II d
9. Penata Muda III a
10. Penata Muda Tk. I Penata III b
11. Penata III c
12. Penata Tk. I III d
13. Pembina IV a
14. Pembina Tingkat I IV b
15. Pembina Utama Muda IV c
16. Pembina Utama Madya IV d
17. Pembina Utama IV e
38 Manajemen ASN

1. Kenaikan Pangkat Reguler


Kenaikan pangkat reguler adalah penghargaan yang diberikan kepada PNS
yang telah memenuhi syarat yang ditentukan tanpa terikat pada jabatan. Kenaikan
pangkat reguler diberikan kepada PNS yang:
a. Tidak menduduki jabatan struktural atau jabatan fungsional tertentu;
b. Melaksanakan tugas belajar dan sebelumnya tidak menduduki jabatan struktural
atau jabatan fungsional tertentu, dan
c. Dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh di luar instansi induk dan tidak
menduduki jabatan struktural atau jabatan fungsional tertentu.
Kenaikan pangkat reguler diberikan sepanjang tidak melampaui pangkat atasan
langsungnya dan setelah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Sekurang-kurangnya telah 4 (empat) tahun dalam pangkat terakhir; dan
b. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2
(dua) tahun terakhir.
Kenaikan pangkat reguler ini tidak secara terus-menerus diberikan kepada PNS,
akan tetapi sangat dipengaruhi oleh jenjang pendidikan PNS yang bersangkutan.
Pangkat puncak/tertinggi yang dapat dicapai oleh PNS, yaitu sampai dengan:
a. Pengatur Muda Golongan ruang II/a bagi yang memiliki STTB Sekolah Dasar;
b. Pengatur Golongan ruang II/c bagi yang memiliki STTB Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama;
c. Pengatur Tingkat I Golongan ruang II/d bagi yang memiliki STTB Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama;
d. Penata Muda Tingkat I Golongan ruang III/b bagi yang memiliki STTB Sekolah
Lanjutan Tingkat Atas, Sekolah Lanjutan Kejujuran Tingkat Atas, atau Diploma II;
e. Penata Golongan ruang III/c bagi yang memiliki ijazah Sekolah Guru Pendidikan
Luar Biasa, Diploma III, Sarjana Muda, Akademi, atau Bakaloreat;
f. Penata Tingkat I Golongan ruang III/d bagi yang memiliki ijazah Sarjana (S 1)
atau Diploma IV;
g. Pembina Golongan ruang IV/a bagi yang memiliki ijazah Dokter, Apoteker,
Magister (S 2), atau Spesialis I; dan
Modul Diklat Prajabatan 39

h. Pembina Tingkat I Golongan ruang IV/b bagi yang memiliki ijazah Doktor (S 3),
atau Spesialis II;

2. Kenaikan Pangkat Pilihan


Kenaikan pangkat pilihan adalah kepercayaan dan penghargaan yang
diberikan kepada PNS atas prestasi kerjanya yang tinggi. Kenaikan pangkat pilihan
diberikan kepada PNS yang :
a. Menduduki jabatan struktural atau jabatan fungsional tertentu;
b. Menduduki jabatan tertentu yang pangkatnya ditetapkan dengan Keputusan Presiden;
c. Menunjukan prestasi kerja yang luar biasa baiknya;
d. Menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi Negara;
e. Diangkat menjadi pejabat Negara;
f. Memperoleh STTB atau ijazah yang lebih tinggi;
g. Melaksanakan tugas belajar dan sebelumnya menduduki jabatan struktural atau
jabatan fungsional;
h. Telah selesai mengikuti dan lulus tugas belajar; dan
i. Dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh di luar instansi induknya yang
pangkatnya dalam jabatan pimpinan atau jabatan fungsional tertentu.

Masa atau periode kenaikan pangkat PNS ditetapkan pada tanggal 01 April dan 01
Oktober. Selanjutnya, selain jenis- jenis kenaikan pangkat reguler dan pilihan, ada
juga kenaikan pangkat Pengabdian.
PNS yang menduduki jabatan struktural dan pangkatnya masih dalam jenjang
pangkat terendah yang ditentukan untuk jabatan itu, dapat dinaikkan pangkatnya
setingkat lebih tinggi apabila:
a. Sekurang-kurangnya telah 2 (dua) tahun dalam pangkat terakhir;
b. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik dalam
12 (dua belas) tahun terakhir.
Demikian pula bagi PNS yang pangkatnya masih 1 (satu) tingkat di bawah jenjang
pangkat terendah yang ditentukan untuk jabatan itu, dinaikkan pangkatnya setingkat
lebih tinggi. PNS yang menunjukkan prestasi kerja luar biasa baiknya selama 1 (satu)
40 Manajemen ASN

tahun terakhir, dinaikkan pangkatnya setingkat lebih tinggi tanpa terikat pada jenjang
pangkat apabila
a. Sekurang-kurangnya telah 1 (satu) tahun dalam pangkat terakhir;
b. Setiap unsur penilaian prestasi kerja bernilai amat baik dalam 1 (satu) tahun terakhir.
Dengan Keputusan Presiden, PNS dapat dinaikkan pangkatnya setingkat lebih
tinggi apabila menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi Negara tanpa terikat
dengan jenjang pangkatnya. Hal ini dapat dilakukan apabila PNS yang bersangkutan telah
1 (satu) tahun dalam pangkat terkhir dan mempunyai penilaian prestasi kerja dalam 1
(satu) tahun terakhir rata-rata bernilai baik. Begitu pula bagi PNS yang diangkat
menjadi Pejabat Negara dan diberhentikan dari jabatan organiknya, dapat dinaikkan
pangkatnya setiap kali setingkat lebih tinggi tanpa terikat dengan jenjang pangkatnya
apabila:
a. Sekurang-kurangnya telah 4 (empat) tahun dalam pangkat terakhir;
b. Setiap unsur penilaian prestasi kerja dalam 1 (satu) tahun terakhir sekurang-
kurangnya bernilai baik.
PNS juga dapat dinaikkan pangkatnya setingkat lebih tinggi apabila yang
bersangkutan memperoleh:
a. Surat Tanda Tamat Belajar atau Ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau
setingkat dan masih berpangkat Juru Muda Tingkat I, Golongan ruang I/b ke bawah,
dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Juru, Golongan ruang I/c;
b. Surat Tanda Tamat Belajar atau Ijazah Sekolah Lanjutan atas, diploma I atau
setingkat dan masih berpangkat Juru Tingkat I, Golongan ruang I/d ke bawah,
dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Pengatur Muda, Golongan ruang II/a;
c. Surat Tanda Tamat Belajar atau Ijazah Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa atau
Diploma II dan masih berpangkat Pengatur Muda, Golongan ruang II/a ke
bawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Pengatur Muda Tingkat I, Golongan
ruang II/b;
d. Ijazah Sarjana Muda, Ijazah Akademik atau Ijazah Diploma III dan masih
berpangkat Pengatur Muda Tingkat I, Golongan ruang II/b ke bawah, dapat
dinaikkan pangkatnya menjadi Pengatur, Golongan ruang II/c;
Modul Diklat Prajabatan 41

e. Ijazah Sarjana (S1) atau Ijazah Diploma IV dan masih berpangkat Pengatur Tingkat I,
Golongan ruang II/d ke bawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Penata Muda,
Golongan ruang III/a;
f. Ijazah Dokter, Ijazah Apoteker dan Ijazah lain yang setara, Ijazah Magister (S2)
atau Ijazah Spesialis I dan masih berpangkat Penata Muda, Golongan ruang III/a ke
bawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Penata Muda Tingkat I, Golongan
ruang III/b;
g. Ijazah Doktor (S3) atau Ijazah Spesialis II dan masih barpangkat Penata Muda
Tingkat I, Golongan rung III/b ke bawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi
Penata, Golongan ruang III/c.

Demikian pula bagi PNS yang melaksanakan tugas belajar apabila telah lulus dan
memperoleh:
a. Ijazah Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa atau Ijazah Diploma II dan masih
berpangkat Pengatur Muda, Golongan ruang II/a ke bawah, dapat dinaikkan
pangkatnya menjadi Pengatur Muda Tingkat I, Golongan ruang II/b;
b. Ijazah Sarjana Muda, Ijazah Akademik atau Ijazah Diploma III dan masih
berpangkat Pengatur Muda Tingkat I, Golongan ruang II/b ke bawah, dinaikkan
pangkatnya menjadi Pengatur Golongan ruang II/c;
c. Ijazah Sarjana (S1) atau Ijazah Diploma IV dan masih berpangkat Pengatur Tingkat I,
Golongan ruang II/d ke bawah, dinaikkan pangkatnya menjadi Penata Muda,
Golongan ruang III/a;
d. Ijazah Dokter, Ijazah Apoteker dan Ijazah lain yang setara, Ijazah Magister (S2)
atau Ijazah Spesialis I dan masih berpangkat Penata Muda, Golongan ruang III/a ke
bawah, dinaikkan pangkatnya menjadi Penata Muda Tingkat I, Golongan ruang
III/b;
e. Ijazah Doktor (S3) atau Ijazah Spesialis II dan masih berpangkat Penata Muda
Tingkat I, Golongan ruang III/b ke bawah, dinaikkan pangkatnya menjadi Penata,
Golongan ruang III/c.
42 Manajemen ASN

3. Kenaikan Pangkat Anumerta


Kenaikan Pangkat Anumerta adalah kenaikan pangkat yang diberikan kepada PNS
yang dinyatakan tewas, artinya meninggal dunia dalam dan karena menjalankan
tugas kewajibannya. Untuk menghargai keadaan tersebut Pemerintah memberikan
kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi dari pangkat yang dimilikinya, yang berlaku
mulai tanggal PNS yang bersangkutan tewas (artinya tidak mengikuti masa kenaikan
pangkat sebagaimana tersebut dalam alenia di atas ini).

4. Kenaikan Pangkat Pengabdian


Kenaikan Pangkat Pengabdian adalah kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi
yang diberikan kepada PNS yang diberikan dengan hormat dengan hak pensiun
karena mencapai batas usia pensiun sepanjang yang bersangkutan telah:
a. 30 (tiga puluh) tahun atau lebih secara terus menerus dan sekurang-kurangnya telah 1
(satu) bulan dalam pangkat terakhir;
b. 25 (dua puluh lima) tahun atau lebih tetapi kurang dari 30 (tiga puluh) tahun
secara terus menerus dan sekurang-kurangnya lebih 1 (satu) tahun dalam pangkat
terakhir;
c. 20 (dua puluh) tahun atau lebih tetapi kurang dari 25 (dua puluh lima) tahun
secara terus menerus dan sekurang-kurangnya telah 2 (dua) tahun dalam pangkat
terakhir; dan
d. 10 (sepuluh) tahun atau lebih tetapi kurang dari 20 (dua puluh) tahun secara terus
menerus dan sekurang-kurangnya telah 4 (empat) tahun terakhir dalam pangkat
terakhir.

Selain itu kepada PNS atau CPNS yang oleh Tim Penguji Kesehatan dinyatakan cacat
karena dinas dan tidak dapat bekerja lagi dalam semua jabatan negeri, diberikan
kenaikan pangkat pengabdian setingkat lebih tinggi.
Selanjutnya, bagi PNS yang akan naik Golongan, yaitu dari Golongan I ke
Golongan II, dan dari Golongan II ke Golongan III untuk dapat dinaikkan ke
Golongan yang lebih tinggi selain harus memenuhi syarat yang ditentukan juga harus
harus lulus ujian dinas, kecuali bagi mereka yang misalnya telah mengikuti dan lulus
Modul Diklat Prajabatan 43

Pendidikan da Pelatihan Kepemimpinan atau telah memperoleh Ijazah sarjana (S1) dan
yang dianggap sama dengan itu atau yang lebih tinggi.
BAB V
SISTEM KARIER PNS

A. Pengembangan Karir
Penilaian kinerja PNS bertujuan untuk menjamin objektivitas pembinaan PNS yang
didasarkan sistem prestasi dan sistem karier. Pengembangan karier PNS dilakukan
berdasarkan kualifikasi, kompetensi, penilaian kinerja, dan kebutuhan Instansi Pemerintah.
Pengembangan karier PNS dilakukan dengan mempertimbangkan integritas dan moralitas.
Integritas diukur dari kejujuran, kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-
undangan, kemampuan bekerja sama, dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan
negara. Sedangkan Moralitas diukur dari penerapan dan pengamalan nilai etika agama,
budaya, dan sosial kemasyarakatan.
Setiap Pegawai ASN memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi.
Pengembangan kompetensi antara lain melalui pendidikan dan pelatihan, seminar, kursus,
dan penataran. Pengembangan harus dievaluasi oleh Pejabat yang berwenang dan
digunakan sebagai salah satu dasar dalam pengangkatan jabatan dan pengembangan karier.
Dalam mengembangkan kompetensi setiap Instansi Pemerintah wajib menyusun rencana
pengembangan kompetensi tahunan yang tertuang dalam rencana kerja anggaran tahunan
instansi masing-masing.
Sedangkan Kompetensi meliputi:
1. kompetensi teknis yang diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan, pelatihan teknis
fungsional, dan pengalaman bekerja secara teknis;
2. kompetensi manajerial yang diukur dari tingkat pendidikan, pelatihan struktural atau
manajemen, dan pengalaman kepemimpinan; dan
3. kompetensi sosial kultural yang diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan
masyarakat majemuk dalam hal agama, suku, dan budaya sehingga memiliki wawasan
kebangsaan.
Untuk menjamin keselarasan potensi PNS dengan kebutuhan penyelenggaraan tugas
pemerintahan dan pembangunan perlu disusun pola karier PNS yang terintegrasi secara

44
Modul Diklat Prajabatan 45

nasional. Setiap Instansi Pemerintah menyusun pola karier PNS secara khusus sesuai dengan
kebutuhan berdasarkan pola karier nasional.
Dalam penyusunan pola karir di lingkungan Instansi atau organisasi Pemerintah,
paling tidak ada 2 (dua) manfaat utama, yaitu manfaat bagi pegawai yang bersangkutan dan
manfaat bagi organisasi/ instansi:
1. Manfaat bagi Pegawai
a. Pegawai lebih menyadari keterampilan atau kemampuan, kekuatan dan
kelemahannya, sehingga dapat meningkatkan dan memperbaiki kinerja pegawai;
b. Dapat menyadarkan para pegawai tentang kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai dan
tujuan-tujuan yang diinginkan di dalam instansi atau organisasi;
c. Dengan adanya pola karir yang jelas akan menyadarkan para pegawai tentang
adanya peluang, karir dan pekerjaan yang selaras dengan kemampuan dan minat
pegawai yang bersangkutan;
d. Dapat meningkatkan harga diri dan kebanggaan atas kontribusi yang bersangkutan
terhadap organisasi atau instansi;
e. Menumbuhkan kepuasan diri pegawai sebagai refleksi dari produktivitas kerja
pegawai;
f. Dapat memberikan arahan bagi pegawai akan karir yang diinginkannya pada masa
yang akan datang.

2. Manfaat bagi Organisasi


a. Pemanfaatan Sumber Daya Manusia lebih optimal, melalui perencanaan yang
sistematis yang dapat diketahui pegawai secara langsung;
b. Dengan adanya pola karir, maka sangat memudahkan bagi manajemen
kepegawaian dalam melakukan kaderisasi;
c. Dapat merangsang para pegawai untuk melakukan persaingan yang sehat dengan
menunjukan kinerja mereka yang pada gilirannya akan meningkatkan
produktivitas kerja pegawai;
d. Dapat menunjukkan atau meningkatkan citra organisasi;
e. Dengan adanya pola karir, maka akan meningkatkan kinerja instansi/organisasi.
46 Manajemen ASN

B. Konsep Pola Karir


Karir adalah kemungkinan yang terbuka bagi setiap pegawai dalam rangka mendapatkan
kedudukan atau jabatan tertentu, kenaikan pangkat, kesempatan memasuki pendidikan dan
pelatihan serta pemindahan atau alih penugasan. Karir seorang pegawai dimulai sejak saat
pegawai yang bersangkutan diangkat menjadi pegawai dalam suatu organisasi. Menurut
Greenhaus : A career is defined as the pattern of work related experiences that span the
course of a person’s life (2000 : 9), dalam hal ini karir diartikan sebagai pola kerja yang
dihubungkan dengan
1. Situasi objektif seperti posisi dalam pekerjaan, tugas atau kegiatan dan pekerjaan
yang berhubungan dengan keputusan;
2. Interpretasi subjektif dari pekerjaan yang dihubungkan dengan kegiatan-kegiatan
seperti aspirasi pekerjaan, pengharapan, nilai-nilai, kebutuhan dan pengalaman dalam
pekerjaan tertentu.

Dari satu prespektif, karir adalah urutan posisi yang didukung oleh kemampuan
seseorang selama hidupnya (Henry Simamora, 1997). Dalam kehidupan
pegawai/karyawan, baik pegawai/karyawan pemerintah maupun swasta, karir berarti
perjalanan seseorang dalam menjalani kehidupan yang dilaluinya sejak diangkat
sebagai pegawai/karyawan dalam suatu organisasi sampai diberhentikan sebagai
pegawai/karyawan.
Adapun pola karir pegawai adalah pola pembinaan pegawai yang menggambarkan
jalur pengembangan karir yang menunjukkan pola keterkaitan serta keserasian antara
jabatan, pangkat, pendidikan dan pelatihan serta masa kerja seorang pegawai sejak
pengangkatan pertama dalam jabatan tertentu sampai dengan pensiun.
Pengembangan karir adalah proses identifikasi potensi atau kemampuan pegawai
dengan mencari serta menerapkan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan potensi
atau kemampuan tersebut. Pengembangan karir juga dapat diartikan sebagai peningkatan
pribadi yang dilakukan seseorang untuk mencapai rencana karirnya. Dalam prakteknya
pengembangan karir (career development) mencakup manajemen karir (career management)
dan perencanaan karir (career planning).
Modul Diklat Prajabatan 47

Memahami pengembangan karir dalam suatu organisasi memerlukan perhatian


terhadap dua aspek, yaitu bagaimana masing-masing orang merencanakan dan menerapkan
tujuan- tujuan karirnya (perencanaan karir) dan bagaimana manajemen atau organisasi
merancang dan menerapkan program-program pengembangan karirnya sesuai dengan
kebutuhan organisasi. Manajemen karir adalah proses berkelanjutan dari penyiapan,
penerapan dan pemantauan rencana-rencana karir yang dilakukan individu itu sendiri
atau seiring dengan sistem karir.
Karir adalah perjalanan pekerjaan seorang pegawai dalam suatu organisasi, atau
perjalanan seseorang yang dimulai sejak ia diterima sebagai pegawai baru dan berakhir pada
saat yang bersangkutan tidak bekerja dalam organisasi tersebut. Dengan perkataan lain karir
adalah suatu urutan promosi yang lebih menuntut tanggung jawab yang lebih tinggi bagi
seorang pegawai selama berkarya dalam suatu organisasi.
Jalur karier adalah:
1. Pola yang mnggambarkan kemungkinan urutan jabatan bagi seorang karyawan sampai
mencapai jabatan tertinggi;
2. Pola yang berkesinambungan dari beberapa pekerjaan atau jabatan yang membentuk karir
seseorang.
Pola atau jalur karir merupakan opsi (pilihan) karir yang ada bagi setiap pekerjaan dan
persyaratan yang diminta bagi suatu pekerjaan. Agar pola jalur karir yang disusun dapat
memenuhi kebutuhan organisasi, maka dalam menyusun pola jalur karir, pihak manajemen
SDM harus mengajak fungsi-fungsi lain yang ada dalam organisasi.
Idealnya sebuah tim penyusun pola jalur karir terdiri dari:
1. Pihak yang mempunyai wewenang di manajemen puncak;
2. Pihak-pihak yang mewakili visi dari fungsi yang ada didalam organisasi seperti unit-unit
Operasional Tugas Pokok (lini) yang ada;
3. Pihak Unit atau Bagian Sumber Daya Manusia.

Kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan organisasi dalam menyusun suatu pola jalur
karir adalah:
1. Mengevaluasi struktur organisasi yang ada, agar didapatkan gambaran secara penuh
tentang pekerjaan atau jabatan yang akan dibuat pola jalur karirnya;
48 Manajemen ASN

2. Membuat kriteria-kriteria yang akan dijadikan dasar pengelompokan pekerjaan-


pekerjaan yang ada sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan;
3. Mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan yang ada sesuai dengan kriteria yang sudah
ditetapkan;
4. Menetapkan pengaturan dasar yang dapat diizinkan instansi untuk masalah;
a. Promosi;
b. Perpindahan literal;
c. Titik pindah (switching point).
5. Mengevaluasi uraian dan persyaratan jabatan setiap pekerjaan yang ada.

Secara umum proses perencanaan dan pengembangan karir dapat dilihat pada gambar di
bawah ini. Melalui proses perencanaan ini memungkinkan para pegawai untuk
mengidentifikasikan sasaran-sasaran karir dan jalur-jalur menuju ke sasaran tersebut.
Kemudian melalui kegiatan-kegiatan pengembangan para pegawai mencari cara-cara untuk
meningkatkan dirinya dan mengembangkan sasaran-sasaran karir mereka (Handoko,1995).

GAMBARAN SISTEM PENGEMBANGAN KARIER


INPUT PROSES OUTPUT
Perencanaan Jalur Sasaran

PENGEMBANGAN

FEEDBACK

C. Kebijakan Pembinaan PNS


Sistem pembinaan PNS merupakan perpaduan antara system prestasi kerja dan sistem
karir yang dititikberatkan pada system prestasi kerja. Sistem karir adalah suatu sistem
kepegawaian, di mana untuk pengangkatan pertama didasarkan atas kecakapan yang
bersangkutan, sedang dalam pengembangan lebih lanjut, masa kerja, kesetiaan, ketaatan,
pengabdian, dan syarat-syarat obyektif lainnya juga turut menentukan. Dalam sistem karir
Modul Diklat Prajabatan 49

dimungkinkan seseorang naik pangkat tanpa ujian jabatan dan pengangkatan dalam jabatan
dilaksanakan berdasarkan jenjang yang telah ditentukan. Sementara sistem prestasi kerja
adalah suatu sistem kepegawaian yang dalam kenaikan pangkat dan pengangkatan dalam
jabatan didasarkan pada kriteria yang jelas, misalnya melalui serangkaian tes agar
memenuhi syarat kompetensi yang diperlukan serta dengan melihat prestasi kerjanya
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Dengan demikian terdapat obyektivitas
yang tinggi dalam kenaikan pangkat maupun pengangkatan dalam suatu jabatan.
Dalam pembinaan karir PNS dikenal dua sistem, yaitu:
1. Sistem Karir Terbuka
Sistem karir terbuka ialah suatu sistem kepegawaian, di mana untuk menduduki
jabatan yang lowong dalam suatu unit organisasi terbuka bagi setiap warga negara
asalkan ia mempunyai kecakapan dan pengalaman yang diperlukan untuk jabatan
yang lowong itu.
2. Sistem Karir Tertutup
Sistem karir tertutup adalah suatu sistem kepegawaian di mana suatu jabatan yang
lowong dalam suatu organisasi hanya dapat diduduki oleh pegawai yang telah ada dalam
organisasi itu, tidak boleh diduduki oleh orang luar. Dalam sistem karir tertutup,
mempunyai beberapa arti, yaitu:
a. Tertutup dalam arti Departemen, artinya bahwa jabatan yang lowong dalam suatu
Departemen.
b. Hanya diisi oleh pegawai yang telah ada dalam Departemen itu dan tidak boleh
diisi oleh pegawai dari Departemen lain.
c. Karir tertutup dalam arti negara, yaitu bahwa jabatan-jabatan yang ada dalam
organisasi Pemerintah hanya dapat diisi oleh pegawai yang telah ada dalam organisasi
Pemerintah. Dalam sistem karir tertutup dalam arti negara dimungkinkan
perpindahan dari Departemen yang satu ke Departemen yang lain atau dari
provinsi/kabupaten/kota yang satu ke provinsi/kabupaten/kota yang lain.

D. Jabatan Dalam ASN


Jabatan dalam ASN terdiri atas Jabatan Administrasi; Jabatan Fungsional; dan Jabatan
Pimpinan Tinggi. Adapun yang dimaksud dengan Jabatan Administrasi adalah sekelompok
50 Manajemen ASN

jabatan yang berisi fungsi dan tugas berkaitan dengan pelayanan publik serta administrasi
pemerintahan dan pembangunan. Sedangkan yang dimaksud dengan Jabatan Fungsional
adalah sekelompok jabatan yang berisi fungsi dan tugas berkaitan dengan pelayanan
fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu. Dan yang dimaksud
dengan Jabatan Pimpinan Tinggi adalah sekelompok jabatan tinggi pada instansi pemerintah.
Jabatan Administrasi terdiri atas:
a. jabatan administrator;
b. jabatan pengawas; dan
c. jabatan pelaksana.
Pejabat dalam jabatan administrator bertanggung jawab memimpin pelaksanaan
seluruh kegiatan pelayanan publik serta administrasi pemerintahan dan pembangunan.
Pejabat dalam jabatan pengawas bertanggung jawab mengendalikan pelaksanaan kegiatan
yang dilakukan oleh pejabat pelaksana. Pejabat dalam jabatan pelaksana bertanggung jawab
melaksanakan kegiatan pelayanan publik serta administrasi pemerintahan dan pembangunan.
Jabatan Fungsional dalam ASN terdiri atas jabatan fungsional keahlian dan jabatan
fungsional keterampilan. Jabatan fungsional keahlian terdiri atas jabatan fungsional ahli
utama; ahli madya; ahli muda; dan ahli pertama. Sedangkan Jabatan fungsional
keterampilan terdiri atas jabatan fungsional penyelia; mahir; terampil; dan pemula.
Jabatan Pimpinan Tinggi terdiri atas jabatan pimpinan tinggi utama; jabatan pimpinan
tinggi madya; dan jabatan pimpinan tinggi pratama. Jabatan Pimpinan berfungsi
memimpin dan memotivasi setiap Pegawai ASN pada Instansi Pemerintah melalui:
a. kepeloporan dalam bidang:
1. keahlian profesional;
2. analisis dan rekomendasi kebijakan; dan
3. kepemimpinan manajemen.
b. pengembangan kerja sama dengan instansi lain; dan
c. keteladanan dalam mengamalkan nilai dasar ASN dan melaksanakan kode etik dan kode
perilaku ASN.
Sampai saat ini (Maret 2014) jumlah jabatan fungsional tertentu adalah 133 jabatan,
daftar selengkapnya sebagai berikut:
Modul Diklat Prajabatan 51

No Instansi Pembina No. Jm Nama Jabatan PERMENPAN Lingkup Ket.


Uru l Fungsional Pus./Daera
t h
1 Kementerian Dalam 1 1 Pengawas No. 15 Tahun 2009 P/D 2009
Negeri Penyelenggaraan
Urusan
Pemerintahan di
Daerah
2 2 Satpol PP No. 04 Tahun 2014 P/D Baru
2014
2 Kementerian Luar 3 1 Diplomat No.PER/87.1/M.PAN/8/2005 P 2005
Negeri Mencabut no.174/KEP/M.PAN/1997
3 Kementerian 4 1 Kataloger No.PER/07/M.PAN/5/2007 P/D 2007
Pertahanan
4 Kementerian Hukum 5 1 Pemeriksa Merek No.34 Tahun 2013 P/D Baru
Dan Ham 2013
6 2 Pemeriksa Paten No.26 Tahun 2013 P/D Baru
2013
7 3 Perancang No.41/KEP/M.PAN/12/2000 P/D 2000
Peraturan
Perundang –
undangan
8 4 Pemeriksa No.36 Tahun 2013 P/D Baru
Desain Industri 2013
9 5 Petugas P/D
Permasyarakatan
10 6 Penyuluh Hukum No.003 Tahun 2014 P/D Baru
2014
11 7 Analis No.07 Tahun 2014 P/D Baru
Keimigrasian 2014
12 8 Pemeriksa No.008 Tahun 2014 P/D Baru
Keimigrasian 2014
5 Kementerian Keuangan 13 1 Penilai Pajak No.30/KEP/M.PAN/3/2003 P/D 2003
Bumi dan
Bangunan
14 2 Pemeriksa Bea No.32/KEP/M.PAN/3/2003 jo PER P/D Revisi
dan Cukai No.18 Tahun 2013 2013
15 3 Pemeriksa Pajak No.31/KEP/M.PAN/3/2003 mencabut P/D 2003
Kepmen 69/1993, Kepmen 122/1990
16 4 Penyuluh Pajak No.PER/04/M.PAN/2/2006 dan P/D 2006
Lampiran
6 Kementerian ESDM 17 1 Pengamat No.136/KEP/M.PAN/12/2002 P/D 2002
Gunung Api
18 2 Penyelidik Bumi No. 01 Tahun 2013 P/ D Baru
Lampiran 1 2013
Lampiran 2
Mencabut No.67/KEP/
MK.WASPAN/10/1999
19 3 Inspektur No.21/KEP/M.PAN/4/2002 P/D 2002
Ketenagalistrika
n
52 Manajemen ASN

20 4 Inspektur No.22/KEP/M.PAN/4/2002 P/D 2002


Tambang
21 5 Inspektur No.23/KEP/M.PAN/4/2002 P/D 2002
Minyak dan Gas
Bumi
7 Kementerian 22 1 Penyuluh No. 129/KEP/M.PAN/12/2002 jo. P/D Revisi
Perindustrian Perindustrian dan KEP/04/M.PAN/ 1/2005 2005
Perdagangan
8 Kementerian 23 1 Penguji Mutu No.131/KEP/M.PAN/12/2002 jo. P/D Revisi
Perdagangan Barang Kep/05/M.PAN/1/2005 2005
24 2 Penera No.128/KEP/M.PAN/12/2002 jo. P/D Revisi
KEP/03/M.PAN/1/2005 2005
9 Kementerian Pertanian 25 1 Medik Veteriner No. 52 Tahun 2012 Mencabut P/D Baru
No.59/KEP/MK.WASPAN/9/1999 2012
26 2 Paramedik No. 53 Tahun 2012 Mencabut P/D Baru
Veteriner No.60/KEP/MK.WASPAN/9/1999 2012
27 3 Pemeriksa No.32 Tahun 2013 P/D Baru
Perlindungan 2013
Varietas
Tanaman
28 4 Pengawas Benih No. 9 Tahun 2010 Mencabut No. P/D 2010
Tanaman 57/KEP/MK.WASPAN/9/1999 jo
KEP/137/M.PAN/9/2004
29 5 Pengawas Bibit No. 2 TAHUN 2011 Mencabut P/D 2011
Ternak No.61/KEP/MK.WASPAN/9/1999
30 6 Pegawas Mutu No.PER/17/M.PAN/4/2006 P/D 2006
Hasil Pertanian
31 7 Pengawas Mutu No. 22 Tahun 2013 Mencabut P/D Baru
Pakan no.KEP/31/M.PAN/3/2004 2013
32 8 Pengendali No.PER/10/M.PAN/05/2008 P/D 2008
Organisme Mencabut
Pengganggu 56/KEP/MK.WASPAN/9/1999
Tumbuhan
33 9 Penyuluh No.PER/02/MENPAN/2/2008 P/D 2008
Pertanian
34 10 Analis Pasar No. 06 Tahun 2012 jo. No. 23 Tahun P/D Revisi
Hasil Pertanian 2013 2013
10 Kementerian 35 1 Penyuluh No. 32 Tahun 2011 jo P/D Revisi
Kehutanan Kehutanan PER/33/M.PAN/10/2006 jo. 2011
130/KEP/M.PAN/12/2002
36 2 Polisi Kehutanan No. 17 TAHUN 2011 P/D 2011
37 3 Pengendali No. 50 Tahun 2012 P/D Baru
Ekosistem Hutan Mencabut 54/KEP/M.PAN/7/2003 2012
11 Kementerian 38 1 Pengendali No. KEP/51/M.PAN/4/2004 jo P/D Revisi
Perhubungan Frekuensi Radio PER/27/M.PAN/5/2006, Juknis 2006
39 2 Teknisi No.KEP/192/M.PAN/11/2004 P/D 2004
Penerbangan
40 3 Pengawas No.KEP/195/M.PAN/12/2004 P/D 2004
Keselamatan
Pelayaran
41 4 Penguji No.150/KEP/M.PAN/11/2003 P/D 2003
Kendaraan
Bermotor
Modul Diklat Prajabatan 53

12 Kementerian Kelautan 42 1 Pengendali No. 22 TAHUN 2010 P/D 2010


dan Perikanan Hama dan Mencabut 36/KEP/M.PAN/5/2001,
Penyakit Ikan PER/51/M.PAN/4/2005
43 2 Pengawas No. 1 TAHUN 2011 P/D 2011
Perikanan Mencabut 35/KEP/M.PAN/5/2001,
(penggabungan PER/50/M.PAN/ 4/2005,
dgn Pengawas 37/KEP/M.PAN/5/2001,
Benih Ikan ) PER/52/M.PAN/
4/2005
44 3 Penyuluh No.PER/19/M.PAN/10/2008 P/D 2008
Perikanan
45 4 Analis Pasar No. 25 Tahun 2013 P/D Baru
Hasil Perikanan 2013
13 Kementerian Tenaga 46 1 Pengawas No. 19 Tahun 2010 P/D 2010
Kerja Ketenagakerjaan Mencabut 35/KEP/M.PAN/3/2003
47 2 Instruktur No.36/KEP/M.PAN/3/2003 P/D
48 3 Mediator No.PER/06/M.PAN/4/2009 P/D 2009
Hubungan Mencabut 40/KEP/M.PAN/l2/2000
Industrial
49 4 Pengantar Kerja No.06/KEP/MK.WASPAN/2/2000 P/D 2000
50 5 Penggerak No.KEP/58/M.PAN/6/2004 P/D 2004
Swadaya
Masyarakat
51 6 Pengantar Kerja No.05 Tahun 2014 P/D Baru
2014
14 Kementerian Pekerjaan 52 1 Teknik No.63/KEP/MK.WASPAN/10/1999 P/D 1999
Umum Pangairan
53 2 Teknik No.66/KEP/MK.WASPAN/10/1999 P/D 1999
Penyehatan
Lingkungan
54 3 Teknik Jalan dan No.64/KEP/MK.WASPAN/10/1999 P/D 1999
Jembatan
55 4 Teknik Tata No.65/KEP/MK.WASPAN/10/1999 P/D 1999
Bangunan dan
Perumahan
56 5 Penata Ruang No.PER/10/M.PAN/6/2007 P/D 2007
57 6 Pembina Jasa No.038 Tahun 2013 P/D Baru
Konstruksi 2013
15 Kementerian 58 1 Administrator No.42/KEP/M.PAN/12/2000 P/D 2000
Kesehatan Kesehatan
59 2 Apoteker No. 7 Tahun 2008 Mencabut No. P/D 2008
140/KEP/M.PAN/11/2003
60 3 Asisten Apoteker No. 8 Tahun 2008 Mencabut P/D 2008
No.PER/16/M.PAN/3/2006,
No.07/KEP/K.WASPAN/12/1999
61 4 Bidan No. 01/PER/M.PAN/1/2008 P/D 2008
Lampiran
Mencabut No.11/PER/M.PAN/2006,
93/KEP/M.PAN/11/2001
62 5 Dokter No.139/KEP/M.PAN/11/2003 P/D 2003
63 6 Dokter Gigi No.141/KEP/M.PAN/11/2003 P/D 2003
54 Manajemen ASN

64 7 Epidemiolog No.17/KEP/M.PAN/11/2000 P/D 2000


Kesehatan
65 8 Entomolog No. 18/KEP/M.PAN/11/2000 P/D 2000
Kesehatan
66 9 Fisioterapis No. PER/12/M.PAN/3/2006 jo P/D Revisi
No.KEP/04/M.PAN/1/2004dan 2006
Kep/04 Lampiran
67 10 Fisikawan Medis No. PER/12/M.PAN/5/2008 P/D 2008
68 11 Nutrisionis No. 23/KEP/M.PAN/4/2001 P/D
69 12 Okupasi Terapis No.PER/123/M.PAN/12/2005 P/D 2005
70 13 Ortosis Prostesis No.PER/122/M.PAN/12/2005 P/D 2005
71 14 Penyuluh No. 58/KEP/M.PAN/8/2000 P/D 2000
Kesehatan
Masyarakat
72 15 Perawat No. 94/KEP/M.PAN/11/2001 P/D 2001
73 16 Perawat Gigi No.PER/13/M.PAN/2006 jo P/D Revisi
No.22/KEP/M.PAN/4/2001 dan 2006
Lampiran
74 17 Perekam Medis No. PER/14/M.PAN/3/2006 jo No. P/D Revisi
135/KEP/M.PAN/12/2002 dan 2006
Lampiran
75 18 Pranata No. PER/08/M.PAN/3/2006 dan P/D 2006
Laboratorium Lampiran
Kesehatan
76 19 Psikolog Klinis No. PER/11/M.PAN/5/2008 P/D 2008
77 20 Radiografer No.PER/15/M.PAN/3/2006 P/D Revisi
Jo No. 133/KEP/M.PAN/12/2002 dan 2006
Lampiran
78 21 Refraksionis No. PER/47/M.PAN/4/2005 P/D 2005
Optisien
79 22 Sanitarian No. PER/10/M.PAN/3/2006 jo P/D Revisi
No.19/KEP/M.PAN/11/2000 dan 2006
Lampiran
80 23 Teknik No. 09/PER/M.PAN/3/2006 jo P/D Revisi
Elekromedis No. 41/KEP/M.PAN/4/2003 2006
81 24 Teknisi Gigi No. PER/06/M.PAN/4/2007 P/D 2007
82 25 Terapis Transfusi No. PER/05/M.PAN/4/2007 P/D
Darah
83 26 Terapis Wicara No. PER/48/M.PAN/4/2005 P/D 2005
84 27 Dokter Pendidik No. PER/17/M.PAN/9/2008 P/D 2008
Klinis
85 28 Pembimbing No.47 Tahun 2013Jo No. 13 Tahun P/D Baru
Kesehatan Kerja 2013 2013
16 Kementerian 86 1 Dosen No.17 Tahun 2013 P/D Baru
Pendidikan dan Lampiran 2013
Kebudayaan jo No. 46 Tahun 2013 Mencabut
Kepmen
No.38/KEP/MK.WASPAN/8/1999
87 2 Guru No. 16 Tahun 2009 P/D 2009
Mencabut Kepmen No.84/1993
88 3 Penilik Nomor 14 TAHUN 2010 D 2010
Mencabut l5/KEP/M.PAN/3/2002
Modul Diklat Prajabatan 55

89 4 Pamong Belajar No. 15 TAHUN 2010 D 2010


Mencabut
25/KEP/MK.WASPAN/1999
90 5 Pengawas No. 21 TAHUN 2010 D 2010
Sekolah Mencabut 91/KEP/M.PAN/10/2001
91 6 Pengembangan No. PER/2/M.PAN/3/2009 P/D 2009
Teknologi
Pembelajaran
92 7 Pranata No. 3 Tahun 2010 P/D 2010
Laboratorium
Pendidilkan
17 Kementerian Sosial 93 1 Pekerja Sosial No.KEP/03/M.PAN/1/2004 P/D 2004
94 2 Penyuluh Sosial No/ PER/06/M.PAN/5/2008 P/D 2008
18 Kementerian Agama 95 1 Penghulu No. PER/62/M.PAN/6/2005 P/D 2005
96 2 Penyuluh Agama No.54/KEP/MK.WASPAN/9/1999 P/D 1999
19 Kementerian 97 1 Pamong Budaya No. PER/09/M.PAN/5/2008 P/D 2008
Pariwisata dan Mencabut 62/KEP/MK.WASPAN/9/99
Ekonomi Kreatif
20 Kementerian 98 2 Adikara siaran No. 130/M.PAN/1989 P/D 1989
Komunikasi dan 99 3 Teknisi Siaran No. 128/M.PAN/1989 P/D 1989
Informatika 100 4 Andalan Siaran No. 129/M.PAN/1989 P/D 1989
101 5 Pranata No.06 Tahun 2014 P/D Baru
Hubungan MencabutNo.PER/109/M.PAN/11/200 2014
Masyarakat 5
21 Kementerian 102 1 Pengendali No. 47/KEP/M.PAN/8/2002 P/D 2002
Lingkungan Hidup Dampak
Lingkungan
103 2 Pengawas Permenpan No. 39 Tahun 2011, P/D 2011
Lingkungan Persama No. 9 Tahun 2012
Hidup
22 Kementerian 104 1 Perencana No. 16/KEP/M.PAN/3/2001 P/D 2001
Perencanaan
Pembangunan Nasional
(BAPPENAS)
23 Lembaga Administrasi 105 1 Widyaiswara Permenpan No. 14 Tahun 2009 P/D 2009
Negara (LAN) Mencabut
PER/22/M.PAN/5/2006
PER/51/M.PAN/4/2005
36/KEP/M.PAN/5/2001
106 2 Analis Kebijakan Permenpan No. 45 Tahun 2013 P/D Baru
Mencabut No. 5 Tahun 2012 2013
24 Arsip Nasional (ANRI) 107 1 Arsiparis No. PER/3/M.PAN/3/2009 P/D 2009
Mencabut 09/KEP/M.PAN/2/2002,
34/KEP/M.PAN/3/2004
25 Badan Kepegawaian 108 1 Analis No. 14 tahun 2008 jo Nomor P/D Revisi
Negara (BKN) Kepegawaian PER/36/M.PAN/11/2006 dan 2008
Lampiran
109 2 Auditor No. 40 Tahun 2012 P/D Baru
Kepegawaian 2012
110 3 Assessor SDM No. 41 Tahun 2012 P/D Baru
Aparatur 2012
56 Manajemen ASN

26 Perpustakaan Nasional 111 1 Pustakawan No.009 Tahun 2014 MencabutNo. P/D Baru
(PERPUSNAS) 132/KEP/M.PAN/12/2002 2014
27 Badan Pusat Statistik 112 1 Statistisi No. 19 Tahun 2013 P/D Baru
(BPS) 2013
113 2 Pranata No. 66/KEP/M.PAN/7/2003 P/D
Komputer
28 Badan Pengawas 114 1 Pengawas No. 46 Tahun 2012 Mencabut P/D Revisi
Tenaga Nuklir Radiasi Kepmen No. 67/KEP/M.PAN/7/2003 2012
(BAPETEN)
29 Badan Tenaga Nuklir 115 1 Pranata Nuklir No. 002 Tahun 2014 MencabutNo. P/D Baru
Nasional (BATAN) 149/KEP/M.PAN/11/2003 2014
30 Badan Intelijen Negara 116 1 Agen No. 31/KEP/M.PAN/5/2002 P/D 2002
(BIN)
31 Lembaga Sandi Negara 117 1 Sandiman No. 76 Tahun 2012 Mencabut P/D Baru
(LEMSANEG) No.134/KEP/M.PAN/11/2003 2012
118 2 Operator No.133/KEP/M.PAN/11/2003 P/D 2003
Transmisi Sandi
32 Badan Koodinasi 119 1 Penyuluh No. KEP/120/M.PAN/9/2004 P/D 2004
Keluarga Berencana Keluarga
Nasional (BKKBN) Berencana
33 Badan Koordinasi 120 1 Surveyor No. 134/KEP/M.PAN/12/2002 P/D 2002
Survei dan Pemetaan Pemetaan
Nasional
(BAKORSURTANAL
)
34 Badan Pengawasan 121 1 Auditor No.PER/220/KEP/M.PAN/6/2008 jo P/D Revisi
Keuangan dan No. 51 Tahun 2012 2012
Pembangunan (BPKP)
35 Lembaga Ilmu 122 1 Peneliti No. KEP/128/M.PAN/9/2004 P/D 2004
Pengetahuan Indonesia
(LIPI)
36 Badan Pengkajian dan 123 1 Teknisi No. 23/KEP/M.PAN/2/2003 jo P/D Revisi
Penerapan Teknologi Penelitian dan KEP/193/M.PAN/11/2004 2004
(BPPT) Perekayasaan
124 2 Perekayasa No. PER/219/M.PAN/6/2008 P/D 2008
Mencabut 24/KEP/M.PAN/2/2003
37 Badan Pengawas Obat 125 1 Pengawas No. 48/KEP/M.PAN/8/2002 P/D 2002
dan Makanan (BPOM) Farmasi dan
Makanan
38 Badan Meteorologi, 126 1 Pengamat No. KEP/18/M.PAN/2/2004 P/D 2004
Klimatologi dan Meteorologi dan
Geofisika (BMKG) Geofisika
39 Kejaksaan Agung 127 1 Jaksa No/ 18/M.PAN/1989 jo Kepmen no. 41 P/D Revisi
Tahun 1990 1990
128 2 Juru Sita dan P/D
Juru Sita
Pengganti
40 Mahkamah Konstitusi 129 1 Kepaniteraan P/D
Mahkamah
Konstitusi
41 Sekretariat Negara 130 1 Penerjemah No. PER/124/M.PAN/5/2006 P/D 2006
42 BPK 131 1 Pemeriksa No. 17 Tahun 2010 P Revisi
jo No. 79 Tahun 2012 2012
Modul Diklat Prajabatan 57

43 LKPP 132 1 Pengelola No. 77 Tahun 2012 P/D Baru


Pengadaan 2012
Barang/Jasa
44 Badan SAR 133 1 Rescuer No.10 Tahun 2014 P/D Baru
2014
Keterangan : P = Instansi Pusat D = Instansi Daerah
BAB VI
SISTEM PENGGAJIAN DAN
PENGHARGAAN PNS

A. Penggajian PNS
Gaji adalah balas jasa atau penghargaan atas hasil kerja seorang pegawai. Pada
dasarnya setiap PNS beserta keluarganya harus dapat hidup layak dari gajinya. Sehingga
dengan demikian ia dapat memusatkan perhatian dan kegiatannya untuk
melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Dalam sistem penggajian PNS di
Indonesia dikenal adanya perpaduan antara:
1. Sistem berkala tunggal (mono scale system), dan
2. Sistem skala ganda (multy scale system).
Sistem skala tunggal adalah sistem penggajian yang memberikan gaji yang sama
kepada pegawai yang berpangkat sama dengan tidak atau kurang memperhatikan sifat
pekerjaan yang dilakukan dan beratnya tanggung jawab yang dipikul dalam
melaksanakan pekerjaan itu. Sistem skala ganda adalah sistem penggajian yang
menentukan besarnya gaji, bukan saja didasarkan pada pangkat tetapi juga didasarkan pada
sifat pekerjaan yang dilakukan, prestasi kerja yang dicapai, dan beratnya tanggung jawab
yang dipikul dalam melaksanakan pekerjaan itu.
Sebagaimana diuraikan di atas, sistem penggajian PNS adalah sistem skala gabungan
antara skala tunggal dan skala ganda. Bagi PNS yang belum menduduki jabatan
struktural atau jabatan fungsional pada umumnya berlaku sistem skala tunggal, namun
bagi yang sudah menduduki jabatan structural atau fungsional berlaku sistem sakala ganda.
Artinya, selain gaji pokok yang sama dengan PNS lain sesuai dengan kepangkatannya,
PNS yang menduduki jabatan tersebut juga memperoleh tunjangan jabatan struktural atau
fungsional.
Selain tunjangan jabatan di lingkungan PNS juga diberikan tunjangan keluarga (bagi
PNS yang berkeluarga atau sudah menikah). Tunjangan keluarga ini terdiri dari tunjangan
isteri atau suami dan tunjangan anak (dengan ketentuan maksimum, 2 anak). Tunjangan lain
yang diberikan adalah pangan, yaitu 10 kg beras untuk 1 orang dan maksimum 4 orang
(PNS yang bersangkutan, isteri atau suami, dan 2 orang anak). Namun untuk memberi

58
Modul Diklat Prajabatan 59

tunjangan dalam bentuk beras pada saat ini telah diganti dan diberikan dalam bentuk uang.
Dalam sistem penggajian PNS juga dikenal adanya kenaikan gaji berkala, yaitu kenaikan gaji
yang diberikan setiap 2 tahun sekali bagi semua PNS yang memenuhi syarat ditetapkan untuk
mendapatkan kenaikan gaji berkala.
Gaji PNS diatur dalam PP Nomor 11 Tahun 2003 tentang Peraturan Gaji Pegawai
Negeri Sipil. Untuk lebih jelasnya, matrik gaji pokok PNS dapat dilihat pada lampiran.

B. Penghargaan PNS
PNS yang telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kecakapan, kejujuran, kedisiplinan,
dan prestasi kerja dalam melaksanakan tugasnya dapat diberikan penghargaan. Penghargaan
dapat berupa pemberian: tanda kehormatan; kenaikan pangkat istimewa; kesempatan
prioritas untuk pengembangan kompetensi; dan/atau kesempatan menghadiri acara resmi
dan/atau acara kenegaraan. Penghargaan kepada Pegawai Negeri Sipil berupa kenaikan
pangkat istimewa diatur dalam PP No. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai
Negeri) atau bentuk penghargaan lain penghargaan dalam bentuk tanda jasa dapat diberikan
kepada Pegawai Negeri Sipil sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 25
Tahun 1994 tentang Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya. Macam tanda jasa yang
dapat diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil:
1. Satyalancana Karya Satya Sepuluh Tahun berwarna Perunggu diberikan kepada
PNS yang telah bekerja secara terus menerus sekurang-kurangnya 10 tahun;
2. Satyalancana Karya Satya Dua Puluh Tahun berwarna perak diberikan kepada PNS
yang telah bekerja secara terus menerus sekurang-kurangnya 20 tahun;
3. Satya Lancana Karya satya Tiga Puluh Tahun berwarna emas diberikan kepada PNS
yang telah bekerja terus menerus sekurang-kurangnya 30 tahun;
Satyalancana Karya Satya dianugerahkan dengan Keputusan Presiden setelah mendapat
pertimbangan dari Dewan Tanda-tanda Kehormatan Republik Indonesia atas usulan
Pimpinan Instansi, yang dikoordinasikan dengan Kepala BKN. Setiap pemberian
Satyalancana Karya Satya disertai piagam tanda kehormatan yang ditandatangani
Presiden yang penganugrahannya dilaksanakan setiap tanggal 17 Agustus, Hari Besar
Nasional dan Hari Ulang Tahun Instansi.
BAB VII
SISTEM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS)

A. Arti Pentingnya Diklat PNS


Seiring dengan kemajuan teknologi dan tuntutan adanya pegawai yang professional
dalam setiap organisasi, maka untuk memenuhi tuntutan itu perlu terus-menerus
diupayakan peningkatan kemampuannya baik melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan.
Simamora menyatakan bahwa pelatihan adalah proses sistematik pengubahan perilaku para
karyawan dalam suatu arah guna meningkatkan tujuan-tujuan organisasi (Simamora,
1997). Dalam hal ini pelatihan di lingkungan Pegawai Negeri Sipil lebih dikenal dengan
apa yang disebut pendidikan dan pelatihan Pegawai Negeri Sipil. Pendidikan dan pelatihan
(Diklat) Pegawai Negeri Sipil adalah upaya yang dilakukan bagi Pegawai Negeri Sipil
untuk meningkatkan kepribadian, pengetahuan dan kemampuannya sesuai dengan tuntutan
persyaratan jabatan dan pekerjaannya sebagai PNS.
Dalam rangka pembinaan Pegawai Negeri Sipil yang didasarkan pada sistem karir
dan prestasi kerja, pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu aspek yang perlu
ditangani secara proporsional dan profesional, secara terus-menerus dan berkesinambungan.
Pendidikan dan Pelatihan yang dimaksudkan disini penekanannya lebih dititikberatkan
pada sistem pendidikan dan pelatihan yang tujuannya untuk memperbaiki perilaku dan
sikap, meningkatkan mutu keahlian, kemampuan dan keterampilan pegawai sesuai
dengan kebutuhan organisasi.
Dalam UU ASN Pasal 70 disebutkan bahwa Setiap Pegawai ASN memiliki hak dan
kesempatan untuk mengembangkan kompetensi. Pengembangan kompetensi antara lain
melalui pendidikan dan pelatihan, seminar, kursus, dan penataran. Pengembangan
kompetensi harus dievaluasi oleh Pejabat yang Berwenang dan digunakan sebagai salah satu
dasar dalam pengangkatan jabatan dan pengembangan karier. Dalam mengembangkan
kompetensi setiap Instansi Pemerintah wajib menyusun rencana pengembangan kompetensi
tahunan yang tertuang dalam rencana kerja anggaran tahunan instansi masing-masing.

60
Modul Diklat Prajabatan 61

B. Tujuan Diklat PNS


Sesuai dengan tuntutan nasional dan tantangan global untuk mewujudkan
kepemerintahan yang baik diperlukan sumber daya manusia manusia aparatur yang memliki
kompetensi jabatan dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan. Untuk menciptakan
sumber daya manusia aparatur yang memiliki kompetensi tersebut diperlukan peningkatan
mutu profesionalisme, sikap pengabdian dan kesetiaan pada perjuangan bangsa dan negara,
semangat kesatuan dan persatuan dan pengembangan wawasan Pegawai Negeri Sipil melalui
Pendidikan dan Pelatihan Jabatan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari usaha
pembinaan Pegawai Negeri Sipil secara menyeluruh.
Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil (Diklat) adalah proses
penyelenggaraan belajar mengajar rangka meningkatkan kemampuan Pegawai Negeri Sipil.
Diklat bertujuan :
a. Meningkatkan pengetahuan, keahlian, ketrampilan dan sikap untuk dapat melaksanakan
tugas jabatan secara professional dengan dilandasi kepribadian dan etka PNS sesuai
dengan kebutuhan instansi.
b. Menciptakan aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat persatuan
dan kesatuan bangsa.
c. Memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada pelayanan,
pengayoman dan pemberdayaan masyarakat.
d. Menciptakan kesamaan visi dan dinamika pola piker dalam melaksanakan tugas
pemerintahan umum dan pembangunan demi terwujudnya kepemerintahan yang baik.
Sasaran Diklat adalah terwujudnya PNS yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan
persyaratan jabatan masing-masing.
Pada pokoknya pendidikan dan pelatihan jabatan dibagi menjadi 2 (dua), yaitu
Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan dan Pendidikan dan Pelatihan dalam jabatan.
Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan (pre service training) adalah suatu pelatihan yang
diberikan kepada Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), dengan tujuan agar ia dapat terampil
melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Sedangkan Pendidikan dan Pelatihan
dalam jabatan (in service training) adalah suatu pelatihan yang bertujuan untuk
meningkatkan mutu, keahlian, kemampuan dan keterampilan PNS.
62 Manajemen ASN

C. Jenis Dan Jenjang Diklat PNS


1. Jenis Pendidikan dan Pelatihan
a. Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan;
b. Pendidikan dan Pelatihan dalam Jabatan.
Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan adalah merupakan syarat pengangkatan
Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Diklat
Prajabatan terdiri atas:
a. Diklat Prajabatan Golongan I untuk PNS Golongan I;
b. Diklat Prajabatan Golongan II untuk PNS Golongan II;
c. Diklat Prajabatan Golongan III untuk PNS Golongan III;
2. Jenjang Pendidikan dan Pelatihan Dalam Jabatan
Pendidikan dan Pelatihan dalam Jabatan Pegawai Negeri Sipil ada 3 (tiga) jenis, yaitu:
a. Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim),
b. Pendidikan dan Pelatihan Fungsional, dan
c. Pendidikan dan Pelatihan Teknis.
Diklatpim dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi kepemimpinan
aparatur pemerintah yang sesuai dengan jenjang jabatan struktural. Diklatpim terdiri atas
4 (empat) jenjang, yaitu:
a. Diklatpim Tingkat IV, adalah Diklatpim untuk Jabatan Struktural Eselon IV;
b. Diklatpim Tingkat III, adalah Diklatpim untuk Jabatan Struktural Eselon III;
c. Diklatpim Tingkat II, adalah Diklatpim untuk Jabatan Struktural Eselon II;
d. Diklatpim Tingkat I, adalah Diklatpim untuk Jabatan Struktural Eselon I.
Diklat Fungsional adalah Diklat yang dilaksanakan untuk mencapai persyaratan
kompetensi yang disesuaikan dengan jenis dan jenjang jabatan fungsional masing-
masing. Beberapa contoh jabatan fungsional di lingkungan Pegawai Negeri Sipil sudah
diberikan didepan.
Jenjang Diklat Jabatan Fungsional untuk masing-masing jabatan fungsional
ditetapkan oleh masing-masing instansi Pembina Jabatan Fungsional. Sebagai contoh:
Jabatan Fungsional Widyaiswara jenjang Diklatnya ditetapkan oleh Lembaga
Administrasi Negara. Untuk jenjang Jabatan Fungsional Peneliti ditetapkan oleh
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Modul Diklat Prajabatan 63

Diklat Teknis dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi teknis yang


diperlukan untuk pelaksanaan tugas PNS. Kompetensi Teknis adalah kemampuan dalam
bidang-bidang teknis tertentu untuk pelaksanaan tugas masing-masing. Bagi PNS
yang belum memenuhi persyaratan kompetensi jabatan perlu mengikuti Diklat
Teknis yang berkaitan dengan persyaratan kompetensi jabatan masing-masing
Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian dan Instansi Pemerintah lainnya.

D. Peserta Diklat
Peserta Diklat disesuaikan dengan jenis Diklat yang diselenggarakan, yaitu :
1. Peserta Diklat Prajabatan adalah seluruh Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS);
2. Peserta Diklatpim adalah PNS yang akan atau telah menduduki Jabatan Struktural
eselon I, II, III, dan IV;
3. Peserta Diklat Fungsional adalah PNS yang akan atau telah menduduki Jabatan
Fungsional tertentu;
4. Peserta Diklat Teknis adalah PNS yang membutuhkan peningkatan kompetensi
teknis dalam pelaksanaan tugasnya.

E. Penyelenggaraan Diklat
Penyelenggaraan Diklat dapat dilakukan secara klasikal maupun nonklasikal.
1. Penyelenggaraan Diklat PNS secara klasikal artinya dilaksanakan di dalam kelas atau
penyelenggaraan Diklat dilakukan secara tatap muka langsung;
2. Penyelenggaraan Diklat nonklasikal dilakukan dengan
3. pelatihan di alam bebas, pelatihan di tempat kerja, atau pelatihan dengan sistem jarak
jauh.
BAB VIII
SISTEM PEMBERHENTIAN PEGAWAI
NEGERI SIPIL (PNS)

Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32


Tahun 1979 tentang Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. Pemberhentian sebagai Pegawai
Negeri Sipil adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang pejabat yang
berwenang dalam suatu instansi yang mengakibatkan seorang Pegawai Negeri Sipil
kehilangan statusnya sebagai PNS.
Dalam PP No. 32 Tahun 1979 dijelaskan bahwa pemberhentian PNS dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Atas permintaan sendiri;
2. Karena mencapai batas usia pensiun;
3. Karena adanya penyederhanaan organisasi;
4. Karena melakukan pelanggaran atau tindak pidana atau penyelewengan;
5. Karena tidak cakap jasmani dan rohani;
6. Karena meninggalkan tugas;
7. Karena meninggal dunia atau hilang;
8. Karena hal-hal lain.

Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil ini ada 2 (dua) macam atau sifat, yaitu
pemberhentian dengan hormat dan pemberhentian dengan tidak hormat.

A. Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Atas Permintaan Sendiri


Pegawai Negeri Sipil yang berhenti atas permintaan sendiri diberhentikan dengan
hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil. Akan tetapi permintaan berhenti dari Pegawai Negeri
Sipil dapat ditolak apabila Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan masih terikat dalam
keharusan bekerja pada Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Dapat juga permintaan berhenti sebagai Pegawai Negeri Sipil ditunda paling lama 1
(satu) tahun, apabila ada kepentingan dinas yang mendesak.

64
Modul Diklat Prajabatan 65

B. Pemberhentian Karena Telah Mencapai Batas


Usia Pensiun (BUP) Pegawai Negeri Sipil yang telah mencapai batas usia pensiun,
dapat diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil. Batas usia pensiun
Pegawai Negeri Sipil adalah 58 tahun, namun dapat diperpanjang sampai dengan:
1. 65 tahun bagi Pegawai Negeri Sipil yang memangku jabatan:
a. Ahli Peneliti atau peneliti yang ditugaskan secara penuh di bidang penelitian;
b. Guru besar, Lektor Kepala, Lektor yang ditugaskan secara penuh pada perguruan
tinggi;
c. Jabatan lain yang ditentukan oleh Presiden.
2. 60 tahun bagi Pegawai Negeri Sipil:
a. Ketua dan Wakil Ketua, Ketua Muda, dan Hakim Anggota Mahkamah Agung;
b. Jaksa Agung;
c. Pimpinan Sekretariat Lembaga Tertinggi Negara;
d. Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen;
e. Seluruh eselon I dan II;
f. Dokter yang ditugaskan secara penuh pada Lembaga Kedokteran Negeri sesuai
dengan profesinya;
g. Pengawas Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau Atas;
h. Guru yang ditugaskan secara penuh pada SLTA dan SLTP;
i. Penilik Taman Kanak-Kanak, Penilik Sekolah Dasar, Penilik Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama;
j. Guru yang ditugaskan secara penuh pada Sekolah Dasar.

3. 58 tahun bagi Pegawai Negeri Sipil yang memangku jabatan:


a. Hakim pada Mahkamah Pelayaran;
b. Hakim pada Pengadilan Tinggi;
c. Hakim pada Pengadilan Negeri;
d. Hakim Agama pada Pengadilan Agama Tingkat Banding;
e. Hakim Agama pada Pengadilan Agama.
66 Manajemen ASN

Pemberhentian dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil karena mencapai Batas
Usia Pensiun, diberitahukan kepada Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan satu tahun
sebelum mencapai batas usia tersebut.

C. Pemberhentian Karena Adanya Penyederhanaan Organisasi


Dengan adanya penyederhanaan terhadap satuan organisasi atau instansi Negara atau
Pemerintah yang mengakibatkan adanya kelebihan Pegawai Negeri Sipil dimaksud
disalurkan kepada instansi Negara atau Pemerintah lainnya. Namun apabila instansi
lainnya telah tercukupi dan tidak dapat menerima atas adanya kelebihan Pegawai Negeri
Sipil tersebut, maka Pegawai Negeri Sipil yang kelebihan tersebut diberhentikan
dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan mendapatkan hak-hak Kepegawaian
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

D. Pemberhentian Karena Melakukan Pelanggaran/


Tindak Pidana/Penyelewengan Sebagai Pegawai Negeri Sipil dapat diberhentikan
dengan tidak hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil karena:
1. Melanggar sumpah dan janji Pegawai Negeri Sipil, sumpah dan janji jabatan Pegawai
Negeri Sipil atau Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil;
2. Dihukum penjara berdasarkan keputusan Pengadilan yang sudah mempunyai
kekuatan hukum yang tetap, karena dengan sengaja melakukan suatu tindak pidana
kejahatan yang diancam dengan pidana penjara setinggi-tingginya 4 (empat) tahun
atau diancam dengan pidana yang lebih berat. Pegawai Negeri Sipil juga dapat
diberhentikan dengan tidak hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil apabila dipidana
penjara atau kurungan berdasarkan keputusan Pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap, karena:
a. Melakukan suatu tindak pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana kejahatan yang
ada hubungannya dengan jabatan;
b. Melakukan suatu tindak pidana kejahatan seperti dimaksud dalam pasal 104 sampai
dengan pasal 161 KUHP.
Modul Diklat Prajabatan 67

E. Pemberhentian Karena Tidak Cakap Jasmani Atau Rohani


Pegawai Negeri Sipil diberhentikan dengan hormat dengan mendapat hak-hak
kepegawaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku apabila
berdasarkan surat keterangan Tim Penguji Kesehatan dinyatakan:
1. Tidak dapat bekerja lagi dalam semua Jabatan Negeri karena kesehatannya;
2. Menderita penyakit atau kelainan yang berbahaya bagi dirinya sendiri dan atau
lingkungan kerjanya;
3. Setelah berakhirnya cuti sakit, belum mampu bekerja kembali.
F. Pemberhentian Karena Meninggalkan Tugas
Pegawai Negeri Sipil yang meninggalkan tugas selama 2 (dua) bulan berturut-turut
diberhentikan pembayar an gajinya mulai bulan ketiga. Untuk selanjutnya apabila dalam
waktu 6 (enam) bulan secara terus-menerus meninggalkan tugasnya secara tidak sah, maka
yang bersangkutan diberhentikan dengan tidak hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.

G. Pemberhentian Karena Meninggal Dunia


Pegawai Negeri Sipil yang meninggal dunia dengan sendirinya dianggap diberhentikan
dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil Begitu juga Pegawai Negeri Sipil yang hilang,
dianggap telah meninggal dunia pada akhir bulan ke 12 (dua belas) sejak yang bersangkutan
dinyatakan hilang. Pernyataan hilang dibuat oleh pejabat yang berwenang
berdasarkan surat keterangan atau berita acara dari pejabat yang berwajib.

H. Pemberhentian Karena Hal-Hal Lain


Pegawai Negeri Sipil yang tidak melaporkan diri kembali kepada instansi induknya
setelah habis menjalankan cuti di luar tanggungan negara, diberhentikan dengan hormat
sebagai Pegawai Negeri Sipil. Begitu pula Pegawai Negeri Sipil yang melaporkan ke
instansi induknya setelah habis masa cuti di luar tanggungan negara, tetapi tidak dapat
dipekerjakan kembali karena tidak ada lowongan, maka yang bersangkutan
diberhentikan dengan hormat. Pemberhentian ini disertai dengan hak-hak kepegawaian
sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
68 Manajemen ASN

LATIHAN
KASUS I:

1. Tidak Melaporkan Perkawinan Pertama


Saudara GANI NIP. 04……… pangkat Pengatur Muda (II/a) staf pada Direktorat Hak
Cipta dan Hak Merk Departemen Kehakiman, diangkat sebagai CPNS pada tanggal 1 Maret
1991.
Setelah ± 1 tahun masa kerjanya, Saudara GANI telah melakukan hubungan intim
dengan Saudari EVA, sehingga Saudari EVA mengandung. Namun Saudara GANI tidak
segera bertanggungjawab untuk menikahi Saudari EVA, dengan alasan tidak mencintai
Saudari EVA. Hubungan intim dengan Saudari EVA memang ia lakukan, namun menurutnya
dilakukan mau sama mau (tidak ada paksaan), jadi sama sekali tidak didasarkan karena
cinta.
Hari berganti bulan, semakin besar kandungan Saudari EVA dan pada bulan Mei 1992
lahirlah bayi yang dikandung Saudari EVA. Melihat kenyataan bahwa ternyata bayi yang
dilahirkan Saudari EVA sangat mirip dengan Saudara GANI maka pada tanggal 8 Juli 1992.
Saudari GANI bersedia melangsungkan perkawinan dengan Saudari EVA di KUA
Kecamatan Batu Ceper, Kabupaten Tangerang. Perkawinan Saudara GANI dan Saudari
EVA baru berjalan ± 6 bulan ternyata sudah diwarnai dengan pertengkaran-pertengkaran,
masing-masing menganggap dirinya benar. Selain itu juga disebabkan karena penghasilan
Saudara GANI pas-pasan. Ketidak harmonisan dalam keluarga meruncing dengan kebiasaan
Saudara GANI yang sering minum-minuman keras sampai mabuk dan sering tidak pulang ke
rumah. Saudari EVA menghadap atasan langsung Saudara GANI di kantor.
Pada awalnya atasan langsung Saudara GANI tidak mengenal Saudari EVA, karena
Saudara GANI memang tidak pernah melaporkan bahwa dirinya sudah melangsungkan
perkawinan dengan Saudari EVA. Dengan seringnya Saudari EVA mendatangi Kantor
Suaminya, bukan membuat Saudari GANI menjadi baik, namun malah Saudara GANI
meninggalkan istrinya dan menjatuhkan talak kepada Saudari EVA.
Kasus Saudara GANI ini kemudian ditindaklanjuti dengan dilakukan berita acara
pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen Kehakiman pada tanggal 26 Juni
1993 dan ternyata ia mengakui perbuatannya, namun memberikan alasan karena
Modul Diklat Prajabatan 69

perkawinannya dengan Saudari EVA tidak didasari rasa cinta hanya untuk
menyelamatkan yang halal dari yang haram dan yang bersangkutan juga terbukti belum
pernah dihukum dan dijatuhi hukuman disiplin. Inspektur Jenderal Departemen Kehakiman
dengan Nota Dinasnya Nomor…….Tanggal 5 April 1994 telah melaporkan diri kembali
kepada instansi induknya setelah habis masa cutinya, diberhentikan dengan hasil
pemeriksaan kepada Seketaris Jenderal Departemen Kehakiman bahwa Saudara GANI
telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 2 huruf w, x, PP No. 30 Tahun 1980
jis Pasal 2 PP No. 10 Tahun 1983 dan PP No. 45 Tahun 1990.
Dengan memperhatikan faktor yang memberatkan dan faktor yang meringankan, maka
Inspektur Jenderal Departemen Kehakiman telah menyarankan kepada Pejabat yang
berwenang, agar terhadap Saudara GANI dijatuhi hukuman disiplin berupa pemberhentian
dengan hormat tidak atas permintaaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Menteri Kehakiman sebagai pejabat yang berwenang menghukum pada tanggal 25
Agustus 1994 telah menjatuhkan hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat
tidak atas permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil terhadap Saudara GANI sesuai
dengan ketentuan Pasal 6 ayat (4) huruf c PP No. 30 Tahun 1980.
PERTANYAAN:
Bacalah kasus tersebut di atas dengan seksama.
1. Buatlah singkatan/kronologis kasus tersebut!
2. Tentukan pokok permasalahannya!
3. Tentukan jenis-jenis yang dipertimbangkan melalui analisis Saudara jenis hukuman
disiplin yang diberikan :
a. Hal-hal yang meringankan
b. Hal-hal yang memberatkan
4. Buatlah kesimpulan kasus:
a. Sebutkan perbuatan dan pelangaran disiplin yang dilakukan oleh yang bersangkutan
b. Sebutkan hukuman disiplin yang dijatuhkan
5. Apakah hukuman disiplin yang dijatuhkan kepada Pegawai Negeri Sipil tersebut
telah memenuhi rasa keadilan? Jelaskan!
Jelaskan dampak yang mungkin timbul di lingkungan masyarakat sebagai akibat
pelanggaran disiplin!
70 Manajemen ASN

KASUS II :
2. Melakukan Perceraian Tanpa Izin Pejabat Yang Berwenang
Saudara YAHYA, NIP. 47……..; sejak tanggal 1 Juli 1971 telah bekerja dilakukan
Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, dan terakhir ditugaskan sebagai pelaksana pada
Sudin P2K Jakarta Barat dengan pangkat Pengatur Tingkat I (II/d).
Pada tahun 1972 yang bersangkutan menikah dengan Saudari DINA dikaruniai dua orang
anak, setelah ± 5 tahun dalam rumah tangganya timbul percekcokan dengan istrinya
sehingga pada tahun1977 Saudara YAHYA menjatuhkan talak secara agama,
percekcokkan tersebut timbul karena Saudara YAHYA berhubungan dengan Saudari
ANA dan pada akhir tahun 1977 itu juga Saudara YAHYA melangsungkan pernikahan
dengan Saudari ANA, namun ternyata Saudara YAHYA masih mencintai Saudari DINA,
maka pada tahun 1979 Saudara YAHYA rujuk kembali dengan Saudari DINA. Rumah
tangga Saudara YAHYA dengan 2 (dua) istri yaitu Saudari DINA dan Saudari ANA bertahan
hingga ± 5 tahun, meskipun diwarnai dengan berbagai perbedaan-perbedaan dan antara
Saudari DINA dan Saudari ANA sudah telihat saling cemburu. Pada tahun 1985, yaitu
setelah berlaku ketentuan Peraturan pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang izin
Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil Saudara YAHYA melaksanakan
perceraian dengan Saudari DINA di Pengadilan Agama Jakarta Timur tanpa meminta izin
dari Pejabat yang berwenang dan setelah cerai juga tidak melaporkan perceraiannya.
Dengan perceraian tersebut Saudara YAHYA hanya mempunyai seorang isteri yaitu
Saudari ANA, namun di tempatnya bertugas Saudari ANA tidak tercatat, karena pada
saat Saudara YAHYA kawin dengan Saudari ANA tidak dilaporkan, bahkan Saudara
YAHYA mengaku sebagai Karyawan swasta.
Sejak hidup dengan satu istri rumah tangga Saudara YAHYA mulai tenteram, sampai
dengan saat bersangkutan berkenalan dengan Saudara HANUM pada tahun 1988,
ternyata kemudian Saudara YAHYA melakukan perkawinan lagi dengan Saudari
HANUM (mengaku berstatus duda), tanpa izin pejabat yang berwenang dan juga tidak
dilaporkan, karena sebenarnya Saudara YAHYA telah pisah rumah dengan Saudari ANA,
bahkan kemudian Saudari ANA ditalak 1 (satu) secara agama. Kehidupan rumah tangga
Saudara YAHYA dengan Saudari HANUM berjalan lancar, apalagi Saudari HANUM
sebagai karyawan swasta yang berpenghasilan lebih besar dari Saudara YAHYA.
Modul Diklat Prajabatan 71

Situasi dan kondisi rumah tangga sebagaimana digambarkan di atas rupanya tidak
bertahan lama, karena kemudian Saudara YAHYA makin lama makin sering tidak pulang
ke rumah bahkan sering melupakan tanggung jawabnya terhadap isteri, antara lain Saudara
YAHYA terlibat hutang yang selalu dilunasi oleh istrinya (Saudari HANUM) sehingga,
pada tanggal 22 Maret 1990 di Pengadilan Agama Jakarta Timur telah terjadi
perceraian antara Saudara YAHYA dengan Saudari HANUM, tanpa terlebih dahulu
meminta izin dari Pejabat yang berwenang.
Sebelum bercerai secara sah dengan Saudara YAHYA, Saudari HANUM telah
melaporkan perbuatan suaminya tersebut kepada Walikota Jakarta Barat. Berdasarkan
adanya laporan tersebut maka ditindak lanjuti dengan ditugaskannya Inspektur Wilayah
Kota Jakarta Barat untuk melakukan pemeriksaan terhadap Saudara YAHYA. Dalam
berita acara pemeriksaan tanggal 30 Maret 1990 Saudara YAHYA mengaku telah
melakukan pelanggaran disiplin.
Sesuai Laporan Hasil Pemeriksaan Inspektorat Walikota Jakarta Barat
Nomor……… tanggal……… Saudara YAHYA telah melakukan pelanggaran
terhadap ketentuan Pasal 2 huruf w, x Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 jis
Pasal 34 ayat (1). Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 serta Pasal 3 ayat (1) Pasal 4 ayat
(1) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 dan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun
1990. Dengan memperhatikan faktor yang memberatkan dan yang meringankan, maka
pejabat pemeriksa dari Inspektorat Wilayah Kota Jakarta Barat telah menyarankan
kepada pejabat yang berwenang, agar terhadap Saudara YAHYA dijatuhi hukuman disiplin
pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil
Saran tersebut segera ditindaklanjuti oleh Walikota Jakarta Barat, yang mengusulkan
kepada Gubernur DKI Jakarta agar terhadap Saudara YAHYA dijatuhi hukuman disiplin.
Namun Sekretaris Wilayah/Daerah DKI Jakarta dengan Nota Dinasnya
Nomor………tanggal………telah menyarankan kepada Gubernur Kepala Daerah Khusus
Ibukota Jakarta agar terhadap Saudara YAHYA dijatuhi hukuman dengan 2 (dua) alternatif
jenis hukuman yaitu:
Alternatif I
Berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai Pegawai
Negeri Sipil .
72 Manajemen ASN

Alternatif II
Penurunan Pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah selama satu tahun.

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta


Nomor………tanggal 26 Januari 1991 telah dijatuhkan hukuman disiplin berupa
pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil
terhadap Saudara YAHYA sesuai dengan ketentuan Pasal 6 ayat (4) huruf c Peraturan
Pemerintah Nomor 30 tahun 1980.

PERTANYAAN:
Bacalah kasus tersebut di atas dengan seksama.
1. Buatlah singkatan/kronologis kasus tersebut !
2. Tentukan pokok permasalahannya !
3. Tentukan jenis-jenis yang dipertimbangkan melalui analisis Saudara. Jenis hukuman
disiplin:
a. Hal-hal yang meringankan;
b. Hal-hal yang memberatkan.
4. Buatlah kesimpulan kasus:
a. Sebutkan perbuatan dan pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh yang bersangkutan;
b. Sebutkan hukuman disiplin yang dijatuhkan.
5. Apakah hukuman disiplin yang dijatuhkan kepada Pegawai Negeri Sipil tersebut
telah memenuhi rasa keadilan? Jelaskan!
Modul Diklat Prajabatan 73

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Aparatur Sipil Negara
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976 tentang Cuti Pegawai Negeri Sipil ;
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1979 tentang Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri
Sipil ;
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1979 tentang Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil ;
Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri
Sipil ;
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1994 tentang Tanda Kehormatan Satya Lancana
Karya Satya;
Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pegawai Negeri Sipil Yang Menjadi
Anggota Partai Politik;
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1999 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah
Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pegawai Negeri Sipil Yang Menjadi Anggota
Partai Politik;
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2000 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil ;
Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil ;
Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Gaji Pegawai Negeri Sipil ;
Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2002 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil
Dalam Jabatan Struktural;
Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Pegawai
Negeri Sipil ;
Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Peraturan Gaji Pegawai
Negeri Sipil , sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1997;
Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengesahan Perubahan Anggaran Dasar
Korps Pegawai Republik Indonesia;
74 Manajemen ASN

Surat Edaran Direktorat Jenderal Anggaran, Departemen Keuangan Nomor SE/A/2000 tanggal 9
Maret 2000;
Hasil Munas Korps Pegawai Republik Indonesia, Jakarta, Tahun 1999, Jakarta.

Buku-Buku
Amstrong, Michael and Baron, Anggela: Performace Management The New Realities, (1998),
Institute Of Personal Development, Camp Road, London.
Grendhaus, Jeffry H. dkk., Career Management, (2000), The Dry Press, USA.
Handoko, T. Hani, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, (1999), BPFE,
Yogyakarta.
Manullang dan Manullang, Marihot, AMH (2001), Manajemen Personalia Edisi-3, Gajah
Mada University Press, Yogyakarta.
Prowirosentono, Suyadi, Kebijakan Kinerja Karyawan, (1999), BPFE, Yogyakarta.
Sayidan, Gauzali, Manajemen Sumber Daya Manusia, jilid 2, (2000), PT. Gunung Agung,
Jakarta.
Schuler, Randall. S dan Jackson, E. Susan, Manajemen Sumber Daya Manusia jilid 2, (1999),
terjemahan, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Simamora, Henry, Manajemen Sumber Daya Manusia, edisi kedua, (1997), Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai