Anda di halaman 1dari 49

RANCANGAN AKTUALISASI

Upaya Peningkatan Pengakajian dan Pelayanan Resep di


Ruang Farmasi UPT Puskesmas Kemiri Sesuai Standar
Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas

Disusun Oleh:
Nama : Dinar Nur Jayanti, S. Farm., Apt.
NIP : 19951216 201903 2 011
Pangkat/Golongan : Penata Muda Tk.1/ III b
Jabatan : Apoteker Ahli Pertama

PELATIHAN DASAR CPNS GOLONGAN III ANGKATAN III


BALAI PELATIHAN KESEHATAN SEMARANG
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
2019

i
LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan aktualisasi ini diajukan oleh:

Nama : Dinar Nur Jayanti, S.Farm,Apt

NIP : 19951216 201903 2 011

Pangkat/Golongan : IIIb

Jabatan : Apoteker Ahli Pertama

Unit Kerja/Instansi : UPT Puskesmas Kemiri

Dengan Judul:

Upaya Peningkatan Pengakajian dan Pelayanan Resep di


Ruang Farmasi UPT Puskesmas Kemiri Sesuai Standar
Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas

Laporan aktualisasi ini telah disetujui untuk diujikan dalam seminar Rancangan
Aktualisasi Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III
Pemerintah Kabupaten Purworejo.

Dewan Penguji

Coach : Murcita, S.Pd, M.Kes (……………………….)

Mentor : Meita Darmiastuty, SKM, M.Kes (……………………….)

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Upaya Peningkatan Pengakajian dan Pelayanan Resep di


Ruang Farmasi UPT Puskesmas Kemiri sesuai Standar
Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas

OLEH:

Dinar Nur Jayanti, S.Farm, Apt

Peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Angkatan III Tahun 2019
NIP.199512162019032011

Telah Diseminarkan Pada 19 Juli 2019

Di Bapelkes Semarang

PENGUJI, COACH, MENTOR

Meita Darmiastuty, SKM, M.Kes Murcita, S.Pd, M.Kes Suseno, S.Kep., Ners

NIP.19620518 198603 2001 NIP.19651102 198603 1001 NIP.198007291999031001

Mengetahui Kepala Bapelkes Semarang,

Emmilya Rosa, SKM, MKM


NIP.197305251997032001

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas berkat
rahmat dan hidayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan penulisan
rancangan aktualisasi ini. Penulis sebagai peserta Pelatihan Dasar Calon
Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemerintah Kabupaten Purworejo tahun 2019 di
Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Semarang mengucapkan terima kasih
kepada pihak yang telah membantu dalam penyelesaian rancangan kegiatan
aktualisasi ini, diantaranya:

1. Ibu drg. Nancy Megawati Hadisusilo, MM., Kepala Badan Kepegawaian


Daerah Kabupaten Purworejo yang telah memfasilitasi dan mendukung
berlangsungnya latsar CPNS.
2. Ibu Emmilya Rosa SKM., MKM, Kepala Bapelkes Semarang yang telah
mengijinkan dan mendukung berlangsungnya latsar CPNS
3. Bapak Suseno, S.Kep, Ners , mentor yang memberikan dukungan serta
memberi masukan kepada penulis selama pendidikan latsar.
4. Bapak Murcita, S.Pd, M.Kes, selaku coach yang selalu sabar memberikan
bimbingan dan dukungan dalam kami kami menjalani kegiatan Latsar
CPNS
5. Meita Darmiastuty, SKM, M.Kes, selaku penguji seminar rancangan aktualisasi.
6. Bapak dan Ibu Widyaiswara Bapelkes Semarang yang telah mendukung
berlangsungnya kegiatan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil
(CPNS)
7. Rindam IV/Diponegoro Bapak Indra Sagala dan Bapak Amin selaku
pembina dan pelatih Bela Negara.
8. Rekan-rekan CPNS Golongan III Angkatan III tahun 2019 peserta Latsar
Bapelkes Semarang yang saling medukung dan mensuport selama kegiatan
Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) berlangsung.
9. Pihak-pihak terkait yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.
Semoga rancangan aktualisasi ini dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat
bagi para pembaca. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bisa
membangun dan memperbaiki penulisan rancangan aktualisasi ini.

Magelang, 14 Juli 2019


Dinar Nur Jayanti, S.Farm,Apt
NIP. 199512162019032011

iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i

LEMBAR PENGESAHAN..................................................................................... ii

KATA PENGANTAR............................................................................................ iv

DAFTAR ISI ........................................................................................................... v

DAFTAR TABEL .................................................................................................. vii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ viii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

Latar Belakang ............................................................................................... 1

Tujuan Umum ................................................................................................ 2

Tujuan Khusus................................................................................................ 3

BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................. 4

Profil UPT Puskesmas Kemiri ....................................................................... 4

Visi, Misi, Tujuan, Moto dan Nilai UPT Puskesmas Kemiri ......................... 4

Nilai Dasar PNS ............................................................................................. 5

Manajemen ASN .......................................................................................... 11

Pelayanan Publik .......................................................................................... 12

Whole of Government (WoG) ...................................................................... 13


Pengkajian dan Pelayanan Resep ................................................................. 15

BAB III RANCANGAN AKTUALISASI............................................................ 17

Unit Kerja ..................................................................................................... 17

Isu Yang Diangkat ........................................................................................ 18

v
Gagasan Penyelesaian Isu ............................................................................ 20

Dampak Positif Jika Isu Terpecahkan .......................................................... 37

Dampak Isu Jika Tidak Mengedepankan Nilai-Nilai Aneka ....................... 37

Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi.................................................... 38

BAB IV PENUTUP .............................................................................................. 39

Kesimpulan................................................................................................... 39

Saran ............................................................................................................. 40

DAFTAR PUSTAKA

vi
DAFTAR TABEL

Table 3.1 Dampak bila isu tidak segera ditangani ............................................... 18

Tabel 3.2 Analisis Isu Berdasarkan diagram Fish Bone ...................................... 21

Tabel 3.3 Kegiatan yang akan dilakukan ............................................................. 22

Tabel 3.4 Matrik Gagasan Kegiatan Pemecahan Isu dikaitkan dengan Nilai-nilai

Dasar PNS, Visi, Misi dan Penguatan Nilai Organisasi ...................... 23

Tabel 3.5 Jadwal Kegiatan yang akan dilakukan .................................................. 38

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Fish Bone .................................................................................................................20

viii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara,
Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi pegawai negeri dan pegawai
pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah. Pegawai
ASN melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, memberikan pelayanan publik
yang profesional dan berkualitas dan mempererat persatuan dan kesatuan NKRI.
Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara
Pasal 63 ayat (3) dan ayat (4) tentang Aparatur Sipil Negara menyatakan bahwa
Instansi Pemerintah wajib memberikan Pendidikan dan Pelatihan terintegrasi bagi
Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selama satu tahun masa percobaan. Selain itu,
terdapat PerLan Nomor 12 tahun 2018 tentang Pedoman Pelatihan Dasar CPNS, wajib
menjalani masa percobaan yang dilaksanakan untuk membangun moral, kejujuran,
semangat nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan
bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang.
Pelatihan dan pembelajaran baik di tempat pelatihan maupun di tempat tugas,
memungkinkan peserta mampu mengaktualisasikan dan membuatnya menjadi
kebiasaan (habituasi). Karakter PNS profesional dibentuk dari sikap dan perilaku
disiplin PNS, nilai-nilai dasar profesi PNS, dan pengetahuan tentang kedudukan dan
peran PNS dalam NKRI sehingga mampu melaksanakan tugas dan perannya sebagai
pelayan publik.
Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan dasar yang
menyelenggarakan upaya kesehatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif),
pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan
kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan
berkesinambungan. Untuk mencapai Visi dan Misi UPT Puskesmas Kemiri maka perlu
disusun sebuah perencanaan yang komprehensif berdasarkan prioritas masalah, potensi
dan sumber daya yang dimiliki.
Peran ASN di bidang pelayanan kefarmasian di Puskesmas merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan upaya kesehatan, yang berperan
penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Pelayanan

1
Kefarmasian di Puskesmas harus mendukung tiga fungsi pokok Puskesmas, yaitu
sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan
masyarakat, dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama yang meliputi pelayanan
kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat.
UPT Puskesmas Kemiri merupakan salah satu Puskesmas di Kabupaten
Purworejo yang mempuyai fasilitas ruang obat yang melayani resep rawat jalan dari
berbagai poli dan rawat inap. Pengkajian dan Pelayanan Resep di Ruang Obat
Puskesmas Kemiri yang belum sesuai standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
dikarenakan belum ada Tenaga Kefamasian yang mempunyai kompetensi tersebut dan
Standar Operasional Prosedur yang belum mengacu PMK No 74/2016 Tentang Standar
Pelayanan Farmasi di Puskesmas. Apabila tidak dilakukan peningkatan pengkajian dan
pelayanan resep di Ruang Farmasi UPT Puskesmas Kemiri sesuai Standar Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas dapat memungkinkan terjadinya kesalahan dalam skrining
(identifikasi) awal resep yang akan berdampak pada kesalahan persyaratan
administrasi, kesalahan dalam pertimbangan farmasetik dan klinis, kesalahan kegiatan
penyerahan (dispensing) dan pemberian informasi obat sehingga pasien akan
mendapatkan pengobatan yang tidak rasional.
Oleh karena itu, dengan adanya Apoteker yang mempunyai kompetensi dalam
pengkajian dan pelayanan resep dan dengan adanya perbaharuan SOP Peresepan,
Pemberian Obat kepada Pasien dan Pelabelan diharapkan akan mampu meningkatkan
pelayanan farmasi klinik khususnya pada pengkajian dan pelayanan resep dengan
memastikan bahwa proses dari awal awal resep diterima dan dilakukan skrining sampai
pasien memperoleh obat beserta informasinya sehingga setiap pasien mendapatkan
pengobatan yang rasional dan pasien memahami tentang obat yang didapatnya.

1.2 Tujuan Umum


1.2.1 Tujuan Umum
Peserta Pelatihan Dasar diharapkan mampu menyusun rancangan aktualisasi untuk
menyelesaikan isu belum memenuhi standarnya pelayanan kefarmasian dalam hal
pengkajian dan pelayanan resep di di Ruang Obat UPT Puskesmas Kemiri yang didasari
atas pemahaman mata pelatihan Kedudukan, Peran dan Fungsi PNS dalan NKRI (Negara
Kesatuan Republik Indonesia) yaitu Manajemen ASN, Whole of Government dan Pelayanan
Publik dengan dilandasi nilai-nilai dasar PNS (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi) di Ruang Farmasi UPT Puskesmas Kemiri.

2
1.2.2 Tujuan Khusus

Peserta Pelatihan Dasar CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) mampu:


1.2.2.1 Mengidentifikasi Isu
1.2.2.2 Menentukan gagasan inisiatif
1.2.2.3 Menentukan kegiatan untuk memecahkan isu beserta outputnya.
1.2.2.4 Menentukan tahapan dari setiap kegiatan beserta dengan output nya.
1.2.2.5 Mendeskripsikan keterikatan nilai-nilai subtansi mata pelatihan
dengantahapan kegiatan.
1.2.2.6 Mendiskripsikan kontribusi output kegiatan terhadap visi dan misi
organisasi.
1.2.2.7 Mendiskripsikan kontribusi output kegiatan terhadap penguatan nilai-nilai
organisasi.
1.2.2.8 Mendiskripsikan dampak jika kegiatan-kegiatan inisiatif yang telah
dilakukan mampu memecahkan isu.
1.2.2.9 Mendeskripsikan dampak jika nilai dasar PNS (ANEKA) tidak
diaktualisaskan dalam tugas dan jabatan.

3
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Gambaran Umum UPT Puskesmas Kemiri


2.1.1 Profil UPT Puskesmas Kemiri
UPT Puskesmas Kemiri merupakan salah satu puskemas yang berada di Kabupaten
Purworejo yang terletak di desa Kemiri Kidul, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo.
UPT Puskesmas Kemiri memiliki 27 desa dan memiliki luas wilayah kerja 58,89 km2.
Jumlah penduduk di wilayah kerja UPT Puskesmas Kemiri sebanyak 32.784 Jiwa dengan
jumlah jiwa laki-laki 16.123 dan jumlah jiwa perempuan 16.661 Jiwa yang terbagi dalam
12.260.
UPT Puskesmas Kemiri sudah tercatat sebagai Puskesmas yang terakreditas pada
tahun 2016 dan saat ini mempunyai 66 orang karyawan. UPT Puskesmas Kemiri
mempunyai layanan rawat jalan, rawat inap, Instalasi Gawat Darurat, Pelayanan Obat,
Kesehatan Lingkungan dan Laboratorium. Pelayanan rawat jalan yaitu berupa Balai
Pengobatan Umum dan lansia, Kesehatan Ibu dan Anak, Poli MTBS, Fisioterapi dan Poli
Gigi. Puskesmas Kemiri memiliki 3 Puskesmas Pembantu dan 7 Pos Kesehatan Desa, 44
Pos Binaan Terpadu, 50 Pos Pelayanan Terpadu Kelompok Lanjut Usia dan 99 Pos
Pelayanan Terpadu.
2.1.2 Visi, Misi, Tujuan, Moto dan Nilai UPT Puskesmas Kemiri
UPT Puskesmas Kemiri mempunyai Visi menjadi Puskesmas terdepan dalam
pelayanan kesehatan di Purworejo. Visi tersebut dapat dicapai dengan misi
menyelenggarakan upaya pelayanan dasar yang berkualitas; menigkatkan kualitas sumber
daya manusia dalam bidang kesehatan; meningkatkan peran serta masyarakat dalam bidang
kesehatan dan membangun kemandirian kesehatan masyarakat.
Tujuan UPT Puskesmas Kemiri yaitu tercapainya pelayanan prima, serta
terwujudnya kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan. Dalam hal pelayanan kepada
masyarakat, UPT Puskesmas Kemiri mempunyai motto ‘Kepuasan Anda Adalah
Kebanggaan Kami’. Tata nilai yang diterapkan di UPT Puskesmas Kemiri yaitu Disiplin,
Objektif dan Responsif. Disiplin selalu diterapkan kepada diri sendiri diantara semua
pegawai UPT Puskesmas Kemiri karena merupakan landasan dalam sikap. Nilai Objektif
ditanamkan agar dalam mengambil atau melihat sesuatu hal berdasarkan objektifitas atau
data yang ada. Pelayanan kepada masyarakat adalah hal yang utama sehingga UPT
Puskesmas Kemiri melakukan ketanggapan yang baik kepada pelayanan masyarakat.

4
2.2 Nilai Dasar PNS

Aparatur Sipil Negara (ASN) dituntut untuk memiliki nilai-nilai dasar sebagai
seperangkat prinsip yang menjadi landasan dalam menjalankan profesi dan tugasnya
sebagai ASN. Adapun nilai-nilai dasar yang dimaksud adalah Akuntabilitas, Nasionalisme,
Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi (ANEKA).
Berdasarkan dari kelima nilai dasar ANEKA yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme,
Etika publik komitmen mutu dan Anti korupsi yang harus di tanamkan kepada setiap ASN
maka perlu di ketahui indikator-indikator dari kelima kata tersebut, yaitu:
2.2.1 Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai,
sedangkan responsibilitas adalah kewajiban untuk bertanggung jawab. Pengertian
lebih lanjut akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau
institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya.
Adapun indikator dari nilai akuntabilitas adalah:
2.2.1.1 Kepemimpinan
Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah dimana pimpinan
memainkan peranan penting dalam menciptakan hal tersebut.
2.2.1.2 Transparansi
Transparansi diartikan sebagai keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan
yang dilakukan oleh individu maupun kelompok/ institusi.
2.2.1.3 Integritas
Integritas mempunyai makna konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan
dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.
2.2.1.4 Tanggungjawab
Tanggungjawab merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku atau
perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggungjawab
juga dapat berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban.
2.2.1.5 Keadilan
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal,
baik menyangkut benda maupun orang.
2.2.1.6 Kepercayaan
Rasa keadilan membawa pada sebuah kepercayaan. Kepercayaan ini akan
melahirkan akuntabilitas.
2.2.1.7 Keseimbangan

5
Pencapaian akuntabilitas dalam lingkungan kerja, diperlukan adanya
keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan, serta harapan dan kapasitas.
Selain itu, adanya harapan dalam mewujudkan kinerja yang baik juga harus
disertai dengan keseimbangan kapasitas sumber daya dan keahlian (skill) yang
dimiliki.
2.2.1.8 Kejelasan
Fokus utama untuk kejelasan adalah mengetahui kewenangan, peran dan
tanggungjawab, misi organisasi, kinerja yang diharapkan organisasi, dan sistem
pelaporan kinerja baik individu maupun organisasi.
2.2.1.9 Konsistensi
Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus dan terus melakukan sesuatu
sampai pada tercapainya tujuan akhir(1).

2.2.2 Nasionalisme
Nasionalisme merupakan pemahaman mengenai nilai-nilai kebangsaan.
Nasionalisme memiliki pokok kekuatan dalam menilai kecintaan individu terhadap
bangsanya. Dalam arti luas, nasionalisme diartikan sebagai pandangan tentang rasa cinta
yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.
Nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia
Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila.
Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai- nilai pancasila yang diarahkan
agar bangsa Indonesia senantiasa menempatkan persatuan dan kesatuan, kepentingan dan
keselamatan bangsa dan negara tersebut kepentingan pribadi atau golongan, menunjukkan
sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara, bangga sebagai bangsa
Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri, mengakui persamaan
derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa,
menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia, mengembangkan sikap tenggang
rasa.
Sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung nilai kemerdekaan
dan kebebasan masyarakat dalam memeluk agama dan kepercayaan masing-masing.
Nilai-nilai ketuhanan menjiwai nilai- nilai lain yang dibutuhkan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara seperti persatuan, kemanusiaan, permusyawaratan, dan keadilan
sosial. Dengan berpegang teguh pada nilai ketuhanan diharapkan dapat memperkuat
pembentukan karakter dan kepribadian, melahirkan etos kerja yang positif, dan

6
memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi diri dan kekayaan alam yang
diberikan Tuhan untuk kemakmuran masyarakat.
Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi landasan tindakan dan
perilaku kita sebagai PNS. Negara memerlukan sosok PNS yang mampu menentukan
kebijakan dan arah pembangunan dengan mempertimbangkan keselarasan antara
kepentingan nasional dan kemaslahatan global. Perpaduan antara sila pertama dan
kedua Pancasila menuntut pemerintah dan peyelenggara negara untuk memelihara budi
pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang cita-cita moral rakyat Indonesia. Dengan
berlandaskan prinsip kemanusiaan, berbagai tindakan perilaku yang bertentangan dengan
nilai-nilai kemanusiaan tidak sepatutnya mewarnai kebijakan dan perilaku aparatur negara.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia menggambarkan bahwa bangsa Indonesia juga
memiliki ciri-ciri gotong royong, guyub, rukun, bersatu, dan kekeluargaan. Dengan
semangat gotong royong, Negara Indonesia harus mampu melindungi segenap bangsa
dan tumpah darah Indonesia. Negara diharapkan mampu memberikan pelayanan kepada
masyarakat tanpa memandang suku, agama, ras, atau golongan. Semangat gotong royong
juga dapat diperkuat dalam kehidupan masyarakat sipil dan politik dengan terus menerus
mengembangkan pendidikan kewarganegaraan dan multikulturalisme yang dapat
membangun rasa keadilan dan kebersamaan dilandasi dengan prinsip-prinsip kehidupan
publik yang lebih partisipatif dan non diskriminatif.
Sila keempat, Pancasila yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Sila ini mengandung ciri- ciri demokrasi
yang dijalankan di Indonesia, yakni kerakyatan (kedaulatan rakyat), permusyawaratan
(kekeluargaan), dan hikmat kebijaksanaan. Demokrasi yang bercirikan kerakyatan
bermakna negara menghendaki persatuan tersebut kepentingan perseorangan dan
golongan. Kekeluargaan bermakna penyelenggaraan pemerintah didasarkan atas
semangat kekeluargaan diantara keragaman bangsa Indonesia dengan mengakui adanya
kesamaan derajat. Dan hikmat kebijaksanaan menghendaki adanya landasan etis dalam
berdemokrasi.
Sila kelima, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Komitmen
keadilan memiliki dimensi yang luas. Peran negara dalam mewujudkan rasa keadilan
sosial, setidaknya ada dalam empat kerangka, yaitu: 1) perwujudan relasi yang adil
disemua tingkat sistem kemasyarakatan; 2) pengembangan struktur yang menyediakan
kesetaraan kesempatan; 3) proses fasilitasi akses atas informasi, layanan dan sumber
daya yang diperlukan; dan 4) dukungan atas partisipasi bermakna atas pengambilan

7
keputusan bagi semua orang (LAN RI, 2015). Perwujudan negara sejahtera sangat
ditentukan oleh integritas dan mutu penyelenggara Negara, disertai dukungan rasa
tanggung jawab dan rasa kemanusiaan dari semua warga.
Setiap pegawai ASN wajib memiliki jiwa nasionalisme Pancasila yang kuat dalam
menjalankan fungsi dan tugasnya. Jiwa nasionalisme Pancasila ini harus menjadi dasar dan
mengilhami setiap langkah dan semangat bekerja untuk bangsa dan negara. Pegawai
Negeri Sipil sebagai bagian dari ASN harus senantiasa taat menjalankan nilai-nilai
Pancasila dan mengaktualisasikan-nya dengan semangat nasionalisme untuk menjalankan
tugasnya sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, dan perekat dan pemersatu
bangsa.
ASN sebagai pelaksana kebijakan publik merupakan aparat pelaksana segala
peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan kebijakan publik di berbagai bidang
dan sektor pemerintah. Undang-undang ASN juga memberikan jaminan kepada aparatur
sipil bebas dari intervensi kepentingan politik, bahkan bebas dari intervensi atasan yang
memiliki kepentingan subyektif. Hal ini mendorong ASN yang berorientasi pada
kepentingan publik. Prinsip penting yang harus diperhatikan ASN dalam menjalankankan
fungsinya sebagai pelaksana kebijakan publik adalah: 1) ASN harus mengutamakan
kepentingan publik dan masyarakat luas dalam mengimplementasikan kebijakan publik; 2)
ASN harus mengutamakan pelayanan yang berorientasi pada kepentingan publik; dan 3)
ASN harus berintegritas tinggi dalam menjalankan tugasnya.
Pelayanan masyarakat (publik) adalah segala bentuk pelayanan sektor publik yang
dilaksanakan aparatur pemerintah. Untuk melakukan fungsi sebagai pelayan publik, ASN
harus memiliki keahlian tertentu yang harus dimiliki sesuai dengan profesi ASN. Dengan
terwujudnya ASN yang profesional akan mendorong terwujudnya reformasi birokrasi yang
lebih baik sehingga tercipta kemajuan bangsa dan negara.
Pentingnya peran PNS sebagai salah satu pemersatu bangsa, disebutkan dalam
Pasal 2 ayat 1 UU Nomor 5 tahun 2014 terkait asas, prinsip, nilai dasar, dan kode etik dan
kode perilaku, dimana asas-asas dalam penyelenggaraan dan kebijakan manajemen ASN
ada 13, salah satunya adalah asas persatuan dan kesatuan. Hal ini berarti seorang ASN
dalam menjalankan tugas dan fungsinya senantiasa mengutamakan dan mementingkan
persatuan dan kesatuan bangsa, serta berpegang pada prinsip adil dan netral. Netral artinya
tidak memihak salah satu kelompok/golongan. Sedangkan adil berarti ASN dalam
melaksanakan tugasnya tidak boleh diskriminatif dan harus obyektif, jujur, transparan.

8
Dengan bersikap adil dan netral, maka ASN akan mampu menciptakan kondisi yang
aman, damai, dan tentram di lingkungan kerja dan di masyarakat(2).
2.2.3 Etika Publik
Etika lebih dipahami sebagai refleksi atas baik/buruk, benar/salah yang harus
dilakukan atau bagaimana melakukan yang baik atau benar, sedangkan moral mengacu pada
kewajiban untuk melakukan yang baik atau apa yang seharusnya dilakukan. Dalam
kaitannya dengan pelayanan publik, etika publik adalah refleksi tentang standar/norma yang
menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan
kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik.
Pada prinsipnya ada tiga dimensi etika publik yaitu dimensi kualitas pelayanan
publik, dimensi modalitas, dan dimensi tindakan integritas publik. Etika publik
menekankan pada aspek nilai dan norma, serta prinsip moral, sehingga etika publik
membentuk integritas pelayanan publik. Dengan adanya prinsip moral tersebut
diharapkan ASN mampu mengidentifikasi masalah-masalah dan konsep etika yang khas
dalam pelayanan publik. Dimensi modalitas dalam etika publik dicerminkan oleh unsur-
unsur akuntabilitas, transparansi, dan netralitas. Sedangkan dimensi tindakan integritas
publik memiliki makna kualitas dari pejabat publik yang sesuai dengan nilai, standar,
aturan moral yang diterima masyarakat
Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang
ASN, yakni sebagai berikut:
a. memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Pancasila;
b. setia dalam mempertahankan UUD 1945;
c. menjalankan tugas secara profesional dan tidak memihak;
d. membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian;
e. menciptakan lingkungan kerja yang nondiskriminatif;
f. memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur;
g. mempertanggung jawabkan tindakan dan kinerja publik;
h. memiliki kemampuan menjalankan kebijakan pemerintah;
i. memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat,
akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun;
j. mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi;
k. menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerja sama;
l. mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai;
m. mendorong kesetaraan dalam pekerjaan

9
n. meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai
perangkat sistem karir (3).

2.2.4 Komitmen Mutu


Komitmen mutu adalah janji pada diri kita sendiri atau pada orang lain yang
tercermin dalam tindakan kita untuk menjaga mutu kinerja pegawai. Komitmen mutu
merupakan pelaksanaan pelayanan publik dengan berorientasi pada kualitas hasil. Adapun
nilai-nilai komitmen mutu antara lain:
a. efektif, yaitu berhasil guna dapat mencapai hasil sesuai dengan target;
b. efisien, yaitu berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan mencapai hasil
tanpa menimbulkan pemborosan;
c. inovasi, yaitu penemuan sesuatu yang baru atau mengandung kebaruan;
d. berorientasi mutu, yaitu ukuran baik buruk yang di persepsi individu
terhadap produk atau jasa (4).
2.2.5 Anti Korupsi
Anti Korupsi adalah tindakan atau gerakan yang dilakukan untuk memberantas
segala tingkah laku atau tindakan yang melawan norma–norma dengan tujuan memperoleh
keuntungan pribadi, merugikan negara atau masyarakat baik secara langsung maupun tidak
langsung. Tindak pidana korupsi yang terdiri dari kerugian keuangan negara, suap-
menyuap, pemerasan, perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, benturan kepentingan
dalam pengadaan dan gratifikasi.
Indikator yang ada pada nilai dasar anti korupsi meliputi:
2.2.5.1 mandiri yang dapat membentuk karakter yang kuat pada diri seseorang
sehingga menjadi tidak bergantung terlalu banyak pada orang lain.
Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak
yang tidak bertanggung jawab demi mencapai keuntungan sesaat;
2.2.5.2 kerja keras merupakan hal yang penting dalam rangka tercapainya target
dari suatu pekerjaan. Jika target dapat tercapai, peluang untuk korupsi
secara materiil maupun non materiil (waktu) menjadi lebih kecil;
2.2.5.3 berani untuk mengatakan atau melaporkan pada atasan atau pihak yang
berwenang jika mengetahui ada pegawai yang melakukan kesalahan;
2.2.5.4 disiplin berkegiatan dalam aturan bekerja sesuai dengan undang-undung
yang mengatur;

10
2.2.5.5 peduli yang berarti ikut merasakan dan menolong apa yang dirasakan
orang lain;
2.2.5.6 jujur yaitu berkata dan bertindak sesuai dengan kebenaran (dharma);
2.2.5.7 tanggung jawab yaitu berani dalam menanggung resiko atas apa yang
kita kerjakan dalam bentuk apapun;
2.2.5.8 sederhana yang dapat diartikan menerima dengan tulus dan iklas
terhadap apa yang telah ada dan diberikan oleh Tuhan kepada kita;
2.2.5.9 adil yaitu memandang kebenaran sebagai tindakan dalam perkataan
maupun perbuatan saat memutuskan peristiwa yang terjadi(5).

2.3 Kedudukandan Peran PNS dalamNKRI


Terkait peran PNS dalam NKRI, diuraikan manajemen ASN, Pelayanan
Publik dan Whole of Government (WoG).
2.3.1 Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai ASN
yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari
praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (LAN RI, 2016). Manajemen ASN lebih
menekankan kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan dapat menghasilkan
sumber daya Aparatur Sipil Negara yang unggul dan selaras dengan perkembangan jaman.
Sesuai dengan pengertian manajemen ASN, peran ASN sebagai aparatur pemerintah adalah
sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan
dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang
profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktek korupsi, kolusi, dan
nepotisme.
Pegawai ASN berkedudukan sebagai aparatur negara yang menjalankan
kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah serta harus bebas dari
pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik. Untuk menjalankan
kedudukannya, ASN mempunyai fungsi sebagaimana diatur dalam Pasal 10 Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara, yaitu Pegawai ASN
berfungsi sebagai: 1) pelaksana kebijakan publik; 2) pelayan publik; dan 3) perekat dan
pemersatu bangsa. Dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang
Aparatur Sipil Negara, pegawai ASN bertugas: 1) melaksanakan kebijakan publik yang
dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; 2) memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas; dan 3)
mempererat persatuan dan kesatuan NKRI.

11
ASN mempunyai kewajiban sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.
Kewajiban dan tanggung jawab pegawai ASN disebutkan dalam UU ASN adalah: 1) setia
dan taat pada pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945,
Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan pemerintah yang sah; 2) menjaga persatuan
dan kesatuan bangsa; 3) melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah
yang berwenang; 4) menaati ketentuan peraturan perundangundangan; 5) melaksanakan
tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran, kesadaran, dan tanggung jawab; 6)
menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan dan tindakan
kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan; 7) menyimpan rahasia
jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan; dan 8) mersedia ditempatkan di seluruh wilayah NKRI.
Selain itu, ASN juga diberikan hak agar setiap ASN melaksanakan tugas dan
tanggungjawabnya dengan baik dan dapat meningkatkan produktivitas untuk menjamin
kesejahteraan ASN. Hak PNS sesuai dengan ketentuan dalam UU ASN adalah PNS
berhak memperoleh: 1) gaji, tunjangan, dan fasilitas; 2) cuti; 3) jaminan pensiun dan
jaminan hari tua; 4) perlindungan; dan 5) pengembangan kompetensi.
ASN merupakan profesi yang berlandaskan pada kode etik dan kode perilaku.
Kode etik dan kode perilaku ASN bertujuan untuk menjaga martabat dan kehormatan
ASN. Kode etik dan kode perilaku yang diatur dalam UU ASN menjadi acuan bagi para
ASN dalam penyelenggaraan birokrasi pemerintah. Fungsi kode etik dan kode perilaku ini
sangat penting dalam birokrasi dalam menyelenggarakan pemerintahan. Fungsi tersebut
antara lain, Pertama, sebagai pedoman, panduan birokrasi publik/ Aparatur Sipil Negara
dalam menjalankan tugas dan kewenangan agar tindakannya dinilai baik. Kedua, sebagai
standar penilaian sifat, perilaku,dan tindakan birokrasi publik/ Aparatur Sipil Negara dalam
menjalankan tugas dan kewenangannya (6).

2.3.2 Pelayanan Publik


Dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik,
dijelaskan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap
warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang
disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Dari pengertian tersebut ada tiga
unsur penting pelayanan publik yaitu organisasi penyelenggara pelayanan publik,

12
penerima layanan (pelanggan) yaitu orang atau masyarakat atau organisasi yang
berkepentingan, dan kepuasan yang diberikan dan/atau diterima oleh penerima pelayanan.
Seorang ASN terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam
penyelenggaraan pelayanan publik. Kesadaran seluruh anggota ASN untuk memberikan
kontribusi terhadap upaya perbaikan kualitas pelayanan publik di Indonesia akan
memberikan implikasi strategis jangka panjang untuk mengubah kinerja birokrasi dalam
memberikan pelayanan publik.Pelayanan publik yang baik didasarkan pada prinsip-
prinsip yang digunakan untuk merespon berbagai kelemahan yang melekat pada tubuh
birokrasi. Prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima adalah
partisipatif, transparansi, responsif, tidak diskriminatif, mudah dan murah, efektif dan
efisien, aksesibel, akuntabel, berkeadilan.
Undang-undang ASN menjelaskan bahwa ASN sebagai profesi berdasarkan pada
prinsip-prinsip:
2.3.2.1 Nilai dasar;
2.3.2.2 Kode etik dan kode perilaku;
2.3.2.3 Komitmen, integritas moral, dan tanggungjawab pada pelayanan
publik;
2.3.2.4 Kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
2.3.2.5 Kualifikasi akademik;
2.3.2.6 Jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas; dan
2.3.2.7 profesionalitas jabatan(7).

2.3.3 Whole of Government (WoG)


Whole of Government atau disingkat WoG adalah sebuah pendekatan
penyelenggaraan pemerintah yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintah dari
keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai
tujuan-tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik (LAN
RI, 2016). WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu pendekatan yang
melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang relevan. United
States Institute of Peace (USIP) (dalam LAN RI, 2016), menyatakan “an approach that
integrates the collaborative effort of the departments and agencies of a government to
achieve unity of effort toward a shared goal. Also known as interagency approach. The
terms unity of effort and unity of purpose are sometimes used to describe cooperation
among all actors, government and otherwise.”

13
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa karakteristik pendekatan
WoG dapat dirumuskan dalam prinsip-prinsip kolaborasi, kebersamaan, kesatuan, tujuan
bersama, dan mencakup keseluruhan aktor dari seluruh sektor dalam pemerintahan.
Pentingnya WoG untuk diterapkan dalam pemerintahan saat ini. Pertama, karena adanya
faktor eksternal seperti dorongan publik dalam mewujudkan integrasi kebijakan,
program pembangunan dan pelayanan agar tercipta penyelenggaraan pemerintah yang lebih
baik. Juga adanya perkembangan teknologi informasi, situasi dan dinamika kebijakan yang
lebih kompleks. Kedua, karena adanya faktor internal yaitu ketimpangan kapasitas sektoral
sebagai akibat adanya kompetisi sektor pembangunan.
WoG sebagai pendekatan yang dilakukan pemerintah untuk mendukung
fungsi penting dan utama instansi pemerintah yaitu sebagai perangkat pemberi pelayanan.
Pelayan yang diberikan harus memenuhi level atau kualitas yang diharapkan oleh
masyarakat umum. Terutama untuk menghadapi masyarakat yang semakin maju dan
persaingan global yang ketat. Pendekatan WoG dapat dilakukan baik dari sisi penataan
institusi formal maupun informal, diantaranya:
2.3.3.1 Penguatan koordinasi antar lembaga;
2.3.3.2 Membentuk lembaga koordinasi khusus;
2.3.3.3 Membentuk gugus tugas; dan
2.3.3.4 Koalisi sosial.
Praktek WoG dalam pelayanan publik dilakukan dengan menyatukan seluruh
sektor yang terkait dengan pelayanan publik. Pertama, pelayanan yang bersifat
administratif, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai produk dokumen resmi yang
dibutuhkan masyarakat. Praktek WoG dalam jenis pelayanan administrasi dapat dilihat
dalam praktek-praktek penyatuan penyelenggaraan izin dalam satu pintu. Kedua,
pelayanan jasa, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa yang dibutuhkan
warga masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perhubungan, dan
lainnya. Ketiga, pelayanan barang, yaitu pelayanan yang menghasilkan barang yang
dibutuhkan warga masyarakat misalnya jalan, perumahan, jaringan telepon, listrik, air
bersih, dan lainnya. Keempat, pelayanan regulatif, yaitu pelayanan melalui penegakan
hukuman dan peraturan perundang-unndagan maupun kebijakan publik yang mengatur
sendi-sendi kehidupan masyarakat. Adapun pola pelayanan publik dibedakan dalam 5 (lima)
macam pola pelayanan yaitu pola pelayanan teknis fungsional, pola pelayanan satu atap, pola
pelayanan satu pintu, pola pelayanan terpusat, dan pola pelayanan elektronik (8).

14
2.4 Pengkajian dan Pelayanan Resep
Pelayanan farmasi klinik merupakan bagian dari Pelayanan Kefarmasian yang
langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan Obat dan Bahan Medis
Habis Pakai dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu
kehidupan pasien. Pelayanan farmasi klinik bertujuan untuk:
2.4.1 Meningkatkan mutu dan memperluas cakupan Pelayanan Kefarmasian di
Puskesmas.
2.4.2 Memberikan Pelayanan Kefarmasian yang dapat menjamin efektivitas,
keamanan dan efisiensi Obat dan Bahan Medis Habis Pakai.
2.4.3 Meningkatkan kerjasama dengan profesi kesehatan lain dan kepatuhan
pasien yang terkait dalam Pelayanan Kefarmasian.
2.4.4 Melaksanakan kebijakan Obat di Puskesmas dalam rangka meningkatkan
penggunaan Obat secara rasional.
Pelayanan farmasi klinik yang akan diaktualisasikan diantaranya yaitu:
Kegiatan pengkajian resep dimulai dari seleksi persyaratan administrasi, persyaratan
farmasetik dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
2.4.5 Persyaratan administrasi meliputi:
2.4.5.1 Nama, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien.

2.4.5.2 Nama, dan paraf dokter.

2.4.5.3 Tanggal resep.

2.4.5.4 Ruangan/unit asal resep.


2.4.5 Persyaratan farmasetik meliputi:
2.4.5.1 Bentuk dan kekuatan sediaan.

2.4.5.2 Dosis dan jumlah Obat.


2.4.5.3 Stabilitas dan ketersediaan.

2.4.5.4 Aturan dan cara penggunaan.

2.4.5.5 Inkompatibilitas (ketidakcampuran Obat).


2.4.6 Persyaratan klinis meliputi:
2.4.6.1 Ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan Obat.

2.4.6.2 Duplikasi pengobatan.

2.4.6.3 Alergi, interaksi dan efek samping Obat.

2.4.6.4 Kontra indikasi.

2.4.6.5 Efek adiktif.

15
Kegiatan Penyerahan (Dispensing) dan Pemberian Informasi Obat merupakan kegiatan
pelayanan yang dimulai dari tahap menyiapkan/meracik Obat, memberikan label/etiket,
menyerahan sediaan farmasi dengan informasi yang memadai disertai pendokumentasian.
Tujuan:
1. Pasien memperoleh Obat sesuai dengan kebutuhan klinis/pengobatan.

2. Pasien memahami tujuan pengobatan dan mematuhi intruksi pengobatan (9).

16
BAB III
RANCANGAN AKTUALISASI
3.1. Unit Kerja
Unit kerja yang digunakan oleh penulis untuk mengaktualisasikan pemecahan isu
adalah Ruang Obat UPT Puskesmas Kemiri – Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo. Di
Ruang Obat/ Farmasi menditribusikan obat ke poli-poli yang terdapat di dalam gedung dan
ruang gedung UPT Puskesmas Kemiri serta melayani resep yang berasal dari rawat inap
maupun rawat jalan. Resep yang masuk ke Ruang Obat/ Farmasi kemudian dilakukan
proses penerimaan resep, pengkajian resep, penyiapan obat, pelabelan, double check serta
penyerahan obat disertai informasinya. Proses penyerahan obat disertai pemberian
informasinya dilakukan oleh Apoteker. Penulis mempunyai jabatan sebagai Apoteker Ahli
Pertama yang mempunyai Satuan Kerja Pegawai :

No Kegiatan Tugas Jabatan

1 Membuat kerangka acuan


2 Mengklasifikasikan perbekalan farmasi

3 Menginventarisasi pemasok perbekalan farmasi

4 Mengolah data perencaan perbekalan farmasi

5 Menyusun perbekalan farmasi di penyimpanan perbekalan farmasi

6 Meracik obat pada resep individual dalam rangka dispensing

7 Pelayanan Informasi Obat

8 Konseling obat
9 konsultasi dengan dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya

10 Visite ke ruang rawat

11 Menyerahkan perbekalan farmasi pada resep individual

12 Memberikan edukasi untuk melakukan pengobatan sendiri khususnya penyakit yang ringan

13 Mengkaji Resep

14 Peran serta aktif dalam seminar/lokakarya di bidang kefarmasian/kesehatan sebagai peserta

15 Merekapitulasi daftar usulan perbekalan farmasi dalam rengka penghapusan perbekalan farmasi

16 Keanggotaan dalam organisasi profesi apoteker sebagai anggota aktif tingkat kabupaten

17 Membuat buku pedoman/ petunjuk pelaksanaan/teknis di bidang pelayanan kefarmasian

17
3.2.Isu Yang Diangkat
Dalam Permenkes No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Puskesmas meliputi standar Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai serta Pelayanan Farmasi Klinik. Salah satu kegiatan dalam Pelayanan
Farmsi Klinik yaitu pengkajian dan pelayanan resep yang merupakan kegiatan menelaah
resep dimulai dari seleksi persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik dan persyaratan
klinis baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan. Ceklis telaah resep sebagai bentuk
dokumentasi dari kegiatan pengkajian dan pelayanan resep dapat dicantumkan pada lembar
resep atau pada lembar tersendiri yang terpisah dari lembar resep, meliputi

3.2.1 Persyaratan administrasi meliputi:


3.2.1.1 Nama, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien.

3.2.2.2 Nama, dan paraf dokter.

3.2.2.3 Tanggal resep.

3.2.2.4 Ruangan/unit asal resep.

3.2.2 Persyaratan farmasetik meliputi:


3.2.2.1 Bentuk dan kekuatan sediaan.

3.2.2.2 Dosis dan jumlah Obat.


3.2.2.3 Stabilitas dan ketersediaan.

3.2.2.4 Aturan dan cara penggunaan.

3.2.2.5 Inkompatibilitas (ketidakcampuran Obat).

3.2.3 Persyaratan klinis meliputi:


3.2.3 .1 Ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan Obat.

3.2.3.2 Duplikasi pengobatan.

3.2.3.3 Alergi, interaksi dan efek samping Obat.

3.2.3.4 Kontra indikasi.

3.2.3.5 Efek adiktif.


Dari hasil pengamatan yang telah dilaksanakan selama 2 bulan di Ruang Obat UPT
Puskesmas Kemiri, didapatkan isu terkait belum memenuhi standarnya pelayanan
kefarmasian dalam hal pengkajian dan pelayanan resep di di Ruang Obat UPT Puskesmas
Kemiri. Standar Operasional Prosedur perlu dilakukan pembaharuan dikarenakan akan

18
merubah langkah kegiatan, jika SOP tidak diubah maka tidak ada aturan mendasar.
Skrining / pengkajian resep merupakan kunci pertama dan utama serta penting dilakukan
sebagai langkah awal bagaimana selanjutnya dilakukan dispensing dan pemberian
informasi obat. Ceklist skrining yang terdapat pada lembar resep belum sesuai dengan
Peraturan Mneteri Kesehatan no 74 Tahun 2019 tentang Pelayanan Farmasi klinik. Catatan
pengobatan pasien atau Patien Medicated Report atau catatan pengobaan pasien yang
berfungsi sebagai dokumentasi jika terdapat ketidaksesuaian pada resep belum tersedia di
ruang obat. Media infromasi yang mendukung dalam cara penggunaan obat masih belum
tersedia.

Dampak yang dapat timbul jika isu tersebut belum terselesaikan dapat menyebabkan
kesalahan dalam skrining (identifikasi) awal resep yang akan berdampak pada kesalahan
persyaratan administrasi, kesalahan dalam pertimbangan farmasetik dan klinis, kesalahan
kegiatan penyerahan (dispensing) dan pemberian informasi obat sehingga pasien akan
mendapatkan pengobatan yang tidak rasional.

Tabel 3.1. Dampak bila isu tidak segera ditangani


Isu yang dimunculkan No Dampak
Kesalahan pada administrasi resep meliputi nama,
1. umur dan alamat pasien, nama dan paraf dokter,
tanggal resep dan unit asal resep.
Kesalahan dalam pertimbangan farmasetis meliputi
bentuk dan kekuatan sediaan, dosis dan jumlah obat,
2. stabilitas dan ketersediaan, aturan dan cara
penggunaan serta inkompatibilitas (ketidakcampuran
Pengkajian dan pelayanan resep
obat).
di Ruang Obat UPT Puskesmas
Kemiri yang belum memenuhi Kesalahan dalam pertimbangan klinis yaitu ketepatan
standar pelayanan kefarmasian di indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat, duplikasi
Puskesmas. 3.
pengobatan, alergi, interaksi dan efek samping obat
serta kontra indikasi.
4. Penyiapan obat dan pelabelan menjadi tidak sesuai
Terapi yang diberikan kepada pasien menjadi tidak
5.
sesuai.
6. Informasi obat yang didapatkan pasien menjadi salah.

Pengkajian dan pelayanan resep di Ruang Obat UPT Puskesmas Kemiri yang
belum memenuhi standar kefarmasian di Puskesmas diangkat menjadi isu dikarenakan
sebelumnya masih terdapat beberapa kendala. Isu tersebut jika dibiarkan akan
menimbulkan dampak yang berkelanjutan terhadap proses dispensing dan penyerahan

19
informasi obat kepada pasien/ keluarga pasien sehingga pasien tidak mendapatkan
pengobatan yang seharusnya serta bersiko menyebabkan terjadinya kejadian yang tidak
diinginkan.

3.3. Gagasan Pemecahan Isu


Upaya yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan terkait
pengkajian dan pelayanan resep di Ruang Obat UPT Puskesmas Kemiri yang belum
memenuhi standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas perlu dilakukan pencarian
faktor-faktor apa saja yang dapat memeprngaruhi permasalahan tersebut, dalam hal ini
penulis menggunakan metode diagram fishbone yang diperkenalkan pertama kali oleh
Kaoru Ishikawa untuk mengidentifikasi akar permasalahan yang diduga sebagai faktor
penyebabnya, bentuk dari diagram analisis fish bone dapat dilihat pada Gambar 3.1.

20
MATERIAL MAN

SDM kurang
Media informasi Tidak ada kompeten
obat belum salinan resep
memadai
Jumlah SDM
Tidak ada Kurang
Pengkajian dan
Ceklis skrining form PMR
pelayanan resep di
belum sesuai
Ruang Obat UPT
Puskemas Kemiri
belum sesuai standar
SOP belum update
Pelayanan
Pasien yang Skrining resep
belum sesuai
Kefarmasian di
terkadang kurang
paham tentang Puskesmas
obatnya Tidak ada
PMR

MILIEU METHOD

Gambar 3.1 Fish Bone

21
Berdasarkan kemungkinan dampak yang dapat ditimbulkan dari isu yang diangkat, maka
dilakukan penjabaran faktor penyebab apa aja yang menyebabkan Pengkajian dan pelayanan
resep di Ruang Obat UPT Puskesmas Kemiri yang belum memenuhi standar pelayanan
kefarmasian di Puskesmas. dengan menggunakan diagram Fish Bone dengan menggunakan
empat variable yaitu Man, Methode, Milleu dan Material dan dipatkan beberapa akar masalah
seperti yang tertera pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Analisis Isu Berdasarkan diagram Fish Bone

No Faktor yang mempengaruhi

1 Man a. SDM kurang karena hanya ada 1 Tenaga Teknis


Kefarmasian dan tidak ada Apoteker
b. SDM yang ada yaitu Tenaga Teknis Kefarmasian
kurang kompeten karena merupakan kompetensi
Apoteker
a. Tidak ada salinan resep/ copy resep
b. Tidak ada form Patien Medicated Report untuk
dokumentasi jika terdapat ketidaksesuaian pada saat
2 Matherial pengkajian resep.
c. Media informasi obat yang dapat meningkatkan
pengetahuan pasien/ keluarga pasien belum memadai.
d. Ceklist skrining obat pada lembar resep belum memuat
semua persyaratan administrasi, farmasetis dan klinis.
a. Skrining atau pengkajian resep dan checklist skrining
obat belum sesuai PMK No 74 Tahun 2016 tentang
standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas
3 Method b. Tidak adanya alur atau mekanisme untuk melakukan
pencatatan pada Patien Medicated Report
c. Standar Operasional Prosedur belum update dengan
standar terbaru
4 Milieu a. Terkadang terdapat pasien yang menanyakan kembali
terkaiit informasi obat diluar saat penyerahan obat.

22
Setelah didapatkan beberapa faktor yang menyebabkan Pengkajian
dan pelayanan resep di Ruang Obat UPT Puskesmas Kemiri yang belum
memenuhi standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas maka didapatkan
gagasan pemecah isu yaitu Upaya Peningkatan Pengkajian dan Pelayanan
Resep di Ruang Farmasi UPT Puskesmas Kemiri sesuai dengan Standar
Pelayanan Kefamasian di Puskesmas. Didasarkan fish bone diatas belum
sesuai standar dikarenakan keterbatasan waktu saat off campus maka akan
dilakukan kegiatan yang terdapat pada Tabel 3.3 Kegiatan yang akan
dilakukan.

Tabel 3.3 Kegiatan Yang Akan Dilakukan

No Kegiatan Sumber
1 Perbaharuan Standar Operasional Prosedur Peresepan dan Pelabelan SKP
2 Pembuatan ceklist pengkajian dan pelayanan resep pada lembar resep. SKP
Pembuatan Patien Medicated Record sebagai salah satu bentuk
3 dokumentasi ketidaksesuaian pada resep. Inovasi
4 Pembuatan Copy atau salinan resep Inovasi
5 Pembuatan Leaflet petunjuk cara penggunaan obat dengan benar Inovasi

23
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Membuat draft 1. Melakukan Memperoleh Notulensi Akuntabilitas Dengan adanya
konsultasi dukungan dan Menyampaikan gagasan Tersedianya alur dan standar
pembaharuan
dengan atasan pengarahan dengan jelas, terpercaya dan standar Pengkajian Pengkajian dan
Standar
mentor terkait terkait draft terbuka. dan Pelayanan Obat Pelayanan Obat
Operasional
kegiatan pembaharuan yang sesuai dengan yang sesuai
Prosedur
SOP standar Pelayanan dengan standar
Peresepan dan Nasionalisme
Diwujudkan dengan adanya Kefarmasian di Pelayanan
Pelabelan
musyawarah mencapai Puskesmas sebagai Kefarmasian di
tujuan bersama (sila ke 4) perwujudan Visi Puskesmas
Puskesmas yaitu “ sehingga dapat
Menjadi Puskesmas mewujudkan tata
Etika publik
Melakukan konsultasi Terdepan Dalam nilai organisasi :
dengan professional dan Pelayanan Kesehatan 1.Disiplin
sopan santun. di Purworejo’ dan 2.Objektif
Misi Puskesmas 3.Responsif
Menyelenggaran
Komitmen Mutu
Mendengarkan Upaya Pelayanan
danmenerima saran dengan Dasar Yang
baik Berkualitas.

Antikorupsi
Berani menyampaikan
gagasan secara mandiri

24
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
2. Merancang Tersedianya draft Draft Akuntabilitas
draft pembaharuan pembaharua Referensi yang diperoleh
pembaharuan SOP n SOP dapat dipertanggung
SOP sesuai jawabkan
litelatur
Etika Publik
Mempelajari litelatur sebagai
bentuk taat kepada
peraturan

Antikorupsi
Membuat rancangan SOP
dengan kerja keras, gigih,
focus dan mandiri

3. Melakukan Persetujuan Notulensi Akuntabilitas


konsultasi dan mentor terhadap Menyampaikan gagasan
meminta draft dengan jelas, terpercaya dan
persetujuan pembaharuan terbuka.
mentor. SOP
Nasionalisme
Diwujudkan dengan adanya
musyawarah mencapai

25
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
tujuan bersama (sila ke 4)

Etika publik
Melakukan konsultasi
dengan professional dan
sopan santun.

Antikorupsi
Berani menyampaikan
gagasan secara mandiri
4.Sosialisasi draft Pemahaman Foto Akuntabilitas
SOP baru di petugas terkait Melakukan soalisasi sebagai
Ruang Obat dan mengenai draft bentuk tangungjawab
penulis resep SOP baru
Etika Publik
Membangun Komunikasi
dengan sopan, santun dan
jelas

Komitmen Mutu
Sebagai bentuk efektifitas
kegiatan agar berkelanjutan

26
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
2. Membuat 1. Membuat Adanya Rancagan Akuntabilitas Adanya ceklis telaah Dengan ceklis
ceklis skrining rancangan Rancagan design design Referensi yang diperoleh resep dan telaah resep pada
resep pada design ceklis ceklis skrining ceklis dapat dipertanggung meningkatnya telaah lembar resep
lembar resep. skrining kefarmasian pada skrining jawabkan resep sehingga pasien baru, sehingga
Membuat kefarmasian lembar resep kefarmasian mendapatkan dapat
ceklis skrining pada lembar pada lembar Etika Publik pengobatan yang mewujudkan tata
resep pada resep sesuai resep Mempelajari litelatur sebagai rasional sebagai nilai organisasi :
lembar resep. litelatur bentuk taat kepada perwujudan Visi 1.Disiplin
peraturan Puskesmas yaitu “ 2.Objektif
Menjadi Puskesmas 3.Responsif
Antikorupsi Terdepan Dalam
Membuat rancangan design Pelayanan Kesehatan
ceklis telaah resep dengan di Purworejo’ dan
kerja keras, gigih, focus dan Misi Puskesmas
mandiri Menyelenggaran
Upaya Pelayanan
2. Melakukan Mendapatkan Notulensi Akuntabilitas Dasar Yang
konsultasi dan dukungan dan Menyampaikan gagasan Berkualitas.
meminta persetujuan dengan jelas, terpercaya dan
persetujuan terhadap terbuka.
mentor rancangan design
ceklis skrining Nasionalisme
pada lembar resep Diwujudkan dengan adanya

27
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
musyawarah mencapai
tujuan bersama (sila ke 4)

Etika publik
Melakukan konsultasi
dengan professional dan
sopan santun.

Komitmen Mutu
Mendengarkan
danmenerima saran dengan
baik

Antikorupsi
Berani menyampaikan
gagasan secara mandiri
3. Melakukan Pemahaman Foto Etika publik
sosialisasi ceklis Tenaga Teknis Melakukan kunjungan secara
skrining pada Kefarmasian dan profesional dan
lembar resep baru penulis resep berkomunikasi dengan
kepada penulis tentang caklis luwes
resep dan Tenaga skrining
Teknis kefarmasian

28
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
Kefarmasian. Whole of Government
Melakukan komunikasi dan
koordinasi antar profesi

3. Membuat 1. Konsultasi Mendapatkan Notulensi Akuntabilitas Meningkatnya Dengan adanya


Form Patien dengan mentor dukungan dan Menyampaikan gagasan pencatatan dan pencatatan
Medicated terkait Patien saran terkait dengan jelas, terpercaya dan dokumentasi tentang pengobatan
Record Medicated Patien Medicated terbuka. pengobatan pasien pasien, sehingga
Record Record melalui form Patien dapat
Nasionalisme Medicated Record mewujudkan tata
Diwujudkan dengan adanya sebagai perwujudan nilai organisasi :
musyawarah mencapai Visi Puskesmas yaitu 1.Disiplin
tujuan bersama (sila ke 4) “ Menjadi Puskesmas 2.Objektif
Terdepan Dalam 3.Responsif
Etika publik Pelayanan Kesehatan
Melakukan konsultasi di Purworejo’ dan
dengan professional dan Misi Puskesmas
sopan santun. Menyelenggaran
Upaya Pelayanan
Komitmen Mutu Dasar Yang
Mendengarkan Berkualitas.
danmenerima saran dengan
baik

29
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8

Antikorupsi
Berani menyampaikan
gagasan secara mandiri

2. Membuat Tersedianya Rancangan Akuntabilitas


rancangan design rangcangan form Patien Referensi yang diperoleh
Patien Medicated design Patien Medicated dapat dipertanggung
Record Medicated Record Record jawabkan
berdasarkan
litelatur. Etika Publik
Mempelajari litelatur sebagai
bentuk taat peraturan

Antikorupsi
Membuat rancangan PMR
dengan kerja keras, gigih,
focus dan mandiri

Komitmen Mutu
Membuat PMR yang
merupakan inovasi

30
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
3. Meminta Mendapatkan Notulensi Etika publik
persetujuan persetujuan terkait Melakukan dengan
mentor terkait form Patien professional dan sopan
form Patien Medicated Record santun.
Medicated
Record Antikorupsi
Meminta persetujuan Mentor
sebagai bentuk dispilin, taat
kepada alur peraturan

4.Sosialisasi form Pemahaman Foto Akuntabilitas


Patien Medicated Tenaga Teknis Melakukan soalisasi sebagai
Record kepada Kefarmasian bentuk tangungjawab
Tenaga Teknis terkait
Kefarmasian penggunaan Etika Publik
Patien Medicated Membangun Komunikasi
Record dengan sopan, santun dan
jelas

Komitmen Mutu
Sebagai bentuk efektifitas
kegiatan agar bercontinou

31
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
4. Membuat 1. Melakukan Mendapatkan Foto Akuntabilitas Meningkatnya Dengan adanya
Salinan Resep konsultasi dukungan dan Menyampaikan gagasan kepuasan dan pelayanan
(Inovasi) dengan mentor saran tentang dengan jelas, terpercaya dan kepercayan pasien kefarmasian
pembuatan salinan terbuka. dengan adanya berupa salinan
resep pelayanan salinan resep, sehingga
Nasionalisme resep sebagai dapat
Diwujudkan dengan adanya perwujudan Visi mewujudkan tata
musyawarah mencapai Puskesmas yaitu “ nilai organisasi :
tujuan bersama (sila ke 4) Menjadi Puskesmas 1.Disiplin
Terdepan Dalam 2.Objektif
Etika publik Pelayanan Kesehatan 3.Responsif
Melakukan konsultasi di Purworejo’ dan
dengan professional dan Misi Puskesmas
sopan santun. Menyelenggaran
Upaya Pelayanan
Komitmen Mutu Dasar Yang
Mendengarkan Berkualitas
danmenerima saran dengan
baik

Antikorupsi
Berani menyampaikan
gagasan secara mandiri

32
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
2.Membuat Adanya Rancangan Akuntabilitas
design salinan Rancangan design design Referensi yang diperoleh
resep dengan salinan resep salinan dapat dipertanggung
litelatur resep jawabkan

Etika Publik
Mempelajari litelatur sebagai
bentuk taat kepada
peraturan

Antikorupsi
Membuat rancangan PMR
dengan kerja keras, gigih,
focus dan mandiri

Komitmen Mutu
Membuat salinan resep yang
merupakan inovasi
3. Meminta Mendapatkan Notulensi Etika publik
persetujuan persetujuan dari Melakukan dengan
kepada mentor mentor professional dan sopan
terhadap santun.
design salinan

33
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
resep Antikorupsi
Meminta persetujuan Mentor
sebagai bentuk dispilin, taat
kepada alur peraturan

Pelayanan Pubik
Responsif dalam hal
memenuhi public
4. Sosialisasi Tenaga Teknis Foto Akuntabilitas
salinan resep Kefarmasian Melakukan soalisasi sebagai
kepada Tenaga mendapatkan bentuk tangungjawab
Teknis pemahaman
Kefarmasian terkait Salinan Etika Publik
Resep Membangun Komunikasi
dengan sopan, santun dan
jelas

Komitmen Mutu
Sebagai bentuk efektifitas
kegiatan agar bercontinou

34
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
5 Membuat 1. Mencari Tersedianya Materi Akuntabilitas Meningkatkan Dengan
leaflet tentang referensi untuk materi leaflet leaflet Referensi yang diperoleh pengetahuan dan pemberian
Penggunaan materi leaflet yang bermutu dapat dipertanggung pemahaman pasien informasi obat
Obat yang jawabkan terhadap aturan menggunakan
Benar (inovasi) penggunaan obat. leaflet, sehingga
Etika Publik sebagai perwujudan dapat
Mempelajari litelatur sebagai Visi Puskesmas yaitu mewujudkan tata
bentuk taat kepada “ Menjadi Puskesmas nilai organisasi :
peraturan Terdepan Dalam 1.Disiplin
Pelayanan Kesehatan 2.Objektif
Antikorupsi di Purworejo’ dan 3.Responsif
Membuat rancangan PMR Misi Puskesmas
dengan kerja keras, gigih, Menyelenggaran
focus dan mandiri Upaya Pelayanan
Dasar Yang
Berkualitas
2. Membuat Tersedianya design Anti Korupsi
design leaflet leaflet yang leaflet Bekerja keras untuk
berkualitas membuat leaflet

35
Tahapan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Kontribusi terhadap Penguatan Nilai
No. Kegiatan Bukti
Kegiatan Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
3. Melakukan Memperoleh Notulensi Nasionalisme
konsultasi dukungan dan Diwujudkan dengan adanya
dengan atasan persetujuan untuk musyawarah mencapai
tentang materi membuat leaflet tujuan bersama (sila ke 4)
leaflet
Etika publik
Melakukan konsultasi
dengan profesionaldan
kepedulian
4. Mencetak Tersedianya Leaflet Komitmen Mutu
Leaflet leaflet yang Mencetak leaflet dengan
berkualitas hati-hati
agar dihasilkan leaflet yang
bermutu

Pelayanan Publik
Memudahkan masyarakat
jika terdapat
ketidakpahaman ttg
penggunaan obatnya (efektif
dan efisien)

36
3.4 Dampak Positif Jika Isu Terpecahkan
Berikut adalah dampak positif jika isu terpecahkan:
1) Menyediakan alur dan standar Pengkajian dan Pelayanan Obat yang sesuai dengan
standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas.
2) Meningkatnya telaah resep sehingga pasien mendapatkan pengobatan yang rasional.
3) Meningkatnya pencatatan dan dokumentasi tentang pengobatan pasien
4) Meningkatnya kepuasan dan kepercayan pasien.
5) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien terhadap aturan penggunaan
obat.

3.5 Dampak Isu Jika Tidak Mengedepankan Nilai-Nilai ANEKA


Berikut adalah dampak isu jika tidak mengedepankan nilai-nilai ANEKA:
1) Jika tidak mengedepankan akuntabilitas, pelayanan obat diruang farmasi UPT
Puskesmas Kemiri akan dilakukan secara tidak bertanggung jawab dan konsisten.
2) Jika tidak mengedepankan nasionalisme, tidak akan didapatkan persamaan persepsi
antar sumber daya manusia yang ada dalam organisasi sehingga pencapaian Visi dan
Misi organisasi akan terhambat
3) Jika tidak mengedepankan etika publik, tenaga kefarmasian akan melakukan
kewenangannya dengan seenaknya saja tanpa menaati semua aturan yang ada.
4) Jika tidak mengedepankan komitmen mutu, maka petugas farmasi tidak dapat
memberikan pelayanan kefarmasian terbaik kepasa pasien.
5) Jika tidak mengedepankan anti korupsi, perbekalan farmasi yang merupakan salah
satu barang milik Negara akan dikelola secara tidak jujur dan tidak
bertanggungjawab.

37
3.6 Jadwal Pelaksanaan

Tabel 3.5 Jadwal Kegiatan yang akan dilakukan


Juli Minggu ke- Agustus Minggu ke-
No Kegiatan IV V I II III IV
Perbaharuan Standar
Operasional Prosedur
1 Peresepan dan Pelabelan
Pembuatan ceklist
pengkajian dan pelayanan
2 resep pada lembar resep.
Pembuatan Patien
Medicated Record sebagai
salah satu bentuk
dokumentasi
3 ketidaksesuaian pada resep.
Pembuatan Copy atau
4 salinan resep
Pembuatan Leaflet
petunjuk cara penggunaan
5 obat dengan benar

38
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.1.1 Isu yang ditetapkan di unit kerja yaitu Pengkajian dan pelayanan resep
di Ruang Obat UPT Puskesmas Kemiri yang belum memenuhi standar
pelayanan kefarmasian di Puskesmas.
4.1.2 Gagasan inisiatif untuk memecahkan isu yaitu Upaya Peningkatan
pengkajian
4.1.3 Kegiatan yang dilakukan untuk memecahkan isu diunit kerja yaitu:
4.1.3.1 Perbaharuan Standar Operasional Prosedur Peresepan dan
Pelabelan
4.1.3.2 Pembuatan ceklist pengkajian dan pelayanan resep pada
lembar resep.
4.1.3.3 Pembuatan Patien Medicated Record sebagai salah satu
bentuk dokumentasi ketidaksesuaian pada resep.
4.1.3.4 Pembuatan Copy atau salinan resep
4.1.3.5 Pembuatan Leaflet petunjuk cara penggunaan obat dengan
benar
4.1.4 Tahapan dari setiap kegiatan untuk memecahkan isu diunit kerja telah
ditetapkan beserta
4.1.5 Keterkaitan substansi mata pelatihan yaitu nilai-nilai dasar ASN
(Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitemen Mutu, dan
Anti Korupsi) dalam pelaksanaan tahapan kegiatan untuk memecahkan
isu di unit kerja telah ditetapkan.
4.1.6 Kontribusi setiap kegiatan terhadap visi misi organisasi telah
ditetapkan.
4.1.7 Kontribusi setiap kegiatan terhadap nilai organisasi telah ditetapkan.
4.1.8 Dampak jika kegiatan-kegiatan inisiatif dilakukan telah ditetapkan.
4.1.9 Dampak jika nilai dasar PNS (ANEKA) tidak diaktualisasikan dalam
tugas dan jabatan telah ditetapkan.

39
4.2 Saran

Saran yang dapat direkomendasikan untuk kegiatan rancangan aktualisasi


ini yaitu :

4.2.1 Penambahan waktu untuk melakukan bimbingan dengan Coach agar


apabila terdapat perbaikan dapat dilakukan secara maksimal.
4.2.2 Pemberian penjelasan dan format deisgn Rancangan Aktualisasi
disampaikan kepada peserta sejak agenda 1 agar dapat mulai dirancang
oleh peserta.

40
DAFTAR PUSTAKA

[1] Lembaga Administrasi Negara. (2014). Modul Diklat Prajabatan CPNS


Golongan III Akuntabilitas. Jakarta : Lembaga Administrasi
Negara.

[2] Lembaga Administrasi Negara. (2015). Modul Diklat Prajabatan CPNS


Golongan I dan II : Nasionalisme. Jakarta : Lembaga
Administrasi Negara.

[3] Lembaga Administrasi Negara. (2015). Modul Diklat Prajabatan CPNS


Golongan I dan II : Etika Publik. Jakarta : Lembaga Administrasi
Negara.

[4] Lembaga Administrasi Negara. (2015). Modul Diklat Prajabatan CPNS


Golongan I dan II : Komitmen Mutu. Jakarta : Lembaga
Administrasi Negara.

[5] Lembaga Administrasi Negara. (2015). Modul Diklat Prajabatan CPNS


Golongan I dan II : Anti Korupsi. Jakarta : Lembaga
Administrasi Negara.

[7] Lembaga Administrasi Negara. (2017). Modul Pelatihan Dasar Calon


PNS Pelayanan Publik. Jakarta : Lembaga Administrasi
Negara.

[6] Lembaga Administrasi Negara. (2017). Modul Pelatihan Dasar Calon


PNS Manajemen Aparatur Sipil Negara. Jakarta : Lembaga
Administrasi Negara.

[7] Lembaga Administrasi Negara. (2017). Modul Pelatihan Dasar Calon


PNS Pelayanan Publik. Jakarta : Lembaga Administrasi
Negara.

[8] Lembaga Administrasi Negara. (2017). Modul Pelatihan Dasar Calon


PNS Whole of Goverment. Jakarta : Lembaga Administrasi
Negara.

[9] Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun


2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas :
MenKes

41