PENGARUH PENGETAHUAN PAJAK, TARIF PAJAK,
DAN SANKSI PAJAK TERHADAP KEPATUHAN
WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI
(Study Empires Pada Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Demak)
Diajukan sebagi salah satu syarat untuk menyelesaikan
Program Diploma IV (Sarjana Terapan) pada Program Diploma IV Akuntansi
Perpajakan (Sarjana Terapan) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro
Disusun oleh :
ATTARIQ BUNTARLAN
40011419650240
SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
202
ABSTRACT
This study aims to examine the effect of tax knowledge. Tax rates and
tax sanctions on taxpayer compliance and describe the relationship between these
variables. The problem that is the focus of this research is the decrease in tax
revenue at the Pratama Demak Tax Office (KPP) unit.
This research method involves collecting primary data through
questionnaires and then analyzing it using statistical methods, such as regression
analysis using SPSS software version 26. This research is useful for giving the
importance of influencing factors regarding taxpayer compliance and underlining
the importance of effective implementation of taxpayer compliance.
The results showed that tax knowledge had a positive and simultaneous
effect, while tax rates and individual tax sanctions had a positive and significant
effect on taxpayer compliance. These findings indicate that understanding tax
regulations regarding tax benefits, calculation and reporting procedures,
understanding tax rates and applying strict sanctions can improve taxpayer
compliance.
Keywords: Taxpayer Compliance, Tax Knowledge, Tax Rates, Tax Sanctions.
1
2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengetahuan pajak. Tarif
pajak dan sanksi pajak terhadap kepatuhan Wajib Pajak serta mendeskripsikan
hubungan antara variabel-variabel tersebut. Permasalahan yang menjadi fokus
penelitian ini adalah penurunan penerimaan pajak di unit Kantor Pelayanan Pajak
(KPP) Pratama Demak. Metode penelitian ini melibatkan pengumpulan data
primer melalui kuesioner kemudian dianalisis dengan menggunakan metode
statistik, seperti analisis regresi dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi
26. Penelitian ini berguna untuk memberikan pentingnya pengaruh faktor
mengenai kepatuhan Wajib Pajak dan menggarisbawahi pentingnya implementasi
yang efektif dari kepatuhan Wajib Pajak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengetahuan pajak berpengaruh secara positif dan simultan, sedangkan tarif pajak
dan sanksi pajak orang pribadi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kepatuhan Wajib Pajak. Temuan ini menunjukkan bahwa dengan memahami
peraturan perpajakan mengenai manfaat pajak, tata cara perhitungan dan
pelaporan, pemahaman tarif pajak dan penerapan sanksi yang tegas dapat
meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
Kata kunci: Kepatuhan Wajib Pajak, Pengetahuan Pajak, Tarif Pajak, Sanksi
Pajak
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pajak merupakan bagian terpenting dalam sektor pendapatan negara,
bahkan menjadi salah satu sumber pendapatan utama negara yang terbesar dalam
sektor penerimaan APBN, pada saat ini sekitar 70% anggaran negara di tutupi
oleh penerimaan pajak sehingga dalam hal tersebut Negara Indonesia masih
bergantung kepada penerimaan pajak, hasil pemungutan dana yang berasal dari
penerimaan pajak tersebut dimanfaatkan untuk membiayai berbagai pembiayaan
negara seperti pembangunan nasional hal tersebut dilakukan untuk menaikan
kualitas kesejahteraan masyarakat yang memerlukan biaya tidak sedikit.
Pentingnya peran pajak dalam pembiayaan negara, maka sampai saat ini
pemerintah terus berupaya untuk memaksimalkan penerimaan pajak dari tahun ke
tahun hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah
ekonomi, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak yang menjadi unit untuk
melaksanakan kebijakan dalam hal perpajakan telah melakukan berbagai cara
dalam memaksimalkan penerimaan pajak dengan ekstensifikasi dan intensifikasi
pajak hal tersebut dilakukan dengan mengkaji objek perpajakan guna
meningkatkan pungutan wajib pajak. Dalam memaksimalkan upaya penerimaan
pajak DJP perlu meningkatkan tingkat kepatuhan wajib pajak dalam proses
pelaksanaan kewajiban perpajakan.
4
Berdasarkan data laporan penerimaan pajak di KPP Pratama Demak
terdapat penurunan penerimaan pajak, sekitar tiga tahun terakhir atau pada tahun
2020 sampai dengan 2022 terdapat penurunan penerimaan pajak , bahkan terdapat
penurunan jumlah target penerimaan pajak pada tahun 2021 hal ini dapat
berdampak kepada penerimaan negara karena penerimaan pajak menjadi salah
satu penggerak pembiayaan pemerintah yang paling penting. Hal tersebut perlu
adanya peningkatan kepatuhan wajib pajak dalam pelaksanaan kewajiban.
Kepatuhan wajib pajak menjadi faktor yang dapat berpengaruh terhadap
kepatuhan pajak di Indonesia. Kepatuhan wajib pajak merupakan sikap wajib pajak
dalam mematuhi undang-undang dan bersedia membayarkan tanggungan pajak
serta mengungkapkan kewajiban perpajakannya. Masalah tingkat kepatuhan
perpajakan di Indonesia masih terbilang cukup rendah karena sebagian masyarakat
yang masih memiliki anggapan bahwa bukan suatu hal kewajiban serta masih
banyak masyarakat yang lari dari tanggung jawab dalam menjalankan perpajakan.
Salah satu faktor yang dapat berpengaruh dalam proses pemenuhan kewajiban
wajib pajak adalah faktor pengetahuan wajib pajak dalam memperoleh
pengetahuan perpajakan.
Pengetahuan perpajakan menjadi hal dasar yang harus dipahami bagi
wajib pajak yang telah mempunyai tanggung jawab untuk membayar pajak
dikarenakan berlakunya sistem self assessment di Indonesia dimana wajib pajak
diharapkan mampu dalam proses menghitung dan melaporkan kewajiban
pajaknya. Berdasarkan hal tersebut wajib pajak dapat dinyatakan memiliki sifat
patuh tentunya harus mengetahui dan memahami terlebih dahulu apa
5
kewajibannya. Jika dalam pelaksanaannya wajib pajak tidak mempunyai
pengetahuan dasar perpajakan hal tersebut akan membuat wajib pajak mengalami
kesulitan atau berbagai kendala di dalam proses perpajakan seperti mengisi Surat
Pemberitahuan (SPT), mendaftarkan diri sebagai wajib pajak, dan membayarkan
tanggungan pajaknya. Sistem self assessment yang diterapkan di Indonesia ini
terkadang menjadi alasan wajib pajak tidak melaporkan kewajiban perpajakan
yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan ketidaktahuan akan perolehan
informasi wajib pajak.
Pada tahun 2021 pemerintah telah memberlakukan peraturan baru dalam
Undang- Undang Nomor 7 tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan
(HPP) dalam peraturan tersebut telah merubah ketentuan dalam UU No.36 tahun
2008 yang dimana terdapat perubahan mengenai penerapan lapisan tarif pajak
yaitu perubahan lapisan pertama pennghasilan kena pajak dan penambahan
lapisan terbaru untuk penghasilan di atas lima miliar akan dikenakan tarif sebesar
35%. Dengan pemberlakukan pembaharuan peraturan perpajakan tersebut
merupakan upayah pemerintah dalam memberikan penerapan tarif yang adil pada
setiap lapisan masyarakat Indonesia. Sehingga dengan peraturan penetapan tarif
perpajakan terbaru tersebut dapat berpengaruh terhadap pribadi wajib pajak
dalam proses menghitung besaran pajak yang akan di bayarkan dan juga wajib
pajak perlu memahami aturan-aturan mengenai penerapan tarif pajak yang sedang
berlaku. Hal tersebut menjadi salah faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib
pajak karena dengan penerapan pajak yang adil dapat menurunkan keengganan
wajib pajak dalam pemenuhan kewajibannya, meskipun penghindaran pajak dapat
6
terjadi tetapi wajib pajak tidak terlalu menghindar atau kurang patuh terhadap
besaran pajak yang harus dibayarkan. Oleh karena itu semakin adil dalam
penerapan tarif pajak di Indonesia mempengaruhi besar kemungkinan wajib pajak
untuk membayarkan tanggungan pajaknya.
Dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak pemerintah melakukan
langkah yang tegas dengan pemberlakuan sanksi pajak dengan adanya sanksi
pajak berupa peraturan yang ditujukan untuk mengikat Wajib Pajak dalam
mencegah terjadinya pelanggaran perpajakan. Pengenaan sanksi pajak ini diatur
dalam ketentuan perundang- undangan yang menjadi jaminan bahwa sanksi
perpajakan menjadi hal yang pasti dan harus diikuti/dipatuhi. Pemahaman dalam
mengenai sanksi perpajakan menjadi hal yang bersifat penting karena perpajakan
Indonesia menganut sistem self assessment dalam proses pemungutan pajak, maka
agar proses tersebut dapat berjalan secara maksimal maka wajib pajak perlu
memahami aturan terkait aturan perpajakan yang sedang berlaku hal ini perlu
dilakukan wajib pajak untuk menghindari resiko wajib pajak terkena sanksi dalam
perpajakan yang bisa disebabkan karena kelalaian atau kurang memahami aturan
dalam perpajakan. dan menjadi hal pasti bahwa apabila wajib pajak enggan dalam
melaksanakan perpajakan sanksi pajak akan menjadi sebuah alat yang akan
memberatkan wajib pajak. Itulah sebabnya penting bagi wajib pajak untuk
memahami sebab dan akibat hukum dari berlakunya peraturan sanksi dalam
perpajakan baik peraturan yang sedang berlaku atau pun sudah tidak berlaku.
Dalam hal ini perlu diketahui pengenaan sanksi dalam perpajakan terhadap
wajib pajak bukan merupakan jalan terbaik yang harus dilalui wajib pajak yang
7
tidak patuh atau melanggar dalam peraturan perpajakan, namun diharapkan
dengan adanya pemberlakuan sanksi perpajakan menjadikan setiap individu wajib
pajak dapat patuh dalam pemenuhan kewajiban perpajakan, khususnya dalam hal
wajib pajak yang lalai atau dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban
perpajakannya.
Setiap individu wajib pajak mempunyai tingkat pengetahuan atau
pemahaman tentang perpajakan yang berbeda beda, banyak yang belum
memahami mengenai prosedur perpajakan di Indonesia, seperti bagaimana proses
menghitung pajak, pelaporan dan pembayaran pajak, hal itulah yang membedakan
wajib pajak orang pribadi berbeda dengan wajib pajak badan karena umumnya
setiap perusahaan memiliki divisi perpajakan yang bertugas dalam proses
perpajakan, hal itulah yang mempengaruhi peneliti tertarik membahas pengaruh
pengetahuan, sanksi, dan tarif pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang
pribadi.
Nevy, Hendarto (2021) & Nelsi (2017) terdapat berpengaruh positif
pengetahuan wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak, hasil berbeda di
tunjukan pada penelitian Ahmad Burhan Zulhazmi dan Febrian Kwarto (2019)
pengetahuan tidak mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. Penelitian Dian (2017)
dan kadek dkk (2022) mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh positif sanksi
pajak terhadap kepatuhan wajib pajak ,hal berbeda terhadap penelitian Suhendri
(2015), bahwa tarif pajak tidak mempengaruhi kepatuhan wajib pajak, Al kausar
Dkk (2022) dan Siahaan (2018) terdapat berpengaruh positif sanksi perpajakan
terhadap Kepatuhan Wajib Pajak, sedangkan menurut Muhamad (2019) sanksi
8
pajak tidak mempengaruhi terhadap kepatuhan wajib pajak. Oleh karena itu,
dalam penelitian ini dilakukan kembali dengan meninjau temuan yang saling
bertentangan dari penelitian sebelumnya.
Berdasarkan uraian mengenai latar belakang dan mengenai beberapa
peneliti yang telah dilakukan sebelumnya, maka hal inilah yang menarik peneliti
untuk membahas penelitian yang berjudul “PENGARUH PENGETAHUAN
PAJAK, TARIF PAJAK, DAN SANKSI PAJAK TERHADAP
KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI (Studi Empiris Pada
Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Demak).
9
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Apakah pengetahuan wajib pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib
pajak orang pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Demak.
2. Apakah tarif pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi
di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Demak.
3. Apakah sanksi pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak orang
pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Demak.
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, penelitian ini
bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pengetahuan perpajakan
terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
2. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh tarif pajak terhadap kepatuhan
wajib pajak orang pribadi.
3. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh sanksi pajak terhadap kepatuhan
wajib pajak orang pribadi.
10
1.4 Manfaat Penelitian
Diharapkan dalam penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan,
memberikan pengetahuan baru dan menjadi bahan referensi di masa mendatang
manfaat yang diperoleh atau diterapkan setelah pengungkapan hasil penelitian ini.
Manfaat yang menjadi harapan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kegunaan Praktis Bagi Peneliti
Penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan gelar sarjana
juga untuk membantu menambah wawasan dan analisa terhadap topik
penelitian. Memberikan informasi bahwa penelitian kepatuhan wajib pajak
orang pribadi dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, tarif pajak, dan sanksi
pajak sesuai penelitian.
2. Kegunaan Teoritis
pengetahuan dan wawasan yang dapat dijadikan referensi tambahan untuk
penelitian selanjutnya mengenai pengaruh pengetahuan, tarif pajak dan sanksi
pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
3. Kegunaan Bagi Instansi
Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan kepatuhan wajib pajak orang
pribadi dengan meneliti apa saja faktor yang berpengaruh terhadap kepatuhan
11
wajib pajak orang pribadi, dalam penelitian ini difokuskan pada pengetahuan
perpajakan, tarif pajak dan sanksi pajak.
1.5 Sistematika Penulisan
Peneliti membagi pembahasan skripsi ini dalam lima bab untuk
memudahkan pembahasan, diantaranya:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis menjelaskan mengenai latar belakang,
perumusan masalah mengenai topik yang diangkat, tujuan dan manfaat
penelitian, serta sistematika penulisan skripsi secara ringkas mengenai
isi setiap bab dari skripsi.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Dalam bab ini penulis menjelaskan mengenai landasan teori, definisi
pajak, pengetahuan pajak, tarif pajak, sanksi pajak, penelitian terdahulu,
kerangka pemikiran dan hipotesis.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menjelaskan mengenai objek penelitian, metode pengumpulan
data, jenis, sumber data, dan metode analisis.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan mengenai deskripsi objek penelitian, dan analisis
data dan implementasi hasil.
12
BAB V PENUTUP
Bab ini menjelaskan mengenai kesimpulan, kendala dan saran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.6 Landasan Teori
1.6.1 Theory Of Planned Behavior
Teori perilaku terencana (TPB) dikemukakan oleh Ajzen (1991)
menjelaskan terkait faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan
seorang wajib pajak, secara umum teori ini menggambarkan bahwa perilaku yang
dilakukan setiap individu muncul karena adanya keinginan untuk melakukan
tindakan tersebut. Hal ini berasumsikan bahwa manusia seringkali bertindak atau
berperilaku sesuai dengan apa yang mereka pahami. Menurut (Ekaputra
dkk.,2020) Munculnya niat berperilaku ditentukan oleh tiga faktor penentu yaitu :
1. Behavioral beliefs merupakan keyakinan akan hasil dari suatu perilaku dan
evakuasi berupa penilaian atas perilaku tersebut.
2. Normative beliefs merupakan keyakinan tentang sebuah harapan normative
individu yang menjadi acuan.
3. Control beliefs merupakan keyakinan tentang keberadaan hal hal yang
mendukung atau menghambat perilaku.
Pada teori ini menjelaskan bahwa niat dapat mempengaruhi perilaku individu
menjadi patuh atau tidak patuh terhadap peraturan perpajakan, hal tersebut
terbentuk dalam mindset individu akan mempengaruhi niat atau keyakinan pada
diri individu tersebut sebelum melakukan sesuatu.
13
14
Penelitian ini menjadikan teori perilaku terencana karena relevan untuk
menjelaskan variabel pengetahuan pajak karena keyakinan terhadap hasil
diperoleh dari perilakunya kemudian berdampak pada apakah dia akan memenuhi
kewajiban perpajakannya atau tidak. Wajib pajak yang sadar pentingnya
membayar pajak terhadap fungsi pajak untuk kesejahteraan masyarakat, tentu saja
akan memenuhi kewajiban pajaknya (behavioral belifs).
1.6.2 Compliance Theory
Teori kepatuhan berasal dari kata patuh, dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), patuh diartikan sebagai suka dan taat dalam setiap aturan,
ataupun perintah dan memiliki kedisiplinan. Kepatuhan diartikan sebagai sifat
patuh, taat, tunduk terhadap aturan dan ajaran yang berlaku. Stanley Milgram
(1963) menjelaskan mengenai kondisi dimana seorang individu taat terhadap
aturan atau perintah yang telah di tetapkan . Menurut (Hasanudin et al., 2020)
kepatuhan pajak dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan Wajib Pajak
memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya
dan dimana wajib pajak yang telah mematuhi hukum ada karena hukum tersebut
dianggap sebagai suatu kewajiban serta terdapat hak otoritas pajak yang bersifat
memaksa dalam hal pemungutan pajak.
Penelitian ini menjadikan teori kepatuhan ini relevan untuk menjelaskan
variabel tarif pajak dan sanksi pajak dimana tarif dan sanksi sebagai dasar yang
tepat untuk mendorong perilaku seseorang individu menjadi lebih patuh terhadap
peraturan yang berlaku dengan mempertimbangkan manfaat serta kerugian yang
15
diperoleh, dimana dengan kewajiban wajib pajak untuk melaksanakan kewajiban
perpajakannya karena sangat berguna bagi negara dan wajib pajak juga akan
menerima manfaatnya juga secara tidak langsung.
1.6.3 Pajak
Pajak dalam Undang Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang perubahan
keempat termuat dalam pasal 1 ayat (1) Ketentuan Umum Perpajakan berbunyi
pajak adalah Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi
atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Mardiasmo (2018:3) pajak adalah
kontribusi yang diwajibkan secara hukum dari orang atau badan hukum kepada
negara, yang tidak menerima kompensasi langsung dan hasil penerimaan tersebut
diperuntukan untuk kebutuhan negara dalam mencapai kemakmuran yang
sebesar-besarnya bagi warga negaranya.
Berdasarkan teori- teori diatas maka disimpulkan bahwa pajak
merupakan kontribusi wajib dari rakyat kepada pemerintah dan hanya pemerintah
yang berhak memungut pajak. Pemungutan pajak serta pelaksanaannya
didasarkan dengan ketentuan perundang undangan dan tanpa adanya kompensasi
yang dirasakan secara langsung karena diperuntukan untuk kepentingan
masyarakat luas bukan adanya kontrasepsi antara individu dan pemerintah.
16
Fungsi pajak dikategorikan menjadi dua fungsi :
1. Fungsi Anggaran ( Budgetair )
Artinya, pajak menjadi bagian dari penghimpun dana hasil pungutan
yang digunakan untuk keperluan pembiayaan pemerintah.
2. Fungsi Pengatur ( Regulerend)
Artinya, pajak difungsikan sebagai sebuah peraturan yang
memberikan kebijakan untuk melaksanakan dan mengatur dalam peraturan
negara baik di dalam ruang lingkup sosial ekonomi atau untuk tujuan lain di
luar bidang keuangan.
Syarat pemungutan pajak pada yang diharuskan dalam setiap adanya
pemungutan pajak tidak boleh terjadi sebuah hambatan atau adanya tindakan
perlawanan, maka dalam setiap proses pelaksanaan kegiatan perpajakan harus
memiliki syarat sebagai berikut:
1. Pemungutan Pajak Bersifat Adil ( Syarat Keadilan )
Sesuai dengan undang-undang, sistem pemungutan pajak harus
mencapai keadilan, baik dalam peraturan perundang-undangan maupun dalam
pelaksanaan pemungutan pajak harus ada keadilan. Dasar keadilan di
perundang-undangan adalah memungut pajak secara menyeluruh dan
seragam serta menyesuaikan dengan tingkat pendapatan masing-masing
individu.
2. Pemungutan Pajak Sesuai Undang Undang (Syarat Yuridis)
Sistem perpajakan dalam Undang – Undang Dasar 1945 Pasal 23 ayat
2, adalah norma hukum yang memberikan adanya jaminan perlindungan
17
hukum bagi terwujudnya keadilan, baik bagi warga negara maupun negara
dalam kegiatan perpajakan.
3. Tidak Mengganggu Perekonomian (Syarat Ekonomis)
Sistem pemungutan pajak diharuskan tidak mengganggu jalannya
kegiatan perdagangan ataupun proses produksi, agar tidak terjadi depresi
ekonomi atau stagnasi perekonomian nasional.
4. Pemungutan Pajak Harus Efisien (Syarat Finansial)
Sistem penerapan pajak dapat dioperasikan dengan mudah atau
efisien, tepat sasaran, tepat waktu, dan dengan biaya seminimal mungkin,
sedangkan langkah- langkah efektif mempunyai tujuan bahwa pemungutan
pajak sesuai dengan perhitungan.
5. Sistem Pemungutan Pajak Harus Sederhana
Sistem pemungutan dan administrasi pajak dirancang dengan seefisien
mungkin sehingga dapat dengan mudah dipahami hal tersebut untuk
membantu masyarakat dalam proses pemenuhan kewajiban perpajakannya.
1.6.4 Kepatuhan Wajib Pajak
Kepatuhan perpajakan dalam KBBI diartikan dalam sebuah perbuatan atau
perilaku atau mengikuti ajaran atau aturan aturan yang telah ditetapkan , menurut
(Al kautsar 2006), merupakan motivasi sekelompok, individu atau organisasi
melakukan tindakan yang sesuai dengan aturan, dalam hal perpajakan dimana
tingkah laku wajib pajak dalam setiap proses pemenuhan segala keperluan
perpajakannya harus sejalan dengan aturan undang-undangan perpajakan yang
18
sedang berlaku. Wajib pajak dikatakan bertanggung jawab atas pajak jika besaran
pajak yang dilaporkan sesuai dengan faktanya, melaporkan SPT tepat pada
waktunya dan jumlah pajak terutang dibayar.
Kepatuhan pajak (tax compliance) dibagi menjadi dua yakni kepatuhan
formal dan kepatuhan materiil Trihardi Waluyo (2020) :
1. Kepatuhan Formal
Kepatuhan Formal adalah kondisi wajib pajak ketika bertindak dengan
menunjukan upaya untuk memenuhi kewajiban perpajakan secara formal
yaitu hak dan kewajiban berdasarkan peraturan perundang undangan.
2. Kepatuhan Material
Kepatuhan material merupakan situasi wajib pajak secara hakikatnya
untuk mematuhi hal-hal yang terikat dalam aturan substantif yang berkaitan
dengan perpajakan yang didasarkan pada peraturan undang-undang
perpajakan.
Berdasarkan pengertian diatas dapat didefinisikan kepatuhan pajak adalah
suatu uraian tentang tata cara perilaku wajib pajak dalam bertindak untuk
memenuhi, patuh dan menegakan semua kewajiban perpajakan dalam
melaksanakan sepenuhnya hak perpajakan wajib pajak harus berlandaskan dengan
aturan undang – undang perpajakan yang berlaku.
19
1.6.5 Pengetahuan Perpajakan
Pengetahuan perpajakan dalam KBBI diartikan sebagai perihal dalam
sesuatu yang dapat diketahui, kepandaian, atau segala tindakan yang dimengerti
yang berhubungan dengan hal aktivitas pelajaran. Menurut Mardiasmo (2016:7)
Pengetahuan perpajakan didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan
dengan hukum pajak, baik berupa hukum pajak formil maupun materiil yang
dimiliki atau dipahami oleh wajib pajak. Sedangkan menurut Yulianti,
Kurniawan, & Umiyati (2019) Pengetahuan perpajakan adalah kondisi bagi wajib
pajak untuk mengerti atau mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan
peraturan perundang undangan, tata cara perpajakan yang benar seperti proses
pendaftaran, penyampaian dan pelaporan pajak yang di kemudian hari akan
berguna bagi wajib pajak itu dan menurut (Kartikasari & Yadnyana, 2020)
pengetahuan perpajakan merupakan laporan tentang perpajakan yang dijadikan
dasar tindakan bagi wajib pajak untuk melakukan melalui praktek, mengambil
keputusan, dan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan perpajakan seperti
penerapan strategi, tarif, dan kewajiban perpajakan.
Berdasarkan pengertian teori teori diatas dapat dikatakan bahwa
pengetahuan perpajakan adalah dasar pemahaman yang digunakan untuk
mengambil sikap wajib pajak dalam berpola pikir atau memahami atau menilai
tentang ketentuan perpajakan yang selanjutnya akan mempengaruhi sikapnya
dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.
20
1.6.6 Tarif Pajak
Tarif adalah nilai nominal kontribusi pemerintah yang menjadi dasar
penghitungan pembayaran kepada wajib pajak. Tarif pajak ini juga dapat
dinyatakan sebagai takaran yang dapat berupa jumlah nominal pajak yang harus
dibayar oleh orang atau badan yang bersangkutan (www.pajakku.com) dan
menurut Afifah & Hasym (2020), tarif pajak merupakan persentase yang
diterapkan di indonesia yang kemudian digunakan dalam menghitung besaran
pajak yang harus dibayarkan dan dalam penerapan pajak tersebut berlandaskan
asas keadilan dimana asas keadilan tersebut menjadi prinsip dalam
pelaksanaannya untuk menciptakan sebuah keseimbangan. Sedangkan menurut
Mardiasmo (2018:11) menjelaskan bahwa terdapat empat kategori tarif pajak,
adalah:
1. Tarif Sebanding/ Proporsional
Merupakan tarif yang biaya dibayarkan dengan tarif tetap terlepas dari
jumlah pajak, dan jumlah pajak yang harus dibayar sebanding dengan jumlah
kena pajak.
2. Tarif Tetap
Tarif pajak tetap merupakan jumlah pajak ditentukan dengan tarif
pajak tetap yaitu tarif pajak yang sama terlepas dari jumlah kena pajak.
3. Tarif Progresif
Tarif dalam bentuk persentase yang meningkat seiring dengan
meningkatnya jumlah kena pajak. Tarif dibagi menjadi tiga jenis: tarif
progresif, tarif progresif tetap, dan tarif progresif.
21
4. Tarif Degresif
Persentase bahwa semakin tinggi jumlah kena pajak, semakin kecil
persentasenya.
Berdasarkan pengertian diatas dapat didefinisikan tarif pajak adalah Dasar
pengenaan pajak didasarkan pada hal-hal yang nilai kena pajaknya ditentukan
oleh pemerintah dalam bentuk persentase dan dibagi menjadi empat bentuk:
proporsional, tetap, progresif dan degresif.
1.6.7 Sanksi Pajak
Sanksi Perpajakan didefinisikan sebagai pengamanan yang bertujuan
untuk memastikan bahwa aturan penerapan perundang-undang perpajakan (norma
perpajakan) akan dihormati/dipatuhi/ ditaati. Disisi lain bahwa penerapan sanksi
perpajakan menjadikan (preventif) atau alat pencegah yang membuat wajib pajak
tidak melakukan pelanggaran ketentuan perpajakan menurut Mardiasmo
(2018:62). Sedangkan menurut (Mandowally, et, al., 2020) sanksi perpajakan
dijadikan sebuah jaminan bahwa pada aturan perpajakan akan dihormati, diikuti
dan dipatuhi oleh wajib pajak, dengan maksud bahwa saksi di dalam sistem
perpajakan dapat dijadikan pencegahan wajib pajak untuk tidak melangar
ketentuan perpajakan yang berlaku. Sanksi adalah suatu perbuatan yang berupa
suatu hukuman tertentu bagi mereka yang melanggar aturan, regulasi, atau hukum.
Sanksi merupakan tonggak sejarah yang harus dibuat oleh setiap orang tentang
apa yang yang menjadikan orang tersebut bertindak.
22
Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum
Perpajakan (UU KUP), terdapat dua kategori sanksi perpajakan yang terdiri dari
sanksi administrasi dan sanksi pidana. Sanksi administrasi diperlukan untuk
membayar kurang bayar pajak berupa bunga atau denda pajak, sedangkan sanksi
pidana menjadi tindakan atau ketentuan terakhir yang digunakan pemerintah
untuk wajib pajak supaya menaati peraturan perpajakan.
Berdasarkan pengertian diatas dapat didefinisikan sanksi adalah peraturan
yang dibuat untuk membuat wajib pajak menjadi patuh terhadap peraturan
perundang undangan dan apabila melanggar akan dikenakan berupa sanksi
administrasi berupa bunga atau kenaikan jumlah pajak dan alat terakhir yang
dilakukan pemerintah yaitu sanksi pidana.
1.7 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No Peneliti Judul Variabel Hasil
(Tahun) Penelitian
1. Nevy Istra Pengaruh Self Variabel Self assessment
Azhar Nisrina, Assessment Dependen : system
Hendratno System, Kepatuhan berpengaruh
(2021) Pengetahuan Wajib Pajak signifikan,
Perpajakan, dan Orang Pribadi pengetahuan
Sanksi Perpajakan Variabel perpajakan
Terhadap Independen : berpengaruh
Kepatuhan Self Assessment signifikan,
Membayar Pajak System, sanksi
Pengetahuan berpengaruh
Perpajakan, dan signifikan dan
Sanksi Pajak. self assessment
23
No Peneliti Judul Variabel Hasil
(Tahun) Penelitian
system,
pengetahuan
pajak, sanksi
memiliki
pengaruh secara
simultan dan
signifikan
terhadap
kepatuhan
membayar pajak.
2. Juliani Pengaruh Variabel Berdasarkan
Simanjutak Pengetahuan Dependen : pengujian uji
dan Remista Perpajakan dan Kepatuhan statistic
Simbolon Kesadaran Wajib Wajib Pajak menunjukan
(2022) Pajak Terhadap Orang Pribadi hipotesis
kepatuhan Wajib Variabel pengetahuan dan
Pajak Orang Independen : kesadaran wajib
Pribadi Pengetahuan pajak memiliki
Perpajakan dan pengaruh
Kesadaran terhadap
Wajib Pajak kepatuhan.
Orang Pribadi.
3. Nahdah Fistra Pengaruh Variabel Berdasarkan
Karnedi dan Kesadaran Dependen : hasil uji statistik
Amir perpajakan, sanksi Kepatuhan menunjukan
Hidayatulloh pajak dan tax Wajib Pajak bahwa hipotesis
(2019) amnesty terhadap Orang Pribadi mengenai tax
kepatuhan wajib Variabel amnesty dan
pajak orang Independen : sanksi pajak
pribadi kesadaran terhadap
perpajakan, kepatuhan pajak
sanksi pajak dan berpengaruh,
tax amnesty. namun kesadaran
perpajakan tidak
memiliki
Pengaruh.
4. Fenny Noor Pengaruh Kualitas Variabel Berdasarkan
Salam dan Dea Pelayanan, Tarif Dependen : hasil uji statsitik
Amalia Lestari Pajak dan Sanksi Kepatuhan menunjukan
(2022) Pajak Terhadap Wajib Pajak bahwa hipotesis
Kepatuhan Wajib Orang Pribadi mengenai
Pajak Orang Variable kualitas
Pribadi pada KPP Independen : pelayanan,
24
No Peneliti Judul Variabel Hasil
(Tahun) Penelitian
Pratama Bandung Pengaruh sanksi pajak dan
Cicadas Kualitas tarif pajak
Pelayanan, Tarif berpengaruh
Pajak dan terhadap
Sanksi Pajak. kepatuhan wajib
pajak orang
pribadi.
5. Kadek Adelia Pengaruh Sanksi Variabel Berdasarkan uji
Santi, Ni Putu Pajak, Sistem Dependen : statistik
Yuria Mendra Administrasi Kepatuhan administrasi
dan Putu Perpajakan Wajib Pajak perpajakan, tarif
Weny Saitri Modern, Kualitas Orang Pribadi pajak, kualitas
(2022) Pelayanan Fiskus, Variabel pelayanan,
Tarif Pajak dan Independen : pemeriksaan
Pemeriksaan Sanksi Pajak, berpengaruh
Pajak Terhadap Sistem positif terhadap
Tingkat Administrasi kepatuhan wajib
Kepatuhan Wajib Perpajakan pajak, namun
Pajak Orang Modern, sanksi pajak
Pribadi Kualitas tidak
Pelayanan berpengaruh.
Fiskus, Tarif
Pajak dan
Pemeriksaan
Pajak.
6. Dian Lestari Pengaruh Variabel Berdasarkan uji
Siregar ( 2017) Kesadaran Wajib Dependen : statistik
Pajak Dan Sanksi Kepatuhan menunjukan
Pajak Terhadap Wajib Pajak bahwa hipotesis
Kepatuhan Wajib Variabel mengenai
Pajak Orang Independen : kesadaran wajib
Pribadi Pada Kesadaran pajak dan sanksi
Kantor Pelayanan Wajib Pajak dan pajak
Pajak Pratama Sanksi Pajak. berpengaruh
Batam secara signifikan
terhadap
kepatuhan wajib
pajak dan
kesadaran wajib
pajak dan sanksi
pajak
berpengaruh
secara simultan
terhadap
25
No Peneliti Judul Variabel Hasil
(Tahun) Penelitian
kepatuhan
membayar pajak.
7. Nelsi Arisandy Pengaruh Variabel Berdasarkan
(2017) Pemahaman Dependen : hasil analisis
Wajib Pajak, Kepatuhan Kesadaran Wajib
Kesadaran Wajib Wajib Pajak Pajak
Pajak dan Sanksi Orang Pribadi memiliki
Pajak Terhadap Variabel pengaruh
Kepatuhan Wajib Independen : signifikan
Pajak Orang Pemahaman terhadap
Pribadi Yang Wajib Pajak, Kepatuhan
Melakukan Kesadaran Wajib Pajak
Kegiatan Bisnis Wajib Pajak dan namun
Online di Sanksi Pajak. pemahaman
Pekanbaru Wajib
Pajak tidak
berpengaruh
terhadap
Kepatuhan
Wajib Pajak
yang
menjalankan
bisnis online.
26
1.8 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan hasil dari tinjauan latar belakang yang diuraikan sebelumnya,
rumusan masalah yang dikemukakan, landasan teori yang mendukung hipotesis
penelitian ini dan pemaparan penelitian terdahulu. Maka penelitian ini bermaksud
untuk melakukan analisis pengaruh pengetahuan, tarif pajak dan sanksi pajak
terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi, untuk mendukung analisis tersebut
maka dapat digambarkan kerangka pemikiran penelitian sebagai berikut:
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
Pengetahuan Pajak
(X1)
Tarif Pajak Kepatuhan Wajib
(X2) Pajak Orang Pribadi
(Y)
Sanksi Pajak
(X3)
1.9 Hipotesis
Hipotesis merupakan sebuah jawaban awal atau pendahuluan terhadap
rumusan pertanyaan penelitian, dan model penelitian dikembangkan dalam bentuk
kuesioner yang terstruktur. Dikatakan lebih awal atau tentatif karena jawaban
yang ditunjukan peneliti ini masih berdasarkan teori, sedangkan hipotesis
27
penelitian ini masih berkembang dengan cara berpikir yang mengisyaratkan
bahwa jawaban tersebut merupakan pendahuluan dari permasalahan yang telah
dibuat.
1.9.1 Pengaruh Pengetahuan Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib
Pajak Orang Pribadi
Wajib pajak orang pribadi yang mempunyai tingkat pengetahuan dalam
bidang perpajakan tentunya akan menjadi lebih patuh dalam setiap pemenuhan
kewajiban dan hak perpajakan tanpa ada paksaan. Pengetahuan perpajakan ini
dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian diantaranya peraturan mengenai
pengetahuan tentang sistem perpajakan, undang - undang perpajakan yang
berlaku, serta pengetahuan tentang fungsi perpajakan di Indonesia. Dengan adanya
pengetahuan perpajakan akan memudahkan wajib pajak dalam menjalankan
pemenuhan kewajiban perpajakannya. Hal ini dapat diartikan semakin paham
akan pengetahuan wajib pajak maka akan meningkatkan tingkat kepatuhannya
juga semakin tinggi karena wajib pajak memahami pentingnya peran dan
kegunaan pajak dalam kesejahteraan masyarakat.
Hasil penelitian yang telah dilakukan Dian Lestari Siregar (2017)
menyatakan bahwa pengetahuan perpajakan memiliki pengaruh positif terhadap
kepatuhan wajib pajak penelitian ini juga didukung dengan Nevy & Hendrato
(2021) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif pengetahuan
28
perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak, maka berdasarkan penjelasan tersebut
dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:
H1 : Pengetahuan Perpajakan Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Wajib
Pajak Orang Pribadi
1.9.2 Pengaruh Tarif Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang
Pribadi
Dengan adanya perubahan pembaharuan lapisan pajak penghasilan sesuai
dengan peraturan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi
Peraturan Perpajakan (HPP). Ketentuan penambahan lapisan pajak penghasilan
diatur dalam pasal 17 ayat (1). Diharapkan dengan perubahan pembaharuan
pengenaan tarif pajak diharapkan menjadi lebih adil di masyarakat dan bisa
meningkatkan kepatuhan perpajakan.
Berdasarkan penelitian dari Fenny Noor Salam dan Dea Amalia Lestari
(2022) tarif pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak, penelitian tersebut
juga didukung dengan Noviyanti dkk (2020) bahwa tarif pajak memiliki pengaruh
positif terhadap kepatuhan wajib pajak, maka berdasarkan penjelasan diatas dapat
ditarik sebuah hipotesis sebagai berikut:
H2 : Tarif Pajak Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang
Pribadi
29
1.9.3 Pengaruh Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang
Pribadi
Sanksi di bidang perpajakan merupakan sebuah kepastian terhadap
ketentuan hukum di dalam perundang perundangan yang nantinya akan
dilaksanakan, dengan kata lain bahwa sanksi perpajakan akan menjadi alat
pencegah wajib pajak untuk melakukan pelanggaran peraturan di bidang
perpajakan Mardiasmo (2018:16). Hal ini diharapkan semakin tegas penerapan
sanksi perpajakan yang dikenakan kepada wajib pajak yang melakukan
pelanggaran, maka tingkat kepatuhan wajib pajaknya akan semakin meningkat,
begitu pula sebaliknya kepatuhan perpajakan dapat menurun jika sanksi
perpajakannya kurang tegas.
Berdasarkan penelitian dari Dian Lestari Siregar ( 2017) sanksi perpajakan
memiliki pengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak, penelitian ini
didukung dengan peneliti lain Nelsi Arisandy (2017) dan Nevy (2022) sanksi
perpajakan berpengaruh positif dan secara signifikan terhadap kepatuhan wajib
pajak, maka berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik sebuah hipotesis sebagai
berikut:
H3 : Sanksi Pajak Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang
Pribadi
30
BAB III
METODE PENELITIAN
1.10 Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan penelitian ini adalah metode kuantitatif
yang secara efektif dan sistematis untuk memperoleh pengetahuan atau
memecahkan sebuah masalah dengan melakukan proses pengumpulan data berupa
rangkaian atau kumpulan angka. Peneliti menggunakan metode penelitian ini
untuk menentukan hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti dengan
menarik kesimpulan yang menjelaskan deskripsi objek penelitian, survei dapat
diartikan sebagai proses untuk melakukan penelitian dengan menggunakan survei
yang dikirim peneliti kepada responden survei. Data yang telah dikumpulkan
dari survei kemudian dilakukan analisis secara statistik untuk mendapatkan
kesimpulan penelitian. (Lp2m.Uma 2021), metode ini membutuhkan
pembentukan koneksi atau hubungan antara responden dengan peneliti. Survei
adalah metode untuk menghimpun data dengan membuat pertanyaan secara lisan
dan tertulis.
1.11 Definisi Operasional Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari atas variabel
Independen (X) dan variabel dependen (Y). Variabel independen merupakan
variabel yang memiliki pengaruh atau menyebabkan terjadinya perubahan pada
31
32
variabel dependen. Dalam Penelitian ini variabel independen yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Pengetahuan Perpajakan (X1), Tarif Pajak (X2),
Sanksi Perpajakan (X3). Variabel dependen merupakan sebagai variabel yang
dapat dipengaruhi oleh hasil dari tindakan variabel independen, variabel
dependen dalam penelitian ini adalah Kepatuhan Wajib Pajak (Y).
Tabel 2.2
Definisi Operasional Variabel
Variable Definisi Indikator
Kepatuhan Kepatuhan pajak diartikan Mendaftarkan sebagai
Wajib Pajak sebagai suatu uraian tentang wajib pajak.
(Y) tata cara perilaku wajib pajak Mengisi dan melaporkan
dalam bertindak untuk proses SPT tepat waktu.
memenuhi, patuh dan Menghitung dan
menegakan semua kewajiban membayaran pajak
perpajakan dalam terutang.
melaksanakan sepenuhnya hak Tidak melakukan
perpajakan wajib pajak tunggakan pajak.
berdasarkan aturan perpajakan Patuhan dalam setiap
yang sedang berlaku. membayar pajak.
Pengetahuan Pengetahuan perpajakan Mengetahui fungsi dan
Perpajakan merupakan sikap atau tindakan manfaat pajak.
(X1) wajib pajak dalam bersikap Memahami mengenai
untuk memahami atau menilai prosedur pembayaran dan
tentang wajib pajak terhadap pelaporan pajak.
ketentuan perpajakan yang Memahami mengenai
selanjutnya akan berpengaruh berlakunya peraturan
terhadap sikap wajib pajak perpajakan.
tersebut dalam pemenuhan Prosedur
kewajiban perpajakannya. penghitungan dan
pelaporan pajak yang harus
dibayar.
Tarif Pajak Tarif pajak adalah besaran Memahami
(X2) jumlah yang dikenakan kepada peraturan
wajib pajak pajak didasarkan Undang-Undang
pada hal-hal yang nilai kena Perpajakan yang berlaku
pajaknya ditentukan oleh mengenai tarif PPh.
pemerintah dalam bentuk Memahami dengan baik
persentase dan dibagi menjadi prosedur pemotongan PPh
33
Variable Definisi Indikator
empat bentuk: proporsional, yang berlaku di Indonesia
tetap, progresif dan degresif. Memahami tata cara
pemotongan PPh yang
dilaksanakan di Indonesia.
Memahami bahwa tarif
pajak telah sesuai dengan
pendapatan wajib pajak.
Sanksi Sanksi adalah peraturan yang Sanksi diperlukan untuk
Pajak (X3) dibuat untuk membuat wajib menjaga kedisiplinan Wajib
pajak menjadi patuh terhadap Pajak.
peraturan perundang undangan Pelanggaran terhadap
dan apabila melanggar akan sanksi pajak akan
dikenakan berupa sanksi mendapatkan hukuman
administrasi berupa bunga atau sesuai hukum yang berlaku.
kenaikan jumlah pajak dan alat Penerapan sanksi harus
terakhir yang dilakukan mengikuti aturan atau
pemerintah yaitu sanksi regulasi perundang
pidana. undangan yang berlaku.
Memahami besaran sanksi
baik berupa besaran sanksi
administrasi dan bunga
yang berlaku di Indonesia.
1.12 Populasi dan Sampel
1.12.1 Populasi
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wajib pajak orang
pribadi berstatus aktif dan terdaftar di KPP Pratama Demak, dengan jumah wajib
pajak orang pribadi yang terdaftar dan berstatus aktif adalah 32.243 Wajib pajak.
1.12.2 Sampel
Sampel merupakan perwakilan dari sebagian jumlah kecil yang memiliki
karakteristik yang mewakili populasi tersebut ataupun sebagian kecil dari populasi
34
yang untuk mewakili populasi yang hendak diteliti dengan menggunakan prosedur
tertentu. Dalam penelitian ini sampel yang akan diteliti menggunakan metode
probability sampling dengan persamaan rumus dari Slovin.
Adapun tata cara penggunaan rumus Slovin adalah sebagai berikut:
Rumus Slovin n = N/(1+N.e2)
Dimana :
n = Ukuran Sampel
N = Ukuran Populasi
e = Error Tolerance
Perhitungan : n = 32.243 / (1+ 32.243 (0, 1) 2 )
n = 99, 69081
n = 100 (Dibulatkan)
Perhitungan persamaan Slovin menunjukkan bahwa jumlah sampel dalam
penelitian ini adalah 100 responden wajib pajak yang akan diteliti. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random
sampling. Simple random sampling adalah metode di mana sampel acak diambil
dari seluruh populasi.
1.13 Data Penelitian
1.13.1 Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, karena sumber datanya
yang digunakan adalah menggunakan data primer. Data primer adalah data yang
35
didapatkan atau diperoleh secara langsung melalui penyebaran kuesioner,
wawancara atau survei.
1.13.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data untuk penelitian ini didapatkan dengan
menyebarkan kuesioner kepada responden. Responden ditunjuk secara acak
sebagai kontributor individu KPP Pratama Demak. Pemilihan responden secara
acak bertujuan untuk menggeneralisasi penyebaran kuesioner peneliti di antara
peserta KPP Pratama Demak.
Dalam penelitian ini, penerapan metode kuesioner adalah untuk
memperoleh informasi yang terpercaya dan akurat serta memperoleh data survei
yang relevan (karena data yang di peroleh dersumber dari informan langsung dari
wajib pajak). Selanjutnya dari hasil data kuesioner di analisis untuk dapat ditarik
kesimpulan.
Jawaban responden diukur pada skala likert lima angka dimulai dengan:
1. Sangat Setuju (SS) diberi nilai 5
2. Setuju (S) diberi nilai 4
3. Netral (N) diberi nilai 3
4. Tidak Setuju (TS) diberi nilai 2
5. Sangat Tidak Setuju (STS) diberi nilai 1
36
1.14 Analisis Data
1.14.1 Analisis Deskriptif
Data yang membantu memberikan penggambaran, mendemonstrasikan,
atau meringkas poin-poin, rata-rata, nilai maksimum dan minimum serta
perhitungan standar deviasi, sehingga nilai tersebut didapatkan pola-pola yang
kemudian dikembangkan untuk memenuhi semua kondisi kriteria data yang
dianalisis dalam penelitian ini.
1.14.2 Uji Kualitas Data
1.14.2.1 Uji Validitas
Uji validitas adalah instrumen yang diuji dalam penelitian untuk dilakukan
pengukuran apakah sesuatu data itu sah atau tidak sah dalam suatu kuesioner.
Tujuan uji validitas ini untuk menguji apakah kuesioner tersebut dapat dinyatakan
valid dengan syarat bahwa pertanyaan- pertanyaan tersebut dapat mengungkapkan
kevalidan yang diukur dalam kuesioner tersebut. Berdasarkan hal tersebut
pengujian ini akan mengukur apakah pertanyaan yang di buat di dalam kuesioner
peneliti dibuat sudah benar- benar dapat mengindikasi kevalidan yang data yang
diukur.
Uji Validitas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Korelasi Pearson,
dengan menilik tingkat nilai signifikansi pada Korelasi Pearson yang digunakan
37
dalam indikator pengujian ini adalah 0,05. Hasil r hitung dibandingkan dengan r
tabel dengan memperhatikan tingkatan signifikansi 0,05 ,bila pada pengujian r
hitung didapatkan nilai lebih besar dari r tabel maka instrumen yang terdapat
dalam kuesioner dianggap valid dan jika r hitung kurang dari r tabel maka
instrumen pada penelitian dianggap tidak valid.
1.14.2.2 Uji Reliabilitas
Uji ini dilakukan sebagai alat ukur untuk memberitahu tingkat kestabilan
dalam kuesioner, sehingga kuisioner dapat dinyatakan menjadi reliabel apabila
pernyataan dalam kurun waktu stabil atau konsisten terhadap kuesioner.
Reliabilitas adalah konsep untuk mengukur besar derajat tes kuesioner yang
merupakan indikator dalam suatu variabel sehingga dapat menunjukan kekeliruan
dalam proses pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama.
Penelitian ini menggunakan rumus cronbach alpha untuk memberikan
pengukuran hasil yang berkaitan dengan konsep pertanyaan yang menjadi suatu
variabel yang dibentuk dalam kuesioner. Pengukuran reliabilitas dengan melihat:
1. Apabila Cronbach alpha kurang dari 0,6 maka diartikan reabilitas hasil
kuesioner buruk.
2. Apabila Cronbach alpha di antara 0,6 sampai dengan 0,8 maka diartikan
reabilitas hasil kuesioner di terima
3. Dan apabila Cronbach alpha lebih dari 0,8 maka diartikan reabilitas hasil
kuesioner baik.
38
1.14.3 Uji Asumsi Klasik
1.14.3.1 Uji Normalitas
Uji normalitas dirancang dengan menilai data yang digunakan dalam
penelitian dapat berdistribusi dengan normal ataupun sebaliknya dengan menguji
regresi dan variabel pengganggu atau residual yang memiliki distribusi normal.
Peneliti menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov dengan mempertimbangkan
signifikan pada uji normalitas. Pengukuran uji normalitas dengan memperhatikan
ketentuan sebagai berikut:
1. Apabila nilai signifikansi Asymp. 2 tailed lebih dari 0,05, maka data
berdistribusi normal.
2. Dan apabila nilai signifikansi Asymp. 2 tailed kurang dari 0,05, maka data
tidak berdistribusi normal.
1.14.3.2 Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas dengan melihat dimana ada atau tidaknya korelasi
variabel independen antara satu dengan yang lainnya dengan suatu model regresi
linier. Tujuan uji multikolinearitas adalah untuk menguji apakah menemukan
adanya hubungan yang tinggi atau sempurna mengenai pengaruh korelasi antar
variabel independen dengan melihat nilai tolerance dan VIF. Model regresi
39
harusnya menunjukan tidak adanya hubungan antara variabel independen. Dengan
memperhatikan ketentuan sebagai berikut:
1. Apabila nilai VIF kurang dari 10, maka penelitian tersebut tidak terjadi
hubungan antar variabel .
2. Apabila nilai VIF lebih dari 10, maka penelitian tersebut terjadi hubungan
antar variabel.
1.14.3.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas merupakan pengujian yang perlu dilakukan untuk
melihat adanya persamaan dalam regresi berganda dengan memperhatikan
ketidaknyamanan varian lain dari residual pengamatan yang satu dengan
pengamatan yang lain. Heterokedasitas adalah versi yang tidak mempunyai
kesamaan sedangkan versi yang sama disebut dengan homoskedastisitas.
Pengujian dalam penelitian ini memperhatikan tingkat signifikansi harus diatas
0,05 dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Apabila nilai sig lebih besar 0,05 maka dapat disimpulkan tidak terjadi
heteroskedastiditas.
2. Dan apabila nilai sig lebih kecil 0,05 maka dapat disimpulkan terjadi
heteroskedastisitas.
1.15 Pengujian Hipotesis
1.15.1 Uji Regresi Linier Berganda
40
Alat pengujian ini untuk menganalisis hasil hipotesis. Uji Regresi linier
berganda tersebut dikenakan dalam penelitian ini karena terdapat lebih dari satu
variabel Independen. Tujuan uji ini untuk melihat atau mengetahui apakah
terdapat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dan juga untuk
mengetahui nilai variabel dependen ketika nilai variabel independen sudah
diketahui, dalam penelitian ini dengan menggunakan formula model regresi
berganda sebagai berikut:
Y= a +b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Dimana :
Y = Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
B123 = Koefisien Regresi Dari Variabel Independen
X1 = Pengetahuan Pajak
X2 = Tarif Pajak
X3 = Sanksi Pajak
a = Constant
e = Epsilon
1.15.2 Uji Koefisien Determinasi (R)
Koefisien Determinasi (R²) dimaksudkan menentukan kemampuan
pengaruh yang dapat diberikan variabel bebas atau variabel independen (X)
terhadap variabel terikat atau variabel dependen (Y). Dengan kata lain harus
memperhatikan koefisien pada determinasi apabila R2 semakin besar atau
mendekati angka satu maka pengaruhnya semakin besar atau pun sebaliknya
41
apabila R2 mendekati angka 0 maka pengaruhnya semakin kecil, jadi dapat
disimpulkan bahwa nilai koefisien determinasi berguna untuk memprediksi
besaran pengaruh yang diberikan variabel X secara simultan terhadap variabel Y.
1.15.3 Uji Koefisien Determinasi Uji F
Uji F digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan variabel
dependen dengan pada saat yang bersamaan atau apakah model yang digunakan
konsisten. Penggunaan uji F dapat dilakukan dengan melihat perbandingan antara
nilai F hitung dengan nilai pada F tabel. Hal yang perlu diperhatikan adalah jika
nilai F kurang dari 0,05 dan nilai F hitung lebih besar dari F tabel maka hipotesis
diterima, dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Membandingkan tingkatan signifikan
a. H0 : Apabila nilai dalam probabilitas lebih dari 0,05 maka variabel bebas
(X) secara simultan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
terikat.
b. Ha : Apabila nilai dalam probabilitas kurang dari 0,05 Variabel bebas (X)
secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Y).
2. Membandingkan nilai F hitung dengan F tabel
a. Apabila nilai F hitung kurang dari F tabel dan nilai Sig. Lebih dari 0,05,
maka H0 diterima dan H1 ditolak.
b. Apabila nilai F hitung lebih dari F tabel dan nilai Sig. Kurang dari 0,05,
maka H0 ditolak dan H1 diterima.
42
1.15.4 Uji T (t-test)
Uji t dilakukan sebagai salah satu uji hipotesis untuk menguji terdapat
pengaruh dalam persamaan regresi parsial terdapat pengaruh signifikan antara
variabel independen terhadap variabel dependen. Untuk menguji Uji t diperlukan
keakuratan koefisien regresi dan untuk menentukan apakah hasil regresi
signifikan. Untuk mengetahui pengaruh tingkat signifikan variabel independen
terhadap variabel dependen diuji pada taraf signifikansi β = 0,05. Berikut dasar
dalam ketentuan uji t adalah :
1. Jika tingkat signifikansi kurang dari β = 0, 05 maka terdapat bukti pengaruh
yang cukup untuk menerima hipotesis H1 .
2. Jika tingkat signifikansi lebih dari β = 0, 05 maka terdapat bukti yang tidak
cukup sehingga tidak terdapat pengaruh antara variabel independen dengan
dependen.
BAB IV
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1.16 Deskripsi Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah wajib pajak orang pribadi yang terdaftar
dan aktif pada KPP Pratama Demak yang menjadi responden, teknik pengambilan
data dengan menggunakan simple random sampling dimana sampel tersebut
disebarluaskan dengan cara mendatangi wajib pajak secara langsung dengan
menyebarkan kuesioner secara acak pada KPP Pratama Demak. Hasil dari proses
penyebaran kuesioner tersebut sampel yang dipilih sebanyak 100 responden yang
kemudian data dalam kuesioner tersebut akan diolah untuk dilakukan analisis dan
pengujian hipotesisi.
Pada tabel 4.1 distribusi sampel yang menjadi responden dalam penelitian
ini :
Tabel 4.1
Distribusi Sampel
Keterangan Jumlah Persentase
Kuesioner Yang Disebar 100 100%
Kuesioner Yang Tidak Diisi 0 0%
Kuesioner Yang Digunakan 100 100%
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan distribusi sampel pada kuesioner yang
disebarkan sejumlah 100 dapat terisi secara lengkap oleh para responden. Berikut
ini merupakan klasifikasi data responden yang bertujuan untuk mengetahui latar
43
44
belakang dari responden, klasifikasi responden ini disajikan berdasarkan
klasifikasi jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir dan pekerjaan. Hasil data yang
telah diperoleh peneliti adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2
Klasifikasi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi (Orang) Persentase (%)
Laki-Laki 49 49%
Perempuan 51 51%
Total Responden 100 100%
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukan bahwa responden pada penelitian ini
sebanyak 49 orang atau 49% berjenis kelamin laki – laki, sedangkan responden
perempuan berjumlah 51 orang atau 51%. Sehingga dapat disimpulkan sebagian
besar responden dalam penelitian ini adalah berjenis kelamin perempuan.
Pada tabel 4.3 menunjukan data tentang umur dari keseluruhan responden
yang diteliti pada penelitian ini:
Tabel 4.3
Klasifikasi Responden Berdasarkan Umur
Persentase
No Usia frekuensi(Orang)
(%)
1. 18-24 Tahun 35 35
2. 25-31 Tahun 25 25
3. 32-40 Tahun 17 17
4. 41-55 Tahun 23 23
Total Responden 100 100
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukan responden yang berusia antara 18-24
adalah berjumlah 35 orang atau 35%, responden yang berusia antara 25-31
45
berjumlah 25 orang atau 25%, responden yang berusia antara 32-40 berjumlah 17
orang atau 25% , responden yang berusia antara 41-55 berjumlah 23 orang atau
23. Sehingga disimpulkan sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah
berusia antara 18-24 tahun.
Pada tabel 4.4 menunjukan tentang pendidikan dari keseluruhan responden
yang diteliti pada penelitian ini:
Tabel 4.4
Klasifikasi Responden Berdasarkan Pendidikan
Pendidikan Frekuensi
No Persentase (%)
Terakhir (Orang)
1 SMA/SMK 28 28
2 Sarjana 72 72
Total Responden 100 100
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukan responden yang memiliki jenjang
pendidikan terakhir SMA/SMK sebanyak 28 orang atau 28%, sedangkan
responden yang memiliki jenjang terakhir Sarjana sebanyak 72 orang atau 72%.
Sehingga dapat disimpulkan sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah
berjenjang pendidikan terakhir Sarjana.
Pada tabel 4.5 menunjukan tentang pekerjaan dari keseluruhan responden
yang di teliti pada penelitian ini:
Tabel 4.5
Klasifikasi Responden Berdasarkan Pekerjaan
No Pekerjaan Frekuensi (Orang) Persentase (%)
1 PNS 29 29 %
2 Swasta 27 27 %
3 Wirausaha 11 11 %
4 Lain Lain 33 33 %
46
Total Responden 100 100 %
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan responden dengan pekerjaan PNS
sebesar 29 orang atau 29%, Swasta 27 orang atau 27%, Wirausaha 11 orang atau
11%, Lain – lain 33 orang atau 33% . Sehingga dapat disimpulkan sebagian besar
responden dalam penelitian ini adalah memiliki pekerjaan selain PNS, swasta dan
wirausaha.
1.17 Uji Analisis Data
Analisis data diperlukan untuk mengungkap hasil analisis pengujian data
dan dilakukan pembahasan oleh peneliti untuk mengetahui adanya pengaruh
pengetahuan, tarif dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak pada KPP
Pratama Demak. Adapun uji yang dilakukan oleh peneliti yaitu uji Statistik, uji
validitas, uji reliabilitas, uji koefisien determinasi (Adjusted R Square), uji linier
berganda, dan uji koefisien korelasi adalah beberapa pendekatan analisis data
yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah Program SPSS versi 26
digunakan sebagai alat uji statistik.
1.17.1 Hasil Uji Analisis Deskriptif
Berikut ini merupakan hasil dari tabel yang berisi mengenai statistik
deskriptif dari variabel dependen kepatuhan wajib pajak dan variabel independen
pengetahuan wajib pajak, tarif dan sanksi yang bertujuan untuk memberikan
47
gambaran statistik dari setiap variabel. Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada
tabel 4.6 di bawah ini:
Tabel 4.6
Hasil Uji Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
N Minimum Maximum Mean Std.
Deviation
Kepatuhan Wajib 100 24 40 35,5 3,902
Pajak
Pengetahuan Wajib 100 28 45 39,89 4,552
Pajak
Tarif Pajak 100 24 40 34,57 4,497
Sanksi Pajak 100 26 40 34,2 3,869
Valid N 100
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan hasil pengujian yang dapat dilihat pada tabel 4.6 diatas
disimpulkan bahwa:
1. Variabel Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi menunjukan dari 100 data
responden yang telah dianalisis terdapat nilai minimum sebesar 24, nilai
maksimum sebesar 40, mean 35,5 dan standar deviasi sebesar 3,902.
2. Variabel Pengetahuan Wajib Pajak Orang Pribadi menunjukan dari 100
responden yang telah dianalisis terdapat nilai minimum sebesar 28, nilai
maksimum sebesar 45, mean sebesar 39,89 dan standar deviasi sebesar
4,552.
3. Variabel Tarif Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi menunjukan dari 100
responden yang telah dianalisis terdapat nilai minimum sebesar 24, nilai
48
maksimum sebesar 40,nilai mean sebesar 34,57 serta standar Deviasi
sebesar 4,497.
4. Variabel Sanksi Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi menunjukan dari 100
responden yang telah dianalisis terdapat nilai minimum sebesar 24, nilai
maksimum sebesar 40, nilai mean sebesar 34,20 serta standar Deviasi
sebesar 3,869.
Berdasarkan tabel 4.5 di atas dapat disimpulkan bahwa dari 100 data hasil
penelitian, nilai minimum yang tertinggi berada pada variabel pengetahuan wajib
pajak yaitu sebesar 28, sedangkan nilai maksimum yang tertinggi berada pada
variabel pengetahuan wajib pajak yaitu sebesar 45, sedangkan nilai rata rata
tertinggi berada pada variabel pengetahuan wajib pajak yaitu sebesar 39,89 dan
nilai standar deviasi tertinggi berada pada variabel sanksi pajak yaitu sebesar
4,497.
1.18 Hasil Uji Kualitas Data
1.18.1 Uji Validitas
Pengujian ini digunakan dalam peneliti untuk menguji bahwa setiap butir
pertanyaan itu valid. Pertanyaan dalam tiap butir dapat dikatakan valid apabila
telah memenuhi syarat pada nilai r hitung harus mempunyai angka atau nilai yang
< dari r tabel atau dapat melihat pada nilai signifikansi 0,05, dengan
memperhatikan rumus sesuai dengan responden yang diteliti yaitu kebebasan
(Degree of freedom) dalam penelitian ini df = n -2 dengan asumsi n (jumlah
49
sampel yang diteliti) = 100 responden, jadi df = 100 – 2 = 98 dengan sig 0,05
(5%). Maka didapatkan nilai r tabel sebesar 0,1966. Berikut merupakan hasil
penelitian uji validitas dapat dilihat pada tabel 4.7 :
Tabel 4.7
Hasil Uji Validitas
Variabel Item Pertanyaan r Hitung r Tabel Keterangan
Y1 0,678 0,1966 Valid
Y2 0,811 0,1966 Valid
Y3 0,758 0,1966 Valid
Kepatuhan Y4 0,815 0,1966 Valid
Wajib Pajak Y5 0,824 0,1966 Valid
Y6 0,865 0,1966 Valid
Y7 0,787 0,1966 Valid
Y8 0,614 0,1966 Valid
X1.1 0,721 0,1966 Valid
X1.2 0,850 0,1966 Valid
X1.3 0,798 0,1966 Valid
X1.4 0,824 0,1966 Valid
Pengetahuan
X1.5 0,824 0,1966 Valid
Wajib Pajak
X1.6 0,780 0,1966 Valid
X1.7 0,778 0,1966 Valid
X1.8 0,731 0,1966 Valid
X1.9 0,395 0,1966 Valid
X2.1 0,708 0,1966 Valid
X2.2 0,798 0,1966 Valid
X2.3 0,851 0,1966 Valid
X2.4 0,851 0,1966 Valid
Tarif Pajak
X2.5 0,791 0,1966 Valid
X2.6 0,788 0,1966 Valid
X2.7 0,746 0,1966 Valid
X2.8 0,463 0,1966 Valid
X3.1 0,689 0,1966 Valid
X3.2 0,795 0,1966 Valid
X3.3 0,801 0,1966 Valid
Sanksi X3.4 0,830 0,1966 Valid
Pajak X3.5 0,763 0,1966 Valid
X3.6 0,721 0,1966 Valid
X3.7 0,706 0,1966 Valid
X3.8 0,513 0,1966 Valid
Sumber: Data Primer Diolah 2023
50
Berdasarkan tabel 4.7 diatas memperlihatkan hasil pada setiap butir
pertanyaan memiliki nilai r hitung > r tabel. Hal ini dapat menjelaskan bahwa
data yang diperoleh dari penelitian ini dapat dinyatakan telah valid dan dapat
digunakan untuk pengujian data lebih lanjut.
1.18.2 Uji Reliabilitas
Pengujian data ini diperlukan untuk menentukan konsistensi atau
kestabilan responden dalam menjawab pertanyaan survei. Pengujian ini
menggunakan Cronbach’s Alpha untuk mengetahui bahwa koefisien di dalam
kehandalan reliabilitas skornya sama atau lebih besar dari 0,60. Berikut ini adalah
hasil pengujian reliabilitas dalam penelitian ini:
Tabel 4.8
Hasil Uji Validitas Reabilitas
Cronbach's Alpha Keterangan
Kepatuhan Wajib Pajak .898 Reliabel
Pengetahuan Wajib Pajak .902 Reliabel
Sanksi Pajak .893 Reliabel
Tarif Pajak .876 Reliabel
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan tabel 4.8 diatas memperlihatkan hasil semua nilai Cronbach’s
Alpha lebih besar dari 0,60, sehingga pengujian ini dapat disimpulkan bahwa
setiap instrumen variabel pada kuesioner menunjukan konsistensi atau reliable dan
dapat dinyatakan sebagai instrumen penelitian.
51
1.19 Hasil Uji Asumsi Klasik
1.19.1 Uji Normalitas
Pengujian ini difungsikan dalam regresi sebagai pengujian variabel dapat
terdistribusi secara normal. Dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov
peneliti dapat melihat nilai signifikan yang menjadikan data tersebut lolos uji
normalitas. Hal ini perlu mengamati hasil uji nilai signifikansi Asymp. 2 tailed
yang dihasilkan harus memiliki nilai lebih besar dari 0,05 data tersebut
dinyatakan lolos dari uji normalitas atau dapat berdistribusi dengan normal.
Sebaliknya apabila angka signifikansi Asymp. 2 tailed dalam penelitian kurang
dari 05, maka data tersebut tidak lolos uji normalitas atau tidak dapat
berdistribusi dengan normal. Berikut ini adalah hasil uji normalitas:
Tabel 4.9
Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 100
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation 2.67194411
Most Extreme Differences Absolute .077
Positive .075
Negative -.077
Test Statistic .077
Asymp. Sig. (2-tailed) .150c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan tabel 4.9 diatas memperlihatkan bahwa data dapat
berdistribusi dengan normal, hal ini dapat dibuktikan dengan pengujian nilai
52
Kolmogorov-smirnov dengan memperhatikan nilai signifikansi Asymp. 2 tailed
adalah 0,150 atau lebih besar dari nilai signifikansi Asymp. 2 tailed 0,05. Maka
dapat disimpulkan bahwa data yang diamati memiliki telah lolos dari uji
normalitas karena dapat distribusi dengan normal.
1.19.2 Uji Multikolinearitas
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat temuan
hubungan yang signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen
dalam model regresi, dalam pengujian ini diharuskan tidak mengandung korelasi
antara variabel Independen dengan melihat pada nilai tolerance dan Variance
Inflation Factor (VIF). Apabila dalam proses pengujian data terdapat nilai nilai
Variance Inflation Factor (VIF) lebih kecil dari nilai 10 tidak mengandung
multikolinieritas dan apabila dalam pengujian terdapat nilai Tolerance lebih besar
0,1 maka dapat dinyatakan tidak mengandung multikolinearitas. Berikut ini
adalah hasil uji multikolinearitas:
Tabel 4.10
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
Unstandardized Standardized Collinearity
Coefficients Coefficients Statistics
Std.
Model B Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 4.603 3.150 1.461 .147
Pengetahuan .179 .099 .171 1.803 .074 .543 1.841
Wajib Pajak
Tarif Pajak .410 .103 .401 3.971 .000 .480 2.085
Sanksi Pajak .263 .106 .254 2.496 .014 .472 2.120
53
a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan tabel 4.10 diatas menunjukan bahwa variabel independen
yang telah diteliti didapatkan nilai tolerance lebih besar dari nilai 0,1 dan VIF
kurang dari nilai 10. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan variabel
independen dalam model regresi ini tidak mengandung multikolineritas, dan
model regresi dalam penelitian ini dapat digunakan.
1.19.3 Uji Heteroskedastisitas
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atau cara memprediksi ada atau
tidaknya heteroskedastisitas dengan melakukan pengujian glejser. Dalam hal ini
perlu untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hubungan variance residual
suatu analisis dengan analisis lainnya dalam suatu model regresi. Penelitian ini
menggunakan Uji Glejser untuk regresi nilai absolut residual dari variabel
dependen terhadap variabel independen, dengan memperhatikan keputusan dalam
mempengaruhi nilai sig dari variabel independen yaitu di atas 0,05 maka data
tersebut dapat dinyatakan terhindar dari gejala heteroskedastisitas. Berikut ini
adalah hasil uji heteroskedastisitas:
Tabel 4.11
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Standardize
Unstandardized d
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 5.047 2.007 2.515 .014
54
Pengetahuan Wajib .097 .063 .204 1.540 .127
Pajak
Tarif Pajak -.076 .066 -.163 -1.161 .248
Sanksi Pajak -.126 .067 -.265 -1.869 .065
a. Dependent Variable: Abs_RES
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan tabel 4.11 di atas setelah melakukan pengujian data melalui
uji glejser secara statistik menunjukkan bahwa nilai signifikansi dalam penelitian
ini lebih dari 0,05. Sehingga disimpulkan bahwa penelitian model regresi tidak
ada heteroskedastisitas atau varians antara residual pengamatan satu ke
pengamatan yang lain.
1.20 Hasil Uji Hipotesis
1.20.1 Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Analisis regresi berganda dalam difungsikan untuk melihat apakah
variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen, regresi berganda
digunakan karena melibatkan minimal dua variabel independen. Berikut ini adalah
hasil pengujian regresi linier berganda adalah:
Tabel 4.12
Hasil Uji Regresi Berganda
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Std.
Model B Error Beta t Sig.
1 (Constant) 4.603 3.150 1.461 .147
Pengetahuan Pajak .179 .099 .171 1.803 .074
Tarif Pajak .410 .103 .401 3.971 .000
Sanksi Pajak .263 .106 .254 2.496 .014
a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak
55
Berdasarkan analisis pengujian data linier berganda pada tabel diatas,
didapatkan formula regresi sebagai berikut :
Y = (4.603) + 0,179X1 +0,410X2+0,263X3 + e
Berdasarkan formula tersebut diuraikan sebagai berikut:
1. Konstanta yang didapatkan dalam pengujian tersebut adalah sebesar
4.603,angka tersebut menunjukan konstanta kepatuhan wajib pajak belum
berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu variabel pengetahuan (X1),
tarif (X2), dan sanksi (X3).
2. Koefisien regresi dalam pengujian ini untuk Pengetahuan Pajak adalah 0,179.
Ini menunjukan adanya indikasi dalam variabel Pengetahuan Pajak terdapat
pengaruh secara positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Yang dapat
disimpulkan Pengetahuan Perpajakan akan meningkatkan kepatuhan wajib
pajak orang pribadi.
3. Koefisien regresi dalam pengujian ini untuk Tarif Pajak adalah 0,410. Ini
menunjukkan adanya indikasi dalam variabel Tarif Pajak terdapat pengaruh
secara positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Yang dapat disimpulkan tarif
pajak akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
4. Koefisien regresi dalam pengujian ini untuk Sanksi Pajak adalah 0,263. Ini
menunjukkan adanya indikasi Sanksi Pajak terdapat pengaruh secara positif
terhadap kepatuhan wajib pajak. Yang dapat disimpulkan sanksi pajak akan
meningkatkan kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
1.20.2 Hasil Uji Determinasi
56
Pengujian ini difungsikan untuk menentukan terdapat seberapa besar
pengaruh variabel independen terhadap kepatuhan wajib pajak dengan
memperhatikan nilai koefisien determinasi pada model regresi linier berganda
tersebut hal tersebut dapat dilihat pada pengujian Adjusted R Square. Berikut ini
adalah hasil uji determinasi yang telah diuji adalah:
Tabel 4.13
Hasil Uji Determinasi
Model Summary
Std. Error of the
Model R R Square Adjusted R Square Estimate
a
1 .729 .531 .516 2.713
a. Predictors: (Constant), Sanksi Pajak, Pengetahuan Wajib Pajak , Tarif Pajak
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan pengujian koefisiensi determinasi pada tabel diatas 4.11,
angka R dari model sebesar 0,729, Dapatkan hubungan yang kuat sebesar 0,729
antara variabel independen dan dependen. Sedangkan hasil koefisien R2
menunjukkan angka R square 0,531 atau 53,1% pengaruh dalam masing-masing
variabel independen yaitu variabel Pengetahuan Perpajakan, Tarif Pajak dan
Sanksi Perpajakan terhadap variabel dependen Kepatuhan Wajib Pajak dengan
kemampuan sebesar 53,1% sedangkan persentase sisa 46,9% dipengaruhi dengan
variabel uninvestigated atau variabel yang belum diteliti pada penelitian ini.
1.20.3 Hasil Uji F
Pengujian ini untuk mengetahui apakah secara bersamaan pengujian
variabel independen memiliki pengaruh simultan terhadap variabel kepatuhan
57
pajak. Uji F ini diuji dengan melihat perbandingan nilai F hitung harus lebih besar
dari F Tabel . Berikut hasil pengujian hasil uji F adalah:
Tabel 4.14
Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
ANOVAa
Sum of
Model Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 800.211 3 266.737 36.230 .000b
Residual 706.789 96 7.362
Total 1507.000 99
a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak
b. Predictors: (Constant), Sanksi Pajak, Pengetahuan Wajib Pajak , Tarif Pajak
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan tabel diatas F tabel pada tingkat signifikansi 5% dan Degree
of Freedom (df1) sebesar k-1 (4-1 = 3) dan derajat bebas penyebut (df2) sebesar n-
k (100-4 = 96) adalah nilai F Tabel sebesar 2.47. Berdasarkan hasil pengujian
regresi berganda pada penelitian ini menunjukan nilai F hitung pada tabel 4.17
diatas sebesar 36.230 , dimana nilai tersebut lebih besar dibanding nilai f tabel
36.230 > 2,470 dan hasil pengujian nilai signifikan kurang dari nilai 0,05 nilai,
hal ini dapat diartikan H0 ditolak dan Ha diterima. Dari persamaan tersebut
menunjukan bahwa Pengetahuan Perpajakan, Tarif Pajak dan Sanksi Perpajakan
secara bersama sama berpengaruh secara simultan terhadap variabel dependen
yaitu Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.
1.20.4 Hasil Uji T
Pengujian ini digunakan sebagai penentu apakah analisis pengaruh
variabel independen berpengaruh secara parsial dan tingkat nilai sig, maka dapat
58
dinyatakan variabel independen terdapat pengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen dengan melakukan pengujian tersebut dan jika nilai pengujian
data nilai sig lebih dari 0,05 variabel independen tidak berpengaruh secara
signifikan. terhadap variabel dependen. Uji t dilakukan untuk membandingkan
dua sisi yaitu nilai t dan nilai sig dan :
Tabel 4.15
Hasil Uji Signifikansi Parsial (Uji t)
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Std.
Model B Error Beta t Sig.
1 (Constant) 4.603 3.150 1.461 .147
Pengetahuan Pajak .179 .099 .171 1.803 .074
Tarif Pajak .410 .103 .401 3.971 .000
Sanksi Pajak .263 .106 .254 2.496 .014
a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak
Sumber: Data Primer Diolah 2023
Nilai t tabel dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
T tabel = (α/2; n-k-1)
Keterangan :
α : Tingkat kepercayaan
n : Jumlah sampel/responden
k : Jumlah variabel bebas
Jadi nilai t tabel dapat dihitung sebagai berikut :
t tabel = (α/2; n-k-1)
t table = (0,005/2 : 100 – 3 -1)
t tabel = (0,025 ; 96)
59
t table = 1.985
Berdasarkan perhitungan rumus di atas nilai t tabel pada α = 0,025 pada
df= 96 adalah sebesar 1,985. Perhitungan t tabel ini digunakan untuk pengujian
hipotesis pertama, kedua dan ketiga. Berdasarkan tabel diatas maka didapatkan
hipotesis penelitian diajukan adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil uji dilihat dalam perhitungan yang diperoleh dari nilai
koefisien regresi sebesar 0,179 dan nilai t hitung sebesar 1.803 lebih kecil
dari pada t tabel sebesar 1.985 dengan nilai signifikansi sebesar 0.074 lebih
besar dari 0,05. Maka dapat disimpulkan Pengetahuan Perpajakan tidak
berpengaruh secara parsial dan signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.
2. Berdasarkan hasil uji dapat dilihat dalam perhitungan yang diperoleh dari
nilai koefisien regresi sebesar 0.410 dan nilai t hitung sebesar 3.971 lebih
besar dari t tabel sebesar 1.985 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000
kurang dari 0,05. Maka disimpulkan Tarif Pajak secara parsial dan signifikan
terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.
3. Berdasarkan hasil uji dapat dilihat dalam perhitungan yang diperoleh dari
nilai koefisien regresi 0,263 dan nilai t hitung 2.496 lebih besar dari t tabel
sebesar 1.985 dengan nilai signifikansi sebesar 0.014 kurang dari 0,05. Maka
disimpulkan Sanksi Pajak secara parsial dan signifikan terhadap Kepatuhan
Wajib Pajak.
1.21 Analisis dan Pembahasan Hasil Penelitian
60
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apakah pengetahuan
perpajakan, tarif pajak dan sanksi dapat mempengaruhi terhadap kepatuhan wajib
pajak orang pribadi di Kota Demak. Berdasarkan eksperimen analitik yang
dikonfirmasi, peneliti menyusun pembahasan sebagai berikut :
1. Pengaruh Pengetahuan Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang
Pribadi di kota Demak
Berdasarkan uji hipotesis yang di uji, disimpulkan bahwa secara
parsial dan signifikan pengetahuan perpajakan tidak berpengaruh namun
berpengaruh positif dan simultan terhadap kepatuhan perpajakan. Dengan
melihat nilai koefisien regresi 0,179, nilai signifikansi uji t sebesar 0,147 dan
nilai t hitung 1803. Nilai signifikansi 0.157 lebih besar dari 0,05 dan nilai t
hitung lebih kecil dari t tabel (1.803 < 1,985). Hasil pernyataan tersebut
diterima (H1) yang menyatakan bahwa Pengetahuan Perpajakan memiliki
pengaruh positif terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.
Dengan demikian faktor yang berpengaruh dalam kepatuhan wajib
pajak adalah pengetahuan perpajakan, dengan adanya pengetahuan mengenai
hak dan kewajiban serta pentingnya pajak dalam penerimaan negara yang
digunakan untuk kemakmuran rakyat dapat memberikan kesadaran wajib
pajak orang pribadi dalam membayarkan kewajiban perpajakannya, semakin
paham wajib pajak dalam memahami aturan serta pentingnya pajak akan
mendorong peningkatan penerimaan pajak dimana dengan meningkatnya
jumlah penerimaan akan berdampak pada kualitas kesejahteraan masyarakat.
Hasil analisis ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial yang
61
menghubungkan wajib pajak orang pribadi dengan informasi mengenai
pengetahuan perpajakan yang dimana dengan proses pengamatan mengenai
informasi pengetahuan perpajakan yang kemudian di pelajari akan
mempermudah wajib pajak dalam proses perpajakan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu Fita et al
(2018), hasil penelitian tersebut memberikan bukti Pengetahuan Perpajakan
terdapat pengaruh positif dan simultan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.
Sedangkan penelitian ini tidak sejalan dengan Ahmad Burhan Zulhazmi dan
Febrian Kwarto (2019) pengetahuan tidak berpengaruh terhadap kepatuhan
wajib pajak.
2. Pengaruh Tarif Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di Kota
Demak
Berdasarkan uji hipotesis secara parsial terdapat pengaruh tarif
terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini dapat melihat nilai koefisien regresi
0,410, nilai signifikansi uji t 0,000, dan nilai t hitung 3,971. Nilai
signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05 dan nilai t hitung lebih besar dari t
tabel (3,971 > 1,985). ) Hasil pernyataan tersebut diterima (H1) yang
menyatakan bahwa tarif pajak memiliki pengaruh positif terhadap kepatuhan
wajib pajak orang pribadi.
Dengan demikian penerapan tarif pajak menjadi hal yang berpengaruh
terhadap kepatuhan wajib pajak. Tarif pajak merupakan dasar jumlah
pengenaan besaran pajak yang harus dibayarkan wajib pajak dan terlepas
apakah penerapan tarif pajak tidak tepat pada tingkat yang sesuai, dengan
62
kata lain tarif pajak lebih tinggi dari pada penghasilan wajib pajak akan
menjadi masalah serius sehingga dapat mengurangi kepatuhan wajib pajak.
Hal ini sesuai dengan teori pembelajaran sosial yang menyatakan tarif pajak
berkaitan dengan sistem tarif yang berlaku dimana wajib pajak
memungkinkan untuk memahami melalui proses pengamatan tarif pajak yang
berlaku di Indonesia yang kemudian dipelajari akan mempermudah wajib
pajak dalam setiap perhitungan mengenai besaran pajak yang akan
dibayarkan.
Hasil penelitian ini sejalan sesuai pendapat Fenny Nur Salam dan Dea
Amalia Lestari (2022) yang berpendapat bahwa tarif pajak berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, sedangkan hasil
penelitian ini tidak sesuai dengan hasil analisis Al Kausar dkk (2022) bahwa
tarif pajak tidak memiliki pengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak.
3. Pengaruh Sanksi Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
di Kota Demak
Sesuai uji hipotesis bahwa sanksi perpajakan berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal tersebut dapat dibuktikan
dengan melihat nilai koefisien regresi 0,263 dan nilai signifikansi pada uji t
0,014 serta nilai t hitung 2.496. Nilai signifikansi 0,014 kurang dari 0,05 dan
nilai t hitung lebih besar dari t tabel (2.496> 1.985). Hasil pernyataan tersebut
63
diterima (H1) yang menyatakan bahwa sanksi pajak berpengaruh positif
terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
Sanksi perpajakan merupakan alat yang menjamin kepatuhan terhadap
berjalanya peraturan perundang-undangan perpajakan. Sanksi pajak
dikenakan untuk pencegahan wajib pajak yang melakukan penghindaran
pajak. Hal ini sejalan dengan teori kepatuhan yang mengusulkan hukuman
yang tegas dan memberikan sifat kepatuhan wajib pajak dalam membayar
pajak dan mematuhi undang-undang perpajakan. Penerapan pajak yang
efektif dan efisien dengan memastikan bahwa penerapan pajak tidak
membebankan wajib pajak, asalkan wajib pajak mampu untuk menjalankan
kewajiban perpajakan untuk meningkatkan kepatuhan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Dian Lestari Siregar
(2017) yang menunjukkan bahwa sanksi perpajakan terdapat pengaruh positif
dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, sedangkan hasil penelitian ini
tidak sesuai dengan Muhammad (2019). Sanksi pajak tidak mempengaruhi
kepatuhan wajib pajak.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
1.22 Kesimpulan
Berdasarkan telaah terhadap pengujian dan hasil pembahasan analisis data
yang di uji dalam penelitian ini, khususnya mengenai pengaruh pengetahuan
perpajakan, sanksi perpajakan dan sanksi wajib pajak terhadap kepatuhan wajib
pajak orang pribadi Pratama Demak, maka ditarik kesimpulan seperti berikut:
1. Pada variabel Variabel pengetahuan perpajakan (X1) berpengaruh positif dan
simultan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Hal ini ditunjukkan
dengan angka F hitung 36.230 lebih besar dari F tabel 2.470.
2. Pada variabel tarif pajak (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t
hitung sebesar 3.971 yang lebih besar dari nilai t sebesar 1.985 pada t tabel.
Dengan nilai nilai signifikansi kurang dari 0,05 (0,000 < 0,05)
3. Pada variabel Sanksi Pajak (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai
t hitung sebesar 2.496 yang lebih besar dari nilai 1.985 pada t tabel. Dengan
nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (0,000 > 0,05).
64
65
1.23 Keterbatasan
Penelitian ini tidak terlepas dari keterbatasan yang menyebabkan bias
pada hasil penelitian ini. Kendala atau kekurangan pada penelitian ini antara lain :
1. Penelitian ini memfokuskan pada tiga variabel yang berpengaruh terhadap
kepatuhan wajib pajak, yaitu pengetahuan, tarif dan sanksi pajak terhadap
kepatuhan wajib pajak.
2. Karena kuesioner digunakan sebagai sumber data dalam penelitian yang
diperoleh dimungkinkan terjadinya bias. Hal ini karena mungkin terjadi
akibat ada perbedaan persepsi survei responden dengan peneliti.
3. Penelitian memiliki jumlah sampel yang masih kuranghal tersebut
menyebabkan tidak dapat digeneralisasikan karena keterbatasan peneliti
dalam proses pengumpulan data.
1.24 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan, peneliti dapat membuat
usulan saran yang diharapkan untuk membantu penelitian selanjutnya sebagai
berikut :
1. Bagi KPP Pratama Demak
KPP Pratama Demak diharapkan dapat memberikan edukasi atau
penyuluhan tentang ketentuan-ketentuan perpajakan yang berlaku atau isu isu
terbaru mengenai pembaharuan dalam sistem perpajakan kepada masyarakat
dan selalu menjaga kepercayaan masyarakat terhadap integritas Direktorat
66
Jenderal Pajak. Diharapkan dengan edukasi dan selalu menjaga integritas
akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
2. Bagi Wajib Pajak
Wajib pajak orang pribadi diharapkan untuk selalu meningkatkan dan
mencari informasi terbaru terkait perpajakan, hal ini untuk meningkatkan
akan kesadaran dan manfaat dari pajak untuk negara dan untuk menghidari
wajib pajak orang pribadi terkena denda ataupun sanksi dikarenakan
terlambat atau kurang bayar dalam proses pelaporan dan pembayaran pajak.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya
Bagi Peneliti Selanjutnya diharapkan untuk memperluas variabel lain
selain variabel yang telah di uji oleh peneliti, hal ini diharapkan akan
menghasilkan hasil yang berbeda dan memperluas pemeriksaan persepsi
wajib pajak ketika menggambarkan atau menjelaskan masalah yang dapat
mempengaruhi kepatuhan wajib pajak.
DAFTAR PUSTAKA
Caroko, Bayu, Heru Susilo, and Z. A. Zahroh. "Pengaruh pengetahuan
perpajakan, kualitas pelayanan pajak dan sanksi pajak terhadap motivasi
wajib pajak orang pribadi dalam membayar pajak." Jurnal Mahasiswa
Perpajakan 4.1 (2015)
ATARWAMAN, Rita JD. Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Sanksi Pajak Dan
Kualitas Pelayanan Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang
Pribadi. Jurnal Akuntansi, 2020, 6.1: 39-51.
ZULMA, Gandy Wahyu Maulana. Pengaruh Pengetahuan Wajib Pajak,
Administrasi Pajak, Tarif Pajak dan Sanksi Perpajakan terhadap
Kepatuhan Pajak Pada Pelaku Usaha UMKM di Indonesia. Ekonomis:
Journal of Economics and Business, 2020, 4.2: 288-294.
Zuhdi, M. I., Suryadi, D., & Yuniati, Y. (2019). Pengaruh Modernisasi Sistem
Administrasi Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Orang Pribadi Pada Kpp Pratama Bandung X. Jurnal Ilmiah MEA
(Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi), 3(1), 116-135.
SANTHI, Kadek Adelia. PENGARUH SANKSI PAJAK, SISTEM ADMINISTRASI
PERPAJAKAN MODERN, KUALITAS PELAYANAN FISKUS, TARIF
PAJAK DAN PEMERIKSAAN PAJAK TERHADAP TINGKAT
KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI (Studi Empiris Pada
Wajib Pajak Orang Pribadi di KPP Pratama Gianyar). 2021. PhD Thesis.
Universitas Mahasaraswati Denpasar.
SAPUTRA, Hadi, et al. Analisa Kepatuhan Pajak Dengan Pendekatan Teori
Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior)(Terhadap Wajib Pajak
Orang Pribadi Di Provinsi Dki Jakarta). Jurnal Muara Ilmu Ekonomi Dan
Bisnis, 2019, 3.1: 47-58.
SWARJANA, I. Ketut; SKM, MPH. Konsep pengetahuan, sikap, perilaku,
persepsi, stres, kecemasan, nyeri, dukungan sosial, kepatuhan, motivasi,
kepuasan, pandemi covid-19, akses layanan kesehatan–lengkap dengan
konsep teori, cara mengukur variabel, dan contoh kuesioner. Penerbit
Andi, 2022.
Hill, Winfred F. Theories Of Learning: Teori-teori Pembelajaran Konsepsi,
Komparasi dan Signifikan. Nusamedia, 2019.
Kowel, V. A., Kalangi, L., & Tangkuman, S. J. (2019). Pengaruh Pengetahuan
Wajib Pajak, Kesadaran Wajib Pajak dan Modernisasi Administrasi
Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor di
Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi,
Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 7(3).
67
68
Palalangan, C. A., Pakendek, R., & Tangdialla, L. P. (2019). Pengaruh Persepsi
Wajib Pajak Tentang Penerapan Pp No 23 Tahun 2018, Pemahaman
Perpajakan Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Umkm Di Makassar. Paulus Journal of Accounting (PJA), 1(1), 29-41.
KOWEL, Viva AA; KALANGI, Lintje; TANGKUMAN, Steven J. Pengaruh
Pengetahuan Wajib Pajak, Kesadaran Wajib Pajak dan Modernisasi
Administrasi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan
Bermotor di Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal EMBA: Jurnal Riset
Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 2019, 7.3.
Chandra, Cynthia, and A. Sandra. "Pengaruh Tarif Pajak, Sanksi Pajak dan
Kesadaran Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
Usahawan." Jurnal Online Insan Akuntan 5.2 (2020): 153-168.
Mandowally, B. M., Allolayuk, T., & Matani, C. D. (2020). Pengaruh Sanksi
Perpajakan, Pelayanan Fiskus Dan Pengetahuan Perpajakan Terhadap
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan
Daerah, 15(1), 46-56.
Erica, D. (2021). Pengaruh Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Orang Pribadi. Jurnal Ilmiah Manajemen Ubhara, 3(1), 129.
Herlina, V. (2020). Pengaruh Sanksi, Kesadaran Perpajakan Dan Kualitas
Pelayanan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Bumi Dan Bangunan Di
Kabupaten Kerinci. Jurnal Benefita, 5(2), 252-263.
69