0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan70 halaman

Pengaruh Pengetahuan Pajak pada Kepatuhan

Studi ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengetahuan pajak, tarif pajak, dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Penelitian ini menggunakan metode kuesioner dan analisis regresi untuk menganalisis data primer. Hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan, sedangkan tarif pajak dan sanksi pajak berpengaruh positif dan signifikan.

Diunggah oleh

sari ratna
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan70 halaman

Pengaruh Pengetahuan Pajak pada Kepatuhan

Studi ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengetahuan pajak, tarif pajak, dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Penelitian ini menggunakan metode kuesioner dan analisis regresi untuk menganalisis data primer. Hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan, sedangkan tarif pajak dan sanksi pajak berpengaruh positif dan signifikan.

Diunggah oleh

sari ratna
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PENGETAHUAN PAJAK, TARIF PAJAK,

DAN SANKSI PAJAK TERHADAP KEPATUHAN


WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

(Study Empires Pada Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak


Pratama Demak)

Diajukan sebagi salah satu syarat untuk menyelesaikan


Program Diploma IV (Sarjana Terapan) pada Program Diploma IV Akuntansi
Perpajakan (Sarjana Terapan) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro

Disusun oleh :

ATTARIQ BUNTARLAN
40011419650240

SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
202
ABSTRACT

This study aims to examine the effect of tax knowledge. Tax rates and
tax sanctions on taxpayer compliance and describe the relationship between these
variables. The problem that is the focus of this research is the decrease in tax
revenue at the Pratama Demak Tax Office (KPP) unit.
This research method involves collecting primary data through
questionnaires and then analyzing it using statistical methods, such as regression
analysis using SPSS software version 26. This research is useful for giving the
importance of influencing factors regarding taxpayer compliance and underlining
the importance of effective implementation of taxpayer compliance.
The results showed that tax knowledge had a positive and simultaneous
effect, while tax rates and individual tax sanctions had a positive and significant
effect on taxpayer compliance. These findings indicate that understanding tax
regulations regarding tax benefits, calculation and reporting procedures,
understanding tax rates and applying strict sanctions can improve taxpayer
compliance.

Keywords: Taxpayer Compliance, Tax Knowledge, Tax Rates, Tax Sanctions.

1
2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengetahuan pajak. Tarif


pajak dan sanksi pajak terhadap kepatuhan Wajib Pajak serta mendeskripsikan
hubungan antara variabel-variabel tersebut. Permasalahan yang menjadi fokus
penelitian ini adalah penurunan penerimaan pajak di unit Kantor Pelayanan Pajak
(KPP) Pratama Demak. Metode penelitian ini melibatkan pengumpulan data
primer melalui kuesioner kemudian dianalisis dengan menggunakan metode
statistik, seperti analisis regresi dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi
26. Penelitian ini berguna untuk memberikan pentingnya pengaruh faktor
mengenai kepatuhan Wajib Pajak dan menggarisbawahi pentingnya implementasi
yang efektif dari kepatuhan Wajib Pajak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengetahuan pajak berpengaruh secara positif dan simultan, sedangkan tarif pajak
dan sanksi pajak orang pribadi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kepatuhan Wajib Pajak. Temuan ini menunjukkan bahwa dengan memahami
peraturan perpajakan mengenai manfaat pajak, tata cara perhitungan dan
pelaporan, pemahaman tarif pajak dan penerapan sanksi yang tegas dapat
meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

Kata kunci: Kepatuhan Wajib Pajak, Pengetahuan Pajak, Tarif Pajak, Sanksi
Pajak
3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pajak merupakan bagian terpenting dalam sektor pendapatan negara,

bahkan menjadi salah satu sumber pendapatan utama negara yang terbesar dalam

sektor penerimaan APBN, pada saat ini sekitar 70% anggaran negara di tutupi

oleh penerimaan pajak sehingga dalam hal tersebut Negara Indonesia masih

bergantung kepada penerimaan pajak, hasil pemungutan dana yang berasal dari

penerimaan pajak tersebut dimanfaatkan untuk membiayai berbagai pembiayaan

negara seperti pembangunan nasional hal tersebut dilakukan untuk menaikan

kualitas kesejahteraan masyarakat yang memerlukan biaya tidak sedikit.

Pentingnya peran pajak dalam pembiayaan negara, maka sampai saat ini

pemerintah terus berupaya untuk memaksimalkan penerimaan pajak dari tahun ke

tahun hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah

ekonomi, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak yang menjadi unit untuk

melaksanakan kebijakan dalam hal perpajakan telah melakukan berbagai cara

dalam memaksimalkan penerimaan pajak dengan ekstensifikasi dan intensifikasi

pajak hal tersebut dilakukan dengan mengkaji objek perpajakan guna

meningkatkan pungutan wajib pajak. Dalam memaksimalkan upaya penerimaan

pajak DJP perlu meningkatkan tingkat kepatuhan wajib pajak dalam proses

pelaksanaan kewajiban perpajakan.


4

Berdasarkan data laporan penerimaan pajak di KPP Pratama Demak

terdapat penurunan penerimaan pajak, sekitar tiga tahun terakhir atau pada tahun

2020 sampai dengan 2022 terdapat penurunan penerimaan pajak , bahkan terdapat

penurunan jumlah target penerimaan pajak pada tahun 2021 hal ini dapat

berdampak kepada penerimaan negara karena penerimaan pajak menjadi salah

satu penggerak pembiayaan pemerintah yang paling penting. Hal tersebut perlu

adanya peningkatan kepatuhan wajib pajak dalam pelaksanaan kewajiban.

Kepatuhan wajib pajak menjadi faktor yang dapat berpengaruh terhadap

kepatuhan pajak di Indonesia. Kepatuhan wajib pajak merupakan sikap wajib pajak

dalam mematuhi undang-undang dan bersedia membayarkan tanggungan pajak

serta mengungkapkan kewajiban perpajakannya. Masalah tingkat kepatuhan

perpajakan di Indonesia masih terbilang cukup rendah karena sebagian masyarakat

yang masih memiliki anggapan bahwa bukan suatu hal kewajiban serta masih

banyak masyarakat yang lari dari tanggung jawab dalam menjalankan perpajakan.

Salah satu faktor yang dapat berpengaruh dalam proses pemenuhan kewajiban

wajib pajak adalah faktor pengetahuan wajib pajak dalam memperoleh

pengetahuan perpajakan.

Pengetahuan perpajakan menjadi hal dasar yang harus dipahami bagi

wajib pajak yang telah mempunyai tanggung jawab untuk membayar pajak

dikarenakan berlakunya sistem self assessment di Indonesia dimana wajib pajak

diharapkan mampu dalam proses menghitung dan melaporkan kewajiban

pajaknya. Berdasarkan hal tersebut wajib pajak dapat dinyatakan memiliki sifat

patuh tentunya harus mengetahui dan memahami terlebih dahulu apa


5

kewajibannya. Jika dalam pelaksanaannya wajib pajak tidak mempunyai

pengetahuan dasar perpajakan hal tersebut akan membuat wajib pajak mengalami

kesulitan atau berbagai kendala di dalam proses perpajakan seperti mengisi Surat

Pemberitahuan (SPT), mendaftarkan diri sebagai wajib pajak, dan membayarkan

tanggungan pajaknya. Sistem self assessment yang diterapkan di Indonesia ini

terkadang menjadi alasan wajib pajak tidak melaporkan kewajiban perpajakan

yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan ketidaktahuan akan perolehan

informasi wajib pajak.

Pada tahun 2021 pemerintah telah memberlakukan peraturan baru dalam

Undang- Undang Nomor 7 tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan

(HPP) dalam peraturan tersebut telah merubah ketentuan dalam UU No.36 tahun

2008 yang dimana terdapat perubahan mengenai penerapan lapisan tarif pajak

yaitu perubahan lapisan pertama pennghasilan kena pajak dan penambahan

lapisan terbaru untuk penghasilan di atas lima miliar akan dikenakan tarif sebesar

35%. Dengan pemberlakukan pembaharuan peraturan perpajakan tersebut

merupakan upayah pemerintah dalam memberikan penerapan tarif yang adil pada

setiap lapisan masyarakat Indonesia. Sehingga dengan peraturan penetapan tarif

perpajakan terbaru tersebut dapat berpengaruh terhadap pribadi wajib pajak

dalam proses menghitung besaran pajak yang akan di bayarkan dan juga wajib

pajak perlu memahami aturan-aturan mengenai penerapan tarif pajak yang sedang

berlaku. Hal tersebut menjadi salah faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib

pajak karena dengan penerapan pajak yang adil dapat menurunkan keengganan

wajib pajak dalam pemenuhan kewajibannya, meskipun penghindaran pajak dapat


6

terjadi tetapi wajib pajak tidak terlalu menghindar atau kurang patuh terhadap

besaran pajak yang harus dibayarkan. Oleh karena itu semakin adil dalam

penerapan tarif pajak di Indonesia mempengaruhi besar kemungkinan wajib pajak

untuk membayarkan tanggungan pajaknya.

Dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak pemerintah melakukan

langkah yang tegas dengan pemberlakuan sanksi pajak dengan adanya sanksi

pajak berupa peraturan yang ditujukan untuk mengikat Wajib Pajak dalam

mencegah terjadinya pelanggaran perpajakan. Pengenaan sanksi pajak ini diatur

dalam ketentuan perundang- undangan yang menjadi jaminan bahwa sanksi

perpajakan menjadi hal yang pasti dan harus diikuti/dipatuhi. Pemahaman dalam

mengenai sanksi perpajakan menjadi hal yang bersifat penting karena perpajakan

Indonesia menganut sistem self assessment dalam proses pemungutan pajak, maka

agar proses tersebut dapat berjalan secara maksimal maka wajib pajak perlu

memahami aturan terkait aturan perpajakan yang sedang berlaku hal ini perlu

dilakukan wajib pajak untuk menghindari resiko wajib pajak terkena sanksi dalam

perpajakan yang bisa disebabkan karena kelalaian atau kurang memahami aturan

dalam perpajakan. dan menjadi hal pasti bahwa apabila wajib pajak enggan dalam

melaksanakan perpajakan sanksi pajak akan menjadi sebuah alat yang akan

memberatkan wajib pajak. Itulah sebabnya penting bagi wajib pajak untuk

memahami sebab dan akibat hukum dari berlakunya peraturan sanksi dalam

perpajakan baik peraturan yang sedang berlaku atau pun sudah tidak berlaku.

Dalam hal ini perlu diketahui pengenaan sanksi dalam perpajakan terhadap

wajib pajak bukan merupakan jalan terbaik yang harus dilalui wajib pajak yang
7

tidak patuh atau melanggar dalam peraturan perpajakan, namun diharapkan

dengan adanya pemberlakuan sanksi perpajakan menjadikan setiap individu wajib

pajak dapat patuh dalam pemenuhan kewajiban perpajakan, khususnya dalam hal

wajib pajak yang lalai atau dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban

perpajakannya.

Setiap individu wajib pajak mempunyai tingkat pengetahuan atau

pemahaman tentang perpajakan yang berbeda beda, banyak yang belum

memahami mengenai prosedur perpajakan di Indonesia, seperti bagaimana proses

menghitung pajak, pelaporan dan pembayaran pajak, hal itulah yang membedakan

wajib pajak orang pribadi berbeda dengan wajib pajak badan karena umumnya

setiap perusahaan memiliki divisi perpajakan yang bertugas dalam proses

perpajakan, hal itulah yang mempengaruhi peneliti tertarik membahas pengaruh

pengetahuan, sanksi, dan tarif pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang

pribadi.

Nevy, Hendarto (2021) & Nelsi (2017) terdapat berpengaruh positif

pengetahuan wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak, hasil berbeda di

tunjukan pada penelitian Ahmad Burhan Zulhazmi dan Febrian Kwarto (2019)

pengetahuan tidak mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. Penelitian Dian (2017)

dan kadek dkk (2022) mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh positif sanksi

pajak terhadap kepatuhan wajib pajak ,hal berbeda terhadap penelitian Suhendri

(2015), bahwa tarif pajak tidak mempengaruhi kepatuhan wajib pajak, Al kausar

Dkk (2022) dan Siahaan (2018) terdapat berpengaruh positif sanksi perpajakan

terhadap Kepatuhan Wajib Pajak, sedangkan menurut Muhamad (2019) sanksi


8

pajak tidak mempengaruhi terhadap kepatuhan wajib pajak. Oleh karena itu,

dalam penelitian ini dilakukan kembali dengan meninjau temuan yang saling

bertentangan dari penelitian sebelumnya.

Berdasarkan uraian mengenai latar belakang dan mengenai beberapa

peneliti yang telah dilakukan sebelumnya, maka hal inilah yang menarik peneliti

untuk membahas penelitian yang berjudul “PENGARUH PENGETAHUAN

PAJAK, TARIF PAJAK, DAN SANKSI PAJAK TERHADAP

KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI (Studi Empiris Pada

Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Demak).


9

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka

rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Apakah pengetahuan wajib pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib

pajak orang pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Demak.

2. Apakah tarif pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi

di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Demak.

3. Apakah sanksi pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak orang

pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Demak.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, penelitian ini

bertujuan untuk :

1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pengetahuan perpajakan

terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.

2. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh tarif pajak terhadap kepatuhan

wajib pajak orang pribadi.

3. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh sanksi pajak terhadap kepatuhan

wajib pajak orang pribadi.


10

1.4 Manfaat Penelitian

Diharapkan dalam penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan,

memberikan pengetahuan baru dan menjadi bahan referensi di masa mendatang

manfaat yang diperoleh atau diterapkan setelah pengungkapan hasil penelitian ini.

Manfaat yang menjadi harapan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kegunaan Praktis Bagi Peneliti

Penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan gelar sarjana

juga untuk membantu menambah wawasan dan analisa terhadap topik

penelitian. Memberikan informasi bahwa penelitian kepatuhan wajib pajak

orang pribadi dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, tarif pajak, dan sanksi

pajak sesuai penelitian.

2. Kegunaan Teoritis

pengetahuan dan wawasan yang dapat dijadikan referensi tambahan untuk

penelitian selanjutnya mengenai pengaruh pengetahuan, tarif pajak dan sanksi

pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.

3. Kegunaan Bagi Instansi

Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan kepatuhan wajib pajak orang

pribadi dengan meneliti apa saja faktor yang berpengaruh terhadap kepatuhan
11

wajib pajak orang pribadi, dalam penelitian ini difokuskan pada pengetahuan

perpajakan, tarif pajak dan sanksi pajak.

1.5 Sistematika Penulisan

Peneliti membagi pembahasan skripsi ini dalam lima bab untuk

memudahkan pembahasan, diantaranya:

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis menjelaskan mengenai latar belakang,

perumusan masalah mengenai topik yang diangkat, tujuan dan manfaat

penelitian, serta sistematika penulisan skripsi secara ringkas mengenai

isi setiap bab dari skripsi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Dalam bab ini penulis menjelaskan mengenai landasan teori, definisi

pajak, pengetahuan pajak, tarif pajak, sanksi pajak, penelitian terdahulu,

kerangka pemikiran dan hipotesis.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan mengenai objek penelitian, metode pengumpulan

data, jenis, sumber data, dan metode analisis.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini menjelaskan mengenai deskripsi objek penelitian, dan analisis

data dan implementasi hasil.


12

BAB V PENUTUP

Bab ini menjelaskan mengenai kesimpulan, kendala dan saran.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.6 Landasan Teori

1.6.1 Theory Of Planned Behavior

Teori perilaku terencana (TPB) dikemukakan oleh Ajzen (1991)

menjelaskan terkait faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan

seorang wajib pajak, secara umum teori ini menggambarkan bahwa perilaku yang

dilakukan setiap individu muncul karena adanya keinginan untuk melakukan

tindakan tersebut. Hal ini berasumsikan bahwa manusia seringkali bertindak atau

berperilaku sesuai dengan apa yang mereka pahami. Menurut (Ekaputra

dkk.,2020) Munculnya niat berperilaku ditentukan oleh tiga faktor penentu yaitu :

1. Behavioral beliefs merupakan keyakinan akan hasil dari suatu perilaku dan

evakuasi berupa penilaian atas perilaku tersebut.

2. Normative beliefs merupakan keyakinan tentang sebuah harapan normative

individu yang menjadi acuan.

3. Control beliefs merupakan keyakinan tentang keberadaan hal hal yang

mendukung atau menghambat perilaku.

Pada teori ini menjelaskan bahwa niat dapat mempengaruhi perilaku individu

menjadi patuh atau tidak patuh terhadap peraturan perpajakan, hal tersebut

terbentuk dalam mindset individu akan mempengaruhi niat atau keyakinan pada

diri individu tersebut sebelum melakukan sesuatu.

13
14

Penelitian ini menjadikan teori perilaku terencana karena relevan untuk

menjelaskan variabel pengetahuan pajak karena keyakinan terhadap hasil

diperoleh dari perilakunya kemudian berdampak pada apakah dia akan memenuhi

kewajiban perpajakannya atau tidak. Wajib pajak yang sadar pentingnya

membayar pajak terhadap fungsi pajak untuk kesejahteraan masyarakat, tentu saja

akan memenuhi kewajiban pajaknya (behavioral belifs).

1.6.2 Compliance Theory

Teori kepatuhan berasal dari kata patuh, dalam Kamus Besar Bahasa

Indonesia (KBBI), patuh diartikan sebagai suka dan taat dalam setiap aturan,

ataupun perintah dan memiliki kedisiplinan. Kepatuhan diartikan sebagai sifat

patuh, taat, tunduk terhadap aturan dan ajaran yang berlaku. Stanley Milgram

(1963) menjelaskan mengenai kondisi dimana seorang individu taat terhadap

aturan atau perintah yang telah di tetapkan . Menurut (Hasanudin et al., 2020)

kepatuhan pajak dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan Wajib Pajak

memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya

dan dimana wajib pajak yang telah mematuhi hukum ada karena hukum tersebut

dianggap sebagai suatu kewajiban serta terdapat hak otoritas pajak yang bersifat

memaksa dalam hal pemungutan pajak.

Penelitian ini menjadikan teori kepatuhan ini relevan untuk menjelaskan

variabel tarif pajak dan sanksi pajak dimana tarif dan sanksi sebagai dasar yang

tepat untuk mendorong perilaku seseorang individu menjadi lebih patuh terhadap

peraturan yang berlaku dengan mempertimbangkan manfaat serta kerugian yang


15

diperoleh, dimana dengan kewajiban wajib pajak untuk melaksanakan kewajiban

perpajakannya karena sangat berguna bagi negara dan wajib pajak juga akan

menerima manfaatnya juga secara tidak langsung.

1.6.3 Pajak

Pajak dalam Undang Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang perubahan

keempat termuat dalam pasal 1 ayat (1) Ketentuan Umum Perpajakan berbunyi

pajak adalah Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi

atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak

mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara

bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Mardiasmo (2018:3) pajak adalah

kontribusi yang diwajibkan secara hukum dari orang atau badan hukum kepada

negara, yang tidak menerima kompensasi langsung dan hasil penerimaan tersebut

diperuntukan untuk kebutuhan negara dalam mencapai kemakmuran yang

sebesar-besarnya bagi warga negaranya.

Berdasarkan teori- teori diatas maka disimpulkan bahwa pajak

merupakan kontribusi wajib dari rakyat kepada pemerintah dan hanya pemerintah

yang berhak memungut pajak. Pemungutan pajak serta pelaksanaannya

didasarkan dengan ketentuan perundang undangan dan tanpa adanya kompensasi

yang dirasakan secara langsung karena diperuntukan untuk kepentingan

masyarakat luas bukan adanya kontrasepsi antara individu dan pemerintah.


16

Fungsi pajak dikategorikan menjadi dua fungsi :

1. Fungsi Anggaran ( Budgetair )

Artinya, pajak menjadi bagian dari penghimpun dana hasil pungutan

yang digunakan untuk keperluan pembiayaan pemerintah.

2. Fungsi Pengatur ( Regulerend)

Artinya, pajak difungsikan sebagai sebuah peraturan yang

memberikan kebijakan untuk melaksanakan dan mengatur dalam peraturan

negara baik di dalam ruang lingkup sosial ekonomi atau untuk tujuan lain di

luar bidang keuangan.

Syarat pemungutan pajak pada yang diharuskan dalam setiap adanya

pemungutan pajak tidak boleh terjadi sebuah hambatan atau adanya tindakan

perlawanan, maka dalam setiap proses pelaksanaan kegiatan perpajakan harus

memiliki syarat sebagai berikut:

1. Pemungutan Pajak Bersifat Adil ( Syarat Keadilan )

Sesuai dengan undang-undang, sistem pemungutan pajak harus

mencapai keadilan, baik dalam peraturan perundang-undangan maupun dalam

pelaksanaan pemungutan pajak harus ada keadilan. Dasar keadilan di

perundang-undangan adalah memungut pajak secara menyeluruh dan

seragam serta menyesuaikan dengan tingkat pendapatan masing-masing

individu.

2. Pemungutan Pajak Sesuai Undang Undang (Syarat Yuridis)

Sistem perpajakan dalam Undang – Undang Dasar 1945 Pasal 23 ayat

2, adalah norma hukum yang memberikan adanya jaminan perlindungan


17

hukum bagi terwujudnya keadilan, baik bagi warga negara maupun negara

dalam kegiatan perpajakan.

3. Tidak Mengganggu Perekonomian (Syarat Ekonomis)

Sistem pemungutan pajak diharuskan tidak mengganggu jalannya

kegiatan perdagangan ataupun proses produksi, agar tidak terjadi depresi

ekonomi atau stagnasi perekonomian nasional.

4. Pemungutan Pajak Harus Efisien (Syarat Finansial)

Sistem penerapan pajak dapat dioperasikan dengan mudah atau

efisien, tepat sasaran, tepat waktu, dan dengan biaya seminimal mungkin,

sedangkan langkah- langkah efektif mempunyai tujuan bahwa pemungutan

pajak sesuai dengan perhitungan.

5. Sistem Pemungutan Pajak Harus Sederhana

Sistem pemungutan dan administrasi pajak dirancang dengan seefisien

mungkin sehingga dapat dengan mudah dipahami hal tersebut untuk

membantu masyarakat dalam proses pemenuhan kewajiban perpajakannya.

1.6.4 Kepatuhan Wajib Pajak

Kepatuhan perpajakan dalam KBBI diartikan dalam sebuah perbuatan atau

perilaku atau mengikuti ajaran atau aturan aturan yang telah ditetapkan , menurut

(Al kautsar 2006), merupakan motivasi sekelompok, individu atau organisasi

melakukan tindakan yang sesuai dengan aturan, dalam hal perpajakan dimana

tingkah laku wajib pajak dalam setiap proses pemenuhan segala keperluan

perpajakannya harus sejalan dengan aturan undang-undangan perpajakan yang


18

sedang berlaku. Wajib pajak dikatakan bertanggung jawab atas pajak jika besaran

pajak yang dilaporkan sesuai dengan faktanya, melaporkan SPT tepat pada

waktunya dan jumlah pajak terutang dibayar.

Kepatuhan pajak (tax compliance) dibagi menjadi dua yakni kepatuhan

formal dan kepatuhan materiil Trihardi Waluyo (2020) :

1. Kepatuhan Formal

Kepatuhan Formal adalah kondisi wajib pajak ketika bertindak dengan

menunjukan upaya untuk memenuhi kewajiban perpajakan secara formal

yaitu hak dan kewajiban berdasarkan peraturan perundang undangan.

2. Kepatuhan Material

Kepatuhan material merupakan situasi wajib pajak secara hakikatnya

untuk mematuhi hal-hal yang terikat dalam aturan substantif yang berkaitan

dengan perpajakan yang didasarkan pada peraturan undang-undang

perpajakan.

Berdasarkan pengertian diatas dapat didefinisikan kepatuhan pajak adalah

suatu uraian tentang tata cara perilaku wajib pajak dalam bertindak untuk

memenuhi, patuh dan menegakan semua kewajiban perpajakan dalam

melaksanakan sepenuhnya hak perpajakan wajib pajak harus berlandaskan dengan

aturan undang – undang perpajakan yang berlaku.


19

1.6.5 Pengetahuan Perpajakan

Pengetahuan perpajakan dalam KBBI diartikan sebagai perihal dalam

sesuatu yang dapat diketahui, kepandaian, atau segala tindakan yang dimengerti

yang berhubungan dengan hal aktivitas pelajaran. Menurut Mardiasmo (2016:7)

Pengetahuan perpajakan didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan

dengan hukum pajak, baik berupa hukum pajak formil maupun materiil yang

dimiliki atau dipahami oleh wajib pajak. Sedangkan menurut Yulianti,

Kurniawan, & Umiyati (2019) Pengetahuan perpajakan adalah kondisi bagi wajib

pajak untuk mengerti atau mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan

peraturan perundang undangan, tata cara perpajakan yang benar seperti proses

pendaftaran, penyampaian dan pelaporan pajak yang di kemudian hari akan

berguna bagi wajib pajak itu dan menurut (Kartikasari & Yadnyana, 2020)

pengetahuan perpajakan merupakan laporan tentang perpajakan yang dijadikan

dasar tindakan bagi wajib pajak untuk melakukan melalui praktek, mengambil

keputusan, dan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan perpajakan seperti

penerapan strategi, tarif, dan kewajiban perpajakan.

Berdasarkan pengertian teori teori diatas dapat dikatakan bahwa

pengetahuan perpajakan adalah dasar pemahaman yang digunakan untuk

mengambil sikap wajib pajak dalam berpola pikir atau memahami atau menilai

tentang ketentuan perpajakan yang selanjutnya akan mempengaruhi sikapnya

dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.


20

1.6.6 Tarif Pajak

Tarif adalah nilai nominal kontribusi pemerintah yang menjadi dasar

penghitungan pembayaran kepada wajib pajak. Tarif pajak ini juga dapat

dinyatakan sebagai takaran yang dapat berupa jumlah nominal pajak yang harus

dibayar oleh orang atau badan yang bersangkutan (www.pajakku.com) dan

menurut Afifah & Hasym (2020), tarif pajak merupakan persentase yang

diterapkan di indonesia yang kemudian digunakan dalam menghitung besaran

pajak yang harus dibayarkan dan dalam penerapan pajak tersebut berlandaskan

asas keadilan dimana asas keadilan tersebut menjadi prinsip dalam

pelaksanaannya untuk menciptakan sebuah keseimbangan. Sedangkan menurut

Mardiasmo (2018:11) menjelaskan bahwa terdapat empat kategori tarif pajak,

adalah:

1. Tarif Sebanding/ Proporsional

Merupakan tarif yang biaya dibayarkan dengan tarif tetap terlepas dari

jumlah pajak, dan jumlah pajak yang harus dibayar sebanding dengan jumlah

kena pajak.

2. Tarif Tetap

Tarif pajak tetap merupakan jumlah pajak ditentukan dengan tarif

pajak tetap yaitu tarif pajak yang sama terlepas dari jumlah kena pajak.

3. Tarif Progresif

Tarif dalam bentuk persentase yang meningkat seiring dengan

meningkatnya jumlah kena pajak. Tarif dibagi menjadi tiga jenis: tarif

progresif, tarif progresif tetap, dan tarif progresif.


21

4. Tarif Degresif

Persentase bahwa semakin tinggi jumlah kena pajak, semakin kecil

persentasenya.

Berdasarkan pengertian diatas dapat didefinisikan tarif pajak adalah Dasar

pengenaan pajak didasarkan pada hal-hal yang nilai kena pajaknya ditentukan

oleh pemerintah dalam bentuk persentase dan dibagi menjadi empat bentuk:

proporsional, tetap, progresif dan degresif.

1.6.7 Sanksi Pajak

Sanksi Perpajakan didefinisikan sebagai pengamanan yang bertujuan

untuk memastikan bahwa aturan penerapan perundang-undang perpajakan (norma

perpajakan) akan dihormati/dipatuhi/ ditaati. Disisi lain bahwa penerapan sanksi

perpajakan menjadikan (preventif) atau alat pencegah yang membuat wajib pajak

tidak melakukan pelanggaran ketentuan perpajakan menurut Mardiasmo

(2018:62). Sedangkan menurut (Mandowally, et, al., 2020) sanksi perpajakan

dijadikan sebuah jaminan bahwa pada aturan perpajakan akan dihormati, diikuti

dan dipatuhi oleh wajib pajak, dengan maksud bahwa saksi di dalam sistem

perpajakan dapat dijadikan pencegahan wajib pajak untuk tidak melangar

ketentuan perpajakan yang berlaku. Sanksi adalah suatu perbuatan yang berupa

suatu hukuman tertentu bagi mereka yang melanggar aturan, regulasi, atau hukum.

Sanksi merupakan tonggak sejarah yang harus dibuat oleh setiap orang tentang

apa yang yang menjadikan orang tersebut bertindak.


22

Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum

Perpajakan (UU KUP), terdapat dua kategori sanksi perpajakan yang terdiri dari

sanksi administrasi dan sanksi pidana. Sanksi administrasi diperlukan untuk

membayar kurang bayar pajak berupa bunga atau denda pajak, sedangkan sanksi

pidana menjadi tindakan atau ketentuan terakhir yang digunakan pemerintah

untuk wajib pajak supaya menaati peraturan perpajakan.

Berdasarkan pengertian diatas dapat didefinisikan sanksi adalah peraturan

yang dibuat untuk membuat wajib pajak menjadi patuh terhadap peraturan

perundang undangan dan apabila melanggar akan dikenakan berupa sanksi

administrasi berupa bunga atau kenaikan jumlah pajak dan alat terakhir yang

dilakukan pemerintah yaitu sanksi pidana.

1.7 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Variabel Hasil


(Tahun) Penelitian
1. Nevy Istra Pengaruh Self Variabel Self assessment
Azhar Nisrina, Assessment Dependen : system
Hendratno System, Kepatuhan berpengaruh
(2021) Pengetahuan Wajib Pajak signifikan,
Perpajakan, dan Orang Pribadi pengetahuan
Sanksi Perpajakan Variabel perpajakan
Terhadap Independen : berpengaruh
Kepatuhan Self Assessment signifikan,
Membayar Pajak System, sanksi
Pengetahuan berpengaruh
Perpajakan, dan signifikan dan
Sanksi Pajak. self assessment
23

No Peneliti Judul Variabel Hasil


(Tahun) Penelitian
system,
pengetahuan
pajak, sanksi
memiliki
pengaruh secara
simultan dan
signifikan
terhadap
kepatuhan
membayar pajak.

2. Juliani Pengaruh Variabel Berdasarkan


Simanjutak Pengetahuan Dependen : pengujian uji
dan Remista Perpajakan dan Kepatuhan statistic
Simbolon Kesadaran Wajib Wajib Pajak menunjukan
(2022) Pajak Terhadap Orang Pribadi hipotesis
kepatuhan Wajib Variabel pengetahuan dan
Pajak Orang Independen : kesadaran wajib
Pribadi Pengetahuan pajak memiliki
Perpajakan dan pengaruh
Kesadaran terhadap
Wajib Pajak kepatuhan.
Orang Pribadi.
3. Nahdah Fistra Pengaruh Variabel Berdasarkan
Karnedi dan Kesadaran Dependen : hasil uji statistik
Amir perpajakan, sanksi Kepatuhan menunjukan
Hidayatulloh pajak dan tax Wajib Pajak bahwa hipotesis
(2019) amnesty terhadap Orang Pribadi mengenai tax
kepatuhan wajib Variabel amnesty dan
pajak orang Independen : sanksi pajak
pribadi kesadaran terhadap
perpajakan, kepatuhan pajak
sanksi pajak dan berpengaruh,
tax amnesty. namun kesadaran
perpajakan tidak
memiliki
Pengaruh.
4. Fenny Noor Pengaruh Kualitas Variabel Berdasarkan
Salam dan Dea Pelayanan, Tarif Dependen : hasil uji statsitik
Amalia Lestari Pajak dan Sanksi Kepatuhan menunjukan
(2022) Pajak Terhadap Wajib Pajak bahwa hipotesis
Kepatuhan Wajib Orang Pribadi mengenai
Pajak Orang Variable kualitas
Pribadi pada KPP Independen : pelayanan,
24

No Peneliti Judul Variabel Hasil


(Tahun) Penelitian
Pratama Bandung Pengaruh sanksi pajak dan
Cicadas Kualitas tarif pajak
Pelayanan, Tarif berpengaruh
Pajak dan terhadap
Sanksi Pajak. kepatuhan wajib
pajak orang
pribadi.
5. Kadek Adelia Pengaruh Sanksi Variabel Berdasarkan uji
Santi, Ni Putu Pajak, Sistem Dependen : statistik
Yuria Mendra Administrasi Kepatuhan administrasi
dan Putu Perpajakan Wajib Pajak perpajakan, tarif
Weny Saitri Modern, Kualitas Orang Pribadi pajak, kualitas
(2022) Pelayanan Fiskus, Variabel pelayanan,
Tarif Pajak dan Independen : pemeriksaan
Pemeriksaan Sanksi Pajak, berpengaruh
Pajak Terhadap Sistem positif terhadap
Tingkat Administrasi kepatuhan wajib
Kepatuhan Wajib Perpajakan pajak, namun
Pajak Orang Modern, sanksi pajak
Pribadi Kualitas tidak
Pelayanan berpengaruh.
Fiskus, Tarif
Pajak dan
Pemeriksaan
Pajak.
6. Dian Lestari Pengaruh Variabel Berdasarkan uji
Siregar ( 2017) Kesadaran Wajib Dependen : statistik
Pajak Dan Sanksi Kepatuhan menunjukan
Pajak Terhadap Wajib Pajak bahwa hipotesis
Kepatuhan Wajib Variabel mengenai
Pajak Orang Independen : kesadaran wajib
Pribadi Pada Kesadaran pajak dan sanksi
Kantor Pelayanan Wajib Pajak dan pajak
Pajak Pratama Sanksi Pajak. berpengaruh
Batam secara signifikan
terhadap
kepatuhan wajib
pajak dan
kesadaran wajib
pajak dan sanksi
pajak
berpengaruh
secara simultan
terhadap
25

No Peneliti Judul Variabel Hasil


(Tahun) Penelitian
kepatuhan
membayar pajak.
7. Nelsi Arisandy Pengaruh Variabel Berdasarkan
(2017) Pemahaman Dependen : hasil analisis
Wajib Pajak, Kepatuhan Kesadaran Wajib
Kesadaran Wajib Wajib Pajak Pajak
Pajak dan Sanksi Orang Pribadi memiliki
Pajak Terhadap Variabel pengaruh
Kepatuhan Wajib Independen : signifikan
Pajak Orang Pemahaman terhadap
Pribadi Yang Wajib Pajak, Kepatuhan
Melakukan Kesadaran Wajib Pajak
Kegiatan Bisnis Wajib Pajak dan namun
Online di Sanksi Pajak. pemahaman
Pekanbaru Wajib
Pajak tidak
berpengaruh
terhadap
Kepatuhan
Wajib Pajak
yang
menjalankan
bisnis online.
26

1.8 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan hasil dari tinjauan latar belakang yang diuraikan sebelumnya,

rumusan masalah yang dikemukakan, landasan teori yang mendukung hipotesis

penelitian ini dan pemaparan penelitian terdahulu. Maka penelitian ini bermaksud

untuk melakukan analisis pengaruh pengetahuan, tarif pajak dan sanksi pajak

terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi, untuk mendukung analisis tersebut

maka dapat digambarkan kerangka pemikiran penelitian sebagai berikut:

Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran

Pengetahuan Pajak
(X1)

Tarif Pajak Kepatuhan Wajib


(X2) Pajak Orang Pribadi
(Y)

Sanksi Pajak
(X3)

1.9 Hipotesis

Hipotesis merupakan sebuah jawaban awal atau pendahuluan terhadap

rumusan pertanyaan penelitian, dan model penelitian dikembangkan dalam bentuk

kuesioner yang terstruktur. Dikatakan lebih awal atau tentatif karena jawaban

yang ditunjukan peneliti ini masih berdasarkan teori, sedangkan hipotesis


27

penelitian ini masih berkembang dengan cara berpikir yang mengisyaratkan

bahwa jawaban tersebut merupakan pendahuluan dari permasalahan yang telah

dibuat.

1.9.1 Pengaruh Pengetahuan Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib

Pajak Orang Pribadi

Wajib pajak orang pribadi yang mempunyai tingkat pengetahuan dalam

bidang perpajakan tentunya akan menjadi lebih patuh dalam setiap pemenuhan

kewajiban dan hak perpajakan tanpa ada paksaan. Pengetahuan perpajakan ini

dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian diantaranya peraturan mengenai

pengetahuan tentang sistem perpajakan, undang - undang perpajakan yang

berlaku, serta pengetahuan tentang fungsi perpajakan di Indonesia. Dengan adanya

pengetahuan perpajakan akan memudahkan wajib pajak dalam menjalankan

pemenuhan kewajiban perpajakannya. Hal ini dapat diartikan semakin paham

akan pengetahuan wajib pajak maka akan meningkatkan tingkat kepatuhannya

juga semakin tinggi karena wajib pajak memahami pentingnya peran dan

kegunaan pajak dalam kesejahteraan masyarakat.

Hasil penelitian yang telah dilakukan Dian Lestari Siregar (2017)

menyatakan bahwa pengetahuan perpajakan memiliki pengaruh positif terhadap

kepatuhan wajib pajak penelitian ini juga didukung dengan Nevy & Hendrato

(2021) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif pengetahuan


28

perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak, maka berdasarkan penjelasan tersebut

dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:

H1 : Pengetahuan Perpajakan Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Wajib

Pajak Orang Pribadi

1.9.2 Pengaruh Tarif Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang

Pribadi

Dengan adanya perubahan pembaharuan lapisan pajak penghasilan sesuai

dengan peraturan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi

Peraturan Perpajakan (HPP). Ketentuan penambahan lapisan pajak penghasilan

diatur dalam pasal 17 ayat (1). Diharapkan dengan perubahan pembaharuan

pengenaan tarif pajak diharapkan menjadi lebih adil di masyarakat dan bisa

meningkatkan kepatuhan perpajakan.

Berdasarkan penelitian dari Fenny Noor Salam dan Dea Amalia Lestari

(2022) tarif pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak, penelitian tersebut

juga didukung dengan Noviyanti dkk (2020) bahwa tarif pajak memiliki pengaruh

positif terhadap kepatuhan wajib pajak, maka berdasarkan penjelasan diatas dapat

ditarik sebuah hipotesis sebagai berikut:

H2 : Tarif Pajak Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang

Pribadi
29

1.9.3 Pengaruh Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang

Pribadi

Sanksi di bidang perpajakan merupakan sebuah kepastian terhadap

ketentuan hukum di dalam perundang perundangan yang nantinya akan

dilaksanakan, dengan kata lain bahwa sanksi perpajakan akan menjadi alat

pencegah wajib pajak untuk melakukan pelanggaran peraturan di bidang

perpajakan Mardiasmo (2018:16). Hal ini diharapkan semakin tegas penerapan

sanksi perpajakan yang dikenakan kepada wajib pajak yang melakukan

pelanggaran, maka tingkat kepatuhan wajib pajaknya akan semakin meningkat,

begitu pula sebaliknya kepatuhan perpajakan dapat menurun jika sanksi

perpajakannya kurang tegas.

Berdasarkan penelitian dari Dian Lestari Siregar ( 2017) sanksi perpajakan

memiliki pengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak, penelitian ini

didukung dengan peneliti lain Nelsi Arisandy (2017) dan Nevy (2022) sanksi

perpajakan berpengaruh positif dan secara signifikan terhadap kepatuhan wajib

pajak, maka berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik sebuah hipotesis sebagai

berikut:

H3 : Sanksi Pajak Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang

Pribadi
30
BAB III

METODE PENELITIAN

1.10 Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan penelitian ini adalah metode kuantitatif

yang secara efektif dan sistematis untuk memperoleh pengetahuan atau

memecahkan sebuah masalah dengan melakukan proses pengumpulan data berupa

rangkaian atau kumpulan angka. Peneliti menggunakan metode penelitian ini

untuk menentukan hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti dengan

menarik kesimpulan yang menjelaskan deskripsi objek penelitian, survei dapat

diartikan sebagai proses untuk melakukan penelitian dengan menggunakan survei

yang dikirim peneliti kepada responden survei. Data yang telah dikumpulkan

dari survei kemudian dilakukan analisis secara statistik untuk mendapatkan

kesimpulan penelitian. (Lp2m.Uma 2021), metode ini membutuhkan

pembentukan koneksi atau hubungan antara responden dengan peneliti. Survei

adalah metode untuk menghimpun data dengan membuat pertanyaan secara lisan

dan tertulis.

1.11 Definisi Operasional Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari atas variabel

Independen (X) dan variabel dependen (Y). Variabel independen merupakan

variabel yang memiliki pengaruh atau menyebabkan terjadinya perubahan pada

31
32

variabel dependen. Dalam Penelitian ini variabel independen yang digunakan

dalam penelitian ini adalah Pengetahuan Perpajakan (X1), Tarif Pajak (X2),

Sanksi Perpajakan (X3). Variabel dependen merupakan sebagai variabel yang

dapat dipengaruhi oleh hasil dari tindakan variabel independen, variabel

dependen dalam penelitian ini adalah Kepatuhan Wajib Pajak (Y).

Tabel 2.2
Definisi Operasional Variabel

Variable Definisi Indikator


Kepatuhan Kepatuhan pajak diartikan  Mendaftarkan sebagai
Wajib Pajak sebagai suatu uraian tentang wajib pajak.
(Y) tata cara perilaku wajib pajak  Mengisi dan melaporkan
dalam bertindak untuk proses SPT tepat waktu.
memenuhi, patuh dan  Menghitung dan
menegakan semua kewajiban membayaran pajak
perpajakan dalam terutang.
melaksanakan sepenuhnya hak  Tidak melakukan
perpajakan wajib pajak tunggakan pajak.
berdasarkan aturan perpajakan  Patuhan dalam setiap
yang sedang berlaku. membayar pajak.
Pengetahuan Pengetahuan perpajakan  Mengetahui fungsi dan
Perpajakan merupakan sikap atau tindakan manfaat pajak.
(X1) wajib pajak dalam bersikap  Memahami mengenai
untuk memahami atau menilai prosedur pembayaran dan
tentang wajib pajak terhadap pelaporan pajak.
ketentuan perpajakan yang  Memahami mengenai
selanjutnya akan berpengaruh berlakunya peraturan
terhadap sikap wajib pajak perpajakan.
tersebut dalam pemenuhan  Prosedur
kewajiban perpajakannya. penghitungan dan
pelaporan pajak yang harus
dibayar.
Tarif Pajak Tarif pajak adalah besaran  Memahami
(X2) jumlah yang dikenakan kepada peraturan
wajib pajak pajak didasarkan Undang-Undang
pada hal-hal yang nilai kena Perpajakan yang berlaku
pajaknya ditentukan oleh mengenai tarif PPh.
pemerintah dalam bentuk  Memahami dengan baik
persentase dan dibagi menjadi prosedur pemotongan PPh
33

Variable Definisi Indikator


empat bentuk: proporsional, yang berlaku di Indonesia
tetap, progresif dan degresif.  Memahami tata cara
pemotongan PPh yang
dilaksanakan di Indonesia.
 Memahami bahwa tarif
pajak telah sesuai dengan
pendapatan wajib pajak.
Sanksi Sanksi adalah peraturan yang  Sanksi diperlukan untuk
Pajak (X3) dibuat untuk membuat wajib menjaga kedisiplinan Wajib
pajak menjadi patuh terhadap Pajak.
peraturan perundang undangan  Pelanggaran terhadap
dan apabila melanggar akan sanksi pajak akan
dikenakan berupa sanksi mendapatkan hukuman
administrasi berupa bunga atau sesuai hukum yang berlaku.
kenaikan jumlah pajak dan alat  Penerapan sanksi harus
terakhir yang dilakukan mengikuti aturan atau
pemerintah yaitu sanksi regulasi perundang
pidana. undangan yang berlaku.
 Memahami besaran sanksi
baik berupa besaran sanksi
administrasi dan bunga
yang berlaku di Indonesia.

1.12 Populasi dan Sampel

1.12.1 Populasi

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wajib pajak orang

pribadi berstatus aktif dan terdaftar di KPP Pratama Demak, dengan jumah wajib

pajak orang pribadi yang terdaftar dan berstatus aktif adalah 32.243 Wajib pajak.

1.12.2 Sampel

Sampel merupakan perwakilan dari sebagian jumlah kecil yang memiliki

karakteristik yang mewakili populasi tersebut ataupun sebagian kecil dari populasi
34

yang untuk mewakili populasi yang hendak diteliti dengan menggunakan prosedur

tertentu. Dalam penelitian ini sampel yang akan diteliti menggunakan metode

probability sampling dengan persamaan rumus dari Slovin.

Adapun tata cara penggunaan rumus Slovin adalah sebagai berikut:

Rumus Slovin n = N/(1+N.e2)

Dimana :

n = Ukuran Sampel

N = Ukuran Populasi

e = Error Tolerance

Perhitungan : n = 32.243 / (1+ 32.243 (0, 1) 2 )

n = 99, 69081

n = 100 (Dibulatkan)

Perhitungan persamaan Slovin menunjukkan bahwa jumlah sampel dalam

penelitian ini adalah 100 responden wajib pajak yang akan diteliti. Teknik

pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random

sampling. Simple random sampling adalah metode di mana sampel acak diambil

dari seluruh populasi.

1.13 Data Penelitian

1.13.1 Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, karena sumber datanya

yang digunakan adalah menggunakan data primer. Data primer adalah data yang
35

didapatkan atau diperoleh secara langsung melalui penyebaran kuesioner,

wawancara atau survei.

1.13.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data untuk penelitian ini didapatkan dengan

menyebarkan kuesioner kepada responden. Responden ditunjuk secara acak

sebagai kontributor individu KPP Pratama Demak. Pemilihan responden secara

acak bertujuan untuk menggeneralisasi penyebaran kuesioner peneliti di antara

peserta KPP Pratama Demak.

Dalam penelitian ini, penerapan metode kuesioner adalah untuk

memperoleh informasi yang terpercaya dan akurat serta memperoleh data survei

yang relevan (karena data yang di peroleh dersumber dari informan langsung dari

wajib pajak). Selanjutnya dari hasil data kuesioner di analisis untuk dapat ditarik

kesimpulan.

Jawaban responden diukur pada skala likert lima angka dimulai dengan:

1. Sangat Setuju (SS) diberi nilai 5

2. Setuju (S) diberi nilai 4

3. Netral (N) diberi nilai 3

4. Tidak Setuju (TS) diberi nilai 2

5. Sangat Tidak Setuju (STS) diberi nilai 1


36

1.14 Analisis Data

1.14.1 Analisis Deskriptif

Data yang membantu memberikan penggambaran, mendemonstrasikan,

atau meringkas poin-poin, rata-rata, nilai maksimum dan minimum serta

perhitungan standar deviasi, sehingga nilai tersebut didapatkan pola-pola yang

kemudian dikembangkan untuk memenuhi semua kondisi kriteria data yang

dianalisis dalam penelitian ini.

1.14.2 Uji Kualitas Data

1.14.2.1 Uji Validitas

Uji validitas adalah instrumen yang diuji dalam penelitian untuk dilakukan

pengukuran apakah sesuatu data itu sah atau tidak sah dalam suatu kuesioner.

Tujuan uji validitas ini untuk menguji apakah kuesioner tersebut dapat dinyatakan

valid dengan syarat bahwa pertanyaan- pertanyaan tersebut dapat mengungkapkan

kevalidan yang diukur dalam kuesioner tersebut. Berdasarkan hal tersebut

pengujian ini akan mengukur apakah pertanyaan yang di buat di dalam kuesioner

peneliti dibuat sudah benar- benar dapat mengindikasi kevalidan yang data yang

diukur.

Uji Validitas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Korelasi Pearson,

dengan menilik tingkat nilai signifikansi pada Korelasi Pearson yang digunakan
37

dalam indikator pengujian ini adalah 0,05. Hasil r hitung dibandingkan dengan r

tabel dengan memperhatikan tingkatan signifikansi 0,05 ,bila pada pengujian r

hitung didapatkan nilai lebih besar dari r tabel maka instrumen yang terdapat

dalam kuesioner dianggap valid dan jika r hitung kurang dari r tabel maka

instrumen pada penelitian dianggap tidak valid.

1.14.2.2 Uji Reliabilitas

Uji ini dilakukan sebagai alat ukur untuk memberitahu tingkat kestabilan

dalam kuesioner, sehingga kuisioner dapat dinyatakan menjadi reliabel apabila

pernyataan dalam kurun waktu stabil atau konsisten terhadap kuesioner.

Reliabilitas adalah konsep untuk mengukur besar derajat tes kuesioner yang

merupakan indikator dalam suatu variabel sehingga dapat menunjukan kekeliruan

dalam proses pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama.

Penelitian ini menggunakan rumus cronbach alpha untuk memberikan

pengukuran hasil yang berkaitan dengan konsep pertanyaan yang menjadi suatu

variabel yang dibentuk dalam kuesioner. Pengukuran reliabilitas dengan melihat:

1. Apabila Cronbach alpha kurang dari 0,6 maka diartikan reabilitas hasil

kuesioner buruk.

2. Apabila Cronbach alpha di antara 0,6 sampai dengan 0,8 maka diartikan

reabilitas hasil kuesioner di terima

3. Dan apabila Cronbach alpha lebih dari 0,8 maka diartikan reabilitas hasil

kuesioner baik.
38

1.14.3 Uji Asumsi Klasik

1.14.3.1 Uji Normalitas

Uji normalitas dirancang dengan menilai data yang digunakan dalam

penelitian dapat berdistribusi dengan normal ataupun sebaliknya dengan menguji

regresi dan variabel pengganggu atau residual yang memiliki distribusi normal.

Peneliti menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov dengan mempertimbangkan

signifikan pada uji normalitas. Pengukuran uji normalitas dengan memperhatikan

ketentuan sebagai berikut:

1. Apabila nilai signifikansi Asymp. 2 tailed lebih dari 0,05, maka data

berdistribusi normal.

2. Dan apabila nilai signifikansi Asymp. 2 tailed kurang dari 0,05, maka data

tidak berdistribusi normal.

1.14.3.2 Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas dengan melihat dimana ada atau tidaknya korelasi

variabel independen antara satu dengan yang lainnya dengan suatu model regresi

linier. Tujuan uji multikolinearitas adalah untuk menguji apakah menemukan

adanya hubungan yang tinggi atau sempurna mengenai pengaruh korelasi antar

variabel independen dengan melihat nilai tolerance dan VIF. Model regresi
39

harusnya menunjukan tidak adanya hubungan antara variabel independen. Dengan

memperhatikan ketentuan sebagai berikut:

1. Apabila nilai VIF kurang dari 10, maka penelitian tersebut tidak terjadi

hubungan antar variabel .

2. Apabila nilai VIF lebih dari 10, maka penelitian tersebut terjadi hubungan

antar variabel.

1.14.3.3 Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas merupakan pengujian yang perlu dilakukan untuk

melihat adanya persamaan dalam regresi berganda dengan memperhatikan

ketidaknyamanan varian lain dari residual pengamatan yang satu dengan

pengamatan yang lain. Heterokedasitas adalah versi yang tidak mempunyai

kesamaan sedangkan versi yang sama disebut dengan homoskedastisitas.

Pengujian dalam penelitian ini memperhatikan tingkat signifikansi harus diatas

0,05 dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Apabila nilai sig lebih besar 0,05 maka dapat disimpulkan tidak terjadi

heteroskedastiditas.

2. Dan apabila nilai sig lebih kecil 0,05 maka dapat disimpulkan terjadi

heteroskedastisitas.

1.15 Pengujian Hipotesis

1.15.1 Uji Regresi Linier Berganda


40

Alat pengujian ini untuk menganalisis hasil hipotesis. Uji Regresi linier

berganda tersebut dikenakan dalam penelitian ini karena terdapat lebih dari satu

variabel Independen. Tujuan uji ini untuk melihat atau mengetahui apakah

terdapat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dan juga untuk

mengetahui nilai variabel dependen ketika nilai variabel independen sudah

diketahui, dalam penelitian ini dengan menggunakan formula model regresi

berganda sebagai berikut:

Y= a +b1X1 + b2X2 + b3X3 + e

Dimana :

Y = Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi

B123 = Koefisien Regresi Dari Variabel Independen

X1 = Pengetahuan Pajak

X2 = Tarif Pajak

X3 = Sanksi Pajak

a = Constant

e = Epsilon

1.15.2 Uji Koefisien Determinasi (R)

Koefisien Determinasi (R²) dimaksudkan menentukan kemampuan

pengaruh yang dapat diberikan variabel bebas atau variabel independen (X)

terhadap variabel terikat atau variabel dependen (Y). Dengan kata lain harus

memperhatikan koefisien pada determinasi apabila R2 semakin besar atau

mendekati angka satu maka pengaruhnya semakin besar atau pun sebaliknya
41

apabila R2 mendekati angka 0 maka pengaruhnya semakin kecil, jadi dapat

disimpulkan bahwa nilai koefisien determinasi berguna untuk memprediksi

besaran pengaruh yang diberikan variabel X secara simultan terhadap variabel Y.

1.15.3 Uji Koefisien Determinasi Uji F

Uji F digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan variabel

dependen dengan pada saat yang bersamaan atau apakah model yang digunakan

konsisten. Penggunaan uji F dapat dilakukan dengan melihat perbandingan antara

nilai F hitung dengan nilai pada F tabel. Hal yang perlu diperhatikan adalah jika

nilai F kurang dari 0,05 dan nilai F hitung lebih besar dari F tabel maka hipotesis

diterima, dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Membandingkan tingkatan signifikan

a. H0 : Apabila nilai dalam probabilitas lebih dari 0,05 maka variabel bebas

(X) secara simultan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap

terikat.

b. Ha : Apabila nilai dalam probabilitas kurang dari 0,05 Variabel bebas (X)

secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Y).

2. Membandingkan nilai F hitung dengan F tabel

a. Apabila nilai F hitung kurang dari F tabel dan nilai Sig. Lebih dari 0,05,

maka H0 diterima dan H1 ditolak.

b. Apabila nilai F hitung lebih dari F tabel dan nilai Sig. Kurang dari 0,05,

maka H0 ditolak dan H1 diterima.


42

1.15.4 Uji T (t-test)

Uji t dilakukan sebagai salah satu uji hipotesis untuk menguji terdapat

pengaruh dalam persamaan regresi parsial terdapat pengaruh signifikan antara

variabel independen terhadap variabel dependen. Untuk menguji Uji t diperlukan

keakuratan koefisien regresi dan untuk menentukan apakah hasil regresi

signifikan. Untuk mengetahui pengaruh tingkat signifikan variabel independen

terhadap variabel dependen diuji pada taraf signifikansi β = 0,05. Berikut dasar

dalam ketentuan uji t adalah :

1. Jika tingkat signifikansi kurang dari β = 0, 05 maka terdapat bukti pengaruh

yang cukup untuk menerima hipotesis H1 .

2. Jika tingkat signifikansi lebih dari β = 0, 05 maka terdapat bukti yang tidak

cukup sehingga tidak terdapat pengaruh antara variabel independen dengan

dependen.
BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

1.16 Deskripsi Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah wajib pajak orang pribadi yang terdaftar

dan aktif pada KPP Pratama Demak yang menjadi responden, teknik pengambilan

data dengan menggunakan simple random sampling dimana sampel tersebut

disebarluaskan dengan cara mendatangi wajib pajak secara langsung dengan

menyebarkan kuesioner secara acak pada KPP Pratama Demak. Hasil dari proses

penyebaran kuesioner tersebut sampel yang dipilih sebanyak 100 responden yang

kemudian data dalam kuesioner tersebut akan diolah untuk dilakukan analisis dan

pengujian hipotesisi.

Pada tabel 4.1 distribusi sampel yang menjadi responden dalam penelitian

ini :

Tabel 4.1
Distribusi Sampel

Keterangan Jumlah Persentase


Kuesioner Yang Disebar 100 100%
Kuesioner Yang Tidak Diisi 0 0%
Kuesioner Yang Digunakan 100 100%
Sumber: Data Primer Diolah 2023

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan distribusi sampel pada kuesioner yang

disebarkan sejumlah 100 dapat terisi secara lengkap oleh para responden. Berikut

ini merupakan klasifikasi data responden yang bertujuan untuk mengetahui latar

43
44

belakang dari responden, klasifikasi responden ini disajikan berdasarkan

klasifikasi jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir dan pekerjaan. Hasil data yang

telah diperoleh peneliti adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2
Klasifikasi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi (Orang) Persentase (%)


Laki-Laki 49 49%
Perempuan 51 51%
Total Responden 100 100%
Sumber: Data Primer Diolah 2023

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukan bahwa responden pada penelitian ini

sebanyak 49 orang atau 49% berjenis kelamin laki – laki, sedangkan responden

perempuan berjumlah 51 orang atau 51%. Sehingga dapat disimpulkan sebagian

besar responden dalam penelitian ini adalah berjenis kelamin perempuan.

Pada tabel 4.3 menunjukan data tentang umur dari keseluruhan responden

yang diteliti pada penelitian ini:

Tabel 4.3
Klasifikasi Responden Berdasarkan Umur

Persentase
No Usia frekuensi(Orang)
(%)
1. 18-24 Tahun 35 35
2. 25-31 Tahun 25 25
3. 32-40 Tahun 17 17
4. 41-55 Tahun 23 23
Total Responden 100 100
Sumber: Data Primer Diolah 2023

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukan responden yang berusia antara 18-24

adalah berjumlah 35 orang atau 35%, responden yang berusia antara 25-31
45

berjumlah 25 orang atau 25%, responden yang berusia antara 32-40 berjumlah 17

orang atau 25% , responden yang berusia antara 41-55 berjumlah 23 orang atau

23. Sehingga disimpulkan sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah

berusia antara 18-24 tahun.

Pada tabel 4.4 menunjukan tentang pendidikan dari keseluruhan responden

yang diteliti pada penelitian ini:

Tabel 4.4
Klasifikasi Responden Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan Frekuensi
No Persentase (%)
Terakhir (Orang)
1 SMA/SMK 28 28
2 Sarjana 72 72
Total Responden 100 100
Sumber: Data Primer Diolah 2023

Berdasarkan tabel 4.4 menunjukan responden yang memiliki jenjang

pendidikan terakhir SMA/SMK sebanyak 28 orang atau 28%, sedangkan

responden yang memiliki jenjang terakhir Sarjana sebanyak 72 orang atau 72%.

Sehingga dapat disimpulkan sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah

berjenjang pendidikan terakhir Sarjana.

Pada tabel 4.5 menunjukan tentang pekerjaan dari keseluruhan responden

yang di teliti pada penelitian ini:

Tabel 4.5
Klasifikasi Responden Berdasarkan Pekerjaan

No Pekerjaan Frekuensi (Orang) Persentase (%)


1 PNS 29 29 %
2 Swasta 27 27 %
3 Wirausaha 11 11 %
4 Lain Lain 33 33 %
46

Total Responden 100 100 %


Sumber: Data Primer Diolah 2023
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan responden dengan pekerjaan PNS

sebesar 29 orang atau 29%, Swasta 27 orang atau 27%, Wirausaha 11 orang atau

11%, Lain – lain 33 orang atau 33% . Sehingga dapat disimpulkan sebagian besar

responden dalam penelitian ini adalah memiliki pekerjaan selain PNS, swasta dan

wirausaha.

1.17 Uji Analisis Data

Analisis data diperlukan untuk mengungkap hasil analisis pengujian data

dan dilakukan pembahasan oleh peneliti untuk mengetahui adanya pengaruh

pengetahuan, tarif dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak pada KPP

Pratama Demak. Adapun uji yang dilakukan oleh peneliti yaitu uji Statistik, uji

validitas, uji reliabilitas, uji koefisien determinasi (Adjusted R Square), uji linier

berganda, dan uji koefisien korelasi adalah beberapa pendekatan analisis data

yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah Program SPSS versi 26

digunakan sebagai alat uji statistik.

1.17.1 Hasil Uji Analisis Deskriptif

Berikut ini merupakan hasil dari tabel yang berisi mengenai statistik

deskriptif dari variabel dependen kepatuhan wajib pajak dan variabel independen

pengetahuan wajib pajak, tarif dan sanksi yang bertujuan untuk memberikan
47

gambaran statistik dari setiap variabel. Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada

tabel 4.6 di bawah ini:

Tabel 4.6
Hasil Uji Statistik Deskriptif Variabel Penelitian

N Minimum Maximum Mean Std.


Deviation
Kepatuhan Wajib 100 24 40 35,5 3,902
Pajak
Pengetahuan Wajib 100 28 45 39,89 4,552
Pajak
Tarif Pajak 100 24 40 34,57 4,497
Sanksi Pajak 100 26 40 34,2 3,869
Valid N 100
Sumber: Data Primer Diolah 2023

Berdasarkan hasil pengujian yang dapat dilihat pada tabel 4.6 diatas

disimpulkan bahwa:

1. Variabel Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi menunjukan dari 100 data

responden yang telah dianalisis terdapat nilai minimum sebesar 24, nilai

maksimum sebesar 40, mean 35,5 dan standar deviasi sebesar 3,902.

2. Variabel Pengetahuan Wajib Pajak Orang Pribadi menunjukan dari 100

responden yang telah dianalisis terdapat nilai minimum sebesar 28, nilai

maksimum sebesar 45, mean sebesar 39,89 dan standar deviasi sebesar

4,552.

3. Variabel Tarif Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi menunjukan dari 100

responden yang telah dianalisis terdapat nilai minimum sebesar 24, nilai
48

maksimum sebesar 40,nilai mean sebesar 34,57 serta standar Deviasi

sebesar 4,497.

4. Variabel Sanksi Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi menunjukan dari 100

responden yang telah dianalisis terdapat nilai minimum sebesar 24, nilai

maksimum sebesar 40, nilai mean sebesar 34,20 serta standar Deviasi

sebesar 3,869.

Berdasarkan tabel 4.5 di atas dapat disimpulkan bahwa dari 100 data hasil

penelitian, nilai minimum yang tertinggi berada pada variabel pengetahuan wajib

pajak yaitu sebesar 28, sedangkan nilai maksimum yang tertinggi berada pada

variabel pengetahuan wajib pajak yaitu sebesar 45, sedangkan nilai rata rata

tertinggi berada pada variabel pengetahuan wajib pajak yaitu sebesar 39,89 dan

nilai standar deviasi tertinggi berada pada variabel sanksi pajak yaitu sebesar

4,497.

1.18 Hasil Uji Kualitas Data

1.18.1 Uji Validitas

Pengujian ini digunakan dalam peneliti untuk menguji bahwa setiap butir

pertanyaan itu valid. Pertanyaan dalam tiap butir dapat dikatakan valid apabila

telah memenuhi syarat pada nilai r hitung harus mempunyai angka atau nilai yang

< dari r tabel atau dapat melihat pada nilai signifikansi 0,05, dengan

memperhatikan rumus sesuai dengan responden yang diteliti yaitu kebebasan

(Degree of freedom) dalam penelitian ini df = n -2 dengan asumsi n (jumlah


49

sampel yang diteliti) = 100 responden, jadi df = 100 – 2 = 98 dengan sig 0,05

(5%). Maka didapatkan nilai r tabel sebesar 0,1966. Berikut merupakan hasil

penelitian uji validitas dapat dilihat pada tabel 4.7 :

Tabel 4.7
Hasil Uji Validitas

Variabel Item Pertanyaan r Hitung r Tabel Keterangan


Y1 0,678 0,1966 Valid
Y2 0,811 0,1966 Valid
Y3 0,758 0,1966 Valid
Kepatuhan Y4 0,815 0,1966 Valid
Wajib Pajak Y5 0,824 0,1966 Valid
Y6 0,865 0,1966 Valid
Y7 0,787 0,1966 Valid
Y8 0,614 0,1966 Valid
X1.1 0,721 0,1966 Valid
X1.2 0,850 0,1966 Valid
X1.3 0,798 0,1966 Valid
X1.4 0,824 0,1966 Valid
Pengetahuan
X1.5 0,824 0,1966 Valid
Wajib Pajak
X1.6 0,780 0,1966 Valid
X1.7 0,778 0,1966 Valid
X1.8 0,731 0,1966 Valid
X1.9 0,395 0,1966 Valid
X2.1 0,708 0,1966 Valid
X2.2 0,798 0,1966 Valid
X2.3 0,851 0,1966 Valid
X2.4 0,851 0,1966 Valid
Tarif Pajak
X2.5 0,791 0,1966 Valid
X2.6 0,788 0,1966 Valid
X2.7 0,746 0,1966 Valid
X2.8 0,463 0,1966 Valid
X3.1 0,689 0,1966 Valid
X3.2 0,795 0,1966 Valid
X3.3 0,801 0,1966 Valid
Sanksi X3.4 0,830 0,1966 Valid
Pajak X3.5 0,763 0,1966 Valid
X3.6 0,721 0,1966 Valid
X3.7 0,706 0,1966 Valid
X3.8 0,513 0,1966 Valid
Sumber: Data Primer Diolah 2023
50

Berdasarkan tabel 4.7 diatas memperlihatkan hasil pada setiap butir

pertanyaan memiliki nilai r hitung > r tabel. Hal ini dapat menjelaskan bahwa

data yang diperoleh dari penelitian ini dapat dinyatakan telah valid dan dapat

digunakan untuk pengujian data lebih lanjut.

1.18.2 Uji Reliabilitas

Pengujian data ini diperlukan untuk menentukan konsistensi atau

kestabilan responden dalam menjawab pertanyaan survei. Pengujian ini

menggunakan Cronbach’s Alpha untuk mengetahui bahwa koefisien di dalam

kehandalan reliabilitas skornya sama atau lebih besar dari 0,60. Berikut ini adalah

hasil pengujian reliabilitas dalam penelitian ini:

Tabel 4.8
Hasil Uji Validitas Reabilitas

Cronbach's Alpha Keterangan


Kepatuhan Wajib Pajak .898 Reliabel
Pengetahuan Wajib Pajak .902 Reliabel
Sanksi Pajak .893 Reliabel
Tarif Pajak .876 Reliabel
Sumber: Data Primer Diolah 2023

Berdasarkan tabel 4.8 diatas memperlihatkan hasil semua nilai Cronbach’s

Alpha lebih besar dari 0,60, sehingga pengujian ini dapat disimpulkan bahwa

setiap instrumen variabel pada kuesioner menunjukan konsistensi atau reliable dan

dapat dinyatakan sebagai instrumen penelitian.


51

1.19 Hasil Uji Asumsi Klasik

1.19.1 Uji Normalitas

Pengujian ini difungsikan dalam regresi sebagai pengujian variabel dapat

terdistribusi secara normal. Dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov

peneliti dapat melihat nilai signifikan yang menjadikan data tersebut lolos uji

normalitas. Hal ini perlu mengamati hasil uji nilai signifikansi Asymp. 2 tailed

yang dihasilkan harus memiliki nilai lebih besar dari 0,05 data tersebut

dinyatakan lolos dari uji normalitas atau dapat berdistribusi dengan normal.

Sebaliknya apabila angka signifikansi Asymp. 2 tailed dalam penelitian kurang

dari 05, maka data tersebut tidak lolos uji normalitas atau tidak dapat

berdistribusi dengan normal. Berikut ini adalah hasil uji normalitas:

Tabel 4.9
Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Unstandardized
Residual
N 100
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation 2.67194411
Most Extreme Differences Absolute .077
Positive .075
Negative -.077
Test Statistic .077
Asymp. Sig. (2-tailed) .150c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
Sumber: Data Primer Diolah 2023

Berdasarkan tabel 4.9 diatas memperlihatkan bahwa data dapat

berdistribusi dengan normal, hal ini dapat dibuktikan dengan pengujian nilai
52

Kolmogorov-smirnov dengan memperhatikan nilai signifikansi Asymp. 2 tailed

adalah 0,150 atau lebih besar dari nilai signifikansi Asymp. 2 tailed 0,05. Maka

dapat disimpulkan bahwa data yang diamati memiliki telah lolos dari uji

normalitas karena dapat distribusi dengan normal.

1.19.2 Uji Multikolinearitas

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat temuan

hubungan yang signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen

dalam model regresi, dalam pengujian ini diharuskan tidak mengandung korelasi

antara variabel Independen dengan melihat pada nilai tolerance dan Variance

Inflation Factor (VIF). Apabila dalam proses pengujian data terdapat nilai nilai

Variance Inflation Factor (VIF) lebih kecil dari nilai 10 tidak mengandung

multikolinieritas dan apabila dalam pengujian terdapat nilai Tolerance lebih besar

0,1 maka dapat dinyatakan tidak mengandung multikolinearitas. Berikut ini

adalah hasil uji multikolinearitas:

Tabel 4.10
Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa
Unstandardized Standardized Collinearity
Coefficients Coefficients Statistics
Std.
Model B Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 4.603 3.150 1.461 .147
Pengetahuan .179 .099 .171 1.803 .074 .543 1.841
Wajib Pajak
Tarif Pajak .410 .103 .401 3.971 .000 .480 2.085
Sanksi Pajak .263 .106 .254 2.496 .014 .472 2.120
53

a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak


Sumber: Data Primer Diolah 2023

Berdasarkan tabel 4.10 diatas menunjukan bahwa variabel independen

yang telah diteliti didapatkan nilai tolerance lebih besar dari nilai 0,1 dan VIF

kurang dari nilai 10. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan variabel

independen dalam model regresi ini tidak mengandung multikolineritas, dan

model regresi dalam penelitian ini dapat digunakan.

1.19.3 Uji Heteroskedastisitas

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atau cara memprediksi ada atau

tidaknya heteroskedastisitas dengan melakukan pengujian glejser. Dalam hal ini

perlu untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hubungan variance residual

suatu analisis dengan analisis lainnya dalam suatu model regresi. Penelitian ini

menggunakan Uji Glejser untuk regresi nilai absolut residual dari variabel

dependen terhadap variabel independen, dengan memperhatikan keputusan dalam

mempengaruhi nilai sig dari variabel independen yaitu di atas 0,05 maka data

tersebut dapat dinyatakan terhindar dari gejala heteroskedastisitas. Berikut ini

adalah hasil uji heteroskedastisitas:

Tabel 4.11
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Standardize
Unstandardized d
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 5.047 2.007 2.515 .014
54

Pengetahuan Wajib .097 .063 .204 1.540 .127


Pajak
Tarif Pajak -.076 .066 -.163 -1.161 .248
Sanksi Pajak -.126 .067 -.265 -1.869 .065
a. Dependent Variable: Abs_RES
Sumber: Data Primer Diolah 2023

Berdasarkan tabel 4.11 di atas setelah melakukan pengujian data melalui

uji glejser secara statistik menunjukkan bahwa nilai signifikansi dalam penelitian

ini lebih dari 0,05. Sehingga disimpulkan bahwa penelitian model regresi tidak

ada heteroskedastisitas atau varians antara residual pengamatan satu ke

pengamatan yang lain.

1.20 Hasil Uji Hipotesis

1.20.1 Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Analisis regresi berganda dalam difungsikan untuk melihat apakah

variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen, regresi berganda

digunakan karena melibatkan minimal dua variabel independen. Berikut ini adalah

hasil pengujian regresi linier berganda adalah:

Tabel 4.12
Hasil Uji Regresi Berganda
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Std.
Model B Error Beta t Sig.
1 (Constant) 4.603 3.150 1.461 .147
Pengetahuan Pajak .179 .099 .171 1.803 .074
Tarif Pajak .410 .103 .401 3.971 .000
Sanksi Pajak .263 .106 .254 2.496 .014
a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak
55

Berdasarkan analisis pengujian data linier berganda pada tabel diatas,

didapatkan formula regresi sebagai berikut :

Y = (4.603) + 0,179X1 +0,410X2+0,263X3 + e

Berdasarkan formula tersebut diuraikan sebagai berikut:

1. Konstanta yang didapatkan dalam pengujian tersebut adalah sebesar

4.603,angka tersebut menunjukan konstanta kepatuhan wajib pajak belum

berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu variabel pengetahuan (X1),

tarif (X2), dan sanksi (X3).

2. Koefisien regresi dalam pengujian ini untuk Pengetahuan Pajak adalah 0,179.

Ini menunjukan adanya indikasi dalam variabel Pengetahuan Pajak terdapat

pengaruh secara positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Yang dapat

disimpulkan Pengetahuan Perpajakan akan meningkatkan kepatuhan wajib

pajak orang pribadi.

3. Koefisien regresi dalam pengujian ini untuk Tarif Pajak adalah 0,410. Ini

menunjukkan adanya indikasi dalam variabel Tarif Pajak terdapat pengaruh

secara positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Yang dapat disimpulkan tarif

pajak akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak orang pribadi.

4. Koefisien regresi dalam pengujian ini untuk Sanksi Pajak adalah 0,263. Ini

menunjukkan adanya indikasi Sanksi Pajak terdapat pengaruh secara positif

terhadap kepatuhan wajib pajak. Yang dapat disimpulkan sanksi pajak akan

meningkatkan kepatuhan wajib pajak orang pribadi.

1.20.2 Hasil Uji Determinasi


56

Pengujian ini difungsikan untuk menentukan terdapat seberapa besar

pengaruh variabel independen terhadap kepatuhan wajib pajak dengan

memperhatikan nilai koefisien determinasi pada model regresi linier berganda

tersebut hal tersebut dapat dilihat pada pengujian Adjusted R Square. Berikut ini

adalah hasil uji determinasi yang telah diuji adalah:

Tabel 4.13
Hasil Uji Determinasi
Model Summary
Std. Error of the
Model R R Square Adjusted R Square Estimate
a
1 .729 .531 .516 2.713
a. Predictors: (Constant), Sanksi Pajak, Pengetahuan Wajib Pajak , Tarif Pajak
Sumber: Data Primer Diolah 2023

Sumber: Data Primer Diolah 2023

Berdasarkan pengujian koefisiensi determinasi pada tabel diatas 4.11,

angka R dari model sebesar 0,729, Dapatkan hubungan yang kuat sebesar 0,729

antara variabel independen dan dependen. Sedangkan hasil koefisien R2

menunjukkan angka R square 0,531 atau 53,1% pengaruh dalam masing-masing

variabel independen yaitu variabel Pengetahuan Perpajakan, Tarif Pajak dan

Sanksi Perpajakan terhadap variabel dependen Kepatuhan Wajib Pajak dengan

kemampuan sebesar 53,1% sedangkan persentase sisa 46,9% dipengaruhi dengan

variabel uninvestigated atau variabel yang belum diteliti pada penelitian ini.

1.20.3 Hasil Uji F

Pengujian ini untuk mengetahui apakah secara bersamaan pengujian

variabel independen memiliki pengaruh simultan terhadap variabel kepatuhan


57

pajak. Uji F ini diuji dengan melihat perbandingan nilai F hitung harus lebih besar

dari F Tabel . Berikut hasil pengujian hasil uji F adalah:

Tabel 4.14
Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
ANOVAa
Sum of
Model Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 800.211 3 266.737 36.230 .000b
Residual 706.789 96 7.362
Total 1507.000 99
a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak
b. Predictors: (Constant), Sanksi Pajak, Pengetahuan Wajib Pajak , Tarif Pajak
Sumber: Data Primer Diolah 2023

Berdasarkan tabel diatas F tabel pada tingkat signifikansi 5% dan Degree

of Freedom (df1) sebesar k-1 (4-1 = 3) dan derajat bebas penyebut (df2) sebesar n-

k (100-4 = 96) adalah nilai F Tabel sebesar 2.47. Berdasarkan hasil pengujian

regresi berganda pada penelitian ini menunjukan nilai F hitung pada tabel 4.17

diatas sebesar 36.230 , dimana nilai tersebut lebih besar dibanding nilai f tabel

36.230 > 2,470 dan hasil pengujian nilai signifikan kurang dari nilai 0,05 nilai,

hal ini dapat diartikan H0 ditolak dan Ha diterima. Dari persamaan tersebut

menunjukan bahwa Pengetahuan Perpajakan, Tarif Pajak dan Sanksi Perpajakan

secara bersama sama berpengaruh secara simultan terhadap variabel dependen

yaitu Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.

1.20.4 Hasil Uji T

Pengujian ini digunakan sebagai penentu apakah analisis pengaruh

variabel independen berpengaruh secara parsial dan tingkat nilai sig, maka dapat
58

dinyatakan variabel independen terdapat pengaruh secara signifikan terhadap

variabel dependen dengan melakukan pengujian tersebut dan jika nilai pengujian

data nilai sig lebih dari 0,05 variabel independen tidak berpengaruh secara

signifikan. terhadap variabel dependen. Uji t dilakukan untuk membandingkan

dua sisi yaitu nilai t dan nilai sig dan :

Tabel 4.15
Hasil Uji Signifikansi Parsial (Uji t)
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Std.
Model B Error Beta t Sig.
1 (Constant) 4.603 3.150 1.461 .147
Pengetahuan Pajak .179 .099 .171 1.803 .074
Tarif Pajak .410 .103 .401 3.971 .000
Sanksi Pajak .263 .106 .254 2.496 .014
a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak
Sumber: Data Primer Diolah 2023

Nilai t tabel dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

T tabel = (α/2; n-k-1)

Keterangan :

α : Tingkat kepercayaan

n : Jumlah sampel/responden

k : Jumlah variabel bebas

Jadi nilai t tabel dapat dihitung sebagai berikut :

t tabel = (α/2; n-k-1)

t table = (0,005/2 : 100 – 3 -1)

t tabel = (0,025 ; 96)


59

t table = 1.985

Berdasarkan perhitungan rumus di atas nilai t tabel pada α = 0,025 pada

df= 96 adalah sebesar 1,985. Perhitungan t tabel ini digunakan untuk pengujian

hipotesis pertama, kedua dan ketiga. Berdasarkan tabel diatas maka didapatkan

hipotesis penelitian diajukan adalah sebagai berikut :

1. Berdasarkan hasil uji dilihat dalam perhitungan yang diperoleh dari nilai

koefisien regresi sebesar 0,179 dan nilai t hitung sebesar 1.803 lebih kecil

dari pada t tabel sebesar 1.985 dengan nilai signifikansi sebesar 0.074 lebih

besar dari 0,05. Maka dapat disimpulkan Pengetahuan Perpajakan tidak

berpengaruh secara parsial dan signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.

2. Berdasarkan hasil uji dapat dilihat dalam perhitungan yang diperoleh dari

nilai koefisien regresi sebesar 0.410 dan nilai t hitung sebesar 3.971 lebih

besar dari t tabel sebesar 1.985 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000

kurang dari 0,05. Maka disimpulkan Tarif Pajak secara parsial dan signifikan

terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.

3. Berdasarkan hasil uji dapat dilihat dalam perhitungan yang diperoleh dari

nilai koefisien regresi 0,263 dan nilai t hitung 2.496 lebih besar dari t tabel

sebesar 1.985 dengan nilai signifikansi sebesar 0.014 kurang dari 0,05. Maka

disimpulkan Sanksi Pajak secara parsial dan signifikan terhadap Kepatuhan

Wajib Pajak.

1.21 Analisis dan Pembahasan Hasil Penelitian


60

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apakah pengetahuan

perpajakan, tarif pajak dan sanksi dapat mempengaruhi terhadap kepatuhan wajib

pajak orang pribadi di Kota Demak. Berdasarkan eksperimen analitik yang

dikonfirmasi, peneliti menyusun pembahasan sebagai berikut :

1. Pengaruh Pengetahuan Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang

Pribadi di kota Demak

Berdasarkan uji hipotesis yang di uji, disimpulkan bahwa secara

parsial dan signifikan pengetahuan perpajakan tidak berpengaruh namun

berpengaruh positif dan simultan terhadap kepatuhan perpajakan. Dengan

melihat nilai koefisien regresi 0,179, nilai signifikansi uji t sebesar 0,147 dan

nilai t hitung 1803. Nilai signifikansi 0.157 lebih besar dari 0,05 dan nilai t

hitung lebih kecil dari t tabel (1.803 < 1,985). Hasil pernyataan tersebut

diterima (H1) yang menyatakan bahwa Pengetahuan Perpajakan memiliki

pengaruh positif terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.

Dengan demikian faktor yang berpengaruh dalam kepatuhan wajib

pajak adalah pengetahuan perpajakan, dengan adanya pengetahuan mengenai

hak dan kewajiban serta pentingnya pajak dalam penerimaan negara yang

digunakan untuk kemakmuran rakyat dapat memberikan kesadaran wajib

pajak orang pribadi dalam membayarkan kewajiban perpajakannya, semakin

paham wajib pajak dalam memahami aturan serta pentingnya pajak akan

mendorong peningkatan penerimaan pajak dimana dengan meningkatnya

jumlah penerimaan akan berdampak pada kualitas kesejahteraan masyarakat.

Hasil analisis ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial yang


61

menghubungkan wajib pajak orang pribadi dengan informasi mengenai

pengetahuan perpajakan yang dimana dengan proses pengamatan mengenai

informasi pengetahuan perpajakan yang kemudian di pelajari akan

mempermudah wajib pajak dalam proses perpajakan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu Fita et al

(2018), hasil penelitian tersebut memberikan bukti Pengetahuan Perpajakan

terdapat pengaruh positif dan simultan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.

Sedangkan penelitian ini tidak sejalan dengan Ahmad Burhan Zulhazmi dan

Febrian Kwarto (2019) pengetahuan tidak berpengaruh terhadap kepatuhan

wajib pajak.

2. Pengaruh Tarif Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di Kota

Demak

Berdasarkan uji hipotesis secara parsial terdapat pengaruh tarif

terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini dapat melihat nilai koefisien regresi

0,410, nilai signifikansi uji t 0,000, dan nilai t hitung 3,971. Nilai

signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05 dan nilai t hitung lebih besar dari t

tabel (3,971 > 1,985). ) Hasil pernyataan tersebut diterima (H1) yang

menyatakan bahwa tarif pajak memiliki pengaruh positif terhadap kepatuhan

wajib pajak orang pribadi.

Dengan demikian penerapan tarif pajak menjadi hal yang berpengaruh

terhadap kepatuhan wajib pajak. Tarif pajak merupakan dasar jumlah

pengenaan besaran pajak yang harus dibayarkan wajib pajak dan terlepas

apakah penerapan tarif pajak tidak tepat pada tingkat yang sesuai, dengan
62

kata lain tarif pajak lebih tinggi dari pada penghasilan wajib pajak akan

menjadi masalah serius sehingga dapat mengurangi kepatuhan wajib pajak.

Hal ini sesuai dengan teori pembelajaran sosial yang menyatakan tarif pajak

berkaitan dengan sistem tarif yang berlaku dimana wajib pajak

memungkinkan untuk memahami melalui proses pengamatan tarif pajak yang

berlaku di Indonesia yang kemudian dipelajari akan mempermudah wajib

pajak dalam setiap perhitungan mengenai besaran pajak yang akan

dibayarkan.

Hasil penelitian ini sejalan sesuai pendapat Fenny Nur Salam dan Dea

Amalia Lestari (2022) yang berpendapat bahwa tarif pajak berpengaruh

positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, sedangkan hasil

penelitian ini tidak sesuai dengan hasil analisis Al Kausar dkk (2022) bahwa

tarif pajak tidak memiliki pengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak.

3. Pengaruh Sanksi Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi

di Kota Demak

Sesuai uji hipotesis bahwa sanksi perpajakan berpengaruh positif dan

signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal tersebut dapat dibuktikan

dengan melihat nilai koefisien regresi 0,263 dan nilai signifikansi pada uji t

0,014 serta nilai t hitung 2.496. Nilai signifikansi 0,014 kurang dari 0,05 dan

nilai t hitung lebih besar dari t tabel (2.496> 1.985). Hasil pernyataan tersebut
63

diterima (H1) yang menyatakan bahwa sanksi pajak berpengaruh positif

terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.

Sanksi perpajakan merupakan alat yang menjamin kepatuhan terhadap

berjalanya peraturan perundang-undangan perpajakan. Sanksi pajak

dikenakan untuk pencegahan wajib pajak yang melakukan penghindaran

pajak. Hal ini sejalan dengan teori kepatuhan yang mengusulkan hukuman

yang tegas dan memberikan sifat kepatuhan wajib pajak dalam membayar

pajak dan mematuhi undang-undang perpajakan. Penerapan pajak yang

efektif dan efisien dengan memastikan bahwa penerapan pajak tidak

membebankan wajib pajak, asalkan wajib pajak mampu untuk menjalankan

kewajiban perpajakan untuk meningkatkan kepatuhan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Dian Lestari Siregar

(2017) yang menunjukkan bahwa sanksi perpajakan terdapat pengaruh positif

dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, sedangkan hasil penelitian ini

tidak sesuai dengan Muhammad (2019). Sanksi pajak tidak mempengaruhi

kepatuhan wajib pajak.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1.22 Kesimpulan

Berdasarkan telaah terhadap pengujian dan hasil pembahasan analisis data

yang di uji dalam penelitian ini, khususnya mengenai pengaruh pengetahuan

perpajakan, sanksi perpajakan dan sanksi wajib pajak terhadap kepatuhan wajib

pajak orang pribadi Pratama Demak, maka ditarik kesimpulan seperti berikut:

1. Pada variabel Variabel pengetahuan perpajakan (X1) berpengaruh positif dan

simultan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Hal ini ditunjukkan

dengan angka F hitung 36.230 lebih besar dari F tabel 2.470.

2. Pada variabel tarif pajak (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap

kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t

hitung sebesar 3.971 yang lebih besar dari nilai t sebesar 1.985 pada t tabel.

Dengan nilai nilai signifikansi kurang dari 0,05 (0,000 < 0,05)

3. Pada variabel Sanksi Pajak (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap

Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai

t hitung sebesar 2.496 yang lebih besar dari nilai 1.985 pada t tabel. Dengan

nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (0,000 > 0,05).

64
65

1.23 Keterbatasan

Penelitian ini tidak terlepas dari keterbatasan yang menyebabkan bias

pada hasil penelitian ini. Kendala atau kekurangan pada penelitian ini antara lain :

1. Penelitian ini memfokuskan pada tiga variabel yang berpengaruh terhadap

kepatuhan wajib pajak, yaitu pengetahuan, tarif dan sanksi pajak terhadap

kepatuhan wajib pajak.

2. Karena kuesioner digunakan sebagai sumber data dalam penelitian yang

diperoleh dimungkinkan terjadinya bias. Hal ini karena mungkin terjadi

akibat ada perbedaan persepsi survei responden dengan peneliti.

3. Penelitian memiliki jumlah sampel yang masih kuranghal tersebut

menyebabkan tidak dapat digeneralisasikan karena keterbatasan peneliti

dalam proses pengumpulan data.

1.24 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan, peneliti dapat membuat

usulan saran yang diharapkan untuk membantu penelitian selanjutnya sebagai

berikut :

1. Bagi KPP Pratama Demak

KPP Pratama Demak diharapkan dapat memberikan edukasi atau

penyuluhan tentang ketentuan-ketentuan perpajakan yang berlaku atau isu isu

terbaru mengenai pembaharuan dalam sistem perpajakan kepada masyarakat

dan selalu menjaga kepercayaan masyarakat terhadap integritas Direktorat


66

Jenderal Pajak. Diharapkan dengan edukasi dan selalu menjaga integritas

akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak orang pribadi.

2. Bagi Wajib Pajak

Wajib pajak orang pribadi diharapkan untuk selalu meningkatkan dan

mencari informasi terbaru terkait perpajakan, hal ini untuk meningkatkan

akan kesadaran dan manfaat dari pajak untuk negara dan untuk menghidari

wajib pajak orang pribadi terkena denda ataupun sanksi dikarenakan

terlambat atau kurang bayar dalam proses pelaporan dan pembayaran pajak.

3. Bagi Penelitian Selanjutnya

Bagi Peneliti Selanjutnya diharapkan untuk memperluas variabel lain

selain variabel yang telah di uji oleh peneliti, hal ini diharapkan akan

menghasilkan hasil yang berbeda dan memperluas pemeriksaan persepsi

wajib pajak ketika menggambarkan atau menjelaskan masalah yang dapat

mempengaruhi kepatuhan wajib pajak.


DAFTAR PUSTAKA

Caroko, Bayu, Heru Susilo, and Z. A. Zahroh. "Pengaruh pengetahuan


perpajakan, kualitas pelayanan pajak dan sanksi pajak terhadap motivasi
wajib pajak orang pribadi dalam membayar pajak." Jurnal Mahasiswa
Perpajakan 4.1 (2015)

ATARWAMAN, Rita JD. Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Sanksi Pajak Dan
Kualitas Pelayanan Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang
Pribadi. Jurnal Akuntansi, 2020, 6.1: 39-51.

ZULMA, Gandy Wahyu Maulana. Pengaruh Pengetahuan Wajib Pajak,


Administrasi Pajak, Tarif Pajak dan Sanksi Perpajakan terhadap
Kepatuhan Pajak Pada Pelaku Usaha UMKM di Indonesia. Ekonomis:
Journal of Economics and Business, 2020, 4.2: 288-294.

Zuhdi, M. I., Suryadi, D., & Yuniati, Y. (2019). Pengaruh Modernisasi Sistem
Administrasi Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Orang Pribadi Pada Kpp Pratama Bandung X. Jurnal Ilmiah MEA
(Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi), 3(1), 116-135.

SANTHI, Kadek Adelia. PENGARUH SANKSI PAJAK, SISTEM ADMINISTRASI


PERPAJAKAN MODERN, KUALITAS PELAYANAN FISKUS, TARIF
PAJAK DAN PEMERIKSAAN PAJAK TERHADAP TINGKAT
KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI (Studi Empiris Pada
Wajib Pajak Orang Pribadi di KPP Pratama Gianyar). 2021. PhD Thesis.
Universitas Mahasaraswati Denpasar.

SAPUTRA, Hadi, et al. Analisa Kepatuhan Pajak Dengan Pendekatan Teori


Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior)(Terhadap Wajib Pajak
Orang Pribadi Di Provinsi Dki Jakarta). Jurnal Muara Ilmu Ekonomi Dan
Bisnis, 2019, 3.1: 47-58.

SWARJANA, I. Ketut; SKM, MPH. Konsep pengetahuan, sikap, perilaku,


persepsi, stres, kecemasan, nyeri, dukungan sosial, kepatuhan, motivasi,
kepuasan, pandemi covid-19, akses layanan kesehatan–lengkap dengan
konsep teori, cara mengukur variabel, dan contoh kuesioner. Penerbit
Andi, 2022.

Hill, Winfred F. Theories Of Learning: Teori-teori Pembelajaran Konsepsi,


Komparasi dan Signifikan. Nusamedia, 2019.

Kowel, V. A., Kalangi, L., & Tangkuman, S. J. (2019). Pengaruh Pengetahuan


Wajib Pajak, Kesadaran Wajib Pajak dan Modernisasi Administrasi
Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor di
Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi,
Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 7(3).

67
68

Palalangan, C. A., Pakendek, R., & Tangdialla, L. P. (2019). Pengaruh Persepsi


Wajib Pajak Tentang Penerapan Pp No 23 Tahun 2018, Pemahaman
Perpajakan Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Umkm Di Makassar. Paulus Journal of Accounting (PJA), 1(1), 29-41.

KOWEL, Viva AA; KALANGI, Lintje; TANGKUMAN, Steven J. Pengaruh


Pengetahuan Wajib Pajak, Kesadaran Wajib Pajak dan Modernisasi
Administrasi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan
Bermotor di Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal EMBA: Jurnal Riset
Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 2019, 7.3.

Chandra, Cynthia, and A. Sandra. "Pengaruh Tarif Pajak, Sanksi Pajak dan
Kesadaran Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
Usahawan." Jurnal Online Insan Akuntan 5.2 (2020): 153-168.

Mandowally, B. M., Allolayuk, T., & Matani, C. D. (2020). Pengaruh Sanksi


Perpajakan, Pelayanan Fiskus Dan Pengetahuan Perpajakan Terhadap
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan
Daerah, 15(1), 46-56.

Erica, D. (2021). Pengaruh Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak


Orang Pribadi. Jurnal Ilmiah Manajemen Ubhara, 3(1), 129.

Herlina, V. (2020). Pengaruh Sanksi, Kesadaran Perpajakan Dan Kualitas


Pelayanan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Bumi Dan Bangunan Di
Kabupaten Kerinci. Jurnal Benefita, 5(2), 252-263.
69

Anda mungkin juga menyukai