KAJIAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Oleh: Luna Raisya Azalia
Kelas 10.6
SEKOLAH MENENGAH NEGERI 24 BANDUNG
2024
A. Sejarah
Daerah Istimewa Yogyakarta, atau yang biasa disingkat sebagai DIY,
merupakan salah satu daerah otonom setingkat provinsi di Indonesia dengan ibu kota
di Yogyakarta. Nama "Daerah Istimewa Yogyakarta" tidak hanya merujuk pada
lokasinya, tetapi juga mencerminkan status istimewa yang terkait dengan sejarah
berdirinya, baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia.
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri berdasarkan Perjanjian Giyanti
(Palihan Nagari) pada tanggal 13 Februari 1755. Pangeran Mangkubumi, yang
kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono I, mendirikan kasultanan ini.
Sementara itu, Kadipaten Pakualaman berdiri pada tahun 1813, didirikan oleh
Pangeran Notokusumo (saudara Sultan Hamengku Buwono II) yang kemudian
menjadi Adipati Paku Alam I.
Asal-usul nama "Yogyakarta" atau "Ngayogyakarta" diambil dari Bahasa
Jawa, yang berarti "Yogya yang kerta" atau "Yogya yang makmur." Ada juga
interpretasi bahwa nama "Yogyakarta" berasal dari nama kota Sanskerta, Ayodhya,
dalam epos Ramayana. Secara sehari-hari, nama ini umumnya diucapkan sebagai
"Jogja(karta)" atau "Ngayogyakarta" dalam Bahasa Jawa.
Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta telah memiliki tradisi pemerintahan
yang teratur dan berkembang. Selama masa kolonial Belanda, pemerintahan di
Kasultanan Yogyakarta diatur melalui kontrak politik pada tahun 1877, 1921, dan
1940 antara Sultan dengan Pemerintah Kolonial Belanda. Di era penjajahan Hindia
Belanda, daerah dengan pemerintahan asal-usulnya disebut "Zelfbesturende
Landschappen," dan pada masa kemerdekaan disebut "Daerah Swapraja."
Pada masa pendudukan Jepang, Yogyakarta diakui sebagai Daerah Istimewa
atau "Kooti" dengan Koo (kepala) yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Saat
Proklamasi Kemerdekaan RI, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam
VIII menyatakan bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman
menjadi bagian wilayah Negara Republik Indonesia, membentuk satu kesatuan
sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Pada saat ini, Kraton Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono
X, sedangkan Puro Pakualaman oleh Sri Paduka Paku Alam IX. Keduanya
memainkan peran penting dalam memelihara nilai-nilai budaya dan adat istiadat Jawa,
serta berkontribusi sebagai pemersatu masyarakat Yogyakarta.
Berlandaskan Pasal 18 Undang-undang Dasar 1945, Dewan Perwakilan
Rakyat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menginginkan agar kedudukan DIY
sebagai Daerah Istimewa tingkat I tetap lestari, mempertimbangkan sejarah
pembentukan dan perkembangan Pemerintahan Daerah yang seharusnya
dihormati.Undang-undang No. 3 tahun 1950 membentuk DIY sebagai Daerah
Otonom setingkat Provinsi, melibatkan bekas Daerah Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat dan Daerah Kadipaten Pakualaman. Perubahan dan penambahan terakhir
dilakukan melalui Undang-undang No. 9 Tahun 1955, yang masih berlaku saat ini.
Dalam setiap Undang-undang yang mengatur Pemerintahan Daerah, DIY tetap diakui
sebagai daerah istimewa.
B. Geografis
Kota Yogyakarta terletak antara 110°24'19"-110°28'53" Bujur Timur dan
07°15'24"-07°49'26" Lintang Selatan. Memiliki luas sekitar 32,5 km2, atau 1,02%
dari luas wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jarak terjauh dari Utara ke
Selatan kurang lebih 7,5 km, dan dari Barat ke Timur kurang lebih 5,6 km.
Terdapat tiga sungai yang mengalir dari arah Utara ke Selatan yaitu: Sungai
Gajahwong yang mengalir di bagian timur kota, Sungai Codedi Bagian tengah dan
Sungai Winongo di bagian barat kota.
Secara administratif Kota Yogyakarta terdiri dari 14 kecamatan dan 45 kelurahan
dengan batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Sleman
Sebelah Timur : Kabupaten Bantul dan Sleman
Sebelah Selatan : Kabupaten Bantul
Sebelah Barat : Kabupaten Bantul
Disebabkan letaknya yang berada di dataran lereng gunung Merapi (fluvial
vulcanic foot plain), yang sebagian besar terdiri dari tanah regosol atau tanah vulkanis
muda, kondisi tanah Kota Yogyakarta cukup subur untuk pertanian dan perdagangan.
Namun, seiring dengan pertumbuhan perkotaan dan pemukiman yang pesat, lahan
pertanian Kota setiap tahun mengalami penurunan. Menurut data tahun 1999, luas
area Kota Yogyakarta telah berkurang 7,8%, atau 3.249,75 hektar, sebagai akibat dari
perpindahan fungsi.
Penduduk Kota Yogyakarta terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun
1999, jumlah penduduknya 490.433, tetapi pada Juni 2000, jumlah penduduknya
menjadi 493.903, dengan kepadatan rata-rata 15.197/km2. Penduduk Kota
Yogyakarta memiliki harapan hidup 72,25 tahun, sedangkan perempuan 76,31 tahun.
Kondisi fisik di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dianalisis melalui
berbagai aspek seperti geografi, iklim, geologi, geomorfologi, jenis tanah, dan
hidrologi daerah. Geografi daerah mencakup posisi spasial dalam konteks luas
wilayah, batas-batas wilayah, dan potensi sumberdaya alam kewilayahan. Informasi
ini dapat disampaikan melalui deskripsi tulisan maupun peta wilayah.
. Iklim di wilayah tersebut sangat mempengaruhi potensi daerah, baik dalam
hal sumberdaya alam maupun potensi kebencanaan alam. Dengan kategori iklim "AM
dan AW", curah hujan rata-rata 2.012 mm per tahun, 119 hari hujan, suhu rata-rata
27,2°C, dan kelembaban rata-rata 24,7%. Pada musim hujan, angin muson dari barat
daya bertiup dengan arah 220°, yang basah dan mendatangkan hujan; pada musim
kemarau, angin muson dari tenggara bertiup dengan arah ± 90 ° hingga 140 °, dengan
kecepatan rata-rata 5–16 knot/jam. Klimatologis Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta diuraikan melalui curah hujan dan suhu udara, yang memiliki dampak
signifikan pada pengembangan sumberdaya alam sebagai cadangan alamiah dan
potensi berkelanjutan.
Curah hujan, sebagai indikator utama, berkontribusi pada variasi potensi
hidrologi daerah. Proses evaporasi, infiltrasi, dan genangan/limpasan merupakan
dampak dari air hujan ke permukaan bumi. Perbedaan kondisi lahan, termasuk
geologi, geomorfologi, dan jenis tanah, antar daerah menyebabkan variasi dalam
potensi air tanah dan air permukaan. Setiap kabupaten/kota mempunyai kondisi fisik
yang berbeda sehingga potensi alam yang tersedia juga tidak sama. Perbedaan kondisi
fisik ini ikut menentukan dalam rencana pengembangan daerah.
C. Pemerintahan
1. Sejarah Pemerintahan
Sebelum kemerdekaan Indonesia, Yogyakarta telah memiliki tradisi pemerintahan
yang teratur dan berkembang, menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta di dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini karena Yogyakarta merupakan
Kasultanan, termasuk dalamnya Kadipaten Pakualaman. Pada era kolonial Belanda,
pemerintahan Kasultanan Yogyakarta diatur melalui kontrak politik pada tahun 1877,
1921, dan 1940 antara Sultan dengan Pemerintah Kolonial Belanda. Ini menunjukkan
bahwa Keraton tidak tunduk begitu saja kepada Belanda. Saat itu, daerah dengan
pemerintahan asal-usulnya disebut Zelfbesturende Landschappen, dan selama
kemerdekaan disebut Daerah Swapraja. Kontrak politik terakhir Kasultanan dan
Pakualaman tercantum dalam Staatsblad 1941 No. 47 dan Staatsblaad 1941 No. 577.
Pada masa pendudukan Jepang, Yogyakarta diakui sebagai Daerah Istimewa atau
Kooti dengan Koo Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai kepala. Selama periode
ini, terdapat struktur pemerintahan yang melibatkan wilayah-wilayah tertentu dengan
pejabatnya. Saat Proklamasi Kemerdekaan RI, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan
Sri Paku Alam VIII menyatakan bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah
Pakualaman menjadi bagian wilayah Negara Republik Indonesia, membentuk Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI
sesuai dengan piagam kedudukan dan amanat yang dikeluarkan pada Agustus dan
September 1945. Sejarah DIY juga mencerminkan keterkaitan erat dengan Republik
Indonesia, bahkan menjadi ibukota Negara Republik Indonesia dari 4 Januari 1946
hingga 17 Desember 1949.
2. Pemerintahan saat ini
Saat ini, Kraton Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan
Puro Pakualaman oleh Sri Paduka Paku Alam IX. Keduanya memainkan peran
penting dalam memelihara nilai-nilai budaya dan adat istiadat Jawa, bersama-sama
menjadi perekat masyarakat Yogyakarta. Berdasarkan Pasal 18 Undang-undang Dasar
1945, Dewan Perwakilan Rakyat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menghendaki
agar kedudukan DIY sebagai Daerah Istimewa tetap lestari, mengingat sejarah
pembentukan dan perkembangan pemerintahan daerah tersebut.
Undang-Undang No. 3 tahun 1950 membentuk DIY sebagai Daerah Otonom
setingkat Provinsi, melibatkan bekas Daerah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
dan Daerah Kadipaten Pakualaman. Undang-Undang ini telah mengalami beberapa
perubahan dan penambahan, yang terakhir dengan Undang-Undang No. 9 tahun 1955,
yang masih berlaku hingga saat ini. Dalam setiap undang-undang yang mengatur
Pemerintahan Daerah, keistimewaan DIY tetap diakui.
Pemerintah Daerah merupakan organisasi yang terdiri dari Pimpinan Daerah dan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pimpinan Daerah memiliki peran sebagai
eksekutif, sementara DPRD bertanggung jawab sebagai legislatif. Di Daerah Istimewa
Yogyakarta, Gubernur memimpin dengan ibukota Provinsi di Kota Yogyakarta.
Dalam menjalankan tugasnya, termasuk merumuskan kebijakan pemerintahan,
pembangunan, dan pelayanan masyarakat, terdapat unsur-unsur pembantu Pimpinan
Pemerintah Daerah, seperti Sekretaris Daerah (Setda) dan Lembaga Teknis Daerah
seperti Dinas, Badan, dan Kantor. D.I. Yogyakarta terdiri dari empat kabupaten dan
satu kota, dengan total 78 kecamatan, 392 desa, dan 46 kelurahan. Detail dari setiap
kabupaten dan kota adalah sebagai berikut:
- Kabupaten Kulonprogo memiliki 12 kecamatan, 87 desa, dan 1 kelurahan.
- Kabupaten Bantul terdiri dari 17 kecamatan dan 75 desa.
- Kabupaten Gunungkidul memiliki 18 kecamatan dan 144 desa.
- Kabupaten Sleman terdiri dari 17 kecamatan dan 86 desa.
- Kota Yogyakarta terdiri dari 14 kecamatan dan 45 kelurahan.
Anggota DPRD Provinsi D.I. Yogyakarta yang terpilih pada pemilu 2019
berjumlah 55 orang, dengan distribusi perwakilan dari berbagai partai, seperti PDI-P,
Gerindra, PKS, dan PAN. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi D.I.
Yogyakarta menunjukkan hasil pemilu 2019 dengan perincian perwakilan partai
sebagai berikut: PDI-P 30,91 persen, Gerindra 12,73 persen, PKS 12,73 persen, PAN
12,73 persen, PKB 10,91 persen, Golkar 9,09 persen, Nasdem 5,45 persen, PPP 1,82
persen, PSI 1,82 persen, dan Demokrat 1,82 persen.
Pada tahun 2022, DPRD D.I. Yogyakarta telah mengeluarkan 6 peraturan
daerah, 72 keputusan DPRD, 112 keputusan pimpinan, dan beberapa keputusan
lainnya sebagai bentuk aktivitas legislatif mereka. Pelaksanaan kegiatan pemerintahan
di D.I. Yogyakarta pada tahun 2022 melibatkan 44.001 pegawai negeri sipil, terdiri
dari 17.865 PNS laki-laki dan 26.136 PNS perempuan. Pegawai negeri sipil ini
tersebar di berbagai level, mencakup level provinsi DIY serta lima kabupaten/kota di
D.I. Yogyakarta.
D. Kesenian
Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya kota Yogyakarta, dikenal sebagai
Kota Budaya karena kekentalan warisan sejarah dan budaya, terutama dari Kerajaan
Mataram Islam. Kota ini juga menjadi pusat budaya dan seni serta diakui sebagai kota
pelajar dengan banyaknya organisasi yang berbasis pendidikan dan berdirinya
berbagai sekolah. Popularitas Yogyakarta juga diperkuat oleh pariwisata yang
terintegrasi dengan keanekaragaman warisan seni dan budaya, menjadi bagian yang
tak terpisahkan dari sejarah. Kekayaan budaya dan keindahan alam membuat
Yogyakarta menjadi lokasi yang fenomenal dengan berbagai keunikan. Oleh karena
itu, semua yang ada di bawah langit Yogyakarta, khususnya warisan budayanya,
dianggap sebagai harta tak ternilai yang perlu dijaga dan dilestarikan sebagai
kebanggaan bangsa.
Masyarakat Yogyakarta memikul tanggung jawab besar dalam
mempertahankan kelangsungan tradisi mereka, yang akan diwariskan kepada generasi
berikutnya. Salah satu contohnya adalah seni pertunjukan, yang merepresentasikan
kekayaan intelektual masyarakat di masa lalu. Saat ini, pelestarian dan pengembangan
kebudayaan tersebut menjadi bagian integral dari kekayaan budaya Indonesia.
Seni menjadi elemen integral dalam kebudayaan masyarakat Yogyakarta yang terus
dijaga dan dilestarikan. Masyarakat Jawa menyebut seni sebagai Kagunan, istilah ini
mirip dengan dasar istilah "art" (seni membebaskan). Dalam kamus Baoesastra Jawa,
Kagunan merujuk pada guna, watak, keahlian, kelebihan, dan hasil yang berguna.
Pengertian Kagunan mencakup kepandaian, pekerjaan yang berguna dan bermanfaat,
serta ekspresi akal-budi melalui rasa keindahan seperti gambar, ukiran, puisi, tari, dan
lagu. Konsep akal-budi dalam Kagunan menunjukkan kepercayaan lokal yang
berkaitan dengan "budi luhur," yang menjadi dasar moralitas tinggi dalam filsafat
Jawa, menyoroti pentingnya kebaikan, kebijaksanaan, dan kepekaan rasa. Oleh karena
itu, aktivitas mental terkait dengan akal-budi berbeda dengan aktivitas yang berkaitan
dengan akal-pikiran, karena lebih terkait dengan kepekaan terhadap rasa keindahan
dan praktik seni.
Kesenian tradisional (Kagunan) di Yogyakarta sebagian besar merupakan hasil
karya intelektual dari Keraton Yogyakarta dan Pakualaman. Kekuasaan kedua
kerajaan ini, yang berakar dari Kasultanan Yogyakarta, diwakili oleh lambang bunga
Teratai (Sekar Padma), yang juga menggambarkan kerakyatan, yaitu kedekatan sang
raja dengan rakyat. Baik Kasultanan maupun Kadipaten Pakualaman menciptakan
banyak karya seni yang masih dinikmati oleh masyarakat hingga saat ini.
Perkembangan seni tradisional sebagai bagian dari budaya Yogyakarta tidak
dapat dipisahkan dari pengaruh sosial-politik pada masa lalu. Kekuatan politik
kolonial Belanda sangat dirasakan oleh raja-raja di Jawa Tengah, mencapai puncak
pada awal abad ke-20. Meskipun dampak serupa terjadi di beberapa negara Asia
Tenggara, pengaruh tersebut tidak secara negatif memengaruhi seni pertunjukan
istana di Yogyakarta. Sebaliknya, sofistikasi seni pertunjukan Jawa justru
berkembang pada periode sulit ini. Berbagai bentuk seni di Yogyakarta mencapai
tingkat sofistikasi tertinggi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Sebagai
contoh, Sultan Hamengku Buwana VIII menciptakan karya seni yang memukau pada
periode tersebut.
Seiring berjalannya waktu, seni pertunjukan istana, termasuk tari, karawitan,
dan wayang kulit, mengalami perkembangan pesat di istana. Selain itu, seni drama
dan musik di luar istana mendapatkan perhatian dari kalangan cendekiawan, yang
sebagian besar merupakan tokoh-tokoh dari Pergerakan Nasional. Para cendekiawan
muda di Yogyakarta yang memiliki semangat nasionalisme menginginkan seni yang
tidak terkait dengan ciri etnis istana. Sebagai hasilnya, berbagai bentuk seni seperti
sandiwara, musik keroncong, musik Melayu, dan lagu-lagu Indonesia dengan tangga
nada diatonis berkembang, tidak lagi terkait erat dengan ciri khas istana. Di daerah
istana, gerakan seni ini mengarah pada demokratisasi seni istana. Pada tahun 1918,
didirikan perkumpulan tari Jawa Kridha Beksa Wirama yang mengajarkan tari istana
Yogyakarta kepada siapa saja yang berminat.
Seni tari istana seperti Wayang Wong, beksan lawung, bedhaya, serimpi, dan
beksan-beksan lainnya, yang awalnya memiliki fungsi ritual, berkembang dan
semakin memperoleh fungsi sebagai hiburan. Pembaharuan dalam seni tari
Yogyakarta dimulai oleh tokoh-tokoh seperti Bagong Kussudiardjo, Wisnu
Wardhana, dan Sudharso Pringgobroto. Di antara ketiganya, Bagong Kussudiardjo
adalah sosok yang memiliki pengaruh yang meluas, bahkan melebihi batas Daerah
Istimewa Yogyakarta. Pembaharuan seni tari juga terjadi di ISI Yogyakarta, baik
melalui kontribusi para pengajar maupun mahasiswa.
Kesenian yang berkembang di wilayah Yogyakarta pada abad XIX hingga
abad XX dapat dibedakan antara kesenian rakyat dan kesenian keraton. Kesenian
keraton dianggap memiliki tingkat kehalusan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
kesenian rakyat yang tumbuh di desa-desa. Meskipun begitu, banyak seniman
kesenian rakyat yang meraih ketenaran, termasuk dalam seni tari, musik tradisional,
dan seni pedalangan, yang sering diundang untuk tampil di kota-kota besar. Sebagian
besar gagasan artistik dari seniman kesenian rakyat kemudian diadopsi dan
dikembangkan oleh seniman dan cendekiawan dari keraton.
Seni kesenian rakyat yang telah dihaluskan atau diperbaiki oleh seniman dan
cendekiawan keraton menjadi bentuk ekspresi artistik yang lebih halus. Tarian rakyat
yang mengalami perhalusan tersebut kemudian menjadi tarian bermutu tinggi dan
sangat disukai oleh masyarakat. Salah satu contohnya adalah seni Tari Topeng, yang
mendapatkan apresiasi dan popularitas di wilayah Yogyakarta, terutama pada periode
paruh kedua abad XIX hingga awal abad XX. Selain Tari Topeng, seni lawak juga
mengalami perkembangan pesat, meskipun terdapat kompleksitas tingkatan dalam
bahasa Jawa. Meskipun Yogyakarta memiliki banyak seniman kesenian rakyat yang
berbakat, sebagian masyarakat juga menikmati karya seniman dari daerah lain, seperti
Banyumas atau Bagelen, khususnya dalam seni wayang purwa.
Kesenian rakyat di pedesaan pada dasarnya memiliki bentuk sederhana dan
spontan, seringkali berkaitan erat dengan konsep-konsep religius . Di wilayah
Yogyakarta, terdapat banyak kesenian rakyat, salah satunya adalah Tayuban. Tayuban
memiliki hubungan yang erat dengan konsep religius, terutama terkait dengan simbol
Tayub, sebuah tarian yang melibatkan dua individu, seorang pria dan seorang wanita.
Keduanya diartikan sebagai simbol lingga dan yoni, membawa makna terkait dengan
kesuburan. Simbol Tayub, sebagai tarian yang melibatkan dua individu, laki-laki dan
perempuan, mencerminkan lambang lingga dan yoni, yang membawa makna
kesuburan. Namun, dalam perkembangannya, Tayub menjadi kesenian rakyat yang
berbeda dengan tarian istana dari keraton Surakarta dan keraton Yogyakarta. Seiring
berjalannya waktu, nilai seni Tayub menurun karena asosiasi negatifnya sebagai seni
rakyat, terutama terkait dengan prostitusi. Pada awal abad XX, di wilayah
Vorstenlanden, kegiatan prostitusi yang bercampur dengan seni, terutama tayuban
atau taledhek, menimbulkan kontroversi di kalangan elit Jawa yang berusaha
meningkatkan status kesenian Jawa. Ini karena status penari taledhek dan praktik
tayuban yang terkait dengan prostitusi dianggap tidak sesuai dengan konsep kesenian
Jawa sebagai warisan budaya yang tinggi.
Masyarakat di luar tembok istana ternyata menciptakan dan mengembangkan
berbagai kesenian yang menjadi bagian integral dari kehidupan sosial dan budaya
masyarakat Yogyakarta. Kesenian ini berkembang melalui proses partisipatif dan
terikat oleh norma-norma kolektif. Meskipun tidak selalu berfokus pada
kesempurnaan estetika, karena tidak ada pembagian kerja yang jelas di masyarakat,
kesenian seperti kethoprak dan tarian rakyat berhasil dikembangkan oleh seniman
rakyat yang berbakat.
Awal abad XX mencirikan proses demokratisasi kesenian di beberapa pusat
kebudayaan Jawa, seperti Surakarta dan Yogyakarta. Munculnya kelas menengah
dalam kehidupan seni di kota Yogyakarta membawa perubahan atmosfer,
mengimplikasikan "demokratisasi" simbol-simbol budaya istana untuk kelas
menengah. Seiring dengan itu, budaya rakyat juga mendapatkan pengakuan yang
lebih tinggi. Proses demokratisasi seni ini sukses karena adanya dukungan patronase
dari kelas menengah, baik di kota maupun desa. Munculnya simbol-simbol budaya
baru dari kalangan kelas menengah melibatkan bidang seperti musik, teater, sastra,
arsitektur, kostum, dan beberapa aspek budaya materiil baru. Sejalan dengan itu,
budaya istana perlahan-lahan tergeser dengan kehadiran budaya kota.
E. Kasus Intoleransi dan Solusi
1. Kasus Intolerasi
Hubungan antar manusia di suatu negara merupakan tanggung jawab negara
itu sendiri, karena negara telah diberikan legitimasi, baik secara langsung maupun
tidak langsung, oleh rakyat untuk memberikan jaminan sosial. Jaminan sosial menjadi
instrumen bagi rakyat untuk hidup aman, damai, dan sejahtera sesuai dengan cita-cita
bangsa Indonesia. Dalam kehidupan masyarakat, hubungan sosial seringkali menjadi
hambatan bagi terwujudnya jaminan sosial. Keadilan sosial, yang seharusnya menjadi
tujuan bagi bangsa Indonesia, sering terhambat oleh pilihan individu atau kelompok
yang berbeda dengan yang lainnya.
Pemahaman bahwa persoalan intoleransi masih sering muncul di Yogyakarta
menunjukkan perlunya perhatian bersama dari masyarakat dan pemerintah untuk
menangani isu ini secara efektif. Pancasila dianggap sebagai acuan yang sangat
relevan untuk mengatasi masalah intoleransi, dan hal ini bisa menjadi langkah yang
positif dalam memperkuat kecintaan masyarakat terhadap kesatuan serta
meningkatkan kesadaran akan keragaman budaya dan kepercayaan di Indonesia.
Pancasila, sebagai dasar negara, menekankan nilai-nilai seperti keadilan sosial,
persatuan, dan gotong-royong. Dengan menjadikan Pancasila sebagai pedoman,
diharapkan masyarakat dapat membangun dialog, saling menghormati, dan
menghargai perbedaan dalam kerangka nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Peningkatan jumlah kasus intoleransi dari tahun ke tahun, seperti yang terlihat
dari laporan tahunan, menunjukkan perlunya langkah-langkah konkret untuk
mencegah dan mengatasi intoleransi di Yogyakarta. Hal ini dapat melibatkan berbagai
pihak, termasuk pemerintah, lembaga masyarakat sipil, dan tokoh agama, dalam
membangun dialog, memperkuat toleransi, dan menjunjung tinggi hak kebebasan
beragama serta keberagaman di Yogyakarta. Contoh beberapa kasus intoleransi yang
terjadi dianataranya adalah sebagai berikut :
2. Penyerangan Panti Asuhan Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta. Panti Asuhan
yang merawat anak-anak dari berbagai latar belakang ini mengalami serangan
yang mengakibatkan kerusakan pada bangunan dan ketakutan bagi
penghuninya.
3. Penolakan Pembangunan Kelenteng Xian Ma New Kim Hin. Masyarakat
sekitar menolak pembangunan kelenteng dan mengajukan petisi
menentangnya. Hal ini menunjukkan adanya ketegangan antar kelompok
agama di wilayah tersebut.
4. Pelarangan Penggunaan Gereja Koptik di Sleman. Gereja Koptik di Sleman
mengalami pelarangan untuk digunakan sebagai tempat ibadah, menimbulkan
ketidaksetujuan dan ketegangan antar pemeluk agama.
5. Warga Nonmuslim Ditolak di Pedukuhan Karet, Bantul. Seorang seniman
bernama Slamet Jumiarto beserta istri dan kedua anaknya ditolak untuk
bermukim di RT 08, Pedukuhan Karet, Pleret, Bantul. Alasan dari penolakan
tersebut karena tinggal di wilayah itu lantaran Slamet beragama Kristen. Hal
itu menyebabkan adanya kesalahpahaman yang kemudian terjadilah mediasi,
hasil dari mediasi sebagian warga tidak keberatan Slamet tinggal di
wilayahnya. Namun Kepala Pedukuhan Karet bersikeras menolaknya dan
hanya mengizinkan Slamet tinggal selama 6 bulan. Keputusan tersebut
kemudian diterima oleh Slamet dan memilih pergi berpindah tempat tinggal.
Menurut Kepala Pedukuhan Karet Iswanto, keputusan penolakan dilakukan
berdasarkan pada Surat Keputusan nomor 03/POKGIAT/Krt?Plt/X/2015,
dimana dalam surat keputusan itu tertulis bahwa pendatang baru harus
beragama Islam, sama dengan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk.
Peraturan ini pun akhirnya dicabut setelah pasca terjadi penolakan terhadap
Slamet. Pencabutan aturan dilakukan pada 2 April 2019.
6. Sejumlah jemaat gereja Katolik yang berlokasi di Gamping, Trihanggo,
Sleman, mengalami luka-luka. Sebelumnya, mereka diserang oleh seorang
pemuda dengan pedang pada Februari 2018.
7. pemotongan salib makam Albertus Slamet Sugihardi di Kelurahan Purbayan,
Kota Gede. Sebab, kompleks peristirahatan terakhir itu paling banyak diisi
jasad yang beragama Islam. Warga yang menolak keberadaan adanya simbol
agama non-muslim, memotongnya.
8. Penolakan terhadap sedekah laut.7 Pada saat akan melaksanakan sedekah laut,
dengan tiba-tiba ada dua rombongan mobil melakukan penyerangan dan
mengobrak-abrik peralatan yang akan digunakan untuk sedekah laut.
2. Sebab-Sebab Intoleransi
Sejumlah faktor dapat menjadi penyebab terjadinya intoleransi di Yogyakarta, dan
mungkin juga terjadi di tempat-tempat lain di Indonesia. Beberapa faktor yang mungkin
mempengaruhi termasuk:
1) Perubahan Sosial dan Pembangunan: Maraknya pembangunan, pertumbuhan kota,
dan perubahan tata kota dapat menciptakan ketegangan sosial. Peningkatan
pembangunan hotel, mall, dan infrastruktur dapat merubah karakteristik wilayah
dan memicu persaingan atau pergeseran dinamika sosial.
2) Ketidaksetaraan dan Kesenjangan Sosial: Adanya ketidaksetaraan ekonomi dan
sosial dapat menciptakan ketidakpuasan di kalangan masyarakat. Kesenjangan
sosial dapat menciptakan ketegangan antar kelompok dan dapat memunculkan
sikap intoleran.
3) Pragmatisme dan Individualisme: Meningkatnya sikap pragmatis dan
individualisme di masyarakat dapat mengurangi rasa kepedulian sosial dan
kebersamaan. Bila individu lebih fokus pada kepentingan pribadi daripada
kepentingan bersama, konflik dan intoleransi mungkin lebih mungkin terjadi.
4) Kurangnya Pengawasan dan Kepemimpinan Efektif: Peran pemerintah daerah dan
otoritas dalam mengatasi ketidaksetaraan, ketegangan, dan konflik sosial sangat
penting. Kurangnya pengawasan dan kepemimpinan yang efektif dapat
meningkatkan risiko terjadinya intoleransi.
5) Kurangnya Literasi dan Pendidikan:Tingkat literasi yang rendah dan kurangnya
pendidikan mengenai toleransi, pluralisme, dan hak asasi manusia dapat
menyebabkan munculnya prasangka dan stereotip, yang dapat menjadi dasar
tindakan intoleransi.
6) Dinamika Politik: Faktor-faktor politik, termasuk kampanye polarisasi atau retorika
yang meruncing dapat memicu konflik antar kelompok di masyarakat.
3. Solusi
Persoalan Intoleransi beragama dan berkeyakinan yang terjadi di yogyakarta menjadi
suatu fenomena yang tidak hanya menimbulkan konflik sosial horizontal dan vertikal
namun, menjadikan Yogyakarta yang mempunyai slogan “daerah toleran” dan “kota
pendidikan” semakin luntur. Maka, penanganan terhadap tindakan-tindakan intoleran
haruslah diantisipasi dalam peraturan.
Untuk mengatasi intoleransi, perlu ada langkah-langkah konkret dari pemerintah,
lembaga pendidikan, dan masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan yang mendalam
tentang nilai-nilai toleransi, kerukunan, dan keberagaman menjadi kunci penting untuk
menciptakan masyarakat yang inklusif dan harmonis. Selain itu, kebijakan pemerintah
yang pro-aktif dan penegakan hukum yang adil juga sangat diperlukan.
Peran pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, sangat penting dalam
menanggapi dan mencegah kasus-kasus intoleransi. Selain langkah-langkah
pencegahan dan penanganan setelah kasus terjadi, peran pendidikan juga krusial.
Melibatkan pendidikan mengenai toleransi, pluralisme, dan kerukunan antar-agama
dalam kurikulum sekolah dapat membantu membentuk sikap dan pemahaman yang
lebih toleran di kalangan generasi muda.
Perlu diingat bahwa intoleransi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah,
tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Kesadaran akan pentingnya kerukunan dan
toleransi harus ditanamkan di semua lapisan masyarakat untuk menciptakan lingkungan
yang inklusif dan harmonis. Selanjutnya, dialog antar-agama dan kelompok masyarakat
di tingkat lokal dapat menjadi sarana untuk membangun pemahaman bersama,
mengatasi kesalahpahaman, dan memperkuat kerukunan di masyarakat. Implementasi
nilai-nilai Pancasila, yang menekankan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, juga perlu
terus diperkuat.
Instruksi Gubernur DIY Nomor 1/INSTR/2019 tentang Pencegahan Potensi Konflik
Sosial adalah langkah positif yang mencoba mengatasi masalah ini melalui pencegahan,
pembinaan, dan pengawasan. Dalam instruksi tersebut mencakup beberapa poin penting
yang ditujukan kepada Bupati/Walikota se-Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu sebagai
berikut:
1. Pembinaan dan Pengawasan untuk Kebebasan Beragama dan Beribadat:
Melakukan pembinaan dan pengawasan untuk mewujudkan kebebasan
beragama dan beribadat sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.
Memberikan kebebasan dalam memilih pendidikan, pekerjaan, dan tempat
tinggal.
2. Pencegahan Praktik Diskriminasi:
Melakukan upaya-upaya pencegahan praktik diskriminasi.
Menjunjung tinggi sikap saling menghormati dan menjaga kerukunan hidup
beragama dan aliran kepercayaan.
3. Respons Cepat Terhadap Permasalahan Potensial:
Merespons secara cepat dan tepat semua permasalahan di dalam masyarakat
yang berpotensi menimbulkan intoleransi dan/atau konflik sosial.
Mencegah lebih dini tindak kekerasan.
4. Peningkatan Efektivitas Pencegahan:
Meningkatkan efektivitas pencegahan potensi intoleransi dan/atau konflik sosial
secara terpadu.
Menyesuaikan tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing berdasarkan
peraturan perundang-undangan.
5. Langkah-langkah Cepat, Tegas, dan Proporsional:
Mengambil langkah-langkah cepat, tegas, dan proporsional berdasarkan
peraturan perundang-undangan.
Menghormati nilai-nilai hak asasi manusia untuk menghentikan segala bentuk
tindak kekerasan akibat intoleransi dan/atau potensi konflik sosial.
6. Penyelesaian Permasalahan Antar Golongan:
Menyelesaikan berbagai permasalahan yang disebabkan oleh suku, agama, ras,
antar golongan.
Isi dari intruksi gubernur tersebut memang dapat meredam kondisi konflik yang
terjadi di masyarakat, ini terbukti ketika terjadi tindakan intoleransi di Pleret, Bantul
mengenai seorang seniman hanya diperboleh mengontrak rumah selama 6 bulan karena
masalah perbedaan agama. Kasus tersebut membuat masalah semakin rumit, dan kemudian
dengan adanya intruksi gubernur masalah tersebut dapat diselesaikan. Instruksi ini
mencerminkan upaya pemerintah daerah untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan
kedamaian di Daerah Istimewa Yogyakarta serta memenuhi hak-hak asasi masyarakat
dalam kerangka pencegahan potensi konflik sosial dan intoleransi.
DAFTAR PUSTAKA
1. https://dikpora.jogjaprov.go.id/web/read/sejarah-daerah-istimewa-yogyakarta
2. Badan Pusat Statistik Nasional. (2023). Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Dalam Angka 2023(No. Publikasi 34000.23). ISSN 2657-1218.
3. https://yogyakarta.bps.go.id/
4. Wahyuni, S. (2023). Kajian Infografis Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta. Pringgitan, Volume 04 No. 02, 85-96.
5. Harnoko, D., & Fibiona, I. (2021). Kagunan Sekar Padma: Kesenian Tradisional
di Yogyakarta, Awal Abad XX. Cetakan Pertama.
6. https://jogjabudaya.com/
7. Rusdi, M. (2021). Penanganan intoleransi oleh pemerintah daerah istimewa
yogyakarta. Widya Pranata Hukum: Jurnal Kajian Dan Penelitian Hukum, 3(1),
129-145.
8. https://www.suara.com/news/2023/03/24/151641/9-kasus-intoleransi-di-
yogyakarta-salib-makam-dipotong-camat-bukan-islam-ditolak