Geger Dunia Persilatan
karya Liang Yusheng (Liang I-Shen).
Ini adalah buku kedua yang saya baca sampai tamat, semenjak ikut milis Tjersil ini.
Buku pertama adalah “Lianchen Jue”-nya Jin Yong, atau lebih dikenal dengan judul
kunonya Soh Sim Kiam di Indonesia. Saya tertarik buku pertama itu karena kejenakaan
Jin Yong menggoda pembacanya dengan cara merubah berbagai frasa dalam syair
zaman Tang menjadi nama jurus-jurus silat yang kocak, dan lagi karena bukunya
cumaa satu jilid. Apakah nuansa ini masih tersisa setelah diterjemahkan, saya tidak
bisa komentar. Tapi itu alasan utama kenapa saya begitu tertarik pada buku itu.
Sedangkan buku kedua ini saya pilih, pertama karena ini satu-satunya buku terbaru
Liang Yusheng yang ada di library walaupun terbitan tahun 1999, dan kedua, karena di
sampul dalam buku ini ada dafter lengkap judul dan kategori buku-buku Liang yang
diterbitkan oleh penerbit Storm & Stree Publishing Co. (Fengyun Shidai Chuban She)
dari Taipeh, Taiwan ini. Kebetulan, daftar karya Liang baru menjadi topik diskusi di milis
ini.
Dalam urutan Karya Liang yang disusun pak ABS, buku ini berada dalam urutan nomor
19. Judul terjemahannya ‘Geger Dunia Persilatan’. Beberapa hari lalu sudah saya
singgung bahwa judul aslinya yang beredar di Internet banyak yang salah tulis. Setelah
melihat judul di sampul bukunya, saya mengerti kenapa bisa terjadi kesalahan itu.
Pertama, berbeda dengan kita, umumnya versi elektronik buku asli yang ada di Internet
dihasilkan dengan menggunakan OCR seperti yang tercantum diakhir setiap bab.
Chinese word processing sudah demikian maju, dan kamus elektronik sudah begitu
memadai, sehingga mereka tidak perlu mencari voluntir tukang ketik seperti kita di sini
tetapi cukup memakai scanner saja. Tapi itu tidak berarti bahwa mereka terbebas dari
persoalan walaupun jauh lebih kecil dibandingkan yang kita hadapi di sini.
Dua kesulitan yang mereka hadapi terlihat dalam buku ini dan berapa buku lain yang
sering saya lihat di Internet. Pertama, judul buku ini ditulis dengan maobi atau pit dalam
bahasa Hokkian. Akibatnya kayak menulis scripts dalam tulisan romawi, setiap huruf
sedapat mungkin diselesaikan dengan goresan yang minim. Kebetulan kata zhou yang
berarti distrik atau wilayah di sampul buku ini hasil tulisan maobi memberikan kesan
seakan ada titik tambahan seperti kata zhou benua. Itu dugaan saya. Kemungkinan
besar yang mengerjakan tugas transfer dari gambar ke artikel via OCR bukan seorang
pecandu tjersil model voluntir kita di sini, tetapi hanyalah seorang pegawai rendahan di
toko buku yang tinggal main comot saja? Kedua, OCR kadang tidak bisa membedakan
huruf-huruf yang hanya beda satu dua goresan. Makanya tidak heran baru baris
pertama, huruf ‘lei’ guntur sudah dikacaukan dengan huruf ‘xue’ salju. Saya malah
pernah lihat di buku lain, mungkin Kuangxia Tianjiao Monu, dalam satu halaman, nama
Tan Yuchong tahu-tahu berubah jadi Tan Chuchong. Cuma karena saya tidak baca
seluruh buku, jadi waktu itu hanya tinggalkan satu tanda tanya saja. Tapi banyak juga
salah cetak, misalnya huruf huo api dikacaukan dengan huruf quan untuk anjing dsb-
nya.
Seperti sudah jadi trade mark Liang, buku ini juga dimulai dengan sebuah syair yang
kalau diterjemahkan kira-kira menjadi begini:
Denyut kehidupan sembilan wilayah[1] diambang badai petir,
Selaksa kuda bungkam rintihkan getir lewat kebisuan,
Kupohonkan berkat semangat melimpah dari penguasa langit,
Berikut limpahan patriot bijak cendekia tanpa pembatasan.
[1]
Sembilah wilayah atau Jiuzhou memakai kanji yang sama untuk nama kota di
Jepang, Kyushu. Tetapi sembilah wilayah di sini adalah pembagian wilayah di zaman
Zhanguo atau Negara-negara zaman perang, di mana daerah Tiongkok dulu dibagi atas
9 wilayah pemerintahan. Paling tidak ada 3 urutan yang berbeda. Tapi belakangan,
istilah jiuzhou menjadi kataganti untuk Tiongkok, sehingga sembilan wilayah di atas
bisa diterjemahkan menjadi seluruh negeri tanpa mengubah artinya.
Tapi biasanya kalau di buku-buku Liang syair itu gubahan sendiri, di buku ini Liang
meminjam syair seorang pujangga pemberontak Gong Zenzi alias Gong Dingan, yang
dijelaskan Liang lewat dialog lakonnya, saat kedua lakon ini bertemu di puncak Taishan
waktu masing-masing datang dengan rencana untuk menikmati pemandangan indah
menjelang matahari terbit. Tahu-tahu malah didera badai hujan dan gelegar guntur
yang membuat mereka basah kuyup, salah satunya yang tidak tahu kalau di situ ada
orang lain sempat menantang suara geledek dalam badai mendendangkan syair di
atas. Lewat adegan pembukaan ini, Liang pun coba menjelaskan lebih jauh arti syair itu
lewat dialog berikut sekedar untuk memberikan latar belakang sejarah ceritera
selanjutnya:
Di bawah pohon pinus tua, dalam hujan badai, kedua orang itu berjabat tangan
dan tertawa. Ye Lingfeng bilang:” Xiao dage, ternyata bukan saja ilmu silatmu
hebat, kamu masih bisa mengarang syair yang bagus ini.” Xiao Zhiyuan
langusng tertawa dan bilang: “Yang namanya ritme saja saya tidak mengerti,
mana bisa menggubah syair? Ini adalah buah tangan cendikiawan Jiangnan
Gong Dingan.” Ye Lingfeng pun bertanya: “Apakah Xiucai dari Hangzhou, Gong
Dingan yang bergelar Sastrawan Edan itu?”
Xiao Zhiyuan bilang: “Benar, dia orangnya. Beberapa hari lalu saya melewati
kota Zhenjiang, kebetulan ada upacara persembahan untuk dewa angin dan
dewa guntur di kuil Yuhuangci di Zhenjiang. Gong Dingan kebetulan juga lagi
datang menonton dan seorang Daoshi[1] meminta dia menulis syair ini, untuk
dibakar biar pesan berisi doa ini bisa mencapai dewa angin dan dewa guntur.
Syairnya walaupun dibakar, tetapi sudah merambat lewat selaksa mulut. Xiaodi[2]
tidak mengerti urusan menggubah syair, tetapi syair ini sudah cukup untuk
menghancurkan duka di dalam dada. Kebetulan ketemu badai dan guntur, tanpa
sadar saya langsung memekikkan syair itu dalam badai ini.”
Badai guntur datangnya cepat pergipun cepat sekali. Dalam sekejap, hujan pun
berlalu dan langit pun terang benderang. Mega kekuningan, cahaya keperakkan
gemerlapan, dari puncak Taishan memandang ke arah laut timur, kelihatan bola
mentari merah seakan dipersembahkan oleh laut timur, dan gemerlap dalam
pantulan mega, langit cerah sejauh mata memandang. Xiao Zhiyuan pun
bertepuk tangan seraya tersenyum dan bilang:”Aneh ya, setelah badai dan
guntur, pemandangan lebih memukai lagi.” Ye Lingfeng malah tiba-tiba saja
menarik nafas panjang.
Ketika Xiao Zhiyuan mengejar:”Kenapa xiandi[3] menarik nafas?” Ye Lingfeng
menjawab: ”Sekedar reaksi gara-gara tersentuh mendengar syair itu. Saat ini
Zhongyuan lagi ditangan bangsa asing, dan ratusan tahun pun sudah lewat.
Banyak sudah pahlawan dan orang bijak yang telah mengucurkan darah,
kehilangan kepala, untuk mengusir penjajah Manzhou dan merebut kembali
tanah air. Tetapi kini setelah melewati keempat dinasti Shunzhi, Kangxi,
Yongzheng dan Qianlong, basisnya Manqing bertambah kokoh, dan kekejaman
bangsa Tartar ini terhadap orang Han makin hari makin kejam, selain menindas
juga pakai membujuk, selain menggunakan golok menebas juga menyediahkan
hadiah kopiah kerajaan, entah berapa banyak orang gagah ini yang masuk
dalam kunkungan ini. Nafas kehidupan rakyat makin menurun, pikiran orang pun
semakin membeku, rakyat jelata hanya bisa marah tetapi tidak bisa bicara,
apakah situasi ini bukan yang dilukiskan dalam: <<selaksa kuda bungkam
rintihkan getir lewat kebisuan>> Gimana tidak membikin orang menghela nafas?”
Xiao Zhiyuan membantah:”Tetapi ini belum tentu begitu. Denyut kehidupan
sembilan wilayah diambang badai petir. Tidakkah kamu melihat waktu sebelum
hujan deras dan kilat menyambar, bukankah semua pepohonan diam membisu,
tiada debu beterbangan, tetapi begitu badai lewat, bukankah semua kotoran
disapu bersih, nafas kehidupan bangkit kembali, ratusan bunga bermekaran?”
Ye Lingfeng menjawab:”Omongnya memang begitu. Tetapi entah kapan baru
ada badai besar guntur menggelegar ini, bersihkan kepengapan ini, dan
menggetarkan sembilan wilayah? Sudah itu kalau bicara tentang sumber daya
manusia, kita berdua adalah orang rimba persilatan, maka mari kita bicara soal
tokoh-tokoh persilatan ini saja. Seratus tahun lalu ada tokoh Ling Muofeng
Daxia[4] yang malang melintang di daerah Saiwai, menggetarkan hati kerajaan
Qing; limapuluh tahun lalu ada Lu Siniang nuxia[5] yang malam-malam
menyatroni istana memenggal kepala kaisar dengan pedang pusaka; dua puluh
tahun lalu adalah Jin Shiyi Daxia[6], yang kalau muncul di suatu tempat, semua
bajingan pada bersembunyi. Setelah pertempuran di Mengshan, membikin
pengawal kerajaan Qing jadi takut berkelana ke dunia sungai telaga lagi. Kini,
para tetua dan pahlawan ini, yang wafat sudah pada wafat, yang tua bertambah
tua, ilmu mereka belum pada surup, tetapi kegagahan mereka makin meredup.
Kalau ingat begitu, bagaimana tidak bikin hati gundah?…..”
………
Dari potongan terjemahan ceritera di atas ini paling tidak saya mendapatkan gambaran,
mengapa judul ini disebut Fenglei Zhen Jiuzhou atau Badai Guntur Menggetarkan
Sembilan Wilayah yang dengan bagusnya sudah diterjemahkan menjadi Geger Dunia
Persilatan. Pertanyaan sekarang, di mana atau apa yang menggegerkan?
Supaya tidak merusak selera mereka yang belum baca, saya tidak akan jelaskan detail
ceritera, tetapi berikan kerangka besarnya bahwa ceritera ini berawal dari kehadiran
yang tidak sengaja dari dua tokoh di atas, ketika empat orang yingquan[7] atau garuda
dan anjing pemburu, nama lain buat mata-mata kerajaan berusaha menangkap seorang
ayah beranak di puncak Taishan. Kedua ayah beranak ini adalah Li Wenzheng dan Li
Guangxia. Ayahnya mati gara-gara luka yang diderita setelah pertempuran berat
melawan keempat yingquan itu, namun dia masih sempat menitipkan anaknya kepada
dua pelaku di atas yang sempat membantu mereka mengalahkan musuh. Li Wenzheng
setuju atas usul salah satu penolongnya agar Li Guangxia dibawa untuk berguru pada
Jiang Haitian (Kang Hai Thian), tokoh rimba persilatan ternama, anaknya Jiangnan
alias Kanglam.
[1]
Daoshi = Toosu.
[2]
Xiaodi = siaute.
[3]
Xiandi = Hiantee.
[4]
Ling Muofeng Daxia = Leng Bo Heng Tayhiap?
[5]
Lu Siniang nuxia = Lu Soe Nio Lihiap.
[6]
Jin Shiyi Daxia = Kim Sie Ih Tayhiap.
[7]
Seingat saya dulu suka baca istilah kuku garuda buat mata-mata dalam cersil. Tapi
kuku garuda mengingatkan saya Yingzhua seperti dalam Engjiau, sedangkan Yingquan
maksudnya garuda dan anjing pemburu.
Perlu saya jelaskan bahwa tokoh Li Wenzheng ini adalah seorang tokoh Tianli Jiao atau
Hokkiannya mungkin Thian Li Kauw. Kematiannya kali ini dalam rangka melindungi
wakil pimpinan Tianli Jiao bernama Lin Qing yang sedang dikejar Yingqian kerajaan,
setelah ada pengkhianat melapor ke kerejaan yang lantas melabrak pusat Tianli Jiao di
kota Baoting. Pemimpin Tianli Jiao bernama Zhang Tingju mati terbunuh waktu itu,
sedangkan wakilnya Lin Qing menjadi buronan bersama putranya yang sebaya dengan
putra Li Wenzheng, dan Li terpaksa berkorban dengan jalan memancing para Yingquan
agar mengejar dia dan anaknya biar Lin dan anaknya bisa meloloskan diri. Dari situ ide
ceritera ini berkembang, dan plotnya terus bercabang. Dalam lima buku Jiang Haitian
terus berusaha mengejar Li Guangxia dan Lin Daoxuan, yang mengalami berbagai
adegan menarik dalam perjalanan hidup mereka dan itu yang membuat saya
memaksakan diri menyelesaikan kelima jilid ini sampai kemarin tengah malam.
Ada beberapa hal yang menarik di sini:
Pertama soal Tianli Jiao. Ternyata ini adalah pecahan atau bagian dari Bailian Jiao
yang dibahas pak ABS dalam email nomor 2621, tanggal 25 Agustus 2003 yang baru
lalu. Tianli sendiri berarti hukum alam, dan tidak ada hubungan dengan Tenrikyo yang
memakai nama dengan huruf kanji yang sama dan merupakan satu sekte agama
Budha di Jepang. Selain Tianli Jiao mereka juga dikenal dengan nama Bagua Jiao atau
ejaan Hokkiannya mungkin Patkwa Kauw.
Dalam catatan sejarah, Tianli Jiao pernah memberontak pada zaman Jiaqing, dan ini
pernah disinggung dalam tulisan pak ABS sbb:
Kemudian di jaman dinasti Tjeng (Qing), Pek Lian Kauw yang tetap menjadi secret
society. Dan di bawah pimpinan Lauw Tjie Hiap, Lie Boen Seng, dan Lim Tjeng,
organisasi ini berontak lagi di jaman kaisar Kee Keng (Jia Qing, memerintah 1796-
1820), dan sempat masuk ke Pakkhia, walaupun akhirnya bisa ditindas.
Ternyata ketiga nama di atas, Lie Boen Seng itu tidak lain adalah tokoh Tianli Jiao yang
mati di puncak Taishan, sedangkan Lim Tjeng adalah Lin Qing yang mau dilindungi
ayah beranak Li Wenzheng ini.
Nah, apakah karya Liang Yusheng ini sejarah yang dicersilkan, atau cersil yang
numpang sejarah, adalah hal kedua yang menarik hati saya.
Seperti pernah saya tulis, ketertarikan saya pada cersil saat saya masih kecil dulu
antara lain karena banyak tokoh cersil terjemahan OKT dan Gan KL dulu ada dalam
buku sejarah (waktu itu nama Jin Yong atau Liang Yusheng malah tidak begitu kenal,
karena maklum sekolah rakyat saja belum tamat). Sampai sekarang saya masih ingat
ketakjuban saya ketika menemukan nama Zhang Sanfeng alias Thio Sam Hong itu
dalam satu kamus tebal di perpustakaan sekolah saya waktu itu. Zaman sekarang
selain tulisan pak ABS di atas, bahan sejarah Tiongkok di Internet amat berlimpah.
Dengan memasukkan search words Tianli Jiao untuk search dalam Chinese Traditional
atau Fanti saja, hasilnya 857 entries dalam waktu 0.2 sekon. Dari situ saya temukan,
antara lain dari bahan sejarah perang Candu, kalau pemberontakan Tianli Jiao
berlangsung pada tanggal 15 September 1813, atau tepatnya, 190 tahun yang lalu.
Dalam buku ini, pemberontakan Lin tujuannya menyerang ke istana, sedangkan
bawahan Lin yang terdiri dari para jago rimba persilatan menyatroni penjara untuk
bebaskan suaminya Qianshou Guangyin Qi Shengyin (Kuan Im tangan seribu Tjik Seng
Im) yang bernama Wei Zhijiong dan anaknya Lin yang bernama Lin Daoxuan yang
sempat menjadi tawanan mata-mata kerajaan dan dibawa ke Beijing. Kedua tawanan
ini bisa dibebaskan setelah pertempuran yang memakan tenaga, tetapi Lin sendiri
mengalami perlawanan besar waktu menyerang ke istana walaupun ada anak buah
Tianli Jiao yang menjadi kasim itu membantu dari dalam. Dalam kisah ini Lin tertembak.
Hal ini dilukiskan di bab 41, dan ketika putranya Lin, Daoyuan yang baru dibebaskan
masih menangis bergulung-gulung memeluki tubuh ayahnya, Jiang Haitian lalu
memekik tertawa tiga kali terus berkata: “Bagus, Lin Qiaozhu[1], kamu mati dengan
gagah. Kematianmu ini mengagetkan langit dan bumi, menggegerkan sembilan
wilayah. Kematianmu ini membuat musuh menggigil dalam ketakutan, tetapi
membangkitkan semangat rakyat. Kau tidak kalah, walaupun tidak berhasil menguasai
istasana kaisar, tetapi kau telah menggetarkan fondasi dari kerajaan Qing. Kau hidup
sebagai pahlawan, matipun sebagai pahlawan. Tidak, sesungguhnya kau tidak mati.
Walaupun kau mati tetapi hidup kembali…..”
Walaupun masih ada 15 bab lagi sebelum buku ini berakhir, tetapi dari catatan di
bagian awal dan catatan di atas, terlihat dari mana asal usul judul Fenglei Zheng
Jiuzhou ini. Fenglei atau badai dan guntur menggelegar dibahas di awal tulisan ini
sebagai kiasan akan perubahan drastis dalam pemberontakan untuk mengubah
suasana apatis akibat penjajahan. Sedangkan Zheng Jiuzhou, menggetarkan sembilan
wilayah alias seluruh negeri, diambil dari pekikan Jiang Haitian saat memberikan eulogi
dihadapan jenazah Lin di atas, dalam kata-kata, ‘kematianmu ini mengagetkan langit
dan bumi, menggegerkan sembilan wilayah.”
Sekarang tinggal pertanyaan, sejauh mana kebenaran sejarah yang dipakai oleh Liang
Yusheng dalam menggarap ceritera ini?
[1]
Lin Qiaozhu = Lim Kauwtjoe.
Sekarang tinggal pertanyaan, sejauh mana kebenaran sejarah yang dipakai oleh Liang
Yusheng dalam menggarap ceritera ini?
Dalam salah satu situs tentang sejarah perang Candu, dikisahkan bahwa Lin
menyerang ke Beijing untuk membebaskan Li Wenzheng yang ketangkap sebelumnya.
Lin bukannya ketembak dan mati di tangan para pemberontak, tetapi ketangkap oleh
pasukan kerajaan, kemudian dihukum mati. Sedianya mereka berencana menyerang
dari dua arah. Tetapi pasukan dari selatan gagal datang, dan seperti juga dalam
ceritera ini, pasukan Lin harus bergerak awal satu hari. Pasukan selatan gagal karena
waktu mereka membikin senjata, beritanya bocor, lalu pimpinannya bernama Li
Wenzheng yang dalam ceritera Liang ini sudah dibunuh di awal ceritera, malah
ketangkap, dipenjarakan, dan pasukan Lin menyerang ke istana sekalian bisa
membebaskan Li dari penjara. Tanggal 23 September, kaisar Jia Qing sendiri ikut
mengadili dan menjatuhkan hukum mati kepada Lin bersama para pembantunya.
Yang terakhir adalah urusan asal usul syair di atas. Syair itu dapat ditemukan dalam
“Jihai Zashi” atau Kumpulan Syair Jihai dari Gong Dingan. Jihai di situ adalah nama
tahun dalam kalendar Huang dengan siklus 60 tahun. Tepatnya, tahun Jihai di sini jatuh
pada tahun Kaisar Daoguang ke-19, atau 1839 Masehi. Jadi kumpulan syair itu ditulis
dua puluh enam tahun setelah pemberontakan Lin Qing. Gong berusia 38 tahun ketika
dia lulus ujian kerajaan dan mendapatkan gelar Jinshi pada tahun Daoguang ke-9 atau
1829 Masehi, setelah mencoba untuk keenam kalinya. Karena lulus dengan nomor urut
ke-95, atau nomor sembilan belas dalam kelompok kelas tiga, maka dia tidak bisa
masuk ke Hanlin Yuan. Jadi Kumpulan Syair Jihai ditulis setelah Gong lulus dan
bekerja di Beijing selama 10 tahun lalu pulang kampung ke Zhejian gara-gara frustrasi
dan mendapat urusan di ibukota. Dari urutan ini, jelaslah bahwa hanya imajinasi mpu
seperti Liang Yusheng atau Jin Yong saja yang bisa membaurkan fakta sejarah ini dan
menjadikan novel yang menggugah, di mana saya sendiri ikut menikmati.
Seperti saya katakan di awal tulisan ini, buku ini adalah buku kedua yang saya baca.
Saya tidak bisa bandingkan dengan buku lain, karena pada umumnya buku-buku lain
itu saya baca sekitar 30-40 tahun yang lalu. Ada beberapa nama, misalnya tokoh-tokoh
Tianshan atau Mengshan yang mengingatkan saya akan nama-nama dari buku yang
saya pernah baca dahulu. Termasuk dalam kasus ini adalah tokoh Jiangnan atau
Kanglam, ayahnya Jiang Haitian. Seingat saya ini nama kacung entah di dalam
Bidadari dari Sungai Es atau Pedang Inti Es. Cuma dari segi ilmu silat dan bagaimana
tokoh-tokoh utama ini mendapatkan ilmunya, tidak sehebat seperti dalam trilogi
Rajawali Jin Yong. Mengenai cara pemberian judul ceritera versi cetak ini juga berbeda
dengan versi kuno. Semua judul dalam bentuk syair sudah dipenggal menjadi judul
dalam bentuk pepatah yang terdiri dari 4 huruf saja. Begitu juga penutup bab yang
selalu menyimpulkan kejadian di situ dalam bentuk syair juga tidak ada dalam versi
cetak. Tapi mungkin hal-hal ini tidak penting karena setahu saya syair tidak begitu
dipentingkan versi dalam terjemahan.
***
Huntsville, Alabama.
190 tahun setelah pemberontakan Lin Qing.
© 2003 Aris Tanone.