0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan28 halaman

SOP Komunikasi Interkoneksi Kalimantan

Dokumen ini berisi pedoman komunikasi sistem interkoneksi Kalimantan. Dokumen ini menjelaskan hirarki dan koordinasi, tugas serta tanggung jawab masing-masing petugas dalam mengoperasikan sistem kelistrikan wilayah Kalimantan.

Diunggah oleh

Ferdi Luther
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan28 halaman

SOP Komunikasi Interkoneksi Kalimantan

Dokumen ini berisi pedoman komunikasi sistem interkoneksi Kalimantan. Dokumen ini menjelaskan hirarki dan koordinasi, tugas serta tanggung jawab masing-masing petugas dalam mengoperasikan sistem kelistrikan wilayah Kalimantan.

Diunggah oleh

Ferdi Luther
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PT.

PLN (PERSERO) UNIT INDUK


PEMBANGKITAN DAN PENYALURAN
KALIMANTAN

SOP KOMUNIKASI
SISTEM INTERKONEKSI KALIMANTAN
TAHUN 2021

UNIT PELAKSANA PENGATURAN BEBAN KALIMANTAN

LISTRIK UNTUK KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK


RESUME

1. Dalam operasional real time Sistem Inetrkoneksi Kalimantan, Pelaksanan Sistem Operasi,
Dispatcher UP2B (Unit Pelaksana Penyaluran dan Pengatur Beban) Kalimantan, Operator
Gardu Induk, Operator Pembangkit harus memiliki SOP Komunikasi Sistem Interkoneksi
Kalimantan yang baku untuk menjadi pedoman atau panduan bagi Pelaksana Pengendali
Operasi
2. Pelaksanan Sistem Operasi, Dispatcher UP2B (Unit Pelaksana Penyaluran dan Pengatur
Beban) Kalimantan, Operator Gardu Induk, Operator Pembangkit berkewajiban
melaksanakan ketentuan dan standar berkomunikasi yang telah disusun dan disepakati
ini, sehingga terhindar dari kesalahpahaman komunikasi dan terlaksananya
pengoperasian sistem yang ekonomis, andal & aman untuk petugas dan peralatan.
3. Pelaksanan Sistem Operasi, Dispatcher UP2B (Unit Pelaksana Penyaluran dan Pengatur
Beban) Kalimantan, Operator Gardu Induk, Operator Pembangkit memahami
pengendalian dan pengoperasian peralatan / instalasi, prosedur kerja, wewenang dan
tanggung jawab pengoperasian.

ii
KATA PENGANTAR

SOP Komunikasi Sistem Interkoneksi Kalimantan merupakan pedoman atau panduan


bagi Pelaksana Pengendali Operasi (Dispatcher) UP2B (Unit Pelaksana Penyaluran dan
Pengatur Beban) Kalimantan, Operator Gardu Induk, Operator Pembangkit dalam
Operasional Interkoneksi Kalimantan pada Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran
Kalimantan.

Keadaan normal adalah keadaan sistem beroperasi normal, frekuensi dan tegangan
berada dalam batasan (range) operasi yang telah ditentukan. Buku pedoman ini harus
dipatuhi dan dijalankan agar pengoperasian sistem berjalan lancar dan aman.

Terakhir kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik
langsung maupun tidak langsung sehingga Buku SOP Komunikasi Sistem Interkoneksi
Kalimantan ini dapat diselesaikan dengan baik.

Banjarbaru, Januari 2021


MANAGER UP2B KALIMANTAN

MUCHAMAD CHALIQ FADLI

iii
DAFTAR ISI

RESUME ................................................................................................................................................... ii

KATA PENGANTAR .............................................................................................................................. iii

BAB I..........................................................................................................................................................1

PENDAHULUAN......................................................................................................................................1

BAB II ........................................................................................................................................................2

HIRARKI DAN KOORDINASI ................................................................................................................2

BAB IV .................................................................................................................................................... 10

TINDAKAN PADA KONDISI OPERASI ............................................................................................ 10

BAB V ..................................................................................................................................................... 12

TATA CARA BERKOMUNIKASI ........................................................................................................ 12

BAB VI .................................................................................................................................................... 15

Daftar Nama dan Kode Panggil (Call Sign) ...................................................................................... 15

BAB VIII .................................................................................................................................................. 17

PENUTUP .............................................................................................................................................. 17

BAB IX .................................................................................................................................................... 18

LAMPIRAN ............................................................................................................................................ 18

iv
BAB I
PENDAHULUAN

SOP Komunikasi Sistem Interkoneksi Kalimantan merupakan pelengkap dari prosedur


pengoperasian Sistem Kelistrikan Wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan
Kalimantan Timur. Para pelaku pada operasional Sistem Kelistrikan Wilayah Kalimantan
Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur berkewajiban melaksanakan ketentuan
dan standar berkomunikasi yang telah disusun dan disepakati ini, sehingga terhindar dari
kesalahpahaman komunikasi dan terlaksananya pengoperasian sistem yang ekonomis, andal
& aman untuk petugas dan peralatan.

Prosedur Tetap ini bersifat dinamis dan adaptif sehingga harus selalu diperbarui dan
disesuaikan dengan kebutuhan operasi.

1
BAB II
HIRARKI DAN KOORDINASI

Untuk tertibnya pengoperasian sistem maka perlu ketentuan hirarki tugas, wewenang
dan koordinasi pada masing-masing petugas unit pelaksana maupun piket masing-masing
unit pembangkit, penyaluran dan distribusi.

Pada kondisi normal maupun gangguan Dispatcher UP2B Kalimantan melakukan


pengaturan dan pengendalian Interkoneksi Kalimantan dengan memanfaatkan sarana
pendukung SCADA dan Telekomunikasi. Alur komunikasi dan tata cara berkomunikasi dalam
pelaksanaan Pengendalian Operasi Sistem Tenaga Listrik.

PIKET PIMPINAN PIKET PIMPINAN PIKET PIMPINAN


UIW KALSEL KALTENG UIKL KALIMANTAN UIW KALTIMRA

PIKET PIMPINAN UP2D PIKET PIMPINAN PIKET PIMPINAN


KALSEL KALTENG UP2B UP2D KALTIMRA

PENYELIA UP2D PENYELIA UP2D


PENYELIA RCC2 PENYELIA RRC1
KALSEL KALTENG KALTIMRA

DISPATCHER DCC DISPATCHER DISPATCHER DISPATCHER


KALSEL KALTENG RCC2 RRC1 DCC KALTIMRA

OPERATOR GI OPERATOR KIT OPERATOR KIT OPERATOR GI


KALSELTENG SISTEM BARITO SISTEM MAHAKAM KALTIM

PERINTAH OPERASI

KOORDINASI OPERASI

Gambar 1 Hirarki Wewenang Perintah, Koordinasi dan Komunikasi Operasi

2
BAB III
TUGAS DAN WEWENANG

Tugas dan wewenang pada masing-masing petugas unit pelaksana maupun piket
masing-masing unit pembangkit, penyaluran dan distribusi.

3.1 Dispatcher RCC1


Tugas dan Tanggung Jawab:
1. Mengoperasikan sistem kelistrikan dengan berpedoman kepada rencana operasi
yang telah dibuat, untuk mencapai sistem tenaga listrik yang andal, bermutu baik
dan ekonomis dengan tetap memprioritaskan keselamatan petugas dan kondisi
peralatan.
2. Melakukan tindakan yang terbaik bila kondisi sistem telah menyimpang dari
rencana operasi karena adanya gangguan instalasi dengan berpedoman pada
prinsip-prinsip operasi sistem tenaga listrik, setelah berkoordinasi dengan Piket
Penyelia RCC1.
3. Berkoordinasi dengan Piket Penyelia Pemeliharaan di ULTG untuk mengupayakan
pemeliharaan / perbaikan gangguan instalasi sesingkat mungkin.
4. Melakukan koordinasi Operasi dengan Dispatcher UP2D Kaltimra, Dispatcher
RCC2, Operator Gardu Induk Kaltim, dan Operator Pembangkit Sistem Mahakam
dalam mengoperasikan sistem tenaga, baik dalam kondisi normal, siaga maupun
pemulihan / gangguan.
5. Segera melaporkan kepada Piket Penyelia RCC1 dan Piket Pimpinan UP2B
tentang kejadian penting yang terjadi pada lokasi pusat listrik, transmisi atau gardu
induk serta mengupayakan bantuan ke lokasi tersebut dengan tetap
mengutamakan tugas pokoknya
Berwenang untuk :
1. Memerintahkan start/stop unit pembangkit di Sistem Mahakam.
2. Berkoordinasi dengan Dispatcher RCC2 untuk memerintahkan start/stop unit
pembangkit di Sistem Mahakam pada saat Interkoneksi Kalimantan
3. Memerintahkan naik/turun beban MW/MVAr unit pembangkit di Sistem Mahakam.
4. Berkoordinasi dengan Dispatcher RCC2 untuk memerintahkan naik/turun beban
MW/MVAr unit pembangkit di Sistem Mahakam pada saat Interkoneksi Kalimantan
5. Melakukan eksekusi buka/tutup PMT atau PMS pada transmisi dan trafo di Sistem
Mahakam melalui SCADA atau perintah ke operator gardu induk.
6. Memerintahkan naik/turun posisi tap changer trafo di Sistem Mahakam melalui
SCADA atau perintah ke operator gardu induk..

3
7. Meminta data operasi dan pengusahaan pada pembangkitan, dan penyaluran.
8. Membuka PMT transmisi untuk menghentikan (emergency stop) unit pembangkit
yang beroperasi sesuai dengan permintaan operator pembangkit karena adanya
kegagalan proses emergency stop unit pembangkit oleh operator pembangkit
9. Menolak permintaan yang tidak sesuai dengan garis wewenang operasi atau
secara teknis diluar kemampuan sistem.
10. Melaksanakan tugas sesuai dengan hirarki dan garis kewenangan operasi.

3.2 Dispatcher RCC2


Tugas dan Tanggung Jawab:
1. Mengoperasikan sistem kelistrikan dengan berpedoman kepada rencana operasi
yang telah dibuat, untuk mencapai sistem tenaga listrik yang andal, bermutu baik
dan ekonomis dengan tetap memprioritaskan keselamatan petugas dan kondisi
peralatan.
2. Melakukan tindakan yang terbaik bila kondisi sistem telah menyimpang dari
rencana operasi karena adanya gangguan instalasi dengan berpedoman pada
prinsip-prinsip operasi sistem tenaga listrik, setelah berkoordinasi dengan Piket
Penyelia RRC2.
3. Berkoordinasi dengan Piket Penyelia Pemeliharaan di ULTG untuk mengupayakan
pemeliharaan / perbaikan gangguan instalasi sesingkat mungkin.
4. Melakukan koordinasi Operasi dengan Dispatcher RCC1, Dispatcher UP2D Kalsel
Kalteng, Operator Gardu Induk Kalselteng, dan Operator Pembangkit Sistem
Barito dalam mengoperasikan sistem tenaga, baik dalam kondisi normal, siaga
maupun pemulihan / gangguan.
5. Segera melaporkan kepada Piket Penyelia RRC2 dan Piket Pimpinan UP2B
tentang kejadian penting yang terjadi pada lokasi pusat listrik, transmisi atau gardu
induk serta mengupayakan bantuan ke lokasi tersebut dengan tetap
mengutamakan tugas pokoknya
Berwenang untuk :
1. Memerintahkan start/stop unit pembangkit di Sistem Barito.
2. Berkoordinasi dengan Dispatcher RCC1 untuk start/stop unit pembangkit di Sistem
Mahakam pada saat Interkoneksi Kalimantan
3. Memerintahkan naik/turun beban MW/MVAr unit pembangkit di Sistem Barito.
4. Berkoordinasi dengan Dispatcher RCC1 untuk memerintahkan naik/turun beban
MW/MVAr unit pembangkit di Sistem Mahakam pada saat Interkoneksi
Kalimantan.
5. Melakukan eksekusi buka/tutup PMT atau PMS pada transmisi dan trafo di Sistem
Barito melalui SCADA atau perintah ke operator gardu induk.
4
6. Memerintahkan naik/turun posisi tap changer trafo di Sistem Barito melalui SCADA
atau perintah ke operator gardu induk.
7. Meminta data operasi dan pengusahaan pada pembangkitan, dan penyaluran.
8. Membuka PMT transmisi untuk menghentikan (emergency stop) unit pembangkit
yang beroperasi sesuai dengan permintaan operator pembangkit karena adanya
kegagalan proses emergency stop unit pembangkit oleh operator pembangkit
9. Menolak permintaan yang tidak sesuai dengan garis wewenang operasi atau
secara teknis diluar kemampuan sistem.
10. Melaksanakan tugas sesuai dengan hirarki dan garis kewenangan operasi.

3.3 Dispatcher UP2D Kalsel Kalteng


Tugas dan Tanggung Jawab :
1. Mengoperasikan jaringan Tegangan Menengah yang sudah dilengkapi
Sistem SCADA Distribusi Kalselteng
2. Melakukan switching PMT 20 kV di Gardu Induk secara remote berkoordinasi
dengan Operator Gardu Induk Kalselteng
3. Melakukan switching key point (Recloser, LBS, PMCB) secara remote
berkoordinasi dengan Piket 10 UP3 di Wilayah Kalselteng
4. Mengkoordinasikan pemeliharaan jaringan distribusi dengan Piket 10 UP3 terkait;
5. Melakukan Manual Load Shedding (MLS) penyulang 20 kV sesuai permintaan dan
berkoordinasi dengan Dispatcher RCC2
6. Melaporkan kepada Piket Penyelia Operasi Distribusi dan Piket Pimpinan
UP2D tentang kejadian penting yang terjadi pada penyulang atau jaringan
distribusi
Berwenang untuk :
1. Berkoordinasi dengan Dispatcher RCC2 untuk memerintahkan buka/tutup PMT 20
kV kopling trafo Gardu Induk di Sistem Barito
2. Memerintahkan buka/tutup PMT 20 kV Penyulang Kalselteng
3. Memerintahkan buka/tutup key point (PMCB, Recloser, LBS dll) Kalselteng
4. Meminta data operasi dan pengusahaan pada penyulang di gardu induk
Kalselteng.
5. Menolak permintaan yang tidak sesuai dengan garis wewenang operasi atau
secara teknis diluar kemampuan sistem.
6. Melaksanakan tugas sesuai dengan hirarki dan garis kewenangan operasi.

5
3.4 Dispatcher UP2D Kaltimra
Tugas dan Tanggung Jawab :
1. Mengoperasikan jaringan Tegangan Menengah yang sudah dilengkapi
Sistem SCADA Distribusi Kaltim
2. Melakukan switching PMT 20 kV di Gardu Induk secara remote berkoordinasi
dengan Operator Gardu Induk Kaltim
3. Melakukan switching key point (Recloser, LBS, PMCB) secara remote
berkoordinasi dengan Piket 10 UP3 di Wilayah Kaltimra
4. Mengkoordinasikan pemeliharaan jaringan distribusi dengan Piket 10 UP3 terkait;
5. Melakukan Manual Load Shedding (MLS) penyulang 20 kV sesuai permintaan dan
berkoordinasi dengan Dispatcher UP3B Kaltim
6. Melaporkan kepada Piket Penyelia Operasi Distribusi dan Piket Pimpinan
UP2D tentang kejadian penting yang terjadi pada penyulang atau jaringan
distribusi
Berwenang untuk :
1. Berkoordinasi dengan Dispatcher RCC1 untuk memerintahkan buka/tutup PMT 20
kV kopling trafo Gardu Induk di Sistem Mahakam
2. Memerintahkan buka/tutup PMT 20 kV Penyulang Kaltim
3. Memerintahkan buka/tutup key point (PMCB, Recloser, LBS dll) Kaltim
4. Meminta data operasi dan pengusahaan pada penyulang di gardu induk Kaltim
5. Menolak permintaan yang tidak sesuai dengan garis wewenang operasi atau
secara teknis diluar kemampuan sistem.
6. Melaksanakan tugas sesuai dengan hirarki dan garis kewenangan operasi.

3.5 Operator Pembangkit Sistem Barito


Bertugas mengoperasikan unit pembangkit sesuai dengan kemampuan peralatan atas
perintah Dispatcher RCC2
Berwenang untuk :
1. Mengoperasikan unit pembangkit berdasarkan perintah/pola yang ditetapkan
Dispatcher RCC2.
2. Mengoperasikan unit pembangkit pada kondisi pengujian tanpa masuk sistem
(Running Test).
3. Menolak permintaan yang tidak sesuai dengan garis wewenang operasi atau
secara teknis diluar kemampuan peralatan unit pembangkit.
4. Menghentikan (emergency stop) unit pembangkit yang beroperasi bila terjadi
gangguan atau pada kondisi darurat.

6
5. Berkoordinasi dengan Dispatcher RCC2 agar membuka PMT transmisi untuk
menghentikan (emergency stop) unit pembangkit dari sistem jika emergency stop
oleh Operator pembangkit gagal.

3.6 Operator Pembangkit Sistem Mahakam


Bertugas mengoperasikan unit pembangkit sesuai dengan kemampuan peralatan atas
perintah Dispatcher RCC1.
Berwenang untuk :
1. Mengoperasikan unit pembangkit berdasarkan perintah/pola yang ditetapkan
Dispatcher RCC1 (berkoordinasi dengan Dispatcher RCC2).
2. Mengoperasikan unit pembangkit pada kondisi pengujian tanpa masuk sistem
(Running Test).
3. Menolak permintaan yang tidak sesuai dengan garis wewenang operasi atau
secara teknis diluar kemampuan peralatan unit pembangkit.
4. Menghentikan (emergency stop) unit pembangkit yang beroperasi bila terjadi
gangguan atau pada kondisi darurat.
5. Berkoordinasi dengan Dispatcher RCC1 agar membuka PMT transmisi untuk
menghentikan (emergency stop) unit pembangkit dari sistem jika emergency stop
oleh Operator pembangkit gagal.

3.7 Operator Gardu Induk Kalselteng


Bertugas mengoperasikan peralatan transmisi dan gardu induk sesuai dengan
kemampuan peralatan atas perintah Dispatcher RCC2 dan Dispatcher UP2D Kalsel
Kalteng.
Berwenang untuk :
1. Membuka/menutup peralatan transmisi dan gardu induk yang beroperasi bila
terjadi gangguan atau pada kondisi darurat.
2. Mengoperasikan peralatan 150 kV, 66 kV, 20 kV incoming Trafo, 20 kV Kopling
Trafo, dan 20 kV Kopling Pembangkit melalui HMI, BCU atau kontrol panel
berdasarkan perintah Dispatcher RCC2.
3. Melaporkan kepada UPT KSKT/ULTG apabila peralatan tidak bisa dioperasikan
melalui HMI, BCU atau kontrol panel.
4. Mengoperasikan peralatan 20 kV Penyulang berdasarkan perintah Dispatcher
UP2D Kalsel Kalteng.
5. Berkoordinasi dengan Dispatcher RCC2 untuk buka/tutup PMT, PMS transmisi,
trafo, kopling trafo, dan kopling pembangkit karena adanya pemeliharaan sesuai
jadwal pemeliharaan terpadu.

7
6. Berkoordinasi dengan Dispatcher UP2D Kalsel Kalteng untuk buka/tutup
penyulang dan rack in/out penyulang karena adanya pemeliharaan sesuai jadwal
pemeliharaan terpadu.
7. Mengoperasikan peralatan transmisi dan gardu induk pada kondisi pengujian yang
tidak mengganggu sistem.
8. Menolak permintaan yang tidak sesuai dengan garis wewenang operasi atau
secara teknis diluar batas kemampuan peralatan transmisi dan gardu induk.

3.8 Operator Gardu Induk Kaltim


Bertugas mengoperasikan peralatan transmisi dan gardu induk sesuai dengan
kemampuan peralatan atas perintah Dispatcher RCC1 dan Dispatcher UP2D Kaltimra.
Berwenang untuk :
1. Membuka/menutup peralatan transmisi dan gardu induk yang beroperasi bila
terjadi gangguan atau pada kondisi darurat.
2. Mengoperasikan peralatan 150 kV, 20 kV incoming Trafo, 20 kV Kopling Trafo,
dan 20 kV Kopling Pembangkit melalui HMI, BCU atau kontrol panel berdasarkan
perintah Dispatcher RCC1.
3. Melaporkan kepada UPT KALTIMRA/ ULTG apabila peralatan tidak bisa
dioperasikan melalui HMI, BCU atau kontrol panel.
4. Mengoperasikan peralatan 20 kV Penyulang berdasarkan perintah Dispatcher
UP2D Kaltimra.
5. Berkoordinasi dengan Dispatcher RCC1 untuk buka/tutup PMT, PMS transmisi,
trafo, 20 kV kopling trafo, dan kopling pembangkit karena adanya pemeliharaan
sesuai jadwal pemeliharaan terpadu.
6. Berkoordinasi dengan Dispatcher UP2D Kaltimra untuk buka/tutup penyulang dan
rack in/out penyulnag karena adanya pemeliharaan sesuai jadwal pemeliharaan
terpadu.
7. Mengoperasikan peralatan transmisi dan gardu induk pada kondisi pengujian yang
tidak mengganggu sistem.
8. Menolak permintaan yang tidak sesuai dengan garis wewenang operasi atau
secara teknis diluar batas kemampuan peralatan transmisi dan gardu induk.

8
3.9 Piket Penyelia Sistem Operasi
Berwenang membantu piket pelaksana operasi masing-masing unit dan
berkoordinasi dengan piket setingkat untuk memperlancar tugas-tugas operasi Sistem
Interkoneksi Kalimantan.

3.10 Piket Pimpinan


Melakukan koordinasi dan mendapatkan informasi mengenai kondisi sistem
sebagai bahan laporan dan informasi kondisi sistem kepada manajemen PT. PLN
(Persero) Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran Kalimantan. Apabila diperlukan
melaksanakan koordinasi operasi dengan unit terkait.

9
BAB IV
TINDAKAN PADA KONDISI OPERASI

4.1 Tindakan Saat Kondisi Gangguan

1. Gangguan Sistem

Lakukan proses pemulihan sesuai pedoman pemulihan Interkoneksi Kalimantan. Bila


pelaksanaannya mengalami kesulitan, maka segera menghubungi dan
mengkonsultasikan dengan Supervisor Seksi Pengatur Operasi RCC1/2 atau piket
pimpinan UP2B sesuai jadwal.

Hanya petugas yang berdinas saat terjadinya gangguan yang boleh


berkoordinasi dengan menggunakan sarana Radio Komunikasi Sistem.

2. Gangguan Fasilitas Pendukung Operasi

Segera hubungi petugas piket FASOP 1 atau 2 agar segera diperbaiki.

3. Gangguan Peralatan Transmisi/ Trafo 150 kV Gardu Induk

Segera melaporkan gangguan transmisi / trafo 150 kV beserta indikasi dan arus
gangguan kepada Piket Penyelia RCC 1 atau 2, Piket Pimpinan UP2B dan Piket
Penyelia di UPT/ULTG. Untuk Penormalan / pemberian tegangan pasca gangguan
harus melalui tahapan sebagai berikut :

1. Gangguan 1 kali, Manajer ULTG mengkonfirmasi gangguan sudah dilokalisir dan


bisa dicoba kepada Dispatcher RCC 1 atau 2.
2. Gangguan 2 kali, Manager Bagian Penyaluran UPT mengkonfirmasi gangguan
sudah dilokalisir dan bisa dicoba kepada Manager Bagian Operasi 1/2 UP2B,
Manager Bagian Operasi 1/2 UP2B menyampaikan kepada Dispatcher RCC1/2.
3. Gangguan 3 kali, Manager UPT mengkonfirmasi gangguan sudah dilokalisir dan
bisa dicoba kepada Manager UP2B, Manager UP2B menyampaikan kepada
Manager Bagian Operasi 1/2 UP2B.

10
4. Gangguan Keamanan

Bila terjadi gangguan di luar sistem/non teknis yang berakibat


menghambat/membahayakan kelangsungan pengoperasian sistem tenaga listrik
(sabotase, demonstrasi, atau sejenisnya), maka Dispatcher RCC1/2 segera
menginformasikan kepada piket pimpinan dan berkoordinasi dengan petugas satuan
pengamanan (Satpam) yang bertugas atau aparat keamanan lainnya.

4.2 Komunikasi Saat Pemulihan Gangguan Sistem

Selama pemulihan gangguan sistem, Dispatcher RCC1/2 diijinkan untuk tidak


menerima informasi/telepon selain dari Dispatcher UP2D, Operator Pembangkit &
Operator Gardu Induk. Untuk informasi lainnya akan diambil alih oleh Piket Penyelia.

Informasi gangguan sementara akan disampaikan melalui aplikasi Whats App (WA) atau
Short Message Service (SMS) oleh Dispatcher/Piket Penyelia RCC1/2 kepada Manager
UP2B Kalimantan, Manager Bagian Operasi Sistem 1/2, General Manager, Senior
Manager, Manager-Manager Unit Pelaksana dan Manager Sub Bidang, segera setelah
terjadi gangguan.

4.3 Fasilitas Komunikasi Operasi

Komunikasi operasi sistem yang berlaku di Interkoneksi Sistem Kalimantan


menggunakan Radio Base Station sebagai alat komunikasi utama, sebagai back up
komunikasi disediakan VoIP, Telicon dan Hand Phone dengan penggunaannya sesuai
urutan prioritas tersebut.

Sistem telekomunikasi sebagai pendukung operasional pengaturan sistem meliputi


peralatan :

- Radio Analog
- Radio Digital
- VoIP
- Telicon
- Hand Phone
- Telepon PSTN
- Internet

11
BAB V
TATA CARA BERKOMUNIKASI

Dalam melakukan komunikasi operasional maka dibuat etika/tata cara berkomunikasi


dalam beberapa kondisi, antara lain :

5.1 Tata Cara Penyebutan untuk Pemanggilan Nama Unit

Sebut/panggil nama unit sesuai dengan Prosedur, contoh dari Dispatcher RCC1/2 akan
memanggil Dispatcher UP2D maka caranya sebagai berikut :

Dispatcher RCC1 : “UP2D Kaltim.. UP2D Kaltim.. RCC1 panggil”


Dispatcher UP2D : “RCC1, Silahkan masuk dengan UP2D Kaltim”
selanjutnya informasi dapat disampaikan.

5.2 Tata Cara Komunikasi Perintah buka PMT/PMS

Komunikasi perintah dari Dispatcher RCC1/2 kepada Operator Gardu Induk


menggunakan bahasa singkat dan jelas. Penerima perintah harus mengulang isi
perintah, contoh sebagai berikut :

Dispatcher RCC 2 : “GI Cempaka.. GI Cempaka.. RCC2”


Operator GI : “RRC2.. Silahkan masuk dengan GI Cempaka”
Dispatcher RCC 2 : “PMT 150 kV Line 1 Cempaka arah PLTA silahkan dibuka”
Operator GI : “Baik dimonitor.. PMT 150 kV Line 1 Cempaka arah Ulin segera
kami buka”

Jika pengulangan perintah “SALAH”, maka diberikan jawaban :

Dispatcher RCC 2 : “Ulangi.. PMT 150 kV Line 1 Cempaka arah PLTA silahkan
dibuka”
Operator GI : “Dimonitor.. PMT 150 kV Line 1 Cempaka arah PLTA dibuka”

12
Pastikan perintah diulang sampai benar. Jika pengulangan perintah “BENAR”, maka
diberikan jawaban :

Dispatcher RCC 2 : “Silahkan”

Komunikasi laporan pelaksanaan perintah :

Operator GI : “RCC2.. RCC2.. GI Cempaka Panggil”


Dispatcher RCC 2 : “Cempaka.. Silahkan masuk dengan RCC2”
Operator GI : “PMT 150 kV Line Cempaka arah PLTA dibuka pukul 08:15
WITA”

5.3 Tata Cara Komunikasi Gangguan Pembangkit

Komunikasi dari Operator Pembangkit kepada Dispatcher RCC1/2 menggunakan


bahasa singkat dan jelas, contoh sebagai berikut :

Operator Pembangkit : “RCC 2.. RCC 2.. SWD panggil”


Dispatcher RCC 2 : “SWD silahkan masuk dengan RCC2”
Operator Pembangkit : “Mesin unit 10 trip, indikasi temperature injection pump high”
Dispatcher RCC 2 : “Dicopy, mesin unit 10 trip indikasi temperature injection pump
high, silahkan diatasi dan kami tunggu informasi selanjutnya”

Informasi lebih lengkap mengenai kondisi mesin (beroperasi kembali atau memerlukan
waktu perbaikan) akan diinfomasikan kemudian setelah Operator Pembangkit
berkoordinasi dengan petugas pemeliharaan dan pejabat di UPDK/UPK.

5.4 Tata Cara Penyebutan untuk Pemanggilan Petugas maupun Pejabat

Sebut/panggil call sign petugas atau pejabat sesuai dengan Prosedur, contoh dari
petugas Supervisor SCADA 1/2 akan memanggil Dispatcher RCC1/2, maka caranya
sebagai berikut :

Spv SCADA : “RCC 1.. RCC 1.. UP2B Empat Satu panggil”
Dispatcher RCC 1 : “ UP2B Empat Satu,, Silahkan masuk dengan RCC1”
selanjutnya informasi dapat disampaikan.

13
5.5 Komunikasi Kondisi Darurat

Komunikasi darurat dilakukan apabila ada kejadian yang mendesak untuk disampaikan
pada Dispatcher RCC1/2 .
Dispatcher UP2D, Operator Pembangkit dan Operator Gardu Induk diijinkan melakukan
interupsi (menyela) pada keadaan emergency dengan mengucapkan kata
” Interupsi.....! ”
Interupsi dilakukan pada saat jeda transmite. Dispatcher RCC1/2 wajib
mendahulukan/memprioritaskan pihak yang melakukan panggilan interupsi.
Keadaan darurat dimaksud bisa berupa kebakaran, bencana alam, saluran udara putus,
peralatan terbakar dan lain-lain (Force Majeure).

Contoh :
Operator GI : ”RCC 2.. Interupsi GI Trisakti 70!”
Dispatcher RCC 2 : ”Silahkan masuk GI Trisakti 70”
Operator GI : ”Dibuka PMT 66 kV Trafo....Ada asap keluar dari kubikel....”

14
BAB VI
Daftar Nama dan Kode Panggil (Call Sign)

Dalam melakukan komunikasi operasional diberlakukan pembakuan sebutan nama


(Call Sign) Unit, Petugas, maupun Pejabat.

6.1 Daftar Nama dan Kode Panggil Pejabat Kantor Induk

No Pengguna Radio Komunikasi Call Sign


1 General Manager UIKL Kalimantan KALIMANTAN 1
2 Senior Manager Transmisi UIKL Kalimantan KALIMANTAN 2
3 Senior Manager Pembangkitan UIKL Kalimantan KALIMANTAN 3

6.2 Daftar Nama dan Kode Panggil Pejabat /Staf UP2B Kalimantan

No Pengguna Radio Komunikasi Call Sign


1 Manager UP2B UP2B 1
2 Manager Bagian Operasi 1 UP2B 2
3 Supervisor Operasi 1 UP2B 2.1
4 Manager Bagian Operasi 2 UP2B 3
5 Supervisor Operasi 2 UP2B 3.1
6 Manager Bagian FASOP UP2B 4
7 Supervisor SCADA 1 UP2B 4.1
8 Supervisor SCADA 2 UP2B 4.2
9 Supervisor TELKOM 1 UP2B 4.3
10 Supervisor TELKOM 2 UP2B 4.4

15
6.3 Daftar Nama dan Kode Panggil Dispatcher, Operator Pembangkit dan
Operator Gardu Induk

16
BAB VIII
PENUTUP

1. Hal-hal lain yang belum diatur oleh prosedur ini dan dianggap perlu ditambahkan
maka akan disempurnakan melalui mekanisme perubahan prosedur dikemudian
hari

2. SOP ini akan diperbaharui bila ada penambahan instalasi dan atau tidak sesuai
lagi dengan perkembangan kondisi sistem.

17
BAB IX

LAMPIRAN
1. Switching Radio

18
19
2. Ekstention IP Phone

20
Telp Telp
No. Nama No. Nama
VoIP VoIP
1 UP2B RCC 2 1 20000 Pembangkit
2 UP2B RCC 2 2 20001 1 PLTA 21101
3 UP2D KSKT 1 20002 2 MCR PLTU 1&2 21105
4 UP2D KSKT 2 20003 3 CCR PLTU 3 & 4 21106
Gardu Induk 4 GI Kalsel (Tanjung Power) 21206
1 GI Cempaka 20004 PLTD Buntok 21208
5
2 GI Pelaihari 21102 PLTD Muara Teweh 21211
3 GI Asam asam 21103 6 PLTMG Bangkanai 21214
4 Asam asam 20kV 21104 7 PLTD Pielstick 21305
5 Koord. Asam asam 21107 8 PLTG Trisakti 21306
6 GI Satui 21108 9 PLTD SWD 21307
7 GI Batulicin 21110 10 PLTD Kapuas 21313
8 GI Bandara 21113 11 PLTU P. Pisau 21402
9 GI Rantau 21201 12 PLTD Baamang 21408
10 GI Barikin 21202 13 PLTD Kahayan
11 GI Amuntai 21204
12 GI Tanjung 21205 Lain Lain
13 GI Buntok 21207 1 Har SCADA 20005
14 GI Muara Teweh 21210 2 Har Master 20006
15 GI Bangkanai 21213 3 Tim Telkom 20007
16 Bangkanai 20kV 21215 4 Telkom 20008
17 GI Ulin 21301 5 Opsis 20009
18 GI Mantuil 21302 6 Proteksi 20010
19 GI Trisakti 150 21303 7 Rayon Satui 21109
20 Gi Trisakti 70 21304 8 Rayon Batulicin 21111
21 Koord. Trisakti 21309 9 Area Kotabaru 21112
22 GI Seberang Barito 21310 10 Area Barabai 21203
23 GI Kayutangi 21311 11 Rayon Buntok 21209
24 GI Selat 21312 12 Rayon Muara Teweh 21212
25 GIS Mintin 21401 13 Area Banjarmasin 21308
26 GI. P. Pisau 21403 14 Area Kapuas 21314
27 GI. Palangkaraya 21404 15 Area Palangkaraya 21405
28 GI. Kasongan 21406 16 Rayon Sampit 21409
29 GI. Sampit 21407 17 Rayon Pangkalanbun 21410
30 GI. Bagendang

21
3. No Handphone

22
23
4. ID Radio Analog dan Digital

24

Anda mungkin juga menyukai