0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan9 halaman

Terapi Bermain Plastisin untuk Motorik Halus

Diunggah oleh

indrawatidarul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan9 halaman

Terapi Bermain Plastisin untuk Motorik Halus

Diunggah oleh

indrawatidarul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada bulan

Desember 2015 kepada 15 responden kelompok kontrol dan 15 responden

kelompok intervensi di TK Kholifah 27 Jakabaring Palembang, didapatkan

hasil yang diuraikan dalam bentuk tabel dan narasi berikut ini:

1. Analisa Univariat

Analisa univariat bertujuan untuk menggambarkan distribusi setiap

frekuensi dan persentase skor dari variabel perkembangan motorik halus pada

kelompok kontrol dan kelompok intervensi.

a. Perkembangan Motorik Halus Anak Sebelum Diberikan Terapi Bermain

Plastisin pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi

Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Hasil Perkembangan Motorik Halus
Sebelum Diberikan Intervensi Pada Kelompok Kontrol dan
Kelompok Intervensi
Kelompok N Mean Min – Max
Kontrol 15 7,40 6 -9
Intervensi 15 7,47 6-9

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa rata-rata perkembangan

motorik halus anak sebelum diberikan terapi bermain (kelompok kontrol)

adalah 7,,40. Perkembangan motorik halus anak yang paling rendah

adalah 6 dan perkembangan motorik halus anak yang tertinggi adalah 9.

39
40

Perkembangan motorik halus anak sebelum diberikan terapi bermain

plastisin (kelompok intervensi) adalah 7,47 Perkembangan motorik halus

anak yang paling rendah adalah 6 dan perkembangan motorik halus anak

yang tertinggi adalah 9.

b. Perkembangan Motorik Halus Anak Sesudah Diberikan Terapi Bermain

Plastisin untuk Kelompok Kontrol dan Intervensi

Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Hasil Perkembangan Motorik Halus
Responden Sesudah Intervensi Pada Kelompok Kontrol dan
Kelompok Intervensi
Kelompok N Mean Min – Max
Kontrol 15 8,60 6-9
Intervensi 15 14,27 6-9

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa rata-rata perkembangan

motorik halus anak sesudah diberikan terapi bermain (kelompok kontrol)

adalah 8,60 Perkembangan motorik halus anak yang paling rendah adalah

6 dan perkembangan motorik halus anak yang tertinggi adalah 9.

Perkembangan motorik halus anak sesudah diberikan terapi bermain

plastisin (kelompok intervensi) adalah 14,27. Perkembangan motorik

halus anak yang paling rendah adalah 6 dan perkembangan motorik halus

anak yang tertinggi adalah 9.

2. Analisa Bivariat

Analisis bivariat bertujuan untuk melihat perbandingan skor

perkembangan motorik halus anak sebelum diberikan terapi bermain

plastisin (pre-test) dan setelah diberikan terapi bermain plastisin (post-


41

test). Perbandingan antara rerata skor perkembangan motorik halus anak

sebelum dan setelah diberikan terapi bermain plastisin dapat dilihat pada

tabel di bawah ini.

Tabel 4.4
Perbedaan Rerata Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 4-5
Tahun Sebelum dan Setelah Diberikan Terapi Bermain Plastisin

Kelompok N Mean Standar Deviasi P Value


(SD)
Kontrol 15 1.200 0,775 0,000
(pre_post)
Intervensi 15 6.800 0,414 0,000
(pre_post)

Tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa rata-rata perkembangan

motorik halus anak sebelum dan sesudah diberikan terapi bermain

plastisin kelompok kontrol adalah 1.200 dengan standar deviasi 0,775.

Perkembangan motorik halus anak sebelum dan setelah diberikan terapi

bermain plastisin kelompok Intervensi adalah 6.800 dengan standar

deviasi 0,414. Analisis lebih lanjut menunjukkan terdapat perbedaan

bermakna antara perkembangan motorik halus anak sebelum dan setelah

diberikan diberikan terapi bermain (Kontrol) (P value = 0,000, = 0.05)

dengan perkembangan motorik halus anak sebelum dan setelah diberikan

diberikan terapi bermain plastisin(Intervensi) (P value = 0,000, = 0.05).

Berdasarkan uji yang telah dilakukan, data pretest dan posttest yang

lebih signifikan adalah anak yang mendapat terapi bermain plastisin

terhadap perkembangan motorik halus karena memiliki nilai P value =


42

0.000 yaitu p < 0.05 (Ha diterima). Hal ini membuktikan bahwa terdapat

perbedaan yang signifikan antara Perkembangan Motorik Halus Anak

Usia 4-5 Tahun Sebelum dan Setelah Diberikan Terapi Bermain Plastisin.

Untuk itu, terapi bermain plastisin sangat efektif dapat mempengaruhi

perkembangan motorik halus anak.

Tabel 4.5
Perbedaan Rata-rata Selisih Perkembangan Motorik Halus Anak
Pretest dan Posttest Pada Kelompok Kontrol dan Pada Kelompok
Intervensi
Kelompok N Mean SD P Value
Kontrol 15 1, 20 0,775
0,000
Intervensi 15 6,80 0,414

Berdasarkan table 4.5 diatas dapat dijelaskan bahwa rata-rata

selisih perkembangan motorik halus anak pada kelompok intervensi

adalah 6,80 dengan SD 0,775 dan rata-rata selisih perkembangan motorik

halus pada kelompok kontrol adalah 1,20 dengan SD 0,414. Uji

independent diperoleh nilai p= 0,000, lebih kecil dari nilai alpha(α=0,05)

yang berarti ada perbedaan perkembangan motorik halus anak pada

kelompok intervensi dan kelompok kontrol.


43

B. Pembahasan

Pengaruh Terapi Bermain Plastisin Terhadap Perkembangan Motorik

Halus Anak Usia 4-5 Tahun

Dari analisa didapatkan nilai rata-rata perkembangan motorik halus

anak usia 4 – 5 tahun hasil mean kelompok anak yang diberikan terapi

plastisin kelompok intervensi dan kelompok kontrol yaitu anak yang tidak

diberikan terapi bermain plastisin diketahui perbedaanya yaitu 7,47 untuk

kelompok intervensi dan 7,40 untuk kelompok kontrol jadi nilai mean

kelompok intervensi 7,47 lebih besar dari nilai mean kelompok kontrol

dengan nilai 7,40..

Bermain memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak, anak-anak

menemukan sesuatu yang baru dan berbeda yang dapat menimbulkan

kepuasan pada diri sendiri. Bermain dengan memanipulasi benda-benda

merupakan efek dari apa yang anak temukan disekelilingnya (Swartz, 2005

dalam Dynna 2013).

Plastisin merupakan bahan yang digunakan untuk bermain oleh anak-

anak di kelas. Plastisin memberikan pengalaman yang menyenangkan dan

memuaskan bagi anak-anak, namun bukan hanya aktivitas “bersenang-

senang”. Melalui media ini guru dapat menggunakannya sebagai

pembelajaran awal dan sebagai salah satu cara untuk mengobservasi

perkembangan anak dalam berbagai area perkembangan (Swartz, 2005)

dalam penelitian Kartini,Sujarwo (2014).


44

Ismail (2006) mengatakan bahwa media plastisin dapat melatih

sekaligus mengembangkan kreativitas anak. Sebab dengannya anak dapat

melakukan aktivitas eksplorasi dalam membuat berbagai bentuk model secara

bebas dan spontan. Media plastisin merupakan bahan pokok untuk bermain

anak usia dini selain itu plastisin juga memberikan pengalaman yang

menyenagkan dan memuaskan bagi anak.

Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Widyawati pada

tahun 2012, tentang Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Plastisin

Untuk Meningkatkan Kreativitas pada anak TK di Semarang. Hasil penelitian

menunjukan bahwa ada perbedaan kreativitas anak usia dini pada

pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan media plastisin dan ada

perbedaan yang signifikan mengenai kreativitas anak antara kelompok

eksperimen dengan kelompok kontrol dan penelitian yang dilakukan

Soelisyawati tentang Penerapan Media Plastisin Untuk Meningkatkan

Motorik Halus Anak Kelompok B TK Al-Islah Surabaya. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa penerapan media plastisin pada anak usia dini

merupakan media pembelajaran yang sangat tepat untuk meningkatkan

keterampilan motorik halus anak usia dini, hal ini dibuktikan dengan

pencapaian perkembangan motorik halus dari siklus pertama 60% dan pada

siklus kedua mencapai 80%. Penerapan media plastisin dapat meningkatkan

motorik halus juga dapat mengasah kemampuan yang lain di kelompok B TK

Al- Islah Surabaya.


45

Proses penelitian yang peneliti lakukan adalah memberikan pre test

pada anak-anak saat pretest peneliti melihat ada anak yang saat menjawab

dan mengerjakan intruksi yang peneliti berikan kurang antusias dalam

menanggapinya. Seperti saat diintruksikan untuk mengambar, ada yang

belum terlatih menggerakkan jari-jarinya untuk menggambar. Setelah

diadakan pretest diberikan perlakuan dengan bermain plastisin terhadap

kelompok intervensi. Anak yang belum dapat menggambar dengan baik

ternyata tidak punya keinginan juga untuk melakukan permainan pada saat

perlakuan intervensi yang pertama. Namun setelah peneliti melakukan

perlakuan pada saat intervensi berikutnya, terlihat kemajuan dari anak, ini

terlihat pada saat anak mulai mengikuti setiap intruksi yang peneliti berikan,

anak mengikuti dan melakukan permainan plastisin ini dengan menggunakan

jari-jarinya sampai selesai.

Berdasarkan hasil pengamatan selama kegiatan pembelajaran

menggunakan alat permainan dengan plastisin dapat melatih dan

meningkatkan kognitif anak karena pada saat bermain, anak melakukan

eksplorasi dan memanipulasi segala sesuatu yang ada dilingkungannya

melalui permainan plastisin ini anak dapat mengenal warna, bentuk, ukuran,

tekstur dan membedakan objek (Soetjiningsih,2006). Meningkatkan

perkembangan sensorik-motorik, pada saat anak melakukan permaianan ini,

aktivitas sensorik-motorik merupakan komponen terbesar yang digunakan

anak sehingga kemampuan penginderaan anak mulai meningkat dengan


46

adanya stimulasi-stimulasi yang diterima anak selama permainan plastisin ini

(Soetjiningsih, 2006).

Dalam proses bermain ini dilakukan dengan cara memberikan

kebebasan pada anak untuk berkreasi dan berimajinasi dalam membuat

plastisin menjadi bentuk-bentuk yang anak sukai sesuai yang ada dalam

fikiran dan imajinasinya. Suasana proses pembelajaran dibuat lebih nyaman,

aman, dan menyenangkan sehingga anak lebih aktif, percaya diri, dan bebas

mengungkapkan ide ataupun gagasan- gagasannya. Permainan dengan

plastisin memberikan kesenangan bagi anak. Kegiatan bermain plastisin dapat

memberikan kesempatan kepada anak untuk menggenggam, memukul,

meremas-remas, menjadi bagian-bagian kecil, memotong-motong,

menggulung, menggiling, mencetak maupun menipiskan. Secara fisiologis,

fungsi motorik yang dihasilkan berasal dari hemisfer kiri yang dominan.

Sistem koordinasi indera proprioseptif (mata, telinga, tangan dan kaki).

Reseptor sistem indra proprioseptif terletak di dalam otot-otot dalam

persendian serta pada sistem indera taktil yang bergabung dengan sistem

indera vestibular. Fungsinya untuk menyampaikan informasi ke otak

mengenai koordinasi dari anggota tubuh, yang diekspresikan (output) melalui

berbagai gerakan tubuh. Melalui sistem ini seseorang akan menjalani

kehidupan sehari-hari. Sistem indera proprioseptif memberi informasi

tentang: gerakan koordinasi motorik kasar dan motorik halus yang

membutuhkan ketepatan posisi anggota tubuh (body scheme).


47

Berdasarkan analisis diperoleh nilai pada kelompok kontrol ρ value =

0,000 dan pada kelompok intervensi ρ value = 0,000 dengan nilai α = 0,05, ini

menjelaskan bahwa pada kelompok intervensi ρ < 0,05 berarti Ha diterima

dan Ho ditolak

Dari hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang

signifikan antara perkembangan motorik halus anak usia 4-5 tahun yang tidak

diberikan terapi bermain plastisin dan kelompok yang diberikan terapi

bermain plastisin. Untuk itu terapi bermain plastisin efektif dan dapat

mempengaruhi perkembangan motorik halus anak. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi bermain plastisin terhadap

perkembangan motorik halus anak usia 4-5 tahun.

C. Keterbatasan Penelitian.

a) Peneliti tidak mengamati stimulasi yang diberikan pada anak saat di

rumah sehingga tidak diketahui bagaimana perkembangan motorik thalus

anak yang telah distimulasi di rumah dengan yang tidak distimulasi di

rumah.

b) Peneliti tidak memperhitungkan waktu penelitian dengan tepat, pada saat

penelitian waktu yang peneliti gunakan tidak sesuai dengan waktu yang

telah peneliti jadwalkan sebelumnya.

c) Ada beberapa anak yang tidak kooperatif, anak akan melakukan kegiatan

apabila didampingi orang tuanya sehingga akan mengakibatkan

mengalihkan konsentrasi anak yang lain.

Anda mungkin juga menyukai