Keselamatan Alat Berat
Keselamatan Alat Berat
14 October 2023
•
Pengingat
Pelatihan
2
A. TUJUAN
3
B. DASAR HUKUM KESELAMATAN ALAT BERAT
1. Keputusan Menteri Perhubungan, No. KM 61 Tahun 1963 tentang Rambu-Rambu Lalu Lintas di Jalan
3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per.04/Men/1985: Pesawat Tenaga dan Produksi
4. Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam Undang Nomor 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang dimaksud dengan Lalu Lintas adalah gerak kendaraan dan
orang di Ruang Lalu Lintas Jalan.
5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. Per.09/MEN/VII/2010 tentang
operator dan petugas pesawat angkat dan angkut
7. Kep-Dirjen No. 04 Tahun 2017 tentang Petujuk teknis pelaksanaan pembinaan dan pengujian lisensi
keselamatan dan kesehatan kerja bagi personil K3 Pesawat Angkat dan Angkut, Pesawat Tenaga dan
Produksi, Pesawat UAP, Bejana Tekanan, dan Tangki Timbun
8. Kepmen ESDM No. 1827.K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan Yang
Baik/GMP (Lampiran III, Hal 154 “Keselamatan Operasi/KO);
9. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 8 Tahun 2020 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat
Angkat dan Pesawat Angkut
4
C. GAMBARAN UMUM / OVERVIEW
Alat berat menjadi faktor penting dalam proyek, terutama proyek konstruksi maupun
pertambangan. Alat berat merupakan mesin berukuran besar yang didesain untuk
melaksanakan fungsi konstruksi, seperti pengerjaan tanah, konstruksi jalan, konstruksi
bangunan, pertambangan, dan perkebunan.
Contoh alat-alat berat, antara lain: Excavator, Motor grader, Dump truck, Wheel Loader Crane
Dozer Forklift, Backhoe, Compractors dan roller, Mixer, Scraper
Dalam pengoperasian alat berat banyak aspek yang harus Anda perhatikan, mulai dari
prosedur pengoperasian alat, aspek keselamatan kerja, keahlian dan pengetahuan operator,
serta aspek pemeriksaan dan pemeliharaan. Kebanyakan alat berat yang digunakan dalam
konstruksi, pertambangan, kehutanan, dan industri lainnya itu mengandung risiko yang tinggi
yang dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja bila tidak operasikan secara benar dan
aman.
Mayoritas kecelakaan kerja terkait alat berat mengakibatkan cedera serius hingga
kematian pada pekerja. NIOSH menyatakan sebagian besar kecelakaan terjadi akibat tabrakan
kendaraan, alat berat terguling, operator tertimpa beban, atau operator jatuh dari alat berat.
Area konstruksi jalan raya dan jembatan menyumbang hampir 80 persen kematian
pekerja akibat kecelakaan alat berat setiap tahunnya. Kecelakaan kerja fatal yang berhubungan
dengan alat berat juga banyak terjadi di industri lainnya, seperti pertambangan, pertanian,
5
manufaktur, dan kehutanan.
D. POTENSI BAHAYA DARI ALAT BERAT
Bahaya Alat Berat
Alat berat sering kali terdiri dari komponen besar yang bergerak seperti pisau berputar, track, dan
ban berjalan, yang dapat menimbulkan bahaya terjepit yang signifikan. Operator dan pekerja harus
berhati-hati dan menjaga jarak aman dari komponen yang bergerak ini untuk menghindari
kecelakaan.
a. Bagian yang Bergerak dan Bahaya Himpitan: Alat berat sering kali terdiri dari komponen besar yang
bergerak seperti pisau berputar, track, dan ban berjalan, yang dapat menimbulkan bahaya terjepit yang
signifikan.
6
D. POTENSI BAHAYA DARI ALAT BERAT
b. Benda Jatuh: Beban yang tidak diamankan dengan benar atau material yang tidak stabil yang diangkat
oleh alat berat dapat mengakibatkan jatuhnya benda-benda yang dapat menimbulkan bahaya yang
mencolok.
c. Kelistrikan: Alat berat bergantung pada sistem kelistrikan agar berfungsi dengan baik. Operator harus
menyadari risiko yang terkait dengan bekerja di dekat kabel listrik, kabel bawah tanah, atau instalasi listrik.
Alat-alat yang terisolasi dan pelatihan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko sengatan listrik.
7
D. POTENSI BAHAYA DARI ALAT BERAT
d. Bahaya Getaran dan Kebisingan: Bekerja dengan alat berat sering kali melibatkan paparan kebisingan
dan getaran tingkat tinggi dalam waktu lama, yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran,
gangguan muskuloskeletal, dan kelelahan.
e. Bahaya Api dan Ledakan: Alat berat yang beroperasi dengan bahan bakar, cairan hidraulik, atau
pelumas yang mudah terbakar memiliki risiko kebakaran atau ledakan.
D. POTENSI BAHAYA DARI ALAT BERAT
f. Bahaya Jepit: Alat berat mungkin memiliki mekanisme atau bagian yang dapat menjepit bagian tubuh
jika operator atau pekerja bersentuhan dengannya.
g. Bahaya Pandangan Terbatas: Jarak pandang yang terbatas dari kabin operator dapat menyebabkan
kecelakaan.
D. POTENSI BAHAYA DARI ALAT BERAT
h. Kurangnya Pelatihan dan Pemeliharaan yang Tidak Memadai: Pelatihan operator yang tidak memadai
dan pemeliharaan alat berat yang tidak memadai berkontribusi terhadap bahaya keselamatan
E. POTENSI RISIKO DARI ALAT BERAT
Potensi bahaya yang dapat timbul saat pengoperasian alat berat di antaranya:
▪ Tersengat listrik jika alat kontak langsung dengan saluran listrik tegangan tinggi di bagian atas
▪ Alat tumbang, terguling, atau terjungkal ke depan
▪ Pekerja terkena jatuhan material yang diangkat oleh alat berat
▪ Pekerja tertimpa atau terjepit alat berat, dan jatuh dari alat berat
▪ Pekerja tertabrak atau terlindas alat berat.
Mayoritas cidera atau kematian terkait alat berat yang terjadi di tempat kerja dihubungkan dengan
kesalahan manusia (human error), meskipun banyak juga yang diakibatkan oleh kerusakan pada alat atau alat
yang tidak berfungsi dengan baik. Sering kali dua faktor tersebut mengakibatkan kecelakaan kerja yang fatal.
Dalam hal ini pengusaha dan pengurus memiliki kewajiban untuk memastikan pekerja yang
mengoperasikan alat berat bekerja dengan aman dan selamat.
Berikut beberapa penyebab kecelakaan kerja terkait alat berat yang sebenarnya dapat dicegah, antara lain:
o Pelatihan operator tidak memadai, Lingkungan kerja tidak aman
o Kelalaian dalam inspeksi dan pemeliharaan, Desain mesin yang cacat ─ kerusakan pada alat
o Pengoperasian alat berat tidak sesuai prosedur keselamatan, Pengawasan tidak efektif
o Tingkah laku operator yang tidak aman, seperti mengebut (ugal-ugalan), kurang hati-hati ketika mundur atau
kehilangan kendali saat menekan pedal gas dan rem.
o Penyalahgunaan penggunaan alat berat.
11
F. PERATURAN MEMASUKI AREA TAMBANG
Peralatan:
1. Kendaraan/Alat Berat harus diperiksa dan diuji sebelum masuk/digunakan di
area tambang.
2. Lulus uji komisioning dan terpasang Stiker Lulus.
7. Compactor 12
5. Dump Truck 6. Wheel Loader
F. JENIS-JENIS ALAT BERAT DI PROJECT WBN
14
KESELAMATAN ALAT BERAT
15
KESELAMATAN ALAT BERAT
16
KESELAMATAN ALAT BERAT
17
KESELAMATAN ALAT BERAT
18
KESELAMATAN ALAT BERAT
19
KESELAMATAN ALAT BERAT
20
KESELAMATAN ALAT BERAT
21
KESELAMATAN ALAT BERAT
22
KESELAMATAN ALAT BERAT
50 M
Pastikan jarak aman anda dengan unit yang berada di depan 50 meter atau 5 kali unit tersebut saat
berhenti di area jalan agar memudahkan anda memasang perseneling mundur bila unit yang berada
di depan bergerak mundur secara tiba tiba
23
KESELAMATAN ALAT BERAT
100 Meter
50 Meter
50 Meter
Jarak kendaraan harus lebih jauh saat dalam kondisi licin atau
kondisi saat jarak pandang berkurang (kabut, hujan, asap)
24
H. TINDAKAN PENGENDALIAN UNTUK KESELAMATAN ALAT BERAT
Untuk mengurangi bahaya yang terkait dengan alat berat, beberapa langkah pengendalian harus
diterapkan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk melindungi operator alat berat dan mereka yang bekerja di
dekatnya. Berikut ini adalah langkah-langkah pengendalian yang efektif untuk keselamatan alat berat
1. Pelatihan Operator dan Sertifikasi Pihak Ketiga 16. Izin Kerja Panas
2. Izin Konstruksi dan Sertifikasi Pihak Ketiga 17. Pemuatan dan Pembongkaran yang Aman
3. Inspeksi dan Pemeliharaan Peralatan 18. Hindari Penyalaan yang Tak Terduga
4. Validitas Sertifikat Keselamatan 19. Pengetahuan dan Mematuhi Batas Muatan
5. Alat Pelindung Diri (APD) 20. Mengenali Batasan Fisik dan Emosional
6. Komunikasi dan Persinyalan yang Jelas 21. Membuat Zona Penyangga
7. Petugas Sinyal Terlatih / ???? Petugas Bendera 22. Mengidentifikasi dan Menandai Zona Bahaya
8. Pencegahan Titik Buta 23. Manajemen Zona Kerja
9. Penangkapan Percikan Api yang Disetujui 24. Tujuan Penggunaan Peralatan
10. Alat Pemadam Kebakaran 25. Memahami Manual Operator
11. Pakaian dan Kaca Spion yang Tepat 26. Keselamatan Penggalian
12. Penggunaan Sabuk Pengaman 27. Keselamatan Boom
13. Aturan Tiga Poin untuk Menaiki dan Turun dari 28. Keselamatan Kompresor Udara
Kendaraan 29. Keselamatan Alat Pemadat
14. Keamanan Pengisian Bahan Bakar 30. Mematikan Sumber Energi
15. Sertifikasi dan Kalibrasi Pihak Ketiga
TINDAKAN PENGENDALIAN UNTUK KESELAMATAN ALAT BERAT
1. Pelatihan Operator dan Sertifikasi Pihak Ketiga
Program pelatihan yang komprehensif harus diberikan kepada operator untuk memastikan bahwa mereka
memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengoperasikan peralatan dengan aman.
Program sertifikasi memvalidasi kompetensi operator, dan pelatihan yang berkelanjutan membuat mereka
selalu mendapatkan informasi terbaru tentang praktik-praktik keselamatan.
33
ATURAN PENGOPERASIAN ALAT BERAT
Tips Mengoperasikan Alat Berat:
1. Survei area kerja
a. Pastikan supervisor telah melakukan pengamatan dan inspeksi area kerja
b. Komunikasikan rencana pekerjaan kepada seluruh personil yang terlibat pada pekerjaan tersebut
c. Menunjuk seorang spotter untuk membantu operator apabila pandangan terbatas atau terhalang saat
mengoperasikan alat. Spotter adalah orang yang bertugas memandu kegiatan/ pengoperasian alat berat. Spotter
harus mendapatkan pelatihan sebelum memulai pekerjaan.
d. Pastikan izin kerja (work permit) untuk melakukan pekerjaan di area kerja tertentu sudah didapatkan
e. Pastikan area kerja sudah aman dari kemungkinan adanya material atau kondisi lingkungan kerja yang dapat
menimbulkan bahaya.
34
ATURAN PENGOPERASIAN ALAT BERAT
Tips Mengoperasikan Alat Berat:
2. Persiapan sebelum mengoperasikan alat berat
a. Periksa kondisi dan kelayakan alat sesuai dengan formulir pemeriksaan yang sudah dipersiapkan. Segera laporkan apabila
terdapat kerusakan pada alat berat dan lakukan perbaikan bila diperlukan.
b. Bersihkan anak tangga dan pegangannya dari lumpur, minyak, atau kotoran penyebab licin lainnya
c. Gunakan teknik 3-points contact (tiga titik tumpu) saat naik atau turun tangga. 3 titik tumpu artinya 2 kaki berpijak dengan
satu tangan berpegang pada anak tangga dan satu tangan bergerak menanggapi tangga atau 2 tangan berpegang pada
anak tangga dengan satu kaki berpijak dan kaki lain bergerak menggapai tangga.
d. Atur tempat duduk sesuai dengan ukuran tubuh dan gunakan sabuk pengaman selama berada dalam kabin, Atur kaca
spion sesuai dengan sudut pandang operator
e. Hidupkan mesin, biarkan mesin dalam putaran rendah selama kurang lebih 5 menit untuk pemanasan
f. Pahami prosedur kerja dan situasi area kerja, Pastikan pekerja lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan yang
dilakukan tidak berada di area kerja atau berada di area yang aman
g. Pastikan tanda-tanda komunikasi (klakson) dipahami operator alat berat lain yang terlibat dalam pekerjaan.
h. Klakson 1x untuk menghidupkan alat berat
i. Klakson 2x untuk maju
j. Klakson 3x untuk mundur
k. Gunakan alat pelindung diri (APD) yang diperlukan, seperti rompi Hi-Vis (high visibility), helm keselamatan, sepatu
keselamatan, kacamata keselamatan, masker, sarung tangan dan sumbat telinga.
ATURAN PENGOPERASIAN ALAT BERAT
Tips Mengoperasikan Alat Berat:
3. Saat mengoperasikan alat berat
a. Periksa sekitar area kerja, terutama kemungkinan adanya pekerja lain atau alat berat lain dan bunyikan
klakson sebagai tanda alat akan bergerak
b. Pastikan radio komunikasi dalam kondisi aktif selama pekerjaan berlangsung. Namun jika radio tidak
tersedia, maka gunakan sinyal tangan dari spotter
Parkir adalah tempat untuk berhentinya kendaraan untuk waktu sebentar maupun lama, hal yang
perlu diperhatikan oleh pengemudi :
1. Parkir di area yang telah ditentukan.
2. Jangan parkir atau berdiri di posisi depan kendaraan yang akan
membuat lalulintas menjadi berbahaya.
3. Jangan parkir kurang dari 50 meter dari area operasi atau posisi parkir
dekat dengan kendaraan berat apa pun kecuali diizinkan oleh operator
4. Jika kendaraan memiliki persneling mekanis, biarkan di persneling
rendah. dan pasang 2 pcs wheel chock pada roda kendaraan.
5. Kendaraan ringan tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan dengan
mesin menyala. Lampu berkedip saat berada di area pertambangan.
6. Tidak ada kendaraan yang boleh parkir di zona larangan kendaraan berat
kecuali diizinkan oleh operator kendaraan berat.
7. Tidak ada kendaraan yang boleh parkir dalam jarak 10 meter dari
permukaan atau dinding pit.
8. Saat parkir di tanjakan, selalu putar roda Anda ke arah tanggul
9. Beberapa area parkir Kendaraan Ringan hanya ditujukan untuk parkir
mundur. Area tersebut telah dipasang sign. Parkir hanya di area parkir yang
38
ditentukan di area PIT dan pembuangan.
J. STANDAR PENGOPERASIAN ALAT BERAT
39
•Safety Essential •HEAVY VEHICLES
Requirements
•Employees
✓ Saya terlatih secara khusus
mengenai risiko yang terkait
dengan kondisi lokasi saat
mengemudi
•Employees
✓Saya bertanggung
jawab atas kesehatan
dan keselamatan saya
sendiri.
✓Saya siap
menunjukkan SIM
saya dalam segala
situasi.
•Safety Essential •HEAVY VEHICLES
Requirements
•FAKTOR-FAKTOR RISIKO
•Management
Saya menilai Risiko yang terkait dengan fungsi-
fungsi kendaraan berat, seperti:
•Management
•PERALATAN
•Equipment
•P2H
•Equipment
Saya
melaksanakan
P2H pada
kendaraan, dan
saya tahu dalam
masalah seperti
apa saya perlu
untuk segera
berhenti dalam
melakukan
perbaikan
46