Anda di halaman 1dari 7

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 SISTEM PERPIPAAN


Sistem perpipaan dapat ditemukan hampir pada semua jenis industri, dari sistem pipa tunggal yang sederhana sampai sistem pipa bercabang yang sangat kompleks. Contoh sistem perpipaan adalah, sistem distribusi air minum pada gedung atau kota. sistem pengangkutan minyak dari sumur bor ke tandon atau tangki penyimpan, sistem distribusi udara pendingin pada suatu gedung, sistem distribusi uap pada proses pengeringan dan lain sebagainya. Sistem perpipaan meliputi semua komponen dari lokasi awal sampai dengan lokasi tujuan antara lain, saringan (strainer), katup atau kran, sambungan, nosel dan sebagainya. Untuk sistem perpipaan yang fluidanya liquid, umumnya dari lokasi awal fluida, dipasang saringan untuk menyaring kotoran agar tidak menyumbat aliran fuida. Saringan dilengkapi dengan katup searah ( foot valve) yang fungsinya mencegah aliran kembali ke lokasi awal atau tandon. Sedangkan sambungan dapat berupa sambungan penampang tetap, sambungan penampang berubah, belokan (elbow) atau sambungan bentuk T (Tee). Perencanaan maupun perhitungan desain sistem perpipaan melibatkan persamaan energi dan perhitungan head loss serta analisa tanpa dimensi yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Perhitungan head loss untuk pipa tunggal adalah dengan persamaan Darcy-Weisbach yang mengandalkan Diagram Moody untuk penentuan koefisien geseknya. Untuk keperluan analisa jaringan perpipaan umumnya dipergunakan persamaan Hazen-Williams.

2.3. Sistem Pipa Tunggal Penurunan tekanan (pressure drop) pada sistem pipa tunggal adalah merupakan fungsi dari laju aliran, perubahan ketinggian, dan total head loss. Sedangkan head loss merupakan fungsi dari faktor gesekan, perubahan penampang, dll atau dapat dinyatakan dengan persamaan : Dp = f ( L,Q, D, e, Dz, konfigurasi sistem, r, m) Untuk aliran tak mampu mampat, sifat fluida diasumsikan tetap. Pada saat sistem telah ditentukan, maka konfigurasi sistem, kekasaran permukaan pipa, perubahan elevasi dan kekentalan fluida bukan lagi merupakan variabel bebas. Persamaan akan menjadi : Dp = f ( L,Q, D) Empat kasus yang mungkin timbul pada penerapan di lapangan adalah : 1. L, Q, D diketahui, Dp tidak diketahui 2. Dp , Q, dan D diketahui, L tidak diketahui 3. Dp , L dan D diketahui, Q tidak diketahui 4. Dp , L dan Q diketahui, D tidak diketahui Penjelasan masing-masing kasus tersebut adalah sebagai berikut : 1. Untuk kasus ini, faktor gesekan f, dapat diperoleh dari diagram Moody ataupun dari persamaan empiris perhitungan f dari Re dan e yang diketahui. Total head loss dihitung dan penurunan tekanan dapat dihitung dari persamaan energi. Kasus ini diilustrasikan pada contoh soal.1 2. Hampir sama dengan kasus 1 maka total head loss dapat dihitung dari persamaan energi, kemudian faktor gesekan diperoleh dari diagram Moody. L yang tidak diketahui dapat dihitung dari persamaan mayor losses. Kasus seperti ini ditampilkan pada contoh soal 2 dan 3 3. Karena Q atau V belum diketahui maka faktor gesekan dinyatakan sebagai fungsi V atau Q terlebih dahulu. Kemudian diasumsikan sebuah nilai f yang diambil dari diagram Moody dengan kenyataan bahwa aliran dalam pipa, angka Reynoldnya pasti cukup besar. Dari f asumsi tersebut diperoleh V asumsi yang dipergunakan untuk menghitung angka Reynold asumsi. Dari angka Reynold yang baru ini dicari nilai f yang baru untuk asumsi V yang kedua. Langkah ini diulangi sampai diperoleh nilai yang sesuai. Karena f adalah fungsi yang lemah terhadap angka Reynold maka 2 atau 3 kali iterasi sudah diperoleh nilai V yang hampir benar seperti pada contoh soal 4.

4. Apabila D pipa belum diketahui tentunya diinginkan diameter terkecil yang memungkinkan agar ekonomis. Perhitungan dimulai dengan mengasumsikan nilai D terlebih dahulu. Kemudian angka Reynold dan kekasaran relatif pipa dapat dihitung demikian pula faktor gesekan. Total head loss dihitung dan juga penurunan tekanan, dari persamaan energi. Hasil perhitungan penurunan tekanan ini dibandingkan dengan penurunan tekanan yang disyaratkan. Jika perhitungan pressure drop jauh lebih besar, maka perhitungan diulangi dengan mengasumsikan nilai diameter pipa yang lebih besar atau sebaliknya. Iterasi diulangi sampai ketelitian yang diharapkan.

Contoh Soal 1. Pipa halus/smooth dipasang horisontal pada tandon air yang besar. Tentukan kedalaman air yang harus dijaga tetap agar menghasilkan laju aliran volume sebesar 0,03 m3/dt. Diameter dalam pipa adalah 75 mm dan koefisien minor losses untuk inletnya adalah 0,5. Air dibuang ke udara luar. Penyelesaian : Diketahui Ditanya : kedalaman air, d Jawab: Persamaan dasar:

Dari soal maka p1 = p2 = patm, V1 0, z2 = 0, z1 = d sehingga: Kecepatan dapat disubstitusikan dari V = Q/A = 4Q/ pD2 sehingga:

Untuk air pada suhu 200 C maka r = 999 kg/m3 m = 1x10-3 kg/m.dt sehingga Untuk pipa halus, dari Diagram Moody maka f = 0,0131 sehingga

Contoh Soal 2. Air dipompa melalui pipa diameter 0,25 dari discharge pompa yang tekanannya 1,42 MPa (gage) ke tandon yang terbuka. Apabila ketinggian air di tandon 7 m diatas discharge pompa dan kecepatan air rata-rata di dalam pipa adalah 3 m/dt, perkirakan jarak dari discharge pompa tersebut ke tandon apabila kekentalan air 1,4x 10-3 kg/m.dt dan koefisien gesek pipa adalah 0,015 Penyelesaian : Diketahui : 2 A. 10 m V= 3m/dt 1L pompa Ditanya : Panjang pipa dari discharge pompa ke tandon, L Jawab : Persamaan dasar Dengan kondisi head loss minor diabaikan dan V2 0 maka persamaan menjadi p2 - p1 = 1,42 MPa (abs) dan z2 - z1 = 10 m serta rair = 999 kg/m3 maka Meskipun nilainya negatif namun karena untuk panjang pipa maka yang diambil adalah nilai mutlaknya yaitu 1750 m

Contoh Soal 3. Udara mengalir melalui saluran dengan panjang L dan diameter D = 40 mm dan tekanan pada kondisi masuk adalah 690 kPa dan suhu T = 400 C. Bila tekanan pada kondisi keluar 2 adalah 650 kPa dan m = 0,25 kg/dt, tentukan panjang saluran, L yang dimungkinkan dari aliran udara tersebut. Penyelesaian :

Diketahui : T1 = 400 C p1 = 690 kPa D = 40 mm p2 =650 kPa m = 0,25 kg/dt 12 L Ditanyakan : Panjang pipa, L Jawab : Persamaan dasar : Dengan asumsi aliran tak mampu mampat sehingga r adalah tetap, V1 = V2, kerugian minor diabaikan dan z1 = z2 maka: Untuk menentukan massa jenis udara pada kondisi 1 digunakan persamaan gas ideal Dari persamaan kontinuitas maka : Untuk udara pada suhu 400 C maka m = 1,8x10-5 kg/m.dt sehingga Untuk pipa halus dari diagram Moody, maka f = 0,0134 Contoh Soal 4. Sistim pemadam kebakaran suatu pabrik, terdiri atas menara air setinggi 25 m dengan pipa distribusi terpanjangnya 180 m diameter 10 cm, terbuat dari besi tuang. Pipa distribusi tersebut berumur sekitar 20 tahun. Minor losses akan dipertimbangkan dari sebuah katup gerbang saja. Tentukan kapasitas aliran air maksimum. Penyelesaian : Diketahui: 1 25 m katup gerbang 2 Q 180 m

Ditanya: Kapasitas aliran, Q Jawab: Persamaan dasar

Tandon terbuka maka p1 = p2 = patm dan V1 0 dan untuk katup gerbang terbuka maka Le /D = 8, sehingga Diasumsikan bahwa pipa vertikal diameternya sama dengan pipa horisontal sehingga Iterasi kecepatan V2 diawali dengan mengasumsikan nilai koefisien gesek pada diagram Moody karena angka Reynold tidak dapat ditentukan. Dengan mengambil nilai e/D untuk pipa besi tuang yang tua adalah 0,005 maka perkiraan pertama misalkan aliran mencapai fully rough zone maka f 0,03 sehingga Pencocokkan nilai koefisien gesek dengan menghitung angka Reynold Untuk e/D= 0.005 maka dari diagram Moody f = 0,0385. Dengan nilai ini maka kecepatan dihitung kembali untuk iterasi kedua: Pencocokkan nilai koefisien gesek dengan menghitung angka Reynold Untuk e/D= 0.005 maka dari diagram Moody, f = 0,04. Dengan nilai ini maka kecepatan dihitung kembali untuk iterasi ketiga: Misalkan telah dianggap cukup konvergen maka kapasitas aliran dapat ditentukan dari

Contoh Soal 5. Sebuah sistim penyiram tanaman dirancang untuk mengalirkan air melalui pipa aluminium dengan panjang 150 m. Pompa yang dipakai mampu mengalirkan air 0,1 m3/dt dengan tekanan pada discharge tidak melebihi 450 kPa. Sedangkan sprinklernya beroperasi pada tekanan minimum 200 kPa. Dengan mengabaikan head loss minor dan perubahan ketinggian, tentukan diameter minimum pipa agar sistim dapat bekerja dengan baik. Penyelesaian: Diketahui : Pompa 1D2 Q=0,1 m3/dt p1 < 450 kPa L=150 m p2 > 200 kPa Ditanya : Diameter pipa minimum, D

Jawab: Persamaan dasar

Penurunan tekanan maksimum adalah : Dpmaks = p1 maks - p2min = (450 -200) kPa = 250 kPa Sehingga Angka Reynold diperlukan untuk menentukan f. Karena D belum diketahui maka angka Reynold dinyatakan dalam Q Iterasi pertama dilakukan mengambil nilai D = 0,1 m, sehingga : Dari diagram Moody, untuk pipa jenis aluminum (drawn tubing) e/D= 0,000016 maka f 0,012. Sehingga: Dicoba dengan D = 0.15 m maka Sehingga, e/D = 0,00001 dan f = 0,013 Diambil nilai D = 0,18 m sehingga angka Reynoldnya adalah : Sehingga, e/D = 0,0000085 dan f 0,0125 Karena dengan D= 0,18 m terlalu jauh dari Dpmaks maka dicoba dengan D = 0,17 Sehingga, e/D = 0,000009 dan f 0,0126 Dengan demikian maka diameter pipa yang sebaiknya dipergunakan untuk sistem ini adalah D= 0,17 m