UPAYA GURU FIQIH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT
BERJAMAAH PESERTA DIDIK DI MTS AL MUHAJIRIN SUMBER
ALAM, KECAMATAN AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT
TAHUN PELAJARAN 2024/2025
SKRIPSI
Diajukan Fakultas Tarbiah Prodi Untuk Memenuhi Persyaratan
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh
SALMAN ALFARISI
NIM: 2127101010247
Fakultas : Tarbiyah Dan Keguruan
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
UNIVERSITAS ISLAM AN NUR LAMPUNG
TAHUN 1445 H / 2024 M
ABSTRAK
UPAYA GURU FIQIH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT
BERJAMAAH PESERTA DIDIK DI MTS AL MUHAJIRIN SUMBER
ALAM, KECAMATAN AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT
TAHUN PELAJARAN 2024/2025
UMI KULSUM
NIM : 2127101010833
Pendidikan adalah kewajiban bagi umat muslim. Sebagai
kewajiban umat muslim serta berfungsi sebagai media tempat
berlangsungnya interaksi sosial yang menjadikan dirinya generator
perubahan dalam masyarakat Dalam kamus besar bahasa Indonesia, arti
kata upaya ialah usaha, akal, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud,
memecahkan persoalan).1 Berdasarkan kata arti di atas maka pengertian
upaya guru fiqih dalam meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa
SDN 6 Muara Sugihan kabupaten Banyu asin Tahun Ajaran 2024/2025
ialah usaha atau cara, ikhtiar yang dilakukan guru dalam mencari jalan
keluar / atau pemecahan masalah terhadap kualitas shalat jamaah siswa
SDN 6 Muara Sugihan kabupaten Banyu asin Tahun Ajaran 2024/2025
Pada dasarnya dalam bidang penelitian itu dikenal adanya dua
jenis penelitian, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.
Dengan adanya kedua jenis penelitian tersebut diatas, menunjukkkan
bahwa penelitian yang dilakukan dalam karya ini tergolong penelitian
kualitatif, karena jenis penelitian yang tidak mengadakan perhitungan,
melainkan digambarkan dengan kata-kata atau kalimat (deskriptif)
terhadap data yang diperoleh guna mendapatkan suatu kesimpulan. Maka
dari itu yang ingin diketahui penulis dalam penelitian ini adalah Upaya
Guru Fiqih Dalam Meningkatan Kualitas Sholat Berjama’ah.
Kata Kunci: Shalat berjamaah
1
W.J.S. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia ( Jakarta : Balai Pustaka,
2007) hlm. 1345
PERNYATAAN ORISINALITAS
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Salman ALfarisi
NIM : 2127101010247
Jenjang Pendidikan : Strata Satu (S1)
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang berjudul “UPAYA GURU
FIQIH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT BERJAMAAH
PESERTA DIDIK DI MTS AL MUHAJIRIN SUMBER ALAM,
KECAMATAN AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT TAHUN
PELAJARAN 2024/2025” adalah benar-benar karya asli saya, kecuali yang
disebutkan sumbernya. Apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan di dalamnya
sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.
Lampung Selatan, 23 Februari 2024
Yang menyatakan,
UMI KULSUM
NIM. 2127101010833
PERSETUJUAN
Judul Skripsi : UPAYA
: GURU FIQIH DALAM
MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT
BERJAMAAH PESERTA DIDIK DI MTS AL
MUHAJIRIN SUMBER ALAM, KECAMATAN
AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT
TAHUN PELAJARAN 2024/2025
Nama Mahasiswa :Salman Alfarisi
NIM : 2127101010247
Fakultas : Tarbiyah
Program Studi : Pendidikan Agma Islam
MENYETUJUI
Untuk dimunaqosahkan dan dipertahankan dalam sidang Munaqosah Fakultas
Tarbiyah Program Pendidikan Agama Universitas Islam An Nur Lampung.
Pembimbing I Pembimbing II
……………………… …………………….
Mengetahui
Dekan Fakultas Tarbiyah
Dr.Nurul Hidayati Murtafiah,M.Pd.I
NIDN : 2115089101
NOTA DINAS
Nomor : Istimewa Kepada Yth,
Lampiran : 4 (empat)Eksemplar Rektor Universitas Islam An
Nur
Skripsi Sdra. Salman Alfarisi Lampung
Di Jati Agung.
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Setelah kami membaca, meneliti dan memberikan bimbingan seperlunya,
kami berpendapat bahwa skripsi saudara :
Nama Mahasiswa : Umi Kulsum
NIM : 2127101010833
Judul Skripsi : UPAYA GURU FIQIH DALAM
MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT
BERJAMAAH PESERTA DIDIK DI MTS AL
MUHAJIRIN SUMBER ALAM, KECAMATAN
AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT
Dapat diajukan untuk dimunaqosahkan di Universitas Islam An Nur Lampung.
Skripsi tersebut dengan maksud mohon kiranya dapat segera dimunaqosahkan.
Demikian untuk dimaklumi dan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Pembimbing I Pembimbing II
………………………. ……………………..
Mengetahui
Dekan Fakultas Tarbiyah
Dr.Nurul Hidayati Murtafiah,M.Pd.I
NIDN : 2115089101
PERSEMBAHAN
Dengan mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah SWT, saya
persembahkan karya tulis yang sederhana ini kepada orang yang selalu
mencintai, menyayangi dan memberi makna dalam hidupku kepada:
1. Keluargaku Tercinta Terutama Kedua Orang Tuaku Yang Telah Mendidik
Dan Membesarkanku, Ayahanda Sadilah Yang Selalu mendoakan anak nya
diPondok Pesantren, Ibunda Sutarsih Yang Selalu Menyayangku Dan
Mendo’akanku Di Setiap Shalatnya. Dan yang selalu mendo’akan dan
berikhtiyar untuk keberhasilanku.
2. Abah Kyai Dr.H.Andi Warisno,M.MPd, dan Ibu Dr.Hj.Nur Hidayah,M.Pd.I
Pengasuh pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, dan sekaligus selaku
Rektor Universitas Islam An Nur Lampung, dan Direktur Pascasarjana. Yang
Selalu Memberi Motivasi dan Mendo’akanku.
3. Kepada Semua Asatidz Wa Asatidzah, Semua Guru-Guruku, Guru Ngaji,
Guru RA, MTs, MA, dan Para Dosen Universitas An Nur Lampung.
4. Ibu Dr. Etika Pujianti ,M.Pd Dan Ibu Alfi Zahrotul Haidah, M.Pd Yang telah
membimbing penulis, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
5. Keluarga besar pondok pesantren Hidayatul Mubtadiin Jati Agung.
6. Sahabat dan teman-temanku seperjuangan yang telah membantu penulis
menyusun skripsi, khususanya sahabat penghuni rusun II.
7. Almamaterku Universitas Islam An-Nur Lampung.
MOTTO
َخ ْيُر ُكْم َمْن َتَع َّلَم اْلُق ْر آَن َو َعَّلَمُه
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan
mengajarkannya.” (HR.Muslim)2
2
Shoheh Muslim, Bulughul Maram, h. 81.
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT. Yang senantiasa
mencurahkan Rahmat dan Hidayahnya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul: UPAYA GURU FIQIH
DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT BERJAMAAH
PESERTA DIDIK DI MTS AL MUHAJIRIN SUMBER ALAM,
KECAMATAN AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT TAHUN
PELAJARAN 2024/2025.
Penulis menyadari bahwa penyelesaian Skripsi ini sungguh merupakan
pekerjaan yang berat karena diperlukan ketekunan, kesabaran, kerja keras, untuk
menyelesaikannya. Selesainya penulisan Skripsi ini tidak terlepas dari bantuan,
dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan
ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. H.Andi Warisno,M.MPd, selaku Rektor Universitas Islam An-Nur
Lampung Sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, yang
telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan
pada lembaga ini dan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk
menuntut ilmu pada program sarjana pendidikan agama islam, sekaligus izin
untuk melakukan penelitian dan bersedia membantu menjadi responden penulis
dalam menyusun skripsi ini.
2. Ibu Dr.Nurul Hidayati Murtafi’ah, M.Pd.I Dekan Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam An Nur Lampung
3. Dr Etika Pujianti, M Pd Selaku pembimbing 1 dan Ibu Alfi Ahrotul Zahamidah
M.Pd aku pembimbing II, yang telah membimbing penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Ibu Dosen Universitas Islam An-Nur Lampung, yang telah memberikan
ilmu dan bimbingannya.
5. Ustadz Miftahul Anwar, M. Pd Selaku Lurah Putra Pondok Pesantren
Hidayatul Mubtadiin ,
6. Kepada semua pihak, Rekan-rekan yang turut memberikan masukan dan saran
sehingga skripsi ini bisa selesai.
Terakhir Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna.
Oleh sebab itu, dengan rendah hati peneliti mengharapkan sumbangsih saran dan
masukan yang sifatnya membangaun demi perbaikan dalam upaya menuju kepada
yang lebih baik.
Harapan peneliti betapapun kecilnya semoga skripsi ini dapat bermanfaat
khususnya bagi peneliti sendiri dan umumnya bagi pembaca dan dapat berguna
bagi bagi kita semua,Aammin.
Lampung Selatan, 16 Februari 2024
Penulis
Salman Alfarisi
NIM. 2127101010247
RIWAYAT HIDUP
Salman Alfarisi dilahirkan di Ciamis, pada tanggal 05 Bulan Oktober
Tahun 1992, dari pasangan suami istri ayahanda Sadilah dan Ibunda Sutarsih,
Ananda Salman ALfarisi Adalah Putri kelima dari 5 bersaudara.
Riwayat pendidikan penulis. Penulis telah menamatkan sekolah dasar di
MIS Alfatah ciamis Tahun 1997 sampai 2003, dan setelah itu melanjutkan ke
MTSN Padang Ratu Tahun 2003 sampai 2006, kemudian melanjutkan di
Madrasah Aliyah padang ratu Tahun 2006 sampai 2009, setelah itu melanjutkan
ke Perguruan Tinggi strata 1 di Universitas Islam An Nur Lampung mulai masuk
pada tahun 2021 sampai sekarang.
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL DEPAN.......................................................................i
HALAMAN JUDUL.........................................................................................ii
ABSTRAK.........................................................................................................iii
PERNYATAAN ORISIONALITAS...............................................................iv
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING.............................................v
NOTA DINAS....................................................................................................vi
LEMBAR PENGESAHAN..............................................................................vii
PESRSEMBAHAN...........................................................................................viii
MOTTO.............................................................................................................x
KATA PENGANTAR.......................................................................................xi
PEDOMAN TRANSLITERASI......................................................................xiii
RIWAYAT HIDUP...........................................................................................xiv
DAFTAR ISI......................................................................................................xv
DAFTAR TABEL..............................................................................................xx
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................xxi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................................................1
B. Identifikasi Masalah. .....................................................................................4
C. Batasan Masalah............................................................................................4
D. Rumusan Maslah...........................................................................................4
E. Tujuan Dan Kegunaan...................................................................................6
BAB II LANDASAN TEORI
A. pengertian upaya guru fikih...........................................................................6
1. Upaya.......................................................................................................6
2. Guru.........................................................................................................8
B. Pengertian shalat berkualitas berjaamaah......................................................12
1. kualitas.....................................................................................................12
2. shalat........................................................................................................12
C. Dasar Hukum Shalat.........................................................................................15
D. Berjamaah dan dasar hukum..........................................................................19
E. Memperbaiki shalat berjamaah......................................................................19
BAB III METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian.............................................................................................34
1. jenis penelitian.........................................................................................34
2. Instrumen Penelitian................................................................................34
3. tehnik pengumpulan data.........................................................................35
4. tehnik analisis data...................................................................................36
5. tehnik pengumpulan data.........................................................................36
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah kewajiban bagi umat muslim. Sebagai kewajiban umat
muslim serta berfungsi sebagai media tempat berlangsungnya interaksi sosial
yang menjadikan dirinya generator perubahan dalam masyarakat.
Salah satu bentuk yang sering dialamatkan kepada proses pelaksanaan
pembelajaran pendidikan agama Islam yang berjalan dilembaga-lembaga
pendidikan sekolah selama ini ialah pelaksanaannya terlalu menekankan pada
proses alih pengetahuan (transfer of knowledge) dengan berorientasi pada domain
kognitif peserta didik. Semestinya proses pembelajaran pendidikan agama islam
bukannya alih pengetahuan, melainkan justru menekankan alih nilai (transfer of
value) yang berorientasi pada domain afektif dan psikomotorik peserta didik.
Tentu saja akan lebih ideal lagi jika proses pembelajaran pendidikan agama islam
menekankan secara berimbang antara alih pengetahuan dan alih nilai.
Usia anak dijenjang Sekolah Menengah Pertama merupakan fase awal baligh,
di mana terjadi peralihan dari fase anak-anak menuju fase baligh. Pada fase ini
terjadi perubahan yang cukup signifikan pada diri anak baik secara mental
maupun psikologi. Perubahan karakter ini, disebabkan terjadinya perubahan
dalam bentuk fisik dan hormonal pada seks baik laki-laki maupun perempuan.
Jika proses perkembangan ini tidak diiringi dengan pendampingan dan
pengarahan yang baik, maka akan berakibat fatal pada diri anak, terutama pada
karakter dan kepribadian anak.
Pada fase ini, seorang anak harus sudah diberikan bimbingan keagamaan yang
baik, di samping itu juga sudah dibiasakan menjalankan rutinitas keagamaan agar
dapat mempertebal keimanan dan pondasi kepribadian anak. Dalam Islam anak
usia sekolah menengah perama, merupakan fase awal baligh sehingga pelajaran
dan pelaksanaan sholat pada diri anak harus sudah ditanamkan dengan baik.
Ibadah yang paling utama dalam Islam adalah sholat lima waktu, karena sudah
menjadi kewajiban bagi setiap orang muslim. Perintah menjalankan shalat ini
terdapat dalam kandungan Q.S an- Nisa’ : 103.
َل ْا َّل َل
َف ِإَذا َقَض ۡيُتُم ٱلَّص ٰوَة َفٱ ۡذُكُر و ٱل َه ِقَٰيٗم ا َوُقُع وٗدا َوَع ٰى
ُجُنوِبُك ۚۡم َفِإَذا ٱ ۡطَم ۡأَننُت ۡم َفَأِقيُموْا ٱلَّصَلٰو َۚة ِإَّن ٱلَّصَلٰوَة َك اَن ۡت َعَلى
١٠٣ ٱ ۡلُم ۡؤِمِنيَن ِكَٰتٗبا َّم ۡوُقوٗتا
Artinya: Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di
waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila
kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana
biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya
atas orang-orang yang beriman. (an-Nisa’:103).
Dari ayat diatas, menunjukkan pada kita tentang kewajiban orang Islam
dalam menjalankan sholat. Sehingga apabila seorang muslim tidak menjalankan
sholat maka termasuk orang yang lalai dalam perintah Alloh SWT
Salah satu syarat seseorang mempunyai kewajiban menjalankan shalat adalah
baligh atau dewasa. Adapun ciri-ciri bahwa seseorang itu dapat dikatakan dewasa
adalah :
1. Cukup umur 15 tahun
2. Keluar Mani
3. Mimpi bersetubuh
4. Mulai keluar haidh bagi perempuan3
Berdasarkan tanda-tanda baligh tersebut di atas, maka dapat dikatakan
anak-anak SMP sebagian besar sudah termasuk kategori baligh yang mendapatkan
kewajiban shalat. Ibadah shalat sangat ditekankan sekali bagi siswa di MTs Al-
Muhajirin, Sumber Alam, Kec.Air Hitam Kab. Lampung Barat,di samping shalat
dhuhur berjamaah juga dilaksanakan program-program keagamaan yang
mendukung ibadah tersebut. Hal ini diharapkan dapat menjadi salah satu cara
untuk menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya shalat dan membiasakan
anak menjalankan shalat secara berjamaah. Selain dengan kegiatan rutin tersebut
para guru, terutama guru fiqih sangat mementingkan shalat disela-sela pelajaran. 4
Tugas mendidik anak dalam bidang agama khususnya dalam ibadah shalat
bukan hanya tugas guru, tetapi orang tua lah yang lebih berperan, karena
kebiasaan anak dalam menjalankan shalat di rumah akan berpengaruh sekali pada
kebiasaan anak dalam menjalankan shalat di sekolah. Dengan adanya dukungan
dasar yang baik dari rumah akan mempermudah seorang guru dalam menjalankan
tugasnya sebagai pendidik. Berangkat dari penjelasan di atas, penulis sangat
tertarik sekali untuk mengadakan penilitian tentang “ Upaya Guru Fiqih Dalam
Meningkatakan Kualitas Shalat Berjamaah Peserta Didik Mts Al Muhajirin
Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran
2024/2025
B. Identifikasi Masalah
3
Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam ( Bandung: Sinar Baru al-Gensindo, 2008 ), hlm. 66.
4
Hasil wawancara, asmu’i SPd.I, Guru Fiqih Tgl 23 april 2012
Adapun identifikasi masalah adalah :Guru fiqih sudah berupaya
meningkatkan kualitas solat Berjamaah bagi peserta didik di Mts Al
Muhajirin Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat
Tahun Pelajaran 2024/2025, tetapi masih ada beberapa anak yang belum
sadar akan pentingnya ibadah Sholat Berjamaah
C. Batasan Masalah
Dari latar belakang diatas guru fiqih Mts Al Muhajirin Sumber Alam,
Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran
2024/2025 berupaya bagaimana caranya meningkatkan kualitas solat
Berjamaah peserta didik Mts Al Muhajirin Sumber Alam, Kecamatan Air
Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran 2024/2025.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukankan di atas, pokok masalah
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Upaya apa saja yang dilakukan guru fiqih dalam meningkatkan kualitas shalat
berjamaah siswa Mts Al Muhajirin Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam,
Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran 2024/2025,
E. Bagaiman hasil dari upaya yang dilakukan oleh guru fiqih dalam
meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa di Mts Al Muhajirin Sumber
Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran
2024/2025,
F. Tujuan dan Kegunaan
. 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan dicapai dalam membahas masalah tersebut adalah
a. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh guru fiqih dalam
meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa di Mts Al Muhajirin
Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun
Pelajaran 2024/2025.
b. Untuk mengetahui dampak dari upaya yang dilakukan oleh guru fiqih
dalam meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa di Mts Al Muhajirin
Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun
Pelajaran 2024/2025.
2. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini berusaha mengungkapkan upaya guru fiqih dalam
meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa Mts Al Muhajirin Sumber Alam,
Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran 2024/2025
diharapkan dapat berguna :
a. Sebagai sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada
umumnya dan pendidikan islam pada khususnya.
b. Sebagai bahan masukan bagi para guru fiqih di Mts Al Muhajirin Sumber
Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran
2024/2025,.
c. maupun disekolah-sekolah yang lain dalam rangka meningkatkan kinerja
pembinaan keagamaan pada siswa melalui ibadah shalat .
d. Hal-hal yang ada dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu
bahan acuan bagi pelaksanaan penelitian-penelitian yang relevan dimasa
mendatang.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Upaya Guru Fiqih
1. Upaya
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, arti kata upaya ialah usaha,
akal, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan). 5
Berdasarkan kata arti di atas maka pengertian upaya guru fiqih dalam
meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa Mts Al Muhajirin Sumber
Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran
2024/2025 ialah usaha atau cara, ikhtiar yang dilakukan guru dalam
mencari jalan keluar / atau pemecahan masalah terhadap kualitas shalat
jamaah siswa Mts Al Muhajirin Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam,
Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran 2024/2025.
Upaya guru di sini, lebih ditekankan pada upaya dalam meningkatkan
kualitas siswa dalam menjalankan shalat berjamaah khususnya dari segi
bacaan shalatnya. Upaya mendasar yang harus dilakukan dalam
meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa yaitu memberikan
pemahaman yang tepat tentang shalat pada siswa. Siswa diberikan
pemahaman tentang pentingnya shalat dalam Islam seperti yang
diungkapkan oleh para ahli tafsir Al Qur’an.
Prof. Quraish Syihab mengatakan bahwa kenapa “oleh-oleh” yang
di bawa Rasul dari perjalanan isra’ mi’raj adalah kewajiban shalat, sebab
shalat merupakan sarana penting guna mensucikan jiwa dan memelihara
nurani. Nasr juga berpendapat bahwa ritus utama dalam agama islam
adalah shalat yang akan mengintegrasikan kehidupan manusia kedalam
ruhaniah dan shalat itu disebut pula sebagai tiang agama serta amal ibadah
yang pertama kali ditimbang dihari kemudian (akhirat).6
5
W.J.S. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia ( Jakarta : Balai Pustaka,
2007) hlm. 1345
6
Sentot Riyanto, Ibid., hlm. 61
Di samping diberikan pemahaman tentang shalat berjamaah dengan
tepat, upaya yang dilakukan selanjutnya yaitu memulai dan melatih siswa
untuk disiplin dalam menjalankan shalat berjamaah serta melatih siswa
untuk bisa menjalankan shalat berjamaah dengan baik. Hal ini dilakukan
karena shalat merupakan kegiatan harian, kegiatan mingguan, kegiatan
bulanan, atau kegiatan amalan tahunan dan dapat bermanfaat sebagai
sarana pembentukan kepribadian yaitu manusia yang bercirikan disiplin,
tepat waktu, bekerja keras, mencintai kebersihan, senantisa berkata baik
serta membentuk kepribadian. Hal ini dapat dilakukan dengan
memberikan pengarahan dan kewajiban shalat berjamaah di sekolah
misalnya shalat dhuha, dhuhur dan ashar berjamaah karena masih dalam
waktu jam sekolah.
2. Guru
Guru adalah orang yang memberikan ilmu pendidikan dan
pengetahuan kepada peserta didik7.
Selain itu, guru disebut juga pendidik, pendidik adalah orang
dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada
anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai
kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah,
khalifah di permukaan bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu
yang sanggup berdiri sendiri.8 Guru dalam pandangan masyarakat adalah
orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak
7
ibid.h 31
8
Drs. H. Hamdani Ihsan, Drs. H. A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Pustaka
Setia, 1998) h 93
mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bias juga di masjid, di surau/
mushola, di rumah, dan sebagainya.
Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di
masyatakat. Kebiwaanlah yang menyebabkan guru dihormati, sehingga
masyarakat tidak meragukan figur guru. Kehadiran guru dalam proses
belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting.
Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin,
radio, tape-recorder ataupun komputer yang paling modern sekalipun. 9
Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik mereka
agar menjadi orang yang berkepribadian mulia.
Dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat, maka di pundak
guru diberikan tugas dan tanggung jawab yang berat. Mengemban tugas
memang berat, tapi lebih berat lagi mengemban tanggung jawab. Sebab
tanggung jawab guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetai juga di luar
sekolah. Pembinaan yang harus guru berikan pun tidak hanya secara
kelompok, tetapi juga secara individual. Hal ini mau tidak mau menuntut
guru agar selalu memperhatikan sikap, tingkah laku, dan perbuata anak
didiknya, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di luar sekolah
sekalipun.
Oleh karena itu, tepatlah apa yang dikatakan oleh Drs. N.A.
Ametembun, bahwa guru adalah semua orang yang berwenang dan
bertanggung jawab terhadap anak didik, baik secara individual ataupun
klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah.10
9
Drs. Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung,1987) h. 12
a. Mata pelajaran fiqih
Mata pelajaran fiqih adalah salah satu mata pelajaran pendidikan
agama Islam yang merupakan peningkatan dari fikih yang telah dipelajari
oleh peserta didik di madrasah ibtidaiyah/SD. Peningkatan tersebut
dilakukan dengan cara mempelajari,memperdalam serta membiasakan tata
cara beribadah dan bermuamalah dalam kajian fikih,yang dilandasi oleh
dalil-dalil yang benar serta menggali hikmah dibalik perntah menjalan
kanya sehingga menjadi muslim yang selalu taat menjalankan syareat
Islam secara kaaffah{sempurna}.11. sealin itu juga, mata pelajaran fiqih
adalah salah satu bagian dari mata pelajaran pendidikan agama islam yang
membahas ajaran agama Islam dari segi syariat Islam tentang cara-cara
manusia melaksanakan ibadah kepada Allah swt dan mengatur kehidupan
sesama manusia serta alam sekitarnya.12
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru adalah semua
orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan
membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah
maupun di luar sekolah. Sedangkan fiqih adalah salah satu mata pelajaran
10
Drs.Syaiful bahri djamarah, Guru dan anak didik dalam interaksi edukatif (aneka
cipta, 2000 ) h 33
11
Kementerian agama,model silabus dan rencana pelaksaan pembelajaran ( RPP ),
mata pelajaran fikih, derektorat jenderal pendidikan agama islam,2010. H.v
12
Departermen agama RI, kurikulum pendidikan dasar berciri khas agama islam,
( derektorat jenderal pembinaan kelembagaan agama islam departemen agama RI. 1996)
Cet.kedua.h.97
agama islam yang membahas tentang sari’at islam agar manusia dapat
melaksakan tata cara ibadah kepada alloh SWT, dan mengatur kehidupan
manusia serta alam sekitarnya
b. Syarat dan Jabatan Guru fiqih
Menjadi guru menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat dan kawan-kawan
(1992:41) tidak sembarangan, tetapi harus memenuhi beberapa persyaratan
sebagai berikut:
a. Taqwa kepada Allah SWT.
b. Berilmu
c. Sehat Jasmani
d. Berkelakuan Baik13
Di Indonesia untuk menjadi guru diatur dengan bebrapa persyaratan, yakni
berizasah, professional, sehat jasmani dan rohani, takwa kepada tuhan
yang maha Esa dan kepribadian yang luhur, bertanggung jawab, dan
berjiwa nasional.14 Secara sederhana pekerjaan yang bersifat profesional
adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang secara
khusus disiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh
mereka yang karena tidak dapat atau tidak memperoleh pekerjaan
lainnya.15
Guru sebagai salah satu pekerjaan profesional tidak serta merta dapat
begitu saja, tanpa ada perencanaan terlebih dahulu, seperti harus melalui
13
Ibid.
14
Ibid.h.34
15
Drs. Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung,1987) h. 13
suatu pendidikan yang khusus untuk mencetak para guru yang mumpuni
dalam bidangnya. Selain sebagai suatu pekerjaan yang profesional, guru
juga berfungsi sebagai pemimpin, (dikalangan anak didik dan masyarakat
sekitarnya), sebagai pendidik dan pembimbing, bagi anak didik yang
belum dewasa. Guru juga sebagai pembaharu, penghubung antara ilmu
yang ia miliki dengan anak didiknya, dan penyuluh dalam membantu anak
untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajar
mengajar.16
B. Pengertian Kualitas Shalat Berjamaah
1. Kualitas
Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata kualitas mempunyai arti
baik atau buruk (suatu benda) keadaan suatu benda. 17 Berdasarkan kata di
atas maka kualitas shalat berjamaah siswa dalam penelitian adalah baik
atau buruknya keadaan shalat jamaah siswa.
2. Shalat
Shalat secara bahasa berarti doa yang dipersembahkan untuk
mengagungkan Allah SWT. Sementara pengertian shalat menurut istilah
syari’at adalah kumpulan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu
yang diawali dengan takbirotul al-ihram dan diakhiri dengan salam.18
16
Prof.H.Muzayyin arifin,M.Ed.Kapita selekta pendidikan islam,(PT.Bumi
aksara,2009 ) H.119
17
W.J.S. Purwadarminta, Ibid, Hlm. 621
18
Jefri Noer, Pembinaan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Bermoral Melalui
Shalat Yang Benar (Jakarta : Kencana, 2006) Hlm.137
Shalat adalah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu
yang dimulai dengan membaca takbir dan diakhiri dengan mengucapkan
salam.19
Dalam bahasa Arab perkataan shalat digunakan untuk beberapa
arti. Di antaranya digunakan untuk arti doa, seperti dalam firman Allah
SWT yang terdapat dalam Al Qur’an surat (9) At Taubah, ayat 103 :
digunakan untuk arti rahmat dan untuk arti mohon ampunan seperti dalam
firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat (33) Al Ahzab, ayat 43 dan 56.
Dalam istilah ilmu fiqih, shalat adalah satu macam atau bentuk ibadah
yang diwujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan tertentu disertai
dengan ucapan-ucapan tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu pula.20
Menurut A Hasan (1999), Bigha (1984) Muhammad Bin Qosim Asy-
Syafi’i(1982) shalat menurut bahasa Arab berarti berdoa ditambahkan oleh
Ash Shidiq(1983) bahwa perkataan shalat dalam bahasa Arab berarti
berdoa memohon kebajikan dan pujian, sedangkan secara hakikat
mengandung pengertian terhadap hati (jiwa) kepada Allah SWT dan
mendatangkan takut kepadanya, serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa
keagungan, kebesaranNya dan kesempurnaan kekuasaanNya.
Secara dimensi, shalat adalah beberapa ucapan atau rangkaian ucapan dan
perbuatan (gerakan) yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan
19
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunah, (Jakarta : Pena, 2006) Hlm. 125
20
Zakiyah Daradjat, Ilmu Fiqih (Yogyakarta : Dana Bakti wakaf, 1995) Hlm. 71
salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah SWT, dan menurut
syarat-syarat yang ditentukan oleh agama.21
Dari beberapa uraian di atas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa
shalat adalah suatu sistem ibadah yang terdiri dari beberapa perkataan dan
perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dan
disertai hati yang ikhlas serta sikap batin yang khusyuk.
Di pandang dari hukum Islam ibadah shalat ada dua macam yaitu ,
1. Shalat Wajib
Shalat wajib adalah shalat yang harus dikerjakan oleh setiap hamba
yang beragama Islam dan apabila ditinggalkan akan mendapat dosa. Shalat
wajib masih dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu shalat wajib ‘ain dan
shalat wajib kifayah.
a. Shalat Wajib ‘Ain
Shalat wajib ‘ain adalah shalat wajib yang harus dikerjakan oleh
setiap orang yang beragama Islam dan tidak bisa diwakilkan kepada
orang lain walaupun dalam keadaan bagaimanapun juga. Shalat wajib
‘ain ini berupa shalat wajib lima waktu yaitu shalat isya’, shalat shubuh,
shalat ashar, dan shalat maghrib serta shalat jum’at.
b. Shalat Wajib Kifayah
Shalat wajib kifayah adalah shalat wajib yang harus dikerjakan
oleh orang lain namun tidak mendapat dosa bagi yang meninggalkannya
21
Sentot Haryanto, Psikologi shalat (Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2002) Hlm. 59-60
asalkan salah satu atau sebagian dari umat Islam ada yang mengerjakan.
Shalat kifayah ini berupa shalat jenazah.
2. Shalat Sunat
Shalat sunat adalah shalat yang tidak wajib dikerjakan oleh umat
Islam namun bagi yang mengerjakan akan mendapat pahala dan yang
meninggalkan tidak mendapat dosa. Yang termasuk shalat sunat yaitu shalat
rowatib, shalat fajar,shalat istisqo’, shalat ied, shalat gerhana, serta shalat
hajat.
C. Dasar Hukum Shalat
Allah SWT menjelaskan bahwa shalat adalah sebuah kewajiban. Di dalam
firmanNya mengatakan “sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang dilakukan
atas orang-orang yang beriman”.(QS. Al Nisa’ : 103).
Maksud ayat tersebut di atas adalah bahwasannya shalat merupakan
sebuah kewajiban yang dibatasi oleh waktu-waktu tertentu, yang tidak boleh
terlambat mengerjakannya. Selanjutnya Allah SWT memerintahkan hambaNya
untuk memelihara shalat-shalat fardhu. Allah SWT berfirman “ perihalalah shalat
(mu), dan perihalalah shalat wustho (pertengahan). Berdirilah untuk Allah SWT
(dalam shalatmu) dengan khusyuk’ (QS.Al Baqarah : 238). Allah SWT akan
memberi rahmat kepada manusia yang konsisten mendirikan shalat. Allah SWT
berfirman : “dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rosul supaya
kamu diberi rahmat. (QS.An Nur : 56).22
Shalat adalah kewajiban dari Allah SWT kepada setiap orang muslim.
Rosulullah SAW menjadikan shalat kaidah kedua di antara kelima kaidah islam,23
22
Hilmi al-Khuldi, Menyikap Rahasia Gerakan-Gerakan Shalat ( Yogyakarta : Dive
press, 2007) Hlm. 28-29
23
Abu Bakr jabir al-Jazairi, Ensiklopedi Muslim (Jakarta : Darul Falah, 2007) Hlm.
298
beliau bersabda :
حد ثنا عبيد ا لله بن مسى اخبرنا حنظلة بن ْابى سفيان عن عكرمة بن خلد عن ابن
صلى الله عليه وسلم – (( بني االسال م- قال قال رسول الله- رضى الله عنهما-عمر
, وْايتاء الزكاة, واقام الصال ة, على خمس شهادة ْان الْاله اال الله وان رسول الله
)) وصوم رمضان, والحج
Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibn Musa berkata telah
mengabarkan kepada kami khamdzalah Ibn Abi Sufyan dari Ikrimah Ibn Khalid
dari Ibn Umar r.a berkata : Rosulullah bersabda “ islam dibangun atas lima
(kaidah), kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang baerhak disembah kecuali Allah
dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat,membayar zakat,
haji ke Baitullah dan puasa dibulan ramadhan. (Diriwayatkan al-Bukhari).24
Dasar yuridis Negara Republik Indonesia dalam bab XI, pasal 29 ayat 2 :
“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”
Dengan melihat dalil-dalil di atas, yang sangat jelas dihadapkan pada
manusia adalah supaya kita jangan meninggalkan shalat, karena shalat merupakan
kewajiban yang pertama diperintahkan dan juga akhir dari wasiat rosululloah
SAW.
24
Muhammad ibn Ismail Ibn Ibrahim ibn al-Mugjirah al-Bukhari. Sahih al-Bukhari :
Bab Tentang Doa dan Iman, Juz I, cet.III (Beirut: Dar Inb Kasir al-Yamamah, 1987) no.
Hadis 8, Hlm. 19
Karena shalat merupakan perintah, sudah barang tentu harus ada
hukumannya atau ancaman bagi yang tidak melaksanakannya, ancaman itu antara
lain diterangkan dalam Al-Qur’an :
٤ ل ِّل ۡلُمَصِّليَنٞ َفَو ۡي
Maka kecelakaan bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai
dari sholatnya.(QS. Al.Maa’un:4-5)
٤٣ َق اُلوْا َل ۡم َن ُك ِمَن ٱ ۡلُمَص ِّليَن٤٢ َما َس َلَكُكۡم ِفي َس َقَر
٤٥ َوُكَّنا َنُخوُض َمَع ٱ ۡلَخٓاِئِضيَن٤٤ َوَل ۡم َنُك ُن ۡطِعُم ٱ ۡلِم ۡسِكيَن
"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"
Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan
shalat. ( QS. Al-Muddatsir: 42-45 )
Rosululah SAW bersabda :
حد ثنا الحسين بن- يعنى ابن شقيق-حد ثنا عبد الله حد ثنى ْابى حد ثنا علىبن الحسن
-واقد حد ثنا عبد الله بن بريدة عن ابيه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم
يقول ((العهد الدى بيننا وبينهم الصالة فمن تركها فقد كفر
Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada ku
bapak ku, telah menceritakan kepada kami Ali ibn al-Husain yakni Ibn Syaqiq
telah menceritakan kepada kami al-Husain Ibn Wafiq telah menceritakan kepada
kami Abdulluah Ibn Buraidah dari bapaknya berkata : “ pertalian kami
(Rosulullah dengan mereka (orang islam) ialah shalat . Barang siapa
meninggalkan shalat (sengaja) sesungguhnya ia kafir. (HR.Aamad,
Tirmidzi,Nasai Ibnu Majah Uraidah)25
Hadis ini seolah-olah memberi sangsi (pringatan) bahwa Rosullulah SAW
sangat benci dan tidak senang, kalau orang hanya mengakui Dia sebagai Nabinya,
karena tidak tidak mengerjakan shalat.26
Bagi orang-orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan disertai
dengan pengingkaran kewajibannya, sementara dia hidup dililngkungan kaum
muslimin yang banyak di dirikan masjid dan dikumandangkan adzan, banyak
dikunjungi orang-orang baik anak-anak ataupun dewasa, maka kaum muslimin
sepakat bahwa orang yang seperti itu adalah kafir.
Karena tidak ada alasan sedikitpun baginya untuk tidak mengetahui akan
kewajiban shalat. Mengetahui tentang shalat baginya adalah sebuah keniscayaan
dan merupakan kewajiban. Maka pengingkaran terhadap adanya kewajiban shalat
lima waktu sehari semalam, adalah merupakan dusta terhadap Allah dan kitab-
Nya. Sebagaimana dia telah keluar dari ijma’ kaum muslimin, ia juga melecehkan
dan menghina kaum muslimin. Ia telah dianggap murtad dan tiada balasan yang
pantas bagi orang seperti ini kecuali dibunuh sebagai orang kafir, tidak
25
Abu Abdullah Ahmad ibn Muhammad Ibn Hambal ibn Hilal ibn Asad al-Syaibani,
Musnad Ahmad : Bab buraizah, juz 5, cet I (Beirut: Alam al- Kutubi, 1998)no.Hadis.
23639,Hlm. 144
26
M.Noer Mardawam, Shalat dan Puasa (Yogyakarta : Sumbangsih Offset, 1983)
Hlm.59-60
dimandikan,tidak dishalatkan, dan tidak pula dikuburkan di pemakaman kaum
muslimin.
D. Berjama’ah dan Dasar Hukumnya
Pelaksanaan shalat dapat dilakukan dengan dua cara, sendiri (fardiyah) dan
secara jama’ah. Apabila dua orng shalat bersama-sama dan salah seorang di antara
mereka mengikuti yang lain, keduanya dinamakan shalat berjama’ah. Orang yang
diikuti (yang di depan ) dinamakan imam, sedangkan yang mengikuti di belakang
dinamakan makmum.
Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat berjamaah itu adalah fardhu
‘ain(wajib ‘ain), sebagian berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardhu kifayah,
dan sebagian lagi berpendapat sunat muakkad (sunat istimewa). Menurut kaidah
persesuaian beberapa dalil dalam masalah ini, seperti yang telah disebutkan di
atas, pengarang Nainul Autar berkata, “ Pendapat yang seadil-adilnya dan lebih
dekat kepada yang betul ialah shalat berjamaah itu sunat muakkad”.
E. Memperbaiki Kualitas Shalat Berjamaah
Agama Islam sebagai agama terakhir, membawa ajaran yang lengkap dan
sempurna sesuai dengan kebutuhan dan tuntunan manusia dalam
perkembangannya. Dibidang ibadah (pengbdian dan hubungan manusia dengan
TuhanNya) telah ditentukan secara terperinci dan pasti, bersifat statis dan mutlak,
yang disampaikan secara mutawatir dari generasi kegenerasi. Jadi dalam
pembicaraan ketentuan dalam pelaksanaan shalat tidak terlepas dari yang telah
ditentukan. Ketentuan-ketentuan shalat tersebut mencakup tentang bentuk dan
jiwa shalat. Bentuk shalat maksudnya tata cara bagaimana ketentuan yang
berhubungan dengan praktik shalat, sedangkan jiwa shalat maksudnya adalah hal-
hal yang berhubungan dengan jiwa dari praktik shalat.
1. Bentuk Shalat
Ketentuan syarat dan rukun shalat, waktu dan jumlah raka’at
merupakan bagian lahiriah yang harus dijalankan. Ketentuan-ketentuan
tersebut termasuk dari bentuk shalat. Bentuk lahir dari shalat diperlukan
sebagai sarana untuk menghayati dan mendapatkan hakikat jiwa shalat yang
sebenarnya, karena roh tidak mungkin hidup tanpa bentuk. Dengan demikian
jiwa shalat itu tidak berdiri sendiri, dan dalam mencapai tujuan shalat
hendaknya melalui dari bentuk shalat. Adapun ketentuan-ketentuan yang
berhubungan dengan bentuk shalat adalah :
a. Syarat-Syarat Shalat
Syarat menurut bahasa berarti tanda. Sedangkan menurut istilah syari’at
berarti sesuatu yang menjadi tumpuan wujudnya sesuatu yang lain, namun
tidak termasuk di dalamnya.
Syarat shalat ada dua macam, syarat wajib dan syarat sah. Yang
dimaksud syarat wajib shalat adalah sesuatu yang kepadanya bergantung
kewajiban shalat, seperti baligh dan berakal. Adapun syarat sahnya shalat
adalah sesuatu yang bergantung keabsahan shalat seperti bersuci.
1. Syarat-syarat Wajib Shalat
a. Islam. Shalat wajib bagi setiap orang muslim, bak laki-laki maupun
perempuan. Oleh karena itu, shalat tidak wajib atas orang kafir sebagai
tuntunan di dunia, karena shalat tidak sah dilakukan olehnya. Akan tetepi
dia akan mendapatkan siksa karena meninggalkannya, karena itu wajib
melakukannya dengan terlebih dahulu memeluk agama islam. Hal ini
dikarenakan menurut jumhur ulama’, orang kafir disuruh untuk melakukan
cabang-cabang syariat atau untuk memeluk Islam ketika ia kafir.
b. Baligh. Shalat tidak wajib bagi anak kecil, berdasarkan sabda Rasulullah
SAW :
حد ثنا ابن السرح ْاخبرنا ابن وهب ْاخبرنى جرير بن حازم عن سليمان نب
مهران عن ْابى ظبيان عن ابن عباس قال مر على علي بن ْابى طالب رضى
- صلى الله عليه وسلم- قال ْاوما تد كر ْان رسول الله.الله عنهبمعبى عثمان
قال (( رفع القلم عن ثال ثة عن المجنون المغلوب على عقله حتى يفيق
وعن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى يحتلم )) قال صد قت قال فخلى
عنها سبيلها
Telah menceritakan kepada kami Ibn Sarkh telah menggambarkan
kepada kami Ibn Wahib telah menggambarkan kepadaku Jabir Ibn Hazim
dari Sulaiman Ibn Mihran dari bapak ku Zhabyan dari Ibnu Abbas berkata
dari Usman Rasulullah SAW bersabda : “ Qalam diangkat dari tiga orang:
orang gila yang terkalahkan akalnya hingga ia sembuh, orang tidur hingga
terjaga dan anak kecil hingga ia mimpi (baligh).27
27
Sulaiman ibn al-Asy’as ibn syadad ibn Amru al-Azdi Abu Dawud al-Sijistani,
Sunan Abu Dawud : bab fi al-Majnun, juz 13 (Beirut : Dar al-Fikr,t.t) no.Hadis. 4403,hlm,57.
Akan tetapi anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan hendaknya
diperintahkan untuk melakukan shalat agar terlatih untuknya apabila telah
mencapai umur 7 tahun atau telah mumayyis, dan diberi pelajaran dengan
dipukul apabila tidak mau melakukan shalat setelah mencapai umur
sepuluh tahun. Rasululullah SAW bersabda :
حد ثنا مؤمل بن هشام – يعنى اليشكرى – حد ثنا اسماعيل عن سوار ْابى
قال ْابو داود وهو سوار بن داود ْابو حمزة المزنيالصيرفي – عن عمر-حمز
– وبن شعيب عن ْابيه عن جده قال قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم
((مروا ْاوالدكم بالصالة وهم ْابناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم ْابناء
)) عسر سنين وفرقوا بينهم فى المضاجع
Telah menceritakan kepada kami Mu’amal Ibn Hisyam yakni al-
Yasykuri telah menceritakan kepada kami Ismail dari suwar Abi Hamzah
al-Muzani al-Soirofi dari Amru Ibn Syu’aib dari bapaknya dari Jaddah
berkata: Rasulullah SAW bersabda : perintahkanlah anak-anak mu untuk
shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukulah mereka apabila
meninggalkannya ketika berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah tidur
mereka masing-masing.28
c. Berakal29
2. Syarat-syarat sah shalat
a. Suci dari hadas besar dan hadas kecil
b. Sucu badan, pakaian dan tempat dari najis
c. Menutup aurot
d. Mengetahui masuknya waktu shalat
28
Sulaiman ibn al-Asy’as ibn Syadad ibn Amru al-Azdi abu Dawud al-Sijistani,
Ibid., no hadis. 4403, hlm. 57
29
Wahbah al- Zuhaili, Fiqih Shalat : Kajian Berbagai Mazhab ( Bandung : Pustaka
Media Utama , 2004 ) hlm. 78-82
e. Menghadap kiblat (ka’bah)30
b. Rukun-Rukun Shalat
Rukun adalah bagian yang menopang sesuatu dan sesuatu itu tak
akan ada tanpa adanya bagian tersebut. Rukun shalat tidak boleh
ditinggalkan, baik dengan sengaja maupun lupa. Apabila rukunnya
ditinggalkan shalatnya tidak sah.
Rukun-rukun tersebut antara lain:
1. Berdiri tegak bagi yang mampu
2. Takbirotul ikhram
3. Membaca fatehah pada setiap raka’at
4. Ruku’
5. I’tidal
6. Sujud di atas tujuh anggota badan
7. Bangkit dari sujud
8. Duduk di antara dua sujud
9. Tuma’ninah dalam setiap rukun shalat
10. Tasyahud akhir
11. Bershalawat kepada Nabi Muhammad
12. Tertib
13. Mengucapkan salam.31
Selain dari keempat belas rukun tersebut tidaklah wajib, tetapi
adalahsunah dan hai’ah(yakni amalan yang tingkatanya di bawah sunah-
sunah shalat) dalam sunah maupun rukun shalat.
c. Sunah-Sunah Shalat
Adapun sunah-sunah dalam shalat yang berupa perbuatan ada
empat, yaitu :
1. Mengangkat kedua tangan ketika takbirotul ikhrom.
30
Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam ( Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2008 ) hlm. 68-
70
31
Abdullah al- Thayyar, Ensiklopedi Shalat (Jakarta : Maghfirat Pustaka, 2007 ) hlm.
107-111
2. Mengangkat kedua tangan ketika turun untuk ruku’
3. Mengangkat kedua tangan ketika bangun untuk berdiri dari ruku’
4. Duduk untuk tasyahud (tahiyat) awal
Adapun sunah dalam shalat berupa bacaan adalah :
1. Doa istiftah
2. Ta’awwudz
3. Mengucap amin, hukumnya sunah mu’akkad
4. Membaca surat (sesudah al fatehah)
5. Takbirotul intiqal
6. Bacaan ketika rukuk, I’tidal, sujud serta duduk diantara dua sujud
7. Bacaan tasyahud awal
8. Shalawat untuk nabi pada tasyahud awal
9. Doa setelah tasyahud akhir
10. Salam yang kedua.32
Dalam bentuk shalat di samping mempunyai syarat dan rukun
yang harus ada, juga mempunyai beberapa perbuatan sunah untuk
melengkapi sunah-sunah yang terdapat dalam pelaksanaan shalat tidak
akan batal jika ditinggalkan.
Tentang pengaturan shalat berjamaah telah ditentukan oleh Allah
SWT. dalam Al Qur’an dan dijelaskan dalam hadist. Shalat berjamaah
mempunyai tenggang waktu yang telah diatur selama dua puluh empat
jam atau sehari semalam.
Pengaturan shalat berjamaah mengandung berbagai hikmah yang
luas, sejauh manusia menyelami, berfikir memahami dari pengaturan
waktu itu. Yang pasti setiap melakukan shalat, dituntut untuk
memperbaharui rasa taat agar dalam setiap kegiatan orang harus merasa
bahwa dia berada di samping Allah SWT
32
Imam Al- Ghajali, Menyikap Rahasia-Rahasia shalat ( Yogyakarta : Citra Media,
2007 ) hlm. 40-41
2. Jiwa Shalat
Bentuk atau rupa shalat tergambar dalam syarat, rukun, sunat dan
ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengannya, semua itu tampak
kongkrit dalam prakik shalat.
Sedangkan jiwa shalat hanya dapat dilihat segalanya ketika
menjalankan shalat. Bentuk dan jiwa shalat diumpamakan seperti jiwa
dan raga manusia. Manusia dengan jiwanya dapat merasakan,
mengetahui, berfikir, menemukan dan mengingat, demikian pulalah
dengan jiwa shalat. Orang yang bersangkutan dapat mengingat Allah
SWT dan dapat mencurahkan perhatianya kepada Allah SWT. Dapat
menghayati keagunganNya dan dapat menyampaikan pedoman sehingga
tercapai hubungan dengan Nya. Shalat yang demikian itu akan berfungsi
sebagaimana mestinya yaitu untuk mengingat Allah SWT.
a. Ikhlas Dalam Menjalankan Shalat
Dalam mengerjakan shalat, baik shalat wajib maupun shalat
sunah, harus dengan hati yang ikhlas dan kepasrahan yang total. Artinya
semua amalan shalatnya itu hanya diperuntukkan kepada Allah SWT,
tidak ada tujuan lain selain mengharap ridho, rahmat dan hidayahNya.
Shalat yang seperti inilah yang yang akan mengantarkan pada
keberuntungan.
Ihklas, pasrah dan total dalam makna ini oleh Sayyid Sabiq
ditegaskan, ikhla adalah apabila seseorang mengarahkan maksud dari
setiap ucapan, amalan, maupun jihadnya hanya tertuju Allah dan
mencari ridhoNya tanpa memandang perolehan harta, pangkat, sebutan
atau kemashuran. Selain itu tidak ada keterpaksaan, keculasan,
kemalasan dan sikap-sikap lain yang justru membawa kemahdhorotan.33
Para ahli tasawuf berkata bahwa ada 12.000 keutamaan shalat
yang Allah SWT tentukan melalui dua belas jalan untuk memperolehnya.
Dua belas jalan itu sangat penting untuk menyempurnakan shalat dan
bermanfaat untuk diri kita. Kedua belas jalan itu ialah : 1. Ilmu. Sabda
nabi SAW amal yang sedikit tapi dilakukan dengan ilmu lebih baik dari
pada amal yang banyak tanpa ilmu.2. Wudhu 3. Pakaian 4. Waktu 5.
Menghadap kiblat 6. Niat 7. Takbirotul ikhram 8. Berdiri 9. Membaca Al
Qur’an 10. Ruku’ 11. Sujud 12. Tahiyat. Dan kesmpurnaan dari itu
adalah ikhlas. Dari kedua belas jalan ini, setiap jalan memiliki tiga bagian
penting yaitu :
1. Ilmu
a. Mengetahui yang fardhu (rukun) dan yang sunat secara jelas
b. Mengetahui jumlah fardhu (rukun) dan sunah dalam wudhu dan shalat
c. Mengetahui cara syetan menggoda kita dalam shalat
2. Wudhu
a. Sebagaimana kita membersihkan anggota wudhu, yang paling utama
adalah membersihkan hati dari dengki dan hasad
b. Menjaga kebersihan diri kita dari perbuatan dosa
c. Jangan salah menggunakan air dan salah dalam berwudhu
3. Pakaian
33
Muhammad Makhdlori, Menyikap Mu’jizat Shalat Dhuha ( Yogyakarta : Diva
Press, 2008) hlm. 51
a. Diperoleh dengan cara yang halal
b. Suci dari najis
c. Sesuai dengan sunah Rasulullah SAW, yaitu tidak melebihi mata kaki
dan tidak menunjukkan kesombongan
4. Waktu
a. Mengetahui waktu yang tepat
b. Mengutahu suara adzan
c. Hati senantiasa memikirkan waktu shalat, jangan sampai terlewat tanpa
disadari
5. Menghadap kiblat
a. Secara dhahir badan menghadap kiblat
b. Hati menghadap Allah SWT, sebab dialah ka’bah bagi hati
c. Menghadap pemilik ka’bah sepenuh hati sebagaimana mestinya
6. Niat
a. Shalat apa yang akan dikerjakan
b. Berdiri dihadapan Allah melihat kita
c. Merasa bahwa Allah mengetahui keadaan hati kita
7. Takbiratul ikhram
a. Melafatkan takbir dengan shahih
b. Mengangkat tangan sampai ketelinga (sebagai isyarat bahwa kita
mengesampingkan apasaja selain Allah SWT kebelakang kita)
c. Memasukkan kebesaran Allah SWT kedalam hati kita, seiring dengan
ucapan takbir :Allahu akbar.
8. Qiyam atau Berdiri
a. Pandangan tertuju ketempat sujud
b. Betul-betul merasa sedang berdiri di hadapan Allah SWT.
c. Jangan memperdulikan yang lain. Peruuumpamaan orang
yang perhatian kesana kemari di dalam shalat adalah seperti
orang yang bersusah payah memohon kepada para penjaga
istana untuk dapat menghadap kepada raja. Namun, ketika ia
berada di hadapan raja dan raja memberikan perhatian
kepadanya, ia malah melihat kesana kemari. Bagaimana
mungkin raja akan memperhatikannya.
9. Qira’at
a. Membaca dengan tartil dan tajwi yang benar
b. Merenungkan maknanya
c. Berusaha mengamalkan apa yang telah dibaca
10. Ruku’
a. Meluruskan punggung ketika ruku’. Alim ulama berkata
bahwa tiga anggota badan, yaitu kepala, punggung dan
pinggang hendaknya lurus dan rata.
b. Jari-jari tangan kita buka dan memegang lutut dengan kokoh
c. Membaca tasbih dengan penuh rasa ta’zhim.
11. Sujud
a. Letak tangan sejajar dengan telinga
b. Menegakkan siku-siku tangan
c. Membaca tasbih dengan penuh rasa ta’dhim
12. Qa’adah atau duduk
a. Menegakkan telapak kaki kanan dan menduduki telapak kaki
kiri
b. Membaca doa tasyahud dengan meresapinya, karena di
dalamnya mengandung salam kepada nabi SAW dan terdapat
doa untuk saudara-saudara muslim dan para malaikat.
c. Ketika mengucapkan salam kekiri dan kekanan di niatkan
untuk seluruh kaum muslimin.34
b. Khusyuk Dalam Menjalankan Shalat
Khusyuk merupakan ruhnya ibadah shalat yang tanpanya
shalat hanya akan terlaksana tanpa makna. Sebab hal tersebut lebih
cenderung mengarah pada kwalitas ruhani dan tidak memiliki
parameter tersebut dalam mengukurnya.
Secara bahasa kata khusu’ tersebut dapat dilihat ebagai berasal
dari khasa’a-khusy-an atau iktasya’a dan takhasya’a yang secara
sederhana berarti memusatkan penglihatan pada bumi dengan
memejamkan mata atau meringankan suara ketika shalat. Namun,
direnungkan lebih dalam akan didapati bahwa khusyu’ lebih mengarah
pada pengertian tunduk dan takhasyu’ yang berarti menjadikan diri
menjadi khusyu’. Jiki pengertian ini yang dijadikan pedoman, maha
pencapaian derajat khusyu’ membutuhkan usaha dan perjungan bagi
siapa yang ingin memperolehnya.35
34
Maulana Muhammad Zakariyya al Kandahlawi Rah. A, Fadhilah Shalat
( Yogyakarta : Ash shaff, 2006) hlm. 168-169
35
Jefri Noer, Ibid, hlm. 138
Dari pengertian khusyu’ di atas dapat dambil suatu kesimpulan
bahwa khusyu’ adalah tunduk dan tawadhu’ menghadap kepada Allah
SWT dengan hati dan gerakan anggota yang tenang, dan pikiran yang
tertuju kepadaNya dalam menjalankan shalat.
3. Hikmah Shalat
Tidak ada satu pun kewajiban yang dibebankan pada manusia kecuali
di dalamnya terdapat kebaikan, hikmah atau manfaat bagi manusia itu
sendiri, meskipun kadang-kadang sebagian manusia tak mampu melihat
hikmah yang terkandung karena kurang diperhatikannya atau belum
dirasakannya karenanya adalah sangat wajar jika kita diwajibkan untuk
mensukuri segala yang diciptakan Allah di bumi, terlebih apabila yang
diberikan Allah tersebut datang dalam bentuk suatu kewajiban. Sebab,
sebagai yang didatangkan Allah kepada hambaNya atau sebagia sebuah
kewajiban yang secara langsung dijemput Nabi SAW. Pastilah shalat
tersebut mengandung berbagai manfaat bukan hanya dalam kehidupan
dunia melainkan juga untuk kepentingan masa depannya di akhirat.
Adapun hikmah dari shalat itu sendiri banyak dijelaskan Allah dalam Al-
Qur’an di antaranya :
1. Menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar seperti tersebut
dalam surat Al Ankabut ayat 45 :
َأ ُأ
ٱ ۡتُل َمٓا وِح َي ِإَل ۡيَك ِمَن ٱ ۡلِكَٰتِب َو ِقِم ٱلَّصَلٰو َۖة ِإَّن
ٱلَّصَلٰوَة َت ۡنَهٰى َعِن ٱ ۡلَف ۡحَش ٓاِء َوٱ ۡلُمنَكِۗر َوَلِذ ۡكُر ٱلَّلِه
٤٥ َأ ۡكَب ُۗر َوٱلَّلُه َي ۡعَلُم َما َت ۡصَنُعوَن
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al Kitab (Al
Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbutan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat
Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah
yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
2. Memperoleh ketenangan jiwa, sebagaimana firman Allah SWT dalam
surat Ar Ro’du ayat 28 :
َأ
ٱَّل ِذيَن َءاَمُن وْا َوَت ۡطَمِئُّن ُقُل وُبُهم ِب ِذ ۡكِر ٱلَّل ِۗه اَل ِب ِذ ۡكِر ٱلَّل ِه
٢٨ َت ۡطَمِئُّن ٱ ۡلُقُلوُب
Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah lah
hati menjadi tenteram (tenang).36
4. Merancang Pelatihan Shalat
Dalam meningkatkan kualitas shalat jamaah siswa, sangat diperlukan
sebuah metode yang tepat dan efektif. Salah satu metode pelatihan shalat
tersebut seperti yang dicetuskan oleh M. Shadiq Mustika yaitu metode
pelatihan “SMART” . Dalam metode pelatihan shalat ada lima tahapan
yaitu :
1. Siagakan perilaku shalat
a. Evaluasi dan rencanakan shalat
b. Mempersiapkan tata ruang shalat
36
Amir Syarifudin, fiqih ; Garis-Garis Besar ( Jakarta Timur : Prenada Media,
2003 ) hlm. 23
c. Siapkan raga pelaku shalat
d. Perhatikan tata waktu shalat
2. Mantapkan wujud shalat
a. Teguhkan niat shalat
b. Ekspresikan fisik dalam shalat
c. Tata vocal dalam shalat
d. Wujudkan shalat walau singkat
3. Arungi makna Shalat
a. Sistematiskan pikiran anda dalam shalat
b. Simak bacaan shalat secerdas-cerdasnya
c. Kreatifkan pikiran dalam shalat
d. Tanamkan makna shalat sekukuh-kukuhnya
4. Rengkuh ruh shalat
a. Hidupkan perasaan dalam shalat
b. Raih kejayaan spiritual- eksistensional
c. Raih kejayaan personal
d. Rengkuh kejayaan public
5. Tebarkan hikmah shalat
Tunjukkan shalat seseorang itu bermakna.37
5. Merancang Program Shalat
Merancang program shalat di sini hamper sama ketika membuat
program belajar menghadapi ujian nasional sekolah. Dalam menyusun
shalat “SMART” ada empat unsure yang dipertimbangkan, 1. Kebutuhan
diri. 2. Tujuan shalat sesuai kebutuhan 3. Jenis kecerdasan hendak
37
M. Shadiq Mustika, Pelatihan Shalat SMART Untuk Kecerdasan dan Kesuksesan
Hidup ( Jakarta : Hikmah, 2007 ) hlm. 25-35
dilejitkan 4. Langkah awal yang harus dilakukan. Secara garis besarnya,
sudut pandang “shalat SMART” ini meliputi lima bagian :
1. S-Siagakan pelaku shalat
2. M-Mantapkan wujud shalat
3. A- Arungi makna shalat
4. R- Rengkuh ruh shalat
5. T- Tebarkan hikmah shalat38
Merancang shalat SMART bisa membuat kita lebih rajin bershalat dengan
penuh semangat. Dalam menyusun program shalat, disesuaikan dengan tantangan
kehidapan masing-masing manusia (kehidupan manusia dinamis).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Pada dasarnya dalam bidang penelitian itu dikenal adanya dua jenis
penelitian, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dengan
adanya kedua jenis penelitian tersebut diatas, menunjukkkan bahwa
penelitian yang dilakukan dalam karya ini tergolong penelitian kualitatif,
karena jenis penelitian yang tidak mengadakan perhitungan, melainkan
digambarkan dengan kata-kata atau kalimat (deskriptif) terhadap data yang
diperoleh guna mendapatkan suatu kesimpulan. Maka dari itu yang ingin
38
Ibid., 384
diketahui penulis dalam penelitian ini adalah Upaya Guru Fiqih Dalam
Meningkatan Kualitas Sholat Berjama’ah.
2. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, instrumen utamanya adalah peneliti
sendiri, namun selanjutnya setelah fokus penelitian menjadi jelas, maka
kemungkinan akan dikembangkan instrumen penelitian sederhana, yang
diharapkan dapat melengkapi data yang telah ditemukan melalui observasi
dan wawancara. Peneliti akan terjun ke lapangan sendiri melakukan
pengumpulan data, analisis dan membuat kesimpulan.39
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama
dalam penelitian, karena tujuan utama penelitian adalah mendapatkan data.
Dalam hal ini, peneliti menggunakan teknik-teknik sebagai berikut :Teknik
Pengamatan (Observasi)
Nasution (1988) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua
ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu
fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. 40 Dari
observasi inilah peneliti dapat memperoleh data. Data-data yang dimaksud
adalah yang berkaitan dengan Upaya Guru Fiqih Dalam Meningkatan Kualitas
Sholat Berjama’ah.
39
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan
R&B, (Bandung : Alfabeta, 2008), Cet. ke-5, h. 307
40
Ibid, h. 310
a. Teknik Wawancara
Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar
informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan
makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik
pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan
untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila
peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam.41
b. Teknik Dokumentasi
Suharsimi Arikunto mengatakan, “teknik dokumentasi adalah
mencari data-data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan,
transkip, buku-buku, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda dan
sebagainya”.42
Dengan demikian teknik ini dipakai untuk memperoleh data
tentang Upaya Guru Fiqih Dalam Meningkatan Kualitas Sholat Berjama’ah
siswa Mts Al Muhajirin Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten
Lampung Barat Tahun Pelajaran 2024/2025.
c. Teknik Analisis Data
Dalam hal analisis data kualitatif, Bogdan menyatakan bahwa,
“analisis data adalah proses mencari atau menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan
41
Ibid, h. 317
42
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta :
Rineka Cipta, 2006), Cet. ke-13, h. 231
lain, sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat di
informasikan kepada orang lain”.43
Analisis data dalam suatu penelitian merupakan bagian yang sangat
penting karena karena dengan anlisis ini data yang ada akan Nampak
manfaatnya terutama dalam memecahkan masalah penelitian untuk
mencapai tujuan akhir penelitian.
43
Sugiono, Op.Cit., h. 334