0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan48 halaman

Upaya Meningkatkan Kualitas Shalat Berjamaah

Diunggah oleh

onnerid
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan48 halaman

Upaya Meningkatkan Kualitas Shalat Berjamaah

Diunggah oleh

onnerid
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UPAYA GURU FIQIH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT

BERJAMAAH PESERTA DIDIK DI MTS AL MUHAJIRIN SUMBER


ALAM, KECAMATAN AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT
TAHUN PELAJARAN 2024/2025

SKRIPSI

Diajukan Fakultas Tarbiah Prodi Untuk Memenuhi Persyaratan


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh
SALMAN ALFARISI
NIM: 2127101010247

Fakultas : Tarbiyah Dan Keguruan


Program Studi : Pendidikan Agama Islam

UNIVERSITAS ISLAM AN NUR LAMPUNG


TAHUN 1445 H / 2024 M
ABSTRAK

UPAYA GURU FIQIH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT


BERJAMAAH PESERTA DIDIK DI MTS AL MUHAJIRIN SUMBER
ALAM, KECAMATAN AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT
TAHUN PELAJARAN 2024/2025

UMI KULSUM
NIM : 2127101010833

Pendidikan adalah kewajiban bagi umat muslim. Sebagai


kewajiban umat muslim serta berfungsi sebagai media tempat
berlangsungnya interaksi sosial yang menjadikan dirinya generator
perubahan dalam masyarakat Dalam kamus besar bahasa Indonesia, arti
kata upaya ialah usaha, akal, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud,
memecahkan persoalan).1 Berdasarkan kata arti di atas maka pengertian
upaya guru fiqih dalam meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa
SDN 6 Muara Sugihan kabupaten Banyu asin Tahun Ajaran 2024/2025
ialah usaha atau cara, ikhtiar yang dilakukan guru dalam mencari jalan
keluar / atau pemecahan masalah terhadap kualitas shalat jamaah siswa
SDN 6 Muara Sugihan kabupaten Banyu asin Tahun Ajaran 2024/2025
Pada dasarnya dalam bidang penelitian itu dikenal adanya dua
jenis penelitian, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.
Dengan adanya kedua jenis penelitian tersebut diatas, menunjukkkan
bahwa penelitian yang dilakukan dalam karya ini tergolong penelitian
kualitatif, karena jenis penelitian yang tidak mengadakan perhitungan,
melainkan digambarkan dengan kata-kata atau kalimat (deskriptif)
terhadap data yang diperoleh guna mendapatkan suatu kesimpulan. Maka
dari itu yang ingin diketahui penulis dalam penelitian ini adalah Upaya
Guru Fiqih Dalam Meningkatan Kualitas Sholat Berjama’ah.

Kata Kunci: Shalat berjamaah

1
W.J.S. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia ( Jakarta : Balai Pustaka,

2007) hlm. 1345


PERNYATAAN ORISINALITAS

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Salman ALfarisi

NIM : 2127101010247

Jenjang Pendidikan : Strata Satu (S1)

Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang berjudul “UPAYA GURU

FIQIH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT BERJAMAAH

PESERTA DIDIK DI MTS AL MUHAJIRIN SUMBER ALAM,

KECAMATAN AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT TAHUN

PELAJARAN 2024/2025” adalah benar-benar karya asli saya, kecuali yang

disebutkan sumbernya. Apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan di dalamnya

sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Lampung Selatan, 23 Februari 2024


Yang menyatakan,

UMI KULSUM
NIM. 2127101010833
PERSETUJUAN

Judul Skripsi : UPAYA


: GURU FIQIH DALAM
MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT
BERJAMAAH PESERTA DIDIK DI MTS AL
MUHAJIRIN SUMBER ALAM, KECAMATAN
AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT
TAHUN PELAJARAN 2024/2025

Nama Mahasiswa :Salman Alfarisi


NIM : 2127101010247
Fakultas : Tarbiyah
Program Studi : Pendidikan Agma Islam

MENYETUJUI

Untuk dimunaqosahkan dan dipertahankan dalam sidang Munaqosah Fakultas


Tarbiyah Program Pendidikan Agama Universitas Islam An Nur Lampung.

Pembimbing I Pembimbing II

……………………… …………………….

Mengetahui
Dekan Fakultas Tarbiyah

Dr.Nurul Hidayati Murtafiah,M.Pd.I


NIDN : 2115089101
NOTA DINAS

Nomor : Istimewa Kepada Yth,


Lampiran : 4 (empat)Eksemplar Rektor Universitas Islam An
Nur
Skripsi Sdra. Salman Alfarisi Lampung
Di Jati Agung.
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Setelah kami membaca, meneliti dan memberikan bimbingan seperlunya,
kami berpendapat bahwa skripsi saudara :

Nama Mahasiswa : Umi Kulsum


NIM : 2127101010833

Judul Skripsi : UPAYA GURU FIQIH DALAM


MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT
BERJAMAAH PESERTA DIDIK DI MTS AL
MUHAJIRIN SUMBER ALAM, KECAMATAN
AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT

Dapat diajukan untuk dimunaqosahkan di Universitas Islam An Nur Lampung.


Skripsi tersebut dengan maksud mohon kiranya dapat segera dimunaqosahkan.
Demikian untuk dimaklumi dan terimakasih.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Pembimbing I Pembimbing II

………………………. ……………………..
Mengetahui
Dekan Fakultas Tarbiyah

Dr.Nurul Hidayati Murtafiah,M.Pd.I


NIDN : 2115089101
PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah SWT, saya

persembahkan karya tulis yang sederhana ini kepada orang yang selalu

mencintai, menyayangi dan memberi makna dalam hidupku kepada:

1. Keluargaku Tercinta Terutama Kedua Orang Tuaku Yang Telah Mendidik

Dan Membesarkanku, Ayahanda Sadilah Yang Selalu mendoakan anak nya

diPondok Pesantren, Ibunda Sutarsih Yang Selalu Menyayangku Dan

Mendo’akanku Di Setiap Shalatnya. Dan yang selalu mendo’akan dan

berikhtiyar untuk keberhasilanku.

2. Abah Kyai Dr.H.Andi Warisno,M.MPd, dan Ibu Dr.Hj.Nur Hidayah,M.Pd.I

Pengasuh pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, dan sekaligus selaku

Rektor Universitas Islam An Nur Lampung, dan Direktur Pascasarjana. Yang

Selalu Memberi Motivasi dan Mendo’akanku.

3. Kepada Semua Asatidz Wa Asatidzah, Semua Guru-Guruku, Guru Ngaji,

Guru RA, MTs, MA, dan Para Dosen Universitas An Nur Lampung.

4. Ibu Dr. Etika Pujianti ,M.Pd Dan Ibu Alfi Zahrotul Haidah, M.Pd Yang telah

membimbing penulis, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

5. Keluarga besar pondok pesantren Hidayatul Mubtadiin Jati Agung.

6. Sahabat dan teman-temanku seperjuangan yang telah membantu penulis

menyusun skripsi, khususanya sahabat penghuni rusun II.

7. Almamaterku Universitas Islam An-Nur Lampung.


MOTTO

‫َخ ْيُر ُكْم َمْن َتَع َّلَم اْلُق ْر آَن َو َعَّلَمُه‬

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan

mengajarkannya.” (HR.Muslim)2

2
Shoheh Muslim, Bulughul Maram, h. 81.
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT. Yang senantiasa


mencurahkan Rahmat dan Hidayahnya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul: UPAYA GURU FIQIH
DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SHALAT BERJAMAAH
PESERTA DIDIK DI MTS AL MUHAJIRIN SUMBER ALAM,
KECAMATAN AIR HITAM, KABUPATEN LAMPUNG BARAT TAHUN
PELAJARAN 2024/2025.

Penulis menyadari bahwa penyelesaian Skripsi ini sungguh merupakan


pekerjaan yang berat karena diperlukan ketekunan, kesabaran, kerja keras, untuk
menyelesaikannya. Selesainya penulisan Skripsi ini tidak terlepas dari bantuan,
dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan
ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. H.Andi Warisno,M.MPd, selaku Rektor Universitas Islam An-Nur


Lampung Sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, yang
telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan
pada lembaga ini dan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk
menuntut ilmu pada program sarjana pendidikan agama islam, sekaligus izin
untuk melakukan penelitian dan bersedia membantu menjadi responden penulis
dalam menyusun skripsi ini.
2. Ibu Dr.Nurul Hidayati Murtafi’ah, M.Pd.I Dekan Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam An Nur Lampung
3. Dr Etika Pujianti, M Pd Selaku pembimbing 1 dan Ibu Alfi Ahrotul Zahamidah
M.Pd aku pembimbing II, yang telah membimbing penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Ibu Dosen Universitas Islam An-Nur Lampung, yang telah memberikan
ilmu dan bimbingannya.
5. Ustadz Miftahul Anwar, M. Pd Selaku Lurah Putra Pondok Pesantren
Hidayatul Mubtadiin ,
6. Kepada semua pihak, Rekan-rekan yang turut memberikan masukan dan saran
sehingga skripsi ini bisa selesai.
Terakhir Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna.
Oleh sebab itu, dengan rendah hati peneliti mengharapkan sumbangsih saran dan
masukan yang sifatnya membangaun demi perbaikan dalam upaya menuju kepada
yang lebih baik.

Harapan peneliti betapapun kecilnya semoga skripsi ini dapat bermanfaat


khususnya bagi peneliti sendiri dan umumnya bagi pembaca dan dapat berguna
bagi bagi kita semua,Aammin.

Lampung Selatan, 16 Februari 2024


Penulis

Salman Alfarisi
NIM. 2127101010247

RIWAYAT HIDUP
Salman Alfarisi dilahirkan di Ciamis, pada tanggal 05 Bulan Oktober

Tahun 1992, dari pasangan suami istri ayahanda Sadilah dan Ibunda Sutarsih,

Ananda Salman ALfarisi Adalah Putri kelima dari 5 bersaudara.

Riwayat pendidikan penulis. Penulis telah menamatkan sekolah dasar di

MIS Alfatah ciamis Tahun 1997 sampai 2003, dan setelah itu melanjutkan ke

MTSN Padang Ratu Tahun 2003 sampai 2006, kemudian melanjutkan di

Madrasah Aliyah padang ratu Tahun 2006 sampai 2009, setelah itu melanjutkan

ke Perguruan Tinggi strata 1 di Universitas Islam An Nur Lampung mulai masuk

pada tahun 2021 sampai sekarang.

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL DEPAN.......................................................................i

HALAMAN JUDUL.........................................................................................ii

ABSTRAK.........................................................................................................iii

PERNYATAAN ORISIONALITAS...............................................................iv

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING.............................................v

NOTA DINAS....................................................................................................vi

LEMBAR PENGESAHAN..............................................................................vii

PESRSEMBAHAN...........................................................................................viii

MOTTO.............................................................................................................x

KATA PENGANTAR.......................................................................................xi

PEDOMAN TRANSLITERASI......................................................................xiii
RIWAYAT HIDUP...........................................................................................xiv

DAFTAR ISI......................................................................................................xv

DAFTAR TABEL..............................................................................................xx

DAFTAR GAMBAR..........................................................................................xxi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah................................................................................1

B. Identifikasi Masalah. .....................................................................................4

C. Batasan Masalah............................................................................................4

D. Rumusan Maslah...........................................................................................4

E. Tujuan Dan Kegunaan...................................................................................6

BAB II LANDASAN TEORI

A. pengertian upaya guru fikih...........................................................................6


1. Upaya.......................................................................................................6
2. Guru.........................................................................................................8
B. Pengertian shalat berkualitas berjaamaah......................................................12
1. kualitas.....................................................................................................12
2. shalat........................................................................................................12
C. Dasar Hukum Shalat.........................................................................................15
D. Berjamaah dan dasar hukum..........................................................................19
E. Memperbaiki shalat berjamaah......................................................................19

BAB III METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian.............................................................................................34
1. jenis penelitian.........................................................................................34
2. Instrumen Penelitian................................................................................34
3. tehnik pengumpulan data.........................................................................35
4. tehnik analisis data...................................................................................36
5. tehnik pengumpulan data.........................................................................36

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah kewajiban bagi umat muslim. Sebagai kewajiban umat

muslim serta berfungsi sebagai media tempat berlangsungnya interaksi sosial

yang menjadikan dirinya generator perubahan dalam masyarakat.

Salah satu bentuk yang sering dialamatkan kepada proses pelaksanaan

pembelajaran pendidikan agama Islam yang berjalan dilembaga-lembaga

pendidikan sekolah selama ini ialah pelaksanaannya terlalu menekankan pada

proses alih pengetahuan (transfer of knowledge) dengan berorientasi pada domain

kognitif peserta didik. Semestinya proses pembelajaran pendidikan agama islam

bukannya alih pengetahuan, melainkan justru menekankan alih nilai (transfer of

value) yang berorientasi pada domain afektif dan psikomotorik peserta didik.

Tentu saja akan lebih ideal lagi jika proses pembelajaran pendidikan agama islam

menekankan secara berimbang antara alih pengetahuan dan alih nilai.

Usia anak dijenjang Sekolah Menengah Pertama merupakan fase awal baligh,

di mana terjadi peralihan dari fase anak-anak menuju fase baligh. Pada fase ini

terjadi perubahan yang cukup signifikan pada diri anak baik secara mental

maupun psikologi. Perubahan karakter ini, disebabkan terjadinya perubahan

dalam bentuk fisik dan hormonal pada seks baik laki-laki maupun perempuan.

Jika proses perkembangan ini tidak diiringi dengan pendampingan dan

pengarahan yang baik, maka akan berakibat fatal pada diri anak, terutama pada

karakter dan kepribadian anak.

Pada fase ini, seorang anak harus sudah diberikan bimbingan keagamaan yang

baik, di samping itu juga sudah dibiasakan menjalankan rutinitas keagamaan agar
dapat mempertebal keimanan dan pondasi kepribadian anak. Dalam Islam anak

usia sekolah menengah perama, merupakan fase awal baligh sehingga pelajaran

dan pelaksanaan sholat pada diri anak harus sudah ditanamkan dengan baik.

Ibadah yang paling utama dalam Islam adalah sholat lima waktu, karena sudah

menjadi kewajiban bagi setiap orang muslim. Perintah menjalankan shalat ini

terdapat dalam kandungan Q.S an- Nisa’ : 103.

‫َل‬ ‫ْا َّل‬ ‫َل‬


‫َف ِإَذا َقَض ۡيُتُم ٱلَّص ٰوَة َفٱ ۡذُكُر و ٱل َه ِقَٰيٗم ا َوُقُع وٗدا َوَع ٰى‬
‫ُجُنوِبُك ۚۡم َفِإَذا ٱ ۡطَم ۡأَننُت ۡم َفَأِقيُموْا ٱلَّصَلٰو َۚة ِإَّن ٱلَّصَلٰوَة َك اَن ۡت َعَلى‬
١٠٣ ‫ٱ ۡلُم ۡؤِمِنيَن ِكَٰتٗبا َّم ۡوُقوٗتا‬
Artinya: Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di
waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila
kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana
biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya
atas orang-orang yang beriman. (an-Nisa’:103).

Dari ayat diatas, menunjukkan pada kita tentang kewajiban orang Islam

dalam menjalankan sholat. Sehingga apabila seorang muslim tidak menjalankan

sholat maka termasuk orang yang lalai dalam perintah Alloh SWT

Salah satu syarat seseorang mempunyai kewajiban menjalankan shalat adalah

baligh atau dewasa. Adapun ciri-ciri bahwa seseorang itu dapat dikatakan dewasa

adalah :

1. Cukup umur 15 tahun

2. Keluar Mani

3. Mimpi bersetubuh
4. Mulai keluar haidh bagi perempuan3

Berdasarkan tanda-tanda baligh tersebut di atas, maka dapat dikatakan

anak-anak SMP sebagian besar sudah termasuk kategori baligh yang mendapatkan

kewajiban shalat. Ibadah shalat sangat ditekankan sekali bagi siswa di MTs Al-

Muhajirin, Sumber Alam, Kec.Air Hitam Kab. Lampung Barat,di samping shalat

dhuhur berjamaah juga dilaksanakan program-program keagamaan yang

mendukung ibadah tersebut. Hal ini diharapkan dapat menjadi salah satu cara

untuk menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya shalat dan membiasakan

anak menjalankan shalat secara berjamaah. Selain dengan kegiatan rutin tersebut

para guru, terutama guru fiqih sangat mementingkan shalat disela-sela pelajaran. 4

Tugas mendidik anak dalam bidang agama khususnya dalam ibadah shalat

bukan hanya tugas guru, tetapi orang tua lah yang lebih berperan, karena

kebiasaan anak dalam menjalankan shalat di rumah akan berpengaruh sekali pada

kebiasaan anak dalam menjalankan shalat di sekolah. Dengan adanya dukungan

dasar yang baik dari rumah akan mempermudah seorang guru dalam menjalankan

tugasnya sebagai pendidik. Berangkat dari penjelasan di atas, penulis sangat

tertarik sekali untuk mengadakan penilitian tentang “ Upaya Guru Fiqih Dalam

Meningkatakan Kualitas Shalat Berjamaah Peserta Didik Mts Al Muhajirin

Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran

2024/2025

B. Identifikasi Masalah

3
Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam ( Bandung: Sinar Baru al-Gensindo, 2008 ), hlm. 66.
4
Hasil wawancara, asmu’i SPd.I, Guru Fiqih Tgl 23 april 2012
Adapun identifikasi masalah adalah :Guru fiqih sudah berupaya

meningkatkan kualitas solat Berjamaah bagi peserta didik di Mts Al

Muhajirin Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat

Tahun Pelajaran 2024/2025, tetapi masih ada beberapa anak yang belum

sadar akan pentingnya ibadah Sholat Berjamaah

C. Batasan Masalah

Dari latar belakang diatas guru fiqih Mts Al Muhajirin Sumber Alam,

Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran

2024/2025 berupaya bagaimana caranya meningkatkan kualitas solat

Berjamaah peserta didik Mts Al Muhajirin Sumber Alam, Kecamatan Air

Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran 2024/2025.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukankan di atas, pokok masalah

penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Upaya apa saja yang dilakukan guru fiqih dalam meningkatkan kualitas shalat

berjamaah siswa Mts Al Muhajirin Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam,

Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran 2024/2025,

E. Bagaiman hasil dari upaya yang dilakukan oleh guru fiqih dalam

meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa di Mts Al Muhajirin Sumber

Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran

2024/2025,
F. Tujuan dan Kegunaan

. 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang akan dicapai dalam membahas masalah tersebut adalah

a. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh guru fiqih dalam

meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa di Mts Al Muhajirin

Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun

Pelajaran 2024/2025.

b. Untuk mengetahui dampak dari upaya yang dilakukan oleh guru fiqih

dalam meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa di Mts Al Muhajirin

Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun

Pelajaran 2024/2025.

2. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini berusaha mengungkapkan upaya guru fiqih dalam

meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa Mts Al Muhajirin Sumber Alam,

Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran 2024/2025

diharapkan dapat berguna :

a. Sebagai sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada

umumnya dan pendidikan islam pada khususnya.

b. Sebagai bahan masukan bagi para guru fiqih di Mts Al Muhajirin Sumber

Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran

2024/2025,.
c. maupun disekolah-sekolah yang lain dalam rangka meningkatkan kinerja

pembinaan keagamaan pada siswa melalui ibadah shalat .

d. Hal-hal yang ada dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu

bahan acuan bagi pelaksanaan penelitian-penelitian yang relevan dimasa

mendatang.

BAB II

LANDASAN TEORI
A. Pengertian Upaya Guru Fiqih

1. Upaya

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, arti kata upaya ialah usaha,

akal, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan). 5

Berdasarkan kata arti di atas maka pengertian upaya guru fiqih dalam

meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa Mts Al Muhajirin Sumber

Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran

2024/2025 ialah usaha atau cara, ikhtiar yang dilakukan guru dalam

mencari jalan keluar / atau pemecahan masalah terhadap kualitas shalat

jamaah siswa Mts Al Muhajirin Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam,

Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran 2024/2025.

Upaya guru di sini, lebih ditekankan pada upaya dalam meningkatkan

kualitas siswa dalam menjalankan shalat berjamaah khususnya dari segi

bacaan shalatnya. Upaya mendasar yang harus dilakukan dalam

meningkatkan kualitas shalat berjamaah siswa yaitu memberikan

pemahaman yang tepat tentang shalat pada siswa. Siswa diberikan

pemahaman tentang pentingnya shalat dalam Islam seperti yang

diungkapkan oleh para ahli tafsir Al Qur’an.

Prof. Quraish Syihab mengatakan bahwa kenapa “oleh-oleh” yang


di bawa Rasul dari perjalanan isra’ mi’raj adalah kewajiban shalat, sebab
shalat merupakan sarana penting guna mensucikan jiwa dan memelihara
nurani. Nasr juga berpendapat bahwa ritus utama dalam agama islam
adalah shalat yang akan mengintegrasikan kehidupan manusia kedalam
ruhaniah dan shalat itu disebut pula sebagai tiang agama serta amal ibadah
yang pertama kali ditimbang dihari kemudian (akhirat).6

5
W.J.S. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia ( Jakarta : Balai Pustaka,

2007) hlm. 1345


6
Sentot Riyanto, Ibid., hlm. 61
Di samping diberikan pemahaman tentang shalat berjamaah dengan

tepat, upaya yang dilakukan selanjutnya yaitu memulai dan melatih siswa

untuk disiplin dalam menjalankan shalat berjamaah serta melatih siswa

untuk bisa menjalankan shalat berjamaah dengan baik. Hal ini dilakukan

karena shalat merupakan kegiatan harian, kegiatan mingguan, kegiatan

bulanan, atau kegiatan amalan tahunan dan dapat bermanfaat sebagai

sarana pembentukan kepribadian yaitu manusia yang bercirikan disiplin,

tepat waktu, bekerja keras, mencintai kebersihan, senantisa berkata baik

serta membentuk kepribadian. Hal ini dapat dilakukan dengan

memberikan pengarahan dan kewajiban shalat berjamaah di sekolah

misalnya shalat dhuha, dhuhur dan ashar berjamaah karena masih dalam

waktu jam sekolah.

2. Guru

Guru adalah orang yang memberikan ilmu pendidikan dan

pengetahuan kepada peserta didik7.

Selain itu, guru disebut juga pendidik, pendidik adalah orang

dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada

anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai

kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah,

khalifah di permukaan bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu

yang sanggup berdiri sendiri.8 Guru dalam pandangan masyarakat adalah

orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak


7
ibid.h 31
8
Drs. H. Hamdani Ihsan, Drs. H. A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Pustaka

Setia, 1998) h 93
mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bias juga di masjid, di surau/

mushola, di rumah, dan sebagainya.

Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di

masyatakat. Kebiwaanlah yang menyebabkan guru dihormati, sehingga

masyarakat tidak meragukan figur guru. Kehadiran guru dalam proses

belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting.

Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin,

radio, tape-recorder ataupun komputer yang paling modern sekalipun. 9

Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik mereka

agar menjadi orang yang berkepribadian mulia.

Dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat, maka di pundak

guru diberikan tugas dan tanggung jawab yang berat. Mengemban tugas

memang berat, tapi lebih berat lagi mengemban tanggung jawab. Sebab

tanggung jawab guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetai juga di luar

sekolah. Pembinaan yang harus guru berikan pun tidak hanya secara

kelompok, tetapi juga secara individual. Hal ini mau tidak mau menuntut

guru agar selalu memperhatikan sikap, tingkah laku, dan perbuata anak

didiknya, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di luar sekolah

sekalipun.

Oleh karena itu, tepatlah apa yang dikatakan oleh Drs. N.A.
Ametembun, bahwa guru adalah semua orang yang berwenang dan
bertanggung jawab terhadap anak didik, baik secara individual ataupun
klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah.10

9
Drs. Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung,1987) h. 12
a. Mata pelajaran fiqih

Mata pelajaran fiqih adalah salah satu mata pelajaran pendidikan

agama Islam yang merupakan peningkatan dari fikih yang telah dipelajari

oleh peserta didik di madrasah ibtidaiyah/SD. Peningkatan tersebut

dilakukan dengan cara mempelajari,memperdalam serta membiasakan tata

cara beribadah dan bermuamalah dalam kajian fikih,yang dilandasi oleh

dalil-dalil yang benar serta menggali hikmah dibalik perntah menjalan

kanya sehingga menjadi muslim yang selalu taat menjalankan syareat

Islam secara kaaffah{sempurna}.11. sealin itu juga, mata pelajaran fiqih

adalah salah satu bagian dari mata pelajaran pendidikan agama islam yang

membahas ajaran agama Islam dari segi syariat Islam tentang cara-cara

manusia melaksanakan ibadah kepada Allah swt dan mengatur kehidupan

sesama manusia serta alam sekitarnya.12

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru adalah semua

orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan

membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah

maupun di luar sekolah. Sedangkan fiqih adalah salah satu mata pelajaran

10
Drs.Syaiful bahri djamarah, Guru dan anak didik dalam interaksi edukatif (aneka

cipta, 2000 ) h 33

11
Kementerian agama,model silabus dan rencana pelaksaan pembelajaran ( RPP ),

mata pelajaran fikih, derektorat jenderal pendidikan agama islam,2010. H.v


12
Departermen agama RI, kurikulum pendidikan dasar berciri khas agama islam,

( derektorat jenderal pembinaan kelembagaan agama islam departemen agama RI. 1996)

Cet.kedua.h.97
agama islam yang membahas tentang sari’at islam agar manusia dapat

melaksakan tata cara ibadah kepada alloh SWT, dan mengatur kehidupan

manusia serta alam sekitarnya

b. Syarat dan Jabatan Guru fiqih

Menjadi guru menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat dan kawan-kawan


(1992:41) tidak sembarangan, tetapi harus memenuhi beberapa persyaratan
sebagai berikut:

a. Taqwa kepada Allah SWT.


b. Berilmu
c. Sehat Jasmani
d. Berkelakuan Baik13

Di Indonesia untuk menjadi guru diatur dengan bebrapa persyaratan, yakni

berizasah, professional, sehat jasmani dan rohani, takwa kepada tuhan

yang maha Esa dan kepribadian yang luhur, bertanggung jawab, dan

berjiwa nasional.14 Secara sederhana pekerjaan yang bersifat profesional

adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang secara

khusus disiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh

mereka yang karena tidak dapat atau tidak memperoleh pekerjaan

lainnya.15

Guru sebagai salah satu pekerjaan profesional tidak serta merta dapat

begitu saja, tanpa ada perencanaan terlebih dahulu, seperti harus melalui

13
Ibid.
14
Ibid.h.34
15
Drs. Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung,1987) h. 13
suatu pendidikan yang khusus untuk mencetak para guru yang mumpuni

dalam bidangnya. Selain sebagai suatu pekerjaan yang profesional, guru

juga berfungsi sebagai pemimpin, (dikalangan anak didik dan masyarakat

sekitarnya), sebagai pendidik dan pembimbing, bagi anak didik yang

belum dewasa. Guru juga sebagai pembaharu, penghubung antara ilmu

yang ia miliki dengan anak didiknya, dan penyuluh dalam membantu anak

untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajar

mengajar.16

B. Pengertian Kualitas Shalat Berjamaah

1. Kualitas

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata kualitas mempunyai arti

baik atau buruk (suatu benda) keadaan suatu benda. 17 Berdasarkan kata di

atas maka kualitas shalat berjamaah siswa dalam penelitian adalah baik

atau buruknya keadaan shalat jamaah siswa.

2. Shalat

Shalat secara bahasa berarti doa yang dipersembahkan untuk

mengagungkan Allah SWT. Sementara pengertian shalat menurut istilah

syari’at adalah kumpulan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu

yang diawali dengan takbirotul al-ihram dan diakhiri dengan salam.18

16
Prof.H.Muzayyin arifin,M.Ed.Kapita selekta pendidikan islam,(PT.Bumi

aksara,2009 ) H.119
17
W.J.S. Purwadarminta, Ibid, Hlm. 621
18
Jefri Noer, Pembinaan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Bermoral Melalui

Shalat Yang Benar (Jakarta : Kencana, 2006) Hlm.137


Shalat adalah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu

yang dimulai dengan membaca takbir dan diakhiri dengan mengucapkan

salam.19

Dalam bahasa Arab perkataan shalat digunakan untuk beberapa

arti. Di antaranya digunakan untuk arti doa, seperti dalam firman Allah

SWT yang terdapat dalam Al Qur’an surat (9) At Taubah, ayat 103 :

digunakan untuk arti rahmat dan untuk arti mohon ampunan seperti dalam

firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat (33) Al Ahzab, ayat 43 dan 56.

Dalam istilah ilmu fiqih, shalat adalah satu macam atau bentuk ibadah

yang diwujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan tertentu disertai

dengan ucapan-ucapan tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu pula.20

Menurut A Hasan (1999), Bigha (1984) Muhammad Bin Qosim Asy-

Syafi’i(1982) shalat menurut bahasa Arab berarti berdoa ditambahkan oleh

Ash Shidiq(1983) bahwa perkataan shalat dalam bahasa Arab berarti

berdoa memohon kebajikan dan pujian, sedangkan secara hakikat

mengandung pengertian terhadap hati (jiwa) kepada Allah SWT dan

mendatangkan takut kepadanya, serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa

keagungan, kebesaranNya dan kesempurnaan kekuasaanNya.

Secara dimensi, shalat adalah beberapa ucapan atau rangkaian ucapan dan

perbuatan (gerakan) yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan

19
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunah, (Jakarta : Pena, 2006) Hlm. 125

20
Zakiyah Daradjat, Ilmu Fiqih (Yogyakarta : Dana Bakti wakaf, 1995) Hlm. 71
salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah SWT, dan menurut

syarat-syarat yang ditentukan oleh agama.21

Dari beberapa uraian di atas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa

shalat adalah suatu sistem ibadah yang terdiri dari beberapa perkataan dan

perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dan

disertai hati yang ikhlas serta sikap batin yang khusyuk.

Di pandang dari hukum Islam ibadah shalat ada dua macam yaitu ,

1. Shalat Wajib

Shalat wajib adalah shalat yang harus dikerjakan oleh setiap hamba

yang beragama Islam dan apabila ditinggalkan akan mendapat dosa. Shalat

wajib masih dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu shalat wajib ‘ain dan

shalat wajib kifayah.

a. Shalat Wajib ‘Ain

Shalat wajib ‘ain adalah shalat wajib yang harus dikerjakan oleh

setiap orang yang beragama Islam dan tidak bisa diwakilkan kepada

orang lain walaupun dalam keadaan bagaimanapun juga. Shalat wajib

‘ain ini berupa shalat wajib lima waktu yaitu shalat isya’, shalat shubuh,

shalat ashar, dan shalat maghrib serta shalat jum’at.

b. Shalat Wajib Kifayah

Shalat wajib kifayah adalah shalat wajib yang harus dikerjakan

oleh orang lain namun tidak mendapat dosa bagi yang meninggalkannya
21
Sentot Haryanto, Psikologi shalat (Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2002) Hlm. 59-60
asalkan salah satu atau sebagian dari umat Islam ada yang mengerjakan.

Shalat kifayah ini berupa shalat jenazah.

2. Shalat Sunat

Shalat sunat adalah shalat yang tidak wajib dikerjakan oleh umat

Islam namun bagi yang mengerjakan akan mendapat pahala dan yang

meninggalkan tidak mendapat dosa. Yang termasuk shalat sunat yaitu shalat

rowatib, shalat fajar,shalat istisqo’, shalat ied, shalat gerhana, serta shalat

hajat.

C. Dasar Hukum Shalat

Allah SWT menjelaskan bahwa shalat adalah sebuah kewajiban. Di dalam

firmanNya mengatakan “sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang dilakukan

atas orang-orang yang beriman”.(QS. Al Nisa’ : 103).

Maksud ayat tersebut di atas adalah bahwasannya shalat merupakan


sebuah kewajiban yang dibatasi oleh waktu-waktu tertentu, yang tidak boleh
terlambat mengerjakannya. Selanjutnya Allah SWT memerintahkan hambaNya
untuk memelihara shalat-shalat fardhu. Allah SWT berfirman “ perihalalah shalat
(mu), dan perihalalah shalat wustho (pertengahan). Berdirilah untuk Allah SWT
(dalam shalatmu) dengan khusyuk’ (QS.Al Baqarah : 238). Allah SWT akan
memberi rahmat kepada manusia yang konsisten mendirikan shalat. Allah SWT
berfirman : “dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rosul supaya
kamu diberi rahmat. (QS.An Nur : 56).22
Shalat adalah kewajiban dari Allah SWT kepada setiap orang muslim.
Rosulullah SAW menjadikan shalat kaidah kedua di antara kelima kaidah islam,23

22
Hilmi al-Khuldi, Menyikap Rahasia Gerakan-Gerakan Shalat ( Yogyakarta : Dive

press, 2007) Hlm. 28-29


23
Abu Bakr jabir al-Jazairi, Ensiklopedi Muslim (Jakarta : Darul Falah, 2007) Hlm.

298
beliau bersabda :

‫حد ثنا عبيد ا لله بن مسى اخبرنا حنظلة بن ْابى سفيان عن عكرمة بن خلد عن ابن‬

‫صلى الله عليه وسلم – (( بني االسال م‬-‫ قال قال رسول الله‬-‫ رضى الله عنهما‬-‫عمر‬

, ‫ وْايتاء الزكاة‬,‫ واقام الصال ة‬, ‫على خمس شهادة ْان الْاله اال الله وان رسول الله‬

)) ‫ وصوم رمضان‬, ‫والحج‬

Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibn Musa berkata telah

mengabarkan kepada kami khamdzalah Ibn Abi Sufyan dari Ikrimah Ibn Khalid

dari Ibn Umar r.a berkata : Rosulullah bersabda “ islam dibangun atas lima

(kaidah), kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang baerhak disembah kecuali Allah

dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat,membayar zakat,

haji ke Baitullah dan puasa dibulan ramadhan. (Diriwayatkan al-Bukhari).24

Dasar yuridis Negara Republik Indonesia dalam bab XI, pasal 29 ayat 2 :

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya

masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

Dengan melihat dalil-dalil di atas, yang sangat jelas dihadapkan pada

manusia adalah supaya kita jangan meninggalkan shalat, karena shalat merupakan

kewajiban yang pertama diperintahkan dan juga akhir dari wasiat rosululloah

SAW.

24
Muhammad ibn Ismail Ibn Ibrahim ibn al-Mugjirah al-Bukhari. Sahih al-Bukhari :

Bab Tentang Doa dan Iman, Juz I, cet.III (Beirut: Dar Inb Kasir al-Yamamah, 1987) no.

Hadis 8, Hlm. 19
Karena shalat merupakan perintah, sudah barang tentu harus ada

hukumannya atau ancaman bagi yang tidak melaksanakannya, ancaman itu antara

lain diterangkan dalam Al-Qur’an :

٤ ‫ل ِّل ۡلُمَصِّليَن‬ٞ ‫َفَو ۡي‬

Maka kecelakaan bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai

dari sholatnya.(QS. Al.Maa’un:4-5)

٤٣ ‫ َق اُلوْا َل ۡم َن ُك ِمَن ٱ ۡلُمَص ِّليَن‬٤٢ ‫َما َس َلَكُكۡم ِفي َس َقَر‬

٤٥ ‫ َوُكَّنا َنُخوُض َمَع ٱ ۡلَخٓاِئِضيَن‬٤٤ ‫َوَل ۡم َنُك ُن ۡطِعُم ٱ ۡلِم ۡسِكيَن‬

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"

Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan


shalat. ( QS. Al-Muddatsir: 42-45 )

Rosululah SAW bersabda :

‫حد ثنا الحسين بن‬-‫ يعنى ابن شقيق‬-‫حد ثنا عبد الله حد ثنى ْابى حد ثنا علىبن الحسن‬

-‫واقد حد ثنا عبد الله بن بريدة عن ابيه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم‬

‫يقول ((العهد الدى بيننا وبينهم الصالة فمن تركها فقد كفر‬

Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada ku

bapak ku, telah menceritakan kepada kami Ali ibn al-Husain yakni Ibn Syaqiq

telah menceritakan kepada kami al-Husain Ibn Wafiq telah menceritakan kepada

kami Abdulluah Ibn Buraidah dari bapaknya berkata : “ pertalian kami

(Rosulullah dengan mereka (orang islam) ialah shalat . Barang siapa


meninggalkan shalat (sengaja) sesungguhnya ia kafir. (HR.Aamad,

Tirmidzi,Nasai Ibnu Majah Uraidah)25

Hadis ini seolah-olah memberi sangsi (pringatan) bahwa Rosullulah SAW

sangat benci dan tidak senang, kalau orang hanya mengakui Dia sebagai Nabinya,

karena tidak tidak mengerjakan shalat.26

Bagi orang-orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan disertai

dengan pengingkaran kewajibannya, sementara dia hidup dililngkungan kaum

muslimin yang banyak di dirikan masjid dan dikumandangkan adzan, banyak

dikunjungi orang-orang baik anak-anak ataupun dewasa, maka kaum muslimin

sepakat bahwa orang yang seperti itu adalah kafir.

Karena tidak ada alasan sedikitpun baginya untuk tidak mengetahui akan

kewajiban shalat. Mengetahui tentang shalat baginya adalah sebuah keniscayaan

dan merupakan kewajiban. Maka pengingkaran terhadap adanya kewajiban shalat

lima waktu sehari semalam, adalah merupakan dusta terhadap Allah dan kitab-

Nya. Sebagaimana dia telah keluar dari ijma’ kaum muslimin, ia juga melecehkan

dan menghina kaum muslimin. Ia telah dianggap murtad dan tiada balasan yang

pantas bagi orang seperti ini kecuali dibunuh sebagai orang kafir, tidak

25
Abu Abdullah Ahmad ibn Muhammad Ibn Hambal ibn Hilal ibn Asad al-Syaibani,

Musnad Ahmad : Bab buraizah, juz 5, cet I (Beirut: Alam al- Kutubi, 1998)no.Hadis.

23639,Hlm. 144
26
M.Noer Mardawam, Shalat dan Puasa (Yogyakarta : Sumbangsih Offset, 1983)

Hlm.59-60
dimandikan,tidak dishalatkan, dan tidak pula dikuburkan di pemakaman kaum

muslimin.

D. Berjama’ah dan Dasar Hukumnya

Pelaksanaan shalat dapat dilakukan dengan dua cara, sendiri (fardiyah) dan

secara jama’ah. Apabila dua orng shalat bersama-sama dan salah seorang di antara

mereka mengikuti yang lain, keduanya dinamakan shalat berjama’ah. Orang yang

diikuti (yang di depan ) dinamakan imam, sedangkan yang mengikuti di belakang

dinamakan makmum.

Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat berjamaah itu adalah fardhu

‘ain(wajib ‘ain), sebagian berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardhu kifayah,

dan sebagian lagi berpendapat sunat muakkad (sunat istimewa). Menurut kaidah

persesuaian beberapa dalil dalam masalah ini, seperti yang telah disebutkan di

atas, pengarang Nainul Autar berkata, “ Pendapat yang seadil-adilnya dan lebih

dekat kepada yang betul ialah shalat berjamaah itu sunat muakkad”.

E. Memperbaiki Kualitas Shalat Berjamaah

Agama Islam sebagai agama terakhir, membawa ajaran yang lengkap dan

sempurna sesuai dengan kebutuhan dan tuntunan manusia dalam

perkembangannya. Dibidang ibadah (pengbdian dan hubungan manusia dengan

TuhanNya) telah ditentukan secara terperinci dan pasti, bersifat statis dan mutlak,

yang disampaikan secara mutawatir dari generasi kegenerasi. Jadi dalam

pembicaraan ketentuan dalam pelaksanaan shalat tidak terlepas dari yang telah

ditentukan. Ketentuan-ketentuan shalat tersebut mencakup tentang bentuk dan


jiwa shalat. Bentuk shalat maksudnya tata cara bagaimana ketentuan yang

berhubungan dengan praktik shalat, sedangkan jiwa shalat maksudnya adalah hal-

hal yang berhubungan dengan jiwa dari praktik shalat.

1. Bentuk Shalat

Ketentuan syarat dan rukun shalat, waktu dan jumlah raka’at

merupakan bagian lahiriah yang harus dijalankan. Ketentuan-ketentuan

tersebut termasuk dari bentuk shalat. Bentuk lahir dari shalat diperlukan

sebagai sarana untuk menghayati dan mendapatkan hakikat jiwa shalat yang

sebenarnya, karena roh tidak mungkin hidup tanpa bentuk. Dengan demikian

jiwa shalat itu tidak berdiri sendiri, dan dalam mencapai tujuan shalat

hendaknya melalui dari bentuk shalat. Adapun ketentuan-ketentuan yang

berhubungan dengan bentuk shalat adalah :

a. Syarat-Syarat Shalat

Syarat menurut bahasa berarti tanda. Sedangkan menurut istilah syari’at

berarti sesuatu yang menjadi tumpuan wujudnya sesuatu yang lain, namun

tidak termasuk di dalamnya.

Syarat shalat ada dua macam, syarat wajib dan syarat sah. Yang

dimaksud syarat wajib shalat adalah sesuatu yang kepadanya bergantung

kewajiban shalat, seperti baligh dan berakal. Adapun syarat sahnya shalat

adalah sesuatu yang bergantung keabsahan shalat seperti bersuci.

1. Syarat-syarat Wajib Shalat


a. Islam. Shalat wajib bagi setiap orang muslim, bak laki-laki maupun

perempuan. Oleh karena itu, shalat tidak wajib atas orang kafir sebagai

tuntunan di dunia, karena shalat tidak sah dilakukan olehnya. Akan tetepi

dia akan mendapatkan siksa karena meninggalkannya, karena itu wajib

melakukannya dengan terlebih dahulu memeluk agama islam. Hal ini

dikarenakan menurut jumhur ulama’, orang kafir disuruh untuk melakukan

cabang-cabang syariat atau untuk memeluk Islam ketika ia kafir.

b. Baligh. Shalat tidak wajib bagi anak kecil, berdasarkan sabda Rasulullah

SAW :

‫حد ثنا ابن السرح ْاخبرنا ابن وهب ْاخبرنى جرير بن حازم عن سليمان نب‬

‫مهران عن ْابى ظبيان عن ابن عباس قال مر على علي بن ْابى طالب رضى‬

-‫ صلى الله عليه وسلم‬-‫ قال ْاوما تد كر ْان رسول الله‬.‫الله عنهبمعبى عثمان‬

‫قال (( رفع القلم عن ثال ثة عن المجنون المغلوب على عقله حتى يفيق‬

‫وعن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى يحتلم )) قال صد قت قال فخلى‬

‫عنها سبيلها‬

Telah menceritakan kepada kami Ibn Sarkh telah menggambarkan

kepada kami Ibn Wahib telah menggambarkan kepadaku Jabir Ibn Hazim

dari Sulaiman Ibn Mihran dari bapak ku Zhabyan dari Ibnu Abbas berkata

dari Usman Rasulullah SAW bersabda : “ Qalam diangkat dari tiga orang:

orang gila yang terkalahkan akalnya hingga ia sembuh, orang tidur hingga

terjaga dan anak kecil hingga ia mimpi (baligh).27

27
Sulaiman ibn al-Asy’as ibn syadad ibn Amru al-Azdi Abu Dawud al-Sijistani,

Sunan Abu Dawud : bab fi al-Majnun, juz 13 (Beirut : Dar al-Fikr,t.t) no.Hadis. 4403,hlm,57.
Akan tetapi anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan hendaknya

diperintahkan untuk melakukan shalat agar terlatih untuknya apabila telah

mencapai umur 7 tahun atau telah mumayyis, dan diberi pelajaran dengan

dipukul apabila tidak mau melakukan shalat setelah mencapai umur

sepuluh tahun. Rasululullah SAW bersabda :

‫حد ثنا مؤمل بن هشام – يعنى اليشكرى – حد ثنا اسماعيل عن سوار ْابى‬

‫ قال ْابو داود وهو سوار بن داود ْابو حمزة المزنيالصيرفي – عن عمر‬-‫حمز‬

– ‫وبن شعيب عن ْابيه عن جده قال قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم‬

‫((مروا ْاوالدكم بالصالة وهم ْابناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم ْابناء‬

)) ‫عسر سنين وفرقوا بينهم فى المضاجع‬

Telah menceritakan kepada kami Mu’amal Ibn Hisyam yakni al-


Yasykuri telah menceritakan kepada kami Ismail dari suwar Abi Hamzah
al-Muzani al-Soirofi dari Amru Ibn Syu’aib dari bapaknya dari Jaddah
berkata: Rasulullah SAW bersabda : perintahkanlah anak-anak mu untuk
shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukulah mereka apabila
meninggalkannya ketika berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah tidur
mereka masing-masing.28
c. Berakal29

2. Syarat-syarat sah shalat

a. Suci dari hadas besar dan hadas kecil

b. Sucu badan, pakaian dan tempat dari najis

c. Menutup aurot

d. Mengetahui masuknya waktu shalat

28
Sulaiman ibn al-Asy’as ibn Syadad ibn Amru al-Azdi abu Dawud al-Sijistani,

Ibid., no hadis. 4403, hlm. 57


29
Wahbah al- Zuhaili, Fiqih Shalat : Kajian Berbagai Mazhab ( Bandung : Pustaka

Media Utama , 2004 ) hlm. 78-82


e. Menghadap kiblat (ka’bah)30

b. Rukun-Rukun Shalat

Rukun adalah bagian yang menopang sesuatu dan sesuatu itu tak

akan ada tanpa adanya bagian tersebut. Rukun shalat tidak boleh

ditinggalkan, baik dengan sengaja maupun lupa. Apabila rukunnya

ditinggalkan shalatnya tidak sah.

Rukun-rukun tersebut antara lain:

1. Berdiri tegak bagi yang mampu


2. Takbirotul ikhram
3. Membaca fatehah pada setiap raka’at
4. Ruku’
5. I’tidal
6. Sujud di atas tujuh anggota badan
7. Bangkit dari sujud
8. Duduk di antara dua sujud
9. Tuma’ninah dalam setiap rukun shalat
10. Tasyahud akhir
11. Bershalawat kepada Nabi Muhammad
12. Tertib
13. Mengucapkan salam.31
Selain dari keempat belas rukun tersebut tidaklah wajib, tetapi

adalahsunah dan hai’ah(yakni amalan yang tingkatanya di bawah sunah-

sunah shalat) dalam sunah maupun rukun shalat.

c. Sunah-Sunah Shalat

Adapun sunah-sunah dalam shalat yang berupa perbuatan ada

empat, yaitu :

1. Mengangkat kedua tangan ketika takbirotul ikhrom.

30
Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam ( Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2008 ) hlm. 68-

70
31
Abdullah al- Thayyar, Ensiklopedi Shalat (Jakarta : Maghfirat Pustaka, 2007 ) hlm.

107-111
2. Mengangkat kedua tangan ketika turun untuk ruku’

3. Mengangkat kedua tangan ketika bangun untuk berdiri dari ruku’

4. Duduk untuk tasyahud (tahiyat) awal

Adapun sunah dalam shalat berupa bacaan adalah :

1. Doa istiftah
2. Ta’awwudz
3. Mengucap amin, hukumnya sunah mu’akkad
4. Membaca surat (sesudah al fatehah)
5. Takbirotul intiqal
6. Bacaan ketika rukuk, I’tidal, sujud serta duduk diantara dua sujud
7. Bacaan tasyahud awal
8. Shalawat untuk nabi pada tasyahud awal
9. Doa setelah tasyahud akhir
10. Salam yang kedua.32
Dalam bentuk shalat di samping mempunyai syarat dan rukun

yang harus ada, juga mempunyai beberapa perbuatan sunah untuk

melengkapi sunah-sunah yang terdapat dalam pelaksanaan shalat tidak

akan batal jika ditinggalkan.

Tentang pengaturan shalat berjamaah telah ditentukan oleh Allah

SWT. dalam Al Qur’an dan dijelaskan dalam hadist. Shalat berjamaah

mempunyai tenggang waktu yang telah diatur selama dua puluh empat

jam atau sehari semalam.

Pengaturan shalat berjamaah mengandung berbagai hikmah yang

luas, sejauh manusia menyelami, berfikir memahami dari pengaturan

waktu itu. Yang pasti setiap melakukan shalat, dituntut untuk

memperbaharui rasa taat agar dalam setiap kegiatan orang harus merasa

bahwa dia berada di samping Allah SWT


32
Imam Al- Ghajali, Menyikap Rahasia-Rahasia shalat ( Yogyakarta : Citra Media,

2007 ) hlm. 40-41


2. Jiwa Shalat

Bentuk atau rupa shalat tergambar dalam syarat, rukun, sunat dan

ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengannya, semua itu tampak

kongkrit dalam prakik shalat.

Sedangkan jiwa shalat hanya dapat dilihat segalanya ketika

menjalankan shalat. Bentuk dan jiwa shalat diumpamakan seperti jiwa

dan raga manusia. Manusia dengan jiwanya dapat merasakan,

mengetahui, berfikir, menemukan dan mengingat, demikian pulalah

dengan jiwa shalat. Orang yang bersangkutan dapat mengingat Allah

SWT dan dapat mencurahkan perhatianya kepada Allah SWT. Dapat

menghayati keagunganNya dan dapat menyampaikan pedoman sehingga

tercapai hubungan dengan Nya. Shalat yang demikian itu akan berfungsi

sebagaimana mestinya yaitu untuk mengingat Allah SWT.

a. Ikhlas Dalam Menjalankan Shalat

Dalam mengerjakan shalat, baik shalat wajib maupun shalat

sunah, harus dengan hati yang ikhlas dan kepasrahan yang total. Artinya

semua amalan shalatnya itu hanya diperuntukkan kepada Allah SWT,

tidak ada tujuan lain selain mengharap ridho, rahmat dan hidayahNya.

Shalat yang seperti inilah yang yang akan mengantarkan pada

keberuntungan.

Ihklas, pasrah dan total dalam makna ini oleh Sayyid Sabiq

ditegaskan, ikhla adalah apabila seseorang mengarahkan maksud dari

setiap ucapan, amalan, maupun jihadnya hanya tertuju Allah dan


mencari ridhoNya tanpa memandang perolehan harta, pangkat, sebutan

atau kemashuran. Selain itu tidak ada keterpaksaan, keculasan,

kemalasan dan sikap-sikap lain yang justru membawa kemahdhorotan.33

Para ahli tasawuf berkata bahwa ada 12.000 keutamaan shalat

yang Allah SWT tentukan melalui dua belas jalan untuk memperolehnya.

Dua belas jalan itu sangat penting untuk menyempurnakan shalat dan

bermanfaat untuk diri kita. Kedua belas jalan itu ialah : 1. Ilmu. Sabda

nabi SAW amal yang sedikit tapi dilakukan dengan ilmu lebih baik dari

pada amal yang banyak tanpa ilmu.2. Wudhu 3. Pakaian 4. Waktu 5.

Menghadap kiblat 6. Niat 7. Takbirotul ikhram 8. Berdiri 9. Membaca Al

Qur’an 10. Ruku’ 11. Sujud 12. Tahiyat. Dan kesmpurnaan dari itu

adalah ikhlas. Dari kedua belas jalan ini, setiap jalan memiliki tiga bagian

penting yaitu :

1. Ilmu

a. Mengetahui yang fardhu (rukun) dan yang sunat secara jelas

b. Mengetahui jumlah fardhu (rukun) dan sunah dalam wudhu dan shalat

c. Mengetahui cara syetan menggoda kita dalam shalat

2. Wudhu

a. Sebagaimana kita membersihkan anggota wudhu, yang paling utama

adalah membersihkan hati dari dengki dan hasad

b. Menjaga kebersihan diri kita dari perbuatan dosa

c. Jangan salah menggunakan air dan salah dalam berwudhu

3. Pakaian

33
Muhammad Makhdlori, Menyikap Mu’jizat Shalat Dhuha ( Yogyakarta : Diva

Press, 2008) hlm. 51


a. Diperoleh dengan cara yang halal

b. Suci dari najis

c. Sesuai dengan sunah Rasulullah SAW, yaitu tidak melebihi mata kaki

dan tidak menunjukkan kesombongan

4. Waktu

a. Mengetahui waktu yang tepat

b. Mengutahu suara adzan

c. Hati senantiasa memikirkan waktu shalat, jangan sampai terlewat tanpa

disadari

5. Menghadap kiblat

a. Secara dhahir badan menghadap kiblat

b. Hati menghadap Allah SWT, sebab dialah ka’bah bagi hati

c. Menghadap pemilik ka’bah sepenuh hati sebagaimana mestinya

6. Niat

a. Shalat apa yang akan dikerjakan

b. Berdiri dihadapan Allah melihat kita

c. Merasa bahwa Allah mengetahui keadaan hati kita

7. Takbiratul ikhram

a. Melafatkan takbir dengan shahih

b. Mengangkat tangan sampai ketelinga (sebagai isyarat bahwa kita

mengesampingkan apasaja selain Allah SWT kebelakang kita)

c. Memasukkan kebesaran Allah SWT kedalam hati kita, seiring dengan

ucapan takbir :Allahu akbar.

8. Qiyam atau Berdiri


a. Pandangan tertuju ketempat sujud

b. Betul-betul merasa sedang berdiri di hadapan Allah SWT.

c. Jangan memperdulikan yang lain. Peruuumpamaan orang

yang perhatian kesana kemari di dalam shalat adalah seperti

orang yang bersusah payah memohon kepada para penjaga

istana untuk dapat menghadap kepada raja. Namun, ketika ia

berada di hadapan raja dan raja memberikan perhatian

kepadanya, ia malah melihat kesana kemari. Bagaimana

mungkin raja akan memperhatikannya.

9. Qira’at

a. Membaca dengan tartil dan tajwi yang benar

b. Merenungkan maknanya

c. Berusaha mengamalkan apa yang telah dibaca

10. Ruku’

a. Meluruskan punggung ketika ruku’. Alim ulama berkata

bahwa tiga anggota badan, yaitu kepala, punggung dan

pinggang hendaknya lurus dan rata.

b. Jari-jari tangan kita buka dan memegang lutut dengan kokoh

c. Membaca tasbih dengan penuh rasa ta’zhim.

11. Sujud

a. Letak tangan sejajar dengan telinga

b. Menegakkan siku-siku tangan

c. Membaca tasbih dengan penuh rasa ta’dhim

12. Qa’adah atau duduk


a. Menegakkan telapak kaki kanan dan menduduki telapak kaki

kiri

b. Membaca doa tasyahud dengan meresapinya, karena di

dalamnya mengandung salam kepada nabi SAW dan terdapat

doa untuk saudara-saudara muslim dan para malaikat.

c. Ketika mengucapkan salam kekiri dan kekanan di niatkan

untuk seluruh kaum muslimin.34

b. Khusyuk Dalam Menjalankan Shalat

Khusyuk merupakan ruhnya ibadah shalat yang tanpanya

shalat hanya akan terlaksana tanpa makna. Sebab hal tersebut lebih

cenderung mengarah pada kwalitas ruhani dan tidak memiliki

parameter tersebut dalam mengukurnya.

Secara bahasa kata khusu’ tersebut dapat dilihat ebagai berasal

dari khasa’a-khusy-an atau iktasya’a dan takhasya’a yang secara

sederhana berarti memusatkan penglihatan pada bumi dengan

memejamkan mata atau meringankan suara ketika shalat. Namun,

direnungkan lebih dalam akan didapati bahwa khusyu’ lebih mengarah

pada pengertian tunduk dan takhasyu’ yang berarti menjadikan diri

menjadi khusyu’. Jiki pengertian ini yang dijadikan pedoman, maha

pencapaian derajat khusyu’ membutuhkan usaha dan perjungan bagi

siapa yang ingin memperolehnya.35

34
Maulana Muhammad Zakariyya al Kandahlawi Rah. A, Fadhilah Shalat

( Yogyakarta : Ash shaff, 2006) hlm. 168-169


35
Jefri Noer, Ibid, hlm. 138
Dari pengertian khusyu’ di atas dapat dambil suatu kesimpulan

bahwa khusyu’ adalah tunduk dan tawadhu’ menghadap kepada Allah

SWT dengan hati dan gerakan anggota yang tenang, dan pikiran yang

tertuju kepadaNya dalam menjalankan shalat.

3. Hikmah Shalat

Tidak ada satu pun kewajiban yang dibebankan pada manusia kecuali

di dalamnya terdapat kebaikan, hikmah atau manfaat bagi manusia itu

sendiri, meskipun kadang-kadang sebagian manusia tak mampu melihat

hikmah yang terkandung karena kurang diperhatikannya atau belum

dirasakannya karenanya adalah sangat wajar jika kita diwajibkan untuk

mensukuri segala yang diciptakan Allah di bumi, terlebih apabila yang

diberikan Allah tersebut datang dalam bentuk suatu kewajiban. Sebab,

sebagai yang didatangkan Allah kepada hambaNya atau sebagia sebuah

kewajiban yang secara langsung dijemput Nabi SAW. Pastilah shalat

tersebut mengandung berbagai manfaat bukan hanya dalam kehidupan

dunia melainkan juga untuk kepentingan masa depannya di akhirat.

Adapun hikmah dari shalat itu sendiri banyak dijelaskan Allah dalam Al-

Qur’an di antaranya :

1. Menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar seperti tersebut

dalam surat Al Ankabut ayat 45 :

‫َأ‬ ‫ُأ‬
‫ٱ ۡتُل َمٓا وِح َي ِإَل ۡيَك ِمَن ٱ ۡلِكَٰتِب َو ِقِم ٱلَّصَلٰو َۖة ِإَّن‬

‫ٱلَّصَلٰوَة َت ۡنَهٰى َعِن ٱ ۡلَف ۡحَش ٓاِء َوٱ ۡلُمنَكِۗر َوَلِذ ۡكُر ٱلَّلِه‬

٤٥ ‫َأ ۡكَب ُۗر َوٱلَّلُه َي ۡعَلُم َما َت ۡصَنُعوَن‬


Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al Kitab (Al

Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari

(perbutan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat

Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah

yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

2. Memperoleh ketenangan jiwa, sebagaimana firman Allah SWT dalam

surat Ar Ro’du ayat 28 :

‫َأ‬
‫ٱَّل ِذيَن َءاَمُن وْا َوَت ۡطَمِئُّن ُقُل وُبُهم ِب ِذ ۡكِر ٱلَّل ِۗه اَل ِب ِذ ۡكِر ٱلَّل ِه‬

٢٨ ‫َت ۡطَمِئُّن ٱ ۡلُقُلوُب‬

Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram

dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah lah

hati menjadi tenteram (tenang).36

4. Merancang Pelatihan Shalat

Dalam meningkatkan kualitas shalat jamaah siswa, sangat diperlukan

sebuah metode yang tepat dan efektif. Salah satu metode pelatihan shalat

tersebut seperti yang dicetuskan oleh M. Shadiq Mustika yaitu metode

pelatihan “SMART” . Dalam metode pelatihan shalat ada lima tahapan

yaitu :

1. Siagakan perilaku shalat

a. Evaluasi dan rencanakan shalat

b. Mempersiapkan tata ruang shalat

36
Amir Syarifudin, fiqih ; Garis-Garis Besar ( Jakarta Timur : Prenada Media,

2003 ) hlm. 23
c. Siapkan raga pelaku shalat

d. Perhatikan tata waktu shalat

2. Mantapkan wujud shalat

a. Teguhkan niat shalat

b. Ekspresikan fisik dalam shalat

c. Tata vocal dalam shalat

d. Wujudkan shalat walau singkat

3. Arungi makna Shalat

a. Sistematiskan pikiran anda dalam shalat

b. Simak bacaan shalat secerdas-cerdasnya

c. Kreatifkan pikiran dalam shalat

d. Tanamkan makna shalat sekukuh-kukuhnya

4. Rengkuh ruh shalat

a. Hidupkan perasaan dalam shalat

b. Raih kejayaan spiritual- eksistensional

c. Raih kejayaan personal

d. Rengkuh kejayaan public

5. Tebarkan hikmah shalat

Tunjukkan shalat seseorang itu bermakna.37

5. Merancang Program Shalat

Merancang program shalat di sini hamper sama ketika membuat


program belajar menghadapi ujian nasional sekolah. Dalam menyusun
shalat “SMART” ada empat unsure yang dipertimbangkan, 1. Kebutuhan
diri. 2. Tujuan shalat sesuai kebutuhan 3. Jenis kecerdasan hendak

37
M. Shadiq Mustika, Pelatihan Shalat SMART Untuk Kecerdasan dan Kesuksesan

Hidup ( Jakarta : Hikmah, 2007 ) hlm. 25-35


dilejitkan 4. Langkah awal yang harus dilakukan. Secara garis besarnya,
sudut pandang “shalat SMART” ini meliputi lima bagian :

1. S-Siagakan pelaku shalat


2. M-Mantapkan wujud shalat
3. A- Arungi makna shalat
4. R- Rengkuh ruh shalat
5. T- Tebarkan hikmah shalat38

Merancang shalat SMART bisa membuat kita lebih rajin bershalat dengan

penuh semangat. Dalam menyusun program shalat, disesuaikan dengan tantangan

kehidapan masing-masing manusia (kehidupan manusia dinamis).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Pada dasarnya dalam bidang penelitian itu dikenal adanya dua jenis

penelitian, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dengan

adanya kedua jenis penelitian tersebut diatas, menunjukkkan bahwa

penelitian yang dilakukan dalam karya ini tergolong penelitian kualitatif,

karena jenis penelitian yang tidak mengadakan perhitungan, melainkan

digambarkan dengan kata-kata atau kalimat (deskriptif) terhadap data yang

diperoleh guna mendapatkan suatu kesimpulan. Maka dari itu yang ingin

38
Ibid., 384
diketahui penulis dalam penelitian ini adalah Upaya Guru Fiqih Dalam

Meningkatan Kualitas Sholat Berjama’ah.

2. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, instrumen utamanya adalah peneliti

sendiri, namun selanjutnya setelah fokus penelitian menjadi jelas, maka

kemungkinan akan dikembangkan instrumen penelitian sederhana, yang

diharapkan dapat melengkapi data yang telah ditemukan melalui observasi

dan wawancara. Peneliti akan terjun ke lapangan sendiri melakukan

pengumpulan data, analisis dan membuat kesimpulan.39

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama

dalam penelitian, karena tujuan utama penelitian adalah mendapatkan data.

Dalam hal ini, peneliti menggunakan teknik-teknik sebagai berikut :Teknik

Pengamatan (Observasi)

Nasution (1988) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua

ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu

fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. 40 Dari

observasi inilah peneliti dapat memperoleh data. Data-data yang dimaksud

adalah yang berkaitan dengan Upaya Guru Fiqih Dalam Meningkatan Kualitas

Sholat Berjama’ah.

39
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan

R&B, (Bandung : Alfabeta, 2008), Cet. ke-5, h. 307


40
Ibid, h. 310
a. Teknik Wawancara

Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar

informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan

makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik

pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan

untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila

peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam.41

b. Teknik Dokumentasi

Suharsimi Arikunto mengatakan, “teknik dokumentasi adalah

mencari data-data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan,

transkip, buku-buku, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda dan

sebagainya”.42

Dengan demikian teknik ini dipakai untuk memperoleh data

tentang Upaya Guru Fiqih Dalam Meningkatan Kualitas Sholat Berjama’ah

siswa Mts Al Muhajirin Sumber Alam, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten

Lampung Barat Tahun Pelajaran 2024/2025.

c. Teknik Analisis Data

Dalam hal analisis data kualitatif, Bogdan menyatakan bahwa,

“analisis data adalah proses mencari atau menyusun secara sistematis data

yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan

41
Ibid, h. 317

42
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta :

Rineka Cipta, 2006), Cet. ke-13, h. 231


lain, sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat di

informasikan kepada orang lain”.43

Analisis data dalam suatu penelitian merupakan bagian yang sangat

penting karena karena dengan anlisis ini data yang ada akan Nampak

manfaatnya terutama dalam memecahkan masalah penelitian untuk

mencapai tujuan akhir penelitian.

43
Sugiono, Op.Cit., h. 334

Anda mungkin juga menyukai