0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan3 halaman

Dokumen Tanpa Judul

Diunggah oleh

sifaaama
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan3 halaman

Dokumen Tanpa Judul

Diunggah oleh

sifaaama
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Langkah Kecil Menuju Langit

Namaku Sifa, anak pertama dari dua bersaudara. Aku lahir dan besar di sebuah desa kecil
yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan hutan pinus yang menjulang tinggi. Setiap pagi,
aku biasa mendengar suara ayam berkokok dan aliran sungai kecil di belakang rumah. Desa
ini mungkin jauh dari gemerlap kota, tetapi bagiku, desa ini adalah surga kecil yang penuh
kehangatan dan cinta.

Ayahku adalah seorang pedagang sekaligus petani. Pagi hari, ia berangkat ke sawah untuk
mengurus padi yang sedang tumbuh, dan siang hari ia membawa hasil panen atau barang
dagangan lain ke pasar. Sementara itu, Ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang sabar.
Ibu mengurus segalanya dengan cekatan, dari memasak, mencuci, hingga menjaga adikku
yang masih kecil. Hidup kami sederhana, tetapi penuh kebahagiaan.

Meski begitu, aku mulai menyadari bahwa hidup ini tidak hanya tentang bertahan. Ada
mimpi yang ingin kuraih, mimpi yang terus tumbuh di hatiku: aku ingin mengubah nasib
keluargaku. Aku ingin melihat Ayah dan Ibu bisa beristirahat, tidak lagi harus memeras
keringat setiap hari demi mencukupi kebutuhan. Sejak kecil, aku percaya bahwa pendidikan
adalah kunci untuk mencapai mimpi itu.

Namun, percaya saja tidak cukup. Realita hidup di desa sering kali memaksa kami untuk
mengesampingkan mimpi demi kebutuhan yang lebih mendesak. Setelah lulus SMP, aku
mulai membantu Ayah di sawah sepulang sekolah. Aku sering menggendong adikku di
pinggir ladang sambil melihat Ayah mencangkul tanah dengan wajah penuh peluh. Wajah itu
tidak pernah menunjukkan lelah, tetapi aku tahu, di balik senyumnya, ada perjuangan yang
sangat berat.

Ketika aku lulus SMA, tantangan besar mulai menghadang. Aku ingin melanjutkan kuliah,
tetapi aku tahu betul kondisi keuangan keluarga. Penghasilan Ayah hanya cukup untuk
kebutuhan harian, dan menambah biaya kuliah akan menjadi beban besar bagi mereka. Aku
sempat ragu, bahkan hampir menyerah. Namun, Ayah memberiku dorongan yang tidak
pernah kulupakan.

Suatu sore, kami duduk bersama di depan rumah, menikmati semilir angin yang membawa
aroma padi yang mulai menguning. Setelah beberapa saat dalam diam, Ayah berkata,
“Kalau kau ingin kuliah, Sifa, jangan pikirkan uang. Ayah akan cari cara. Tapi kau harus janji,
kau akan sungguh-sungguh.”

Kata-kata Ayah itu membakar semangatku. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak
akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Malam itu juga, aku mulai mencari informasi tentang
universitas yang menyediakan beasiswa penuh. Aku mendaftar ke salah satu universitas
negeri di kota besar, ratusan kilometer dari desaku. Dengan nilai rapor yang baik dan
persiapan seleksi yang matang, aku akhirnya diterima. Hari itu adalah salah satu momen
paling bahagia dalam hidupku.

Namun, kebahagiaan itu tidak datang tanpa rasa berat di hati. Aku sadar, untuk melangkah
maju, aku harus meninggalkan rumah, keluarga, dan desaku yang penuh kenangan. Ketika
hari keberangkatan tiba, aku mengemasi ransel dan koper kecilku. Sebelum pergi, aku
berpamitan kepada Ayah, Ibu, dan adikku. Ibu memelukku erat sambil menangis. “Jaga diri
baik-baik, Nak. Jangan lupa makan,” katanya dengan suara bergetar. Ayah hanya
tersenyum, tetapi aku tahu ia menahan air mata.
Perjalanan ke kota besar terasa panjang. Saat tiba, aku merasa seperti butiran kecil di
tengah hiruk-pikuk kehidupan kota. Gedung-gedung tinggi dan jalanan yang penuh
kendaraan terasa asing bagiku. Asrama tempatku tinggal sangat sederhana. Aku berbagi
kamar kecil dengan seorang teman yang juga berasal dari keluarga sederhana. Meski
begitu, aku mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru.

Hari-hariku di universitas penuh tantangan. Jadwal kuliah yang padat, tugas-tugas yang
menumpuk, dan tekanan untuk mempertahankan beasiswa membuatku sering merasa lelah.
Namun, setiap kali rasa ingin menyerah datang, aku mengingat wajah Ayah dan Ibu. Aku
membayangkan mereka yang sedang bekerja keras di desa, dan itu memberiku kekuatan
untuk terus melangkah.

Selain kuliah, aku mulai berjualan online untuk menambah uang saku. Aku menjual pakaian
dan aksesoris sederhana di sebuah platform olshop. Awalnya, sulit membagi waktu antara
kuliah, belajar, dan berjualan. Tapi perlahan aku mulai terbiasa. Setiap malam, aku duduk di
balkon kecil asrama, menatap langit dan membayangkan bintang-bintang yang sama
sedang dilihat Ayah dan Ibu di desa. Itu menjadi pengingat bahwa aku tidak sendirian dalam
perjuangan ini.

Musim demi musim berganti, dan empat tahun berlalu seperti mimpi. Hari kelulusanku tiba.
Aku mengenakan toga dengan penuh rasa syukur. Ketika namaku dipanggil untuk menerima
ijazah, aku melangkah ke panggung dengan air mata yang tak tertahankan. Aku berhasil
menyelesaikan kuliah dengan predikat cum laude. Saat menerima ijazah, aku hanya bisa
mengingat semua perjuangan dan pengorbanan yang telah kulalui, terutama pengorbanan
Ayah dan Ibu.

Setelah upacara selesai, aku langsung menelepon Ayah dan Ibu. Dengan suara gemetar,
aku berkata, “Ayah, Ibu, Sifa sudah lulus. Ini untuk kalian.” Dari seberang telepon, aku
mendengar tangis haru Ibu dan suara Ayah yang berusaha tegar. “Ayah bangga padamu,
Nak. Pulanglah kalau sempat, kita rayakan bersama,” katanya.

Kini, aku bekerja di sebuah perusahaan besar di kota. Hidupku telah berubah, tetapi aku
tidak pernah melupakan akar dan tujuan perjuanganku. Setiap bulan, aku mengirim
sebagian gajiku untuk membantu keluarga di desa. Aku juga berusaha menyisihkan waktu
untuk pulang dan menghabiskan waktu bersama mereka. Melihat senyum bangga di wajah
Ayah dan Ibu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku.

Langit malam di desa tetap menjadi favoritku. Setiap kali aku menatapnya, aku merasa
dekat dengan Ayah dan Ibu, seolah bintang-bintang itu mengingatkanku pada perjalanan
panjang yang telah kulalui. Kini, aku yakin bahwa mimpi bukan hanya milikku, tetapi juga
milik mereka yang percaya padaku sejak awal.

Aku belajar bahwa perjuangan tidak pernah mudah, tetapi langkah kecil yang kita ambil
setiap hari bisa membawa kita menuju impian yang lebih besar. Bagi mereka yang percaya
dan berjuang, langit adalah batasnya.

Kini, aku bekerja di perusahaan besar di kota. Setiap bulan, aku mengirimkan sebagian
gajiku ke rumah, memastikan Ayah dan Ibu tidak lagi harus memikul beban berat. Langit di
kota tetap menjadi pengingat bagiku bahwa perjuangan ini belum selesai. Aku percaya,
setiap langkah kecil yang kuambil akan membawaku lebih dekat ke mimpi besar. Aku tidak
hanya ingin mengubah nasib keluargaku, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mereka yang
bermimpi, sama seperti aku dahulu.

Setelah aku bekerja aku tidak menyerah dan berhenti begitu saja, aku mempunyai mimpi
untuk bisa mendapatkan beasiswa dan bisa melanjutkan pendidikan s2 maupun profesi.
tidak ada batasan untuk mengejar ilmu dan pendidikan, perempuan juga berhak mempunyai
pendidikan yang tinggi.

Do not ever look for your past if you can’t learn from it, and do not worry
of your future if it only holding you back from moving forward.

Change your life today. Don’t gamble on the future, act now, without
delay.” (Simone de Beauvoir

The future depends on what we do in the present.

Anda mungkin juga menyukai