0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan1 halaman

Rahayu: Perjuangan Anak Desa Sukses

Rahayu, seorang gadis 17 tahun dari desa Harapan Jaya, berjuang keras untuk meraih impiannya meskipun menghadapi kesulitan finansial. Ia bertekad untuk melanjutkan pendidikan dan menjadi sukses, didukung oleh keluarganya yang bekerja keras. Ketika terancam tidak bisa mengikuti ujian karena belum melunasi SPP, ayahnya berlari membawakan uang untuk memastikan Rahayu dapat mengikuti ujian dan mengejar impiannya.

Diunggah oleh

apriliaridho29
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan1 halaman

Rahayu: Perjuangan Anak Desa Sukses

Rahayu, seorang gadis 17 tahun dari desa Harapan Jaya, berjuang keras untuk meraih impiannya meskipun menghadapi kesulitan finansial. Ia bertekad untuk melanjutkan pendidikan dan menjadi sukses, didukung oleh keluarganya yang bekerja keras. Ketika terancam tidak bisa mengikuti ujian karena belum melunasi SPP, ayahnya berlari membawakan uang untuk memastikan Rahayu dapat mengikuti ujian dan mengejar impiannya.

Diunggah oleh

apriliaridho29
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

JUDUL

IMPIAN BESAR MENJADI SUKSES ANAK DESA

Di sebuah desa kecil benama Harapan Jaya, hiduplah seorang gadis bernama rahayu. Ia
adalah seorang anak berusia 17 tahun yang memiliki tekad kut dan semangat belajar yang
luar biasa demi menggapai impiannya. Setiap hari, Rahayu menempu jarak enam kilometer
dengan sepeda tua pemberian kakeknya untuk pergi kesekolah.
Rahayu tinggal bersama ayah,ibu, dan kakek-nya. Ayahnya bekerja serabutan, sementara ibu
nya menjadi asisten rumah tangga. Sepulang sekolah, Rahayu menghabiskan waktunya untuk
belajar, ditemani oleh sang kakek yang selalu membimbing dan memotivasinya. Kakek sering
berpesan “Rahayu, jangan pernah patah semangat untuk belajar. Ayah dan ibumu
menggantungkan harapan pada kamu, satu-satunya anak mereka.”
Setiap petang, Rahayu menunggu didepan pintu menyambut kepulangan ayah dan ibunya
yang seharian bekerja keras demi sesuap nasi serta untuk menyekolahkan anak
kesayangannya. Makan malam mereka yang sederhana, sering kali hanya makanan sisa yang
dibawakan ibunya dari rumah majikan. Namun, Rahayu tak pernah mengeluh. Ia hanya
bersyukur bisa makan makanan yang layak dan berkata, “Ayah, Ibu, suatu saat nanti kalau
Rahayu udah sukses, kita tidak akan makan makanan sisa lagi.”
Selepas makan, Rahayu pergi ke kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolah dengan penuh
semangat. Sebelum tidur, ia berbagi mimpinya dengan kedua orang tuanya, “Setelah lulus
nanti, Rahayu ingin sekali kuliah agar bisa mengapai impian Rahayu yang ingin menjadi anak
yang sukses.” Mendengar itu, ayah dan ibu hanya tersenyum, lalu berkata, “Nak, kami akan
berusaha sekuat tenaga agar kamu bisa kuliah.”
Hari ujian kelulusan pun tiba. Rahayu datang ke sekolah dengan penuh semangat dan sudah
mempersiapkan diri untuk ujian kali ini, tetapi sebelum masuk kelas, ia tiba-tiba dicegat oleh
guru BK. Dengan wajah serius, guru itu membawanya ke ruangannya.
Rahayu merasa gelisah. Hatinya berdegup kencang saat mendengar guru BK berkata, “Maaf,
Rahayu kamu tidak dapat mengikuti ujian karena belum melunasi SPP. Syarat mengikuti
ujian adalah pembayaran SPP yang lunas” Ujar guru BK.
Mendengar itu, air mata pun jatuh membasahi pipinya. Hatinya terasa hampa, pikirannya
kacau. Ia merasa impian yang selama ini ia perjuangkan harus kandas hanya karena biaya
sekolah. Berbagai cara ia coba pikirkan, tetapi tak satu pun membuahkan hasil. Dengan
langkah gontai dan hati yang hancur, ia berjalan pulang.
Namun, di tengah jalan pulang, ia melihat ayahnya berlari ke arahnya sambil membawa uang
ditangannya. Nafas ayahnya tersengal-sengal, tetapi mata penuh harapan.
“Yah, dari mana Ayah dapat uang ini?” tanyanya dengan bingung.
Ayahnya tersenyum dan berkata, “itu tidak penting, Nak. Sekarang cepat kembali kesekolah
dan ikuti ujian!”

Anda mungkin juga menyukai