Cerita Inspiratif Perjuangan Pendidikan
Cerita Inspiratif Perjuangan Pendidikan
Danu adalah anak dari orang yang kurang mampu, Ibunya meninggal dunia saat
Danu berumur 2 tahun. Sepeninggal Ibunya, keluarganya menjadi berantakan, ayah
Danu mempunyai banyak hutang kepada rentenir untuk menghidupi keluarganya,
uang hasil kerja sebagai penyapu jalanan saja tidak cukup untuk menghidupi
keluarganya.
Danu duduk di kelas 6 SD, walaupun dia anak dari orang yang kurang mampu tapi
ia termasuk siswa yang cukup pandai. Setelah pulang sekolah Danu selalu
menjualkan koran dari toko koran langganannya, setiap hari Danu mendapat uang
sebesar Rp 25.000 dari hasil menjualkan koran. Uang itu ia pergunakan untuk
membelikan obat untuk adiknya yang terbaring lemah di tempat tidur.
Suatu ketika, Danu diberi sebuah surat dari Pak Dadang, guru Danu, Surat itu ia
berikan kepada Ayahnya, ternyata isi surat tersebut adalah Danu diminta untuk
membayar uang sekolah yang sudah menunggak selama 4 bulan. Danu berfikir
apakah ia bisa melanjutkan sekolahnya atau tidak.
anu sudah 5 hari tidak masuk sekolah, ia berusaha mencari uang bersama ayahnya
untuk membiayai sekolahnya. Pada sore hari Pak Imam Guru sekolahnya Danu
datang ke rumahnya Danu, Pak Imam bertanya kepada Danu kenapa sudah tidak
masuk sekolah selama 5 hari, Danu berterus terang bahwa ia mencari uang bersama
Ayahnya untuk membiayai sekolahnya. Cukup lama mereka berbincang-bincang,
tidak lama kemudian Pak Imam berkata kepada Danu untuk terus sekolah, dan Pak
Imam akan membiayai Sekolah (SD) Danu.
Esok harinya Danu masuk sekolah, di sekolah ada pengumuman bahwa Ujian
Sekolah akan diadakan 1 minggu kemudian, dan barang siapa yang lulus dengan
nilai yang bagus ia akan mendapat beasiswa untuk masuk SMP Harapan Bangsa
secara gratis.
Danu terus belajar dengan giat, agar ia bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Saat
Ujian berlangsung, Danu dapat mengerjakannya dengan baik.
3 minggu kemudian hasil Ujian Nasional diumumkan, Danu sangat gembira dengan
nilai yang cukup bagus, yaitu: BI (9,2), Mat (9), IPA (9,6). dan Pak Imam
mengumumkan siapa yang mendapat beasiswa masuk SMP Harapan Bangsa. Dan
ternyata Danu yang mendapatkan beasiswa tersebut. Danu sangat gembira dan
berterimakasih kepada semua gurunya dan Ayahnya yang telah membantunya
dalam belajar.
Akhirnya Danu terus melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu
SMP, ia akan belajar dengan sungguh-sungguh supaya berhasil untuk meraih cita-
citanya, yaitu seorang Guru.
2. Contoh Cerpen Pendidikan Moral "Seseorang yang Memperjuangkan
Cita-Citanya"
Ari berusia 17 tahun, ia berasal dari keluarga sederhana. Ia ingin mewujudkan cita-
citanya dengan harapan ia mampu membuat kedua orangtua-nya bangga
kepadanya.
Dengan kondisi keluarga yang pas-pasan, sulit bagi Ari untuk meminta orangtua-
nya untuk membiayai pendidikannya di perguruan tinggi. Satu-satunya cara agar
tetap bisa melanjutkan pendidikanya adalah dengan mencari biayanya sendiri.
Diusianya yang masih muda dan belum memiliki pengalaman kerja, tentunya sulit
bagi Ari untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Namun, tidak membuat Ari patah
arang. Ia terus berusaha memperjuangkan keinginannya.
Kegigihan Ari selama hampir setahun mencari pekerjaan akhirnya terbayar sudah.
Ia lantas mendapatkan telepon dari sebuah perusahaan dimana tiga hari sebelumnya
ia memasukkan lamaran. Informasi loker itu ia dapat dari koran. Pekerjaan yang
selama ini ia nantikan akhirnya selangkah lagi ia dapatkan.
Suatu hari aku mengajar seperti biasa. Tiba-tiba bapak Kepala Sekolah
mengumpulkan semua dewan guru untuk rapat. Sambil menyusuri jalan setapak
menuju ruang rapat, aku berpikir apa yang akan dirapatkan pada siang ini.
Ku taburkan senyum kepada beberapa dewan guru yang sudah siap di meja masing-
masing. Tak lama bapak kepala sekolah pun datang.
“Selamat siang dewan guru. Hari ini kita akan membahas berita yang mendadak”,
ucap bapak Kepala Sekolah dengan sedikit keraguan.
“Apa itu berhubungan dengan sekolah kita, pak?”, balasku dengan perkataan yang
berhati-hati.
“Tidak, Bu Marni. Tapi ini tentang sebuah tawaran kepada dewan guru disini.
Jadi… ada sebuah daerah yang membutuhkan guru. Dan daerah itu sangat terpencil
yaitu di perbatasan Kalimantan. Orangnya juga masih kurang pengetahuan. Saya
rasa pemerintah ingin mereka berpengetahuan sama seperti masyarakat yang lain.
Maka dari itu pemerintah memilih sekolah ini untuk mengirim salah satu gurunya
ke daerah itu.”
“Maaf, pak. Bukannya saya mau protes, Tapi kenapa harus SMP Dirgahayu ini?.
Kan sekolah kita sekolah yang berkualitas unggul.”, protes Pak Buty.
“Oleh karena itulah, pemerintah memilih sekolah ini.”, jawab bapak Kepala
Sekolah.
Setelah beberapa lama berunding masih tidak ada jawaban. Akhirnya bapak Kepala
Sekolah mengakhiri rapat hari itu dan akan melanjutkannya pulang sekolah nanti.
Lagi-lagi di perjalanan menuju kelas aku berpikir, apakah aku orang itu?.
Sesampainya di depan kelas aku mencoba memikirkan hal itu nanti. Tapi pikiran
itu masih ada di benakku.
Saat pelajaran berlangsung, aku sengaja untuk memberi soal saja kepada murid-
murid ku. Karena aku masih belum bisa melupakan hal itu. Keputusan diambil usai
pulang sekolah dan itu 1 jam lagi. Tak boleh diriku ceroboh dalam mengambil
keputusan. Tiba-tiba bel pulang sekolah berbunyi dan dewan guru melanjutkan
rapat yang terhenti tadinya. Semua duduk pada posisi semula pada awal rapat.
“Jadi… bagaimana dewan guru ada yang berminat?. Kalau tidak saya yang akan
pilih salah satu.”, ucap bapak Kepala Sekolah dengan santai. Aku sadar apa
tujuanku menjadi seorang guru. Seketika aku mengangkat tangan dan berkata,
“Saya bersedia dikirim ke daerah itu, pak.”.
“Bagus!. Tepat seperti pilihan saya. Jadwal keberangkatan 2 hari lagi bu.”. kata
bapak Kepala Sekolah dengan perasaan gembira.
“Inilah saatnya aku lebih berusaha untuk bangsa ini”, Ulasan dalam hati ku. Setelah
itu beberapa dewan guru menjabat tangan saya dan berkata semoga lancar, begitu
juga bapak kepala sekolah. Mungkin beberapa orang berpikir aku bersedia karena
gaji yang diberikan, tapi ini semua aku lakukan semata-mata untuk sebuah tujuan.
Kepala Sekolah memintaku untuk benar-benar siap untuk mengajar disana. Dan aku
yakin bahwa aku sudah siap.
2 hari berikutnya pun tiba. Waktuku untuk berkemas dan bersiap-siap meluncur ke
Kalimantan. Dimana disanalah aku mengabdikan diriku sebagai seorang guru yang
sesungguhnya aku inginkan. Setiap langkahku berdoa semoga perjalanan ini tidak
sia-sia. Dengan banyak tekad dan niat aku mulai memasuki kawasan pantai untuk
menuju daerah itu. aku benar-benar berpikir daerah itu sangat terpencil.
Sesampainya disana, aku melihat anak-anak yang sedang bermain permainan
tradisional dan para orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Berbeda sekali, tidak seperti suasana di kota Jakarta.
Dengan cepat dan tergesa-gesa aku menata meja lipat dan buku yang aku bawa dari
Jakarta. Tak lupa aku memasang papan tulis yang tidak begitu besar dan
menyiapkan barang-barang lainnya. Tidak sampai 5 menit, anak-anak itu pun
datang. Mereka datang dengan semangat dan tekad yang sudah terlihat. Mereka
juga saling berebut tempat duduk yang terdepan. Setelah semua sudah teratur, aku
membagikan peralatan tulis yang akan mereka pakai. Saat pengajaranku mulai,
mata mereka tidak luput dari papan tulis yang tidak begitu besar itu.
Aku berharap mereka adalah penerus bangsa yang tepat. Tekad dan semangatnya
tak berbeda dengan murid-murid ku di sana. Hanya kondisi yang membuat mereka
berbeda. Inilah pengabdian yang ku inginkan sebenarnya. Indonesia bangga dengan
insan yang ada di sini. Walaupun mereka masih kurang pengetahuan, cara berpikir
mereka sangatlah cepat. Tak sia-sia perjalanan ku disini, Tuhan.
4. Cerpen | Guru Ngaji
Semua anak sudah pulang ke rumahmya masing-masing. Anak-anak tidak tahu apa
yang mereka lakukan. Buat apa mereka mengaji. Mereka hanya tahu sopan santun
dan satu pertanyaan simpel kepada orang tuanya: mengapa mereka harus mengaji?
Orang tuanya selalu menjaga sikap agar senantiasa terlihat lembut pasti menjawab,
"Karena aku menginginkanmu begitu. Karena Ayah dan Ibu ingin kamu jadi anak
pintar dan berbakti pada Tuhan."
Setelah itu tak ada pertanyaan lagi. Anak-anak tidak suka pertanyaan. Mereka lebih
suka bermain dan membuat orang tua mereka bangga apa yang mereka lakukan.
Mereka berangkat mengaji dan setelah pulang nanti mereka akan menunjukkan
kepada orang tuanya hasil bacaan belajarnya tersebut. Cukup simpel dan kekanak-
kanakan.
Mengenang masa kecilku dulu, aku kurang suka mengaji. Aku lebih suka membaca
buku ketimbang menyanyikan ayat-ayat yang sama sekali tak kupahami arti dan
maksudnya. Tapi aku senang karena aku punya ibu yang cakap membujuk anak
untuk tetap hadir di surau kecil itu. Bersama anak-anak lain yang belajar bahasa
arab.
Ibuku selalu menjanjikan kalo aku bisa membaca bahasa arab dalam waktu satu
minggu aku boleh tak hadir lagi ke Surau yang sering kusebut sebagai ladang
kekacauan. Aku tidak suka kekacauan. Tepatnya, aku anak-anak yang tak menyukai
anak-anak.
Saat itu umurku sepuluh tahun. Dan tanpa pikir panjang aku menyanggupinya.
Memang apa sih susahnya belajar bahasa orang timur itu? Cuma membaca kan?
Batinku. Aku pasti bisa.
Satu hari berlalu aku belajar dasar-dasar abjad arab dan aku sudah hampir hapal.
Dua hari berlalu, aku sudah hapal namun masalahnya aku sering keliru
membedakan antara huruf ba' dan huruf nun. Baiklah. Yang titiknya di bawah
namanya ba' dan sebaliknya. Yang dipangku atau di dalam atau di atas namanya
huruf nun. Tolong diingat-ingat. Aku berdialog dengan otak monyetku.
Hari keempat aku sudah hampir bisa membaca bahasa iqro. Tepatnya jilid tiga. Tapi
ternyata itu semua belum selesai karena ketika aku mulai naik satu tingkat, Pak
Ustad yang mengajarku berkata, "Cemerlang," ujarnya dengan mata berbinar-binar.
"Tapi..." Aku tak suka kata 'tapi'. Biasanya kalimat itu yang berlainan dan
maknanya berujung pahit.
Pak Ustad itu --yang aku tak peduli siapa namanya-- menghela napas panjang
seakan-akan tugas beratnya tak akan usai dalam waktu dekat ini, melanjutkan, "Kau
perlu belajar tajwid dan hukum bacaan lainnya supaya kau paham kapan kau harus
memanjangkan bacaanmu, memendekkannya dan mengentikannya dengan tepat."
Tajwid? Pikirku. Makanan apa lagi itu?
Kemudian lelaki tua yang kutaksir berusia 65 tahunan itu menunjuk dadaku tepat
di ulu hati seperti melakukannya dengan lampu center, atau pistol, dan mengatakan
kaliamat yang jauh lebih panjang, "Tapi aku yakin kau pasti bisa. Kau anak pintar.
Hanya sedikit sombong. Namun aku yakin dalam waktu satu-dua bulan ke depan
ini kau pasti akan menguasainya. Ini memang sulit bagi pemula tapi aku yakin kau
pasti bisa."
Satu bulan berlalu dan aku belum bisa menguasainya. Dan parahnya perjanjian
dengan Ibuku, aku mengaku kalah.
Dalam dua sampai tiga bulan ke depan, aku terus bolak-balik ke surau itu.
Perjanjian dengan ibuku diperpanjang. Menjadi enam bulan. Ditambah, kalau aku
benar-benar paham apa yang kubaca ibuku akan membelikanku sepeda baru.
Sepeda keren yang memiliki cakram bagian depan-belakang yang setiap
kayuhannya terasa enteng dan lembut meski pemakainya sedang menaikinya
dengan kemiringan vertikal jalan 45 derajat.
Tengah malam aku menarik baju kokoku di belakang pintu kamar, lalu merenggut
kopyah putihku yang juga terselampir di sana dan keluar jendela kamar dengan
menenteng Al-Quran di tangan kananku.
Aku berlari lintang pukang macam anak bajing yang bersemangat menuju rumah
Pak Ustad yang kuketahu nama belakangnya Hadi. Aku mengetuk-ngetuk pintu
rumahnya sampai dia terganggu dan terbangun mengecek siapa orang yang bersalah
tengah malam begini bertamu di rumahnya.
Pak Hadi membukakan pintu dan dia mengajakku masuk. "Masuklah," katanya
sambil mengucek mata lalu berjalan ke meja ruang tamu sambil membenarkan
sarungnya.
Aku duduk selama lima detik dan langsung mengatakan tujuanku mengganggunya.
Pak Hadi tidak tertawa. Dia cuma tersenyum. Senyum yang manis sebagai laki-laki
65 tahun. Kemudian dia memintaku mengambil air wudhu di belakang rumahnya,
di sumurnya yang gelap dan kurasa agak angker.
Tapi syukurlah aku tidak datang ke sumur angker itu sendiri. Pak juga perlu wudhu
katanya. Lalu disela-sela Pak Hadi menimba air, aku memanfaatkan waktuku untuk
minta maaf lagi padanya telah mengganggunya tengah malam begini.
Pak Hadi sama sekali tidak menunjukkan muka marah. Dia malah menimpaliku
dengan nada tenang tanpa sedikit pun terdengar ancaman, bahwa, "Yah, kau datang
tepat waktu. Jam-jam segini biasanya aku memang melakukan sholat tahajud. Apa
kau ingin sholat tahajud bersamaku?"
Saat itu karena aku masih merasa besalah aku jawab aku mau meskipun tujuan
utamaku adalah belajar bahasa arab. Pak Hadi adalah laki-laki baik. Dia bahkan
mengajariku cara-cara dan tata tertib sholat tahajud lengkap dengan doa rahasianya.
Aku langsung belajar apa yang diajarkanya dan langsung merasa bodoh, ternyata
ada banyak sekali hal-hal yang tak kuketahui di dunia ini. Ternyata dalam sholat
tahajud yang orang-orang sebut cara membujuk tuhan, ada doa rahasianya juga.
Sesuai sholat tahajud kami langsung belajar Al- Quran. Aku mempelajarinya
dengan penuh minat. Tentu saja ini kulakukan untuk sepeda gunung itu. Tak ada
maksud lain lagi dibaliknya. Semoga Pak Hadi tak tahu rencanaku.
Kami belajar Al-Quran selama dua jam penuh lalu di tambah satu jam untuk belajar
akidah-akhlak dan cerita nabi-nabi dan kadang-kadang jika diperhatikan dengan
saksama Pak Hadi lelah dengan cerita nabi-nabi, dia akan menceritakan kisah
hidupnya sendiri. Dari situ aku jadi tahu banyak tentang kisah nabi Yunus dan
bahkan si penceritanya sendiri.
Pak Hadi sudah lama hidup sendiri. Istrinya meninggal saat baru pertama kali
menginginkan anak namun dia tak cukup tegar untuk menghadapinya.
Aku pulang pukul tiga dini hari dan langsung tidur dengan pikiran setenang embun
pagi.
Keesokan harinya, aku belajar Al-Quran lagi ke Suaru itu dan malamnya aku belajar
ke rumah Pak Hadi. Selama enam bulan rencanaku mendapatkan sepeda rasa-
rasanya tinggal selangkah lagi. Bagaimana dengan Ibu? Apa beliau siap menerima
kekalahannya?
Empat bulan berlalu semuanya berjalan dengan lancar. Tapi aku sedikit lelah. Lelah
sekali. Aku harus berangkat sekolah pagi hari, lalu belajar mengaji sore hari, lalu
mengerjakan PR malam hari, lalu belajar ke rumah Pak Hadi hingga dini hari.
Kadang-kadang pikiranku bercabang. Aku tak menginginkan sepeda itu lagi. Aku
tak ingin memujanya seperti cita-cita. Tapi terkadang, aku tak ingin membiarkan
ibuku menang tapi juga aku tak mau melihat diriku sendiri kalah.
Aku masih mengunjungi rumah Pak Hadi. Cuma bedanya di sana kami hanya
menunaikan sholat tahajud. Setelah itu aku lebih senang mendengar Pak Hadi
bercerita tentang kehidupannya. Kisah Pak Hadi sangat menarik untuk diperhatikan
sampai-sampai membuatku tidur. Dia memiliki semua karakteristik yang
dibutuhkan seorang pencerita tapi bukan untuk anak sepuluh tahun.
5. Sekolah Ngaji (Sebuah Cerpen)
Sekolah Ngaji
“Dir.. Dir.. Khaidir !! Sadang nak cari kupiah sakulah ngaji sana, parak jam
setengah tiga dah ni.. ! “. Seru ibuku ketika menyuruhku untuk pergi mengaji saat
aku lagi asik menonton Si Bolang di televisi. Seperti biasanya, ibuku menjadi
alaram hidup untuk anak-anaknya. “ inggih ma ! “.Aku pun bergegas mencari peci
baru yang kemarin dibelikan oleh ayahku, karena peci yang lama udah usang dan
agak sobek sedikit. Melihat anaknya yang sudah siap berangkat ke sekolah ngaji
( Taman Pendidikan Alquran ) mama pun memberikan uang Rp. 1200 kepadaku.
Rp. 1000 untuk uang saku jajan, dan Rp. 200 untuk bayar iuaran per-sekali mengaji.
Aku pun bergegas menuju sekolah ngaji. “ Ma ! ulun turun ma ai “izinku. “ eeh ,
Jangan kalahi lah, lawan jangan minum es “.Sahut ibuku.
Sudah menjadi kewajiban bagi seorang anak seusiaku untuk belajar mengaji,
itulah yang sudah menjadi kebiasaan di tempat tinggalku. Anak seusia aku ini,
yakni 7-8 tahun biasanya di masukan oleh orang tua ke tempat mengaji Alquran,
atau yang biasanya kami sebut sekolah ngaji, dan juga bisa belajar privat kepada
seorang guru ngaji. Biasanya kalau di sekolah ngaji itu waktunya sekitar jam 3:00
sampai jam 5:00 sore, dan kalau belajar privat ke guru ngaji biasanya sekitar waktu
sehabis magrib, atau setelah sholat isya.
Aku berbeda dengan kakak-kakakku, hanya aku yang belajar ngaji di sekolah
ngaji (TPA), sedangkan kakak-kakakku belajar mengaji dengan cara privat ke
rumah salah satu guru ngaji di tempat tinggal kami. Setelah sholat magrib banyak
anak-anak seusia aku dan seusia kakakku ( Usia SMP ) belajar mengaji ke rumah
guru ngaji tersebut selepas sholat Magrib. Nama beliau ialah Kakek Umar Mayah
atau sering dipanggil dengan sebutan “ Kai Ngaji “.
Dalam mengajarkan Alquran beliau tidak sendirian, Kai Ngaji dibantu oleh istri
beliau yang juga akrab dengan sapaan “ Nini Ngaji “ . Di tempat Kai Ngaji ini para
murid tidak dipungut biaya sepeser pun dan beliau juga tidak pernah meminta
imbalan untuk ilmu membaca Alquran yang beliau ajarkan setiap hari. Namun
biasanya para orang tua setiap bulan/minggunya memberi hadiah kepada beliau
berupa gula, kopi serta sembako lainnya.
Begitu pula orang tuaku, pada setiap bulannya beliau memberikan beberapa kilo
gula kepada Kai Ngaji sebagai rasa terima kasih kepada beliau. Itu pun jika ada
uang berlebih yang didapat oleh orang tuaku, jika tidak ada yang diberi maka
ditunda dilain hari. Pernah juga dalam sebulan orang tuaku tidak memberikan apa-
apa kepada Kai Ngaji karena banyak kebutuhan rumah tangga yang harus
dikeluarkan. Kai Ngaji dan istri pun sebenarnya tidak pernah meminta kepada orang
tua yang anaknya belajar ngaji di tempat beliau, namun itu sudah menjadi kebiasaan
di tempat kami, sebagai ucapan terima kasih kepada seseorang guru.
Beberapa menit berjalan, akhirnya aku sampai di depan sekolah, tempat aku
menimba ilmu membaca Alquran. Namun sebelum aku belajar membaca Alquran,
aku ( juga anak yang lain ) di wajibkan dulu belajar iqro atau yang kami sebut
dengan “ Jilid “.Ada enam tingkatan jilid yang harus kami pelajari sebelum
melangkah ke jenjang Alquran, yakni dari jilid 1 sampai ke jilid 6, setelah itu baru
kami bisa menyambungnya ke Alquran, dengan bahasa lain untuk bisa membaca
Alquran terlebih dulu kami harus mempelajari dasarnya dulu dengan belajar iqro /
jilid.
Tidak terasa hari demi hari, aku sudah beranjak ke jilid 2, yakni setelah jilid 1 sudah
selesai. Depan sekolah ngaji aku sudah mendengar sayup-sayup lantunan lagu
islami yang biasanya kami nyanyikan sebelum memulai pelajaran. Aku pun berlari
menuju ruang kelas, sepertinya aku terlambat. Tentu saja setelah aku sampai ke
kelas, maka aku langsung duduk di tempat biasanya aku duduk, dan ikut bernyanyi.
Inilah lagu yang kami nyanyikan kali ini bersama ustadz Arul dan ustazah Heny
kali ini, lagu rukun islam yang nadanya seperti nada “ balonku ada lima”. Lagu
berikutnya ialah lagu yang berjudul “ Aku cinta Allah “ yang nadanya seperti nada
lagu “ sayang semua “ namun liriknya yang diubah, entahlah siapa yang mengubah
liriknya.
Beginilah ramainya ketika pelajaran ngaji ingin dimulai, kami anak-anak yang rata-
rata umur 7-8 tahun seperti aku ini terkumpul di satu kelas, yakni kelas jilid,
sedangkan para murid yang sudah tingkat Alquran belajar di kelas sebelah bersama
Bapak Haji Marwan dan Bapak Zaini. Kami yang jilid ini dibimbing oleh kakak-
kakak dari Pondok Pesantren di sekitar tempat tinggal kami, diantranya ialah kak
ustadz Arul dan ka ustadzah Heni dan Munirah.
Pelajaran pun dimulai, Kak ustadz Arul mulai menuliskan ayat Alquran yang harus
kami tulis di papan tulis, tulisan kak ustadz Arul sangat bagus, mungkin karena
beliau santri di pesantren yang terbiasa menulis tulisan kaligrafi arab. “ ini tulislah,
adding-ading .. tulis sampai habis “.Seru kak ustadz Arul kepada kami.
Sedangkan ustadzah Heny dan Munirah duduk depan dan memanggil nama kami
satu persatu untuk mengaji dengan bimbingan beliau. Biasanya panggilan itu
menurut abjad di buku absen, yakni dari A. “ Ahmadi, dan Afif Rahman “ustadzah
Heny memanggil dua orang dari kami untuk maju ke depan. Sedangkan nama-
namanya yang belum dipanggil tetap duduk ditempat sembari menyelesaikan
tulisan yang sudah dicontohkan di papan tulis.
“Khaidir Malik ! “.Kak ustadzah Munirah memanggil, itu artinya kini giliranku ke
depan untuk mengaji dengan bimbingan beliau. Aku pun mengeluarkan uang 200
rupiah untuk membayar iuaran ngaji. “ Nah jilid 2 dah kam Dir ai, rajin-rajin turun
mengaji, nyaman capat ke Alquran “.Kak ustadzah Munirah menasihatiku agar
rajin mengaji, supaya cepat ke jilid berikutnya dan cepat ke tingkatan Alquran. “
inggih ka “. Sahutku.
Ada hal yang unik di sekolah ngaji ini, salah satunya ialah jam istirahat. Jam
istirahat di sekolah ini terbilang unik karena tidak ada memiliki patokan jam. Siapa
yang sudah selesai mengaji dan selesai menulis maka boleh istirahat. Itulah kenapa
sering ada kegaduhan antar murid siapa yang duluan maju ke depan untuk mengaji.
Terkadang biasanya sesuai dengan urutan absen, namun kadang pula siapa yang
selesai menulis duluan boleh maju ke depan untuk mengambil giliran untuk
mengaji. Hal yang unik selanjutnya ialah terkadang seminggu dua kali kami semua
murid dikumpulkan di halaman sekolah, bernyanyi lagu-lagu anak islami bersama
yang mana hal tersebut dipimpin oleh Bapak Zaini selaku pengurus sekolah ngaji
ini. Sehabis menyanyi bersama biasanya beliau bercerita tentang kisah-kisah Islami,
seperti kisah Nabi Musa membelah lautan. Kami anak-anak tampak tercengang
dengan cerita yang beliau sampaikan, terlebih lagi aku, paling suka dengan yang
namanya cerita.
“ Nabi Musa beserta para pengikut beliau berlari karena dikejar-kejar oleh raja
yang dzolim, yakni Raja Firaun. Nabi Musa pun terhenti di lautan yang dalam,
tidak ada jalan lagi untuk lari. Lalu Nabi Musa berdoa meminta pertolongan
kepada Allah Swt, maka saat itu pula Allah Swt mewahyukan agar Nabi Musa
memukulkan tongkat yang ada di tangan beliau ke lautan “. Bapak Zaini
menceritakan kisah Nabi Musa dengan sangat serius, ditambah dengan gaya dan
mimik beliau yang sangat menggambarkan situasi saat itu, seakan akan kami ada di
dalam cerita tersebut, membayangkan seakan nyata.
Jam sudah menunjukan pukul 5:00 sore, itu tandanya tiba waktu kami untuk
kembali pulang ke rumah. Tak lupa kami membaca doa-doa yang telah kami
hapalkan dari ajaran kakak-kakak Ustadz dan Ustadzah yang bergitu sabar
mengajarkan kami yang belum paham tentang agama. Terlebih lagi aku, aku bahkan
selalu bertanya-tanya di dalam hati apa makna doa-doa yang kami ucapakan ketika
memulai dan mengakhiri pelajaran ini.
Cukup panjang doa yang kami bacakan, namun aku hanyalah anak kecil yang tak
paham dengan makna doa tersebut. Hanya ada satu doa yang ku paham, yakni doa
kepada ibu bapak, karena sejak kecil sebelum usia sekolah aku sudah diajarkan oleh
ibuku membaca doa tersebut beserta artinya, begitu juga dengan doa sebelum
makan dan doa sebelum tidur, hanya itu yang ku paham.
“berapa bayarnya Dir ?”ibu bertanya berapa pembayaran untuk ikut ziarah. “
10.000 ma ai, tulaknya pakai trak Haji Udin “. Sahutku. “ mudahan ai mama ada
duit balabih Dir lah, mun kada umpat kada papa jua Dir lo“. Kata ibuku yang
mecoba memberiku pengertian bahwa kalau tidak ada uang aku mungkin tidak bisa
ikut ziarah. Aku hanyalah anak kecil yang tak paham dengan samua ini, di dalam
hatiku aku harus ikut, ibuku harus memberiku uang untuk ikut ziarah, hatiku
bergumam seperti itu.
Aku belum mengerti bahwa uang begitu sulit dicari, karena ayahku hanyalah
seorang penarik becak yang penghasilannya terkadang tidak lebih dari 20.000
rupian dan itu pun hanya untuk keperluan sehari-hari, makan dan uang saku sekolah
aku dan kakak-kakakku yang bersekolah di bangku SMP. Ibu pun hanya seorang
penjaja Buras atau Lepet ( lapat), yang ketika malam ibu bikin dan paginya ibu
jajakan ke warung-warung di pasar. Aku tak tahu persis berapa penghasilan ibu,
namun yang pasti penghasilan dari penjualan beras itu hanya mampu untuk
menutupi SPP sekolah aku dan kakak-kakakku, susu adikku, dan kebutuhan ruamh
tangga lainnya seperti bayar listrik dan memberi air bersih ke Pak RT harun seharga
100 rupiah per-tangki sepuluh liter air bersih.
Hari sudah berjalan beberapa waktu, tiba saatnya hari ini batas terakhir
pembayaran uang 10.000 untuk ikut pergi ziarah ke Kelampayan. Ibuku sepertinya
amnesia tentang ziarahku besok, atau mungkin sengaja lupa tentang agenda ziarah
sekolah ngajiku besok karena beliau belum memiliki uang untuk diberikan
kepadaku, namun aku sekali lagi hanyalah anak kecil yang tak paham dengan semua
itu. Dibenakku hanyalah aku ingin ikut pergi ziarah dan ibuku harus memberikan
uang kepadaku 10.000 hari ini.
“ Maa, hari ini terakhir ma ai bayaran gasan isuk ziarah “. Pintaku kepada
ibu dengan agak sedikit kesal dan melas. “ Maa ! Maa !, kasi ma, minta duit 10.000,
kena ulun kada kawa umpat ziarah isuk “. Mataku mulai memerah dan berkaca-
kaca karena masih belum diberi uang oleh ibu. Ibu pun menyahut “ Dir, mama
kadada bisi duit nak ai, tadi dijulung abah 10.000 mama tukarakan gasan baras
wan iwak, habis duitnya, hadangi ai kalo pina abah kena datang membawa duit”.
Aku pun terdiam, bibir terpaku dan mata yang masih berkaca-kaca menahan tangis.
Tak menunggu lama, aku yang masih kecil yang tak mengerti apa-apa ini berdiri
mengambil peci ditempat biasa aku menaruhnya, setelah itu aku duduk di teras
rumah kecilku sambil menunggu ayahku pulang dari menarik becak dan
membayangkan ketika ayah pulang memberikan uang untuk aku ikut ziarah besok
pagi.
“ Maaaaaa .. abah lawasnya bulik “. Keluhku yang sudah hampir satu jam
menunggu kedatangan ayahku yang tak kunjung datang kepada ibu yang berada di
dalam rumah. “ hadangi Dir, abah bulik ai setumat lagi .. “ . ibu mencoba
menenangkanku dari dalam rumah. Tidak lama kemudian ayah pun datang dengan
becak tuanya. Ayah yang kelihatan lelah, keringat membasahi bajunya sangat
terlihat di mataku menghampiri aku, seakan-akan ayah sudah tahu bahwa kau sudah
menunggunya dan menunggu uangnya. “ Dir.. nah, hari ini lo hari terakhir bayar
gasan ziarah esok tu .. “ .Tanya ayah sembari mengambil uang dari saku kanannya.
Ayah pun memberikan uang Rp. 11.200 kepadaku. Rp. 10.000 untuk bayar ikut
ziarah, Rp. 1000 untuk aku jajan dan Rp.200 untuk bayar iuran sekolah ngaji per-
sekali ngaji.
Aku yang sejak tadi sudah siap berangkat ke sekolah ngaji langsung
mengambil uang yang diberikan oleh ayah, dan menaruh ke dalam tas. Aku pun
bersalaman kepada ayah, dan langsung berlari menuju sekolah ngaji karena aku
tahu hari ini aku terlambat, karena menunggu ayah datang. Aku berlari sambil
membayangkan bahwa aku bisa ikut pergi ziarah bersama teman-teman yang lain
besok hari. Setibanya aku di sekolah ngaji aku pun melaksanakan aktivitas seperti
biasanya, mengaji, menulis dan membayar iuran harian sekolah ngaji.
6. Jagalah Kebersihan
Pada suatu hari hiduplah seorang anak laki-laki bernama Rudi hidup di kota orang
untuk mengejar pendidikan yang ia impikan. Tinggal di kosan yang kotor tak
terurus namun ia terbiasa dengan lingkungan seperti itu. Konon kata masyarakat
yang tinggal berada di kawasan tempat tinggal Rudi itu, merupakan kosan angker.
Dahulu pernah ada orang meninggal terjatuh dari sumur dekat kosan Rudi, ada juga
yang bilang kecelakaan itu disebabkan si korban kerasukan makhluk gaib. Karena
seorang diri jauh dari orangtua ia pun harus terpaksa tinggal di kosan sebab di kota
Rudi tidak memiliki sanak saudara. Namun Rudi tak merasakan sedih melainkan
senang tinggal di kosan dengan alasan bebas melakukan aktivitas semaunya sebab
tak ada yang melarangnya. Ada seorang teman sekelas Rudi yang begitu perhatian
kepadanya sebut saja Mawar. Dia tinggal di gang damai tak jauh dari tempat kosan
Rudi. Setiap pulang sekolah ia selalu bersama Rudi.
Tettt…!!! Bel sekolah pun berbunyi menandakan waktu pulang. Siang itu Rudi dan
Mawar berjalan pulang bersama-sama seperti biasanya karena jarak rumah mereka
searah. Karena sering mengobrol mereka pun tampak begitu akrab..” Rudi kamu
tidak takut ya tinggal sendirian di kosan?” ucap Mawar keheranan.
“Oh kenapa harus takut kita kan punya penjaga malam, jadi aman?” ucap Rudi.
“Bukan itu, maksud aku sama hantu?” ucap Mawar serius.
“Hahaha hantu mana ada, sekalipun ada, aku masih tidak percaya walaupun aku
melihatnya sebab hantu menjadi alasan orangtua untuk menakuti anaknya agar
cepat tidur.” ucap Rudi menghiraukan. Perkataan Rudi membuat Mawar merasa
senang dan semakin menyukai Rudi dengan sikap pemberani.
“Hebat kamu Rud, sudah mandiri pemberani pula.” ucap Mawar tersenyum malu.
Rudi pun membalas dengan senyum sombongnya.
Tak terasa perjalanan mereka pun sampai di perempatan jalan Gang damai dan
mereka pun berpisah. Di sekolah Rudi terkenal dengan penampilan yang urak-
urakan baju kusut tak terurus. Namun Rudi merupakan anak yang baik dan suka
menolong itu yang membuat Mawar menyukai Rudi. Di waktu Pagi yang cerah
tiba-tiba Rudi tergesa-gesa menuju kelasnya.
Rud, telat terus kenapa? kurang tidur ya, matamu sembab tuh,” menunjuk mata
Rudi, “emangnya apa yang terjadi kepadamu?” Ucap mawar penasaran.
“Entahlah aku juga bingung setiap malam tidurku terganggu oleh perasaan tak enak.
itu terjadi setiap aku pulang dari bermain.” ucap Rudi dengan wajah masih
mengantuk. Pagi itu jam 8 pagi di saat jam pelajaran pertama berlangsung Rudi pun
tak sengaja tertidur di kelas dan tak ada orang yang mengetahuinya kecuali Mawar
yang selalu memperhatikan Rudi dengan keresahan hati.
Semakin Rudi mencoba berusaha melawan, sesak napas terasa berat detak
jantungnya berdebar hebat. Kesadaran Rudi pun terbagi menjadi dua antara mimpi
dan kenyataan. Dalam hati berkata. “Apa yang sedang terjadi menimpa di
tubuhku?!” Rudi tak bisa melihatnya namun dia bisa merasakan, lantas diucapkan
semua doa yang dia ingat di waktu kecil di pengajian. Dengan harapan semua yang
terjadi ini akan berhenti. Tak lama kemudian sesudah doa selesai, mulai perlahan
sesak napas bersemayam bersama bayangan hitam itu hilang dan dia coba
bangunkan diri dari tidur membuka mata. Pelan-pelan sepertinya bisa Rudi lakukan,
akhirnya terbukalah ke dua mata. Perasaan takut meracuni pikiran Rudi membuat
tubuhnya lemas tak berdaya.
Rudi melihat keberadaannya masih di ruang kamar tidur yang gelap dan sunyi.
Pandangan menatap memperhatikan sekelilingnya tak ada sedikit pun perubahan
yang terjadi di kamar tidur ini. Rudi menengok arah jam dinding masih
menunjukkan jam 3 lewat. Lantas Rudi bangkit dari kasur dan berpikir dia ingat
kejadian apa yang menimpanya. Rudi masih bisa merasakannya semua kejadian
aneh ini sering terjadi menimpanya. Dia ingin rasanya marah namun dia takut
kepada siapa? karena teror mengganggu di saat kenyamanan tidurnya yang telah
diusik. Mungkin semua berawal mula dari Rudi pindah di kosan sehingga
menjadikan dia seorang pemalas dengan sikap yang bebas tak teratur hingga sampai
sekarang. Baik dari malas membersihkan kosan sampai mencuci kaki dan berdoa
sebelum tidur dan lain sebagainya.
Sebelumnya semua mimpi aneh itu belum pernah terjadi kepada Rudi. Mungkin
karena dia menjadi pemalas hingga dia sering mengalami peristiwa teror yang
mengganggu tidurnya. Dia melupakan pesan dari orangtuanya yang dulu pernah di
ucapkan. “Ingatlah Nak di mana pun kamu berada jagalah kebersihan, sebab
kebersihan pangkal kesehatan dan juga merupakan bagian dari iman.” Di balik
peristiwa yang telah terjadi Rudi berpikir benar apa yang dikatakan orangtuanya
selama ini ia tak pernah melakukan apa yang telah dipesankan orangtuanya. Tapi ia
akan belajar mengubah kepribadiannya. Terlintas ada yang janggal di dalam pikiran
Rudi sepertinya mereka makhluk tak kasat mata ingin berbicara mengatakan ada
sesuatu ingin disampaikan kepada Rudi, namun ia mencoba menolaknya dengan
alasan karena Rudi penakut dan tak percaya keberadaan mereka.
Rudi terjaga memikirkan peristiwa tadi menimpanya sekarang jam menunjukan jam
5 terdengar suara azan subuh tak mau melewatkan salat subuh lantas kembali Rudi
menuju kamar mandi mengambil wudu lalu pergi kembali ke kamar tidur untuk
melakukan ibadah salat subuh setelah selesai tak sengaja rasa ngantuk muncul
berbaringlah Rudi sejenak tak terasa dengan cepatnya menarik selimut mencoba
tidur dan tak lupa sebelum tidur Rudi berdoa berharap peristiwa aneh ini tak
terulang lagi. Namun disayangkan Rudi bangun tidur kesiangan.
Tettt…!!! Tanda bel pelajaran pertama telah habis cepat-cepat Mawar bergegas
pergi menuju bangku Rudi untuk membangunkannya dari tidur.
7. Aku Ingin Kuliah
Kita sebut saja namanya Ryan, Ryan adalah siswa Alumni MAN di daerahnya yang
baru saja dinyatakan lulus, malam itu setelah pengumuman kelulusan UN pada
siang hari di seluruh indonesia secara bersamaan, keesokan harinya adalah
pengumuman kelulusan bagi calon mahasiswa baru yang mendaftar melalui jalur
SNMPTN. Sebelum pengumuman UN ryan dan ayahnya sempat berbicara
mengenai kelanjutan pendidikannya, karena faktor ekonomi yang kurang kondusif
pada masa itu, setelah lama berbicara akhirnya lahir sebuah keputusan dimana ryan
tidak akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (KULIAH).
Malam itu, adalah pengumuman kelulusan calon mahasiswa baru yang mendaftar
melalui jalur SNMPTN, beberapa pesan singkat sempat masuk kedalam telepon
genggam milik Ryan, yang isinya “selamat ya Ryan” dan kebetulan esok adalah
hari kelahiran Ryan, Ryan lantas berfikiran apa kawan-kawannya lupa dia lahir
esok hari, bukan hari ini. Dengan sedikit merasa aneh dan lucu kemudian ryan
membalas pesan singkat dari teman-temannya, “maaf kawan-kawan saya ultahnya
besok, bukan hari ini, apa kalian sudaah lupa? hehehe” ujar Ryan, lantas salah satu
dari sahabatnya kembali membalas, “eh, ini kado terindah yang tuhan berikan, kami
tahu kamu ultahnya besok, tapi kami ucapkan selamat karena kamu lulus
SNMPTN” pungkas temannya.
“kamu dimana? Kamu lulus SNMPTN, ini saya kepala sekolah, silahkan datang ke
ruko sebentar” ujar Kepala sekolah Ryan.
“iya pak, iya, saya sudah dengar kabar juga barusan, baik pak.. saya segera kesana..”
akhir Ryan
Dengan langkah tergesa-gesa Ryan mengganti pakaian dan keluar kamar, dan
mengambil kunci motor yang tergantung di tengah-tengah rumah. Melihat Ryan
tergesa-gesa orangtua Ryan bingung ada apa sebenarnya, begitu hendak keluar
Ayah Ayan bertanya, “kamu kenapa? ada apa? ini kamu mau kemana?” dengan
tergesa-gesa Ryan menjawab “saya mau jumpain kepala sekolah, katanya saya lulus
untuk menjadi calon mahasiswa yah, dan saya ingin kuliah Ayah” jawab Ryan
seraya menghidupkan kendaraannya dan pergi begitu saja.
Kini Ayah Ryan tidak lagi sepemahaman dengan Ryan, Ayah ryan tiba-tiba kaget
karena Ryan mengingkari janjinya, dan langsung masuk ke dalam dan bercerita
kepada Ibunya Ryan.
Sesampai di tempat ryan langsung menyalami dan mencium tangan kepala sekolah,
dan kepala sekolah tersenyum kepadanya serta berkata, “wah, selamat ya Ryan
kamu lulus ni, gimana? jadi diambil kan? Ini kesempatan bagus buat kamu, karena
kamu satu-satunya laki-laki yang lulus!.” dengan senyuman dan anggukan Ryan
menjawab pertanyaan kepala sekolah. Dan melihat-lihat pengumuman. Kemudian
Ryan bercerita kepada kepala sekolah, bagaimana keadaan sebenarnya,
bahwasanya ryan tahun ini rencananya akan menganggur. Kemudian kepala
sekolah memberikan soslusi agar Ryan kembali mendiskusikannya dengan ayah.
“begini saja, coba bicara baik-baik kepada Ayah kamu, dan perlihatkan
kesungguhan kamu untuk kuliah”, dengan wajah yang terlihat ragu Ryan menerima
solusi tersebut dan pamit pulang ke rumah.
Di perjalanan ryan hanya berpikiran bagaimana cara menceritakan hal ini kepada
Ayahnya, bahwa dia benar-benar ingin kuliah dan tidak ingin menyia-nyiakan
kesempatan tersebut, Ryan berpikiran bahwa memang betul ekonomi kami memang
lagi tidak stabil, jika memang rezeki tidak dari ekonomi kami yang sekarang,
mengapa Allah harus memberikan kesempatan ini? Allah tidak akan lupa dengan
ekonomi kami sekarang artinya allah tahu jika memang tidak ada kemungkinan
kuliah, dia tidak akan lulus, singkatnya Ryan berpikiran bahwa. “Allah menitipkan
sesuatu untukku kelak setelah menyelesaikan kuliah ini, sehingga iya memberikan
kesempatan ini kepadaku, dia tahu aku akan mampu menjalaninya” begitulah isi
hati Ryan yang memotivasinya untuk memberanikan diri membicarakan kembali
kepada ayahnya.
Sesampainya di rumah, ryan langsung menjumpai ayahnya dan berkata, “saya lulus,
pokoknya saya mau kuliah” dengan sikapnya itu lantas ayahnya membesarkan
suara kepadanya, “kamu ini bagaimana? Apa kamu lupa, kemarin kita baru
membicarakannya, jika saya memang mampu untuk tahun ini, rizky pun ada, tanpa
kamu minta saya akan kuliahkan kamu, terserah mau dimana, tapi keadaan kamu
lihat sendiri, hah, kamu ini, sudah bersabarlah, tahun depan kita akan kuliahkan
kamu, kali ini, kita selesaikan dulu abang kamu yang akan diwisudakan sebentar
lagi, sudah besar tapi masih minta dimarahin!!” ujar Ayah Ryan dengan nada yang
lantang.
Sepulang Ayah Ryan dari kantornya, Ayah Ryan langsung ke meja makan. Tidak
lama kemudian, melihat ayah Ryan telah menyelesaikan makan siangnya, ibu Ryan
menghampiri Ayah Ryan yang baru pulang dari kantor di meja makan, “yah, Umi
(panggilan untuk ibu Ryan sehari-hari) mau bicara, ini soal Ryan yang katanya
ingin kuliah” kata Ibu Ryan dengan nada lembut. “iya Mi, ada apa dengan Ryan,
bicara saja” jawab ayah Ryan dengan spontan. “akhir-akhir ini Umi perhatikan
tingkah ryan berbeda sekali dari biasanya” sambung Ibu Ryan, “lah beda gimana
mi?” dengan kagetnya.. “begini lo yah, Umi tahu apa yang Ayah pikirkan, tapi Umi
juga kepiran tentang yang disampaikan Ryan, mungkin ayah lebih sering di luar,
Ryan setelah kejadian itu, dia menjadi lebih giat bekerja, dan sepertinya dia
mengumpulkan uangnya untuk berangkat, Umi khawatir, jika suatu saat dia pergi
tiba-tiba, karena dia begitu bersikeras ingin kuliah, percuma kita terus menahannya,
nanti yang ada kita menyesal yah..” akhiri ibu Ryan sambil termenung.
Melihat ibu Ryan yang begitu khawatir akhirnya sang Ayah mencoba berbicara
kembali dengan Ryan, kemudian sang ayah meninggalkan ibu di meja makan dan
ke luar memanggil Ryan, “Ryan, kemari sebentar, ada yang ingin ayah bicarakan
dengan kamu” ucap ayah Ryan sambil melambaikan tangannya ke arah Ryan.
Kemudian ryan tanpa menjawab sang ayah langsung menghampiri Ayahnya yang
kembali berada di sebelah ibu Ryan, dan duduk di samping Ayahnya.
“Ryan, barusan Umi kamu bercerita kepada Ayah, Ayah mau tanya sesuatu sama
kamu, apa benar kamu masih ingin mengambil jurusan kamu itu?” tanya ayah Ryan,
“iya Ayah” jawab Ryan dengan singkat. Kemudian ayah Ryan berkata “Ryan, kamu
tahu jurusan kamu itu, itu orang-orang yang menentang pemerintah, melakukan
aksi demo, Ayah takut kamu kenapa-kenapa, kita tunggu saja saat yang tepat, itu
nanti hanya jadi orang-orang pemberontak pemerintah, ayah bagian orang
pemerintahan, kamu tahu Presiden? dengan intruksi “Bumi Hanguskan” semua
pendemo bisa dipukuli, bahkan dimusnahkan pihak tentara, kamu tahukan kejadian
98?!” sambung ayah ryan yang berusaha menghentikan iktikad Ryan yang ingin
mempertahankan kemauannya dengan nada sedikit kencang.
Melihat sikap Ryan dan pernyataannya, Ayah Ryan termenung, tidak tahu apa yang
sedang dipikirkan. Kemudian Ayah Ryan menyambung kembali pernyataannya,
“baiklah Ryan, jika keputusanmu memang benar-benar bulat, Ayah akan usahakan
bagaimana supaya kau juga bisa kuliah, namun Ayah ingin memberitahu kamu satu
hal, jika kamu merantau, jangan pernah dekati nark*ba, jangan berbuat yang
merugikan diri kamu, apalagi orang lain, ingat visi dan misi kamu kuliah untuk
apa”.
Dengan sedikit terharu Ryan mengangguk-anggukkan kepalanyanya dan berkata
“iya Ayah” pada setiap ucapan Ayahnya yang menyampaikan pesan moral
kepadanya.
Dan siang itu berakhir dengan percakapan yang sangat haru bagi Ryan, dengan
bangganya Ryan kembali bersemangat, dan mempersiapkan bekal untuk
keberangkatannya yang menjelang beberapa hari lagi.
Tiba saatnya Ryan hari ini harus berangkat ke tempat kuliahnya, dan meninggalkan
rumah untuk sementara, sebelum berangkat Ryan berpamitan kepada ayah dan
ibunya, saat bersalaman Ayah Ryan kemabli mengulang ucapannya, dan menasihati
Ryan agar tidak lupa tujuan kelak di rantau orang. Tampak di sebelah Ayah ada
Umi Ryan yang menatapi Ryan dengan linangan air mata, tetesan air mata ibu Ryan
mengiringi suasana yang menjadi begitu semakin sedih, seakan-akan khawatir
karena jauh darinya, Anaknya yang ke dua itu dikenalnya sedikit nakal dulunya
akan berada jauh dari sisinya, dia seakan-akan sedikit resah dan gelisah dengan
keberangkatan Ryan.
Kemudian ryan menghampiri Ibunya untuk pamit, “mi, Umi jangan nangis, insya
Allah Ryan baik-baik saja nanti di rantau orang, Ryan hanya minta do’a restu,
doakan ryan agar menjadi orang yang sukses, dan selalu dalam lindungan allah”
ucap Ryan juga dengan mata yang berkaca-kaca, “nak, jika do’a yang kamu minta,
dalam do’a selalu ada nama kalian Anak-Anakku, aku ini Ibu kandung kalian nak,
setiap Ibu selalu mendoakan anaknya agar diberi yang terbaik, dan dilindungi
Allah” sambung ibu Ryan dengan suara yang berbaur dengan tangisan.
“nak, jangan pernah tinggalkan sholatmu, selalulah berdo’a jaga diri baik-baik di
rantau orang” pungkas ibu Ryan seraya memeluk ryan, mendengar ucapan ibu
Ryan, ryan tak kuasa menahan air mata, akhirnya ryan meneteskan air mata, semua
yang berada di dalam itu terbawa suasana yang begitu haru.
Tidak lama kemudian, angkutan umum yang akan ditumpangi Ryan akhirnya tiba
di depan rumah Ryan, dan pengemudinya langsung turun dan mengambil barang-
barang yang akan dibawa Ryan. Setelah semua dibawa naik ke dalam mobil, supir
memberikan tanda isyarat dengan membunyikan klakson mobil, menandakan mobil
akan segera berangkat. Kemudian Ryan berjalan ke arah mobil seraya menghusap
airmatanya dan segera naik ke dalam mobi. Sebelum berangkat Ryan melambaikan
tangan kanannya ke arah keluarganya yang berada di halaman rumah sebagai tanda
perpisahan dari Ryan.