Jum'at Literasi, 31 Mei 2024
Oleh Nurul Khotimah
JAWABAN DARI SEBUAH TANYA
Bisik menelisik lamunan lampau
Mengandai ruang jauh berdesik
Adakah seruan ramai menyeruak
Berbalas aral menjadi terpendar
Sudah,
Lewat sudah
Sampailah harap dalam pulasnya
Meracau pun dalam hanya sekadar
Kini dapat kau sangkalkan semuanya
Bahwa adanya sebuah jawaban
Menjadikan setiap rasa sangat terasa
Kiranya nampak menjadi-jadi
Bergemuruh makin menggaduh
Sebatas ulang terus mengulang
Hanya menjadi namun tak terjadi
Pada akhirnya
Menepiskan batas yang tak terbatas
Enggan membendung yang kian terbendung
Jum'at Literasi, 7 Juni 2024
Oleh: Rif'an Al-Fikri, S. Pd., Gr.
DETEKTIF BERBAJU PUTIH
Sebilah pena telah menggores doa
Pada selembar impian
Digantung kuat di jarum jam
yang tiap detik bergerak dan berputar
Mencari beberapa pasang nilai di atas bangku lusuh
Penuh goresan tinta itu
Ia menoleh dan mengintai
Sambil sesekali memetik angin di kerah baju putihnya
Selaksa detektif yang sedang mencari jawaban
Lalu batuk beberapa kali
Memberi kode untuk teman detektifnya yang lain
Kalau ketahuan musuh, akan pura-pura mencari angin lagi
sambil kesurupan
Memang detektif akan selalu bersembunyi
Mengintai dan mencari
Jawaban berbagai persoalan yang dihadapinya
Namun detektif bukanlah sebuah identitas
Ia hanya entitas
yang bertaruh dengan selembar kertas penuh pertanyaan
Memenuhi baju putihnya
PAT 2024
Jum'at Literasi, 7 Juni 2024
Oleh: Nuril Hikmah, S. Pd
MIMPI ANAK PEDAGANG KAKI LIMA
Teeeth….teeeth….lamunanku buyar saat mendengar bel
sekolah berbunyi. Aku bergegas meninggalkan taman sekolah
untuk segera menuju ke kelas. Taman sekolah merupakan
salah satu tempat favoritku. Di taman ini aku bisa bebas
meluapkan penat yang aku rasakan. Yah….meskipun tak
jarang banyak anak-anak melihatku sebelah mata yang
mengatakan aku anak aneh. Karena di taman ini aku senang
bercerita pada rumput-rumput, bunga yang ada di taman
bahkan terkadang sama kucing yang berkeliaran di sekitar
sini. Aku merasa lebih senang bercerita dengan yang ada
disekitar taman ini disbanding bercerita dengan teman-
temanku di kelas.
Teman-temanku sering memandangku sebelah mata karena
kondisi ekonomi orang tuaku yang mungkin tidak setara
dengan ekonomi orang tua mereka. Di sekolah aku tak banyak
mempunyai teman yang akrab denganku. Sekolahku bisa
dibilang sekolah elit yang kebanyakan siswanya membawa
roda empat. Meskipun begitu aku tetap tidak merasa minder
walau aku hanya bisa membawa sepeda butut. Bagiku sepeda
butut ini sudah sangat berarti, karena sepeda bututku bisa
mengantarku kemana saja yang aku ingnkan. Aku masuk
sekolah ini memng tidak mudah. Melihat kondisi ekonomi
orang tuaku mungkin tak mampu untuk membayarkan spp
yang setara mencicil sepeda motor. Aku masuk sekolah ini
lewat jalur prestasi. Dan aku bangga bisa masuk sekolah elit
lewat jalur pretasi.
Tak jarang teman-temanku sering mencemoohku karena
kondisi ekonomi orang tuaku yang pas-pas an. Aku sempat
berpikir untuk berhenti sekolah. Terlalu sering aku mendapat
bully an dari teman-temanku yang membuatku patah
semangat belajar. Hampir setiap hari aku diejek sama teman-
temanku. “ woooy…. Anak orang miskin, tak pantas kamu
sekolah di sini. Sekolah ini bukan tempat orang penampungan
yang ingin sekolah gratis. Ingat ini sekolah elit. Tak pantas
anak seorang pedagang asongan kayak kamu sekolah di sini.
Kamu itu cocoknya sekolah diperkampungan yang kumuh.
Baju yang kau pakai saja dekil. Kata- kata itu hampir seiap
hari dilontarkan teman-temanku. Aku setiap hari menangis di
sekolah. Terlalu kejam dan pahit olok-olokan yang mereka
lontorkan padaku. Disaat aku perpuruk dan putus asa untuk
tak lanjut sekolah, ada satu teman yang peduli dengan
kondisku yang selalu mensuportku untuk tetap semangat
meraih mimpiku.
Aku punya semangat lagi untuk lanjut sekolah. Karena masih
ada yang peduli denganku yang ingin melihatku sukses.
Meskipun hanya satu orang yang peduli dengankuitu
membuatku lebih dari cukup. Aku tetap bersikukuh untuk
melanjutkan meraih mimpi yang menginginkan menjadi
seorang dokter. Tak pelak hinaan, cacian, ejekan yang
dilontorkan teman-temanku setiap hari yang mengatakan
mimpiku terlalu tinggi.
Aku ingin membuktikan pada dunia dan teman-temanku,
kalau aku anak seorang pedagang asongan, anak pedagang
kaki lima bisa sukses meraih mimpi. Hari- hari pun terus
berganti, bulan-bulan juga terus berganti, dan zaman pun terus
berubah. Tak terasa tiga tahun sudah aku sekolah di SMA ter
elit di Tanggerang. Saatnya aku menantikan pengumuman
tentang kelulusan. Aku juga sudah mencoba mendaftar
kesalah satu Universitas ternama di Jakarta lewat prestasi
yang aku punya.
Pengumuman pun tiba dan aku dinyatakan lulus dengan
peringkat satu paralel di jurusanku. Tak terasa aku menitikkan
air mata terngiang ejekan temanku yang selalu mengatakan
anak pedagang asongan, anak dekil yang membuatku sakit
hati. Aku bisa membuktikan kepada mereka kalau anak
seorang pedagang asongan yang dekil bisa lulus mendapat
peringkat satu parallel yang diimpi-impikan seluruh siswa.
Kejutan lain pun mengagetkanku. Universitas ternama yang
ku coba mendaftar masuk akhirnya keluar juga hasil
pengumumannya.
Awalnya aku tak percaya akan diterima di kampus ternama
itu. Takdir berkata lain. Aku harus percaya dan menjalani
kalau aku bisa diterima di Universitas Indonesia Jurusan
Kedokteran. Tak terasa air mataku mengalir deras mendengar
pengumuman itu. Aku tak menyangka anak seorang pedagang
kaki lima sepertiku bisa sekolah SMA ter elit di Tanggerang
dan bisa diterima menjadi mahasiswa kampus idola dengan
jurusan kedokteran.
Aku membuktikan pada teman-temanku tak semua anak orang
miskin tidak bisa meraih mimpinya. Aku percaya dengan
pepatah kalau roda itu berputar. Begitupun dengan kondisiku
saat ini. Ada kalanya kita yang di bawah akan berputar berada
di atas. Karena usaha yang kita jalankan tidak akan
mengkhianati hasil. Selagi kita mau berusaha aku yakin kita
pasti bisa menjadi lebih baik lagi.
Jum’at Literasi, 14 Juni 2024
Oleh: Desi Kusumaningtiyas, S. Pd
MENANTI RAPORT
Dalam tenang pagi yang sunyi
Degup jantung menari tak henti
Menanti raport tiba di tangan
Penentu harapan dan impian
Kertas putih penuh arti
Menyimpan kisah jerih payah diri
Di balik angka-angka tak terperi
Ada usaha, doa, dan mimpi
Setiap huruf yang tertera
Menceritakan kerja keras yang tak sirna
Guratan tinta penuh makna
Menjadi saksi perjuangan di setiap masa
Harap cemas menggelayut di hati
Adakah hasil setara dengan bakti?
Namun yakin akan proses suci
Menyemai ilmu dengan sepenuh hati
Raport, bukan hanya angka semata
Tapi perjalanan yang penuh makna
Di sana ada suka dan duka
Mengukir jejak di setiap langkah kita
Biarpun hasil tak selalu sempurna
Tetap syukur dan bangga
Karena belajar adalah harta
Yang akan berbuah di masa yang tiba
Jum’at Literasi, 14 Juni 2024
Oleh : Saidah Nuraini Hasanah, S.Pd
HARAPAN
Lalu menjadi apa? Sambil berkaca melihat pantulan tubuh
yang mungil.
Tersadar, dalam hening.
Dengan nilai raport yang tidak pernah rangking dan tak punya
skill.
Sambil berkeliling dan melihat rumah kecil dan dua tubuh
orang tua yang sudah renta
hanya bertahan hidup dari sawah yang tak seberapa
Apakah masih ada kesempatan untukku untuk keluar dari
kemiskinan ini?
Sambil menangis tersedu dan ada rasa sakit dalam kalbu.
Berjuang sejak dini, yakin akan berubah.
Dalam kegelisahan hati masih ada harapan
Dalam kegelapan yakin masih ada cahaya kehidupan
Sedih kan berlalu, sakit kan sembuh seiring waktu.
Ketika sampai waktunya, semua ku yakin
Akan indah dan berakhir bahagia
Jum'at Literasi, 9 Agustus 2024
Oleh : Sofyanto Tri Sunarto, S.Kom
DILEMA SEORANG AYAH
Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang ayah bernama Budi
yang bekerja sebagai petani. Budi adalah sosok yang sangat
dihormati oleh keluarganya, termasuk oleh anaknya yang
bernama Rani, seorang gadis pintar yang baru saja lulus dari
sekolah menengah. Rani mendapatkan beasiswa untuk
melanjutkan pendidikan di sebuah universitas ternama di kota
besar, sebuah kesempatan yang jarang diperoleh bagi anak-
anak desa.
Namun, Budi menghadapi dilema besar. Sebagai tulang
punggung keluarga, Budi harus memutuskan antara
mendukung impian Rani untuk melanjutkan pendidikan atau
mempertahankannya di desa untuk membantu keluarga dan
meneruskan tradisi bertani yang telah dijalankan turun-
temurun.
Di satu sisi, Budi ingin Rani meraih impiannya dan
mendapatkan pendidikan terbaik. Dia tahu bahwa pendidikan
akan membuka pintu peluang yang lebih baik bagi Rani.
Namun, di sisi lain, Budi khawatir kehilangan bantuan Rani
dalam mengelola ladang dan merasa berat hati jika Rani harus
jauh darinya.
Setiap malam, Budi merenung di teras rumah, memikirkan
keputusan yang harus diambilnya. Dia teringat akan kata-kata
almarhum ayahnya yang selalu berkata bahwa pendidikan
adalah kunci masa depan. Budi pun mengingat semangat Rani
saat bercerita tentang mimpinya menjadi seorang dokter yang
bisa membantu masyarakat desa.
Akhirnya, dengan berat hati namun penuh keyakinan, Budi
memutuskan untuk merelakan Rani pergi ke kota dan
mengejar impiannya. Dia menyadari bahwa demi masa depan
Rani yang lebih baik, dia harus melepaskan sebagian dari
keinginannya sendiri.
Saat hari keberangkatan tiba, Budi memberi Rani bekal
berupa doa dan pesan untuk tidak melupakan asal usulnya.
“Pergilah dan raihlah cita-citamu, Nak. Jadilah dokter yang
baik dan pulanglah suatu hari nanti untuk membantu desa
kita,” kata Budi dengan mata berkaca-kaca.
Keputusan Budi ternyata membuahkan hasil. Bertahun-tahun
kemudian, Rani berhasil meraih gelar dokter dan kembali ke
desa untuk membuka klinik kesehatan yang sangat dibutuhkan
masyarakat. Rani selalu mengingat pengorbanan ayahnya dan
bertekad untuk memenuhi janjinya untuk membangun desa.
Jumat Literasi, 16 Agustus 2024
Oleh : Ahmad Hadi Mashari, S.Kom.
DI TENGAH GELOMBANG TEKNOLOGI
Andi, seorang siswa di pinggiran kota, duduk depan
laptop bekasnya. Dengan sinyal internet yang sering putus, ia
berusaha menyelesaikan tugas sekolah. Di era modernisasi,
teknologi menjadi penentu kemajuan, tetapi bagi Andi,
teknologi juga membawa tantangan besar.
Setiap hari, Andi harus membantu orang tuanya di
sawah sebelum berjuang mencari sinyal internet untuk belajar.
Tidak seperti teman-temannya yang mudah mengakses
informasi, Andi harus berusaha lebih keras, seringkali belajar
di warung kopi yang memiliki wifi. Meskipun begitu, ia tidak
pernah menyerah.
Ketika sekolah mengumumkan ujian online, Andi
merasa cemas. Namun, dengan tekad kuat, ia melatih diri
untuk menghadapi ujian tersebut. Pada hari ujian, meski
sinyal internet sempat hilang, Andi berhasil menyelesaikan
soal-soal dengan baik.
Beberapa hari kemudian, hasil ujian diumumkan.
Andi terkejut dan bangga saat namanya disebut sebagai salah
satu yang terbaik. Di era modern ini, Andi belajar bahwa
kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga
oleh ketangguhan dan semangat pantang menyerah.
Jumat Literasi, 23 Agustus 2024
Oleh : Muhammad Zainul Anwar, S.Kom
SECARIK KERTAS UNTUK PENDIDIKAN
Secarik kertas, berwarna putih bersih,
Menyimpan harapan di setiap helai,
Tempat pena menari, menulis cita,
Menyemai ilmu, menyuburkan jiwa.
Di atasnya, kata-kata bercahaya,
Menyambut pikiran yang haus pengetahuan,
Menjadi jembatan antara mimpi dan nyata,
Menuntun langkah ke arah kebijaksanaan.
Tiada batas, tiada rintangan,
Kertas ini seperti kanvas, luas dan kosong,
Menampung segala ajaran, dan inspirasi,
Membuka pintu ke dunia yang penuh warna.
Setiap goresan, adalah jejak perjuangan,
Menyalakan semangat dalam belajar,
Kertas ini saksi bisu perjalanan,
Mencetak masa depan melalui pendidikan.
Di ujung setiap lembar, ada harapan baru,
Untuk anak-anak bangsa, untuk generasi mendatang,
Semoga secarik kertas ini tak pernah pudar,
Menjadi cahaya dalam perjalanan ilmu.
Jum'at Literasi, 30 Agustus 2024
Oleh : Dina Absari P , S.Pd
IBU BAPAK
Mata nanar menatap wajah itu...
Guratan garis semakin jelas padanya...
Hitam legam rambutmu diputihkan cinta...
Dan yang dua lah yang mulai menua...
Mengapa bisa secepat ini?
Ribuan langkah dan peluhmu...
Segala lika likumu...
Setiap baik buruk itu, tetaplah menjadi aku...
Basuhlah sudah lelahmu juga penatmu itu...!
Aku siap mencicipi kepedihan...!
Mari butakan mata...
Dan biarkan telinga menjadi tuli...
Cukup hati yang semakin peka...
Dan bagimu layak bahagia...
Usai sudah kerut di dahi mu itu...
Hilang berganti guratan wajah nan ceria...
Ibu Bapak, usiamu memang tak lagi muda...
Namun, paruh baya itu adalah alasan mengapa diri ini
tercipta...
Mengarungi biduk rumah tangga, tak disangka masih ada
harap kehadirannya...
Segala daya dan upaya masih terukir dengan tulus...
Tuhan...
Rendahkanlah suaraku untuk mereka...
Rendahkan pula ucapanku di depan mereka...
Biarkan emosiku melunak terhadap mereka...
Dan lembutkan hatiku pada mereka...
Karena di ujung dewasa ini...
Aku tetaplah bayi bayi mungil mereka...
Jum'at Literasi
Oleh : Ahmad Hadi Mashuri, S.Kom.
BAYANGAN DI LAYAR
Tika termenung di depan laptopnya, layar memantulkan
wajahnya yang letih. Sudah tiga hari ia mengerjakan proyek
kecerdasan buatan untuk lomba teknologi tingkat nasional.
Aplikasi yang ia buat, bernama Nira, dirancang untuk
mendeteksi emosi melalui suara. Ide itu terinspirasi dari
sahabatnya, Dika, yang sulit mengungkapkan perasaannya
setelah kehilangan ibunya setahun lalu.
"Kalau aku bisa tahu apa yang kamu rasakan tanpa harus
bertanya, mungkin aku bisa membantu," ujar Tika saat
mereka berbincang di taman kampus beberapa bulan lalu.
Namun, proses menciptakan Nira tidak semudah
bayangannya. Setiap kali ia mencoba menguji programnya,
hasilnya tidak akurat. Suara yang seharusnya menunjukkan
kesedihan justru terbaca sebagai netral, sementara emosi
gembira terdeteksi sebagai kemarahan.
Di tengah keputusasaan, Tika membuka pesan dari Dika.
"Bagaimana perkembangan Nira?" tanyanya.
Tika membalas singkat, "Masih bermasalah."
Dika membalas dengan cepat, "Aku percaya kamu bisa."
Tika tersenyum kecil. Pesan singkat itu memberikan energi
baru. Ia memutuskan untuk menganalisis ulang algoritma
Nira. Sepanjang malam, ia memutar berbagai rekaman suara,
membandingkan pola frekuensi, dan mengoreksi kode.
Ketika matahari terbit, Tika akhirnya menyelesaikan uji coba
terakhir. Ia memutar suara seorang anak yang menangis, dan
Nira berhasil mendeteksi emosi sedih dengan akurat. Tika
melonjak kegirangan.
Hari perlombaan tiba. Aula kampus penuh dengan peserta lain
yang membawa inovasi canggih, dari robot otomatis hingga
aplikasi pengelola kota pintar. Tika merasa kecil
dibandingkan mereka, tetapi ia tetap maju.
Ketika gilirannya tiba, ia mempresentasikan Nira. Ia
menjelaskan konsep dan proses pembuatannya. "Aplikasi ini
dirancang untuk membantu individu yang sulit
mengekspresikan emosi mereka, sehingga kita bisa
memahami dan mendukung mereka dengan lebih baik,"
ucapnya di akhir presentasi.
Juri meminta demonstrasi. Tika memutar rekaman suara
seseorang yang berbicara dengan nada marah, dan Nira
mendeteksi emosi itu dengan tepat. Namun, saat ia memutar
rekaman suara Dika yang ia ambil diam-diam—suara yang
penuh keraguan dan kelelahan—Nira memberikan hasil yang
mengejutkan: Rasa bersalah.
Tika terdiam. Ia tidak pernah menyadari bahwa sahabatnya
menyimpan emosi itu. Setelah selesai, Tika menerima tepuk
tangan meriah.
Meski tak memenangkan juara pertama, pengalaman itu
membuka matanya. Setelah lomba, ia menemui Dika di taman
kampus.
"Aku ingin tanya sesuatu," ucap Tika.
Dika mengangkat alis. "Tentang apa?"
"Suara kamu. Kenapa rasa bersalah?"
Dika terdiam, lalu tersenyum kecil. "Aku merasa bersalah
karena selama ini selalu menyulitkanmu. Aku tahu kamu
sibuk, tapi aku tetap mengandalkanmu untuk hal-hal kecil."
Tika terkejut. "Kamu nggak pernah menyulitkanku. Justru
karena kamu, aku menciptakan Nira. Kamu menginspirasiku."
Dika tersenyum lega. "Terima kasih, Tika."
Sejak itu, Tika dan Dika tidak hanya memperbaiki hubungan
mereka, tetapi juga bekerja sama untuk mengembangkan Nira
menjadi aplikasi yang lebih baik. Mereka percaya, teknologi
tidak hanya alat, tetapi juga jembatan untuk memahami
manusia lebih dalam.
Jum'at Literasi
Oleh : Jeffi Mukhdor Lutfi, S.Pd.
PENUTUP YANG TERBUKA
Di sebuah pantai kecil yang tersembunyi dari keramaian
dunia, seorang lelaki tua bernama Surya duduk di atas
batu karang. Di depannya, gelombang laut menggulung
perlahan, meninggalkan jejak-jejak buih di atas pasir. Di
tangannya ada tongkat kayu yang sering ia gunakan
untuk menggambar sesuatu di pasir, meskipun ombak
selalu menghapusnya.
Suatu hari, seorang pemudi bernama Bunga datang ke
pantai itu. Ia sedang mencari tempat untuk merenung
setelah merasa hidupnya hampa. Dunia yang ia jalani
terasa seperti rutinitas tanpa makna. Di ujung pantai, ia
melihat Surya menggambar lingkaran besar di atas pasir.
"Pak, apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Bunga,
mendekat.
Surya tersenyum tanpa menoleh. "Aku sedang
menggambar waktu."
Bunga mengerutkan dahi. "Waktu? Bukankah itu sesuatu
yang tidak bisa digambarkan?"
Surya menunjuk lingkaran itu dengan tongkatnya.
"Lihatlah. Lingkaran ini menggambarkan bagaimana
waktu tidak pernah berakhir. Ia berputar tanpa henti,
mengulang cerita yang sama dalam wujud berbeda. Tapi
lihat juga, apa yang terjadi ketika ombak datang?"
Ombak kecil menggulung dan menghapus sebagian
lingkaran itu.
"Waktu terus ada, tapi jejaknya hilang," ujar Surya.
Bunga termenung. "Tapi apa gunanya menggambar
sesuatu yang pasti akan hilang?"
Surya menatap pemudi itu. "Apa gunanya hidup jika kita
tahu pada akhirnya kita akan mati?"
Pertanyaan itu menusuk Bunga. Ia terdiam, mencoba
meresapi maknanya.
Bunga akhirnya duduk di samping Surya, menatap laut
yang tak bertepi. "Saya merasa hidup saya seperti pasir
ini, Pak. Setiap kali saya mencoba membangun sesuatu,
semuanya hilang begitu saja. Tidak ada yang bertahan."
Surya tersenyum tipis. "Apakah kamu tahu perbedaan
pasir dan batu karang?"
Bunga menggeleng.
"Pasir, meski mudah tergulung ombak, selalu kembali. Ia
menjadi dasar bagi semuanya—laut, pantai, kehidupan di
sekitarnya. Sedangkan batu karang, meski kokoh,
perlahan akan terkikis oleh waktu. Pilihlah, Bunga, kamu
ingin jadi pasir atau batu karang?"
Pertanyaan itu membuat Bunga terdiam lagi. "Tapi
bagaimana bisa saya memilih? Bukankah kita hanya
berjalan di atas garis yang sudah ditentukan waktu?"
Surya menggeleng perlahan. "Kita semua adalah jejak
yang berjalan di pasir waktu. Tapi, kita yang memilih ke
mana jejak itu menuju."
Jejak yang Tak Terhapus
Bunga mulai sering datang ke pantai itu, berbicara
dengan Surya tentang banyak hal—tentang kehidupan,
kehilangan, dan cita-cita yang terasa hampa. Suatu hari,
Surya memberikan sebuah tantangan.
"Jika kamu merasa hidupmu tidak berarti, buatlah
sesuatu yang tak akan terhapus, meski oleh waktu."
Bunga bingung. "Bagaimana caranya? Semua yang kita
buat pasti akan lenyap."
Surya tersenyum, seperti biasa. "Cari jawabannya
sendiri. Tapi ingat, sesuatu yang abadi bukan berarti
tidak berubah."
Hari-hari berikutnya, Bunga mencoba berbagai hal. Ia
menulis puisi di atas pasir, berharap bisa menciptakan
sesuatu yang indah. Tapi setiap kali ombak datang, puisi
itu hilang. Ia membangun menara kecil dari batu, tapi
angin dan gelombang menghancurkannya.
Suatu sore, saat ia hampir menyerah, ia melihat seorang
anak kecil menangis di tepi pantai. Anak itu kehilangan
mainannya yang hanyut terbawa ombak. Bunga
mendekat dan membantu mencarikan mainan itu,
meskipun ia tahu mungkin sudah hilang. Setelah
beberapa saat, ia menemukan potongan kayu kecil yang
mirip mainan itu dan memberikannya kepada anak itu.
Anak itu tersenyum lebar, matanya berbinar. "Terima
kasih, Kak!"
Saat itulah Bunga menyadari sesuatu.
Keesokan harinya, Bunga kembali menemui Surya.
"Saya pikir saya tahu jawabannya, Pak."
Surya menatapnya dengan mata penuh rasa ingin tahu.
"Sesuatu yang abadi bukanlah apa yang kita buat, tetapi
dampak dari apa yang kita lakukan. Senyum anak kecil
itu akan bertahan lebih lama daripada puisi di pasir atau
menara batu. Apa yang kita tinggalkan dalam hati orang
lain adalah jejak yang tak akan terhapus."
Surya tertawa kecil, lalu mengangguk. "Kamu mulai
memahami. Hidup bukan tentang melawan ombak, tapi
tentang berjalan bersama mereka, meninggalkan jejak
yang bermakna."
Bunga mengangguk perlahan. Ia menyadari bahwa
meskipun hidup terasa fana, ada keabadian dalam
makna.
Beberapa bulan kemudian, Surya tidak lagi terlihat di
pantai itu. Orang-orang mengatakan lelaki tua itu telah
pergi, mungkin ke dunia lain. Tapi di hati Bunga, Surya
tetap hidup. Kata-katanya terus membimbing Bunga
untuk menemukan makna dalam setiap langkah yang ia
ambil.
Bunga kini menjadi "Surya" bagi orang lain—
menginspirasi, membantu, dan menciptakan jejak-jejak
kecil yang abadi di hati mereka yang ditemuinya.
Jejak di pasir mungkin akan hilang, tapi makna dari jejak
itu akan terus hidup, seperti laut yang selalu kembali
menyentuh pantai, tanpa akhir.
Jum'at Literasi
Oleh : Galuh Januar Hadi Saputro, S.Pd.
SECANGKIR KOPI DAN SEBUAH BENDERA
Di sebuah warung kopi kecil di kaki gunung, seorang
lelaki tua bernama Pak Jaka duduk di sudut, menyesap
kopi hitamnya. Di dinding warung itu tergantung sebuah
bendera merah putih yang warnanya mulai pudar.
Warung itu sederhana, hanya memiliki lima meja kayu
dan beberapa bangku panjang. Namun, tempat ini selalu
ramai karena cerita-cerita Pak Jaka yang penuh makna.
Hari itu, seorang pemuda bernama Arga memasuki
warung. Ia baru kembali dari kota besar setelah beberapa
tahun bekerja. Sambil menyerahkan uang untuk
secangkir kopi, ia menyapa Pak Jaka.
"Pak Jaka, warung ini masih seperti dulu. Tapi kenapa
bendera itu tidak diganti? Sudah pudar, bahkan hampir
robek."
Pak Jaka tersenyum tipis. "Bendera ini punya cerita. Kau
ingin tahu?"
Arga mengangguk, tertarik. Ia membawa cangkir
kopinya dan duduk di depan Pak Jaka.
Pak Jaka memulai cerita. "Ini bukan sembarang bendera.
Tahun 1948, saat aku masih seusiamu, desa kita pernah
hampir dilanda perang saudara. Warga desa terpecah
karena perbedaan pandangan. Ada yang mendukung
kelompok tertentu, ada yang menolak. Akibatnya,
tetangga saling curiga, bahkan saling bermusuhan."
Pak Jaka menghela napas, seolah mengingat masa-masa
kelam itu.
"Suatu malam, sebuah kelompok datang ke desa ini.
Mereka membakar rumah dan memaksa penduduk
memilih pihak mereka. Aku ingat betul saat itu, aku
ingin lari. Tapi kakekku berkata, 'Kalau kau lari, siapa
yang akan menjaga rumah ini? Siapa yang akan menjaga
bendera itu?' Ia menunjuk bendera ini, yang saat itu
berkibar di tiang bambu di depan rumah kami."
Pak Jaka menyesap kopinya sebentar sebelum
melanjutkan. "Aku tidak mengerti apa yang dimaksud
kakekku, tapi aku tidak bisa meninggalkannya. Ketika
kelompok itu tiba di rumah kami, kakekku berdiri tegak
di depan mereka. Ia berkata, 'Di sini, kita hanya punya
satu bendera, merah putih. Kita tidak memilih sisi lain.'
Aku ingat jelas wajah pemimpin kelompok itu. Ia marah,
tapi juga kagum. Kakekku berhasil menenangkan mereka
dengan kata-katanya."
Arga terdiam. "Jadi, bendera itu simbol keberanian
kakek Anda?"
Pak Jaka mengangguk. "Lebih dari itu. Bendera ini
mengingatkan kita bahwa perbedaan bukan alasan untuk
saling bermusuhan. Kita semua tetap satu, Indonesia."
Pak Jaka lalu menatap Arga. "Bagaimana denganmu,
Nak? Kau baru pulang dari kota besar, pasti banyak
cerita."
Arga menghela napas. "Kota besar tidak seperti desa,
Pak. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing.
Bahkan teman-teman saya sering ribut hanya karena
perbedaan kecil—politik, agama, bahkan hal sepele
seperti tim sepak bola."
Pak Jaka tertawa kecil. "Itu karena mereka lupa pada
satu hal penting: musyawarah. Kita hidup di negeri yang
punya lima prinsip untuk bersatu. Kau ingat Pancasila,
bukan?"
Arga mengangguk ragu. "Tentu, Pak. Tapi Pancasila
rasanya hanya sekadar hafalan sekarang. Orang-orang
tidak benar-benar mempraktikkannya."
Pak Jaka tersenyum lebar. "Itu sebabnya kau harus
memulai. Kalau kau mengeluh tentang orang lain, kapan
kau akan jadi teladan?"
Arga termenung mendengar ucapan Pak Jaka. Ia teringat
bagaimana ia sendiri sering terlibat dalam debat tak
berarti di media sosial, memaksakan pendapat tanpa
mendengarkan orang lain.
"Pak Jaka, menurut Anda, bagaimana caranya
menghidupkan nilai-nilai Pancasila di zaman sekarang?"
tanya Arga akhirnya.
Pak Jaka mengambil tongkatnya dan menunjuk bendera
itu. "Kau tidak perlu menjadi pahlawan besar untuk
mempraktikkan Pancasila. Mulailah dari hal kecil. Ingat
Sila pertama: 'Ketuhanan yang Maha Esa'. Hormati
keyakinan orang lain. Lalu Sila kedua: 'Kemanusiaan
yang Adil dan Beradab'. Jangan pernah berpikir kau
lebih baik dari orang lain hanya karena perbedaan. Sila
ketiga mengajarkan kita untuk menjaga persatuan, meski
berbeda suku atau bahasa."
Pak Jaka menyesap kopinya lagi. "Dan jangan lupa Sila
keempat: 'Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan'.
Dengarkan pendapat orang lain sebelum memutuskan
sesuatu. Terakhir, Sila kelima: 'Keadilan Sosial bagi
Seluruh Rakyat Indonesia'. Jangan hanya pikirkan dirimu
sendiri. Bantu mereka yang membutuhkan."
Arga terkesima mendengar penjelasan itu. "Pak Jaka,
Anda benar. Semua itu sederhana, tapi sulit dilakukan
jika kita tidak memulainya dari diri sendiri."
Sejak hari itu, Arga sering datang ke warung kopi Pak
Jaka. Ia tidak hanya menikmati kopi, tetapi juga belajar
dari cerita-cerita dan nasihat bijak lelaki tua itu.
Perlahan, Arga mulai mengubah caranya bersikap. Ia
belajar mendengarkan, menghormati perbedaan, dan
membantu orang lain tanpa pamrih.
Suatu hari, saat Arga sedang duduk di warung, seorang
wisatawan asing masuk. Wisatawan itu mencoba
berbicara dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata,
meminta segelas kopi. Beberapa pengunjung lain
menertawakannya, tapi Arga segera mendekat dan
membantu. Ia berbicara dengan bahasa Inggris
sederhana, membuat wisatawan itu merasa nyaman.
Pak Jaka tersenyum dari sudut ruangan, melihat
perubahan dalam diri Arga.
Beberapa tahun kemudian, Pak Jaka meninggal dunia.
Warung kecil itu ditutup, tetapi bendera merah putih
yang tergantung di sana disimpan oleh Arga sebagai
kenang-kenangan.
Arga kemudian membuka sebuah komunitas pemuda di
desanya, mengajarkan nilai-nilai Pancasila melalui aksi
nyata: gotong royong, diskusi damai, dan bantuan sosial.
Ia percaya, semangat yang pernah diajarkan Pak Jaka
tidak boleh padam.
Di setiap pertemuan komunitas, bendera merah putih itu
selalu hadir, mengingatkan mereka akan cerita tentang
keberanian, persatuan, dan makna sejati dari menjadi
seorang warga negara Indonesia.
Bagi Arga, secangkir kopi dan sebuah bendera telah
mengubah hidupnya. Ia sadar, menjadi seorang
pancasilais tidak berarti harus membuat perubahan besar
di dunia, tetapi cukup memulai dari tindakan kecil yang
bermakna. Karena pada akhirnya, seperti yang selalu
dikatakan Pak Jaka, "Kita adalah Indonesia, selama kita
tidak lupa untuk menjadi manusia yang saling menjaga."