0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan35 halaman

Jumat Literasi Sastra

Dokumen ini berisi serangkaian karya sastra yang menggambarkan perjalanan hidup, harapan, dan tantangan yang dihadapi berbagai karakter, mulai dari seorang anak pedagang kaki lima hingga seorang ayah yang menghadapi dilema antara mendukung impian anaknya atau mempertahankannya di desa. Setiap karya menyoroti tema pendidikan, perjuangan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Melalui narasi yang emosional, penulis mengajak pembaca merenungkan arti dari usaha dan pengorbanan dalam mencapai cita-cita.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan35 halaman

Jumat Literasi Sastra

Dokumen ini berisi serangkaian karya sastra yang menggambarkan perjalanan hidup, harapan, dan tantangan yang dihadapi berbagai karakter, mulai dari seorang anak pedagang kaki lima hingga seorang ayah yang menghadapi dilema antara mendukung impian anaknya atau mempertahankannya di desa. Setiap karya menyoroti tema pendidikan, perjuangan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Melalui narasi yang emosional, penulis mengajak pembaca merenungkan arti dari usaha dan pengorbanan dalam mencapai cita-cita.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jum'at Literasi, 31 Mei 2024

Oleh Nurul Khotimah

JAWABAN DARI SEBUAH TANYA

Bisik menelisik lamunan lampau

Mengandai ruang jauh berdesik

Adakah seruan ramai menyeruak

Berbalas aral menjadi terpendar

Sudah,

Lewat sudah

Sampailah harap dalam pulasnya

Meracau pun dalam hanya sekadar


Kini dapat kau sangkalkan semuanya

Bahwa adanya sebuah jawaban

Menjadikan setiap rasa sangat terasa

Kiranya nampak menjadi-jadi

Bergemuruh makin menggaduh

Sebatas ulang terus mengulang

Hanya menjadi namun tak terjadi

Pada akhirnya

Menepiskan batas yang tak terbatas

Enggan membendung yang kian terbendung


Jum'at Literasi, 7 Juni 2024

Oleh: Rif'an Al-Fikri, S. Pd., Gr.

DETEKTIF BERBAJU PUTIH

Sebilah pena telah menggores doa

Pada selembar impian

Digantung kuat di jarum jam

yang tiap detik bergerak dan berputar

Mencari beberapa pasang nilai di atas bangku lusuh

Penuh goresan tinta itu

Ia menoleh dan mengintai

Sambil sesekali memetik angin di kerah baju putihnya

Selaksa detektif yang sedang mencari jawaban

Lalu batuk beberapa kali

Memberi kode untuk teman detektifnya yang lain

Kalau ketahuan musuh, akan pura-pura mencari angin lagi


sambil kesurupan
Memang detektif akan selalu bersembunyi

Mengintai dan mencari

Jawaban berbagai persoalan yang dihadapinya

Namun detektif bukanlah sebuah identitas

Ia hanya entitas

yang bertaruh dengan selembar kertas penuh pertanyaan

Memenuhi baju putihnya

PAT 2024
Jum'at Literasi, 7 Juni 2024

Oleh: Nuril Hikmah, S. Pd

MIMPI ANAK PEDAGANG KAKI LIMA

Teeeth….teeeth….lamunanku buyar saat mendengar bel


sekolah berbunyi. Aku bergegas meninggalkan taman sekolah
untuk segera menuju ke kelas. Taman sekolah merupakan
salah satu tempat favoritku. Di taman ini aku bisa bebas
meluapkan penat yang aku rasakan. Yah….meskipun tak
jarang banyak anak-anak melihatku sebelah mata yang
mengatakan aku anak aneh. Karena di taman ini aku senang
bercerita pada rumput-rumput, bunga yang ada di taman
bahkan terkadang sama kucing yang berkeliaran di sekitar
sini. Aku merasa lebih senang bercerita dengan yang ada
disekitar taman ini disbanding bercerita dengan teman-
temanku di kelas.

Teman-temanku sering memandangku sebelah mata karena


kondisi ekonomi orang tuaku yang mungkin tidak setara
dengan ekonomi orang tua mereka. Di sekolah aku tak banyak
mempunyai teman yang akrab denganku. Sekolahku bisa
dibilang sekolah elit yang kebanyakan siswanya membawa
roda empat. Meskipun begitu aku tetap tidak merasa minder
walau aku hanya bisa membawa sepeda butut. Bagiku sepeda
butut ini sudah sangat berarti, karena sepeda bututku bisa
mengantarku kemana saja yang aku ingnkan. Aku masuk
sekolah ini memng tidak mudah. Melihat kondisi ekonomi
orang tuaku mungkin tak mampu untuk membayarkan spp
yang setara mencicil sepeda motor. Aku masuk sekolah ini
lewat jalur prestasi. Dan aku bangga bisa masuk sekolah elit
lewat jalur pretasi.

Tak jarang teman-temanku sering mencemoohku karena


kondisi ekonomi orang tuaku yang pas-pas an. Aku sempat
berpikir untuk berhenti sekolah. Terlalu sering aku mendapat
bully an dari teman-temanku yang membuatku patah
semangat belajar. Hampir setiap hari aku diejek sama teman-
temanku. “ woooy…. Anak orang miskin, tak pantas kamu
sekolah di sini. Sekolah ini bukan tempat orang penampungan
yang ingin sekolah gratis. Ingat ini sekolah elit. Tak pantas
anak seorang pedagang asongan kayak kamu sekolah di sini.
Kamu itu cocoknya sekolah diperkampungan yang kumuh.
Baju yang kau pakai saja dekil. Kata- kata itu hampir seiap
hari dilontarkan teman-temanku. Aku setiap hari menangis di
sekolah. Terlalu kejam dan pahit olok-olokan yang mereka
lontorkan padaku. Disaat aku perpuruk dan putus asa untuk
tak lanjut sekolah, ada satu teman yang peduli dengan
kondisku yang selalu mensuportku untuk tetap semangat
meraih mimpiku.

Aku punya semangat lagi untuk lanjut sekolah. Karena masih


ada yang peduli denganku yang ingin melihatku sukses.
Meskipun hanya satu orang yang peduli dengankuitu
membuatku lebih dari cukup. Aku tetap bersikukuh untuk
melanjutkan meraih mimpi yang menginginkan menjadi
seorang dokter. Tak pelak hinaan, cacian, ejekan yang
dilontorkan teman-temanku setiap hari yang mengatakan
mimpiku terlalu tinggi.

Aku ingin membuktikan pada dunia dan teman-temanku,


kalau aku anak seorang pedagang asongan, anak pedagang
kaki lima bisa sukses meraih mimpi. Hari- hari pun terus
berganti, bulan-bulan juga terus berganti, dan zaman pun terus
berubah. Tak terasa tiga tahun sudah aku sekolah di SMA ter
elit di Tanggerang. Saatnya aku menantikan pengumuman
tentang kelulusan. Aku juga sudah mencoba mendaftar
kesalah satu Universitas ternama di Jakarta lewat prestasi
yang aku punya.

Pengumuman pun tiba dan aku dinyatakan lulus dengan


peringkat satu paralel di jurusanku. Tak terasa aku menitikkan
air mata terngiang ejekan temanku yang selalu mengatakan
anak pedagang asongan, anak dekil yang membuatku sakit
hati. Aku bisa membuktikan kepada mereka kalau anak
seorang pedagang asongan yang dekil bisa lulus mendapat
peringkat satu parallel yang diimpi-impikan seluruh siswa.
Kejutan lain pun mengagetkanku. Universitas ternama yang
ku coba mendaftar masuk akhirnya keluar juga hasil
pengumumannya.

Awalnya aku tak percaya akan diterima di kampus ternama


itu. Takdir berkata lain. Aku harus percaya dan menjalani
kalau aku bisa diterima di Universitas Indonesia Jurusan
Kedokteran. Tak terasa air mataku mengalir deras mendengar
pengumuman itu. Aku tak menyangka anak seorang pedagang
kaki lima sepertiku bisa sekolah SMA ter elit di Tanggerang
dan bisa diterima menjadi mahasiswa kampus idola dengan
jurusan kedokteran.

Aku membuktikan pada teman-temanku tak semua anak orang


miskin tidak bisa meraih mimpinya. Aku percaya dengan
pepatah kalau roda itu berputar. Begitupun dengan kondisiku
saat ini. Ada kalanya kita yang di bawah akan berputar berada
di atas. Karena usaha yang kita jalankan tidak akan
mengkhianati hasil. Selagi kita mau berusaha aku yakin kita
pasti bisa menjadi lebih baik lagi.
Jum’at Literasi, 14 Juni 2024

Oleh: Desi Kusumaningtiyas, S. Pd

MENANTI RAPORT

Dalam tenang pagi yang sunyi

Degup jantung menari tak henti

Menanti raport tiba di tangan

Penentu harapan dan impian

Kertas putih penuh arti

Menyimpan kisah jerih payah diri

Di balik angka-angka tak terperi

Ada usaha, doa, dan mimpi

Setiap huruf yang tertera

Menceritakan kerja keras yang tak sirna

Guratan tinta penuh makna

Menjadi saksi perjuangan di setiap masa


Harap cemas menggelayut di hati

Adakah hasil setara dengan bakti?

Namun yakin akan proses suci

Menyemai ilmu dengan sepenuh hati

Raport, bukan hanya angka semata

Tapi perjalanan yang penuh makna

Di sana ada suka dan duka

Mengukir jejak di setiap langkah kita

Biarpun hasil tak selalu sempurna

Tetap syukur dan bangga

Karena belajar adalah harta

Yang akan berbuah di masa yang tiba


Jum’at Literasi, 14 Juni 2024

Oleh : Saidah Nuraini Hasanah, S.Pd

HARAPAN

Lalu menjadi apa? Sambil berkaca melihat pantulan tubuh


yang mungil.

Tersadar, dalam hening.

Dengan nilai raport yang tidak pernah rangking dan tak punya
skill.

Sambil berkeliling dan melihat rumah kecil dan dua tubuh


orang tua yang sudah renta

hanya bertahan hidup dari sawah yang tak seberapa

Apakah masih ada kesempatan untukku untuk keluar dari


kemiskinan ini?

Sambil menangis tersedu dan ada rasa sakit dalam kalbu.

Berjuang sejak dini, yakin akan berubah.

Dalam kegelisahan hati masih ada harapan

Dalam kegelapan yakin masih ada cahaya kehidupan

Sedih kan berlalu, sakit kan sembuh seiring waktu.


Ketika sampai waktunya, semua ku yakin

Akan indah dan berakhir bahagia


Jum'at Literasi, 9 Agustus 2024

Oleh : Sofyanto Tri Sunarto, S.Kom

DILEMA SEORANG AYAH

Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang ayah bernama Budi


yang bekerja sebagai petani. Budi adalah sosok yang sangat
dihormati oleh keluarganya, termasuk oleh anaknya yang
bernama Rani, seorang gadis pintar yang baru saja lulus dari
sekolah menengah. Rani mendapatkan beasiswa untuk
melanjutkan pendidikan di sebuah universitas ternama di kota
besar, sebuah kesempatan yang jarang diperoleh bagi anak-
anak desa.

Namun, Budi menghadapi dilema besar. Sebagai tulang


punggung keluarga, Budi harus memutuskan antara
mendukung impian Rani untuk melanjutkan pendidikan atau
mempertahankannya di desa untuk membantu keluarga dan
meneruskan tradisi bertani yang telah dijalankan turun-
temurun.
Di satu sisi, Budi ingin Rani meraih impiannya dan
mendapatkan pendidikan terbaik. Dia tahu bahwa pendidikan
akan membuka pintu peluang yang lebih baik bagi Rani.
Namun, di sisi lain, Budi khawatir kehilangan bantuan Rani
dalam mengelola ladang dan merasa berat hati jika Rani harus
jauh darinya.

Setiap malam, Budi merenung di teras rumah, memikirkan


keputusan yang harus diambilnya. Dia teringat akan kata-kata
almarhum ayahnya yang selalu berkata bahwa pendidikan
adalah kunci masa depan. Budi pun mengingat semangat Rani
saat bercerita tentang mimpinya menjadi seorang dokter yang
bisa membantu masyarakat desa.

Akhirnya, dengan berat hati namun penuh keyakinan, Budi


memutuskan untuk merelakan Rani pergi ke kota dan
mengejar impiannya. Dia menyadari bahwa demi masa depan
Rani yang lebih baik, dia harus melepaskan sebagian dari
keinginannya sendiri.

Saat hari keberangkatan tiba, Budi memberi Rani bekal


berupa doa dan pesan untuk tidak melupakan asal usulnya.
“Pergilah dan raihlah cita-citamu, Nak. Jadilah dokter yang
baik dan pulanglah suatu hari nanti untuk membantu desa
kita,” kata Budi dengan mata berkaca-kaca.

Keputusan Budi ternyata membuahkan hasil. Bertahun-tahun


kemudian, Rani berhasil meraih gelar dokter dan kembali ke
desa untuk membuka klinik kesehatan yang sangat dibutuhkan
masyarakat. Rani selalu mengingat pengorbanan ayahnya dan
bertekad untuk memenuhi janjinya untuk membangun desa.
Jumat Literasi, 16 Agustus 2024

Oleh : Ahmad Hadi Mashari, S.Kom.

DI TENGAH GELOMBANG TEKNOLOGI

Andi, seorang siswa di pinggiran kota, duduk depan


laptop bekasnya. Dengan sinyal internet yang sering putus, ia
berusaha menyelesaikan tugas sekolah. Di era modernisasi,
teknologi menjadi penentu kemajuan, tetapi bagi Andi,
teknologi juga membawa tantangan besar.

Setiap hari, Andi harus membantu orang tuanya di


sawah sebelum berjuang mencari sinyal internet untuk belajar.
Tidak seperti teman-temannya yang mudah mengakses
informasi, Andi harus berusaha lebih keras, seringkali belajar
di warung kopi yang memiliki wifi. Meskipun begitu, ia tidak
pernah menyerah.

Ketika sekolah mengumumkan ujian online, Andi


merasa cemas. Namun, dengan tekad kuat, ia melatih diri
untuk menghadapi ujian tersebut. Pada hari ujian, meski
sinyal internet sempat hilang, Andi berhasil menyelesaikan
soal-soal dengan baik.

Beberapa hari kemudian, hasil ujian diumumkan.


Andi terkejut dan bangga saat namanya disebut sebagai salah
satu yang terbaik. Di era modern ini, Andi belajar bahwa
kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga
oleh ketangguhan dan semangat pantang menyerah.
Jumat Literasi, 23 Agustus 2024

Oleh : Muhammad Zainul Anwar, S.Kom

SECARIK KERTAS UNTUK PENDIDIKAN

Secarik kertas, berwarna putih bersih,

Menyimpan harapan di setiap helai,

Tempat pena menari, menulis cita,

Menyemai ilmu, menyuburkan jiwa.

Di atasnya, kata-kata bercahaya,

Menyambut pikiran yang haus pengetahuan,

Menjadi jembatan antara mimpi dan nyata,

Menuntun langkah ke arah kebijaksanaan.

Tiada batas, tiada rintangan,

Kertas ini seperti kanvas, luas dan kosong,

Menampung segala ajaran, dan inspirasi,

Membuka pintu ke dunia yang penuh warna.


Setiap goresan, adalah jejak perjuangan,

Menyalakan semangat dalam belajar,

Kertas ini saksi bisu perjalanan,

Mencetak masa depan melalui pendidikan.

Di ujung setiap lembar, ada harapan baru,

Untuk anak-anak bangsa, untuk generasi mendatang,

Semoga secarik kertas ini tak pernah pudar,

Menjadi cahaya dalam perjalanan ilmu.


Jum'at Literasi, 30 Agustus 2024

Oleh : Dina Absari P , S.Pd

IBU BAPAK

Mata nanar menatap wajah itu...

Guratan garis semakin jelas padanya...

Hitam legam rambutmu diputihkan cinta...

Dan yang dua lah yang mulai menua...

Mengapa bisa secepat ini?

Ribuan langkah dan peluhmu...

Segala lika likumu...

Setiap baik buruk itu, tetaplah menjadi aku...

Basuhlah sudah lelahmu juga penatmu itu...!

Aku siap mencicipi kepedihan...!

Mari butakan mata...

Dan biarkan telinga menjadi tuli...


Cukup hati yang semakin peka...

Dan bagimu layak bahagia...

Usai sudah kerut di dahi mu itu...

Hilang berganti guratan wajah nan ceria...

Ibu Bapak, usiamu memang tak lagi muda...

Namun, paruh baya itu adalah alasan mengapa diri ini


tercipta...

Mengarungi biduk rumah tangga, tak disangka masih ada


harap kehadirannya...

Segala daya dan upaya masih terukir dengan tulus...

Tuhan...

Rendahkanlah suaraku untuk mereka...

Rendahkan pula ucapanku di depan mereka...

Biarkan emosiku melunak terhadap mereka...

Dan lembutkan hatiku pada mereka...

Karena di ujung dewasa ini...

Aku tetaplah bayi bayi mungil mereka...


Jum'at Literasi

Oleh : Ahmad Hadi Mashuri, S.Kom.

BAYANGAN DI LAYAR

Tika termenung di depan laptopnya, layar memantulkan


wajahnya yang letih. Sudah tiga hari ia mengerjakan proyek
kecerdasan buatan untuk lomba teknologi tingkat nasional.
Aplikasi yang ia buat, bernama Nira, dirancang untuk
mendeteksi emosi melalui suara. Ide itu terinspirasi dari
sahabatnya, Dika, yang sulit mengungkapkan perasaannya
setelah kehilangan ibunya setahun lalu.

"Kalau aku bisa tahu apa yang kamu rasakan tanpa harus
bertanya, mungkin aku bisa membantu," ujar Tika saat
mereka berbincang di taman kampus beberapa bulan lalu.

Namun, proses menciptakan Nira tidak semudah


bayangannya. Setiap kali ia mencoba menguji programnya,
hasilnya tidak akurat. Suara yang seharusnya menunjukkan
kesedihan justru terbaca sebagai netral, sementara emosi
gembira terdeteksi sebagai kemarahan.
Di tengah keputusasaan, Tika membuka pesan dari Dika.
"Bagaimana perkembangan Nira?" tanyanya.

Tika membalas singkat, "Masih bermasalah."

Dika membalas dengan cepat, "Aku percaya kamu bisa."

Tika tersenyum kecil. Pesan singkat itu memberikan energi


baru. Ia memutuskan untuk menganalisis ulang algoritma
Nira. Sepanjang malam, ia memutar berbagai rekaman suara,
membandingkan pola frekuensi, dan mengoreksi kode.

Ketika matahari terbit, Tika akhirnya menyelesaikan uji coba


terakhir. Ia memutar suara seorang anak yang menangis, dan
Nira berhasil mendeteksi emosi sedih dengan akurat. Tika
melonjak kegirangan.

Hari perlombaan tiba. Aula kampus penuh dengan peserta lain


yang membawa inovasi canggih, dari robot otomatis hingga
aplikasi pengelola kota pintar. Tika merasa kecil
dibandingkan mereka, tetapi ia tetap maju.

Ketika gilirannya tiba, ia mempresentasikan Nira. Ia


menjelaskan konsep dan proses pembuatannya. "Aplikasi ini
dirancang untuk membantu individu yang sulit
mengekspresikan emosi mereka, sehingga kita bisa
memahami dan mendukung mereka dengan lebih baik,"
ucapnya di akhir presentasi.
Juri meminta demonstrasi. Tika memutar rekaman suara
seseorang yang berbicara dengan nada marah, dan Nira
mendeteksi emosi itu dengan tepat. Namun, saat ia memutar
rekaman suara Dika yang ia ambil diam-diam—suara yang
penuh keraguan dan kelelahan—Nira memberikan hasil yang
mengejutkan: Rasa bersalah.

Tika terdiam. Ia tidak pernah menyadari bahwa sahabatnya


menyimpan emosi itu. Setelah selesai, Tika menerima tepuk
tangan meriah.

Meski tak memenangkan juara pertama, pengalaman itu


membuka matanya. Setelah lomba, ia menemui Dika di taman
kampus.

"Aku ingin tanya sesuatu," ucap Tika.

Dika mengangkat alis. "Tentang apa?"

"Suara kamu. Kenapa rasa bersalah?"

Dika terdiam, lalu tersenyum kecil. "Aku merasa bersalah


karena selama ini selalu menyulitkanmu. Aku tahu kamu
sibuk, tapi aku tetap mengandalkanmu untuk hal-hal kecil."

Tika terkejut. "Kamu nggak pernah menyulitkanku. Justru


karena kamu, aku menciptakan Nira. Kamu menginspirasiku."

Dika tersenyum lega. "Terima kasih, Tika."

Sejak itu, Tika dan Dika tidak hanya memperbaiki hubungan


mereka, tetapi juga bekerja sama untuk mengembangkan Nira
menjadi aplikasi yang lebih baik. Mereka percaya, teknologi
tidak hanya alat, tetapi juga jembatan untuk memahami
manusia lebih dalam.
Jum'at Literasi

Oleh : Jeffi Mukhdor Lutfi, S.Pd.

PENUTUP YANG TERBUKA

Di sebuah pantai kecil yang tersembunyi dari keramaian


dunia, seorang lelaki tua bernama Surya duduk di atas
batu karang. Di depannya, gelombang laut menggulung
perlahan, meninggalkan jejak-jejak buih di atas pasir. Di
tangannya ada tongkat kayu yang sering ia gunakan
untuk menggambar sesuatu di pasir, meskipun ombak
selalu menghapusnya.

Suatu hari, seorang pemudi bernama Bunga datang ke


pantai itu. Ia sedang mencari tempat untuk merenung
setelah merasa hidupnya hampa. Dunia yang ia jalani
terasa seperti rutinitas tanpa makna. Di ujung pantai, ia
melihat Surya menggambar lingkaran besar di atas pasir.

"Pak, apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Bunga,


mendekat.
Surya tersenyum tanpa menoleh. "Aku sedang
menggambar waktu."

Bunga mengerutkan dahi. "Waktu? Bukankah itu sesuatu


yang tidak bisa digambarkan?"

Surya menunjuk lingkaran itu dengan tongkatnya.


"Lihatlah. Lingkaran ini menggambarkan bagaimana
waktu tidak pernah berakhir. Ia berputar tanpa henti,
mengulang cerita yang sama dalam wujud berbeda. Tapi
lihat juga, apa yang terjadi ketika ombak datang?"

Ombak kecil menggulung dan menghapus sebagian


lingkaran itu.

"Waktu terus ada, tapi jejaknya hilang," ujar Surya.

Bunga termenung. "Tapi apa gunanya menggambar


sesuatu yang pasti akan hilang?"

Surya menatap pemudi itu. "Apa gunanya hidup jika kita


tahu pada akhirnya kita akan mati?"

Pertanyaan itu menusuk Bunga. Ia terdiam, mencoba


meresapi maknanya.

Bunga akhirnya duduk di samping Surya, menatap laut


yang tak bertepi. "Saya merasa hidup saya seperti pasir
ini, Pak. Setiap kali saya mencoba membangun sesuatu,
semuanya hilang begitu saja. Tidak ada yang bertahan."
Surya tersenyum tipis. "Apakah kamu tahu perbedaan
pasir dan batu karang?"

Bunga menggeleng.

"Pasir, meski mudah tergulung ombak, selalu kembali. Ia


menjadi dasar bagi semuanya—laut, pantai, kehidupan di
sekitarnya. Sedangkan batu karang, meski kokoh,
perlahan akan terkikis oleh waktu. Pilihlah, Bunga, kamu
ingin jadi pasir atau batu karang?"

Pertanyaan itu membuat Bunga terdiam lagi. "Tapi


bagaimana bisa saya memilih? Bukankah kita hanya
berjalan di atas garis yang sudah ditentukan waktu?"

Surya menggeleng perlahan. "Kita semua adalah jejak


yang berjalan di pasir waktu. Tapi, kita yang memilih ke
mana jejak itu menuju."

Jejak yang Tak Terhapus

Bunga mulai sering datang ke pantai itu, berbicara


dengan Surya tentang banyak hal—tentang kehidupan,
kehilangan, dan cita-cita yang terasa hampa. Suatu hari,
Surya memberikan sebuah tantangan.

"Jika kamu merasa hidupmu tidak berarti, buatlah


sesuatu yang tak akan terhapus, meski oleh waktu."

Bunga bingung. "Bagaimana caranya? Semua yang kita


buat pasti akan lenyap."
Surya tersenyum, seperti biasa. "Cari jawabannya
sendiri. Tapi ingat, sesuatu yang abadi bukan berarti
tidak berubah."

Hari-hari berikutnya, Bunga mencoba berbagai hal. Ia


menulis puisi di atas pasir, berharap bisa menciptakan
sesuatu yang indah. Tapi setiap kali ombak datang, puisi
itu hilang. Ia membangun menara kecil dari batu, tapi
angin dan gelombang menghancurkannya.

Suatu sore, saat ia hampir menyerah, ia melihat seorang


anak kecil menangis di tepi pantai. Anak itu kehilangan
mainannya yang hanyut terbawa ombak. Bunga
mendekat dan membantu mencarikan mainan itu,
meskipun ia tahu mungkin sudah hilang. Setelah
beberapa saat, ia menemukan potongan kayu kecil yang
mirip mainan itu dan memberikannya kepada anak itu.

Anak itu tersenyum lebar, matanya berbinar. "Terima


kasih, Kak!"

Saat itulah Bunga menyadari sesuatu.

Keesokan harinya, Bunga kembali menemui Surya.


"Saya pikir saya tahu jawabannya, Pak."

Surya menatapnya dengan mata penuh rasa ingin tahu.

"Sesuatu yang abadi bukanlah apa yang kita buat, tetapi


dampak dari apa yang kita lakukan. Senyum anak kecil
itu akan bertahan lebih lama daripada puisi di pasir atau
menara batu. Apa yang kita tinggalkan dalam hati orang
lain adalah jejak yang tak akan terhapus."

Surya tertawa kecil, lalu mengangguk. "Kamu mulai


memahami. Hidup bukan tentang melawan ombak, tapi
tentang berjalan bersama mereka, meninggalkan jejak
yang bermakna."

Bunga mengangguk perlahan. Ia menyadari bahwa


meskipun hidup terasa fana, ada keabadian dalam
makna.

Beberapa bulan kemudian, Surya tidak lagi terlihat di


pantai itu. Orang-orang mengatakan lelaki tua itu telah
pergi, mungkin ke dunia lain. Tapi di hati Bunga, Surya
tetap hidup. Kata-katanya terus membimbing Bunga
untuk menemukan makna dalam setiap langkah yang ia
ambil.

Bunga kini menjadi "Surya" bagi orang lain—


menginspirasi, membantu, dan menciptakan jejak-jejak
kecil yang abadi di hati mereka yang ditemuinya.

Jejak di pasir mungkin akan hilang, tapi makna dari jejak


itu akan terus hidup, seperti laut yang selalu kembali
menyentuh pantai, tanpa akhir.
Jum'at Literasi

Oleh : Galuh Januar Hadi Saputro, S.Pd.

SECANGKIR KOPI DAN SEBUAH BENDERA

Di sebuah warung kopi kecil di kaki gunung, seorang


lelaki tua bernama Pak Jaka duduk di sudut, menyesap
kopi hitamnya. Di dinding warung itu tergantung sebuah
bendera merah putih yang warnanya mulai pudar.
Warung itu sederhana, hanya memiliki lima meja kayu
dan beberapa bangku panjang. Namun, tempat ini selalu
ramai karena cerita-cerita Pak Jaka yang penuh makna.

Hari itu, seorang pemuda bernama Arga memasuki


warung. Ia baru kembali dari kota besar setelah beberapa
tahun bekerja. Sambil menyerahkan uang untuk
secangkir kopi, ia menyapa Pak Jaka.

"Pak Jaka, warung ini masih seperti dulu. Tapi kenapa


bendera itu tidak diganti? Sudah pudar, bahkan hampir
robek."
Pak Jaka tersenyum tipis. "Bendera ini punya cerita. Kau
ingin tahu?"

Arga mengangguk, tertarik. Ia membawa cangkir


kopinya dan duduk di depan Pak Jaka.

Pak Jaka memulai cerita. "Ini bukan sembarang bendera.


Tahun 1948, saat aku masih seusiamu, desa kita pernah
hampir dilanda perang saudara. Warga desa terpecah
karena perbedaan pandangan. Ada yang mendukung
kelompok tertentu, ada yang menolak. Akibatnya,
tetangga saling curiga, bahkan saling bermusuhan."

Pak Jaka menghela napas, seolah mengingat masa-masa


kelam itu.

"Suatu malam, sebuah kelompok datang ke desa ini.


Mereka membakar rumah dan memaksa penduduk
memilih pihak mereka. Aku ingat betul saat itu, aku
ingin lari. Tapi kakekku berkata, 'Kalau kau lari, siapa
yang akan menjaga rumah ini? Siapa yang akan menjaga
bendera itu?' Ia menunjuk bendera ini, yang saat itu
berkibar di tiang bambu di depan rumah kami."

Pak Jaka menyesap kopinya sebentar sebelum


melanjutkan. "Aku tidak mengerti apa yang dimaksud
kakekku, tapi aku tidak bisa meninggalkannya. Ketika
kelompok itu tiba di rumah kami, kakekku berdiri tegak
di depan mereka. Ia berkata, 'Di sini, kita hanya punya
satu bendera, merah putih. Kita tidak memilih sisi lain.'
Aku ingat jelas wajah pemimpin kelompok itu. Ia marah,
tapi juga kagum. Kakekku berhasil menenangkan mereka
dengan kata-katanya."

Arga terdiam. "Jadi, bendera itu simbol keberanian


kakek Anda?"

Pak Jaka mengangguk. "Lebih dari itu. Bendera ini


mengingatkan kita bahwa perbedaan bukan alasan untuk
saling bermusuhan. Kita semua tetap satu, Indonesia."

Pak Jaka lalu menatap Arga. "Bagaimana denganmu,


Nak? Kau baru pulang dari kota besar, pasti banyak
cerita."

Arga menghela napas. "Kota besar tidak seperti desa,


Pak. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing.
Bahkan teman-teman saya sering ribut hanya karena
perbedaan kecil—politik, agama, bahkan hal sepele
seperti tim sepak bola."

Pak Jaka tertawa kecil. "Itu karena mereka lupa pada


satu hal penting: musyawarah. Kita hidup di negeri yang
punya lima prinsip untuk bersatu. Kau ingat Pancasila,
bukan?"

Arga mengangguk ragu. "Tentu, Pak. Tapi Pancasila


rasanya hanya sekadar hafalan sekarang. Orang-orang
tidak benar-benar mempraktikkannya."

Pak Jaka tersenyum lebar. "Itu sebabnya kau harus


memulai. Kalau kau mengeluh tentang orang lain, kapan
kau akan jadi teladan?"
Arga termenung mendengar ucapan Pak Jaka. Ia teringat
bagaimana ia sendiri sering terlibat dalam debat tak
berarti di media sosial, memaksakan pendapat tanpa
mendengarkan orang lain.

"Pak Jaka, menurut Anda, bagaimana caranya


menghidupkan nilai-nilai Pancasila di zaman sekarang?"
tanya Arga akhirnya.

Pak Jaka mengambil tongkatnya dan menunjuk bendera


itu. "Kau tidak perlu menjadi pahlawan besar untuk
mempraktikkan Pancasila. Mulailah dari hal kecil. Ingat
Sila pertama: 'Ketuhanan yang Maha Esa'. Hormati
keyakinan orang lain. Lalu Sila kedua: 'Kemanusiaan
yang Adil dan Beradab'. Jangan pernah berpikir kau
lebih baik dari orang lain hanya karena perbedaan. Sila
ketiga mengajarkan kita untuk menjaga persatuan, meski
berbeda suku atau bahasa."

Pak Jaka menyesap kopinya lagi. "Dan jangan lupa Sila


keempat: 'Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan'.
Dengarkan pendapat orang lain sebelum memutuskan
sesuatu. Terakhir, Sila kelima: 'Keadilan Sosial bagi
Seluruh Rakyat Indonesia'. Jangan hanya pikirkan dirimu
sendiri. Bantu mereka yang membutuhkan."

Arga terkesima mendengar penjelasan itu. "Pak Jaka,


Anda benar. Semua itu sederhana, tapi sulit dilakukan
jika kita tidak memulainya dari diri sendiri."
Sejak hari itu, Arga sering datang ke warung kopi Pak
Jaka. Ia tidak hanya menikmati kopi, tetapi juga belajar
dari cerita-cerita dan nasihat bijak lelaki tua itu.
Perlahan, Arga mulai mengubah caranya bersikap. Ia
belajar mendengarkan, menghormati perbedaan, dan
membantu orang lain tanpa pamrih.

Suatu hari, saat Arga sedang duduk di warung, seorang


wisatawan asing masuk. Wisatawan itu mencoba
berbicara dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata,
meminta segelas kopi. Beberapa pengunjung lain
menertawakannya, tapi Arga segera mendekat dan
membantu. Ia berbicara dengan bahasa Inggris
sederhana, membuat wisatawan itu merasa nyaman.

Pak Jaka tersenyum dari sudut ruangan, melihat


perubahan dalam diri Arga.

Beberapa tahun kemudian, Pak Jaka meninggal dunia.


Warung kecil itu ditutup, tetapi bendera merah putih
yang tergantung di sana disimpan oleh Arga sebagai
kenang-kenangan.

Arga kemudian membuka sebuah komunitas pemuda di


desanya, mengajarkan nilai-nilai Pancasila melalui aksi
nyata: gotong royong, diskusi damai, dan bantuan sosial.
Ia percaya, semangat yang pernah diajarkan Pak Jaka
tidak boleh padam.

Di setiap pertemuan komunitas, bendera merah putih itu


selalu hadir, mengingatkan mereka akan cerita tentang
keberanian, persatuan, dan makna sejati dari menjadi
seorang warga negara Indonesia.

Bagi Arga, secangkir kopi dan sebuah bendera telah


mengubah hidupnya. Ia sadar, menjadi seorang
pancasilais tidak berarti harus membuat perubahan besar
di dunia, tetapi cukup memulai dari tindakan kecil yang
bermakna. Karena pada akhirnya, seperti yang selalu
dikatakan Pak Jaka, "Kita adalah Indonesia, selama kita
tidak lupa untuk menjadi manusia yang saling menjaga."

Anda mungkin juga menyukai