0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan15 halaman

MAKALLAH Pak Burhan

Diunggah oleh

udinkw424
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan15 halaman

MAKALLAH Pak Burhan

Diunggah oleh

udinkw424
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALLAH

“METODE KETELADANAN/DEMONSTRASI”
“Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Hadits Tarbawi.”
Dosen Pengampu: Burhanudin,M.PD.I

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 3
Indra Cahya (22.11.19.01.015)
Indria Yunanda (22.11.19.01.016)

Semester 5A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL-HAUDL
KETAPANG TAHUN 2024
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami Panjatkan Kehadirat Allah SWT.Karena berkat


karuniaNya lah kami telah dapat menyelesaikan makalah ini. Penulisan Makalah ini
berdasarkan hasil analisis yang kami lakukan dari berbagai sumber bacaan dan
Penelitian lainnya.Makalah ini diberi Judul "Metode keteladanan/demonstrasi" Dengan
terselesainya penulisan Makalah ini, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada
ibu guru bidang studi Yang telah banyak memberikan masukankepada kami sehingga
terselesainya Makalah ini., Serta kepada Orang tua dan teman-teman yang telah banyak
membantu baik secara langsung maupun tidak langsug dalam menyelesaikan Makalah
ini.Kami menyadari keterbatasan ilmu, Penelitian dan pengalaman dalammembuat
Makalah ini, oleh karena itu. Masukkan berupa saran dan kritikan yang berguna sangat
kami harapkan demi kesempurnaan karya tulis ini dan semoga karya tulis ini dapat
bermanfaat bagi kami sendiri dan juga para pembaca.

Ketapang, 7 Oktober 2024

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................i

DAFTAR ISI....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................1

A. Latar Belakang........................................................................................................1

B. Rumusan Masalah..................................................................................................1

C. Tujuan.....................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................3

1. Pengertian Metode Keteladanan/Demonstrasi.......................................................3

2. Langkah-Langkah Penggunaan Metode Keteladaan/Demonstrasi.........................5

3. Prinsip Penggunaan Metode Keteladanan/Demonstrasi.........................................7

BAB III PENUTUP.........................................................................................................9

A. Kesimpulan.............................................................................................................9

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Metode keteladanan atau demonstrasi merupakan salah satu strategi


pembelajaran yang efektif dalam mendidik dan mengembangkan keterampilan
peserta didik. Dalam konteks pendidikan, keteladanan merujuk pada tindakan
atau perilaku yang dicontohkan oleh pendidik, yang kemudian dapat diikuti dan
diterapkan oleh siswa. Sementara itu, metode demonstrasi melibatkan penjelasan
dan penggambaran langsung dari suatu konsep atau keterampilan dengan tujuan
untuk memberikan pemahaman yang lebih baik.

Pentingnya metode ini terletak pada fakta bahwa banyak orang belajar
lebih efektif melalui observasi dan praktik langsung. Dengan menunjukkan
bagaimana sesuatu dilakukan, pendidik dapat membantu siswa memahami
konsep yang kompleks dengan cara yang lebih sederhana dan intuitif. Selain itu,
keteladanan memberikan kesempatan bagi siswa untuk melihat nilai-nilai, etika,
dan perilaku positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam materi ini, kita akan membahas prinsip-prinsip dasar metode


keteladanan dan demonstrasi, keuntungan penggunaannya dalam proses
pembelajaran, serta contoh-contoh penerapannya dalam berbagai konteks
pendidikan. Diharapkan, pemahaman yang lebih mendalam tentang metode ini
akan membantu pendidik untuk meningkatkan efektivitas pengajaran mereka
dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih inspiratif dan produktif.

B. Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Metode Keteladanan/Demonstrasi?


2. Bagaimana Langkah-Langkah Penggunaan Metode
Keteladanan/Demonstrasi?

1
3. Apa Saja Prinsip Penggunaan Metode Keteladanan/Demonstrasi?

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahui Pengertian Metode Keteladanan/Demonstrasi.


2. Untuk Mengetahui Langkah-Langkah Penggumaan Metode
Keteladanan/Demonstrasi?
3. Untuk Mengetahui Apa Saja Prinsip Penggunaan Metode
Keteladanaan/Demonstrasi

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Metode Keteladanan/Demonstrasi


Dalam penanaman nilai-nilai keislaman, keteladanan merupakan
metode yang lebih efektif dan efisien. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-
Bantani dalam Usus al-Tarbiyah al-islamiyah, bahwa metode keteladanan
merupakan metode yang paling berpengaruh dalam pendidikan manusia, karena
individu manusia senang meniru terhadap orang yang dilihatnya. Sungguh Allah
SWT telah menjadikan Rasul-Nya sebagai teladan bagi setiap orang muslim,
baik yang ada pada masanya, maupun orang-orang yang ada setelahnya.

‫َأ‬
‫َعِن اَألْس َوِد َقاَل َس ْلُت َعاِئَش َة َما َكاَن الَّنِبُّى صلى الله عليه وسلم َيْصَنُع‬
‫] رواه‬10[.‫ َف ِإَذا َحَض َر ِت الَّص َالُة َق اَم ِإَلى الَّص َالِة‬، ‫ِفى َأْهِلِه َق اَلْت َكاَن ِفى ِمْهَنِة َأْهِلِه‬
‫البخارى‬

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. mendirikan salat pada


waktu malam sehingga bengkak kedua kakinya lalu Aisyah bertanya, "Ya
Rasulullah! Mengapa Anda melakukan (salat) sampai seperti ini? Padahal, Allah
telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Rasulullah
saw. menjawab, "Apakah aku tidak ingin menjadi seorang hamba yang
bersyukur?" Ketika badannya gemuk, beliau salat sedang duduk.

Allah SWT mengutus seorang Nabi untuk menjadi teladan dalam


semua hal, sebagai hadiah bagi manusia, yaitu Muhammad Rasulullah SAW,
seorang penuntun yang sempurna dengan kehidupannya yang suci dan mode
yang ideal.3 Dewasa ini banyak sekali kegagalan guru mengajar murid. Faktor
utama penyebabnya adalah guru mengajar tidak dengan karakter sehingga murid
tidak mendapat contoh yang baik dari guru mereka, bahkan mereka ragu dan
tidak mengerjakan apa yang diberikan guru karena tidak mendapat contoh yang
baik. Misal guru mengerjakan sesuatu yang harus dikerjakan, tetapi guru tidak

3
mengerjakan, atau guru menyuruh meninggalkan sesuatu tetapi guru
mengerjakan apa yang harus ditinggalkan itu. Nabi SAW adalah contoh hidup
(teladan) yang baik dari apa yang beliau ajarkan kepada para sahabatnya. Tidak
ada satu keutamaan yang dianjurkan kecuali beliau lakukan, bahkan mendahului
yang lain dalam mengamalkannya. Sebaliknya, tidak ada kejelekan yang beliau
larang, kecuali beliau orang yang paling jauh darinya.4 Metode keteladanan
dalam pendidikan Islam adalah metode yang paling efektif dan efisien dalam
membentuk kepribadian anak. Posisi pendidik sebagai teladan yang baik pada
anak-anaknya akan ditirunya dalam berbagai ucapan dan prilaku. Keteladanan
menjadi faktor menentukan baik buruknya sifat anak. Jika pendidik jujur, dapat
dipercaya berakhlak mulia, berani, menjauhkan diri dari perbuatan yang
bertentangan dengan ajaran agama, maka si anak akan tumbuh kejujuran,
terbentuk dengan akhlak yang mulia dan lain-lain.5 Umat islam meneladani
Rasulullah SAW yang kepribadiannya menggambarkan isi Al-Qur’an. Aisyah ra.
Pernah mengatakan bahwa akhlak Rasulullah itu adalah Al-Qur’an. Pernyataan
Aisyah itu benar, karena memang pribadi rasul itu merupakan interpretasi Al-
Qur’an secara nyata; tidak hanya cara beribadah, cara kehidupan sehari-harinya
juga kebanyakan merupakan contoh tentang cara kehidupan yang islami.

Istilah “teladan” dalam Al-Qur’an diproyeksikan dengan kata uswah,


seperti yang terdapat dalam ayat yang artinya : “Dalam diri Rasulullah itu kamu
dapat menemukan teladan (uswah) yang baik”. Contohnya tentang sifat nabi
Muhammad beserta pengikutnya yang digambarkan dalam Al-Qur’an surah Al-
Fath ayat 29, bahwa Nabi Muhammad beserta pengikutnya itu bersikap keras
terhadap orangorang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, senantiasa
rukuk dan sujud (shalat), serta mencari keridhaan Allah. Kemudian tentang
keteladanan Nabi Ibrahim dijelaskan dalam ayat yang artinya : “Sesungguhnya
pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu” (QS. Al-
Mumtahanah : 4). Keteladanan Nabi Ibrahim ini juga diikuti oleh Nabi
Muhammad SAW. Hal ini terbukti dari wahyu-wahyu yang disampaikan Allah
SWT kepada Nabi Muhammad antara lain berisi perintah agar mengikuti

4
perintah Nabi Ibrahim. Itulah sebabnya dalam tradisi ritual keagamaan (islam),
dua tokoh ini (Ibrahim as. Dan Muhammad SAW) disampaikan sebagai figure
yang menjadi kerangka acuan umat pada masa sekarang dan seterusnya.6 Secara
psikologis manusia memang memerlukan tokoh teladan dalam hidupnya, ini
merupakan sifat pembawaan manusia. Peneladanan itu ada dua macam, yaitu
sengaja dan tidak sengaja. Keteladan yang tidak sengaja ialah keteladanan dalam
keilmuan, kepemimpinan, sifat keiklasan, dan sebangsanya. Sedangkan,
keteladanan yang tidak disengaja ialah seperti memberikan contoh membaca
yang baik, mengerjakan shalat yang benar (Nabi berkata, “Shalatlah kamu
sebagaimana Shalatku”, Bukhari). Keteladanan yang disengaja ialah keteladanan
yang memang disertai penjelasan atau perintah agar meneladani.

2. Langkah-Langkah Penggunaan Metode Keteladaan/Demonstrasi

۞ ‫َاَتْأُمُرْوَن الَّناَس ِباْلِبِّر َوَتْنَس ْوَن َاْنُفَس ُكْم َوَاْنُتْم َتْتُلْواَنْلِكٰتَۗب َۗب َاَفاَل َتْعِقُلْوَن‬

Artinya: Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan)


kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca
suci (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?

Dari ayat di atas, menurut analisa penulis bahwasanya untuk


mengimplementasikan metode keteladanan hendaklah memulai dari diri kita
sebagai pendidik agar bagaimana menjadi figur bagi peserta didik. Metode
keteladanan. Di antara metode-metode yang sangat urgen dan faktual yang di
tempuh oleh Rasulullah SAW dalam proses pengajaran adalah metode modeling
(keteladanan) dan etika yang baik. Dalam konteks ini, beliau senantiasa
melakukan sesuatu sebelum menyuruh orang lain (muridnya) melakukan sesuatu
itu sebagai bentuk permodelan, sehingga orang lainpun akan dapat mengikuti
dan mencerna dengan mudah sebagaimana Maksud hadits di atas adalah dalam
hal kebaikan dan kebenaran, apabila kita menghendaki orang lain juga
mengerjakannya, maka mulailah dari diri kita sendiri untuk mengerjakannya.
Sungguh tercela seorang pendidik yang mengerjakan sesuatu sedangkan ia

5
sendiri tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara sederhana
keteladanan adalah sesuatu yang patut untuk ditiru atau dicontoh. Implementasi
keteladanan dalam pembelajaran dapat disebutkan menjadi dua macam istilah,
pertama disebutkan dengan teladan atau keteladanan, kedua disebut pula dengan
keteladanan. Metode ini merupakan metode pendidikan dan pengajaran dengan
cara pendidik memberikan contoh teladan yang baik kepada anak agar ditiru dan
di laksanakan. Suri teladan dari para pendidik merupakan faktor yang besar
pengaruhnya dalam pendidikan anak. Keteladanan dalam dunia pendidikan
sangat penting, apalagi sebagai orang tua diamanahi seorang anak oleh Allah
SWT, maka orang tua harus menjadi teladan yang baik buat anak-anaknya. Para
orang tua dan pendidik harus menjadi figur yang ideal bagi anak-anak, harus
menjadi panutan yang bisa mereka andalkan dalam mengarungi kehidupan.
Keteladanan menjadi titik sentral dalam mendidik anak. Implementasi dari
keteladanan ini adalah orang tua dan guru menjadi figur yang akan ditiru oleh
anak di mana tindak tanduk dari orang tua dan guru tersebut harus diperhatikan.
Mulai dari pakaiannya yang sopan, tingkah laku dan perangainya yang baik,
bicaranya yang sopan dan penuh kasih sayang kepada anak. Hal ini jika
terlaksana dengan baik, secara langsung anak akan meniru perangai orang tua
dan gurunya.54 Menurut penulis, apa yang dikemukakan Abubakar Baraja
bahwa pola pendidikan menjadi pusat perhatian terpenting dan merupakan
pendidikan yang mengarahkan kepada proses perkembangan diri. Karena pola
pendidikan menjadi tanggung jawab pendidik yang sangat besar dalam
pemeliharaan dan penjagaan anak-anak. Karena melihat zaman yang sudah jauh
dan berbeda dengan fitrah manusia. Menanggapi apa yang dikemukakan
Abubakar Baraja maka sepatutnya kita mengetahui kedudukan seorang pendidik
dalam konteks Pendidikan Islam sebagaimana di kemukakan Ramayulis bahwa
pendidik dalam konteks Pendidikan Islam, berfungsi sebagi warasatu al anbiya
yang pada hakikatnya mengemban misi sebagai warasatu al anbiya misi yang
mengajak manusia untuk tunduk dan taat pada hukum-hukum Allah. Kemudian
misi ini dikembangkan kepada pembentukan kepribadian yang berjiwa tauhid,
kreatif, beramal saleh serta bermoral tinggi. Sebagai warasah al anbiya.

6
Jamal Abdurrahman menyebutkan bahwa memberi keteladanan adalah
kewajiban dari pendidik atau guru. Seorang pendidik seharusnya mengamalkan
ilmunya, jangan sampai ucapannya mendustakan perbuatannya.56 Mengutip dari
perkataan Ali Qaimi sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya yang
menekankan masalah akhlak bagaimana prilaku seorang pendidik, sedikit saja
kesalahan dan pengabaian di lakukan, akan menghasilkan pendidikan yang salah
kaprah bagi peserta didiknya. sehubungan dengan apa yang dikatakan Ali Qaimi,
Abdurrahman An Nahlawi, memberikan gagasan bahwa setiap orang yang di
harapkan menjadi teladan, hendaklah memelihara tingkah lakunya, disertai
kesadaran bahwa ia bertanggung jawab di hadapan Allah dalam segala hal yang
di ikuti oleh orang lain, khususnya pada pengagumnya. Kualitas kewaspadaan
dan keikhlasannya bertambah, seiring berjalan dengan derajat kekaguman serta
tingkah peneladanan orang lain terhadapnya.57 Menurut analisa penulis, dari
uraian yang di kemukakan oleh Ali Qaimi tidak berbeda jauh apa yang
dikemukakan Abdurrahman AnNahlawi bahwa metode keteladanan adalah
metode yang sangat penting untuk di implementasikan, begitu pentingnya suatu
keteladanan dalam upaya pembentukan pribadi seorang anak, sehingga untuk
mencapai kesuksesannya, pendidikan Islam berusaha menerapkan metode
keteladanan tersebut dalam sistem pendidikannya. Namun permasalahan yang
ada adalah dari faktor pendidik, termasuk di dalamnya adalah guru. Menurut
Mustaqim kebanyakan guru berperan sebagai agen transfer of knowledg dari
pada transfer of value. Proses transfer of value di tunjukkan untuk menanamkan
nilai-nilai dalam diri anak. Proses tersebut akan mengena dan di terima dengan
baik oleh anak, apabila nilai-nilai tersebut logis dan di sertai dengan contoh
nyata.

3. Prinsip Penggunaan Metode Keteladanan/Demonstrasi

Metode keteladanan atau demonstrasi memiliki beberapa prinsip


penting yang perlu diperhatikan untuk memastikan efektivitasnya dalam proses
pembelajaran. Berikut adalah penjelasannya:

7
a. Kejelasan Tujuan: Sebelum melakukan demonstrasi, penting untuk menetapkan
tujuan yang jelas. Hal ini membantu peserta memahami apa yang diharapkan
dari mereka dan fokus pada pembelajaran yang akan dilakukan.
b. Konsistensi: Demonstrasi harus dilakukan dengan cara yang konsisten.
Penyampaian yang sama setiap kali membantu membangun kepercayaan dan
memberikan contoh yang dapat diandalkan bagi peserta.
c. Relevansi: Pilih contoh atau tindakan yang relevan dengan konteks peserta.
Ketika materi yang diajarkan berkaitan dengan pengalaman sehari-hari mereka,
peserta akan lebih mudah memahami dan mengaitkannya.
d. Interaksi: Libatkan peserta dalam proses demonstrasi. Mengajak mereka
bertanya atau melakukan percobaan sendiri akan meningkatkan keterlibatan dan
pemahaman mereka terhadap materi.
e. Ulangi dan Latih: Peserta seringkali perlu melihat demonstrasi beberapa kali
atau berlatih langsung. Pengulangan membantu memperkuat pemahaman dan
keterampilan yang diajarkan.
f. Feedback: Memberikan umpan balik konstruktif setelah demonstrasi sangat
penting. Ini membantu peserta memahami aspek yang mereka kuasai dan area
yang perlu diperbaiki.
g. Penilaian: Lakukan penilaian untuk mengevaluasi sejauh mana peserta dapat
menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Ini juga membantu pengajar
memahami efektivitas metode yang digunakan.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, metode keteladanan dapat menjadi alat
yang sangat efektif dalam pendidikan, baik dalam konteks formal maupun
informal.

8
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Metode keteladanan atau demonstrasi merupakan salah satu
pendekatan pembelajaran yang efektif dalam mentransfer pengetahuan dan
keterampilan. Melalui prinsip-prinsip yang telah dibahas, seperti kejelasan
tujuan, konsistensi, relevansi, interaksi, pengulangan, umpan balik, dan
penilaian, metode ini dapat meningkatkan pemahaman peserta didik secara
signifikan.

Dengan mengadopsi metode ini, pengajar dapat menciptakan


lingkungan belajar yang aktif dan partisipatif, di mana peserta tidak hanya
menjadi pendengar pasif, tetapi juga terlibat langsung dalam proses
pembelajaran. Penggunaan contoh yang nyata dan relevan memudahkan peserta
untuk mengaitkan teori dengan praktik, sehingga pembelajaran menjadi lebih
bermakna.

Secara keseluruhan, metode keteladanan/demonstrasi bukan hanya


membantu dalam penguasaan keterampilan praktis, tetapi juga dalam
membangun sikap dan nilai-nilai positif. Oleh karena itu, metode ini sangat
dianjurkan untuk diterapkan dalam berbagai konteks pendidikan, baik di
sekolah, pelatihan, maupun dalam pengembangan diri.

9
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur-an Terjemahan dan Tajwid Warna. Al-Majid. Jakarta : Beras Gunawan, Heri.
(2014). Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya. Hidayat, Rahmat. (2015). Muhammad Saw The Super Teacher . Jakarta:
Zaytuna Ufuk Abadi. Ibrahim,N (2003) Perencanaan Pengajaran,Jakarta:PT RINEKA
CIPTA

10
11

Anda mungkin juga menyukai