0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan7 halaman

Kecanduan Gadget: Kisah Banu

Cerpen 'Notifikasi Terakhir' mengisahkan Banu, seorang remaja berprestasi yang menerima handphone dari ayahnya, namun terjebak dalam kecanduan game yang mengganggu tanggung jawabnya. Setelah mengalami kecelakaan akibat terlalu fokus pada handphone, Banu menyadari pentingnya keseimbangan antara dunia nyata dan digital. Ia akhirnya memutuskan untuk berubah dengan menghapus game dan media sosial, serta kembali menghargai momen bersama teman-temannya.

Diunggah oleh

tydysensei
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan7 halaman

Kecanduan Gadget: Kisah Banu

Cerpen 'Notifikasi Terakhir' mengisahkan Banu, seorang remaja berprestasi yang menerima handphone dari ayahnya, namun terjebak dalam kecanduan game yang mengganggu tanggung jawabnya. Setelah mengalami kecelakaan akibat terlalu fokus pada handphone, Banu menyadari pentingnya keseimbangan antara dunia nyata dan digital. Ia akhirnya memutuskan untuk berubah dengan menghapus game dan media sosial, serta kembali menghargai momen bersama teman-temannya.

Diunggah oleh

tydysensei
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Naskah Cerpen “Notofikasi Terkhir”

CAST:
- Banu : Dimas Adrian Permana Putra (Seorang Anak Remaja SMA Yang Berprestasi,
Ceria, mudah terpengaruh).
- Ayah : I Komang Arya Turyawan (Seorang Ayah Yang Penuh Kasih Sayang
Terhadap Anaknya).
- Reynald : Sukirno Dwi Saputra (Seorang Anak SMA Yang Baik Hati, Peduli, tegas,
dan bertanggung jawab).
- Leo : I Komang Billy Wirenata ( Seorang Anak Remaja SMA Yang Santai, suka
bersenang-senang, dan sering mengabaikan tanggung jawab).
- Bu Anis : Annisa Adhani (Seorang Guru Yang Tegas, profesional, dan mendorong
siswa untuk belajar secara mandiri).
- Nadya : Ni Putu Bintan Putri Santosa (Seorang Anak Remaja SMA Yang Santai
namun bertanggung jawab.).
- Bella : Elvina Ayu Novayani (Seorang Anak Remaja SMA Yang Ceria dan
kooperatif).
- Manda : Komang Chesi Syerina (Seorang Anak Remaja SMA Yang Tegas, kritis, dan
selalu fokus pada tugas.).
- Delia : Ni Putu Febry Puspita Sari (Seorang Anak Remaja SMA Yang Rasional,
praktis, dan peduli pada hasil kerja kelompok).

SINOPSIS:
Banu, siswa berprestasi, menerima hadiah handphone dari ayahnya. Awalnya, ia
menggunakannya dengan baik, tetapi kecanduan game membuatnya lupa tanggung jawab
dan merenggut hal-hal penting dalam hidupnya. Sebuah insiden terjadi dalam hidupnya
memaksanya memilih bangkit kembali ke dunia nyata atau terjebak dalam kesunyian
dunia digital.
SCENE 1: Ayah Memberikan Hadiah Handphone

Ayah Berjalan Menghampiri Sang Anak Sambil Membawa Sebuah Kotak Yang
Berukuran Sedang, Banu Yang Duduk Di Ruang Keluarga Dengan Membaca Buku
Pelajarannya Melihat Ayahnya Menghampirinya.
(Banu membuka kotak hadiah ulang tahunnya di ruang keluarga. Ayahnya duduk di
dekatnya.)

Ayah:
"Selamat ulang tahun, Nak. Ayah tahu kamu udah lama pengen punya handphone
sendiri."

Banu: (terkejut dan senang)


"Serius, Yah? Ini beneran buat aku?"
Ayah: (tersenyum, tapi tegas)
"Iya, tapi ingat, ini bukan cuma buat main game, ya. Pakai juga untuk hal-hal yang
bermanfaat."

Banu: (mengangguk cepat)


"Iya, Yah. Makasih banyak!"

(Ayah tersenyum, lalu mengusap kepala Banu. Kamera fokus pada Banu yang
menatap handphone dengan penuh semangat.)

SCENE 2: SEKOLAH
Banu berjalan di lorong sekolah. Tiba tiba Leo dan Reynald berjalan mengendap
ngendap dibelakang Banu.

Leo & Reynald :


“DORRRR”
“DORRRR”
Banu : (Terkejut)

Leo :
“Widih ultah nih, happy birthday bro!”

Reynald :
“ Happy birthday ya Ban! Eh bawa hp baru nih”

Banu : (malu-malu)
“Iya hehe hadiah dari ayahku”

Mereka bertiga pun berjalan ke kelas. Sesampainya di kelas, banyak teman teman
sekelas yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Banu.

Teman Sekelas :
“Happy Birthday ya Banu”
“Happy Birthday ya Banu”
“Happy Birthday ya Banu”
“Happy Birthday ya Banu”
“Happy Birthday ya Banu”

Banu : (sambil berjalan dan membuka tas yang ia gendong)


“Terima Kasih ya Teman-Teman”

Nadya :
“Teraktirannya dong banu!”

Bella :
“Iya dong Banu”

Banu :
“Iya, kapan kapan aja ya”
Teman Sekelas : (Bertepuk tangan dan bersorak)
“TERAKTIR”
“TERAKTIR”
“TERAKTIR”
“TERAKTIR”
“TERAKTIR”

Banu :
“Diam dulu dong, guru sudah mau masuk in”

Tidak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Para siswa dengan cepat duduk di
tempatnya masing masing. Bu Anis, guru mata pelajaran, masuk ke dalam kelas
dengan membawa beberapa buku tulis.

Bu Anis :
“Anak-Anak adaa apa ini ribut-ribut?”

Leo:
“Banu lagi ulang tahun bu”

Bu Ania :
“ Wahh Banu ukang tahun?, Selamat Ulang Tahun ya Banu semoga Prestasi Kamu
Semakin banyak ya”

Banu :
“Terimakasih ya bu”

Bu Anis :
“Anak-anak tugas minggu lalu sudah ibu periksa, silakan ambil buku kalian masing-
masing”

“Untuk tugas minggu ini ibu minta kalian berkelompok, 1 kelompok beranggotakan 7
orang. Silakan cari kelompok kalian sendiri”

Bella : (Memanggil Banu)


“Banu, kita sekelompok sama kamu ya?”

Banu :
“Boleh saja sih”

Banu akhirnya membuat kelompok dengan Leo, Reynald, Nadya, Bella, Manda, dan
Delia.

Nadya:
“Kita mau kerja kelompok dimana, nih?”

Leo :
“Dirumah Banu aja ga sih?”
Bella : (Memanggil Banu dan Bertanya)
“Boleh ga Ban?”
“Boleh ga Ban?”
“Ban?”

Banu : (fokus pada handphonenya)


“Hmmmmm, Terserah saja dah”

Bella :
“Yaudah mau Kapan?”

Banu : (Menjawab dan masih tetap fokus pada handphonennya)


“Bebas Bebas atur waktu saja”

Nadya :
“Yaudah hari minggu saja bagaimana?”

Bella :
“Boleh deh”

Nadya :
“Minggu ya?”

Bella :
“Okeeee”

SCENE 3: KAMAR BANU

Keesokan harinya. Banu Berdiam Diri Dikamar, menggunakan handphone untuk


menonton video materi pelajaran.

Banu (dalam hati)


“Handphone ini beneran ngebantu banget buat belajar.”

Tiba-tiba notifikasi pesan dari Leo muncul. Rupanya Leo mengajak Banu untuk
bermain game bersamanya. Ia mencoba mengabaikannya, tapi Leo memaksanya
dengan mengirim pesan berkali-kali.

Banu (berbisik)
“Yaudah deh, cuma sebentar…”

Kamera menyorot layar handphone yang kini memunculkan game. Wajah Banu
tampak terpaku.

SCENE 4: RUANG KELUARGA

Ayah Banu Berjalan Melewati Tangga Menuju Kamar


Ayah Banu masuk ke kamar dengan wajah khawatir. Ia menatap Banu yang masih
asyik dengan handphone-nya.
Ayah
"Banu, sudah malam. Ayo tidur, Nak."

Banu (tanpa menoleh)


“Sebentar lagi, Pa. Aku cuma ngecek tugas.”

Ayah (berbicara dengan nada lembut)


“Jangan kebanyakan main, ya. Fokus belajar dulu.”

Banu hanya mengiyakan. Ayah meninggalkan kamar, tetapi Banu tetap larut dalam
dunia maya.

SCENE 5: RUMAH BANU

Semua anggota kelompok Banu kini sedang duduk di ruang tamu rumah Banu.
Semuanya sibuk mencari bahan materi yang akan dipresentasikan, kecuali Banu dan
Leo yang sibuk bermain game bersama. Melihat hal itu, Manda pun menegur
keduanya.

Manda:
“Kalian bisa stop main dulu, ga? Materi kita masih kurang banyak, loh.”

Leo:
“Iya, iya, ini berhenti kok. Ban, nanti lagi mainnya.”

Banu:
“Duh, sayang banget kalo berhenti sekarang. Ranking ku bisa turun, nih.”

Delia:
“Ranking di game ga penting, Ban! Yang penting sekarang cuma selesaiin tugasnya
Bu Anis.”

Banu:
“Yaudah iya, ini aku keluar dari game.”

Akhirnya mereka lanjut mengerjakan tugas meskipun dengan perasaan kesal.

SCENE 6: SEKOLAH

Banu memasuki halaman sekolah dengan handphone barunya menampilkan game


yang beberapa hari lalu ia mainkan.
Tak di sangka bahwa Reynald berjalan disebelah banu sambil berusaha
memanggilnya, tapi banu tak menanggapi Reynald, hingga akhirnya Reynald
menghadang jalan banu dan berkata.

Reynald
"Bro, kamu kenapa sih? Main mulu. Kita kan ada presentasi minggu depan! Kamu
harusnya ikut bantu kerjain tugasnya!"

Banu
“Duh, nanti aja bahasnya. Aku lagi push rank, penting banget nih!”

Reynald menggelengkan kepala, kecewa.

SCENE 7: KECELAKAAN

Banu berjalan menuruni tangga sambil menatap layar handphone, tapi sayangnya
Banu tidak melihat anak tangga dengan benar yang membuat ia terjatuh dan
menyebabkan kaki Banu terluka.

Suara Narator (off-screen)


“Hadiah yang baik bisa berubah menjadi jerat jika kamu tak tahu batasannya.”

SCENE 8: Setelah Kecelakaan

(Banu terbangun di kamar dengan kapas yang menempel dikaki. Ayah duduk di
sampingnya.)

Banu: (lemah)
"Yah... handphone-ku di mana?"

Ayah: (dengan nada tegas)


"Kamu nggak perlu mikirin itu sekarang. Fokus dulu sembuh, Banu. Sudah cukup
main-mainnya."

Banu: (berusaha berdalih, tapi lemah)


"Aku cuma... butuh sebentar."

Ayah: (melihatnya dengan serius)


"Banu, Ayah cuma mau kamu sadar. Kalau kamu terus begini, kamu nggak cuma
kehilangan teman, tapi juga masa depan kamu."

(Banu terdiam, menatap langit-langit dengan rasa bersalah.)

SCENE 9: MALAM HARI

Banu terbangun di malam hari. Ia mendengar notifikasi aneh dari handphone-nya


yang tergeletak di meja.

Pesan Notifikasi
“Kau siap meninggalkan dunia nyata?”

Banu memandang layar dengan takut. Pesan itu terus muncul. Ia mencoba mematikan
handphone, tapi layar menyala kembali.

Banu (berbisik, ketakutan)


“Apa ini…?”
SCENE 10: PERTEMUAN DENGAN REYNALD

Reynald datang mengunjungi Banu. Mereka berdiri di lorong kelas, suasana


canggung.

Banu
“Nald… aku bingung. Semua orang kayaknya menjauh dari aku.”

Reynald
“Bukan mereka yang menjauh, Ban. Kamu yang terlalu sibuk sama handphone.”

Reynald menepuk pundak Banu. Ada rasa haru di wajah Banu.

SCENE 11: MEMUTUSKAN UNTUK BERUBAH

Banu membaca artikel di grup diskusi online tentang kecanduan gadget. Ia


memutuskan untuk menghapus game dan media sosial dari handphone-nya.

Banu (dalam hati)


“Mulai sekarang, aku harus berubah.”

SCENE 12: PENUTUP

Banu duduk di lorong bersama Reynald. Ia tampak lebih ceria. Handphone-nya ada di
sakunya, tidak disentuh.

Suara Narator (off-screen)


“Teknologi adalah alat. Jangan biarkan ia jadi tuan.”

Banu merangkul Reynald, Ia tersenyum dan bangkit untuk bergabung dengan teman
temannya.

Banu kini menjalani hidup yang lebih seimbang. Handphonenya tetap ada, tetapi
hanya sebagai alat, bukan penjara. Ia tidak lagi terjebak dalam dunia maya, dan ia
belajar menghargai momen nyata bersama orang-orang yang ia sayangi.
TAMAT.

Anda mungkin juga menyukai