Pembuatan Hand Sanitizer Non-Alkohol dari Lidah Buaya Sebagai
Solusi Adanya Iritasi pada Kulit Terhadap Alkohol di Wilayah
Kerja Puskesmas Prabumulih Timur
DISUSUN OLEH :
dr. Muhammad Akdes
PEMBIMBING
dr. H. Iriyadi, MARS
PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA WAHANA
PUSKESMAS PRABUMULIH TIMUR KOTA PRABUMULIH
PERIODE MEI – NOVEMBER 2024
ii
Laporan Mini Project
Judul
“Pembuatan Hand Sanitizer Non-Alkohol dari Lidah Buaya Sebagai Solusi Adanya
Iritasi pada Kulit Terhadap Alkohol di Wilayah Kerja
Puskesmas Prabumulih Timur”
Disusun Oleh
dr. Muhammad Akdes
Telah diterima sebagai salah satu syarat mengikuti kegiatan Dokter Internship di
Puskesmas Prabumulih Timur periode 16 Mei – 15 November 2024
Prabumulih, September 2024
Pembimbing
dr. H. Iriyadi, MARS
NIP. 19720308 200604 1 003
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Mini Project ” Pembuatan
Hand Sanitizer Non-Alkohol dari Lidah Buaya Sebagai Solusi Adanya Iritasi pada Kulit
Terhadap Alkohol di Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur” ini sebagai persyaratan
mengikuti Program Internship Kedokteran Indonesia di Puskesmas Prabumulih Timur.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada dr. H. Iriyadi, MARS atas bimbingan dan arahannya selama mengikuti program
internship.
Penulis menyadari bahwa Mini Project ini masih banyak kekurangan, hal ini
dikarenakan keterbatasan pengetahuan penulis. Maka dengan segala kerendahan hati,
penulis mengharapkan kritik dan saran membangun dari pembaca untuk menyempurnakan
Mini Project ini.
Besar harapan penulis agar Mini Project ini dapat bermanfaat dalam menambah
ilmu pengetahuan serta menjadi arahan dalam mengimplementasikan ilmu kedokteran di
masyarakat.
Prabumulih, Oktober 2024
dr. Muhammad Akdes
iv
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................5
1.1. Latar Belakang.................................................................................................5
1.2. Rumusan Masalah............................................................................................6
1.3. Tujuan Penelitian..............................................................................................7
1.4. Manfaat Penelitian............................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................8
2.1 Definisi Antiseptik...........................................................................................8
2.2 Bakteri.............................................................................................................9
2.3 Lidah Buaya....................................................................................................9
2.4 Metode Pengujian Bakteri……......................................................................10
BAB III PEMBAHASAN...................................................................................13
3.1 Metode............................................................................................................13
3.2 Hasil dan Pembahasan....................................................................................13
BAB IV KESIMPULAN....................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................15
5
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Tangan adalah bagian tubuh yang sangat rentan menjadi tempat berkembangnya
virus dan bakteri. Saat melakukan berbagai aktivitas, secara sadar maupun tidak sadar
tangan sering kali berinteraksi dengan hal-hal yang dapat menyebarkan kuman ataupun
virus, misalnya membuka pintu, memegang tangga, berjabat tangan. Tangan juga
merupakan organ yang berinteraksi dengan diri sendiri seperti, makan, menutup hidung,
mengusap mata dan sebagainya. Menjaga kebersihan tangan merupakan hal mutlak yang
harus dilakukan oleh siapapun terutama tenaga kesehatan, yakni dengan cara menerapkan
kebiasaan hidup bersih dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas (1).
Penyakit infeksi merupakan penyebab tingginya angka kesakitan sepuluh besar
penyakit paling mematikan di dunia. Paling sering disebabkan oleh bakteri Staphylococcus
aureus. Bakteri tersebut menginfeksi manusia melalui kontak kulit seperti telapak tangan.
Pencegahan infeksi bakteri dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan telapak tangan (2).
Data beberapa penyakit infeksi terbanyak di Puskesmas Prabumulih Timur bulan
januari hingga maret tahun 2024, Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebanyak 922
kasus, diare sebanyak 443 kasus, tifoid 147 kasus, penyakit TBC 29 kasus.
Mencuci tangan merupakan suatu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan
dan jari-jemari, menggunakan air dan sabun atau menggunakan cairan antiseptik seperti
hand sanitizer. Menurut Dorson (2000), mencuci tangan dapat menurunkan angka kematian
satu juta pertahun. Selain itu, angka kuman pada telapak tangan dapat diturunkan hingga
58% (dalam Ramadhan, 2013) (2).
Pada era modern ini, kesadaran akan pentingnya kebersihan tangan telah meningkat
secara signifikan. Kebersihan tangan yang baik adalah langkah fundamental dalam
6
mencegah penyebaran penyakit, terutama dalam situasi pandemi global seperti yang kita
alami saat ini. Salah satu cara paling efektif untuk menjaga kebersihan tangan adalah
dengan menggunakan hand sanitizer.
Hand sanitizer merupakan suatu produk sediaan cair dan gel yang penggunaannya
tanpa menggunakan air. Produk ini berfungsi sebagai pemberi aroma yang sehat dan segar
pada tangan sekaligus dapat membunuh kuman, yang saat ini banyak digemari oleh
masyarakat untuk pemeliharaan kebersihan dan kesehatan tangan, serta mencegah
pencemaran kuman (Fatimah & Ardiani, 2018) (1,2).
Berdasarkan uraian diatas, mini project ini dilakukan untuk mempelajari efektifitas
Hand Sanitizer dengan bahan alami tumbuh-tumbuhan sebagai bahan anti kuman pengganti
alkohol (non alkohol). Bakteri uji yang digunakan, yakni Salmonella thypi dan
Staphylococcus aureus. Adapun pengujian keefektifan dan kualitas Hand Sanitizer tersebut
meliputi ujidaya antibakteri, uji toksisitas, dan pengamatan karakterisasi dan stabilitas
tampilan Hand Sanitizer yang dihasilkan (3).
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, rumusan masalah yang muncul adalah :
1) Kurangnya pemahaman masyarakat tentang cara pemanfaatan bahan alami seperti lidah
buaya untuk bahan dasar pembuatan hand sanitizer.
2) Kurangnya keterampilan masyarakat dalam penggunaan dan pengelolahan tanaman
lidah buaya sebagai bahan pembuatan hand sanitizer.
7
3. Tujuan
Tujuan ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan hand sanitizer dan mengetahui
hand sanitizer yang telah dibuat dalam membunuh bakteri yang terdapat di telapak tangan.
4. Manfaat
Untuk menambah wawasan atau pengetahuan mengenai cara pembuatan hand
sanitizer dan keefektivitas dari hand sanitizer yang telah dibuat dalam membunuh bakteri
yang terdapat di telapak tangan.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Antiseptik
Antiseptik atau Hand Sanitizer adalah produk kesehatan yang secara instant
dapat mematikan kuman tanpa menggunakan air, dapat digunakan kapan saja dan
dimana saja, misalnya setelah memegang uang, sebelum makan, setelah dari toilet dan
setelah membuang sampah (4).
Saat ini, Hand Sanitizer (spray/gel) merupakan salah satu pilihan alternatif
pencuci tangan karena mengandung alkohol (antiseptik sintetik) yang dapat mencegah
atau menghambat pertumbuhan bahkan membunuh kuman penyebab penyakit dengan
cepat (Farahim & Asngat, 2018; Akib dkk., 2019). Akan tetapi, alkohol hanya bersifat
bakterisidal yang aktif terhadap bakteri namun tidak untuk jamur dan virus (Farahim &
Asngat, 2018). Selain itu, alkohol yang terkandung di dalam Hand Sanitizer dapat
mengakibatkan kulit tangan menjadi cepat kering, iritasi dan alergi, jika digunakan
secara berulang. Kandungan alkohol juga dapat melarutkan lapisan lemak pada kulit
tangan yang berfungsi sebagai pelindung terhadap infeksi mikroorganisme (Rahman,
2012; Cahyani, 2014; Anggraini, 2018; Akib dkk., 2019). Hal tersebut menjadi sebuah
pertimbangan, sehingga dipandang perlu adanya pengembangan Hand Sanitizer yang
bersifat non alkohol dengan bahan aktif alami dari kombinasi tumbuh-tumbuhan yang
memiliki kemampuan anti bakteri yang aman serta mudah dijangkau oleh masyarakat
(2–4).
Beberapa tumbuhan atau tanaman yang digunakan dalam penelitian ini, yakni
Sirih Hijau (Piper betle), Lemon Cina/Cui atau Jeruk Kasturi/Kalamansi (Citrus
9
microcarpa), Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia), Lidah Buaya (Aloe vera barbadensis
Miller) dan Lidah Mertua (Sansevieria sp.) (5).
2.2 Bakteri
Kulit jari manusia mengandung mikroba, baik yang patogen maupun non
patogen, yang berpotensi menimbulkan penyakit. Menurut data World Bank, dilaporkan
adanya kejadian luar biasa diare di 16 provinsi pada tahun 2006. Kasus demam tifoid
di Indonesia rata-rata mencapai 900.000 kasus pertahun dan 91 persen terjadi pada usia
3-19 tahun. Masih tingginya insidensi infeksi kulit maupun diare pada masyarakat di
Indonesia, salah satu penyebabnya mungkin karena kurangnya perhatian masyarakat
pada kebersihan kulit jari tangan (4).
Bakteri staphylococcus aureus memiliki potensi untuk menyebabkan penyakit
saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan infeksi melalui kulit. Bahan makanan yang
kontak tangan langsung tanpa proses mencuci tangan, sangat berpotensi terkontaminasi
staphylococcus aureus (4).
Bakteri escherichia coli dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan
manusia, diantaranya enteroagregatif. Bakteri shigella dapat menyebabkan infeksi
saluran pencernaan. Bakteri mempunyai spektrum yang sangat luas (3,4).
2.3 Lidah Buaya
Nama botani dari Aloe vera adalah Aloe barbadensis miller. Keluarga dari
Asphodelaceae (Liliaceae), dan merupakan tanaman semak, xerophytic, sukulen,
kacang tanaman warna hijau. Aloe vera atau merupakan tanaman asli dari Afrika
Selatan, Madagascar dan Arabia golongan Liliaceae (Moghaddasi dan Verma, 2011).
Aloe vera memiliki sifat fisik berupa daunnya berdaging tebal, panjang, mengecil
kebagian ujungnya, berwarna hijau serta berlendir. Pada bagian massa encer mentah
mengandung sekitar 98,5% air dengan kandungan 1,5%. Kandungan kimia pada aloe
10
vera berupa anthraquinone, enzim, lipids, non essential and essential amino acids,
sterols, proteins dan vitamin (Raksha, 2014) (6,7).
Lidah buaya tersusun oleh 99,5% air dan dengan total padatan terlarut hanya
0,49%. Selebihnya, mengandung lemak, karbohidrat, protein dan vitamin (Kathuria et
al, 2011). Cairan lidah buaya mengandung unsur utama, yaitu aloin, emoidin, gum, dan
unsur lain seperti minyak atsiri. Aloin merupakan bahan aktif yang bersifat sebagai
antiseptik dan antibiotik. Kandungan aloin pada lidah buaya sebesar 18-25%. Senyawa
tersebut bermanfaat untuk mengatasi berbagai macam penyakit seperti demam, sakit
mata, tumor, penyakit kulit, dan obat pencahar. Beberapa unsur vitamin dan mineral di
dalam lidah buaya dapat berfungsi sebagai pembentuk antioksidan alami, seperti
vitamin C, vitamin E, vitamin A, magnesium, dan Zinc. Antioksidan ini berguna untuk
mencegah penuaan dini, serangan jantung, dan berbagai penyakit degeneratif. Berikut
merupakan komponen yang terkandung dalam lidah buaya berdasarkan manfaatnya (7).
Gel adalah bagian yang berlendir yang diperoleh dengan cara menyayat bagian
dalam daun setelah eksudat dikeluarkan. Kandungan zat aktif yang berfungsi sebagai
antiseptik ini banyak ditemukan pada gel lidah buaya. Gel adalah bagian yang berlendir
yang diperoleh dengan cara menyayat bagian dalam daun. Gel lidah buaya bersifat
11
sangat sensitif terhadap udara terutama O2, CO, uap air, dan cahaya radiasi yang dapat
menyebabkan terjadinya reaksi browning (5–7).
2.4 Metode Pengujian Antibakteri
Uji antimikroba dilakukan untuk mengukur respon pertumbuhan populasi
mikroorganisme terhadap agen antimikroba. Terdapat dua metode uji antimikroba
yang dapat dilakukan yaitu metode dilusi, dan difusi : (8–10)
1. Metode Dilusi
Pada metode dilusi ditentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan
Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari suatu zat antibakteri terhadap bakteri
yang diujikan. Metode dilusi memiliki prinsip sebagai berikut bahan antibakteri yang
sudah diencerkan ke dalam beberapa konsentrasi kemudian disatukan dengan media
bakteri, baik yang berbentuk cair maupun padat (Ibrahim, 2013). Metode dilusi
dibedakan menjadi (Prasetyaningrum, 2018):
a. Metode dilusi cair (Broth dilution test)
Metode ini dilakukan untuk mengukur Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) atau
MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dan Konsentrasi Bunuh Minimum
(KBM) atau MBC (Minimum Bactericidal Concentration). Metode ini dilakukan
dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba pada medium cair yang
ditambahkan dengan mikroba uji. Larutan uji agen antimikroba dengan konsentrasi
terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan mikroba uji ditetapkan
sebagai KHM. Selanjutnya larutan agen antibakteri yang telah ditetapkan sebagai
KHM tersebut dikultur ulang pada medium cair tanpa penambahan mikroba uji
ataupun agen antimikroba, dan diinkubasi selama 18-24 jam. Setelah diinkubasi
medium cair yang tetap terlihat jernih ditetapkan sebagai KBM.
b. Metode dilusi padat/dilusi agar (solid dilution test)
Metode ini hampir mirip dengan metode dilusi cair, hanya saja menggunakan
medium padat (solid). Keuntungan metode ini adalah salah satu konsentrasi agen
antimikroba yang diuji dapat dipergunakan untuk menguji beberapa mikroba uji.
2. Metode Difusi
Metode difusi merupakan salah satu metode yang sering digunakan untuk uji
resistensi zat antibakteri. Pada metode ini zat antibakteri diberikan pada media
pembenihan yang telah diinokulasi oleh bakteri yang akan diuji, setelah diinkubasi,
dihitung diameter zona bening disekitar zat antibakteri, diameter zona bening
12
diinterpretasikan sebagai kekuatan hambat suatu zat terhadap pertumbuhan suatu
bakteri (Brooks dkk., 2012; Ibrahim, 2013). Metode difusi terbagi menjadi lima
jenis, yaitu disc diffusion (uji Kirby & Bauer), E-test, Ditch-Plate Technique, Cup-
Plate Technique, dan Gradient-Plate Technique (Muhanshar, Darmawati dan Dewi,
2018; Prasetyaningrum, 2018).
Disc diffusion (uji Kirby & Bauer), Cara ini merupakan cara yang paling
sering digunakan untuk menentukan kepekaan kuman terhadap berbagai macam
obat-obatan. Pada cara ini, digunakan suatu cakram kertas saring (paper disc) yang
berfungsi sebagai tempat menampung zat antimikroba. Kertas saring tersebut
kemudian diletakkan pada lempeng agar yang telah diinokulasi mikroba uji,
kemudian diinkubasi pada waktu tertentu dan suhu tertentu, sesuai dengan kondisi
optimum dari mikroba uji (Prayoga, 2013).
Metode cakram disk atau cakram kertas ini memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kelebihannya adalah mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan
khusus dan relatif murah. Sedangkan kelemahannya adalah ukuran zona bening yang
terbentuk tergantung oleh kondisi inkubasi, inokulum, predifusi dan preinkubasi
serta ketebalan medium (Prayoga, 2013). Efektivitas antibakteri menurut Permadani
(2015) dapat diklasifikasikan pada tabel berikut :
Ø Uji ini dilakukan untuk memperkirakan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) atau
disebut juga Minimum Inhibitory Concentration (MIC) terhadap suatu jenis bakteri.
Uji ini dilakukan dengan cara meletakkan stip plastik yang mengandung agen
antibakteri dari kadar yang tertinggi hingga kadar terendah diatas medium agar yang
sebelumnya telah ditanami oleh bakteri yang akan diuji. Area jernih yang terbentuk
menunjukan adanya aktivitas antibakteri (Muhanshar, Darmawati dan Dewi, 2018;
Prasetyaningrum, 2018).
Ø Metode ditch-plate technique dilakukan dengan cara memotong bagian tengah dari
medium agar hingga terbentuk sumuran, selanjutnya pada sumuran tersebut diisi
dengan agen antibakteri (maksimum enam jenis). Kemudian bakteri yang akan diuji
digoreskan secara membujur ke arah sumur tersebut (Muhanshar, Darmawati dan
Dewi, 2018; Prasetyaningrum, 2018).
Ø Cup-plate technique, Metode ini dilakukan dengan membuat beberapa lubang pada
media agar yang telah diberi bakteri. Lubang-lubang tersebut diisi dengan berbagai
agen antibakteri yang akan diuji di dalamnya, kemudian diinkubasi selama 24 jam,
13
selanjutnya diamati zona hambat yang terbentuk pada sekeliling lubang (Muhanshar,
Darmawati dan Dewi, 2018; Prasetyaningrum, 2018).
Ø Metode gradient-plate technique dilakukan dengan mencampur media agar dengan
larutan uji dalam berbagai konsentrasi. Kemudian campuran tersebut dituangkan ke
dalam cawan petri yang diletakkan dengan posisi miring kemudian dituangkan
nutrisi kedua. Plate yang ada diinkubasi selama 24 jam, selanjutnya digoreskan
bakteri yang akan diuji dari arah konsentrasi tertinggi hingga konsentrasi terendah
(Muhanshar, Darmawati dan Dewi, 2018; Prasetyaningrum, 2018).
14
BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Metode
Pelaksanaan mini project “Pembuatan Hand Sanitizer Non-Alkohol dari Esktrak Lidah
Buaya Sebagai Solusi Adanya Iritasi pada Kulit Terhadap Alkohol di Wilayah Kerja
Puskesmas Prabumulih Timur” dilakukan secara langsung di rumah. Adapun program ini
dilakukan oleh dokter internship Puskesmas Prabumulih Timur menciptakan inovasi untuk
tenaga kesehatan dan masyarakat. Pembuatan hand sanitizer dilakukan sesuai dengan tata cara
yang telah di teliti dalam berbagai jurnal ilmiah sebelumnya.
Pada akhir dari pelaksanaan mini project tentang “Pembuatan Hand Sanitizer Non-
Alkohol dari Esktrak Lidah Buaya Sebagai Solusi Adanya Iritasi pada Kulit Terhadap Alkohol
di Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur” yang dilakukan oleh dokter internship
Puskesmas Prabumulih Timur, melakukan evaluasi dari ke empat (4) bahan sampel yang
berbeda yaitu sirih, lidah buaya, jeruk nipis, dan serai. Evaluasi dilakukan dengan pengisian
kuesioner yang diberikan kepada responden yaitu pegawai Puskesmas Prabumulih Timur.
Berikut kuesioner pada mini project “Pembuatan Hand Sanitizer Non-Alkohol dari
Esktrak Daun Sirih Sebagai Solusi Adanya Iritasi pada Kulit Terhadap Alkohol di Wilayah
Kerja Puskesmas Prabumulih Timur” diisi oleh 50 responden.
1 : Jeruk nipis
2 : Aloevera
3 : Sirih
4 : Serai
Indikator 1 2 3 4 Jumlah
Manakah handsanitizer yang memiliki
penampilan yang menarik?
Manakah handsanitizer yang memiliki warna
yang menarik?
Manakah handsanitizer yang mudah di
aplikasikan terasa lembut di kulit?
Manakah handsanitizer yang terasa lengket di
kulit ?
Manakah handsanitizer yang paling harum ?
15
Manakah handsanitizer yang paling nyaman
di gunakan di kulit sebagai handsanitizer
sehari-hari ?
3.2 Hasil dan Pembahasan
Mini project yang dilakukan mengenai “Pembuatan Hand Sanitizer Non-Alkohol dari
Esktrak Lidah Buaya Sebagai Solusi Adanya Iritasi pada Kulit Terhadap Alkohol di Wilayah
Kerja Puskesmas Prabumulih Timur” dilakukan dengan beberapa langkah yang dilakukan oleh
dokter internship Puskesmas Prabumulih Timur adalah dengan mempersiapkan semua alat dan
bahan yang akan digunakan.
Hand Sanitizer yang dibuat yaitu dari bahan alami air aquades atau air bersih dan lidah
buaya. Langkah pertama yang dilakukan adalah merebus air biasa dengan sebanyak 200 mL
selama 30 menit dengan api sedang. Sembari menunggu rebusan, kita menyiapkan lidah
buaya. Tiga buah lidah buaya di blender sampai halus. Setelah air di rebus selama 30 menit
lalu di biarkan agar dingin. Kemudian campurkan air rebusan dengan lidah buaya 3 batang
yang sudah di blender. Setelah semuanya di campur dan di aduk hingga rata, kemudian hand
sanitizer tersebut di kemas kedalam botol spray kecil dan diberi label agar terlihat menarik.
Hand Sanitizer yang dibuat ini merupakan hand sanitizer alami non alkohol. Lidah buaya
bermanfaat untuk kelembaban kulit juga bermanfaat sebagai ekstrak wangi dari hand sanitizer
(8,9).
Adapun alat dan bahan, yang digunakan dalam pembuatan mini project handsanitizer,
sebagai berikut :
Alat dan Bahan Harga
Tanaman lidah buaya Rp. 10.000
Botol handsanitizer 25 botol Rp. 25.000
Aquades 1 Liter Rp. 7.000
Total Rp. 42.000
Berdasarkan dari ke empat (4) jenis sampel handsanitizer yang berbeda, dari segi
harga atau pengeluaran dalam mengenai “Pembuatan Hand Sanitizer Non-Alkohol dari Esktrak
Lidah Buaya Sebagai Solusi Adanya Iritasi pada Kulit Terhadap Alkohol di Wilayah Kerja
Puskesmas Prabumulih Timur” yaitu :
16
Handsanitizer Total
Sirih 46.000
Jeruk nipis 46.000
Aloevera 42.000
Sirih 47.000
Siapkan lidah buaya 3 batang Cuci lidah buaya hingga bersih
Pisahkan lidah buaya dari kulit Sisihkan isi lidah buaya
17
Isi lidah buaya akan di haluskan Tambahkan aquades sebanyak 200 mL
Blender hingga halus
Tambahkan aquades/air yang Lalu biar kan dingin dan siap
sudah direbus selama 30 menit untuk disaring agar terpisah dari
ampas
18
Packaging handsanitizer ke dalam Handsanitizer alami aloevera
botol steril
19
Adapaun hasil dari pengisian kuesioner pada mini project “Pembuatan Hand Sanitizer
Non-Alkohol dari Esktrak Lidah Buaya Sebagai Solusi Adanya Iritasi pada Kulit Terhadap
Alkohol di Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur” diisi oleh 50 responden :
1 : Jeruk nipis
2 : Aloevera
3 : Sirih
4 : Serai
Indikator Jumlah
Manakah handsanitizer yang memiliki
penampilan yang menarik?
Manakah handsanitizer yang memiliki
warna yang menarik?
Manakah handsanitizer yang mudah di
aplikasikan terasa lembut di kulit?
Manakah handsanitizer yang terasa
lengket di kulit ?
20
Manakah handsanitizer yang paling
harum ?
Manakah handsanitizer yang paling
nyaman di gunakan di kulit sebagai
handsanitizer sehari-hari ?
Apakah anda pernah/sering menggunakan
handsanitizer ?
Keterbatasan saat dilaksanakan mini project “Pembuatan Hand Sanitizer Non-Alkohol
dari Esktrak Daun Sirih Sebagai Solusi Adanya Iritasi pada Kulit Terhadap Alkohol di Wilayah
Kerja Puskesmas Prabumulih Timur” yaitu tidak dilakukannya uji efektivitas dari
handsanitizer dikarenakan fasilitas kurang memadai.
21
22
23
24
BAB 4
Kesimpulan
Berdasarkan hasil kerja mini project mengenai “Pembuatan Hand Sanitizer Non-
Alkohol dari Lidah Buaya Sebagai Solusi Adanya Iritasi pada Kulit Terhadap Alkohol di
Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur” yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh
kesimpulan bahwa kegiatan edukasi berupa sosialisasi pemanfaatan lidah buaya sebagai hand
sanitizer.
Berdasarkan dari ke empat (4) jenis sampel handsanitizer yang berbeda, dari segi
harga atau pengeluaran dalam mengenai “Pembuatan Hand Sanitizer Non-Alkohol dari Esktrak
Lidah Buaya Sebagai Solusi Adanya Iritasi pada Kulit Terhadap Alkohol di Wilayah Kerja
Puskesmas Prabumulih Timur” yang paling ekonomis adalah handsanitizer daun sirih.
Tujuan pelaksanaan progrsm kerja ini telah terlaksana dengan baik sehingga efektif
dalam menambah : (1) pengetahuan tenaga kesehatan dan masyarakat tentang pemanfaatan
lidah buaya sebagai hand sanitizer alami; (2) upaya dalam memutuskan penyebaran virus dan
penyakit infeksi.
Hand sanitizer dibuat oleh tim dokter internship Puskesmas Prabumulih Timur akan
dibagikan kepada tenaga kesehatan dan beberapa pasien yang berkunjung ke Puskesmas
Prabumulih Timur.
25
DAFTAR PUSTAKA
1. Suwito A, Sulung N, Yasril AI, Hayati G, Kesehatan I, Universitas M, et al. Dampak
Pemberian Hand Sanitizer Daun Sirih dan Lidah Buaya Terhadap Jumlah Kuman Pada
Tangan Pedagang Kaki Lima Dimasa COVID-19. 2021;8(2):54–64.
2. Akuba J, Hasan H, Kunci K, Antiseptik :, Buaya L. Pemanfaatan Lidah Buaya (Aloe vera)
dalam pembuatan Hand Sanitaizer pada Masyarakat Desa Ulapato A. 2022; Available
from: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/Jpmf,
3. Rahmawati R, Deslianti D, Marcela PS, Manajemen P, Ekonomi F, Bisnis D, et al.
Alternatif Pembuatan Hand Sanitizer Alami Di Masa Pandemi Kelurahan Pasar Sejantung
Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang Jalan Tunggal.
4. Samson E, Seumahu D, Jurnal B:, Biologi P. Hand Sanitizer Berbahan Alami Non Alkohol
sebagai Alternatif Pencuci Tangan 11. Vol. 8, Journal of Biological Research). 2021.
5. Kurniawan ID, Suryani Y, Hafsari AR, Salim MA, Cahyanto T, Adawiyah A, et al.
Pelatihan Pembuatan Hand Sanitizer kepada Masyarakat Desa Tangguh di Kp. Pasir
Honje, Ds. Sukawening Kec. Ciwidey Kab. Bandung. Jurnal Surya Masyarakat. 2021 Nov
29;4(1):69.
6. Tutupara VR, Kamelane MI, Mailopuw Y, Nussy DN, Rumagia AW, Kalew NP, et al. PKM
Pembuatan Hand Sanitizer Berbasis Bahan Alami Di Negeri Kilang Kota Ambon.
7. Pembersih A, Terhadap T, Koloni J, Dyanti K, Dewi W, Khotimah S, et al. Nomor 3.
Agustus 2106. Vol. 2, Jurnal Cerebellum.
8. Vera PA, Air D, Sebagai B, Alami B, Hand P, Pouch S, et al. BISMA Business and
Management Journal. 2024;
9. Fitria A, Rizvi M, Lidya Arifah Y, Muhibuddin A, Wahab Hasbullah KA, A
WahabHasbullah UK. Pelatihan Pembuatan Bahan Handsanitizer Alami dengan Esktrak
Aloe vera Sebagai Upaya Pencegahan Covid-19 di Desa Pulorejo. Vol. 3. 2022.