Mbah Tupon, warga Ngentak, Bangunjiwo, Bantul menjadi
korban mafia tanah. Sertifikat tanah miliknya seluas 1.655 meter
persegi tiba-tiba beralih nama menjadi milik orang lain dan dijadikan
agunan kredit sebesar Rp1,5 miliar di sebuah lembaga keuangan.
Senasib dengan Mbah Tupon, Bryan Manov Qrisna Huri, warga
Tegalrejo, Tamantirto juga mendadak kehilangan tanahnya. Tiba-tiba
lahan keluarga seluas 2.275 meter persegi menjadi agunan di sebuah
lembaga perbankan di Sleman.
Kedua korban kasus tanah tersebut saat ini menunggu pengembalian
hak atas sertifikat tanah yang mereka anggap telah disalahgunakan
oleh pihak yang dipercayai. Kasus tanah juga telah dilaporkan ke Polda
DIY.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebut kasus penipuan tanah
yang menimpa Bryan lebih ekstrem dari kasus tanah yang dialami
Mbah Tupon.
"Tim hukum ini kan sudah menginvestigasi laporan Mas Bryan, jadi ada
kisah yang mirip dengan kasus Mbah Tupon, tetapi ini lebih ekstrem
lagi," kata Halim kepada Antara di Bantul, Rabu, 30 April 2025.
Menurut dia, kasus tanah yang dialami Bryan dinilainya lebih ekstrem
karena tidak ada satu pun tanda tangan dari Bryan dan keluarga,
namun tiba-tiba sertifikat berubah nama.
"Ini lebih ekstrem lagi dibanding Mbah Tupon, kalau Mbah Tupon jelas
diajak untuk tanda tangan, cuma dia tidak bisa tulis tidak bisa baca,
sehingga percaya saja akan dibantu pemecahan sertifikat, tapi
kasusnya Mas Bryan lebih ekstrem lagi lebih gila lagi," katanya.
Bupati Bantul mengatakan, dalam laporan kasus tanah yang diterima
dari keluarga Bryan, pihak keluarga tidak pernah tanda tangan, namun
oleh orang yang sebelumnya dipercaya untuk menguruskan
pemecahan sertifikat tanah, justru dibalik nama menjadi atas nama
orang lain.
"Itu berarti kemungkinan ada pemalsuan, jadi penipuan dan
pemalsuan dokumen, karena bagaimana bisa beralih kalau tidak ada
dokumen, akta jual beli kan tidak mungkin dan dalam akta apa pun
pasti diperlukan tanda tangan pemilik sertifikat," katanya.
Oleh karena itu, kata Halim, kasus tanah yang dialami Bryan ini luar
biasa, bahkan dari laporan yang diterima, luas tanah yang kemudian
beralih nama lebih luas dan besaran kredit yang dicairkan lebih besar
dibanding kasus Mbah Tupon.
"Makanya ini sesuatu yang luar biasa, kalau Mbah Tupon jelas dia tidak
bisa baca dan ditipu orang, lha Mas Briyan dan keluarga bukan orang
buta huruf, itu pun bisa jadi korban," katanya.
Bupati mengatakan, saat ini tim hukum yang diterjunkan Bagian
Hukum Pemkab Bantul sedang melakukan pendampingan dan
advokasi kepada keluarga Bryan untuk mendapatkan hak atas tanah
tersebut, hal yang sama juga dilakukan terhadap kasus tanah Mbah
Tupon.
Bryan mengungkap kasus penipuan yang dialami tersebut bermula
sekitar Agustus 2023, saat itu ibunya yakni Endang Kusumawati, 67
tahun, mempunyai kenalan atas nama Triono dan meminta bantuan
untuk melakukan pecah sertifikat tanah.
Akan tetapi, sertifikat tanah milik keluarganya seluas 2.275 meter tiba-
tiba beralih nama menjadi Muhammad Achmadi dan dijadikan agunan
kredit di lembaga perbankan di Kabupaten Sleman.
Satgas Pemberantasan Mafia Tanah
Bupati Abdul Halim Muslih menyatakan Kabupaten Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta, yang dipimpinnya siap membentuk satuan tugas
(Satgas) pemberantasan mafia tanah pasca-dua kasus penipuan
penggelapan sertifikat tanah di wilayah Kasihan, seperti dialami
keluarga Mbah Tupon.
"Saya rasa perlu satgas pemberantasan mafia tanah, dan agar efektif
tentu dibentuk dengan melibatkan lintas instansi," kata Halim.
Menurut dia, tidak hanya melibatkan dari Bagian Hukum Pemkab
Bantul saja, satgas juga melibatkan unsur kepolisian, kejaksaan, Badan
Pertanahan Nasional (BPN), Dinas Tata Ruang dan Badan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bantul.
Bupati juga mengatakan, kasus tanah yang dialami keluarga Mbah
Tupon dan Bryan Manov, yaitu sama-sama ada peralihan nama
sertifikat hak milik oleh pihak yang dipercaya melakukan pengurusan,
padahal permintaannya untuk pecah sertifikat.
"Ada indikasi mafianya sama, karena investigasi kok menemukan
nama-nama yang mirip, apakah itu orangnya sama atau tidak, masih
terus didalami," katanya.
Terlebih, kata Bupati, transaksi pemindahan nama dari Mbah Tupon
dan Bryan ke pihak lain, juga membayar Bea Perolehan Hak Atas
Tanah Bangunan (BPHTB), sehingga petugas tidak mengerti ada
persoalan dalam peralihan.
"Petugas kita tidak ada kepentingan untuk melakukan validasi,
sesungguhnya sertifikat ini atas nama siapa, yang bayar BPHTB
banyak, jadi dua-duanya meyakinkan bahwa telah terjadi peralihan
hak, buktinya mereka bayar BPHTB, dan berarti akta jual beli ini
palsu," katanya.
Ia mengaku heran, karena sertifikat tanah milik tersebut bisa demikian
mudah beralih ke tangan lain tanpa ada pembubuhan tanda tangan
sekalipun dari pihak pemilik, dalam hal ini yang menimpa kasus Bryan.
"Ini juga jadi perhatian, karena mereka bayar BPHTB, dan masa
ditanya setiap orang bayar BPHTB itu ditanya dan ditelusuri, tidak
mungkin, kita tidak ada ketentuan seperti itu," katanya.
Sertifikat Diblokir
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
(ATR/BPN) Nusron Wahid telah memblokir sertifikat tanah terkait
sengketa lahan Mbah Tupon hingga pemeriksaan oleh kepolisian
selesai.
"Sertifikat sekarang sudah diblokir agar tidak bisa dipakai proses jual
beli. Karena sekarang sedang ditangani kepolisian," kata Nusron usai
peresmian integrasi data di Puspemkot Tangerang, 30 April 2025.
Ia juga memastikan kasus Mbah Tupon sudah ditangani dengan naik.
Saat ini pihak debitur sudah diadukan ke polisi.
Ia menjelaskan kasus ini berawal saat Mbah Tupon diminta untuk
tanda tangan berkas yang tidak diketahui isinya dan ternyata itu
adalah pengalihan hak. Setelah pihak tersebut mendapat tanda tangan
pengalihan, lalu dijaminkan untuk mendapatkan pinjaman dari PT
Penjaminan Nasional Madani (PNM).
"Intinya adalah penipuan tanda tangan untuk mendapatkan pinjaman
ke PNM. Kita sudah libatkan kepolisian agar tak ada mafia tanah,"
ujarnya.
Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta berjanji mempercepat
penyelidikan kasus dugaan penggelapan sertifikat tanah milik Mbah
Tupon, 68 tahun.
"Proses ini menjadi perhatian kami dan menjadi atensi. Proses
penyelidikan masih dilakukan, saksi sudah dilakukan pemeriksaan,"
kata Kapolda DIY Inspektur Jenderal Anggoro Sukartono di Yogyakarta.
Menurut Anggoro, penyidik akan mengklarifikasi pejabat-pejabat yang
terlibat dalam penerbitan sertifikat tanah tersebut. Hasil pemeriksaan
akan menentukan apakah proses naik ke tahap penyidikan.
"Nanti prosesnya akan kami informasikan bahwa setelah dilakukan
pemeriksaan dalam penggalian penyelidikan nanti akan naik atau tidak
ke proses penyidikan berikutnya," ujarnya.
Ribuan Kasus Tanah
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional
(ATR/BPN) mengklaim telah menyelesaikan 2.161 kasus pertanahan
dari 5.973 kasus yang diterima sepanjang 2024. Menteri Nusron
Wahid mengatakan kasus-kasus yang diselesaikan tersebut mencakup
936 sengketa, 32 konflik, dan 1.193 perkara pertanahan.
"Kasus yang kami selesaikan mulai dari konflik individu, konflik dengan
korporasi, hingga perkara yang melibatkan negara," kata Nusron di
Jakarta, Selasa, 31 Desember 2024, dikutip dari keterangan resmi.
Kasus dikelompokkan berdasarkan intensitas konflik. Pemetaan kasus
ini, kata dia, akan menjadi dasar bagi Kementerian ATR/BPN untuk
merumuskan kebijakan efektif di masa depan.
Adapun kategori kasus pertanahan pertama adalah low intensity
conflict atau konflik rendah. Misalnya, perselisihan antarindivisu terkait
dengan warisan. Menurut Nusron, 5.552 kasus termasuk dalam
kategori ini. "Pendekatan yang digunakan biasanya bersifat mediasi
dengan fokus pada penyelesaian personal," kata dia.
Kategori berikutnya, high intensity conflict yang umumnya melibatkan
individu dengan korporasi, korporasi dengan negara, atau
antarkorporasi. Sebagai contoh, kasus pengambilalihan tanah rakyat
oleh perusahaan atau akuisisi tanah negara oleh pihak swasta. Ia
mengatakan ada 374 kasus yang tergolong dalam kategori ini.
Penyelesaiannya, kata dia, menggunakan pendekatan yang lebih
kompleks. "Mengutamakan aspek hukum dan negosiasi," tuturnya.
Selain itu, ada kasus pertanahan yang masuk kategori political
intensity conflict. Maksudnya, konflik ini pertanahan ini berpotensi
melahirkan dampak politik, seperti sengketa tanah masyarakat dengan
negara dalam proyek infrastruktur.
"Misalnya, dalam pengadaan jalan tol," ujar dia. "Ada 47 kasus dalam
kategori ini yang memerlukan pendekatan politik untuk penyelesaian."
Politikus Partai Golkar itu menuturkan, kasus dengan intensitas politik
membutuhkan pendekatan diplomasi dan komunikasi politik sebagai
kunci utama. Hal ini berbeda dengan konflik intensitas rendah yang
justru lebih efektif diselesaikan melalui mediasi antarindividu.