Anda di halaman 1dari 5

SJ

Biro Bangunan Umum dan Kontraktor CV. SUMBER JAYA Jl. Putri Junjung Buih Rt. V Marabahan
Kabupaten Barito Kuala

PEKERJAAN :
PENINGKATAN JALAN JELAPAT II TINGGIRAN DARAT
(Ruas No.39)

MANAJEMEN PENGENDALIAN MUTU

PEKERJAAN ATB
Tujuan kami melakukan Manajemen Pengendalian mutu ini untuk memberikan informasi tentang hal-hal pokok atau prosedur-prosedur kerja yang perlu dilakukan dalam pengendalian mutu suatu pekerjaan agar didapatkan hasil pekerjaan yang sesuai dengan yang diinginkan. Prosedur-prosedur kerja tersebut di lengkapi dengan cek list sehingga memudahkan pengontrolan pelaksanaan baik pada lokasi pemasangan konstruksi maupun pada lokasi asal produksi material. A. PENGENDALIAN MUTU DI LABORATORIUM Penyesuaian dengan spek. Semua peralatan yang akan digunakan untuk pengujian harus di cek kesesuaiannya dengan persyaratan yang dipakai (spek yg diminta/sesuai kontrak), dan prosedurprosedur pengujian yang digunakan seperti SNI, AASHTO, ASTM dan lainnya yang ada dalam kontrak harus tersedia di laboratorium dan di aplikasikan secara benar. kalibrasi peralatan secara berkala. Dalam hal pengujian maka yang perlu diamati adalah metode pengujian contoh, jumlah contoh, frekuensi dan metode pengujian harus sesuai dengan persyaratan dalam spesifikasi. B. PENGENDALIAN MUTU DI BASE CAMP AMP 1. Stock Pile Penanganan agregat di Stock Pile Pada saat proses penumpukan, pemindahan agregat di Stock Pile maka sering terjadi segregasi, dan terkontaminasinya agregat dengan tanah/lumpur hal ini akan menyulitkan atau bahkan tidak mungkin operator AMP mengadakan penyesuaian gradasi dalam waktu yang sangat terbatas. Untuk itu kami menempatkan operator Loader yang berpengalaman, mempunyai pengetahuan dan keahlian yang cukup dalam pekerjaannya dan mengusai sepenuhnya areal lokasi stock pile. Check list yang kami lakukan untuk pengendalian di Stock Pile meliputi : Kebersihan agregat proses di Stock Pile, terutama kebersihan pasir. Agregat tidak mengalami segregasi. Agregat tidak tercampur satu sama lainnya dan tidak terkontaminasi dengan tanah/lempung atau bahan lainnya.

2. A M P AMP yang yang kami digunakan adalah jenis Batch (penakaran), komponen-komponen yang terdapat dalam AMP adalah: a. Cold Bin. Cold Bin adalah tempat penyimpanan agregat kasar, agregat halus dan pasir. Kontinuitas aliran material dari Cold Bin ini sangat berpengaruh terhadap produksi campuran beraspal, untuk itu kami melakukan pengendalian mutu yang ketat pada Cold Bin Check list yang kami lakukan meliputi: Gradasi agregat Perubahan gradasi biasa terjadi bilamana perbedaan Quari atau supplier untuk itu setiap terjadi perubahan quari atau supplier, dilakukan pembuatan JMF kembali. Kondisi dari tiap Cold Bin Pencampuran agregat antara bin yang berdekatan dapat di cegah dengan membuat pemisah yang cukup dan pengisian tidak berlebih. Kalibrasi bukaan Cold Bin Untuk kalibrasi cold bin kami selalu melakukannya kalibrasi secara berkala serta disesuaikan jadwal kalibrasi dengan banyaknya proyek yang dikerjakan di pabrik. Bukaan Cold Bin Bukaan Cold Bin kadang-kadang tersumbat jika agregat halus basah, agregat terkontaminasi tanah lempung atau penghalang lain yang tidak umum seperti batu dan kayu. Untuk mengatasi ini kami melakukan pembersihan disekitar lokasi Stock pile material dari sampah-sampah dan selalu menutup stock material agregat yang dipakai pada saat kondisi hujan dengan terpal atau sejenisnya untuk menjaga agar bahan agregat selalu kering. Kecepatan Conveyor dan pengontrolan aliran agregat dan membuang material yang tidak perlu. Dalam hal ini kami menempatkan beberapa orang pekerja khusus untuk melakukan seleksi material yang masuk ke conveyor. b. Dryer Dari Cold Bin agregat di bawa ke Dryer yang mempunyai fungsi menghilangkan kandungan air pada agregat dan memanaskan agregat sampai suhu yang disyaratkan. Check list yang kami lakukan meliputi : Alat pengukur suhu Pemeriksaan suhu pemanasan Pemeriksaan kadar air secara tepat, yaitu dengan menggunakan cermin dan spatula.

c.

Hot Scren Setelah agregat kering dan dipanaskan agregat diangkut dengan hotelevator untuk disaring dan dipisahkan dalam beberapa ukuran padaumumnya proses penyaringan terjadi pelimpahan agregat misalnya semestinya masuk ke Hot Bin I tetapi terbawa ke Hot bin II, pelimpahan ini pada kondisi normal terjadi kurang dari 5% dan cenderung konstan sehingga tidak terlalu mempengaruhi kualitas produksi, hal ini terjadi bila : Lubang saringan tertutup agregat. Kecepatan produksi di tambah sehingga agregat yang disaring bertambah sementara efisiensi opersi penyaringan tetap. Agregat halus basah sehingga pada saat pengeringan dan pemanasan agregat tersebut akan menggumpal dan masuk ke Hot Bin yang tidak semestinya. Lubang saringan sudah ada rusak.

Check list yang kami lakukan adalah: pengecekan harian secara visual pada kebersihan dan kondisi saringan. d. Hot Bin Jika agregat halus masih masih menyisakan kadar air (karena burner/dryer kurang baik) setelah pemanasan, maka agregat yang sangat halus (debu) akan menempel dan menggumpal pada dinding Hot Bin dan akan jatuh setelah cukup berat. Hal tersebut dapat menyebabkan perubahan kecil pada gradasi agregat, yaitu penambahan material yang lolos saringan No. 200. Untuk mencegah hal ini terjadi kami selalu menjaga kualitas agregat yang masuk ke pabrik agar tetap kering serta selalu melakukan pengecekan terhadap spare part pabrik yang mempunyai fungsi vital agar dapat bekerja dengan baik. e. Weight Hopper Pada bagian ini operator AMP sangat berperan, jika keseimbangan waktu pencapaian berat Hot Bin sulit tercapai, maka operator harus membuang agregat tersebut dan melakukan pengcekan aliran material dari Cold Bin. Akan tetapi jika ketidakseimbangan waktu tersebut dipaksakan terus berjalan, maka dapat dipastikan terjadi penyimpangan gradasi akibat proporsi masing-masing Hot Bin tidak sesuai sesuai. Check list yang kami lakukan pada bagian adalah: Kalibrasi timbangan termasuk timbangan aspal. Weight Box tergantung bebas. Kontrol harian terhadap kinerja operator AMP.

f. Pugmill Dalam Pugmill terjadi dua jenis campuran yaitu: Pencampuran kering lamanya pencampuran ini diusahakan sesingkatnya mungkin untuk meminimalkan degradasi agregat, umumnya 1 atau 2 detik. Pencampuran basah, pada pencampuran juga diusahakan seminimal mungkin untuk menghindari degradasi dan oksidasi, jika agregat kasar telah terselimuti aspal maka pencampuran basah dihentikan, karena dapat dipastikan agregat halus juga terselimuti aspal, umurnya waktu pencampuran kurang dari 30 detik. Check list yangkami lakukan meliputi : Temperatur aspal (pada tangki aspal). Lamanya pencampuran. Tampak Visual yang keluar dari Pugmill, apakah campuran merata, terselimuti aspal, aspal menggumpal atau pugmill bocor 3. Pemeriksaan Hasil Produksi Campuran ATB Untuk mengetahui secara dini penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, sehingga dapat diperbaiki dengan segera, maka pemeriksaan terhadap hasil produksi sangat diperlukan. pemeriksaan yang kami lakukan meliputi: Secara visual temperatur campuran dapat diamati diatas dump truck , bila berasap biru, berarti terjadi over heating (terlalu panas), dan jika menggumpal atau tidak uniform berarti under heating (kurang panas). Pemeriksaan harus juga dengan alat terutama untuk pemeriksaan temperatur campuran diatas dump truck. Pengembalian sampel untuk pengujian sifat-sifat (ekstraksi, analisa saringan, marshall, kepadatan, dan lain-lain) dengan frekuensi yang sesuai dengan spesifikasi. Setelah semua pemeriksaan dilakukan dan dipastikan sesuai yang diinginkan, maka selanjutnya ATB dapat dikirim ke lokasi proyek. C. PENGENDALIAN MUTU SAAT PENGIRIMAN / PENGANGKUTAN ATB Maksimal jarak untuk pengiriman ATB dari lokasi AMP ke lokasi proyek adalah 100 km. Material ATB yang dikirim selama dalam pengiriman juga harus digaja volume/kuantitas serta kualitasnya (dalam hal ini suhu material ATB). Suhu ATB harus >110 c sebelum dilakukan penghamparan. Jadi selama pengiriman ke lokasi proyek material ATB harus dijaga dari berbagai kondisi dan keadaan yang akan merusak kualitasnya. Jarak dari lokasi AMP ke Lokasi proyek pada saat dilakukan peninjauan lapangan telah dipastikan tidak melebihi jarak maksimal pengiriman material ATB, yaitu 100 km.

Pengangkutan material ATB dilakukan langsung begitu campuran ATB telah selesai dilakukan menggunakan Dump Truck. Untuk menjaga kualitas material ATB di dalam truck ditutup menggunakan terpal ABRI. Hal ini dimaksudkan agar mengurangi drop suhu material ATB dan juga menjaga apabila terjadi kondisi hujan pada saat pengiriman ke lokasi proyek.

Marabahan, 28 Maret 2012 CV. SUMBER JAYA

H. R U S L I Direktur