0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan42 halaman

Skripsi Mayarita Utami 1

Diunggah oleh

Rafii Rafsanjanie
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan42 halaman

Skripsi Mayarita Utami 1

Diunggah oleh

Rafii Rafsanjanie
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

IMPLEMENTASI STRATEGI PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING

DALAM PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI SMA NEGERI 7


SAROLANGUN

SKRIPSI

Disusun Guna Memenuhi Tugas dan Syarat-Syarat


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam
Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiah
Institut Darul Ulum Sarolangun

Oleh:

MAYARITA UTAMI
NIM: 22101040

FAKULTAS TARBIAH
INSTITUT DARUL ULUM SAROLANGUN
TAHUN 2025

DAFTAR ISI
BAB 1.....................................................................................................................................3
A. Latar Belakang.............................................................................................................3
B. Indentifikasi Masalah..................................................................................................8
C. Focus Penelitian...........................................................................................................8
D. Tujuan Penelitian.........................................................................................................9
E. Manfaat Penelitian.......................................................................................................9
BAB II..................................................................................................................................11
A. Kajian Teori...............................................................................................................11
B. Hasil Penelitian yang Relevan...................................................................................38
BAB III................................................................................................................................41
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian................................................................................41
B. Lokasi Penelitian.......................................................................................................42
C. Kehadiran Peneliti.....................................................................................................42
D. Data dan Sumber Data...............................................................................................42
E. Sistematika Penulisan Skripsi....................................................................................43
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................44
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pendidikan menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan


Nasional adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan dirinya untuk
memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara”.1
Bertolak dari asumsi poerbakawatja dan Harahap menyatakan bahwa,
“pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan
pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu
menimbulkan tangung jawab moral dan segala perbuatannya.” 2
Pendidikan agama Islam hingga saat ini masih berhadapan dengan kritik-
kritik internal yang kurang menyenangkan diantaranya: pendidikan agama Islam
diajarkan lebih pada hafalan (padahal Islam penuh dengan nilai-nilai) yang harus
dipraktekkan. Pendidikan agama lebih ditekankan pada hubungan formalitas antara
hamba dengan Tuhan-Nya; penghayatan nilai-nilai agama kurang mendapat
penekanan dan masih terdapat respon kritis terhadap pendidikan agama.3
Hal tersebut sangat tidak signifikan, karena pendidikan agama Islam bertujuan
untuk “meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta
didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan
bertakwa kepada Allah Swt serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.4
Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan
dan dituju oleh kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu:
1. Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam.
2. Dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta
didik terhadap ajaran agama Islam.
3. Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik
dalam menjalankan ajaran Islam.
1
Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan
Islam Departemen Agama RI, 2006), h. 5.
2
Aris, Ilmu Pendidikan Islam, (Cirebon: Penerbit Yayasan Wiyata Bestari Samasta, 2022), Cet. 1, h. 3.
3
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2006), Cet. 3, h. 131.
4
Muhaimin, Paradigma Pendidikan ..., h. 78.
4. Dimensi pengamalannya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah
diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasi oleh peserta didik itu
mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakkan,
mengamalkan, dan menaati ajaran agama dan nilai-nilainya dalam
kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Allah Swt serta mengaktualisasikan dan merealisasikannya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.5

Sebagaimana yang terdapat dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 telah

dijelaskan tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II Pasal 3 menyatakan:

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk


watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab6

Di dalam Dictionary of Psychology yang dikutip oleh Tohirin, disebutkan

bahwa belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai

akibat latihan dan pengalaman.7 Dalam konteks belajar secara umum, Qardhawi

mengutip hadis riwayat Ibnu „Ashim dan Thabrani menyatakan “wahai sekalian

manusia, belajarlah! Karena ilmu pengetahuan hanya didapat melalui belajar”.8

Seperti disebutkan diatas, dalam perspektif Islam, belajar merupakan kewajiban bagi

setiap individu Muslim-Muslimat dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan

sehingga derajat kehidupannya meningkat. Firman Allah dalam surat al-Mujadalah

[58] ayat 11:

‫ٰۤي َا ُّي َها ا َّل ِذ ۡي َن ٰا َم ُن ۤۡوا ِا َذا ِقۡي َل َلـ ُك ۡم َت َف َّس ُح ۡوا ِفى ا ۡل َم ٰج ِل ِس َفا ۡف َس ُح ۡوا َي ۡف َس ِح ال ّٰل ُه َلـ ُك ۡم‬

‫َو ِا َذا ِقۡي َل ا ْن ُش ُز ۡوا َفا ْن ُش ُز ۡوا َي ۡر َف ِع ال ّٰل ُه ا َّل ِذ ۡي َن ٰا َم ُن ۡوا ِم ۡن ُك ۡم ۙ َوا َّل ِذ ۡي َن ُا ۡو ُتوا ا ۡل ِع ۡلم‬

‫َد َر ٰج ٍت ؕ‌ َوال ّٰل ُه ِب َما َت ۡع َم ُل ۡو َن َخ ِب ۡير‬

5
Muhaimin, Paradigma Pendidikan ..., h. 78.
6
Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan ..., hlm 8.
7
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), Ed.
1, hlm 59.
8
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama ..., hlm 55.
Berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka
berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. al-Mujadalah: 11).

Proses belajar-mengajar merupakan suatu proses yang mengandung

serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang

berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau

hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi

berlangsungnya proses belajar-mengajar. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian

pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa

yang sedang belajar.9 Oleh karena itu, salah satu faktor penting dalam keberhasilan

suatu pembelajaran di sekolah tergantung kepada penggunaan strategi pembelajaran

active learning.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik berkurang

bersamaan dengan berlalunya waktu. Penelitian Polio menunjukkan bahwa siswa

dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu

pembelajaran yang tersedia. Sementara penelitian Keachie menyebutkan bahwa dalam

10 menit pertama perhatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai

menjadi 20% pada waktu 10 menit terakhir.10

Kondisi tersebut merupakan kondisi umum yang terjadi di lingkungan sekolah.

Hal ini menyebabkan sering terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama

disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak menggunakan indra

pendengarannya dibanding visual, sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut

cenderung untuk dilupakan. Sebagaimana yang diungkapkan Confucius: “apa yang

9
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), Cet. 24, hlm 4.

10
Mel Silberman, Active Learning 101 Cara Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Yappendis, 2009),
Cet. 6, hlm 3.
saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat; apa yang saya lakukan; saya

paham”.11

Ketiga pernyataan ini menekankan pentingnya belajar aktif agar apa yang

dipelajari di bangku sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan diatas

sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran,

yaitu tidak tuntasnya penguasaan anak didik terhadap materi pelajaran.

Atas dasar lemahnya daya dengar peserta didik, atau tidak adanya peluang

beraktualisasi diri dalam belajar tersebut, Mel Silberman memodifikasi dan

memperluas pernyataan Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan teori

active learning, yaitu:

Apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat
sedikit. Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan
beberapa teman lain, saya mulai paham. Apa yang saya dengar, lihat,
diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Apa
yang saya ajarkan pada orang lain, saya menguasainya.12

Strategi active learning dikenalkan pertama kali oleh Mel Silberman. Secara

terminologi, istilah active learning bermakna belajar aktif adalah segala bentuk

pembelajaran yang memungkinkan peserta didik berperan secara aktif dalam proses

pembelajaran, baik dalam bentuk interaksi antar peserta didik ataupun peserta didik

dengan guru dalam proses pembelajaran.13

SMA Negeri 7 Sarolangun memiliki sejarah panjang dalam deretan

Perkembangan lembaga Pendidikan di Kabupaten Sarolangun. Pada waktu itu

Kabupaten Sarolangun Bangko (Sarko) belum di mekarkan. Kemudian sesuai dengan

perkembangan Lembaga Pendidikan di Kabupaten Sarko pada waktu itu. Maka pada

tahun 2007 resmi menjadi Sekolah Menegah Atas Negeri 7 Sarolangun yang terletak

11
Mel Silberman, Active Learning 101 Cara ..., hlm 1.
12
Mel Silberman, Active Learning 101 Cara ..., hlm 1-2
13
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), Cet. 1,
hlm, 36.
di Kelurahan Saroalngun kembang dengan luas 16.349 M 2. lokasi ini didapatkan

dengan tanah hibah.14 Pendidikan di Sekolah Menegah Atas Negeri 7 Sarolangun

berusaha memberikan fasilitas dan bimbingan bagi pertumbuhan inteligensi siswa

secara utuh, sehingga ukuran keberhasilan siswa tidak diukur secara seragam,

melainkan sesuai dengan potensi dan minat masing-masing.15

Proses pembelajaran PAI di SMA Negeri 7 Sarolangun tidak hanya ditekankan

pada aspek kognitif yang bersifat hafalan tetapi juga mengembangkan aspek

emosional (afektif) dan psikomotor. Secara umum proses pembelajaran PAI

berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, dalam

konteks ini guru mengarahkan potensi dan kemampuan yang dimiliki sehingga siswa

menyadari bahwa apa yang dipelajari akan berguna di kehidupan nanti, selain itu guru

juga mempersiapkan skenario pembelajaran dan mempersiapkan bahan untuk

mengajar yang sesuai dengan materi serta memilih strategi pembelajaran yang tepat

untuk dilaksanakan.

Secara lebih khusus penerapan strategi pembelajaran PAI termuat dalam

rencana tindakan (rangkaian suatu kegiatan) yang harus di kerjakan guru dan siswa

agar tujuan pembelajaran dapat di capai secara efektif dan efisien. Dalam setiap

pembelajaran PAI strategi yang dikembangkan adalah active learning.

Dengan strategi pembelajaran active learning ini diharapkan di samping guru

mengajar, siswa juga belajar. Jadi antara guru dan siswa sama-sama aktif. Dengan

adanya keaktifan dari guru dan siswa tersebut diharapkan potensi yang ada dalam diri

siswa dapat teraktualisasikan sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran

pendidikan agama Islam.

14
Dokumentasi Profil Sekolah SMA N 7 Sarolangun, hlm 4-8.
15
Jejen Musfah, Peningkatan Kompetensi Guru, (Jakarta: Kencana, 2011), Cet. 1, hlm 127
Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji dan

meneliti lebih lanjut mengenai implementasi strategi pembelajaran active learning

dalam pembelajaran PAI Sekolah Menegah Atas Negeri 7 Sarolangun sehingga

peneliti mengambil judul skripsi IMPLEMENTASI STRATEGI

PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA NEGERI 7 SAROLANGUN

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka peneliti

mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana implementasi pembelajaran active learning dalam pembelajaran

pendidikan agama Islam di SMA Negeri 7 Sarolangun?

2. Apa yang menjadi kendala dalam implementasi pembelajaran active learning

dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 7 Sarolangun?

3. Bagaimana upaya yang dilakukan dalam implementasi pembelajaran active

learning dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 7

Sarolangun?

C. Batasan Masalah

Untuk dapat memperjelas dan memberi arah yang tepat dalam penulisan skripsi ini,

peneliti membatasi fokus penelitian sebagai berikut:

1. Implementasi strategi pembelajaran active learning dalam pembelajaran

pendidikan agama Islam yang dimaksudkan ialah pelaksanaan pembelajaran PAI

dalam tahap pendahuluan, inti dan penutup yang mengacu pada keaktifan siswa di

Sekolah Menegah Atas Negeri 7 Sarolangun Tahun Ajaran 2024-2025


2. Faktor-faktor pendukung dan penghambat implementasi strategi pembelajaran

active learning dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di Sekolah Menegah

Atas Negeri 7 Sarolangun Tahun Ajaran 2024-2025.

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan

yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Mengetahui implementasi pembelajaran active learning dalam pembelajaran

pendidikan agama Islam di SMA Negeri 7 Sarolangun

2. Mengetahui yang menjadi kendala dalam implementasi pembelajaran active

learning dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 7

Sarolangun

3. Mengetahui upaya yang dilakukan dalam implementasi pembelajaran active

learning dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 7

Sarolangun

2. Kegunaan Penelitian
Secara teoritis hasil penelitian ini dapat berguna sebagai berikut:
1. Sebagai pijakan untuk mengembangkan penelitian-penelitian yang

menggunakan strategi pembelajaran active learning dalam pembelajaran

pendidikan agama Islam.

2. Memberikan gambaran yang jelas pada stakeholders (pemangku pendidikan)

tentang impelementasi strategi pembelajaran active learning dalam

pembelajaran pendidikan agama Islam.

Secara praktis hasil penelitian ini dapat berguna bagi:


1. Siswa Memperkenalkan strategi pembelajaran active learning kepada siswa

dalam proses pembelajaran dan sebagai pengalaman belajar yang berkesan

bagi siswa.

2. Guru Memberi masukkan dalam memperluas pengetahuan dan wawasan bagi

guru tentang inovasi pembelajaran dengan menggunakan strategi

pembelajaran active learning khususnya pada mata pelajaran pendidikan

agama Islam.

3. Sekolah Memberikan sumbangan dalam rangka penambahan variasi metode

dan sebagai acuan penerapan strategi pembelajaran active learning demi

tercapainya ketuntasan belajar siswa, sehingga dapat meningkatkan kualitas

dan mutu sekolah.

4. Penulis Menambah wawasan kependidikan serta sebagai bekal pengetahuan

mengenai strategi pembelajaran active learning sebagai metode yang tepat

dalam pembelajaran pendidikan agama Islam.

5. Pembaca Memberikan gambaran pentingnya penerapan strategi active learning

dalam proses pembelajaran agar suasana belajar menjadi aktif dan

menyenangkan.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Strategi Activ Learning
1. Pengertian Strategi Active Learning
Kata strategi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti: (1)ilmu dan seni

menggunakan sumber daya bangsa-bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan

tertentu dalam perang dan damai, (2) ilmu seni memimpin bala tentara untuk

menghadapi musuh dalam perang, dalam kondisi yang menguntungkan, (3) rencana

yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus, (4) tempat yang

baik untuk siasat perang.16

Istilah strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategia, strategi merupakan

sebuah perencanaan yang panjang untuk berhasil dalam mencapai suatu

keuntungan.17 Menurut Abin Syamsudin Makmun strategi didefinisikan sebagai

“suatu garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan”.18

Menurut Barbara B. Seels dan Rita C. Richey yang dikutip oleh Martinis,

menyebutkan “strategi pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi serta

mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan pembelajaran dalam suatu pelajaran". 19

Sedangkan secara umum dalam dunia pendidikan strategi diartikan J.R David

dalam Teaching Strategies for College Class Room, yang dikutip oleh Isjoni, dkk

mengemukakan, “A plan, method, or series of activities designed to achieves a

particular education goal”.20 Menurut pengertian ini strategi pembelajaran meliputi

rencana, metode, dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan

pengajaran tertentu.
16
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 3, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007),
Cet.4, hlm 1092.
17
Martinis Yamin, Strategi Metode dalam Model Pembelajaran, (Jakarta: GP Press Group, 2013), Cet. 1,
hlm.1.
18
Martinis Yamin, Strategi Metode dalam Model ..., hlm 1.
19
Martinis Yamin, Strategi Metode dalam Model ..., hlm. 2.
20
Isjoni, dkk., Pembelajaran Visioner Perpaduan Indonesia-Malaysia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007),
Cet. 1, hlm 2.
Strategi dapat diartikan sebagai a plant of operation achieving something,

“rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu”. Sedangkan metode ialah a way in

achieving something “cara untuk mencapai sesuatu”.21 Metode pengajaran termasuk

dalam perencanaan kegiatan atau strategi. Strategi pembelajaran merupakan

rancangan dasar bagi seorang guru tentang cara ia membawakan pengajarannya di

kelas secara bertanggung jawab.

Dari pengertian diatas terlihat jelas bahwa awalnya istilah “strategi” pertama

kali hanya dikenal di kalangan militer, khususnya strategi perang. Dalam sebuah

peperangan atau pertempuran, terdapat seseorang (komandan) yang bertugas

mengatur strategi untuk memenangkan peperangan. Semakin hebat strategi yang

digunakan (selain kekuatan pasukan perang), semakin besar kemungkinan untuk

menang.22

Seiring berjalannya waktu, istilah “strategi" di dunia militer tersebut diadopsi

ke dalam dunia pendidikan, strategi digunakan untuk mengatur siasat agar dapat

mencapai tujuan dengan baik. Dengan kata lain, strategi dalam konteks pendidikan

dapat dimaknai sebagai perencanaan yang berisi serangkaian kegiatan yang di desain

untuk mencapai tujuan pendidikan.23 Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi,

perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan

adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.

Untuk keberhasilan tujuan pembelajaran digunakan metode, dalam desain

pembelajaran metode sangat penting karena metode inilah yang menentukan situasi

belajar yang sesungguhnya di dalam kelas.

21
Isjoni, dkk., Pembelajaran Visioner ..., hlm 2.
22
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), Cet. 1,
hlm 13.
23
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan ..., hlm 13.
Jadi, dapat disimpulkan strategi merupakan perencanaan, langkah, dan

rangkaian untuk mencapai suatu tujuan, maka dalam pembelajaran guru harus

membuat suatu rencana, langkah-langkah dalam mencapai tujuan. Penerapan strategi

pembelajaran di lapangan akan didukung oleh metode-metode pembelajaran, strategi

lebih bersifat tidak langsung (indirect) atau penerapannya sebelum kegiatan

pembelajaran dilaksanakan dan ia berbeda dengan metode yang merupakan cara guru

menyampaikan materi pelajaran, maka metode bersifat langsung (direct).

Secara bahasa active learning berasal dari dua kata yaitu “active”yang berarti

aktif, gesit, giat, bersemangat.24 Sedangkan “learning”yang berarti pengetahuan,

belajar.10 Menurut peneliti kata learn yang mendapat sufiks –ing sehingga memiliki

makna yang berarti pembelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan active

learning adalah pembelajaran aktif yang di dalamnya terdapat berbagai macam

metode yang membuat peserta didik merasa bersemangat dan aktif dalam

pembelajaran.

Sebagai kata majemuk, secara istilah active learning bermakna pembelajaran

aktif dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki

oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang

memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki.

Strategi active learning adalah segala bentuk pembelajaran yang

memungkinkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran, baik dalam

bentuk interaksi antara peserta didik maupun peserta didik dengan guru dalam proses

pembelajaran.25

Di dalam jurnal ilmiah yang berjudul “What is Meant by Active Learning”

karya Ken Petress dikatakan bahwa: “Siswa aktif tidak sepenuhnya bergantung pada
24
John M. Echols dan Hassan Shadly, an English-Indonesia Dictionary, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, 2006), Cet. 28, hlm. 9.
25
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan ..., hlm 36.
guru; pembelajaran aktif menjadikan siswa sebagai teman atau (partner) dalam

proses pembelajaran. Siswa aktif biasanya menjadikan gurunya sebagai pemandu

untuk proses pembelajarannya dan sebagai motivator”.26

Selain itu di dalam jurnal ilmiah yang berjudul “Strategies for Active

Learning: an Alternative to Passive Learning” karya Muhammad Asim Mahmood,

Maria Tariq dan Saira Javed dikatakan bahwa: “Pembelajaran aktif adalah salah satu

macam proses pembelajaran yang didalamnya siswa diajak dalam sebuah aktivitas

yang terpadu dibanding menjadi penonton yang diam dan pasif”.27

Dalam active learning, cara belajar dengan mendengarkan saja akan cepat

lupa, dengan mendengar dan melihat akan ingat sedikit, dengan mendengar, melihat

dan mendiskusikan dengan siswa lain akan paham, dengan cara mendengar, melihat,

diskusi, dan melakukan akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan, dengan

mengajarkan kepada siswa lain akan menguasai.

Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa

kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu

jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan berbicara

guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru.

“Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per-menit, sementara peserta didik

hanya mampu mendengarkan 50-100 kata per menitnya, karena peserta didik

mendengarkan pembicaraan guru sambil berfikir”.28

Penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan dari

14% ke 38%.29 Dengan penambahan visual disamping auditori dalam pembelajaran

26
Ken Petress, What is Meant by Active Learning, Scholarly Journal of Education, Vol. 128, 2008, hlm 1-4.
27
Muhammad Asim Mahmood, dkk, Strategies for Active Learning: an Alternative to Passive Learning,
Academic Research International, Vol. 1, Nov 2011, hlm 1-6.

28
Mel Silberman, Active Learning 101 Cara ..., hlm 2.
29
Mel Silberman, Active Learning 101 Cara ..., hlm. 15
kesan yang masuk dalam diri anak didik semakin kuat sehinggabertahan lama

dibandingkan dengan hanya menggunakan audio (pendengaran saja). Hal ini

disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki siswa saling menguatkan,

apa yang di dengar dikuatkan oleh penglihatan (visual), dan apa yang dilihat

dikuatkan oleh pendengaran. Dalam arti kata pembelajaran seperti ini sudah diikuti

oleh reinforcement yang sangat membantu bagi pemahaman anak didik terhadap

materi pembelajaran.

Untuk memproses informasi secara efektif, otak the brain membantu

melaksanakan refleksi baik secara eksternal maupun internal. Jika kita

mendiskusikan informasi dengan orang lain, dan jika kita diminta untuk

mempertanyakannya, otak kita dapat melaksanakan tugas belajar dengan lebih baik.

strategi pembelajaran active learning merupakan strategi-strategi konkrit yang

memungkinkan untuk diterapkan dalam pembelajaran.

Jadi, strategi pembelajaran active learning adalah sebuah perencanaan untuk

mencapai tujuan dengan cara apapun yang tidak akan membuat peserta didik jenuh

berada di dalam kelas serta memberikan peranan aktif kepada seluruh peserta didik,

dengan demikian guru pun senang karena strategi yang digunakan tidak monoton dan

tidak berpusat pada guru itu saja. Selain itu juga peserta didik menggunakan seluruh

kemampuan yang dimiliki, yaitu pikiran dan alat indera. Dengan menggunakan

wawasan yang luas siswa dapat menuangkan ide pokok ke dalam strategi

pembelajaran aktif tersebut, sehingga siswa tidak jenuh dan bosan berada di dalam

kelas.

2. Karakteristik Active Learning


Di dalam jurnal ilmiah yang berjudul “Active Learning: Creating Exciement in

the Classroom, karya Charles C. Bonwell dikatakan bahwa: active learning menurut

Bonwell memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

a. Menekankan pada proses pembelajaran, bukan pada penyampaian materi


oleh guru melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analitis
dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
b. Peserta didik tidak boleh pasif, tetapi harus aktif mengerjakan sesuatu yang
berkaitan dengan materi pembelajaran, dimana peserta didik harus
mempraktikkan bahkan membuktikan teori yang dipelajari, tidak sekadar
diketahui.
c. Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan
materi pembelajaran. Dalam hal ini peserta didik berhak menerima materi
pelajaran yang dipandang selaras dengan pandangan hidupnya atau
menolak materi pelajaran yang tidak sesuai dengan pandangan hidupnya.
d. Peserta didik lebih banyak dituntut berpikir kritis, menganalisis dan
melakukan evaluasi daripada sekadar menerima teori dan menghafalnya.
e. Umpan balik dan proses dialektika yang lebih cepat akan terjadi pada
proses pembelajaran dikarenakan guru yang mengajarkan materi
pembelajaran langsung mendapatkan feedback dari peserta didik yang
aktif.30

Di samping karakterististik di atas, secara umum suatu proses pembelajaran

aktif memungkinkan diperolehnya beberapa hal. Pertama, interaksi yang timbul

selama proses pembelajaran akan menumbuhkan positive interdependence, dimana

konsolidasi pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama-

sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar. Kedua, setiap individu harus terlibat

aktif dalam proses pembelajaran, dan guru harus mendapatkan penilaian dari peserta

didik sehingga terdapat individual accountability. Ketiga, proses pembelajaran aktif

memerlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social skills.31

3. Prinsip-Prinsip Strategi Active Learning

Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua

strategi pembelajaran cocok untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap

strategi memiliki kekhasan sendiri- sendiri. Begitu juga dengan strategi active
30
Charles C. Bonwell, Active Learning: Creating Excitement in the Classroom, Active Learning Workshop,
May 2000, hlm 3.
31
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan ..., hlm. 37.
learning, prinsip umum strategi active learning yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya

dalam bukunya Perencanaan dan Sistem Pembelajaran adalah sebagai berikut:

a. Berorientasi pada tujuan

Dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama.

Segala aktivitas guru dan siswa, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan

yang telah ditentukan. Efektivitas pengembangan pengalaman belajar

ditentukan dari keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.

b. Aktivitas

Belajar adalah berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan

tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, pengalaman belajar siswa harus

dapat mendorong agar siswa beraktivitas melakukan sesuatu.

c. Individualitas

Pengalaman belajar dirancang untuk setiap individu siswa. Walaupun kita

mengajar pada sekelompok siswa, namun pada hakikatnya yang ingin kita

capai adalah perubahan prilaku setiap siswa.

d. Integritas

Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi

peserta didik. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif

saja, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik. Merancang pengalaman

belajar siswa, harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian siswa

secara terintegrasi.32

Adapun beberapa prinsip khusus dalam Active Learning yaitu:

1) Interaktif
32
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2008), Cet. 4, hlm 169-
171.
Prinsip interaktif mengandung makna, bahwa mengajar bukan hanya

menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa; akan tetapi mengajar

dianggap sebagai proses mengatur lingkungan yang dapat merangsang

siswa untuk belajar.

2) Inspiratif

Proses pembelajaran adalah proses yang inspiratif, yang memungkinkan

siswa untuk mencoba dan melakukan sesuatu.

3) Menyenangkan

Proses pembelajaran yang menyenangkan dapat dilakukan melalui

pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi, yakni dengan

menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber belajar

yang relevan serta gerakan-gerakan guru yang mampu membangkitkan

motivasi belajar siswa.

4) Menantang

Proses pembelajaran adalah proses yang menantang siswa untuk

mengembangkan kemampuan berpikir, yakni merangsang kerja otak secara

maksimal. Apapun yang diberikan dan dilakukan guru harus dapat

merangsang siswa untuk berpikir (learning how to learn) dan melakukan

(learning how to do).

5) Motivasi

Dalam rangka membangkitkan motivasi, guru harus dapat menunjukkan

pentingnya pengalaman dan materi belajar bagi kehidupan siswa, dengan

demikian siswa akan belajar bukan hanya sekedar untuk memperoleh nilai

atau pujian, akan tetapi didorong oleh keinginan untuk memenuhi

kebutuhannya.33
33
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm 172-174
4. Kelebihan dan Kelemahan Active Learning

a. Kelebihan Strategi Active Learning

Diantara kelebihan strategi active learning tersebut adalah sebagai berikut:

1) Peserta didik dapat belajar dengan cara yang sangat menyenangkan sehingga

materi sesulit apapun tidak sempat “mengernyitkan” kening mereka.

2) Aktivitas yang ditimbulkan dalam active learning dapat meningkatkan daya

ingat peserta didik, karena gerakan dapat“mengikat”daya ingat pada memori

jangka panjang.

3) Active learning dapat memotivasi peserta didik lebih maksimal sehingga dapat

menghindarkan peserta didik dari sikap malas, mengantuk, melamun dan

sebagainya.34

b. Kelemahan Strategi Active Learning

Adapun kelemahan yang terdapat di dalam strategi active learning diantaranya

adalah sebagai berikut:

1) Hiruk-pikuknya kelas akibat dari aktivitas yang ditimbulkan strategi active

learning justru sering kali dapat mengacaukan suasana pembelajaran, sehingga

standar kompetensi tidak tercapai.

2) Secara rasional memang peserta didik yang belajar senang hati dapat mencapai

prestasi yang lebih tinggi daripada belajar dalam tekanan atau target materi.

Namun demikian, keleluasaan dengan penekanan pada aspek menyenangkan

memiliki risiko tinggi, yakni ketidaksediaan peserta didik untuk belajar lebih

keras. Dengan kata lain, konsep belajar aktif menyenangkan dapat pula

membuat peserta didik lebih menekankan pada pencarian kesenangan dalam

belajar, dan melupakan tugas utamanya untuk belajar.35

34
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan ..., hlm 58-59.
35
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan ..., hlm 59.
B. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 7 sarolangun

1. Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Menurut Sa’dun Akbar, “Pembelajaran adalah upaya fasilitasi yang dilakukan

pendidik bagi peserta didik agar mereka dapat belajar sendiri dengan mudah”. 36 Agar

peserta didik dapat belajar dengan mudah, seorang pendidik perlu menempatkan

unsur pembelajaran secara tepat.

Menurut Muhammad Rahman dan Sofwan Amri, “Pembelajaran merupakan

suatu sistem instruksional yang mengacu pada seperangkat komponen yang saling

bergantung satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan. Selaku suatu sistem

pembelajaran meliputi suatu komponen, antara lain tujuan, bahan, peserta didik,

guru, metode, situasi, dan evaluasi”.

Jadi, dapat disimpulkan pembelajaran adalah suatu sistem instruksional yang

saling berkaitan satu sama lain. Adapun sistem instruksional tersebut termuat di

dalam perencanaan pembelajaran yang meliputi komponen pokok, yaitu komponen

tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode, media dan sumber pembelajaran

serta komponen evaluasi. Sedangkan faktor yang mempengaruhi sistem

pembelajaran, yaitu guru, siswa, sarana dan prasarana.

Menurut kurikulum pendidikan dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam

adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,

memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran agama Islam dibarengi dengan

tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan

kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.37

36
Sa’dun Akbar, Instrumen Perangkat Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm 133.

37
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2006), Cet. 3, hlm 130.
Pernyataan Zakiyah Daradjat yang dikutip oleh Abdul Majid, dkk pendidikan

agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar

senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati

tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai

pandangan hidup.38

Dari berbagai pengertian diatas dapat peneliti simpulkan bahwa pendidikan

agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik kepada peserta didik

untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran

agama Islam sebagai pandangan hidup.

2. Tujuan dan Ruang Lingkup Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA

Pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah bertujuan untuk menumbuhkan

dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan,

penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam

sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan,

ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang

pendidikan yang lebih tinggi.39

Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan

dan dituju oleh kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu:

a. Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam;


b. Dimensi Dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan
peserta didik terhadap ajaran agama Islam;
c. Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik
dalam menjalankan ajaran Islam; dan
d. Dimensi pengalamannya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah
diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasi oleh peserta didik itu
mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakkan,
mengamalkan, dan menaati ajaran agama dan nilai-nilainya dalam
kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada

38
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam ..., hlm. 130.
39
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm. 135.
Allah Swt serta mengaktualisasikan dan merealisasikannya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.40

Rumusan tujuan PAI ini mengandung pengertian bahwa proses pendidikan

agama Islam yang dilalui oleh peserta didik di sekolah dimulai dari tahapan kognisi,

yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran dan nilai-nilai yang

terkandung dalam ajaran Islam, untuk selanjutnya menuju ke tahapan afeksi, yakni

terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri siswa, dalam arti

menghayati dan meyakininya.

Tahapan afeksi ini terkait erat dengan kognisi, dalam arti penghayatan dan

keyakinan siswa menjadi kokoh jika dilandasi oleh pengetahuan dan pemahamannya

terhadap ajaran dan nilai agama Islam. Melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan

dapat tumbuh motivasi diri siswa dan tergerak untuk mengamalkan dan menaati

ajaran Islam (tahapan psikomotorik) yang telah diinternalisasikan dalam dirinya.

Dengan demikian, akan terbentuk manusia muslim yang beriman, bertakwa dan

berakhlak mulia.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka mata pelajaran pendidikan agama Islam

itu secara keseluruhannya dalam lingkup Al-Qur’an dan Al-hadis, keimanan, akhlak,

fiqh/ibadah, dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan

agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan

hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama mausia, makhluk lainnya

maupun lingkungannya (Hablun minallah wa hablun minannas).41

Dari tujuan dan ruang lingkup pendidikan agama Islam sebagaimana yang

telah dijabarkan peneliti dapat menarik benang merah bahwa tujuan pendidikan

agama Islam membentuk manusia agar menjadi manusia muslim yang beriman dan
40
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), Cet. 3, hlm 78.

41
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam ..., hlm 131.
bertakwa kepada Allah SWT dengan menjauhi larangannya dan mentaati segala

perintahnya sehingga dapat membentuk akhlak yang baik. Dalam ruang lingkup

pendidikan agama Islam juga terdapat 5 aspek yang sangat penting dalam mata

pelajaran pendidikan agama Islam yaitu Al-Qur’an, hadis, Fiqh, Akidah akhlak,

Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab.

3. Fungsi Pendidikan Agama Islam

Menurut Abdul Majid dan Dian Andayani dalam bukunya Pendidikan Agama

Islam Berbasis Kompetensi, kurikulum pendidikan agama Islam untuk

sekolah/madrasah menengah berfungsi sebagai berikut:

a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta


didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan
keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban menanamkan
keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga.
Sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri
anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan
ketakwaan tersebut dapat berkembang sevara optimal sesuai dengan
tingkat perkembangannya.
b. Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan
hidup di dunia dan di akhirat.
c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat
mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.
d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan- kesalahan, kekurangan-
kekurangan dan kelemahan- kelemahan peserta didik dalam keyakinan,
pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.
e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya
atau dari budaya lain yang dapat membahayakandirinya dan
menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
f. Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam
nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya.
g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat
khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang
secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi
orang lain.42
Dengan demikian pendidikan agama Islam memiliki fungsi yang sangat

signifikan dalam penerapan proses pembelajaran di sekolah. Pendidikan agama islam

tidak hanya membentuk kecerdasan peserta didik, tetapi membentuk keterampilan dan

42
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam ..., hlm. 134-135.
nilai- nilai yang sangat berpengaruh bagi pengembangan diri peserta didik dalam

kehidupan dunia dan akhirat.

4. Standar Kompetensi Mata Pelajaran PAI di SMA

Kompetensi dasar mata pelajaran berisi sekumpulan kemampuan minimal

yang harus dikuasai peserta didik selama menempuh pendidikan di SMA.

Kemampuan ini berorientasi pada perilaku afektif dan psikomotorik dengan dukungan

pengetahuan kognitif dalam rangka memperkuat keimanan dan ketaqwaan kepada

Allah SWT. Kemampuan-kemampuan yang tercantum dalam komponen kemampuan

dasar ini merupakan penjabaran dari kemampuan dasar umum yang harus dicapai di

SMA yaitu:

1) Beriman kepada Allah SWT dan lima rukun iman yang lain dengan

mengetahui fungsi serta terefleksi dalam sikap, perilaku, dan akhlak

peserta didik dalam dimensi vertikal maupun horizontal.

2) Dapat membaca, menulis, dan memahami ayat Al-Qur’an serta

mengetahui hukum bacaannnya dan mampu mengimplementasikan dalam

kehidupan sehari-hari.

3) Mampu beribadah dengan baik sesuai dengan tuntutan syari’at Islam baik

ibadah wajib maupun ibadah sunnah.

4) Dapat meneladani sifat, sikap, dan kepribadian Rasulullah, sahabat, dan

tabi’in serta mampu mengambil hikmah dari sejarah perkembangan Islam

untuk kepentingan hidup sehari hari masa kini dan masa depan.

Mampu mengamalkan sistem muamalat Islam dalam tata kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

C. Implementasi Strategi Active Learning dalam Pembelajaran PAI


Menurut Wina Sanjaya, “Proses memberikan pengalaman belajar pada siswa,

secara umum terdiri atas tiga tahap, yakni tahap permulaan (prainstruksional), tahap

pengajaran (instruksional), dan tahap penilaian/tindak lanjut”. Ketiga tahapan tersebut

memiliki hubungan erat dengan pelaksanaan strategi pembelajaran active learning.

Oleh karena itu, setiap penggunaan strategi pembelajaran active learning harus

ditempuh pada setiap saat melaksanakan pembelajaran. Jika, satu tahapan tersebut

ditinggalkan, maka pengalaman belajar siswa tidak akan sempurna.43

1. Tahap Pendahuluan (Prainstruksional)

Tahap prainstruksional adalah tahapan yang ditempuh guru pada saat ia

memulai proses belajar dan mengajar. 44 Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh

guru atau oleh siswa pada tahapan ini:

1) Guru menanyakan kehadiran siswa, dan mencatat siapa yang tidak hadir.

Kehadiran siswa dalam pembelajaran, dapat dijadikan salah satu tolak ukur

kemampuan guru mengajar.

2) Bertanya kepada siswa, sampai di mana pembahasan pelajaran sebelumnya.

Dengan demikian, guru mengetahui ada tidaknya kebiasaan belajar siswa di

rumahnya sendiri. Setidak-tidaknya kesiapan siswa menghadapi pelajaran hari

itu.

3) Mengajukan pertanyaan kepada siswa di kelas, atau siswa tertentu tentang

bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk

mengetahui sampai di mana pemahaman materi yang telah diberikan.

4) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan

pelajaran yang belum dikuasainya dari pembelajaran yang telah dilaksanakan

sebelumnya. Mengulang kembali bahan pelajaran yang lalu (bahan pelajaran

43
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm 25.
44
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm 175.
sebelumnya) secara singkat tapi mencakup semua bahan aspek yang telah

dibahas sebelumnya (apersepsi). Hal ini dilakukan sebagai dasar bagi pelajaran

yang akan dibahas hari berikutnya nanti, dan sebagai usaha dalam

menciptakan kondisi belajar siswa.45

2. Tahap Pelaksanaan (Instruksional)

Tahap kedua adalah tahap pelaksanaan pembelajaran atau tahap inti, yakni

tahap memberikan pengalaman belajar pada siswa. Tahap instruksional akan sangat

tergantung pada strategi pembelajaran yang akan diterapkan, misalnya strategi active

learning, inkuiri, cooperative learning dan lain-lain.46 Secara umum dapat

diidentifikasi beberapa kegiatan yang terjadi dalam tahap Instruksional sebagai

berikut:

a) Menjelaskan pada siswa tujuan pengajaran yang harus dicapai siswa.


b) Menuliskan pokok materi yang akan dibahas hari itu.
c) Membahas pokok materi yang telah dituliskan tadi. Dalam pembahasan
materi itu dapat ditempuh dua cara yakni: pertama, pembahasan dimulai
dari gambaran umum materi pengajaran menuju kepada topik secara lebih
khusus. Cara kedua dimulai dari topik khusus menuju topik umum.
d) Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan contoh-contoh
konkret. Demikian pula siswa harus diberikan pertanyaan atau tugas untuk
mengetahui tingkat pemahaman dari setiap pokok materi yang telah
dibahas.
e) Penggunaan alat bantu pengajaran untuk memperjelas pembahasan setiap
pokok materi sangat diperlukan.
f) Menyimpulkan hasil pembahasan dari pokok materi. Kesimpulan ini
dibuat oleh guru dan sebaiknya pokok- pokoknya ditulis dipapan tulis
untuk dicatat siswa. Kesimpulan dapat pula dibuat guru bersama-sama
siswa, bahkan aklau mungkin diserahkan sepenuhnya kepada siswa.47

3. Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut

Tujuan tahapan ini, ialah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari tahapan

kedua (instruksional). Setelah melalui tahap instruksional, langkah selanjutnya yang

ditempuh guru adalah mengadakan penilaian keberhasilan belajar siswa dengan

45
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm. 175-176.
46
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm 176.
47
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm. 177.
melakukan posttest. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan guru dalam tahap ini,

antara lain:

a. Mengajukan pertanyaan pada siswa tentang materi yang telah dibahas.

b. Mengulas kembali materi yang belum dikuasai siswa.

c. Memberi tugas atau pekerjaan rumah pada siswa.

d. Menginformasikan pokok materi yang akan dibahas pada pertemuan

berikutnya.48

Hasil penilaian dapat dijadikan pedoman bagi guru untuk melakukan tindak

lanjut baik perbaikan maupun pengayaan. Menurut Departemen Pendidikan Nasional,

berdasarkan Panduan Implementasi Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar

dan Menengah yang dikutip oleh Sa’dun Akbar menjelaskan bahwa “pelaksanaan

pembelajaran sering disebut juga sebagai kegiatan pembelajaran, merupakan

implementasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berisi pengalaman

belajar siswa”.49

1. Eksplorasi

Peserta didik mengalami:

a) Mencari informasi yang luas dan dalam tentang materi yang dipelajari.

b) Belajar dengan beragam pendekatan, metode, sumber.

c) Interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan dan

sumber belajar lain.

d) Terlibat secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.

e) Melakukan percobaan, misalnya di laboratorium, studio dan lapangan.

2. Elaborasi

Peserta didik mengalami:


48
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi Pendidik Dalam Implementasi
Pembelajaran Yang Efektif Dan Berkualitas, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm 133-134.
49
Sa’dun Akbar, Instrumen Perangkat ..., hlm. 142.
a) Membaca dan menulis hal beragam melalui tugas yang bermakna.

b) Mengerjakan tugas, diskusi, untuk memunculkan gagasan baru baik secara

lisan maupun tertulis.

c) Berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak dengan

tanpa rasa takut.

d) Pembelajaran kooperatif dan kolaboratif.

e) Berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar.

f) Membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik secara individual maupun

kelompok.

g) Melakukan pameran, turnamen, festival produk yang dihasilkan.

h) Melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri

peserta didik.50

3. Konfirmasi

Peserta didik mengalami:

a) Memperoleh umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan,

tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilannya.

b) Memperoleh konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta

didik melalui berbagai sumber.

c) Melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang

dilakukan.

d) Memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi

dasar dari guru. Disini guru, rekan guru, atau kelompok lain berfungsi

sebagai:

(1) Narasumber dan fasilitator menjawab bagi peserta didik yang


menghadapi kesulitan dengan menggunakan bahasa yang baku dan
benar.
50
Sa’dun Akbar, Instrumen Perangkat ..., hlm 138.
(2) Membantu menyelesaikan masalah.
(3) Memberi acuan agar peserta didik dapat mencek hasil eksplorasi.
(4) Memberi informasi untuk eksplorasi lebih jauh.
(5) Memberikan motivasi bagi peserta didik yang belum berpartisipasi
secara aktif.51

Jadi, dapat disimpukan dalam penerapan pembelajaran aktif (active learning)

mengupayakan pengalaman belajar (pada langkah-langkah pembelajaran) dengan cara

melibatkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.

Kegiatan ekplorasi adalah kegiatan untuk menggali (mengamati, membaca,

mewawancara, mendengarkan dengan memperhatikan dan mengerjakan).

Kegiatan elaborasi adalah serangkaian kegiatan memperluas wawasan,

pemahaman, memperdalam, menjabarkan, memerinci lebih detail sehingga

komprehensif untuk memahami dengan melakukan diskusi, memanfaatkan sumber

dan media belajar lain sehingga hasil eksplorasi memperoleh tambahan masukan dan

wawasan lebih luas. Kegiatan konfirmasi lebih bersifat pemantapan, misalnya lewat

umpan balik, penyimpulan, check and recheck sehingga peserta didik mampu

meyakini untuk dinilai, menemukan fakta, konsep, dan generalisasi secara mantap.

E. Studi Relevan

Dari penelitian yang relevan ini bertujuan untuk keaslian penetian ini, hasil dari

penelitian yang dilakukan yaitu mengetahui dimana letak perbedaan ataupun perrsamaan

penelitian yang sudah ada sebelumnya dengan berdasarkan litera Berdasarkan penelitian

sebelumnya, terdapat keberhasilan yang diperoleh dengan menggunakan strategi active

learning yakni penelitian yang dilakukan oleh peneliti lain sebagai berikut:

Zata Yumni Nabilla Rufaida lulusan 2013 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Jurusan Kependidikan Islam. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan telah meneliti Strategi

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Pada Siswa Kelas XI di SMA Semesta

51
Sa’dun Akbar, Instrumen Perangkat ..., hlm 138-139.
Bilingual Boarding School Semarang. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1)

Implementasi strategi pembelajaran PAI di kelas XI SMA Semesta Bilingual Boarding

School meliputi persiapan materi pembelajaran, membuat RPP, melaksanakan strategi

active learning dan teknik quantum learning. Materi PAI kelas XI SMA Semesta yaitu

memahami ayat al-Qur’an tentang perintah menyantuni kaum dhuafa, meningkatkan

keimanan kepada Rasul-rasul Allah, membiasakan prilaku terpuji taubat dan raja’,

memahami hukum Islam tentang mu’amalah dan memahami perkembangan Islam pada

abad pertengahan. (2) Pengembangan strategi pebelajaran PAI di kelas XI SMA Semesta

Bilingual Boarding School mengacu pada penggunaan strategi active learning dan model

pembelajaran dengan teknik quantum learning. strategi active learning yang digunakan

yaitu active knowledge sharing, information search, the power of two, jigsaw learning

dan question student have. Model dan teknik pembelajaran yang digunakan pada

pembelajaran PAI merupakan implementasi dari model pembelajaran kontekstual,

experience, dan konstruktif.52

Penerapan Model Pembelajaran Active Learning Dalam Meningkatkan Kualitas

Pembelajaran PAI di SMAN 3 Malang. Oleh Siti Qomariyah. Mahasiswa UIN Maulana

Malik Ibrahim Malang 2009. Fakultas Tarbiyah. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Hasil

Penelitian dapat diketahui bahwa: (1) Penerapan model pembelajaran active learning

dalam proses pembelajaran PAI di SMA Negeri 3 Malang khususnya kelas XII akselerasi

telah menggunakan metode atau strategi sosiodrama dan jigsaw. (2) Kualitas

pembelajaran PAI melalui penerapan model pembelajaran active learning di SMA Negeri

3 Malang khususnya kelas XII akselerasi memberikan dampak yang positif bagi siswa,

guru dan pihak sekolah.53

52
Zata Yumni Nabilla Rufaida, “Strategi Pembelajaran PAI di Kelas XI SMA Semesta Bilingual Boarding
School”, Skripsi pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, (Yogyakarta, 2013), h. 125, tidak dipublikasikan.
53
Siti Qomariyah, “Penerapan Model Pembelajaran Active Learning Dalam Meningkatkan Kualitas
Pembelajaran PAI di SMAN 3 Malang”, Skripsi pada UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, (Malang, 2009), h.
111-112, tidak dipublikasikan.
Implementasi Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)

Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar PAI siswa SDN 1 Cepogo Boyolali. Oleh

Dwi Nur Sholihah. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah. Mahasiswa

IAIN Walisongo 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Implementasi PAKEM

dalam upaya meningkatkan motivasi belajar PAI siswa SDN I Cepogo Boyolali sudah

berjalan dengan baik, hal ini terbukti dengan diterapkannya metode-metode

pembelajaran yang menjadikan siswa aktif. Salah satu metode yang digunakan adalah

metode diskusi kelompok kecil (Small Group Discussion) pada pembelajaran Pendidikan

Agama Islam (PAI) sehingga pada metode ini potensi yang dimiliki siswa dapat

dikembangkan, karena melalui masing-masing kelompok seorang siswa dapat dengan

bebas menyalurkan pemikiran mereka (2) Hasil penerapan PAKEM dalam upaya

meningkatkan motivasi belajar PAI siswa SDN I Cepogo Boyolali berdampak terhadap

peningkatan mutu pembelajaran PAI. Adapun indikator peningkatan mutu tersebut

adalah: (a) dengan penerapan PAKEM siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran,

khususnya dalam pembelajaran PAI, (b) siswa dapat mengembangkan potensi yang

dimilikinya dan mengembangkan daya imajinasi secara maksimal,

(c) memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar

PAI yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif,

(d) dengan adanya PAKEM, hasil belajar PAI lebih meningkat dengan baik dan (e) guru

dapat menciptakan metode-metode yang efektif, sehingga siswa lebih mudah memahami

pelajaran PAI.54

Dari ketiga penelitian di atas sama-sama meneliti permasalahan strategi active

learning dalam pembelajaran PAI. Dalam penelitian ini penulis lebih menekankan

dengan penerapan atau pelaksanaan dari strategi active learning meliputi kegiatan
54
Dwi Nur Sholihah, “Implementasi Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan dalam Upaya
Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa SDN Cepogo Boyolali”, Skripsi pada IAIN Walisongo Semarang,
(Semarang, 2009), h. ii, tidak dipublikasikan
pendahuluan, inti dan penutup dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah

Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun.

BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

A. Lingkup Penelitian

Lingkup penelitian ini berfokus pada Implementasi Strategi Pembelajaran active

learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran

PAI di Sekolah Menegah Atas Negeri 7 Sarolangun, dengan menggunakan pendekatan

kualitatif untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang fenomena yang diteliti.

Penelitian ini akan mengkaji proses pembelajaran yang meliputi perencanaan,

pelaksanaan, dan evaluasi penerapan


Strategi Pembelajaran active learnin, serta menganalisis bagaimana model

pembelajaran tersebut dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan berpikir kritis

siswa dalam memahami dan menganalisis materi PAI Pengumpulan data akan dilakukan

melalui observasi langsung di kelas, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, serta

dokumentasi proses pembelajaran, dengan fokus pada aspek-aspek seperti kemampuan

siswa dalam menganalisis, mengevaluasi, dan menginterpretasikan ayat-ayat Al-Qur'an

dan Hadis dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Penelitian ini juga akan mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat

dalam implementasi model Strategi Pembelajaran active learning, serta menganalisis

efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran

PAI di Sekolah Menegah Atas Negeri 7 Sarolangun.

B. Jenis dan Sumber Data

1. Jenis Data

Dalam penelitian ini Jenis data terdapat dua macam yakni data primer dan data

sekunder, berikut penjelasannya :

a. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan secara

langsung dari sumber utama atau sumber asli oleh peneliti. Data ini

merupakan data yang bersifat original dan spesifik untuk tujuan penelitian

yang sedang dilakukan. Contoh data primer meliputi: Hasil wawancara

langsung dengan responden, data observasi lapangan.

Hasil kuesioner yang diisi responden, dokumentasi langsung seperti foto

atau video, hasil eksperimen atau pengukuran langsung Catatan lapangan dari

pengamatan langsung. Data primer yang penulis maksudkan dalam penelitian

ini adalah data wawancara dan observasi mengenai :


1) Implementasi Strategi Pembelajaran Active Learning dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Menengah Atas
Negeri 7 Sarolangun.
2) Kemampuan Active Learning siswa di Sekolah Menengah Atas
Negeri 7 Sarolangun.
3) Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam Implementasi
Strategi Pembelajaran Active Learning Dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Menengah Atas Negeri 7
Sarolangun.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan dari

berbagai sumber yang telah ada sebelumnya (bukan oleh peneliti sendiri).

Data ini sudah tersedia dan dapat diakses melalui berbagai media atau sumber

informasi. Contoh data sekunder meliputi: Buku dan literatur ilmiah, jurnal

penelitian terdahulu, dokumen arsip dan laporan, data statistik dari

lembaga/institusi, artikel media massa, data dari website resmi.

Data Sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diambil di

Madrasah Aliyah Negeri 1 Sarolangun mengenai :

1) Sejarah dan profil Sekolah


2) Denah dan Struktur Organisasi
3) Keadaan Guru dan Siswa
4) Keadaan Sarana dan Prasarana

C. Subjek Penelitian

Dalam penelitian kuantitatif, pembicaraan tentang subjek penelitian berkaitan erat

dengan pembicaraan tentang populasi dan sampel serta teknik sampling. Ini berkaitan

dengan penentuan siapa yang akan menjadi subjek penelitian dan berapa jumlah subjek

yang akan diteliti atau digali informasinya. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian

atau gejala/satuan yang ingin diteliti. Jika peneliti ingin meneliti keseluruhan subjek atau

elemen yang ada pada subjek maka penelitiannya disebut studi populasi atau studi

sensus.55

55
Rahmadi, Pengantar Metodologi Penelitian, (Banjarmasin: Antasari Press, 2011) hlm. 62.
Subjek dalam penelitian ini terdiri dari beberapa komponen yang terlibat langsung

dalam proses implementasi model active learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah

Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun, yaitu:

1. Guru Mata Pelajaran: Guru yang mengajar mata pelajaran PAI Sekolah
Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun. Dipilih berdasarkan pengalaman
mengajar dan pemahaman terhadap model pembelajaran Active Learning.
Menjadi sumber informasi utama terkait perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi pembelajaran
2. Siswa: Siswa kelas XII Sekolah Menengah Atas Sarolangun yang mengikuti
mata pelajaran PAI. Fokus pada satu kelas dengan jumlah siswa sekitar 19-20
orang. Dipilih berdasarkan pertimbangan tingkat kemampuan berpikir kritis
yang beragam.
3. Kepala Sekolah: Sebagai pimpinan yang memberikan kebijakan dan dukungan
terhadap implementasi model Active Learning pada mata pelajaran PAI di
Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun
4. Wakil Bidang Kurikulum: Memberikan informasi terkait penerapan kurikulum
dan program pembelajaran. Sumber data tentang perencanaan dan evaluasi
pembelajaran di tingkat sekolah

Pemilihan subjek penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka adalah

pihak-pihak yang terlibat langsung dan memiliki peran penting dalam implementasi

model Active Learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah Menengah Atas Negeri 7

Sarolangun.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian adalah cara atau teknik yang

digunakan peneliti untuk memperoleh dan mengumpulkan data yang diperlukan dalam

penelitian. Teknik pengumpulan data adalah cara yang ditempuh peneliti untuk

mendapatkaninformasi atau data penelitian, dan juga merupakan langkah yang begitu

strategis dalam metodologi penelitian. Di bawah ini penjelsan teknik pengumpulan data

yang penulis gunakan untuk mengumpulkan data :


1. Observasi

Teknik observasi memungkinkan untuk merekam perilaku atau peristiwa ketika

perilaku dan peristiwa itu terjadi. Pada penelitian kuantitatif, istilah observasi

biasanya dikenal dengan satu sebutan saja, yakni teknik observasi (pengamatan). 56

Penulis menggunakan metode observasi untuk melihat :

a. Implementasi model Active Learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah

Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun.

b. Bagaimana kemampuan Active Learning pada mata pelajaran PAI di

Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun

c. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam Active Learning pada

mata pelajaran PAI di Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun

Wawancara

Teknik wawancara adalah teknik dalam pengumpulan data melalui pengajuan

sejumlah pertanyaan secara lisan kepada informan. Wawancara mendalam (in-depth

interview) merupakan sebuah interaksi atau pembicaraan yang terjadi antara satu

orang pewawancara dengan satu orang informan dalam proses memperoleh

keterangan untuk tujuan penelitian. Prinsipnya wawancara dapat dilakukan dengan

cara yang fleksibel tergantung pada tujuan penelitian dan disesuaikan dengan kondisi

informan atau partisipan dan atau subyek penelitian. 57 Wawancara ini penulis gunakan

untuk mengetahui lebih mendalam tentang :

a. Implementasi model Active Learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah

Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun.

b. Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa di Sekolah Menengah Atas

Negeri 7 Sarolangun.

56
Abdul Fattah Nasution, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung : Cv Harfa Creative, 2023, hlm. 96
57
Sulistyawati, Buku Ajar Metode Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: K-Media, 2023, hlm. 164-165.
c. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam Implementasi model

Active Learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah Menengah Atas Negeri

7 Sarolangun.

2. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan salah satu sumber data skunder yang diperlukan dalam

sebuah penelitian. Peneliti menggunakan teknik dokumentasi pada pengumpulan data

dengan alasan bahwa dengan dokumen, data yang diperlukan akan lebih mudah

didapat dari tempat penelitian dan informasi melalui wawancara akan lebih nyata

dibuktikan dalam bentuk dokumen.58

Metode dokumentasi dalam penelitian adalah teknik pengumpulan data yang

dilakukan dengan cara mengumpulkan dan menganalisis dokumen-dokumen, baik

dokumen tertulis, gambar, maupun elektronik. Dokumentasi penulis gunakan untuk

memperoleh semua data yang berhhubungan dengan gambaran umum dan temuan

khusus dalam penelitian di Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun.

3. Wawancara

Wawancara adalah “proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian

dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara

dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan

interview guide (panduan wawancara)”.

Dalam hal ini penulis menggunakan metode wawancara pada guru dan siswa

untuk mengetahui lebih dalam tentang :

1. Implementasi pembelajaran active learning dalam pembelajaran pendidikan

agama Islam di SMA Negeri 7 Sarolangun

58
Zhahara Yusra et al, “Pengelolaan LKP Pada Masa Pendmik Covid-19” Journal Of Lifelong Learning, 2021,
no. 1 hlm. 4-5.
2. Kendala dalam implementasi pembelajaran active learning dalam

pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 7 Sarolangun

3. Upaya yang dilakukan dalam implementasi pembelajaran active learning

dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 7 Sarolangun

E. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang

diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara

mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan

sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari,

dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang

lain.59 Data yang didapat dilapangan selanjutnya di analisis dengan menggunakan teknik

sebagai berikut :

1. Analisis Domain

Analisis domain pada hakikatnya adalah upaya peneliti untuk memperoleh

gambaran umum tentang data untuk menjawab fokus penelitian. Caranya ialah

dengan membaca naskah unit data secara umum dan menyeluruh untuk memperoleh

domain atau ranah apa saja yang ada di dalam data tersebut. Pada tahap ini peneliti

belum perlu membaca dan memahami data secara rinci dan detail karena targetnya

hanya untuk memperoleh domain atau ranah yang secara umum saja. 60 Analisis

domian ini penulis gunakan untuk menganalisis data yang di dapat dari hasil

penelitian di lapangan yaitu gambaran umum mengenai Sekolah Menengah Atas

Negeri 7 Sarolangun seperti sejarah, profil, visi dan misi, struktur organisasi,

keadaan sarana dan prasarana serta keadaan guru dan murid.

2. Analisis Taksonomi
59
Mastang Ambo Baba, Analisis Data Kualitatif, (Makassar: Aksara, 2017) hlm. 101-102.
60
Sapto Haryoko dkk, Analisis Data Penelitian Kualitatif, “(Konsep, Teknik, & Prosedur Analisis)” (Makassar:
Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar, 2022) hlm. 217.
Taksonomi merupakan pula rincian dari domain tunggal. Dalam tahapan

analisis taksonomi, peneliti berupaya memahami domain-domain tertentu sesuai

fokus masalah atau sasaran penelitian. Masing-masing domain mulai dipahami

secara mendalam, dan membaginya lagi menjadi sub-domain, dan dari sub-domain

itu dirinci lagi menjadi beberapa bagian yang lebih khusus lagi hingga tidak ada lagi

yang tersisa. Pada tahap analisis taksonomi, dapat didalami domain dan subdomain

yang penting lewat konsultasi dengan catatan lapangan, literatur atau pustaka untuk

memperoleh pemaham-an lebih dalam.61 Analisis taksonomi ini penulis gunakan

dalam menganalisis data dengan rinci tentang :

a. Implementasi model Active Learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah

Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun.

b. Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa di Sekolah Menengah Atas

Negeri 7 Sarolangun.

c. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam Implementasi model

Active Learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah Menengah Atas

Negeri 7 Sarolangun.

3. Analisis kompensional

Analisis Komponensial (Componential Analysis), juga merupakan bagian

kelanjutan dari analisis domain dan taksonomi, sebagaimana yang telah dipaparkan

diatas. Analisis komponensial tidak mengorganisasikan kesamaan dari elemen dalam

domain tersebut, melainkan kontras antar elemen dalam domain yang diperoleh

melalui kegiatan observasi dan atau wawancara terseleksi. Pada tahap analisis

komponensial ini, peneliti mencoba mengkontraskan antar unsur dalam ranah yang

diperoleh. Unsurunsur yang kontras tersebut dipilah-pilah, dan selanjutnya dibuat

61
Ibid hal 229.
kategorisasinya yang relevan.62 Analisis kompensional ini di dapat setelah adanya

analisis domain dan analisis taksonomi. Sehingga di peroleh domain terakhir yang di

jadikan acuan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang di bahas sehingga

menemukan titik dalam hal Implementasi model Active Learning pada mata

pelajaran PAI di Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun.

F. Triangulasi Data

Triangulasi merupakan konsep utama dalam metoda penelitian kualitatif yang

berfungsi untuk meningkatkan akurasi, validitas, dan kedalaman analisis data. Secara

umum, triangulasi mengacu pada penggunaan berbagai pendekatan dalam

mengumpulkan dan menganalisis data agar penelitian menghasilkan temuan yang lebih

kredibel dan dapat dipercaya. Dalam penelitian kualitatif, sering kali melibatkan

subjektivitas peneliti maupun informan. Oleh karena itu, triangulasi menjadi alat penting

untuk memastikan bahwa interpretasi data tidak hanya didasarkan pada sudut pandang

tunggal.63

Dalam konteks penelitian kualitatif, triangulasi terdiri dari beberapa jenis yang

masing-masing dirancang untuk menghadapi tantangan tertentu terkait validitas dan

reliabilitas data. Setiap jenis triangulasi memiliki karakteristik unik yang memungkinkan

peneliti menguji keabsahan temuan dari berbagai sudut pandang, sumber, atau

pendekatan. Pemilihan jenis triangulasi yang tepat sangat bergantung pada tujuan

penelitian, sifat fenomena yang dipelajari, serta metode pengumpulan dan analisis data

yang digunakan.

Menurut Moleong yang dikutip oleh Kasiyan teknik triangulasi dengan sumber

berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang

diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Hal tersebut dapat dilakukan melalui:
62
Ibid. hal 234-236.
63
Bambang Arianto, Triangulasi Metoda Penelitian Kualitatif, (Balikpapan: Borneo Novelty Publishing, 2024)
hlm. 92
1. Perbandingan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara;
2. Perbandingan apa yang dikatakan seseorang di depan umum dengan apa
yang diucapkan secara pribadi;
3. Perbandingan apa yang dikatakan tentang situasi penelitian dengan apa
yang dikatakan sepanjang waktu
4. perbandingan keadaan dan perspektif seseorang berpendapat sebagai
rakyat biasa, dengan yang berpendidikan dan pejabat pemerintah; dan
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang
berkaitan. Hasil dari perbandingan yang diharapkan adalah berupa
kesamaan atau alasan-alasan terjadinya perbedaan.64

Berdasarkan teknik triangulasi tersebut, maka dimaksud untuk mengecek

kebenaran dan keabsahan data-data yang diperoleh mengenai Implementasi model

Active Learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah Menengah Atas Negeri 7

Sarolangun. yang bersumber dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, sehingga

dapat dipertanggung jawabkan seluruh data yang diperoleh di lapangan penelitian

tersebut.

BAB IV

A. TEMUAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN

B. Temuan Umum Lokasi Penelitian

a. Historis

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Alam Tiara didirikan pada

tanggal 1 Januari 2011 di bawah naungan Yayasan Mutiara Hati Sarolangun. Berdirinya

lembaga PAUD ini berawal dari kondisi dan situasi di lingkungan MTsN Sarolangun yang

saat itu warganya 80% kaum pendatang dan sebagian besar dari mereka pasangan muda yang

suami istri bekerja, dan mereka terkendala dalam pengasuhan anak mereka, karena banyak

kasus anak yang diasuh oleh asisten rumah tangga (yang pendidikan mereka minim) kurang

diperhatikan, bahkan ditahun 2011 ada kasus bayi yang diberi obat tidur oleh pengasuhnya.

64
Kasiyan, “Kesalahan Implementasi Teknik Triangulasi Pada Uji Validitas Data Skripsi Mahasiswa Jurusan
Pendidikan Seni Rupa FBS UNY”, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri
Yogyakarta, 2015 Vol. 13, No. 1, hlm. 6
Musyawarah diadakan dengan Pemuka masyarakat Rt.06 setempat, ternyata sambutan

masyarakat sangat antusias dan hasil kesepakatan dilaporkan ke Kelurahan Aur Gading.

Langkah berikutnya mengajukan perizinan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Sarolangun.

Kegiatan awal dilaksanakan disamping rumah ketua yayasan pak Fakhrizal, dengan

menggunakan gedung dan peralatan seadanya, karena kondisi geografisnya dekat kebun karet

maka terciptalah konsep PAUD bernuansa ALAM. Pelayanan sudah berjalan selama lebih

kurang setahun dengan peserta

Anda mungkin juga menyukai