Skripsi Mayarita Utami 1
Skripsi Mayarita Utami 1
SKRIPSI
Oleh:
MAYARITA UTAMI
NIM: 22101040
FAKULTAS TARBIAH
INSTITUT DARUL ULUM SAROLANGUN
TAHUN 2025
DAFTAR ISI
BAB 1.....................................................................................................................................3
A. Latar Belakang.............................................................................................................3
B. Indentifikasi Masalah..................................................................................................8
C. Focus Penelitian...........................................................................................................8
D. Tujuan Penelitian.........................................................................................................9
E. Manfaat Penelitian.......................................................................................................9
BAB II..................................................................................................................................11
A. Kajian Teori...............................................................................................................11
B. Hasil Penelitian yang Relevan...................................................................................38
BAB III................................................................................................................................41
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian................................................................................41
B. Lokasi Penelitian.......................................................................................................42
C. Kehadiran Peneliti.....................................................................................................42
D. Data dan Sumber Data...............................................................................................42
E. Sistematika Penulisan Skripsi....................................................................................43
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................44
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
bahwa belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai
akibat latihan dan pengalaman.7 Dalam konteks belajar secara umum, Qardhawi
mengutip hadis riwayat Ibnu „Ashim dan Thabrani menyatakan “wahai sekalian
Seperti disebutkan diatas, dalam perspektif Islam, belajar merupakan kewajiban bagi
ٰۤي َا ُّي َها ا َّل ِذ ۡي َن ٰا َم ُن ۤۡوا ِا َذا ِقۡي َل َلـ ُك ۡم َت َف َّس ُح ۡوا ِفى ا ۡل َم ٰج ِل ِس َفا ۡف َس ُح ۡوا َي ۡف َس ِح ال ّٰل ُه َلـ ُك ۡم
َو ِا َذا ِقۡي َل ا ْن ُش ُز ۡوا َفا ْن ُش ُز ۡوا َي ۡر َف ِع ال ّٰل ُه ا َّل ِذ ۡي َن ٰا َم ُن ۡوا ِم ۡن ُك ۡم ۙ َوا َّل ِذ ۡي َن ُا ۡو ُتوا ا ۡل ِع ۡلم
5
Muhaimin, Paradigma Pendidikan ..., h. 78.
6
Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan ..., hlm 8.
7
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), Ed.
1, hlm 59.
8
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama ..., hlm 55.
Berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka
berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. al-Mujadalah: 11).
serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang
berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau
hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi
pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa
yang sedang belajar.9 Oleh karena itu, salah satu faktor penting dalam keberhasilan
active learning.
dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu
10 menit pertama perhatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai
Hal ini menyebabkan sering terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama
9
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), Cet. 24, hlm 4.
10
Mel Silberman, Active Learning 101 Cara Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Yappendis, 2009),
Cet. 6, hlm 3.
saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat; apa yang saya lakukan; saya
paham”.11
Ketiga pernyataan ini menekankan pentingnya belajar aktif agar apa yang
dipelajari di bangku sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan diatas
Atas dasar lemahnya daya dengar peserta didik, atau tidak adanya peluang
memperluas pernyataan Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan teori
Apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat
sedikit. Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan
beberapa teman lain, saya mulai paham. Apa yang saya dengar, lihat,
diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Apa
yang saya ajarkan pada orang lain, saya menguasainya.12
Strategi active learning dikenalkan pertama kali oleh Mel Silberman. Secara
terminologi, istilah active learning bermakna belajar aktif adalah segala bentuk
pembelajaran yang memungkinkan peserta didik berperan secara aktif dalam proses
pembelajaran, baik dalam bentuk interaksi antar peserta didik ataupun peserta didik
perkembangan Lembaga Pendidikan di Kabupaten Sarko pada waktu itu. Maka pada
tahun 2007 resmi menjadi Sekolah Menegah Atas Negeri 7 Sarolangun yang terletak
11
Mel Silberman, Active Learning 101 Cara ..., hlm 1.
12
Mel Silberman, Active Learning 101 Cara ..., hlm 1-2
13
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), Cet. 1,
hlm, 36.
di Kelurahan Saroalngun kembang dengan luas 16.349 M 2. lokasi ini didapatkan
secara utuh, sehingga ukuran keberhasilan siswa tidak diukur secara seragam,
pada aspek kognitif yang bersifat hafalan tetapi juga mengembangkan aspek
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, dalam
konteks ini guru mengarahkan potensi dan kemampuan yang dimiliki sehingga siswa
menyadari bahwa apa yang dipelajari akan berguna di kehidupan nanti, selain itu guru
mengajar yang sesuai dengan materi serta memilih strategi pembelajaran yang tepat
untuk dilaksanakan.
rencana tindakan (rangkaian suatu kegiatan) yang harus di kerjakan guru dan siswa
agar tujuan pembelajaran dapat di capai secara efektif dan efisien. Dalam setiap
mengajar, siswa juga belajar. Jadi antara guru dan siswa sama-sama aktif. Dengan
adanya keaktifan dari guru dan siswa tersebut diharapkan potensi yang ada dalam diri
14
Dokumentasi Profil Sekolah SMA N 7 Sarolangun, hlm 4-8.
15
Jejen Musfah, Peningkatan Kompetensi Guru, (Jakarta: Kencana, 2011), Cet. 1, hlm 127
Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji dan
B. Rumusan Masalah
Sarolangun?
C. Batasan Masalah
Untuk dapat memperjelas dan memberi arah yang tepat dalam penulisan skripsi ini,
dalam tahap pendahuluan, inti dan penutup yang mengacu pada keaktifan siswa di
1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan
Sarolangun
Sarolangun
2. Kegunaan Penelitian
Secara teoritis hasil penelitian ini dapat berguna sebagai berikut:
1. Sebagai pijakan untuk mengembangkan penelitian-penelitian yang
bagi siswa.
agama Islam.
menyenangkan.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Strategi Activ Learning
1. Pengertian Strategi Active Learning
Kata strategi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti: (1)ilmu dan seni
tertentu dalam perang dan damai, (2) ilmu seni memimpin bala tentara untuk
menghadapi musuh dalam perang, dalam kondisi yang menguntungkan, (3) rencana
yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus, (4) tempat yang
Istilah strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategia, strategi merupakan
“suatu garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan”.18
Menurut Barbara B. Seels dan Rita C. Richey yang dikutip oleh Martinis,
Sedangkan secara umum dalam dunia pendidikan strategi diartikan J.R David
dalam Teaching Strategies for College Class Room, yang dikutip oleh Isjoni, dkk
rencana, metode, dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan
pengajaran tertentu.
16
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 3, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007),
Cet.4, hlm 1092.
17
Martinis Yamin, Strategi Metode dalam Model Pembelajaran, (Jakarta: GP Press Group, 2013), Cet. 1,
hlm.1.
18
Martinis Yamin, Strategi Metode dalam Model ..., hlm 1.
19
Martinis Yamin, Strategi Metode dalam Model ..., hlm. 2.
20
Isjoni, dkk., Pembelajaran Visioner Perpaduan Indonesia-Malaysia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007),
Cet. 1, hlm 2.
Strategi dapat diartikan sebagai a plant of operation achieving something,
Dari pengertian diatas terlihat jelas bahwa awalnya istilah “strategi” pertama
kali hanya dikenal di kalangan militer, khususnya strategi perang. Dalam sebuah
menang.22
ke dalam dunia pendidikan, strategi digunakan untuk mengatur siasat agar dapat
mencapai tujuan dengan baik. Dengan kata lain, strategi dalam konteks pendidikan
dapat dimaknai sebagai perencanaan yang berisi serangkaian kegiatan yang di desain
untuk mencapai tujuan pendidikan.23 Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi,
perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan
pembelajaran metode sangat penting karena metode inilah yang menentukan situasi
21
Isjoni, dkk., Pembelajaran Visioner ..., hlm 2.
22
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), Cet. 1,
hlm 13.
23
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan ..., hlm 13.
Jadi, dapat disimpulkan strategi merupakan perencanaan, langkah, dan
rangkaian untuk mencapai suatu tujuan, maka dalam pembelajaran guru harus
pembelajaran dilaksanakan dan ia berbeda dengan metode yang merupakan cara guru
Secara bahasa active learning berasal dari dua kata yaitu “active”yang berarti
belajar.10 Menurut peneliti kata learn yang mendapat sufiks –ing sehingga memiliki
metode yang membuat peserta didik merasa bersemangat dan aktif dalam
pembelajaran.
oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang
memungkinkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran, baik dalam
bentuk interaksi antara peserta didik maupun peserta didik dengan guru dalam proses
pembelajaran.25
karya Ken Petress dikatakan bahwa: “Siswa aktif tidak sepenuhnya bergantung pada
24
John M. Echols dan Hassan Shadly, an English-Indonesia Dictionary, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, 2006), Cet. 28, hlm. 9.
25
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan ..., hlm 36.
guru; pembelajaran aktif menjadikan siswa sebagai teman atau (partner) dalam
Selain itu di dalam jurnal ilmiah yang berjudul “Strategies for Active
Maria Tariq dan Saira Javed dikatakan bahwa: “Pembelajaran aktif adalah salah satu
macam proses pembelajaran yang didalamnya siswa diajak dalam sebuah aktivitas
Dalam active learning, cara belajar dengan mendengarkan saja akan cepat
lupa, dengan mendengar dan melihat akan ingat sedikit, dengan mendengar, melihat
dan mendiskusikan dengan siswa lain akan paham, dengan cara mendengar, melihat,
kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu
jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan berbicara
guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru.
“Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per-menit, sementara peserta didik
hanya mampu mendengarkan 50-100 kata per menitnya, karena peserta didik
26
Ken Petress, What is Meant by Active Learning, Scholarly Journal of Education, Vol. 128, 2008, hlm 1-4.
27
Muhammad Asim Mahmood, dkk, Strategies for Active Learning: an Alternative to Passive Learning,
Academic Research International, Vol. 1, Nov 2011, hlm 1-6.
28
Mel Silberman, Active Learning 101 Cara ..., hlm 2.
29
Mel Silberman, Active Learning 101 Cara ..., hlm. 15
kesan yang masuk dalam diri anak didik semakin kuat sehinggabertahan lama
disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki siswa saling menguatkan,
apa yang di dengar dikuatkan oleh penglihatan (visual), dan apa yang dilihat
dikuatkan oleh pendengaran. Dalam arti kata pembelajaran seperti ini sudah diikuti
oleh reinforcement yang sangat membantu bagi pemahaman anak didik terhadap
materi pembelajaran.
mendiskusikan informasi dengan orang lain, dan jika kita diminta untuk
mempertanyakannya, otak kita dapat melaksanakan tugas belajar dengan lebih baik.
mencapai tujuan dengan cara apapun yang tidak akan membuat peserta didik jenuh
berada di dalam kelas serta memberikan peranan aktif kepada seluruh peserta didik,
dengan demikian guru pun senang karena strategi yang digunakan tidak monoton dan
tidak berpusat pada guru itu saja. Selain itu juga peserta didik menggunakan seluruh
kemampuan yang dimiliki, yaitu pikiran dan alat indera. Dengan menggunakan
wawasan yang luas siswa dapat menuangkan ide pokok ke dalam strategi
pembelajaran aktif tersebut, sehingga siswa tidak jenuh dan bosan berada di dalam
kelas.
the Classroom, karya Charles C. Bonwell dikatakan bahwa: active learning menurut
sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar. Kedua, setiap individu harus terlibat
aktif dalam proses pembelajaran, dan guru harus mendapatkan penilaian dari peserta
memerlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social skills.31
strategi pembelajaran cocok untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap
strategi memiliki kekhasan sendiri- sendiri. Begitu juga dengan strategi active
30
Charles C. Bonwell, Active Learning: Creating Excitement in the Classroom, Active Learning Workshop,
May 2000, hlm 3.
31
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan ..., hlm. 37.
learning, prinsip umum strategi active learning yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya
Segala aktivitas guru dan siswa, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan
b. Aktivitas
tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, pengalaman belajar siswa harus
c. Individualitas
mengajar pada sekelompok siswa, namun pada hakikatnya yang ingin kita
d. Integritas
secara terintegrasi.32
1) Interaktif
32
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2008), Cet. 4, hlm 169-
171.
Prinsip interaktif mengandung makna, bahwa mengajar bukan hanya
2) Inspiratif
3) Menyenangkan
4) Menantang
5) Motivasi
demikian siswa akan belajar bukan hanya sekedar untuk memperoleh nilai
kebutuhannya.33
33
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm 172-174
4. Kelebihan dan Kelemahan Active Learning
1) Peserta didik dapat belajar dengan cara yang sangat menyenangkan sehingga
jangka panjang.
3) Active learning dapat memotivasi peserta didik lebih maksimal sehingga dapat
sebagainya.34
2) Secara rasional memang peserta didik yang belajar senang hati dapat mencapai
prestasi yang lebih tinggi daripada belajar dalam tekanan atau target materi.
memiliki risiko tinggi, yakni ketidaksediaan peserta didik untuk belajar lebih
keras. Dengan kata lain, konsep belajar aktif menyenangkan dapat pula
34
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan ..., hlm 58-59.
35
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan ..., hlm 59.
B. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 7 sarolangun
pendidik bagi peserta didik agar mereka dapat belajar sendiri dengan mudah”. 36 Agar
peserta didik dapat belajar dengan mudah, seorang pendidik perlu menempatkan
suatu sistem instruksional yang mengacu pada seperangkat komponen yang saling
bergantung satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan. Selaku suatu sistem
pembelajaran meliputi suatu komponen, antara lain tujuan, bahan, peserta didik,
saling berkaitan satu sama lain. Adapun sistem instruksional tersebut termuat di
adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,
kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.37
36
Sa’dun Akbar, Instrumen Perangkat Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm 133.
37
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2006), Cet. 3, hlm 130.
Pernyataan Zakiyah Daradjat yang dikutip oleh Abdul Majid, dkk pendidikan
agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar
tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai
pandangan hidup.38
agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik kepada peserta didik
sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan,
ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang
Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan
38
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam ..., hlm. 130.
39
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm. 135.
Allah Swt serta mengaktualisasikan dan merealisasikannya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.40
agama Islam yang dilalui oleh peserta didik di sekolah dimulai dari tahapan kognisi,
yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran dan nilai-nilai yang
terkandung dalam ajaran Islam, untuk selanjutnya menuju ke tahapan afeksi, yakni
terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri siswa, dalam arti
Tahapan afeksi ini terkait erat dengan kognisi, dalam arti penghayatan dan
keyakinan siswa menjadi kokoh jika dilandasi oleh pengetahuan dan pemahamannya
terhadap ajaran dan nilai agama Islam. Melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan
dapat tumbuh motivasi diri siswa dan tergerak untuk mengamalkan dan menaati
Dengan demikian, akan terbentuk manusia muslim yang beriman, bertakwa dan
berakhlak mulia.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka mata pelajaran pendidikan agama Islam
itu secara keseluruhannya dalam lingkup Al-Qur’an dan Al-hadis, keimanan, akhlak,
hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama mausia, makhluk lainnya
Dari tujuan dan ruang lingkup pendidikan agama Islam sebagaimana yang
telah dijabarkan peneliti dapat menarik benang merah bahwa tujuan pendidikan
agama Islam membentuk manusia agar menjadi manusia muslim yang beriman dan
40
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), Cet. 3, hlm 78.
41
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam ..., hlm 131.
bertakwa kepada Allah SWT dengan menjauhi larangannya dan mentaati segala
perintahnya sehingga dapat membentuk akhlak yang baik. Dalam ruang lingkup
pendidikan agama Islam juga terdapat 5 aspek yang sangat penting dalam mata
pelajaran pendidikan agama Islam yaitu Al-Qur’an, hadis, Fiqh, Akidah akhlak,
Menurut Abdul Majid dan Dian Andayani dalam bukunya Pendidikan Agama
tidak hanya membentuk kecerdasan peserta didik, tetapi membentuk keterampilan dan
42
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam ..., hlm. 134-135.
nilai- nilai yang sangat berpengaruh bagi pengembangan diri peserta didik dalam
Kemampuan ini berorientasi pada perilaku afektif dan psikomotorik dengan dukungan
dasar ini merupakan penjabaran dari kemampuan dasar umum yang harus dicapai di
SMA yaitu:
1) Beriman kepada Allah SWT dan lima rukun iman yang lain dengan
kehidupan sehari-hari.
3) Mampu beribadah dengan baik sesuai dengan tuntutan syari’at Islam baik
untuk kepentingan hidup sehari hari masa kini dan masa depan.
secara umum terdiri atas tiga tahap, yakni tahap permulaan (prainstruksional), tahap
Oleh karena itu, setiap penggunaan strategi pembelajaran active learning harus
ditempuh pada setiap saat melaksanakan pembelajaran. Jika, satu tahapan tersebut
memulai proses belajar dan mengajar. 44 Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh
1) Guru menanyakan kehadiran siswa, dan mencatat siapa yang tidak hadir.
Kehadiran siswa dalam pembelajaran, dapat dijadikan salah satu tolak ukur
itu.
bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk
43
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm 25.
44
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm 175.
sebelumnya) secara singkat tapi mencakup semua bahan aspek yang telah
dibahas sebelumnya (apersepsi). Hal ini dilakukan sebagai dasar bagi pelajaran
yang akan dibahas hari berikutnya nanti, dan sebagai usaha dalam
Tahap kedua adalah tahap pelaksanaan pembelajaran atau tahap inti, yakni
tahap memberikan pengalaman belajar pada siswa. Tahap instruksional akan sangat
tergantung pada strategi pembelajaran yang akan diterapkan, misalnya strategi active
berikut:
Tujuan tahapan ini, ialah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari tahapan
45
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm. 175-176.
46
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm 176.
47
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain ..., hlm. 177.
melakukan posttest. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan guru dalam tahap ini,
antara lain:
berikutnya.48
Hasil penilaian dapat dijadikan pedoman bagi guru untuk melakukan tindak
dan Menengah yang dikutip oleh Sa’dun Akbar menjelaskan bahwa “pelaksanaan
belajar siswa”.49
1. Eksplorasi
a) Mencari informasi yang luas dan dalam tentang materi yang dipelajari.
2. Elaborasi
kelompok.
peserta didik.50
3. Konfirmasi
dilakukan.
dasar dari guru. Disini guru, rekan guru, atau kelompok lain berfungsi
sebagai:
dan media belajar lain sehingga hasil eksplorasi memperoleh tambahan masukan dan
wawasan lebih luas. Kegiatan konfirmasi lebih bersifat pemantapan, misalnya lewat
umpan balik, penyimpulan, check and recheck sehingga peserta didik mampu
meyakini untuk dinilai, menemukan fakta, konsep, dan generalisasi secara mantap.
E. Studi Relevan
Dari penelitian yang relevan ini bertujuan untuk keaslian penetian ini, hasil dari
penelitian yang dilakukan yaitu mengetahui dimana letak perbedaan ataupun perrsamaan
penelitian yang sudah ada sebelumnya dengan berdasarkan litera Berdasarkan penelitian
learning yakni penelitian yang dilakukan oleh peneliti lain sebagai berikut:
Zata Yumni Nabilla Rufaida lulusan 2013 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Jurusan Kependidikan Islam. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan telah meneliti Strategi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Pada Siswa Kelas XI di SMA Semesta
51
Sa’dun Akbar, Instrumen Perangkat ..., hlm 138-139.
Bilingual Boarding School Semarang. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1)
active learning dan teknik quantum learning. Materi PAI kelas XI SMA Semesta yaitu
keimanan kepada Rasul-rasul Allah, membiasakan prilaku terpuji taubat dan raja’,
memahami hukum Islam tentang mu’amalah dan memahami perkembangan Islam pada
abad pertengahan. (2) Pengembangan strategi pebelajaran PAI di kelas XI SMA Semesta
Bilingual Boarding School mengacu pada penggunaan strategi active learning dan model
pembelajaran dengan teknik quantum learning. strategi active learning yang digunakan
yaitu active knowledge sharing, information search, the power of two, jigsaw learning
dan question student have. Model dan teknik pembelajaran yang digunakan pada
Pembelajaran PAI di SMAN 3 Malang. Oleh Siti Qomariyah. Mahasiswa UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang 2009. Fakultas Tarbiyah. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Hasil
Penelitian dapat diketahui bahwa: (1) Penerapan model pembelajaran active learning
dalam proses pembelajaran PAI di SMA Negeri 3 Malang khususnya kelas XII akselerasi
telah menggunakan metode atau strategi sosiodrama dan jigsaw. (2) Kualitas
pembelajaran PAI melalui penerapan model pembelajaran active learning di SMA Negeri
3 Malang khususnya kelas XII akselerasi memberikan dampak yang positif bagi siswa,
52
Zata Yumni Nabilla Rufaida, “Strategi Pembelajaran PAI di Kelas XI SMA Semesta Bilingual Boarding
School”, Skripsi pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, (Yogyakarta, 2013), h. 125, tidak dipublikasikan.
53
Siti Qomariyah, “Penerapan Model Pembelajaran Active Learning Dalam Meningkatkan Kualitas
Pembelajaran PAI di SMAN 3 Malang”, Skripsi pada UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, (Malang, 2009), h.
111-112, tidak dipublikasikan.
Implementasi Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)
Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar PAI siswa SDN 1 Cepogo Boyolali. Oleh
Dwi Nur Sholihah. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah. Mahasiswa
IAIN Walisongo 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Implementasi PAKEM
dalam upaya meningkatkan motivasi belajar PAI siswa SDN I Cepogo Boyolali sudah
pembelajaran yang menjadikan siswa aktif. Salah satu metode yang digunakan adalah
metode diskusi kelompok kecil (Small Group Discussion) pada pembelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) sehingga pada metode ini potensi yang dimiliki siswa dapat
bebas menyalurkan pemikiran mereka (2) Hasil penerapan PAKEM dalam upaya
meningkatkan motivasi belajar PAI siswa SDN I Cepogo Boyolali berdampak terhadap
adalah: (a) dengan penerapan PAKEM siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran,
khususnya dalam pembelajaran PAI, (b) siswa dapat mengembangkan potensi yang
(c) memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar
PAI yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif,
(d) dengan adanya PAKEM, hasil belajar PAI lebih meningkat dengan baik dan (e) guru
dapat menciptakan metode-metode yang efektif, sehingga siswa lebih mudah memahami
pelajaran PAI.54
learning dalam pembelajaran PAI. Dalam penelitian ini penulis lebih menekankan
dengan penerapan atau pelaksanaan dari strategi active learning meliputi kegiatan
54
Dwi Nur Sholihah, “Implementasi Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan dalam Upaya
Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa SDN Cepogo Boyolali”, Skripsi pada IAIN Walisongo Semarang,
(Semarang, 2009), h. ii, tidak dipublikasikan
pendahuluan, inti dan penutup dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah
BAB III
PROSEDUR PENELITIAN
A. Lingkup Penelitian
learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran
siswa dalam memahami dan menganalisis materi PAI Pengumpulan data akan dilakukan
melalui observasi langsung di kelas, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, serta
efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran
1. Jenis Data
Dalam penelitian ini Jenis data terdapat dua macam yakni data primer dan data
a. Data primer
langsung dari sumber utama atau sumber asli oleh peneliti. Data ini
merupakan data yang bersifat original dan spesifik untuk tujuan penelitian
atau video, hasil eksperimen atau pengukuran langsung Catatan lapangan dari
b. Data Sekunder
berbagai sumber yang telah ada sebelumnya (bukan oleh peneliti sendiri).
Data ini sudah tersedia dan dapat diakses melalui berbagai media atau sumber
informasi. Contoh data sekunder meliputi: Buku dan literatur ilmiah, jurnal
C. Subjek Penelitian
dengan pembicaraan tentang populasi dan sampel serta teknik sampling. Ini berkaitan
dengan penentuan siapa yang akan menjadi subjek penelitian dan berapa jumlah subjek
yang akan diteliti atau digali informasinya. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian
atau gejala/satuan yang ingin diteliti. Jika peneliti ingin meneliti keseluruhan subjek atau
elemen yang ada pada subjek maka penelitiannya disebut studi populasi atau studi
sensus.55
55
Rahmadi, Pengantar Metodologi Penelitian, (Banjarmasin: Antasari Press, 2011) hlm. 62.
Subjek dalam penelitian ini terdiri dari beberapa komponen yang terlibat langsung
dalam proses implementasi model active learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah
1. Guru Mata Pelajaran: Guru yang mengajar mata pelajaran PAI Sekolah
Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun. Dipilih berdasarkan pengalaman
mengajar dan pemahaman terhadap model pembelajaran Active Learning.
Menjadi sumber informasi utama terkait perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi pembelajaran
2. Siswa: Siswa kelas XII Sekolah Menengah Atas Sarolangun yang mengikuti
mata pelajaran PAI. Fokus pada satu kelas dengan jumlah siswa sekitar 19-20
orang. Dipilih berdasarkan pertimbangan tingkat kemampuan berpikir kritis
yang beragam.
3. Kepala Sekolah: Sebagai pimpinan yang memberikan kebijakan dan dukungan
terhadap implementasi model Active Learning pada mata pelajaran PAI di
Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Sarolangun
4. Wakil Bidang Kurikulum: Memberikan informasi terkait penerapan kurikulum
dan program pembelajaran. Sumber data tentang perencanaan dan evaluasi
pembelajaran di tingkat sekolah
Pemilihan subjek penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka adalah
pihak-pihak yang terlibat langsung dan memiliki peran penting dalam implementasi
model Active Learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah Menengah Atas Negeri 7
Sarolangun.
Metode pengumpulan data dalam penelitian adalah cara atau teknik yang
digunakan peneliti untuk memperoleh dan mengumpulkan data yang diperlukan dalam
penelitian. Teknik pengumpulan data adalah cara yang ditempuh peneliti untuk
mendapatkaninformasi atau data penelitian, dan juga merupakan langkah yang begitu
strategis dalam metodologi penelitian. Di bawah ini penjelsan teknik pengumpulan data
perilaku dan peristiwa itu terjadi. Pada penelitian kuantitatif, istilah observasi
biasanya dikenal dengan satu sebutan saja, yakni teknik observasi (pengamatan). 56
c. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam Active Learning pada
Wawancara
interview) merupakan sebuah interaksi atau pembicaraan yang terjadi antara satu
cara yang fleksibel tergantung pada tujuan penelitian dan disesuaikan dengan kondisi
informan atau partisipan dan atau subyek penelitian. 57 Wawancara ini penulis gunakan
Negeri 7 Sarolangun.
56
Abdul Fattah Nasution, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung : Cv Harfa Creative, 2023, hlm. 96
57
Sulistyawati, Buku Ajar Metode Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: K-Media, 2023, hlm. 164-165.
c. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam Implementasi model
Active Learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah Menengah Atas Negeri
7 Sarolangun.
2. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan salah satu sumber data skunder yang diperlukan dalam
dengan alasan bahwa dengan dokumen, data yang diperlukan akan lebih mudah
didapat dari tempat penelitian dan informasi melalui wawancara akan lebih nyata
memperoleh semua data yang berhhubungan dengan gambaran umum dan temuan
3. Wawancara
dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara
Dalam hal ini penulis menggunakan metode wawancara pada guru dan siswa
58
Zhahara Yusra et al, “Pengelolaan LKP Pada Masa Pendmik Covid-19” Journal Of Lifelong Learning, 2021,
no. 1 hlm. 4-5.
2. Kendala dalam implementasi pembelajaran active learning dalam
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang
diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara
sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari,
dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang
lain.59 Data yang didapat dilapangan selanjutnya di analisis dengan menggunakan teknik
sebagai berikut :
1. Analisis Domain
gambaran umum tentang data untuk menjawab fokus penelitian. Caranya ialah
dengan membaca naskah unit data secara umum dan menyeluruh untuk memperoleh
domain atau ranah apa saja yang ada di dalam data tersebut. Pada tahap ini peneliti
belum perlu membaca dan memahami data secara rinci dan detail karena targetnya
hanya untuk memperoleh domain atau ranah yang secara umum saja. 60 Analisis
domian ini penulis gunakan untuk menganalisis data yang di dapat dari hasil
Negeri 7 Sarolangun seperti sejarah, profil, visi dan misi, struktur organisasi,
2. Analisis Taksonomi
59
Mastang Ambo Baba, Analisis Data Kualitatif, (Makassar: Aksara, 2017) hlm. 101-102.
60
Sapto Haryoko dkk, Analisis Data Penelitian Kualitatif, “(Konsep, Teknik, & Prosedur Analisis)” (Makassar:
Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar, 2022) hlm. 217.
Taksonomi merupakan pula rincian dari domain tunggal. Dalam tahapan
secara mendalam, dan membaginya lagi menjadi sub-domain, dan dari sub-domain
itu dirinci lagi menjadi beberapa bagian yang lebih khusus lagi hingga tidak ada lagi
yang tersisa. Pada tahap analisis taksonomi, dapat didalami domain dan subdomain
yang penting lewat konsultasi dengan catatan lapangan, literatur atau pustaka untuk
Negeri 7 Sarolangun.
Negeri 7 Sarolangun.
3. Analisis kompensional
kelanjutan dari analisis domain dan taksonomi, sebagaimana yang telah dipaparkan
domain tersebut, melainkan kontras antar elemen dalam domain yang diperoleh
melalui kegiatan observasi dan atau wawancara terseleksi. Pada tahap analisis
komponensial ini, peneliti mencoba mengkontraskan antar unsur dalam ranah yang
61
Ibid hal 229.
kategorisasinya yang relevan.62 Analisis kompensional ini di dapat setelah adanya
analisis domain dan analisis taksonomi. Sehingga di peroleh domain terakhir yang di
menemukan titik dalam hal Implementasi model Active Learning pada mata
F. Triangulasi Data
berfungsi untuk meningkatkan akurasi, validitas, dan kedalaman analisis data. Secara
mengumpulkan dan menganalisis data agar penelitian menghasilkan temuan yang lebih
kredibel dan dapat dipercaya. Dalam penelitian kualitatif, sering kali melibatkan
subjektivitas peneliti maupun informan. Oleh karena itu, triangulasi menjadi alat penting
untuk memastikan bahwa interpretasi data tidak hanya didasarkan pada sudut pandang
tunggal.63
Dalam konteks penelitian kualitatif, triangulasi terdiri dari beberapa jenis yang
reliabilitas data. Setiap jenis triangulasi memiliki karakteristik unik yang memungkinkan
peneliti menguji keabsahan temuan dari berbagai sudut pandang, sumber, atau
pendekatan. Pemilihan jenis triangulasi yang tepat sangat bergantung pada tujuan
penelitian, sifat fenomena yang dipelajari, serta metode pengumpulan dan analisis data
yang digunakan.
Menurut Moleong yang dikutip oleh Kasiyan teknik triangulasi dengan sumber
berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang
diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Hal tersebut dapat dilakukan melalui:
62
Ibid. hal 234-236.
63
Bambang Arianto, Triangulasi Metoda Penelitian Kualitatif, (Balikpapan: Borneo Novelty Publishing, 2024)
hlm. 92
1. Perbandingan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara;
2. Perbandingan apa yang dikatakan seseorang di depan umum dengan apa
yang diucapkan secara pribadi;
3. Perbandingan apa yang dikatakan tentang situasi penelitian dengan apa
yang dikatakan sepanjang waktu
4. perbandingan keadaan dan perspektif seseorang berpendapat sebagai
rakyat biasa, dengan yang berpendidikan dan pejabat pemerintah; dan
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang
berkaitan. Hasil dari perbandingan yang diharapkan adalah berupa
kesamaan atau alasan-alasan terjadinya perbedaan.64
Active Learning pada mata pelajaran PAI di Sekolah Menengah Atas Negeri 7
Sarolangun. yang bersumber dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, sehingga
tersebut.
BAB IV
a. Historis
tanggal 1 Januari 2011 di bawah naungan Yayasan Mutiara Hati Sarolangun. Berdirinya
lembaga PAUD ini berawal dari kondisi dan situasi di lingkungan MTsN Sarolangun yang
saat itu warganya 80% kaum pendatang dan sebagian besar dari mereka pasangan muda yang
suami istri bekerja, dan mereka terkendala dalam pengasuhan anak mereka, karena banyak
kasus anak yang diasuh oleh asisten rumah tangga (yang pendidikan mereka minim) kurang
diperhatikan, bahkan ditahun 2011 ada kasus bayi yang diberi obat tidur oleh pengasuhnya.
64
Kasiyan, “Kesalahan Implementasi Teknik Triangulasi Pada Uji Validitas Data Skripsi Mahasiswa Jurusan
Pendidikan Seni Rupa FBS UNY”, Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri
Yogyakarta, 2015 Vol. 13, No. 1, hlm. 6
Musyawarah diadakan dengan Pemuka masyarakat Rt.06 setempat, ternyata sambutan
masyarakat sangat antusias dan hasil kesepakatan dilaporkan ke Kelurahan Aur Gading.
Kegiatan awal dilaksanakan disamping rumah ketua yayasan pak Fakhrizal, dengan
menggunakan gedung dan peralatan seadanya, karena kondisi geografisnya dekat kebun karet
maka terciptalah konsep PAUD bernuansa ALAM. Pelayanan sudah berjalan selama lebih