Aspek Dampak Lingkungan
Aspek Dampak Lingkungan
Disusun Oleh :
AJA NOVA
NPM : 22420311437
MISRIANTO
NPM : 22420311450
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul “Aspek
Dampak Lingkungan” dengan sebaik-baiknya. Makalah ini disusun sebagai
bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup dan pentingnya kajian terhadap
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dalam pembangunan
berkelanjutan.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat
kekurangan, baik dari segi isi maupun sistematika penulisan. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan
makalah di masa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
sebagai referensi dan menambah wawasan dalam bidang lingkungan hidup.
Penulis
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan yang pesat membawa dampak besar terhadap lingkungan.
Kegiatan industri, transportasi, pertambangan, dan urbanisasi sering kali
menyebabkan degradasi lingkungan yang signifikan. Dalam proses
pembangunan, aspek lingkungan kerap kali diabaikan demi pencapaian target
ekonomi jangka pendek, padahal dampak jangka panjang dari kerusakan
lingkungan jauh lebih merugikan. Akibatnya, terjadi pencemaran udara, air,
dan tanah yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat serta menurunkan
daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, analisis mengenai dampak
lingkungan (AMDAL) menjadi sangat penting sebagai alat perencanaan yang
mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem dan keseimbangan antara
kebutuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup.1
AMDAL bukan hanya sekadar syarat administratif dalam pengurusan izin
usaha, tetapi juga merupakan instrumen penting dalam pengambilan keputusan
terhadap kelayakan lingkungan suatu kegiatan. AMDAL merupakan kajian
mengenai dampak besar dan penting suatu usaha atau kegiatan yang
direncanakan terhadap lingkungan hidup. Konsep ini bertujuan agar
pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga
memperhatikan kelestarian lingkungan serta hak-hak masyarakat yang
terdampak. Sementara itu, AMDAL adalah alat yang strategis untuk mencegah
terjadinya kerusakan lingkungan sebelum kegiatan berlangsung dan menjadi
bagian integral dari proses perencanaan pembangunan berkelanjutan. Oleh
karena itu, penerapan AMDAL yang efektif menjadi keharusan dalam setiap
aktivitas pembangunan agar tercapai keseimbangan antara kebutuhan manusia
dan pelestarian sumber daya alam secara berkesinambungan.2
1
Suryani, N. (2015). Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta: Prenadamedia Group, hlm.
45.
2
Suparmoko, M. (2008). Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Yogyakarta: BPFE,
hlm. 112
1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan AMDAL dan mengapa penting dilakukan?
2. Apa saja kegunaan AMDAL dalam pembangunan?
3. Bagaimana sistematika pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang
baik?
4. Apa pandangan Al-Qur’an tentang menjaga lingkungan?
C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan urgensi dan tujuan dari AMDAL.
2. Menguraikan kegunaan dan komponen AMDAL.
3. Menyampaikan sistematika pengelolaan serta pemantauan lingkungan.
4. Mengaitkan pentingnya menjaga lingkungan dari sudut pandang Al-
Qur’an.
2
BAB II
PEMBAHASAN
3
Marsono, R. (2012). Pengelolaan Lingkungan Hidup Berkelanjutan. Yogyakarta: Andi
Offset, hlm. 85
3
lingkungan, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan sosial dan ekonomi
dalam pembangunan.
Dalam konteks regulasi, pemerintah Indonesia telah menetapkan berbagai
peraturan terkait AMDAL, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No.
32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.4
Undang-undang ini mengatur tentang kewajiban penyusunan AMDAL bagi
proyek-proyek yang berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap
lingkungan. Oleh karena itu, setiap kegiatan yang dianggap berdampak besar
terhadap lingkungan harus terlebih dahulu melakukan kajian AMDAL sebagai
salah satu syarat utama untuk memperoleh izin.
B. Kegunaan AMDAL
Kegunaan AMDAL sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara
pembangunan dan kelestarian lingkungan. Secara umum, AMDAL memiliki
beberapa fungsi utama, di antaranya sebagai alat perencanaan lingkungan,
dasar pengambilan keputusan, serta sebagai instrumen pengawasan dan
pengendalian kegiatan usaha. Sebagai alat perencanaan, AMDAL membantu
memastikan bahwa setiap kegiatan yang direncanakan dapat dipertimbangkan
dampaknya terhadap lingkungan sebelum dilakukan. Hal ini penting untuk
mencegah kerusakan lingkungan yang tidak terkontrol akibat kegiatan
pembangunan yang tidak memperhatikan kelestarian alam5.
Selain itu, AMDAL juga berfungsi sebagai dasar pengambilan keputusan
yang penting bagi pemerintah dan pihak terkait lainnya dalam menentukan
apakah suatu kegiatan atau proyek dapat dilanjutkan atau tidak. Dalam hal ini,
AMDAL memberikan gambaran yang jelas tentang potensi dampak
lingkungan dan langkah-langkah mitigasi yang perlu diterapkan agar dampak
negatifnya dapat dikendalikan.
4
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 24.
5
Marsono, R. (2012). Pengelolaan Lingkungan Hidup Berkelanjutan. Yogyakarta: Andi
Offset, hlm. 92-94
4
Selain sebagai alat perencanaan dan dasar pengambilan keputusan,
AMDAL juga berperan sebagai instrumen pengawasan dan pengendalian.
Melalui AMDAL, pemerintah dapat melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan yang telah disusun oleh pihak
yang merencanakan proyek. Hal ini memastikan bahwa proyek yang
dijalankan sesuai dengan dokumen AMDAL yang telah disetujui dan bahwa
langkah mitigasi dilakukan dengan baik6.
AMDAL juga berfungsi untuk mencegah konflik antara pelaku usaha dan
masyarakat yang terdampak. Dalam proses penyusunan AMDAL, masyarakat
diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan keberatan, yang
pada gilirannya meningkatkan transparansi dan keadilan dalam proses
pengambilan keputusan. Oleh karena itu, AMDAL juga berperan sebagai
sarana komunikasi dan partisipasi publik yang memungkinkan masyarakat
berperan serta dalam pengawasan lingkungan hidup7.
6
Ibid .,94.
7
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 22
8
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 22
5
Selain itu, terdapat juga Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 tentang
Izin Lingkungan yang mempertegas kewajiban penyusunan AMDAL sebagai
prasyarat dalam memperoleh izin lingkungan. Peraturan ini mengatur lebih
rinci mengenai prosedur penyusunan dan pengkajian AMDAL, termasuk
mekanisme untuk mengidentifikasi dampak lingkungan yang mungkin
ditimbulkan oleh suatu kegiatan usaha. Menurut peraturan ini, setiap kegiatan
usaha yang diperkirakan akan menimbulkan dampak besar terhadap
lingkungan wajib mengajukan dokumen AMDAL sebagai bagian dari izin
lingkungan yang harus diperoleh sebelum memulai kegiatan.9
Peraturan-peraturan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia
memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga lingkungan hidup dengan
mensyaratkan dokumen AMDAL dalam setiap proses pembangunan yang
berpotensi merusak lingkungan. Melalui peraturan ini, diharapkan bahwa
pelaksanaan pembangunan dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek
keberlanjutan dan meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem.
D. Komponen AMDAL
Komponen AMDAL terdiri dari beberapa elemen yang saling terkait dan
harus disusun secara sistematis untuk memastikan bahwa seluruh dampak
lingkungan dari suatu kegiatan dapat teridentifikasi dengan jelas dan langkah
mitigasi yang tepat dapat direncanakan. Komponen-komponen tersebut antara
lain Kerangka Acuan, Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), Rencana
Pengelolaan Lingkungan (RKL), dan Rencana Pemantauan Lingkungan
(RPL).
1. Kerangka Acuan
Dokumen awal yang memuat panduan dalam penyusunan AMDAL.
Dokumen ini berisi ruang lingkup kajian yang mencakup aspek-aspek
yang perlu dianalisis dalam kegiatan tersebut, seperti dampak terhadap
kualitas udara, air, tanah, serta dampak sosial dan ekonomi. Kerangka
9
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan, Pasal 6
6
acuan ini merupakan dasar yang akan digunakan untuk melakukan studi
lebih lanjut mengenai dampak lingkungan.
7
penyesuaian jika terjadi dampak lingkungan yang lebih besar dari yang
diperkirakan sebelumnya.
Masing-masing komponen ini saling terkait dan harus disusun secara
sistematis untuk menciptakan sebuah dokumen AMDAL yang komprehensif.
Tanpa salah satu komponen ini, proses AMDAL akan kurang efektif dalam
mengidentifikasi dan mengelola dampak lingkungan dengan baik.10
10
Suparmoko, T. (2008). Manajemen Lingkungan. Yogyakarta: BPFE, hlm. 102-105
11
Otto Soemarwoto. (2001). Ekologi, Lingkungan Hidup, dan Pembangunan. Jakarta:
Djambatan, hlm. 193
12
Emil Salim. (2004). Pembangunan Berkelanjutan: Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Jakarta: UI Press, hlm. 85
8
Dalam praktiknya, pengelolaan lingkungan tidak bisa dilakukan secara
parsial. Diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan
masyarakat. Pemerintah bertindak sebagai regulator dan pengawas, dunia
usaha sebagai pelaksana teknis, sementara masyarakat memiliki peran
pengawasan dan advokasi terhadap kegiatan lingkungan di sekitarnya. Ketiga
unsur ini harus berjalan beriringan demi terciptanya pembangunan yang
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan13.
13
Suryani, N. (2015). Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Graha Ilmu, hlm. 120
14
Suryani, N. (2015). Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Graha Ilmu, hlm. 134
15
Suparmoko, M. (2008). Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Yogyakarta:
BPFE, hlm. 159
9
sekitar. Dokumen ini sekaligus menjadi rujukan utama dalam pengawasan dan
evaluasi kegiatan oleh instansi lingkungan hidup dan masyarakat16.
Dengan adanya RKL yang tersusun baik, kegiatan pembangunan dapat
tetap berjalan tanpa mengabaikan prinsip keberlanjutan dan perlindungan
lingkungan hidup. Hal ini menjadi bagian integral dari konsep pembangunan
berkelanjutan yang menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi,
perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
16
Otto Soemarwoto. (2001). Ekologi, Lingkungan Hidup, dan Pembangunan. Jakarta:
Djambatan, hlm. 205
10
secara berkelanjutan¹. Oleh karena itu, keterlibatan aktif semua pihak, baik
pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat, menjadi sangat penting dalam
keberhasilan upaya pengelolaan lingkungan ini17.
17
Bambang, S., & Rahayu, D. (2016). Manajemen Lingkungan Hidup. Jakarta: Bumi
Aksara, hlm. 87
11
jangka panjang, pelibatan masyarakat akan mendorong lahirnya budaya peduli
lingkungan yang kuat di tengah masyarakat.
Menurut Suparmoko, data hasil pemantauan bukan hanya sekadar alat
evaluasi internal, tetapi juga berfungsi sebagai sumber informasi ilmiah yang
dapat dijadikan landasan dalam pengambilan kebijakan lingkungan secara
makro18. Tanpa pemantauan yang akurat dan berkesinambungan, maka
pembangunan yang dilakukan berisiko besar terhadap terjadinya degradasi
lingkungan secara bertahap namun signifikan.
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk menyediakan regulasi
serta dukungan teknis dalam pelaksanaan pemantauan ini. Misalnya, melalui
peningkatan kapasitas lembaga lingkungan hidup daerah, penyediaan
laboratorium uji lingkungan yang terakreditasi, hingga pengembangan sistem
informasi lingkungan yang terbuka dan mudah diakses oleh publik.
Pemanfaatan teknologi informasi seperti sistem pemantauan berbasis digital
dan sensor otomatis juga dapat meningkatkan efektivitas pemantauan dan
deteksi dini terhadap potensi pencemaran lingkungan.
Dengan adanya sistem pemantauan yang baik, pelanggaran terhadap
ketentuan AMDAL dapat dideteksi lebih awal, sehingga memungkinkan
dilakukan tindakan korektif dengan cepat. Ini sangat penting untuk mencegah
dampak negatif terhadap ekosistem dan masyarakat yang dapat bersifat jangka
panjang. Oleh karena itu, pemantauan lingkungan hidup harus menjadi
prioritas dalam setiap proyek pembangunan yang berpotensi menimbulkan
dampak lingkungan yang signifikan.
18
Suparmoko, M. (2008). Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta, hlm. 164
12
ٌ ّٰللاِ قَ ِري
َْب ِ ِّمن ت ه َ ط َمعً ۗا ا َِّن َرحْ َم
َ ع ْوهُ خ َْوفًا َّو
ُ ْص ََل ِح َها َواد ِ َو ََل ت ُ ْف ِسد ُْوا فِى ْاَلَ ْر
ْ ِض بَ ْعدَ ا
٥٦ َْال ُمحْ ِسنِيْن
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah)
memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan.
Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat
baik." Ayat ini menekankan larangan untuk merusak bumi, serta
menganjurkan manusia agar berbuat baik dan menjaga keseimbangan alam.
Islam mengajarkan prinsip mīzān (keseimbangan), yakni bahwa segala
sesuatu di alam ini diciptakan dengan ukuran dan keseimbangan tertentu,
sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Rahman ayat 7-9.
َۙ َض َع ْال ِميْز
٧ َان َ س َم ۤا َء َرفَعَ َها َو َو
َّ َوال ِ َْط ا َ ََّل ت َْطغ َْوا فِى ْال ِميْز
٨ ان ِ َوا َ ِق ْي ُموا ْال َو ْزنَ ِب ْال ِقس
٩ ََو ََل ت ُ ْخس ُِروا ْال ِميْزَ ان
"Dan Dia meninggikan langit dan meletakkan neraca (keadilan), agar kamu
tidak melampaui batas dalam neraca itu. Maka tegakkanlah timbangan itu
dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu." Keseimbangan ini
menjadi landasan bagi manusia agar tidak bertindak secara berlebihan (israf)
atau semena-mena dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Perilaku
berlebihan dalam penggunaan sumber daya merupakan salah satu bentuk
pengingkaran terhadap amanah Allah dan berpotensi merusak ekosistem yang
telah diciptakan dengan sempurna.
Menurut Nasution, prinsip tauhid dalam Islam tidak hanya berkaitan
dengan hubungan antara manusia dan Allah, tetapi juga mencakup tanggung
jawab manusia terhadap alam. Dalam kedudukannya sebagai khalifah di muka
bumi, manusia memiliki tugas untuk memelihara, bukan mengeksploitasi
alam19. Lingkungan hidup dalam pandangan Islam bukan hanya sebagai objek
pemanfaatan ekonomi, tetapi merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang harus
dihormati dan dijaga keberadaannya.
Selain itu, terdapat konsep amanah yang sangat kuat dalam Islam. Alam
semesta adalah titipan Allah kepada manusia, dan sebagai pemegang amanah,
19
Nasution, Harun. (2010). Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran. Jakarta: Mizan, hlm.
137
13
manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya terhadap
lingkungan. Oleh karena itu, perilaku merusak alam, membuang sampah
sembarangan, menebang hutan tanpa reboisasi, dan mencemari sungai
merupakan bentuk pelanggaran terhadap amanah tersebut. Islam juga
mendorong pemanfaatan sumber daya secara bijaksana dan menganjurkan
prinsip ihsan (berbuat baik), termasuk dalam memperlakukan lingkungan.
Dengan demikian, menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya tanggung
jawab sosial atau ekologis, melainkan juga merupakan kewajiban spiritual dan
etis dalam ajaran Islam. Pendidikan dan kesadaran akan nilai-nilai keislaman
ini perlu terus digalakkan dalam kehidupan sehari-hari agar manusia dapat
hidup selaras dengan alam serta menjamin keberlanjutan hidup generasi
mendatang.
14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
AMDAL merupakan instrumen penting dalam mewujudkan pembangunan
yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Melalui kajian AMDAL, dampak
negatif dari suatu kegiatan atau proyek dapat diidentifikasi sejak awal dan
dikelola secara sistematis agar tidak merusak keseimbangan ekosistem.
Dengan demikian, pembangunan tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan
ekonomi semata, tetapi juga menjamin kelestarian lingkungan bagi generasi
sekarang dan yang akan datang.
Pengelolaan lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama, yang
mencakup pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha. Masing-masing pihak
memiliki peran penting dalam memastikan bahwa setiap kegiatan
pembangunan tetap memperhatikan aspek lingkungan secara serius. Partisipasi
aktif masyarakat dalam proses penyusunan dan pelaksanaan AMDAL menjadi
wujud nyata dari demokrasi lingkungan yang sehat.
Selain pendekatan regulatif dan teknis, penting juga menanamkan nilai-
nilai moral dan spiritual dalam pengelolaan lingkungan. Dalam perspektif
Islam, menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah yang diberikan
Allah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Prinsip-prinsip seperti
mīzān (keseimbangan), larangan israf (berlebihan), dan tanggung jawab
terhadap ciptaan Allah menegaskan bahwa pelestarian lingkungan adalah
bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral umat manusia.
B. Saran
Diperlukan peningkatan sosialisasi dan penegakan hukum terhadap
pelaksanaan AMDAL agar tidak hanya bersifat formalitas. Pelibatan
masyarakat dalam proses AMDAL juga penting guna menciptakan
transparansi dan akuntabilitas. Pendidikan lingkungan harus ditanamkan sejak
dini untuk membentuk generasi yang peduli terhadap kelestarian bumi.
15
DAFTAR PUSTAKA
16