0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan19 halaman

Aspek Dampak Lingkungan

Makalah ini membahas pentingnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dalam pembangunan berkelanjutan, menekankan bahwa AMDAL bukan hanya syarat administratif tetapi juga alat strategis untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan. Penulis menjelaskan komponen-komponen AMDAL, kegunaannya dalam pengambilan keputusan, serta peraturan yang mengaturnya di Indonesia. Dengan melibatkan masyarakat dalam proses AMDAL, diharapkan transparansi dan keberlanjutan lingkungan dapat terjaga.

Diunggah oleh

w4srsb9dxh
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan19 halaman

Aspek Dampak Lingkungan

Makalah ini membahas pentingnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dalam pembangunan berkelanjutan, menekankan bahwa AMDAL bukan hanya syarat administratif tetapi juga alat strategis untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan. Penulis menjelaskan komponen-komponen AMDAL, kegunaannya dalam pengambilan keputusan, serta peraturan yang mengaturnya di Indonesia. Dengan melibatkan masyarakat dalam proses AMDAL, diharapkan transparansi dan keberlanjutan lingkungan dapat terjaga.

Diunggah oleh

w4srsb9dxh
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Makalah

ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Memenuhi


Tugas Mata Kuliah Studi Kelayakan Bisnis
Dosen Pengampu Bapak Isara Abda Noka M.Ag

Disusun Oleh :

AJA NOVA
NPM : 22420311437

MISRIANTO
NPM : 22420311450

PRODI EKONOMI SYARIAH


FAKULTAS SYARIAH DAKWAH DAN USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
TAKENGON
2025
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul “Aspek
Dampak Lingkungan” dengan sebaik-baiknya. Makalah ini disusun sebagai
bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup dan pentingnya kajian terhadap
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dalam pembangunan
berkelanjutan.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat
kekurangan, baik dari segi isi maupun sistematika penulisan. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan
makalah di masa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
sebagai referensi dan menambah wawasan dalam bidang lingkungan hidup.

Takengon , April 2025

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................... i


DAFTAR ISI .......................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ......................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................... 3
A. Mengapa Harus AMDAL? .......................................................... 3
B. Kegunaan AMDAL ..................................................................... 4
C. Peraturan dan Perundang-undangan ............................................ 5
D. Komponen AMDAL ................................................................... 6
E. Sistematika Pengelolaan Lingkungan ......................................... 8
F. Dokumen Rencana Kelola Lingkungan (RKL)........................... 9
G. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup ...................................... 10
H. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup ...................................... 11
I. Menjaga Lingkungan dalam Perspektif Al-Qur’an ..................... 12
BAB III PENUTUP ............................................................................... 15
A. Kesimpulan ................................................................................. 15
B. Saran............................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan yang pesat membawa dampak besar terhadap lingkungan.
Kegiatan industri, transportasi, pertambangan, dan urbanisasi sering kali
menyebabkan degradasi lingkungan yang signifikan. Dalam proses
pembangunan, aspek lingkungan kerap kali diabaikan demi pencapaian target
ekonomi jangka pendek, padahal dampak jangka panjang dari kerusakan
lingkungan jauh lebih merugikan. Akibatnya, terjadi pencemaran udara, air,
dan tanah yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat serta menurunkan
daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, analisis mengenai dampak
lingkungan (AMDAL) menjadi sangat penting sebagai alat perencanaan yang
mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem dan keseimbangan antara
kebutuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup.1
AMDAL bukan hanya sekadar syarat administratif dalam pengurusan izin
usaha, tetapi juga merupakan instrumen penting dalam pengambilan keputusan
terhadap kelayakan lingkungan suatu kegiatan. AMDAL merupakan kajian
mengenai dampak besar dan penting suatu usaha atau kegiatan yang
direncanakan terhadap lingkungan hidup. Konsep ini bertujuan agar
pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga
memperhatikan kelestarian lingkungan serta hak-hak masyarakat yang
terdampak. Sementara itu, AMDAL adalah alat yang strategis untuk mencegah
terjadinya kerusakan lingkungan sebelum kegiatan berlangsung dan menjadi
bagian integral dari proses perencanaan pembangunan berkelanjutan. Oleh
karena itu, penerapan AMDAL yang efektif menjadi keharusan dalam setiap
aktivitas pembangunan agar tercapai keseimbangan antara kebutuhan manusia
dan pelestarian sumber daya alam secara berkesinambungan.2

1
Suryani, N. (2015). Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta: Prenadamedia Group, hlm.
45.
2
Suparmoko, M. (2008). Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Yogyakarta: BPFE,
hlm. 112

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan AMDAL dan mengapa penting dilakukan?
2. Apa saja kegunaan AMDAL dalam pembangunan?
3. Bagaimana sistematika pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang
baik?
4. Apa pandangan Al-Qur’an tentang menjaga lingkungan?

C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan urgensi dan tujuan dari AMDAL.
2. Menguraikan kegunaan dan komponen AMDAL.
3. Menyampaikan sistematika pengelolaan serta pemantauan lingkungan.
4. Mengaitkan pentingnya menjaga lingkungan dari sudut pandang Al-
Qur’an.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Mengapa Harus AMDAL?


AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) merupakan instrumen
penting dalam merencanakan pembangunan yang ramah lingkungan. Dalam
konteks pembangunan yang cepat dan sering kali mengabaikan aspek
lingkungan, AMDAL menjadi alat yang esensial untuk memastikan bahwa
setiap kegiatan yang dilakukan tidak merusak ekosistem. Tanpa adanya kajian
AMDAL, pembangunan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan yang
serius, seperti pencemaran udara, air, dan tanah. AMDAL memberikan dasar
pertimbangan yang komprehensif untuk menilai apakah suatu kegiatan atau
proyek dapat dilanjutkan atau tidak berdasarkan dampak yang ditimbulkan
terhadap lingkungan.3
AMDAL membantu pihak yang berwenang, seperti pemerintah, untuk
mengambil keputusan yang lebih bijaksana mengenai apakah suatu proyek
layak atau tidak untuk diteruskan. Dengan adanya AMDAL, pihak yang
merencanakan proyek harus mengidentifikasi potensi dampak negatif yang
akan timbul dari kegiatan tersebut, serta merencanakan langkah-langkah
mitigasi untuk mengurangi dampak tersebut. Misalnya, jika sebuah proyek
pembangunan pabrik diperkirakan akan menambah polusi udara yang
signifikan, maka dalam dokumen AMDAL harus dicantumkan rencana
pengelolaan polusi yang harus diterapkan selama operasi pabrik.
Proses AMDAL juga melibatkan partisipasi masyarakat yang terdampak.
Masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan masukan terhadap
rencana pembangunan tersebut, sehingga proses pengambilan keputusan dapat
lebih transparan dan inklusif. Dengan melibatkan masyarakat, maka
keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial dapat lebih terjamin. Oleh
karena itu, AMDAL tidak hanya berfungsi untuk mengurangi kerusakan

3
Marsono, R. (2012). Pengelolaan Lingkungan Hidup Berkelanjutan. Yogyakarta: Andi
Offset, hlm. 85

3
lingkungan, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan sosial dan ekonomi
dalam pembangunan.
Dalam konteks regulasi, pemerintah Indonesia telah menetapkan berbagai
peraturan terkait AMDAL, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No.
32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.4
Undang-undang ini mengatur tentang kewajiban penyusunan AMDAL bagi
proyek-proyek yang berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap
lingkungan. Oleh karena itu, setiap kegiatan yang dianggap berdampak besar
terhadap lingkungan harus terlebih dahulu melakukan kajian AMDAL sebagai
salah satu syarat utama untuk memperoleh izin.

B. Kegunaan AMDAL
Kegunaan AMDAL sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara
pembangunan dan kelestarian lingkungan. Secara umum, AMDAL memiliki
beberapa fungsi utama, di antaranya sebagai alat perencanaan lingkungan,
dasar pengambilan keputusan, serta sebagai instrumen pengawasan dan
pengendalian kegiatan usaha. Sebagai alat perencanaan, AMDAL membantu
memastikan bahwa setiap kegiatan yang direncanakan dapat dipertimbangkan
dampaknya terhadap lingkungan sebelum dilakukan. Hal ini penting untuk
mencegah kerusakan lingkungan yang tidak terkontrol akibat kegiatan
pembangunan yang tidak memperhatikan kelestarian alam5.
Selain itu, AMDAL juga berfungsi sebagai dasar pengambilan keputusan
yang penting bagi pemerintah dan pihak terkait lainnya dalam menentukan
apakah suatu kegiatan atau proyek dapat dilanjutkan atau tidak. Dalam hal ini,
AMDAL memberikan gambaran yang jelas tentang potensi dampak
lingkungan dan langkah-langkah mitigasi yang perlu diterapkan agar dampak
negatifnya dapat dikendalikan.

4
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 24.
5
Marsono, R. (2012). Pengelolaan Lingkungan Hidup Berkelanjutan. Yogyakarta: Andi
Offset, hlm. 92-94

4
Selain sebagai alat perencanaan dan dasar pengambilan keputusan,
AMDAL juga berperan sebagai instrumen pengawasan dan pengendalian.
Melalui AMDAL, pemerintah dapat melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan yang telah disusun oleh pihak
yang merencanakan proyek. Hal ini memastikan bahwa proyek yang
dijalankan sesuai dengan dokumen AMDAL yang telah disetujui dan bahwa
langkah mitigasi dilakukan dengan baik6.
AMDAL juga berfungsi untuk mencegah konflik antara pelaku usaha dan
masyarakat yang terdampak. Dalam proses penyusunan AMDAL, masyarakat
diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan keberatan, yang
pada gilirannya meningkatkan transparansi dan keadilan dalam proses
pengambilan keputusan. Oleh karena itu, AMDAL juga berperan sebagai
sarana komunikasi dan partisipasi publik yang memungkinkan masyarakat
berperan serta dalam pengawasan lingkungan hidup7.

C. Peraturan dan Perundang-undangan


Dasar hukum pelaksanaan AMDAL di Indonesia diatur dalam Undang-
Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Undang-undang ini memberikan kerangka hukum yang
jelas bagi pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup, serta mewajibkan
penyusunan AMDAL untuk kegiatan yang diperkirakan memiliki dampak
besar terhadap lingkungan. Pasal 22 dalam undang-undang ini menegaskan
kewajiban bagi setiap usaha yang dapat menimbulkan dampak besar terhadap
lingkungan untuk menyusun dokumen AMDAL sebagai bagian dari proses
perizinan. Dengan demikian, AMDAL menjadi instrumen yang penting dalam
memastikan bahwa pembangunan berlangsung dengan memperhatikan
kelestarian lingkungan hidup8.

6
Ibid .,94.
7
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 22
8
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 22

5
Selain itu, terdapat juga Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 tentang
Izin Lingkungan yang mempertegas kewajiban penyusunan AMDAL sebagai
prasyarat dalam memperoleh izin lingkungan. Peraturan ini mengatur lebih
rinci mengenai prosedur penyusunan dan pengkajian AMDAL, termasuk
mekanisme untuk mengidentifikasi dampak lingkungan yang mungkin
ditimbulkan oleh suatu kegiatan usaha. Menurut peraturan ini, setiap kegiatan
usaha yang diperkirakan akan menimbulkan dampak besar terhadap
lingkungan wajib mengajukan dokumen AMDAL sebagai bagian dari izin
lingkungan yang harus diperoleh sebelum memulai kegiatan.9
Peraturan-peraturan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia
memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga lingkungan hidup dengan
mensyaratkan dokumen AMDAL dalam setiap proses pembangunan yang
berpotensi merusak lingkungan. Melalui peraturan ini, diharapkan bahwa
pelaksanaan pembangunan dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek
keberlanjutan dan meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem.

D. Komponen AMDAL
Komponen AMDAL terdiri dari beberapa elemen yang saling terkait dan
harus disusun secara sistematis untuk memastikan bahwa seluruh dampak
lingkungan dari suatu kegiatan dapat teridentifikasi dengan jelas dan langkah
mitigasi yang tepat dapat direncanakan. Komponen-komponen tersebut antara
lain Kerangka Acuan, Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), Rencana
Pengelolaan Lingkungan (RKL), dan Rencana Pemantauan Lingkungan
(RPL).
1. Kerangka Acuan
Dokumen awal yang memuat panduan dalam penyusunan AMDAL.
Dokumen ini berisi ruang lingkup kajian yang mencakup aspek-aspek
yang perlu dianalisis dalam kegiatan tersebut, seperti dampak terhadap
kualitas udara, air, tanah, serta dampak sosial dan ekonomi. Kerangka

9
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan, Pasal 6

6
acuan ini merupakan dasar yang akan digunakan untuk melakukan studi
lebih lanjut mengenai dampak lingkungan.

2. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL)


AMDAL yang mengidentifikasi dan menganalisis dampak lingkungan dari
suatu kegiatan atau proyek. Dalam tahap ini, dilakukan pemodelan dampak
dan prediksi tentang kemungkinan kerusakan lingkungan yang dapat
terjadi jika proyek tersebut dilaksanakan. Hasil dari analisis ini digunakan
untuk menilai apakah proyek layak dilaksanakan dengan
mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Komponen ini
sangat penting karena memberikan gambaran yang jelas tentang dampak
negatif dan positif yang dapat timbul, yang kemudian digunakan untuk
mengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan.

3. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)


Langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi dampak negatif yang telah
diidentifikasi dalam AMDAL. RKL memuat berbagai strategi dan
tindakan yang akan diambil selama pelaksanaan proyek untuk memastikan
bahwa dampak lingkungan tetap terkendali sesuai dengan ketentuan yang
berlaku. RKL juga harus menyertakan rincian anggaran dan jadwal untuk
implementasi setiap langkah pengelolaan.

4. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)


Mengatur kegiatan pemantauan terhadap dampak lingkungan yang terjadi
selama proyek berlangsung. Pemantauan ini bertujuan untuk memastikan
bahwa rencana pengelolaan lingkungan dijalankan dengan baik dan
dampak negatif yang ditimbulkan dapat dikendalikan. RPL juga berfungsi
untuk mengevaluasi efektivitas tindakan yang telah diambil dalam RKL.
Proses pemantauan ini penting untuk memastikan bahwa pelaksanaan
proyek tetap mengikuti ketentuan yang ada, dan untuk membuat

7
penyesuaian jika terjadi dampak lingkungan yang lebih besar dari yang
diperkirakan sebelumnya.
Masing-masing komponen ini saling terkait dan harus disusun secara
sistematis untuk menciptakan sebuah dokumen AMDAL yang komprehensif.
Tanpa salah satu komponen ini, proses AMDAL akan kurang efektif dalam
mengidentifikasi dan mengelola dampak lingkungan dengan baik.10

E. Sistematika Pengelolaan Lingkungan


Pengelolaan lingkungan hidup merupakan suatu proses yang terintegrasi
antara berbagai tahapan, yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pemantauan, hingga evaluasi atas kegiatan yang berdampak terhadap
lingkungan. Setiap tahapan tersebut harus dirancang secara sistematis dan
berkelanjutan agar mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan
pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Perencanaan pengelolaan lingkungan harus dimulai sejak awal kegiatan
usaha dirancang. Hal ini bertujuan agar setiap potensi dampak lingkungan
yang mungkin muncul dapat diantisipasi sejak dini. Tahap pelaksanaan
kemudian mengacu pada rencana tersebut, memastikan bahwa setiap kegiatan
berjalan sesuai dengan standar baku mutu lingkungan yang ditetapkan.
Pemantauan dilakukan secara berkala untuk menilai efektivitas pengelolaan,
sedangkan evaluasi memberikan masukan terhadap perbaikan pengelolaan di
masa mendatang11.
Pendekatan pengelolaan lingkungan yang ideal adalah berorientasi pada
pencegahan (preventif) daripada penanggulangan (kuratif). Artinya, sebelum
kerusakan terjadi, langkah-langkah antisipatif telah disiapkan dan diterapkan.
Ini jauh lebih efisien secara ekonomi dan ekologis daripada memperbaiki
lingkungan yang telah rusak12.

10
Suparmoko, T. (2008). Manajemen Lingkungan. Yogyakarta: BPFE, hlm. 102-105
11
Otto Soemarwoto. (2001). Ekologi, Lingkungan Hidup, dan Pembangunan. Jakarta:
Djambatan, hlm. 193
12
Emil Salim. (2004). Pembangunan Berkelanjutan: Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Jakarta: UI Press, hlm. 85

8
Dalam praktiknya, pengelolaan lingkungan tidak bisa dilakukan secara
parsial. Diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan
masyarakat. Pemerintah bertindak sebagai regulator dan pengawas, dunia
usaha sebagai pelaksana teknis, sementara masyarakat memiliki peran
pengawasan dan advokasi terhadap kegiatan lingkungan di sekitarnya. Ketiga
unsur ini harus berjalan beriringan demi terciptanya pembangunan yang
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan13.

F. Dokumen Rencana Kelola Lingkungan (RKL)


Rencana Kelola Lingkungan (RKL) adalah salah satu dokumen utama
dalam AMDAL yang menjabarkan secara rinci upaya-upaya yang akan
dilakukan untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan dampak negatif
terhadap lingkungan yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan atau proyek.
Dokumen ini menjadi pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang
wajib dipatuhi oleh pelaku usaha atau kegiatan sejak tahap pra-konstruksi,
konstruksi, operasi, hingga pasca-operasi14.
Isi dari RKL mencakup deskripsi dampak lingkungan yang diperkirakan
terjadi, metode atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak
tersebut, lokasi pelaksanaan, waktu pelaksanaan, serta institusi yang
bertanggung jawab. Selain itu, RKL juga mencakup indikator keberhasilan
dalam pengelolaan lingkungan, serta rencana koordinasi dan komunikasi antar
pihak terkait15
Kewajiban menyusun dan melaksanakan RKL tidak hanya sebagai syarat
administratif untuk memperoleh izin lingkungan, tetapi juga merupakan
bentuk tanggung jawab sosial dan ekologis pelaku usaha terhadap lingkungan

13
Suryani, N. (2015). Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Graha Ilmu, hlm. 120
14
Suryani, N. (2015). Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Graha Ilmu, hlm. 134
15
Suparmoko, M. (2008). Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Yogyakarta:
BPFE, hlm. 159

9
sekitar. Dokumen ini sekaligus menjadi rujukan utama dalam pengawasan dan
evaluasi kegiatan oleh instansi lingkungan hidup dan masyarakat16.
Dengan adanya RKL yang tersusun baik, kegiatan pembangunan dapat
tetap berjalan tanpa mengabaikan prinsip keberlanjutan dan perlindungan
lingkungan hidup. Hal ini menjadi bagian integral dari konsep pembangunan
berkelanjutan yang menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi,
perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial.

G. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup


Upaya pengelolaan lingkungan hidup merupakan serangkaian tindakan
yang dilakukan untuk menjaga, memulihkan, dan meningkatkan kualitas
lingkungan hidup demi menjamin kelangsungan hidup manusia dan makhluk
lainnya. Kegiatan ini meliputi berbagai aspek penting, seperti konservasi
sumber daya alam, pengurangan limbah, reklamasi lahan, dan penggunaan
teknologi ramah lingkungan.
Konservasi sumber daya alam dilakukan dengan cara menjaga kelestarian
hutan, air, udara, dan tanah agar tidak mengalami degradasi. Upaya ini
mencakup reboisasi, pengelolaan air secara bijak, serta pelestarian flora dan
fauna. Pengurangan limbah dilakukan melalui penerapan prinsip reduce, reuse,
recycle (3R), serta penggunaan sistem pengolahan limbah yang efektif.
Teknologi ramah lingkungan seperti energi terbarukan (surya, angin,
biomassa) dan sistem produksi bersih (clean production) telah banyak
dikembangkan untuk menekan pencemaran. Inovasi-inovasi ini sangat penting
agar kegiatan pembangunan tidak lagi menghasilkan limbah yang mencemari
udara, air, maupun tanah.
Menurut Bambang dan Rahayu, pengelolaan lingkungan yang baik tidak
hanya memperbaiki kualitas lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat
sosial dan ekonomi, seperti menciptakan lapangan kerja hijau (green jobs),
meningkatkan kesehatan masyarakat, serta menjaga keseimbangan ekosistem

16
Otto Soemarwoto. (2001). Ekologi, Lingkungan Hidup, dan Pembangunan. Jakarta:
Djambatan, hlm. 205

10
secara berkelanjutan¹. Oleh karena itu, keterlibatan aktif semua pihak, baik
pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat, menjadi sangat penting dalam
keberhasilan upaya pengelolaan lingkungan ini17.

H. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup


Upaya pemantauan lingkungan hidup merupakan komponen penting
dalam sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Pemantauan ini
bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan rencana pengelolaan
lingkungan sebagaimana telah dirancang dalam dokumen AMDAL,
khususnya pada bagian Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL). Pemantauan dilakukan secara berkala dan
sistematis, mencakup parameter-parameter penting seperti kualitas udara,
kualitas air, kondisi tanah, tingkat kebisingan, serta dampak sosial terhadap
masyarakat di sekitar wilayah kegiatan.
Pelaku usaha atau proyek diwajibkan untuk melakukan pemantauan secara
mandiri, tetapi hasilnya harus dilaporkan kepada instansi lingkungan hidup
yang berwenang untuk dilakukan evaluasi dan pengawasan. Laporan
pemantauan ini harus memuat metodologi yang digunakan, waktu
pelaksanaan, lokasi pemantauan, hasil pengukuran, serta interpretasi data
dalam kaitannya dengan standar baku mutu lingkungan yang berlaku. Proses
ini menjadi mekanisme kontrol yang penting agar tidak terjadi penyimpangan
terhadap komitmen perlindungan lingkungan yang telah dirancang
sebelumnya.
Selain aspek teknis, pemantauan lingkungan juga memiliki dimensi sosial.
Keterlibatan masyarakat lokal dalam proses pemantauan memberikan
kontribusi signifikan, baik dalam bentuk pengawasan langsung maupun
pemberian umpan balik terhadap dampak yang dirasakan. Hal ini memperkuat
prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan lingkungan. Dalam

17
Bambang, S., & Rahayu, D. (2016). Manajemen Lingkungan Hidup. Jakarta: Bumi
Aksara, hlm. 87

11
jangka panjang, pelibatan masyarakat akan mendorong lahirnya budaya peduli
lingkungan yang kuat di tengah masyarakat.
Menurut Suparmoko, data hasil pemantauan bukan hanya sekadar alat
evaluasi internal, tetapi juga berfungsi sebagai sumber informasi ilmiah yang
dapat dijadikan landasan dalam pengambilan kebijakan lingkungan secara
makro18. Tanpa pemantauan yang akurat dan berkesinambungan, maka
pembangunan yang dilakukan berisiko besar terhadap terjadinya degradasi
lingkungan secara bertahap namun signifikan.
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk menyediakan regulasi
serta dukungan teknis dalam pelaksanaan pemantauan ini. Misalnya, melalui
peningkatan kapasitas lembaga lingkungan hidup daerah, penyediaan
laboratorium uji lingkungan yang terakreditasi, hingga pengembangan sistem
informasi lingkungan yang terbuka dan mudah diakses oleh publik.
Pemanfaatan teknologi informasi seperti sistem pemantauan berbasis digital
dan sensor otomatis juga dapat meningkatkan efektivitas pemantauan dan
deteksi dini terhadap potensi pencemaran lingkungan.
Dengan adanya sistem pemantauan yang baik, pelanggaran terhadap
ketentuan AMDAL dapat dideteksi lebih awal, sehingga memungkinkan
dilakukan tindakan korektif dengan cepat. Ini sangat penting untuk mencegah
dampak negatif terhadap ekosistem dan masyarakat yang dapat bersifat jangka
panjang. Oleh karena itu, pemantauan lingkungan hidup harus menjadi
prioritas dalam setiap proyek pembangunan yang berpotensi menimbulkan
dampak lingkungan yang signifikan.

I. Menjaga Lingkungan dalam Perspektif Al-Qur'an


Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Islam memuat banyak ajaran yang
berkaitan dengan pelestarian dan penjagaan lingkungan hidup. Salah satu ayat
yang menegaskan hal ini adalah Surah Al-A'raf ayat 56:

18
Suparmoko, M. (2008). Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta, hlm. 164

12
ٌ ‫ّٰللاِ قَ ِري‬
َ‫ْب ِ ِّمن‬ ‫ت ه‬ َ ‫ط َمعً ۗا ا َِّن َرحْ َم‬
َ ‫ع ْوهُ خ َْوفًا َّو‬
ُ ْ‫ص ََل ِح َها َواد‬ ِ ‫َو ََل ت ُ ْف ِسد ُْوا فِى ْاَلَ ْر‬
ْ ِ‫ض بَ ْعدَ ا‬
‫۝‬٥٦ َ‫ْال ُمحْ ِسنِيْن‬
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah)
memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan.
Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat
baik." Ayat ini menekankan larangan untuk merusak bumi, serta
menganjurkan manusia agar berbuat baik dan menjaga keseimbangan alam.
Islam mengajarkan prinsip mīzān (keseimbangan), yakni bahwa segala
sesuatu di alam ini diciptakan dengan ukuran dan keseimbangan tertentu,
sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Rahman ayat 7-9.
‫۝‬ َۙ َ‫ض َع ْال ِميْز‬
٧ َ‫ان‬ َ ‫س َم ۤا َء َرفَعَ َها َو َو‬
َّ ‫۝ َوال‬ ِ َ‫ْط ا َ ََّل ت َْطغ َْوا فِى ْال ِميْز‬
٨ ‫ان‬ ِ ‫َوا َ ِق ْي ُموا ْال َو ْزنَ ِب ْال ِقس‬
‫۝‬ ٩ َ‫َو ََل ت ُ ْخس ُِروا ْال ِميْزَ ان‬
"Dan Dia meninggikan langit dan meletakkan neraca (keadilan), agar kamu
tidak melampaui batas dalam neraca itu. Maka tegakkanlah timbangan itu
dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu." Keseimbangan ini
menjadi landasan bagi manusia agar tidak bertindak secara berlebihan (israf)
atau semena-mena dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Perilaku
berlebihan dalam penggunaan sumber daya merupakan salah satu bentuk
pengingkaran terhadap amanah Allah dan berpotensi merusak ekosistem yang
telah diciptakan dengan sempurna.
Menurut Nasution, prinsip tauhid dalam Islam tidak hanya berkaitan
dengan hubungan antara manusia dan Allah, tetapi juga mencakup tanggung
jawab manusia terhadap alam. Dalam kedudukannya sebagai khalifah di muka
bumi, manusia memiliki tugas untuk memelihara, bukan mengeksploitasi
alam19. Lingkungan hidup dalam pandangan Islam bukan hanya sebagai objek
pemanfaatan ekonomi, tetapi merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang harus
dihormati dan dijaga keberadaannya.
Selain itu, terdapat konsep amanah yang sangat kuat dalam Islam. Alam
semesta adalah titipan Allah kepada manusia, dan sebagai pemegang amanah,

19
Nasution, Harun. (2010). Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran. Jakarta: Mizan, hlm.
137

13
manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya terhadap
lingkungan. Oleh karena itu, perilaku merusak alam, membuang sampah
sembarangan, menebang hutan tanpa reboisasi, dan mencemari sungai
merupakan bentuk pelanggaran terhadap amanah tersebut. Islam juga
mendorong pemanfaatan sumber daya secara bijaksana dan menganjurkan
prinsip ihsan (berbuat baik), termasuk dalam memperlakukan lingkungan.
Dengan demikian, menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya tanggung
jawab sosial atau ekologis, melainkan juga merupakan kewajiban spiritual dan
etis dalam ajaran Islam. Pendidikan dan kesadaran akan nilai-nilai keislaman
ini perlu terus digalakkan dalam kehidupan sehari-hari agar manusia dapat
hidup selaras dengan alam serta menjamin keberlanjutan hidup generasi
mendatang.

14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
AMDAL merupakan instrumen penting dalam mewujudkan pembangunan
yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Melalui kajian AMDAL, dampak
negatif dari suatu kegiatan atau proyek dapat diidentifikasi sejak awal dan
dikelola secara sistematis agar tidak merusak keseimbangan ekosistem.
Dengan demikian, pembangunan tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan
ekonomi semata, tetapi juga menjamin kelestarian lingkungan bagi generasi
sekarang dan yang akan datang.
Pengelolaan lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama, yang
mencakup pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha. Masing-masing pihak
memiliki peran penting dalam memastikan bahwa setiap kegiatan
pembangunan tetap memperhatikan aspek lingkungan secara serius. Partisipasi
aktif masyarakat dalam proses penyusunan dan pelaksanaan AMDAL menjadi
wujud nyata dari demokrasi lingkungan yang sehat.
Selain pendekatan regulatif dan teknis, penting juga menanamkan nilai-
nilai moral dan spiritual dalam pengelolaan lingkungan. Dalam perspektif
Islam, menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah yang diberikan
Allah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Prinsip-prinsip seperti
mīzān (keseimbangan), larangan israf (berlebihan), dan tanggung jawab
terhadap ciptaan Allah menegaskan bahwa pelestarian lingkungan adalah
bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral umat manusia.

B. Saran
Diperlukan peningkatan sosialisasi dan penegakan hukum terhadap
pelaksanaan AMDAL agar tidak hanya bersifat formalitas. Pelibatan
masyarakat dalam proses AMDAL juga penting guna menciptakan
transparansi dan akuntabilitas. Pendidikan lingkungan harus ditanamkan sejak
dini untuk membentuk generasi yang peduli terhadap kelestarian bumi.

15
DAFTAR PUSTAKA

Bambang, S., & Rahayu, D. (2016). Manajemen Lingkungan Hidup. Jakarta:


Bumi Aksara.

Emil Salim. (2004). Pembangunan Berkelanjutan: Pengelolaan Sumber Daya


Alam. Jakarta: UI Press.

Marsono, R. (2012). Pengelolaan Lingkungan Hidup Berkelanjutan. Yogyakarta:


Andi Offset.

Nasution, Harun. (2010). Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran. Jakarta:


Mizan.

Otto Soemarwoto. (2001). Ekologi, Lingkungan Hidup, dan Pembangunan.


Jakarta: Djambatan.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin


Lingkungan.

Suparmoko, M. (2008). Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan.


Yogyakarta: BPFE.

Suparmoko, T. (2008). Manajemen Lingkungan. Yogyakarta: BPFE.

Suryani, N. (2015). Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan


dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

16

Anda mungkin juga menyukai