Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami haturkan kehadirat ALLAH SWT atas


limpahan Rahmat, Taufik, dan Hidayat-nya kepada kita semua sehingga kami
masih diberi kesempatan untuk dapat menyelasaikan makalah ini dengan sebaik-
baiknya.
Ucapan terima kasih tak lupa pula kami sampaikan kepada Bapak
Syaifudin Mansur, S.Pd selaku guru bidang studi mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA), juga kepada teman-teman anggota kelompok yang
turut andil dalam pembuatan makalah ini.
Harapan kami tak lain agar makalah ini dapat bermanfaat bagi siswa-siswi
SMK NU Sunan Ampel dalam proses pembelajaran pada khususnya, juga kepada
masyarakat umum sebagai pengetahuan pada umumnya.
Makalah ini menjelaskan tentang apakah itu AMDAL (Analisis Mengenai
Danpak Lingkungan). Yang kesemuannya akan dibahas dalam makalah ini.
AMDAL bukan merupakan hal baru dalam pelaksanaan pengelolaan
lingkungan hidup di Indonesia. Selain sudah banyak buku/panduan yang
mengupas tentang AMDAL, telah banyak kegiatan yang telah memiliki AMDAL
dan melaksanakan kewajibannya dalam pengelolaan dan pemantauan
lingkungan. Kendati demikian pemahaman tentang AMDAL masih dirasakan
kurang. karena, selain masih banyak pertanyaan berkaitan dengan AMDAL,
masih banyak terjadi kekeliruan penerapan AMDAL di lapangan. Dalam rangka
peningkatan pemahaman tentang AMDAL, maka dirasakan perlunya suatu
makalah paraktis yang dapat menjawab keraguan mengenai penerapan AMDAL.
Untuk itu kami menyusun makalah yang dapat menjawab keraguan mengenai
penerapan AMDAL.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena
itu mengharap kritik dan saran dari semua pihak demi penyempurnaan makalah
ini. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi praktisi AMDAL
dan masyarakat dalam memahami AMDAL secara komprehensif.

Malang, 18 mei 2010

Nur Ali Mufid

Penyusun

I
Daftar Isi
Kata pengantar..........................................................................................I
Daftar isi.....................................................................................................II
BAB I Pendahuluan
1. Latar belakang.........................................................................................1
2. Tujuan......................................................................................................1
3. Rumusan masalah..................................................................................1
BAB II ISI
A. Pengertian AMDAL.................................................................................2
B. Dasar Hukum..........................................................................................5
C. Penentuan Dampak Penting...................................................................5
D. Proses AMDAL.......................................................................................6
E. Pedoma Penentuan Dampak Penting....................................................7
F. Manfaat AMDAL......................................................................................9
G. Pihak yang Terlibat Proses Amdal.........................................................9
H. Hal yang Perlu Diperhatikan...................................................................10
I. Prosedur AMDAL....................................................................................10
J. Penyusun AMDAL...................................................................................11
K. Pihak yang Terlibat Dalam Proses AMDAL............................................11
L. Maksud UKL dan UPL.............................................................................11
M. Keterkaitan AMDAL................................................................................12
N. AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Sukarela......................................13
O. Contoh Kasus AMDAL di Indonesia.......................................................13
BAB III Penutup.........................................................................................16
Daftar Pustaka...........................................................................................17
Lampiran

II
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Sebenarnya AMDAL itu sudah mulai berlaku di Indonesia pada tahun 1986
karena berlakunya PP No. 29 Tahun 1986. Hal ini dimaksudkan sebagai bagian
dari studi kelayakan pembangunan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
Tujuannya untuk memastikan bahwa pembangunan suatu rencana/atau
kegiatan yang akan dilaksanakan bermanfaat dan tidak mengorbankan
lingkungan hidup.

2. Tujuan
Untuk menjamin agar suatu usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat
beroperasi secara berkelanjutan tanpa merusak dan mengorbankan lingkungan
atau dengan kata lain usaha atau kegiatan tersebut layak dari aspek lingkungan
hidup.

3. Rumusan Masalah
• Apakah AMDAL itu?
• Apakah dasar hokum AMDAL?
• Apakah dampak dari AMDAL?
• Apakah manfaat dari AMDAL?

1
BAB II
ISI

AA PENGERTIAN AMDAL

Pada waktu yang lampau, kebutuhan manusia akan sumber alam belum
begitu besar karena jumlah manusianya sendiri masih relatif sedikit, di samping
itu intensitas kegiatannya juga tidak besar. Pada saat-saat itu perubahan-
perubahan pada lingkungan oleh aktifitas manusia masih dalam kemampuan
alam untuk memulihkan diri secara alami. Tetapi aktifitas manusia makin lama
makin besar sehingga menimbulkan perubahan lingkungan yang besar pula.
Pada saat inilah manusia perlu berfikir apakah perubahan yang terjadi pada
lingkungan itu tidak akan merugikan manusia. Manusia perlu memperkirakan apa
yang akan terjadi akibat adanya kegiatan oleh manusia itu sendiri.
AMDAL (Analisis Mengenai Danpak Lingkungan) merupakan kajian
dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahap
perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan keputusan.
Hal-hal yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-
ekonomi, sosial-budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi
kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk
pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah No. 27 tahun
1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).
Agar pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai sasaran
yang diharapkan, pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme perijinan.
Peraturan pemerintah tentang AMDAL secara jelas menegaskan bahwa AMDAL
adalah salah satu syarat perijinan, dimana para pengambil keputusan wajib
mempertimbangkan hasil studi AMDAL sebelum memberikan ijin usaha/kegiatan.
AMDAL digunakan untuk mengambil keputusan tentang
penyelenggaraan/pemberian ijin usaha dan/atau kegiatan.
Undang-undang No. 4 Tahun 1982 Pasal 1 menyatakan : “Analisis
mengenai dampak lingkungan adalah hasil studi mengenai dampak suatu
kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi
proses pngambilan keputusan”.
AMDAL harus dilakukan untuk proyek yang diperkirakan akan
menimbulkan dampak penting, karena ini memang yang dikehendaki baik oleh
Peraturan Pemerintah maupun oleh Undang-undang, dengan tujuan agar kualitas
lingkungan tidak rusak karena adanya proyek-proyek pembangunan. Oleh karena
itu pemilik proyek atau pemrakarsa akan melanggar perundangan bila tidak
menyusun AMDAL, semua perizinan akan sulit didapat dan di samping itu pemilik
proyek dapat dituntut dimuka pengadilan. Keharusan membuat AMDAL
merupakan cara yang efektif untuk memaksa para pemilik proyek memperhatikan
kualitas lingkungan, tidak hanya memikirkan keuntungan proyek sebesar mungkin

2
tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang timbul. Dampak dari suatu
kegiatan, baik dampak negatif maupun dampak positif harus sudah diperkirakan
sebelum kegiatan itu dimulai. Dengan adanya AMDAL, pengambil keputusan
akan lebih luas wawasannya di dalam melaksanakan tugasnya. Karena di dalam
suatu rencana kegiatan, banyak sekali hal-hal yang akan dikerjakan, maka
AMDAL harus dapat membatasi diri, hanya mempelajari hal-hal yang penting bagi
proses pengambilan keputusan.
AMDAL ini sangat penting bagi negara berkembang khususnya Indonesia,
karena Indonesia sedang giat melakasanakan pembangunan, dan untuk
melaksanakan pembangunan maka lingkungan hidup banyak berubah, dengan
adanya AMDAL maka perubahan tersebut dapat diperkirakan. Dampak kegiatan
terhadap lingkungan hidup dapat berupa dampak positif maupun dampak negatif,
hampir tidak mungkin bahwa dalam suatu kegiatan / pembangunan tidak ada
dampak negatifnya. Dampak negatif yang kemungkinan timbul harus sudah
diketahui sebelumnya (dengan MDAL), di samping itu AMDAL juga membahas
cara-cara untuk menanggulangi / mengurangi dampak negatif. Agar supaya
jumlah masyarakat yang dapat ikut merasakan hasil pembangunan meningkat,
maka dampak positif perlu dikembangkan di dalam AMDAL.

Prosedur kerja

3
Langkah penampisan satu tahap

Langkah penampisan dua tahap

4
AA Dasar Hukum

Undang-undang No. 4 tahun 1982 Pasal 16 berbunyi :


“Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap
lingkungan wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan yang
pelaksanaannya diatur dengan peraturan pemerintah”.
Peraturan Pemerintah yang dimaksud telah ada yaitu Peraturan
Pemerintah No. 29 Tahun 1986 Tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan,
dirasa kurang memadai, sehingga dicabut dan diganti dengan Peraturan
Pemerintah No. 51 Tahun 1993 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Penjelasan dari Pasal 16 ini adalah sebagai berikut : “Pada dasarnya semua
usaha dan kegiatan pembangunan menimbulkan dampak terhadap lingkungan
hidup. Perencanaan awal suatu usaha atau kegiatan pembangunan sudah harus
memuat perkiraan dampaknya yang penting terhadap lingkungan hidup, baik fisik,
non fisik, maupun sosial budaya dan kesehatan masyarakat dengan menyusun
AMDAL. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih terinci dampak
negatif dan dampak positif yang akan timbul dari usaha atau kegiatan tersebut,
sehingga sejak dini telah dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi
dampak negatif dan mengembangkan dampak positifnya”.

AA Penentuan Dampak Penting

Yang dimaksud dengan dampak adalah perubahan lingkungan kalau dengan


proyek dan tanpa proyek untuk masa mendatang. Untuk masa yang akan datang,
lingkungan itu akan berubah walaupun kita tidak melaksanakan proyek atau
kegiatan.
Contoh dampak pembangunan indudtri terhadap pertumbuhan penduduk di
suatu tempat. Apabila tidak ada pembangunan industri, maka penduduk di suatu
tempat 10 tahun yang akan datang misalnya 5.000.000 jiwa. Dengan adanya
pembangunan industri maka jumlah penduduk di tempat tersebut untuk 10 tahun
yang akan datang misalnya 6.000.000. Maka dampak pembangunan industri
tersebut adalah pertambahan penduduk sebanyak 1.000.000 jiwa.

Dampak yang penting ditentukan antara lain oleh :


a. besar manusia yang terkena dampak;
b. luas wilayah penyebaran dampak;
c. lamanya dampak berlangsung;
d. intensitas dampak;
e. banyak komponen lainnya yang terkena dampa;
f. sifat kumulatif dampak;
g. berbalik (reversible) atau tidak terbalik (irreversible) dampak.

Pemerintah dapat membantu golongan ekonomi lemah untuk melaksanakan


AMDAL, yang bidang usahanya diperkirakan menimbulkan dampak penting.
Yang dimaksud dampak penting adalah perubahan yang sangat mendasar
yang disebabkan oleh sustu kegiatan. Bila kita hanya menggunakan penegrtian
tersebut, masih dapat menimbulkan perbedaan pendapat untuk memperkirakan
terjadinya dampak penting, maka diperlukan pedoman ukuran dampak penting.

5
Hal-hal yang menentukan pentingnya dampak sustu kegiatan telah disebutkan di
atas (pada penjelasan pasal 10 Undang-undang No. 4 tahun 1982).

DA Proses AMDAL

Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) perlu dibedakan dengan analisis


dampak lingkungan (ANDAL).
AMDAL adalah keseluruhan proses yang meliputi (Dokumen AMDAL) :
 Kerangka Acuan (KA) atau Term of Reference (TOR);
 Analisis dampak lingkungan (ANDAL);
 Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL);
 Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL);
 Ringkasan Eksekutif.
Jadi terlihat di situ dengan jelas bahwa analisis dampak lingkungan (ANDAL)
merupakan bagian dari AMDAL.

1. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL):


KA-ANDAL adalah suatu dokumen yang berisi tentang ruang lingkup serta
kedalaman kajian ANDAL. Ruang lingkup kajian ANDAL meliputi penentuan
dampak-dampak penting yang akan dikaji secara lebih mendalam dalam
ANDAL dan batas-batas studi ANDAL. Sedangkan kedalaman studi berkaitan
dengan penentuan metodologi yang akan digunakan untuk mengkaji dampak.
Penentuan ruang lingkup dan kedalaman kajian ini merupakan kesepakatan
antara Pemrakarsa Kegiatan dan Komisi Penilai AMDAL melalui proses yang
disebut dengan proses pelingkupan.

2. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL):


ANDAL adalah dokumen yang berisi telaahan secara cermat terhadap
dampak penting dari suatu rencana kegiatan. Dampakdampak penting yang
telah diindetifikasi di dalam dokumen KAANDAL kemudian ditelaah secara lebih
cermat dengan menggunakan metodologi yang telah disepakati. Telaah ini
bertujuan untuk menentukan besaran dampak. Setelah besaran dampak
diketahui, selanjutnya dilakukan penentuan sifat penting dampak dengan cara
membandingkan besaran dampak terhadap criteria dampak penting yang telah
ditetapkan oleh pemerintah. Tahap kajian selanjutnya adalah evaluasi terhadap
keterkaitan antara dampak yang satu dengan yang lainnya. Evaluasi dampak ini
bertujuan untuk menentukan dasar-dasar pengelolaan dampak yang akan
dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak
positif.

3. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL):


RKL adalah dokumen yang memuat upaya-upaya untuk mencegah,
mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan hidup yang
bersifat negatif serta memaksimalkan dampak positif yang terjadi akibat rencana
suatu kegiatan. Upaya-upaya tersebut dirumuskan berdasarkan hasil arahan
dasar-dasar pengelolaan dampak yang dihasilkan dari kajian ANDAL.

6
4. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL):
RPL adalah dokumen yang memuat program-program pemantauan untuk
melihat perubahan lingkungan yang disebabkan oleh dampak-dampak yang
berasal dari rencana kegiatan. Hasil pemantauan ini digunakan untuk
mengevaluasi efektifitas upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang telah
dilakukan, ketaatan pemrakarsa terhadap peraturan lingkungan hidup dan dapat
digunakan untuk mengevaluasi akurasi prediksi dampak yang digunakan dalam
kajian ANDAL.

5. Ringkasan Eksekutif:
Ringkasan Eksekutif adalah dokumen yang meringkas secara singkat dan
jelas hasil kajian ANDAL. Hal hal yang perlu disampaikan dalam ringkasan
eksekutif biasanya adalah uraian secara singkat tentang besaran dampak dan
sifat penting dampak yang dikaji di dalam ANDAL dan upaya-upaya
pengelolaan dan pemantuan lingkungan hidup yang akan dilakukan untuk
mengelola dampak-dampak tersebut.

AA PEDOMAN PENENTUAN DAMPAK PENTING

1) Jumlah manusia yang terkena dampak

Setiap rencana kegiatan mempunyai sasaran atau target berapa manusia yang
diperkirakan akan menikmati manfaat yang akan dilaksanakan.
Dalam setiap kegiatan akan ada dampak positif dan dampak negatif. Baik
dampak positif maupun dampak negatif yang timbul dari suatu kegiatan akan
dirasakan baik oleh sejumlah manusia yang menjadi sasaran, maupun ioleh
sejumlah manusia di luar sasaran. Oleh karena itu dampak lingkungan suatu
kegiatan yang penentuannya didasarkan pada jumlah manusia yang terkena
dampak menjadi penting bila :

 Manusia yang terkena dampak lingkungan tetapi tidak termasuk pada sasaran
yang diperkirakan dapat menikmati manfaat kegiatan yang direncanakan,
jumlahnya sama atau bahkan lebih besar dari jumlah manusia yang dapat
menikmati manfaat dari kegiatan tersebut; atau

 Manusia yang terkena dampak lingkungan, baik yang termasuk maupun yang
tidak termasuk dalam sasaran untuk menikmati rencana kegiatan, jumlahnya
sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang tidak akan terkena dampak
lingkungan dalam wilayah dampak yang telah ditentukan menurut kerangka
acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan.

2) Luas wilayah persebaran dampak

Perbandingan luas wilayah persebaran dampak dengan luas wilayah rencana


kegiatan akan menentukan pentingnya dampak lingkungan. Dampak lingkungan
dari suatu kegiatan itu penting dilihat dari perbandingan luas wilayah apabila :

7
 Luas wilayah persebaran dampak paling sedikit dua kali lebih besar dari luas
wilayah rencana kegiatan;
 Luas wilayah persebaran dampak melampaui batas wilayah administrasi pada
tingkat kabupaten ke atas dari tempat rencana kegiatan;
 Luas wilayah persebaran dampak melampaui wilayah Negara Republik
Indonesia sehingga mengancam keserasian hubungan dengan negara
tetangga.

3) Lamanya dampak berlangsung

Suatu kegiatan dapat menimbulkan dampak lingkungan pada suatu tahap


tertentu atau pada berbagai tahap dari daur kegiatannya (pra-konstruksi,
konstruksi dan pasca-kontruksi). Karena itu dampak lingkungan suatu rencana
kegiatan menjadi penting apabila :

 Dampak lingkungan berlangsung pada seluruh tahap pra-kontruksi, konstruksi


dan pasca konstruksi;
 Dampak lingkungan berlangsung selama minimal separuh dari umur kegiatan.

4) Intensitas dampak

Dampak lingkungan suatu kegiatan itu mempunyai intensitas yang bervariasi


mulai dari yang sangat ringan sampai yang sangat berat. Karena itu penentuan
pentingnya dampak lingkungan juga dapat dilakukan berdasarkan intensitasnya
dengan cara mengukur berat ringannya dampak yang dirasakan oleh yang
terkena dampak dalam ruang lingkup populasinya dan/atau mengukur besarnya
penyimpangan dari baku mutu lingkungan yang telah ditentukan dan/atau
disepakati.
Dampak lingkungan menjadi penting apabila :
 Dampak negatif menyebabkan kemerosotan daya toleransi secara drastis
dalam waktu yang relatif singkat dalam ruang yang relatif luas;
 Dampak positif menyebabkan peningkatan daya toleransi secara drastis
dalam waktu yang relatif singkat dalm ruang yang relatif luas.

5) Komponen lingkungan dalam AMDAL

Dalam AMDAL komponen lingkungan dibedakan menjadi 3 yaitu komponen


fisik, biotis dan sosekbudkesmas (sosial, ekonomi, budaya dan kesehatan
masyarakat).
Ketiga komponen tersebut dapat terkena dampak, hal ini tergantung dari
kegiatan suatu proyek.
Dampak lingkungan menjadi penting apabila komponen lingkungan yang
terkena dampak jumlahnya besar dalam waktu yang relatif singkat dalam ruang
yang relatif luas.

6) Sifat kumulatif dampak


Dampak lingkungan dari suatu kegiatan dapat bersifat sementara yang muncul
pada suatu tahap da;am daur kegiatan, kemudian berkurang dan akhirnya hilang;
tetapi sebaliknya dampak lingkungan juga dapat bersifat kumulatif. Dampak 8
lingkungan yang bersifat kumulatif diartikan bahwa semula tidak menimbulkan
dampak, tetapi sumber dampaknya tertimbun perlahan-lahan dalam lingkungan,
sehingga pada tahap akumulasi tertentu merupakan dampak penting. Di samping
itu suatu dampak lingkungan dapat menjadi lebih berat bila berakumulasi dengan
dampak lingkungan yang lain dalam wilayah persebarab dampak. Fenomena ini
disebut kumulasi sinergitik. Sebaliknya kumulasi beberapa dampak lingkungan
justru bahayanya dapat berkurang, fenomena ini disebut kumulatif antagonistik.
Karena itu dampak lingkungan menjadi penting atas dasar sifat kumulatifnya
apabila :
 akumulasi dampak terjadi dalam waktu yang relatif singkat dan ruang yang
relatif luas sehingga bobot dampaknya bertambahbesar;
 Terjadi fenomena sinegitik dan antogonistik dalam wilayah persebaran
dampak.

7) Berbalik (reversible) atau tak berbalik (irreversible)

Dampak lingkungan dapat menimbulkan perubahan yang tak berbalik. Misalnya


dampak lingkungan menyebabkan orang menjadi cacat seumur hidup, hewan
langka menjadi punah, dan tanah kritis. Karena itu dampak lingkungan menjadi
penting bila ada konponen lingkungan yang terkena sehingga dampaknya tak
berbalik.
Makin banyak komponen lingkungan yang terkena dampak oleh suatu rencana
kegiatan (yang mungkin diperlukan kembali), makin penting dampak lingkungan
tersebut.

FA Manfaat AMDAL

• Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah


• Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan
hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan
• Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha
dan/atau kegiatan
• Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup
• Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu
rencana usaha dan atau kegiatan.
• Memberikan alternatif solusi minimalisasi dampak negatif
• Digunakan untuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan/pemberi ijin
usaha dan/atau kegiatan

GA Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah:

 Komisi Penilai AMDAL, komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL


 Pemrakarsa, orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu rencana
usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan, dan

 masyarakat yang berkepentingan, masyarakat yang terpengaruh atas segala


bentuk keputusan dalam proses AMDAL. 9
GA Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang harus
diperhatikan, yaitu:

1. Penentuan kriteria wajib AMDAL, saat ini, Indonesia menggunakan atau


menerapkan penapisan 1 langkah dengan menggunakan daftar kegiatan wajib
AMDAL (one step scoping by pre request list). Daftar kegiatan wajib AMDAL
dapat dilihat di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun
2006.
2. Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut, maka wajib
menyusun UKL-UPL, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 86 Tahun 2002.
3. Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan AMDAL sesuai
dengan Permen LH NO. 08/2006.
4. Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no. 05/2008.

AA Prosedur AMDAL

Prosedur AMDAL terdiri dari :


 Proses penapisan (screening) wajib AMDAL
 Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat
 Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL (scoping)
 Penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL Proses penapisan atau
kerap juga disebut proses seleksi kegiatan wajib AMDAL, yaitu menentukan
apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak.

Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat. Berdasarkan Keputusan


Kepala BAPEDAL Nomor 08/2000, pemrakarsa wajib mengumumkan rencana
kegiatannya selama waktu yang ditentukan dalam peraturan tersebut,
menanggapi masukan yang diberikan, dan kemudian melakukan konsultasi
kepada masyarakat terlebih dulu sebelum menyusun KA-ANDAL.
Proses penyusunan KA-ANDAL. Penyusunan KA-ANDAL adalah proses
untuk menentukan lingkup permasalahan yang akan dikaji dalam studi ANDAL
(proses pelingkupan).
Proses penilaian KA-ANDAL. Setelah selesai disusun,pemrakarsa
mengajukan dokumen KA-ANDAL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai.
Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian KA-ANDAL adalah
75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki atau
menyempurnakan kembali dokumennya.
Proses penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL. Penyusunan ANDAL, RKL,
dan RPL dilakukan dengan mengacu pada KA-ANDAL yang telah disepakati
(hasil penilaian Komisi AMDAL).
Proses penilaian ANDAL, RKL, dan RPL. Setelah selesai disusun,
pemrakarsa mengajukan dokumen ANDAL, RKL dan RPL kepada Komisi Penilai
AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk
penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan
oleh penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.
10
JA Penyusun AMDAL

Dokumen AMDAL harus disusun oleh pemrakarsa suatu rencana usaha


dan atau kegiatan. Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa dapat meminta
jasa konsultan untuk menyusunkan dokumen AMDAL. Penyusun dokumen
AMDAL harus telah memiliki sertifikat Penyusun AMDAL dan ahli di bidangnya.
Ketentuan standar minimal cakupan materi penyusunan AMDAL diatur dalam
Keputusan Kepala Bapedal Nomor 09/2000.

KA Pihak yang terlibat dalam proses AMDAL

Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah Komisi Penilai


AMDAL, pemrakarsa, dan masyarakat yang berkepentingan.
Komisi Penilai AMDAL adalah komisi yang bertugas menilai dokumen
AMDAL. Di tingkat pusat berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup, di
tingkat Propinsi berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup
Propinsi, dan di tingkat Kabupaten/Kota berkedudukan di Bapedalda/lnstansi
pengelola lingkungan hidup Kabupaten/Kota. Unsur pemerintah lainnya yang
berkepentingan dan warga masyarakat yang terkena dampak diusahakan
terwakili di dalam Komisi Penilai ini. Tata kerja dan komposisi keanggotaan
Komisi Penilai AMDAL ini diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup, sementara anggota-anggota Komisi Penilai AMDAL di propinsi dan
kabupaten/kota ditetapkan oleh Gubernur dan Bupati/Walikota.
Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas
suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.
Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh
atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan
antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha
dan/atau kegiatan, faktor pengaruh ekonomi, faktor pengaruh sosial budaya,
perhatian pada lingkungan hidup, dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma
yang dipercaya. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat
dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak, dan masyarakat pemerhati.

LA Maksud dari UKL dan UPL

Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan


Lingkungan Hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab dan atau kegiatan yang
tidak wajib melakukan AMDAL (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 86 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup).
Kegiatan yang tidak wajib menyusun AMDAL tetap harus melaksanakan upaya
pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan.
Kewajiban UKL-UPL diberlakukan bagi kegiatan yang tidak diwajibkan
menyusun AMDAL dan dampak kegiatan mudah dikelola dengan teknologi yang
tersedia.
UKL-UPL merupakan perangkat pengelolaan lingkungan hidup untuk 11
pengambilan keputusan dan dasar untuk menerbitkan ijin melakukan usaha dan
atau kegiatan.
a. Proses dan prosedur UKL-UPL tidak dilakukan seperti AMDAL tetapi dengan
menggunakan formulir isian yang berisi :
 Identitas pemrakarsa
 Rencana Usaha dan/atau kegiatan
 Dampak Lingkungan yang akan terjadi
 Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
 Tanda tangan dan cap

b. Formulir Isian diajukan pemrakarsa kegiatan kepada :


• Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup
Kabupaten/Kota untuk kegiatan yang berlokasi pada satu wilayah
kabupaten/kota
• Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup
Propinsi untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu Kabupaten/Kota
• Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup
dan pengendalian dampak lingkungan untuk kegiatan yang berlokasi lebih
dari satu propinsi atau lintas batas negara

AA Keterkaitan AMDAL dengan dokumen/kajian lingkungan lainnya

I. AMDAL-UKL/UPL

Rencana kegiatan yang sudah ditetapkan wajib menyusun AMDAL tidak lagi
diwajibkan menyusun UKL-UPL (lihat penapisan Keputusan Menteri LH
17/2001). UKL-UPL dikenakan bagi kegiatan yang telah diketahui teknologi
dalam pengelolaan limbahnya.

II. AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Wajib

Bagi kegiatan yang telah berjalan dan belum memiliki dokumen pengelolaan
lingkungan hidup (RKL-RPL) sehingga dalam operasionalnya menyalahi
peraturan perundangan di bidang lingkungan hidup, maka kegiatan tersebut
tidak bisa dikenakan kewajiban AMDAL, untuk kasus seperti ini kegiatan
tersebut dikenakan Audit Lingkungan Hidup Wajib sesuai Keputusan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 30 tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Audit
Lingkungan yang Diwajibkan.
Audit Lingkungan Wajib merupakan dokumen lingkungan yang sifatnya
spesifik, dimana kewajiban yang satu secara otomatis menghapuskan
kewajiban lainnya kecuali terdapat kondisi-kondisi khusus yang aturan dan
kebijakannya ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Kegiatan dan/atau usaha yang sudah berjalan yang kemudian diwajibkan
menyusun Audit Lingkungan tidak membutuhkan AMDAL baru.

NA AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Sukarela


12
Kegiatan yang telah memiliki AMDAL dan dalam operasionalnya
menghendaki untuk meningkatkan ketaatan dalam pengelolaan lingkungan hidup
dapat melakukan audit lingkungan secara sukarela yang merupakan alat
pengelolaan dan pemantauan yang bersifat internal. Pelaksanaan Audit
Lingkungan tersebut dapat mengacu pada Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 42 tahun 1994 tentang Panduan umum pelaksanaan
Audit Lingkungan.
Penerapan perangkat pengelolaan lingkungan sukarela bagi kegiatan-
kegiatan yang wajib AMDAL tidak secara otomatis membebaskan pemrakarsa
dari kewajiban penyusunan dokumen AMDAL. Walau demikian dokumen-
dokumen sukarela ini sangat didorong untuk disusun oleh pemrakarsa karena
sifatnya akan sangat membantu efektifitas pelaksanaan pengelolaan lingkungan
sekaligus dapat “memperbaiki” ketidaksempurnaan yang ada dalam dokumen
AMDAL.
Dokumen lingkungan yang bersifat sukarela ini sangat bermacam-macam
dan sangat berguna bagi pemrakarsa, termasuk dalam melancarkan hubungan
perdagangan dengan luar negeri. Dokumen-dokumen tersebut antara lain adalah
Audit Lingkungan Sukarela, dokumen-dokumen yang diatur dalam ISO 14000,
dokumen-dokumen yang dipromosikan penyusunannya oleh asosiasi-asosiasi
industri/bisnis, dan lainnya.

AA CONTOH KASUS AMDAL DI INDONESIA


a) Pelaku usaha dan pemerintah daerah dinilai masih mengabaikan masalah
lingkungan. Hal ini terlihat dari masih adanya kawasan industri di Semarang
yang beroperasi tanpa terlebih dahulu memenuhi kewajiban stu di Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Selain itu, sejumlah industri di
Semarang juga masih banyak yang belum secara rutin, yaitu enam bulan sekali,
menyampaikan laporan kepada Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Daerah (Bapedalda) Semarang. "Kalau sebuah kawasan industri sudah
beroperasi sebelum melakukan studi Amdal, Bapedalda tidak bisa berbuat apa
-apa. Kami paling hanya bisa mengimbau, tapi tidak ada tindakan apa pun yang
bisa kami lakukan. Terus terang, Bapedalda adalah instansi yang mandul," kata
Mohammad Wahyudin, Kepala Sub -Bidang Amdal, Bapedalda Semarang,
Kamis (1/8), di Semarang. Wahyudin menceritakan, kawasan industri di Jalan
Gatot Subroto, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, misalnya, sejak
beroperasi dua tahun lalu hingga saat ini bel um mempunyai Amdal. Padahal,
menurut Wahyudin, salah satu syarat agar sebuah kawasan industri bisa
beroperasi ialah dipenuhinya kewajiban melaksanakan studi Amdal. "Bapedalda
berkali -kali menelpon pengelola kawasan industri tersebut, menanyakan
kelengkapan dokumen Amdal mereka. Namun, sampai sekarang, jangankan
memperoleh jawaban berupa kesiapan membuat studi Amdal, bertemu pemilik
kawasan itu saja belum pernah," ujarnya. Wahyudin menyayangkan sikap pihak
berwenang yang tetap memberikan izin kepada suatu usaha industri atau
kawasan industri untuk beroperasi walau belum menjalankan studi Amdal.

13
Menurut dia, hal ini merupakan bukti bahwa bukan saja pengusaha yang tidak
peduli terhadap masalah lingkungan, melainkan juga pemerintah daerah. Sikap
tidak peduli terhadap masalah lingkungan juga ditunjukkan sejumlah pemilik
usaha industri ataupun kawasan industri dengan tidak menyampaikan laporan
rutin enam bulan sekali kepada Bapedalda. Wahyudin mengatakan, kawasan
industri di Terboyo, misalnya, tidak pernah menyampa ikan laporan
perkembangan usahanya, terutama yang diperkirakan berdampak pada
lingkungan, kepada Bapedalda. Hal serupa juga dilakukan pengelola lingkungan
industri kecil (LIK) di Bugangan Baru. Keadaan tersebut, menurut Wahyudin,
mengakibatkan Bapedalda ti dak bisa mengetahui perkembangan di kedua
kawasan industri tersebut. Padahal, perkembangan sebuah kawasan industry
sangat perlu diketahui oleh Bapedalda agar instansi tersebut dapat memprediksi
kemungkinan pencemaran yang bisa terjadi. Ia menambahkan, indu stri kecil,
seperti industri mebel, sebenarnya berpotensi menimbulkan pencemaran
lingkungan. Namun, selama ini, orang terlalu sering hanya menyoro ti industry
berskala besar. (Kompas, 2 Agustus 2002)

b) Sebanyak 575 dari 719 perusahaan modal asing (PMA) dan perusahaan modal
dalam negeri (PMDN) di Pulau Batam tak mengantungi analisa mengenai
dampak lingkungan (Amdal) seperti yang digariskan. Dari 274 industri penghasil
limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), hanya 54 perusahaan yang
melakukan pengelolaan pembu angan limbahnya secara baik. Sisanya
membuang limbahnya ke laut lepas atau dialirkan ke sejumlah dam penghasil
air bersih. "Tragisnya, jumlah limbah B3 yang dihasilkan oleh 274 perusahaan
industri di Pulau Batam yang mencapai tiga juta ton per tahun selama ini tak
terkontrol. Salah satu industry berat dan terbesar di Pulau Batam penghasil
limbah B3 yang tak punya pengolahan limbah adalah McDermot," ungkap
Kepala Bagian Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda)
Kota Batam Zulfakkar di Batam, Senin (17/3). Menurut Zulfakkar, dari 24
kawasan industri, hanya empat yang memiliki Amdal dan hanya satu yang
memiliki unit pengolahan limbah (UPL) secara terpadu, yaitu kawasan industri
Muka Kuning, Batamindo Investment Cakrwala (BIC). Selain BIC, yang memiliki
Amdal adalah Panbil Idustrial Estate, Semblong Citra Nusa, dan Kawasan
Industri Kabil. "Semua terjadi karena pembangunan di Pulau Batam yang
dikelola Otorita Batam (OB) selama 32 tahun, tak pernah mempertimbangkan
aspek lingkungan dan social kemasyarakatan. Seolah-olah, investasi dan
pertumbuhan ekonomi menjadi tujuan segalanya. Sesuai Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Peraturan
Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisa Mengenai Dampak
Lingkungan (Amdal), maka pengelolaan sebuah kawasan industri tanpa
mengindahkan aspek lingkungan, jelas melanggar hukum. "Semenjak
Pemerintah Kota (Pemkot) Batam dan Bapedalda terbentuk tahun 2000, barulah
diketahui bahwa Pulau Batam yang kita bangga-banggakan itu, kondisi
lingkungan dan alamnya sudah rusak parah. (Kompas, 18 Maret 2003)

c) Gugatan pembatalan Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian (Mentan) Nomor


107 Tahun 2001 tentang pelepasan secara terbatas kapas transgenik Bt dinilai
tidak ada dasar hukumnya. Surat keputusan tersebut merupakan peraturan
yang bersifat publik, tidak menyangkut izin usaha yang mengharuskan analisa

14
mengenai dampak lingkungan (Amdal). Penanaman kapas transgenik juga tidak
wajib Amdal, seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27
Tahun 1999 tentang Amdal. Demikian pendapat Prof Dr Daud Silalahi SH, pakar
Amdal dari Universitas Padjadjaran (Unpad) atas pertanyaan Hot-man Paris
selaku pengacara PT Monagro Kimia-pihak tergugat intervensi I, pada siding
gugatan pembatalan SK Menpan Nomor 107 Tahun 2001 di Pengadilan Tata
Usaha Negara (PTUN) Jakarta Timur, Kamis (30/8) lalu. Sidang yang dipimpin
hakim Moch Arif Nurdu'a SH itu menghadirkan pula Y Andi Trisyono PhD dari
Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) selaku saksi ahli ked ua
dari pihak tergugat intervensi I. Saksi kedua ini ditolak oleh tim penggugat
karena mempunyai hubungan kerja dengan para tergugat. Andi melakukan uji
multilokasi yang dibiayai oleh PT Monagro Kimia, dan saat ini menjadi salah
satu anggota tim pengendali an kapas transgenik yang ditunjuk oleh Mentan
melalui SK Nomor 305 Tahun 2001. Dalam PP No 27/1999, Amdal merupakan
syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha atau
kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. Jenis usaha at au
kegitan yang wajib Amdal adalah usaha yang dapat menimbulkan dampak
besar dan penting terhadap lingkungan hidup, seperti yang tersebut dalam
Pasal 3 -antara lain adalah introduksi jenis tumbuhan, jenis hewan, dan jasad
renik. Hotman Paris menambahkan, i zin usaha Monagro Kimia diperoleh dari
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Izin ini tidak ada kaitannya
dengan kegiatan penanaman kapas transgenik di lapangan. Dari sudut hukum,
yang melakukan kegiatan adalah pemrakarsa, dalam hal ini petani. Tetapi,
kegiatan penanaman kapas oleh petani tidak menggunakan izin usaha karena
mereka telah melakukannya sejak dulu. Oleh karena itu, lanjutnya, petani juga
tidak perlu wajib Amdal. (Kompas, 3 September 2001)

d) Selama ini, pusat perbelanjaan diserahi tugas membuat studi analisis mengenai
dampak lingkungan. Untuk kebutuhan tersebut, mereka menggunakan jasa
konsultan. Karena kebebasan itu, dokumen amdal umumnya baru diterima
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, setelah
pusat perbelanjaan men galami masalah, misalnya, akan dijual ke bank dan
membutuhkan rekomendasi amdal . Padahal, sesuai prosedur, izin
pembangunan pusat perbelanjaan baru diterbitkan setelah rekomendasi dari
BPLHD DKI. Dokumen amdal di antaranya menyangkut aspek kimia, fisika, s
osial, budaya, kesehatan masyarakat, dan lalu lintas. "Amdal dibuat sendiri
pusat perbelanjaan dengan bantuan dari konsultan. Seharusnya, sebelum izin
pembangunan pusat perbelanjaan keluar, amdal itu masuk di tempat kami,"
Kepala Subdinas Amdal BPLHD DKI Jakarta Ridwan Panjaitan, Rabu (16/7).
"Selanjutnya, kami memberikan rekomendasi. Tetapi yang terjadi, amdal baru
diserahkan setelah pusat perbelanjaan itu berdiri dan mengalami masalah yang
membutuhkan rekomendasi dari BPLHD. Pemantauan Kompas, pusat
perbelanjaan di Jakarta banyak yang dibangun pada jalur lalu lintas dalam
kategori padat dengan ruas jalan sempit. Kehadiran pusat perbelanjaan itu
menambah kemacetan di jalur yang sudah padat tersebut. Begitu juga yang
terjadi belakangan ini, pembangunan pusat perbelanjaan yang sedang dibangun
terutama di jalur padat Jalan Sudirman menuju Gatot Subroto, dan Jalan
Permata Hijau, yang sudah padat. Beberapa pusat perbelanjaan menambah
kemacetan seperti Carrefour Jalan Sudirman, ITC Mangga Dua, ITC Cempaka

15
Mas, ITC Roxi Mas, Mal Ambassador, dan Plaza Senayan. Ke depan,
dikhawatirkan jika sudah beroperasi akan menambah beban kendaraan dan
menyebabkan kemacetan. (Kompas, 17 juli 2003).
BAB III
PENUTUP

AMDAL merupakan salah satu azas untuk menunjang pembangunan


berwawasan lingkungan. Pada dasarnya prosedur untuk semua kegiatan
hampir sama satu dengan yang lain dan dapat dikaji dari PP 27/1999 tentang
Analisis Dampak Lingkungan. Pedoman pelaksanaan tertuang antara lain pada
Keputusan Kepala Bapedal KEP. No 9/KABAPEDAL/2/2000, Keputusan Ketua
Bapedal No. 056/1994 tentang kriteria dampak penting, dan KEPMEN LH No.
17 Tahun 2001 tentang kegiatan yang wajib AMDAL.

16
Daftar Pustaka
Kompas, 3 September 2001, “Penanaman Kapas Transgenik Tak Wajib Amdal ”.
Kompas, 2 Agustus 2002,” Pelaku Usaha Masih Abaikan Masalah Lingkungan ”.
Kompas, 18 Maret 2003, ” 575 Perusahaan di Batam Tak Punya Amdal”.
Kompas, 17 juli 2003 ,” Pusat Perbelanjaan Tentukan Sendiri Amdalnya ”.
http://iklim.lingkungan.org/
http://www.google.com/
http://www.wikipedia.com/
http://www.scripd.com/
http://www.grameenfoundation.org/
http://www.freewebs.com/mastomi/
http://www.irwantoshot.com/

17
KRITIK DAN SARAN