0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan11 halaman

Komparator Integrator

Dokumen ini menjelaskan tentang rangkaian komparator, integrator, dan differensiator menggunakan Op-Amp. Komparator membandingkan dua sinyal masukan dan menghasilkan output berdasarkan perbedaan nilai, sedangkan integrator dan differensiator melakukan operasi matematik pada sinyal masukan untuk menghasilkan bentuk sinyal yang berbeda. Analisis dan contoh soal juga disertakan untuk memperjelas cara kerja dan aplikasi masing-masing rangkaian.

Diunggah oleh

mamelia.aneka17
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan11 halaman

Komparator Integrator

Dokumen ini menjelaskan tentang rangkaian komparator, integrator, dan differensiator menggunakan Op-Amp. Komparator membandingkan dua sinyal masukan dan menghasilkan output berdasarkan perbedaan nilai, sedangkan integrator dan differensiator melakukan operasi matematik pada sinyal masukan untuk menghasilkan bentuk sinyal yang berbeda. Analisis dan contoh soal juga disertakan untuk memperjelas cara kerja dan aplikasi masing-masing rangkaian.

Diunggah oleh

mamelia.aneka17
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RANGKAIAN KOMPARATOR

Komparator merupakan salah satu konfigurasi Op-Amp yang paling sederhana.


Komparator berfungsi untuk membandingkan nilai dari kedua masukannya dengan
memanfaatkan penguatan tegangan open loop Op-Amp yang nilainya sangat besar.
Dengan demikian, apabila terdapat selisih atau perbedaan nilai dari kedua masukan
Op-Amp, akan membuat tegangan keluaran menjadi saturasi atau mendekati nilai
dari sumber tegangan yang diberikan. Rangkaian komparator dapat dilihat pada
gambar 1

Gambar 1 Komparator Op-Amp

Prinsip Kerja Komparator adalah


Jika V+ > V- maka tegangan keluaran = +Vsaturasi = +VCC Jika V+
< V- maka tegangan keluaran = -Vsaturasi = -VEE
Namun jika V+ = V- nilainya menyesuaikan dengan tipe Op-Amp
yang digunakan, karena secara ideal jika V+ = V- maka Vout = 0 V.

Tetapi pada praktiknya Vout ≠ 0 akibat adanya tegangan offset. Dengan


kemampuan tersebut, komparator dapat digunakan sebagai pengkondisi
sinyal yang umumnya membandingkan sinyal keluaran dari sensor dan
tegangan referensi. Tegangan referensi merupakan tegangan yang nilainya
tetap. Tegangan referensi dapat diperoleh dengan cara memberikan supply
tegangan DC pada salah satu kaki Op-Amp sehingga didapatkan nilai yang
tetap. Kemudian untuk mengatur nilai dari tegangan DC yang diberikan
dapat digunakan rangkaian pembagi tegangan. berikut contoh penerapan
komparator menggunakan rangkaian pembagi tegangan dapat dilihaat pada
gambar 2

Gambar 2 Komparator Op-Amp

Contoh soal menggunakan Gambar 2


diketahui nilai
R1 100 ohm
R2 10k
VDC 5 V
VCC +12V
VEE -12V

Berapa nilai Vout jika Vin 6 VDC= ?


Jawab
Untuk menghitung Vreff dapat menggunakan rumus pembagi tegangan yang
untuk lebih jelasnya dapat dibuka postingan sebelumnya

dari perhitungan diatas Vin + = 6 VDC dan Vin - = 4.95 VDC, dapat diketahui
bahwa Vin + > Vin - sehingga tegangan output / Vout dari persoalan diatas
= VCC yaitu Vout = +12 VDC
OP-AMP SEBAGAI INTEGRATOR
Op-Amp sebagai penguat dapat difungsikan untuk melakukan operasi
matematik seperti integrasi dan differensiasi terhadap sinyal masukan yang
diberikan. Integrator merupakan konfigurasi Op-Amp yang berfungsi untuk
menguatkan hasil integrasi dari sinyal masukan yang diberikan. Misalnya jika
sinyal masukan dari integrator berbentuk gelombang sinus maka akan
menghasilkan sinyal keluaran berupa gelombang negatif cosinus. Dengan
fungsi tersebut, integrator sering digunakan untuk mengubah bentuk sinyal.
Beberapa bentuk sinyal yang dapat diubah oleh integrator yaitu gelombang
persegi menjadi segitiga, gelombang sinus menjadi negatif cosinus, dan
gelombang segitiga menjadi sinus. Integrator sering disebut dengan penguat
integrasi. Rangkaian dari integrator pada dasarnya berupa penguat inverting
yang resistor umpan bailknya diganti dengan komponen kapasitor. Gambar
1. menunjukan rangkaian integrator.

Gambar 1. Op-Amp Sebagai Integrator

Analisis Rangkaian Integrator


Dalam menganalisis rangkaian Op-Amp sebagai penguat terdapat dua
aturan penting yang perlu diperhatikan. Kedua aturan tersebut
menggunakan karakteristik Op-Amp ideal. Aturan ini dalam beberapa
literatur dinamakan golden rule, yang berisi :
 Perbedaan tegangan antara kedua masukan Op-Amp adalah nol (V+ -
V- = 0 atau V+ = V-), hal ini bertujuan menghindari adanya tegangan
offset. Aturan pertama ini sering disebut dengan virtual ground.
 Arus yang mengalir pada kedua masukan Op-Amp adalah nol (I+ = I- =
0), hal ini dikarenakan impedansi input pada Op-Amp sangat besar
( Zin = ∞). Dengan memahami kedua aturan tersebut, analisis dari
rangkaian Op-Amp akan menjadi lebih mudah.

Untuk memulai analisis rangkaian integrator, terapkan hukum Kirchoff arus


pada titik cabang A dan asumsi I+ = I- = 0, sehingga gambar rangkaian
integrato menjadi seperti Gambar 2.

Gambar 2. Analisis Rangkaian Integrator

Karena rangkaian integrator menggunakan komponen kapasitor, maka perlu


diketahui terlebih dahulu hubungan arus dan tegangan dari kapasitor yaitu:
Persamaan (1)

Dari Gambar 2. didapatkan persamaan arus yang mengalir pada titik cabang
A, sebagai berikut:
Persamaan (2)

Dengan menggunakan teori tegangan titik simpul, dan menerapkan


persamaan arus kapasitor Ic pada arus umpan balik If maka perpsamaan (2)
dapat dijabarkan menjadi:
Persamaan (3)

Karena V+ = 0 dan V- = VA , serta asumsi nilai V+ = V- maka dapat


dituliskan nilai VA = 0. Sehingga persamaan (3) menjadi:
Persamaan (4)

Dengan melakukan integrasi pada kedua sisi dari persamaan (4), dapat
diperoleh persamaan tegangan keluaran dari integrator:
Persamaan (5)
Dimana K merupakan konstanta integrasi terhadap waktu yang nilainya
sesuai dengan nilai tegangan keluaran (Vout) saat t = 0 detik.
Untuk mencari persamaan penguatan dari rangkaian integrator dapat
dilakukan menggunakan persamaan penguatan penguat inverting, karena
konfigurasi rangkaian integrator mirip dengan konfigurasi penguat inverting.
hanya saja hambatan Rf diganti dengan reaktansi kapasitif (XC) dari
kapasitor Cf.
Persamaan (6)

Dimana nilai dari XC sendiri, didapatkan dari:


Persamaan (7)

Keterangan:
𝑋𝐶 = reaktansi kapasitif (Ω)
𝜔 = 2𝜋𝑓 = frekuensi radian (rad/s)
𝜋 = 3,14
𝑓 = frekuensi (Hz)
𝐶𝑓 = Kapasitor umpan balik (F)

Dengan mensubtitusikan persamaan (7) ke dalam persamaan (6), dapat


diperoleh persamaan penguatan dari integrator:
Persamaan (8)
Karena 𝜔 nilainya sama dengan 2𝜋𝑓, penguatan integrator pada persamaan
(8) menjadi:
Persamaan (9)

Keterangan:
AV = penguatan tegangan
Vin = tegangan masukan
Vout = Tegangan Keluaran

Dari persamaan (9) dapat diketahui bahwa nilai penguatan integrator


berbanding terbalik dengan frekuensi, semakin besar nilai frekuensi akan
membuat nilai penguatan semakin kecil dan sebaliknya. Hal ini
menyebabkan rangkaian integrator sering digunakan sebagai low pass filter,
yaitu filter yang meloloskan sinyal dengan frekuensi rendah dan meredam
sinyal dengan frekuensi tinggi.

Contoh Soal
Contoh 1:
Integrator memiliki nilai R1 = 100 kΩ, dan Cf = 1 uF. Tentukan berapa nilai
tegangan keluar dari integrator tersebut jika diberi tegangan masukan
berupa gelombang sinus dengan nilai 2 sin 4t V!
Jawab :
Untuk menghitung nilai tegangan keluaran dari integrator dapat dilakukan
menggunakan persamaan (5):
Contoh 2:
Integrator memiliki nilai R1 = 200 Ω, dan Cf = 10 uF. Tentukan berapa nilai
penguatan dari integrator tersebut jika diberi sinyal masukan dengan
frekuensi 50 Hz!
Jawab :
Untuk menghitung nilai penguatan dari integrator dapat dilakukan
menggunakan persamaan (9):

OP-AMP SEBAGAI DIFFERENSIATOR


Differensiator merupakan konfigurasi Op-Amp yang berfungsi untuk
menguatkan hasil differensiasi dari sinyal masukan yang diberikan. Misalnya
jika sinyal masukan dari berbentuk gelombang sinus maka akan
menghasilkan sinyal keluaran berupa gelombang cosinus. Dengan fungsi
tersebut, differensiator sering digunakan untuk mengubah bentuk sinyal.
Beberapa bentuk sinyal yang dapat diubah oleh differensiator yaitu
gelombang persegi menjadi gelombang spike, gelombang sinus menjadi
cosinus, dan gelombang segitiga menjadi gelombang persegi. Rangkaian
dari differensiator pada dasarnya berupa penguat inverting yang resistor
inputnya diganti dengan komponen kapasitor. Gambar 1. menunjukan
rangkaian differensiator.
Gambar 1. Rangkaian Differensiator

Analisis Rangkaian Differensiator


Untuk memulai analisis rangkaian differensiator, terapkan hukum Kirchoff
arus pada titik cabang A dan asumsi I+ = I- = 0, sehingga gambar rangkaian
penguat differensiator menjadi seperti Gambar 2.

Gambar 2. Analisis Rangkaian Differensiator

Karena rangkaian differensiator menggunakan komponen kapasitor, maka


perlu diketahui terlebih dahulu hubungan arus dan tegangan dari kapasitor
yaitu:
Persamaan (1)

Dari Gambar 2. didapatkan persamaan arus yang mengalir pada titik cabang
A, sebagai berikut:
Persamaan (2)
Dengan menggunakan teori tegangan titik simpul, dan menerapkan
persamaan arus kapasitor Ic pada arus I1 maka persamaan (2) dapat
dijabarkan menjadi:
Persamaan (3)

Karena V+ = 0 dan V- = VA , serta asumsi nilai V+ = V- maka dapat


dituliskan nilai VA = 0. Sehingga persamaan (3) menjadi:
Persamaan (4)

Dengan menyederhanakan persamaan (4), dapat diperoleh persamaan


tegangan keluaran dari differensiator:
Persamaan (5)

Untuk mencari persamaan penguatan dari rangkaian differensiator dapat


dilakukan menggunakan persamaan penguatan penguat inverting, karena
konfigurasi rangkaian differensiator mirip dengan konfigurasi penguat
inverting. hanya saja hambatan R1 diganti dengan reaktansi kapasitif (XC)
dari kapasitor C1.
Persamaan (6)

Dimana nilai dari XC sendiri, didapatkan dari:


Persamaan (7)
Keterangan:
𝑋𝐶 = reaktansi kapasitif (Ω)
𝜔 = 2𝜋𝑓 = frekuensi radian (rad/s)
𝜋 = 3,14
𝑓 = frekuensi (Hz)
𝐶1 = Kapasitor umpan balik (F)

Dengan mensubtitusikan persamaan (7) ke dalam persamaan (6), dapat


diperoleh persamaan penguatan dari differensiator:
Persamaan (8)

Karena 𝜔 nilainya sama dengan 2𝜋𝑓, penguatan differensiator pada


persamaan (8) menjadi:
Persamaan (9)

Keterangan:
AV = penguatan tegangan
Vin = tegangan masukan
Vout = Tegangan Keluaran

Dari persamaan (9) dapat diketahui bahwa nilai penguatan differensiator


berbanding lurus dengan frekuensi, semakin besar nilai frekuensi akan
membuat nilai penguatan semakin besar dan sebaliknya. Hal ini
menyebabkan rangkaian differensiator sering digunakan sebagai high pass
filter, yaitu filter yang meloloskan sinyal dengan frekuensi tinggi dan
meredam sinyal dengan frekuensi rendah.

Contoh 1:
Differensiator memiliki nilai C1 = 200 uF, dan Rf = 10 kΩ. Tentukan berapa
nilai tegangan keluar dari differensiator tersebut jika diberi tegangan
masukan berupa gelombang sinus dengan nilai 3 sin 6t V!
Jawab :
Untuk menghitung nilai tegangan keluaran dari differensiator dapat
dilakukan menggunakan persamaan (5):
Contoh 2:
Differensiator memiliki nilai C1 = 100 uF, dan Rf = 1 kΩ. Tentukan berapa
nilai penguatan dari differensiator tersebut jika diberi sinyal masukan
dengan frekuensi 100 Hz!
Jawab :
Untuk menghitung nilai penguatan dari differensiator dapat dilakukan
menggunakan persamaan (8):

Anda mungkin juga menyukai