MAKALAH
Metode Pendidikan Islam dalam Perspektif Al Hadist
Dosen Pengampu:
Dr. Ali Musa Lubis, M. Ag
Disusun Oleh:
Himah Setiana (801240001)
Astutik (801240013)
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
TAHUN AJARAN 2025
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar dalam kehidupan
manusia, karena melalui pendidikan seseorang dapat berkembang
secara intelektual, emosional, spiritual, dan sosial. Dalam konteks
Islam, pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu
pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak, iman, dan takwa.
Pendidikan dalam Islam memiliki cakupan yang luas dan bertujuan
untuk membentuk manusia yang utuh sesuai dengan nilai-nilai
ilahiyah.1
Islam memiliki dua sumber utama dalam ajarannya, yaitu Al-
Qur’an dan Al-Hadist. Jika Al-Qur’an adalah wahyu yang menjadi
petunjuk hidup, maka Al-Hadist adalah penjelasan praktis dari
Rasulullah SAW terhadap wahyu tersebut. Al-Hadist memuat
berbagai aspek kehidupan, termasuk metode dan pendekatan
dalam pendidikan yang dilakukan langsung oleh Rasulullah SAW
kepada para sahabat dan umatnya.2
Rasulullah SAW adalah pendidik utama dalam sejarah
Islam. Dalam menyampaikan ajaran, beliau menggunakan berbagai
metode yang sangat efektif dan sesuai dengan karakter peserta
didik. Metode-metode seperti keteladanan, tanya jawab, kisah,
pembiasaan, dan pemberian motivasi merupakan bagian dari
pendekatan beliau yang terekam dalam hadist-hadist shahih. Cara
beliau mengajarkan Islam tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga
hati dan perilaku.
Seiring perkembangan zaman, tantangan dalam dunia
pendidikan semakin kompleks. Nilai-nilai moral dan spiritual sering
1
Supriadi, H. (2016). Peranan pendidikan dalam pengembangan diri terhadap tantangan
era globalisasi. Jurnal Ilmiah Prodi Manajemen Universitas Pamulang, 3(2), 92-119.
2
Rohmatika, R. V. (2019). Pendekatan Interdisipliner dan Multidisipliner Dalam Studi
Islam. Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama, 14(1), 115-132.
2
terpinggirkan dalam sistem pendidikan modern yang lebih
menekankan aspek kognitif. Menggali kembali metode pendidikan
yang diajarkan Rasulullah SAW dalam hadist-hadistnya menjadi
sangat penting untuk menjawab krisis nilai yang terjadi saat ini.
Melalui kajian terhadap metode pendidikan Islam dalam
perspektif Al-Hadist, diharapkan kita dapat menemukan kembali
prinsip-prinsip pendidikan yang tidak hanya relevan secara teoritis,
tetapi juga aplikatif dalam praktik pendidikan masa kini. Pendekatan
pendidikan Rasulullah SAW memberikan inspirasi besar untuk
menciptakan generasi yang cerdas secara intelektual, matang
secara emosional, dan kuat secara spiritual.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Metode Pendidikan Islam Yang Terdapat Dalam Al-Hadist
1. Pengertian Metode Pendidikan Islam
Metode pendidikan Islam adalah cara atau pendekatan yang
digunakan dalam menyampaikan ajaran Islam kepada peserta
didik dengan tujuan membentuk kepribadian muslim yang utuh,
yaitu beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Metode ini tidak
hanya bertumpu pada penguasaan ilmu semata, tetapi juga
menekankan pada proses internalisasi nilai-nilai Islam dalam
kehidupan sehari-hari.3
Dalam Islam, metode pendidikan bersumber dari Al-Qur’an
dan Al-Hadist, di mana Rasulullah SAW menjadi model utama
dalam pelaksanaan pendidikan. Metode yang digunakan
Rasulullah sangat bervariasi dan fleksibel, tergantung pada
situasi, karakteristik peserta didik, serta konteks sosial yang
dihadapi. Beberapa metode yang sering digunakan Rasulullah
antara lain adalah metode keteladanan, dialog (tanya jawab),
cerita (kisah), pembiasaan, serta motivasi dengan targhib
(dorongan) dan tarhib (peringatan).4
Keberagaman metode ini menunjukkan bahwa pendidikan
dalam Islam bersifat humanis dan komunikatif, di mana pendidik
bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi
pembimbing, teladan, dan fasilitator dalam proses
pembelajaran. Dengan pendekatan ini, peserta didik tidak hanya
mampu memahami ajaran Islam secara rasional, tetapi juga
mengamalkannya dalam kehidupan nyata dengan kesadaran
dan tanggung jawab. Maka, metode pendidikan Islam memiliki
3
Aladdiin, H. M. F., & Ps, A. M. B. K. (2019). Peran materi pendidikan agama Islam di
sekolah dalam membentuk karakter kebangsaan. Jurnal Penelitian Medan Agama, 10(2).
4
Asy’ari, M. K. (2014). Metode Pendidikan Islam. Qathruna, 1(01), 193-205.
4
kekuatan transformatif dalam membentuk karakter dan
peradaban manusia yang beradab.
2. Metode Pendidikan Islam dalam Al-Hadist
Rasulullah SAW sebagai pendidik utama umat Islam telah
menunjukkan berbagai metode pendidikan yang sangat efektif
dan relevan sepanjang masa. Metode-metode tersebut terekam
dalam banyak hadist yang tidak hanya menggambarkan teknik
penyampaian ilmu, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai
pendidikan yang berorientasi pada perubahan perilaku dan
pembentukan karakter. Ada beberapa metode pendidikan Islam
yang bersumber dari Al-Hadist:5
a. Metode Keteladanan (Uswah Hasanah)
Salah satu metode paling mendasar dalam
pendidikan Islam adalah keteladanan. Rasulullah SAW
menjadi contoh sempurna dalam semua aspek kehidupan,
baik dalam ibadah, akhlak, muamalah, hingga
kepemimpinan. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia." (HR. Ahmad, No. 8729)
Penjelasan:
Hadist ini menegaskan bahwa misi utama kenabian
adalah pembentukan akhlak. Rasulullah tidak hanya
mengajarkan akhlak melalui ucapan, tetapi lebih kuat melalui
perbuatan nyata. Dengan mencontohkan kejujuran,
kesabaran, kasih sayang, dan tanggung jawab, beliau
memberikan pendidikan yang paling efektif kepada para
sahabat. Keteladanan membuat peserta didik lebih mudah
memahami dan mengikuti nilai-nilai yang diajarkan, karena
mereka melihat langsung praktik nyatanya.
5
Fasih, A. R. (2016). Dasar-Dasar Pendidikan Islam Dalam Tinjauanal-Qur’an Dan Al-
Hadist. Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan Islam, 14(1), 79.
5
Penerapan di Sekolah:
Guru sebagai pendidik harus menjadi contoh dalam
segala hal seperti kedisiplinan, kejujuran, kesabaran, dan
tanggung jawab. Misalnya, guru datang tepat waktu,
berpakaian sopan, berbicara santun, dan menunjukkan
semangat belajar, sehingga siswa dapat meneladani
perilaku positif tersebut.
Penerapan di Keluarga:
Orang tua adalah pendidik pertama bagi anak. Ketika
orang tua rutin shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, atau
berbicara dengan sopan, anak-anak cenderung akan
menirunya. Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka
lihat dibanding apa yang mereka dengar.
b. Metode Tanya Jawab (Hiwar/Dialogue)
Rasulullah sering menggunakan metode tanya jawab
sebagai sarana pendidikan. Metode ini melibatkan partisipasi
aktif peserta didik, mendorong mereka berpikir, dan
memberikan ruang untuk diskusi. Dari Abu Hurairah RA,
Rasulullah SAW bersabda:
"Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?"
Para sahabat menjawab: "Orang yang tidak punya
uang atau harta."
Rasulullah bersabda:
"Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang
datang pada hari kiamat dengan membawa shalat,
puasa, dan zakat, tetapi ia pernah mencaci maki
orang lain, memfitnah, memakan harta orang lain..."
(HR. Muslim, No. 2581)
Penjelasan:
Dialog ini menggambarkan bagaimana Rasulullah
membangun kesadaran dengan memulai dari pertanyaan
6
retoris. Dengan melibatkan para sahabat dalam percakapan,
beliau tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi
mengajak mereka berpikir kritis. Ini juga menunjukkan
bahwa pendidikan bukan sekadar memberi tahu, melainkan
membangun pengertian mendalam.
Penerapan di Sekolah:
Guru dapat memulai pelajaran dengan pertanyaan
pemantik seperti: “Mengapa kita harus jujur dalam
kehidupan sehari-hari?” atau “Apa dampaknya jika
seseorang tidak menepati janji?” Ini akan membuat siswa
aktif berpikir dan terlibat secara emosional dalam pelajaran.
Penerapan di Keluarga:
Orang tua bisa membangun kebiasaan diskusi saat
makan malam atau menjelang tidur, misalnya dengan
bertanya, “Apa hal baik yang kamu lakukan hari ini?” atau
“Apa kamu menghadapi kesulitan hari ini?” Ini membangun
kedekatan dan melatih anak berpikir serta menyampaikan
pendapat.
c. Metode Kisah atau Cerita (Qashash)
Rasulullah SAW menggunakan kisah untuk
menyampaikan pelajaran moral dan keimanan dengan cara
yang menyentuh hati. Rasulullah SAW bersabda:
"Seorang laki-laki melihat seekor anjing kehausan,
lalu ia turun ke dalam sumur dan mengisi sepatunya
dengan air untuk diberikan kepada anjing itu. Allah
pun berterima kasih kepadanya dan mengampuni
dosanya." (HR. Bukhari, No. 2466; Muslim, No. 2244)
Penjelasan:
Melalui kisah ini, Rasulullah menunjukkan nilai kasih
sayang dan keikhlasan melalui cerita yang sederhana
namun bermakna. Pesan moral lebih mudah diingat dan
7
dirasakan ketika disampaikan dalam bentuk narasi. Ini
sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan
dan keimanan, terutama bagi anak-anak dan pemula dalam
belajar agama.
Penerapan di Sekolah:
Guru dapat menyelipkan kisah sahabat Nabi, kisah
para nabi, atau tokoh-tokoh muslim dalam pelajaran untuk
menanamkan nilai-nilai Islam. Contohnya: menceritakan
kisah Umar bin Khattab yang adil saat membahas kejujuran
dan tanggung jawab.
Penerapan di Keluarga:
Orang tua bisa membacakan kisah islami sebelum
tidur, seperti kisah Nabi Yusuf atau kisah orang saleh yang
dermawan. Cerita menjadi media efektif untuk
menyampaikan nilai moral dengan cara yang menyenangkan
dan mudah dipahami anak.
B. Penerapan Metode-Metode Tersebut Dalam Konteks
Pendidikan Saat Ini
Metode pendidikan Islam yang bersumber dari Al-Hadist
sangat relevan untuk diterapkan dalam sistem pendidikan modern.
Metode keteladanan, misalnya, dapat menjadi pendekatan utama
dalam membentuk karakter peserta didik. Di lingkungan sekolah,
guru sebagai sosok panutan harus memperlihatkan akhlak yang
baik dalam tutur kata, sikap, dan perilaku. Demikian pula di rumah,
orang tua memiliki peran besar sebagai teladan utama bagi anak-
anaknya. Keteladanan ini lebih efektif daripada sekadar nasihat,
karena anak-anak dan siswa cenderung meniru apa yang mereka
lihat daripada apa yang hanya mereka dengar.6
6
Yaqin, M. N., & Santosa, S. (2025). Urgensi Metodologi Pendidikan Islam dalam Al-
Hadist terhadap Generasi Milenial di Era Digitalisasi. Islamic Education: Jurnal
Pendidikan Islam, 1(01), 48-56.
8
Metode tanya jawab (hiwar) juga sangat efektif dalam
membangun komunikasi dua arah antara pendidik dan peserta
didik. Di era sekarang, pembelajaran yang bersifat dialogis sangat
dibutuhkan agar siswa tidak pasif dan hanya menjadi penerima
informasi. Guru atau orang tua bisa mengembangkan kemampuan
berpikir kritis anak dengan membiasakan mereka bertanya dan
menjawab secara terbuka dan sopan. Hal ini juga melatih
keberanian dan meningkatkan pemahaman materi secara lebih
mendalam karena peserta didik dilibatkan secara aktif.
Metode kisah atau cerita dapat digunakan untuk membentuk
nilai-nilai moral dan spiritual dengan pendekatan yang menyentuh
emosi. Di sekolah, kisah-kisah teladan dari Al-Qur’an dan hadist
bisa dimasukkan dalam materi pelajaran agama atau muatan
karakter. Di rumah, orang tua bisa memanfaatkan waktu-waktu
santai seperti menjelang tidur untuk membacakan kisah nabi atau
tokoh Islam yang inspiratif. Cerita-cerita ini membantu anak
memahami nilai kebaikan dan keimanan dengan cara yang
menyenangkan dan mudah diingat.
9
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini menegaskan bahwa metode
pendidikan Islam yang terdapat dalam Al-Hadist, seperti
keteladanan, tanya jawab, dan kisah, sangat relevan untuk
diterapkan dalam konteks pendidikan modern. Metode-metode ini
tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga
pada pembentukan akhlak dan karakter peserta didik. Dengan
mengintegrasikan prinsip-prinsip pendidikan Rasulullah SAW,
diharapkan pendidikan saat ini dapat menciptakan individu yang
cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kuat
secara spiritual, sehingga mampu menghadapi tantangan zaman
dengan baik.
10
DAFTAR PUSTAKA
Aladdiin, H. M. F., & Ps, A. M. B. K. (2019). Peran materi pendidikan
agama Islam di sekolah dalam membentuk karakter
kebangsaan. Jurnal Penelitian Medan Agama, 10(2).
Asy’ari, M. K. (2014). Metode Pendidikan Islam. Qathruna, 1(01), 193-205.
Fasih, A. R. (2016). Dasar-Dasar Pendidikan Islam Dalam Tinjauanal-
Qur’an Dan Al-Hadist. Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan Islam, 14(1), 79.
Rohmatika, R. V. (2019). Pendekatan Interdisipliner dan Multidisipliner
Dalam Studi Islam. Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama, 14(1),
115-132.
Supriadi, H. (2016). Peranan pendidikan dalam pengembangan diri
terhadap tantangan era globalisasi. Jurnal Ilmiah Prodi Manajemen
Universitas Pamulang, 3(2), 92-119.
Yaqin, M. N., & Santosa, S. (2025). Urgensi Metodologi Pendidikan Islam
dalam Al-Hadist terhadap Generasi Milenial di Era
Digitalisasi. Islamic Education: Jurnal Pendidikan Islam, 1(01), 48-
56.
11