0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan19 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas kesehatan gigi dan mulut, termasuk pengertian, pemeliharaan, serta akibat dari pemeliharaan yang tidak tepat. Kebiasaan menyikat gigi yang baik dan teknik yang benar juga dijelaskan untuk mencegah masalah gigi seperti karies dan penyakit periodontal. Selain itu, dokumen ini menjelaskan anatomi dan gambaran klinis gingiva serta faktor penyebab gangguan kesehatan pada gingiva.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan19 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas kesehatan gigi dan mulut, termasuk pengertian, pemeliharaan, serta akibat dari pemeliharaan yang tidak tepat. Kebiasaan menyikat gigi yang baik dan teknik yang benar juga dijelaskan untuk mencegah masalah gigi seperti karies dan penyakit periodontal. Selain itu, dokumen ini menjelaskan anatomi dan gambaran klinis gingiva serta faktor penyebab gangguan kesehatan pada gingiva.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kesehatan Gigi dan Mulut

1. Pengertian Kesehatan Gigi dan Mulut

Kesehatan gigi atau sering disebut dengan kesehatan rongga

mulut adalah keadaan rongga mulut, termasuk gigi geligi dan

struktur jaringan pendukungnya bebas dari penyakit dan rasa sakit,

berfungsi secara optimal, yang akan menjadikan percaya diri serta

hubungan interpersonal dalam tingkatan paling tinggi. Kesehatan

gigi merupakan salah satu aspek dari seluruh kesehatan yang

merupakan hasil dari interaksi antara kondisi fisik, mental, dan

sosial. Aspek fisik yaitu keadaan kebersihan gigi dan mulut, bentuk

gigi, dan air liur yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan

mulut. Kebersihan gigi dan mulut adalah keadaan gigi geligi yang

berada di dalam rongga mulut dalam keadaan bersih bebas dari

plak dan kotoran lain yang berada di atas permukaan gigi seperti

debris, karang gigi, dan sisa makanan.

2. Pemerliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut

Upaya memelihara kesehatan gigi yang utama harus ditujukan

untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri di dalam rongga mulut

karena pertumbuhan bakteri mulut yang tidak terkontrol

merupakan penyebab utama terjadinya permasalahan gigi dan

6
7

mulut. Lapisan pada gigi yang terdiri atas kumpulan bakteri yang

berkembang biak dalam suatu matrik, disebut dengan lapisan plak.

Lapisan plak akan terbentuk 8 dan melekat erat pada permukaan

gigi bila seseorang mengabaikan kebersihan giginya.

3. Akibat Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut yang Tidak Tepat

Pemeliharaan kesehatan gigi khususnya pencegahan

pertumbuhan plak yang tidak tepat menyebabkan timbulnya

berbagai penyakit gigi dan jaringan pendukungnya. Plak pada gigi

yang tidak dihilangkan secara cermat akan mengalami pengapuran

dan menjadi keras, sehingga terbentuk karang gigi. Menurut

Forrest, plak gigi juga berdampak pada patogenitas dari karies dan

penyakit periodontal.

Adapun akibat dari pemeliharaan kesehatan gigi yang tidak tepat,

adalah:

a. Kalkulus atau karang gigi Menurut Tarigan, karang gigi

merupakan jaringan keras yang melekat erat pada gigi yang

terdiri dari bahan-bahan mineral seperti: Calcium, Ferum, Zink,

Cu, Ni, dan lain sebagainya. Karang gigi dapat melekat pada

permukaan gigi yang terletak di atas gusi, sehingga disebut

supra gingival, atau pada permukaan yang terletak di bawah

gusi dan disebut sub gingival. Karang gigi supra gingival

berwarna kuning sedangkan karang gigi sub gingival berwarna

coklat kehitaman, melekat erat di bawah gusi dan amat sukar


8

dibersihkan. Karang gigi supra gingival berasal dari endapan-

endapan mineral ludah yang bereaksi dengan bakteri-bakteri

mulut serta sisa-sisa makanan, sedangkan karang gigi sub

gingival berasal dari sel-sel darah yang pecah dan mengendap

ke sela-sela gigi dan gusi.

b. Karies gigi adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan

kerusakan jaringan, dimulai dari permukaan gigi (pit, fissure,

dan daerah interproximal) hingga meluas ke arah pulpa. Karies

dapat timbul pada satu permukaan gigi atau 10 lebih dan dapat

meluas ke bagian yang lebih dalam dari gigi, misalnya dari

email ke dentin atau ke pulpa. Adapun penyebab karies antara

lain karbohidrat, mikroorganisme dan air ludah, serta

permukaan dan bentuk gigi

c. Penyakit periodontal atau penyakit jaringan penyangga gigi,

Menurut Fedi, Vernino dan Gray, penyakit periodontal dapat

diklasifikasikan menjadi gingivitis dan periodontitis.

B. Kebiasaan Menyikat Gigi

Menyikat gigi merupakan salah satu cara mengontrol plak secara

mekanis yang paling efektif dalam menghilangkan plak. Menyikat gigi

terbukti efektif dalam penurunan gingivitis. Secara umum, kebiasaan

menyikat gigi seseorang dapat dilihat dari waktu, frekuensi, durasi

serta metode menyikat gigi.

1. Waktu menyikat gigi


9

Waktu menyikat gigi yang baik yaitu dilakukan setelah

sarapan pagi hari dan malam sebelum tidur. Menyikat gigi sangat

dianjurkan dilakukan setelah makan untuk membunuh plak bakteri

dan membersihkan sisa makanan. Asam plak gigiakan turun dari

pH normal (pH 6-7) hingga mencapai pH 5 dalam kurun waktu 3-5

menit sesudah makan makanan yang mengandung karbohidrat,

kemudian pH saliva akan kembali normal 25 menit setela makan

atau minum. Menyikat gigi dapat mempercepat proses kenaikan

pH 5 menjadi normal segingga dapat mencegah proses

pembentukan karies. Menyikat gigi sebelum tidur berguna untuk

menghancurkan mikroorganisme di mulut yang bertambah dua

kali lipat saat malam hari.

2. Frekuensi menyikat gigi

Menyikat gigi sebaiknya dilakukan sesering mungkin karena

penyakit gingiva dapat terjadi pada orang yang kurang lebih 48

jam tidak melakukan pengangkatan plak. Menyikat gigi dua kali

sehari adalah rekomendasi untuk kontrol plak biofilm dan halitosis

(oral malodor).

3. Durasi menyikat gigi

Dianjurkan untuk menyikat gigi dengan durasi yang cukup.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa menyikat gigi dengan

durasi 2 menit adalah yang dianjurkan. Meskipun belum ada

penelitian yang menetapkan durasi sikat gigi yang ideal, tetapi


10

menyikat gigi dengan durasi 2 menit berpotensi lebih kecil terjadi

kerusakan gingiva.

4. Cara menyikat gigi

Menurut Sariningsih (2012), cara menyikat gigi yaitu adalah

sebagai berikut:

a. Menyikat gigi bagian depan rahang atas dan rahang bawah

dengan gerakan naik turun (keatas dan kebawah) minimal

delapan kali gerakan.

b. Menyikat gigi pada bagian pengunyahan gigi atas dan bawah

dengan gerakan maju mundur. Menyikat gigi minimal 8 kali

gerakan untuk setiap permukaan gigi.

c. Menyikat gigi pada permukaan gigi depan rahang bawah yang

menghadap kelidah dengan gerakan dari arah gusi kearah

tumbuhnya gigi.

d. Menyikat gigi pada permukaan gigi belakang rahang bawah

yang menghadap kelidah dengan gerakan dari arah gusi

kearah tumbuhnya gigi.

e. Menyikat gigi permukaan depan rahang atas menghadap

kelangit-langit dengan gerakan gusi kearah tumbuhnya gigi.

f. Menyikat gigi permukaan gigi belakang rahang atas yang

menghadap kelangit-langit dengan arah dari gusi kearah

tumbuhnya gigi.
11

g. Menyikat gigi pada permukaan gigi yang menghadap ke pipi

dengan gerakan naik turun sedikit memutar.

h. Setelah permukaan gigi selesai disikat, berkumur satu kali

saja agar sisa fluor masih ada pada gigi.

i. Sikat gigi dibersihkan dibawah air mengalir dan disimpan

dengan posisi kepala sikat gigi berada diatas.

5. Metode menyikat gigi

Macam-macam teknik atau metode menyikat gigi, yaitu .

a. Teknik Fones (Circular)

Fones mengutarakan metode gerakan sikat gigi secara

mmemutar horizontal sementara gigi ditahan pada posisi

menggigit atau oklusi. Gerakan dilakukan memutar dan

mengenai seluruh permukaan gigi atas dan bawah, teknik ini

baik diterapkan pada anak-anak yang telah memiliki gigi tetap

karena mudah dilakukan dan diajarkan kepada anak-anak,

kecuali pada anak-anak yang memiliki cacat mental.

b. Teknik horizontal

Semua permukaan gigi disikat dengan gerakan kekiri dan

kekanan. Teknik ini cukup sederhana tapi kurang baik untuk

digunakan karena dapat mengakibatkan resesi gingiva dan

abrasi pada gigi.

c. Teknik vertical
12

Bulu sikat diarahkan kearah apical dan disikat kearah oklusal

dengan gerakan vertikal sementara gigi dalam keadaan oklusi.

Teknik ini dirancang untuk mencegah terjadinya kerusakan

yang disebabkan oleh menyikat gigi dengan gerakan kearah

horizontal.

d. Teknik kombinasi

Teknik yang merupakan kombinasi dari gerakan horizontal,

vertikal, dan sirkular. Teknik ini dilakukan dengan gerakan

bervariasi pada permukaan gigi yang berbeda, misalnya

gerakan vertikal pada gigi anterior, horizontal pada daerah

oklusal gigi dan sirkula pada gigi belakang. Teknik ini

seringkali bervariasi pada setiap orang. Teknik menyikat gigi

kombinasi merupakan teknik yang paling baik dan disarankan

oleh para ahli, karena teknik ini mampu menjangkau seluruh

bagian gigi yang akan dibersihkan.

C. Gingiva

1. Pengertian

Gingiva merupakan bagian dari mukosa mulut yang melapisi

prosesus alveolaris dari rahang dan mengelilingi servikal gigi.

Gingiva secara anatomis dibagi menjadi tepi gingiva, sulkus

gingiva, attached gingiva, dan interdental gingiva.

2. Anatomi Gingiva

a. Tepi gingiva (Marginal gingiva)


13

Tepi gingiva merupakan batas tepi dari gingiva bebas yang

berada disekeliling gigi bagian servikal (collar-like-fashon),

atau bisa juga disebut dengan unattached gingiva (gingiva

yang tidak melekat). Lebar gingiva margin kurang lebih 1 mm

dan dapat dipisahkan dari permukaan gigi dengan prob

periodontal.

b. Sulkus gingiva

Sulkus gingiva adalah ruangan dangkal disekeliling gigi yang

dibatasi oleh permukaan gigi pada satu sisi dan batas epitel

dari marginal gingiva disisi lainnya, dan berbentuk V.

Penentuan klinis dari kedalanman probing pada sulkus gingiva

merupakan parameter diagnosis yang penting. Kedalaman

probing dari sulkus gingiva yang normal adalah 2-3 mm.

c. Gingiva cekat (Attached gingiva)

Attached gingiva (gingiva yang melekat pada permukaan gigi

di bawah garis servikal) merupakan kelanjutan dari marginal

gingiva. Karakteristiknya firm dan resilient, serta terikat erat ke

periosteum di bawahnya terhadap tulang alveolar. Aspek

fasialnya relative longgar dan merupakan mukosa alveolar

yang bersifat movable. Lebar attached gingiva juga

merupakan parameter klinis yang penting, yaitu jarak antara

mucogingival junction ke proyeksi permukaan eksternal dari


14

dasar sulkus gingiva/poket periodontal. Lebar dari attached

gingiva bertambah seiring dengan penuaan.

d. Papila interdental (Interdental gingiva)

Papila interdental mencakup gingiva embrasure, yaitu ruang

interproksimal dibawah area kotak gigi, dapat berbentuk

pyramidal/col shape. Pada salah satu bagian papilla, ujungnya

berada diantara titik kontak, bagian lainnya berbentuk depresi

(cekungan) seperti lembah yang menghubungkan papilla

fasial dan lingual, dan menyesuaikan diri dengan bentuk

kontal interproximal. Bentuk gingiva pada ruang interdental

bergantung pada titi kontak diantara 2 gigi yang berdekatan

dan ada/tidak adanya resesi. Batas tepi dan ujung dari papilla

interdental dibentuk oleh marginal gingiva.

Gambar 2.1. Anatomi gingiva

3. Gambaran Klinis Gingiva

Gambaran klinis gingiva adalah gambaran gingiva pada

daerah rongga mulut yang dapat dilihat oleh mata telanjang dan
15

sering dipakai sebagai indikator adanya penyakit atau kelainan

pada jaringan periodontal termasuk gingiva. Ciri-ciri gingiva yang

normal dan sehat dapat dilihat dari warna, tekstur, konsistensi dan

ukuran gingiva, sebagai berikut:

a. Warna, gingiva biasanya berwarna merah jambu (coral pink),

merah muda, atau merah muda kepucatan. Secara klinis bisa

terlihat berwarna lebih gelap karena warna gingiva bergantung

pada ras, pigmentasi, tebal dari keratisasi, perdarahan, dan

lain-lain.

b. Tekstur, secara normal terlihat adanya stippling pada gingiva

cekat. Stippling terjadi karena proyeksi lapisan papilar lamina

proparia yang mendorong jaringan epitel menjadi tonjolan-

tonjolan bulat yang berselang-seling dengan pelekukan epitel.

Hilangnya stippling merupakan tanda adanya penyakit

periodontal.

c. Konsistensi, pada keadaan yang sehat konsistensi gingiva

kenyal dan melekat erat pada tulang di bawahnya.

d. Ukuran, gingiva yang sehat memiliki ukuran ynag normal dan

kontur yang sesuai dengan kontur gigi-geligi. Adanya

pertambahan ukuran gingiva yang melebihi normal merupakan

tanda gingiva yang tidak sehat.

4. Etiologi
16

Ada dua faktor penyebab terjadinya gangguan kesehatan

pada gingiva yaitu faktor sistemik dan faktor lokal. Faktor sistemik

berupa demam tinggi, perubahan kadar hormon, defisiensi nutrisi

atau zat gizi, merokok dan obat-obatan. Faktor lokal berupa

kebersihan gigi dan mulut, trauma jaringan lunak, pernapasan

melalui mulut, dan pemakaian alat ortodonti.

a. Faktor sistemik

Kesehatan gingiva yang dipengaruhi oleh faktor

sistemik, termasuk disini ialah gingivitis terkait pubertas.

Gingivitis yang berkaitan dengan siklus menstruasi,

kehamilan, granuloma piogenikum, diabetes mellitus, serta

gingivitis terkait kelainan darah seperti leukemia. 14 Perubahan

level hormon yang terjadi selama pubertas atau usia dewasa

muda akan memengaruhi jaringan gingiva yang merubah

respon terhadap produk-produk plak. Pada usia ini terjadi

peningkatan hormon sehingga sensivitas gingiva mengalami

reaksi yang lebih besar terhadap berbagai iritan sehingga

dapat menyebabkan gingivitis.

Secara teoritis defisiensi nutrisi dapat memengaruhi

keadaan gingiva dan daya tahannya terhadap iritasi plak.

Dampak defisiensi nutrisi terhadap gingiva ditandai dengan

kemerahan, pendarahan spontan, edema, dan ulserasi.

Misalnya gingivitis terkait defisiensi asam askorbat (scurvy)


17

dan gingivitis karena defisiensi nutrisi. Begitu pula obat

antikonvulsan (phenytoin, dilatin, DPH) yang digunakan atau

yang terinduksi, dan penggunaan obat kontrasepsi oral dapat

menyebabkan hyperplasia gingiva yang hampir menutupi

seluruh mahkota gigi sehingga memudahkan terbentuknya

plak dan terjadinya gingivitis.

b. Faktor lokal

Kebersihan mulut yang buruk merupakan penyebab

utama terjadinya gingivitis karena adanya penumpukan bakteri

plak. Salah satu faktor yang memudahkan terjadinya

penumpukan plak yaitu adanya kalkulus. Gingivitis ini terjadi

akibat infeksi ringan yang disebabkan oleh adanya plak yang

tidak tersikat, ynag berkaitan dengan perubahan flora gram

positif aerob ke gram negatif anaerob. Keadaan ini

mengakibatkan perubahan peradangan pada gingiva terkait.

Trauma jaringan lunak dapat disebabkan oleh

penggunaan sikat gigi yang tidak bernar. Penyikatan secara

lateral dapat menyebabkan luka pada permukaan interdental

papilla dan juga dapat menyebabkan resesi gingiva sekitar

akar gigi. Penyikatan arah vertikal juga dapat menyebabkan

luka pada free attached gingiva.

5. Gingivitis
18

Gingivitis adalah sebuah reaksi inflamasi dari gingiva yang

disebabkan oleh akumulasi biofilm pada plak disepanjang gingiva

margin dan respon host inflamasi terhadap produk bakteri.

Secara klinis, karakteristik gingiva yang harus dievaluasi

sebagai indikator gingiva sehat dan peradangan gingiva meliputi

bentuk, ukuran, warna, konsistensi, dan tekstur permukaan, serta

ada tidaknya perdarahan dan / atau pernanahan (juga disebut

purulen, eksudat purulen atau pus) secara visual, peradangan dan

edema dari gingivitis yang diakibatkan oleh plak gigi dapat

mengakibatkan kemerahan, tepi yang membengkak, tekstur

permukaan halus dan mengkilat, atau hilangnya bintik-bintik, dan

hilangnya kelenturan sehingga jaringan gingiva dapat terdepresi

dan gingiva bebas dapat dipisahkan dari gigi apabila udara

disemprotkan kearahnya. Selain itu gingivitis dapat

mengakibatkan perdarahan yang besar sewaktu dilakukan

probing, perdarahan spontan dan pada beberapa kasus, dapat

terjadi supurasi yang keluar dari sulkus.

6. Gingivitis pada anak

Penyakit periodontal pada orang dewasa sebagian dipicu

oleh peradangan gingiva pada tahun-tahun formatif masa anak-

anak dan remaja awal. Peradangan gingiva nondestruktif pada

masa anak-anak tanpa intervensi yang tepat dapat berkembang

menjadi penyakit periodontal yang lebih signifikan yang terlihat


19

pada populasi orang dewasa. Gingivitis mempengaruhi hingga

70% anak-anak berusia lebih dari tujuh tahun.

Pada anak-anak, seperti pada orang dewasa, penyebab

utama radang gingiva adalah plak, yang berhubungan dengan

kebersihan mulut yang buruk. Seiring bertambahnya usia anak,

kecenderungan mengalami radang gingiva pun meningkat.

Peradangan umumnya terbatas pada margin gingiva, dengan

kehilangan tulang atau perlekatan jaringan ikat yang tidak

terdeteksi pada banyak kasus.

Jenis penyakit gingiva yang paling umum pada masa anak-

anak adalah gingivitis marginal kronis. Jaringan gingiva

menunjukkan perubahan warna, ukuran, konsistensi, dan tekstur

permukaan yang mirip dengan peradangan kronis pada orang

dewasa. Peradangan disertai dengan pembengkakan,

peningkatan vaskularisasi, dan hiperplasia. Perdarahan dan

peningkatan kedalaman poket tidak sering terjadi pada anak-anak

seperti pada orang dewasa tetapi dapat diamati jika hipertrofi

gingiva berat atau hiperplasia akurasi.

Gingivitis kronis pada anak-anak ditandai dengan hilangnya

kolagen di daerah yang ditemukan di sekitar epitel junctional dan

infiltrat yang sebagian besar terdiri dari limfosit, dengan jumlah

kecil leukosit polimorfonuklear, sel plasma, monosit, dan sel mast.


20

Insidensi gingivitis marginal kronis meningkat ketika seorang anak

beranjak dewasa, memuncak pada usia 9 hingga 14 tahun.

7. Klasifikasi Gingivitis

a. Gingivitis marginalis

Gingivitis yang paling sering kronis dan tanpa sakit, tapi

episode akut, dan sakit dapat menutupi keadaan kronis

tersebut. Keparahannya seringkali dinilai berdasarkan

perubahan-perubahan dalam warna, kontur, konsistensi,

adanya perdarahan. Gingivitis kronis menunjukkan tepi

gingiva membengkak merah dengan interdental

menggelembung mempunyai sedikit warna merah ungu.

Stippling hilang ketika jaringan-jaringan tepi membesar.

Keadaan tersebut mempersulit pasien untuk mengontrolnya,

karena perdarahan dan rasa sakit akan timbul oleh tindakan

yang paling ringan sekalipun.

b. Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG)

Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG) ditandai oleh

demam, limfadenopati, malaise, gusi merah padam, sakit

mulut yang hebat, hipersalivasi, dan bau mulut yang khas.

Papila-papila interdental terdorong ke luar, berulcerasi dan

tertutup dengan pseudomembran yang keabu-abuan. ANUG

belum sepenuhnya dimengerti tetapi bakteri anaerobik,


21

terutama spirocheta dan spesies Fusobacterium, nampaknya

terlibat karena jumlah mikroorganisme tersebut banyak dalam

lesi ini. Selain itu, stres dan merokok diduga menjadi faktor

predisposisi. Presentasi klinis ANUG meliputi perkembangan

cepat dari ulser yang nyeri dan mengenai margin gingiva dan

papila interdental.

c. Pregnancy gingivitis

Biasanya terjadi pada trimester dua dan tiga masa kehamilan,

meningkat pada bulan kedelapan dan menurun setelah bulan

kesembilan. Keadaan ini ditandai dengan gingiva yang

membengkak, merah dan mudah berdarah. Keadaan ini

sering terjadi pada regio molar, terbanyak pada regio anterior

dan interproksimal. Ibu hamil dengan gingivitis memiliki faktor

risiko terjadinya berat bayi lahir dengan berat badan rendah.

d. Gingivitis scorbutic

Terjadi karena defisiensi vitamin c, oral hygiene buruk,

peradangan terjadi menyeluruh dari papila interdental sampai

dengan attached gingival, warna merah terang atau merah

menyala atau hiperplasi dan mudah berdarah. Pada orang

dewasa, gingivitis scorbutic biasanya terjadi, atau tampak

gejalanya setelah beberapa bulan menderita kekurangan

vitamin C dalam makanannya. Selain mengalami


22

pembengkakan gingiva dan sariawan, juga bisa mengalami

anemia dan deformasi tulang.

8. Indeks gingiva

A. Pengertian

Gingiva Indeks adalah alat ukur untuk menggambarkan tingkat

peradangan pada gingiva, dengan cara melihat warna,

konsistensi dan perdarahan pada waktu dilakukan probing.

B. Syarat penggunaan gingival Indeks :

1. Adanya sonde khusus (probe)

Sonde ini dipergunakan untuk mengetahui kondisi

gingiva yang mengalami peradangan.

2. Adanya nilai/skor tingkat peradangan gingival

Table 2.1. Nilai atau skor indeks gingiva menurut Loe and

Sillness.

Skor Kondisi

0 Gingiva normal, tidak ada peradangan, tidak ada

perubahan warna, tidak ada perdarahan.

1 Peradangan ringan, sedikit perubahan warna,

perubahan ringan pada permukaan gingiva, tidak

2 ada perdarahan.

Peradangan sedang, erythema, bengkak,

3 berdarah jika dilakukan probing atau saat

diberikan tekanan.
23

Peradangan berat, erythema dan pembengkakan

yang parah, cenderung terjadi perdarahan

spontan, terdapat ulserasi.

3. Prosedur pengukuran gingival indeks

a. Gigi dan gingiva harus dalam keadaan kering, dibawah

cahaya lampu dengan menggunakan kaca mulut dan

probe

b. Menggunakan probe untuk mengetahui derajat

kekenyalan gingiva.

c. Menggunakan probe pada dinding gingiva sepanjang

dinding gingiva sampai gingiva sulkus untuk mengetahui

adanya perdarahan

4. Adanya kriterian penilaian

Table 2.2. Kriteria penilaian GI menurut Loe and Sillness.

Kriteria Skor

Sehat 0

Peradangan ringan 0,1 – 1,0

Peradanagn sedang 1,1 – 2,0

Peradanagn berat 2,1 – 3,0


24

5. Adanya gigi indeks yaitu 16,21,24,36,41,44 dan 4

permukaan gingival yang diukur (distal. Labial/fasial,

mesial, lingual/palatal)

Tabel 2.3. Gigi indeks dan permukaan gingiva yang diukur

Gigi Area Gingival yang diukur


Indeks Mesila Labial/Fasial Distal Lingual/Palatal
16
21
24
36
41
44
Total

C. Alat dan dan bahan untuk pemeriksaan gingiva indeks

1. Alat : Sonde Probe, Kaca Mulut, Nierbekken, Sonde

Halfmoon, Sikat Gigi

2. Bahan : Masker, Sarung tangan (Handscoon), Pasta Gigi,

Alkohol 70% dan Air.

Anda mungkin juga menyukai