BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kesehatan Gigi dan Mulut
1. Pengertian Kesehatan Gigi dan Mulut
Kesehatan gigi atau sering disebut dengan kesehatan rongga
mulut adalah keadaan rongga mulut, termasuk gigi geligi dan
struktur jaringan pendukungnya bebas dari penyakit dan rasa sakit,
berfungsi secara optimal, yang akan menjadikan percaya diri serta
hubungan interpersonal dalam tingkatan paling tinggi. Kesehatan
gigi merupakan salah satu aspek dari seluruh kesehatan yang
merupakan hasil dari interaksi antara kondisi fisik, mental, dan
sosial. Aspek fisik yaitu keadaan kebersihan gigi dan mulut, bentuk
gigi, dan air liur yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan
mulut. Kebersihan gigi dan mulut adalah keadaan gigi geligi yang
berada di dalam rongga mulut dalam keadaan bersih bebas dari
plak dan kotoran lain yang berada di atas permukaan gigi seperti
debris, karang gigi, dan sisa makanan.
2. Pemerliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut
Upaya memelihara kesehatan gigi yang utama harus ditujukan
untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri di dalam rongga mulut
karena pertumbuhan bakteri mulut yang tidak terkontrol
merupakan penyebab utama terjadinya permasalahan gigi dan
6
7
mulut. Lapisan pada gigi yang terdiri atas kumpulan bakteri yang
berkembang biak dalam suatu matrik, disebut dengan lapisan plak.
Lapisan plak akan terbentuk 8 dan melekat erat pada permukaan
gigi bila seseorang mengabaikan kebersihan giginya.
3. Akibat Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut yang Tidak Tepat
Pemeliharaan kesehatan gigi khususnya pencegahan
pertumbuhan plak yang tidak tepat menyebabkan timbulnya
berbagai penyakit gigi dan jaringan pendukungnya. Plak pada gigi
yang tidak dihilangkan secara cermat akan mengalami pengapuran
dan menjadi keras, sehingga terbentuk karang gigi. Menurut
Forrest, plak gigi juga berdampak pada patogenitas dari karies dan
penyakit periodontal.
Adapun akibat dari pemeliharaan kesehatan gigi yang tidak tepat,
adalah:
a. Kalkulus atau karang gigi Menurut Tarigan, karang gigi
merupakan jaringan keras yang melekat erat pada gigi yang
terdiri dari bahan-bahan mineral seperti: Calcium, Ferum, Zink,
Cu, Ni, dan lain sebagainya. Karang gigi dapat melekat pada
permukaan gigi yang terletak di atas gusi, sehingga disebut
supra gingival, atau pada permukaan yang terletak di bawah
gusi dan disebut sub gingival. Karang gigi supra gingival
berwarna kuning sedangkan karang gigi sub gingival berwarna
coklat kehitaman, melekat erat di bawah gusi dan amat sukar
8
dibersihkan. Karang gigi supra gingival berasal dari endapan-
endapan mineral ludah yang bereaksi dengan bakteri-bakteri
mulut serta sisa-sisa makanan, sedangkan karang gigi sub
gingival berasal dari sel-sel darah yang pecah dan mengendap
ke sela-sela gigi dan gusi.
b. Karies gigi adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan
kerusakan jaringan, dimulai dari permukaan gigi (pit, fissure,
dan daerah interproximal) hingga meluas ke arah pulpa. Karies
dapat timbul pada satu permukaan gigi atau 10 lebih dan dapat
meluas ke bagian yang lebih dalam dari gigi, misalnya dari
email ke dentin atau ke pulpa. Adapun penyebab karies antara
lain karbohidrat, mikroorganisme dan air ludah, serta
permukaan dan bentuk gigi
c. Penyakit periodontal atau penyakit jaringan penyangga gigi,
Menurut Fedi, Vernino dan Gray, penyakit periodontal dapat
diklasifikasikan menjadi gingivitis dan periodontitis.
B. Kebiasaan Menyikat Gigi
Menyikat gigi merupakan salah satu cara mengontrol plak secara
mekanis yang paling efektif dalam menghilangkan plak. Menyikat gigi
terbukti efektif dalam penurunan gingivitis. Secara umum, kebiasaan
menyikat gigi seseorang dapat dilihat dari waktu, frekuensi, durasi
serta metode menyikat gigi.
1. Waktu menyikat gigi
9
Waktu menyikat gigi yang baik yaitu dilakukan setelah
sarapan pagi hari dan malam sebelum tidur. Menyikat gigi sangat
dianjurkan dilakukan setelah makan untuk membunuh plak bakteri
dan membersihkan sisa makanan. Asam plak gigiakan turun dari
pH normal (pH 6-7) hingga mencapai pH 5 dalam kurun waktu 3-5
menit sesudah makan makanan yang mengandung karbohidrat,
kemudian pH saliva akan kembali normal 25 menit setela makan
atau minum. Menyikat gigi dapat mempercepat proses kenaikan
pH 5 menjadi normal segingga dapat mencegah proses
pembentukan karies. Menyikat gigi sebelum tidur berguna untuk
menghancurkan mikroorganisme di mulut yang bertambah dua
kali lipat saat malam hari.
2. Frekuensi menyikat gigi
Menyikat gigi sebaiknya dilakukan sesering mungkin karena
penyakit gingiva dapat terjadi pada orang yang kurang lebih 48
jam tidak melakukan pengangkatan plak. Menyikat gigi dua kali
sehari adalah rekomendasi untuk kontrol plak biofilm dan halitosis
(oral malodor).
3. Durasi menyikat gigi
Dianjurkan untuk menyikat gigi dengan durasi yang cukup.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa menyikat gigi dengan
durasi 2 menit adalah yang dianjurkan. Meskipun belum ada
penelitian yang menetapkan durasi sikat gigi yang ideal, tetapi
10
menyikat gigi dengan durasi 2 menit berpotensi lebih kecil terjadi
kerusakan gingiva.
4. Cara menyikat gigi
Menurut Sariningsih (2012), cara menyikat gigi yaitu adalah
sebagai berikut:
a. Menyikat gigi bagian depan rahang atas dan rahang bawah
dengan gerakan naik turun (keatas dan kebawah) minimal
delapan kali gerakan.
b. Menyikat gigi pada bagian pengunyahan gigi atas dan bawah
dengan gerakan maju mundur. Menyikat gigi minimal 8 kali
gerakan untuk setiap permukaan gigi.
c. Menyikat gigi pada permukaan gigi depan rahang bawah yang
menghadap kelidah dengan gerakan dari arah gusi kearah
tumbuhnya gigi.
d. Menyikat gigi pada permukaan gigi belakang rahang bawah
yang menghadap kelidah dengan gerakan dari arah gusi
kearah tumbuhnya gigi.
e. Menyikat gigi permukaan depan rahang atas menghadap
kelangit-langit dengan gerakan gusi kearah tumbuhnya gigi.
f. Menyikat gigi permukaan gigi belakang rahang atas yang
menghadap kelangit-langit dengan arah dari gusi kearah
tumbuhnya gigi.
11
g. Menyikat gigi pada permukaan gigi yang menghadap ke pipi
dengan gerakan naik turun sedikit memutar.
h. Setelah permukaan gigi selesai disikat, berkumur satu kali
saja agar sisa fluor masih ada pada gigi.
i. Sikat gigi dibersihkan dibawah air mengalir dan disimpan
dengan posisi kepala sikat gigi berada diatas.
5. Metode menyikat gigi
Macam-macam teknik atau metode menyikat gigi, yaitu .
a. Teknik Fones (Circular)
Fones mengutarakan metode gerakan sikat gigi secara
mmemutar horizontal sementara gigi ditahan pada posisi
menggigit atau oklusi. Gerakan dilakukan memutar dan
mengenai seluruh permukaan gigi atas dan bawah, teknik ini
baik diterapkan pada anak-anak yang telah memiliki gigi tetap
karena mudah dilakukan dan diajarkan kepada anak-anak,
kecuali pada anak-anak yang memiliki cacat mental.
b. Teknik horizontal
Semua permukaan gigi disikat dengan gerakan kekiri dan
kekanan. Teknik ini cukup sederhana tapi kurang baik untuk
digunakan karena dapat mengakibatkan resesi gingiva dan
abrasi pada gigi.
c. Teknik vertical
12
Bulu sikat diarahkan kearah apical dan disikat kearah oklusal
dengan gerakan vertikal sementara gigi dalam keadaan oklusi.
Teknik ini dirancang untuk mencegah terjadinya kerusakan
yang disebabkan oleh menyikat gigi dengan gerakan kearah
horizontal.
d. Teknik kombinasi
Teknik yang merupakan kombinasi dari gerakan horizontal,
vertikal, dan sirkular. Teknik ini dilakukan dengan gerakan
bervariasi pada permukaan gigi yang berbeda, misalnya
gerakan vertikal pada gigi anterior, horizontal pada daerah
oklusal gigi dan sirkula pada gigi belakang. Teknik ini
seringkali bervariasi pada setiap orang. Teknik menyikat gigi
kombinasi merupakan teknik yang paling baik dan disarankan
oleh para ahli, karena teknik ini mampu menjangkau seluruh
bagian gigi yang akan dibersihkan.
C. Gingiva
1. Pengertian
Gingiva merupakan bagian dari mukosa mulut yang melapisi
prosesus alveolaris dari rahang dan mengelilingi servikal gigi.
Gingiva secara anatomis dibagi menjadi tepi gingiva, sulkus
gingiva, attached gingiva, dan interdental gingiva.
2. Anatomi Gingiva
a. Tepi gingiva (Marginal gingiva)
13
Tepi gingiva merupakan batas tepi dari gingiva bebas yang
berada disekeliling gigi bagian servikal (collar-like-fashon),
atau bisa juga disebut dengan unattached gingiva (gingiva
yang tidak melekat). Lebar gingiva margin kurang lebih 1 mm
dan dapat dipisahkan dari permukaan gigi dengan prob
periodontal.
b. Sulkus gingiva
Sulkus gingiva adalah ruangan dangkal disekeliling gigi yang
dibatasi oleh permukaan gigi pada satu sisi dan batas epitel
dari marginal gingiva disisi lainnya, dan berbentuk V.
Penentuan klinis dari kedalanman probing pada sulkus gingiva
merupakan parameter diagnosis yang penting. Kedalaman
probing dari sulkus gingiva yang normal adalah 2-3 mm.
c. Gingiva cekat (Attached gingiva)
Attached gingiva (gingiva yang melekat pada permukaan gigi
di bawah garis servikal) merupakan kelanjutan dari marginal
gingiva. Karakteristiknya firm dan resilient, serta terikat erat ke
periosteum di bawahnya terhadap tulang alveolar. Aspek
fasialnya relative longgar dan merupakan mukosa alveolar
yang bersifat movable. Lebar attached gingiva juga
merupakan parameter klinis yang penting, yaitu jarak antara
mucogingival junction ke proyeksi permukaan eksternal dari
14
dasar sulkus gingiva/poket periodontal. Lebar dari attached
gingiva bertambah seiring dengan penuaan.
d. Papila interdental (Interdental gingiva)
Papila interdental mencakup gingiva embrasure, yaitu ruang
interproksimal dibawah area kotak gigi, dapat berbentuk
pyramidal/col shape. Pada salah satu bagian papilla, ujungnya
berada diantara titik kontak, bagian lainnya berbentuk depresi
(cekungan) seperti lembah yang menghubungkan papilla
fasial dan lingual, dan menyesuaikan diri dengan bentuk
kontal interproximal. Bentuk gingiva pada ruang interdental
bergantung pada titi kontak diantara 2 gigi yang berdekatan
dan ada/tidak adanya resesi. Batas tepi dan ujung dari papilla
interdental dibentuk oleh marginal gingiva.
Gambar 2.1. Anatomi gingiva
3. Gambaran Klinis Gingiva
Gambaran klinis gingiva adalah gambaran gingiva pada
daerah rongga mulut yang dapat dilihat oleh mata telanjang dan
15
sering dipakai sebagai indikator adanya penyakit atau kelainan
pada jaringan periodontal termasuk gingiva. Ciri-ciri gingiva yang
normal dan sehat dapat dilihat dari warna, tekstur, konsistensi dan
ukuran gingiva, sebagai berikut:
a. Warna, gingiva biasanya berwarna merah jambu (coral pink),
merah muda, atau merah muda kepucatan. Secara klinis bisa
terlihat berwarna lebih gelap karena warna gingiva bergantung
pada ras, pigmentasi, tebal dari keratisasi, perdarahan, dan
lain-lain.
b. Tekstur, secara normal terlihat adanya stippling pada gingiva
cekat. Stippling terjadi karena proyeksi lapisan papilar lamina
proparia yang mendorong jaringan epitel menjadi tonjolan-
tonjolan bulat yang berselang-seling dengan pelekukan epitel.
Hilangnya stippling merupakan tanda adanya penyakit
periodontal.
c. Konsistensi, pada keadaan yang sehat konsistensi gingiva
kenyal dan melekat erat pada tulang di bawahnya.
d. Ukuran, gingiva yang sehat memiliki ukuran ynag normal dan
kontur yang sesuai dengan kontur gigi-geligi. Adanya
pertambahan ukuran gingiva yang melebihi normal merupakan
tanda gingiva yang tidak sehat.
4. Etiologi
16
Ada dua faktor penyebab terjadinya gangguan kesehatan
pada gingiva yaitu faktor sistemik dan faktor lokal. Faktor sistemik
berupa demam tinggi, perubahan kadar hormon, defisiensi nutrisi
atau zat gizi, merokok dan obat-obatan. Faktor lokal berupa
kebersihan gigi dan mulut, trauma jaringan lunak, pernapasan
melalui mulut, dan pemakaian alat ortodonti.
a. Faktor sistemik
Kesehatan gingiva yang dipengaruhi oleh faktor
sistemik, termasuk disini ialah gingivitis terkait pubertas.
Gingivitis yang berkaitan dengan siklus menstruasi,
kehamilan, granuloma piogenikum, diabetes mellitus, serta
gingivitis terkait kelainan darah seperti leukemia. 14 Perubahan
level hormon yang terjadi selama pubertas atau usia dewasa
muda akan memengaruhi jaringan gingiva yang merubah
respon terhadap produk-produk plak. Pada usia ini terjadi
peningkatan hormon sehingga sensivitas gingiva mengalami
reaksi yang lebih besar terhadap berbagai iritan sehingga
dapat menyebabkan gingivitis.
Secara teoritis defisiensi nutrisi dapat memengaruhi
keadaan gingiva dan daya tahannya terhadap iritasi plak.
Dampak defisiensi nutrisi terhadap gingiva ditandai dengan
kemerahan, pendarahan spontan, edema, dan ulserasi.
Misalnya gingivitis terkait defisiensi asam askorbat (scurvy)
17
dan gingivitis karena defisiensi nutrisi. Begitu pula obat
antikonvulsan (phenytoin, dilatin, DPH) yang digunakan atau
yang terinduksi, dan penggunaan obat kontrasepsi oral dapat
menyebabkan hyperplasia gingiva yang hampir menutupi
seluruh mahkota gigi sehingga memudahkan terbentuknya
plak dan terjadinya gingivitis.
b. Faktor lokal
Kebersihan mulut yang buruk merupakan penyebab
utama terjadinya gingivitis karena adanya penumpukan bakteri
plak. Salah satu faktor yang memudahkan terjadinya
penumpukan plak yaitu adanya kalkulus. Gingivitis ini terjadi
akibat infeksi ringan yang disebabkan oleh adanya plak yang
tidak tersikat, ynag berkaitan dengan perubahan flora gram
positif aerob ke gram negatif anaerob. Keadaan ini
mengakibatkan perubahan peradangan pada gingiva terkait.
Trauma jaringan lunak dapat disebabkan oleh
penggunaan sikat gigi yang tidak bernar. Penyikatan secara
lateral dapat menyebabkan luka pada permukaan interdental
papilla dan juga dapat menyebabkan resesi gingiva sekitar
akar gigi. Penyikatan arah vertikal juga dapat menyebabkan
luka pada free attached gingiva.
5. Gingivitis
18
Gingivitis adalah sebuah reaksi inflamasi dari gingiva yang
disebabkan oleh akumulasi biofilm pada plak disepanjang gingiva
margin dan respon host inflamasi terhadap produk bakteri.
Secara klinis, karakteristik gingiva yang harus dievaluasi
sebagai indikator gingiva sehat dan peradangan gingiva meliputi
bentuk, ukuran, warna, konsistensi, dan tekstur permukaan, serta
ada tidaknya perdarahan dan / atau pernanahan (juga disebut
purulen, eksudat purulen atau pus) secara visual, peradangan dan
edema dari gingivitis yang diakibatkan oleh plak gigi dapat
mengakibatkan kemerahan, tepi yang membengkak, tekstur
permukaan halus dan mengkilat, atau hilangnya bintik-bintik, dan
hilangnya kelenturan sehingga jaringan gingiva dapat terdepresi
dan gingiva bebas dapat dipisahkan dari gigi apabila udara
disemprotkan kearahnya. Selain itu gingivitis dapat
mengakibatkan perdarahan yang besar sewaktu dilakukan
probing, perdarahan spontan dan pada beberapa kasus, dapat
terjadi supurasi yang keluar dari sulkus.
6. Gingivitis pada anak
Penyakit periodontal pada orang dewasa sebagian dipicu
oleh peradangan gingiva pada tahun-tahun formatif masa anak-
anak dan remaja awal. Peradangan gingiva nondestruktif pada
masa anak-anak tanpa intervensi yang tepat dapat berkembang
menjadi penyakit periodontal yang lebih signifikan yang terlihat
19
pada populasi orang dewasa. Gingivitis mempengaruhi hingga
70% anak-anak berusia lebih dari tujuh tahun.
Pada anak-anak, seperti pada orang dewasa, penyebab
utama radang gingiva adalah plak, yang berhubungan dengan
kebersihan mulut yang buruk. Seiring bertambahnya usia anak,
kecenderungan mengalami radang gingiva pun meningkat.
Peradangan umumnya terbatas pada margin gingiva, dengan
kehilangan tulang atau perlekatan jaringan ikat yang tidak
terdeteksi pada banyak kasus.
Jenis penyakit gingiva yang paling umum pada masa anak-
anak adalah gingivitis marginal kronis. Jaringan gingiva
menunjukkan perubahan warna, ukuran, konsistensi, dan tekstur
permukaan yang mirip dengan peradangan kronis pada orang
dewasa. Peradangan disertai dengan pembengkakan,
peningkatan vaskularisasi, dan hiperplasia. Perdarahan dan
peningkatan kedalaman poket tidak sering terjadi pada anak-anak
seperti pada orang dewasa tetapi dapat diamati jika hipertrofi
gingiva berat atau hiperplasia akurasi.
Gingivitis kronis pada anak-anak ditandai dengan hilangnya
kolagen di daerah yang ditemukan di sekitar epitel junctional dan
infiltrat yang sebagian besar terdiri dari limfosit, dengan jumlah
kecil leukosit polimorfonuklear, sel plasma, monosit, dan sel mast.
20
Insidensi gingivitis marginal kronis meningkat ketika seorang anak
beranjak dewasa, memuncak pada usia 9 hingga 14 tahun.
7. Klasifikasi Gingivitis
a. Gingivitis marginalis
Gingivitis yang paling sering kronis dan tanpa sakit, tapi
episode akut, dan sakit dapat menutupi keadaan kronis
tersebut. Keparahannya seringkali dinilai berdasarkan
perubahan-perubahan dalam warna, kontur, konsistensi,
adanya perdarahan. Gingivitis kronis menunjukkan tepi
gingiva membengkak merah dengan interdental
menggelembung mempunyai sedikit warna merah ungu.
Stippling hilang ketika jaringan-jaringan tepi membesar.
Keadaan tersebut mempersulit pasien untuk mengontrolnya,
karena perdarahan dan rasa sakit akan timbul oleh tindakan
yang paling ringan sekalipun.
b. Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG)
Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG) ditandai oleh
demam, limfadenopati, malaise, gusi merah padam, sakit
mulut yang hebat, hipersalivasi, dan bau mulut yang khas.
Papila-papila interdental terdorong ke luar, berulcerasi dan
tertutup dengan pseudomembran yang keabu-abuan. ANUG
belum sepenuhnya dimengerti tetapi bakteri anaerobik,
21
terutama spirocheta dan spesies Fusobacterium, nampaknya
terlibat karena jumlah mikroorganisme tersebut banyak dalam
lesi ini. Selain itu, stres dan merokok diduga menjadi faktor
predisposisi. Presentasi klinis ANUG meliputi perkembangan
cepat dari ulser yang nyeri dan mengenai margin gingiva dan
papila interdental.
c. Pregnancy gingivitis
Biasanya terjadi pada trimester dua dan tiga masa kehamilan,
meningkat pada bulan kedelapan dan menurun setelah bulan
kesembilan. Keadaan ini ditandai dengan gingiva yang
membengkak, merah dan mudah berdarah. Keadaan ini
sering terjadi pada regio molar, terbanyak pada regio anterior
dan interproksimal. Ibu hamil dengan gingivitis memiliki faktor
risiko terjadinya berat bayi lahir dengan berat badan rendah.
d. Gingivitis scorbutic
Terjadi karena defisiensi vitamin c, oral hygiene buruk,
peradangan terjadi menyeluruh dari papila interdental sampai
dengan attached gingival, warna merah terang atau merah
menyala atau hiperplasi dan mudah berdarah. Pada orang
dewasa, gingivitis scorbutic biasanya terjadi, atau tampak
gejalanya setelah beberapa bulan menderita kekurangan
vitamin C dalam makanannya. Selain mengalami
22
pembengkakan gingiva dan sariawan, juga bisa mengalami
anemia dan deformasi tulang.
8. Indeks gingiva
A. Pengertian
Gingiva Indeks adalah alat ukur untuk menggambarkan tingkat
peradangan pada gingiva, dengan cara melihat warna,
konsistensi dan perdarahan pada waktu dilakukan probing.
B. Syarat penggunaan gingival Indeks :
1. Adanya sonde khusus (probe)
Sonde ini dipergunakan untuk mengetahui kondisi
gingiva yang mengalami peradangan.
2. Adanya nilai/skor tingkat peradangan gingival
Table 2.1. Nilai atau skor indeks gingiva menurut Loe and
Sillness.
Skor Kondisi
0 Gingiva normal, tidak ada peradangan, tidak ada
perubahan warna, tidak ada perdarahan.
1 Peradangan ringan, sedikit perubahan warna,
perubahan ringan pada permukaan gingiva, tidak
2 ada perdarahan.
Peradangan sedang, erythema, bengkak,
3 berdarah jika dilakukan probing atau saat
diberikan tekanan.
23
Peradangan berat, erythema dan pembengkakan
yang parah, cenderung terjadi perdarahan
spontan, terdapat ulserasi.
3. Prosedur pengukuran gingival indeks
a. Gigi dan gingiva harus dalam keadaan kering, dibawah
cahaya lampu dengan menggunakan kaca mulut dan
probe
b. Menggunakan probe untuk mengetahui derajat
kekenyalan gingiva.
c. Menggunakan probe pada dinding gingiva sepanjang
dinding gingiva sampai gingiva sulkus untuk mengetahui
adanya perdarahan
4. Adanya kriterian penilaian
Table 2.2. Kriteria penilaian GI menurut Loe and Sillness.
Kriteria Skor
Sehat 0
Peradangan ringan 0,1 – 1,0
Peradanagn sedang 1,1 – 2,0
Peradanagn berat 2,1 – 3,0
24
5. Adanya gigi indeks yaitu 16,21,24,36,41,44 dan 4
permukaan gingival yang diukur (distal. Labial/fasial,
mesial, lingual/palatal)
Tabel 2.3. Gigi indeks dan permukaan gingiva yang diukur
Gigi Area Gingival yang diukur
Indeks Mesila Labial/Fasial Distal Lingual/Palatal
16
21
24
36
41
44
Total
C. Alat dan dan bahan untuk pemeriksaan gingiva indeks
1. Alat : Sonde Probe, Kaca Mulut, Nierbekken, Sonde
Halfmoon, Sikat Gigi
2. Bahan : Masker, Sarung tangan (Handscoon), Pasta Gigi,
Alkohol 70% dan Air.