Anda di halaman 1dari 9

SURAT KECIL UNTUK TUHAN Agnes Danovar Novel ini menceritakan tentang perjuangan gadis remaja dalam melawan

kanker ganas, Rabdomiosarkoma (kanker Jaringan Lunak). Dialah Gita Sessa Wanda Cantika, kita mengenalnya sebagai mantan artis cilik era 1998. gadis kecil inilah tokoh utama dalam novel Surat Kecil Untuk Tuhan yang divonis menderita kanker ganas dan diprediksi hidupnya hanya tinggal 5 hari lagi. Kanker jaringan lunak itu menggerogoti bagian wajahnya sehingga terlihat buruk menjadi seperti monster. Walau dalam keadaan sulit, Keke terus berjuang untuk tetap hidup dan tetap bersekolah layaknya gadis normal lainnya. Orang tuanya berat mengambil keputusan, bagaimanapun juga sebagai orang tuanya, mereka tidak tega melihat separuh wajah putrinya harus hilang karena operasi. Maka, ayah berserta keluarga merahasiakan kanker itu pada Keke, panggilan gadis remaja aktif dengan sejuta prestasi model dan tarik suara. Namun akhirnya Keke tau bahwa ia terserang kanker ganas, ia pasrah dan tidak marah pada siapapun yang merahasiakan penyakit maut itu padanya. Ia memberikan senyum kepada siapapun dan menunjukkan perjuangannya bahwa dengan kanker diwajahnya ia masih mampu berprestasi dan hidup normal di bangku sekolah. Tuhan menunjukkan kebesaran hati dengan memberikan nafas panjang padanya untuk lepas dari kanker itu sesaat Sang Ayah, Joddy Tri Aprianto tidak menyerah. Ia terus berjuang agar sang putri kesayangannya itu dapat terlepas dari vonis kematiannya. Perjuangan sang ayah dalam menyelamatkan putrinya tersebut begitu mengharukan. Ayahnya berusaha untuk mencari pengobatan alternatif dan berkeliling ke seluruh Indonesia, tapi hasilnya nihil. Mau tak mau ayahnya kembali ke ilmu medis dan menurut dokter, ada satu cara lain yang bisa membunuh kanker itu, kemoterapi. Perjuangan Keke melawan kanker membuahkan hasil. Dengan segala upaya orang tuanya, Gita mendapatkan kesempatan untuk sembuh setelah bertahan selama 6 bulan melalui kemotrapi untuk membunuh sel-sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Sekali Kemotrapi, mampu merontokkan semua rambut yang ada di tubuhnya, dan tubuh kecil Gita harus menjalaninya hingga 25 kali untuk bisa sembuh. Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai lebih lama. Kasus kanker ganas yang diidap oleh Gita menjadi kasus pertama yang terjadi di Indonesia dan menjadi sebuah perdebatan di kalangan kedokteran karena kanker tersebut biasa hanya terjadi pada orang tua. Keberhasilan Dokter Indonesia menyembuhkan kasus kanker tersebut menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membuat semua Dokter di Dunia bertanya-tanya. Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta kebahagiaan sesaat, Keke sadar nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada Tuhan, ia bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas lebih lama dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya. Kanker itu datang lagi, namun kali ini dengan lokasi berbeda, di pelipis mata sebelah kanan. Kali ini, ayahnya mencoba cara yang pertama, berharap bisa membunuh kanker nakal itu. Kemoterapi pun dilakukan lagi, seluruh rambut Keke rontok tak bersisa. Tapi sepertinya

kanker itu mulai kebal dengan bahan kimia. kanker itu tetap duduk manis di pelipis kanan Keke. Akhirnya ayahnya mencoba pengobatan ke Singapura, disana dokterpun menyarankan untuk operasi. karena desperdo, mereka pun kembali ke Indonesia dengan kondisi Keke yang semakin parah, Kenker itu mulai menyebar ke seluruh tubuh, ke paru-paru, Jantung dan organ-organ lain. satu hal yang membuat aku terharu, dengan kondisi yang begitu parah, semangat belajar Keke sangat tinggi, dia tetap keukeuh untuk sekolah. bahkan disaat tangan dan kakinya sudah tak mampu lagi digerakkan. Waktupun berlalu dan kondisi Keke tak juga membaik hingga akhirnya dia harus rawat inap lagi di RSCM dan mengalami koma selama tiga hari. Dalam massa opname itu ada berita yang begitu membanggakan baik untuk Keke dan keluarganya bahwa Allah memang memberikan cobaan sesuai kemampuan hambaNya. Keke membuktikan semua itu.Keke menjadi juara tiga di kelasnya dalam ujian akhir sekolah. Lalu, dokter menyerah terhadap kankernya, di nafasnya terakhir ia menuliskan sebuah surat kecil kepada Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada air mata lagi di dunia ini terjadi padanya, terjadi pada siapapun. Nafasnya telah berakhir 25 desember 2006 tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya, namun kisahnya menjadi abadi. Rumah Tanpa Jendela Asma Nadia Rara, gadis kecil berusia sembilan tahun yang tinggal di perkampungan kumuh di pinggiran ibukota, mencatat mimpi-mimpinya dalam sebuah buku tulis tipis. Bukan pada boneka, atau mainan bagus. Bukan juga pada baju, tas atau sepatu baru. Hanya pada sebuah jendela agar tiap malam dia bisa menatap keindahan bulan. Agar tiap pagi dia bisa melihat senyum matahari. Dan setiap siang bisa melihat kupu-kupu, capung, dan ramainya rintik hujan, dari dalam rumah. Namun berbagai peristiwa tragis menjauhkan Rara, bukan hanya dari mimpi, juga dari kasih orang-orang yang dicintainya. Begitu menyedihkan hingga lorong-lorong ajaib yang selama ini terbuka dan sering membawanya ke negeri pelangi, menyembunyikan diri. Lalu, bagaimana seorang hamba akan melanjutkan hidup, ketika satu persatu kebahagiaan dan sumber impian kembali ke pangkuanNya? Dan Rara tidak sendiri berjuang mengejar mimpi. Dua pemuda jatuh cinta dan memimpikan sosok yang sama. Seorang gadis menyalakan bunga mimpi untuk kemudian menyerah dan terlupakan. Sementara di sebuah rumah megah, seorang bocah laki-laki berjuang untuk bebas dari kotak pikirannya sendiri, bermimpi akan kehangatan keluarga, juga uluran persahabatan yang tulus.

Sebuah jalinan kisah sederhana yang menyentuh dan telah diangkat ke layar lebar. Karya terbaru Asma Nadia, peraih tiga kali penghargaan nasional Adikarya Ikapi, dan Penerima anugerah IBF award untuk novel terbaik tahun 2008.
Salah Asuhan Abdul Muis

Hanafi adalah seorang amak pribumi yang berasal dari Solok. Ibu hanafi adalah seorang janda, yang suaminya sudah meninggal semenjak hanafi masih kecil. Ibu hanafi sangat menyayanginya. Meskipun sudah menjanda, ibunya berkeinginan untuk memandaikan anaknya. Ibunya mengirim Hanafi ke Betawi untuk bersekolah di HBS. Ibunya selalu berusaha keras untuk selalu memenuhi segala biaya Hanafi. sinopsis novel salah asuhan Selama bersekolah di Betawi, Hanafi dititipkan kepada keluarga Belanda. Sehingga pergaulan Hanafi tidak lepas daro orang-orang Belanda. Setelah lulus sekolah di HBS, pergaulannya juga tidak lepas dari orang-orang Eropa, karena ia bekerja di Kantor BB sebagai asisten residen di Solok. Meskipun Hanafi seorang pribumi asli, tingkah lakunya serta gaya hidupnya sudah berubah menjadi kebarat-baratan. Bahkan terkadang tingkah lakunya melebihi orang Belanda asli. Selama ia bergaul dengan orang-orang eropa dan setiap hari bersekolah di HBS, Hanafi dekat dengan gadis eropa yang bernama Corrie. Dalam kesehariannya Hanafi dan Corrie memanglah sangat dekat, sinopsis salah asuhan karya abdul muis hubungan keduanya seperti kakak dengan adiknya. Mereka sering jalan-jalan berdua, main tenis bahkan duduk-duduk sambil menikmati segelas teh pun juga berdua. sinopsis salah asuhan Karena hubungan mereka sangat amat dekat, maka Hanafi pun menganggap pertemanan itu dianggap lain. Hanafi sayang kepada Corrie, namun perasaan itu bukan sekedar hanya rasa sayang seorang kakak kepada adiknya, melainkan rasa sayang sebagai pacar. Setiap hari Hanafi selalu bertemu dengan Corrie meskipun hanya sebentar saja. Sikap Corrie kepada Hanaffi juga masih nampak seperti biasanya. Hingga akhirnya Hanafi memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Corrie. Namun ketika Hanafi mengungkapkan isi hatinya, Corrie tidak langsung memberi jawaban kepada Hanafi, melainkan segera berpamitan pulang dengan alasan yang tidak jelas. Keesokan harinya, Corrie pergi meninggalkan Solok menuju Betawi. Maka dikirimkan surat kepada Hanafi, yang isinya penolakan secara halus mengenai pernyataan Hanafi pada tempo hari. Corrie merasa sangat tidak mungkin menerima Hanafi, karena perbedaan budaya antara bangsa melayu dengan bangsa eropa. Selain itu Corrie juga ditentang oleh ayahnya jika menikah dengan orang melayu. Karena penolakan tersebut, Hanafi jatuh sakit selama beberapa hari. Selama dia sakit, Hanafi hanya dirawat oleh ibunya, dan selama itu pula Hanafi sering mendapat nasihat dari ibunya. Ibunya menasihati dan membujuk Hanafi agar menikah dengan Rapiah, yaitu anak mamaknya. Karena pada saat Hanafi bersekolah di HBS, mamaknyalah yang mencukupi kebutuhan Hanafi. Mendengar bujukan Ibunya, Hanafi sangat amat marah, karena Hanafi sungguh tidak mengetahui siapakah Rapiah itu dan Hanafi hanya suka kepada Corrie, yang telah menolak cintanya. Maka Ibu Hanafi menjelaskan bahwa Rapiah adalah anak mamak, Sultan Batuah. Perjodohan itu dikarenakan Ibu Hanafi berhutang budi kepada Sultan Batuah. Setelah mendapat bujukan dari Ibunya, akhirnya Hanafi menerima perjodohan itu, meskipun dengan sangat terpaksa. Dua tahun sudah usia pernikahan Hanafi dan Rupiah, dan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Syafei. Pernikahan yang tidak didasari dengan rasa cinta itu membuat rumah tangga mereka tidak pernah tentram. Setiap hari Hanafi selalu memaki-maki istrinya karena hal yang sepele. Namun Rapiah hanya diam

dan tidak pernah melawan semua perlakuan suaminya. Hal itulah yang membuat Ibu Hanafi kagum kepada Rapiah, hingga suatu hari Hanafi murka kepada Ibunya. Dengan tidak sengaja Ibunya menyumpahi Hanafi. Tiba-tiba anjing gila mengigit pergelangan Hanafi hingga Hanafi harus berobat ke Betawi. Sampai di Betawi Hanafi bertabrakan dengan seorang gadis eropa, yang tidak lain adalah Corrie. Dengan amat senang mereka berdua menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan berdua menggunakan sepeda angin. Sudah satu minggu Hanafi meninggalkan Solok, setelah itu Hanafi mencari kerja di Kantor BB sebagai commies. Meskipun gaji awal cukup kecil, namun hanafi sangat senang. Karena dia dapat bertemu dengan Corrie setiap hari. Hanafi berusaha keras untuk mendapatkan Corrie, hingga hanafi rela berubah kewarganegaraan menjadi Eropa. Setelah itu, Hanafi memohon kepada Corrie untuk menerima ajakan pertunangannya. Karena rasa ibanya kepada Hanafi, Corrie terpaksa menermanya. Meskipun Corrie harus menerima resiko, yaitu dijauhi oleh teman-teman eropanya, Pesta pertunangan mereka dilakukan dikediaman rumah teman Belandanya, namun tuan rumah nampak tidak begitu suka dengan pertunangan itu. Karena dia tidak suka bergaul dengan orang Belanda berkulit sawo matang. Meskipun Rapiah dan Ibunya tahu jika Hanafi akan menikah Corrie, namun Rapiah tetap menunggu kedatangan Hanafi. Karena Ibu Hanafi sangat sayang kepada Rapiah, bahkan sayangnya melebihi rasa sayangnya kepada Hanafi. Hanafi dan Corrie sudah menjadi suami istri, maka tinggalah mereka dalam satu rumah. Namun seiring berjalannya waktu, rumah tangga Hanafi dan Corrie sudah tidak tentram lagi. Karena sifat Hanafi yang keterlaluan, sampai menuduh Corrie berzina dengan orang lain. Karena kehidupannya yang dalam kondisi tidak jelas, Bangsa Eropa maupun Bangsa Melayu sudah tidak mau mengakui Hanafi, karena keangkuhan dan kesombongannya. Pada akhirnya Corrie pergi ke Semarang untuk menghindari Hanafi. Namun pada suatu hari, Hanafi menerima surat yang memberi tahukan bahwa Corrie berada di Semarang. Setelah beberapa hari, Hanafi nekat pergi ke Semarang untuk mencari Corrie dirumah seorang pengusaha anak-anak yatim. Namun sampai disana justru berita buruk yang diterima oleh Hanafi. Bahwa Corrie masuk rumah sakit karena sakit keras, yaitu kolera. Hingga akhirnya nyawa Corrie ridak dapat ditolong lagi. Setelah kepergian Corrie, Hanafi pulang ke Solok untuk menemui Ibunya. Setelah beberapa hari Hanafi sampai di Solok, ia jatuh sakit karena menelan 6 butir sublimat, yang menyebabkan Hanafi terus muntah darah dan akhrinya merenggut nyawanya. Layar Terkembang
S. Takdir Alisyahbana

Tuti adalah putri sulung Raden Wiriatmadja. Dia dikenal sebagai seorang gadis yang pendiam teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Watak Tuti yang selalu serius dan cenderung pendiam sangat berbeda dengan adiknya Maria. Ia seorang gadis yang lincah dan periang. Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggap di Martapura, Sumatra Selatan. Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab dengan diantarnya Tuti dan Maria pulang. Bagi yusuf, perteman itu ternyata berkesan cukup mendalam. Ia selal teringat kepada kedua gadis itu, dan terutama Maria. Kepada gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak

tertumpah. Menurutnya wajah Maria yang cerah dan berseri-seri serta bibirnya yang selalu tersenyum itu, memancarkan semangat hidup yang dinamis. Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Yusuf pun kemudian dengan senang hati menemani keduanya berjalan-jalan. Cukup hangat mereka bercakap-cakap mengenai berbagai hal. Sejak itu, pertemuan antara Yusuf dan Maria berlangsung lebih kerap. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak sudah bukan lagi hubungan persahabatan biasa. Tuti sendiri terus disibuki oleh berbagai kegiatannya. Dalam kongres Putri Sedar yang berlangsung di Jakarta, ia sempat berpidato yang isinya membicarakan emansipasi wanita. Suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti untuk memajukan kaumnya. Pada masa liburan, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura. Sesungguhnya ia bermaksud menghabiskan masa liburannya bersama keindahan tanah leluhurnya, namun ternyata ia tak dapat menghilangkan rasa rindunya kepada Maria. Dalam keadaan demikian, datang pula kartu pos dari Maria yang justru membuatnya makin diserbu rindu. Berikutnya, surat Maria datang lagi. Kali ini mengabarkan perihal perjalannya bersama Rukamah, saudara sepupunya yang tinggal di Bandung. Setelah membaca surat itu, Yusuf memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kemudian menyusul sang kekasih ke Bandung. Setelah mendapat restu ibunya, pemuda itu pun segera meninggalkan Martapura. Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Kedua sejoli itu pun melepas rindu masing-masing dengan berjalan-jalan di sekitar air terjun di Dago. Dalam kesempatan itulah, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria. Sementara hari-hari Maria penuh dengan kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Sesungguhpun demikian pikiran Tuti tidak urung diganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Ingat pula ia pada teman sejawatnya, Supomo. Lelaki itu pernah mengirimkan surat cintanya kepada Tuti. Ketika Maria mendadak terkena demam malaria, Tuti menjaganya dengan sabar. Saat itulah tiba adik Supomo yang ternyata disuruh Supomo untuk meminta jawaban Tuti perihal keinginandsnya untuk menjalin cinta dengannya. Sesungguhpun gadis itu sebenarnya sedang merindukan cinta kasih seorang, Supomo dipandangnya sebagai bukan lelaki idamannya. Maka segera ia menulis surat penolakannya. Sementara itu, keadaan Maria makin bertambah parah. Kemudian diputuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Ternyata menurut keterangan dokter, Maria mengidap penyakit TBC. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah sakit TBC di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat. Perawatan terhadap Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan. Lebih daripada itu, Maria mulai merasakan kondisi kesehatan yang makin lemah. Tampaknya ia sudah pasrah menerima kenyataan. Pada suatu kesempatan, disaat Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah mata Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam itu, ternyata juga

mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan, tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan. Sejalan dengan keadaan hubungan Yusuf dan Tuti yang belakangan ini tampak makin akrab, kondisi kesehatan Maria sendiri justru kian mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun rupanya sudah tak dapat berbuat lebih banyak lagi. Kemudian setelah Maria sempat berpesan kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya tetap bersatu dan menjalin hubungan rumah tangga, Maria mengjhembuskan napasnya yang terakhir. Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini. Inilah permintaan saya yang penghabisan dan saya, saya tidak rela selama-lamanya kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain. Demikianlah pesan terakhir almarhum Maria. Lalu sesuai dengan pesan tersebut Yusuf dan Tuti akhirnya tidak dapat berbuat lain, kecuali melangsungkan perkawinan karena cinta keduanya memang sudah tumbuh bersemi. Belenggu Armijn Pane Menurut pikiran Dokter Sukartono perempuan yang cocok untuk mendampinginya sebagai seorang dokter adalah Sumartini. Sumartini sendiri menikahi Dokter Sukartono, karena dia hendak melenyapkan sejarah masa silamnya. Dia berpendapat menikah dengan seorang dokter, maka besar kemungkinan dia berhasil melupakan masa lalunya yang kelam. Jadi keduanya tidak saling mencintai. Keduanya mempunyai alasan masing-masing mengapa mereka sampai jadi menikah. karena mereka tidak saling mencintai, mereka berdua juga tidak pernah akrab Dokter Sukartono dengan Sumartini jarang sekali bertukar pikiran atau berbicara. Masalah yang mereka hadapi masing-masing tidak pernah mereka usahakan dipecahkan secara bersama-sama layaknya suami-istri. Masing-masing memecahkan masalahnya dengan sendiri-sendiri. Karena hal itu, keluarga ini tidak harmonis dan terasa hambar, mereka sering salah paham dan suka bertengkar. Ketidak harmonisan keluarga ini semankin menjadi-jadi sebab Dokter Sukartono sangat bertangung jawab dan mencintai pekerjaannya sebagai seorang dokter. Dia bekerja menolong orang tanpa mengenal waktu. Jam berapapun pasien yang membutuhkan pertolongannya, Dokter Sukartono dengan sigap berusaha membantunya. Akibatnya, Dokter Sukartono melupakan kehidupan rumah tangganya sendiri. Dia sering meninggalkan istrinya sendiri di rumah. Dia betul-betul tidak punya waktu lagi untuk mengurus istrinya Tini. Dokter Sukartono begitu dipuja dan dicintai oleh pasien-pasienya. Dia tidak hanya suka menolong kapanpun waktunya orang butuh pertolongan, tapi dia juga tidak meminta bayaran kepada pasiennya yang kebetulan tidak punya uang. Itulah sebabnya Dokter Sukartono sangat terkenal sebagai seorang dokter yang sangat dermawan. Akan tetapi kesibukan Dokter Sukartono yang demikian tak kenal siang maupun malam itu, semankin memicu percekcokan dalam rumah tangganya sendiri.

Dokter sukartono menurut Sumartini sangat egois. Sumartini merasa disepelekan. Dia bosan terus sendirian, karena ditinggalkan Dokter Sukartono yang selalu sibuk menolong pasienpasienya. Sumartini merasaka dirinya telah dilupakan dan merasa bahwa derajat serta martabatnya sebagai seorang perempuan telah diinjak-injak Dokter Sukartono. Haknya dan derajatnya sebagai seorang perempuan telah dilalaikan oleh Dokter Sukartono. Sumartini menuntut haknya sebagai seorang perempuan. Karena merasa haknya sebagai seorang perempuan itu tidak mampu dipenuhi oleh suaminya Dokter Sukartono. Hampir tiap hari mereka berdua bertengkar. Masing-msing tidak ada yang mau mengalah. Keduanya saling ngotot dan merasa paling benar. Suatu hari Dokter Sukartono mendapat panggilan dari seseorang yang mengaku dirinya sedang sakit keras. Wanita itu memintak Dokter Sukartono datang ke hotel tempat wanita itu menginap. Setelah mendapat panggilan itu, Dokter Sukartono pergi ke hotel itu, dan terkejut bahwa pasien yang memanggilnya itu tidak lain adalah Yah atau Rohayah. Dokter Sukartono sudah lama kenal dengan Rohayah. Dia sudah kenal sejak kecil, sewaktu masih bersekolah di sekolah rakyat. Rohayah adalah teman sekelasnya.Yah waktu itu sudah menjadi seorang janda. Dia korban kawin paksa karena tidak sangup hidup dengan suami pemberian orang tuanya, Rohayah kemudian melarikan diri ke Jakarta. Dia di Jakarta terjun ke dunia nista yaitu menjadi wanita panggilan. Rohayah sendiri sebenarnya secara diam-diam sudah lama mencintai Dokter Sukartono. Dia sering menghayal Dokter Sukartono itu adalah suaminya. Itulah sebabnya secara diam-diam pula dia mencari alamat Dokter Sukartono. Setelah ketemu, Rohayah langsung menghubungi Dokter Sukartono. Ia pura-pura sakit, agar Dokter Sukartono mau datang. Karena Rohayah sangat merindukan Dokter Sukartono, pada saat itu juga Ia langsung mengoda Dokter Sukartono. Rohayah sangat ahli dalam mengoda dan merayu laki-laki. Pada waktu pertama kali datang ke hotel tempat dia menginap, Dokter Sukartono tidak begitu tergoda oleh rayuan Rohayah, tetapi karena Rohayah sering meminta Dokter Sukartono datang ke hotel untuk menyembuhkan penyakitnya, Dokter Sukartono lama kelamaan tergoda juga. Rohayah sangat pintar memberi kasih sayang yang sangat dibutuhkan oleh Dokter Sukartono. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan ini dengan Sumartini istrinya di rumah. Akibatnya , karena dirumah tidak pernah merasa tenteram karena terus bertengkar dengan istrinya, maka Dokter Sukartono sering menggunjungi Rohayah. Hotel tempat Rohayah menginap itu, dirasakan oleh Dokter Sukartono sudah tak ubah rumah kedua. Lama-kelamaan hubungan Rohayah dan Sukartno ini, akhirnya di ketahui juga oleh Sumartini. Betapa panas hati Sumartini mendengar hubungan gelap suaminya dengan seorang wanita yang bernama Rohayah itu. Betapa ingin dirinya melabrak wanita yang bernama Rohayah itu. Secara diam-diam Sumartini pergi ke hotel tempat Rohayah menginap dengan membawa segudang kekesalan dan dendam pada Rohayah. Dia hendak mengatai Rohayah habis-habisan karena telah mengambil dan menggangu suami orang,. Akan tetapi setelah ia bertatap dengan Rohayah, Sumartini menjadi luluh. Sedalam kebencian dan nafsu marahnya pada Rohayah tiba-tiba lenyap. Rohayah yang dianggapnya sebelumnya adalah seorang wanita jalang, teryata adalah seorang wanita yang lembut dan penuh keramahan. Sumartini menjadi malu pada Rohayah. Dia merasa selama ini,

telah bersalah pada Dokter Sukartono. Dia tidak bisa menjadi seorang istri yang didambakan oleh Dokter Sukartono suaminya selama ini. Sepulang pertemuanya dengan Rohayah, Sumartini mulai berpikir kembali tentang dirinya. Dia merasa malu dan bersalah pada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah menberi kasih sayang yang lembut pada suaminya. Selama ini ia selalu kasar pada suaminya dan dan merasa bahwa ia telah gagal menjadi seorang istri. Akhirnya Tini memutuskan akan memilih pisah dengan Dokter Sukartono. Permintaan Sumartini istrinya untuk berpisah diterima dengan berat oleh Sukartono. Bagaimanapun Sukartono tidak mengharapakan terjadinya perceraian antara mereka. Dokter Sukartono pun telah mintak maaf pada Sumartini. Dia telah merubah tingkah lakunya, namun keputusan Sumartini sudah bulat. Dokter Sukartono tidak mampu menahanya dan akhirnya mereka bercerai. Sangat sedih hati Sukartono bercerai dengan Sumartini. Tambah sedih lagi hati Dokter Sukartono, sebab ternyata Rohayah juga pergi. Rohayah hanya meninggalkan sepucuk surat, yang mengabarkan bahwa dia mencintai Dokter Sukartono dan Rohayah juga mengabarkan bahwa ia meninggalkan tanah air untuk selama-lamanya dan pergi ke negeri Calidonia. Dokter Sukartono sedih dengan kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke Surabaya dan mengabdi di sebuah panti asuhan yatim piatu.

Hikayat Hang Tuah

Hang Tuah adalah seorang laksamana yang setia dan seorang pesilat yang handal. Bapaknya bernama Hang Mahmud dan Ibunya bernama Dang Merdu Wati. Pada suatu hari Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir dan Hang Lekui menyelamatkan dato' bendahara dari seorang lelaki yang mengamuk. Dato' Bendahara kagum pada mereka dan memperkerjakan mereka di istana. Di Istanna mereka sangat disayang oleh Sultan, hingga akhirnya Hang Tuah diberi gelar Laksamana. Saat menemani Sultan ke Majapahit, Hang Tuah berhasil membunuh Taming Sari. Taming Sari adalah pendekar yang kebal karena kekuatan kerisnya, dan Hang Tuah berhasil merampasnya dari Taming Sari. Keris itu kemudian di anugerahkan kepada Hang Tuah oleh Betara Majapahit. Kemudian Hang Tuah diutus ke Pahang untuk mendapatkan Tun Teja untuk permaisuri Sultan Melaka. Di Pahang Hang Tuah bertemu Melor, gadis yang dicintainya wakti menuntut ilmu di Gunung Ledang. Melor ditawan Tun Ali dan dijadikan gundik Sultan karena hasutan patih Karma Vijaya. Atas muslihat Tun Ali pula Hang Tuah dapat bertemu Melor, dan Sultan menyaksikan hal itu. Hang Tuah dan Melor di hukum mati atas tuduhan berzina. Namun Bendahara tidak membunuhnya, malah menyembunyikannya di Hutan. Di Hutan Hang Tuah menjadi wali Allah. Untuk menggantikan Hang Tuah, Hang Jebat dilntik menjadi Laksamana. Tapi Hang Jebat durhaka pada Sultan dan mengambil alih istana karena menyagka Hang Tuah teraniaya karena telah dihukum mati. Sultan terpaksa berlindung di rumah Bendahara, Pada waktu itu Sultan menyesal telah membunuh Hang Tuah. Akhirnya Bendahara memberi tahu bahwa Hang Tuah masih hidup. Hang Tuah kemudian dipanggil dan diperintahkan untuk membunuh Hang Jebat. Hang Tuah langsung menuruti perintah Sultan tanpa mengetahui alasan pemberontakan Hang Jebat, padahal sahabatnya itu membelanya. Hang Tuah malah menuruti perintah Sultan yang sudah menghukumnya tanpa alasan. Akhirnya Hang Jebat tewas di tangan Hang Tuah.