Anda di halaman 1dari 45

1

HIPERTENSI DALAM
KEHAMILAN


Pembimbing: Dr. Mulyadi Sp.OG
oleh: Dicky Prakoso Emte
2
PENDAHULUAN
Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit
kehamilan.
Merupakan salah satu dari 3 penyebab tertinggi
mortalitas dan morbiditas ibu bersalin.

4
KLASIFIKASI

1. HIPERTENSI KRONIK

2. PREECLAMPSIA ECLAMPSIA

3. HIPERTENSI KRONIK dengan SUPERIMPOSED
PREECLAMPSIA

4. HIPERTENSI GESTATIONAL
5

1. HIPERTENSI KRONIK :
Hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu
atau
hipertensi yang pertama kali didiagnose setelah 20 minggu
dan tidak hilang setelah 12 minggu pasca persalinan

2. PREECLAMPSIA adalah
Hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai
dengan proteinuria


ECLAMPSIA adalah
Preeclampsia yang disertai dengan kejang2 dan atau koma

6
3. Hipertensi kronik dengan superimposed preeclampsia adalah

Hipertensi kronik disertai tanda2 preeclampsia
atau
hipertensi kronik disertai proteinuria

4. Hipertensi gestational
Hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai
proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pasca
persalinan.
atau
Kehamilan dengan tanda2 preeclampsia tetapi tanpa
proteinuria
Hipertensi gestational disebut juga transient hypertension

7
Penjelasan tambahan

Hipertensi : tekanan darah sistolik dan diastolic 140/90 mmHg.
Pengukuran desakan daarah sekurang2nya
dilakukan 2 kali selang 4 jam-6 jam

Kenaikan tekanan darah sistolik 30 mmHg
dan kenaikan darah diastolic 15 mmHg
sebagai parameter hipertensi sudah tidak
dipakai lagi.

Proteinuria : adanya 300 mg protein dalam urine selama 24 jam
atau
sama dengan 1+ dipstick

Edema : dahulu edema tungkai dipakai sebagai tanda2
preeclampsia, tetapi sekarang edema tungkai
tidak dipakai lagi, kecuali edema generalisata
(anasarka).
8
FAKTOR RISIKO

1. Primigravida
2. Hyperplacentosis
Mola hydatidosa
Kehamilan multiple
Diabetes mellitus
Hydrops fetalis
Bayi besar
3. Umur yang ekstrim (<18 tahun / >35 tahun)
4. Riwayat keluarga pernah preeclampsia/eclampsia
5. Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum
hamil
6. Obesitas
7. Ras
Patofisiologi
1. Teori Kelainan Vaskuler Placenta
2. teori iskemia plasenta, radikal bebas, dan disfungsi endotel
3. Teori Intoleransi Imunologik ibu dan janin
4. Teori adaptasi kardiovaskuler
5. Teori defisiensi genetik
6. Teori defisiensi gizi
7. Teori inflamasi
10
11
Abnormal Invasi Trophoblast
12
Vasokontriksi lumen P.D
kegagalan invasi tropoblas dalam a. spiralis
hipovolemi
Plasenta iskemi
PGE2 <<, NO <<
TXA 2 >>, Endothelin>>, anti
oksidant <<
Tekanan Darah >>>
vasokontriksi a. spiralis
oksidan OH
Efek
Multi Organ
disfungsi endotel
peroksidase lemak
ekstravasasi
Teori Intoleransi Imunologi
Toleransi maternal immunity terhadap
paternal (placental dan fetal antigent)
- Primigravida

Maladaptasi Imunologi
Penurunan atau berubahnya Human
Leukocyte Antigen G (HLA-G) serta
proporsi sel Helper yang rendah

Teori Adaptasi Kardiovaskuler
Pada hamil normal pembuluh darah
REFRAKTER terhadap bahan-bahan
vasopressor (endothelin)
Hal ini diakibatkan adanya sintesis
Prostacycline pada sel endothel
pembuluh darah
Pada HDK, kehilangan daya refrakter
terhadap bahan vasopressor dan jumlah
prostacycline yang berkurang

Teori Defisiensi Genetik
Preeklampsia merupakan gangguan
multifaktor / poligenic
20-40% jika ibu memiliki riwayat
preeklampsia
11-37% jika saudara perempuan memiliki
riwayat preeklampsia
22-47% jika saudara kembar perempuan
memiliki riwayat preeklampsia

CVS--> preload , afterload
Paru --> Edema paru
Ginjal--> Oliguria, Ck , As. Urat
Hematologi--> hemokonsentrasi,viskositas
, hemolisis mikroangiopatik
Hepar --> pe enzim hepar
Janin : IUGR, Sol.Placenta, fetal distres
17
Otak









Disfungsi
endotel
Vasospams
CBF <<
Cerebrovaskular
autoregulasi >>
Tekanan Hidrostatik >
Capillary
Endothel
Injury
Hiperpermeablity
Kerusakan
BBB
Hiperperfusi
Vasogenic Edema
Perubahan Sistem dan Organ pada
Preeclampsia
Volume plasma Hypovolume
Hipertensi
Fungsi Ginjaloligouria, proteinuria, GGA, Asam urat serum,
kreatinin
Edema
HematologiHct ,trombositopenia
Heparenzym hepar , subscapular hematoma
NeurologiNyeri kepala, gangguan Visus, hiperrefleksi,kejang, perdarahan intracranial
Kardiovaskuler
Paru-paru cz decom kiri, g3 endotel paru, diuresis
JaninIUGR, solusio plasenta
19
PENCEGAHAN PREECLAMPSIA


A. Pencegahan dengan non medikal

B. Pencegahan dengan medikal
20
A. Pencegahan dengan non medikal
1. Tirah baring
2. Tidak perlu restriksi garam
3. Diet yang mengandung : a. PUFA
b. Antioksidan
c. Zinc, Mg, Ca

B. Pencegahan dengan medikal
1. Diuretikum
2. Obat2an antihipertensi
3. anti trombotik : aspirin dan dipiridamol anti trombotik
4. Antioksidan
Preeclampsia Ringan
Diagnosis Awal
BP 140/90mmHg
Proteinuria 300mg/24jam atau +1 dipstick
Edema: lengan/muka/perut/generalisata

Tujuan Perawatan PE:
Mencegah kejang
Mencegah perdarahan intrakranial
Mencegah ggg fx organ vital
Melahirkan bayi sehat


Rawat Jalan
Banyak istirahat dan tidur miring
Diet: cukup prot, rendah KH & lemak
Roborantia: vit C, E, Ca, Fe
Tidak boleh diberikan diuretic/antiHT/sedatif
Kunjungan ulang @minggu

Lab:
o DL, UL, As.ur, LF, RF


Rawat Inap Indikasi:
BP & prot-uri tidak membaik dl 2 mgg
1 tanda PEB
Evaluasi di RS:
Ukur BP @4jam
Obs. Edema wajah & abd
Obs tanda impending eclampsia:
Nyeri kepala, ggg visus, nyeri abd
Cek Lab:
Proteinuria: dipstick @2hr
Hct, Plt, LF @2mgg
SCr, As.Ur,BUN
Ukur produksi urin @3jam









Obstetri
preterm (<37mgg) :
BP normal selama perawatan terminasi tunggu
seaterm mungkin

Aterm
Tunggu sampai inpartu/ pertimbangkan induksi



Pre-eclampsia Berat
DIAGNOSA PEB:
Tekanan darah sistolik >= 160 mmHg & diastolik >= 110 mmHg
Proteinuria > 5 gr/24 jam atau dipstick +4
Kelainan pada organ-organ vital ibu
Ginjal -- Paru
Hepar -- Mata
Otak
Kelainan pada janin

PEMBAGIAN
PEB dengan impending eclampsia
PEB tanpa impending eclampsia


Manajemen PEB
Early diagnose:
BP 160/110mmHg,
proteinuria >5gr/24jam
Langkah-langkah:
MRS
Tirah baring miring kiri
Evaluasi:
Ibu:
TD, edema, tanda-tanda impending eclampsia
Protein urin, DL, serum transaminase, serum kreatinin,
asam urat, produksi urin
Janin: gerakan janin, ukuran janin
Pengelolaan cairan (pantau cairan masuk dan cairan keluar)
Diet TKTPRG
Medikamentosa
Medikamentosa
1. Anti kejang = MgSO
4
Cara pemberian:
Loading dose
4 g iv (20% dalam 20 cc) pelan 1cc/mnt
5 g im (40% dalam 10 cc) bokong kanan,
dan bokong kiri
Maintenance dose (setelah 6 jam)
10 g im (40% dalam 10 cc) tiap 6 jam
Syarat pemberian:
- antidotum tersedia: Ca glukonas 10%
1 gr (10% dlm 10 cc) IV
- Refleks patella (+)
- Frek. Nafas > 16x/menit
- Produksi urin > 100 cc/4 jam (0.5
cc/kg/jam)


2. Anti hipertensi =
Indikasi: TD sistolik 180 mmHg, diastolik 110
mmHg
Penurunan secara bertahap: awal 25% dari TD sistolik
TD diturunkan mencapai < 160/105 mHg atau MAP <
125
Nifedipine
Dosis: 10-20 mg per oral, ulangi 30 menit kalau perlu.
(Dosis max: 120 mg/24 jam)

3. Glukokortikoid
Dosis: 2x 16 mg/48 jam IV

4. Lain-lain: antipiretik, antibiotik, antinyeri, antasida,
diuretik

1.UK 37 mgg
2.Ada tanda Impending eclampsia
3.Terapi konservatif gagal
4.Ada tanda fetal distress / IUGR
5.Ada tanda HELLP Syndrome
Cara:
- Bila belum inpartu:
Induksi dengan
OD/Misoprostol
SC
- Bila sudah inpartu:
bila persalinan
pervaginam, ibu tidak
boleh mengejan: partus
buatan

Perawatan Aktif
(Terminasi)
Perawatan
Konservatif
1.UK Preterm 37mgg
2.Tanda2 impending eclampsia (-)
3.Kondisi janin baik

Cara:
MgSO4 hanya diberikan IM untuk
maintenance dose (hentikan bila
membaik menjasi PE Ringan)
Observasi TV ibu, HIS, DJJ
Bila setelah 24 jam tidak membaik:
terminasi



Eclampsia
PE + kejang &/ koma. (ante, intra, post) ada impending eklamsia

Tujuan :
1. Mencegah & menghentikan kejang
2. Mencegah & atasi penyulit
3. Mencapai stabilitas ibu seoptimal mungkin
4. Dapat melahirkan janin pada saat & cara yg tepat

Medicinal
1. Antikejang : MgSO4, thiopental, diazepam
2. Suportif :
- asidosis
- ventilasi paru
- tensi
Tx Obstetri
harus segera diakhiri setelah stabilisasi hemodinamik
Saat kejang
Dirawat di kamar terang
Letakkan di bed lebar dengan rail
Memasukkan sudap lidah
Kepala direndahkan, suction orofaring
Jaga kepala dan ekstremitas jgn terlalu keras menghentak
Fixasi badan pada bed agak kendor
Selesai kejang, beri oxygen

Koma
Menjaga dan mengusahakan airway tetap terbuka.
Intermittern suction
GCS
Cegah decubitus
NGT


Prognosa
kriteria Eden
koma lama
nadi >120x
suhu > 39,4 c
BP > 200
kejang > 10x
proteinuria > 10 g/L
tidak ada edema
SYNDROMA HELLP


A. Definisi klinik :

Sindroma HELLP, ialah preeclampsia-eclampsia yang mengalami :

H : hemolisis,

EL : elevated liver enzyme : tanda adanya disfungsi
hepar

LP : low patelet count : thrombositopenia

Insidensi Sindroma HELLP : 2-12 % dari kasus preeclampsia-
eclampsia.
B. Diagnosis
1. Tanda dan gejala tidak khas
2. Tanda dan gejala preeclampsia
3. Tanda hemolisis intravaskuler (LDH, AST, urobilinogen)
4. Tanda kerusakan sel hepar
5. Thrombositopenia
C. Klasifikasi sindroma HELLP menurut klasifikasi Missisippi:

Berdasar kadar thrombosit darah, maka sindroma HELLP
diklasifikasi, menjadi :

Klas 1 : thrombositopenia : 50.000/cc
LDH 600 IU/L
AST dan/atau ALT 40 IU/L

Klas 2 : thromobositopenia > 50.000 100.000/cc
LDH 600 IU/L
AST dan/atau ALT 40 IU/L

Klas 3 : thromobocyte > 100.000 150.000/cc
LDH 600 IU/L
AST dan/atau ALT 40 IU/L
D. Terapi Medikamentosa

1. Ikuti terapi preeclampsia berat

2. Pemberian dexamentason

3. Dipertimbangkan pemberian tranfusi thrombosit

4. Plasma Exchange dengan fresh frozen plasma

















E. Sikap terhadap kehamilan

a. Tanpa memandang umur kehamilan segera diakhiri.

b. Persalinan dapat dilakukan perabdominam atau pervaginam.

c. Hati-hati gangguan pembekuan darah bila hendak melakukan
anestesi regional (spinal).
F. Kematian ibu dan janin

a. Kematian ibu bersalin pada Sindroma Hellp yaitu 24 %.

b. Penyebab kematian dapat berupa :

- kegagalan kardiopulmuner
- gangguan pembekuan darah
- perdarahan otak
- rupture hepar
- kegagalan organ multiple

c. Kematian perinatal pada Sindoma Hellp cukup tinggi,
terutama disebabkan oleh persalinan preterm
G. Perawatan Postpartum
a. Sama seperti PEB
b. Observasi penyulit postpartum
c. Hati-hati akumulasi cairan balik dari rahim yang berkontraksi
d. Hati-hati perdarahan postpartum
Hipertensi Kronis
Definisi: hipertensi yang didapat sebelum timbulnya
kehamilan.
bila didapatkan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau
tekanan darah diastolik 90 mmHg sebelum umur
kehamilan 20 minggu
Diagnosa:
bila: a. hipertensi telah timbul sebelum kehamilan ,atau
b. timbul hipertensi < 20 mnggu usiakehamilan
ciri-ciri hipertensi kronik:
Umur ibu tua >35
th

BP sangat tinggi
Umumnya multipara
Umumnya ditemukan kelainan jantung, ginjal, dan
DM
Obesitas
Penggunaan obat2 AntiHT sebelum kehamilan
HT yg menetap pasca persalinan

Dampak Hipertensi Kronik Pada Kehamilan:
Pada Ibu:
monoterapi --HT terkendali--tidak ada pengaruh buruk
pada kehamilan (resiko terjadi: solusio placenta 2-3x
lebih beresiko, superimposed preeklamsia)
HT kronik diperberat kehamilan:
a. kenaikan mendadak tekanan darah + proteinuria
b. tekanan sistole >200 mmHg diastole > 130--oliguria
dan gangguan ginjal

Pada Janin: - IUGR
- resiko peningkatan Preterm birth
Lab
Hb,Hct, PLT,RFT, LFT,Ecg,Mata,

Pemeriksaan Janin:
NST dan USG


Tata laksana
Sikap terhadap penyakitnya:
tujuan: meminimalkan dampak buruk pada ibu dan janin
medikamentosa:
a.-metildopa , 3x500mg, maks 3 gram
b. Ca-Channel Blockers, Nifedipin 30 mg-90mg hari
non-medikamentosa:
perubahan pola hidup, pengaturan diet, tidak merokok,
tidak alkohol

Sikap terhadap kehamilannya:
Konservatif
BP terkontrol, perjalanan klinis normal, IUGR -, vol
amnion N teruskan sampai aterm
Terminasi
Kompl +, janin memburuk terminasi dgn induksi
persalinan tanpa melihat uk

Hipertensi Kronik dengan superimposed
Preeklamsia:
Tanda-tanda:
Proteinuria
Gejala neurologi
Nyeri kepala hebat
Ggg. Visus
Edema anasarka
Oligouria
Edema paru
Lab:
Sr Cr, Trombositopenia, Serum transaminase
hepar





TERIMA KASIH