Anda di halaman 1dari 40

Laporan Kasus

Kista Ovarium

Ardine Cahya, Sawitri Satwikajati, Katarina Tri,
Wahyu Wulandari, Nivashinee, Rizka
Rachmasaridewi

Pembimbing : dr. Sp.OG

(10 Mei 2014)
Pendahuluan
Mioma Uteri
Mioma Uteri
Definisi :
Neoplasma monoklonal pada dinding
uterus yang berasal dari sel otot polos
myometrium dan bersifat jinak
dapat mengandung matriks
ekstraseluler : kolagen (tipe I dan III),
fibronektin, dan proteoglikan
(Parker, 2007; Drinville, 2006)

Klasifikasi :
Submukosa
pedinkulasi
Subserosa
Pedinkulasi
intraligamenter
Intramural
(Hoffman, 2008).
Etiologi dan Patogenesis
Kromosom
Hormon
Growth
Factors
t(12;14)(q15;q23-q24), del(7)(q22q32),
rearrangement 6p21, 10q, trisomi 12, dan delesi
3q. (Rock dan Jones, 2008).
10 minggu pertama kehamilan : peningkatan
massa (Neiger et al., 2006; Hammoud et al., 2006).
Hormon progesteron dan reseptornya (PR)
berperan penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan mioma uteri (Cermik et al., 2002).
IGF-I (autokrin) menstimulasi pertumbuhan
mioma dengan dose dependent relationship
(Rock dan Jones, 2008).
Etiologi dan Patogenesis
Faktor Pertumbuhan dalam Patogenesis Mioma Uteri
Faktor Risiko
Beberapa faktor risiko terjadinya mioma uteri :
Usia
Usia menarche
Ras
Riwayat keluarga ekspresi VEGF-
Paparan terhadap hormon
KB sistemik
Paritas
Faktor risiko lainnya
Berat badan
Merokok
Faktor Risiko
Hoffman, 2008 (Modified from Cook, 2004).
Diagnosis
Mioma Uteri
Pem.
Penunjang
Pem.
Fisik
Gejala
Klinis
1. Gejala Klinis
Anamnesis
2. Pemeriksaan Fisik
Palpasi abdomen
Palpasi bimanual
3. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
USG
MRI
Patologi Anatomi
Diagnosis
Gejala Klinis
Menorrhagia
Penekanan massa pada venula pooling
melemahkan endometrium perdarahan hebat
saat sloughing
Massa pada dinding uterus hambatan
kontraksi hemostasis (-)
(Hoffman, 2008)
Metrorrhagia
Prolaps mioma submukosa (Stewart dan Fletcher,
2012).
Dismenorrhoea
Uterus berusaha mengeluarkan clot dan
mengatasi perdarahan berbeda dengan
congestive dysmenorrhoea
Jika terjadi degenerasi mioma o.k. infark ataupun
torsi (Stewart dan Fletcher, 2012).
Diagnosis
Gejala Klinis
Nyeri Pinggang dan Rasa Penuh
Penekanan massa pada organ sekitar saraf dermatom saraf yang
terkena (Hadibroto, 2005).
Hidronefrosis o.k. tekanan pada ureter (Hoffman, 2008).
Infertilitas
Distorsi kavum uterus kegagalan implantasi
Oklusi tuba kegagalan fertilisasi
Abortus
Munculnya his lebih awal his yang tidak terkoordinasi abortus atau
dapat terjadi lahir prematur
Gejala lainnya
Sindrom eritrositosis miomatus
Sindrom pseudo-Meigs efusi pleura dan asites
Diagnosis
Pemeriksaan Fisik








Palpasi Bimanual
Teraba massa dalam uterus (dapat reguler ataupun irreguler),
konsistensi kenyal, mobilitas (+) umumnya terbatas konfirmasi
dengan radiografis (Rock dan Jones, 2008).


Palpasi Abdomen
Teraba massa bila sudah
berukuran besar
belum dapat ditentukan
sebagai mioma uteri



Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
DL dapat ditemukan anemia o.k. perdarahan kronis

Radiografi
1. USG
Ditemukan gambaran massa terkadang seperti bulky
uterus; hypoechoic, anechoic, hyperechoic tergantung
degenerasi mioma
2. MRI
Jika ingin mengetahui letak, ukuran, jumlah, dan jarak
penembusan mioma dengan lebih jelas pemilihan terapi
bedah
Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
Patologi Anatomi

Berbentuk pusaran berisi spindle

Pada degenerasi dapat ditemukan :
Deposit hyaline
Jaringan nekrosis degenerasi
merah
Tatalaksana
Ekspektan
Medikamentosa
Embolisasi Arteri Uterus
Bedah
Tatalaksana
(Evans dan Brunsell, 2007)
Tatalaksana
Ekspektan
Pengawasan berkala :
Mioma uteri asimtomatis
UK < 12 minggu
Mendekati fase menopause


Pemeriksaan berkala 3-6 bulan :
Mengetahui ukuran uterus dan laju pertumbuhan
mioma (Duhan, 2011).
Tatalaksana
Medikamentosa
Antifibrinolitik
NSAID
Kontrasepsi Oral
Progesteron
Danazol
IUD Levonorgestrel
Analog GnRH
Inhibitor Aromatase
Mifepristone
CDB-2914
Pemakaian GnRH preoperatif dibatasi 3-6 bulan
(DeFalco, 2009)
IUD Levonorgestrel : pengaruh lokal hormon progesteron
(Xu et al., 2010)
Tatalaksana
Embolisasi Arteri Uterus
Melalui a.femoralis a.uterina injeksi bahan oklusif seperti
polyvinyl alcohol (PVA) vaskularisasi mioma terganggu
penurunan ukuran (Evans dan Brunsell, 2007).
Tatalaksana
Bedah
Miomektomi
Histerektomi
Histereskopi
Ligasi arteri uterus
Pasca operasi :

Tidak terdapat perbedaan
signifikan antara TAH dan
STAH

STAH : risiko operasi ulang
jika ditemukan keganasan
Uraian Kasus
Identitas Pasien
Reg : 677xxx
Nama : Ny. WA
Umur : 24 tahun
Alamat : Jl.
Pekerjaan : Penjual Nasi Jagung
Pendidikan : SD

Suami : Tn. S
Umur : 56 tahun
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Kuli bangunan
Status : Menikah 1x24 tahun


Keluhan Utama : Benjolan di perut
Pasien rujukan dari puskemas Sukun dengan mioma uteri.

21 Agustus 2013
Pasien datang ke poli ginekologi dengan keluhan benjolan di
perut. Benjolan awalnya kecil berada di sebelah kanan kemudian
membesar ke arah pusar. Benjolan membesar 6 bulan terakhir
dan nyeri (-). Benjolan sudah ada sejak pasien berusia 9 tahun.
Selain itu, pasien juga mengeluh sakit pinggang.
Pasien merupakan pengguna IUD selama 14 tahun dan ingin
melepaskan IUD. Saat diperiksa tidak ada tail, dilakukan foto
pelvis dikatakan tidak ada IUD di tempat.
Subjektif
Riwayat Persalinan

1. Ab/2 bulan/kuret(-)/1989
2. AT/normal/dukun/L/23 tahun
3. AT/normal di dukun/L/21
tahun
4. AT/normal di bidan/P/16
tahun
5. Ab/2 bulan/kuret (+)/1999
Riwayat menstruasi

Menarche :
usia 9 tahun.
Siklus :
28 hari, perdarahan lebih banyak
dari sebelumnya
Jumlah :
3-6 pembalut/hari.
Lama : 7 hari
Nyeri haid (+)
HPHT : 15 Agustus 2013
Riwayat KB
Akseptor IUD selama 14 tahun
Riwayat Keputihan
Bening, bau (-) dan gatal (+)
Riwayat Koitus
Tidak nyaman 5 bulan terakhir
Riwayat
Riwayat Keluarga
kanker kandungan & ginekologis (-)
Penyakit lain
Hipertensi & DM (-)
Riwayat lain
Merokok (-)
Penurunan BB (-)
Riwayat BAK & BAB
Dalam batas normal
Riwayat
Status Interna

Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tinggi badan : 155 cm
Berat badan : 70 kg
Tensi : 120/80mmHg
Nadi : 92 x/menit
RR : 18 x/menit
Suhu axilla : 36.5
o
C
Objektif
Objektif

Status Interna
Kepala & leher : anemis -/- ,icterus -/-
pembesaran kelenjar leher (-)
Thorax : C / s1s2 tunggal,m(-)
P/ vv Rh - - Wh - -
vv - - - -
vv - - - -
Abdomen : FU 3 jari bawah pusat, massa padat
kenyal, mobile nyeri tekan (-). Ukuran 12 x 12 cm

Status Interna

Genitalia Eksterna

Inspeksi : v/v flex (-) fluor (-)
Inspekulo : v/v flek (-) fluor (-)
Portio multipara tertutup licin, tidak teraba tail
VT : v/v flex (- ) fluor (-)
Portio multipara tertutup licin, tidak teraba tail
Corpus uteri membesar 18 20 minggu, padat
kenyal, mobilitas terbatas, nyeri (-)
Adnexa parametrium cavum douglassi dbn
Ekstremitas : Akral hangat, edema =|=, anemis =|=
Objektif
Pemeriksaan USG Gin (28/8/2013)
- Uterus membesar ukuran 100 mm x 107 mm x 71 mm,
hyperechoic, tampak IUD intrauteri
- Adnexa tidak tampak kelainan
Foto BNO (22/8/2013)
- Ground glass appearance kemungkinan vesika urinaria yang
penuh
- IUD di cavum pelvis sisi kanan atas
PAP Smear (2/9/2013)
- Radang non spesifik
- Tidak ditemukan sel ganas
- Class II
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Penunjang
Darah Lengkap
Leukosit
HB
Hematokrit
Trombosit

7.190 (4700 11.300)
13.9 (11.4 15.1)
42,80 (38 42)
254.000 (142.000 424.000)
Faal Hemostasis
PPT
apTT

9.6 (11.8)
26.8 (26.0)
Faal Hati
SGOT
SGPT
Albumin

29 (0 32)
39 (0 33)
4.21 (3.5 5.5)
GDA 94 ( < 200)
Faal Ginjal
Ureum
Kreatinin

21.20 ( 16,6 48,5)
0.89 (< 1.2)
Serum Elektrolit
Na
K
Cl

149 (136 145)
4.43 ( 3.5 5.0)
118 (98 106)
Mioma uteri + IUD in situ
Diagnosis Kerja
PLanning
PDx : Lab lengkap, konsul anestesi
PTx :
Persiapan operasi :
Puasa 6 jam sebelum operasi
Sedia darah 2 labu PRC
Pre med : Cefazoline 1 gr iv (skin test)
Ranitidine 1 amp iv
Metoclopramide 1 amp iv
DC
Inform consent
Pasien dilakukan Total Abdominal Hysterectomy pada 19/9/2013
Pmo : Observasi vital sign, keluhan subjektif
Mioma uteri + IUD in situ
Diagnosis Kerja
Diagnosis Pasca Bedah
Mioma uteri intramural+ IUD in situ
Evaluasi laparotomi
Uterus membesar ~ 18-20 minggu
Massa pada corpus anterior uterus
Tuba dan ovarium D/S dbn
Jaringan yang dieksisi : Uterus dan Serviks
Pembahasan
Kasus
Diagnosis Pada Pasien
1. Anamnesis Gejala Klinis (pasien mengatakan dalam 6 bulan terakhir)
Benjolan perut kanan bawah yang terus membesar
Nyeri pinggang
Perdarahan menstruasi yang lebih dari biasanya
Rasa tidak nyaman saat koitus
Nyeri menstruasi (+)
Menorrhagia merupakan pola perdarahan yang paling sering muncul pada
mioma uteri (Bukulmez dan Doody, 2006).

Tumor membesar mengisi rongga pelvis menekan saraf sehingga
menyebabkan rasa nyeri yang menyebar ke bagian pinggang dan
posterior (Hadibroto, 2005).
Diagnosis Pada Pasien
2. Pemeriksaan Fisik
CUAF teraba massa konsistensi kenyal, permukaan rata, mobilitas
(+), ukuran 12x12 cm, adnexa perimetrium D/S dan kavum douglas
dalam batas normal
Diagnosis mioma uteri menjadi jelas bila dijumpai gangguan kontur
uterus oleh satu atau lebih massa yang lebih licin, tetapi sering sulit
untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah bagian dari
uterus (DeCherney et al., 2007) lanjutkan pemeriksaan
penunjang
Diagnosis Pada Pasien
3. Pemeriksaan Penunjang
USG ginekologi transvaginal, didapatkan hasil uterus membesar
ukuran 100 mm x 107 mm x 71 mm, hyperechoic, tampak IUD
intrauteri.
Gambaran hyperechoic pada mioma mengindikasikan terjadinya
proses kalsifikasi.
Gambaran sonografi mioma :
Simetrikal, berbatas tegas, hipoechoic, terkadang hyperechoic (rasio otot
polos dengan jaringan ikat). Kalsifikasi akan terlihat hyperechoic dan
biasanya membatasi tumor atau dapat tersebar.

Degenerasi kistik atau myxoid akan menghasilkan gambaran area
hypoechoic multipel, bulat, dinding halus, dan ukuran yang irreguler
(Hoffman, 2008).
Faktor Risiko Pasien
1. Usia (44 tahun)
Perimenopause (35-50 tahun) : penurunan kadar estrogen sebesar 35%
dan penurunan kadar progesteron sebesar 75% kadar estrogen relatif
lebih tinggi stimulasi pertumbuhan sel yang berlebihan(DeCherney et
al., 2010).

2. Usia menarche
Usia saat menarche berbanding terbalik dengan risiko terjadinya mioma
uteri. Usia 10 tahun atau lebih memiliki kemungkinan 50% lebih besar
terkena dibandingkan usia 12 tahun ke atas (Northington dan Arya, 2006).

3. Berat Badan
Risiko 21% untuk setiap kenaikan 10 kg berat badan dan dengan
peningkatan indeks massa tubuh (Parker, 2007).
Tatalaksana Mioma Uteri Pasien
Dilakukan TAH dengan pertimbangan :

1. Penegakan diagnosis yang menunjukkan ukuran
uterus > 12 minggu
2. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara TAH dan
STAH
3. Ibu sudah tidak ingin memiliki anak
4. Risiko rekurensi bila hanya dilakukan miomektomi
5. Mengatasi masalah follow up

Kesimpulan
1. Diagnosis mioma uteri pada pasien ini ditegakkan dengan
anamnesa, pemeriksaan fisik ginekologi, dan pemeriksaan
penunjang dengan ultrasonografi.
Gejala klinis mioma uteri yang ditemukan pada pasien ini
adalah benjolan yang terus tumbuh, dispareunia, nyeri
pinggang, menorrhagia dan dismenorrhea.
2. Faktor risiko yang dapat ditemukan pada pasien adalah usia
(kondisi perimenopause), usia menarche, dan berat badan.
3. Penatalaksanaan mioma uteri pada pasien ini adalah dengan
terapi pembedahan dengan indikasi sesuai gejala serta hasil
pemeriksaan fisik dan penunjang.
Teknik pembedahan yang dipilih adalah histerektomi total.

Laporan Kasus
Mioma Uteri

Annisa Alkarimah, Hervi Laksari F.A., Ratih
Frastika D., Stefanus Gunawan

Pendamping : dr.Tansya
Pembimbing : dr.Yahya Irwanto, Sp.OG(K)

(01 Oktober 2013)