Anda di halaman 1dari 64

FISIOLOGI ALAT GERAK

ROMY DEVIANDRI

GOALS:

To know about kinds of muscle

Berdasarkan : Histologi, Anatomi, Persarafan dan


Fungsinya, otot terbagi atas 3 bagian besar, yaitu :

Otot rangka (Skeletal muscle,


voluntary muscle)
Otot polos (Smooth muscle,
unvoluntary muscle)

1.
2.
i.

ii.

Otot polos visceral (single unit)


Otot polos vascular system (multi unit)

Otot jantung (Cardiac muscle)

3.

Atrium
ii. Ventricle
iii. Otot perhantar impuls
i.

3 Tipe Skeletal muscle :


1. Slow-oxidation fibers
Combine low myosin-ATPase activity with
high oxidative capacity (~ mit.) + ~
myoglobin
2. Fast-oxidative fibers
Combine high myosin-ATPase activity with
high oxydative capacity (~ mit.) + ~
myoglobin
3. Fast-glycolytic fibers
Combine high myosin-ATPase activity with
high glycolytic capacity (< mit.) + <
myoglobin

Slow Oxidative
Fibre
ATP

production
Mitosis
Myoglobin
Glycosan
ATPase
Activity
Contraction
Velocity
Diameter fibre
M.V. size

Fast Oxidative
Fibre

Fast Glycolytic
Fibre

Oxidasi
fosforilasi
~
(r.m.)

Low

Oxidasi
fosforilasi
~
(r.m.)
Intermediate
High

Anaerobic
glycolytic
Few
(w.m)

High

Slow

Fast

Fast

Small
Small

Intermediate
Intermediate

Large
Large

Characteristic

Actin

+
Myosin
T.T.
S.R.
Gap.Junc.
fiber
Source Ca+2
Site of Ca+2
Speed

of cont.
Spontaneous
A.P.
Effect of N.St

Skeletal
Muscle

Smooth
Muscle
Single Unit

Smooth
Cardiac
Muscle Multi Muscle
Unit

+
+++
-

_
+
+

+
++
+

SR
Troponin

SR & ECF
Myosin
(Calmodulin)
Very Slow
+

SR & ECF
Myosin
(Calmodulin)
Very Slow
-

SR & ECF
Troponin

EPSP/IPSP

EPSP/IPSP

EPSP/IPSP

Fast/Slow
Exitation
(EPP)

Slow
+

MUSCULOSKELETAL
MECHANICS
OTOT KESELURUHAN MERUPAKAN

SEKELOMPOK SERAT OTOT YANG


DISATUKAN OLEH JARINGAN IKAT DAN
MELEKAT KE TULANG MELALUI TENDON
KONTRAKSI OTOT MEMILIKI GRADASI

KEKUATAN YANG BERBEDA-BEDA

FAKTOR PENENTU KEKUATAN


OTOT:
JUMLAH SERAT YANG

BERKONTRAKSI
JUMLAH UNIT

MOTORIK YANG
DIREKRUT
JUMLAH SERAT OTOT
PER UNIT MOTORIK
JUMLAH SERAT OTOT
YANG TERSEDIA
UKURAN OTOT
ADANYA PENYAKIT

(DISTROFI)
TINGKAT PEMULIHAN
SETELAH TRAUMA

TINGKAT TEGANGAN OTOT

FREKUENSI

RANGSANGAN
PANJANG SERAT
PADA
PERMULAAN
KONTRAKSI
TINGKAT
KELELAHAN
KETEBALAN SERAT

PRINSIP-PRINSIP DASAR
REKRUITMENT
PERANGSANGAN SATU ATAU

BEBERAPA UNIT MOTORIK UNTUK


MENGHASILKAN KONTRAKSI YANG
LEBIH KUAT

SUMASI
PENJUMLAHAN KONTRAKSI KEDUTAN OTOT UNTUK
MENINGKATKAN INTENSITAS KONTRAKSI OTOT

Pada kontraksi SUMMASI dan TETANI


terjadi Treppe atau Staircase
Phenomena
Hal ini disebabkan :

Kemungkinan :
1. Masuknya ion Ca+2 pada setiap proses
depolasisasi sel otot
2. Gagalnya proses Ca+2 pump (ATP-ase-Ca+2)
ke S.R.L.
3. Efflux K+ dan diikuti infflux N+ Ca+2
dari S.R.L.

Treppe

Summasi

Treppe

Incomplete Tetanic-contraction

Treppe

Complete Tetanic-contraction

Clonus

HUBUNGAN KECEPATAN KONTRAKSI


VS BEBAN

KECEPATAN PEMENDEKAN
OTOT MENURUN
SEIRING PENINGKATAN
BEBAN

JENIS KONTRAKSI
ISOTONIK EX: BERGERAK
KONSENTRIK
EKSENTRIK

ISOMETRIK EX: BERDIRI


STATIS

SISTEM TUAS MEKANIKA

MOTORIC CONTROL
MOTORIC PATHWAYS:
1. JALUR REFLEKS SPINAL
2. JALUR KORTIKOSPINALIS DESCENDEN
KORTEKS MOTORIK
EX: GERAKAN TANGAN YANG HALUS

3. JALUR MULTINEURON DESCENDEN

BATANG OTAK
EX: PENYESUAIAN POSTUR

MOTORIC CONTROL
RESEPTOR OTOT SEBAGAI KONTROL:
AKTIF SAAT PEREGANGAN OTOT
FEEDBACK NEGATIF MELALUI REFLEK
SPINAL LOKAL
1. GELENDONG OTOT PERUBAHAN
PANJANG OTOT
2. TENDON GOLGI KETEGANGAN OTOT

OTOT POLOS, JANTUNG,


RANGKA
PERSAMAAN:
MEMILIKI AKTIN DAN MIOSIN
ATP SEBAGAI SUMBER ENERGI

OTOT POLOS
OTOT POLOS MULTI UNIT
DDG PD BESSAR, JALAN NAPAS, OTOT MATA-

LENSA, IRIS MATA, FOLIKEL RAMBUT


NEUROGENIK
OTOT POLOS SINGLE UNIT
VISERA
MIOGENIK

Smooth Muscle

Skeletal Muscle

Cytosolic Ca+2

Ca+2 binds to
calmodulin in
cytoplasma

Cytosolic Ca+2

Ca+2 binds to troponin


on thin filaments

Ca+2 Calm. Complex


binds to myosin
light-chain kinase

Tropomyosin oxt of
blocking position

L.C.K. + ATP M. ATP

M*.ADP Pi
Myosin Cross-Bridges
binds to + Actin

ATP-ATPase ADP + Pi + Myosin


M*. ADP Pi

Myosin Cross-Bridges bind to Actin


Shortening
A. M. ADP + Pi

Shortening
A. M. ADP + Pi

OTOT JANTUNG
KOMBINASI OTOT RANGKA DAN OTOT

POLOS UNIT TUNGGAL


SERAN LINTANG, TROPONIN, TROPOMIOSIN,
TUBULUS T, SLIDING FILAMENT RANGKA
MIOGENIK, GAP JUNCTION, SARAF OTONOM
OTOT POLOS

Heat Production
(Menurut A.V. Hill)
Dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Initial Heat
a.

Activation heat (masa laten)


A + M*. ADP.Pi

b.

Heat of Contraction (isotonik)


A. M. + ADP + Pi

c.

Heat of Relaxation : back to initial length


(A. + M. ATP) ( Ca+2 pump to S.R. + ATP

2.

ATP-ase

Pi)

Recovery heat (Delayed heat) long duration


Panas yang terjadi setelah relaksasi (Resynthesa
ATP & bersifat : 95% Aerobic system, 5%
Anaerobic system)

Shortening Heat
Heat of Relaxation

Recovery Heat

Nilai panas yang terjadi

Maintenance

Heat Activation &

Energi panas menurut A.V. Hill :


E=A+W+ax
A = Heat of maintenance or activation
W = Work done = Px
P
= Load & x = jarak pemendekan
a = Constanta

E = A + Px + ax
A + X (P + a)
Isometrik

=
Isotonik
=
Summation =
Tetanization =

E
E
E
E

=
=
=
=

A
A + Px + ax
2 A + px + ax
nA + x (P + a)

EFISIENSI KERJA OTOT


ENERGI YANG DIGUNAKAN BANYAK BERUBAH

MENJADI ENERGI PANAS


GERAKAN ISOTONIK 25 %
GERAKAN ISOMETRIK 0 %

TENG KYU