VARIABEL
DAN
DEFINISI OPERASIONAL
Dr. Kusnanto, S.Kp.,M.Kes.
VARIABEL
Karakteristik yang melekat pada
populasi, bervariasi
variabel merupakan sesuatu yang di
dalamnya terdapat atribut-atribut,
unit-unit, dimensi-dimensi atau nilai-
nilai yang beragam
KEGUNAAN VARIABEL
PENELITIAN :
1.Untuk mempersiapkan alat dan
metode pengumpulan data
2.Untuk mempersiapkan metode
analisis/pengolahan data
3.Untuk pengujian hipotesis
VARIABEL PENELITIAN YANG
BAIK
1.Relevan dengan tujuan penelitian
2.Dapat diamati dan dapat diukur
Dalam suatu penelitian, variabel
perlu Diidentifikasi, diklasifikasi
dan didefinisikan secara
operasional dengan jelas dan
tegas agar tidak menimbulkan
kesalahan dalam pengumpulan
dan pengolahan data serta
dalam pengujian hipotesis
Definisi
Variabel Penelitian adalah setiap
hal dalam suatu penelitian yang
datanya ingin diperoleh.
Dinamakan variabel karena nilai
dari
Motivasi : dataJenis
tersebut
kelamin : beragam.
Tinggi Laki-laki Penghasilan :
Menengah Perempuan 500 ribu
Rendah 300 ribu
Produktivitas: 100 ribu
Usia : Dlsb.
Tinggi
12 tahun, 15 tahun,
Cukup
20 tahun, 60 tahun,
Rendah
Dlsb.
Jenis-jenis variabel
1. independent variable
2. dependent variable
3. Variabel penengah (moderating
variable)
4. Variabel sela/antara (intervening
variable)
5. Variabel Kontrol
6. Variabel perancu (counfonding variabel)
INDEPENDENT VARIABEL
Variabel independen adalah variabel
yang mempengaruhi atau yang menjadi
sebab perubahannya atau timbulnya
variabel dependen (terikat).
Dinamakan sebagai variabel independen
karena bebas dalam mempengaruhi
variabel lain
Sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor,
antecedent, variabel pengaruh, Variabel Perlakuan,
Kausa, Treatment, Risiko, atau Variable Bebas
Contoh : Pasien Strok
Kepatuhan diet
Tipe strok
Kualitas hidup pasie
Dukungan sosial
keluarga Variabel
dependen
Tingkat
Depresi
Variabel bebas
Variabel independen (dalam eksperimen)
dapat dimanipulasi oleh peneliti.
variabel dependen akan diketahui
tingkat perubahannya bila variabel
terlebih dahulu dipersiapkan.
Contoh : Seorang ners spesialis,
misalnya, ingin tahu dosis pemberian jus
alovera dan khasiatnya, maka ia harus
terlebih dahulu menakar alovera yang
akan diberikannya kepada kelinci
percobaannya.
Variabel independen adalah variabel
yang meramalkan, sedangkan variabel
dependen adalah variabel yang di
ramalkan.
Dalam Penelitian Keperawatan : Variabel bebas
merupakan stimulus atau intervensi keperawatan
yang diberikan kepada klien untuk mempengaruhi
tingkah laku.
Contoh :
1. Pengaruh pemberian rebusan buah jambu
biji putih terhadap penurunan kadar glukosa
darah
pada pasien Diabetes mellitus tipe 2
2. Pengaruh Diabetes Self Management
Education
(DSME) terhadap Pengelolaan Diabetes
Mandiri
pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2
DEPENDENT VARIABLE
Variabel Terikat merupakan Variabel
yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat karena adanya variabel bebas.
Disebut Variabel Terikat karena
variabel ini dipengaruhi oleh variabel
bebas/variabel independent
Variabel akibat atau variabel yang
akan berubah akibat pengaruh
atau perubahan yang terjadi pada
variabel independent
Sering disebut sebagai Variabel out
put, kriteria, konsekuen, variabel
efek, variabel terpengaruh, variabel
terikat atau variabel tergantung.
Pendidikan
Prestasi Kerja Jumlah Gaji
Variabel tergantung
Dll.
Variabel respon atau out put akan muncul
sebagai akibat dari manipulasi suatu variabel
independen
Contoh :
1. Pengaruh pemberian rebusan buah jambu
biji putih terhadap penurunan kadar glukosa
darah pada pasien Diabetes mellitus tipe 2
2. Pengaruh Diabetes Self Management Education
(DSME) terhadap Pengelolaan Diabetes
Mandiri
pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2
VARIABEL PENENGAH/
MODERATOR
Variabel Moderator adalah variabel
yang mempengaruhi (memperkuat
dan memperlemah) hubungan
antara variabel bebas dan variabel
terikat.
Variabel moderator disebut juga
variabel independen kedua.
Contoh hubungan
Variabel Independen Moderator
Dependen
Hubungan motivasi dan prestasi
belajar akan semakin kuat bila
peranan dosen dalam menciptakan
iklim/lingkungan belajar sangat baik,
dan hubungan semakin rendah bila
peranan dosen kurang baik dalam
menciptakan iklim belajar
Motivasi Belajar Prestasi Belajar
(Variabel Bebas) (Variabel Terikat)
Iklim Belajar
(Variabel
Moderator)
INTERVENING VARIABLE
Variabel intervening adalah variabel yang
secara teoritis mempengaruhi hubungan
antara variabel bebas dengan variabel terikat,
tetapi tidak dapat diamati dan diukur.
Variabel ini merupakan variabel
penyela/antara yang terletak diantara variabel
bebas dan variabel terikat, sehingga variabel
bebas tidak secara langsung mempengaruhi
berubahnya atau timbulnya variabel terikat.
Contoh :
Tinggi rendahnya penghasilan akan
mempengaruhi secara tidak
langsung terhadap umur harapan
hidup. Di sini ada variabel antaranya
yaitu yang berupa Gaya Hidup
seseorang. Antara variabel
penghasilan dan gaya hidup terdapat
variabel moderator yaitu Budaya
Lingkungan Tempat Tinggal.
Penghasilan Gaya Hidup Umur Harapan
(Variabel Bebas) (Variabel Hidup
Intervening) (Variabel Terikat)
Budaya
Lingkungan
(Variabel
Moderator)
VARIABEL KONTROL
Variabel kontrol adalah variabel yang
dikendalikan atau dibuat konstan
sehingga hubungan variabel bebas
terhadap variabel terikat tidak
dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak
diteliti.
Variabel kontrol sering dipakai oleh
peneliti dalam penelitian yang bersifat
membandingkan, melalui penelitian
eksperimental.
Disebut V. Kontrol, karena variabel
tersebut berfungsi untuk mengontrol
variabel independen dan atau variabel
dependen.
Tujuan dari pemunculan variabel
kontrol yang paling penting adalah,
untuk;
a) menetralisir pengaruh variabel-
variabel luar yang tidak perlu, dan atau
b) menjembatani hubungan antara
variabel independen dengan variabel
dependen.
Karena itu variabel kontrol dapat
menempati posisi-posisi tertentu dalam
hubungan antar variabel; ada yang
ditempatkan sebelum variabel independen
dan ada yang berada di antara variabel
independen-dependen.
Variabel kontrol yang ditempatkan sebelum
variabel independen adalah variabel
penekan (suppressor variable) atau
variabel pengganggu (distorter variable),
sedangkan variabel kontrol yang berada di
antara variabel independen-dependen
adalah variabel antara (intervening
variable)
Contoh :
Pengaruh senam nifas ibu pasca salin
terhadap involusi uteri.
Faktor usia dan paritas dapat
dianggap sebagai variabel kontrol
Contoh lain:
Pengaruh metode pembelajaran terhadap
penguasaan keterampilan pertolongan
persalinan Kala II.
Variabel bebasnya adalah metode
pembelajaran, misalnya metode ceramah
& metode demonstrasi. Sedangkan
Variabel Kontrol yang ditetapkan adalah
sama, misalnya Standard Keterampilan
sama, dari kelompok mahasiswa dengan
latar belakang sama (tingkat/semesternya
sama), dari institusi yang sama
Dengan adanya variabel kontrol tersebut,
maka besarnya pengaruh metode
pembelajaran terhadap penguasaan
keterampilan pertolongan persalinan kala
II dapat diketahui lebih pasti.
Penguasaan
Metode Ceramah
Keterampilan
& Metode
Pertolongan Pers.
Demonstrasi
Kala II
(Variabel Bebas)
(Variabel Terikat)
Tk/Semester,
Institusi sama
(Variabel Kontrol)
Counfonding Variable
(variabel Perancu)
Variabel lain yang berhubungan baik dengan
variabel independen maupun variabel dependen
Keberadaan variabel perancu akan mempengaruhi
hubungan antara variabel independen dan
variabel dependen
Harus diidentifikasi secara konseptual, dikendalikan
(Ex. merokok hipertensi minum Kopi)
Variabel Perancu
Distorsi dalam menaksir pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen,
akibat dari tercampurnya pengaruh sebuah
atau beberapa variabel lain
Variabel lain yang menyebabkan
kerancuan disebut faktor perancu
(counfounding factor)
Secara konseptual suatu variabel disebut
counfounding, jika memenuhi 3 kriteria :
1. Variabel perancu merupakan faktor
risiko (variabel yang berpengaruh)
terhadap variabel dependen
Contoh Penelitian:
Hubungan asupan nutrisi dengan
kualitas hidup pada pasien cancer paru
* Stadium cancer variabel perancu
yang mempengaruhi kualitas hidup
pasien
2. Variabel perancu berhubungan dengan variabel
independen (paparan)
Penentuan hubungan antara VP dengan VI
didasarkan pada pemahaman secara teori/
substansi dari masalah yang diteliti
Pembuktian lebih lanjut dilakukan dg uji
statistik korelasi antara VP dengan VI
Semakin lanjut stadium kanker maka semakin
meningkat keluhan mual, muntah serta
penurunan nafsu makan menurunkan asupan
nutrisi
3. Variabel Perancu bukan merupakan
variabel antara (variabel intervening)
dlm hubungan kausal VI dengan VD
Contoh : aktivitas fisik bukan
merupakan variabel perancu karena
asupan nutrisi yang kurang
menyebabkan penurunan aktivitas fisik
shg mempengaruhi kualitas hidup
Jadi : aktivitas fisik merupakan variabel
antara bukan variabel perancu
Hubungan/ pengaruh satu variabel
independen thd satu variabel
dependen
VARIABEL VARIABEL
BEBAS TERIKAT
VARIABEL
PERANCU
Hubungan beberapa (lebih dari satu)
variabel independen dengan satu
variabel dependen
VARIABEL
BEBAS
VARIABEL
BEBAS VARIABEL
VARIABEL TERIKAT
BEBAS
VARIABEL
BEBAS
Contoh lain :
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja perawat dalam melaksanakan
VB
asuhan keperawatan
Reward dan
punishment
Pengetahua VA VT
n ttg hak
dan Motivasi Kinerja
kewajiban kerja Perawat
Jenjang
pendidikan
Pengalama
n Kerja
Hubungan antar Variabel
Pada hakikatnya inti dari setiap
kegiatan penelitian ilmiah adalah
mencari hubungan antar
variabel.
Hubungan yang paling dasar
adalah hubungan antara variabel
independen dengan variabel
dependen (X dengan Y).
Skema hubungan antar
variabel
VARIABEL VARIABEL
INDEPENDE VARIABEL DEPENDEN
N/ ANTARA / TERIKAT
BEBAS
VARIABEL
VARIABEL COUNFOUN VARIABEL
ANTARA DING/PERA LUAR
NCU
Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel merupakan tahap
awal dari kegiatan pengukuran dalam
penelitian.
Tujuan pengukuran variabel ini baru pada
tahap menjawab pertanyaan bagaimana
cara untuk mengukur variabel tersebut?
Selanjutnya muncul pertanyaan lanjutan;
apa yang diukur atau bagaimana cara
merubah konsep, dan apa alat ukurnya?
.
Mengukur adalah sebuah proses
kuantifikasi, karena itu setiap
kegiatan pengukuran berkaitan
dengan jumlah, dimensi atau taraf
dari sesuatu obyek/gejala yang
diukur.
Hasil dari pengukuran itu biasanya
dilambangkan dalam bentuk
bilangan.
Prosedur pengukuran variabel
dimulai dari pembuatan definisi
operasional konsep variabel.
Kerlinger mengungkapkan, bahwa
definisi operasional itu melekatkan
arti pada suatu konsep variabel
dengan cara menetapkan kegiatan-
kegiatan atau tindakan-tindakan
yang perlu untuk mengukur suatu
konsep variabel itu.
Pengukuran Variabel Penelitian dapat
dikelompokkan menjadi 4 Skala
Pengukuran, yaitu :
1. Skala Nominal
Adalah suatu himpunan yang terdiri dari anggota
anggota yang mempunyai kesamaan tiap anggotanya, dan
memiliki perbedaan dari anggota himpunan yang lain.
Misalnya :
Jenis Kelamin : dibedakan antara laki laki dan
perempuan
Pekerjaan : dapat dibedakan petani, pegawai, pedagang
Golongan Darah : dibedakan atas Gol. 0, A, B, AB
Ras : dapat dibedakan atas Mongoloid, Kaukasoid,
Negroid.
Suku Bangsa : dapat dibedakan dalam suku Jawa, Sunda,
Batak dsb
Skala Nominal
Variasinya tidak menunjukkan
perurutan atau kesinambungan, tiap
variasi berdiri sendiri secara terpisah.
Dalam Skala Nominal tidak dapat
dipastikan apakah kategori satu
mempunyai derajat yang lebih tinggi
atau lebih rendah dari kategori yang
lain ataukah kategori itu lebih baik atau
lebih buruk dari kategori yang lain.
2. Skala Ordinal
Adalah skala variabel yang menunjukkan tingkatan
tingkatan.
Skala Ordinal adalah himpunan yang beranggotakan
menurut rangking, urutan, pangkat atau jabatan.
Skala Ordinal adalah kategori yang dapat diurutkan
atau diberi peringkat.
Skala Ordinal adalah skala data kontinum yang batas
satu variasi nilai ke variasi nilai yang lain tidak jelas,
sehingga yang dapat dibandingkan hanyalah nilai
tersebut lebih tinggi, sama atau lebih rendah daripada
nilai yang lain.
Contoh :
Tingkat Pendidikan : dikategorikan Pendidikan dasar
(SD dan SMP), Pendidikan menengah (SMA), dan PT
(Akademi dan Sarjana)
Pendapatan : Tinggi, Sedang, Rendah
Tingkat Keganasan Kanker : dikategorikan dalam
Stadium I, II, dan III. Hal ini dapat dikatakan bahwa :
Stadium II lebih berat daripada Stadium I dan
Stadium III lebih berat daripada Stadium II.
Tetapi kita tidak bisa menentukan secara pasti
besarnya perbedaan keparahan itu.
Sikap (yang diukur dengan Skala Linkert) : Setuju,
Ragu ragu, Tidak Setuju. Dsb.
3. Skala Interval
Adalah Skala Data Kontinum yang
batas variasi nilai satu dengan yang
lain jelas, sehingga jarak atau
intervalnya dapat dibandingkan.
Dikatakan Skala Interval bila jarak
atau perbedaan antara nilai
pengamatan satu dengan nilai
pengamatan lainnya dapat diketahui
secara pasti
Nilai variasi pada Skala Interval juga
dapat dibandingkan seperti halnya
pada skala ordinal (Lebih Besar,
Sama, Lebih Kecil..dsb); tetapi Nilai
Mutlaknya TIDAK DAPAT
DIBANDINGKAN secara Matematis,
oleh karena itu batas batas Variasi
Nilai pada Skala Interval bersifat
ARBITRER (ANGKA NOL-nya TIDAK
Absolut).
Contoh :
Temperature / Suhu Tubuh : sebagai skala
interval, suhu 360C jelas lebih panas
daripada suhu 240C. Tetapi tidak bisa
dikatakan bahwa suhu 360C 1 kali lebih
panas daripada suhu 240C.
Alasannya : Penentuan skala 00C Tidak
Absolut (=00C tidak berarti Tidak Ada
Suhu/Temperatur sama sekali).
Tingkat Kecerdasan,
Jarak, dsb.
4. Skala Ratio = Skala
Perbandingan.
Skala Ratio adalah Skala yang
disamping batas intervalnya jelas,
juga variasi nilainya mempunyai
batas yang tegas dan mutlak
( mempunyai nilai NOL ABSOLUT ).
Misalnya :
Tinggi Badan : sebagai Skala Ratio, tinggi
badan 180 Cm dapat dikatakan mempunyai
selisih 60 Cm terhadap tinggi badan 120 Cm,
hal ini JUGA dapat dikatakan Bahwa : tinggi
badan 180 adalah 1 kali dari tinggi badan
120 Cm.
Denyut Nadi : Nilai 0 dalam denyut nadi dapat
dikatakan Tidak Ada Sama Sekali denyut
nadinya.
Berat Badan
Dosis Obat, dsb
Skala Ratio, Interval, Ordinal dan
Nominal berturut turut memiliki nilai
kuantitatif dari yang Paling Rinci ke
yang Kurang Rinci.
Skala Ratio mempunyai sifat sifat
yang dimiliki Skala Interval, Ordinal
dan Nominal.
Skala Interval memiliki ciri ciri yang
dimiliki Skala Ordinal dan Nominal,
sedangkan Skala Ordinal memiliki sifat
yang dimiliki Skala Nominal.
Adanya perbedaan tingkat
pengukuran memungkinkan terjadinya
Transformasi Skala Ratio dan Interval
menjadi Ordinal atau Nominal.
Transformasi ini dikenal sebagai Data
Reduction atau Data Collapsing Hal
ini dimaksudkan agar dapat
menerapkan metode statistic tertentu,
terutama yang menghendaki skala
data dalam bentuk Ordinal atau
Nominal.
Sebaliknya, Skala Ordinal dan Nominal
tidak dapat diubah menjadi Interval
atau Ratio.
Skala Nominal yang diberi label 0, 1
atau 2 dikenal sebagai Dummy
Variable (Variabel Rekayasa).
Misalnya : Pemberian label 1 untuk laki
laki dan 2 untuk perempuan tidak
mempunyai arti kuantitatif (tidak
mempunyai nilai / hanya kode).
DEFINISI OPERASIONAL
VARIABEL
Menggambarkan / mendeskripsikan
variable penelitian sedemikian rupa,
sehingga variable tersebut bersifat :
- Spesifik ( Tidak Beinterpretasi
Ganda )
- Terukur ( Observable atau
Measurable )
Contoh variable yang berinterpretasi
ganda : Status Gizi.
Variable ini dapat diukur dan dideskripsikan
dengan bermacam kombinasi pengertian
atau pengukuran, seperti :
1. Berat Badan (BB) dengan Tinggi Badan
(TB)
2. BB TB dengan Usia
3. Kadar Protein serum
4. Lingkar Lengan Atas dan Lingkar Kepala,
dsb
Definisi Operasional
Adalah mendefinisikan variable
secara operasional berdasarkan
karakteristik yang diamati yang
memungkinkan peneliti untuk
melakukan observasi atau
pengukuran secara cermat terhadap
suatu objek atau fenomena.
Definisi Operasional ditentukan berdasarkan
Parameter yang dijadikan ukuran dalam
penelitian. Sedangkan cara pengukuran
adalah Cara dimana variable dapat diukur
dan ditentukan karakteristiknya.
Dalam Definisi Operasional mencakup
penjelasan tentang :
Nama variable
Definisi variable berdasarkan konsep/
maksud penelitian.
Hasil Ukur / Kategori
Skala Pengukuran.
Contoh :
Suatu penelitian dengan judul Faktor
factor yang mempengaruhi
terjadinya hipertensi pada ibu hamil
Berdasarkan judul tersebut, maka :
Variabel bebasnya (misalnya) adalah
Obesitas, Diet Tinggi Garam, Genetik
dan Umur.
Variabel terikatnya adalah Hipertensi
Definisi Operasional
NO VARIABE DO HASIL UKUR/ SKALA
L KATEGORI
1. Obesitas Kelebihan massa tubuh 1 : IMT > 27 Nominal
responden yang kg/m2
didapat berdasarkan 2 : IMT 27
perhitungan rasio berat kg/m2
badan dan tinggi badan
pada kurun waktu tiga
bulan terakhir
2. Diet Kebiasaan responden Intensitas : Nominal
Tinggi dalam mengkonsumsi 1 : Sering
Garam makanan yang rasanya 2. Tidak
asin. Pernah
NO VARIABE DO HASIL UKUR/ SKALA
L KATEGORI
3. Genetik Factor keturunan yang Nominal
dimaksud adalah 1: Ada
adanya riwayat Keluarga yg
hipertensi dalam Hipertensi
keluarga yaitu orang 2: Tidak ada
tua atau saudara keluarga yg
kandung. hipertensi
4. Umur Usia responden yang 1: Muda Ordinal
terhitung sejak lahir (16 25
hingga ulang tahun tahun)
terakhir. 2: Dewasa
(26 35
tahun)
3: Tua
(36 46 tahun
NO VARIAB DO HASIL UKUR/ SKALA
EL KATEGORI
5. Hiperten Suatu keadaan Borderline : Ordinal
si dimana tekanan TS : 140 159
darah responden mmHg.
(ibu hamil) melebihi TD : 90 99
batas normal yaitu mmHg.
sistolik 150 mmHg
dan Diastolik > 90 Ringan :
mmHg. TS : 160 179
mmHg.
TD : 100 109
mmHg.
Sedang :
TS : 180 209
mmHg.
TD : 110 119
mmHg.
Berat :
TS : > 210 mmHg.
TD : > 120 mmHg.
DEFINSI OPERASIONAL
Merupakan spesifikasi kegiatan
peneliti dalam mengukur suatu
variabel atau memanipulasaikannya.
Tujuan : membuat variabel menjadi
lebih konkrit dan dapat diukur,
mempermudah peneliti dalam
mengembangkan instrumen
penelitian, menentukan bagaimana
metode pengumpulan data dan jenis
data/ skala pengukurannya
Dalam mendefinisikan variabel : apa
yang harus diukur, bagaimana
mengukurnya, kriteria
pengukurannya, instrumen yg
digunakan, skala pengukurannya
Hipotesis : pernyataan sementara ttg
hubungan antar variabel penelitian
Dalam pernyataan hipotesis pada
dasarnya peneliti telah menyampaikan
variabel yang akan diteliti hanya masih
bersifat abstrak (masih belum tergambar
apa yg akan diukur, kriteria apa yang
akan digunakan dalam pengukuran,
bagaimana mengukurnya, dll)
Contoh Penelitian:
Hubungan pengetahuan perawat ttg infeksi
nosokomial dan perilaku perawat dalam
pelaksanaan program Universal Precaution
(UP)
Hipotesis : semakin baik pengetahuan perawat
ttg infeksi nosokomial maka akan
semakin baik perilaku perawat
dalam pelaksanaan program
Universal Precaution (UP)
Ada 2 variabel yang teridentifikasi :
1. pengetahuan perawat ttg infeksi
nosokomial
2. perilaku perawat dalam pelaksanaan
program Universal Precaution (UP)
Agar variabel lebih konkrit dan dapat diukur
maka HARUS diDEFINISIKAN secara
OPERASIONAL
TERIMA KASIH