Anda di halaman 1dari 46

PENGENALAN PCP

PROGRESSIVE CAVITY PUMP


Progressive Cavity
Pumps Progressive Cavity Pump
atau biasa disebut pompa
PCP merupakan salah satu
alat dari artificial lift untuk
meningkatkan laju produksi
dalam industri
perminyakan. Sejarah PCP
dimulai pada akhir tahun
1920-an dimana Seorang
warga Perancis Rene
Moineau mendesain rotary
compresor dengan sistem
mekanisme rotasi baru yang
digunakan untuk
penggunaan tekanan fluida
yang bervariasi. Dia
menamakan alatnya
sebagai Capsulism.
PRINSIP KERJA

Prinsip Kerja PC Pump bekerja dengan mengandalkan


2 elemen utama yang telah dijelaskan seperti diatas.
Adapun Motor drive sebagai prime mover
(penggerak) berada di permukaan yang
menggerakkan rotor di lubang sumur. Pompa (rotor &
stator) berada dibawah lubang perforasi jika masalah
pada sumur adalah gas sedangkan pompa berada
diatas lubang perforasi jika masalah yang terjadi
pada sumur adalah kepasiran dan jarak pemasangan
pompa minimal 100 m atau 330 ft dibawah fluid level
untuk mengantisipasi loss flow yang terjadi. Fluida
mengalir kedalam stator dan terus mengair melalui
tubing hingga ke permukaan.
PERALATAN PCP
MOTOR
DRIVE HEAD

POLISH ROD

STUFFING BOX AND FLOW T

VSD

SUCKER ROD

TUBING

P.C. PUMP : STATOR & ROTOR

TAG BAR
TORQUE ANCHOR
Kondisi aktual sumur Motor 20 HP

menggunakan PCP 50 Hz, 167 RPM

SFL 0 ft

DFL 380 ft

Q = 173.7 BPD
f

WC 70.83 %

2.7/8 Tubing
7 Liner

GOR 507 scf/stb

Zone I-0790.1 (OIL) :


2610' - 2620' MD (10 ft),

PCP 80 TP 1200
@ 2642 ft

2686 ft
ELEMEN UTAMA PCP
Elemen Utama & Desain PCP Pompa ini
memiliki 2 elemen utama yaitu rotor dan
stator.
Rotor
Rotor sebagai penggerak PCP, berbentuk
batang spiral yang terbuat dari alloy steel
atau stainless steel yang dibalut dengan
chrome. Ada juga yang terbuat dari chrome
secara keseluruhan. Biasanya memiliki
panjang 1,5 14 meter dengan diameter - 1
Rotor
Stat
inch.

or spiral, terbuat dari steel tube diluarnya


stator sebagai seal rotor (wadahnya) yang
berbentuk
dan elastomer berbahan nitrile rubber atau viton
rubber didalamnya. Stator dengan desain khusus
memiliki elastomer yang terbuat dari teflon.
Biasanya memiliki panjang yang kurang lebih
sama dengan rotor yaitu sekitar 1,5-14 meter
namun dengan ukuran diameter yang lebih besar
antara 2,5-4,5 inch. Stator
PERALATAN DI PERMUKAAN

Wellhead
Adaptor
Nipple Cross Over
BOP Drive Head
Flow tee Motor Support
pressure switch Reducer
Motor
Stuffing box.
WELL HEAD

Well head merupakan


peralatan kontrol sumur
di permukaan yang
terbuat dari besi baja
membentuk suatu
sistem seal/penyekat
untuk menahan
semburan atau
kebocoran cairan sumur
ke permukaan yang
tersusun atas casing
head (casing hanger)
dan tubing head (tubing
hanger).
ADAPTOR

Suatu alat yang yang


digunakan sebagai
penghubung atau alas
antara well head
dengan drive head
yang terletak diatas
well head. Selain itu
juga adaptor
digunakan sebagai
pencegah kebocoran
fluida dari well head
ke peralatan pompa
permukaan.
BOP

Fungsi utama dari blowout


prevention system adalah
menutup lubang sumur
ketika terjadi kick.
Blowout merupakan suatu
aliran fluida formasi yang
tak terkendalikan sampai
kepermukaan. Blowout
biasanya diawali dengan
adanya kick yang
merupakan suatu intrusi
fluida bertekanan tinggi
kedalam lubang bor. Intrusi
ini dapat berkembang
menjadi blowout bila tidak
segera diatasi
NIPPLE
Nipple adalah bagian dari sistem
tubing, dimana bagian dalamnya
mempunyai profil untuk
memasang alat kontrol aliran. Ada
dua macam jenis nipple, yaitu
jenis selective nipple dan jenis
non selective nipple (no go
nipple), yang mempunyai
diameter dalam sedikit lebih kecil
dari jenis yang selective. Jenis
selective bisa dipasang lebih dari
satu pada suatu rangkaian tubing,
sedangkan jenis non selective
hanya dipasang satu untuk setiap
sumur dan ditempatkan bagian
paling bawah dari susunan tubing.
PERALATAN DIATAS
PERMUKAAN
DRIVE HEAD

Drive head adalah alat yang


dipakai untuk memutar rod
di permukaan. Alat ini dapat
memutar secara horizontal
(vertical spindle drive, mesin
diletakan horizontal) atau
vertikal (vertical angle drive,
mesin diletakan vertikal) dan
ini dipakai bias spasi
terbatas seperti di offshore
misalnya. Adanya tambahan
gear untuk merubah gerak
menyebabkan righth angle
drive head lebih mahal.
Dianjurkan maksimum
putara 300 rpm.
PERALATAN DIATAS
PERMUKAAN
MOTOR

Motor dapat dipilih apakah


motor listrik atau motor
bakar bensin/gas/diesel
dari 1 sampai dengan 100
HP lebih. Dalam memilih
alat motor ini juga
diperlukan pertimbangan
mengenai pemilihan
diameter frames dan
sheave (pulli). Sheave ini
akan menentukan
kecepatan putar pompa,
yang harus diusahakan
agar di bawah 300 rpm. Ini
agar kerusakan peralatan
dapat dihindarkan
PERALATAN DIATAS
PERMUKAAN
SHEAVE ATAU PULLEYS

Sheave atau pulleys


dapat diganti-ganti
untuk mendapatkan
kecepatan putar yang
berbeda dengan
kecepatan motor yang pulleys
sama. Dengan ini laju
produksi bias diganti
kalau perlu. Ini adalah
salah satu keunggulan
pompa jenis ini, yang
fleksibel terhadap laju
aliran yang diinginkan.
PERALATAN DIATAS
PERMUKAAN
VSD (VARIABLE SPEED DRIVE)

Suatu alat yang


digunakan untuk
membaca semua
aktifitas pompa
baik dari
besarnya rpm
sampai besarnya
power yang ada
pada PCP
PERALATAN DIATAS
PERMUKAAN
PERALATAN BAWAH PERMUKAAN

Peralatan PCP dalam satu


kesatuan di ujung tubing
produksi dan dibenamkan ke
dalam fluida sumur.
CASING

Casing merupakan suatu


pipa baja berfungsi antara
lain untuk : Melindungi
formasi produktif dari
tekanan disekitarnya,
memisahkan formasi
produktif satu dengan yang
lainnya, mempermudah
pengaliran fluida dari
formasi produktif. Casing
dipasang pada lubang
sumur formasi produktif
bersamaan dengan tubing
untuk mempermudah aliran
fluida dari formasi produktif
ke permukaan
PERALATAN BAWAH
PERMUKAAN
TUBING
Merupakan pipa alir
vertikal yang ditempatkan
di dalam casing produksi
yang berfungsi untuk
mengalirkan fluida produksi
sumur ke permukaan atau
mengalirkan fluida injeksi
ke dalam sumur. Disamping
itu, tubing dapat pula
digunakan dalam pekerjaan
swabing, squeeze
cementing, sirkulasi
pembersihan sumur dan
mengalirkan fluida serta
material peretak hidraulis
dan pengasaman. PERALATAN BAWAH
PERMUKAAN
ROD CENTRALIZER

Rod centralizer
adalah rotasional
yang digunakan
dalam tubing
atau berada
pada sucker rod
yang berupa
batang yang bisa
digunakan
sebagai putaran
PERALATAN BAWAH
pada centralizer. PERMUKAAN
SUCKER RODS

Sucker rods merupakan


batang pipa yang
digunakan untuk
menghubungkan rangkaian
pipa ke permukaan. Rod
atau stang yang digunakan
harus cukup kuat untuk
memutar pompanya. Untuk
itu hanya dianjurkan
penggunaan rod API Class
D 5/8, 3/4, 7/8, dan
1.Sucker rod ini terletak
didalam tubing dan diatas
rangkaian PCP (rotor,
stator dan elastomer).

PERALATAN BAWAH
PERMUKAAN
ROTOR

Rotor sebagai
penggerak PCP,
berbentuk batang
spiral yang terbuat dari Rotor
alloy steel atau
stainless steel yang
dibalut dengan chrome.
Ada juga yang terbuat
dari chrome seara
keseluruhan. Biasanya
PERALATAN BAWAH
memiliki panjang 1.5
PERMUKAAN
14 meter dengan
diameter - 1 inch
STATOR
Stator sebagai seal rotor (wadahnya)
yang berbentuk spiral, terbuat dari
steel tube diluarnya dan elastomer
berbahan nitrile rubber atau viton
rubber didalamnya (merupakan co-
polymer acrylonitrile & butadine).
Stator dengan desain khusus
memiliki elastomer yang terbuat
dari teflon. Biasanya memiliki
panjang yang kurang lebih sama
Stato
dengan rotor yaitu sekitar 1.5-14 r
meter namun dengan ukuran
diameter yang lebih besar antara PERALATAN BAWAH
2.5-4.5 inch. Desain PC Pump PERMUKAAN
terdiri dari single external helical
gear (rotor) yang berputar secara
ekesentrik didalam double internal
helical gear (stator). Keduanya
sama-sama memiliki minor dan
major diameter.
STOP BUSHING

Suatu alat penahan rotor

Stop Bushing
TORQUE ANCHOR

Torque anchor
merupakan alat
penahan yang
ada pada PCP
stator atau
tubing dari
putaran torsi.

PERALATAN
BAWAH
PERMUKAAN
KEUNTUNGAN PCP

1. Desain pemasangan
peralatan yang
cukup sederhana
2. Tidak terjadi gas lock
3. Mampu mengangkat
hampir keseluruhan
jenis oil (sekitar 5-42
API)
4. Penggunaaan energi
yang efisien
KEKURANGAN PCP

1. Kekurangan PC Pump terletak pada rentannya


dengan temperature yang tinggi. Batas maksimum
suhu tertinggi adalah 250 F.
2. Sensitif terhadap tekanan yang berlebihan
3. Tidak kompatibel dengan beberapa chemical, H2S
& oil gravity yang tinggi.
4. Kedalaman yang bisa dicapai sekitar 6000 ft.
Sangat rendah bila dibandingkan dengan ESP &
gas lift yang mencapai 15.000 ft.
5. Flow rate PC pump hanya sekitar 8000 bpd. Sangat
rendah bila dibandingkan dengan ESP yang
mencapai 50.000 bpd & Gas Lift yang mencapai
80.000 bpd. (Dunia Migas).
DASAR DESAIN PCP
Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam
perhitungan desain PCP karena dengan
desain yang tepat maka kerja pompa akan
menjadi maksimal. Adapun hal-hal yang
diperhitungkan adalah:
A. IPR
B. Static Fluid Level (SFL, ft)
C. Working Fluid Level/Operating Fluid Level (WFL, ft)
D.Pump Setting Depth Minimum, maksimum, optimum
E. Efficiensi pompa
F. Sistem Desain Volume
G.Sistem Desain Tekanan
H. Penentuan Toque Dan Power yang diperlukan
IPR
STATIC FLUID LEVEL (SFL, FT)

Apabila sumur dalam keadaan


mati (tidak diproduksikan),
sehingga tidak ada aliran, maka
tekanan di depan perforasi sama
dengan tekanan statik sumur.
Sehingga kedalaman permukaan
fluida di Ps annulus
Pc
(SFL, ft)
: perf Gf Gf , feet
SFL Dmid
adalah

WORKING FLUID LEVEL/OPERATING
FLUID LEVEL (WFL, FT)
Bila sumur diproduksikan dengan rate produksi
sebesar q (bbl/D), dan tekanan alir dasar sumur
adalah Pwf (Psi), maka ketinggian (kedalaman
bila diukur dari permukaan) fluida di annulus
adalah :
Keterangan :
SFL = Static Fluid Level, ft
WFL = Working Fluid Level, ft
Pwf Pc Ps = Tekanan Statik sumur, psi
WFL Dmidperf , feet Pwf = Tekanan alir dasar sumur, psi
Gf Gf
q = Rate produksi, B / D
D = Kedalaman sumur, ft
Pc = Tekanan di casing, psi
Gf = Gradien Fluida sumur, psi/ft
PUMP SETTING DEPTH MINIMUM,
Posisi minimum dalam waktu yang singkat
akan terjadi pump-of, oleh karena
ketinggian fluida level di atas pompa relatif
sangat kecil atau pendek sehingga gas
yang akan dipompakan. Pada kondisi ini
Pump Intake Pressure (PIP) akan menjadi
kecil. Jika PIP mencapai harga di bawah Pb,
maka akan terjadi penurunan effisiensi
volumetric dari pompa (disebabkan
terbebasnya gas dari larutan). PSD
minimum dapat ditulis dengan persamaan :

Pc
PSDmin WFL
Gf
PUMP SETTING DEPTH MAKSIMUM

Posisi maksimum juga


kedudukan yang kurang
menguntungkan karena keadaan
ini memungkinkan terjadinya
overload, yaitu pengangkatan
beban kolom fluida yang terlalu
berat. PSD maksimum dapat
didefinisikan : Pc
PSD D
max Gf

PUMP SETTING DEPTH OPTIMUM

PSD optimum ini dipengaruhi


oleh terbuka dan tertutupnya
casing head yang mana akan
mempengaruhi tekanan casing
atatu tekanan yang bekerja pada
permukaan dari fluida di
annulus. Hal ini akan
kedalamanPompaOptimum
mempengaruhi WFL ( PIP
besarnya Pc / Gf )
suction
head dari pompa.
EFISIENSI POMPA

Untuk mengetahui Kinerja


pompa dan keberhasilan pompa
kita perlu mengetahui efisiensi
pompa dengan persamaan:
EfficiencyPumps (Qactual / RPMx7.54)100%
SISTEM DESAIN VOLUME
Desain laju fluida dengan
memaksimalkan kecepatan dimana
pompa harus mengoperasikan :

100 Qactual
Qdesain
n
Dimana :
Qdesain = Desain kecepatan pompa (m /day atau
bbl/day)
Qactual = Kecepatan sebenarnya (m /day atau
bbl/day)
n = Effisiensi volum pompa
SISTEM DESAIN VOLUME (LANJUTAN)

Desain kecepatan fluida lebih besar


disbanding kecepatan sebenarnya. Untuk
menghitungnya dengan menggunakan rumus :

Qdesain
V min
N
Dimana :
Vmin = pemindahan minimum pompa yang diperlukan
(m3 /day atau bbl/day)
Qdesain = Desain kecepatan pompa (m3 /day atau bbl/day)
N = kecepatan pompa berputar (RPM)
SISTEM DESAIN TEKANAN
Supaya sesuai minimum tekanan yang
diperlukan dapat dihitung dengan mengetahui
net lift yang diperlukan pada pompa dan
perbedaan antara discharge dengan tekanan
intake. Persamaannya sebagai berikut :

Plift = Pdischarge - Pintake

Dimana :
Plift = Net lift yang diperlukan ( Kpa atau Psi )
Pdischarege = tekanan pompa saat mati (Kpa atau Psi)
Pintake = Tekanan intake pompa (Kpa atau Psi)
SISTEM DESAIN TEKANAN(LANJUTAN)
Tekanan intake pompa dapat dihitung dengan
mengetahui besarnya tekanan casing head,
tekanan kolom gas dan fluida yang seharusnya
berada diatas intake casing dan tekanan tubing
dianulus. Sehingga untuk menghitungnya
dapat menggunakan persamaan berikut:

Pintake = Pchp + Pgas + Pliquid


Dimana :
Pintake = tekanan intake pompa ( Kpa atau Psi )
Pchp = Tekanan casing head ( Kpa atau Psi )
Pgas = Tekanan kolum gas ( Kpa atau Psi )
Pliquid = Tekanan kolum likuid ( Kpa atau Psi )
SISTEM DESAIN TEKANAN(LANJUTAN)
Tekanan discharge pompa dapat ditentukan
dengan mengetahui data tekanan tubing head,
kehilangan tekananan pada tubing dan tekanan
hidrostatik yang sesuai pada kolum fluida pada
tubing. Maka didapat persamaan :

Pdischarge = Pthp + Pliquid + Plosses

Dimana :
Pdischarege = tekanan pompa saat mati (Kpa atau Psi)
Pliquid = Tekanan kolum likuid ( Kpa atau Psi )
Pthp = Tekanan tubing head (Kpa atau Psi)
P losses = kehilangan aliran pada tubing ( Kpa atau
Psi )
SISTEM DESAIN TEKANAN(LANJUTAN)
Untuk menghitung tekanan kolum dapat
dihitung dengan peramaan sebagai
berikut :
Pcoloum = HC

Dimana :
P colum = tekanan kolum fluida atau gas (Kpa atau
Psi)
H = Tinggi kolum vertical (m atau ft)
= density fluida atau gas (kg/m3 or lbs/ft3)
C = konstanta (SI: 9.81E-3 Imperial: 6.94E-3)
PENENTUAN TOQUE
Hidrolik torsi adalah bagian dari tekanan
defferential dan kemampuan pompa untuk
memindahkan fluida. Torsi ini dapat
ditentukan dengan menggunakan peramaan
sebagai berikut :
Thidroulik = C V Plift

Dimama :
Thidrolik = Torsi pompa hidrolik (N.m or ft.lbs)
V = kemampuan pompa untuk memindahkan
(m3/day/rpm atau bbls/day/rpm)
Plift = Pemindahan pompa diferensial (Kpa atau Psi)
C = konstanta (SI: 0.111 Imperial: 8.97E-2)
PENENTUANTOQUE(LANJUTAN)
Ttotal = Thidrolik + Tfriction

Dimana :
Ttotal = total torsi pada pompa (N.m atau
ft.lbs)
Tfriction = total friksi pada pompa (N.m atau
ft.lbs)
POWER
Power yang diperlukan oleh pompa itu
merupakan fungsi dari total torsi pada
pompa yang dapat dihitung dengan
persamaan berikut:

Ppump = CTtotalN Q x TDH x SG


HHP
135770

Dimana :
Ppump = Power pompa (kW atau hp)
Ttotal =Total torsi yang terjadi pada pompa (N.m
atau ft.lbs)
N = kecepatan pompa berputar (RPM)
C = konstanta (SI: 1.05E-4 Imperial: 1.91E-4)
TIPE-TIPE POMPA
TIPE-TIPE POMPA
PERMASALAHAN & PEMECAHAN