Anda di halaman 1dari 34

PERSIAPAN MEMBANGUN SMK3

TINJAUAN AWAL
PEMBENTUKAN TIM PENERAPAN SMK3
Dapat diselesaikan dan berkoordinasi langsung dengan baik diantara
organisasi yang terkait.

TUGAS POKOK
Meninjau kondisi unit kerja terhadap pelaksanaan K3 di unit kerjanya.
Mengetahui peraturan dan perundangan yang berlaku
Membuat SMK3 agar dapat dilaksanakan sesuai dengan Keputusan Menteri
Mensosialisasikan kesemua pihak bahwa SMK3 sudah harus dilaksanakan /
implementasikan
Meninjau ulang kembali apakah yang dibuat sudah sesuai dengan kondisi
lapangan dan persaratan serta peraturan perundangan yang telah ditetapkan.
Melakukan revisi / perbaikan dari hasil peninjauan ulang pelaksanaan SMK3
Mengawasi pelaksanaan dilapangan sehingga tercapainya tujuan membangun
SMK3.

KOMPETENSI TIM
Kompetensi anggota dalam tim perlu juga diketahui sejauh mana dapat
membantu pelaksanaan tugas dan akan lebih baik dari semua bidang yang
ada dalam organisasi unit ada yang mewakili / dilibatkan minimal pada
bidang-bidang yang memiliki resiko bahaya tinggi
ORGANISASI TIM TINJAUAN AWAL

MANAJER REPRESENTATIF sebagai


Penasehat
KETUA PELAKSANA merangkap anggota
WAKIL KETUA merangkap anggota
SEKRETARIS merangkap anggota
ANGGOTA terdiri beberapa orang
disesuaikan dengan kebutuhan
TUJUAN TINJAUAN AWAL

Melihat sejauh mana penerapan dan kinerja


Keselamatan dan Kesehatan Keja ( K3 ) di tempat
kerja dibandingkan dengan permintaan Sistim
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (
SMK3 ) serta ketentuan peraturan perundangan
yang berlaku

Sebagai bahan masukan dalam membngun,


merencanakan, pelaksanaan dan pengembangan
Sistim Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja ( SMK3 )
PENCAPAIAN PENERAPAN K3 DITEMPAT KERJA
DENGAN SMK3

akan tercapai bila didukung oleh beberapa kualifikasi


antaralain:
Dalam pencapaian tujuan K3 harus mempunyai dan
menunjuk serta membentuk Sumberdaya Manusia (
SDM ) / personel yangmempunyai kemampuan /
Kompentensi, konsultasi / komunikasi, motivasi,
kesadaran tanggung jawab dan wewenang
Begitu pula dengan sarana dan dana
Memiliki kemampuan memahami bahwa peraturan
dan perundangan serta standar-standar yang berkaitan
dengan K3
Serta keintegrasian antara sistim-sistim yang lain di
tempat kerja
PERATURAN PERUNDANGAN K3 YANG BERLAKU

Tempat kerja harus dapat menerapkan dan memelihara peraturan perundangan dan
persyaratan lainya maka perlu di iventarisasi, identifikasi dan pemahaman serta dapat
menjelaskan kepada setiap tenaga kerja yang berkaitan dengan K3 sesuai dengan kegiatan
perusahaan yang bersangkutan. Antara lain adalah :

undang-undang No1. tahun 1970 tentang Tenaga Kerja


Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No Kep.75/MEN/2002 tentang
Pemberlakuan SNI noSNI .04.0225-2000 Mengenai persyaratan Umum Intalasi Listrik 2000 (
PUIL 2000 ) di tempat kerja.
Keputusan menteri Tenaga Keja RI No Kep-186/MEN/1999 tentang Penangulangan Kebakaran
di Tempat Kerja.
Peraturan Meteri Tenaga Kerja RI No Per- 02/MEN/1992 tentang Tata Cara Penunjukan,
Keawjiban dan Wewenang Ahli K3
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No Kep.04/MEN/2002 tentang
Surat Keputusan Direksi, surat edaran Direksi PLN dan lainsebagainya yang mengatur
Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( K3 ) untuk karyawan maupun untuk Perusahaan.
Peraturan daerah setempat yang mengatur tentang / terkai dengan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja
Standar-standar yang dapat mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja ( K3 ) dan lain
sebagainya
HASIL TINJAUAN AWAL DALAM MERENCANAKAN DAN
PENGEMBANGAN SMK3

akan digunakan untuk merencakan dan pengembangan


SMK3 oleh karena itu perencanaan yang efektif guna
pencapaian keberhasilan penerapn dan kegiatan SMK3
dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur.
Perencanaan harus memuat tujuan, sasarandan
indikator kinerja yang diterapkan dengan
mempertimbangkan identifikasi sumber bahaya,
penilaian dan pengendalian resiko sesuai dengan
persyartan perundangan yang berlaku serta hasil
pelaksanaan tinjauan awal terhadap Keselamatan dan
Kesehatan Kerja ( K3 )
LANGKAH-LANGKAH MELAKUKAN TINJAUAN AWAL
Bentuk Tim SMK3
Ketahui tujuan dan sasaran unit kerja serta menentukan standar-standar yang ingin dicapai
Ketahui peraturan perundangan dan standar yang diperlukan dalam pencapaian K3 yang aman,
nyaman dan produktif
Ketahui dengan melakukan kunjungan ke lokasi kerja untuk mengamati dan mengetahui kondisi K3
sampai sejauah mana yang telah dapat dilakukan dalam pelaksanaan K3 unit kerja saat itu.
Ketahui Keistimewaan tempat kerja
Ketahui proses dan waktu kerja pada unit kerja
Lakukan identifikasi sumber bahaya kondisi unit kerja terhadap resiko bahaya yang dapat terjadi
Lakukan penilaian sumber bahaya
Lakukan langkah pencegahan resiko bahaya tersebut
Menganalisa sebab akibat dari data / cacatan K3 atau kejadian yang sudah pernah terjadi, baik
insiden, eksiden dan resiko akan terjadi dari keadaan tersebut.
Tentukan komitmen dan tuangkan dalam Kebijakan SMK3 yang akan dilaksanakan
Buat perencanaan efektif guna mencapai keberhasilan dalam penerapan SMK3 dengan sasaran
yang jelas dan dapat diukur terhadap tujuan dan indikator kinerja yang ditetapkan
Mendiskusikan pembentukan kebijakan untuk dapat menjadi tolak ukur pencapaian pelaksanaan K3
diunit kerjanya
Rencanakan program pelaksanaan pencegahan/ pengendalian resiko bahaya sesuai hasil identifikasi
resiko bahaya, dan penilaiannya
Membuat pedoman pelaksanaan SMK3 berupa dokumen-dokumen untuk menjaga pelaksanaan
dapat terkendali dan konsisten, yaitu Pedoman SMK3, Prosudur / SOP dan Istruksi Kerja / IKA serta
Formulir atau catatan / recodd serta dokumen-dokumen tersebut harus dapat di Integrasikan /
digabungkan dengan sistem manajemen yang sudah ada, jangan dipisahkan
HAL-HAL YANG DITINJAU
STRUKTUR YANG DIBUTUHKAN K3 SESUAI PERATURAN PERUNDANGAN
P2K3 ( Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja ) ini berfungsi sebagai pembina
agar K3 di unit kerja berjalan dengan baik yang diketuai oleh top manajemen dan seketaris
yang telah mendapatkan pelatihan ahli K3 umum
TIM EVAKUASI yaitu Tim Kerja yang mampu melakukan evakuasi tenaga keja, tamu, dokumen
dan peralatan atau barang berharga dari situasi kerjadian yang berbahaya pada unit kerjanya.
TIM P3K adalah tim kerja yang dapat mampu melakukan pertolongan pertama pada
kecelakaan apabila situasi terjadinya kecelakaan pada unit kerjanya
TIM TANGGAP DARURAT yaitu Tim Kerja yang mampu melakukan tanggap darurat apabila
situasi kerjadian yang berbahaya pada unit kerjanya untuk melakukan pencegahan /
mengurangi resiko yang akan timbul
TIM PEMADAM KEBAKARAN yaitu Tim Kerja yang mampu melakukan memadamkan
kebakaran dari situasi kerjadian kebakaran pada unit kerjanya.
TIM INVESTIGASI yaitu Tim Kerja yang mampu melakukan investigasi dari situasi kerjadian
pada unit kerjanya sehingga didapat data dan fakta untuk penyelidikan sebab akibat dari
kejadian tersebut
PENGAMANAN yaitu Tim Kerja yang mampu melakukan pengamanan tenaga keja, tamu,
dokumen dan peralatan atau barang berharga dari situasi kerjadian yang berbahaya pada unit
kerjanya sehingga tidak timbul kerugian tambahan dan resiko baru.
Dan Tim lainya bila diperlukan dalam melaksanakan SMK3 yang baik dan teratur sehingga
tercapai tujuan perusahaan
Bentuk Usaha Tempat Kerja

Usahanya unit kerja


Besarnya unit kerja
Luasan unint kerja
Organisasi unit kerja
Visi misi unit usaha
Target-target tempat usaha
MEISTIMEWAAN TEMPAT KERJA
Setiap perusahaan mungkin saja ada hal-hal yang menjadi istimewa
dalam suatu proses dari bahan baku sampai dengan produk jadi ini
dijadikan perhatian khususnya dalam melihat resiko bahaya. akan
mengetahui memperbuat perlakuaan pencegahan penangulangan
sehingga resiko bahaya tersebut dapat dikendalikan

Hal-hal istimewa dalam proses tersebut seperti dibawah ini :


Bahan Baku ( bensin, solar, uranium, minyak tanah, gas, dll )
Peralatan dalam proses ( Ketel Uap, Generator, PMT, kompresor,
alat angkat angkut, ban berjalan dll )
Produk ( Tenaga listrik, kendaraan, makanan, minuman dll )
Pengangkutan atau pendistribusian ( bobil tangki bahan bakar,
kimia, gas, listrik, dll )
Penyimpanan atau pergudangan ( bahan bakar, kimia, gas,
kendaran, makanan, minuman dll )
KONDISI TEMPAT KERJA

Kondisi tempat kerja yang perlu di lihat adalah apakah


tempat tersebut sudah memenuhi standar atau
perundangan yang berlaku sehingga nantinya akan
diketahui bahwa tempat tersebut tidak aman dan nyaman
serta efektif misalnya :
Bahan baku ( tempat, jumlah, posisi, pemindahannya dll )
Proses ( urutan proses, argonomic, macam peralatan dll )
Penyimpan atau gudang ( penempatannya, luasan, posisi
dll )
Angkat angkutnya ( Pesawat angkat angkut, forklif,
kendaran dll )
Lingkungan Kerja ( Masyarakat sekitar, karyawan,
pengamanan, alam dll )
PROSES KERJA
Perusahan apapun tentu ada suatu sistim proses
kerjanya dalam mengoperasikan atau aktivitas yang
telah diatur dan dijalankan yang merupakan ketentuan
baik dari pihak manajemen dan operasional digunakan,
sehingga didapat suatu hasil yang diharapkan oleh
pimpinan puncak.
Agar tidak menjadi maslah ( resiko bahaya )
dikemudian hari maka perlu dilakukan peninjauan awal
terhadap proses kerja yang ada dengan menetapkan
prosedur untuk mengkoordinir situasi dimana jika tidak
ada prosudur tersebut menyebabkan penyimpangan
kebijakan dan tujuan K3
PT PLN
(Persero)
UDIKLAT
BOGOR

IDENTIFIKASI
ADALAH SUATU USAHA UNTUK
MENGETAHUI, MENGENAL DAN
MEMPERKIRAKAN ADANYA
BAHAYA PADA SUATU SISTEM
TUJUAN
SEBAGAI PEDOMAN UNTUK
MENGETAHUI POTENSI,
PENILAIAN DAN
MENGENDALIKAN RESIKO
BAHAYA DALAM KEGIATAN
BAHAYA (HAZARD)

SUATU KEADAAN YANG BERPOTENSI


MENGAKIBATKAN RESIKO KERUGIAN
KERUSAKAN ALAT
KEHILANGAN PRODUKSI
KEHILANGAN JIWA
DLL
PT PLN (Persero) IDENTIFIKASI BAHAYA-5
UDIKLAT BOGOR

ASAL BAHAYA
MANUSIA
LINGKUNGAN
PERALATAN
BAHAN
PT PLN (Persero) IDENTIFIKASI BAHAYA-6
UDIKLAT BOGOR

JENIS BAHAYA
1. FISIKA
- BAHAYA MEKANIS
(KINETIC HAZARD, STATIC HAZARD)
- FISIKA MURNI (NON MEKANIS)
* SUHU * LISTRIK
* TEKANAN * KELEMBABAN
* DEBU

2. KIMIA (BAHAN PADAT, CAIR, GAS)


3. BIOLOGI (BINATANG BERBISA, BINATANG BUAS, TUMBUH-
TUMBUHAN BERBISA / JAMUR, BAKTERI / VIRUS)
4. ERGONOMI (ANATOMI, FISIOLOGI)
5. FSIKOLOGI (STRESS, KESEIMBANGAN JIWA TERGANGGU)
PT PLN (Persero) IDENTIFIKASI BAHAYA-7
UDIKLAT BOGOR

TANDA - TANDA ADANYA BAHAYA


1. RIWAYAT INSIDEN / KECELAKAAN
HUMAN ERROR, KERUSAKAN ALAT, KESALAHAN PROSEDUR,
LINGKUNGAN, DLL

2. GEJALA ADANYA BAHAYA


BERUPA : INSIDEN BERULANG, OPERASI TERPUTUS, BIAYA YANG
BERLEBIHAN, PEMAKAIAN TENAGA YANG BERLEBIHAN, BANYAK BAHAN
YANG TERBUANG, KELUHAN KARYAWAN, KELUHAN MASYARAKAT,
PROSEDUR TAK KARUAN (INTERPERENCE), CATATAN RUMAH SAKIT,
KETERHAMBATAN ATAU PENUNDAAN-PENUNDAAN)

3. LANGSUNG DIKETAHUI POTENSINYA


PERALATAN / SISTEM YANG MEMANG SUDAH JELAS POTENSI BAHAYANYA,
WALAUPUN BAHAYA ITU TAK PERNAH MENGAKIBATKAN KECELAKAAN
PT PLN (Persero) IDENTIFIKASI BAHAYA-4
UDIKLAT BOGOR

PERANAN BAHAYA TERHADAP KECELAKAAN


1. BAHAYA MULA (INITIATING HAZARDS)
BAHAYA YANG MENJADI ASAL MULA YANG MEMUNGKINKAN
TIMBULNYA BAHAYA PENUNJANG DAN BAHAYA PRIMER
2. BAHAYA PENUNJANG (CONTRIBUTORY HAZARDS)
BAHAYA YANG MENUNJANG MENDUKUNG ATAU YANG
MENJADI PERANTARA TIMBULNYA BAHAYA PRIMER SETELAH
ADANYA BAHAYA PEMULA
3. BAHAYA PRIMER (PRIMARY HAZARDS)
BAHAYA YANG LANGSUNG MENJADI SEBAB TIMBULNYA
KECELAKAAN MAUPUN KERUGIAN (LOSS)
PT PLN (Persero) IDENTIFIKASI BAHAYA-16
UDIKLAT BOGOR

POTENSI BAHAYA
DITENTUKAN OLEH 3 ASPEK :
1. KEPARAHAN DARI KECELAKAAN
KATEGORI I
KATEGORI II
KATEGORI III
KATEGORI IV
2. KESERINGAN BAHAYA MENIMBULKAN KECELAKAAN :
KALIS (REMOTE), LANGKAH (RANDOM)
JARANG (SELDO, OCCASIONAL)
KRONIS (CHRONIC)
3. JENIS BAHAYA.
MAKIN BANYAK BAHAYA, MAKIN BANYAK JENIS KECELAKAAN
YANG DAPAT TERJADI.
TAHAPAN KEGIATAN IDENTIFIKASI
1. MENELUSURI SUMBER BAHAYA
2. MENGENALI BAHAYA POTENSIAL
3. MENENTUKAN POTENSI BAHAYA
4. MENENTUKAN BIAYA DAN PRIORITAS

GUNA MENGETAHUI, MENGENAL DAN MEMPER-


KIRAKAN ADANYA BAHAYA PADA SUATU SISTEM
DENGAN CARA :
MELIHAT / MENGAMATI TEMPAT KERJA
MENGETAHUI PROSES PERALATAN
URUTAN AKTIVITASNYA PROSEDUR
MENGETAHUI PERATURAN DAN PERUNDANGAN
KEMUNGKINAN SEBAB-SEBAB DAN AKIBATNYA
PT PLN (Persero) IDENTIFIKASI BAHAYA-3
UDIKLAT BOGOR

MANFAAT IDENTIFIKASI BAHAYA


1. MENGETAHUI BAHAYA-BAHAYA YANG ADA
2. MENGETAHUI POTENSI BAHAYA TERSEBUT, BAIK
AKIBAT MAUPUN FREQUENSI TERJADINYA
3. MENGETAHUI LOKASI BAHAYA
4. MENUNJUKAN BAHWA BAHAYA-BAHAYA TERTENTU
TELAH DIBERIKAN PERLINDUNGAN
6. ANALISIS LEBIH LANJUT
MENILAI HASIL IDENTIFIKASI
Oleh petugas yang ditunjuk di tempat / area kerja
dengan cara membuat matrik penilaian resiko sebagai
berikut :
1. Membuat daftar korelasi antara peluang dan
akibat.
2. Menentukan penilaian akibat resiko bahaya yang
diperkirakan timbul sesuai tabel yang ditetapkan
3. Menentukan klasifikasi peluang yang diperkirakan
timbul.
4. Menilai korelasi antara peluang dan akibat.
METRIK ANTARA PELUANG DAN AKIBAT DARI IDENTIFIKASI

AKIBAT KETERANGAN
PELUANG 1 2 3 4 5
A H H E E E E = Extreme Risk
B M H H E E H = High Risk
C L M H E E M = Moderate Risk
D L L M H E L = Low Risk
E L L M H H

Peluang Akibat
A = hampir pasti akan terjadi/almost 1 = tidak ada cedera, kerugian materi kecil
certain 2 = cedera ringan/P3K, kerugian materi
B = cenderung untuk terjadi/likely sedang
C = mungkin dapat terjadi 3 = hilang hari kerja, kerugian cukup besar
D = kecil kemungkinan terjadi/unlikely 4 = cacat, kerugian materi besar
E = jarang terjadi/rare 5 = kematian, kerugian materi sangat besar
PT PLN (Persero) IDENTIFIKASI BAHAYA-8
UDIKLAT BOGOR

BERBAGAI UPAYA PENGENDALIAN


RESIKO
1. ELIMINATE (MENGHILANGKAN)
2. REDUCE (MENGURANGI)
3. ACCEPT / RETAIN (MENERIMA / MENAHAN )
4. TRANSFER (MEMINDAHKAN)
PT PLN (Persero) IDENTIFIKASI BAHAYA-15
UDIKLAT BOGOR

PROGRAM PENGENDALIAN BAHAYA


MEMPERBAIKI RANCANGAN :
ORGANISASI
SISTEM / PROSEDUR KERJA
BANGUNAN
LAY OUT RUANG
PERLENGKAPAN KERJA
MEMPERBAIKI SISTEM PERLINDUNGAN :
MANUSIA
LINGKUNGAN FISIK (BANGUNAN, RUANGAN, DAN PERLENGKAPAN KERJA)
MENINGKATKAN KUALITAS SDM : PELATIHAN, MOTIVASI, PENGAWASAN
PRINSIP PENGENDALIAN
BAHAYA :

SEGERA DAN KONTINYU, INGAT BAHAYA


MERUPAKAN RESIKO MURNI DARI SETIAP
KEGIATAN MANUSIA
PT PLN (Persero) IDENTIFIKASI BAHAYA-17
UDIKLAT BOGOR

METODE KARTU IDENTIFIKASI


DIGUNAKAN OLEH MEREKA YANG MEPUNYAI DAYA
ANALISIS TERHADAP BAHAYA-BAHAYA YANG ADA
SEPERTI :
PENGAWAS
PETUGAS K3
PETUGAS LAIN YANG DITUNJUK
PT PLN (Persero) IDENTIFIKASI BAHAYA-9
UDIKLAT BOGOR

CONTOH KARTU IDENTIFIKASI BAHAYA


KARTU IDENTIFIKASI BAHAYA No. :
PEMBUAT : TGL :
SISTEM / OPERASI : LOKASI :
URAIAN BAHAYA :

PENANGGULANGAN :

KEPARAHAN KESERINGAN BIAYA PRIORITAS PERBAIKAN

MENGGANGGU KALIS AMAT BESAR DITANGGUHKAN


TERBATAS LANGKA BESAR ANALISA

KRITIS JARANG SEDANG SEGERA


BENCANA KRONIS NOMINAL TANGGAL

BERILAH TANDA PADA KOLOM YANG ANDA PILIH


PENCEGAHAN RESIKO BAHAYA.
Prinsip pencegahan resiko bahaya bahaya
Segera dan kontinyu, ingat bahaya merupakan resiko murni dari setiap kegiatan
manusia
Pencegahan resiko bahaya adalah untuk dapat mengupayakan resiko bahaya
tersebut sekecil mungkin ( mengurangi ), menahan, memindahkan bahkan
untuk dihilaangkan dengan melakukan Program pengendalian resiko bahaya
Unit kerja harus merencanakan dan mengatur serta mengendalian kegiatan-
kegiatan, produk barang dan jasa yang dapat menimbulkan risiko kecelakaan kerja
yang tinggi.
Hal ini dapat dicapai dengan mendokumentasikan dan penerapankan kebijakan
standar bagi tempat kerja, perancangan pabrik dan bahan, prosedur, dan instruksi
kerja untuk mengatur serta mengendalikan kegiatan produk barang dan jasa
Pengendalian risiko kecelakaan dan penyakit kerja dilakukan dengan metode ;
Pengendalian tehnis / rekayasa yang meliputi eliminasi, substitusi, isolasi, ventilasi, higiene,
dan sanitasi
Pendidikan dan pelatihan.
Pembangunan kesadaran dan motivasi yang meliputi sistim bonus, insentif, penghargaan dan
motivasi diri.
Evaluasi melalui internal audit, penyelidikan insiden dan etiologi.
Penegakkan hukum.
LANGKAH RENCANA MEMBANGUN SMK3
Secara umum diperlukan langkah-langkah pelaksanaan dalam membangun sistim
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.
Tinjauan awal
Penyusunan organisasi
tinjauan data awal
training pengenalan SMK3.
training perancangan dan pengembangan SMK3
bimbingan identifikasi bahaya dan penilaian resiko
pembuatan kebijakan, tujuan, target dan program SMK3
Perancangan dan pengembangan dokumen SMK3
Sosialisasi dokumen dan penerapannya.
pelatihan audit internal
review dokumen, implementasi SMK3 melalui audit internal
melakukan corrective dalam rangka perbaikan pencegahan akan terulang kembali
ketidaksesuain tersebut.
tidakan perbaikan
sertifikasi