Anda di halaman 1dari 27

Obat-obatan Anastesi

Annisa Arrum Sari

Pembimbing : dr. Yalta Hasanudin, Sp.An

Kepaniteraan Klinik Stase Anastesi RS Bhayangkara TkIII Bengkulu


Fakultas kedokteran Universitas Bengkulu
2017
 Anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver
Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.
 Anestesi merupakan kata yang berasal dari
bahasa Yunani an"tidak, tanpa" dan
aesthetos, "persepsi, kemampuan untuk
merasa", yang secara umum berarti suatu
tindakan menghilangkan rasa sakit ketika
melakukan pembedahan
 Menghilangkan nyeri secara sentral disertai
dengan hilangnya kesadaran dan bersifat
pulih kembali
 Hipnotik/sedasi
 Analgesia
 Muscle relaxant
 Anamnesis
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan penunjang
 Premedikasi
Pemberian obat premedikasi bertujuan:
a) Menimbulkan rasa nyaman pada pasien
(menghilangkan kekhawatiran, memberikan
ketenangan, membuat amnesia, memberikan
analgesi)
b) Memudahkan/memperlancar induksi, rumatan,
dan sadar dari anestesi
c) Mengurangi jumlah obat-obatan anestesi
d) Mengurangi timbulnya hipersalivasi, bradikardi,
mual, dan muntah pasca anestesi
e) Mengurangi stress fisiologis (takikardia, nafas
cepat, dll)
f) Mengurangi keasaman lambung
 Morfin
Dosis premedikasi dewasa PO 2,5-20 mg (0,1-0,2
mg/kgBB) intramuskular. Diberikan untuk
mengurangi kecemasan, ketegangan pasien
menjelang operasi, dan nyeri dari penyakitnya agar
anestesi berjalan dengan tenag dan dalam.
Atropin
 Diberikan untuk mencegah hipersekresi
kelenjar ludah dan bronkus selama 90 menit.
Dosis 0,4-1 mg intramuskular bekerja setelah
10-15 menit. Onset 5-40 menit.durasi 1-2
jam.
Simetidin : 600 mg, Ranitidin : 150 mg

 menurukan asam lambung


Diazepam
 Diazepam merupakan golongan
benzodiazepin. Pemberian dosis rendah
bersifat sedatif sedangkan dosis besar
hipnotik.

 Dosis premedikasi dewasa 10 mg


intramuskular atau 5-10 mg oral (0,2-0,5
mg/kgBB) dengan dosis maksimal 15 mg.
 Adalah tindakan untuk membuat pasien dari
sadar menjadi tidak sadar, sehingga
memungkinkan dimulainya anestesai dan
pembedahan.
 Induksi dapat dikerjakan secara intravena,
inhalasi, intramuskular atau rektal.
Propofol
Farmakokinetik:
 Dosis 2-3 mg /Kg BB.

 Suntikan propofol IV menyebabkan nyeri (vena kecil),


sehingga 1 menit sebelumnya diberikan
lidokain1mg/kg BB secara IV
 Onset kerja 30-45 sec dan pulih sadar cepat

 Lama aksi: 5-10 menit

 Efek puncak: 1 menit

 Metabolisme di hepar, eksresi di ginjal

Farmakologi:
Merupakan suatu hipnotik intravena
menimbulkaninduksi
anestesi yg cepat & eliminasi yg cepat.
2. Ketamin (ketalar)
Farmakokinetik
 Dengan dosis 1-2 mg /kgBB.
merupakan analgetik kuat tapi anastesia
disosiasi pasca anastesi sering menimbulkan
halusianasi, sehingga digunakan sedativa
midazolam 0,1 mg/kgBB (dormikum)
 Tidak dianjurkan pada pasien dengan TD tinggi
(>160mmhg) karena ↑ simpatis (TD,Nd)
 dilatasi bronkus dan <<< spasme bronkus
 Ketamin menyebabkan pasien tidak sadar, tetapi
dengan mata terbuka. kadang disertai gerakan
tidak disadari
 ↑TIK, ↑TIO
Ketamin (ketalar)
 Indikasi pemakaian ketamin adalah prosedur
dengan pengendalian jalan napas yang sulit,
prosedur diagnosis, tindakan ortopedi, dan
asma.
 Kontra indikasinya adalah tekanan sistolik
160 mmHg dan diastolik 100 mmHg, riwayat
penyakit serebrovaskular, dan gagal jantung
3. Petidin
 Dengan dosis 1-2 mg /kgBB.

 Efektifitaspetidin 75-100mg parenteral kurang


lebih sama dengan 10mg morfin
 Sedasi, euforia dan eksitasi, pemberian petidin
kepada pasien yang nyeri atau cemas akan
menimbulkan euforia.
 Pemberian 50-100mgpetidin secara parenteral
menghilangkan nyeri sedang atau hebat pada
sebagian besar pasien
 ESO: Berupa pusing, berkeringat, euforia, mulut
kering, mual, muntah, perasaan lemah, gangguan
penglihatan, palpitasi, disforia, sinkop dan sedasi
 depresi KV dan pernapasan

 ↑ TIK
 Dosis 1-3 µgr/kgBB
 dosis kecil (1µg/kgBB, IV) → onset dan
durasi kerja singkat (20-30 menit) & efek
sedasi sedang.
 penggunaan dosis besar → bradikardi →
perlu atropin
 efek depresi pernapasan dapat berlangsung
lebih lama (dosis)
 Premedikasi, sedasi sadar,induksi,suplementasi
anastesi.
 Dosis induksi IV: 50-350 µg/kgBB
 Farmakologi:
 metabolisme di hepar, eksresi di ginjal.
 diperngaruhi oleh konsumsi alkohol
 ↓ TD, depresi pernapasan, ↓ tonus otot rangka
 Mekanisme aksi belum diketahui, diduga
mempermudah efek dari asam gama. aminobutirat
Dinitrogen Oksida (N2O/ gas gelak)
 N2O merupakan gas yang tidak berwarna, berbau
manis, tidak iritatif, tidak berasa, lebih berat dari
pada udara, tidak mudah terbakar/meledak dan
tidak bereaksi dengan soda lime absorber
(pengikat CO2). Penggunaan dalam anestesi
umumnya dipakai dalam kombinasi N2O:O2 yaitu
60%:40%, 70%:30%, dan 50%:50%. Dosis untuk
mendapatkan efek analgesik digunakan dengan
perbandingan 20%;80%, untuk induksi 80%:20%,
dan pemeliharaan 70%:30%.
Halotan
 Halotan merupakan cairan tidak berwarna, berbau
enek, tidak iritatif, mudah menguap, tidak mudah
terbakar/meledak, tidak bereaksi dengan soda
lime, dan mudah diuraikan cahaya. Halotan
merupakan obat anestetik dengan kekuatan 4-5
kali eter atai 2 kali kloroform.
 Keuntungan penggunaan halotan adalah induksi
cepat dan lancar, tidak mengiritasi jalan nafas,
bronkodilatasi, pemulihan cepat, proteksi terhadap
syok, jarang menyebabkan mual/muntah.
 Kerugiannya adalah sangat poten, relatif terjadi
over dosis, analgesi dan relaksasi yang kurang,
harus dikombinasika dengan obat analgetik dan
relaksan, harga mahal,menimbulkan hipotensi,
aritmia, dll.
Eter (Dietil Eter)

 Merupakan cairan tidak berwarna, mudah menguap, berbau


kkhas, mengiritasi saluran napas, mudah terbakar/meledak,
tidak bereaksi dengan soda lime absorber, dan dapat terurai
oleh udara serta cahaya. Eter merupakan obat anestesi yang
sangat kuat sehingga pasien dapat memasuki tiap tingkat
anestesi.
 Keuntungan penggunaan eter adalah mudah didapat dan
murah, tidak perlu digunakan bersama-sama dengan obat-
obat lain karena telah memenuhi trias anestesi, cukup aman
dengan batas keamanan yang lebar, dal alat yang digunakan
cukup sederhana.
 Kerugiannya adalah mudah terbakar/meledak, bau tidak
enak, mengiritasi jalan napas, menimbulkan hipersekresi
kelenjar ludah, menyebabkan mual dan muntah serta masa
pemulihannya cepat. Jumlah eter yang dibutuhkan tergantung
dari berat badan dan kondisi pasien, kebutuhan dalamnya
anestesi dan teknik yang digunakan.
Isofluran (forane)

 Merupakan eter berhalogen, berbau tajam dan


tidak mudah terbakar. Keuntungan penggunaan
isofluran adalah irama jantung stabil dan tidak
terangsang oleh adrenalin serta induksi dan masa
pulih anestesi cepat.

 Dosis: lakukan titrasi untuk mempengaruhi induksi


atau pemeliharaan anastesi.

 Onset: beberapa menit tergantung dosis


 Efek puncak: 1,5% hingga 3,0% menimbulkan
anestesi dalam 7-10 menit.
 Eliminasi: paru, hati, ginjal.
 Obat anestesi ini merupakan turunan eter
berhalogen yang paling disukai untuk induksi
inhalasi, induksinya enak dan cepat terutama
pada anak.
 Obat anestesi regional/lokal adalah obat
yang menghambat hantaran saraf bila
dikenakan secara lokal. Anertesi lokal
idealnya adalah yang tidak mengiritasi atau
merusak jaringan secara permanen, batas
keamanan lebar, mula kerja singkat, masa
kerja cukup lama, larut dalam air, stabil
dalam larutan, dapat disterilkan tanpa
mengalami perubahan, dan efeknya
reversible.
 Lidokain
Lidokain (lignikaon,xylocain) adalah
anestetik lokal kuat yang digunakan secara
topikal dan suntikan. Efek anestesi terjadi
lebih cepat, kuat, dan ekstensif
dibandingkan prokain.
Bupivakain

• Bupivakain adalah anestetik golongan amida dengan mula


kerja lambat dan masa kerja panjang.
• Menghambat saluran Na+ jantung selama sistolik
• Efek blokade terhadap sensorik lebih besar daripada
motorik
• Lebih kardiotoksik dari lidokain
• Terjadi aritmia ventrikuler berat dan depresi miokard pada
pemberian dosis besar
 Berdasarkan perbedaan mekanisme kerja dan
durasi kerjanya, obat obat pelumpuh otot
dapat dibagi menjadi obat pelumpuh otot
depolarisasi ( meniru aksi asetilkolin) dan
obat pelumpuh otot nondepolarisasi.
 Macam macam obat non depolarisasi:
Atracurium D: 0,5 mg/kgbb
Cisatracurium D: 0,1-0,15 mg/kgbb
Mivacurium D: 0,15-0,2 mg/kgbb
Doxacurium D: 0,02 mg/kgbb
 Satu-satunya obat pelumpuh otot depolarisasi
yang dipakai adalah suksinilkolin memiliki 2 ciri
unik dan penting yaitu menyebabkan paralisis yang
intens dengan cepat dan efeknya akan berkurang
sebelum pasien yang diprogenasi menjadi hipoksia.

 Dosis suksinilkolin untuk fasilitas intubasi adalah


1 mg/kgBB IV.
 Durasi kerja singkat 3-5 menit.
 Efek samping aritmia jantung, hiperkalemia,
mialgia, peningkatan tekanan intragastrik,
intraocular, dan kontraksi otot teru menerus.