Anda di halaman 1dari 54

PENGOBATAN FRAKTUR

SECARA UMUM

Dr. Robert Tirtowijoyo SpOT

BAGIAN ORTOPEDI DAN TRAUMATOLOGI


Di Indonesia kematian akibat kecelakaan lalu
lintas  12.000 orang per tahun

Trauma dapat menyebabkan:


– Pembiayaan yang sangat besar
– Kematian yang sangat tinggi
– Hilangnya waktu kerja yang banyak
– Kecacatan sementara dan permanen
URUT-URUTAN PENANGGULANGAN TRAUMA

Persiapan awal
– Fase sebelum masuk rumah sakit
– Fase rumah sakit
Triase
Survei awal
– A: Airway (Saluran napas)
– B: Breathing (Pernapasan)
– C: Circulation (Sirkulasi)
– D: Disability (Evaluasi neurologis)
– E: Exposure (Kontrol lingkungan)
PRINSIP-PRINSIP PENGOBATAN FRAKTUR

Pertolongan pertama
– jalan napas, menutup luka dan imobilisasi fraktur
sebelum diangkut dengan ambulans.
Penilaian klinis
– Adakah luka tembus tulang, trauma pembuluh
darah/saraf ataukah ada trauma alat-alat dalam
yang lain.
Resusitasi
– Kebanyakan penderita dengan fraktur multipel tiba
di rumah sakit dengan syok, sehingga diperlukan
resusitasi
Pemasangan bidai kayu untuk imobilisasi fraktur di tempat
kejadian
Traksi Sederhana untuk Pertolongan Pra-Rumah Sakit
PRINSIP UMUM PENGOBATAN FRAKTUR

Jangan membuat keadaan lebih jelek


Pengobatan berdasarkan atas diagnosis dan
prognosis yang akurat
Seleksi pengobatan dengan tujuan khusus
Menghilangkan nyeri
Memperoleh posisi yang baik dari fragmen
Mengusahakan terjadinya penyambungan tulang
Mengembalikan fungsi secara optimal
Seleksi pengobatan sesuai dengan penderita secara
individual
– Perlu penilaian faktor umur, jenis fraktur, komplikasi yang
terjadi dan perlu pula dipertimbangkan keadaan sosial
ekonomi penderita secara individual.
PRINSIP PENGOBATAN FRAKTUR

Recognition
– diagnosis dan penilaian, lokalisasi fraktur, bentuk fraktur,
menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan,
komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah
pengobatan
Reduction
– alignment yang sempurna
– aposisi yang sempurna
Retention
– imobilisasi fraktur
Rehabilitation
– mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin.
METODE PENGOBATAN FRAKTUR TERTUTUP

Konservatif
– Proteksi semata-mata untuk mencegah trauma lebih lanjut
dengan cara memberikan sling (mitela)

Reduksi tertutup dengan fiksasi eksterna atau fiksasi


perkutaneus dengan K-wire

Reduksi terbuka dan fiksasi interna atau fiksasi eksterna


tulang

Eksisi fragmen tulang dan penggantian dengan protesis.


REDUKSI TERTUTUP DENGAN TRAKSI
Traksi Kulit dan Traksi Tulang

Traksi Pergelangan Kaki


Traksi Kulit
Traksi Skeletal
Metode traksi yang digunakan:

Traksi kulit
– Traksi menurut Bryant (Gallow) pada anak-anak di bawah 2
tahun dengan berat badan kurang 10 kg

Traksi tulang dengan kawat Kirschner (K-wire) dan


pin Steinmann yang dimasukkan ke dalam tulang
Traksi berimbang dan traksi sliding
biasanya dipergunakan bidai Thomas dan Pearson
attachment
Thomas Splint dengan Pearson Attachment
Traksi 90 - 90
Traksi Leher
REDUKSI TERTUTUP DENGAN FIKSASI EKSTERNA

Setelah reduksi tertutup fraktur yang tidak stabil, reduksi


dapat dipertahankan dengan memasukkan K-wire
perkutaneus misalnya fraktur suprakondiler humeri
anak-anak
REDUKSI TERBUKA DENGAN FIKSASI INTERNA

Alat-alat yang dipergunakan dalam operasi yaitu kawat


bedah, kawat Kirschner's, pin Kuntscher intrameduler,
pin Rush, pin Steinmann, plate, screw
EKSISI FRAGMEN TULANG DAN
PENGGANTIAN DENGAN PROTESIS

Fraktur Kolum Femur dengan Hemiartroplasti


(pemasangan Protesis Austin-Moore)
Protesis untuk penggantian Kaput Femur
FRAKTUR TERBUKA
Terjadi hubungan dengan lingkungan luar melalui kulit
sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul
komplikasi berupa infeksi

Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang


memerlukan penanganan yang terstandar untuk
mengurangi risiko infeksi, golden period 6 hours
Fraktur Femur 1/3 Tengah Terbuka Grade IIIB
Fraktur Kruris 1/3 Tengah Terbuka Grade I
Fraktur Kruris 1/3 Distal Terbuka Grade II
Fraktur Tibia 1/3 Tengah Terbuka Gr. IIIB
Dislokasi Pergelangan Kaki Terbuka
Dislokasi Pergelangan Kaki Terbuka
Dislokasi Pergelangan Kaki Terbuka
PENANGGULANGAN FRAKTUR TERBUKA

Fraktur terbuka merupakan kegawatdaruratatn ortopedi


Dilakukan dengan segera, secara hati-hati, debridemen
yang berulang-ulang
Stabilisasi fraktur
Penutupan kulit dan bone grafting yang dini
Pemberian antibiotik yang adekuat
PENANGGULANGAN FRAKTUR TERBUKA
Obati fraktur terbuka sebagai satu kegawatan
Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat
di kamar operasi dan setelah operasi
Segera dilakukan debrideman dan irigasi
yang baik
Ulangi debrideman 24-72 jam berikutnya
Stabilisasi fraktur
Biarkan luka terbuka antara 5-7 hari
Lakukan bone graft autogenous secepatnya
Rehabilitasi anggota gerak yang terkena
TAHAP-TAHAP PENGOBATAN FRAKTUR TERBUKA

Pembersihan luka
Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati
(debrideman) Debridement 1.AVI

Pengobatan fraktur itu sendiri


Penutupan kulit
Pemberian antibakteri
Pencegahan tetanus
Penanganan Fraktur Terbuka Kruris dengan Fiksasi Eksterna
Antibiotic Beads Intralesi pada Fraktur Terbuka
KOMPLIKASI FRAKTUR TERBUKA

 Perdarahan, septik syok sampai kematian


 Septikemia, toksemia oleh karena infeksi piogenik
 Tetanus
 Gangren
 Perdarahan sekunder
 Osteomielitis kronik
 Delayed union
 Non-union dan mal-union
 Kekakuan sendi
 Komplikasi lain oleh karena perawatan yang lama
BEBERAPA ALAT YANG DIPERGUNAKAN
DALAM TERAPI KONSERVATIF

Cervical Collar
Mitela
Arm Sling
Shoulder Immobilizer
Brace Klavikula
Gips (Plaster of Paris) pada Antebrakium
Gips (Plaster of Paris) pada Kruris
Hanging cast (1), U-Slab (2), Plate dan Screw (3), Fiksasi Eksterna (4)

1 2 3 4
TERAPI OPERATIF
Indikasi :
 Fraktur terbuka
 Kegagalan dalam terapi konservatif
 Fraktur tidak stabil
 Adanya non-union
Penanganan Operatif
Fraktur Ulna 1/3 Tengah
Terbuka Gr. IIIB
Crush Injury Manus
Crush Injury Manus Setelah Debridement dan Pemasangan
Back-Slab
PENDERITA AMPUTASI TRAUMATIS SETINGGI PERGELANGAN TANGAN
Penderita Yang Sama 6 Bulan Setelah Operasi Replantasi
High Tibial Osteotomi
Osteotomi Sendi Panggul
Hemiartroplasi Sendi Panggul
1 2 3
Operasi Total Artroplasti
1. Prostesis
2. Artritis sendi lutut
3. Setelah artrosplasty