Anda di halaman 1dari 26

“KISTA BARTOLINI”

Siska Sulistiyowati 1620221168

Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri & Ginekologi


RSUD Ambarawa
Fakultas Kedokteran UPN “Veteran” Jakarta
PENDAHULUAN

Kelenjar Bartholini
salah satu organ genitalia eksterna, usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar
kelenjar bartolini atau glandula 1 dalam 50 wanita akan mengalami
vestibularis major, berjumlah dua buah kista bartolini atau abses dalam hidup
berbentuk bundar, dan berada di sebelah mereka,
dorsal dari bulbus vestibulli

Saluran kelenjar tersumbatCairan yang


dihasilkan terakumulasi, menyebabkan usia 20 sampai 30 tahun
kelenjar membengkak dan membentuk dengan sekitar 1 dalam 50
suatu kista. wanita akan mengalami
kista bartolini atau abses
Suatu abses terjadi bila kista menjadi dalam hidup mereka,
terinfeksi
IDENTITAS PASIEN
• Nama : Ny. W
• Umur : 47 tahun
• Jenis kelamin : Perempuan
• Alamat : Kolangkaling Wujil. Bergas.
Kab. Semarang
• Pendidikan : SMP
• Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
• No MR : 1614xx
• Tanggal Masuk : 02 Januari 2019
Keluhan Utama
• Benjolan pada bibir kemaluan sebelah kiri
Riwayat Penyakit Sekarang
• Pasien datang ke RSUD Ambarawa dengan keluhan
benjolan di bibir kemaluan sebelah kiri.
• Benjolan diketahui pertama kali sejak 14 hari yang lalu.
Awalnya benjolan tersebut sebesar kacang tanah, tidak
nyeri serta hilang timbul.
• Semakin hari benjolan bertambah besar dan menetap
namun tidak terasa nyeri.
• Benjolan tersebut terasa mengganjal, sehingga
mengganggu aktivitas sehari-harinya.
• Pasien tidak mengeluhkan keluar cairan dari jalan lahir,
nyeri saat berjalan (-), demam disangkal, pusing
disangkal, mual dan muntah disangkal. Untuk BAB dan
BAK tidak ada keluhan.
Riwayat Obstetri
• Pasien telah memiliki 6 anak dan tidak pernah
keguguran (P6A0). Pasien menikah 1 kali
sudah 25 tahun
Tahun Lahir Cara Cukup Bulan Ditolong oleh Berat Lahir
1 1994 Spontan Aterm Bidan 3500 gram
2 1996 Spontan Aterm Bidan 3800 gram
3 1998 Spontan Aterm Bidan 3500 gram
4 2001 Spontan Aterm Dukun Bayi -
5 2004 Spontan Aterm Dukun Bayi -
6 2009 Spontan Aterm Bidan 3200 gram
Riwayat Menarche Riwayat KB
• Pasien pertama kali haid • Riwayat memakai KB diakui
pada umur 13 tahun, haid yaitu suntik
rutin setiap bulan dengan
lama 7 hari dan siklus 28
hari.
Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Penyakit Keluarga
• Riwayat Keluhan Serupa : • Riwayat DM : disangkal
disangkal • Hipertensi : disangkal
• Riwayat DM : disangkal • Asma : disangkal
• Hipertensi : disangkal
• Asma : disangkal
• Alergi : disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi
• Pasien bekerja sehari-hari sebagai ibu rumah
tangga
• Merokok : disangkal
• Alkohol : disangkal
• Konsumsi jamu : disangkal
• Biaya pengobatan ditanggung BPJS
Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
• Keadaan umum : Baik
• Kesadaran : Compos mentis
• Tanda Vital
– Tekanan Darah: 150/90 mmHg
– Nadi : 89 kali/ menit
– Suhu : 36,5°C
– RR : 20 kali/ menit
Pemeriksaan Fisik
• Kepala : Mata konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-)
• Leher : KGB tidak teraba pembesaran
• Thoraks : Paru : vesikuler (+/+), rhonki (-/-),
whezzing (-/-)
• Jantung: S1 S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)
• Abdomen: Bising usus (+) Normal, nyeri tekan (-)
• Ekstremitas: akral hangat, capirally refill test < 2
detik. Oedem sinistra (-) dextra (-)
Status Ginekologi
• Inspeksi :
– massa (+) di labia mayor sinistra, diameter 4 cm,
batas tegas, hiperemis (+), fluor albus (-), darah (-)
• Palpasi :
– nyeri tekan (-), konsistensi kenyal kesan berisi
cairan.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Metode

Hemoglobin 11.6 11.7 -15.5 g/dL Sulfa Hb

Leukosit 5.76 3.6 -11.0 ribu E. Impedance

Eritrosit 3.95 3.8 - 5.2 Juta E. Impedance

Hematokrit 33.7 35 – 47 % Integration volume

MCV 85.3 82 -98 fL E. Impedance

MCH 29.4 27 – 32 Pg E. Impedance

MCHC 34.4 32 -37 g/dL E. Impedance

RDW 11.8 10 – 16 % E. Impedance

Trombosit 303 150 – 400 Ribu Focus Hidrodinamik

MPV 6.51 7 -11 Mikro m3 E. Impedance


Diagnosa
• Kista bartholini
Terapi dan Planning
• Non Medikamentosa
– Menjaga kebersihan area kewanitaan.
– Tirah baring
• Medikamentosa
– Infus RL 20 tpm.
– Ciprofloxacin 2x1 tab
– Amlodipin 2x5 mg
• Program Operasi Eksisi
Prognosis
• Ad vitam: dubia ad bonam
• Ad fungsionam: dubia ad bonam
• Ad sanasionam: dubia ad bonam
Anatomi Kelenjar Bartholini
• Kelenjar Bartolini  satu organ genitalia
eksterna, berjumlah dua buah berbentuk bundar,
dan berada di sebelah dorsal dari bulbus
vestibulli.
• Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara pada
celah yang terdapat diantara labium minus
pudendi dan tepi hymen
• Kelenjar ini tertekan pada waktu coitus dan
mengeluarkan sekresinya untuk membasahi atau
melicinkan permukaan vagina di bagian caudal
Kista Bartholini
• Kista adalah kantung yang berisi cairan atau
bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit
atau di suatu tempat di dalam tubuh.
• Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar
ini menjadi tersumbat.
Etiologi
• Infeksi
• peradangan atau iritasi jangka panjang.
Patafisiologi
• Ostium dari duktus tersumbat menyebabkan
distensi dari kelenjar dan tuba yang berisi cairan.
• Sumbatan ini biasanya merupakan akibat
sekunder dari peradangan nonspesifik atau
trauma.
• Kista bartholin dengan diameter 1-3
cmsseringkali asimptomatik.
• Sedangkan kista yang berukuran lebih besar,
kadang menyebabkan nyeri dan dispareunia.
• Abses Bartholin merupakan akibat dari infeksi
primer dari kelenjar, atau kista yang terinfeksi
Gejala Klinis
• Kista bartholini tidak selalu menyebabkan
keluhan akan tetapi kadang dirasakan sebagai
benda yang berat dan menimbulkan kesulitan
pada waktu koitus.
• Bila kista bartholini berukuran besar dapat
menyebabkan rasa kurang nyaman saat
berjalan atau duduk
Gejala Klinis
• Tanda kista bartholini yang tidak terinfeksi:
– penonjolan yang tidak nyeri pada salah satu sisi vulva
disertai kemerahan atau
– pambengkakan pada daerah vulva disertai kemerahan atau
pembengkakan pada daerah vulva.
• Jika kista terinfeksi, gajala klinik:
– Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik atau
berhubungan seksual.
– Umumnya tidak disertai demam kecuali jika terifeksi
dengan organisme yang ditularkan melalui hubungan
seksual.
– Dispareunia.
– Biasanya ada secret di vagina.
– Dapat terjadi ruptur spontan.
Diagnosis

• Anamnesis
• Pada pemeriksaan dengan posisi litotomi
– pembengkakan pada kista pada posisi jam 5 atau
jam 7 pada labium minus posterior.
– Jika kista terinfeksi, maka pemeriksaan kultur
jaringan dibutuhkan untuk mengidantifikasi jenis
bakteri penyebab abses dan untuk mengetahui
ada tahu tidaknya infeksi menular.
Tata Laksana
• Marsupialisasi
– Prosedur ini tidak boleh dilakukan ketika terdapat
tanda- tanda abses akut.
– Kekambuhan kista Bartholin setelah prosedur
marsupialisasi adalah sekitar 5-10 %.
Tata Laksana
• Eksisi (Bartholinectomy)
– Eksisi dari kelenjar Bartholin dapat
dipertimbangkan pada pasien yang tidak
berespon terhadap drainase, namun prosedur ini
harus dilakukan saat tidak ada infeksi aktif.
– Eksisi kista bartholin karena memiliki risiko
perdarahan, maka sebaiknya dilakukan di ruang
operasi dengan menggunakan anestesi umum.
Tata Laksana
Pengobatan Medikamentosa
• Antibiotik diberikan sebelum dilakukan insisi dan drainase.
• Ceftriaxone.
– broad spectrum terhadap bakteri gram-negatif, efficacy yang lebih rendah terhadap bakteri
gram-positif, dan efficacy yang lebih tinggi terhadap bakteri resisten.
– menghambat sintesis dari dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhan bakteri.
– Dosis yang dianjurkan: 125 mg IM sebagai single dose .4,5
• Ciprofloxacin.
– Sebuah monoterapi alternatif untuk ceftriaxone.
– antibiotik tipe bakterisida yang menghambat sintesis DNA bakteri dan, oleh sebab itu akan
menghambat pertumbuhan bakteri dengan menginhibisi DNA-gyrase pada bakteri.
– Dosis yang dianjurkan: 250 mg PO 1 kali sehari.
• Doxycycline
– Menghambat sintesis protein dan replikasi bakteri dengan cara berikatan dengan 30S dan 50S
subunit ribosom dari bakteri.
– Diindikasikan untuk Ctra chomatis.
– Dosis yang dianjurkan: 100 mg PO 2 kali sehari selama 7 hari.