Anda di halaman 1dari 38

LIABILITAS JANGKA PENDEK,PROVISI

DAN KONTINJENSI

Kelompok 1
nama kelompok :
1.Iftah Choirul Istiqomah (17441474 )
2.Riska Mardiana Hidayatussholeha (17441473)
A.PERANAN DAN DEFINISI
Penggunaan liabilitas untuk mendanai entitas harus dipertimbangkan dengan baik agar tetap
memberikan manfaat bagi entitas.Manfaat berutang sering diistilahkan dengan kemampuan
menghasilkan leverage yaitu kemapuan meningkatkan imbal hasil tanpa harus meneluarkan
investasi.

Liabilitas menurut kerangka dasar pengukuran dan pengungkapan laporan keuangan


(KDP2LK) adalah utang entitas masa kini yang timbul dari peristiwa masa
lalu,penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yang
mengandung menfaat ekonomi.Liabilitas mengandung dua komponen utama yaitu adanya
kewajiban kini yang timbul,terjadi dari transaksi di masa lalu dan penyelesaiannya
menyebabkan arus keluar kas atau sumber daya entitas.
PSAK 1 (Revisi 2009) menjelaskan klasifikasi liabilitas jangka pendek jika memenuhi kriteria :
1. Entitas mengharapkan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi normalnya
2. Entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan
3. Liabilitas jatuh tempo untyk diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan
4. Entitas memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas selama sekurang-
kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.

Kriteria khusus untuk liabilitas jangka pendek adalah jangka waktu penyelesaian 12 bulan atau satu
siklus operasi.Siklus operasi adalah siklus dari pembelian bahan baku sampai dengan diperolehnya kas
dari hasil penjualan produk yang dihasilkan.
Menurut PSAK 1 (Revisi 2009) jika entitas memiliki liabilitas tersebut dalam jumlah material
maka entitas harus menyajikan sebagai unsur yang terpisah.Item minimum yang diharuskan
menurut PSAK 1 (Revisi 2009) untuk liabilitas jangka pendek adalah :
1. Utang dagang dan terutang lainnya
2. Provisi
3. Liabilitas keuangan jangka pendek (tidak termasuk jumlah yang disajikan dalam provisi)
4. Liabilitas dan asset pajak kini,sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46 (Revisi 2013)
akuntansi pajak penghasilan
5. Liabilitas dan asset pajak tangguhan,sebagaimana disefinisikan dalam PSAK 46 (Revisi
2013)
6. Liabilitas yang termasuk dalam kelompok yang dilepaskan yang diklasifikasikan sebagai
yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58 (Revisi 2010) asset lancar yang tersedia
untuk dijual dan operasi yang dihentikan
JENIS DAN KLASIFIKASI

Berdasarkan nilainya,liabilitas dikategorikan menjadi liabilitas yang nilanya pasti


dan liabilitas yang nilainya tidak ditentukan sehingga harus diestimasi.Liabilitas
yang nilainya pasti,merupakan bentuk liabilitas yang telah jelas berapa jumlah
yang dibayarkan kepada pihak lain.Liabilitas yang nilainya tidak pasti,jumlahnya
diestimasi oleh entitas berdasarkan informasi yang tersedia yang menurut PSAK
57 (Revisi 2009) disebut sebagai provisi.
Jenis liabilitas jangka pendek :
1. Utang dagang yaitu utang yang timbul ketika entitas melakukan pembelian secara tunai
2. Utang bank jangka pendek yaitu utang yang diperoleh bank dengan jangka waktu satu tahun atau kurang.
3. Wesel bayar yaitu kontrak yang menyatakan bahwa saty pihak akan melakukan pembayaran sejumlah tertentu
kepada pihak lain dimasa mendatang.
4. Utang pajak yaitu pajak yang belum dibayarkan kepada pihak negara
5. Utang deviden yaitu deviden yang telah diumumkan namun belum dibayarkan
6. Beban yang masih harus dibayar yaitu beban yang telah terjadi namun sampai tanggal pelaporan belum
dibayarkan
7. Pendapatan diterima dimuka yaitu pendapatn yang diterima secara tunai namun pendapatanya belum
diperoleh
8. Utang terkait gaji karyawan :
Utang gaji dalah beban gaji yang telah terjadi namun belum dibayarkan
Iuran pension dan asuransi untuk karyawan serta pajak atas gaji yang telah dipotong dari gaji namun
belum dibayarkan
9. Uang muka pelanggan (deposit) yaitu uang yang dibayarkan pelanggan sebagai deposit dan akan diberikan
kembali kepada pelanggan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.
B.UTANG BERBUNGA DALAM JANGKA PENDEK
UTANG BANK
Berbunga jangka pendek yang umum dijumpai adalah utang bank dan wesel bayar. Utang bank lebih sering
dijumpai dalam laporan entitas disbanding dengan wesel bayar. Utang bank jangka pendek adalah utang
suatu entitas kepada bank dengan jangka kurang dari 1 tahun. Utang bank jangka pendek biasanya
berbunga.
Contoh 11.1 utang bank jangka pendek
PT Merapi pada tanggal 1 November 2015 ,enarik dari Bank Buana utang sebesar Rp 200.000.000 dengan
bunga 15% untuk jangka waktu 150 hari.Tidak ada provisi yang dikenakan oleh bank atas utang ini.Pokok
dan bunga akan dibayarkan pada saat jatuh tempo.
Jurnal yang dibuat pada saat menerima utang 1 November 2015
Kas 200.000.000
Utang bank 200.000.000
Jurnal penyesuaiaan pada tangga; 31 desember 2015 atas bunga yang terutang yang belum dibayarkan.
Beban bunga 5.000.000
Utang bunga 5.000.000
Hari selama tahun 2015 = 30 – 1 = 29 hari dibulan November
31 hari dibulan desember
Total 60 hari = 2 bulan
Perhitungan bunga = Rp 200.000.000 x 15% x 60/360 = Rp 5.000.000
Jumlah saat utang jatuh tempo pada tanggal 60 + 31 + 29 + 30 = 150.jatuh tempo pada tanggal 30 maret 2016
(asumsi 2016 tahun kabisat ).
Beban bunga 7.500.000
Utang bunga 5.000.000
Utang bank 200.000.000
Kas 212.500.000
Perhitungan bunga dibayarkan = Rp 200.000.000 x 15% x 150/360 = Rp 12.500.000
Perhitungan beban bunga 1 jan – 30 maret = Rp 200.000.000 x 15 % x 90/360 = Rp 7.500.000
Contoh 11.2 utang bank jangka pendek : bunga dibayar didepan (zero coupon)
PT Lawu pada tanggal 2 oktober 2015 menarik utang jangka waktu 6 bulan dari Bank Mega sebesar Rp 400.000.000 dengan bunag 15% Pertahun dari pokok yang
dipotong diawal.Pada saat jatuh tempo Pt Lawu membayar sebesar Rp 400.000.000.Jumlah kas yang diterima sebesar Rp 400.000.000 – (400 x 15% x 6/12 ) = Rp
370.000.000
Jurnal yang akan dibuat pada saat menerima utang 2 oktober 2015
Kas 370.000.000
Diskon utang bank 30.000.000
Utang bank 400.000.000
Bunga yang dibayarkan sekali di akhir sehingga perhitungan bunga efektif dengan membagi bunga dengn pokok utang bunga = Rp 30.000.0000/Rp 370.000.000 =
8,11% untuk 6 bulan atau 16,22% setahun.
Jurnal penyesuaian 31 desember 2015 untyk pengakuan bunga yang dihitung dengan bunga efektif
Beban bunga 15.000.000
Diskon utang bank 15.000.000
Bunga dihitung dengan bunga efektif 16,22% x 3/12 x Rp 370.000.000 = Rp 15.000.000 (pembulatan)
Jurnal saat utang jatuh tempo 30 maret 2016
Beban bunga 15.000.000
Utang bank 400.000.000
Diskon utang bank 15.000.000
Kas 400.000.000
Asumsi dibuat jurnal balik atas jurnal penyesuaian 31 desember 2016.
Contoh 11.3 utang bank jangka pendek dengan provisi

PT Semeru pada tanggal 1 november 2015 menarik dari Bank Mulia utang yang Rp 100.000.000 dengan bunga 12% per tahun dari pokok yang akan dibayarkan bersamaan dengan pelunasan tanggal 30
januari 2016.Bank Mulia mengenakan biaya administrasi sebesar 1,5% dari jumlah utang yang ditarik,sehingga kas yang diterima oleh PT Semeru sebesar Rp 100.000.000 – Rp 1.500.000 = Rp 98.500.000

Jurnal yang dibuat pada saat menerima utang 1 november 2015

Kas 98.500.000

Diskon utang bank 1.500.000

Utang bank 100.000.000

Utang bank yang sebenarnya diterima adalah Rp 98.500.000 namun PT semeru harus melunasi pada saat jatuh tempo bunga Rp 3.000.000 dan pokoknya Rp 100.000.000.Untuk itu bunga efektif atas utang
tersebut sebenarnya bukan 12% tetapi Rp 4.500.000 / Rp 98.500.000 x 12/3 = 18,274%.Bunga dihitung dari bunga yang dibayar dan provisi.Tingkat bunga efektif menjadi lebih tinggi karena entritas
menerima utang yang lebih sedikit.

Beban bunga 3.000.000

Utang bunga 2.000.000

Diskon utang bank * 1.000.000

Beban bunga dihitung dengan bunga efektif 18,2741% x 2/12 x Rp 98.500.000 = Rp 3.000.000.Amortisasi diskon beban bunga dikurangi utang bunga = Rp 3.000.000- Rp 2.000.000

Jurnal pada saat jatuh tempo 30 januari 2016

Beban bunga 1.500.000

Utang bunga 2.000.000

Utang bank 100.000.000

Diskon utang bank 500.000

Kas 103.000.000 idak dobu

Asumsi tidak dibuat jurnal balik atas jurnal penyesuaian 31 desember 2015.
Contoh 11.4 line of credit atau standby loan
PT Kelud pada tanggal 1 desember 2015 mendapatkan fasilitas line of credit dari Bank Arta,sebesar 1 miliar selama jangka waktu 5 tahun.Kredit tersebut dapat diratik
sesuai dengan kebutuhan entitas.Bunga sebesar 12% per tahun dikenakan atas kresit yang ditarik.Untuk setiap penarikan bank mengenakan biaya transaksi sebesar 2% dari
dana yang ditarik.Bank hanya mengenakan atas tarikan utang yang belum dilunasi samoai dengan akhir bulsn pelaporan.Jika penarikan telah dilunasi pada bulan yang
sama,maka tidak akan dikenakan bunga.Bunga akan dihitung dari tanggal penarikan atau saldo utang terakhir sampai dengan jatuh tempo pelaporan.Setiap bulan akan
disampaikan laporan penggunaan line of credit,yang memperlihatkan saldo akhir utang,mutasikredit,termasuk jumkah bunga,dan biaya (changes) yang dikenakan.
Informasi ringkas untuk pemakaian line of credit bulan desember adalah :
Table 11.2 pemakaian line of credit
02 Des Penarikan 300.000.000 300.000.000
02 Des Biaya penarikan 6.000.000 306.000.000
16 Des Penarikan 400.000.000 706.000.000
16 Des Biaya penarikan 8.000.000 714.000.000
30 Des Pembayaran 300.000.000 414.000.000
31 Des Bunga 2.069.260 416.069.260

Jurnal yang akan dibuat adalah :


2 desember
Kas 300.000.000
Beban bunga 6.000.000
Utang bank 306.000.000
16 desember
Kas 400.000.000
Beban bunga 8.000.000
Utang bank 408.000.000
30 desember
Utang bank 300.000.000
Kas 300.000.000
31 desember
Beban bunga 2.069.260
Utang bank 2.069.260
WESEL BAYAR
Wesel bayar atau disebut sebagai notes payable atau promissory notes. Wesel bayar merupakan janji dari pihak
penarik wesel untuk membayarkan sejumulah nilai tertentu dimasa mendatang. Wesel bayar ditarik untuk
pelunasan utang dagang, pembayaran suatu transaksi atau ditarik untuk mendapatkan uang tunai. . Akuntansi
untuk wesel bayar tidak berbeda dengan akuntasi untuk utang, perbedaan ynag mendasarinya hanyalah
dokumen transaksinya. Dokumen transaksi adalah surat wesel atau promissory notes, sedangkan bukti transaksi
utang bank adalah dokumen kredit bank.

LIABILITAS JANGKA PANJANG YANG AKAN JATUH TEMPO PADA PERIODE BERIKUTNYA.
Liabilitas jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 bulan setelah periode pelaporan,diklasifikasikan
dalam jangka pendek,meskipun :
1. Kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari 12 bulan,dan
2. Pembayaran untuk pembiayaan kembali,atau penjadwalan kembali pembayaran,atau dasar jangka panjang
telah diselesaikan setelah periode pelaporan dan sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan untuk
tidak mensyaratkan pembayaran sebagai konsekuensi atas pelanggaran tersebut.
Contoh 11.5 liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam 12 bulan
PT Wilis memiliki beberapa liabilitas jangka panjang untuk mendanai usahanya.Berikut informasi yang diperoleh pada
saatb penyusunan laporan keuangan pada tanggal 31 desember 2015
Obligasi seri A,senilai Rp 400.000.000 diterbitkan 1 maret 2007,jangka waktu 10 tahun bunga sebesar 10% dibayarkan
setiap tahun
Obligasi seri B senilai Rp 800.000.000 diterbitkan 1 juni 2015 bunga 11% per tahun setiap tahun,jatuh tempo sebesar Rp
100.000.000.000
Obligasi seri C senilai Rp 100.000.000 diterbitkan 1 desember 2006,jatuh tempo 10 tahun,bunga 10%.Atas obligasi ini
entitas sedang mengajukan pendanaan kepada bank Mitra untuk mengambil alih obligasi tersebut dan diganti dengan
utang bank jangka panjang dengan jangka waktu 5 tahun tingkat bunga 12%.Entitas sudah melakukan detail
pembicaraan dengan bank Mitra .Secara prinsip Bank Mitra menyetujui namun proses administrasi baru akan
diselesaikan pada tahun 2016 mengingat obligasi tersebut baru akan jatuh tempo 1 desember 2016.Proses administrasi
perjanjian yang menyatakan bank Mitra akan mendanai utang obligasi dan menggantinya dengan utang Bank Mitra
diselesaikan 35 maret sebelum keuangan selesai diaudit.
Utang Bank Kriya ditarik pada 1 September 2011 sebesar Rp 100.000.000 jangka waktu 5 tahun dengan bunga 12%.Atas
entitas ini entitas melakukan perjanjian untuk melakukan pendanaan kembali dengan utang jangka panjang dengan bank
yang sama,namun dengan bunga yan lebih rendah 11%.
Utang bank Permata ditarik pada tanggal 1 juni 2014 sebesar 300 miliar,bunga 12% dibayar setiap tahun pelunasan akan
dimulai 1 juni 2015 secara angsuran Rp 50.000.000 per tahun.
Saat ini entitas sedang memproses penerbitan obligasi seri D sebesar Rp 300.000.000.Obligasi tersebut rencananya akan
diterbitkan pada 1 juni 2016.Obligasi tersebut telah mendapat persetujuan RUPS untuk diterbitkan.Saat ini sedang dalam
proses penerbitan.Obligasi tersebut akan diterbitkan untuk mendanai ekspansi pembukaan pabrik baru dan membayar
utang yang jatuh tempo.
Buatlah reklasifikasi untuk utang tersebut yang harus disajikan dalam liabilitas jangka pendek,dan buatlah penyajian
dan pengungkapan yang diperlukan untuk kelima utang tersebut jika ada.
1. Obligasi seri A tidak perlu direklasifikasi, tetap menjadi liablitas jangka panjang karena jatuh tempo tahun 2017.
2. Obligasi sei B direklasifikasi ,menjadi liabilitas jangka pendek sebesar Rp 100 miliar, yang akan jatuh tempo dalam 12
bulan.
Utang Obligasi Seri B 100.000.000.000
Utang Oligasi Seri B Jangka Pendek 100.000.000.000
3. Obligasi seri B tetap harus direklasifikasi karena proses pengambilalihan belum selesai sepenuhnya. Namun kejadian
ini perlu diungkapkan dalam laporan keuangan.
Utang Obligasi Seri C 100.000.000.000
Utang Obligasi Seri C Jangka Pendek 100.000.000.000
4.Dilakukan reklasifikasi menjadi liabilitas jangka pendek, karena akan tempo pada 1 September 2016. Karena telah
dilakukan perjanjian untuk memperbaharui utang dan kontraknya telah diselesaikan, utang ini telah menjadi utang
jangka panjang.
5.Dilakukan reklasifikasi atsa jumlah yang akan jatuh tempo pada 1 Juni 2016.
Utang Bank Permata 50.000.000.000
Utang Bank Jangka Pendek 50.000.000.000
Penyajian dalam laporan posisi keuangan
Liabilitas jangka pendek
Liabilitas jangka pendek yang akan jatuh tempo dalam dua bulan (lihat pengungkapan)
Utang Obligasi Seri B 100.000.000.000
Utang Obligasi Seri C 100.000.000.000 (lihat pengungkapan)
Utang Bank Kriya 50.000.000.000
Utang Bank Pernata 50.000.000.000
Liabilita jangka oanjang
Utang obligasi seri A 400.000.000.000
Utang obligasi seri b 600.000.000.000
Bank Kriya 100.000.000.000
Bank Permata 200.000.000.000

Pengungkapan liablitas jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan mendatang
Obligasi seri C akan jatuh tempo pada 1 desember 2016,namun perusahaan telah melakukan negosiasi dengan Bank Mitra untuk mendanai pelunasan utang obligasi
tersebut,sehingga kana berubah menjadi uatng bank jangka panjang oada 1 desember 2016.entitas tetap kan melakukan reklasifikasi dalam jengka pendek,karena meskipun
pendanaan ini telah disetujui pemegang saham,secara prinsip telah disetujaui Bank Mitra namun proses administrasi baru diselesaikan pada 25 maret 2016,sesuai dengan
PSAK 1 (Revisi 2009) tetap harus direklasifikasi.
Atas liabilitas jangka panjang yang kan jatuh tempo pada tahun 2016 perysahaan telah akan menerbi9tkan obligasi yang saat ino masih dalam proses
penerbitan.Direncanakan obligasi tersebut akan diterbitkan pda juni 2016.
C. LIABILITAS JANGKA PENDEK TERKAIT DENGAN KEGIATAN OPERASI ENTITAS
Liabilitas jangka pendek terkait dengan operasi timbul karena konsekuansi operasi entitas. Penggunaan utang
operasi menguntungkan bagi entitas,karena entitas dapat menggunakan dana pembayaran tersebut untuk
aktivitas lain sebelum digunakan.
UTANG USAHA
Utang usaha adalah utang terkait dengan kegiatan utama entitas.Untuk entitas yang bergerak dibidang
perdagangan,utang usaha disebut sebagai utang dagang. Pembelian kredit seringkali ditulis dalam term
2/10,n/60,FOB Shipping Point.Artinya pembelian akan diberikan diskon 2% jika dilunasi sampai dengan 10
hari,utang jatuh tempo dalam waktu 60 hari dan titi pengakuan di gudang penjual.Utang dagang diakui saat
entitas telah menerima barang atau jasa dari pemasok.Untuk pembelian dengan syarat pembelian FOB Shipping
point
(franko gudang penjual ) maka titi pengakuan penjual,utang akan diakui saat barang telah masuk kendaraan
angkutan untuk diantar ke gudang pembeli.FOB Destination Point (franko gudang pembeli ) titi pengakuan di
gudang pembeli,utang diakui saat barang delah diterima oleh pembeli,selama dalam perjalanan barang ini
merupakan barang pembeli.
100%−𝑑𝑖𝑠𝑘𝑜𝑛 360
Pengembalian diskon : x
100% 𝑗𝑠𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢−𝑗𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑑𝑖𝑠𝑘𝑜𝑛
Diskon penjualan 2/10 ,n/30 setara dengan bunga (100%- 2%) 100% x 360 / (30-10) = 17,64 %.Dengan cara
perhitungan yang sama term perjanjian 2/15,n/45 sama dengan 11,76%
Contoh 11.6 pencatatan utang dagang
Selama bulan desember 2015 PT Slamet memiliki bebrapa transaksi kepada para pemasok.
12 desember membeli barang kredit kepada PT Delima senilai Rp200.000.000 ditambah nilai PPN 10% sehingga total Rp 220.000.000.Persyaratan jual beli 2/10;n/30.FOB
Shipping point.PT Slamet membayar utang pada PT Delima pada 22 desember 2016.
29 Desember membeli barang secara kredit kepada PT. Mawar senilaiRp. 330.000.000 setelah nilai PPN. Persyaratan jual beli n/30. FOB Shipping Point. Barng sampai 31
desember belum sampai di gudang PT. Slamet dan diketahui baru diterima di gudang pada tanggal 2 januari 2016 .Pembalian ini diayar dengan wesel bayar yang akan jatuh
tempo 30 hari tanpa bunga.
12 desember
Persediaan 200.000.000
PPN Masukan 20.000.000
Utang dagang 220.000.000
22 desember
Utang dagang 220.000.000
Persediaan 4.400.000
Kas 215.600.000
29 desember
Persediaan 300.000.000
PPN Masukan 30.000.000
Wesel bayar 330.000.000
(tetap dicatat tertanggal 29 desember karena titik pengakuan digudang penjual )
BEBAN YANG MASIH HARUS DIBAYARKAN
1. Beban yang masih harus dibayar yang sering muncul dilaporan keuangan antara lain.
2. Beban gaji.Karyawan telah berhak atas gaji karena sudah bekerja namun tidak belum
dibayarkan olhe perusahan
3. Bunga yang masih harus dibayarkan /utang bunga.Bunga yang sudah menjadi beban dengan
berlalunya waktu namun masih belum dibayarkan sesuai dengan tanggal perjanjian kredit.
4. Beban operasi yang masih harus dibayar.Beban atas jasa pihak lain kepada perusahaan atas
kegiatan operasinya,namun belum dibayarkan oleh perusahaan.
Contoh 11.7 Beban yang masih harus dibayar
Pembayuaran gaji sebesar Rp 240.000.000 dilakukan tanggal 5 tiap bulan,untuk masa kerja tanggal 1- sampai dengan akhir bulan.Pada akhir periode missal 31
desember 2015 dibuat penyesuaikan atas gaji untuk masa kerja desember 2015 yang baru kan dibayarkan tanggal 5 januari 2016.
Beban gaji 240.000.000
Utang gaji 240.000.000
Bonus karyawan dibayarkan atas prestasi kerja tahun 2015,namun ditetapkan jumlahnya setelah diketahui laba entitas sehingga jumkahnya baru dipastika dibulan
januari 2016 dan akan sibayarkan bulan maret 2016.Pada 15 januari sebelum laporan keuangan terbit,ditetapkan bonus untuk setiap karyawan Rp
300.000.000.Atas BONus karyawan akan dibuat jurnal penyesuain per tanggal 31 desember 2015
Beban gaji – bonus 300.000,000
Utang gaji 300.000.000
Entritas memiliki utang bank yang ditarik pada 1 desember 2015 sebesar Rp 400.000.000 bunga 12% per tahun,jangka waktu 5 tahun.Bunga dibayarkan setiap 1
desember.Bunga dari 1 desember 2015-31 desember 2015 harus dibebankan sebagi beban bunga dan utang bunga per bunga yang masih harus dibayar.
Beban bunga 4.000.000
Utang gaji 4.000.000
Bunga 12% x 1/12 x Rp 400.000.000 = Rp 4.000.000
Entitas memperbaiki AC dikantor dengan meminta perusahaan servise AC.Pekerjaan telah diselesaikan pada tanggal 30 desember 2015,namun sampai 31
desember,perusahaan servise AC belum mengirimkan tagihan sebebsar Rp 10.000.000.Tagihan baru akan dikirim pada tanggal 5 januari 2016 dan dibayarkan 10
januari 2016.Atas jasa servise AC tersebut diakui pada sebagian beban pemeliharaan dan beban yang masih harus (liabilitas) pada 31 desember 2015.
Beban pemeliharaan 4.000.000
Utang biaya 4.000.000
PENDAPATAN DITERIMA DIMUKA
Pembayaran sering kali melakukan pembayaran didepan atas jasa yang akan diselesaikan atau barang yang baru kan dikirim.Pembayaran tersebut tidak boleh dilakukan
sebagai pendapatan tetapi diakui sebagai pendapatan diterima dimuka.
Contoh 11.8 Pencatatn pendapatan diterima dimuka
PT Ceremai mulai 2015 menjual tiket keanggotaan (membership) golf kepada pelanggan pribadi perusahaan.Tiket tersdebut dijual dalam bentuk paket tahunan dan lima
tahunan.Untuk paket tahunan harganya Rp 6.000.000 dap[at digunakan main golf selama 1 tahun.Paker tiga tahun dijual dengan harga Rp 16.200.000.Keanggotaan tersebut
tidak didasarkan pada jumlah kedatangan,pemegang kartu keanggotaan bebas datang jika kartu keanggotaannya masih aktif.Setiap tahun garga kartu keanggotaan meningkat
sehingga menjadi anggota jangka panjang yang memberikan banyak keuntungan bagi anggota.
Pada 1 desember diterima keanggotaan tahunan 10 paket dan keanggotaan 3 tahunan sebanyak 5 paket.Entitas melakukan oenyesuaian untyk kenaggotaan setiap
bulan,karena entitas menyusun laporan bulanan untuk keperluan internal manajemen.Saldo pendapatan diterima dimuka dari keanggotaan tahunan pada tanggal 1 desember
2015 adalah Rp 337.000.000 dari total penerimaan keanggotaan tahunan Rp 636.000.000.Untuk keanggotaan 3 tahunan saldo 1 desember Rp 620.100.000 dari total
penerimaan keanggotaan tiga tahunan Rp 745.200.000.Buatlah jurnal untuk transaksi tersebut dan penyesuaian yang diperlukan.
1 desember 2015
Kas 141.000.000
Pendapatan diterima dimuka 141.000.000
31 desember 2015
Pendapatan diterima dimuka 80.950.000
Pendapatan 80.950.000
Untuk membership tahunan,alokasi pendapatan yang terealisasi per bulan adalah 1/12 x Rp 6.000.000 = Rp 500.000 atau tota sama dengan (Rp 636.000.000 + Rp 60.000.000)
x 1/12 = Rp 58.000.000.
Untuk membership 3 tahunan,pendapatan terealisi perbulan RP 16.200.000 : 3 : 12 = Rp 450.000 atau total (Rp 745.200.000 + Rp 81.000.000 ) x 1/36 = Rp 22.950.000.
Total pndapatan direalisasi Rp 58.000.000 + Rp 22.950.000 = Rp 80.950.000
Saldo pendapatan diterima dimuka pada 31 desember 2105 adalah : Rp 337.000.000 + Rp 630.100.000 + Rp 81.000.000 – Rp 58.000.000 – Rp 22.950.000 = Rp 1.017.150.000
UTANG TERKAIT IMBALAN KERJA
Imbalan kerja diberikan dalam bentuk gaji,tunjangan,bonus,pension dan lainya.Gaji dibayarkan kepada
karyawan dan manajemen dalam bentuk entitas. Gaji menurut UU Pajak Penghasilan merupakan
penghasilan bagi pihak yang mnerima gaji dan entitas yang membeyarkan harus memotong pajak saat
pembayaran gaji dilakukan.Pajak yang dipotong badan atas gaji dan penghasilan lain yang diterima oleh
pekerja disebut PPH Pasal 21. Menurut UU PPh,pajak penghasilan yang dipotong oleh badan,harus
disetorkan kekas negara paling lambat 10 bulan berikutnya.Entitas pada saat membayar gaji karyawan,akan
memotong PPh 21 atau mencatat utang PPh 21.

Pensiun adalah penghasilan yang diterima oleh karyawan pada saat karyawan tidak lagi bekerja.Pensiun
merupakan gaji yang dibayarkan tertunda kepada karyawan yaitu saat karyawan memasuki masa pension
dan tidak lagi bekerja. Entitas sering kali bekerja sama dengan koperasi,bank untuk menyalurkan kredit
keoada karyawan.Bank bersedia memberikan kredit karena jaminan bahwa pekerjaa tersebut bekerja dan
mendapat penghasilan selama jangka waktu kredit.Pemotongan yang berkaitan dengan gajinkaryawan
dapat langsung disetorkan pada saat yang bersamaan dengan pembayaran gaji atau baru yang akan
dibayarkan pada tanggal tertentu.Jika pembayaran dilakukan pada bulan berikutnya,maka dalam laporan
keuangan akan muncul utang terkait dengan peotongan gaji karyawan misalnya PPh 21,asuransi,iuran
pension,iuran pihak lain,zakat,dan sebagainya.
Contoh 11.9 pembayaran gaji
Mutiara adalah pegawai PT Salak pada bulan desember 2015 menerima gaji sebesar Rp 6.000.000 perbulan ditambah dengan
tunjangan rumah sebesar Rp 500.000 dan tunjangan transportasi Rp 1.000.000.Selain itu PT Salak membayarkan asuransi kecelakaan
kerja Rp 150.000,asuransi kematian Rp 150.000,dan iuran tunjangan hari tua Rp 250.000.Mutiara juga melakukan iuran oensiun ke
pengelola dana pension sebesar Rp 300.000 yang dipotong dari gajinya.Mutiara membayar melalui pemotongan PT Salak,zakat ke LAZ
sebesar Rp 187.500 dan angsuran rumah ke bank CMN sebesar Rp 1.500.000.PPh 21 yang dipotong oleh PT Salak Rp 425.200.Gaji
dibayarkan tiap bulan dan semua potongan dibayarkan pada tanggal 10 bulan berikutnya .
Jurnal yang akan dibuat pada 31 desember 2015.
Beban gaji 7.950.000
Utang PPh 21 425.200
Utang BPJS 450.000
Utang iuran pensiun karyawan 300.000
Utang zakat karyawan 187.500
Utang angsuran bank karyawan 1.500.000
Kas 5.087.300
Tunjangan menambah gaji.Angsuran pension yang ditanggung entitas menambah beban gaji.
Beban gaji = Rp 6.000.000 + Rp 500.000 + Rp 1.000.000 + Rp 150.000 + Rp 50.000 + Rp 250.000 = Rp 7.950.000
Kas = Rp 7.000.000 – Rp 425.200 – Rp 187.500 – Rp 300.000 = Rp 5.087.300.
UTANG PAJAK PIHAK KETIGA
Pada saat entitas membayarkan beban kepada pihak yang menerima entitas memotong pajak, sehingga kas yang dibayarkan akan berkurang karena pajaknya akan
dibayarkan oleh entitas ke kas Negara. Jika pembayaran pajak tidak dilakukan bersamaan dengan pembayaran kepada pihak ketiga maka akan timbul utang pajak penghasilan.
Contoh
PT salak melakukan beberapa pembayaran atas jasa atau kegiatan yang telah dilakukan beberapa rekaman selama Desember 2015. Jasa tersebut dikenakan pajak, seperti
dijelaskan dalam informasi di soal. Pajak yang telah dipotong akan dibayar perusahaan pada masa pajak perode berikutnya.
15 Desember 2015 Membayar jasa konsultan manajemen sebesar Rp. 80.000.000 dipotong PPh 23 sebesar 2%
20 Desember 2015 Membayar gaji pada seorang konsultan asing sebesar Rp.50.000.000 dipotong PPh 26 sebesar 20%
30 Desember 2015 Membayar bunga kepada PT Kinibalu atas utang sebesar Rp.100.000.000 yang akan jatuh tempo 2014, bunga 10% dibayar tahunan setiap #)
Desember. Pajak atas bunga yang dipotong 15%.
Jurnal yang dibuat selama Desember 2015 atas transaksi diatas adalah
15 Desember
Beban Administrasi 80.000.000
Utang PPh 23 1.600.000
Kas 78.400.000
20 Desember
Beban Gaji 50.000.000
Utang PPh 26 10.000.000
Kas 40.000.000
UTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
Atas penyerahan barang atau jasa kena pajak oleh pengusaha kena pajak akan dikenakan pajak pertambahan nilai
(PPN).PPN adalah pajak yang dikenakan setiap pertambahan nilai yang diciptakan oleh perusahaan.Pajak ini
dikenakan atas setiap konsumsi barang atau jasa didaerah pabean (wilayah dimana UU Pabean berlaku yaiutu
seluruh wilayah indonesia). Menurut UU PPN,saat terutang PPN adalah saat penyerahan barang atau jasa,kecuali
jika kas diterima terlebih dahulu sebelum penyerahan barang atau jasa maka saat terutang pajak adalah saaat
penerimaan kas.
Sesuai dengan PSAK 14 (Revisi 2010) persediaan dan PSAK 16 (Revisi 2014 ) asset tetap yang menyatak bahwa
pajak yang dapat dikreditkan tidak boleh menambah harga perolehan persediaan dan aseet tetap.Untuk
menghindari pajak berganda,maka setiap penjualan akan dikenakan pajak (PPN keluaran) dan pada saat
pembekian entitas akan membayar pajak (PPN Masukan).Jika PPN keluaran lebih besar dari PPN masukan,maka
akan muncul utang PPN akhir masa/bulan.Dan jika PPN masukan lebih besar ,maka kelebihan pembayaran PPN ini
akan dikompensasi pada pembayaran pajak periode berikutnya atau dimintai restitusi.
Pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) adalah pajak yang dikenakan atas barang mewah.Pajak ini hanya
dikenakan pada importer dan produsen barang mewah.Bagi importer barang mewah,PPnBM dibayarkan ke kas
negara bersamaan dengan pembayaran pajak impor dan bea masuk.
Contoh 11.11 Akuntansi pajak pertamahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah.
PT Gede melakukan transaksi berikut ini :
5 Desember Melakukan pembelian persediaan untuk bahan produksi senilai Rp.300.000.000. dikenakan PPN
10%
10 Desember Menjual barang mewah secara kredit sebesar Rp.900.000.000. atas penjualan tersebut
dikenakan PPN 10% PPnBM 20%. Harga pokok barang yang dikirim nilainya Rp.600.000.000
15 Desember Membeli peralatan secara kredit untuk pabrik sebesar Rp.600.000.000 dikenakan PPN 10%. Atas
peralatan ini pajaknya boleh dikreditkan.
25 Desember Menerima uang muka dari pelanggan sebesar Rp.132.000.000 atas pesanan yang akan
dikirimkan pada bulan Januari 2016. Nilai uang muka termasuk nilai PPN 10%.
Jurnal selama Desember 2015 atas transaksi diatas.

5 Desember persediaan 300.000.000

PPn Masukan 30.000.000

Utang Dagang 330.000.000

10 Desember Beban Pokok Penjualan 600.000.000

Persediaan 600.000.000

Piutang Dagang 1.170.000.000

PPN Keluaran 90.000.000

Utang PPnBM 180.000.000

Penjualan 900.000.000

15 Desember Peralatan 600.000.000

PPn masukan 60.000.000

Utang Dagang 660.000.000

25 Desember Kas 132.000.000

PPN Keluaran 12.000.000

Penjualan 120.000.000

31 Desember PPN Keluaran 102.000.000

PPN masukan 90.000.000

Utang PPN 12.000.000

Jurnal penyesuaian atas PPN masukan dan PPN keluaran untuk memunculkan utang pajak akhir tahun.

Penyajian liabilitas jangka pendek terkait dengan PPN dan PPnBM sebagai berikut :

Liabilitas jangka pendek

Utang PPN 12.000.000

Utang PPnBM 180.000.000


UTANG PAJAK PENGHASILAN
Entitas termasuk subjek pajak, dalam UU Pajak Penghasilan disebut Badan. Atas penghasilan yang dipereoleh dalam
satu tahun pajak dikenakan pajak. penghasilan kena pajak dihitung dari penghasilan kotor dikurangi beban yang boleh
dikurangkan. Penghasilan kotor menurut pajak tidak sama dengan pendapat menurut akuntansi. Demikian juga beban
menurut akuntansi tidak semuanya boleh menjadi beban menurut pajak.
Atas penghasilan yang telah diterima entitas ada yang telah dipotong pajak oleh pihak lain. Entitas mencatat pajak yang
telah dipotong pihak lain sebagai PPh dibayar dimuka. Pajak yang telah dibayar ini dapat menjadi kredit (pengurangan)
pajak dalam menghitung pajak akhir tahun.
Contoh 11.12 Utang pajak penghasilan
PT Gandul untuk tahun pajak yang berakhir 31 Desember 2015 menghitung jumlah pajak
terutang sebesar Rp.430.000.000. pajak yang telah dibayar melalui angsuran PPh 25 sebesar Rp.360.000.000 dan
dipotong oleh pihak lain PPh 23 Rp.20.000.000. perusahaan mencatatnya sebagai pajak dibayar di muka. Berapakah
utang pajak penghasilan untuk tahun 2015, buatlah jurnal !
Beban Pajak 430.000.000
Pajak Dibayar Dimuka PPh 23 20.000.000
Pajak Dibayar Dimuka PPh 24 360.000.000
Utang PPh Badan (29) 50.000.000
Utang pajak penghasilan akan disajikan dilaporan posisi keuangan sebesar Rp 50.000.000
D. PROVISI DAN KONTINJENSI
DEFINISI
Istilah umum yang digunakanuntuk sesuatu yang memiliki ketidakpastian dari sisi kejadian dan jumlah adalah
kontinjensi. Dalam akuntansi, kontinjensi dapat muncul sebagai liabilitas kontinjensi atau asset kontinjensi. Liabilitas
kontinjensi lebih sering dijumpai dibandingkan dengan asset kontinjensi. Dalam PSAK 57 (Revisi 2004), provisi disebut
sebagai kewajiban diestimasi. Provisi bentuk kontinjensi yang disajikan dalam laporan keuangan (on balance sheet),
sedangkan liabilitas kontinjensi hanya diungkapkan dalam laporan keuangan. Istilah provisi dapat juga diartikan sebagai
pencadangan suatu penurunan yang merupakan akun lawan asset seperti penurunan nilai depresiasi. PSAK 57 (Revisi
2009) mendefinisikan provisi sebagai liabilitas kini yang waktu dan jumlahnya belum pasti. Provisi diakui dalam laporan
keuangan, pengukurannya dengan cara melakukan estimasi. Perbedaan antara provisi dan liabilitas lain, terletak pada
kepastian dari sisi jumlah dan waktu.
Liabilitas kontinjensi menurut PSAK 57 evisi 2009) adalah :
1. Liabilitas potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadinya atau
tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas.
2. liabilitas kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui karena,
a. tidak terdapat kemungkinan besar (probable) entitas mengeluarkan sumber daya untuk menyelesaikan
liabilitasnya
b. jumlah liabilitas tersebut tidak dapat diukur secara andal
liabilitas kontinjensi tidak diakui dalam laporan keuangan, liabilitas ini hanya perlu diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan.
PENGAKUAN DAN PENGUKURAN
Provisi diakui jika memenuhi tiga syarat yaitu :
1. entitas memiliki kewajiban kini(baik bersifat hukum, konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu.
2. Kemungkinan besar penyelesaian liabilitas tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya
3. Estimasi yang andal mengenai jumlah liabilitas nilainya dapat diukur dengan andal dapat dibuat.

Jika tidak memnuhi ketiga syarat tersebut provisi tidak dapat diakui. Ketika tidak memenuhi ketiga persyaratan
tersebut, kemungkinan liabilitas tersebut cukup diungkapkan sebagai liabilitas kontinjensi tergantung materialitas
dan kemungkinan terjadinya.
Pengukuran provisi didasarkan pada hasil estimasi terbaik dari pengeluaran yang diperlukan untuk
menyelesaikan kewajiban kini pada akhir periode pelaporan. Estimasi terbaik pengeluaran yang diperlukan untuk
menyelesaikan kewajiban kini adalah jumlah yang secara rasional akan dibayar entitas untuk menyelesaikan dan
mengalihkan kewajiban.
Contoh 11.13 pengukuran provisi.
Entitas menjual produk dengan memberikan garansi selama 1 tahun dari tanggal penjualan. Jika kerusakan
terdeteksi cacat ringan biaya perbaikan atas seluruh produk yang dijual Rp.100.000.000, jika cacat berat biaya
yang dikeluarkan Rp.500.000.000. pengalaman entitas di masa lalu memberikan indikasi bahwa dalam tahun
mendatang kemungkinan 80% produk terjual tanpa cacat, 15 % cacat ringan, dan 5 % cacat berat.
Berdasarkan pengalaman masa lalu tersebut, estimasi biaya perbaikan didasarkan pada nilai yang diharapkan
(expected value) = 80% x 0) +(15% x Rp.100.000.000) + (5% x Rp.500.000.000) = Rp.40.000.000
Entitas akan mengakuii garansi tersebut
Beban Garansi 40.000.000
Utang Garansi 40.000.000
Dalam menentukan estimasi terbaik suatu provisi, entitas mempertimbangkan berbagai risiko dan ketidakpastian.
Risiko menimbulkan hasil yang bervariasi, sehingga dapat menyebabkan kenaikan nilai kewajiban yang diukur. Jika
terdapat unsur ketidakpastian, entitas harus berhati-hati sehingga pendapatan atau asset tidak menjadi terlalu
besar dan beban atau kewajiban tidak menjadi terlalu kecil.
GARANSI
Garansi dapat dibedakan menjadi dua yaitu garansi jaminan (assurance type warranty) dan garansi jasa (service
type warranty) . kedua bentuk garansi ini memiliki pendekatan berbeda.Garansi jasa merupakan bentuk
pelayanan tambahan yang diberikan kepada pelanggan karena permintaan pelanggan. Garansi jasa akan
menimbulkan pendapan jasa dan akan diakui saat waktu berlalu atau secara proporsional dengan jasa yang
diberikan. Garansi jaminan merupakan bentuk kewajiban penjual untuk memastikan bahwa produk yang
diberikan tidak rusak. Atan garansi jaminan, wntitas harus mengakui liabilitas karena kontrak untuk memberikan
pelayan. Produk-produk elektronik atau peralatan merupakan contoh produk yang dijual memberikan garansi.
Garansi jaminan produk merupakan contoh dari kontinjensi karena jumlah dan waktunya tidak pasti. Garansi
merupakan bentuk kewajiban kontraktual, karena garansi diberikan berdasarkan perjanjian jual beli yang tertera
dalam dokumen jual beli.
Contoh Garansi Produk
PT Kendeng menjual produk dengan memberikan garansi perbaikan selama dua tahun. Berdasarkan pengalaman
beberapa tahun terakhir, hasil analisin teknis dan pengalaman dari industri diketahui bahwa hanya 5% pelanggan
dating meminta garansi. Dari pelanggan yang meminta garansi tersebut 70% meminta garansi di tahun pertama
dan sisanya di tahun kedua. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk memberikan garansi tiap produk sebesar
Rp.100.000.
Pada tahun 2015 penjualan sebanyak 20.000 unit dan di tahun 2015 penjualan sebanyak 26.000 unit. Total
garansi actual yang dikeluarkan di tahun 2010 sebesar Rp.65.000.000 dan tahun 2015 sebesar Rp.125.000.000.
Buatlah jurnal yang diperlukan untuk mencatat garansi di dua tahun tersebut!
Jurnal yang dibuat tahun 2015
Pengakuan beban garansi
Beban garansi 100.000.000
Provisi Garansi 100.000.000
(5% x 20.000 x Rp.100.000 = Rp 100.000.000)
Pembelian garansi tahun 2015.
Provisi Garansi 65.000.000
Kas 65.000.000
Provisi garansi yang disajikan pada laporan keuangan 31 Desember 2015 sebesar Rp.35.000.000
Jurnal yang dibuat tahun 2016
Pengakuan beban garansi
Beban Garansi 130.000.000
Provisi Garansi 130.000.000
(5% x 26.000 x Rp100.000 = Rp130.000.000)
Pemberian garansi tahun 2016
Provisi Garansi 125.000.000
Kas 125.000.000
Provisi garansi yang disajikan pada laporan keuangan 31 Desember 2016 sebesar Rp.40.000.000.
Entitas dapat mencatat jurnal pemberian garansi, baru di akhir periode pelaporan mencatat provisi dengan jurnal penyesuain. Jika pendekatan tersebut digunakan maka jurnal yang dibuat:

Jurnal tahun 2015

Pemberian beban garansi

Beban Garansi 65.000.000

Kas 65.000.000

Tambahan pengakuan beban garansi tahun 2015.

Beban Garansi 35.000.000

Provisi Garansi 35.000.000

Beban garansi tambahan Rp100.000.000 – Rp65.000.000 = Rp35.000.000

Jumlah tahun 2016

Pemberian beban gratis!

Beban Garansi 125.000.000

Kas 125.000.000

Tambahan pengakuan beban garansi tahun 2016

Beban Garansi 5.000.000

Provisi Garansi 5.000.000

5% x 26.000 x Rp100.000.000 = Rp130.000.000

Beban garansi tambahan Rp.130000.000 – Rp125.000.000 = Rp5.000.000


Contoh 11.15 Garansi Jaminan Produk Dan Jasa
PT Prahu menjual mobil pada 2 januari 2015 dengan memberikan garansi atas 36,000 km pertama atau selama 3 tahun yang mana
lebih dulu.Harga jual mobil Rp 300.000.000.Entitas menegstimasi biaya garansi yang akan diberikan selama 3 tahun sebesar Rp
7.000.000.Pelanggan juga memberikan garansi jasa senilai Rp 9.000.000 sehingga tambahan pelayanan untuk servise mobil tersebut
dari standar jaminan yang diberikan.Selama tahun 2015 biaya terkait dengan jamina asuransi yang dikleuarkan sebesar Rp
1.000.000.Atas garansi jasa perusahaan mengakui dengan metode garis lurus.
Jurnal yang dibuat perusahaan pada saat melakukan penjualan dalah :
Kas 309.000.000
Beban garansi 7.000.000
Provisi garansi 7.000.000
Pendapatan ditangguhkan garansi jas 9.000.000
Penjualan 300.000.000
Jurnal pada 2015,saat memberikan garansi jaminan dan pengakuan garansi jasa.
Provisi garansi 5.000.000
Kas/persediaan 5.000.000
Pendapatan ditangguhkan garansi jasa 3.000.000
Pendapatan garansi 3.000.000
KEWAJIBAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Perusahaan pada industry pertambangan diwajibkan oleh pemerintahan untuk melakukan kegiatan restorasi lingkungan sekitar kegiatan operasi
perusahaan. kewajiban untuk melakukan restorasi lingkungan tersebut ada yang bersifat umum berupa pengelolaan lingkungan selama atau paska kegiatan
produksi. Biaya lingkungan bersifat umum misalnya biaya reklamasi lingkungan tambang, biaya pengelolaan areal tambang. Biaya ini lebih sering muncul pada
perusahaan pertambangan terbuka misalnya penambangan batubara, nikel, emas, timah. Biaya tersebut harus diakui pada saat produksi sebagai beban dan
liabilitas lingkungan. Biaya lingkungan yang bersifat umum akan dicatat sebagai biaya dan tidak dikapitalisasi dalam asset tertentu. Jika kegiatan reklamasi telah
dilakuykan maka liabilitas akan dikurangi.
Contoh 11.16 Akuntansi Liabilitas Pembongkaran Aset
PT Kapuas pada 2 Januari 2015 memulai penggunaan peralatan penambangan(drilling) di sebuah areal tambang yang dimiliki. Regulasi pemerintah
mengharuskan perusahaan melakukan pembongkaran peralatan tersebut di akhir masa manfaatnya. Masa manfaat drilling tersebut 10 tahun dengan estimasi
biaya sebesar Rp.2.000.000.000. dengan tingkat diskon 6% selama masa manfaat, nilai wajar kewajiban lingkungan tersebut adalah Rp.1.116.800
(Rp.2.000.000.000 x 0,5584)
Jurnal pengakuan liabilitas sebagai penambah nilai peralatan drilling
Peralatan Drilling 1.116.800.000
Liabilitas pembongkaran asset 1.116.800.000
Jurnal pengakuan depresiasi peralatan drilling
Beban depresiasi 1.116.800.000
Akumulasi depresiasi – drilling 1.116.800.000
Depresiasi ini akan dilakukan bersamaan dengan nilai peralatan drilling sebagai satu kesatuan, tidak didepresiasikan secara terpisah.
Jurnal pengakuan bunga atas liabilitas pembongkaran asset
Beban bunga 67.008.000
Liabilitas pembongkaran asset 67.008.000
Beban bungan = 6% x Rp.1.116.800.000 = Rp.67.008.0000
LITIGASI HUKUM
Litigasi hukum merupakan tuntutan perkara terkait suatu entitas yang sedang berjalan proses hukumnya. Kasus
hukum entitas dapat berakibat timbulnya liabilitas yang harus diselesaikan oleh sebuah entitas. . Ada tidaknya liabilitas
yang diakui dipengaruhi oleh kasusnya dan estimasi atas potensi munculnya liabilitas. Suatu kasus dapat saja
mengindikasikan suatu entitas kalah dan memiliki liabilitas di masa mendatang. Namn jika proses pengadilan
menetapkan sebaliknya, potensi kerugian tersebut terjadi tidak ada sehingga tidakperlu pengakuan utang.
Contoh 11.17 akuntansi litigasi
PT Merbabu memiliki dua kasus yang saat ini sedang dalam proses di pengadilan.
Entitas menerima klaim dari seorang pelanggan atas proyek yang tidak dapat diselesaikan oleh perusahaan. akibat
kegagalan tersebut, pelanggan mengajukan klaim ganti rugi sebesar Rp. 100.000.000.000. pada saat penyusunan
laporan keuangan 31 Desember 2015 proses hukum sedang berlangsung . menurut pendapat hukum entitas,
kemungkinan entitas dapat kalah. Namun jika kalah masih ada upaya lagi untuk melakukan banding. Konsultan belum
dapat memastikan berapa jumlah kerugian yang harus dibayar oleh perusahaan akibat tuntutan tersebut.
Entitas menerima klaim dari seorang ahli waris pekerja akibat kecelakaan pekerja yang berakibat pekerja mengalami
cacat seumur hidup. Pihak perusahaan sudah memberikan semua santunan asuransi kecelakaan kerja sesuai dengan
ketentuan ketenagakerjaan. Namun ahli waris menuntut jumlah yang lebih besar yaitu Rp.300.000.000, karena
kesalahan tersebut dengan tindakan entitas yang memberikan pengamanan pada pekerja. Proses pengadilan
berlangsung selama 2013. Pada 1 februari 2016 saat audit laporan keuangan belum selesai, diperoleh keputusan,
entitas di nyatakan bersalah dan harus membayar Rp. 250.000.000. entitas tidak ingin memperpanjang masalah inii,
sehingga tidak berniat melakukan banding.
Jurnal yang dibuat :
Tidak diakui sebagai beban dan liabilitas, informasi merupakan liabilitas kontinjensi.
Entitas cukup menjelaskan dalam catatan atas laporan keuangan kasus litigasinya dan potensi kerugian yang harus
dibayarkan jika pengadilan menyatakan perusahaan bersalah.
Entitas mengakui beban dan liabilitas.
Kerugian tuntutan hukum pekerja 250.000.000
Utang tuntukan hukum 250.000.000
LIABILITAS KONTINJENSI
Entitas tidak diperkenankan mengakui liabilitas kontinjensi. Artinya liabilitas kontinjensi tidak pernah diakui
oleh laporan posisi keuangan. Keberadaannya hanya perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, kecuali
jika kemungkinan arus keluar sumberdaya kecil. Maka liabilitas kontinjensi tidak perlu diungkapkan.
Bagian dari liabilitas kontinjensi kemungkinan besar terjadi dan dapat diestimasi dengan andal, akan diakui
sebagai provisi.Liabilitas kontinjensi dapat berubah dari perkiraan semula.Untuk liabilitas kontinjensi perlu dikaji ulang
untuk menentukan kemungkinan arus keluar sumber daya bertambah sehingga menjadi kemungkina besar,dapat
berubah menjadi provisi jika dapat diukur dengan andal.Entitas tidak diperkenankan mengakui asset kontinjensi.Aset
kontinjensi timbul dari peristiwa tidak terencana yang menimbulkan arus masuk manfaat ekonomis bagi entitas,missal
kemungkinan klaim yang diperoleh karena proses hukum.Aset kontinjensi diungkapkan jika terdapat kemungkinan
besar arys ekonomi akan diperoleh.