Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS JURNAL KELOMPOK

5
1. Anggiati Ambarsari (1413206003)
2. Efi Ratna Sari (1413206018)
3. Noerberto (1413206031)
Analisis histopatologis persiapan
antibiotik kortikosteroid dan
Formulasi Pasta propolis sebagai
obat intrakanal setelah
Pulpectomy: dalam studi in vivo
IDENTIFIKASI JURNAL
• Pengarang Jurnal :
Isabela France et.al
• Judul Jurnal :
Analisis Histopatologis Antibiotik Kortikosteroid
Dan Formulasi Pasta Propolis Sebagai Obat
Intrakanal Setelah Pulpectomy: Dalam Studi In
Vivo
• Tahun Jurnal : 2010
PENDAHULUAN
• Obat obyektif intracanal dalam terapi pulpectomy
digunakan dengan mengurangi nyeri dan proses
inflamasi di jaringan pulpa dan periapikal.
• Propolis telah dikenal sebagai antibiotik alami dan
telah menjadi subyek penelitian medis pada gigi
karena sifat terapeutiknya seperti efek antibiotik,
analgesik dan anti-inflamasi.
TUJUAN
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan
evaluasi secara in vivo terhadap
Respon jaringan periapikal terhadap pasta
propolis saat digunakan sebagai obat intrakanal
di Gigi anjing setelah proses pulpektomi.

Pulpektomi adlah prosedur gigi utk


menyingkirkan seluruh jaringan pulpa dari
mahkota hingga akar gigi utk mengobati infeksi
dan pencegahan kehilangan gigi
METODE
1. 72 gigi seri dari 6 ekor anjing berusia 2-4 tahun dipilih untuk
eksperimen.
2. Setelah persiapan biomekanis saluran akar diisi dengan sediaan
antibiotik kortikosteroid, pasta propolis non obat (kontrol
negatif) atau non pulpektomi sama sekali (kontrol positif)
3. Obat tersebut diberikan dalam saluran akar selama 7, 14 atau
28 hari.
4. Pada akhir periode eksperimen histologis disiapkan semua
proses laboratorium untuk pewarnaan Harris hematoxylin dan
eosin
5. Dianalisis menggunakan mikroskop optik.
6. Diklasifikasikan menurut nilai kejadian inflamasi dan diamati:
adanya eosinofil polimorfonuklear, limfosit dan plasma sel,
makrofag, kondensasi dan abses fibrosa.
HASIL
• Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil
bahwa penggunaan pasta propilis lebih efektif
daripada antibiotik kortikosteriod
• Hal ini ditunjukkan dgn perbedaan signifikan antara
reaksi jaringan yang disebabkan oleh dua zat yang
diuji, setelah periode percobaan yang berbeda,
jaringan periapikal dgn penggunaan pasta propilis
memiliki reaksi inflamasi yg lebih sedikit daripada
dengan antibiotik kortikosteroid
Nilai Neutrofil

 Menggambarkan variasi jumlah


neutrofil pd analisis di stiap
kelompok slma periode uji.
 Kelompok yg tidak diobati memiliki
skor rata-rata terendah dan tidak
memiliki variasi.
 Pda antibiotik kortikosteroid, terjadi
peningkatan nilai mean terus-
menerus selama periode uji dgn
perbedaan yang signifikan sangat
mirip dengan kelompok kendaraan.
 Pda pasta propolis, tidak ada
perbedaan yang signifikan antara
periode uji
Nilai Limfosit
 kelompok yang tidak diobati
memiliki skor rata-rata
terendah dan tidak memiliki
variasi slma periode uji
 Pda antibiotik
kortikosteroid menunjukkan
perbedaan yang signifikan
slma periode uji
 Pda pasta propolis sekali
lagi tidak menunjukkan
perbedaan yang signifikan
slma periode uji
Nilai Makrofag

 Kelompok tidak diobati


memiliki skor rata-rata
terendah dan tidak memiliki
variasi selama waktu uji untuk
makrofag.
 Analisis nilai rata-rata antara
kecenderungan ekspresi
seluler untuk kelompok terikat,
pasta propolis dan persiapan
antibiotik kortikosteroid
menunjukkan bahwa kejadian
ini terus-menerus ada dalam
jaringan yang dianalisis, tanpa
perbedaan yang signifikan di
antara keduanya.
Abses pada gigi
 Kelompok yang tidak diobati
dan kelompok pasta propolis
tidak menunjukkan perbedaan
yang signifikan
 pda kelompok terikat dan
antibiotik kortikosteroid terjadi
peningkatan drastis dgn
perbedaan yg signifikan
 Pemberian antibiotik
kortikosteroid dan kelompok
terikat memiliki nilai yg lebih
tinggi bila dibandingkan dgn
pasta propolis dan kelompok yg
tidak diobati
 gambar sampel yg diuji
setelah 28 hari kontak
dengan jaringan periapikal.
 Gambar 5A adalah gambar
kelompok yg tidak diobati:
jaringan periapikal normal,
tanpa sel inflamasi.
 Gambar 5E-F, penggunaan
antibiotik kortikosteroid,
terjadi peradangan hebat
setelah 28 hari,
 Gambar 5B-D hanya ada
peradangan ringan
periapikal setelah
penggunaan pasta propolis.
PEMBAHASAN
 Selama pulpektomi, pembuangan pulpa memicu
peradangan akut pada Jaringan periapikal.
 Pertimbangan ketika mengamati respon inflamasi awal
pada jaringan adalah kondisi neutrofil dan adanya
abses.

 Ketika terdapat neutrofil, menunjukkan terjadinya


proses akut, dimana sel terus mengalami inflamasi.
 Sel tersebut berpindah dari pembuluh darah menuju
tempat serangan. Namun, jika serangan tsb
berlangsung secara intens & neutrofil tdk dpt
menahan dgn cepat, abses dpt terbentuk dari
penumpukan neutrofil mati dan cairan jaringan
sehingga terbentuk nanah.
 Obat berbasis kortikosteroid bekerja pada sintesis lipokortin
dan vasokortin, yang menghambat pembentukan enzim
edema dan enzim fosfolipasis A2, fosfolipid membran tidak
dapat diubah menjadi asam arakidonat. Oleh karena itu,
siklooksigenase dan lypooxygenase diblokir.
 kortikosteroid juga bekerja pada histamin, heparin, dan
bradicinin, yang merupakan mediator kimia berperan
penting pada tahap awal peradangan akut
 Obat-obatan berbasis propolis mengandung flavonoid yang
dianggap sebagai komponen utama biologis aktif. Flavonoid
mengganggu metabolisme asam arakidonat dan
mengganggu sintesis siklooksigenase dan lypooxygenase.
 Beberapa zat yang diturunkan yaitu prostaglandin,
tromboksan dan leukotrien yang penting untuk menjaga
integritas reaksi inflamasi.
• Dari analisis penggunaan antibiotik kortikosteroid diketahui adanya
neutrofil dan abses, terutama dari 14 hari dan selebihnya.
• Adanya neutrofil scra terus-menerus dan tidak berkurang selama 28 hari
menunjukkan tingkat keparahan respon inflamasi pada penggunaan
antibiotik kortikosteroid.
• Sebaliknya, neutrofil dan abses pada kelompok uji menggunakan pasta
propolis menggambarkan reaksi jaringan yang lebih membaik selama
waktu percobaan.
• Hal ini menguatkan penelitian oleh Bretz, et al.4 (1998), Al-Shaher,
et al.2 (2004) dan Silva, dkk.32 (2004), yang menunjukkan bahwa
pemberian zat berbasis propolis menyebabkan jaringan
menunjukkan normal Reorganisasi tanpa peningkatan kejadian
vaskular atau seluler, mempertahankan tingkat peradangan yang
rendah.
 penelitian ini menunjukkan bahwa pasta propolis
merupakan alternatif untuk pengobatan intrakanal pada
kasus proses peradangan pula atau periapikal.
 Penggunakan antibiotik kortikosteroid untuk jangka waktu
lebih dari 7 hari dapat memperburuk proses peradangan.
 Berdasarkan penelitian pasta propolis memiliki nilai
terendah dari kejadian sel inflamasi, dengan nilai rata-rata
yang serupa dengan kelompok kontrol negatif. Hal ini
menunjukkan bahwa pasta propolis bisa dianggap sebagai
obat intrakanal. Namun, penelitian ini hanya bagian dari
studi primer dengan percobaan menggunakan pasta
propolis. Sehingga perlu dilakukakan pengujian klinis
untuk mengetahui sifat-sifatnya dan kemungkinan
penggunaannya dalam perawatan Endodontik.
KESIMPULAN
Pasta propolis menyebabkan respons inflamasi
ringan pada periapikal, sedangkan antibiotik
kortikosteroid menyebabkan peningkatan respons
inflamasi selama waktu percobaan dan paling
parah terjadi pada waktu 28 hari.