Penyakit Akibat Kerja: MSDs dan Ergonomi
Penyakit Akibat Kerja: MSDs dan Ergonomi
I.1. Latar Belakang Penyakit Akibat Kerja (PAK) adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja (Kep.Pres Nomor 22 Tahun 1993). Dengan demikian Penyakit Akibat Kerja merupakan penyakit artifisial atau man made disease. WHO membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja yaitu: 1) Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya Pneumoconiosis. 2) Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya Karsinoma Bronkhogenik. 3) Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebabdi antara faktorfaktor penyebab lainnya, misalnya Bronkhitis khronis. 4) Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya, misalnya asma. Penyakit akibat kerja merupakan penyakit yang disebabkan oleh bebeerapa faktor (multikausa faktor), faktor penyebab tersebut tergantung pada bahan yang digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara kerja, dan lain-lain. Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 faktor yaitu: 1) Faktor fisik, terdiri dari: suara (bising), radiasi, iklim (panas/dingin), vibrasi (getaran), dan pencahayaan. 2) Faktor kimia, yang terdiri dari bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja, maupun yang terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan, awan atau kabut. 3) Faktor biologis, terdiri dari bakteri, virus atau jamur, tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme hidup lainnya. 4) Faktor fisiologis merupakan faktor yang bersumber dari ketidaksesuaian, ketidakharmonisan antara kondisi tenaga kerja dengan lingkungan kerja. 5) Faktor psikososial, faktor yang ditimbulkan oleh adanya stress mental di lingkungan kerja. factor dan
Salah satu faktor penyebab terjadinya Penyakit Akibat kerja adalah faktor fisiologi yang merupakan faktor yang berhubungan dengan cara kerja, posisi kerja, alat kerja, lingkungan kerja, tata letak/layout kerja yang tidak ergonomis. Faktor fisiologis ini dikenal juga dengan istilah ergonomi. Ergonomi menurut ACGIH (American Conference of Governmental Industrial Hygiene) didefinisikan sebagai aplikasi ilmu pengetahuan ke lapangan yang mempelajari dan mendesain interaksi antara manusia dan mesin untuk mencegah kesakitan dan injury dan untuk meningkatkan performa kerja dan untuk memastikan bahwa pekerjaan dan tugas didesain sedemikian rupa untuk kesesuaian dengan kemampuan manusia. Jika cara kerja, posisi kerja, alat kerja, lingkungan kerja tidak ergonomis atau tidak sesuai dengan kondisi pekerja maka akan menimbulkan efek negatif terhadap pekerja tersebut. Efek yang ditimbulkan dari faktor fisiologis ini diantaranya adalah kelelahan fisik, nyeri otot, deformitas tulang, perubahan bentuk tulang, dan dislokasi. Salah satu penyakit akibat kerja yang ditimbulkan dari faktor fisiologis ini adalah Musculoskeletal disorders (MSDs)
Musculoskeletal disorders (MSDs) adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon (Grandjean, 1993). Musculoskeletal disorders termasuk dari pembengkakan dan dampak degenarif kondisi otot, tendon, ligament, sendi pembuluh perifer dan pembuluh darah. Bagian utama tubuh yang terlibat adalah punggung, leher, bahu, lengan bawah dan tangan (extrimitas bagian atas), meskipun bagian extrimitas bawah perlu juga mendapatkan perhatian lebih. Berdasarkan hasil survey Departemen Kesehatan RI dalam profil masalah kesehatan tahun 2005 menunjukkan bahwa sekitar 40,5% penyakit yang diderita pekerja berhubungan dengan pekerjaannya, gangguan kesehatan yang dialami pekerja menurut studi yang dilakukan terhadap 482 pekerja di 12 kabupaten/kota di Indonesia, umumnya berupa gangguan MSDs (16%), kardiovaskuler (8%), gangguan syaraf (6%), gangguan pernafasan (3%) dan gangguan THT (1.5%)
(Depkes RI, 2005). Sedangkan hasil studi laboratorium Pusat Studi Kesehatan dan Ergonomi ITB pada tahun 2006-2007, diperoleh data bahwa sebanyak 4080% pekerja melaporkan keluhan pada musculoskeletal sesudah bekerja (dalam Mega Octarisya, 2009). Banyak studi mengenai faktor yang turut berkontribusi terhadap MSDs pada pekerjaan pengelasan, salah satunya disebabkan oleh posisi yang buruk (jongkok, berlutut dan over head), berat alat yang tidak standar, posisi leher dan bahu statis dengan mendongak ke atas (Humantech 2003). Fakta mengenai risiko yang ditimbulkan dari faktor pekerjaan, menurut Grandjen (1993) adalah sikap kerja yang tidak alamiah pada umumnya akan menyebabkan terjadinya keluhan otot skeletal. Jenis pekerjaan yang masih menggunakan tenaga manusia (manual handling) merupakan salah satu jenis pekerjaan yang berisiko terhadap MSDs. Hal ini disebakna karena jenis pekerjaan tersebut melakukan kegiatan yang berulang, penggunaan tenaga berlebih, vibrasi, tekanan mekanis, dan postur tubuh Pekerjaan memanen kelapa sawit termasuk salah satu jenis pekerjaan yang berisiko terkena MSDs. Hasil penelitian Hendra dan Suwandi (2008), diketahui bahwa pekerjaan pemanenan kelapa sawit dan pemuatannya ke atas truk mempunyai skor REBA antara 810 atau risiko tinggi yang memerlukan tindakan perbaikan segera. Keluhan MSDs terbanyak dialami pada bagian leher dan punggung bawah, yaitu masing-masing sebanyak 98 responden. Sedangkan keluhan paling sedikit adalah pada bagian pantat/bokong. Indonesia sebagai negara yang masih mengandalkan sektor pertanian sebagai penyumbang devisa negara juga berpotensi mempunyai persoalan kesehatan kerja di sektor pertanian. Data mengenai kasus kecelakaan dan
gangguan kesehatan akibat kerja pada industri pertanian masih sangat terbatas khususnya perkebunan kelapa sawit. Aktivitas kerja di perkebunan kelapa sawit khususnya pekerjaan pemanenan masih dilakukan secara manual dan
mengandalkan tenaga manusia. Kondisi ini tentu saja berpotensi untuk menimbulkan permasalahan khususnya MSDs terhadap pekerja pemanenan. Sampai saat ini belum ada data yang tercatat dengan lengkap khususnya
mengenai gangguan MSDs yang dialami oleh pekerja panen sawit sebagai dampak dari pekerjaannya. Oleh sebab itu diperlukannya kegiatan HIRAC (Hazard, Identification, and Risk Assesment) untuk kegiatan deteksi dini MSDs pada lingkungan kerja yang berisiko terkena MSDs. Selain itu pengelolaan manajemen K3 juga diperlukan untuk tindakan pengendalian dan pencegahan MSDs di suatu perusahaan kelapa sawit. Disamping itu, dengan belum diketahuinya tingkat risiko pekerjaan pemanenan dan permasalahan lain yang terkait dengan keluhan MSDs pada pekerja pemanenan mendorong penulis untuk meneliti mengenai tingkat risiko fisiologi/ergonomik pekerjaan pemanenan dan hubungannya dengan keluhan MSDs di PT. Cipta Futura Palembang
I.2. Tujuan 1. Mengetahui faktor penyebab fisiologi terjadinya Musculoskletal Disorders. 2. Mengetahui bagaimana menentukan HIRAC Musculoskletal Disorders di PT. Cipta Futura Palembang. 3. Menentukan pengelolaan management yang tepat terhadap keluhan Musculoskletal Disorders pada pekerja. 4. Memberikan rekomendasi management beruba hazard ellimination, substitution, engineering control, adminstrative control serta penggunaan APD dalam penanggulangan dan pencegahan terjadinya Musculoskletal Disorders pada pekerja.
BAB II PEMBAHASAN
II.1. Musculoskeletal Disorders (MSDs) MSDs adalah cidera atau penyakit pada sistem syaraf atau jaringan seperti otot, tendon, ligament, tulang sendi, tulang rawan atapun pembuluh darah. Rasa sakit yang akibat MSDs dapat digambarkan seperti kaku, tidak fleksibel, panas/terbakar, kesemutan, mati rasa, dingin dan rasa tidak nyaman. Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang dari mulai keluhan ringan hingga keluhan yang terasa sangat sakit. Apabila otot statis menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon. Hal inilah yang menyebabkan rasa sakit, keluhan ini disebut keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) atau cedera pada sistem
Musculoskeletal (Humantech, 2003). Keluhan otot skeletal pada umumnya terjadi karena kontraksi otot yang berlebihan akibat pemberian beban kerja yang terlalu berat dengan durasi pembebanan yang panjang. Menurut Katharine et al. (2005), Cummulative Trauma Disorders (CTD) atau biasa juga disebut MSDs adalah nyeri muskuloskeletal yang tetap dan selalu muncul akibat trauma setelah 6 (enam) minggu dengan tingkat keluhan: mild, moderate dan severe discomfort. II.1.1. Jenis Jenis MSDs Secara garis besar keluhan otot dapat dibagi menjadi dua yaitu: 1. Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi saat otot menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang apabila pembebanan di hentikan. 2. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap, walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot terus berlanjut. Keluhan otot skeletal pada umumnya terjadi karena kontraksi otot yang terlalu berlebihan akibat pembebanan kerja yang terlalu panjang dengan durasi pembebanan yang panjang. Sebaliknya, keluhan
otot kemungkinan tidak terjadi apabila kontraksi otot berkisar antara 1520% dari kekuatan otot maksimum. Namun apabila kontraksi otot melebihi 20% maka peredaran darah ke otot berkurang menurut tingkat kontraksi yang dipengaruhi oleh besarnya tenaga yang diperlukan. Suplai oksigen ke otot menurun, proses metabolisme karbohidrat terhambat dan sebagai akibatnya terjadi penimbunan asam laktat yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri otot (Sumamur,1996). Berikut akan dijelaskan berbagai macam jenis-jenis keluhan
Musculoskeletal Disorders diantara lain: 1. Sakit Leher Sakit leher adalah penggambaran umum terhadap gejala yang mengenai leher, peningkatan tegangan otot atau myalgia, leher miring atau kaku leher. Pengguna komputer yang terkena sakit ini adalah pengguna yang menggunakan gerakan berulang pada kepala seperti menggambar dan mengarsip, serta pengguna dengan postur yang kaku. 2. Nyeri Punggung Nyeri punggung merupakan istilah yang digunakan untuk gejala nyeri punggung yang spesifik seperti herniasi lumbal, arthiritis, ataupun spasme otot. Nyeri punggung juga dapat disebabkan oleh tegangan otot dan postur yang buruk saat menggunakan komputer; 3. Carpal Turner Syndrome Merupakan kumpulan gejala yang mengenai tangan dan pergelangan tangan yang diakibatkan iritasi dan nervus medianus. Keadaan ini disebabkan oleh aktivitas berulang yang menyebabkan penekanan pada nervus medianus. Keadaan berulang ini antara lain seperti mengetik, arthritis, fraktur pergelangan tangan yang penyembuhannya tidak normal, atau kegiatan apa saja yang menyebabkan penekanan pada nervus medianus; 4. De Quervains Tenosynovitis Penyakit ini mengenai pergelangan tangan, ibu jari, dan terkadang lengan bawah, disebabkan oleh inflamasi tenosinovium dan dua tendon yang berasa di ibu jari pergelangan tangan. Aktivitas berulang seperti mendorong space bardengan ibu jari, menggenggam, menjepit, dan
memeras dapat menyebabkan inflamasi pada tenosinovium. Gejala yang timbul antara lain rasa sakit pada sisi ibu jari lengan bawah yang dapat menyebar ke atas dan ke bawah; 5. Thoraic Outlet Syndrome Merupakan keadaan yang mempengaruhi bahu, lengan, dan tangan yang ditandai dengan nyeri, kelemahan, dan mati rasa pada daerah tersebut. Terjadi jika lima saraf utama dan dua arteri yang meninggalkan leher tertekan. Thoracic Outlet Syndrome disebabkan oleh gerakan berulang dengan lengan diatas atau maju kedepan. Pengguna komputer beresiko terkena sindrom ini karena adanya gerakan berulang dalam
menggunakan keyboard dan mouse; 6. Tennis Elbow Tennis elbow adalah suatu keadaan inflamasi tendon ekstensor, tendon yang berasal dari siku lengan bawah dan berjalan keluar ke pergelangan tangan.Tennis elbow disebabkan oleh gerakan berulang dan tekanan pada tendon ekstensor. 7. Low Back Pain Low back pain terjadi apabila ada penekanan pada daerah lumbal yaitu L4 dan L5. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan posisi tubuh membungkuk ke depan maka akan terjadi penekanan pada discus.Hal ini berhubungan dengan posisi duduk yang janggal, kursi yang tidak ergonomis, dan peralatan lainnya yang tidak sesuai dengan antopometri pekerja.
II.1.2. Gejala-Gejala MSDs Menurut Sumamur (1996), gejala-gejala MSDs yang biasa dirasakan oleh seseorang adalah: 1. Leher dan punggung terasa kaku. 2. Bahu terasa nyeri, kaku ataupun kehilangan fleksibelitas. 3. Tangan dan kaki terasa nyeri seperti tertusuk. 4. Siku ataupun mata kaki mengalami sakit, bengkak dan kaku. 5. Tangan dan pergelangan tangan merasakan gejala sakit atau nyeri disertai bengkak.
6. Mati rasa, terasa dingin, rasa terbakar ataupun tidak kuat. 7. Jari menjadi kehilangan mobilitasnya, kaku dan kehilangan kekuatan serta kehilangan kepekaan. 8. Kaki dan tumit merasakan kesemutan, dingin, kaku ataupun sensasi rasa panas. II.1.3. Faktor Faktor Timbulnya Keluhan MSDs MSDs merupakan kumpulan penyakit yang disebabkan oleh beberapa faktor risiko, beberapa faktor risiko tersebut bisa diklasifikasikan dalam tiga kategori yaitu pekerjaan, lingkungan dan manusia atau pekerja (Pheasant, 1991; Oborne, 1995). 1. Faktor Pekerjaan a. Postur Kerja Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiahnya. Semakin jauh posisi bagian tubuh
dari pusat gravitasi, semakin tinggi pula terjadi keluhan otot skeletal. Sikap kerja tidak alamiah pada umumnya karena ketidaksesuaian pekerjaan dengan
kemampuan pekerja (Grandjen, 1993). Berdasarkan hasil penilitian Hendra dan Raharjo (2008), diperoleh bahwa skor risiko (REBA) pada pekerjaan pemuatan kelapa sawit ke dalam truk sebesar 8-10/high risk, dan 83,7% dari 117 pekerja merasakan keluhan MSDs pada leher dan punggung bawah. Ada dua aspek dari postur tubuh yang dapat menyebabkan keluhan muskuloskeletal. Pertama berhubungan dengan posisi tubuh. Sebaga contoh bekerja dengan tubuh yang membungkuk kedepan, kebelakang, atau tubuh yang berkelok-kelok. Contoh lain posisi tubuh yang berbahaya termasuk mengjangkau benda diatas bahu, menjangkau benda dibelakang tubuh, memutar lengan, membengkokkan pergelangan tangan ke depan, belakang, atau kesamping. Jika salah satu bagian tubuh dekat dengan tubuh dari jarak jangkaunya, maka tidak akan terjadi penarikan dan tekanan pada tendon dan saraf. Pengunaan posisi tubuh tertentu dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan keluhan muskuloskeletal. Aspek kedua yang memiliki kontribusi terhadap keluhan muskuloskeletal yaitu meletakkan leher dan bahu pada posisi tertentu. Untuk melakukan
pergerakan pada lengan, otot-otot pada leher dan bahu akan berkontraksi dan akan terus berkontraksi selama pekerjaan tersebut berlangsung. Kontraksi yang terjadi akan menekan pembuluh darah yang menyebabkan berkurangnya aliran darah pada otot-otot tangan yang sedang bekerja. Bagaimanapun, dalam kondisi demikian demikian dibutuhkan darah yang banyak karena kerja otot yang terusmenerus. Dua hal dapat terjadi disini. Otot-otot leher atau bahu akan menjadi sangat lelah meskipun hanya melakukan sedikit gerakan atau tidak ada gerakan sama sekali. Pada saat yang bersamaan pengurangan aliran darah ke tangan akan mempercepat kelelahan yang terjadi pada otot. Kedua hal ini akan memudahkan terjadinya cedera Adapun posisi-posisi janggal adalah sebagai berikut:
b. Pengulangan yang Berkali-kali (Repetition Injury) Resiko MSDs meningkat jika salah satu bagian tubuh yang sama digunakan secara berulang-ulang. Pekerjaan yang dilakukan secara berulangulang akan menyebabkan kelelahan, kerusakan jaringan, dan kadang-kadang nyeri dan rasa tidak nyaman (discomfort). Hal ini dapat terjadi bahkan ketika tenaga yang digunakan sedikit dan postur yang tidak terlalu berbahaya. Dalam melakukan pekerjaan yang berulang-ulang, tidak cukup hanya memperitungkan berapa seringnya pekerjaan itu diulangi, tetapi juga mencakup: berapa lama seserorang melakukan pekerjaan tersebut, posture yang diperlukan, dan jumlah tenaga yang diberikan.
c. Durasi Durasi adalah jumlah waktu terpajan faktor risiko. Durasi didefinisikan sebagai durasi singkat jika < 1 jam per hari, durasi sedang yaitu 1-2 jam per hari, dan durasi lama yaitu > 2 jam per hari. Durasi terjadinya postur janggal yang berisiko bila postur tersebut dipertahankan lebih dari 10 detik (Brief Survey Methode dalam Humantech, 2003). Berdasarkan hasil studi Octarisya (2009), diketahui bahwa 59,3% pekerja yang mengalami keluhan MSDs diakibatkan oleh aktifitas mengangkat/manual handling dengan total waktu kerja selama 6 jam setiap hari. d. Beban Kerja Beban merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan otot rangka. Berat beban yang direkomendasikan adalah 23-25 kg, sedangkan menurut Departemen Kesehatan (2009) mengangkat beban sebaiknya tidak melebihi dari aturan yaitu lakilaki dewasa sebesar 15-20 kg dan wanita (1618 tahun) sebesar 12-15 kg. Berdasarkan studi oleh European Campaign On Musculoskeletal Disorders terhadap 235 juta pekerja di beberapa negara Eropa pada tahun 2008, diperoleh 18% pekerja telah mengalami MSDs diakibatkan pekerjaan memindahkan benda berat dari container setiap harinya. e. Tenaga Kerja Berlebihan Kerja yang dipaksa menunjuk pada berapa banyak otot melakukan pekerjaan dan berapa banyak tekanan yang diberikan pada tubuh. Semua pekerjaan membutuhkan kerja dari otot dengan tingkat tekanan yang berbedabeda. Meskipun sutu pekerjaan memberikan tekanan yang berbeda-beda pada setiap otot, hal ini dapat sangat berbahaya pada bagian otot yang lain yang dapat menyebabkan kerusakan pada otot atau tendonnya, persendian atau jaringan lunak lainnya. Cidera yang terjadi dapat disebabkan oleh satu jenis gerakan saja atau gerakan yang sangat berbahaya. Cidera tersebut paling sering disebabkan karena tekanan pada otot dari yang sedang hingga yang berat yang dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dan/atau posisi tubuh yang tidak sesuai.
10
Beberapa pekerjaan dapat memberikan resiko yang berbeda-beda pada setiap bagian tubuh. Misalnya, mengangkat beban berat yang jauh dari tubuh meningkatkan tekanan pada diskus vertebra dan tulang belakang pada punggung bawah. Hal ini berpotensi mengakibatkan kerusakan pada diskus vertebra dan tulang belakang itu sendiri. f. Alat Perangka/Genggaman Menurut Tarwaka (2004) pada saat tangan harus memegang alat ataupun menekan tombol, maka jaringan otot tangan yang lunak akan menerima tekanan langsung dari pegangan alat, apabila hal ini sering terjadi dapat menyebabkan rasa nyeri otot menetap. Berdasarkan hasil studi Susan et al. (2004), permasalahan ergonomi pada operator mesin dan assembler adalah ketika tangan digunakan untuk menghidupkan mesin (seperti mendorong tombol dan menekan panel), menggenggam besi untuk membuka kotak, memegang benda atau pun alat kerja dengan ujung jari (Susan, 2005). 2. Faktor Lingkungan a. Getaran Getaran dengan frekuensi yang tinggi akan menyebabkan kontraksi otot bertambah. Kontraksi statis ini akan menyebabkan peredaran darah tidak lancar, penimbunan asam laktat meningkat dan akibatnya menimbulkan rasa nyeri otot (NIOSH, 1997). Hal yang sama ditemukan oleh John (2007) bahwa getaran yang berlebihan menyebabkan rasa sakit pada otot, sendi dan organ-organ internal; menyebabkan mual dan trauma ke tangan, lengan, kaki dan kaki.Getaran diukur dengan arah, kecepatan dan frekuensi pada tubuh. b. Mikroklimat Paparan suhu dingin yang berlebihan dapat menurunkan kelincahan, kepekaan dan kekuatan pekerja, sehingga gerakannya menjadi lamban, sulit bergerak yang disertai dengan menurunnya kekuatan otot (NIOSH, 1997). Berdasarkan hasil penelitian John (2007), sebuah rentang suhu nyaman pada umumnya adalah 68-74 derajat Fahrenheit dan dipengaruhi juga oleh beban kerja fisik dengan kelembaban antara 20 sampai 60 persen. 3. Faktor Pekerja a. Usia
11
Menurut Oborne (1995) keluhan otot skeletal biasanya dialami seseorang pada usia kerja yaitu 24-65 tahun. Keluhan pertama biasa dialami pada usia 35 tahun dan tingkat keluhan akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Sedangkan menurut Bridger (2003), sejalan dengan meningkatnya usia akan
terjadi degenerasi pada tulang dan keadaan ini mulai terjadi di saat seseorang berusai 30 tahun. Pada usia 30 tahun terjadi degenerasi yang berupa kerusakan jaringan, penggantian jaringan menjadi jaringan parut, pengurangan cairan sehingga hal tersebut menyebabkan stabilitas pada tulang dan otot menjadi berkurang. b. Jenis Kelamin Dalam pendesainan suatu beban tugas harus diperhatikan jenis kelamin pemakainya bahwa kekuatan otot wanita hanya 60% dari kekuatan otot pria, keluhan otot juga lebih banyak dialami wanita dibandingkan pria (Oborne, 1995). Menurut Michael (2001) dalam hasil studinya menemukan bahwa pekerja wanita memiliki asosiasi kuat dalam munculnya keluhan MSDs. Berdasarkan laporan yang diterimanya, pekerja wanita mempunyai risiko lebih dari dua kali lipat. c. Waktu Kerja Penentuan waktu dapat diartikan sebagai teknik pengukuran kerja untuk mencatat jangka waktu dan perbandingan kerja mengenai suatu unsur pekerjaan tertentu yang dilaksanakan dalam keadaan tertentu pula serta untuk menganalisa keterangan itu hingga ditemukan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan itu pada tingkat prestasi tertentu. Berdasarkan hasil studi mengenai keluhan MSDs pada supir bis yang dilakukan oleh Karuniasih (2009), diketahui bahwa supir yang telah bekerja/mengendarai lebih dari 2 jam merasakan pegalpegal pada punggung dan leher. d. Masa Kerja Ohlssson et al (1989) melaporkan bahwa terjadinya peningkatan derajat keeratan (OR) antara nyeri pada leher dan bahu dengan masa kerja yang bergantung pada usia kerja. Derajat peningkatan keluhan MSDs semakin bertambah ketika masa kerja seseorang semakin lama. Berdasarkan penilitian yang dilakukan Octarisya (2009), didapatkan bahwa sebesar 66,7% pekerja yang
12
berumur lebih dari 15 tahun telah mengalami MSDs, diantaranya pada bagian bahu kanan dan kiri, leher dan punggung bawah. e. Indeks Masa Tubuh Indeks masa tubuh dapat digunakan sebagai indikator kondisi status gizi pekerja. Dihitung dengan rumus BB2/TB, adapun menurut WHO (2005) dikategorikan menjadi tiga yaitu kurus (< 18,5) normal (18,5-25) dan gemuk (2530) serta obesitas (> 30). Kaitan IMT dengan MSDs adalah semakin gemuk seseorang makan bertambah besar risikonya untuk mengalami MSDs. Hal ini dikarenakan seseorang dengan kelebihan berat badan akan berusaha untuk menyangga berat badan dari depan dengan mengontraksikan otot punggung bawah. Dan bila ini berlanjut terus menerus, akan meyebabkan penekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang mengakibatkan hernia nucleus pulposus (Tan HC dan Horn SE. 1998).
II.2. HIRAC Musculoskletal Disorders II.1.1. Hazard, Identification, and Risk Assessment (HIRAC) Hazard, Identification, and Risk Assessment (HIRAC) adalah salah satu kegiatan penerapan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di perusahaan, merupakan dasar dalam menyusun dasar kerja K3 yang berupaya untuk mengidentifikasi bahaya dan risiko, serta upaya mengurangi faktor bahaya secara terarah dan penerapan. Kegiatan ini merupakan salah satu pendekatan dalam penanganan faktor gangguan K3 di tempat kerja yang bertujuan untuk meminimalisir kecelakaan kerja dan timbulnya penyakit akibat kerja sehingga tercapai efektivitas dan produktivitas perusahaan. Kegiatan HIRAC ini terdiri dari:
IDENTIFIKASI
RISK ASSESSMENT
II.2.2. Identifikasi Hazard dan Risiko Pada Pekerja Pemanaen Kelapa Sawit PT. Cipta Futura Palembang PT. Cipta Futura Palembang merupakan salah satu perusahaan kelapa sawit yang terletak di Palembang. Aktifitas produksi hingga menghasilkan
produk CPO (crude palm oil) bermutu tinggi dijalankan melalui beberapa tahapan mulai dari pembukaan lahan perkebunan, pembibitan kelapa sawit, pengelolaan kebun sehingga dapat memproduksi produksi tandan buah segar (TBS), pengolahan TBS menjadi CPO di pabrik pengolahan kelapa sawit, analisis kadar minyak CPO hingga siap dijual ke konsumen. Pengidentifikasian hazard dan risiko pada PT. Cipta Futura Palembang dapat dilihat dari aktivitas aktivitas produksi yang dilakukan, hal ini disebabkan karena pada setiap tahap produksi terdapat kemungkinan munculnya risiko bahaya terhadap pekerja terkait dengan alat kerja, postur tubuh, tata tempatr kerja dan lain-lain. Salah satu aktivitas atau tahap yang memiliki risiko tinggi terhadap keluhan MSDs adalah tahap pemanenan kelapa sawit. Aktivitas pemanenan kelapa sawit yang dilakukan secara manual berisiko untuk menyebabkan gangguan otot rangka atau musculoskeletal disorders (MSDs). Hal ini dikarenakan bekerja secara manual, pohon sawit yang tinggi, tandan buah segar (TBS) sawit yang berat, dan kondisi lingkungan. Pekerjaan terdiri dari pemanenan (memotong pelepah dan TBS, memasukkan TBS ke dalam angkong, dan mendorong angkong berisi TBS ke tempat penampungan hasil (TPH) dan pemuatan TBS ke truk pengangkut. Dapat dikategorikan bahwa pekerjaan memanen kelapa sawit memiliki risiko tinggi terhadap munculmya MSDs. Hal ini dapat dilihat dari proses kerja pemanenan kelapa sawit yang dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Sebelum melakukan pemanenan TBS, buruh panen terlebih dahulu membersihkan pelepah yang sudah mati dan yang menghalangi TBS yang akan dipotong. (2) Pada saat penelitian dilakukan, kondisi kebun sudah berumur lebih dari 15 tahun, dengan demikian tinggi pohon kelapa sawit rata-rata di atas 3 meter.
14
(3) Tahap pemanenan, yang terdiri dari pemotongan pelepah dan TBS, memasukkan TBS ke dalam angkong, dan membawa TBS dengan angkong ke TPH . TBS yang telah jatuh didekat pohon atau sekitar piringan, dikumpulkan di dekat angkong yang digunakan untuk mengangkut TBS dari dalam kebun ke tempat pengumpulan hasil (TPH). Pemanen memuat angkong dengan 2-3 TBS, tergantung ukuran dan berat TBS. Umumnya berat TBS berkisar antara 15 50 kg. Apabila TBS ukuran besar, maka satu angkong hanya berisi 2 TBS, tetapi untuk TBS ukuran kecil, angkong dapat diisi 3 TBS. (4) TBS yang dikumpulkan di TPH ditandai (dinomori) dengan kode tertentu yang menunjukkan blok/petak dan inisial pemanen. memperlihatkan pemanen mengumpulkan TBS di dalam kebun dan memasukkan ke dalam angkong untuk dibawa ke TPH. (5) Setelah TBS terkumpul di TPH, maka tukang muat akan memuat TBS ke atas truk. Proses pemuatan ini sering dilakukan oleh 2 (dua) orang tukang muat karena berat TBS bias mencapai 50 kg. Apabila berat TBS masih di bawah 30 kg satu orang pemuat mampu mengangkat TBS tersebut ke atas truk. Alat bantu yang digunakan adalah tojok.
15
16
Berdasarkan deskripsi proses kerja memanen dan memuat sawit di atas dapat dilihat bahwa pekerjaan memanen sawit termasuk pekerjaan yang memiliki risiko tinggi tehadap timbulnya MSDs. Faktor fisiologi/ergonomi merupakan salah satu faktor utama munculnya keluhan MSDs pada pekerja pemanen kelapa sawit, hal tersebut diantaranya postur tubuh pekerja yang salah, beban kerja yang berat, lingkungan kerja yang tidak sesuai dengan kondisi pekerja, dan sebagainya. Pada umumnya keluhan yang dirasakan oleh sebagian besar pekerja adalah pada bagian leher dan punggung bawah. Sedangkan keluhan yang paling sedikit dirasakan adalah keluhan pada bagian pantat/bokong. Berikut adalah beberapa faktor fisiologi yang menyebabkan timbulnya keluhan Musculoskletal Disorders pada pekerja pemanen kelapa sawit: 1. Tingginya pohon sawit sehingga saat melakukan pemotongan pelepah dan TBS pekerja melakukan pekerjaan sambil menengadah (overhead job) 2. Ukuran TBS yang besar dengan berat mencapai 50 kg menyulitkan pekerja untuk mengangkat dan memindahkan TBS 3. Alat bantu kerja yang masih tradisional memaksa pekerja mengeluarkan tenaga yang besar untuk melakukan pekerjaan. 4. Aktivitas pemuatan TBS ke dalam truk dengan cara mengangkut, menunduk. memutar pinggang dan melempar yang dilakukan berulang ulang merupakan posisi tubuh yang dapat menimbulkan keluhan MSDs. untuk
17
II.2.3. Tabel Identifikasi Penilaian Risiko dan Perencanaan Pengendalian K3 PT. Cipta Futura Palembang
SAFETY MANAGEMENT HAZARD IDENTIFICATION AND RISK ASSESSMENT Work Place/Processing Unit: Pemanenan Kelapa Sawit Number of Workers : 10 Work Activity: memotong pelepah daun TBS, mengumpulkan TBS yang jatuh, mengangkut TBS ke dalam
1.
Fisiologi /Ergonomi: Posisi tubuh saat bekerja Aktivitas pemuatan TBS ke dalam truk dengan cara mengangkut, menunduk. memutar pinggang dan melempar yang dilakukan berulang ulang. Menurun -kan konsentrasi kerja Timbul rasa lelah pada punggung dan pinggang Bahu terasa pegal dan nyeri. Menimbulkan ketegangan otot sehingga bahu, B2 Pengatu- ran waktu istirahat. Penggunaan APD berupa sarung tangan dan rompi/ pelindung bahu. Melakukan rotasi kerja secara rutin. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan berkala. Mengadakan training mengenai posisi yang benar dan tepat dalam mengangkut beban yang berat. Memberikan pelatihan mengankat beban yang aman.
18
Aktivitas pemotongan pelepah TBS yang tinggi sehingga melakukan pekerjaan sambil mengadah (overhead job).
B2
Mengatur jarak antara lokasi TPH dengan truk pengangkut agar tidak terlalu jauh, sehingga jarak yang ditempuh dapat dipersingkat. Melakukan rotasi kerja secara rutin. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan berkala.
19
Ukuran TBS yang besar dan berat mencapai 50 kg menyulitkan pekerja untuk mengangkut dan memindahkan TBS.
Menurun -kan konsentrasi kerja. Timbul rasa lelah pada pada bahu dan punggung. Timbul rasa lelah seluruh badan. Menimbulkan ketegangan otot dan timbul rasa sakit pada otot rangka. Low Back Pain
B2
Melakukan rotasi kerja secara rutin. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan berkala. Mengatur jarak antara lokasi TPH dengan truk pengangkut agar tidak terlalu jauh, sehingga jarak yang ditempuh dapat dipersingkat. Penggunaan alat bantu mekanis modern.
20
II.3. Rekomendasi Management Pengendalian Risiko Bahaya MSDs II.3.1. Hazard Elimination Hazard elimination merupakan upaya pengendalian hazard dengan cara menghilangkan/mengurangi faktor bahaya dan risiko yang mungkin timbul. Upaya hazard elimination ini harus sejalan dan tidak mengurangi efektivitas dan efisiensi proses produksi. Hazard elimination yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan munculnya keluhan Musculoskeltal Disordes diantaranya: 1. Mengurangi intensitas pemakaian alat penggenggam tangan seperti tang, atau tombol panel. 2. Hindari penggunaan alat yang memiliki getaran yang tinggi. 3. Jangan membuat tombol/switch yang hanya dioperasikan dengan satu atau beberapa ujung jari. Melakukan penekanan dengan satu atau beberapa ujung jari berulang-ulang untuk jangka yang lama akan mengakibatkan rasa lelah dan rasa kaku pada jari-jari tangan. Desain tombol/swit yang
digenggam atau berbentuk lempeng panjang akan lebih baik daripada yang menggunakan cara penekanan dengan satu atau beberapa ujung jari. 4. Kurangi gerakan kepala yang berlebihan. Objek yang terletak diluar lapangan penglihatan binokuler, mengakibatkan kepala harus banyak bergerak untuk membatasi situasi tersebut. Dengan menata posisi pekerja yang tepat, atau penyesuaian bangku kerja dapat mengatasi masalah ini. 5. Kurangi kompresi pada jaringan tubuh. Ujung pegangan peralatan kerja, misal kape/penggaruk sisa cat tembok yang kurang memadai dapat menekan a. ulnaris yang terletak dipangkal pergelangan tangan, sehingga menimbulkan rasa nyeri dan kesemutan dijari manis dan klingking. Memodifikasi pegangan peralatan tersebut dengan menambah tonjolan yang terletak diantara ibu jari dan telunjuk, menyebabkan beban utama tekanan akan berpindah ketempat ini yang relatif bebas dari aliran pembuluh darah. 6. Kurang berat beban yang diangkat. 7. Kurangi jarak dan frekuensi pengankutan beban. 8. Memastikan ada tidak ada hambatan antara pekerja dan beban diangkat.
21
II.3.2. Subtitution Subtitusi adalah upaya pengendalian gangguan K3 melalui penggantian peralatan/bahan kerja dan/atau penggantian tempat kerja. Syarat dari substitusi ini sendiri ada;ah tidak mengurangi kualitas dan kuantitas produksi hasil kerja. Upaya substitusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan munculnya keluhan Musculoskeltal Disordes diantaranya: 1. Ubah atau memodifikasi peralatan, terutama peralatan yang menimbulkan getaran berlebihan. 2. Ubah atau modifikasi area kerja untuk mencegah agar kulit tidak terkena tepian yang tajam. II.3.3. Engineering Control Engineering control adalah upaya pengendalian yang dilakukan pada sumbernya. Tindakan ini dilakukan jika hazard tidak dapat dieliminasi maupun disubstitusi, engineering control yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan munculnya keluhan Musculoskeltal Disordes diantaranya: 1. Mengatur tata letak tempat kerja atau mesin sehingga pekerja dapat berpindah tempat secara efisien. 2. Modifikasi proses kerja, seperti pengaturan shift kerja, pengaturan waktu istirahat, rotasi tempat kerja, dan sebagainya. 3. Atur lokasi awal dan akhir pengangkutan beban, untuk membatasi jarak yang ditempuh selama pengangkutan beban. 4. Sediakan ruang kerja yang leluasa sehingga gerakan atau postur tubuh pekerja tidak terbatas (menghindari postur janggal). 5. Pastikan lantai tempat kerja dalam keadaan yang baik dan aman. 6. Menggunakan alat bantu/peralatan mekanis untuk mengangkut beban yang berat seperti lift table, hoist, trolley,crane, conveyor, hand truck, dan sebagainya. 7. Sediakan tempat istirahat di setiap workstation, untuk menghilangkan rasa lelah.
22
II.3.4. Adminstrative Control Adminstrative control merupakan upaya yang mendukung program pengendalian hazard K3 dan meningkatkan keberhasilan program. Adminstrative control yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan munculnya keluhan Musculoskeltal Disordes diantaranya: 1. Mengatur jadwal kerja, disini termasuk jadwal istirahat pekerja. 2. Mengatur shift kerja. 3. Melakukan rotasi kerja secara rutin. 4. Mengadakan pemeriksaan kesehatan secara rutin. 5. Memperbaiki perencanaan tugas kerja atau job redesign. Kemampuan seseorang yang ditugaskan untuk pekerjaan dengan aktivitas mengangkat beban harus selaras dengan kebutuhan proporsi fisik tugas kerja, oleh karena itu perlu dilaksanakan pemeriksaan sebelum bekerja (Pre Employment Health Examination) dan pemeriksaan untuk penempatan tenaga kerja yang seksama. 6. Mengadakan evaluasi terhadap kinerja pekerja yang disesuaikan dengan kemampuannya. 7. Mengadakan pendidikan dan pelatihan (training) terhadap pekerja mengenai bagaimana postur tubuh yang baik dan ergonomis dalam mengangkut barang dan sebagainya. 8. Pelatihan cara mengangkat beban yang aman, perbaikan sistem kerja dan aplikasi teknologi baru untuk mengatasi penyimpangan perilaku dan tugas kerja yang kurang memadai, harus dilaksanakan pada seluruh pekerja yang ditugaskan untuk pekerjaan denga aktivitas mengangkat beban. 9. Memberikan pendidikan kepada pekerja agar mengenakan APD ketika mengangkut beban.
II.3.5. Alat Pelindung Diri (APD) Alat pelindung diri (APD) merupakan upaya pengendalian hazard K3 terakhir dan/atau bersama strategi control hazard lainnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan APD ini adalah pemilihan APD secara tepat, dipakai dengan benar, digunakan ketika dibutuhkan, dipelihara secara rutin, dan
23
disimpan dengan aman. APD yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan munculnya keluhan Musculoskeltal Disordes diantaranya: 1. Penyediaan APD berupa sarung tangan untuk mengangkat beban dan pelindung lutut ketika berlutut kepada pekerja dan memastikan agar pekerja menggunakannya ketika bekerja. 2. Penyediaan APD berupa pelindung bahu ketika pekerja mengankut beban di bahu dan memastikannya pekerja menggunakannya ketika mengangkat beban. 3. Menyimpan dan memelihara APD secara rutin dan berkala.
24
III.1. Kesimpulan Salah satu faktor penyebab terjadinya Penyakit Akibat kerja adalah faktor fisiologi yang merupakan faktor yang berhubungan dengan cara kerja, posisi kerja, alat kerja, lingkungan kerja, tata letak/layout kerja yang tidak ergonomis. Faktor fisiologis ini dikenal juga dengan istilah ergonomi. Jika cara kerja, posisi kerja, alat kerja, lingkungan kerja tidak ergonomis atau tidak sesuai dengan kondisi pekerja maka akan menimbulkan efek negatif terhadap pekerja tersebut. Efek yang ditimbulkan dari faktor fisiologis ini diantaranya adalah kelelahan fisik, nyeri otot, deformitas tulang, perubahan bentuk tulang, dan dislokasi. Salah satu penyakit akibat kerja yang ditimbulkan dari faktor fisiologis ini adalah Musculoskeletal disorders (MSDs)
Musculoskeletal disorders (MSDs) adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon (Grandjean, 1993). Faktor penyebab MSDs ini diantaranya: beban kerja yang berat, postur tubuh yang salah/janggal ketika bekerja, aktivitas mengangkat beban (manual handling) yang dilakukan berulang-ulang/repetition injury, penggunaan tenaga yang berlebih, dan sebagainya. Jenis jenis MSDs ini diantaranya adalah sakit leher, Nyeri Punggung, Carpal Turner Syndrome (CTS), Low Back Pain, Tennis Elbow, dan sebagainya. Dampak panjang dari MSDs ini adalah akan menurunkan produktivitas dan kinerja pekerja.
25
dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Mengurangi atau mengeliminasi kondisi yang berpotensi bahaya
menggunakan pengendalian teknik. 2. Mengubah dalam praktek kerja dan kebijkan manajemen yang sering disebut pengendalian administratif. 3. Menggunakan alat pelindung diri. Pembuatan HIRAC pada suatu perusahaan sangat perlu untuk
mengidentifikasi dan menilai hazard dan risiko yang mungkin timbul. Sehingga dapat mengurangu atau menghilangkan hazard yang terjadi. Jadi untuk mengurangi keluhan MSDs yang disebabkan faktor fisiologi yang harus dilakukan adalah mengadakan HIRAC di setiap tempat kerja (processing unit), kemudian melakukan pengelolaan hazard dan risiko melalui pengelolaan K3.
26
DAFTAR PUSTAKA
Harianto, Sulistyo, Rachmawaty, dkk. Pola Kerja Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Occupational Overuse Syndrome Pada Pekerja Pria Perusahaan Bubuk Detergen. 2006. Jurnal Universitas Medicina, Volume 25 Nomor 2. http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2012/04/Ridwan.pdf
News medical. 2012. Apakah Carpal Tunnel Syndrome itu. From http://medicaldictionary.thefreedictionary.com/carpal+tunnel+syndrome tanggal 19 Desember 2012) (diakses
Rahardjo, Suwandi dan Hendra. 2009. Risiko Ergonomi dan Keluhan Musculoskletal Disorders Pada Pekerja Panen Kelapa Sawit. Prosiding Seminar Nasional ergonomi IX Universitas Diponogoro Semarang. . http://staff.ui.ac.id/internal/132255817/publikasi/D11.pdf. Desember 2012). (diakses 18
Sulistomo, Astrid. Diagnosis Penyakit Akibat kerja dan Sistem Rujukan. 2002. Cermin Dunia Kedokteran No. 136.
Tips for Eliminating and Controlling MSD Hazards, Workplace Safety North: A Health&Safety Ontario Partner.
Yuli Ambarkati, Arum. 2012. Penyakit Akibat Kerja pada Perusahaan Garmen. From http://olah-raga-indonesia.blogspot.com/2012/04/pak-pada-perusah aan-garmen.html. (diakses tanggal 19 Desember 2012)
27
Yuniardi, Dewa. 2012. Pemilihan PKS yang Ideal Dalam Manajemen Kelapa Sawit. From http://informasi-
Zulfiqor, Muhammad Taufik. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Muculoskletal Disorders Pada Welder Di Bagian Fabrikasi PT. Caterpillar Indonesia Tahun 2010. 2010. Skripsi Program Studi Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
28