Anda di halaman 1dari 15

FISIOLOGI HEWAN SISTEM OTOT

Disusun Oleh:

Rika Cahya Wulan ACD 110 068

Dosen : Dr. Suatma,M.BioMed

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sistem Muskuloskeletal adalah sebuah sistem organ pada manusia yang memberikan kemampuan untuk bergerak dengan menggunakan sistem otot dan rangka. Sistem Muskuloskeletal menyediakan bentuk, dukungan, stabilitas, dan gerakan untuk tubuh. Sistem muskuloskeletal mengacu pada sistem yang memiliki otot yang melekat pada sebuah sistem kerangka internal dan diperlukan bagi manusia untuk mengatur ke posisi yang lebih menguntungkan. Sel sel otot seperti neuron dapat dirangsang secara kimiawi, listrik dan mekanik untuk membangkitkan potensial aksi yang dihantarkan sepanjang membran sel. Protein kontraktil aktin dan miosin yang menghasilkan kontraksi pada otot terdapat dalam jumlah yang sangat besar. Depolarisasi hasil motor neuron di neurotransmiter dibebaskan dari terminal saraf. Neurotransmiter berdifusi melintasi sinaps dan mengikat ke situs reseptor pada membran sel dari serat otot, ketika reseptor cukup banyak dirangsang suatu potensial aksi dihasilkan. Otot secara umum dibagi atas tiga jenis yaitu, otot jantung, otot rangka, dan otot polos. Pada otot rangka gambaran garis lintangnya sangat jelas, berkontraksi dengan adanya rangsang dari saraf, secara umum dikendalikan oleh kehendak (volunter). Pada otot jantung juga terdapat pola garis lintang tetapi membentuk sinsitium fungsional, berkontraksi secara ritmis karena adanya sel sel di miokardium yang menimbulkan impuls spontan. Sedangkan pada otot polos tidak memperlihatkan gambaran garis lintang, otot polos dapat di temukan hampir di semua alat visera yang berongga. 1.2 Rumusan Masalah

1. 2. 3. 4.

Apa saja fungsi fungsi otot ! Anatomi fisiologi otot ! Bagaimana klasifikasi , kontraksi , serta tipe kerja dari masing masing otot ? Kelainan kelainan yang terdapat pada otot manusia !

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan Makalah Penulisan makalah ini bertujuan : 1. Mengetahui fungsi fungsi otot. 2. Mengetahui anatomi dan fisiologi otot. 3. Mencari tahu klasifikasi, kontraksi , serta tipe kerja dari masing masing otot. Jadi , pembuatan makalah ini bermanfaat untuk mengetahui bagaimana fisiologi otot dalam tubuh manusia dengan mengetahui bagaimana tipe kerja dari masing masing otot yang terdapat pada system otot.

BAB II PEMBAHASAN

2. 1 Macam Otot Tiga macam otot yang nyata berbeda terdapat pada vertebrata. Yang pertama ialah otot jantung, yaitu otot yang menyusun dinding jantung (Kimball, 1994). Otot polos terdapat pada dinding semua organ tubuh yang berlubang (kecuali jantung). Kontraksi otot polos yang umumnya tidak terkendali, memperkecil ukuran struktur struktur yang berlubang ini. Pembuluh darah, usus, kandung kemih, dan rahim merupakan beberapa contoh dari struktur yang dindingnya sebagian besar terdiri atas otot polos. Jadi kontraksi otot polos melaksanakan bermacam macam tugas seperti meneruskan makanan

kita dari mulut ke saluran pencernaan, mengeluarkan urin dan mengirimkan bayi ke dunia (Kimball, 1994). Otot kerangka, seperti namanya, adalah otot yang melekat pada kerangka. Otot ini dikendalikan dengan sengaja. Kontraksinya memungkinkan adanya aksi yang disengaja seperti berlari, berenang, mengerjakan alat alat, dan bermain bola (Kimball, 1994). 2.2 Fungsi Otot Pada bagian ini akan dijelaskan apa saja fungsi dari otot. Fungsi fungsi otot adalah sebagai berikut : 1. Melakukan gerakan bersama tulang Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat. 2. Mempertahankan postur tubuh Otot mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk. 3. Melindungi organ yang terletak lebih dalam. 4. Menjaga suhu tubuh Kontraksi otot secara metabolis menhasilkan panas untuk mempertahankan suhu normal tubuh.

2.3 Anatomi Fisiologi Otot Otot merupakan jaringan peka rangsang atau eksitabel yang dapat dirangsang secara kimia , listrik , dan mekanik untuk menimbulkan suatu aksi potensial. Ada tiga jenis otot yaitu , otot rangka , otot jantung dan otot jantung. Berikut adalah tabel yang menjelaskan tentang tipe jaringan otot : Jenis Otot Otot Rangka Otot Polos Otot Jantung

Gambar

Bentuk Otot Serabut Otot Nukleus Kontraksi Kerja Otot

Lurik Silindris , memanjang Banyak inti sel, terdapat di tepi Cepat, kuat Volunter

Polos Spindel, serabut kecil Satu inti sel, terdapat di tengah Lambat , kuat involunter

Lurik Terelongasi Satu inti sel, terdapat di tengah Kuat, berirama Involunter

2.4 Klasifikasi, Kontraksi, serta Tipe Kerja Masing Masing Otot Pada bagian ini akan dijelaskan klasifikasi, kontraksi, serta tipe kerja dari otot rangka, otot polos, dan otot jantung. a. Otot Rangka 1. Anatomi otot rangka 2. Perlekatan otot rangka Tempat perlekatan otot rangka, disebut : a) Origo : titik perlekatan yang lebih kuat pada tulang dan biasanya merupakan ujung

proksimal. Tempat ini merupakan sisi yang tidak bergerak dan bersifat pasif. b) Insersio : titik perlekatan yang lebih dapat bergerak dan biasanya merupakan ujung distal dan bersifat aktif. c) Tendon merupakan penghubung antara otot dengan tulang yang terdiri dari jaringan ikat fibrosa yang tebal dan berwarna putih. d) Ligamen merupakan penghubung antara tulang dengan tulang. e) Sendi merupakan struktur yang menghubungkan tulang individu dan memungkinkan

tulang bergerak terhadap satu sama lain untuk menimbulkan gerakan.

3. Kontraksi dan Relaksasi Otot

Saat otot berkontraksi maka akan terjadi pemendekan pada otot, setelah itu akan terjadi tarikan pada insersio, kemudian tarikan tersebut akan menghasilkan gerakan pada tulang. Agar tulang dapat kembali ke posisi semula, otot tersebut harus mengadakan relaksasi dan tulang harus ditarik ke posisi semula. Untuk itu harus ada otot lain yang berkontraksi yang merupakan kebalikan dari kerja otot pertama. Jadi, untuk menggerakkan tulang dari satu posisi ke posisi yang lain diperlukan paling sedikit dua macam otot dengan kerja yang berbeda. Secara singkat mekanisme kontraksi dan relaksasi otot rangka yaitu (Xalexchie, 2011) : a. Asetilkolin yang dikeluarkan dari ujung terminal neuron motorik mengawali potensial aksi di sel otot yang merambat ke seluruh permukaan membrane. b. Aktivitas listrik permukaan dibawa ke bagian tengah serat otot oleh tubulus T. c. Penyebaran potensial aksi ke tubulus T mencetuskan pelepasan simpanan Ca++ dari kantung-kantung lateral reticulum sarkoplasma di dekat tubulus. d. Ca++ yang dilepaskan berikatan dengan troponin dan mengubah bentuknya, sehingga kompleks troponis-tropomiosin secara fisik tergeser ke samping, membuka tempat pengikatan jembatan silang aktin. e. Bagian aktin yang telah terpajan tersebut berikatan dengan jembatan silang myosin, yang sebelumnya telah mendapat energy dari penguraian ATP menjadi ADP + Pi + energy oleh ATPase myosin di jembatan silang.

f.

Pengikatan aktin dan myosin di jembatan silang menyebabkan jembatan silang menekuk, menghasilkan suatu gerakan mengayun kuat yang menarik filamen tipis kea rah dalam. Pergeseran kea rah dalam dari semua filament tipis yang mengelilingi filament tebal memperpendek sarkomer (yaitu kontraksi otot).

g. Selama gerakan mengayun yang kuat tersebut, ADP dan P1 dibebaskan dari jembatan silang. h. Perlekatan sebuah molekul ATP baru memungkinkan terlepasnya jembatan silang, yang mengembalikan bentuknya ke konfirmasi semula. i. Penguraikan molekul ATP yang baru oleh ATPase myosin kembali memberikan energy bagi jembatan silang. j. Apabila Ca++ masih ada sehingga kompleks troponin-tropomiosin tetap tergeser ke samping, jembatan silang kembali menjalani siklus pengikatan dan penekukan, menarik filament tipis selanjutnya. k. Apabila tidak lagi terdapat potensial aksi telah kembali ke tempat penyimpanannya di kantung lateral reticulum sarkoplasma, kompleks troponin-tropomiosin bergeser kembali ke posisinya menutupi tempat pengikatan jembatan silang aktin, sehingga aktin dan myosin tidak lagi berikatan di jembatan silang, dan filament tipis bergeser kembali ke posisi istirahat seiring dengan terjadinya proses relaksasi 4. Struktur otot rangka a. b. Endomisium : jaringan ikat halus yang melapisi setiap serabut otot individual. Perimisium : mengacu pada ekstensi epimisium yang menembus ke dalam otot untuk melapisi berkas fasikel. c. Epimisium : jaringan ikat rapat yang melapisi keseluruhan otot dan terus berlanjut sampai ke fasia dalam. d. Sarcolemma, Sarcoplasma dan Reticulum sarcoplasma : Setiap satu serat otot dilapisi oleh jaringan elastik tipis yang disebut sarcolemma.

Protoplasma serat otot yang berisi materi semicair disebut sarcoplasma. Retikulum endoplasma meluas di antara myofibril myofibril disebut Reticulum sarcoplasma

5. Serabut otot rangka 1. Myofibril : unit kontraktif yang mengalami spesialisasi, volumenya mencapai 80 % volume serabut. Irisan melalui satu serabut otot yang dibesarkan memperlihatkan bahwa serabut otot dipadati dengan myofibril sebagaimana halnya perut otot. Myofibril itu ditumpuk menurut panjangnya dan agaknya menjalar di sepanjang serabut tersebut. Myofibril dikelilingi sitoplasma yang mengandung banyak inti, mitokondria dan reticulum endoplasma yang luas (Kimball, 1994). 2. Setiap silindris terdiri dari moifilamen tebal dan miofilamen tipis. a. Miofilamen tebal terdiri dari protein miosin. Molekul miosin disusun untuk membentuk ekor berbentuk cambuk dengan dua kepala globular, mirip dengan tongkat golf berkepala dua. Filamen-filamen tebal pada vertebrata (makhluk hidup bertulang belakang) hampir sebagian besar tersusun dari sejenis protein yang disebut Miosin. Molekul miosin terdiri dari enam rantai polipeptida yang disebut rantai berat dan dua pasang rantai ringan yang berbeda (disebut rantai ringan esensial dan regulatori, ELC dan RLC). Miosin termasuk protein yang khusus karena memiliki sifat berserat (=fibrous) dan globular. Struktur tersebut dapat dilihat pada. Secara umum, molekul miosin dapat dilihat sebagai segmen berbentuk batang sepanjang 1600 Angstrom dengan dua kepala globular. Miosin hanya berada dalam wujud molekul-molekul tunggal dengan kekuatan ioniknya yang lemah. Bagaimanapun juga, protein-protein ini berkaitan satu sama lain. Struktur tersebut ialah struktur dari filamen tebal yang telah dibicarakan sebelumnya. Pada struktur itu, filamen tebal merupakan suatu bentuk yang bipolar dengan kepala-kepala miosin yang menghadap tiap-tiap ujung filamen dan menyisakan bagian tengah yang tidak memiliki kepala satupun (=bare zone / jalur kosong).

Kepalakepala miosin itulah yang merupakan wujud dari cross-bridges dalam perhubungannya dengan miofibrilmiofibril. Sebenarnya, rantai berat miosin berupa sebuah ATPase yang menghidrolisis ATP menjadi ADP dan Pi dalam suatu reaksi yang membuat terjadinya kontraksi otot. Jadi, otot merupakan alat untuk mengubah energi bebas kimia berupa ATP menjadi energi mekanik. Sementara itu, fungsi rantai ringan miosin diyakini sebagai modulator aktivitas ATPase dari rantai berat yang bersambungan dengannya. Di tahun 1953, Andrew Szent-Gyorgi menunjukkan bahwa miosin yang diberi tripsin secukupnya akan memecah miosin menjadi dua fragmen yaitu Meromiosin ringan (LMM) dan Meromiosin berat (HMM). HMM dapat dipecah dengan papain menjadi dua bagian lagi yaitu dua molekul identik dari subfragmen-1 (S1) dan sebuah subframen-2 (S2) yang berbentuk mirip batang. b. Miofilamen tipis tersusun dari protein aktin. Dua protein tambahan pada filamen tipis adalah tropomiosin dan troponin yang melekat pada aktin. Filamen-filamen tipis tersusun dari Aktin, Tropomiosin dan Troponin

Komponen penyusun utama filamen tipis ialah Aktin. Aktin merupakan protein eukariotik yang umum, banyak jumlahnya, dan mudah didapati. Aktin didapati dalam wujud monomermonomer bilobal globular yang disebut G-aktin yang secara normal mengikat satu molekul ATP untuk tiap-tiap monomer. G-aktin itu nantinya akan berpolimerisasi untuk membentuk fiber-fiber yang disebut F-aktin. Polimerisasi ini merupakan suatu proses yang menghidrolisis ATP menjadi ADP dengan ADP yang nantinya terikat pada unit monomer F-aktin. Sebagai hasilnya, F-aktin akan membentuk sumbu rantai utama dari filamen tipis. Tiap-tiap unit monomer F-aktin mampu mengikat sebuah kepala miosin (S1) yang ada pada filamen tebal. Mikrograf elektron juga menunjukkan bahwa F-aktin merupakan deretan monomer terkait dengan urutan kepala ekor-kepala. Maka dari itu, F-aktin memiliki wujud yang polar. Semua unit monomer F-aktin memiliki orientasi yang sama dilihat dari sumbu fiber. Filamenfilamen tipis itu juga memiliki arah yang menjauhi disk Z. Sehingga kumpulan-kumpulan

filamen tipis yang menjulur pada kedua sisi disk Z itu memiliki orientasi yang berlawanan. Komposisi miosin dan aktin masing-masing sebesar 60-70% dan 20- 25% dari protein total pada otot. Sisa protein lainnya berkaitan dengan filamen tipis yakni Tropomiosin dan Troponin. Troponin terdiri dari tiga subunit yaitu TnC (protein pengikat ion Ca), TnI (protein yang mengikat aktin), dan TnT (protein yang mengikat tropomiosin). Dari sini, dapat disimpulkan bahwa kompleks tropomiosin Troponin mangatur kontraksi otot dengan cara mengontrol akses cross-bridges S1 pada posisiposisi pengikat aktin. 6. Mekanisme interaksi aktin dan miosin 1. Sliding filament Pita A : lebih gelap, terdiri dari susunan vertikal miofilamen tebal yang berselang seling dengan miofilamen tipis. Pita I : lebih terang, terbentuk dari miofilamen aktin tipis, yang memanjang ke dua arah dari garis Z ke dalam susunan filamen tebal. Garis Z : terbentuk dari protein penunjang yang menahan miofilamen tipis tetap menyatu di sepanjang miofibril. Zona H : area yang lebih terang pada pita A mifilamen miosin yang tidak tertembus filamen tipis. Garis M : membagi dua pusat zona H. Pembagian ini merupakan kerja protein penunjang lain yang menahan miofilamen tebal tetap bersatu dalam susunan. Sarkomer : jarak antara garis Z ke garis Z lainnya. 2. Hipotesis sliding filamen :

Selama kontraksi, panjang miofilamen aktin dan miosin tetap sama tetapi saling bersilangan, sehingga memperbesar jumlah tumpang tindih antar filamen. Filamen aktin kemudian menyusup untuk memanjang ke dalam pita A, mempersempit dan menghalangi pita H.

Panjang sarkomer memendek saat kontraksi. Pemendekan sarkomer akan memperpendek serabut otot individual dan keseluruhan otot. Tahap kontraksi otot rangka 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Impuls neuron motorik. Pelepasan transmiter atau asetilkolin end-plate motorik Pengikatan asetikolin oleh reseptor asetilkolin nikotinik. Peningkatan konduktans Na+ dan K+ di membran end-plate Terbentuknya potensial end-plate Tercetusnya potensial aksi di serat serat otot Penyebaran depolarisasi ke dalam tubulus T Pelepasan Ca2+ dari cisterna terminal retikulum sarkoplasmik dan difusi Ca2+ ke

filamen tebal dan filamen tipis 9. aktin 10. Pembentukan ikatan silang antara aktin dan miosin dan pergeseran filamen tipis pada filamen tebal, menghasilkan pemendekan. Tahap relaksasi otot rangka 1. 2. 3. Ca2+ dipompakan kembali ke dalam retikulum sarkoplasmik Lepasnya Ca2+ dari troponin Terhentinya interaksi antara aktin dan miosin Peningkatan Ca2+ oleh troponin C membuka tempat pengikatan miosin ke molekul

Kontraksi Isometrik

Adalah kontraksi dimana terjadi ayunan jembatan silang dan terbentuk tegangan, tanpa pemendekan otot

Terjadi sewaktu mencoba mengangkat suatu beban yang memerlukan tegangan yang lebih besar daripada tegangan yang ia hasilkan

Tidak terjadi kerja mekanis, tegangan terbentuk tetapi otot tidak memendek.

Kontraksi Isotonik

Terjadi saat memendek karena mengangkat beban tetap. Terjadi kerja berupa pengangkatan beban. Contoh mengangkat berat Sebagian besar kontraksi otot mencakup periode isotonik dan isometrik.

b. Otot Polos Struktur dan fungsi otot polos di berbagai bagian tubuh sangat beragam. Secara umum, otot polos dapat dibagi menjadi dua yaitu otot polos viseral dan otot polos multi-unit. Berikut penjelasan mengenai jenis otot : 1. Otot polos viseral : terdapat di lapisan lapisan penutup yang luas, mempunyai jembatan pertahanan listrik rendah antara sel selnya, yang berfungsi sebagai sinsitium. Jembatan jembatan penghubung tersebut, seperti pada otot jantung, merupakan hubungan dengan membran dari dua sel yang bersebelahan membentuk gap junction. Otot polos viseral ditemukan terurtama pada dinding visera yang berongga. Contohnya adalah jaringan otot dinding usus, uterus, dan ureter. Kekhasan otot polos viseral adalah ketidakmantapan potensial membrannya dan adanya kontraksi kontraksi yang berkesinambungan, tidak teratur, yang tidak bergantung pada persarafannya. Kontraksi parsial yang tiada hentinya itu disebut sebagai tonus. 2. Otot multi-unit : tersusun dari unit unit tersendiri tanpa adanya jembatan antar membran sel. Ditemukan pada berbagai struktur. Contohnya adalah iris mata yang dapat menghasilkan kontraksi halus dan bertahap yang tidak dapat dikendalikan secara volunter, tetapi memiliki banyak persamaan fungsional dengan otot rangka. Otot polos multi unit tidap memiliki sinsitium dan kontraksi tidak menyebar melalui sinsitium. Oleh karena itu, kontraksi otot

polos multi unit lebih jelas, halus, dan terlokalisasi dibandingkan dengan otot polos viseral. Otot polos multi unit sangat peka terhadap zat zat kimia yang ada dalam peredaran darah, dan terangsang oleh neurotransmiter yang dilepaskan di ujung ujung saraf motorik yang mempersarafinya. 1. Tahap Kontraksi dan Relaksasi Otot Polos a. Pengikatan asetilkolin pada reseptor reseptor muskarinik.

b. Pengikatan influks Ca2+ ke dalam sel. c. Pengaktifan kinase miosin rantai ringan yang bergantung pad kalmodulin. Fosforilasi miosin. d. Peningkatan kegiatan miosin ATPase dan pengikatan miosin pada aktin. e. f. g. Kontraksi. Defosforilasi miosin oleh fosfatase miosin. Relaksasi atau kontraksi yang dopertahankan oleh mekanisme.

2. Perbedaan otot polos dengan otot rangka : Perbedaan Susunan Troponin Otot Rangka Teratur Ada Otot Polos Tidak teratur Tidak ada, Kalmodulin Interstitial / ekstra

Sumber Ca2+ Cisternae SR

Cisternae SR Ada

seluler dan SR Tidak ada

c.

Otot Jantung Myofibril pada otot jantung acapkali bercabang cabang dan mitokondrianya lebih banyak dari yang terdapat pada serabut otot kerangka. Otot jantung berbeda dari otot kerangka dalam hal fisiologinya. Impuls yang menyebabkan otot jantung berkontraksi itu dibangkitkan sendiri. Memang benar bahwa saraf simpatik dan saraf parasimpatik menuju ke

jantung, tetapi pengendaliannya hanyalah tambahan. Bahkan bila dihancurkan, jantung terus berdetak selama glukosa dan oksigen tersedia. Setiap kehilangan oksigen, seperti misalnya yang terjadi pada penyumbatan koroner, dengan cepat berakibat kematian pada bagian otot jantung begitu kehilangan oksigen (Kimball, 1994).

2.3 Kimia Kontraksi Otot Sumber energy langsung untuk kontraksi otot ialah ATP : sumber energy bebas bagi kebanyakan proses hidup. Tetapi serabut otot hanya mengandung cukup ATP untuk menggerakkan beberapa kekejangan. Sumber tenaga apakah yang dapat menjadi andalan agar ATP terus tersedia? Tentu saja sumber yang paling baik ialah respirasi molekul molekul nutrient selular yang dibawa oleh darah ke serabut. Akan tetapi, jika kita letakkan otot yang terisolasi di dalam suatu atmosfer anaerob sehingga tidak dapat terjadi respirasi selular, otot itu masih dapat berkontraksi dengan kuat untuk waktu yang lama. Hal ini karena serabut otot mampu menghasilkan energy melalui glikolisis. Glikogen merupakan 1 % berat serabut otot. Bila serabut itu dihilangkan oksigennya, maka glikogen terpisah pisah menjadi glukosa 1 fosfat. Zat ini diubah menjadi isomernya, glukosa 6-fosfat, yang memasuki lintasan glikolisis. Oksidasi 3-fosfogliseraldehida yang dikatalisis NAD akhirnya menghasilkan asam piruvat. Karena tiadanya oksigen agar NADH memberikan electron elektronnya, maka NADH berbalik dan mereduksi asam piruvat menjadi asam laktat. Sementara ATP diperlukan untuk proses itu, maka ATP juga dibangkitkan. Hasil bersihnya ialah dua molekul ATP untuk setiap pasang molekul asam laktat yang dihasilkan (Kimball, 1994).

Kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

1. Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitasmiofibril. 2. Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang). 3. Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri. 4. Tetani adalah peningkatan frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan tegangan kontraksi. 5. Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak lagi dapat dikembalikan ke RS melalui mekanisme pemompaan.